Anda di halaman 1dari 10

Referat

OBAT MIDRIATIKUM DAN MIOTIKUM






















Oleh :
Anisa Febrina D
G99122015





KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2014





2

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
TINJAUAN PUSTAKA
A. Mata ........................................................................................................ 3
B. Obat Midriatikum ................................................................................ 5
C. Obat Miotikum ................................................................................ 8

DAFTAR PUSTAKA













3

TINJAUAN PUSTAKA
A. MATA
Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga
lapisan, yaitu sklera/kornea, koroid/badan siliaris/iris, dan retina. Struktur mata
manusia berfungsi utama untuk memfokuskan
cahaya ke retina. Semua komponen
komponen yang dilewati cahaya sebelum
sampai ke retina mayoritas berwarna gelap
untuk meminimalisir pembentukan bayangan
gelap dari cahaya. Kornea dan lensa berguna
untuk mengumpulkan cahaya yang akan
difokuskan ke retina, cahaya ini akan menyebabkan perubahan kimiawi pada
sel fotosensitif di retina. Hal ini akan merangsang impulsimpuls syaraf ini dan
menjalarkannya ke otak.
1

Bola mata berdiameter 2,5 cm dimana 5/6 bagiannya terbenam dalam
rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar.Mata
adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan
yaitu Tunica Vibrosa, Tunica Vasculosa, dan Tunica Nervosa.
2

Tunica vibrosa terdiri dari sklera, sklera merupakan lapisan luar yang
sangat kuat. Sklera berwarna putih putih, kecuali di depan. Pada lapisan ini
terdapat kornea, yaitu lapisan yang berwarna bening dan berfungsi untuk
menerima cahaya masuk kemudian memfokuskannya. Untuk melindungi
kornea ini, maka disekresikan air mata sehingga keadaannya selalu basah dan
dapat membersihkan dari debu.
1,2

Tunica vasculosa merupakan bagian tengah bola mata, urutan dari
depan ke belakang terdiri dari iris, corpus ciliaris dan
koroid. Koroid merupakan lapisan tengah yang kaya akan pembuluh
darah, lapisan ini juga kaya akanpigmen warna. Daerah ini disebut iris. Pada
batas cornea dan sclera terdapat canalis schlemm yaitu suatu sinus venosus
yang menyerap kembali cairan aquaus humor bola mata.
1

4

Bagian depan dari lapisan iris ini disebut Pupil yang terletak di
belakang kornea tengah. Pengaruh kerja ototnya yaitu melebar dan
menyempitnya bagian ini.Di sebelah dalam pupil terdapat lensa yang berbentuk
cakram otot yang disebut Musculus Siliaris. Otot ini sangat kuat dalam
mendukung fungsi lensa mata, yang selalu bekerja untuk memfokuskan
penglihatan. Seseorang yang melihat benda dengan jarak yang jauh tidak
mengakibatkan otot lensa mata bekerja, tetapi apabila seseorang melihat benda
dengan jarak yang dekat maka akan memaksa otot lensa bekerja lebih berat
karena otot lensa harus menegang untuk membuat lensa mata lebih tebal
sehingga dapat memfokuskan penglihatan pada benda-benda tersebut.
2

Pada bagian depan dan belakang lensa ini terdapat rongga yang berisi
caira bening yang masing-masing disebut Aqueous Humor dan Vitreous
Humor. Adanya cairan ini dapat memperkokoh kedudukan bola mata. Tunica
nervosa (retina)merupakan reseptor pada mata yang terletak pada bagian
belakang koroid. Bagian ini merupakan bagian terdalam dari mata. Lapisan ini
lunak, namun tipis, hampir menyerupai lapisan pada kulit bawang.
2

Retina tersusun dari sekitar 103 juta sel-sel yang berfungsi untuk
menerima cahaya. Di antara sel-sel tersebut sekitar 100 juta sel merupakan sel-
sel batang yang berbentuk seperti tongkat pendek dan 3 juta lainnya adalah sel
konus (kerucut). Sel-sel ini berfungsi untuk penglihatan hitam dan putih, dan
sangat peka pada sedikit cahaya.
1,2

