Anda di halaman 1dari 52

i

KATA PENGANTAR

Kegiatan pengawasan internal saat ini merupakan kebutuhan manajemen
setiap unit kerja pemerintah, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 yang mewajibkan pimpinan instansi untuk
bertanggung jawab terhadap efektifitas penyelenggaraan Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah (SPIP). Di lingkungan Kementerian Pertanian amanat untuk
pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern telah dituangkan dalam Peraturan Menteri
Pertanian Nomor 23/Permentan/OT.140 /5/2009, tentang Pedoman Umum SPI
Departemen Pertanian.
Menindaklanjuti berbagai peraturan pelaksanaan SPI, Direktorat Jenderal
Peternakan dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan Nomor
11037/Kpts/OT.160/F/11/2009, telah membentuk Tim Satuan Pelaksana Sistem
Pengendalian Intern Direktorat Jenderal Peternakan (Tim Satlak SPI Ditjennak). Tim
Satlak SPI ini diharapkan dapat menjadi penggerak pelaksanaan implementasi SPI
di seluruh Unit Kerja/Satuan Kerja (Satker) lingkup Direktorat Jenderal Peternakan.
Untuk mempermudah pelaksanaan implementasi SPI, Tim Satlak SPI
Direktorat Jenderal Peternakan telah menyusun petunjuk pelaksanaan SPI.
Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) SPI Direktorat Jenderal Peternakan ini merupakan
penjabaran dari Pedoman Umum Sistem Pengendalian Intern (SPI) Kementerian
Pertanian. Petunjuk Pelaksanan ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam
mengimplementasikan berbagai kegiatan SPI oleh para pelaksana dan
penanggungjawab kegiatan maupun bagi Tim Satuan Pelaksana (Satlak) SPI
seluruh Satuan Kerja (Satker) di lingkup Direktorat Jenderal Peternakan.
Melalui petunjuk pelaksanaan SPI diharapkan upaya pencapaian program
dan kegiatan pembangunan peternakan oleh seluruh Satker dapat berjalan secara
efektif, efisien, ekonomis, tertib dalam penyelenggaraan pemerintahan, kehandalan
laporan keuangan, pengamanan asset, dan ketaatan terhadap peraturan
perundangan dalam rangka mewujudkan Good Governance.

Jakarta, Maret 2010
Direktur Jenderal Peternakan


Dr.Ir. Tjeppy D. Soedjana, M.Sc.


ii

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI .................................................................................... ...................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ vi
I. PENDAHULUAN
A. Gambaran Umum .................................................................................. 1
B. Maksud dan Tujuan ................................................................................. 1
C. Ruang Lingkup ........................................................................................ 2
II. LINGKUNGAN PENGENDALIAN
A. Pelaksanaan Pengendalian pada Lingkungan Pengendalian ........... 4
B. Sarana Penilaian Lingkungan Pengendalian ......................................... 7

III. PENILAIAN RISIKO
A. Identifikasi Risiko .............................................................................. 13
B. Penanganan Risiko................................................................................... 15
C. Pemantauan dan Evaluasi Terhadap Penanganan Risiko ...................... 15
D. Mekanisme dan Prosedur ....................................................................... 16
E. Sarana Penilaian Risiko .......................................................................... 16

IV. PENGENDALIAN
A. Karakteristik Kegiatan Pengendalian ...................................................... 19
B. Aktivitas Pengendalian ............................................................................ 19
C. Sarana Penilaian Kegiatan Pengendalian ............................................... 20

V. INFORMASI DAN KOMUNIKASI
A. Pencatatan dan Pelaporan ................................................................ 24
B. Sarana Penilaian Informasi dan Komunikasi ..................................... 26

iii


VI. PEMANTAUAN PENGENDALIAN INTERN
A. Tindakan Administratif ....................................................................... 31
B. Penyelesaian Kerugian Negara ......................................................... 31
C. Sarana Penilaian Pemantauan Pengendalian Intern ......................... 31

VII.TIM SATUAN PELAKSANA SISTEM PENGENDALIAN INTERN
A. Latar Belakang.................................................................................... 36
B. Satuan Pelaksana Sistem pengendalian Intern (Satlak SPI).............. 37

VIII. PENUTUP ................................................................................................... 47


























iv

DAFTAR TABEL


Tabel -1. Sarana Pelaksanaan Penilaian/Pengambilan Data Primer
Lingkungan Pengendalian ..................................................................... 8
Tabel -2. Formulir Daftar Risiko ............................................................................ 14
Tabel -3. Daftar Penanganan Risiko ..................................................................... 15
Tabel -4. Matriks Pengambilan Data Primer Pelaksanaan Penilaian Risiko .......... 17
Tabel -5. Matriks Penilaian Kegiatan Pengendalian .............................................. 21
Tabel -6. Matriks Penilaian Informasi dan Komunikasi .......................................... 26
Tabel -7. Matriks Penilaian Pemantauan Pengendalian Intern .............................. 32





















v


DAFTAR GAMBAR


Gambar -1. Siklus Penilaian Risiko ..................................................................... 13
Gambar -2. Struktur Organisasi Satlak SPI Ditjen Peternakan ............................ 39
Gambar -3. SOP Tim Satlak SPI Ditjen Peternakan ............................................ 42
Gambar -4. SOP Koordinasi Tim Satlak SPI Ditjen Peternakan .......................... 45


























vi

DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran -1. Lingkungan Pengendalian ................................................................. 48
Lampiran -2. Penilaian Risiko ................................................................................. 49
Lampiran -3. Penilaian Kegiatan Pengendalian ..................................................... 50
Lampiran -4. Penilaian Informasi dan Komunikasi .................................................. 51
Lampiran -5. Penilaian Pengendalian Intern ........................................................... 52
Lampiran -6. Data Umum Penunjang Pelaksanaan Penilaian Tim SPI ................... 53
Lampiran -7. Daftar Dokumen Bahan Penilaian SPI ............................................... 54
Lampiran -8. Daftar Penerimaan Penghargaan SPI ............................................... 55
Lampiran -9. Berita Acara Hasil Pelaksanaan Penilaian SPI .................................. 56

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Gambaran Umum
Dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 pada
tanggal 28 Agustus 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPI),
maka unit dan satuan kerja diharapkan dapat mengidentifikasi terjadinya deviasi
atau penyimpangan atas pelaksanaan kegiatan dibandingkan dengan
perencanaan sebagai umpan balik untuk melakukan tindakan koreksi atau
perbaikan bagi pimpinan dalam mencapai tujuan organisasi. SPI sendiri
merupakan proses integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara
terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan
terhadap tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien,
keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan
terhadap peraturan perundang-undangan.
SPI terdiri atas unsur : (1) lingkungan pengendalian; (2) penilaian risiko; (3)
kegiatan pengendalian; (4) informasi dan komunikasi; dan (5) pemantauan
pengendalian intern. Penerapan unsur SPI dilaksanakan menyatu dan menjadi
bagian integral dari kegiatan Instansi Pemerintah. Tuntutan PP Nomor 60 Tahun
2008 yang mengamanatkan pimpinan instansi untuk bertanggung jawab
terhadap efektifitas penyelenggaraan SPI di lingkungan masing-masing
menjadikan substansi petunjuk pelaksanaan dirancang sedemikian rupa guna
memberikan pembekalan yang memadai bagi pimpinan instansi serta pejabat
berwenang lainnya agar dapat melaksanakan pembinaan atas penyelenggaran
SPI dan meningkatkan efektifitas pengawasan dan pengendalian di lingkungan
masing-masing instansi.

A. Maksud dan Tujuan
1. Maksud
Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern di lingkungan
Direktorat Jenderal Peternakan ini, dimaksudkan untuk mendukung
peningkatan kinerja, transparansi, akuntabilitas pengelolaan keuangan
negara, dan pengamanan aset Negara di lingkungan Direktorat Jenderal
Peternakan khususnya.



2

2. Tujuan
a. Memberikan panduan bagi Unit Kerja (UK) Eselon II, Unit Pelaksana
Teknis, dan Satuan Kerja (Satker) lingkup Direktorat Jenderal Peternakan
dalam pelaksanaan SPI dalam rangka pengelolaan Anggaran
Pembangunan dan Belanja Negara (APBN), Dana Dekonsentrasi, maupun
Dana Tugas Pembantuan.
b. Sebagai petunjuk pelaksanaan bagi Tim SPI dalam melakukan penilaian
penerapan sistem pengendalian intern di lingkup Direktorat Jenderal
Peternakan.

B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI) yang dijabarkan
ke dalam masing-masing Kegiatan Utama di lingkungan Direktorat Jenderal
Peternakan, meliputi unsur-unsur berikut :
1. Lingkungan pengendalian
Pimpinan dan seluruh pegawai Direktorat Jenderal Peternakan harus mampu
menciptakan dan memelihara lingkungan dalam keseluruhan organisasi yang
menimbulkan perilaku positif dan mendukung terhadap pengendalian intern
dan manajemen yang sehat.
2. Penilaian risiko
Pengendalian intern harus mampu memberikan penilaian atas risiko yang
dihadapi unit organisasi baik dari luar maupun dari dalam.
3. Kegiatan pengendalian
Kegiatan pengendalian membantu memastikan bahwa arahan pimpinan
dilaksanakan secara efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan organisasi.
4. Informasi dan komunikasi
Informasi harus dicatat dan dilaporkan kepada pimpinan Instansi Pemerintah
dan pihak lain sesuai ketentuan. Informasi disajikan dalam bentuk dan sarana
tertentu serta tepat waktu sehingga memungkinkan pimpinan secara
berjenjang melaksanakan pengendalian dan tanggung jawabnya.
5. Pemantauan pengendalian intern
Pemantauan harus dapat menilai kualitas kinerja baik secara kualitatif dan
kuantitatif dari waktu ke waktu serta memastikan bahwa rekomendasi hasil
audit dan reviu lainnya dapat segera ditindaklanjuti.


3

BAB II
LINGKUNGAN PENGENDALIAN

A. Pelaksanaan Pengendalian pada Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian adalah kondisi dalam instansi pemerintah yang
mempengaruhi efektifitas pengendalian intern, dimana di dalamnya telah
terbangun sistem pengendalian intern yang efektif yang melekat sepanjang
kegiatan, dipengaruhi oleh sumber daya manusia, serta hanya memberikan
keyakinan yang memadai, bukan keyakinan mutlak. Guna mendukung
terbentuknya sistem pengendalian intern pemerintah yang baik, lingkungan
pengendalian memerlukan :

1. Organisasi

Pengorganisasian mencakup proses pembentukan organisasi yang efektif
dan efisien, penyusunan struktur, rincian tanggung jawab, penetapan
kompetensi pejabat, dan rentang kendali antara pimpinan/penanggunjawab
operasional suatu program/kegiatan. Melalui pengorganisasian, bentuk
organisasi pemerintah dapat didesain sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan
perkembangan. Kemampuan menyesuaikan diri dan tanggap terhadap
adanya suatu perubahan, merupakan salah satu ciri dari good governance.
Pengorganisasian yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Mengacu pada upaya menciptakan organisasi yang efektif dan efisien;
b. Struktur organisasi harus mengacu pada visi, misi dan tujuan organisasi;
c. Wewenang tanggung jawab untuk masing-masing jabatan harus
seimbang dengan tugas dan fungsinya;
d. Penetapan pejabat harus sesuai dengan kriteria yang ditetapkan
(kompetensi) untuk masing-masing jabatan;
e. Pendelegasian wewenang harus diikuti dengan tanggung jawab yang
sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Pembentukan struktur organisasi sekurang-kurangnya dilakukan dengan :
a. Menyesuaikan dengan ukuran dan sifat kegiatan unit kerja;
b. Memberikan kejelasan wewenang dan tanggung jawab dalam unit kerja;
c. Memberikan kejelasan hubungan dan jenjang pelaporan intern dalam unit
4

kerja;
d. Melaksanakan evaluasi dan penyesuaian periodik terhadap struktur
organisasi sehubungan dengan perubahan lingkungan strategis; dan
e. Menetapkan jumlah pegawai yang sesuai, terutama untuk posisi
pimpinan.

