Anda di halaman 1dari 18

Finite Element Analysis

By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 1


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Illahi Rabbi atas berkat, rahmat, dan
karunia-Nya sehingga laporan mengenai analisis kondisi pembebanan suatu batang
kantilever menggunakan metode elemen hingga ini selesai disusun. Sesuai dengan
judulnya, laporan ini bermaksud memberikan pedoman dalam analisis tegangan-
regangan dengan menggunakan Metoda Elemen Hingga (Finite Element Methode).

Penyelesaian dengan metoda elemen hingga tersebut dilakukan dengan dua cara,
yakni perhitungan secara manual dan dengan bantuan software Msc.PATRAN-
NASTRAN 2005. Kedua hasil perhitungan tersebut akan dianalisis dan dibandingkan
serta diperkirakan apa saja fenomena yang akan terjadi.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Satryo Soemantri
Brojonegoro yang telah memberikan bimbingan sehingga laporan ini dapat
diselesaikan dengan baik. Akan tetapi, tentu saja laporan ini masih banyak
kekurangannya karena keterbatasan yang dimiliki penulis. Saran dan kritik yang
membangun sangat kami harapkan demi kebaikan bersama.



Bandung, Desember 2006


Penulis








Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 2
BAB I
PENDAHULUAN



I. Latar Belakang
Bidang keteknikan merupakan bidang yang sarat dengan analisis suatu masalah
secara matematis. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk memberikan suatu
gambaran mengenai suatu fenomena yang dihadapi. Hasil analisis tersebut akan
dijadikan sebagai acuan untuk proses optimasi perancangan, produksi, atau untuk
memperkirakan fenomena yang akan terjadi.

Teknik mesin merupakan salah satu departemen yang berkecimpung di bidang
keteknikan tersebut. Beberapa mata kuliah seperti Mekanika Kekuatan Material,
Perpindahan Panas, Termodinamika Teknik, Getaran, dan lain sebagainya
menuntut analisis matematik yang cukup dalam.

Analisis matematik yang dimaksud bisa dilakukan secara analitik (manual atau
perhitungan dengan metoda konvensional berdasarkan data-data teknis) maupun
dengan penggunaan software. Kedua metoda tersebut memiliki keterbatasan,
kelebihan, dan kekurangan masing-masing.

Penyelesaian secara analitis disamping memiliki keunggulan yaitu mendidik suatu
mahasiswa untuk memiliki daya analitis yang baik juga memiliki kekurangan.
Kekurangannya adalah keterbatasan orang untuk menganalisis hal yang kompleks
seperti struktur riil. Anggapan yang terlalu mudah untuk menyelesaikan masalah
terkadang akan mendapatkan hasil pendekatan yang jauh dari nilai sebenarnya.
Untuk keperluan itu diperkenalkanlah suatu metoda yang dikenal dengan nama
Metoda Elemen Hingga yang mendefinisikan suatu struktur (baik kaitannya
dengan perancangan maupun konversi energi) menjadi elemen-elemen kecil.
Elemen- elemen kecil tersebut selanjutnya akan didefinisikan secara matematis.
Untuk beberapa kasus penyelesaikan bisa dilakukan secara manual, tetapi untuk
hal lain penyelesaian harus dilakukan dengan bantuan software.
Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 3
Pada laporan ini akan dibahas mengenai pembebanan suatu struktur kantilever
yang dilakukan dengan metoda elemen hingga. Penyelesaian dengan metoda
elemen hingga tersebut akan dikerjakan baik oleh software maupun dengan
perhitungan manual. Hasil perhitungan dari kedua metoda tersebut akan
dibandingkan dan diberikan analisisnya.

II. Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan ini diantaranya :
- Untuk memenuhi salah satu tugas kuliah Metoda Elemen Hingga
- Untuk mengamati fenomena pembebanan yang dialami suatu struktur yang
kita definisikan karakteristiknya (properties)
- Membandingkan penggunaan metoda elemen hingga yang dikerjakan
secara manual dan dengan penggunaan software.

III. Ruang Lingkup Masalah
Masalah yang akan dibahas pada laporan ini akan dibatasi pada analisis sebuah
struktur balok yang bermaterial paduan tembaga (copper alloy) dengan dimensi
60 cm x 10 cm x 10 cm (p x l x t). Variabel yang akan dicari dan diperbandingkan
diantaranya :
- Lokasi dan besarya tegangan Von Misses terbesar yang terjadi pada balok
tersebut
- Lokasi dan besarnya defleksi vertical terbesar yang terjadi pada balok
- Tampilan distribusi tegangan pada balok dan tampilan defleksi balok
secara keseluruhan









Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 4
BAB II
DEFINISI PERSOALAN

