Anda di halaman 1dari 11

ABSTRAK

KANDUNGAN TEMBAGA (CU) DAN ZINK (ZN) PADA AIR DAN IKAN
NILA (Oreochromis niloticus) DI PERAIRAN SUNGAI SEKITAR
TAMBANG KORAL DAN TAMBANG PASIR DESA MANDIKAPAU
BARAT
Oleh: Erya Mathias

Keadaan sungai di Desa Mandikapau Barat saat ini terlihat sudah sangat
memprihatinkan. Menurunnya kualitas sungai salah satunya disebabkan oleh
tambang batu koral dan pasir yang berada di sungai. Tujuan dilakukannya
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kadar kandungan logam berat
khususnya tembaga (Cu) dan zink (Zn) pada air sungai dan ikan nila
(Oreochromis niloticus) yang ada di Desa Mandikapau Barat. Metode penelitian
ini adalah metode deskriptif dengan teknik pengambilan data secara eksploratif
yaitu pengambilan sampel ke lapangan dengan tiga titik pengambilan sampel yaitu
di daerah batas hulu, di sekitar tambang dan di sekitar keramba apung. Standar
yang digunakan dalam pengambilan sampel air dan ikan ini menurut standar
analisis laboratorium yang berlaku di Indonesia, yaitu SNI 06-2412-1991. Uji
kadar kandungan tembaga dan zink menggunakan metode Atomic Absorbtion
Spectrophotometry (AAS) dengan alat Spektrofotometer. Kadar kandungan
tembaga pada sampel air tidak dapat diidentifikasi karena diduga kadarnya yang
sangat kecil, sedangkan kandungan zink pada air adalah sebesar 0,020; 0,008 dan
0,035 ppm. Kadar tembaga dan zink ini masih di bawah ambang batas aman
berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan no. 05 tahun 2007. Kadar
kandungan tembaga pada sampel daging ikan sebesar 1,700, 1,800 dan 1,550 ppm
dan kadar zink pada sampel daging ikan nila sebesar 23,150; 27,025 dan 40,250
ppm. Ini juga menunjukkan kadar tembaga dan zink pada daging ikan nila masih
di kisaran aman berdasarkan Keputusan Dirjen POM No.03725/VII/1989 untuk
ikan nila. Walaupun kandungan tembaga dan zink masih aman, tetapi
kemungkinan akumulasi dan kadar logam lain lebih tinggi, air dan ikan nila perlu
diwaspadai untuk dikonsumsi.