2. Sumberdaya manusia (personil)

Sumberdaya manusia (personil) merupakan subsistem dalam suatu
organisasi yang diciptakan sebagai upaya agar para pegawai dapat
dimanfaatkan secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan organisasi,
termasuk didalamnya usaha untuk meningkatkan kemampuan, semangat
dan gairah kerja serta disiplin dalam melaksanakan tugas yang menjadi
tanggungjawabnya. Dengan pengelolaan personil secara kontinyu dan
konsisten, diharapkan produktivitas pegawai akan meningkat, sehingga
tujuan organisasi yang dijabarkan dalam tugas pokok dan fungsi dapat
dicapai secara efektif dan efisien.

Untuk dapat menciptakan sistem pembinaan karier pegawai, perlu dirancang
pola karier pegawai yang sesuai dengan misi organisasi, budaya organisasi
dan kondisi perangkat pendukung sistem kepegawaian yang berlaku, sesuai
dengan peraturan perundangan pegawai negeri sipil yang berlaku. Sistem
pembinaan karier pegawai diharapkan mampu mengakomodasikan
kepentingan organisasi dan individu, yang mencakup aktivitas yang sangat
luas. Aktivitas yang perlu diperhatikan sekurang-kurangnya dimulai dari pola
rekruitmen, pembinaan, penghargaan dan sanksi, pengembangan kode etik
PNS dan pemberhentian pegawai.

3. Kebijakan

Pimpinan unit kerja dalam melaksanakan programnya wajib memiliki
kebijakan (ketentuan hukum) yang dapat dijadikan landasan bagi pelaksana
dalam penyelenggaraan kegiatan. Dalam penyusunan kebijakan agar
memperhatikan prinsip prinsip rasionalitas, prinsip efektifitas, prinsip efisiensi,
dan prinsip produktivitas,
Kebijakan merupakan salah satu sarana pengendalian Intern Pemerintah
untuk memandu pelaksanaan program/kegiatan mengarah pada tujuan yang
harus dicapai, dengan menjelaskan secara rinci hal-hal yang dilakukan.
Kebijakan merupakan pedoman yang didokumentasikan dan berlaku pada
5

setiap aktivitas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan
program/kegiatan.
Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam menyusun kebijakan
adalah :
a. Mengacu pada tujuan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal
Peternakan yaitu Renstra Ditjen Peternakan, Departemen Pertanian.
b. Masing-masing unit kerja lingkup Ditjen Peternakan, termasuk Unit
Pelaksana Teknis (UPT) maupun Satuan Kerja (Satker) Daerah dalam
menyusun kebijakan mengacu pada program yang ditetapkan.
c. Mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi terhadap pelaksanaan
program/kegiatan.
d. Dibuat secara tertulis dan jelas pada setiap program/kegiatan.
e. Dapat secara efektif dikomunikasikan kepada seluruh personil dan Satker
Daerah dalam lingkup Ditjen Peternakan.
f. Dapat memberikan motivasi pencapaian tujuan, program atau target.
g. Ditinjau kembali secara berkala untuk diselaraskan dengan perubahan
lingkungan.
h. Transparan dan dapat menjadi sarana komunikasi timbal balik antara
atasan dan bawahan.
i. Dapat meningkatkan disiplin kerja para pegawai.
j. Konsisten dengan tujuan organisasi.

4. Prosedur

Prosedur adalah rangkaian (urut-urutan) dari beberapa perintah atau
statemen atau aturan yang mewakili aktivitas, yang dilakukan oleh satu atau
beberapa orang dengan peralatan dan waktu tertentu untuk mencapai tujuan
yang diharapkan sesuai dengan kebijakan pimpinan. Prosedur harus dibuat
sederhana dan mengacu pada tugas pokok dan fungsi, ditetapkan secara
tertulis, mudah dipahami, dan disosialisasikan kepada pihak yang
berkepentingan guna memberikan pelayanan prima kepada pengguna jasa
(stakeholders).

Pimpinan unit kerja perlu membuat prosedur kerja sebagai sarana
pengendalian intern. Penyusunan prosedur dan implementasinya perlu
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a. Dapat menguraikan tahapan secara rinci target, waktu dan keluaran
(output) yang diharapkan sesuai dengan masing-masing tahapan.
b. Prosedur harus memiliki tujuan yang dapat diidentifikasi secara jelas.
6

c. Pengorganisasian prosedur harus dapat menunjang tercapainya tujuan.
d. Penyusunan prosedur harus didukung dengan kebijakan yang memadai.
e. Peraturan perundang-undangan yang terkait harus dipertimbangkan
dalam penyusunan prosedur.
f. Penempatan personil dalam pelaksanaan prosedur harus memadai, baik
kuantitas maupun kualitasnya.
g. Prosedur harus dibuat sederhana, efisien, fleksibel kecuali untuk kegiatan
yang bersifat mekanis maupun teknis.
h. Kegiatan-kegiatan atau langkah-langkah di dalam prosedur harus
terkoordinasi dan terdapat pengecekan internal di dalamnya.
i. Dituangkan secara tertulis dan mudah dimengerti, serta dikomunikasikan
kepada semua pihak yang terkait.
j. Hasil pelaksanaan prosedur harus dibuatkan laporannya dan dilakukan
reviu secara berkala.

B. Sarana Penilaian Lingkungan Pengendalian

Penilaian unsur lingkungan pengendalian yang meliputi organisasi, prosedur,
sumberdaya manusia, dan kebijakan dilakukan untuk mengukur tingkat
efektifitas lingkungan pengendalian yang telah dibangun. Untuk memberi
keyakinan bahwa lingkungan pengendalian suatu Unit Kerja (UK)/Satuan Kerja
(Satker) telah tepat dan memadai untuk mendukung implementasi Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) diperlukan sarana penilaian.
Sarana penilaian lingkungan pengendalian disajikan pada tabel 1, sedangkan
penilaian lingkungan pengendalian untuk tahun berjalan terdapat pada lampiran
1. Pada masing-masing sub unsur diberi bobot tertentu (ya=1, tidak=0)
berdasarkan justifikasi nilai penting (signifikansi) terhadap lingkungan
pengendalian, yang jumlah seluruhnya 100%. Setiap sub unsur diuraikan
menjadi beberapa butir penilaian dengan bobot sesuai dengan relevansinya
masing-masing sub unsur tersebut.





7

Tabel 1. Sarana pelaksanaan penilaian/pengambilan data primer lingkungan
pengendalian.
UNIT KERJA :
TRIWULAN :
NO U R A I A N YA TIDAK DOKUMEN
PENDUKUNG
A Organisasi
1 Ada/ tidaknya bagan organisasi di Unit Kerja
(UK)/Satuan Kerja (Satker) yang
bersangkutan

1
SK. Mentan/
Gubernur/Bupati
tentang organisasi dan
Tata Kerja.

2 Kesesuaian organisasi dengan tugas pokok
dan fungsi unit kerja/satker

1
SK. Ditjen/Kadis/
/Ka.UPT tentang
organisasi unit kerja.

3 Ada/tidaknya mekanisme dan alur pekerjaan
serta tanggung jawab

1
- SK. Ditjen/Kadis/
/Ka.UPT tentang
Penetapan
Tim/Penanggung
Jawab kegiatan.
- SOP kegiatan.

4 Ada/tidaknya rentang kendali bagi pimpinan
dalam organisasi

1
Kumpulan peraturan
atau kriteria lainnya
yang berkaitan
dengan organisasi
5 Ada/tidaknya analisis/seleksi kompetensi
personil dalam menduduki jabatan

1
Daftar nominatif
pengawai dan daftar
urutan kepangkatan.

6 Pimpinan melakukan pemantauan terhadap
operasionalisasi organisasi pada unit
kerja/satker dalam pelaksanaan kegiatan

1
- Lap. hasil evaluasi
kepegawaian/
organisasi
- Lap. Satlak SPI
7 Organisasi dilengkapi dengan strukur
organisasi dan uraian tugas (Job Discription)
1 - Dok. Analisa jabatan
- Daftar uraian tugas.

8 Organisasi didukung dan dilengkapi dengan
sistem hubungan kerja yang terintegrasi antar
bagian secara vertikal maupun horizontal

1
- Dok. Tata hubungan
kerja.
- SOP koordinasi.

9 Organisasi dilengkapi dengan definisi
wewenang dan pendelegasiannya serta
ketepatan pengisian personil dalam organisasi

1
- Lap. evaluasi
kinerja.
- Sosialisasi SOP
kegiatan.
- Mekanisme
pendelegasian
wewenang.
8


10 Struktur organisasi dan uraian tugasnya
disosialisasikan kepada seluruh personil/
karyawan
1 Lap. sosialisasi.

11 Pelaksanaan evaluasi secara berkala
terhadap organisasi yang telah ada guna
penyempurnaan organisasi
1 - Lap evaluasi
organisasi
- Renstra organisasi
12 Rekomendasi hasil evaluasi tersebut
digunakan untuk perbaikan
Organisasi
1 Lap tindak lanjut hasil
evaluasi
B Prosedur
1 Pimpinan menetapkan prosedur tertulis (SOP)
di unit kerja/satker
1 - SK Dirjen/Kadis/ Ka.
UPT.
- Daftar SOP.
- Daftar Kegiatan.
2 SOP dibuat lengkap seluruh kegiatan sesuai
dengan tupoksi/kebutuhan organisasi
1 - Lap evaluasi SOP.
- SOP setiap kegiatan

3 Kesesuaian prosedur dengan kebutuhan
organisasi dalam mendukung pelaksanaan
kegiatan dan tupoksi unit kerja
1 Lap evaluasi
prosedur.

4 Efektifitas prosedur sebagai acuan kerja 1 Lap revisi prosedur.

5 Prosedur telah disusun secara sederhana,
tidak bertele-tele, jelas dan fleksibel
1 Saran/masukan dari
pelaksana kegiatan.

6 Prosedur telah ditunjang dengan kebijakan
secara tertulis
1 Dok. kebijakan

7 Prosedur disosialisasikan/dikomunikasikan
kepada seluruh karyawan/pegawai pada unit
kerja/satker dan pengguna
1 Dok. Sosialisasi
prosedur

8 Prosedur telah memuat pencatatan, pelaporan
untuk pelaksanaan kegiatan, pengelolaan
keuangan/asset
1 - SOP SABMN.
- Lap SABMN.
9 Prosedur tindak lanjut hasil pemeriksaan APIP
pada unit kerja/ satker telah dibuat
1 - SOP tindak lanjut
LHP APIP.
- Lap. Tindak lanjut
LHP APIP.
10 Pimpinan melakukan evaluasi secara berkala
dan berjenjang terhadap prosedur yang ada
1 Memo/lap. saran dan
arahan pimpinan

11 Ada/tidaknya penyajian kondisi, kendala dan
rekomendasi dalam laporan evaluasi prosedur

1
Lap evaluasi
prosedur.
12 Hasil evaluasi prosedur dituangkan dalam
laporan dan digunakan pimpinan unit
kerja/satker sebagai bahan penyempurnaan
prosedur

1
Tindak lanjut lap.
Evaluasi prosedur.
C. Sumberdaya Manusia
1 Ada/tidaknya sarana penegakan integritas/
nilai etika di unit kerja/satker dan seluruh
pejabat struktural telah menyampaikan data
kekayaan
1 - Data laporan
kepegawaian.
- Lap. LHKPN ke
KPK.
9

- Dok. pakta
integritas.

2 Pimpinan menerapkan kompetensi SDM
dalam organisasi di unit kerja/
Satker
1 - Dok. mekanisme
penerimaan
pegawai.
- Dok. penempatan
sistem Diklat.
3 Ada/tidaknya penggunaan pertimbangan risiko
dalam pengambilan keputusan dalam
menerapkan manajemen berbasis kinerja
1 - Daftar Nominatif
pegawai.
- Daftar urutan
kepangkatan (DUK).

