Anda di halaman 1dari 139

IKKSU

Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara


KONFLIK ISRAEL PALESTINA

Oleh : Tommy M J Sihotang

Pengantar

Tommy SihotangKonflik antara Israel dan Palestina yang kembali terjadi saat ini. Saya mencoba
menyunting dari Wikipediadotorg sebagai sumber utama, serta sebahagian kecil dari
mediaindonesiadotcom, kompasdotcom serta ciputradotwordpressdotcom. Disini secara detail akan
dipaparkan bagaimana konflik ini bermula. Dengan membaca dan memahami sejarahnya, maka kita
akan diberi pemahaman dan pandangan sehingga kita semua tahu apa dan bagaimana sebenarnya
konflik itu terjadi. Selamat membaca.

Konflik Israel-Palestina, bagian dari konflik Arab-Israel[1] yang lebih luas, adalah konflik yang
berlanjut antara bangsa Israel dan bangsa Palestina.

Konflik Arab-Israel[1]secara kasar terjadi selama satu abad, adalah konflik politik dan peperangan
terbuka. Konflik ini terjadi karena didirikannya gerakan Zionis[a] yang bertujuan untuk mendirikan
negara Israel. Konflik antara negara-negara Arab dan Israel masih berlangsung sampai sekarang.

Zionisme[a] adalah sebuah gerakan kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi
ke Zion, bukit di mana kota Yerusalem berdiri. Gerakan yang muncul di abad ke-19 ini ingin
mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah yang kala itu dikuasai Kekaisaran Ottoman (Khalifah
Ustmaniah) Turki.

Zionisme merupakan gerakan Yahudi Internasional. Istilah zionis pertama kali dipakai oleh perintis
kebudayaan Yahudi, Mathias Acher (1864-1937), dan gerakan ini diorganisasi oleh beberapa tokoh
Yahudi antara lain Dr. Theodor Herzl dan Dr. Chaim Weizmann. Dr. Theodor Herzl menyusun doktrin
Zionisme sejak 1882 yang kemudian disistematisasikan dalam bukunya Der Judenstaat (Negara
Yahudi) (1896). Doktrin ini dikonkritkan melalui Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss,
tahun 1897. Setelah berdirinya negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, maka tujuan kaum zionis
berubah menjadi pembela negara baru ini.

Rapat Dewan Umum PBB mengeluarkan Resolusi 3379 tanggal 10 Desember 1975, yang
menyamakan Zionisme dengan diskriminasi rasial. Akan tetapi pada 16 Desember 1991, resolusi
tersebut dicabut kembali.

Konflik Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-olah seluruh
bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi[1] yang berkebangsaan Israel) memiliki satu
pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. Di
kedua komunitas terdapat orang-orang dan kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran
teritorial total dari komunitas yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua Negara, dan sebagian
lagi menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekular yang mencakup wilayah Israel masa
kini, Jalur Gaza[2], Tepi Barat[3], dan Yerusalem Timur.

Yahudi[1] ialah sebuah istilah yang sedikit rancu sebab bisa merujuk kepada sebuah agama atau suku
bangsa. Jika dilihat berdasarkan agama, istilah ini merujuk kepada umat agama Yahudi, tidak peduli
apakah mereka keturunan Yahudi atau tidak.

Berdasarkan etnisitas, kata ini merujuk kepada keturunan Eber (Kejadian 10:21) atau Yakub, anak
Ishak, anak Abraham (Ibrahim) dan Sarah. Etnik Yahudi juga termasuk Yahudi yang tidak memegang
kepada agama Yahudi tetapi beridentitas Yahudi dari segi tradisi.

Agama Yahudi ialah kombinasi antara agama dan suku bangsa. Agama Yahudi dibahas lebih lanjut
dalam artikel agama Yahudi; artikel ini hanya membahas dari segi suku bangsa saja. Kepercayaan
semata-mata dalam agama Yahudi tidak menjadikan seseorang menjadi Yahudi. Di samping itu,
dengan tidak memegang kepada prinsip-prinsip agama Yahudi tidak menjadikan seorang Yahudi
kehilangan status Yahudinya. Tetapi, definisi Yahudi undang-undang kerajaan Israel tidak termasuk
Yahudi yang memeluk agama yang lain.

