Anda di halaman 1dari 19

Pagi itu, matahari bersinar sangat hangat.

Burung-burung
berkicau menyapa alam. Angin berhembus sejuk. Di hari yang
cerah ini, seorang gadis cantik bernama Athena Cassandra atau
yang akrab di sapa Thena, masih sangat merasa malas beranjak
dari tempat tidurnya dan tubuhnya masih terbalut selimut
hangat.
Then, Thena ayo bangun Then Ujar Iwan Saputra,
sang kakak. Iwan berusaha membangunkan salah satu adik
perempuannya itu. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Thena
sehingga Thena pun menggeliat.
Aaaahhh Lo apa-apaan sih, mas? Ini kan hari
minggu! Gue libur sekolah, mas! Gue masih ngantuk tau! Ujar
Thena protes.
Yeee lo nih! Tuh, si Anna minta di temenin jalan-
jalan. Lo temenin adek lo, gih!
Iih ogah gue ngurusin tuh bocah! Mendingan gue
tidur!
Ya elah Then, lo tega amat ama adek lo. Ayolah ngerti
dikit. Sana temenin Anna!
Iih! Gue bilang ogah ya ogah!!! Kan lo yang biasanya
ngajakin Anna jalan-jalan. Lo aja sana yang temenin dia.
Then, gue hari ini ada show nyanyi bareng Adit. Gue
nggak bisa jagain Anna sekarang. Lo kan juga tau, Bi Mirnah
juga lagi pulang kampung.
Ya itu bukan urusan gue!
Then.. lo jangan kaya gitu, dong.
Iiihh lo itu bawel banget ya!! Udah sana lo keluar dari
kamar gue!!!
Then
Keluar gue bilang, mas!!! Thena membentak. Iwan
akhirnya mengalah dan keluar dari kamar Thena.
***
Gimana, Wan? Ujar Adit yang berada di ruang tamu
rumah Iwan.
Ya, You know, lah!
Tuh bocah masih nggak sadar-sadar aja.
Udahlah biarin, Dit. Mungkin dia lagi capek kali.
Soalnya, semalem dia pulang malem banget. Katanya sih habis
kerja kelompok gitu.
Kenapa sih, dia selalu kasar sama lo, Wan?
Nggak kok! Dia Cuma lagi capek aja kali!
Terus, show kita gimana dong?
Kayanya, untuk kali ini, gue nggak bisa ikutan dulu
deh, Dit!
Lo yakin? Show kali ini, Bayarannya lumayan gede, lho
Wan!
Tapi Anna nggak ada yang jagain.
Mas Iwan Anna berdiri di depan kakaknya. Gadis
kecil berumur 5 tahun itu tersenyum lembut.
Aku ikut mas Iwan aja ya! Aku nggak mau di rumah
sama kak Thena. Abisnya, kak Thena galak. Ujarnya polos.
Iwan dan Adit tertawa kecil. Iwan dan Adit menyejajarkan
wajah mereka dengan Anna.
Anna mau ikut mas Iwan? Tanya Iwan. Anna
mengangguk mantap.
Ya udah, kita bawa aja Anna, Wan! Lagian, anak-anak
kan juga pada suka sama Anna. Jadi, nggak ada salahnya kalo
kita bawa dia. Ujar Adit.
Hmm.. ya udah deh! Ujar Iwan.
Sip! Ayo sayang, kita berangkaaatt! Ujar Adit sambil
menggendong Anna.
***
Sesampainya disana, Iwan, Adit dan Anna di sambut
beberapa teman mereka sesama musisi.
Hallo cantiiikkk. Ujar Abo sambil mencubit pipi
Anna.
Kok tumben si Anna ikut lo, Wan? Ujar Assel.
Iya, si Thena lagi ngambek. Jadi nggak mau jagain
Anna. Pembokat gue juga lagi pulang kampung. Jadi ya gue
bawa aja kesini.
Oohh
Lo semua nggak keberatan kan kalo kalian ikut jaga
Anna selagi gue show nanti?
Ya nggaklah, Wan! Malah kita seneng banget si cantik
ini ikut kesini. Ujar Abo.
Makasih ya, Bo! Sorry ngrepotin.