4 Ada/tidaknya penerapan sistem
pendelegasian wewenang/tanggung jawab
dalam melaksanakan roda organisasi

1

Dok alur tugas
5 Ada/tidaknya uraian tugas kepada masing-
masing personil pada unit kerja/satker

1
Daftar uraian tugas
6 Ada/tidaknya pembinaan karir/pola karir
pegawai pada unit kerja/satker
1 Dok pembinaan karier
pegawai
7 Ada/tidaknya penetapan sistem DIKLAT bagi
pegawai guna meningkatkan kemampuan/
profesionalisme

1
Dok. Diklat
8 Ada/tidaknya penerapan/penetapan rumpun
jabatan bagi pegawai

1
Dok. Rumpun jabatan
9 Ada/tidaknya penetapkan kompetensi
pegawai, mulai dari mekanisme penerimaan
PNS sampai dengan pengkajian kinerja
pegawai
1

Dok evaluasi kinerja
10

Ada/tidaknya pemantauan/evaluasi terhadap
penguasaan/implemetasi uraian tugas (jobs
description) masing-masing personil

1
Dok pemantauan/
evaluasi uraian tugas.
11 Ada/tidaknya penetapan personil yang
mengelola keuangan/asset Negara
berdasarkan kompetensinya

1
Dok. Sertifikasi
bendaharawan/
keuangan
D Kebijakan
1 Pimpinan menetapkan kebijakan tertulis guna
mendukung pelaksanaan tugas pokok dan
fungsi pada unit kerja/satker yang
bersangkutan

1
Dok. Kebijakan
pendukung
2 Kebijakan telah sesuai dengan tujuan/sasaran
yang telah ditetapkan
1

Dok. Renja
3 Kebijakan telah disosialisasikan/
dikomunikasikan kepada personil di unit
kerja/satker

1
Dok. sosialisasi
4 Pimpinan telah menetapkan KAK/TOR
sebagai acuan dalam penentuan kebijakan

1
Dok. KAK/TOR
10

5 Pimpinan telah menyusun dan menetapkan
Tim berdasarkan kompetensi untuk
melakukan pemantauan penerapan kebijakan

1
SK Tim monev
6 Kebijakan disusun secara sederhana / efektif
digunakan sebagai acuan pelaksana
program/kegiatan

1
Dok. kebijakan
7 Kebijakan telah dapat memberikan motivasi
bagi PNS dalam pencapaian tujuan unit
kerja/satker

1
Lap. realisasi kinerja
8 Kebijakan dapat meningkatkan disiplin
pegawai

1
Lap. Disiplin
kepegawaian
9 Ketepatan penggunaan perangkat kerja
pendukung dalam pelaksanaan kebijakan

1
Lap. Pemanfaatan
aset
10 Kebijakan dapat diterima secara rasional di
semua lapisan organisasi

1
Lap. Evaluasi
kebijakan
11 Kebijakan telah mendiskripsikan tingkat
ketepatan/keberhasilan pencapaian sasaran
kebijakan

1
Dok. Indikator kinerja
12 Kebijakan telah disahkan sebagai pedoman/
acuan pelaksanaan Program/kegiatan

1
Dok Renstra dan KAK
13 Kebijakan telah digunakan sebagai
pedoman/acuan pelaksanaan program
kegiatan

1
Dok.TOR
14 Pengelolaan sumber kebijakan seperti
kepegawaian, pelaksanaan program

1
Dok. Kepegawaian
dan program
15 Kebijakan telah dijabarkan kedalam
Juklak/Juknis kegiatan
1

Dok. Juklak












Unit Kerja Enumerator :

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)

Mengetahui :
Pimpinan Unit Kerja:

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)

...................................... 2010
Unit Kerja Responden :

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)

11

BAB III
PENILAIAN RISIKO

Manajemen pengelolaan risiko adalah cara bagaimana menangani semua risiko
(baik dari dalam maupun luar organisasi) yang ada di dalam instansi pemerintah,
tetapi pada semua risiko yang mengancam pencapaian visi, misi, tujuan, dan
sasaran instansi pemerintah. Tahapan-tahapan pada proses penilaian risiko
terdiri dari identifikasi risiko dan penanganan risiko, sedangkan proses evaluasi
merupakan siklus pengelolaan risiko, seperti digambarkan pada gambar 1.

PROSES SUMBER DATA dan OUTPUT








Gambar 1. Siklus Penilaian Risiko.

Dalam pelaksanaan penilaian risiko, diperlukan data dan informasi mengenai
pelaksanaan :
A. Identifikasi Risiko
Identifikasi risiko dilaksanakan di awal (perencanaan), dengan melaksanakan
identifikasi tahapan-tahapan kegiatan yang tertuang dalam TOR kegiatan
beserta unit kerja pelaksana kegiatan.

1. Penetapan Titik Kritis pada Kegiatan
Titik kritis diperoleh dari TOR pelaksanaan kegiatan strategis. Penetapan titik
kritis berdasarkan tahapan kegiatan yang telah ditetapkan dalam TOR
sehingga ketepatan kegiatan atas sasaran program, ketepatan alokasi
anggaran dan kebutuhan serta ketepatan penetapan indikator kinerja dapat
PENETAPAN TUJUAN
PROGRAM DAN
KEGIATAN
PENILAIAN RISIKO
PENANGANAN
RISIKO
EVALUASI
- TOR KEGIATAN
- DAFTAR RISIKO
- RENSTRA
- DAFTAR TUJUAN
- TOR KEGIATAN
- USULAN
(PENANGANAN RISIKO)
12

tergambar dengan jelas. Sehingga perubahan penetapan titik kritis dapat
pula digunakan untuk merevisi TOR yang telah ditetapkan sebelumnya.

2. Menyusun Daftar Risiko
Daftar risiko merupakan rekapitulasi dari seluruh risiko yang mungkin terjadi
pada kegiatan yang menjadi tanggung jawab unit kerja. Daftar risiko memuat
penyebab dan dampak dari risiko yang telah teridentifikasi. Risiko-risiko yang
telah diidentifikasi tersebut, selanjutnya direkapitulasi dalam daftar risiko
seperti pada Tabel 2.
Tabel 2. Formulir daftar risiko.















B. Penanganan Risiko
Berdasarkan daftar risiko yang telah ditetapkan, disusun rencana upaya-upaya yang
akan dilakukan untuk menangani risiko yang telah teridentifikasi. Upaya-upaya
tersebut diarahkan untuk mengeliminasi penyebab terjadinya risiko. Daftar
penanganan risiko unit kerja tersebut dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan
yang menjadi tanggung jawabnya seperti terlihat pada Tabel 3.

DAFTAR RISIKO
(NAMA UNIT KERJA ESELON I)

UNIT KERJA : DITJEN PETERNAKAN
NAMA PIMPINAN : DR. IR. TJEPPY D SOEDJANA M.Sc
NIP :
KEGIATAN :
TUJUAN :
AKTIVITAS :

No. Risiko Penyebab Dampak
1 Kemahalan harga Ketidaktepatan survei harga Kerugian negara
2




Keterangan:
Kegiatan diisi dengan titik kritis kegiatan


Disusun Tanggal :
Penyusun :

Diperiksa Tanggal :
Pemeriksa :

Disetujui Tanggal :
Pimpinan Unit Kerja:

13

DAFTAR PENANGANAN RISIKO
(NAMA UNIT KERJA ESELON I)

UNIT KERJA : DITJEN PETERNAKAN
NAMA PIMPINAN : DR. IR. TJEPPY D SOEDJANA M.Sc
NIP :
KEGIATAN :
TUJUAN :
AKTIVITAS :

No. Risiko Penyebab Dampak Upaya Penanganan
1 Kemahalan
harga
Ketidaktepatan
survei harga
Kerugian negara Survei harga di beberapa sampel
dengan indikator yang lebih
spesifik.
2




Keterangan:
Kegiatan diisi dengan titik kritis kegiatan


Disusun Tanggal :
Penyusun :

(Nama, NIP dan tanggal)

Diperiksa Tanggal :
Pemeriksa :

Disetujui Tanggal :
Pimpinan Unit Kerja:

Tabel 3. Daftar penanganan risiko

















C. Pemantauan dan Evaluasi Terhadap Penanganan Risiko
Pemantauan dan evaluasi merupakan proses penelusuran dan evaluasi yang
sistematis dari hasil kerja proses penanganan risiko yang telah dilakukan dan
digunakan sebagai dasar dalam penyusunan strategi penanganan risiko yang
lebih baik di kemudian hari. Kegiatan pemantauan dan evaluasi terhadap
penanganan risiko dilaksanakan pada awal tahun anggaran berjalan oleh setiap
unit kerja/satker. Hal ini bertujuan untuk menilai pencapaian target dan realisasi
pelaksanaan kegiatan, serta kendala yang terjadi. Hasil pemantauan dan
evaluasi penanganan risiko diharapkan menjadi masukan bagi pimpinan unit
kerja/Satker.

D. Mekanisme dan Prosedur
Mekanisme dan prosedur dimulai dari penetapan tim penilai risiko, tim
penanganan risiko, tim pemantauan dan evaluasi risiko, mekanisme penilaian
14

risiko, mekanisme penanganan risiko, mekanisme pemantauan dan evaluasi
risiko, prosedur penilaian dan penyampaian hasil penilaian risiko, prosedur
penanganan dan pelaporan hasil penanganan risiko, prosedur pemantauan dan
evaluasi penilaian risiko, serta prosedur pelaporan hasil pemantauan dan
evaluasi penilaian risiko.

E. Sarana Penilaian Risiko
Penilaian dilakukan berdasarkan 3 sub unsur lingkup penilaian risiko meliputi
penilaian risiko, penanganan risiko serta pemantauan dan evaluasi risiko.
Masing-masing sub unsur diberi bobot tertentu (ya=1, tidak=0) berdasarkan
justifikasi nilai penting (signifikansi) terhadap penilaian risiko, yang jumlah
seluruhnya 100%. Setiap sub unsur diuraikan dalam beberapa item penilaian
dengan bobot yang ditentukan sesuai relevansinya dengan masing-masing sub
unsur tersebut. Rincian lengkap pelaksanaan penilaian disajikan dalam Tabel 4,
sedangkan penilaian untuk tahun berjalan terdapat pada lampiran 2.
Tabel 4. Matriks pengambilan data primer pelaksanaan penilaian risiko.

UNIT KERJA :
TRIWULAN :
NO U R A I A N YA TIDAK
DOKUMEN
PENDUKUNG
A Penilaian Resiko :
1 Apakah setiap kegiatan telah dibuatkan TOR 1 Dok. TOR
2 Apakah setiap TOR yang dibuat telah memuat tujuan
dan kegiatan yang selaras dengan Renstra
1 Dok. TOR Vs
Renstra
3 Apakah TOR yang dibuat telah menguraikan tahapan
kegiatan yang akan dilaksanakan dan dilengkapi
dengan Alokasi sumberdaya (SDM, Keuangan dan
Fisik)
1 Dok. TOR
4 Apakah TOR yang dibuat telah dilengkapi dengan
jadwal pelaksaan masing-masing kegiatan
1 Dok TOR
5 Apakah masing-masing kegiatan telah dilengkapi
dengan indikator keberhasilan
1 Dok.Renja
dan
indikatornya
6 Apakah TOR telah menetapkan titik kritis dari tahapan
kegiatan yang akan dilaksanakan dan merupakan
aktivitas yang paling dominan dalam pencapaian
tujuan
1 Dok. Daftar
risiko
7 Apakah telah ditetapkan risiko terhadap titik kritis 1 Dok. Daftar
15

tahapan kegiatan risiko
8 Apakah dalam penetapan risiko telah memenuhi
unsur kejadian kemungkinan dan menimbulkan
kerugian
1 Dok. Daftar
risiko
9 Apakah risiko yang ditetapkan telah dilengkapi
dengan penyebab terjadinya risiko serta dampak
yang akan terjadi
1 Dok. Daftar
risiko
10 Apakah penilaian Risiko telah dituangkan dalam
daftar Risiko dan telah disahkan oleh penyusun
maupun pemeriksa SPIP
1 Dok. Daftar
risiko
B Penanganan Risiko
1 Apakah daftar penanganan risiko telah dibuat untuk
masing-masing risiko yang telah ditetapkan
1 Dok.
Penanganan
risiko
2 Apakah penanganan risiko yang dibuat telah
menghilangkan/memperkecil penyebab terjadinya
risiko
1 Dok.
Penanganan
risiko
3 Apakah telah dibuat prosedur terhadap penanganan
Risiko dari masing - masing titik kritis kegiatan
1 Dok.
Penanganan
risiko
4 Apakah penanganan risiko telah dituangkan dalam
Daftar penanganan risiko dan telah disahkan oleh
penyusun kegiatan maupun pemeriksa SPIP
1 Dok.
Penanganan
risiko
C Pemantauan dan Evaluasi risiko
1 Apakah mekanisme atau prosedur pemantauan dan
evaluasi risiko telah dibuat
1 Dok. Penilaian
siklus risiko
2 Apakah satker/unit kerja telah membuat rekapitulasi
Risiko dan upaya penanganan risiko
1 Dok. Penilaian
siklus risiko
3 Apakah satker/unit kerja telah menetapkan jadwal
pemantauan dan evaluasi risiko
1 Dok. Penilaian
siklus risiko
4 Apakah SPIP unit kerja/satker telah melakukan
pemantauan evaluasi risiko yang telah dituangkan
dalam rekapitulasi risiko dan upaya penanganan
Risiko
1 Dok. Penilaian
siklus risiko
5 Apakah Laporan Pemantauan dan Evaluasi Risiko
telah dibuat dan dilengkapi dengan saran/
rekomendasi
1 Dok. Penilaian
siklus risiko
6 Apakah saran/rekomendasi telah ditindaklanjuti 1 Dok. Penilaian
siklus risiko