SEL BATANG
Tidak dapat membedakan warna, tetapi lebih sensitif terhadap cahaya
sehingga sel ini lebih berfungsi pada saat melihat ditempat gelap. Sel
batang ini mengandung suatu pigmen yang fotosensitif
disebut rhodopsin. Cahaya lemah seperti cahaya bulan pun dapat
mengenai rhodopsin. Sehingga sel batang ini diperlukan untuk
penglihatan pada cahaya remang-remang.
SEL KERUCUT ( cone cell )
Mengandung jenis pigmen yang berbeda, yaitu iodopsin yang terdiri
dari retinen. Terdapat 3 jenis iodopsin yang masing-masing sensitif
5

terhadap cahaya merah, hijau dan biru. Masing-masing disebut iodopsin
merah, hijau dan biru. Segala warna yang ada di dunia ini dapat
dibentuk dengan mencamputkan ketiga warna tersebut. Sel kerucut
diperlukan untuk penglihatan ketika cahaya terang.

Signal listrik dari sel batang dan sel kerucut ini akan di teruskan melalui
sinap ke neuron bipolar, kemudian ke neuron ganglion yang akan membentuk
satu bundel syaraf yaitu syaraf otak ke II yang menembus coroid dan sclera
menuju otak. Bagian yang menembus ini disebut dengan discus opticus,
dimana discus opticus ini tidak mengandung sel batang dan sel kerucut, maka
cahaya yang jatuh ke discus opticus tidak akan terlihat apa-apa sehingga
disebut dengan bintik buta.
1,2

B. OBAT MIDRIATIKUM
Adalah obat yang digunakan untuk membesarkan pupil mata. Juga
digunakan untuk siklopegia (dengan melemahkan otot siliari) sehingga
memungkinkan mata untuk fokus pada obyek yang dekat. Obat midriatikum
menggunakan tekanan pada efeknya dengan memblokade inervasi dari pupil
spingter dan otot siliari.
3

Obat untuk midriatikum bisa dari golongan obat simpatomimetik dan
antimuskarinik, sedangkan obat untuk Siklopegia hanya obat dari golongan
antimuskarinik.
3

Sulfas Atropin
Pemberian atropin sebagai obat tetes mata, terutama pada anak dapat
menyebabkan absorpsi dalam jumlah yang cukup besar lewat mukosa
nassal, sehingga menimbulkan efek sistemik dan bahkan keracunan. Untuk
mencegah hal ini perlu dilakukan penekanan kantus internus mata setelah
penetesan obat agar larutan atropin tidak masuk ke rongga hidung,
terserap, dan menyebabkan efek sistemik. Hal ini tidak tampak pada
derivat sintetis maupun semisintetis. Atropin sulfat menghambat M.
constrictor pupillae dan M. ciliaris lensa mata, sehingga menyebabkan
6

midriasis dan siklopegia (paralisis mekanisme akomodasi). Midriasis
mengakibatkan fotopobia, sedangkan siklopegia menyebabkan hilangnya
daya melihat jarak dekat.
3,4
Atropin menyekat semua aktifitas kolinergik pada mata,sehingga
menimbulkan midriasis (dilatasi pupil),mata menjadi tidak bereaksi
terhadap cahaya dan sikloplegia (ketidak mampuan memfokus untuk
penglihatan dekat).
3,9

Mula timbulnya midriasis tergantung dari besarnya dosis, dan
hilangnya lebih lambat daripada hilangnya efek terhadap kelenjar liur.
Pemberian lokal pada mata menyebabkan perubahan yang lebih cepat dan
berlangsung lama sekali (7-12 hari), karena atropin sukar dieliminasi dari
cairan bola mata. Midriasis oleh alkaloid belladona dapat diatasi dengan
pilokarpin, eserin, atau DFP. Tekanan intraokular pada mata yang normal
tidak banyak mengalami perubahan. Tetapi pada pasien glaukoma,
terutama pada glaukoma sudut sempit, penyaliran cairan intraokular
melalui saluran schlemm akan terhambat karena muaranya terjepit dalam
keadaan midriasis. Sesudah pemberian 0,6 mg atropin SK pada mulanya
terlihat efek terhadap kelenjar eksokrin, terutama hambatan salivasi, serta
efek bradikardi sebagai hasil perangsangan N. vagus.
3,4,5