Nggak papa, santai aja.
Hey, Wan, Dit! Miko pun keluar dari dalam caf dan
menemui mereka.
Hey, Mik!
Eh, ada si cantik! Ujar Miko pada Anna.
Yaahh.. ketemu pacarnya deh tuh, si Anna. Hahaha
Ujar Assel. Anna memang sangat dekat dengan Miko. Selain
karena memang Miko menyukai anak-anak, musisi tampan ini
memang lebih peka dan lebih mengerti perasaan anak-anak
dibandingkan teman-teman musisinya yang lain. Anna langsung
mengulurkan kedua tangannya pada Miko.
Tuh, tuh kan langsung nempel deh sama Miko. Ujar
Assel. Mereka semua tertawa bersamaan. Tanpa berpikir lagi,
Miko pun langsung menggendong gadis kecil ini. Anna
langsung memeluk pria favoritnya ini erat-erat.
***
Saat Iwan show, Miko, Abo, Assel dan Adit duduk di
sebuah meja bundar sambil asik bermain bersama Anna.
Terutama Miko yang terlihat sangat menikmati kebersamaannya
bersama si kecil Anna. Bahkan ia membiarkan ponsel
androitnya di buat mainan oleh gadis kecil itu.
Si Miko, udah pantes jadi bapak aja ya! Hahaha
Ujar Assel.
Yoi, udah pantes banget! Hahaha Timpal Abo. Miko
hanya tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala.
Kok kayanya si Thena itu benci banget ya sama Iwan?
Dan sepengetahuan gue, Thena itu nggak pernah ngomong baik-
baik ke Iwan. Selalu nyolot, bahkan ngebentak. Padahal Iwan itu
kan kakaknya. Ujar Assel.
Iya ya. Gue juga ngerasa ada yang ganjil diantara Thena
ama Iwan. Timpal Abo.
Nggak tau lah. Gue juga sebenernya kasian banget sama
si Iwan. Dia itu sayang banget sama adek-adeknya. Tapi, si
Thena malah sikapnya kurang ajar gitu ke Iwan. Ujar Adit.
Aneh! Gue penasaran deh! Ujar Miko yang mulai
tertarik dengan obrolan teman-temannya.
Gue udah pernah tanya ke Iwan. Tapi kata dia,
pertengkaran mereka itu Cuma karena ego mereka masing-
masing. Dan katanya, itu juga nggak tiap hari. Ujar Adit.
Kak Thena itu galak. Tiap hari kak Thena marahin mas
Iwan. Kak Thena juga sering bilang kalo kak Thena benci sama
mas Iwan. Kak Thena juga sering marahin aku. Ujar Anna yang
tiba-tiba ikut terlibat dalam pembicaraan mereka. Keempat
musisi itu sangat terkejut dengan ucapan polos Anna. Mereka
berempat menatap Anna yang masih asik main dengan ponsel
milik Miko dengan heran.
Eh, barusan si Anna bilang apa? ujar Abo.
Anna kak Miko mau Tanya sama Anna. Emangnya,
kak Thena selalu marahin mas Iwan tiap hari ya? Anna
mengangguk sambil terus mengotak-atik ponsel Miko.
Trus kak Thena bilang dia benci sama mas Iwan? Tanya
Miko lagi. Anna menatap Miko. Lalu, ia menganggukkan
kepalanya lagi. Keempat musisi ini saling bertatapan satu sama
lain.
Haayy.. aduuuhh sorry udah ngrepotin. Makasih ya
udah mau jaga Anna. Ujar Iwan yang tiba-tiba datang setelah
show nya selesai. Namun ia tak mendapatkan jawaban dari
teman-temannya. Yang ia dapatkan hanyalah tatapan-tatapan
aneh dari teman-temannya itu.
***
Jadi lo, bukan kakak kandungnya Thena sama
Anna? Ujar Miko terkejut setelah mendengar semua cerita yang
sebenarnya dari Iwan. Iwan pun mengangguk perlahan.
Karena itu, Thena benci sama lo? Timpal Abo. Iwan
mengangguk lagi.