Unit Kerja Enumerator :

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)
Mengetahui :
Pimpinan Unit Kerja:

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)
.........................................2010
Unit Kerja Responden :

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)
16

BAB IV
PENGENDALIAN

A. Karakteristik Kegiatan Pengendalian
Pengendalian dilaksanakan untuk memastikan bahwa kebijakan dan prosedur
yang ditetapkan telah diikuti dan dipatuhi oleh seluruh personil serta
dilaksanakan untuk mengantisipasi terjadinya penyimpangan terhadap potensi
penyimpangan atau titik-titik kritis kegiatan hasil analisa risiko. Karakteristik
kegiatan pengendalian adalah sebagai berikut :
1. Kegiatan pengendalian diutamakan pada kegiatan pokok/strategis
instansi/unit kerja/satker.
2. Kegiatan pengendalian harus dikaitkan dengan proses penilaian risiko.
3. Kegiatan pengendalian yang dipilih harus disesuaikan dengan sifat khusus
instansi/unit kerja/satker.
4. Kebijakan dan prosedur harus ditetapkan secara tertulis.
5. Kegiatan pengendalian evaluasi secara teratur untuk memastikan bahwa
kegiatan tersebut masih sesuai dan berfungsi seperti yang diharapkan.

B. Aktivitas Pengendalian
Aktifitas pengendalian dilaksanakan melalui 11 aspek kegiatan utama
pengendalian yaitu :
1. Reviu atas kinerja instansi pemerintah/unit kerja/satker yang bersangkutan;
2. Pembinaan sumberdaya manusia;
3. Pengendalian atas pengelolaan sistem informasi;
4. Pengendalian fisik atas aset;
5. Pengendalian pada penetapan dan reviu atas indikator dan ukuran kinerja;
6. Pengendalian atas pemisahan fungsi;
7. Pengendalian atas otorisasi, transaksi dan kejadian penting;
8. Pengendalian atas pencatatan yang akurat dan tepat waktu atas transaksi
dan kejadian;
9. Pengendalian atas pembatasan akses terhadap sumberdaya dan
pencatatannya;
10. Pengendalian atas akuntabilitas sumberdaya dan pencatatannya; dan
17

11. Pengendalian atas dokumentasi yang baik terhadap sistem pengendalian
intern serta transaksi dan kejadian penting.

Kegiatan pengendalian dilakukan pula oleh atasan langsung dalam bentuk
pengendalian atasan langsung. Pengawasan oleh pimpinan atau dikenal dengan
pengendalian atasan langsung terhadap penyelenggaraan program dan kegiatan
dengan tujuan untuk:
1. Mengetahui perkembangan kemajuan pelaksanaan program dan kegiatan;
2. Mengetahui sedini mungkin hambatan yang terjadi atau mungkin akan terjadi
dalam pelaksanaan program dan kegiatan serta memberikan jalan
pemecahannya;
3. Mencegah atau mengurangi terjadinya penyimpangan-penyimpangan;
4. Mengevaluasi apakah pencapaian hasil sesuai dengan yang telah ditetapkan;
5. Memperoleh masukan bagi penyempurnaan program dan kegiatan yang akan
datang;
6. Mengevaluasi tujuan Satker yang tercantum dalam DIPA; dan
7. Penilaian terhadap kegiatan pengendalian dilakukan untuk mengukur tingkat
efektifitas dan memberi keyakinan bahwa kegiatan pengendalian oleh instansi
pemerintah telah dilakukan secara tepat dan memadai baik terhadap
implementasi SPIP, pencapaian tujuan organisasi, keandalan laporan
keuangan, pengamanan aset negara dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

C. Sarana Penilaian Kegiatan Pengendalian
Pengendalian dilakukan berdasarkan 2 (dua) unsur lingkup kegiatan
pengendalian intern yang meliputi aktivitas pengendalian dan pendukung
pengendalian. Masing-masing sub unsur diberi bobot tertentu berdasarkan
justifikasi nilai penting (signifikasi) terhadap pemantauan pengendalian intern,
yang jumlah seluruhnya 100% . Setiap sub unsur diuraikan dalam beberapa item
penilaian dengan bobot yang ditentukan (ya=1, tidak=0) sesuai relevansinya
dengan masing-masing sub unsur tersebut. Rincian lengkap pelaksanaan
penilaian disajikan dalam tabel 5, sedangkan penilaian untuk tahun berjalan
terdapat pada lampiran 3.



18

Tabel 5. Matriks penilaian kegiatan pengendalian.
UNIT KERJA :
TRIWULAN :
NO U R A I A N YA TIDAK
DOKUMEN
PENDUKUNG
A Kegiatan Pengendalian
1 Pimpinan telah menetapkan visi, misi organisasi secara
tertulis di unit kerja kerja /satker yang bersangkutan
1 Renstra
organisasi
2 Visi, misi dan tujuan mengacu pada tugas pokok dan
fungsi dari unit kerja/satker
1 Renstra
organisasi
3 Kegiatan pengendalian dapat digunakan secara efektif
sebagai acuan kegiatan di unit kerja/satker
1 Lap. Monev
pengendalian
4 Penanggungjawab kegiatan telah menyusun KAK/TOR
sebagai acuan dalam masing-masing kegiatan sebagai
sarana untuk penilaian risiko
1 KAK dan TOR
5 Pimpinan menetapkan prosedur dan kebijakan pada unit
kerja/satker guna mendukung pelaksanaan kegiatan dan
tupoksi
1 SOP kegiatan
6 Pelaksanaan pemantauan/evaluasi terhadap
pelaksanaan kegiatan pengendalian telah berjalan baik
dan efektif
1 Lap. Monev
pengendalian
7 Pelaksanaan reviu atas kinerja dan unit kerja / satker
secara berkala / berkelanjutan
1 Lap. reviu
8 Pelaksanaan pembinaan sumber daya manusia pada unit
kerja / satker
1 Lap. SDM
9 Pengendalian atas pengelolaan sistem informasi, seperti
pengamanan sistem informasi, pengendalian atas akses
dan pengembangan serta perubahan perangkat lunak di
unit kerja / satker
1 SOP informasi
10 Pengendalian atas pengelolaan sistem informasi, seperti
pembatasan akses berdasarkan tanggung jawab
1 SOP informasi
11 Pimpinan telah melakukan pemisahan tugas sesuai
dengan pemisahan fungsi yang ditetapkan.
1 Analisa Jab. Vs
Tupoksi
12 Pimpinan telah melakukan pengendalian terhadap
kelengkapan pemrosesan data
1 Dok. Data dan
Informasi
13 Pimpinan telah melakukan pengendalian terhadap
akurasi pemrosesan data.
1 Lap. Monev data
14 Pimpinan telah melakukan pengendalian aplikasi seperti
pengendalian otorisasi, pengesahan dokumen sumber,
serta pengendalian fisik dan keuangan di unit kerja
1 Lap. Monev
aplikasi
15 Pimpinan telah melakukan pengendalian atas indikator
dan ukuran kinerja
1 LAKIP
16 Pimpinan menunjuk/menetapkan personil untuk
melakukan pemantauan indikator/ukuran kinerja
1 SK Tim LAKIP
19

17 Pimpinan melakukan pemisahan fungsi dari masing-
masing bagian/kegiatan
1 Struk.
Organisasi
18 Pimpinan menunjuk/menetapkan otorisasi atas
transaksi/kejadian penting pada unit kerja/satker
1 SK. Ditjen/Kadis
/Kepala UPT
19 Pencatatan yang akurat/tepat atas transaksi/kejadian di
unit kerja/satker
1 SOP Arsiparis/
Dokumentasi
20 Prosedur tetap pembatasan akses atas sumbernya dan
pencatatan telah dibuat
1 SOP kegiatan
21 Akuntabilitas terhadap sumber daya dan pencatatannya 1 LAKIP
B Penguatan Kegiatan Pengendalian
1 Pimpinan menetapkan mekanisme/prosedur penerimaan
terhadap APIP dalam melakukan pemeriksaan di instansi
yang bersangkutan
1 SOP
penerimaan
APIP
2 Pimpinan menetapkan mekanisme atau prosedur
penyediaan data yang diperlukan oleh APIP dalam
melakukan pemeriksaan di instansi yang bersangkutan
1 SOP data dan
informasi
3 Pimpinan menetapkan mekanisme atau prosedur
konsultasi kepada APIP di unit kerja/satker
1 SOP koordinasi
4 Pimpinan menetapkan mekanisme atau prosedur
pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan.

1 SOP Tindak
Lanjut
5 Pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan tepat waktu 1 Dok.
Inventarisasi
tindak lanjut
6 Pimpinan telah menunjuk/menetapkan personil untuk
penanganan tindak lanjut hasil pemeriksaan APIP
1 SK tim tindak
lanjut/Satlak SPI
7 Ketetapan penggunaan perangkat kerja pendukung
dalam melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan APIP
1 SK tim tindak
lanjut/Satlak SPI
8 Pendokumentasian hasil pelaksanaan tindak lanjut hasil
pemeriksaan APIP guna memudahkan pencarian apabila
diperlukan
1 Dok.
Inventarisasi
tindak lanjut
9 Pemanfaatan/tindak lanjut rekomendasi dari hasil
pemeriksaan oleh pimpinan guna perbaikan manajemen
di unit kerja/satker
1 Inventarisasi
tindak lanjut Vs.
perencanaan







Unit Kerja Enumerator :

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)
Mengetahui :
Pimpinan Unit Kerja:

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)
......................................... 2010
Unit Kerja Responden :

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)
20

BAB V
INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Pimpinan unit kerja/satuan kerja (satker) wajib mengidentifikasi, mencatat dan
mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat. Untuk
menyelenggarakan komunikasi yang efektif, pimpinan unit kerja harus
menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk dan sarana komunikasi,
mengelola, mengembangkan dan memperbarui sistem informasi secara terus-
menerus melalui :

A. Pencatatan dan Pelaporan

1. Pencatatan
Pengendalian atas pencatatan akan menjamin keandalan proses pengolahan
data menjadi keluaran yang bebas dari kekeliruan dan kesalahan yang
fatal/signifikan. Pencatatan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai
berikut:
a. Sistem pencatatan harus dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi
organisasi.
b. Prosedur pencatatan keuangan dan manualnya harus disusun dengan baik
dan cermat.
c. Sistem pencatatan harus didukung kebijakan pimpinan yang jelas dan
memadai.
d. Pencatatan harus menggunakan dokumen sumber, formulir, tabulasi,
daftar-daftar statistik dan buku-buku yang dirancang secara memadai.
e. Pencatatan harus lengkap dan informatif
f. Pencatatan harus menaati sistem dan prosedur kerja yang telah ditetapkan.
g. Pencatatan harus diselenggarakan secara akurat dan tepat waktu atas
transaksi dan kejadian.
h. Pencatatan harus dilakukan secara sederhana, konsisten, runut, dan
terintegrasi.
i. Dipisahkan dari fungsi penguasaan dan penyimpanan, direview/diricek
secara berkala.
j. Adanya pembatasan akses atas sumber daya dan pencatatannya.
k. Akuntabilitas terhadap sumber daya dan pencatatannya.
21

l. Sebagai dokumentasi yang baik atas sistem pengendalian intern serta
transaksi dan kejadian penting.