Kata Kunci: pencemaran, tembaga, zink, sungai mandikapau, ikan nila
PENDAHULUAN
Sungai merupakan salah satu sektor pendukung hidup masyarakat. Sungai
sering digunakan sebagai jalur tranportasi bagi masyarakat. Selain itu sungai juga
bisa digunakan sebagai sumber mata pencaharian bagi masyarakat, karena di
sungai terdapat berbagai macam sumber daya perairan berupa berbagai macam
jenis ikan, hewan air lainnya, serta beberapa jenis tumbuhan air.
Sungai Riam Kanan merupakan salah satu sungai yang terdapat di daerah
kabupaten Banjar. Sungai ini sering dipakai masyarakat untuk MCK, tambak ikan
dan juga pertambangan batu koral dan juga tambang pasir. Beberapa rumah
penduduk juga masih menggunakan air sungai sebagai sumber air di rumah
mereka, terutama rumah yang terdapat di pinggiran sungai. Hal itu bisa terlihat
dari pipa-pipa yang terhubung ke sungai. Meskipun kebutuhan akan air cukup
besar, tetapi kesadaran masyarakat sekitar terhadap sungai juga masih kurang.
Warga sekitar sungai masih membuang sampah di pinggir sungai. Hal ini bisa
terlihat dari beberapa titik di daerah pinggiran sungai yang terdapat tumpukan
sampah. Selain aktivitas manusia, di sungai tersebut juga terdapat aktivitas hewan
perairan seperti ikan.
Salah satu ikan perairan tawar yang terdapat pada sungai Riam Kanan di
Desa Mandikapau Barat ini adalah ikan nila (Oreochromis niloticus). Ikan nila
merupakan ikan air tawar yang biasa hidup di daerah perairan tenang hingga
berarus lambat. Ikan ini mempunyai nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar,
sehingga sebagian masyarakat sekitar melakukan pembudidayaan terhadap ikan
tersebut. Selain masyarakat yang membudidayakan ikan tersebut, sebagian
masyarakat juga mengambil ikan nila secara bebas dari sungai tersebut. Ikan nila
(Oreochromis niloticus) merupakan ikan bertulang sejati dengan permukaan tubuh
yang ditutupi oleh sisik yang memiliki kelenjar lendir yang berguna sebagai
pelicin saat ikan tersebut berenang di air juga sebagai perlindungan dari parasit di
sekitar lingkungannya.
Salah satu masalah di sektor perairan adalah pencemaran. Pencemaran air
bisa diakibatkan oleh aktivitas manusia di tengah sungai maupun di pinggir
sungai. Terkadang abrasi dan erosi juga menyebabkan pencemaran air sungai.
Jenis pencemar air dapat berupa mikroorganisme maupun logam-logam yang
terlarut di dalam air. Logam berat merupakan salah satu jenis pencemar air yang
paling sering didapati.
Logam berat pada umumnya bersifat racun bagi makhluk hidup jika terdapat
dalam konsentrasi yang tinggi. Tetapi, dalam jumlah yang relatif kecil, beberapa
logam berat juga berguna dalam aktivitas tubuh organisme. Logam berat masuk
ke dalam tubuh organisme bisa melalui cairan yang masuk ke dalam tubuh
maupun asupan makanan setiap hari organisme.
Logam berat sering digunakan manusia pada kehidupan sehari-hari.
Beberapa jenis logam berat seperti tembaga (Cu) dan Zink (Zn) sebenarnya
berguna dalam metabolisme tubuh. Tetapi jika kadar logam berat tersebut
melebihi dari batas baku mutu yang ditetapkan, makan logam berat tersebut akan
bersifat toksik. Kadar logam berat yang terlalu besar membuat logam tersebut
tidak dapat dimetabolisme oleh tubuh.
Limbah dari aktivitas rumah tangga yang dibuang ke sungai dapat
mengakibatkan pencemaran air. Terkadang limbah-limbah tersebut sedikit banyak
mengandung logam berat dan jika terakumulasi dalam jumlah yang relatif banyak
dapat mencemari perairan sekitar dan juga ikan-ikan yang terdapat di perairan
tersebut. Selain itu logam-logam yang terdapat pada udara yang larut bersama
hujan dapat juga menjadi sumber logam-logam yang terdapat pada daerah
perairan.
Ketidaktahuan masyarakat terhadap pencemaran dapat berdampak buruk
bagi kehidupan. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk memberitahukan
kepada masyarakat mengenai pencemaran yang terjadi pada daerah perairan
sungai dan juga hewan air, khususnya ikan nila yang merupakan salah satu jenis
ikan yang umum di konsumsi. Maka, berdasarkan hal-hal tersebut di atas, peneliti
berniat melakukan penelitian terhadap kandungan tembaga (Cu) dan zink (Zn)
pada air dan ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perairan sungai sekitar
tambang koral dan tambang pasir desa Mandikapau Barat.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,
dengan teknik pengambilan data secara eksploratif, yaitu pengamatan secara
langsung di lapangan dan dilakukakan pengambilan sampel untuk diuji
kandungan logamnya di laboratorium dengan menggunakan alat Atomic
Absorption Spectrophotometry (AAS).
Waktu penelitian ini direncanakan selama 5 bulan, yaitu pada akhir bulan
Agustus sampai Desember 2013, terhitung dari persiapan, survei tempat,
pelaksanaan penelitian pengumpulan data sampai pada penyusunan laporan.
Penelitian ini dilakukan bertempat pada Desa Mandikapau Barat, Kecamatan
Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Populasi dalam penelitian ini adalah Ikan nila (Oreochromis niloticus) yang
terdapat pada sungai Riam Kanan Desa Mandikapau Barat, Kecamatan Karang
Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah air sungai, sebanyak 200 ml pada tiap titik sampel. Daging
ikan nila (Oreochromis niloticus), diambil sebanyak 150 gram untuk setiap titik
sampel dengan ukuran ikan yang relatif sama. Air dan ikan yang digunakan pada
sampel ini diambil dari sungai Riam Kanan di Desa Mandikapau Barat.
Standar yang digunakan dalam pengambilan sampel air dan ikan ini menurut
standar analisis laboratorium yang berlaku di Indonesia, yaitu SNI 06-2412-1991
(Badan Standarisasi Nasional, 2013) tentang metode pengambilan sampel uji
kualitas air. Pengambilan sampel bertujuan untuk mengetahui kualitas air yang
ditentukan berdasarkan kondisi perairan yang ada di lokasi atau di sekitar lokasi
pengamatan. Sedangkan sampel ikan ditangkap dengan menggunakan pancing
dan/atau menggunakan jaring pada 3 titik yang telah ditentukan sebelumnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil pemeriksaan kandungan Cu dan Zn pada sampel air yang
di ambil di Sungai daerah Desa Mandikapau Barat didapatkan data sebagai
berikut:
Tabel 1. kandungan logam Cu dan Zn pada sampel air sungai