Bahkan, dia nyalahin lo atas kecelakaan mobil 3 tahun
lalu yang udah merenggut nyawa kedua orang tua lo? Assel
ikut menimpali. Iwan menundukkan kepalanya sambil
mengangguk.
Gila! Itu bener-bener gila, Wan! Nggak masuk akal!!!
Keterlaluan banget tuh anak!
Udahlah, Assel. Nyokap sama Bokap gue meninggal
memang karena gue. Coba kalo waktu itu gue nggak minta
mereka untuk jemput gue di air port, kecelakaan itu juga nggak
akan terjadi, kan?
Ya nggak bisa gitu, dong Wan! Lo nggak salah. Itu kan
udah takdir. Assel masih memprotes.
Udahlah nggak usah di bahas lagi. Yang penting
sekarang gimana caranya gue cari duit yang banyak buat biaya
sekolah Thena dan Anna.
Lo nggak usah khawatir ya Wan. Kita pasti bantu lo.
Ujar Adit.
Makasih banget ya! Gue beruntung punya temen-temen
kaya kalian. Ujar Iwan. Anna yang sedang ada di pangkuan
Iwan langsung memeluk Kakaknya erat-erat seakan mengerti
perasaan kakak laki-lakinya itu. Iwan membelai rambut adik
kecilnya dan di ciumnya pipi dan keningnya.
***
Ayo masuk dulu, biar gue bikinin minuman. Ujar Iwan
pada Adit.
Iya, makasih, Wan! Iwan akhirnya melangkah ke
dapur untuk membuat minuman untuk Adit. Namun tiba-tiba,
ada suara keras dari dapur. Adit yang sedang mengajak Anna
bermain sangat terkejut. Ia lalu menggendong Anna dan berlari
ke dapur. Di dapur, Adit menemukan Iwan tersungkur di lantai,
merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
Ya ampun, Iwan!!! Iwan lo kenapa, Wan???
Aaaghhhh perut gue.. perut gue sakit!! Ujar Iwan
merintih.
Ya udah, kita ke rumah sakit sekarang, ya!!
Nggak.. nggak Dit. Lo tolong gue aja. Ambilin obat di
meja kamar gue.
I-iya deh iya!! Lo sabar dulu ya! Anna, kamu disini
dulu ya sayang. Jagain mas Iwan.
Cepetan Dit!! Aaagghhh
iya iya Adit berlari ke kamar Iwan.
Mas Iwaann Anna mulai menangis melihat
kakaknya kesakitan.
Anna.. Anna sayang.. jangan nangis sayang mas
Iwan mas Iwan nggak papa kok. Ujar Iwan pada Anna.
Adit berlari menuju kamar Iwan di lantai atas. Ketika ia
berlari, Thena sedang berada di depan pintu kamarnya.
Heh!!! Ngapain lo masuk ke kamar mas Iwan?? Ujar
Thena sambil berlari mengejar Adit.
Heh!!! Ngapain lo masuk-masuk ke kamar orang??
Mau nyolong lo ya? Ujar Thena.
Then, kakak lo kesakitan tuh!!! Cepetan turun ke
bawah! Kakak lo ada di dapur.
Kesakitan? Kesakitan kenapa?
Gue juga nggak tau! Katanya perutnya sakit banget.
Ya elaaahh.. kirain ada apa lo lari-lari kaya orang gila.
Apa??? Lo nggak panik? Kakak lo tuh kesakitan,
Then!!
Paling-paling Cuma sakit perut biasa. Manja amat sih!
Ujar Thena sambil berlalu pergi.
Astaghfirullaaahh!!! Adik macam apa sih tuh si Thena!
Gila ya! Nggak ada khawatir-khawatirnya sama sekali sama
kakaknya sendiri. Ujar Adit mengomel. Namun ia sadar ia tak
punya banyak waktu. Ia langsung mengambil obat yang
dimaksud Iwan dan langsung memberikannya pada Iwan.
Aagghhh Iwan masih merintih.
Wan, ini Wan.. ini kan obatnya?? Adit menyodorkan
obat yang ada di tangannya. Iwan tak menjawab. Ia langsung
meminum obatnya. 10 menit kemudian, rasa sakit itupun
mereda.
