Anda di halaman 1dari 36

Gambaran Radiologi

Kanker Kolon
Pembimbing : Masytuti Sp.Rad
Definisi
suatu pertumbuhan tumor
yang bersifat ganas dan
merusak sel DNA dan
jaringan sehat disekitar
kolon (usus besar)
Kanker kolon
Etiologi
Secara umumkanker selalu dihubungkan
dengan: bahan-bahan kimia, bahan-bahan
radioaktif, dan virus.
Umumnya kanker usus besar terjadi
dihubungkan dengan factor genetic dan
lingkungan. Serta dihubungkan juga dengan
factor predisposisi diet rendah serat, kenaikan
berat badan, intake alcohol.
EPIDEMIOLOGI
Kanker kolon adalah penyebab kematian kedua akibat
kanker.
Insiden kanker kolon menunjukkan variasi geografik.
Negara industri kecuali Jepang mempunyai insiden
tertinggi. Manakala Negara Amerika Selatan dan China
mempunyai angka kejadian yang relative rendah.
Di Indonesia dari berbagai laporan terdapat kenaikan
jumlah kasus tetapi belum ada angka yang pasti berapa
insiden kanker kolon. Sjamsuhidajat (1986) dari
evaluasi data-data di Departemen Kesehatan
mendapatkan 1,8 per 100.000 penduduk.2
Tirtosugondo (1986) untuk Kodya Semarang.
II.4 TIPE KARSINOMA KOLON DAN
REKTUM
5
Secara makroskopis terdapat tiga tipe karsinoma kolon dan rektum,
yaitu:
Tipe polipoid atau vegetatif
Pada tipe ini tumor tumbuh menonjol ke dalam lumen usus,
berbentuk bunga kol dan ditemukan terutama di sekum dan kolon
ascendens.
Tipe skirus atau infiltratif,
Pada tipe ini biasanya mengakibatkan penyempitan sehingga terjadi
stenosis dan gejala obstruksi, terutama ditemukan pada kolon
descendens, sigmoid dan rektum.
Tahap ulserasi
Pada tipe ini terjadi karena nekrosis di bagian sentral dan terletak di
daerah rektum. Pada tahap lanjut, sebagian besar tumor kolon akan
mengalami ulcerasi menjadi tukak yang maligna.
Anatomi
METASTASIS
limfohematogen limfohematogen
Perkontinutatum Perkontinutatum
KLASIFIKASI TUMOR
6,7
Klasifikasi karsinoma rektum menurut Dukes:
Tahap A: Infiltrasi karsinoma terbatas pada dinding
usus (survive for 5 years 97 %)
Tahap B: Infiltrasi karsinoma sudah menembus lapisan
muskularis mukosa (80 %)
Tahap C: Terdapat metastasis ke dalam kelenjar limfe
C1: Beberapa kelenjar limfe dekat tumor primer (65 %)
C2: Dalam kelenjar limfe jauh (35 %)
Tahap D: Metastasis jauh (< 5 %)
Klasifikasi TNM
7
T Tumor primer
Tx - Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 - Tidak ada tumor primer
T1 - Invasi tumor di lapisan sub mukosa
T2 - Invasi tumor di lapisan otot propria
T3 - Invasi tumor melewati otot propria ke subserosa atau masuk ke perikolik yang tidak
dilapisi peritoneum atau perirektal
T4 - Invasi tumor terhadap organ atau struktur sekitarnya atau peritoneum viseral
N Kelenjar limfe regional
Nx - Kelenjar limfe regional tidak dapat dinilai
N1 - Metastasis di 1-3 kelenjar limfe perikolik atau perirektal
N2 - Metastasis di 4 kelenjar limfe perikolik atau perirektal
N3 - Metastasis pada kelenjar limfe sesuai nama pembuluh darah atau pada kelenjar
apikal
M Metastasis jauh
Mx - Metastasis jauh tidak dapat dinilai
M0 - tidak ada metastasis jauh
M1 - terdapat metastasis jauh
GEJALA KLINIS
7,8
Gejala dan tanda dini karsinoma kolorektal
tidak ada. Umumnya gejala pertama timbul
karena penyulit, yaitu gangguan faal usus,
obstruksi, perdarahan atau akibat metastasis.