Mekanisme kerja Atropine memblok aksi kolinomimetik pada
reseptor muskarinik secara reversible (tergantung jumlahnya) yaitu,
hambatan oleh atropine dalam dosis kecil dapat diatasi oleh asetilkolin
atau agonis muskarinik yang setara dalam dosis besar. Hal ini menunjukan
adanya kompetisi untuk memperebutkan tempat ikatan. Hasil ikatan pada
reseptor muskarinik adalah mencegah aksi seperti pelepasan IP3 dan
hambatan adenilil siklase yang di akibatkan oleh asetilkolin atau antagonis
muskarinik lainnya.
3,4

Atropin dapat menimbulkan beberapa efek, misalnya pada susunan
syaraf pusat, merangsang medulla oblongata dan pusat lain di otak,
menghilangkan tremor, perangsang respirasi akibat dilatasi bronkus, pada
dosis yang besar menyebabkan depresi nafas, eksitasi, halusinasi dan lebih
7

lanjut dapat menimbulkan depresi dan paralisa medulla oblongata. Efek
atropin pada mata menyebabkan midriasis dan siklopegia. Pada saluran
nafas, atropin dapat mengurangi sekresi hidung, mulut dan bronkus. Efek
atropin pada sistem kardiovaskuler (jantung) bersifat bifasik yaitu atropin
tidak mempengaruhi pembuluh darah maupun tekanan darah secara
langsung dan menghambat vasodilatasi oleh asetilkolin. Pada saluran
pencernaan, atropin sebagai antispasmodik yaitu menghambat peristaltik
usus dan lambung, sedangkan pada otot polos atropin mendilatasi pada
saluran perkencingan sehingga menyebabkan retensi urin.
4,5
Homatropin
Homatropine adalah alkaloid semisintetik yang dibuat dari kombinasi
asam mandelat dengan tropine. Durasi kerja Homatropin lebih pendek
dibanding dengan Atropin
7,8
Tropikamide
Tropikamide termasuk dalam obat yang mempengaruhi saraf otonom.
Obat ini bekerja dengan cara berbeda, yang pada prinsipnya bekerja
dengan mempengaruhi proses sintesis, penyimpanan, pengeluaran
neurotransmitter, atau mempengaruhi reseptornya.
3,6
Tropikamide adalah obat kolinergik, yang termasuk dalam kelompok
antagonis dan bekerja dengan cara kompetitif terhadap reseptor post sinap
saraf parasimpatis. Obat ini dikelompokkan pula sebagai obat
midriatikum-sikloplegik, karena menyebabkan dilatasi pupil (sebagai
midriatikum) dan paralisis otot siliaris (sebagai sikloplegik). Namun efek
tropikamide terutama adalah menyebabkan pupil dilatasi. Efek sikloplegi
optimal dicapai pada tetesan kedua tropikamide 1%. Tropikamide
mempunyai onset cepat (20-40 menit) dan masa kerja singkat (4-6 jam),
sehingga sering digunakan dalam klinis. Dengan Tropikamide 1%,
midriasis maksimal akan dicapai dalam waktu 30 menit setelah penetesan.
Dalam suatu penelitian oleh Rajanandh et al, disebutkan bahwa
tropikamide yang dikombinasikan dengan lignokain memberi hasil yang
lebih signifikan. Apabila dibandingkan dengan obat yang lain seperti
8

cyclopentolate, tropikamide terbukti lebih bekerja sebagai sikloplegik
karena tidak berhubungan dengan kebutuhan waktu dan komplikasi .
6,7,8,11,13
Fenilefrin
Fenilefrin bekerja sebagai simpatomimetik pada reseptor alfa,
mengakibatkan pupil midriasis. Terjadinya midriasis maksimal dalam
waktu 30 menit dan dipertahankan selama 30 menit, kemudian efeknya
akan hilang dalam 2-3 jam.