Wan, lo udah nggak papa?
Nggak papa. Makasih ya.
Lo kenapa sih sebenernya?
Cuma sakit perut biasa kok!
Wan, lo nggak perlu bohong ama gue, Wan! Kita kan
sahabat! Iwan menatap Adit tajam. Ia lalu menundukkan
kepalanya.
Ginjal gue tinggal satu, Dit. Dan sepertinya satu ginjal
yang ada di tubuh gue ini juga bermasalah.
Apa??? Kok bisa??
7 tahun yang lalu, ketika Thena berumur 11 tahun,
ginjal kanannya bermasalah dan harus segera di lakukan
transplantasi ginjal. Saat itu, orang tua gue kebingungan mencari
donor ginjal buat Thena. Beruntungnya walaupun gue bukan
saudara kandung Thena, gue dan Thena punya ginjal yang
cocok. Akhirnya, saat gue berumur 19 tahun, gue donorin satu
ginjal gue, buat Thena.
Apa?? Ya ampun, Wan! Jadi satu ginjal lo ada di tubuh
Thena?
Iya. Yaaah, Gue bersyukur, dia sehat wal afiat sampe
hari ini.
Thena itu nggak tau diri ya! Lo udah nyelametin dia
tapi dia selalu kasar sama lo. Dia selalu benci sama lo. Nggak
tau diri banget tuh cewek. Iwan tersenyum.
Nggak Dit. Thena nggak tau tentang itu. Ujar Iwan.
A-apa?? Maksud lo?
Ya, gue memang minta semua orang untuk nggak
ngasih tau Thena yang sebenernya. Karena, dia kan benci sama
gue. Kalo dia tau, gue yang donorin ginjal buat dia, dia nggak
akan mau nerima. Dan itu akan membahayakan nyawanya. Jadi,
lebih baik dia nggak tau.
Ya ampun Wan! Lo tuh orang teraneh yang pernah gue
kenal, tau nggak! Kenapa sih, lo masih aja mau nolongin dia?
Padahal dia udah jahat banget sama lo. Lagian juga, dia kan
bukan adek lo! Ngapain lo repot-repot ngurusin dia?
Dia adek gue, Dit. Walaupun bukan adek kandung gue,
tapi gue sayang banget sama dia. Apapun akan gue lakuin demi
Thena dan Anna. Apalagi, sekarang mereka udah nggak punya
orang tua, jadi sekarang mereka adalah tanggung jawab gue.
Ujar Iwan. Adit menepuk pundak kawannnya itu dengan
bangga.
***
Then, ayo sarapan dulu. Gue udah buatin spaghetti
kesukaan lo nih! Ujar Iwan.
Gue sarapan di sekolah aja! Udah telat! Ujar Thena
sambil berlalu pergi. Iwan hanya diam dan mengalah. Ketika
Thena mau masuk ke mobilnya, Adit dan Miko datang dengan
mobilnya. Namun mobil mereka menghalangi gerbang rumah
Thena.
Yaaahh mereka lagi! Rajin amat sih kesini! Gerutu
Thena.
Eh, jangan parkir di situ dong! Mobil gue mau keluar
nih! Yeee nggak tau aturan banget sih! Ujar Thena pada Adit
dan Miko.
Eh, bisa nggak sih lo ngomong baik-baik! Lo jaga tuh
mulut lo!!! Sekarang siapa yang nggak punya aturan? Ha? Ujar
Adit yang mulai darah tinggi.
Udah Dit, sabar! Miko pun menahan Adit.
Ya abisnya dia nyolot!
Lo tuh bawel banget ya!!! Minggirin mobil lo sekarang!!!
Ujar Thena.
Eh, ada apaan sih ribut-ribut? Ujar Iwan yang keluar dari
dalam rumahnya.
Eh mas, bilangin tuh ama temen-temen lo yang nggak
punya aturan itu! Suruh mereka minggirin mobilnya!!
Lo tuh. Adit mengepalkan tangannya.
Udah Dit! Jangan memperpanjang masalah deh! Udah,
biar gue yang mindahin mobilnya. Ujar Miko.
