Anda di halaman 1dari 17

16

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Model Pembelajaran
Model pembelajaran menurut Trianto (2007:1) adalah suatu perencanaan
atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat fungsi model
pembelajara yaitu sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan peta para guru
dalm melaksanakan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran sangat
dipengaruhi oleh sifat dan materi yang akan diajarkan, tujuan yang akan dicapai
dalam pembelajaran tersebut, serta tingkat kemampuan peserta didik. Pencapaian
kompetensi peserta didik dengan pendekatan, metode, dan tehnik pembelajaran.
Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan
melatari metode pembelajaran dengan cukup teoritis tertentu. Metode
pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan
pendidik dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Tehnik adalah salah satu cara
konkrit yang dipakai saat proses pembelajran berlangsung. Pendidik dapat
berganti tehnik meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat
diaplikasikan melalui berbagai tehnik pembelajaran,
Pembelajaran merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik
melakukan kegiatan belajar, pihak-pihak yang terlibat didalamnya adalah
pendidik. Peserta didik yang berinteraksi antara satu sama lainnya, sehingga tugas
utama pendidik adalah membimbing pembelajran peserta didik, yaitu
17



mengkondisikan peserta didik agar belajar dengan partisipasi yang dilakukan
peserta didik pada setiap kegiatan pembelajaran diharapkan dapat melatih dirinya
serta membentuk kemampuan untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif,
sehingga potensi (kognitif dan efektif,) dirinya dapat berkembang secara
maksimal. Oleh karena itu penting bagi pendidik untuk mengetahui bagaimana
cara membimbing peserta didik, diantaranya melalui penggunaan model
pembelajaran yang tepat.
Trianto (2007:5) menyatakan bahwa istilah model pembelajaran
mempunyai ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi atau prosedur tertentu.
Ciri-ciri khusus tersebut adalah:
a) Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau
pengembangannya.
b) Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar
(tujuan pembelajaran yang akan dicapai)
c) Tingkah laku mengajar yang diperlakukan, agar model pembelajaran
tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil
d) Lingkungan belajar diperlakukan, agar tujuan pembelajaran itu dapat
tercapai.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa metode
pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Dapat pula dikatakan bahwa
metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapain tujuan. Dari
metode sampai tehnik pembelajaran diturunkan secara aplikatif, nyata dan praktis
di kelas saat pembelajaran berlangsung. Kemasan dari penerapan pendekatan,
metode, dan tehnik pembelajaran tersebut dinamakan model pembelajaran inkuiri.



18



2.1.1 Macam-macam Model Pembelajaran
2.1.2 Model-model Pembelajaran
Untuk membelajarkan peserta didik sesuai dengan cara dan gaya belajar
mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal, ada berbagai
model pembelajaran. Dalam prakteknya, pendidik harus ingat bahwa tidak ada
model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh
karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah
memperhatikan kondisi peserta didik, sifat materi bahan ajar, fasilitas media yang
tersedia, dan kondisi pendidik itu sendiri.
Berikut ini disajikan beberapa metode pembelajaran, untuk dipilih dan
dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kondisi yang dihadapi. Akan
tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian, rasional dan
prosedur yang sifatnya prinsip, modifikasinya diserahkan kepada pendidik untuk
melakukan penyesuaian, penulis yakin kreatifitas para pendidik sangat tinggi.
Menurut Subarkah (2010 : 102) Macam-macam Model pembelajaran :

1.Koperatif(CL,CooperativeLearning).
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial
yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung
jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan
kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan
untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab.
Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif
adalah miniatur dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan
kelebihan masing-masing. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan
pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu
mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan
pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok
terdiri dari 4 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada
control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa
laporan atau presentasi. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi,
19



pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi
hasil kelompok,danpelaporan.
2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian
atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata
kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi
yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi
konkret, dan suasana menjadi kondusif - nyaman dan menyenangkan. Prinsip
pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan
mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan
sosialisasi.
Ada tujuh indikator pembelajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan
dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi,
penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh),
questioning(eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan,
evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif
dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba,
mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi,
menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi
konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut),
authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran,
penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian
seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai cara).
3. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)
Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di
Belanda dengan pola guided reinvention dalam mengkontruksi konsep-aturan
melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta,
konsep, prinsip, algoritma, aturan untuk digunakan dalam menyelesaikan
persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal ( reoorganisasi matematik melalui
proses dalam dunia rasio, pengembangan matematika). Prinsip RME adalah
aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi),
pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi, informal ke
formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi
(pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam
penemuan).
4.Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada
keterampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran
langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur,
latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut
dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).
5. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model
pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan
masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa,
untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus
20



dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana
nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis),
interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis,
generalisasi
6.Problem Solving
Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak
rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari
atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, .atau algoritma).
Sintaknya adalah: sajikan permasalahan yang memenuhi kriteria di atas, siswa
berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau aturan yang disajikan,
siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi, menginvestigasi, menduga, dan akhirnya
menemukansolusi.
7. Problem Posing
Bentuk lain dari problem posing adalah problem posing, yaitu pemecahan
masalah dengan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi
bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah:
pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan,
cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.
8.ProblemTerbuka (OE, Open Ended)
Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran
yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan
solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan
menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-
interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntut untuk
berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi
dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutnya siswa juga
diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian
model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan
membentuk pola pikir, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.
Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan
gambar, diagram, table), kembangkan permasalahan sesuai dengan kemampuan
berpikir siswa, kaitkan dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimibingan
(sedikit demi sedikit dilepas mandiri).
Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran,
perhatikan dan catat respon siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat
kesimpulan.
9. Probing-prompting
Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru
menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali
sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan
pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya
siswa mengkonstruksi konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan
demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. Dengan model pembelajaran ini
proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap
siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari
21



proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab.
Kemungkinan akan terjadi suasana tegang, namun demikian bisa dibiasakan.
Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan
disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda,
senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan
ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah
adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi
10. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)
Ramsey (2002 : 17) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara
bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan
diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan
prasyarat, eksplanasi berarti mengenalkan konsep baru dan alternative pemecahan,
dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.
11. STAD (Student Teams Achievement Division)
STAD adalah salah satu model pembelajaran koperatif dengan sintaks:
pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul
secara kolabratif, sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis
individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim
dan individual dan berikan reward.
12. NHT (Numbered Head Together)
NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks:
pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan
persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama
sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama)
kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai
tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor
perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward.
13. Jigsaw
Model pembelajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks seperti
berikut ini. Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan
ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam
kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahas bagian tertentu, tiap kelompok
bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga
terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok asal, pelaksanaan tutorial pada
kelompok asal oleh anggota kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
14. TPS (Think Pairs Share)
Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru
menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok
dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share),
kuis individual, buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan
reward.
15. GI (Group Investigation)
Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan, buat kelompok heterogen
dengan orientasi tugas, rencanakan pelaksanaan investigasi, tiap kelompok
menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon,
mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan keuntungan di
kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah), pengolahan data penyajian data hasil
investigasi, presentasi, kuis individual, buat skor perkembangan siswa, umumkan hasil
kuis dan berikan reward
22



16.RolePlaying
Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan skenario
pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario tersebut,
pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk
melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang
dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan kesimpulan dan refleksi.
17. Picture and Picture
Sajian informasi kompetensi, sajian materi, perlihatkan gambar kegiatan
berkaitan dengan materi, siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru
mengkonfirmasi urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi bahan
ajar, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.


2.1.3 Model Pembelajaran Inkuiri

2.1.4 Teori Inkuiri
Inkuiri berasal dari kata to inquiri yang berarti ikut serta, atau melihat,
dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan
penyelidikan. Menurut Trianto (2007:135) Pembelajaran inkuiri ini bertujuan
untuk memberikan cara bagi siswa membangun kecakapan- kecakapan intelektual
(kecakapan berpikir) terkait dengan proses- proses berpikir reflektif. Menurut
Wina Sanjaya (2006:194) model pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan
pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis
untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang
dipertanyakan.
Dalam memberikan pengertian yang tepat tentang inkuiri secara
gramatikal tidaklah mudah. Setiap ahli memberikan pengertian yang berbeda-
beda. Namun, mempunyai tujuan yang sama sehingga dikatakan bahwa definisi
atau pengertian inkuiri sifatnya relatif. Secara leksikal, kata inkuiri berasal dari
bahasa Inggris yaitu inquiry yang artinya penyelidikan, pertanyaan dan
permintaan keterangan sesuatu. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan
23



