Anda di halaman 1dari 4

Intoksikasi Opiat

IK. Agus Somia, Tuti Parwati Merati


Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi
Bagian/SMF Penyakit Dalam FK Unud/RS Sanglah

Definisi
Intoksikasi opiat merupakan intoksikasi akibat penggunaan obat golongan opiat
1

Etiologi
Obat-obat yang termasuk golongan opiat antara lain morfin, petidin, heroin, opium,
pentazokain, kodein, loperamid, dekstrometorfan.
1

Tabel : Jenis obat opium, dosis fatal dan dosis pengobatan
2
Jenis Obat Dosis fatal (g) Dosis pengobatan (mg)
Kodein
Dekstrometorfan
Heroin
Loperamid (imodium)
Meperidin (petidin)
Morfin
Nalokson (Narcan)
Opium (Papaver somniferum)
Pentazocain (Talwin)
0,8
0,5
0,2
0,5
1
0,2

0,3
0,3
60
60-120/hari
4

100
10

Epidemiologi
Di New York 1970 terjadi kematian 1200 penderita karena overdosis obat
golongan narkotika dan di Amerika Serikat diperkirakan lebih dari 10.000 kematian
karena kelebihan dosis, akan tetapi angka kematian (karena over dosis) di Indonesia
belum ada pelaporan. Belum adanya laporan ini jangan sampai melengahkan para klinisi
karena mungkin saja kasus penyalahgunaan obat akan bertambah seiring dengan
kemajuan zaman.
2

Patofisiologi
Pada umumnya kelompok opiat mempunyai kemampuan untuk menstimulasi SSP
melalui aktivasi reseptornya yang akan menyebabkan efek sedasi dan depresi nafas.
2,3
Beberapa jenis reseptor ialah :
2-4
Reseptor Mu1 (1) : berefek analgesik, euforia dan hipotermia
Reseptor Mu2 (2) : bradikardia, depresi nafas, miosis, euforia, penurunana kontraksi
usus dan ketergantungan fisik
Reseptor Kappa () : spinal analgesik, depresi nafas dan miosis, hipotermia
Reseptor Delta () : depresi nafas, disporia, halusinasi, vasomotor stimulasi
Reseptor Gamma () : inhibisi otot polos, spinal analgesik?
Gambaran Klinik
4
1. Triad klasik keracunan opioid meliputi miosis, koma dan depresi nafas.


2. gejala dan tanda sistem kardiovaskular: hipotensi ortostatik, disritmia
3. hipotermi, bising usus menurun, distensi abdominal dan retensi urin
4. Pada pemakai obat-obat intravenous, bisa tampak manifestasi infeksi (seperti
infeksi pada kulit, hati, paru, jantung dan susunan syaraf pusat) atau jejas trauma
Diagnosis
4

Klinis
Laboratorium : opiat urine positif atau kadar dalam darah tinggi
Pemeriksaan laboratorium untuk melihat kadar dalam darah tidak selalu diperlukan
karena pengobatan berdasarkan besar masalah sangat diperlukan daripada konfirmasi
kadar/jenis obat.
2
Pada evaluasi perlu pemeriksaan analisa darah serial,pemeriksaan
glukosa darah, elektrolit dan pemeriksaan foto dada.
3

Diagnosis Banding
4

1. Intoksikasi obat sedatif : barbiturat, benzodiazepin, etanol
2. abnormalitas metabolik seperti hipoglikemia, hipernatremia, hiponatremi,
hipoksia, hipotermi, hipotiroid
Komplikasi
Pneumonia aspirasi, gagal nafas, edema paru akut
5

Penatalaksanaan
1,2,3
1. Stabilisasi
2. Pemberian antidotum nalokson
a. Tanpa hipoventilasi : dosis awal diberikan 0,4 mg IV
b. Dengan hipoventilasi : dosis awal diberikan 1-2 mg IV
c. Bila tidak ada respon dalam 5 menit, diberikan nalokson 1-2 mg IV hingga
timbul respon perbaikan kesadaran dan hilangnya depresi pernafasan ,
dilatasi pupil atau telah mencapai dosis maksimal 10 mg. Bila tetap tidak
ada respon lapor konsulen Tim Narkoba
d. Efek nalokson berkurang 20-40 menit dan pasien dapat jatuh ke dalam
keadaan overdosis kembali, sehingga perlu pemantauan ketat tanda-tanda
penurunan kesadaran, pernafasan dan perubahan pada pupil serta tanda
vital lainnya selama 24 jam. Untuk pencegahan dapat diberikan drip
nalokson 1 ampul dalam 500 cc D 5% atau NaCl 0,9% diberikan dalam 4-
6 jam
e. Simpan sampel urin untuk pemeriksaan opiat urin dan lakukan foto dada
f. Pertimbangkan pemasangan ETT (endotracheal tube) bila :
i. Pernafasan tidak adekuat
ii. Oksigenasi kurang mesti ventilasi cukup
iii. Hipoventilasi menetap setelah pemberian nalokson ke-2
g. Pasien dipuasakan untuk menghindari aspirasi akibat spasme pilorik
3. Pasien dirawat dan dikonsultasikan ke Tim Narkoba Bagian Ilmu Penyakit Dalam
untuk penilaian keadaan klinis dan rencana rehabiliasi
4. Dalam menjalankan semua tindakan harus memperhatikan prinsip-prinsip
kewaspadaan universal oleh karena tingginya angka prevalensi hepatitis C dan
HIV
5. Bila diperlukan, pasien sebelumnya dipasang NGT untuk mencegah aspirasi
6. Edema paru diobati sesuai dengan antidotnya yaitu pemberian nalokson
disamping oksigenasi dan respirator bila diperlukan.
7. Hipotensi diberikan cairan IV yang adekuat, dapat dipertimbangkan pemberian
dopamin dengan dosis 2-5 mcg/kg BB/menit dan dapat dititrasi bila perlu
8. Pasien jangan dicoba untuk muntah (pada intoksikasi oral)
9. Kumbah lambung, dapat dilakukan segera setelah intoksikasi dengan opiat oral,
awasi jalan nafas dengan baik
10. Activated Charcoal dapat diberikan pada intoksikasi peroral dengan memberikan :
240 ml cairan dengan 30 g charcoal. Dapat diberikan sampai 100 gram
11. Bila terjadi kejang dapat diberikan diazepam IV 5-10 mg dan dapat diulang bila
diperlukan. Monitor tekanan darah dan depresi nafas dan bila ada indikasi dapat
dilakukan intubasi.
Prognosis
Prognosis yang buruk bila terjadi edema paru akut.
5
Kematian umumnya akibat apnea,
aspirasi paru dan edema paru .
2,3

Daftar Pustaka
1. Intoksikasi Opiat. In: Rani AA ed. Panduan Pelayanan Medik. Perhimpunan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia.Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Juli
2006.p151-2
2. Sukmana N. Intoksikasi Narkotika (opiat). In:Sudoyo AR dkk ed. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam edisi ke 4, jilid 1. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, Juni 2006. p213-6
3. Stephens E. Toxicity, Narcotics. http//www.emedicine.com. January,2005
4. Linden CH, Muse DA. Opioids. In: Viccellio P, ed. Handbook of Medical
Toxicology, 1
st
ed. Little, Brown and Company. Boston/Toronto/London,
1993.569-577
5. Sigh AJ, Renzi FP. Drug Withdrawal Syndrome. In: Viccellio P, ed. Handbook of
Medical Toxicology, 1
st
ed. Little, Brown and Company. Boston/Toronto/London,
1993.p634-5.