2. Pelaporan
Pimpinan unit kerja/satker selaku Kuasa Pengguna Anggaran/Barang
berkewajiban menyusun dan menyampaikan laporan kinerja yang merupakan
pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan dan penggunaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Laporan kinerja terdiri dari laporan
keuangan dan substansi teknis kegiatan. Laporan keuangan terdiri dari
laporan realisasi anggaran, neraca, catatan atas laporan keuangan (CaLK),
dan laporan barang milik negara (SABMN). Sedangkan Laporan substansi
teknis kegiatan terdiri dari perkembangan pencapaian target/realisasi
penyerapan dana, pencapaian target fisik, kendala yang dihadapi,
pemecahan permasalahan/kendala, saran tindak lanjut secara berkala serta
laporan akhir, LAKIP dan laporan lainnya sesuai kebutuhan. Penyusunan
laporan tersebut harus mengikuti prinsip-prinsip laporan pada umumnya, yaitu
harus disusun secara jujur, obyektif, akurat dan transparan.
Sehubungan dengan itu perlu pula diperhatikan beberapa ciri laporan yang
baik seperti laporan harus relevan, tepat waktu, dapat dimengerti (jelas dan
cermat), dan dapat dipercaya/diandalkan, dalam bentuk yang berdaya
banding tinggi (reliable), berdaya uji (verifiable), lengkap, netral, padat dan
mengikuti standar laporan yang ditetapkan.
Penilaian unsur informasi dan komunikasi dilakukan untuk mengukur tingkat
efektifitas pemantauan yang dilakukan dan memberi keyakinan bahwa
informasi dan komunikasi yang dilakukan oleh instansi pemerintah/unit
kerja/satker telah dilakukan secara tepat dan memadai baik terhadap
implementasi SPIP, pencapaian tujuan organisasi, keandalan laporan
keuangan, pengamanan aset negara dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

B. Sarana Penilaian Informasi dan Komunikasi
Penilaian dilakukan menurut 3 (tiga) sub unsur pada lingkup informasi dan
komunikasi yang meliputi informasi, komunikasi serta bentuk dan sarana
komunikasi. Masing-masing sub unsur diberi bobot tertentu berdasarkan
justifikasi nilai penting (signifikansi) terhadap informasi dan komunikasi, yang
jumlah seluruhnya 100%. Setiap sub unsur diuraikan dalam beberapa item
penilaian dengan bobot yang ditentukan (ya=1, tidak=0) sesuai relevansinya
dengan masing-masing sub unsur tersebut. Rincian lengkap pelaksanaan
22

penilaian disajikan dalam tabel 6, sedangkan penilaian untuk tahun berjalan
terdapat pada lampiran 4.


Tabel 6. Matriks penilaian informasi dan komunikasi.
UNIT KERJA :
TRIWULAN :
NO U R A I A N YA TIDAK
DOKUMEN
PENDUKUNG
A
1
Informasi :
Pimpinan Instansi pemerintah telah memiliki mekanisme
/prosedur tertulis mengenai informasi pada unit kerja/
satker yang bersangkutan

1

SOP Informasi/
data base
2 Mekanisme atau prosedur yang dibuat telah cukup
operasional sebagai acuan dalam penyampaian
informasi lingkup unit kerja/satker, seperti memuat
rencana evaluasi berkala, kriteria/persyaratan yang
digunakan dalam penyusunan dan penyampaian
informasi, metodologi, dan sebagainya
1 Lap. Evaluasi
SOP
3


Mekanisme/prosedur telah digunakan dalam
penyusunan/penyampaian informasi pada unit kerja/
satker yang bersangkutan
1 SOP kegiatan
4 Penyusunan informasi menggunakan KAK/TOR yang
dibuat khusus untuk masing-masing pemantauan yang
dilakukan
1 KAK/TOR
pemantauan
5 Penyampaian informasi menggunakan KAK/TOR yang
dibuat khusus untuk masing-masing pemantauan yang
dilakukan
1 KAK/TOR
pemantauan
6 Pengelola informasi dilakukan oleh para personal yang
kompeten
1 Dok.
Kompetensi
personil
7 Pengelola informasi dilaksanakan secara periodik sesuai
tahapan kegiatan atau jadwal waktu yang ditetapkan
1 Lap. Informasi
berkala
8 Pengelola informasi telah menggunakan kriteria atau
persyaratan yang tepat sebagai dasar pelaksanaan
pemantauan
1 SOP
pemantauan
informasi
9 Ruang lingkup/frekuensi informasi telah mencakup
pengendalian intern, keuangan, aset Negara,
pelaksanaan kegiatan dan pemantauan atas pencapaian
tujuan dan sasaran organisasi, dengan
memperhatikan/mempertimbangkan tahap kegiatan
yang dipantau
1 Lap. monev
10 Pengeloalaan informasi menggunakan perangkat daftar
periksa (check list), daftar kuesioner, atau perangkat
lainnya yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan
1 Dok.
Pengelolaan
informasi
11 Pengelolaan informasi telah menghasilkan output
berupa laporan
1 Lap.
Pengelolaan
informasi
12 Materi dalam laporan minimal menyajikan kondisi 1 Lap.
23

lapangan, kendala dan rekomendasi untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapi
Pengelolaan
informasi
13 Pengelolaan informasi dilakukan dengan menganalisa
hasil dibandingkan dengan kriteria yang sudah
ditetapkan.
1 Lap.
Pengelolaan
informasi
14 Hasil pengelolaan informasi dilaporkan tepat waktu
kepada pimpinan Instansi Pemerintah atau pemberi
tugas
1 Data
pengiriman lap.
15 Hasil pengelolaan informasi didokumentasikan
sebagaimana mestinya sehingga dapat dengan mudah
didapat ketika diperlukan
1 SOP arsiparis/
dokumentasi
16 Kelemahan yang ditemukan selama pengelolaan
informasi segera ditindaklanjuti oleh pimpinan Instansi
Pemerintah/pihak-pihak terkait lainnya
1 Dok. Tindak
lanjut monev
informasi
17 Kelemahan yang ditemukan segera dikomunikasikan
kepada pihak yang bertanggung jawab atas fungsi
tersebut/atasan langsungnya
1 Dok. Tindak
lanjut monev
informasi
B Komunikasi
1 Pimpinan Instansi Pemerintah telah memiliki mekanisme
atau prosedur tertulis mengenai pelaksanaan
komunikasi di lingkup unit kerja/satker yang
bersangkutan
1 SOP
komunikasi
2 Mekanisme yang dibuat minimal telah memuat
tahapan/waktu pelaksanaan, susunan personil
pelaksana, metodologi, dan sebagainya
1 SOP
komunikasi
3 Mekanisme/prosedur telah digunakan sebagai acuan
dalam kegiatan komunikasi lingkup unit kerja/satker
tersebut
1 SOP
komunikasi
4 Pengelolaan komunikasi telah sesuai SOP untuk
masing-masing kegiatan

1 SOP
komunikasi Vs
SOP kegiatan
5 Informasi/komunikasi telah dilakukan oleh personil yang
kompeten, serta dipimpin oleh pejabat yang berwenang/
pengalaman memadai
1 SK dan
sertifikasi
personil/pejabat
6 Pengelola informasi/komunikasi evaluasi memahami
secara memadai mengenai visi, misi, dan tujuan unit
kerja/satker serta kegiatannya
1 kompetensi
personil/pejabat
7 Pengelola informasi/komunikasi memahami bagaimana
pengendalian intern instansi pemerintah seharusnya
bekerja/bagaimana implementasinya
1 kompetensi
personil/pejabat
8 Evaluasi terhadap informasi dan komunikasi
dilaksanakan secara periodik sesuai rencana dan
luasnya program/kegiatan yang dilaksanakan
1 Lap evaluasi
informasi dan
komunikasi
9 Evaluasi terhadap informasi/komunikasi dilakukan pada
saat adanya kejadian misalnya perubahan besar dalam
rencana atau strategi manajemen, pemekaran atau
penciutan Instansi Pemerintah, atau perubahan
operasional atau pemrosesan informasi keuangan dan
anggaran
1 Dok. Latar
belakang
evaluasi
informasi dan
komunikasi
10 Ruang lingkup informasi/komunikasi didasarkan atas
hasil penilaian Risiko dan pemantauan berkelanjutan
1 Lap. Informasi
dan komunikasi
11 Frekuensi informasi/komunikasi didasarkan atas hasil
penilaian risiko dan pemantauan berkelanjutan
1 Lap. Informasi
dan komunikasi
Vs. Penilaian
24

risiko
12. Evaluasi informasi/komunikasi menggunakan perangkat
daftar (check list), daftar kuesioner, atau perangkat
lainnya yang tepat / dapat dipertanggungjawabkan
1 Lap evaluasi
informasi dan
komunikasi
13 Evaluasi informasi/komunikasi telah menggunakan
kriteria atau persyaratan yang tepat sebagai dasar
penilaian pelaksanaan informasi
1 Lap evaluasi
informasi dan
komunikasi
14 Kegiatan informasi/komunikasi telah menghasilkan
output berupa laporan hasil kegiatan
1 Lap evaluasi
informasi dan
komunikasi
15 Evaluasi informasi/komunikasi telah menilai
keberhasilan atau kegagalan dalan mencapai tujuan dan
sasaran program/kegiatan
1 Lap evaluasi
informasi dan
komunikasi
16 Evaluasi kegiatan informasi/komunikasi telah
menyajikan analisa efektif, efisien, ekonomis dan tertib
(3E + 1T)
1 Lap evaluasi
informasi dan
komunikasi
17 Dalam laporan evaluasi informasi / komunikasi disajikan
kendala dan rekomendasi untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapi
1 Lap evaluasi
informasi dan
komunikasi
18 Hasil evaluasi informasi/komunikasi didokumentasikan
dengan baik sehingga dengan mudah didapat ketika
diperlukan
1 SOP arsiparis/
dokumentasi
19 Kelemahan yang ditemukan selama evaluasi kegiatan
informasi / komunikasi segera diselesaikan oleh
pimpinan Instansi Pemerintah dan pihak-pihak terkait
lainnya
1 Dok. Tindak
lanjut lap.
Evaluasi
informasi dan
komunikasi
20 Kelemahan yang ditemukan segera dikomunikasikan
kepada pihak yang bertanggung jawab atas fungsi
tersebut dan atasan langsungnya
1 Dok. Tindak
lanjut lap.
Evaluasi
informasi dan
komunikasi
21 Hasil pelaksanaan evaluasi informasi/komunikasi segera
dilaporkan kepada pimpinan instansi Pemerintah atau
pihak-pihak terkait lainnya



1 Dok. Tindak
lanjut lap.
Evaluasi
informasi dan
komunikasi
C Bentuk dan Sarana Komunikasi
1 Unit kerja/satker telah memiliki mekanisme secara
tertulis sebagai prosedur untuk pengembangan sistem
informasi dan komunikasi
1 SOP
pengembangan
sistem
informasi dan
komunikasi
2 Mekanisme atau prosedur tersebut materinya telah
cukup operasional untuk pengembangan sistem
informasi/komunikasi
1 Lap.
Operasional
SOP
pengembangan
sistem
informasi dan
komunikasi
25