Diagnosis
7,8,9
Anamnesis
tentang perubahan pola defekasi, frekuensi dari
defekasi, perasaan tidak puas atau rasa penuh setelah
defekasi, adanya benjolan dan nyeri perut (dispepsia)
yang hilang timbul (kolik) atau menetap.
Pemeriksaan
karsinoma kolon bisa didapatkan tumor kecil yang pada
tahap dini tidak teraba pada palpasi perut, dan jika
teraba menunjukkan proses karsinoma yang sudah
lanjut. Pemeriksaan yang wajib dilakukan untuk tumor
kolon adalah pemeriksaan colok dubur.
Beberapa Modalitas Pemeriksaan
Radiologi pada kolon
Ultrasonografi (USG)
CT-Scan dan MRI
Foto Polos Abdomen
Colon in Loop
Kolonoskopi
7,8
Ultrasonografi
Salah satu imaging diagnostic untuk
pemeriksaan alat-alat tubuh
mempelajari bentuk, ukuran anatomi,
gerakan, serta hubungan dengan
jaringan sekitarnya.
Pemeriksaan ini bersifat noninvasive,
tidak menimbulkan rasa sakit pada
penderita, dapat dilakukan dengan
cepat, aman, dan data yang diperoleh
mempunyai nilai dignostik yang tinggi.
Tidak ada kontraindikasinya, karena
pemeriksaan ini sama sekali tidak akan
memperburuk penyakit penderita.
Penyulit USG
Suatu penyulit yang umumpada pemeriksaan
USG disebabkan karena USG tidak mampu
menembus bagian tertentu badan.
Tujuh puluh persen gelombang suara yang
mengenai tulang akan dipantulkan. Dan
diperkirakan 25% pemeriksaan di abdomen
diperoleh hasil yang kurang memuaskan karena
gas dalamusus. USG sulit dilakukan untuk
memeriksa kanker pada kolon.
CT-Scan dan MRI
Peran pemeriksaan CT abdomen
dan panggul yang rutin terus
menjadi pemeriksaan yang
penting dalam mendiagnosis
penyakit kolon.
Banyak pusat kesehatan secara
rutin menggunakan kontras usus
per rektum untuk melukiskan
usus besar yang lebih baik
dengan pemeriksaan CT
(Gambar2).
Pemeriksaan CT Scan dilakukan untuk:
Mengetahui metastase ke organ lain, hal ini
penting untuk menentukan tingkatan staging
sehingga dapat dipilih penatalaksanaan yang
tepat.
Mengetahui pakah tumor sudah mengecil setelah
pemberian kemoterapi, dilakukan pemeriksaan
setelah 4-6 minggu setelah pemberian
kemoterapi
Mendeteksi rekurensi, dilakukan pemeriksaan
setiap 5 tahun.
Keuntungan MRI
Tidak memakai sinar X
Tidak merusak kesehatan pada penggunaannya yang tepat
Banyak pemeriksaan yang dapat dikerjakan tanpa
memerlukan kontras
Disamping gambar informasi yang jelas, MRI juga dapat
menunjukkan
CT telah menjadi standar untuk gambar modalitas abdomen
pada pasien dengan kanker kolorektal. CT relatif sangat
akurat di hati mendeteksi metastasis. CT scan mempunyai
sensitivitas yang tinggi dalammendeteksi metastasis hati
yaitu antara 78-90%.
8
Foto Polos Abdomen
Pada foto polos abdomen umumnya perhatian
kita cenderung terfokus pada kolon. Tetapi
kelainan lain yang sering menyertai penyakit ini
adalah batu ginjal, sakroilitis, spondilitis
ankilosing dan nekrosis avaskular kaput femur.