No. Sampel
Kandungan Cu
(ppm) pada
sampel air
sungai
Baku Mutu
Logam Cu
(ppm)
berdasarkan
Pergub Kal-Sel
No. 5 Tahun
2007
Kandungan
Zn (ppm)
pada sampel
air sungai
Baku Mutu
Logam Zn
(ppm)
Berdasarkan
Pergub Kal-Sel
No. 5 Tahun
2007
1. I Td (< 0,0093) 0,02 0,020 0,05
2. II Td (< 0,0093) 0,02 0,008 0,05
3. III Td (< 0,0093) 0,02 0,035 0,05

Berdasarkan hasil pemeriksaan kandungan Cu dan Zn pada sampel daging
ikan nila yang didapatkan dari sungai di Desa Mandikapau Barat, didapatkan data
sebagai berikut:
Tabel 2 kandungan logam Cu dan Zn pada sampel ikan nila
No. Sampel
Kandungan Cu
(ppm) pada
sampel daging
Ikan Nila
Kisaran batas
maksimum Cu
(ppm)
Berdasarkan
SK Dirjen
POM No.
03725/SK/VII/
1989 *
Kandungan Zn
(ppm) pada
sampel daging
Ikan Nila
Kisaran batas
maksimum Zn
(ppm)
Berdasarkan
SK Dirjen
POM No.
03725/SK/VII/
1989*
1. I 1,700 0,1-150 23,150 2,0-100,0
2. II 1,800 0,1-150 27,025 2,0-100,0
3. III 1,550 0,1-150 40,250 2,0-100,0
Keterangan: * Diacu dari buletin POM Volume 06/tahun III/2004

Berdasarkan pengukuran parameter yang dilakukan pada sungai di Desa
Mandikapau Barat didapatkan data sebagai berikut:
Tabel 3 Parameter fisika dan kimia air sungai di Desa Mandikapau Barat
No Parameter Satuan
Titik sampel

Kisaran
Baku
mutu Air
1 2 3
1. Suhu air (C) 29 29 29 29 28-30*
2.
Derajat
Keasaman
(pH)
- 7,28 7,29 8,12
7,28-
8,12
6-9**
3.
Kecerahan
air
(cm) 173 168 130
130-
173
30-40 *
4.
Kedalaman
air
(m) 8 12 14 8-14 -
5.
Kecepatan
arus
(m/s) 1,31 1,25 1,1
1,1-
1,31
0,2 - 0,5 *
6.
Oksigen
terlarut/ DO
(mg/L) 6,3 6,4 6,1 6,1-6,4 4**

