Anda di halaman 1dari 40

SIFAT-SIFAT KAYU DAN

PENGGUNAANNYA
Teknologi Kayu
sifat yang umum terdapat pada
semua jenis kayu
Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe
bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri
dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa
(karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat).
Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu
memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji
menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan
tangensial).
Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis,
yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air
(kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban
dan suhu udara disekelilingnya.
Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan
dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.
Sifat Fisik Kayu
Berat dan Berat Jenis
Berat suatu kayu tergantung dari jumlah zat kayu, rongga sel,
kadar air dan zat ekstraktif didalamnya. Berat suatu jenis kayu
berbanding lurus dengan BJ-nya. Kayu mempunyai berat jenis
yang berbeda-beda, berkisar antara BJ minimum 0,2 (kayu balsa)
sampai BJ 1,28 (kayu nani). Umumnya makin tinggi BJ kayu,
kayu semakin berat dan semakin kuat pula.

Keawetan
Keawetan adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-
unsur perusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, bubuk dll.
Keawetan kayu tersebut disebabkan adanya zat ekstraktif
didalam kayu yang merupakan unsur racun bagi perusak
kayu. Zat ekstraktif tersebut terbentuk pada saat kayu gubal
berubah menjadi kayu teras sehingga pada umumnya kayu teras
lebih awet dari kayu gubal.

Warna
Kayu yang beraneka warna macamnya disebabkan oleh zat
pengisi warna dalam kayu yang berbeda-beda.
Sifat Fisik Kayu
Tekstur
Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu. Berdasarkan
teksturnya, kayu digolongkan kedalam kayu bertekstur halus
(contoh: giam, kulim dll), kayu bertekstur sedang (contoh: jati,
sonokeling dll) dan kayu bertekstur kasar (contoh: kempas,
meranti dll).

Arah Serat
Arah serat adalah arah umum sel-sel kayu terhadap sumbu
batang pohon. Arah serat dapat dibedakan menjadi serat lurus,
serat berpadu, serat berombak, serta terpilin dan serat diagonal
(serat miring).

Kesan Raba
Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba
permukaan kayu (kasar, halus, licin, dingin, berminyak
dll). Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari
tekstur kayu, kadar air, kadar zat ekstraktif dalam kayu.
Sifat Fisik Kayu
Bau dan Rasa
Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di
udara terbuka. Beberapa jenis kayu mempunyai bau yang
merangsang dan untuk menyatakan bau kayu tersebut, sering
digunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau
bawang (kulim), bau zat penyamak (jati), bau kamper (kapur) dsb.

Nilai Dekoratif
Gambar kayu tergantung dari pola penyebaran warna, arah serat,
tekstur, dan pemunculan riap-riap tumbuh dalam pola-pola
tertentu. Pola gambar ini yang membuat sesuatu jenis kayu
mempunyai nilai dekoratif.

Higroskopis
Kayu mempunyai sifat dapat menyerap atau melepaskan
air. Makin lembab udara disekitarnya makin tinggi pula
kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan
lingkungannya. Dalam kondisi kelembaban kayu sama dengan
kelembaban udara disekelilingnya disebut kandungan air
keseimbangan (EMC = Equilibrium Moisture Content).
Sifat Kayu terhadap Suara, yang terdiri dari :
Sifat akustik, yaitu kemampuan untuk meneruskan suara
berkaitan erat dengan elastisitas kayu.
Sifat resonansi, yaitu turut bergetarnya kayu akibat adanya
gelombang suara. Kualitas nada yang dikeluarkan kayu
sangat baik, sehingga kayu banyak dipakai untuk bahan
pembuatan alat musik (kulintang, gitar, biola dll).

Daya Hantar Panas
Sifat daya hantar kayu sangat jelek sehingga kayu
banyak digunakan untuk membuat barang-barang
yang berhubungan langsung dengan sumber panas.
Sifat Fisik Kayu
Daya Hantar Listrik
Pada umumnya kayu merupakan bahan hantar
yang jelek untuk aliran listrik. Daya hantar
listrik ini dipengaruhi oleh kadar air
kayu. Pada kadar air 0 %, kayu akan menjadi
bahan sekat listrik yang baik sekali, sebaliknya
apabila kayu mengandung air maksimum
(kayu basah), maka daya hantarnya
boleh dikatakan sama dengan daya hantar air.
Sifat Fisik Kayu
Sifat Mekanik Kayu
Keteguhan Tarik
Keteguhan tarik adalah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya
yang berusaha menarik kayu. Terdapat 2 (dua) macam
keteguhan tarik yaitu :
Keteguhan tarik sejajar arah serat dan
Keteguhan tarik tegak lurus arah serat.

Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah keteguhan tarik sejajar
arah serat. Kekuatan tarik tegak lurus arah serat lebih kecil
daripada kekuatan tarik sejajar arah serat.

Keteguhan tekan / Kompresi
Keteguhan tekan/kompresi adalah kekuatan kayu untuk menahan
muatan/beban. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tekan yaitu :
Keteguhan tekan sejajar arah serat dan
Keteguhan tekan tegak lurus arah serat.
Pada semua kayu, keteguhan tegak lurus serat lebih kecil
daripada keteguhan kompresi sejajar arah serat.
Keteguhan Geser
Keteguhan geser adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-
gaya yang membuat suatu bagian kayu tersebut turut bergeser
dari bagian lain di dekatnya. Terdapat 3 (tiga) macam keteguhan
yaitu :
Keteguhan geser sejajar arah serat
Keteguhan geser tegak lurus arah serat dan
Keteguhan geser miring
Keteguhan geser tegak lurus serat jauh lebih besar dari pada
keteguhan geser sejajar arah serat.

Keteguhan lengkung (lentur)
Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan
gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk
menahan beban mati maupun hidup selain beban
pukulan. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu :
Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang
mengenainya secara perlahan-lahan.
Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang
mengenainya secara mendadak.
Sifat Mekanik Kayu
Kekakuan
Kekakuan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan
bentuk atau lengkungan. Kekakuan tersebut dinyatakan dalam
modulus elastisitas.

Keuletan
Keuletan adalah kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah
tenaga yang relatif besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan
atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang yang melampaui
batas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang
permanen dan kerusakan sebagian.

Kekerasan
Kekerasan adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang
membuat takik atau lekukan atau kikisan (abrasi). Bersama-sama
dengan keuletan, kekerasan merupakan suatu ukuran tentang
ketahanan terhadap pengausan kayu.
Sifat Mekanik Kayu
Keteguhan Belah
Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-
gaya yang berusaha membelah kayu. Sifat keteguhan belah
yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap dan kayu bakar.
Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk
pembuatan ukir-ukiran (patung). Pada umumnya kayu mudah
dibelah sepanjang jari-jari (arah radial) dari pada arah tangensial.

Ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat keku-atan kayu
atau sifat mekaniknya dinyatakan dalam kg/cm2. Faktor-faktor
yang mempengaruhi sifat mekanik kayu secara garis besar
digolongkan menjadi dua kelompok :
Faktor luar (eksternal): pengawetan kayu, kelembaban lingkungan,
pembebanan dan cacat yang disebabkan oleh jamur atau serangga
perusak kayu.
Faktor dalam kayu (internal): BJ, cacat mata kayu, serat miring dsb.
Sifat Mekanik Kayu
Macam Penggunaan Kayu
Bangunan (Konstruksi)
Persyaratan teknis : kuat, keras, berukuran besar dan mempunyai keawetan alam yang
tinggi.
Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, cengal, giam, jati, kapur, kempas, keruing, lara,
rasamala.

Veneer biasa
Persyaratan teknis : kayu bulat berdiameter besar, bulat, bebas cacat dan beratnya sedang.
Jenis kayu : meranti merah, meranti putih, nyatoh, ramin, agathis, benuang.

Veneer mewah
Persyaratan teknis : disamping syarat di atas, kayu harus bernilai dekoratif.
Jenis kayu : jati, eboni, sonokeling, kuku, bongin, dahu, lasi, rengas, sungkai, weru,
sonokembang.

Perkakas (mebel)
Persyaratan teknis : berat sedang, dimensi stabil, dekoratif, mudah dikerjakan, mudah
dipaku, dibubut, disekrup, dilem dan dikerat.
Jenis kayu : jati, eboni, kuku, mahoni, meranti, rengas, sonokeling, sonokembang, ramin.