Ayo Dit, masuk! Ajak Iwan. Adit pun menurut. Setelah
memindahkan mobilnya, Miko juga ikut masuk ke dalam rumah
Iwan. Sedangkan Thena mencoba menyalakan mesin mobilnya,
namun mesin mobilnya tidak juga mau menyala.
Aaahhh!!! Sialan!!! Kenapa lagi nih mobil! Pake mogok
segala! Gerutu Thena. Akhirnya Thena menyerah dan kembali
masuk ke dalam rumahnya.
Lho, Then, kok belum berangkat? Tanya Iwan.
Mobil gue mogok.
Buahahahah!!! Kualat kan lo! Adit tertawa. Thena
cemberut. Namun ia tak menggubris Adit.
Gue mau telepon taxi.
Perlu gue telponin?
Nggak usah. Gue bisa telepon sendiri.
Eh, nggak usah panggil Taxi, Then. Biar gue aja yang
nganterin lo, ya! Ujar Miko.
Nggak usah! Mendingan gue naek taxi aja!
Daripada lo naek taxi, kan buang-buang duit. Sekolahan lo
kan juga jauh. Lebih baik gue anterin aja! Ujar Miko. Thena
sebenarnya memang sedang berhemat untuk bisa membeli gitar
yang sudah lama diincarnya. Ia mulai mempertimbangkan
tawaran Miko.
Ya udah deh! Terserah lo! Ujar Thena angkuh.
Oke! Ujar Miko.
Mik, makasih ya. Sorry banget, jadi ngerepotin. Ujar
Iwan.
Nggak papa, santai aja, Wan!
Anna ikut yah! Ujar Anna memanja.
Nggak ah! Ujar Miko menggoda.
Aaahh ikuut. Anna terus merengek.
Nggak aah..
Aaahh
Hahaha.. Miko, Adit dan Iwan tertawa.
Hellloowww. Lama banget? Telat nih gue!! Gerutu
Thena.
Kak Thena bawel! Ujar Anna meledek Thena. Miko yang
menggendong Anna tertawa terbahak-bahak.
***

Dengan terpaksa, Thena akhirnya mau diantar ke sekolah
oleh Miko. Ia duduk di kursi belakang mobil. Tidak ada
percakapan di antara mereka. Miko hanya terus bercanda dengan
Anna yang duduk di kursi depan. Thena heran, kenapa Anna
bisa sangat dekat dengan Miko. Karena yang ia tau, Anna tidak
gampang akrab dengan orang asing yang baru di kenalnya.
Keliatannya, lo udah akrab banget ama adek gue! Ujar
Thena yang masih heran melihat kedekatan Miko dengan adik
perempuannya itu.
Iya, selama ini, kalo Iwan show dia sering bawa Anna ke
tempat show kita. Dia juga sering bawa Anna main-main ke
basecamp kita. Jadi gue ama anak-anak emang udah deket sama
Anna. Ya, kadang-kadang Iwan kasian juga sama Anna. Karena
nggak seharusnya Anna ikut dia kerja. Tapi mau gimana lagi, di
rumah juga nggak ada yang mau jagain Anna, kan? Ujar Miko.
Thena memandang Miko aneh.
Lo nyindir gue, ya? Ujar Thena yang merasa tersindir.
Gue nggak nyindir. Gue ngomong apa adanya, kok.
Gue bukannya nggak mau jagain adek gue. Tapi Anna
emang lebih deket sama mas Iwan! Jadi, buat apa gue urusin
dia? Toh dia udah diurusin ama mas Iwan!
Lo cemburu ya, karena Anna lebih deket sama Iwan?
Seharusnya kan, kalian berdua kerja sama untuk ngurusin Anna.
Lagian lo kenapa sih, kok kayanya benci banget ama kakak lo
sendiri?
Dia bukan kakak gue. Dia Cuma anak angkat!
Iya gue tau. Tapi menurut pandangan gue, sebagai kakak
angkat, Iwan itu kakak yang baik.
Apanya yang baik? Dia itu udah bikin papa sama mama
gue meninggal!
Itu bukan salah Iwan, Then. Itu namanya takdir!
Pokoknya gue benci sama dia!
