Anda di halaman 1dari 5

CHAPTER 12

STANDAR SETTING: ECONOMIC ISSUES


OVERVIEW
Standar disusun dengan tujuan untuk memediasi konflik kepentingan antara investor
dan manajemen. Penyusunan standar merupakan sebuah tantangan bagi para akuntan. Banyak
aspek dari produksi informasi perusahaan yang diregulasi, dan banyak regulasi tersebut
dibuat oleh badan penyusun standar dalam bentuk prinsip akuntansi yang diterima dan
berlaku umum-GAAP. Selanjutnya. Sampai saat ini semakin banyak standar yang disusun
dan dibuat demi untuk mengakomodasi kebutuhan akuntansi dewasa ini.


REGULATION OF ECONOMIC ACTIVITY
Alasan utama adanya regulasi ini adalah untuk melindungi para individu yang berada
pada suatu informasi yang merugikan. Ini menunjukkan bahwa asimetri informasi mendasari
kebutuhan untuk regulasi atas produksi informasi Aturan perdagangan insider dan regulasi
untuk memastikan full disclosure dalam prospektus merupakan beberapa contohnya. Selain
untuk melindungi investor biasa, regulasi semacam ini juga dimaksudkan untuk memperbaiki
kinerjaa pasar modal dengan meningkatkan keyakinan publik mengenai kewajaran pasar
modal. Informasi asimetri seringkali digunakan untuk membenarkan diberlakukannya regulasi
untuk melindungi keadaan yang merugikan informasi. Aturan perdagangan insider dan regulasi
untuk memastikan full disclosure dalam prospektus merupakan beberapa contohnya.
Akuntansi juga sangat dipengaruhi oleh regulasi yang dirancang untuk melindungi
pemakai akibat adanya informasi asimetri. Satu peran penting akuntansi dan auditing adalah
melaporkan informasi yang relevan dan reliabel, sehingga mengurangi informasi asimetri
antara insider perusahaan, publik yang berinvestasi, dan pemakai lain.
Dalam chapter ini perhatian utama kita adalah regulasi persyaratan disclosure
minimum, standar akuntansi dan standar auditing yang diterima umum, dan persyaratan
bahwa perusahaan publik harus diaudit. Kita akan menggunakan istilah pengaturan standar
untuk menunjukkan pembentukan berbagai aturan dan regulasi ini. Perhatikan bahwa
pengaturan standar ini melibatkan regulasi keputusan mengenai informasi perusahaan yang
dihasilkan. Untuk tujuan ini, tidaklah menjadi masalah apakah standar ini diatur oleh regulasi
secara langsung ataupun tak langsung. Dalam hal regulasi tak langsung, otoritas mengatur
standar yang secara jelas diserahkan, atau dijinkan oleh pemerintah. Point utama yang ingin
dicapai adalah bahwa perusahaan sama sekali tidak bebas dalam mengendalikan jumlah dan
kapan informasi tentang perusahaannya diproduksi. Namun, mereka harus melakukannya
sesuai dengan sejumlah regulasi, yang kita sebut standar, yang ditetapkan oleh otoritas
sentral.
Terdapat dua jenis informasi yang dapat dimiliki oleh manajer: jenis pertama
proprietary information; merupakan informasi yang, jika dirilis, akan mempengaruhi secara
berlawanan aliran kas perusahaan di masa mendatang. Misalnya, informasi teknik mengenai
patent yang berharga, atau rencana untuk inisiatif strategi seperti penawaran takeover atau
merger. Biaya bagi manajer dan perusahaan akibat dirilisnya informasi proprietary ini bisa
sangat tinggi. Jenis kedua disebut nonproprietary information; merupakan informasi yang
tidak secara langsung mempengaruhi arus kas perusahaan. Informasi ini mencakup informasi
laporan keuangan, peramalan earning, rincian pembiayaan yang baru, dll. Audit juga
termasuk dalam informasi yang bersifat nonproprietary.