C. OBAT MIOTIKUM
Obat miotikum adalah obat yang menyebabkan miosis (konstriksi dari
pupil mata). Bekerja dengan cara membuka sistem saluran di dalam mata,
dimana sistem saluran tidak efektif karena kontraksi atau kejang pada otot di
dalam mata yang dikenal dengan otot siliari. Saat ini obat yang banyak tersedia
adalah pilokarpin dan carbachol, yang digunakan sebagai obat miotikum dan
obat glaukoma.
4,5,12

Contoh penggunaan : Pengobatan glaukoma bertujuan untuk mengurangi
tekanan di dalam mata dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada
penglihatan.
3,4
Pilokarpin
Pemberian : Hablur tidak berwarna, agak transparan, tidak berbau,
rasa agak pahit, higroskopis dan dipengaruhi oleh cahaya,
bereaksi asam terhadap kertas lakmus.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol,
sukar larut dalam kloroform, tidak larut dalam eter.
Dosis : 1 4%
Indikasi : Glaukoma dan mata kering
pH : 3,5 5,5
Ekivalensi : 0,24
Pilokarpin HCl dibuat sedian tetes mata karena berfungsi sebagai
miotik untuk pengobatan glaucoma. Sediaan tetes mata merupakan sediaan
9

dosis ganda sehingga diperlukan bahan pengawet seperti Benzalkonium
klorida.
4,5

Pilokarpin merupakan obat kolinergik golongan alkaloid tumbuhan,
yang bekerja pada efektor muskarinik dan sedikit memperlihatkan sedikit
efek nikotinik sehingga dapat merangsang kerja kelenjar air mata dan
dapat menimbulkan miosis dengan larutan 0,5 - 3%. Obat tetes mata
dengan zat aktif Pilokarpin berkhasiat menyembuhkan glaukoma dan mata
kering. Dosis Pilokarpin yang paling umum digunakan untuk sediaan tetes
mata adalah 1 4%.
4,7

Fisostigmin
Bila fisostigmin (Eserin) diteteskan pada konjungtiva bulbi, maka terlihat
suatu perubahan yang nyata pada pupil berupa miosis, hilangnya daya
akomodasi dan hiperemia konjungtiva. Miosis terjadi cepat sekali, dalam
beberapa menit, dan menjadi maksimal setelah setengah jam. Tergantung
dari antikolinesterase yang digunakan, kembalinya ukuran pupil ke normal
dapat terjadi dalam beberapa jam (fisostigmin). Miosis menyebabkan
terbukannya saluran Schlemm, sehingga pengaliran cairan mata lebih
mudah, maka tekanan intraokuler menurun. Terutama bila ada glaukoma.
Miosis oleh obat golongan ini dapat diatasi oleh atropin.
9,10









10


DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, S. (2009). Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
2. Paul, RE, John, PW. Vaughan dan Asbury Oftalmologi Umum Edisi 17.
Jakarta: EGC.
3. Katzung, Bertram G. (2004), Basic & clinical pharmacology Edisi 9. New
York: Mcgraw-Hill.
4. Brown, Michael, dkk. (2005). Pharmacotherapy: A Pathophysiologic
Approach Edisi 6. USA: McGraw-Hill.
5. Lepper,Hans. 2003. Farmakologi dan Toksologi . Jakarta : Buku Kedokteran
EGC.
6. Swasty. 2005. Perbedaan Lama Pencapaian Midriasis dan Ukuran Pupil
Maksimal yang Dapat Dicapai Pada Berbagai Derajat NPDR Setelah
Pemberian Tetes Mata Tropicamide 1%. Semarang: Univ. Diponegoro.
7. Editor. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Univ. Indonesia
8. Liesegang TJ, Deutstch TA, Grand MG. Fundamentals dan Principles of
Ophthalmology. Basic and clinical science course. 2001. San Fransisco.
9. Lepper,Hans. 2003. Farmakologi dan Toksologi . Jakarta : Buku Kedokteran
EGC.
10. Mycek, Mery J. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Jakarta :
Widya Medika
11. Rajanandh et al. 2011. Mydriatic Effect of Tropicamide, Proparacaine, and
Lignocaine: A Mono and Combination Therapy. Dept. Of Pharmacy Practice
SRM University.
12. Titcomb, Lucy C. 2003. Drugs Used in Optometric Practice.
13. Ihekaire, Desmond E. 2013. The Comparative Efficacy of Cyclopegic
DrugsTropicamide and Cyclopentolate on School Children. Imo State
University.