Gambaran kolon sendiri terlihat memendek dan
struktur haustra menghilang.
Sisa feses pada daerah inflamasi tidak ada,
sehingga apabila seluruh kolon terkena maka
materi feses tidak akan terlihat di dalam
abdomen yang disebut dengan empty abdomen.
Colon in Loop
Double-Contrast Barium Enema
Single-Contrast Barium Enema
Keuntungan sebagai
berikut :
sensitivitasnya untuk
mendiagnosis kanker
kolon-rektum: 65 95 %,
aman,
tingkat keberhasilan
prosedur sangat tinggi,
tidak memerlukan
sedasi,
telah tersedia di hampir
seluruh rumah sakit.
Keuntungan sebagai
berikut :
sensitivitasnya untuk
mendiagnosis kanker
kolon-rektum: 65 95 %,
aman,
tingkat keberhasilan
prosedur sangat tinggi,
tidak memerlukan
sedasi,
telah tersedia di hampir
seluruh rumah sakit.
Kelemahan pemeriksaan
enema barium yaitu:
lesi T1 sering tak terdeteksi,
rendahnya akurasi untuk
mendiagnosis lesi di rekto-
sigmoid dengan divertikulosis
dan di sekum,
rendahnya akurasi untuk
mendiagnosis lesi tipe datar,
rendahnya sensitivitas (7095
%) di dalammendiagnosis
polip < 1 cm,
menda/pat paparan radiasi.
Kelemahan pemeriksaan
enema barium yaitu:
lesi T1 sering tak terdeteksi,
rendahnya akurasi untuk
mendiagnosis lesi di rekto-
sigmoid dengan divertikulosis
dan di sekum,
rendahnya akurasi untuk
mendiagnosis lesi tipe datar,
rendahnya sensitivitas (7095
%) di dalammendiagnosis
polip < 1 cm,
menda/pat paparan radiasi.
Kolonoskopi
7,8
Kolonoskopi dianjurkan untuk memeriksa
pasien lebih dari 50 tahun rata-rata berusia
risiko kanker usus besar atau polip kolon.
Kanker usus jarang tidak dapat dideteksi pada
kolonoskopi karena ia cenderung lebih besar
daripada adenomatosa polip. Kolonoskopi
adalah tes yang sangat spesifik.
Pada kolonoskopi, massa dibiopsi untuk
diagnosis patologis.
Kolonoskopi memberikan
keuntungan sebagai berikut:
tingkat sensitivitas di dalam
mendiagnosis adenokarsinoma atau
poli kolorektal adalah 95%,
kolonoskopi berfungsi sebagai alat
diagnostik melalui biopsi dan
terapipada polipektomi,
kolonoskopi dapat mengidentifikasi
dan melakukan reseksi synchronous
polyp,
tidak ada paparan radiasi.
Kolonoskopi memberikan
keuntungan sebagai berikut:
tingkat sensitivitas di dalam
mendiagnosis adenokarsinoma atau
poli kolorektal adalah 95%,
kolonoskopi berfungsi sebagai alat
diagnostik melalui biopsi dan
terapipada polipektomi,
kolonoskopi dapat mengidentifikasi
dan melakukan reseksi synchronous
polyp,
tidak ada paparan radiasi.
Kerugian kolonoskopi
adalah
pada 5 30 % pemeriksaan
tidak dapat mencapai sekum,
sedasi intravena selalu
diperlukan,
lokalisasi tumor dapat tidak
akurat,
tingkat mortalitas adalah 1 :
5000 kolonoskopi.
Kerugian kolonoskopi
adalah
pada 5 30 % pemeriksaan
tidak dapat mencapai sekum,
sedasi intravena selalu
diperlukan,
lokalisasi tumor dapat tidak
akurat,
tingkat mortalitas adalah 1 :
5000 kolonoskopi.