PRIVATE INCENTIVES FOR INFORMATION PRODUCTION
Ways To Characterize Information Production
Produksi informasi digunakan untuk dua alasan. Pertama, informasi sebagai suatu
komoditas yang dapat diproduksi dan dijual. Maka, wajar saja jika kita mempertimbangkan
secara terpisah biaya dan manfaat informasi yang diproduksi. Kedua, memerlukan suatu cara
yang dapat menyatukan pemikiran mengenai berbagai macam cara yang dilakukan untuk
memproduksi informasi. Informasi merupakan komoditas yang kompleks. Apa yang kita
maksud saat kita membicarakan kuantitas informasi yang diproduksi? Ada beberapa cara
untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, kita dapat memikirkan ini.
kita dapat memikirkan informasi yang lebih tajam dan benar (finer information).
kita bisa berpikir mengenai informasi tambahan
memikirkan produksi informasi yang lebih kredibilitas

Contractual Incentives For Information Production
Dorongan untuk memproduksi informasi privat muncul dari kontrak yang diikuti oleh
perusahaan. informasi diperlukan untuk memonitor ketaatan terhadap kontrak, misalnya, jika
usaha manajerial tidak dapat diamati, ini mengarah pada suatu kontrak insentif yang
didasarkan atas hasil operasi perusahaan. Juga, suatu audit akan menambah kredibilitas
terhadap net income yang dilaporkan, sehingga baik pemilik dan manajer perusahaan
bersedia menerima net income yang dilaporkan sebagai ukuran yang andal atas kinerja
manajemen.
Kontrak dapat memberikan banyak rincian dalam laporan keuangan (informasi finer) untuk
menyulitkan pemilik, yang sekaligus menjadi manajer, dalam menyembunyikan atau
memendamkan biaya dari penghasilan tambahan. Kontrak juga dapat mewajibkan suatu audit
untuk meningkatkan kredibilitas produksi informasi
Alasan kontraktual lainnya atas produksi informasi privat yang muncul saat perusahaan
yang dimiliki perseorangan akan go publik. Ini dirumuskan oleh Jensen dan Meckling (1976).
Manajer-pemilik perusahaan go publik, setelah menjual semua atau sebagian kepentingannya,
memiliki motivasi untuk meningkatkan kelalaian. Perhatikan bahwa sebelum IPO, masalah
kelalaian merupakan urusan internal perusahaanpemilik sekaligus manajer menanggung
semua biaya. Biaya kelalaian merupakan pengurang profit yang terjadi. Akibat adanya issue
baru, pemilik sekaligus manajer tidak memikul semua biaya itupemilik yang baru akan ikut
menanggung bagiannya secara proporsional. Jadi, biaya kelalaian pemilik sekaligus manajer
tak sebanyak setelah go publik, sehingga ia akan mengadakan biaya kelalaian yang melebihi
sebelumnya. Ini merupakan biaya agensi bagi pemilik baru perusahaan.
Market-Based Incentives For Information Production
Dorongan privat bagi manajer untuk memproduksi informasi mengenai
perusahaannya juga berasal dari tekanan pasar. Ini melibatkan beberapa pasar. Pertama kali,
pertimbangkan pasar manajer, seperti dibahas oleh Fama (1980), kita bisa memikirkan
manajer sebagai subyek pasar tenaga kerja manajerial, yang menempatkan nilai pasar atas
jasa manajerialnya. Manajer yang rasional akan memilih nilai pasar yang lebih tinggi, dengan
asumsi hal-hal lain dianggap sama/tidak berubah. Ini akan meningkatkan reservation utility
yang dapat mereka minta dalam kontrak pekerjaan agensi. Konsekuensinya, mereka akan
terdorong untuk memaksimumkan nilai pasar perusahaan, sebab nilai pasar mereka sendiri
agaknya ditentukan oleh kesuksesan mereka dalam menciptakan nilai pasar.
Model formal yang berkaitan dengan informasi yang dirilis bagi nilai pasar
perusahaan ditunjukkan oleh, misalnya, Merton (1987) dan Diamond & Verrecchia (1991).
Dalam model Merton, informasi asimetri dirumuskan hanya sebagai subset investor yang
mengetahui tiap perusahaan. Jika perusahaan bisa meningkatkan besar subset ini, katakanlah
dengan dirilisnya informasi secara sukarela, nilai pasarnya akan meningkat, ceteris paribus.
Dalam model Diamond dan Verrecchia, disclosure sukarela akan mengurangi informasi
asimetri antara perusahaan dengan pasar, yang memudahkan perdagangan sahamnya.