Tapi Then, Iwan kan
Lo bisa diem nggak? Atau lo turunin gue disin aja. Gue
bisa naek taxi sendiri, kok!
Eeehh.. iya deh iya, gue diem. Galak banget sih! Ujar
Miko.
***
Tok tok.. tok Iwan mengetuk pintu kamar Thena.
Masuk. Ujar Thena.
Then, di bawah ada temen-temen gue tuh, lagi makan
malem. Kita makan sama-sama yuk! Ujar Iwan.
Gue nggak laper, mas.
Tapi lo kan belum makan malem, Then. Nanti lo sakit
lagi.
Gue bilang gue nggak laper, mas! Udahlah, lo aja sana
yang makan!
Then, lo harus makan. Gue nggak mau lo sakit.
Iiihh cukup ya mas!!! Thena membanting buku yang
sedang di pegangnya ke lantai.
Cukup mas! Gue udah muak sama lo! Mulai sekarang lo
nggak usah ngatur-ngatur hidup gue! Lo itu bukan siapa-siapa
gue!!! Gue bisa ngurusin hidup gue sendiri!!! Ngerti lo??
Sekarang lo keluar dari kamar gue!!!
Thena, tapi gue.
Cukuupp!!! Gue udah bener-bener muak sama lo!!!
Keluar lo sekarang dari kamar gue!!! Keluaaarr!! Thena
mendorong tubuh Iwan hingga Iwan terjatuh ke lantai dan
perutnya membentur ujung meja. Iwan roboh dan merintih
kesakitan. Thena terkejut melihat Iwan yang kesakitan.
Ya tuhan!! Iwan!!! Adit yang melihat kejadian itu
langsung berlari menghampiri Iwan.
Aaaagghhhh. Iwan merintih kesakitan.
THENA!! LO GILA YA? LO APA-APAAN SIH PAKE
DORONG-DORONG IWAN SEGALA??
Gue Gue nggak sengaja.. gue
DASAR CEWEK NGGAK TAU DIRI, LO!! ASAL LO
TAU YA! KALO NGGAK ADA IWAN, LO TUH UDAH
MATI, THEN! UDAH MATI!!! Ujar Adit. Thena terkejut.
Maksud lo apa? Ujar Thena.
D-Dit Iwan menggelengkan kepalanya. Ia menahan
Adit agar tidak mengatakan yang sebenarnya pada Thena.
Sampai kapan, Wan? Sampai kapan??? Sampai kapan lo
mau nyembunyiin ini semua?
Gue Gue mohon Gue mohon jangan Dit
Dia harus tau, Wan!!! Heh Then, asal lo tau ya!!! Ginjal
yang ada di tubuh lo sekarang itu adalah ginjal Iwan!!! Dia
ngelakuin itu buat nyelametin nyawa lo. Tapi liat apa yang lo
lakuin ke dia sekarang?? Lo bener-bener nggak tau diri,
Then!!! Thena terkejut mendengar penuturan Adit. Ia seperti
tersambar petir hebat. Ia langsung lemas. Kakinya sudah tidak
kuat lagi menopang tubuhnya. Thena menangis tersedu. Adit
terlihat tidak peduli dengan Thena. Ia langsung buru-buru
membawa Iwan ke rumah sakit.
***
Di ruang tunggu rumah sakit, Thena terus menangis. Ia
merasa menyesal. Ia merasa sudah sangat jahat pada Iwan. Adit
pun terlihat masih geram dengan Thena. Ia menatap Thena
nanar.
Puas lo sekarang? Puas??? Puas lo udah nyakitin Iwan??
Ha?? Ujar Adit geram. Thena tak menggubris Adit. Ia terus
menangis menyesali perbuatannya.
Adit, udah Dit.. sabar ini rumah sakit. Lo kaya gini juga
nggak akan nyelesain apapun. Ujar Abo.
Aaahh!!! Adit berteriak geram. Ia lalu kembali duduk
sambil mengusap wajahnya dengan kedua tanggannya.
Mas Iwan mas Iwan maafin gue mas maafin gue..
Isak Thena. Si kecil Anna yang sedang berada di pangkuan
Miko mengusap air mata Thena dengan tangan mungilnya.