Roestyah Hamdani (2011:182) inkuri adalah salah satu cara belajar atau
penelaahan yang bersifat mencari pemecahan permasalahan dengan cara kritis,
analitis, dan ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah tertentu menuju suatu
kesimpulan yang meyakinkan, karena didukung data dan kenyataan. Berdasarkan
pendapat tersebut dapatlah dikatakan bahwa pada dasarnya metode inkuiri
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar mengembangkan
potensi intelektualnya dan mendorong peserta didik untuk bertindak aktif mencari
jawaban atas masalah yang dihadapinya.
2.1.5 Model Pembelajaran Inkuiri
Wina Sanjaya (2006:194) model pembelajaran inkuiri adalah rangkaian
kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan
analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang
dipertanyakan.
Sedangkan Menurut Soesanti (2005: 2) inkuiri diartikan sebagai pencarian
kebenaran, informasi atau pengetahuan, penelitian dan investigasi,
mengembangkan cara berpikir ilmiah, inkuiri akan membantu peserta didik
menemukan jawaban sendiri dengan demikian pendekatan ini memberikan
kesempatan kepada peserta didik mengembangkan kreativitasnya dalam
memecahkan masalah yang diberikan. Maka dapat disimpulkan bahwa inkuri
adalah suatu model pembelajaran dimana jiwa sangat berperan aktif dalam proses
penyelesaian masalah, karena disana peserta didik dituntut untuk merumuskan,
mencari/menggali, menguji serta menyimpulkan.
24



Pendidik menggunakan teknik ini sewaktu mengajar agar peserta didik
terangsang oleh tugas dan aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan masalah
itu. Inkuiri ini mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya karena
peserta didik dapat merumuskan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan
eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data dan menarik kesimpulan.
Inkuiri sebagai metode mengajar dalam dunia pendidikan yang dapat dilakukan
secara kelompok, agar peserta didik dapat bekerjasama dengan temannya dan
saling bertukar pendapat dalam memecahkan suatu masalah. Misalnya dalam
mengajarkan IPA Biologi ini merupakan kegiatan mengajar agar peserta didik
belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan alam yaitu kemampuan,
keterampilan, dan sikap yang dipilih pengajar harus relevan dengan tujuan belajar
yang disesuaikan dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik. Ini
dimaksud agar terjadi interaksi antara pengajar dan peserta didik.
Interaksi akan terjadi jika menggunakan cara yang cocok yang disebut
dengan metode mengajar. Mempelajari ilmu pengetahuan alam harus didasari
dengan pengalaman, artinya peserta didik hendaknya secara langsung mengalami
sendiri proses ilmiah seperti pengamatan, penyajian membandingkan,
menyimpulkan dan sebagainya. Setiap pengalaman harus menerbitkan struktur
kognitif karena mengalami rangsangan dari luar berintegrasi dengan
lingkungannya. Oleh karena itu, faktor kesiapan merupakan kondisi yang sangat
penting dalam belajar IPA (Ali, 1991-198).

25



Menurut Wina sanjaya (2007:195) bahwa agar strategi pembelajaran
inkuiri akan efeltif manakala:
a. Pendidik mengahrapkan peserta didik dapat menemukan sendiri
jawaban suatu permasalahan yang ingin dipecahkan
b. Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau
konsep yang sudah jadi, akn tetapi sebuah kesimpulan yang perlu
pembuktian
c. Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu peserta didik
terhadap sesuatu
d. Jika guru pendidik akan mengajar pada kelompok peserta didik yang
rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir. Strategi inkuiri
akn kurang berhasil diterapkan kepada peserta didik yang kurang
memiliki kemampuan untuk berpikir
e. Jika jumlah siswa yang belajar tidak terlalu banyak sehingga bisa
dikendalikan oleh pendidik

Latihan inkuiri dapat diberikan pada setiap tingkatan umur mulai dari
taman kanak-kanak dan seterusnya. Namun, tentunya dengan tingkat kesulitan
masalah yang berbeda. Pada tingkat taman kanak-kanak dapat diberikan masalah
yang sederhana seperti: Apa yang ada dalam kotak ini? Atau mengapa bulatan
telur yang satu berbeda dengan yang lainnya? Demikian juga makin tinggi
tingkatan kelas, makin tinggi pula tingkat kesulitan permasalahan yang dapat
diberikan.
Latihan inkuiri dapat dilakukan beberapa hari, dan hasil-hasil penyelidikan
dari peserta didik yang lain digabung bersama. Peserta didik dapat menggunakan
sumber-sumber yang sesuai, dan boleh bekerjasama dalam kelompok, atau peserta
didik dapat mengembangkan peristiwa yang bermasalah dan dapat memimpin
diskusi inkuiri dalam kelompok. Misalnya, pendidik menunjukkan suatu benda
yang asing kepada peserta didik di kelas, peserta didik disuruh mengamati,
26



meraba, melihat dengan memberikan masalah yang sifatnya teka-teki kepada
seluruh peserta didik yang siap dengan jawabannya. Jawaban atau pendapat yang
sudah dikemukakan oleh temannya terdahulu tidak bisa diulang lagi. Jadi masalah
itu akan berkembang seperti apa yang diarahkan, tidak menyeleweng pada garis
pelajaran yang telah direncanakan. Berarti peserta didik menerima banyak
masukan untuk dijadikan kesimpulan.
2.1.6 Langkah-langkah Pembelajaran Model Inkuiri