* Baku mutu air Kolam Berdasarkan Kordi (1995)
** Baku mutu air berdasarkan peraturan pemerintah nomor 82 tahun 2001
pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air

PEMBAHASAN
Data yang didapatkan pada pengujian sampel air yang diambil dari sungai di
Desa Mandikapau yang dilakukan pengujian oleh tim laboratorium MIPA
Banjarbaru didapatkan hasil kandungan Cu pada sampel tidak dapat dideteksi.
Hasil yang tidak dapat dideteksi ini diduga kandungan logam Cu pada air sungai
Desa Mandikapau Barat ini sangat rendah. Alat uji yang berupa Spektrofotometer
dengan metode Atomic Absorbtion Spectometry (AAS) ini diduga memiliki batas
minimum uji. Jika sampel uji memiliki kandungan di bawah batas tersebut maka
hasilnya tidak dapat dideteksi. Kadar kandungan Cu yang terlarut dalam sampel
air sungai tersebut sangat kecil sehingga alat uji tidak dapat mendeteksi adanya
kandungan. Jika dibandingkan berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan
Selatan No. 5 Tahun 2007, menetapkan bahwa ambang batas kandungan logam
Cu di air adalah 0,02 ppm, maka kadar Cu pada air sungai di Desa Mandikapau
Barat masih berada di bawah ambang batas maksimum. Hasil di bawah ambang
batas ini didapatkan dari ketiga titik sampel.
Pengambilan sampel air sungai di Desa Mandikapau Barat dilakukan pada 3
titik sampel. Data yang didapatkan dari hasil pengujian logam Zn dengan
menggunakan Spektrofotometer pada titik sampel I mendapatkan hasil kandungan
Zn yang terdapat pada sampel adalah sebesar 0,020 ppm. Hasil ini menunjukan
bahwa kandungan logam Zn pada titik I masih berada di bawah ambang batas
yang ditetapkan oleh Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No. 5 Tahun 2007
yang menetapkan batas maksimum sebesar 0,05 ppm. Hasil pengujian pada
sampel II air sungai didapatkan hasil kandungan logam Zn sebesar 0,008 ppm.
Hasil ini juga menunjukan bahwa pencemaran logam Zn pada air sungai tidak
banyak karena masih berada di bawah ambang batas berdasarkan Peraturan
Gubernur Kalimantan Selatan No. 5 Tahun 2007. Kandungan logam yang
didapatkan pada uji sampel III adalah sebesar 0,035 ppm. Ini juga menunjukan
kandungan logam Zn di air sungai pada titik III masih berada di bawah ambang
batas berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No. 5 Tahun 2007.
Data pengujian logam Cu dan Zn pada ketiga sampel air menunjukan bahwa
kandungan Cu dan Zn pada air sungai di Desa Mandikapau Barat masih berada di
bawah ambang batas jika melihat dari ketetapan minimum Peraturan Gubernur
Kalimantan Selatan No. 5 Tahun 2007.
Pengambilan sampel dari ikan nila dilakukan pada 3 titik. Kemudian untuk
pengujian kandungan logam Cu dan Zn di lakukan di laboratorium kimia MIPA
UNLAM Banjarbaru dengan menggunakan metode AAS. Sampel yang digunakan
untuk uji kandungan logam ini berupa daging ikan nila. Hasil yang didapatkan
dari pengujian kandungan logam Cu pada sampel daging ikan nila I sebesar 1,700
ppm, sampel daging ikan nila II sebesar 1,800 ppm dan sampel daging ikan nila
III sebesar 1,550 ppm. Berdasarkan data tersebut, maka kandungan logam Cu
pada ketiga sampel masih berada pada kisaran aman konsumsi. Menurut SK
Dirjen POM No. 03725/SK/VII/1989 menetapkan ambang batas Cu berada pada
kisaran 0,1-150 ppm.
Berdasarkan hasil pengujian menggunakan metode AAS pada sampel
daging ikan nila, didapatkan kandungan Zn pada sampel daging ikan nila I sebesar
23,150 ppm, kandungan Zn pada sampel ikan nila II sebesar 27,025 ppm dan
kandungan Zn pada sampel daging ikan nila III sebesar 40,250 ppm. Hasil yang
didapatkan ini menunjukan bahwa kandungan Zn yang terdapat pada daging ikan
nila masih berada pada batas aman konsumsi. Berdasarkan dari SK Dirjen POM
No. 03725/SK/VII/1989 menetapkan bahwa kisaran batas aman kandungan Zn
pada makanan adalah 2,0-100,0 ppm.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada sungai di Desa
Mandikapau Barat, dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar kandungan logam Cu
pada air sungai di Desa Mandikapau Barat tidak dapat dideteksi oleh alat
spektrofotometer karena kandungan Cu terlarut dalam air relatif sangat kecil dan
kandungan logam Zn pada air berkisar antara 0,0035-0,020 ppm sedangkan untuk
kandungan logam Cu dalam daging ikan nila memiliki kisaran antara 1,550-1,800
ppm dan kandungan logam Zn dalam daging ikan nila sebesar 23,150-40,250
ppm.
Berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No. 5 Tahun 2007,
kandungan logam Cu yang tidak dapat dideteksi atau sangat kecil dan Zn di
kisaran 0,0035-0,020 ppm pada air berada dibawah ambang batas baku mutu yaitu
untuk logam Cu sebesar 0,01 ppm dan untuk logam Zn 0,05 ppm. Berdasarkan
Surat Keputusan Dirjen POM Nomor 03725/VII/1989 kandungan logam Cu
dikisaran 1,550-1,800 dan Zn dikisaran 23,150-40,250 ppm berada pada kisaran
normal ambang batas yaitu 0,1-150 ppm untuk Cu dan 2,0-100,0 untuk Zn.

