Anda di halaman 1dari 2

Aditya Binowo 12E/1

Kebijakan Ekonomi Masa Orde Baru



Orde baru menggantikan orde lama yang dipimpin oleh pemerintahan
Presiden Soekarno. Orde baru lahir dengan semangat koreksi total terhadap
penyimpangan yang terjadi pada masa orde lama. Orde baru berlangsung selama
1966-1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat
yang diikuti dengan berkembangnya korupsi yang merajalela pada setiap
tingkatan pemerintahan. Selain itu, kesenjangan antara warga yang kaya dan
miskin semakin besar. Untuk mengatasi keadaan ekonomi yang kacau sebagai
peninggalan pemerintahan orde lama, pemerintahan orde baru melakukan
langkah-langkah :
- Memperbaharui kebijakan ekonomi, keuangan, dan pembangunan. Kebijakan
ini didasari oleh Tap MPRS No.XXIII/MPRS/1966
- MPRS mengeluarkan garis program pembangunan, yakni program
penyelamatan, program stabilisasi, dan rehabilitasi
Pada masa pemerintahan orde baru, kebijakan ekonominya berorientasi
kepada pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ekonomi tersebut didukung oleh
kestabilan politik yang dijalankan oleh pemerintah. Hal tersebut dituangkan ke
dalam jargon kebijakan ekonomi yang disebut dengan Trilogi Pembangungan,
yaitu stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan pemerataan
pembangunan.
Hal ini berhasil karena selama lebih dari 30 tahun, pemerintahan
mengalami stabilitas politik sehingga menunjang stabilitas ekonomi. Kebijakan-
kebijakan ekonomi pada masa itu dituangkan pada Rencana Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (RAPBN), yang pada akhirnya selalu disetujui oleh Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) untuk disahkan menjadi APBN.
APBN pada masa pemerintahan Orde Baru, disusun berdasarkan asumsi-
asumsi perhitungan dasar. Yaitu laju pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, harga
ekspor minyak mentah Indonesia, serta nilai tukar rupiah terhadap dollar
Amerika. Asumsi-asumsi dasar tersebut dijadikan sebagai ukuran fundamental
ekonomi nasional.
Format APBN pada masa Orde baru dibedakan dalam penerimaan dan
pengeluaran. Penerimaan terdiri dari penerimaan rutin dan penerimaan
pembangunan serta pengeluaran terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran
pembangunan. Sirkulasi anggaran dimulai pada 1 April dan berakhir pada 31
Maret tahun berikutnya. Kebijakan yang disebut tahun fiskal ini diterapkan sesuai
dengan masa panen petani, sehingga menimbulkan kesan bahwa kebijakan
ekonomi nasional memperhatikan petani.
APBN pada masa itu diberlakukan atas dasar kebijakan prinsip
berimbang, yaitu anggaran penerimaan yang disesuaikan dengan anggaran
Aditya Binowo 12E/1
pengeluaran sehingga terdapat jumlah yang sama antara penerimaan dan
pengeluaran. Hal perimbangan tersebut sebetulnya sangat tidak mungkin, karena
pada masa itu pinjaman luar negeri selalu mengalir. Pinjaman-pinjaman luar
negeri inilah yang digunakan pemerintah untuk menutup anggaran yang defisit.
Ini artinya pinjaman-pinjaman luar negeri tersebut ditempatkan pada anggaran
penerimaan. Padahal seharusnya pinjaman-pinjaman tersebut adalah utang yang
harus dikembalikan, dan merupakan beban pengeluaran di masa yang akan
datang. Oleh karena itu, pada dasarnya APBN pada masa itu selalu mengalami
defisit anggaran. Namun prinsip berimbang ini merupakan kunci sukses
pemerintah pada masa itu untuk mempertahankan stabilitas, khususnya di bidang
ekonomi. Karena pemerintah dapat menghindari terjadinya inflasi, yang sumber
pokoknya karena terjadi anggaran yang defisit. Sehingga pembangunanpun terus
dapat berjalan.
Prinsip lain yang diterapkan pemerintah Orde Baru adalah prinsip
fungsional. Prinsip ini merupakan pengaturan atas fungsi anggaran pembangunan
dimana pinjaman luar negeri hanya digunakan untuk membiayai anggaran belanja
pembangunan. Karena menurut pemerintah, pembangunan memerlukan dana
investasi yang besar dan tidak dapat seluruhnya dibiayai oleh sumber dana dalam
negeri. Pada dasarnya kebijakan ini sangat bagus, karena pinjaman yang
digunakan akan membuahkan hasil yang nyata. Akan tetapi, dalam APBN tiap
tahunnya cantuman angka pinjaman luar negeri selalu meningkat.
Prinsip ketiga yang diterapakan oleh pemerintahan Orde Baru dalam
APBN adalah dinamis yang berarti peningkatan tabungan pemerintah untuk
membiayai pembangunan. Dalam hal ini pemerintah akan berupaya untuk
mendapatkan kelebihan pendapatan yang telah dikurangi dengan pengeluaran
rutin, agar dapat dijadikan tabungan pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah
dapat memanfaatkan tabungan tersebut untuk berinvestasi dalam pembangunan.
Sebenarnya kebijakan ekonomi pada masa orde baru menuai banyak hal
positif, di antaranya perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun
1968 hanya AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000,
Indonesia mengalami surplus beras yang akhirnya diimpor ke India,
pembangunan terutama di Indonesia didukung program Repelita yang berfokus
pada industri dan pertanian atau agro industri untuk di ekspor yang cukup
menambah devisa negara pada saat itu. Sayangnya, hal itu terus diikuti dengan
penambahan utang luar negeri yang diletakkan sebagai penerimaan sehingga
setiap tahun terjadi defisit anggaran. Hal itu belum ditambah dengan besarnya
angka korupsi yang terjadi pada anggaran sehingga dampak semua itu dapat
dilihat pada akhir masa orde baru, tahun 1998.