Thena menatap adik kecilnya. Ia semakin tersedu.
Anna Anna maafin kakak sayang Thena memeluk
Anna.
Mas Iwan nggak papa kok. Jangan nangis ya Ujar
Anna.
Lo sabar ya, Iwan akan baik-baik aja. Ujar Miko.
Makasih ya, Mik. Maafin gue juga, Mik, karena gue suka
kasar sama lo.
Nggak papa. Lo nggak salah kok. Keadaan yang bikin lo
kaya gini, Then. Thena mengangguk.
***
Dokter mengatakan Iwan harus segera mendapat donor
ginjal baru. Karena satu ginjal yang ada di tubuhnya sudah
mulai tidak berfungsi dengan baik. Thena sangat ingin
mendonorkan ginjalnya pada Iwan untuk menebus segala
kesalahannya. Namun, karena ia mempunyai riwayat penyakit
ginjal, ia tidak bisa mendonorkan ginjalnya pada Iwan. Thena
kalap. Ia tak tau harus berbuat apa.
Mas Iwan Thena menemui Iwan di ruang
perawatannya. Ia menggenggam tangan Iwan.
Maafin gue, mas. Maafin gue
Nggak ada yang perlu di maafin, Then. Gue nggak marah
kok sama lo. Sebagai kakak, udah tugas gue buat bikin lo dan
Anna seneng. Gue seneng lo udah mau nyentuh gue lagi Then.
Iwan tersenyum dan membelai rambut Thena.
Ya tuhaann.. mas, kenapa sih lo baik banget ama gue?
Padahal dari kecil, gue kan udah kurang ajar ama lo, mas. Dari
kecil, gue udah jahatin lo terus, mas. Kenapa sih lo masih mau
nolongin gue? Kenapa lo rela donorin ginjal lo buat adek lo
yang nggak tau diri ini?? Kenapa mas??
Karena kita saudara, Then. Karena lo adek gue. Dan gue
sayang sama lo. Gue nggak mau liat lo menderita, Then. Gue
pengen lo sembuh. Lo jangan pernah ngomong kalo lo tuh adek
yang nggak tau diri, Then. Lo itu adek gue yang baik. Keadaan
yang bikin lo jadi bersikap kaya gitu. Gue ikhlas donorin ginjal
gue buat lo, Then. Gue bener-bener ikhlas. Ucap Iwan.
Gue bener-bener minta maaf, mas. Gue nyesel banget.
Gue udah jahat banget ama lo, mas. Tangis Thena semakin
menjadi-jadi.
Ssstt udah Then. Udah ah, jangan nangis lagi. Lo tenang
ya, gue akan baik-baik aja.
Tiba-tiba, dokter datang dan mengabarkan bahwa donor
ginjal untuk Iwan sudah ada. Dan Iwan bisa segera di operasi.
Thena dan Iwan merasa lega mendengar kabar itu. Tanpa
berpikir lama lagi, mereka langsung menyetujui operasi itu.
***
Operasi Iwan pun akhirnya berjalan lancar. Operasinya
berhasil dan dokter sudah memastikan bahwa Iwan akan baik-
baik saja. Namun, Thena, Assel, Adit dan Abo sangat terkejut
karena ternyata yang mendonorkan ginjal untuk Iwan adalah
Miko.
Kenapa, Mik? Ujar Thena.
Kenapa apa? Ujar Miko yang masih terbaring di ruang
perawatannya.
Kenapa lo lakuin ini? Kenapa lo donorin ginjal lo buat
mas Iwan? Miko tertawa renyah.
Then, di dunia ini gue udah nggak punya siapa-siapa lagi.
Tapi berkat Iwan, gue bisa masuk ke dunia musik ini dan gue
merasa punya keluarga baru. Seperti layaknya Iwan yang rela
donorin ginjalnya buat lo walaupun lo bukan adik kandungnya,
begitupun juga dengan gue. Walaupun gue dan Iwan nggak ada
hubungan darah, tapi Iwan itu adalah saudara gue. Gue udah
anggep dia kaya kakak gue sendiri. Jadi, gue rela bantu saudara
gue sendiri. Lagian, menurut dokter, ginjal gue sehat-sehat aja,
kok. Jadi walaupun gue hidup dengan satu ginjal pun, itu nggak
akan jadi masalah.