3 Mekanisme atau prosedur tersebut telah digunakan
secara optimal dalam mengembangkan sistem informasi
/komunikasi pada unit kerja / satker yang bersangkutan
1 Lap.
Operasional
SOP
pengembangan
sistem
informasi dan
komunikasi
4 Pimpinan unit kerja/satker telah menunjuk Tim atau
petugas khusus untuk memantau dan mengembangkan
sistem informasi dan komunikasi
1 SK.
Dirjen/Kadis/
Kepala UPT
5 Pimpinan unit kerja/satker telah menindaklanjuti
rekomendasi hasil Monev yang dilakukan oleh petugas/
pengelola sistem informasi komunikasi guna
pengembangannya
1 Dok. Tindak
lanjut hasil
Monev
6 Tindakan korektif di bidang sistem informasi/komunikasi
dilaksanakan oleh pimpinan unit kerja/satker dalam
jangka waktu yang ditetapkan
1 Rekapitulasi
responsivitas
tindak lanjut
7 Pimpinan unit kerja/satker telah menggunakan
rekomendasi hasil monev sistem informasi/komunikasi
atau reviu lainnya untuk memperkuat terciptanya
pengendalian intern
1 Rekomendasi
monev Vs reviu
8 Pimpinan unit kerja/satker telah mencegah terjadinya
kesalahan yang berulang di bidang informasi/
komunikasi
1 Lap. Hasil
monev
9 Pimpinan unit kerja/satker telah memantau tindak lanjut
atas rekomendasi tim pengelola sistem informasi/
komunikasi
1 Lap. Tindak
lanjut hasil
monev
10 Pimpinan unit kerja/satker secara berkala melaporkan
status pengembangan sistem informasi/komunikasi
1 Dok. Laporan
secara berkala












Unit Kerja Enumerator :

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)


Mengetahui :
Pimpinan Unit Kerja:

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)

......................................... 2010
Unit Kerja Responden :

(Nama, NIP dan Tanda Tangan)


26


BAB VI
PEMANTAUAN PENGENDALIAN INTERN

Kegiatan pemantauan Sistem Pengendalian Intern untuk menilai kualitas kinerja
dari waktu ke waktu dan memastikan rekomendasi hasil audit dan review telah
ditindaklanjuti. Pimpinan instansi berkewajiban menindaklanjuti sesuai
rekomendasi hasil pengawasan dapat berupa tindakan administratif dan
penyelesaian kerugian Negara.
A. Tindakan Administratif
Tindakan administratif dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan kepegawaian, termasuk penerapan hukum disiplin pegawai sesuai
dengan PP 30 tahun 1980 tentang peraturan disiplin pegawai negeri sipil.
Rekomendasi yang terkait dengan penerapan hukuman disiplin segera
ditindaklanjuti dengan menginstruksikan Tim Etika untuk melakukan
pemeriksaan dilengkapi Berita Acara Pemeriksaan.

B. Penyelesaian Kerugian Negara
Tindak lanjut terhadap penyelesaian kerugian Negara dilaksanakan melalui
penggantian kerugian Negara secara damai, tuntutan ganti rugi (TGR) dan
tuntutan perdata, tuntutan perbendaharaan, tindakan pengaduan tindak
pidana dan tindakan penyempurnaan aparatur pemerintah bidang
kelembagaan, kepegawaian, dan ketatalaksanaan. Penilaian pemantauan
untuk mengukur efektifitas pemantauan dan memberi keyakinan bahwa
pemantauan telah dilaksanakan secara tepat dan memadai terhadap
implementasi SPIP, pencapaian tujuan organisasi, keandalan laporan
keuangan, pengamanan asset Negara dan peraturan perundang-undangan.

C. Sarana Penilaian Pemantauan Pengendalian Intern
Penilaian dilakukan berdasarkan 3 sub unsur lingkup pemantauan
pengendalian intern yang meliputi pemantauan berkelanjutan, evaluasi
terpisah dan tindak lanjut atas rekomendasi hasil audit. Masing-masing sub
unsur diberi bobot tertentu (ya=1, tidak=0) berdasarkan justifikasi nilai penting
(signifikansi) terhadap pemantauan pengendalian intern, yang jumlah
seluruhnya 100%. Setiap sub unsur diuraikan dalam beberapa item penilaian
dengan bobot yang ditentukan sesuai relevansinya dengan masing-masing
27

sub unsur tersebut. Rincian pelaksanaan penilaian disajikan dalam Tabel 7,
sedangkan penilaian untuk tahun berjalan terdapat pada lampiran 5.

Tabel 7. Matriks penilaian pemantauan pengendalian intern.

UNIT KERJA :
TRIWULAN :
NO U R A I A N YA TIDAK
DOKUMEN
PENDUKUNG
A Pemantauan Berkelanjutan
1 Pimpinan telah memiliki mekanisme/prosedur tertulis
mengenai pelaksanaan pemantauan berkelanjutan pada
instansi pemerintah yang bersangkutan
1 SOP
pemantauan
2 Mekanisme atau prosedur yang dibuat telah cukup
operasional sebagai acuan dalam pelaksanaan evaluasi
lingkup instansi pemerintah tersebut, seperti memuat
rencana evaluasi berkala, kriteria/persyaratan yang
digunakan dalam pemantauan, metodologi, dan sebagainya
1 Lap.
Pelaksanaan
pemantauan
3 Mekanisme/Prosedur telah digunakan sebagai acuan
dalam pelaksanaan pemantauan lingkup instansi
pemerintah yang bersangkutan
1 Lap.
Pelaksanaan
pemantauan
4 Pemantauan menggunakan KAK/TOR yang dibuat khusus
untuk masing-masing pemantauan yang dilakukan
1 KAK /TOR
Lap.
Pelaksanaan
pemantauan
5 Pemantauan dilakukan oleh para personil yang kompeten 1 SK.Dirjen/Kadi
s/Kepala UPT
6 Pemantauan dilaksanakan secara periodik sesuai tahapan
kegiatan atau jadwal waktu yang ditetapkan
1 KAK /TOR
Lap.
Pelaksanaan
pemantauan
7 Pemantauan telah menggunakan kriteria atau persyaratan
yang tepat sebagai dasar pelaksanaan pemantauan
1 Lap.
Pelaksanaan
pemantauan
8 Ruang lingkup dan frekuensi pemantauan telah mencakup
pengendalian intern, keuangan,asset Negara, pelaksanaan
kegiatan dan pemantauan atas pencapaian tujuan dan
sasaran organisasi, dengan memperhatikan/
mempertimbangkan tahap kegiatan yang dipantau
1 Lap.
Pelaksanaan
pemantauan
9 Pemantauan menggunakan perangkat daftar periksa
(check list), daftar kuesioner, atau perangkat lainnya yang
tepat dan dapat dipertanggungjawabkan
1 Lap.
Pelaksanaan
pemantauan
10 Materi dalam laporan minimal menyajikan kondisi lapangan,
kendala dan rekomendasi untuk mengatasi permasalahan
yang dihadapi
1 Lap.
Pelaksanaan
pemantauan
11 Pemantauan dilakukan dengan menganalisa hasil
pemantauan dibandingkan dengan kriteria yang sudah
ditetapkan
1 Lap.
Pelaksanaan
pemantauan
28

12 Hasil pelaksanaan pemantauan segera dilaporkan tepat
waktu kepada Kepala Balai atau pemberi tugas
1 Dok pelaporan
Lap.
Pelaksanaan
pemantauan
13 Hasil pemantauan didokumentasikan sebagaimana
mestinya dan dapat dengan mudah didapat ketika
diperlukan
1 SOP
arsiparis/Doku
mentasi
14 Kelemahan yang ditemukan selama pemantauan segera
ditindak lanjuti oleh pimpinan instansi pemerintah dan pihak-
pihak terkait lainnya
1 Rekapitulasi
responsivitas
tindak lanjut
15 Kelemahan yang ditemukan segera dikomunikasikan
kepada pihak yang bertanggungjawab atas fungsi tersebut
dan atasan langsungnya
1 Berita acara
klarifikasi
B Evaluasi Terpisah
1 Pimpinan Instansi Pemerintah telah memiliki mekanisme
atau prosedur tertulis mengenai pelaksanaan evaluasi
lingkup intansi pemerintah yang bersangkutan
1 SOP evaluasi
2 Mekanisme yang dibuat minimal telah memuat tahapan dan
waktu pelaksanaan evaluasi, susunan personil, metodologi,
dan sebagainya
1 SOP evaluasi
3 Mekanisme/Prosedur telah digunakan sebagai acuan
dalam kegiatan evaluasi lingkup instansi pemerintah
tersebut
1 Lap.
Pelaksanaan
evaluasi
4 Evaluasi menggunakan KAK/TOR yang dibuat khusus
untuk masing-masing kegiatan evaluasi yang dilakukan
1 KAK/TOR
evaluasi
5 Tim evaluasi dilakukan oleh personil yang kompeten, serta
dipimpin oleh pejabat yang berkewenangan dan
pengalaman memadai
1 SK. Tim
Monev
6 Tim evaluasi memahami secara memadai mengenai visi,
misi, dan tujan instansi pemerintah serta kegiatannya
1 Kompetensi/
sertifikasi tim
Monev
7 Tim evaluasi memahami bagaimana pengendalian intern
Instansi pemerintah seharusnya bekerja dan bagaimana
implementasinya
1 Sertifikasi/piag
am SPI
8 Evaluasi dilaksanakan secara periodik sesuai rencana dan
luasnya program/kegiatan yang dilaksanakan
1 Jadwal
evalusi/KAK/T
OR evaluasi
9 Evaluasi dilakukan pada saat adanya kejadian misalnya
perubahan besar dalam rencana atau strategi manajemen,
pemekaran atau penciutan Instansi Pemerintah, atau
perubahan opersional atau pemrosesan informasi
keuangan dan anggaran
1 Dok. Usulan
evaluasi
10 Ruang lingkup dan frekuensi evaluasi didasarkan atas hasil
penilaian Risiko dan pemantauan berkelanjutan
1 Dok. Usulan
evaluasi Vs.
penilaian risiko
11 Evaluasi menggunakan perangkat daftar periksa (check
list), daftar kuesioner, atau perangkat lainnya yang tepat
dan dapat dipertanggungjawabkan
1 Lap. evaluasi
12 Evaluasi telah menggunakan kriteria atau persyaratan yang
tepat sebagai dasar penilaian pelaksanaan evaluasi
1 Lap. evaluasi
29

13 Kegiatan evaluasi telah menghasilkan output berupa
laporan hasil pemantauan
1 Lap. evaluasi
14 Evaluasi menilai keberhasilan atau kegagalan dalam
mencapai tujuan dan sasaran program/kegiatan
1 Lap. evaluasi
15 Evaluasi menyajikan analisis terhadap efektif, efisien,
ekonomis dan tertib (3E + 1T)
1 Lap. evaluasi
16 Dalam laporan evaluasi disajikan kendala dan rekomendasi
untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi
.
1 Lap. evaluasi
17 Hasil evaluasi didokumentasikan dengan baik sehingga
dengan mudah didapat ketika diperlukan
1 SOP
arsiparis/doku
mentasi
18 Kelemahan yang ditemukan selama evaluasi segera
diselesaikan oleh pimpinan instansi Pemerintah dan pihak-
pihak terkait lainnya
1 Rekapitulasi
responsivitas
tindak lanjut
19 Kelemahan yang ditemukan segera dikomunikasikan
kepada pihak yang bertanggungjawab atas fungsi tersebut
dan atasan langsungnya
1 Berita
acara/notulen
20 Hasil pelaksanaan evaluasi segera dilaporkan kepada
pimpinan instansi Pemerintah atau pihak-pihak terkait
lainnya
1 Dok.
pelaporan
C PENYELESAIAN AUDIT :
1 Instansi pemerintah telah memiliki mekanisme secara
tertulis sebagai prosedur untuk menindaklanjuti temuan
hasil audit atau reviu lainnya
1 SOP tindak
lanjut LHP
2 Mekanisme atau prosedur tersebut materinya telah cukup
operasional untuk menindaklanjuti temuan hasil audit atau
reviu lainnya
1 Lap. Tindak
lanjut LHP
3 Mekanisme atau prosedur tersebut telah digunakan secara
optimal dalam menindaklanjuti temuan hasil audit dan hasil
reviu lainnya
1 Lap. Tindak
lanjut LHP
4 Pimpinan instansi telah menunjuk Tim atau petugas khusus
untuk memantau penyelesaian tindak lanjut hasil audit dan
hasil reviu lainnya
1 SK.Dirjen/Kadi
s/Kepala UPT
5 Pimpinan instansi pemerintah telah menindaklanjuti seluruh
temuan dan rekomendasi hasil audit lainnya
1 Dok.
Rekapitulasi
tindak lanjut
LHP
6 Tindakan korektif dilaksanakan oleh pimpinan Instansi
Pemerintah dalam jangka waktu yang ditetapkan
Lap. Tindak
lanjut LHP
7 Pimpinan Instansi Pemerintah telah menggunakan
rekomendasi hasil audit atau reviu lainnya guna
memperkuat pengendalian intern
1 Pelaksanaan
Tindak lanjut
LHP
8 Pimpinan Instansi Pemerintah telah mencegah terjadinya
temuan yang sama berulang terjadi pada tahun berikutnya
1 Rekapitulasi/
inventarisasi
LHP
9 Pimpinan Instansi Pemerintah telah memantau tindak lanjut
atas temuan hasil audit dan reviu serta rekomendasinya
1 Lap.
Pemutahiran
data LHP
10 Pimpinan Instansi Pemerintah secara berkala melaporkan
status penyelesaian audit dan reviu kepada pimpinan
1 Dok.
Pemutahiran
30

























sehingga dapat meyakinkan kualitas dan ketepatan waktu
penyelesaian setiap rekomendasi
data LHP
Unit Kerja Enumerator :