I. Deskripsi Masalah
Sebuah batang kantilever dengan dimensi 60 cm x 10 cm x 10 cm (p x l x t)
terbuat dari paduan tembaga dijepit pada salah ujungnya dan pada ujung yang lain
mendapatkan beban vertikal yang terdistribusi merata, seperti gambar berikut:


Gambar 2.1 kondisi pembebanan batang kantilever


II. Perangkat Lunak yang Digunakan
Untuk membuat model batang kantilever sekaligus mendefinisikan kondisi
pembebanannya digunakan software Msc.PATRAN-NASTRAN 2005 (Ilegal
Edition) yang merupakan salah satu software CAE (Computer-Aided Engineering)
yang telah banyak dikenal saat ini.
Kelebihan dari software CAE ini adalah :
- waktu proses meshing yang relatif cepat untuk jumlah element dan titik
nodal yang banyak (berbeda dengan Msc.NASTRAN for Windows 4.5)
50 / F N cm =
Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 5
- mudah untuk mendefinisikan posisi pembebanan (Force, Displacement,
Pressure, dll) baik pada Geometry (face, edge, solid) maupun pada FEM
(nodal)
- banyaknya jenis pembebanan maupun Solution Type yang bisa dipilih dan
diaplikasikan.

- software ini banyak dipakai di industri (misal.PT Dirgantara Indonesia,
Badan Antariksa Amerika-NASA, dll) yang membuktikan keakuratannya.
- dll.
Disamping berbagai kelebihannya, software ini juga memiliki kekurangan, antara
lain; tampilan (interface) yang kurang user-friendly, sulit untuk memodelkan
bentuk yang rumit, aplikasi undo hanya bisa satu tahap.

Pensimulasian dilakukan dengan cara pemberian suatu lingkungan virtual yakni
pemberian beban (gaya) terdistribusi merata (50 N/cm) di satu ujung, dan
pencekaman di ujung lainnya (displacement= 0).

Skenario yang dapat dilakukan adalah menggambarkan satu kesatuan simulasi
engineering. Pensimulasian dilakukan dengan menetapkan beberapa faktor yang
telah didefinisikan seperti sifat material (baik fisik, kimia, maupun mekanik),
reaksi kontak antara dua buah struktur, dan tipe serta besar kondisi pembebanan.

Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 6
Kekonvergenan (convergence) dan alert-criteria (pada kondisi kritis) untuk hasil
pensimulasian bisa didefinisikan dan bisa dijadikan sebagai pemandu untuk
mengevaluasi kualitas dari hasil perhitungan dan sebagai acuan apakah harga-
harga hasil pendefinisian sesuai dengan harga- harga desain yang dibutuhkan:

Solusi historis (solution history) memberikan suatu taksiran mengenai
kualitas desain yang dilakukan dengan memeriksa sejauh mana perubahan
harga hasil simulasi sepanjang iterasi yang dilakukan. Convergence-criteria
akan memberikan batas spesifik dari perubahan yang diperbolehkan pada saat
iterasi dilakukan. Hasil penunjukkan yang sesuai dengan kriteria tersebut
disebut menjadi konvergen
Alert-criteria mendefinisikan range dari hasil pensimulasian yang
diperbolehkan. Alert-range biasanya menggambarkan aspek dari spesifikasi
desain yang diketahui sebelumnya.



















Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 7
BAB III
PEMODELAN

I. Meshing
Pada bagian ini akan didefinisikan karakteristik meshing yang digunakan:
Definisi Tampilan pada software CAE
- Bentuk Elemen
Bentuk elemen yang digunakan adalah
elemen brick (hexahedron solid
element).

- Ukuran dan Banyak Elemen
Global Edge Length : 63.4477
Banyak Elemen : 48.001 buah
elemen

- Jumlah Titik Nodal
Banyak Titik Nodal : 53.362 buah titik
nodal


Gambar 3.1 meshing batang kantilever
Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 8
II. Pembebanan
Beban yang diberikan terdistribusi merata di sepanjang garis rusuk lebar
(w=10cm) batang kantilever. Lebar batang tersebut dibagi menjadi dua puluh
buah elemen brick, sehingga titik nodalnya sebanyak 21 buah.

Kemudian, beban terdistribusi (50 N/cm) di tempatkan pada titik-titik nodal
tersebut secara merata, dengan ketentuan sebagai berikut:
- J ika dianggap sebagai beban terpusat, maka besar gayanya:
F=(50 N/cm)(10 cm) =500 N.
- Pada titik-titik nodal sebelah dalam (sebanyak 19 buah) diberikan gaya pada
masing-masing titik nodal sebesar 25 N (arah sumbu-y negatif).
- Pada titik-titik nodal paling pinggir (ada 2 buah) diberikan gaya pada
masing-masing titik nodal sebesar 12.5 N (arah sumbu-y negatif).
Sehingga jumlah keseluruhan gaya pada titik-titik nodal tersebut adalah 500 N.
Perhatikan gambar di bawah ini.