Lantai (parket)
Persyaratan teknis : keras, daya abrasi tinggi, tahan asam, mudah dipaku dan cukup kuat.
Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bintangur, bongin, bungur, jati, kuku.
PENGENALAN JENIS KAYU
Manfaat Pengenalan Jenis Kayu
Kegiatan penentuan jenis kayu (identifikasi jenis
kayu) merupakan salah satu bagian dari rangkaian
kegiatan pengujian dalam arti luas yaitu
menentukan jenis kayu, mengukur dimensi kayu
untuk mendapatkan volume serta menetapkan
mutu.
Untuk mengenal/menentukan suatu jenis kayu, tidak
selalu dilakukan dengan cara memeriksa kayu
dalam bentuk log (kayu bundar), tetapi dapat
dilakukan dengan memeriksa sepotong kecil kayu.
Penentuan jenis kayu dalam bentuk log, pada
umumnya dengan cara memperhatikan sifat-sifat
kayu yang mudah dilihat seperti penampakan kulit,
warna kayu teras, arah serat, ada tidaknya getah
dan sebagainya.
Penentuan beberapa jenis kayu dalam bentuk olahan
(kayu gergajian, moulding, dan sebagainya) masih
mudah dilakukan dengan hanya memperhatikan sifat-
sifat kasar yang mudah dilihat.
Sebagai contoh, kayu jati (Tectona grandis) memiliki
gambar lingkaran tumbuh yang jelas). Namun apabila
kayu tersebut diamati dalam bentuk barang jadi
dimana sifat-sifat fisik asli tidak dapat dikenali lagi
karena sudah dilapisi dengan cat, maka satu-satunya
cara yang dapat dipergunakan untuk menentukan
jenisnya adalah dengan cara memeriksa sifat
anatomi/strukturnya.
Demikian juga untuk kebanyakan kayu di Indonesia,
dimana antar jenis kayu sukar untuk dibedakan, cara
yang lebih lazim dipakai dalam penentuan je-nis kayu
adalah dengan memeriksa sifat anatominya (sifat
struktur).
Pada dasarnya terdapat 2 (dua) sifat utama
kayu yang dapat dipergunakan untuk mengenal
kayu, yaitu sifat fisik (disebut juga sifat kasar
atau sifat makroskopis) dan sifat struktur
(disebut juga sifat mikroskopis).
Secara obyektif, sifat struktur atau mikroskopis
lebih dapat diandalkan dari pada sifat fisik atau
makroskopis dalam mengenal atau menentukan
suatu jenis kayu.
Namun untuk mendapatkan hasil yang lebih
dapat dipercaya, akan lebih baik bila kedua sifat
ini dapat dipergunakan secara bersama-sama,
karena sifat fisik akan mendukung sifat struktur
dalam menentukan jenis.
Sifat fisik/kasar atau makroskopis
Sifat fisik/kasar atau makroskopis adalah sifat yang dapat
diketahui secara jelas melalui panca indera, baik dengan
penglihatan, penciuman, perabaan dan sebagainya tanpa
menggunakan alat bantu.
Sifat-sifat kayu yang termasuk dalam sifat kasar antara lain
adalah :
warna, umumnya yang digunakan adalah warna kayu teras,
tekstur, yaitu penampilan sifat struktur pada bidang lintang,
arah serat, yaitu arah umum dari sel-sel pembentuk kayu,
gambar, baik yang terlihat pada bidang radial maupun
tangensial
berat, umumnya dengan menggunakan berat jenis
kesan raba, yaitu kesan yang diperoleh saat meraba kayu,
lingkaran tumbuh,
bau, dan sebagainya.
Sifat struktur/mikroskopis
Sifat struktur/mikroskopis adalah sifat yang dapat kita ketahui dengan
mempergunakan alat bantu, yaitu kaca pembesar (loupe)
dengan pembesaran 10 kali.
Sifat struktur yang diamati adalah :
Pori (vessel) adalah sel yang berbentuk pembuluh dengan arah
longitudinal. Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang, pori
terlihat sebagai lubang-lubang beraturan maupun tidak, ukuran kecil
maupun besar. Pori dapat dibedakan berdasarkan penyebaran, susunan,
isi, ukuran, jumlah dan bidang perforasi).
Parenkim (Parenchyma) adalah sel yang berdinding tipis dengan bentuk
batu bata dengan arah longitudinal. Dengan mempergunakan loupe, pada
bidang lintang, parenkim (jaringan parenkim) terlihat mempunyai warna
yang lebih cerah dibanding dengan warna sel sekelilingnya. Parenkim dapat
dibedakan berdasarkan atas hubungannya dengan pori, yaitu parenkim
paratrakeal (berhubungan dengan pori) dan apotrakeral (tidak berhubungan
dengan pori).
Jari-jari (Rays) adalah parenkim dengan arah horizontal. Dengan
mempergunakan loupe, pada bidang lintang, jari-jari terlihat seperti garis-
garis yang sejajar dengan warna yang lebih cerah dibanding warna
sekelilingnya. Jari-jari dapat dibedakan berdasarkan ukuran lebarnya dan
keseragaman ukurannya.
Saluran interseluler adalah saluran yang berada di
antara sel-sel kayu yang berfungsi sebagai saluran
khusus. Saluran interseluler ini tidak selalu ada pada
setiap jenis kayu, tetapi hanya terdapat pada jenis-jenis
tertentu, misalnya beberapa jenis kayu dalam famili
Dipterocarpaceae, antara lain meranti (Shorea spp),
kapur (Dryobalanops spp), keruing (Dipterocarpus spp),
mersawa (Anisoptera spp), dan sebagainya.
Berdasarkan arahnya, saluran interseluler dibedakan
atas saluran interseluler aksial (arah longitudinal) dan
saluran interseluler radial (arah sejajar jari-jari). Pada
bidang lintang, dengan mempergunakan loupe, pada
umumnya saluran interseluler aksial terlihat sebagai
lubang-lubang yang terletak diantara sel-sel kayu
dengan ukuran yang jauh lebih kecil.
Sifat struktur/mikroskopis
Saluran getah adalah saluran yang berada dalam batang
kayu, dan bentuknya seperti lensa. Saluran getah ini tidak
selalu dijumpai pada setiap jenis kayu, tapi hanya terdapat
pada kayu-kayu tertentu, misalnya jelutung (Dyera spp.)
Tanda kerinyut adalah penampilan ujung jari-jari yang
bertingkat-tingkat dan biasanya terlihat pada bidang
tangensial. Tanda kerinyut juga tidak selalu dijumpai pada
setiap jenis kayu, tapi hanya pada jenis-jenis tertentu seperti
kempas (Koompasia malaccensis) dan sonokembang
(Pterocarpus indicus).
Gelam tersisip atau kulit tersisip adalah kulit yang berada di
antara kayu, yang terbentuk sebagai akibat kesalahan
kambium dalam membentuk kulit. Gelam tersisip juga tidak
selalu ada pada setiap jenis kayu. Jenis-jenis kayu yang
sering memiliki gelam tersisip adalah karas (Aquilaria spp),
jati (Tectona grandis) dan api-api (Avicennia spp).