(Nama, NIP dan Tanda Tangan)
Mengetahui :
Pimpinan Unit Kerja:


(Nama, NIP dan Tanda Tangan)

......................................... 2010
Unit Kerja Responden :


(Nama, NIP dan Tanda Tangan)
31


BAB VII
TIM SATUAN PELAKSANA
SISTEM PENGENDALIAN INTERN


A. Latar Belakang
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 299/Kpts/OT.140/7/2005
tanggal 25 Juli 2005 dan No. 341/Kpts/OT.140/9/2005 tanggal 8 September
2005, maka Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jenderal Peternakan adalah:
1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang perbibitan, budidaya ternak
ruminansia, budidaya ternak non ruminansia, kesehatan hewan, dan
kesehatan masyarakat veteriner;
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang perbibitan, budidaya ternak ruminansia,
budidaya ternak non ruminansia, kesehatan hewan, dan kesehatan
masyarakat veteriner;
3. Penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria dan prosedur di bidang
perbibitan, budidaya ternak ruminansia, budidaya ternak non ruminansia,
kesehatan hewan, dan kesehatan masyarakat veteriner;
4. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perbibitan, budidaya
ternak ruminansia, budidaya ternak non ruminansia, kesehatan hewan, dan
kesehatan masyarakat veteriner;
5. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal .

Untuk melaksanakan tugas dan fungsi tersebut Direktorat Jenderal Peternakan
didukung oleh 6 unit kerja eselon II yaitu :
1. Sekretariat Direktorat Jenderal;
2. Direktorat Perbibitan;
3. Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia;
4. Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia;
5. Direktorat Kesehatan Hewan; dan
6. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner.
32

B. Satuan Pelaksana Sistem Pengendalian Intern (Satlak SPI).
1. Pengorganisasian
Menindaklanjuti Peraturan Menteri Pertanian Nomor 23/Permentan/OT.140
/5/2009, tanggal 13 Mei 2009 tentang Pedoman Umum SPI Departemen
Pertanian, maka Direktorat Jenderal Peternakan dengan Surat Keputusan
Direktur Jenderal Peternakan Nomor 11037/Kpts/OT.160/F/11/2009, telah
membentuk Tim Satuan Pelaksana Sistem Pengendalian Intern Direktorat
Jenderal Peternakan (Tim Satlak SPI Ditjennak), dengan susunan sebagai
berikut :
Penanggung Jawab : Direktur Jenderal Peternakan, Dr. Ir. Tjeppy D.
Soedjana, M. Sc.
Ketua : Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan, Dr.
Drh. Sjamsul Bahri, MS.
Sekretaris : Kepala Bagian Perencanaan, Dr.Ir. Riwantoro,
MM.
Susunan anggota terdiri dari :
1) Kabag Umum, Sekretariat Direktorat Jenderal Peternakan, Drs. Tri
Handono Wihendro, SH.MM
2) Kabag Hukum dan Hubungan Masyarakat, Setditjen Peternakan,
Pujianto Ramlan, SH.
3) Kasubdit Pengamatan Penyakit Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan,
Drh. Bagoes Poermadjaja, M.Sc
4) Kasubdit Pengawasan Obat Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan, Dr.
Drh. Abdul Rahman
5) Kasubdit Ternak Perah, Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia, Ir.
Yulizar
6) Kasubdit Ternak Potong, Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia , Ir.
Wignyo Sadwoko, MM
7) Kasubdit Pemuliaan Ternak, Direktorat Perbibitan, Dr. Ir. Endang
Romjali, M.Sc.
8) Kasubag Tata Usaha Direktorat Perbibitan, Ir. Sri Widayati, MMA
9) Kasubdit Produk Hewan Non Pangan, Direktorat Kesehatan Masyarakat
Veteriner, Drh. Yudi Prastowo
10) Fungsional Medik Veteriner Direktorat Kesmavet, Drh.Sri Lestari
33

11) Kasubdit Alat dan Mesin Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia, Ir.
Amrizal Jufri
12) Kasubag Tata Usaha Direktorat BTNR, Ir. Sri Basuki Heriyani
13) Kasubag Akuntansi dan Verifikasi, Sekretariat Direktorat Jenderal
Peternakan, Harum Nurochma, SE., MM.
14) Kasubag Perlengkapan, Sekretariat Direktorat Jenderal Peternakan,
Darmawi, SE.MM
15) Kasubag Perbendaharaan Setditjen Peternakan, Pardjono, SE.
16) Kasubag Evaluasi, Setditjen Peternakan, Farouk Mochtar, S.Pt
17) Staf Perencanaan, Setditjen Peternakan, Muh. Fahmi Nuzarwan, S.Pt
18) Staf Perencanaan, Sekretariat Direktorat Jenderal Peternakan, Dedik
Joko Prihantono, S.Pt
19) Staf Perencanaan, Setditjen Peternakan, Andi Hendra Purnama, S.Pt

Tim Satlak Direktorat Jenderal Peternakan bertugas untuk :
a. Menyusun Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Sistem Pengendalian Intern
(SPI) Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian ;
b. Mensosialisasikan penerapan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Sistem
Pengendalian Intern (SPI).
c. Melakukan monitoring dan evaluasi penerapan SPI di Unit Kerja Lingkup
Direktorat Jenderal Peternakan;
d. Berkoordinasi dengan Pembina SPIP Lingkup Departemen Pertanian
tentang pelaksanaan SPIP.








34

Struktur organisasi Satlak SPI Direktorat Jenderal Peternakan dijelaskan
pada gambar 2.















Keterangan : = Pembinaan/supervisi.
= Pelaporan.
Gambar 2. Struktur organisasi Satlak SPI Direktorat Jenderal Peternakan

Sasaran pelaksanaan SPI lingkup Ditjen Peternakan adalah :
a. Menurunkan tingkat penyimpangan dan kerugian negara di lingkup
Direktorat Jenderal Peternakan;
b. Meningkatnya akuntabilitas kinerja Direktorat Jenderal Peternakan;
c. Meningkatnya kinerja Satker pengelola program/kegiatan Direktorat
Jenderal Peternakan di Pusat dan daerah;
d. Mendukung penilaian laporan keuangan Departemen Pertanian oleh
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menjadi Wajar Tanpa
Pengecualian;
e. Meningkatnya jumlah unit Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) di
lingkungan Ditjen Peternakan.

PEMBINA/PENANGGUNGJAWAB
DIREKTUR JENDERAL PETERNAKAN
KETUA
SEKRETARIS
DIREKTORAT JENDERAL
PETERNAKAN
SEKRETARIS
KEPALA BAGIAN PERENCANAAN
ANGGOTA
WAKIL
DIREKTORAT
BUDIDAYA
TERNAK
RUMINANSIA
ANGGOTA
WAKIL
DIREKTORAT
BUDIDAYA
TERNAK NON
RUMINANSIA
ANGGOTA
WAKIL
DIREKTORAT
KESEHATAN
HEWAN
ANGGOTA
WAKIL
DIREKTORAT
KESEHATAN
MASYARAKAT
VETERINER
ANGGOTA
WAKIL
DIREKTORAT
PERBIBITAN
ANGGOTA
WAKIL
SEKRETARIAT
DIREKTORAT
JENDERAL
35

2. Uraian tugas Satlak SPI.
a. Penanggungjawab/Pembina, bertanggungjawab terhadap tercapainya
tujuan organisasi melalui kegiatan pembangunan peternakan dan
administrasi yang efektif dan efisien, ekonomis dan tertib yang ditunjang
oleh pelaporan yang handal, pengamanan aset negara, dan ketaatan
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Ketua, membantu Pembina/Penanggungjawab dalam
mengkoordinasikan melaksanakan SPI melalui pembinaan, peningkatan
pengawasan dan pengendalian dilingkup unit kerja/satker serta
melaporkan pelaksanaan SPI secara berkala.
c. Sekretaris, membantu Ketua dalam pelaksanaan pembinaan, penilaian,
berkoordinasi dengan pihak terkait/rapat/notulen, menyusun laporan
hasil pembinaan SPI di Unit Kerja/Satker dan pendokumentasian
berbagai aktivitas SPI.
d. Anggota, membantu Ketua dan Sekretaris dalam pelaksanaan,
penilaian, pengkoordinasian maupun pembinaan SPI.

3. Prosedur Tim Satlak SPI.
Untuk menjamin pelaksanaan implementasi penerapan SPI mulai dari
Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota dan UPT diperlukan monitoring dan
evaluasi implementasi SPI pada Satker/Unit kerja oleh Tim Satlak SPI.
Prosedur operasional standar dalam melaksanakan penilaian SPI oleh Tim
Satlak SPI Direktorat Jenderal Peternakan diuraikan pada gambar 3.
4. Tata Hubungan Kerja Tim Satlak SPI.
Dengan dibangunnya struktur organisasi Satuan Pelaksana Sistem
Pengendalian Intern (Satlak SPI) lingkup Kementerian Pertanian sesuai
dengan Peraturan Menteri Pertanian No.23/Permentan/OT.140/5/2009
tentang pedoman umum Sistem Pengendalian Intern di lingkungan
Kementerian Pertanian diharapkan pelaksanaan dan penerapan SPI dapat
berjalan secara efektif dan efisien.
Pelaksanaan dan penerapan SPI diwujudkan dalam bentuk organisasi SPI
mulai dari pusat sampai dengan daerah guna memfasilitasi koordinasi
pelaksanaan SPI yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Untuk menjamin
arus monitoring dan evaluasi penyusunan dan penerapan SPI mulai dari
Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota dan UPT diperlukan jalinan koordinasi Tim
Satlak SPI. Prosedur jalinan koordinasi Tim Satlak SPI Direktorat Jenderal
Peternakan diuraikan pada gambar 4.

Gambar 3. SOP TIM SATLAK SPI DITJENNAK
No Kegiatan
Pelaksana Mutu Baku
Penanggungjawab
SPI (Dirjennak)
Ketua Tim
Satlak SPI
(Setditjennak)
Ketua Tim
Monev
SPI
Anggota
Satlak SPI
Satlak SPI
Unit Kerja
Terkait
Tim Satlak
SPI Kemtan
Kelengkapan Waktu Output Keterangan
1 Surat perintah dari Dirjen Peternakan sebagai
Penanggungjawab SPI Ditjen Peternakan
untuk melaksanakan SPI.


Surat Perintah/
Memo
1 hari kerja Surat Tugas SOP
Persuratan
2 Surat perintah dari Setditjen Peternakan
sebagai Ketua Tim Satlak SPI Ditjen
Peternakan kepada koordinator/ketua monev
pelaksanaan SPI, ditembuskan kepada Unit
Kerja dan pihak terkait.

Surat Perintah/
Memo
1 hari kerja Surat Tugas SOP
Persuratan
3 Memerintahkan untuk pengumpulan data
sekunder (SOP, TOR, Program Kerja
Kegiatan/PKK, Rencana Kerja/RK, Juklak,
Juknis, Peraturan dan Dokumen lain yang
terkait) dan data primer yang meliputi laporan
kegiatan, kuisioner/daftar wawancara maupun
interviu, dan lain-lain.

Surat
Perintah/Surat
tugas
1 hari kerja Surat Perintah/
Surat tugas
SOP
Dokumentasi
SOP Monev
dan SOP
pelaporan
4 Mengumpulkan data primer dan sekunder unit
kerjanya masing-masing sebagai
implementasi pelaksanaan kegiatan SPI.