Wina Sanjaya (2007:200) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri
mengikuti langkah- langkah sebagai berikut:
a. Orientasi, langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau
iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini pendidik
mengkondisikan agar peserta didik siap melaksanakan proses
pembelajaran. Peserta didik merangsang dan mengajak peserta didik
untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan
langkah yang sangat penting. Keberhasilan startegi ini sangat tergantung
pada kemauan peserta didik untuk beraktivitas menggunakan
kemampuannya dalam memecahkan masalah, tanpa kemauan dan
kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan
lancar.
b. Merumuskan Masalah, merumuskan masalah merupakan langkah
membawa peserta didik pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki.
Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang peserta didik
untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam
rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada
jawabannya, dan peserta didik didorong untuk mencari jawaban yang
tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi
inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut peserta didik akan
memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya
mengembangkan mental melalui proses berpikir.
c. Merumuskan Hipotesis, hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu
permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis
perlu diuji kebenarannya. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang
perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga
hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan
berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman
27



wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian,
setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit
mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.
d. Mengumpulkan Data, mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring
informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam
strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses
mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses
pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam
belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan
menggunakan potensi berpikirnya. Karena itu, tugas dan peran pendidik
dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat
mendorong peserta didik untuk berpikir mencari informasi yang
dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan berinkuiri adalah manakala peserta
didik tidak apresiatif terhadap pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu
biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidakgairahan dalam belajar.
Manakala pendidik menemukan gejala-gejala semacam ini, maka
pendidik hendaknya secara terus-menerus memberikan dorongan kepada
peserta didik untuk belajar melalui penyuguhan berbagai jenis pertanyaan
secara merata kepada seluruh peserta didik sehingga mereka terangsang
untuk berpikir.
e. Menguji Hipotesis, menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban
yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh
berdasarkan pengumpulan data. Dalam menguji hipotesis yang terpenting
adalah mencari tingkat keyakinan peserta didik atas jawaban yang
diberikan. Di samping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan
kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan
bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh
data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
f. Merumuskan Kesimpulan, merumuskan kesimpulan adalah proses
mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian
hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses
pembelajaran. Sering terjadi, karena banyaknya data yang diperoleh,
menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus pada masalah
yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang
akurat sebaiknya pendidik mampu menunjukkan pada peserta didik data
mana yang relevan.


2.1.7 Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Inkuiri
Menurut Wina sanjaya (2007:206) adapun penggunaan inkuiri memiliki
kelebihan sebagai berikut :
28



a. Model pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek
kognitif, efektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga
pembelajaran dengan menggunakan inkuiri dianggap lebih bermakna
b. Dapat memberikan ruang kepada peserta didik untuk belajar sesuai
dengan gaya belajar mereka
c. Model pembelajaran inkuiri merupakan strategi yang dianggap sesuai
dengan perekembangan psikolog modern yang menganggap belajar
adalah proses perubahan tingkah lakuu berkat adanya pengalaman
d. Dapat melayani kebutuhan peserta didik yang memiliki kemampuan
diatas rata-rata .
Menurut Wina sanjaya (2007:206) selain mempunyai kelebihan inkuiri
yang memiliki kelemahan atau kekurangan yaitu :
a. Jika model pembelajaran inkuiri digunakan, maka akan sulit
mengontrol kegiatan dan keberhasilan peserta didik
b. Sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena itu terbentur
dengan kebiasaan peserta didik dalam belajar
c. Terkadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu
panjang.
d. Selama kriteria keberhasilan ditentukan belajar ditentukan oleh
kemampuan peserta didik menguasai materi pelajaran, maka inkuiri
sulit diimplementasikan oleh setiap pendidik.
Jadi model pembelajaran inkuiri ini bertujuan untuk menolong peserta
didik dalam mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan yang
dibutuhkan serta mengajak peserta didik untuk aktif dalam memecahkan satu
masalah. Penggunaan metode inkuiri dalam pembelajaran ekonomi besar
manfaatnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, karena dengan
penggunaan model pembelajaran inkuiri dalam proses pembelajaran dapat
mendorong peserta didik untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri,
bersifat objektif, jujur, dan terbuka, serta memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk belajar sendiri dan dapat mengembangkan bakat dan kecakapan
individunya. Dengan pelaksanaan metode inkuiri diharapkan bagi peserta didik
29



termotivasi dalam proses pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar yang
maksimal.