Jalur Gaza[2],adalah sebuah daerah kecil di sebelah barat daya Israel. Pada akhir perang Arab-Israel
di tahun 1948, daerah ini diduduki Mesir. Tetapi pada Perang Enam Hari, daerah ini ditaklukkan
Israel.Sebagian besar daerah ini dan Tepi Barat dikontrol Otoritas Nasional Palestina.Mulai tanggal
15 Agustus 2005 Israel mengundurkan diri dari Jalur Gaza. Semua pemukiman Yahudi di daerah
digusur Tentara Israel.

Tepi Barat[3] juga dikenal dengan Yudea dan Samaria adalah sebuah wilayah daratan di barat sungai
Yordan. Tepi Barat dan Jalur Gaza merupakan wilayah Palestina yang dideklarasikan pada 1988.
Sejak 1967 sebagian besar wilayah Tepi Barat diduduki Israel.

Sejak Persetujuan Oslo[1], Pemerintah Israel[2] dan Otoritas Nasional Palestina[3] secara resmi telah
bertekad untuk akhirnya tiba pada solusi dua negara. Masalah-masalah utama yang tidak
terpecahkan di antara kedua pemerintah ini adalah: status dan masa depan Tepi Barat, Jalur Gaza,
dan Yerusalem Timur yang mencakup wilayah-wilayah dari Negara Palestina yang diusulkan:

1. Keamanan Israel.

2. Keamanan Palestina.

3. Hakikat masa depan negara Palestina.

4. Nasib para pengungsi Palestina.

5. Kebijakan-kebijakan pemukiman pemerintah Israel, dan nasib para penduduk pemukiman itu.

6. Kedaulatan terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem, termasuk Bukit Bait Suci dan kompleks
Tembok (Ratapan) Barat.

Perjanjian Oslo[1]

Persetujuan Damai atau secara resmi disebut Deklarasi Prinsip-Prinsip Fasilitasi Pemerintahan
Sendiri secara sementara disetujui di Oslo, Norwegia pada 20 Agustus 1993 dan secara resmi
ditanda-tangani di Washington D.C. pada 13 September 1993 oleh Mahmud Abbas yang mewakili
PLO dan Shimon Peres yang mewakili Israel. Hal ini disaksikan oleh Warren Christopher dari Amerika
Serikat dan Andrei Kozyrev dari Rusia, di depan Presiden A.S. Bill Clinton dan Perdana Menteri Israel
Yitzhak Rabin dengan Ketua PLO Yasser Arafat.

Israel[2]

Wilayah ini dahulunya merupakan bagian dari Palestina, yang sebelumnya merupakan wilayah
Kesultanan Utsmaniyah, yang dipercayakan oleh Liga Bangsa-Bangsa (LBB) kepada Britania Raya
untuk diadministrasikan pada masa setelah Perang Dunia I sebagai sebuah wilayah mandat. Pada
tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagai penerus LBB, memutuskan untuk membagi
wilayah Mandat Britania atas Palestina, tetapi hal ini ditentang keras oleh negara-negara Timur
Tengah lainnya dan banyak negeri-negeri Muslim. Kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah
tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Sedangkan kota
Yerusalem yang dianggap suci tidak hanya oleh orang Yahudi tetapi juga orang Muslim dan Kristen
akan dijadikan kota internasional.

Israel diproklamasikan pada tanggal 14 Mei 1948 dan sehari kemudian langsung diserbu oleh tentara
dari Libanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak dan negara Arab lainnya. Tetapi Israel bisa memenangkan
peperangan ini dan malah merebut kurang lebih 70% dari luas total wilayah Mandat Britania Raya
atas Palestina. Perang ini menyebabkan banyak kaum pengungsi Palestina yang mengungsi dari
daerahnya sendiri. Tetapi di sisi lain tidak kurang pula kaum Yahudi yang diusir dari negara-negara
Arab.

Sampai sekarang Indonesia belum mengakui kedaulatan Israel. Tetapi kedaulatan Palestina diakui
meskipun daerahnya belum pasti. Mantan presiden RI Abdurrahman Wahid (1999-2001) sempat
berencana akan mengakui kedaulatan Israel dan membuka hubungan diplomatik. Berbeda dengan
Presiden RI (2004-2009), Susilo Bambang Yudhoyono, yang menyatakan tidak akan membuka
hubungan dengan Israel sebelum masalah Palestina dipecahkan dan penjajahan Israel atas Palestina
dihapuskan, sebagaimana UUD-1945.

Otoritas Nasional Palestina[3]

Otoritas Nasional Palestina -As-Sulthah al-Wathaniyyah al-Filastiniyyah bahasa Ibrani:
Harashut Hafalastinit) adalah sebuah organisasi pemerintahan sementara yang
memerintah sebagian dari Tepi Barat dan seluruh Jalur Gaza. Organisasi ini dibentuk pada 1994
setelah penandatangan Persetujuan Oslo antara PLO dengan Israel.