SARAN
Penulis berharap agar dapat dilakukan penelitian berkelanjutan tentang kandungan
logam Cu dan Zn pada sungai di Desa Mandikapau Barat agar dapat diketahui
perubahan kandungan air pada setiap penelitian. Penelitian selanjutnya diharapkan
melakukan penelitian pada dua musim yang berbeda, yaitu musim hujan dan
musim kemarau agar dapat dilihat perbedaan kadar logam yang ada pada sungai di
Desa Mandikapau Barat. Sebaiknya di pinggiran sungai yang terdapat tambang
pasir dan batu koral juga ditanam tumbuhan yang bisa menyerap logam berat yang
terlarut di dalam air. Selain itu tumbuhan tersebut juga bisa berfungsi sebagai
penahan abrasi yang disebabkan arus sungai.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, Eddy dan Evi Liviawati. 1992. Pengendalian Hama & Penyakit Ikan.
Kanisius. Jakarta.

Amri, Khairul dan Khairuman. 2008. Buku Pintar Budidaya 15 Ikan Konsumsi.
PT Agromedia Pustaka. Jakarta

________________________. 2009. Budidaya Ikan Nila Secara Intensif.
Kanisius.Yogyakarya.

Anonim. 2013. Mandi Kapau Barat Karang Intan Banjar.
http://id.wikipedia.org/wiki/Mandi_Kapau_Barat,_Karang_Intan,_Banjar.
Diakses: 20 Agustus 2013.