Data primer dan
sekunder.
2 hari kerja Matriks data SOP
Dokumentasi
SOP Monev
dan SOP
pelaporan
5 Menyampaikan data primer dan sekunder
kegiatan SPI dari unit kerjanya.

Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
2 hari kerja Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
SOP
Dokumentasi
SOP Monev
dan SOP
pelaporan
6 Analisis data sekunder dan primer sesuai
dengan lima unsur pengendalian. Jika data
cukup (ya) segera membuat laporan kepada
koordinator/ketua Tim Monev SPI, jika kurang
jelas (tidak) melakukan klarifikasi.

Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
2 hari kerja Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
SOP
Dokumentasi
SOP Monev
dan SOP
pelaporan
Bersambung

36


Lanjutan.


7 Analisis laporan Anggota Tim Satlak SPI
sesuai dengan lima unsur pengendalian. Jika
dapat diterima (ya) segera menandatangani
laporan pelaksanaan SPI untuk dilaporkan
kepada ketua Tim Satlak SPI, jika kurang jelas
(tidak) melakukan klarifikasi.

Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
1 hari kerja Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
SOP
Dokumentasi
SOP Monev
dan SOP
pelaporan
8 Mengoreksi laporan Ketua Tim Satlak SPI, jika
dapat diterima (ya) segera meminta arahan
penanggungjawab SPI (Dirjen) untuk
pelaporan pelaksanaan SPI kepada Tim Satlak
SPI Kemtan, dan menyusun surat tindak lanjut
pelaksanaan SPI. Jika kurang jelas (tidak)
melakukan klarifikasi.



Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
1 hari kerja Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
SOP
Dokumentasi
SOP Monev
dan SOP
pelaporan
9 Memberikan arahan dalam penyusunan
pelaporan pelaksanaan SPI. Memerintahkan
untuk segera menyampaikan laporan kepada
pihak-pihak terkait.

Laporan dan
surat tindak
lanjut
pelaksanaan
kegiatan SPI
1 hari kerja Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
SOP
Dokumentasi
SOP Monev
dan SOP
pelaporan
10 Memerintahkan Tim Satlak untuk
berkoordinasi dengan Tim Satlak SPI
Kementerian Pertanian dan Tim Satlak SPI
Unit Kerja terkait dalam menindaklanjuti
laporan SPI.

Laporan dan
surat tindak
lanjut
pelaksanaan
kegiatan SPI
1 hari kerja Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
SOP
Persuratan,
SOP Monev
dan SOP
pelaporan
11 Berkoordinasi dengan Tim Satlak SPI
Kementerian Pertanian dan Tim Satlak SPI
Unit Kerja terkait dalam menindaklanjuti
laporan SPI.

Laporan dan
surat tindak
lanjut
pelaksanaan
kegiatan SPI
1 hari kerja Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
SOP
Persuratan,
SOP Monev
dan SOP
pelaporan
Bersambung

37


Lanjutan.




12 Menyampaikan tindak lanjut pelaksanaan SPI.

Laporan dan
surat tindak
lanjut
pelaksanaan
kegiatan SPI
1 hari kerja Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
SOP
Persuratan,
SOP Monev
dan SOP
pelaporan
13 Menarsipkan data tindak lanjut laporan
pelaksanaan SPI.

Laporan dan
surat tindak
lanjut
pelaksanaan
kegiatan SPI
1 hari kerja Laporan
pelaksanaan
kegiatan SPI
SOP Arsiparis.
Catatan : Asumsi draf berita acara lhp sebanyak
100 LHP
Ket
:

= mulai dan mengakhiri kegiatan

= kegiatan berupa proses, kegiatan.
= kegiatan pengambilan keputusan
= konektor dalam halaman sama
= konektor ganti halaman
= alur proses





38

Gambar 4. SOP Koordinasi Tim Satlak SPI Ditjennak
No Kegiatan
Pelaksana Mutu Baku
Penanggungjawab SPI
(Dirjen Peternakan)
Ketua Tim Satlak
SPI (Setditjen
Peternakan)
Anggota Satlak SPI
Tim Satlak SPI
Kemtan
Kelengkapan Waktu Output Keterangan
1 Memerintah Ketua Tim Satlak SPI Ditjen
Peternakan untuk melakukan koordinasi dengan
Tim Satlak SPI Kemtan.


Surat Perintah/
Memo
1 hari kerja Surat Tugas Surat Tugas
2 Memerintahkan anggota Satlak untuk
menginventarisasi laporan SPI.

Surat Perintah/
Memo
1 hari kerja Surat Tugas Surat Tugas
3 Menyusun matriks inventarisasi data Laporan
kegiatan SPI.

Lap SPI Ditjen
Peternakan
2 hari kerja Matriks
Laporan
SOP Monev dan
SOP pelaporan
4 Menganalisa matriks inventarisasi data Laporan
kegiatan SPI. Jika disetujui (ya) dibuatkan
surat pengantar/perintah untuk pemutahiran
data SPI. Jika tidak disetujui (tidak)
dikembalikan ke anggota Satlak SPI untuk
disempurnakan.
Matriks Lap SPI
Ditjen
Peternakan
2 hari kerja Matriks
Laporan
SOP Satlak
SPI Ditjennak
5 Melakukan pemutahiran data dan koordinasi
tindak lanjut SPI dengan Tim Satlak SPI
Kemtan.
Matriks Lap SPI
Ditjen
Peternakan
3 hari kerja
(sesuai surat
tugas)
Matriks
Laporan
SOP Satlak
SPI Ditjennak
6 Melakukan pemutahiran data dan koordinasi
tindak lanjut SPI. Jika disetujui (ya) menyusun
berita acara/laporan pemutahiran SPI, jika
tidak disetujui (tidak) segera dikomfirmasi ke
Tim Satlak SPI Ditjen Peternakan.

Matriks Lap SPI
Ditjen
Peternakan
2 hari kerja
(sesuai surat
tugas)
Matriks
Laporan
SOP Satlak
SPI Ditjennak

39


7 Menyusun Laporan pemutahiran/ koordinasi
kepada Pembina Tim Satlak SPI Ditjen
Peternakan.


Lap pemutahiran
SPI Ditjen
Peternakan
2 hari kerja Draf
Laporan
SOP Monev
dan SOP
pelaporan
8 Analisis Laporan pemutahiran/koordinasi Tim
Satlak SPI. Jika disetujui (ya) ditandatangani
untuk dilaporkan kepada Penanggungjawab SPI,
jika tidak dikembalikan ke Tim Satlak SPI untuk
disempurnakan.

Laporan Draf
Sementara
1 hari kerja Laporan
Pemutahiran
SPI Ditjen
Peternakan
Draf laporan
9 Mencermati laporan hasil koordinasi Tim Satlak
SPI Ditjen Peternakan sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan ke
depan.

Laporan Hasil
Pemutahiran
1 hari kerja Laporan
Hasil
Pemutahiran
Laporan Hasil
Pemutahiran
10 Pengarsipan laporan Tim Satlak SPI Ditjen
Peternakan dan didistribusikan ke pihak terkait.

Laporan Hasil
Pemutahiran
1 hari kerja Laporan
Hasil
Pemutahiran
SOP Arsiparis
dan pesuratan













40



Ket:
Disesuaikan dengan Surat Tugas Pemutahiran
SPI


Catatan : Asumsi draf berita acara lhp sebanyak 100
LHP


Ket
:

= mulai dan mengakhiri kegiatan


= kegiatan berupa proses, kegiatan.



= kegiatan pengambilan keputusan


= konektor dalam halaman sama


= konektor ganti halaman


= alur proses




41



43
BAB VIII
P E N U T U P

Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) SPI Direktorat Jenderal Peternakan ini disusun merujuk pada
PP Nomor 60 Tahun 2008 dan beberapa literatur lain yang relevan, yang disesuaikan dengan
kondisi terkini di lingkungan Direktorat Jenderal Peternakan. Meskipun demikian sumbangan
pemikiran dari berbagai pihak untuk penyempurnaan juklak ini masih sangat dimungkinkan.
Juklak ini masih bersifat umum, untuk itu unit kerja/satker diharapkan dapat menjabarkan
sesuai dengan tugas pokok dan fungsi, kondisi serta permasalahan yang dihadapi.
Dalam implementasinya, Sistem Pengendalian Intern harus dilaksanakan secara
komprehensif dan penuh tanggung jawab sesuai ketentuan dengan melibatkan semua pihak
terkait. Untuk itu diperlukan dukungan dan komitmen yang kuat dalam hal kebijakan dan
pendanaan dalam pelaksanaanya.
Implementasi dari SPI ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan nilai tambah bagi unit
kerja/satker lingkup Direktorat Jenderal Peternakan serta para pemangku kepentingan
(stakeholder) dalam upaya mencegah segala penyimpangan dan ketidakpatuhan serta
senantiasa memenuhi prinsip-prinsip good governance.
Semoga penerbitan juklak SPI ini dapat menjadi tonggak awal penerapan SPI dalam rangka
mewujudkan Good Governance.













43
Lampiran 6. Data Umum penunjang Pelaksanaan Penilaian Tim SPI
DATA UMUM
LINGKUP DITJEN PETERNAKAN
Nama lengkap unit kerja :
Singkatan nama unit kerja :
Alamat lengkap kantor :
Lingkup eselon I :
No. Telepon :
Nama lengkap pimpinan :
NIP :

Penilaian T. A. : Tahun berjalan
Nama kegiatan strategis : 1........................................................................................................
2.......................................................................................................
3......................................................................................................
Obyek wawancara : 1.......................................................................................................
2......................................................................................................
3.....................................................................................................
Aktivitas Penilaian* : O Wawancara
O Cek dan copy dokumen
O Survei lapangan**

Catatan : * = Contreng pada pilihan lingkaran bila melakukan aktivitas tersebut
** = Bila melakukan survei ke lokasi di luar kantor yang dilakukan penilaian






43
Lampiran 7. Daftar dokumen bahan penilaian SPI

DAFTAR DOKUMEN DALAM RANGKA PENILAIAN
SISTEM PENGENDALIAN INTERN (SPI) PADA UNIT KERJA
LINGKUP DITJEN PETERNAKAN
Periode penilaian tahun berjalan.....................

1.Satuan Pelaksana Pengendalian Intern
A. SK (Surat Penugasan) Tim SPI
B. Dokumen rencana penganggaran kegiatan SPI di DIPA tahun berjalan
C. Absensi rapat intern/notulen Tim SPI
D. Dokumen program kerja Satlak PI
E. Dokumen Agenda kegiatan
F. Laporan pelaksanaan kegiatan-kegiatan SPI
G. SOP Satlak PI
H. Pedoman Satlak PI
I. Dokumen penugasan personil mengikuti berbagai aktivitas SPI, baik yang dilaksanakan di
lingkungan Kementerian Pertanian, maupun di lingkup Ditjen Peternakan
J. Penerimaan penghargaan dalam berbagai acara SPI di lingkup kementerian Pertanian
K. Dokumen absensi rapat/notulen/undangan rapat kepada Satlak PI binaan








43
Lampiran 8. Daftar penerimaan penghargaan SPI

DAFTAR PENERIMAAN PENGHARGAAN /AKREDITASI
Daftar inventarisasi penghargaan yang diterima oleh satker/UPT dan masih berlaku sesuai
periode yang tertera, terkait penilaian bidang kualitas kinerja atau manajemen oleh pihak ketiga
yang kompeten:
a.
b.
c.
d.
Catatan:
Dokumen asli berupa sertifikat, fisik piala, plakat atau bentuk lainnya, harus diperlihatkan.










43
Lampiran 9. Berita acara hasil pelaksanaan penilaian SPI

BERITA ACARA
PENILAIAN SPI PADA UNIT KERJA
LINGKUP DITJEN PETERNAKAN

Tim Penilai telah selesai melaksanakan tugas sesuai Surat Perintah Tugas No......................,
dengan menggunakan metode wawancara, analisis dokumen dan kunjungan lapangan.


.............................,....../...../2009

Tim Penilai: Pimpinan Instansi/Yang mewakili

....................(.................)
NIP. Stempel

.....................(................) ...........................................
NIP. NIP.