Gambar 3.2 beban 50 N/cm di sepanjang ujung bebas batang
Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 9
III. Kondisi Batas
Pada ujung batang kantilever yang di jepit, kondisi batas yang bisa digunakan
adalah menetapkan tidak adanya pergerakan (displacement= 0) baik arah translasi
maupun rotasi dalam arah sumbu X, Y, dan Z.

Area aplikasi penjepitan (displacement =0) adalah permukaan (solid face) salah
satu ujung batang kantilever.



Gambar 3.3 kondisi batang kantilever




50 / F N cm =
Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 10
IV. Material yang Digunakan
Material yang digunakan adalah paduan tembaga yang memiliki sifat sebagai
berikut:

Tabel 3.1 Properties of Copper Alloy
Properties Value
Compressive Yield Strength
Pa
8
10 8 . 2
Density
3
8300 m kg
Poissons Ratio 0.34
Tensile Yield Strength
Pa
8
10 8 . 2
Tensile Ultimate Strength
Pa
8
10 3 . 4
Youngs Modulus
Pa
11
10 1 . 1
Thermal Expansion
C

1 10 8 . 1
5

Specific Heat
C kg J

. 385
Thermal Conductivity
C m W

. 401
Relative Permeability 1.0
Resistivity
m Ohm. 10 72 . 1
8











Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 11
BAB IV
METODA PERHITUNGAN

Secara manual, batang kantilever di atas dapat dimodelkan sebagai balok lentur
(beam) sebagai berikut:

Matriks Kekakuan Balok adalah | |
2 2
2 2
12 6 12 6
6 4 6 2
12 6 12 6
6 2 6 4
l l
l l l l
k
l l
l l l l
(
(

(
=
(
(



1 1
2 2
1 1
3
2 2
2 2
2 2
12 6 12 6
6 4 6 2
12 6 12 6
6 2 6 4
Q v l l
M l l l l
EI
Q v l l l
M l l l l
u
u
| | | | (
| | (

| | (
=
| | (
| | (
| |

\ . \ .



Dengan material balok adalah : Tembaga dengan properties berikut:
11 2
1.1 10 N/m E =
( )
3
3
6 4
0.1 0.1
8.33 10
12 12
m m
bh
I m

= = =
Untuk: l= 0.6m
( )
11 2 6 4
6
3 3
1.1 10 / 8.33 10
4.24 10 /
0.6
EI N m m
N m
l
m


= =
1 1
2 2
1 1 6
2 2
2 2
2 2
12 6 12 6
6 4 6 2
4.24 10 /
12 6 12 6
6 2 6 4
Q v l l
M l l l l
N m
Q v l l
M l l l l
u
u
| | | | (
| | (

| | (
=
| | (
| | (
| |

\ . \ .


Kondisi Batas dan Gaya Luar:
1
2
2
1
1
0
500
0
0
0
Q
Q N
M
v
u
=
=
=
=
=

1 1
, Q v
2 2
, Q v
1 1
, M u
2 2
, M u
1 2
Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 12
Maka didapat :
1
2 2
1 6
2
2 2
2
0 12 6 12 6
0 6 4 6 2
4.24 10 /
500 12 6 12 6
0 6 2 6 4
Q l l
M l l l l
N m
v l l
l l l l u
| | | | (
| | (

| | (
=
| | (
| | (
| |

\ . \ .

Reduksi Matriks :
2 6
2
2
500 12 6
4.24 10 /
0 6 4
v l
N m
l l u
| | | | (
=
| | (

\ . \ .

Didapatkan 2 persamaan sebagai berikut :
( )
6
2 2
6 2
2 2
500 4.24 10 / 12 3.6
0 4,24 10 / ( 3.6 1.44 )
N N m v m
Nm N m m v m
u
u
=
= +

Dari 2 persamaan maka didapat bahwa:
5
2
5
2
1.09 10
2.73 10
v m
rad u

=
=


J ika digunakan asumsi untuk batang kantilever dengan beban terpusat (point load)
sebesar 500 N ( 50 / 10 N cm cm = ), maka berlaku:

3
max
1
3
PL
v
EI
= (defleksi maksimum)
Sehingga,
3
5
max 11 6 4
1 500 .(0.6 )
3.93 10
3 (1.1 10 )(8.33 10 )
N m
v m
Pa m

= =



J adi, diperoleh bahwa besarnya defleksi vertikal terbesar adalah
5
3.93 10 m

=
Posisi defleksi maksimum tersebut terjadi pada jarak 500mm dari ujung beam yang
dijepit (yakni pada garis tepi ujung bebas dari beam).








Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 13
BAB V
HASIL PERHITUNGAN

Solusi yang telah diperoleh memuat hasil perhitungan dari respon model (beam)
dengan kondisi pembebanan yang sudah didefinisikan seperti dalam pembahasan
sebelumnya.
Kami juga menggunakan asumsi bahwa pada temperatur referensi (temperatur kamar
sekitar 25
o
C) tidak terjadi regangan yang diakibatkan oleh ekspansi termal.

Tabel 5.1 Hasil perhitungan Msc.PATRAN-NASTRAN 2005

Result Stress Tensor
(von Mises)
Deformations
(displacements)
Max.value
(
2
/ N m )
6
3.05 10
5
4.02 10


Max.position
(at Nodal)
52962 52962

Min.value (
2
/ N m )
3
2.08 10
0
Min.position
(at Nodal)
52921 1
























Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 14
BAB VI
TAMPILAN KESELURUHAN

I. Lokasi, Besar, dan Distribusi Tegangan Von Misses yang Terjadi pada
Batang



Gambar 6.1 Distribusi Tegangan Von-Misses














Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 15
II. Lokasi, Besar, dan Distribusi Defleksi yang Terjadi pada Batang



Gambar 6.2 Distribusi defleksi batang kantilever


Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 16

























Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 17
BAB VII
ANALISIS

Dari dua metode perhitungan yang telah dilakukan, secara manual (rumus teoritik)
dan melalui perhitungan Msc.PATRAN-NASTRAN, didapatkan perbandingan besar
defleksi maksimum antara keduanya sebagai berikut.
Comparison ANALYTIC
(m)
PATRAN-NASTRAN
(m)

(%)
Maximum
Displacement
3.93 x 10
-5
4.02 x 10
-5
2.3

Dapat dilihat bahwa perbedaan besar defleksi maksimum antara perhitungan analitis
dan perhitungan software sebesar 2.3 %. Angka tersebut menunjukkan nilai kesalahan
(error) yang kecil dan masih dapat ditolerir.
Error tersebut dapat terjadi karena:
1) Pada perhitungan manual, asumsi batang kantilever yang digunakan adalah
analisis 2-Dimensi, sedangkan pada Msc.PATRAN-NASTRAN
menggunakan asumsi analisis 3-Dimensi.
2) J umlah elemen pada perhitungan manual adalah 1 elemen dengan 2 titik
nodal, sedangkan pada ANSYS 10 Workbench terdapat 48.001 elemen
dengan 53.362 titik nodal.
3) Keterbatasan kemampuan software FEA yang digunakan.

Secara teori, tegangan maksimum pada batang kantilever (dengan kondisi
pembebanan seperti di atas) akan terjadi pada daerah di sekitar ujung jepitnya. Karena
arah gaya ke bawah, maka elemen bagian bawah yang dijepit mengalami gaya tekan
sedangkan bagaian atasnya akan mengalami gaya tarik.

Pada permodelan dengan Msc.PATRAN-NASTRAN, tegangan maksimum pada
batang kantilever tersebut justru terjadi pada ujung bebas yang diberi gaya (Nodal
52.962). Sedangkan di daerah sekitar tumpuan jepit hanya terjadi kondisi tegangan
yang tingi, tetapi bukan nilai tegangan maksimum (lihat dalam tampilan keseluruhan).

Finite Element Analysis
By Farraz Sarmento Salim. Email: farraz02@gmail.com 18
Menurut kami, hal ini terjadi karena material yang digunakan pada permodelan ini
tidak cukup tangguh untuk meneruskan tegangan sampai ke daerah di sekitar tumpuan
sehingga terjadi deformasi lokal di sekitar daerah pembebanan yang menyebabkan
tegangan maksimum terjadi pada daerah di sekitar pembebanan ini (ujung bebas).






BAB VIII
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari permodelan dengan menggunakan software
Msc.PATRAN-NASTRAN untuk batang kantilever paduan tembaga adalah:
1) Didapatkan:
a. Tegangan tarik maksimum (max. Stress Tensor) yang terjadi pada
batang kantilever adalah 3,05 Mpa dan terletak pada ujung bebas yang
di bebani. Lokasi tegangan maksimum sendiri tidak terletak di
sepanjang garis pembebanan, tetapi pada suatu titik nodal saja.
b. Defleksi maksimum yang terjadi pada batang kantilever paduan
tembaga adalah 4,02 x 10
-5
m dan terletak pada ujung bebas batang
kantilever.
2) Hasil perhitungan Msc.PATRAN-NASTRAN lebih representatif daripada
hasil perhitungan manual karena parameter-parameter yang digunakan lebih
lengkap dan detail seperti jumlah elemen yang beragam dan lebih banyak.
3) Hasil tampilan kondisi pembebanan batang kantilever dari Msc.PATRAN-
NASTRAN mampu mengestimasi daerah-daearah dengan kondisi tegangan
yang tinggi yang tidak dapat diketahui melalui perhitungan manual (analitis).

Beri Nilai