2.2 Prestasi Belajar
2.2.1 Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar menurut Muhibbin Syah (2008:141) adalah hasil interaksi
dari sebagian faktor yang mempengaruhi proses belajar secara keseluruhan.
Kemampuan intelektual peserta didik sangat menentukan keberhasilan peserta
didik dalam memperoleh prestasi. Dengan adanya prestasi tersebut, peserta didik
dapat mengetahui perkembangan yang terjadi selama proses belajar mengajar
yang telah berlangsung. Prestasi belajar dengan kegiatan belajar merupakan dua
hal yang tidak dapat dipisahkan sebab kegiatan belajar merupakan proses,
sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar.
Perubahan prilaku tersebut dapat dimanifestasikan dalam wujud prestasi
belajar, sebagaimana yang dikemukakan oleh Abin Syamsudin (2007:160),
prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, atau diciptakan
secara individu maupun secara kelompok.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa prestasi
belajar merupakan hasil yang diperoleh oleh setiap individu atas usahanya yang
telah dilakukan di sekolah baik berupa nilai yang dinyatakan dalam angka
maupun berupa perubahan sikap yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam
pelajaran ekonomi prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi merupakan
gambaran keberhasilan peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar ekonomi.
30



2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Dalam proses belajar mengajar, prestasi belajar peserta didik dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, begitu pun para pakar pendidikan mengatakan
hal demikian. Abin Syamsudin (2005:135) menuturkan sebagai berikut :
Ada tiga komponen yang mempengaruhi prestasi belajar, yaitu :
komponen input (kapasitas IQ, bakat, minat, motivasi, kematangan, kebiasaan dan
kesiapan), komponen instrumental input (fasilitas yang menunjang diantaranya
berupa alat, sarana, media, metode belajar, pendidik), dan komponen
environmental input (lingkungan fisik, sosial, budaya).
Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2008:132) memaparkan bahwa prestasi
belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor :
a. Faktor Internal : kondisi fisiologis (jasmani), psikologis (tingkat
kecerdasan/intelegensi), sikap, minat, bakat dan motivasi.
b. Faktor eksternal : lingkungan sosial ( seperti pendidik, para staf
administrasi, teman, keluarga, masyarakat) dan lingkungan non sosial
(gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga peserta didik
dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, waktu belajar peserta didik).
c. Faktor pendekatan belajar : jenis upaya belajar peserta didik yang
meliputi strategi dan metode untuk kegiatan pembelajaran.
Belajar adalah suatu kegiatan yang menimbulkan perubahan tingkah laku
yang menetap. Perubahan itu merupakan hasil yang telah dicapai dari proses
belajar. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002:141), untuk mendapatkan hasil
belajar dalam bentuk perubahan harus melalui proses tertentu yang dipengaruhi
31



oleh faktor dari dalam diri individu dan dari luar diri individu. Proses ini bersifat
psikologis. Oleh karena itu, proses belajar yang telah terjadi dalam diri peserta
didik hanya disimpulkan dari hasil.

2.2.3 Indikator Prestasi Belajar
Kemajuan peserta didik bisa dilihat dari daya serap peserta didik terhadap
materi yang diajarkan. Hal ini dikemukakan oleh Syaiful Bahri dan Aswan Zain
(2006:120) sebagai berikut :
Indikator keberhasilan yang menjadi petunjuk bahwa suatu orang proses
belajar mengajar dianggap berhasil adalah hal-hal berikut:
1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai
prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran instruksional
khusus/TIK telah dicapai oleh peserta didik baik secara individual
maupun kelompok.

2.3 Pengaruh Model Pembelajaran Inkuri

a. Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan di atas, penulis
menyimpulkan bahwa model pembelajaran inkuri sangat berpengaruh
terhadap prestasi belajar peserta didik, semakin tepat model pembelajaran
yang diterapkan maka akan sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar
peserta didik itu sendiri. Menumbuhkan model pembelajaran inkuiri
bukanlah pekerjaan yang mudah, diperlukan kerja sama antar peserta
didik dengan pendidik, dan keluarga sebagai pendukung. Oleh karena itu
32



pendidik menggunakan teknik ini sewaktu mengajar agar peserta didik
terangsang oleh tugas dan aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan
masalah itu, karena inkuiri ini mengandung proses mental yang lebih
tinggi tingkatannya karena peserta didik dapat melakukan dengan
orientasi, untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang
responsive untuk merangsang peserta didik agar berpikir memecahkan
masalah, merumuskan masalah membawa peserta didik pada suatu
persoalan yang mengandung teka-teki. Setelah itu menguji hipotesis
untuk menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data
atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data
merumuskan hipotesis dari suatu permasalahan yang sedang dikaji dan
merumuskan kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian
hipotesis.