Otoritas Nasional Palestina saat ini dipimpin Presiden Mahmud Abbas dari faksi Fatah dan Perdana
Menteri Ismail Haniya dari faksi Hamas. Belum ada stabilitas politik karena Hamas menolak
menerima keberadaan Israel sementara Fatah siap mendiskusikan solusi dua bangsa untuk Konflik
Israel dan Palestina.

Masalah pengungsi muncul sebagai akibat dari perang Arab-Israel 1948[lihat perang Arab-Israel].
Masalah Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur muncul sebagai akibat dari Perang Enam Hari
[lihat Perang Enam Hari] pada 1967.

Selama ini telah terjadi konflik yang penuh kekerasan, dengan berbagai tingkat intensitasnya dan
konflik gagasan, tujuan, dan prinsip-prinsip yang berada di balik semuanya. Pada kedua belah pihak,
pada berbagai kesempatan, telah muncul kelompok-kelompok yang berbeda pendapat dalam
berbagai tingkatannya tentang penganjuran atau penggunaan taktik-taktik kekerasan, anti kekerasan
yang aktif, dll. Ada pula orang-orang yang bersimpati dengan tujuan-tujuan dari pihak yang satu atau
yang lainnya, walaupun itu tidak berarti mereka merangkul taktik-taktik yang telah digunakan demi
tujuan-tujuan itu. Lebih jauh, ada pula orang-orang yang merangkul sekurang-kurangnya sebagian
dari tujuan-tujuan dari kedua belah pihak. Dan menyebutkan kedua belah pihak itu sendiri adalah
suatu penyederhanaan: Al-Fatah dan Hamas saling berbeda pendapat tentang tujuan-tujuan bagi
bangsa Palestina. Hal yang sama dapat digunakan tentang berbagai partai politik Israel, meskipun
misalnya pembicaraannya dibatasi pada partai-partai Yahudi Israel.

Mengingat pembatasan-pembatasan di atas, setiap gambaran ringkas mengenai sifat konflik ini pasti
akan sangat sepihak. Itu berarti, mereka yang menganjurkan perlawanan Palestina dengan
kekerasan biasanya membenarkannya sebagai perlawanan yang sah terhadap pendudukan militer
oleh bangsa Israel yang tidak sah atas Palestina, yang didukung oleh bantuan militer dan diplomatik
oleh A.S. Banyak yang cenderung memandang perlawanan bersenjata Palestina di lingkungan Tepi
Barat dan Jalur Gaza sebagai hak yang diberikan oleh persetujuan Jenewa dan Piagam PBB. Sebagian
memperluas pandangan ini untuk membenarkan serangan-serangan, yang seringkali dilakukan
terhadap warga sipil, di wilayah Israel itu sendiri.

Demikian pula, mereka yang bersimpati dengan aksi militer Israel dan langkah-langkah Israel lainnya
dalam menghadapi bangsa Palestina cenderung memandang tindakan-tindakan ini sebagai
pembelaan diri yang sah oleh bangsa Israsel dalam melawan kampanye terorisme yang dilakukan
oleh kelompok-kelompok Palestina seperti Hamas, Jihad Islami, Al Fatah dan lain-lainnya, dan
didukung oleh negara-negara lain di wilayah itu dan oleh kebanyakan bangsa Palestina, sekurang-
kurangnya oleh warga Palestina yang bukan merupakan warga negara Israel. Banyak yang cenderung
percaya bahwa Israel perlu menguasai sebagian atau seluruh wilayah ini demi keamanannya sendiri.
Pandangan-pandangan yang sangat berbeda mengenai keabsahan dari tindakan-tindakan dari
masing-masing pihak di dalam konflik ini telah menjadi penghalang utama bagi pemecahannya.

Sebuah usul perdamaian saat ini adalah Peta menuju perdamaian yang diajukan oleh Empat
Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikat pada 17 September 2002. Israel juga telah
menerima peta itu namun dengan 14 reservasi. Pada saat ini Israel sedang menerapkan sebuah
rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan oleh Perdana Menteri Ariel Sharon[1].
Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh
kehadiran sipil dan militer yang permanen di Jalur Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan
4 pemumikan di Tepi Barat), namun akan mengawasi dan mengawal kantong-kantong eksternal di
darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan
kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza. Pemerintah Israel berpendapat bahwa akibatnya,
tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan, sementara
yang lainnya berpendapat bahwa, apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa
Israel akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok *artinya, Penghalang Tepi Barat Israel+ dan
mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini

Ariel Sharon (lahir 27 Februari 1928) adalah seorang politikus dan jenderal Israel.

Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Israel dari 7 Maret 2001 hingga 14 April 2006. Kekuasaannya
sebagai perdana menteri kemudian digantikan oleh Perdana Menteri (sementara) Ehud Olmert
karena ia terkena serangan stroke pada Januari 2006. Ia mengalami koma dalam waktu yang lama,
sehingga dimungkinkan tidak dapat kembali menjalankan tuga-tugas sebagai pemimpin
pemerintahan.

Ia lahir di Kfar Malal (Mandat British Palestina) dan tampil sebagai pemimpin politik serta militer
berkebangsaan Israel. Sharon juga pernah menjadi pemimpin Likud, partai terbesar dalam koalisi
pemerintah dalam parlemen Israel, Knesset, hingga ia mengundurkan diri dari partai tersebut pada
21 November 2005. Ia kemudian membentuk partai baru bernama Kadima.

Selama tiga puluh tahun Sharon berdinas sebagai anggota Angkatan Bersenjata Israel. Pangkat
tertingginya adalah Mayor Jenderal. Ia menjadi terkenal di Israel karena keterlibatannya dalam
Perang Enam Hari pada tahun 1967 dan Perang Yom Kippur pada tahun 1973.

Ariel Sharon juga bertanggung jawab pada tragedi pembantaian Qibya pada 13 Oktober 1953 di
mana saat itu 96 orang Palestina tewas oleh Unit 101 yang dipimpinnya dan pembantaian Sabra dan
Shatila di Libanon pada 1982 yang mengakibatkan antara 3.000 3.500 jiwa terbunuh, sehingga ia
dijuluki sebagai Tukang Jagal dari Beirut.

Awal hidup dan karier militer

Ia lahir dengan nama Ariel Scheinermann (Shinerman) dari sebuah keluarga pendukung gerakan
Zionis. Pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan kelompok mafia Haganah yang aktivitasnya
meneror rakyat Palestina. Dalam melancarkan aksi teror, ia secara bergantian berada di bawah
komando Perdana Menteri David Ben Gurion, Itzhak Shamir, dan Yitzhak Rabin.

Pada masa perang kemerdekaan Israel tahun 1948, di usianya yang ke-20, ia telah menjadi seorang
komandan infantri Israel dalam Brigade Alexandroni. Pada saat ia hendak membakar sebuah ladang,
tiba-tiba rentetan peluru pejuang Palestina menembus tubuhnya. Luka itu hampir saja merenggut
nyawanya kalau saja ia tak diselamatkan rekannya. Pada tahun itu juga, ia melanjutkan studi di
bidang hukum di Universitas Ibrani di Yerusalem. Pada 1953, ia membentuk sekaligus memimpin
unit komando khusus Unit 101 yang bertugas melakukan operasi-operasi khusus tingkat tinggi. Ia
diangkat menjadi komandan dari korps para-komando dan terlibat dalam perang memperebutkan
Sinai pada tahun 1956. Pada tahun 1957, ia meneruskan pendidikan kemiliterannya di Camberley
Staff College, Inggris.

Selama tahun 1958-1962, Sharon pernah menjadi komandan Brigade Infantri, memimpin Pusat
Pendidikan Infantri dan mengikuti sekolah hukum di Universitas Tel Aviv. Pada Perang Enam Hari
(1967) yang melibatkan Israel melawan bangsa Arab, ia menjabat sebagai komandan sebuah divisi
tentara dengan Brigadir Jenderal. Kemudian, ia mengundurkan diri dari dinas ketentaraan di tahun
1972. Ketika terjadi Perang Yom Kippur pada tahun 1973, ia dipanggil untuk memimpin divisi tentara
yang harus menyeberangi Terusan Suez.

Karir politik

Karir politiknya berawal pada tahun 1973 saat ia terpilih menjadi anggota Knesset. Tetapi, ia
mengundurkan diri setahun kemudian untuk menjadi Penasehat Keamanan bagi Perdana Menteri
Yitzhak Rabin. Ia kembali ke Knesset pada tahun 1977 dan menerima jabatan sebagai Menteri
Pertanian. Kemudian, ia menjabat Menteri Pertahanan (1981-1983) ketika berkecamuk perang
Lebanon saat tentara Israel memasuki Lebanon atas perintahnya.