Sifat struktur/mikroskopis
Terdapat perbedaan yang mendasar antara sifat
struktur kayu daun lebar dan sifat struktur kayu
daun jarum. Kayu-kayu daun jarum tidak
mempunyai pori-pori kayu seperti halnya kayu-
kayu daun lebar.
Untuk menentukan jenis sepotong kayu,
kegiatan pertama yang harus dilakukan adalah
memeriksa kayu tersebut dengan memeriksa
sifat kasarnya. Apabila dengan cara tersebut
belum dapat ditetapkan jenis kayunya, maka
terhadap kayu tersebut dilakukan pemeriksaan
sifat strukturnya dengan mempergunakan loupe.
Bagian-bagian Kayu
Kulit Luar
Lapisan luar yang sudah mati
Fungsi : pelindung kayu terhadap serangan
dari luar, misalnya iklim,serangan serangga,
jamur
Kulit Dalam
Bersifat hidup dan tipis
Fungsinya sebagai jalan zat yang
mengandung gizi dari akar ke daun
Kambium
Merupakan jaringan yang tipis dan bening
Terletak antara kulit dalam dan kayu gubal ke
arah melingkar dari pohon
Kayu Gubal
Bagian kayu muda, terdiri dari sel-sel yang
masih hidup
Terletak disebelah dalam kambium
Fungsinya: sebagai penyalur cairan dan
tempat penimbunan zat-zat yang
mengandung gizi
Jenis kayu yang bertumbuh cepat mempunyai
lapisan yang lebih tebal
Warna lebih terang dibanding kayu teras