Gambaran Radiologi Kanker Kolon
Pada foto rontgen abdomen akan nampak gambaran
tumor yang menonjol ke dalam lumen dan menyebabkan
penyempitan lumen kolon yang sering disebut dengan
gambaran apple core atau napkin-ring.
Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan adalah
dengan melakukan foto rontgen dengan memakai zat
kontras seperti barium yang dimasukkan melalui rektum.
Pada foto nanti akan tampak lapisan tipis barium di mukosa
kolon.
Pemeriksaan ini disebut dengan foto kontras ganda, yaitu
kontras negatif udara dan kontras positif bubur barium,
tetapi cara ini tidak dapat melihat rektum pada duapertiga
distalnya.
Metastasis
Kolonoskopi merupakan tehnik pemeriksaan
yang paling lengkap dan akurat. Pada
kolonoskopi dipakai fiberskop lentur untuk
melihat dinding kolon dari dalam lumen
sampai ileum terminalis.
Dengan alat ini dapat dilihat seluruh kolon
termasuk yang tidak terlihat pada foto
rontgen dan dapat juga dipakai untuk biopsi
setiap jaringan yang mencurigakan.
Penunjang lain
Pemeriksaan Laboratotium
8,9
Anemia dapat dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium
darah (hemoglobin dan hematokrit).
Test guaiac pada feses
Carcinoembryonic antigen (CEA)
Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi melalui biopsi merupakan
diagnosis pasti dari karsinoma. Klinisi harus mereview
penemuan hasil pemeriksaan ini untuk mengkonfirmasi
diagnosis dan dapat segera memberikan terapi yang tepat.
Dalam kedokteran onkologi, ini merupakan prinsip dasar
dalammenegakkan diagnosis keganasan.
DIAGNOSA BANDING
9
PENATALAKSANAAN
9,10
1. Terapi primer
Terapi utama untuk tumor kolon adalah operatif.
Tindakan operatif yang dilakukan tergantung dari letak
tumor kolon tersebut. Tehnik pembersihan
mesenterium dan keadaan patologi (benigna atau
maligna) menentukan berapa panjang kolon yang harus
direseksi.
2. Terapi paliatif
10
Reseksi tumor secara paliatif dilakukan untuk
mencegah atau mengatasi obstruksi atau
menghentikan pendarahan supaya kualitas hidup
penderita lebih baik.
KOMPLIKASI
10
1. Anemia
2. Perforasi
3. Ileus obstruksi
4. Metastasis
PROGNOSIS
10,11
Prognosis tergantung dari ada atau tidaknya
metastasis jauh, yaitu klasifikasi penyebaran
tumor dan tingkat keganasan sel tumor. Bila
disertai dengan diferensiasi sel tumor buruk,
prognosisnya sangat buruk.
KESIMPULAN
Skrining karsinoma kolorektal memegang peranan yang
sangat penting.
Gejala yang di timbulkan antara lain adalah nyeri di
perut bagian bawah, darah pada tinja, diare, konstipasi,
atau perubahan kebiasaan buang air besar, obstruksi
usus, anemia dengan penyebab tidak di ketahui dan
berat badan tanpa alasan yang diketahui
Dari anamnesa, apabila kita temukan gejala seperti di
atas, kita perkuat dengan pemeriksaan fisik yang
mungkin dapat membantu jika di temukannya benjolan
pada abdomen atau teraba massa pada pemeriksaan
colok dubur.
Selanjutkan dapat kita lakukan pemeriksaan radiologi
diantaranya dengan endoskopi yakni kolonoskopi sekitar
12% lebih akurat daripada udara kontras barium enema,
terutama dalam mendeteksi lesi kecil seperti adenomas.
Pemeriksaan ini paling akurat dan sangat efektif.