Ariel Sharon kemudian mengundurkan diri ketika sebuah komisi pemerintah menuduhnya terlibat
secara tidak langsung dalam penyerangan September 1982 atas kaum pengungsi Palestina di Sabra
dan Shatila yang dilakukan oleh milisi Maronit Lebanon. Korban dalam peristiwa tersebut mencapai
lebih 3.000 orang terbunuh. Selain, ia bertanggung jawab pada tragedi pembantaian Qibya 13
Oktober 1953 yang menewaskan 96 orang Palestina oleh Unit 101 yang dipimpinnya. Atas dua
peristiwa tersebut, sebagian orang menjulukinya sebagai Penjagal dari Beirut.

Periode 1984-1990, ia kembali memasuki kabinet dan menjabat sebagai Menteri Industri dan
Perdagangan. Setelah itu, selama dua tahun, ia menjadi Menteri Perumahan dan Konstruksi. Periode
Juli 1996-Juli 1999, ia menjabat sebagai Menteri Infrastruktur Nasional dan sebagai Menteri Luar
Negeri (Oktober 1998-Juli 1999). Pada sidang Knesset bulan Mei 1999, ia terpilih sebagai Ketua
Partai Likud menyusul mundurnya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Karier politiknya
mencapai puncak ketika ia terpilih menjadi Perdana Menteri Israel pada Februari 2001.

Di tengah penjagaan yang sangat ketat, Ariel Sharon mengangkat sumpah jabatan sebagai perdana
menteri ke-11 di depan Forum Knesset pada 7 Maret 2001. Pengambilan sumpah dilakukan setelah
ia berhasil membentuk pemerintah persatuan nasional dengan spektrum politik yang paling luas
dalam sepanjang sejarah Israel. Koalisi yang dipimpinnya mencapai dua kesepakatan dasar
menyangkut masa depan perdamaian.

Langkah penarikan mundur pasukan dari Jalur Gaza menimbulkan pertentangan serius di tubuh
partai, sementara dalam Partai Buruh terjadi pergantian pimpinan. Kursi Ketua Partai Buruh beralih
dari Shimon Peres ke Amir Peretz. Ia merespons langkah tersebut dengan mundur dari Partai Likud
(21 November 2005) untuk membentuk partai baru yang diberi nama Partai Kadima (bahasa Ibrani:
, Qdmh, maju ke depan) yang beraliran sentris.

Kesehatan Sharon

Pada tanggal 18 Desember 2005 Sharon mengalami stroke ringan dan segera dibawa ke rumah sakit.
Ia dirawat selama dua hari dan dijadwalkan akan menjalani operasi pada jantungnya pada 5 Januari
2006. Namun pada 4 Januari 2006 ia kembali masuk ke rumah sakit dari peternakannya di daerah
Negev. Rupanya ia kembali mengalami stroke, dan kali ini tampaknya agak parah. Bersamaan dengan
serangan stroke itu, Sharon mengalami pendarahan otak. Sharon menjalani operasi selama tujuh
jam untuk menghentikan pendarahan itu dan membuang darah yang mengumpul di otaknya. [1]. Ia
dirawat di unit perawatan intensif dan kecil sekali kemungkinannya untuk kembali ke ajang politik,
andaikata pun ia berhasil bertahan.

Sementara itu, tugas-tugasnya sebagai perdana menteri dialihkan kepada Wakil Perdana Menteri
Ehud Olmert, yang saat ini berfungsi sebagai Penjabat Perdana Menteri.

Anggota-anggota kunci dalam Partai Kadima mengatakan bahwa mereka akan mendukung Olmert.
Hal ini mengurangi kekuatiran bahwa gerakan tersebut, yang dibentuk oleh Sharon dua bulan yang
lalu, akan retak apabila Sharon tidak ada. Sebuah jajak pendapat yang baru memperlihatkan Kadima
akan menang dalam pemilu 28 Maret di bawah pimpinan Olmert.

Para pemimpin Palestina, yang menyelenggarakan pemilunya sendiri pada 25 Januari, mengatakan
bahwa mereka berhubungan dengan para pejabat Israel untuk mengikuti kondisi Sharon. Kami
memantau cermat situasinya, kata perunding Palestina Saeb Erekat.

Kondisi kesehatan Ariel Sharon membuat banyak pihak was-was dan prihatin terhadap masa depan
rencana perdamaian di Timur Tengah. Kebijakan Sharon untuk melakukan pengunduran diri dari
Jalur Gaza dan Tepi Barat diyakini sejumlah pihak sebagai langkah maju menuju perdamaian dengan
bangsa Palestina. Namun kebijakan ini banyak mengalami tantangan dari golongan kanan di Israel.