Bagian-bagian Kayu
Kayu Teras
Terdiri atas sel-sel yang dibentuk melalui
perubahan-perubahan sel hidup dalam
lingkaran kayu gubal yang paling dalam.
Kayu lebih awet, karena selnya lebih tua
Warna kayu lebih gelap
Hati
Bagian kayu yang terletak dipusat
Berasal dari kayu awal, yang dibentuk oleh
kambium
Sifatnya : rapuh dan lunak
Renggat (Lingkaran Tahun)
Menunjukkan perkembangan kayu dari
musim kemarau-musim penghujan
Petanda umur dari suatu pohon
Jari-jari
Terdapat dari luar-ke dalam berpusat pada
sumbu batang
Fungsi : menyampaikan zat bergizi dari kulit
dalam ke bagian dalam dari pohon
Jari-jari teras tidak sama
Jenis-jenis Kayu
Kayu Jati
Kayu teras coklat kekuningan, coklat kelabu sampai coklat tua/merah
coklat
Kayu Kamfer
Kayu teras merah coklat, merah kelabu, merah. Kayu gubal hampir putih
sampai coklat kuning muda
Kayu Keruing
Kayu teras bervariasi dari merah jambu, merah coklat muda, merah
sampai merah tua. Kayu gubal lebih muda dari kayu teras, putih, putih
kotor kelabu
Kayu Meranti Merah
Kayu teras bervariasi dari merah jambu, merah coklat muda, merah,
merah tua. Kayu gubal lebih muda dari kayu teras, putih, putih kotor
kelabu. Kulit luar berwarna kelabu atau coklat.
Kayu Mahoni
Kayu teras coklat muda kemerah-merahan atau kekuning-kuningan
sampai coklat tua kemerah-merahan.
Kayu Kelapa
Tidak ada teras dan gubal, warna coklat kemerah-merahan (inti batang
tidak dapat dimanfaatkan)

Cacat-cacat Kayu
Cacat kayu : Kelainan struktur dan anatomi dari
kayu biasa sehingga mengakibatkan
kekurangan/kesulitan pada penggunaan dan
pengerjaan kayu
Faktor-faktor perusak :
Secara alam selama proses pertumbuhan
Dari luar
Biologis hama (serangga perusak kayu), jamur
Non biologis faktor fisik (angin/gempa bumi)
faktor mekanis (pasang paku,mengukir)
faktor kimia (pencemaran udara)


Cacat dalam pembentukan batang
Batang kerucut terpancung
menurunkan mutu kayu
oleh serat-serat yang
tidak sejajar
Batang yang lurus dan
tanpa cacat, batang yang
ideal dan yang
dikehendaki
Batang bengkok
Batang bengkok-puntir
menghasilkan kayu yang
sedikit dan yang mudah
lengkung
Batang bercabang
menurunkan mutu kayu
karena sertanya tidak
teratur
Cacat dalam pembentukan anatomis
a. Jarak rengat berbeda keras.
Kayu ini menyusut tidak teratur
dan mudah pecah
b. Batang memilin arah matahari
menurunkan mutu kayu karena
menyusut sehingga berubah
bentuknya menjadi baling-
baling
c. Mata kayu dibedakan : mata
kayu yang sehat, mata kayu
yang lepas, mata kayu busuk
d. Mata kayu yang lepas atau
busuk mengurangi keindahan
kayu dan mempersulit
pengerjaannya
Cacat pengaruh dari luar
a. Retak pengeringan akibat
penyimpanan batang kayu
tidak terlindung dari sinar
matahari. Memberi peluang
hama bertelur
b. Hati/inti kayu yang
membusuk. Pohon tua,
kayu tidak dapat
dimanfaatkan lagi
c. Retak angin/penebangan.
Retak yang melintang
pada serat kayu. Kayu
tidak dapat dimanfaatkan
lagi.
d. Kerusakan mekanik
disebabkan oleh paku,
pengukiran kulit dsb.
Pengawetan Kayu
Tujuan : pencegahan terhadap hama
dan jamur
Cara pengawetan :
a. Pengawetan sementara
b. Pengawetan tetap
1) Pemilihan jenis kayu yang tahan
2) Pembuatan konstruksi yang baik
3) Penggunaan bahan/larutan kimia
4) Penambahan keindahan (cat dan vernis)