Kontras barium enema adalah sebuah alternatif untuk
kolonoskopi. Meskipun demikian, jika kolonoskopi tidak
tersedia, pemeriksaan ini masih sangat akurat dalam
mendeteksi karsinoma dan lebih besar adenomas.
CT telah menjadi standar untuk gambar modalitas
abdomen pada pasien dengan kanker kolorektal. CT relatif
sangat akurat di hati mendeteksi metastasis. CT scan
mempunyai sensitivitas yang tinggi dalam mendeteksi
metastasis hati yaitu antara 78-90%, memiliki keunggulan
dibandingkan MRI CT untuk mendeteksi hepatik metastasis.
CT-scan dan pemeriksaan kadar CEA sebagai monitor
kanker. Berdasarkan pemeriksaan di atas,
penatalaksanaan lebih lanjut pasien dengan kanker
usus besar diantaranya dapat kita lakukan apabila
kanker masih bersifat local atau besifat insitu maka kita
dapat lakukan reseksi jaringan, tetapi apabila telah
mencapai lapisan yang lebih dalam kita dapat lakukan
reseksi dan colostomy dengan membuat stoma.
Selain terapi pembedahan, kemoterapi dan radiasi
dapat di lakukan untuk mencegah penyebaran lebih
lanjut
.
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah
dengan mengubah pola makan dengan diet tinggi
serat, pada beberapa penelitian kalsiumdan vitamin D
DAFTAR PUSTAKA
1. Kanker kolon. Available from http://web.squ.edu.om/med-
Lib/MED_CD/E_CDs/Cancer%20of%20the%20Lower%20Gastrointinal%20Tract/DOCS/Ch7.pdf
Diakses 10 Juli 2011.
2. National Cancer Institute U.S National Intitute of Health ( 2009) Cancer colon treatment. Available
from www.cancer.org Diakses tgl 11 Juli 2011
3. De jong W, Sjamsuhidajat R. Buku Ajar Ilmu Penyakit Bedah Edisi 2: Bab 35 Usus Halus, Apendiks,
Kolon, dan Rektum. Jakarta: EGC. 2005.
4. Halpert, RD. Gastrointestinal Imaging 3rd ed: Chapter 7 Colon and Rectum. Philadelphia: Mosby
Elsevier. 2006. 261-300.
5. Deteksi dini , diagnose dan penatalaksanaan kanker kolon. Available from
http://repository.unand.ac.id/12202/1/Deteksi_Dini,_Diagnosa_dan_Penatalaksanaan_Kanker_Kolo
n_dan_Kerektum.pdf Diakses 10 Juli 2011.
6. Zieve, D. (2009) Colon cancer. Available from www.nlm.nih.gov/medlineplus/colorectalcancer.html.
Diakses 10 Juli 2011.
7. Keuntungankolonoskopi dengan barium enema. Available from
http://books.google.com/books?id=GTqUHHF4A6oC&pg=PA91&lpg=PA91&dq=kelebihan+kolonosko
pi&source=bl&ots=rqG8SF8GG4&sig=kXhFVJNRwKMsvciNcW9YwdIkUNY&hl=en&ei=lxcbTv2QKMzH
rQfo0tnPAQ&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4&ved=0CDAQ6AEwAw#v=onepage&q=kele
bihan%20kolonoskopi&f=false. Diakses 10 Juli 2011.
8. Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik Edisi 2: Traktus Digestivus dan Biliaris. Jakarta: EGC. 2005. 256-
268
9. Gontar Alamsyah Siregar. Deteksi dini dan penatalaksanaan kanker usus besar, 2007.
10. Colorectal Cancer Health Centre (2010) Laparoscopic Proctosigmoidectomy and Colorectal Cancer.
Available from www.webmd.com/colorectal-cancer/default.htm
11. Colorectal Cancer Center of Cedars-Sinai Hospital (2010) Treatments for Sigmoid Colon Cancer .
Available from www.csmc.edu/6408.html. Diakses tgl 11 Juli 2011
Terimakasih