Pada 11 Februari 2006, kondisinya memburuk dan ia kembali harus menjalani pembedahan darurat
setelah sistem pencernaannya rusak parah.

Pada 11 April 2006, Kabinet Israel mengangkat Olmert sebagai Perdana Menteri Sementara yang
berlaku mulai tanggal 14 April, kecuali apabila kesehatan Sharon membaik. Pada 14 April Sharon
dinyatakan berhalangan tetap, karena sudah 100 hari ia dirawat di rumah sakit. Dengan demikian
Olmert resmi menggantikannya pada hari itu.

Dengan rencana pemisahan diri sepihak, pemerintah Israel menyatakan bahwa rencananya adalah
mengizinkan bangsa Palestina untuk membangun sebuah tanah air dengan campur tangan Israel
yang minimal, sementara menarik Israel dari situasi yang diyakininya terlalu mahal dan secara
strategis tidak layak dipertahankan dalam jangka panjang. Banyak orang Israel, termasuk sejumlah
besar anggota Partai Likud[2] hingga beberapa minggu sebelum 2005 berakhir merupakan partai
Sharon kuatir bahwa kurangnya kehadiran militer di Jalur Gaza akan mengakibatkan meningkatnya
kegiatan penembakan roket ke kota-kota Israel di sekitar Gaza. Secara khusus muncul keprihatinan
terhadap kelompok-kelompok militan Palestina seperti Hamas, Jihad Islami atau Front Rakyat
Pembebasan Palestina akan muncul dari kevakuman kekuasaan apabila Israel memisahkan diri dari
Gaza.

Likud (bahasa Ibrani: ; secara harafiah berarti konsolidasi) adalah sebuah partai politik sayap
kanan di Israel. Didirikan pada tahun 1973 hasil gabungan partai Laam dan Gahal, Likud menganut
ideologi konservatif dan nasionalis.

Sejarah

Hingga 1949

1.Deklarasi Balfour 1917

Tanggal 2 November 1917. Inggris mencanangkan Deklarasi Balfour, yang dipandang pihak Yahudi
dan Arab sebagai janji untuk mendirikan tanah air bagi kaum Yahudi di Palestina.

Deklarasi Balfour (1917) ialah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Britania
Raya/Inggris; Arthur James Balfour, kepada Lord Rothschild (Walter Rothschild, 2nd Baron
Rothschild), pemimpin komunitas Yahudi Inggris, untuk dikirimkan kepada Federasi Zionis. Surat itu
menyatakan posisi yang disetujui pada rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917, bahwa
pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana Zionis buat tanah air bagi Yahudi di Palestina,
dengan syarat bahwa tak ada hal-hal yang boleh dilakukan yang mungkin merugikan hak-hak dari
komunitas-komunitas yang ada di sana.

Saat itu, sebagian terbesar wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Khilafah Turki Utsmani, dan
batas-batas yang akan menjadi Palestina telah dibuat sebagai bagian dari Persetujuan Sykes-Picot 16
Mei 1916 antara Inggris dan Prancis. Sebagai balasan untuk komitmen dalam deklarasi itu,
komunitas Yahudi akan berusaha meyakinkan Amerika Serikat untuk ikut dalam Perang Dunia I. Itu
bukanlah alasan satu-satunya, karena sudah lama di Inggris telah ada dukungan bagi gagasan
mengenai tanah air Yahudi, dan waktunya tergantung pada kemungkinannya.

Kata-kata Deklarasi ini kemudian digabungkan ke dalam perjanjian damai Svres dengan Turki
Utsmani dan Mandat untuk Palestina. Deklarasi (surat ketikan yang ditandatangani dengan tinta oleh
Balfour) ialah sebagai berikut:

Surat asli

Foreign Office

November 2nd, 1917

Dear Lord Rothschild,

I have much pleasure in conveying to you, on behalf of His Majestys Government, the following
declaration of sympathy with Jewish Zionist aspirations which has been submitted to, and approved
by, the Cabinet.

His Majestys Government view with favour the establishment in Palestine of a national home for
the Jewish people, and will use their best endeavours to facilitate the achievement of this object, it
being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights
of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in
any other country.

I should be grateful if you would bring this declaration to the knowledge of the Zionist Federation.