Aprianingsih, Sri. 2013. Kandungan Cuprum (Cu) dan Zink (Zn) pada Air dan
Ikan Tawes (Barbonymus Gonionotus) di Danau Gentung Dayo eks
Tambang Batu Bara PT BHP Kendilo Coal Indonesia Kabupaten Paser
Kalimantan Timur. Skripsi Sarjana Fakultas FKIP UNLAM: Banjarmasin.
Tidak Di Publikasikan

Arie, Usni. 2007. Pembenihan & Pembesaran Nila Gift. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Cahyono, Bambang. 2000. Budi Daya Ikan Air Tawar. Kanisius. Jakarta.

Cahyono, Bambang. 2001. Budi Daya Ikan di Perairan Umum. Kanisius. Jakarta.

Chandra, Budiman. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC. Jakarta.

Connel, D. W. & G.J. Miller.1995. Kimia Ekotoksikologi Pencemaran.
Universitas Indonesia Press. Jakarta

Darmono. 1995. Logam dalam Sistem Makhluk Hidup. Universitas Indonesia
Press. Jakarta.

________. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Universitas Indonesia
Press. Jakarta.

Djarijah, Abbas Siregar. 1995. Pembenihan dan Pembesaran Secara Intensif Ikan
Nila. Kanisius. Yogyakarta.

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air: Bagi pengelolaan sumberdaya dan
lingkungan perairan. Penerbit Kanasius.Yogyakarta.

Fardiaz, Srikandi. 2006. Polusi air dan udara. Kanisius. Yogyakarta.


Keith, H. Lawrence. 1991. Enviromental Sampling and Analysis. Lewis Publisher.
Florida.

Khairuman dan Khairul Amri. 2003. Petunjuk Praktis Memancing Ikan Air
Tawar. Agromedia Pustaka. Jakarta

Kordi, K. Gufran, M. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Rineka
Cipta Bina Adiaksara. Jakarta

Murtidjo, Bambang Agus. 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar.
Kanisius. Jakarta.

Palar, Heryando. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Rineka Cipta.
Jakarta

Pamungkas, Bambang Surya. 2013. Kandungan Timbal (Pb) dan Khromium
(Cr) pada Air dan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Kolam Eks
Tambang Batubara Desa Petangis Kabupaten Paser Kalimantan Timur.
Skripsi Sarjana Fakultas FKIP UNLAM: Banjarmasin. Tidak Di
Publikasikan.

Rukmana, Rahmat. 1997. Ikan Nila, Budidaya dan Aspek Agribisnis. Kanisius.
Jakarta.

Sastrawijaya, A. Tresna. 1991. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta.

Shindu, Shita Femala. 2005. Kandungan Logam Berat Cu, Zn dan Pb dalam Air,
Ikan Nila (Oreochromis niloticus ) dan Ikan Mas (Cyprinus carpio)
dalam Keramba Jaring Apung, Waduk Saguling. Fakultas Perikanan Dan
Ilmu Kelautan Institut Pertanian: Bogor

Soemirat, Juli, dkk. 2003. Toksikologi Lingkungan. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta

Supardi, Imam. 2003. Lingkungan Hidup & Kelestariannya. Alumni. Jakarta

Susanti, Evi.2013. Kandungan Chromium (Cr) dan Zink (Zn) Pada Air dan Ikan
puyau (Osteochillus hasselti) di Perairan Sungai Alalak Kawasan
Berangas Barat Kabupaten Barito Kuala. Skripsi Sarjana Fakultas FKIP
UNLAM: Banjarmasin. Tidak Di Publikasikan.

Sutisna, Dedy Heryadi dan Ratno Sutarmanto. 1995. Pembenihan Ikan Air Tawar.
Kanisius. Yogyakarta.

Sutrisno, Totok dan Eni Suciastuti. 1996. Teknologi Penyediaan Air Bersih. PT.
Rineka Cipta. Jakarta.

Wardhana, Wisnu Arya. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi Offset
Yogyakarta: Yogyakarta.

Widowati, Wahyu, dkk. 2008. Efek Toksik Logam. Penerbit Andi. Yogyakarta