Makasih banget ya, Mik. Ujar Iwan yang tiba-tiba datang
bersama Adit, Abo dan Assel. Iwan yang masih duduk di kursi
rodanya itu tersenyum lembut pada Miko.
Iwan, gimana keadaan lo? Ujar Miko.
Berkat lo, gue udah sehat. Lo sendiri?
Gue juga sehat-sehat aja kok!
Makasih banget ya, Mik. Lo seharusnya nggak berbuat
kaya gini.
Wan, lo kan saudara gue. Gue rela kok bantu lo. Lagipula,
gue nggak akan biarin lo ninggalin pacar kecil gue, Anna, dan
juga Thena. Mereka masih butuh lo, Wan. Mereka udah
kehilangan kedua orang tua mereka, dan gue nggak akan biarin
mereka kehilangan lo juga. Ujar Miko. Iwan mulai berkaca-
kaca.
Makasih.. Ujar Iwan lirih.
Iya, sama-sama.. Miko tersenyum.
***
Jadi, lo udah baikan ama Iwan? Ujar Miko.
Udah Ujar Thena tersenyum.
Udah minta maaf ke musuh bebuyutan lo, Adit?
Hahaha Udah
Ke Abo dan Assel?
Udah juga
Bagus. Emm Then
Ya?
Gue gue suka sama lo.
Ha?
Emm gue, suka sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?
Ujar Miko.
Emm.. nggak mau ah! Ujar Thena. Wajahnya mulai
memerah.
Lho? Emang kenapa?
Lo kan udah punya pacar.
Ha? Sok tau lo! Siapa?
Anna.
Hahahaha lo bisa aja! Eh, tapi gue serius nih. Mau
nggak?
Gimana ya?? Emmm iya deh iya! Thena tersenyum
malu-malu.
Beneran???
Iya.. gue, juga suka sama lo!
Yeeeaaaaaa!!! Makasih ya Then makasiiihh banget.
Ujar Miko kegirangan. Ia memeluk Thena.
Waahh.. lo tega banget, lo Mik! Ujar Iwan yang tiba-tiba
datang menggendong Anna bersama Abo dan Assel.
Tega gimana?
Lo udah ngeduain Anna! Ujar Iwan menggoda.
Hahahaha sini sini sayaanngg Miko menggendong
Anna.
An, kak Miko boleh nggak jadi pacarnya kak Thena?
Ujar Abo.
Yeee.. lo Bo. Anak kecil mana mungkin ngerti di tanyain
yang begituan? Ujar Assel. Tapi tanpa di duga, Anna
menganggukkan kepalanya.
Waaahh Anna setuju tuh! Hahahaha
Hahahaha gue udah dapet restu, nih! Ujar Miko.
Semuanya tertawa.
Wan, gue minta ijin jadi pacarnya adek lo, ya?
Iya Mik. Yang penting lo jagain adek gue baik-baik. Ya?
Pasti, bro! Miko dan Iwan berpelukan.
Kisah mereka berakhir bahagia seperti ini. Semua keadaan
sudah jauh lebih baik. Walaupun mereka tidak ada hubungan
darah satu sama lain, namun mereka sudah sangat dekat
selayaknya saudara. Thena yang angkuh telah berubah menjadi
Thena yang ceria dan menyenangkan. Sekarang, ia tidak lagi
mempedulikan status Iwan. Yang ia tau sekarang, ia mempunyai
kakak yang sangat amat menyayanginya. Dan yang lebih
beruntung lagi, ia mendapatkan seorang kekasih yang tampan,
penyayang, rela berkorban dan sangat bertanggung jawab.
Walaupun tidak ada orang tua yang mendampingi mereka,
namun hidup mereka terasa sangat lengkap. Mereka semua
meyakini satu hal. Bahwa di dunia ini, tidak ada masalah yang
tidak bisa mereka selesaikan, selagi mereka mau saling berbagi,
saling menyemangati, saling menjaga, dan saling menyayangi
satu sama lain. Karena itulah, yang dinamakan
PERSAUDARAAN.

THE END