Yours sincerely,

Arthur James Balfour

Terjemahan dalam bahasa Indonesia

Departemen Luar Negeri 2 November 1917

Lord Rothschild yang terhormat,

Saya sangat senang dalam menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda,
pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh
Kabinet.

Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi,
dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini,
karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-
hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun
hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya .

Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh
Federasi Zionis.

Salam,

Arthur James Balfour

Catatan tentang diskusi-diskusi yang menghasilkan teks akhir Deklarasi Balfour ini menjelaskan
beberapa rincian susunan kata-katanya. Frase tanah air secara disengaja digunakan sebagai
pengganti negara, dan Inggris mencurahkan beberapa usaha pada dekade-dekade berikutnya
untuk menyangkal bahwa mereka memaksudkan pembentukan suatu negara, termasuk Buku Putih
Churchill, 1922. Namun demikian, secara pribadi, banyak pejabat Inggris setuju dengan interpretasi
kaum Zionis bahwa hasil akhir yang diharapkan memang adalah sebuah negara.

Sebuah naskah awal menggunakan kata that buat merujuk pada Palestina sebagai tanah air Yahudi,
yang diubah menjadi di Palestina untuk menghindari penafsiran bahwa yang dimaksudkan adalah
seluruh Palestina. Demikian pula, sebuah naskah awal tak mencakup janji untuk tak merugikan hak-
hak komunitas non-Yahudi. Perubahan-perubahan ini terjadi sebagian karena desakan Edwin Samuel
Montagu, seorang anti-Zionis Yahudi yang berpengaruh dan Sekretaris Negara untuk India, yang
antara lain, prihatin bahwa deklarasi tanpa perubahan-perubahan itu bisa mengakibatkan kian
meningkatnya penganiayaan anti-Semit.

Seperti Persetujuan Sykes-Picot sebelumnya, deklarasi ini dipandang banyak orang Arab sebagai
pengkhianatan besar terhadap upaya-upaya Britania Raya dalam mendukung kemerdekaan Arab
dalam Korespondensi Hussein-McMahon 19151916.

Perundingan

Salah satu tokoh utama Yahudi yang merundingkan dukungan terhadap deklarasi ini ialah Dr. Chaim
Weizmann, jurubicara terkemuka organisasi Zionisme di Britania Raya. Selama pertemuan pertama
antara Chaim Weizmann dan Balfour (1906), pemimpin kelompok Persatuan itu terkesan oleh
kepribadian Weizman. Balfour menanyai Weizmann mengapa Palestina dan hanya Palestina saja
yang diinginkan menjadi basis Zionisme. Semua tempat yang lain akan menjadi pemberhalaan,
Weizmann memprotes, lalu menambahkan: Tuan Balfour, andai saya menawarkan Anda Paris
sebagai ganti London, akankah Anda mengambilnya? Namun Dr. Weizmann, Balfour menjawab,
kami memiliki London, Weizmann menjawab, Itu benar, namun kami memiliki Yerusalem dulu
saat London merupakan rawa.

Weizmann ialah kimiawan yang berhasil mensintesiskan aseton melalui fermentasi. Aseton
diperlukan dalam menghasilkan cordite, bahan pembakar yang diperlukan untuk mendorong peluru-
peluru. Jerman memonopoli ramuan aseton kunci, kalsium asetat. Tanpa kalsium asetat, Britania tak
bisa menciptakan aseton dan tanpa aseton takkan ada cordite. Jadi, tanpa cordite, Inggris saat itu
mungkin akan kalah dalam Perang Besar. Saat ditanya bayaran apa yang diinginkan, Weizmann
menjawab, Hanya ada satu hal yang saya inginkan. Tanah air buat orang-orang saya. Ia menerima
pembayaran untuk penemuan ini dan peran dalam sejarah awal Israel.

Jaminan-jaminan yang bertentangan

Dalam wawancaranya pada November 2002 dengan majalah New Statesman, Menteri Luar Negeri
Inggris, Jack Straw mempersalahkan penjajahan Inggris masa lalu atas banyak masalah politik
modern, termasuk konflik Arab-Israel.

Deklarasi Balfour dan jaminan-jaminan yang bertentangan yang diberikan pada orang-orang
Palestina secara pribadi, sementara pada saat yang sama diberikan pula kepada orang-orang Israel,
merupakan sejarah yang menarik buat kami, namun bukan sesuatu yang terhormat, ia berkata.