TWO THEORIES OF REGULATION
The Public Interest Theory
1. Public Interest Theory
Teori ini mengusulkan bahwa regulasi adalah hasil dari permintaan publik untuk
memperbaiki kegagalan pasar.
Dalam teori ini, pusat kewenangan, yaitu regulator, diasumsikan memiliki kepentingan yang
besar terhadap society at heart, sehingga hal ini dapat membuat pada saat regulator menyusun
peraturan akan menghasilkan yang terbaik bagi kesejahteraan masyarakat. Permasalahan
yang timbul dalam Public Interest Theory adalah :
a. Terdapat tugas yang sangat kompleks dalam menentukan jumlah regulasi yang tepat.
b. Terdapat permasalahan yang serius yang terletak pada motivasi dari badan regulator.

2. Interest Group Theory
Teori ini memberikan pandangan bahwa sebuah industri beroperasi dalam kepentingan
group.
Bervariasinya kepentingan dalam group akan mempengaruhi Legislature dalam hal jumlah
dan tipe dari regulasi.
Hubungan Pada Teori Regulasi
Penyusunan standar memiliki karakteristik proses penyesuaian. Pemilihan standar
akuntansi (misalnya oleh AcSB, FASB, IASB) sebaiknya mempertimbangkan konflik antar
konstituensi ketimbang pada unsur proses perhitungan.Pertimbangan ini menganggap bahwa
teori kelompok kepentingan regulasi mungkin baik sebagai prediktor standar baru daripada
teori kepentingan publik.
Criteria For Standard Setting
Decision Usefullness
Kriteria decision usefulness memicu informasi dan perspektif pengukuran padapelaporan
keuangan, dan studi empiris kapital market. Jadi, standar dapat menjadi decision usefulness
bisa saja salah karena tidak mempertimbangkan biaya penyediaan informasi. Untuk itu,
pembuat standar perlu mempertimbangkan kriteria lainnya daripada decision usefulness saja.
Reduction Of Information Asymmetry
Dalam hal ini penyusun standar harus menggunkan pengurangan information asimetri dalam
kapital dan managerial labor market sebagai kriteria standar baru. Pengurangan information
asimetri meningkatkan operasi pasar. Hal ini akan memperluas likuiditas pasar, mengurangi
fenomena lemon dan menghasilkan keuntungan sosial. Bagaimanapun juga, harus
diperhatikan bahwa pengurangan information asimetri sebagai kriteria bukan satu-satunya
yang memadai. Seperti decision useful yang menimbulkan biaya. Konsekuensinya, sulit
untuk mengetahui kapan standar untuk mengurangi information asimetri cost-efektif.
Economic Consequences Of New Standards
Salah satu biaya dari standar baru bagi perusahaan adalah biaya untuk memenuhi standar itu
(out of pocket). Biaya juga terjadi karena adanya kontrak. Biaya tersebut mempengaruhi
kebijakan operasi dan keuangan. Kurangnya kebebasan menajemen memilih kebijakan
akuntansi juga menjadi konsekuensi ekonomis. Untuk itu, pembuat kebijakan harus
mempertimbangkan aspek tersebut.
The Political Aspects Of Standards Setting
Konsekuensi ekonomis berdampak pada aspek politis penyusunan standar. Penyusun standar
harus merekayasa konsensus yang memadai agar konstituensi dapat menerimanya. Proses
penyusunan standar harus konsisten dengan interest group theory of regulation.