Penggunaan bahan/larutan kimia
Tindakan pencegahan
a. Obat bergaram (dilarutkan dalam air) untuk
kayu yang belum kering
b. Obat berminyak (dilarutkan dalam minyak)
untuk kayu yang sudah kering sekali
Tindakan perlawanan
a. Racun yang dapat dimakan
b. Racun yang dapat dihirup
c. Racun yang dapat melekat
Kelas kayu menurut keawetannya
Kelas(Tingkat) keawetan kayu I II III IV V
Selalu berhubungan dengan
tanah lembab
8 tahun 5 tahun 3 tahun Sangat
pendek
Sangat
pendek
Tidak terlindung, tetapi
dilindungi dari pemasukan air
20 tahun 15 tahun 10 tahun Beberapa
tahun
Sangat
pendek
Tidak berhubungan dengan
tanah lembab, dibawah atap
dan dilindungi dari kelemasan
beban
Tak
terbatas
Tak
terbatas
Sangat
lama
Beberapa
tahun
pendek
Berada di atas tetapi selalu
dipelihara
Tak
terbatas
Tak
terbatas
Tak
terbatas
20 tahun 20 tahun
Serangan rayap Tidak Jarang Agak
cepat
Sangat
cepat
Sangat
cepat
Serangan bubuk, kayu kering
dsb
Tidak Tidak Hampir
tidak
Tak
seberapa
Sangat
cepat
Kelas kayu menurut kekuatannya
Kelas Kuat Berat Jenis KEring
(kg/dm3)
Keteguhan lentur
mutlak (kg/cm2)
Keteguhan tekan
mutlak (kg/cm2)
I > 0.90 > 1.100 > 650
II 0.90 0.60 1.000 725 650 425
III 0.60 0.40 725 500 425 300
IV 0.40 0.30 500 360 300 215
V < 0.30 < 360 < 215
Kelas kayu menurut pemakaiannya
Kayu bangunan
struktural
Kayu bangunan non
struktural
Kayu bangunan untuk
keperluan lain
Digunakan dalam
struktur bangunan,
yang penggunaannya
memerlukan
perhitungan beban
Digunakan dalam
bagian bangunan,
yang
penggunaannya
tidak memerlukan
perhitungan beban
Diluar klasifikasi kayu
bangunan struktural
maupun non struktural,
dipergunakan sebagai
bahan bangunan
pendukung ataupun
bangunan sementara
Syarat-syarat umum mutu kayu
Uraian Mutu A Mutu B
Mata kayu Maksimum 1/6 lebar balok atau 3,5 cm Maksimum lebar balok
Lebarnya renggat yang
berbeda karena pohon
tumbuh sebelah dan berat
jenis berbeda pula
Maksimum 1/10 dari tinggi balok Maksimum 1/10 dari tinggi
balok
Arah serat, serat miring Kemiringan serat maksimum 1:10 Kemiringan serat mak 1:7
Retak-retak
- arah radial
- arah renggat

Maksimum1:4 tebal kayu
Maksimum 1:5 tebal kayu

Maksimum 1:3 tebal kayu
Maksimum 1:4 tebal kayu
Lubang penggerek
- < 1.0 mm
- 1.0 2.0 mm
- > 2.0 mm

Maksimum 16 lubang per 100 m2
Maksimum 2 lubang per 100 m2
Tidak diperkenankan

Maksimum 32 lubang per 100
m2
Maksimum 4 lubang per 100 m2
Tidak diperkenankan
Cacat tergabung Diperkenankan asal saja jarak cacat yang satu dengan yang lainnya
tidak kurang dari 2x lebar permukaan kayu, dan dengan jumlah
pengaruh kumulatif tidak melebihi satu ukuran cacat tunggal maksimum
yang diperkenankan
Cacat lain seperti jamur,hati
rapuh/retak berlawanan
serat kayu
Tidak diperkenankan Tidak diperkenankan
Ukuran kayu dalam perdagangan (kayu gergajian)