Penolakan

Kelompok Yahudi Neturei Karta yang berpusat di AS selama ini dikenal sebagai duri dalam daging
bagi gerakan Zionisme Internasional. Walau sama-sama berdarah Yahudi, namun orientasi
perjuangan antara Neturei Karta dengan Zionis-Israel amat berbeda. Jika Zionis-Israel mengagungkan
dan menyucikan Talmud, maka kelompok Yahudi Ortodoks menuding bahwa Talmud adalah kitab
iblis yang telah mencemari kesucian Taurat yang diturunkan Tuhan kepada Musa.

Secara berkala, Kelompok Yahudi Neturei Karta melakukan aksi unjuk rasa di seluruh dunia,
terutama di Yerusalem, Inggris, dan AS, dan mensosialisasikan bahwa kaum Yahudi telah ditakdirkan
Tuhan untuk diaspora dan tidak memiliki negara. Kami tidak setuju dengan pembentukan negara
Israel. Kaum Zionis telah memperkosa Yudaisme dan menungganginya untuk ambisi politik.
Yudaisme tidak mengenal Talmud dan negara Israel! tegas Rabi Yisroil Dovid Weiss, Juru Bicara
Neturei Karta AS.

Pada 24 Juli lalu, kelompok ini lagi-lagi menggelar aksi unjuk rasa. Kali ini bertepatan dengan hari
kesembilan bulan Avyang dianggap sebagai hari terkelam dalam perjalanan bangsa Yahudi di mana
orang-orang Yahudi meyakini ribuan tahun silam Kuil Sulaiman telah dihancurkan oleh mush-musuh
Tuhan. Ribuan kaum Yahudi Ortodoks menggelar aksi di depan Konsulat Israel di New York AS.

Juru Bicara Neturei Karta lagi-lagi dengan lantang menyerukan agar kaum Yahudi AS khususnya dan
Yahudi seluruh dunia umumnya tidak lagi mendukung keberadaan negara Zionis-Israel. Hapuskan
Israel dari muka bumi! demikian teriak mereka. Neturei Karta juga membuat situs yang memuat
seluruh aksi-aksi mereka. Silakan lihat di http://www.nkusa.org.

Patut diketahui, ketika Presiden Iran dalam satu acara di Teheran menyampaikan pidato dan dengan
lantang mengatakan agar dunia menghapus Israel dari peta bumi, maka kelompok Neturei Karta
dengan respon yang sangat cepat mengamininya dan bergandengan tangan dengan seluruh aktivis
kemanusiaan dunia untuk bersama-sama berjuang menghilangkan eksistensi negara Israel dari muka
bumi sampai hari akhir.

2. Revolusi Arab 1936-1939

Revolusi Arab dipimpin Amin Al-Husseini. Tak kurang dari 5.000 warga Arab terbunuh. Sebagian
besar oleh Inggris. Ratusan orang Yahudi juga tewas. Husseini terbang ke Irak, kemudian ke wilayah
Jerman, yang ketika itu dalam pemerintahan Nazi.

3. Teks 1922: Mandat Palestina Liga Bangsa-bangsa

4. Mandat Britania atas Palestina

Mandat untuk Palestina, juga dikenal sebagai Mandat atas Palestina atau Mandat Britania atas
Palestina, adalah sebuah wilayah di Timur Tengah dari 1920 hingga 1948, yang kini terdiri atas
wilayah masa kini dari Yordania, Israel, dan wilayah-wilayah yang diperintah oleh Otoritas Palestina,
yang sebelumnya merupakan wilayah Kerajaan Ottoman, yang dipercayakan oleh Liga Bangsa-
Bangsa kepada Britania Raya untuk diadministrasikan pada masa setelah Perang Dunia I sebagai
sebuah Wilayah Mandat setelah runtuhnya Kesultanan Ottoman yang telah menguasai wilayah ini
sejak abad ke-16. Wilayah ini mulanya berbatasan dengan Laut Tengah di sebelah baratnya, Mandat
Perancis atas Lebanon, Mandat Perancis atas Suriah, dan the Mandat Britania atas Mesopotamia di
sebelah utaranya, Kerajaan Arab Saudi di sebelah timur dan selatan, dan Kerajaan Mesir di barat
dayanya.

Populasi Mandat Britania atas Palestina

Pada 1922 Britania melakukan sensus pertama atas wilayah Mandatnya. Seluruh penduduknya
berjumlah 752.048, terdiri dari 589.177 Muslim, 83.790 Yahudi, 71.464 Kristen dan 7.617 yang
beragama lain. Setelah sensus kedua pada 1931, populasinya telah bertambah menjadi total
1.036.339, terdiri dari 761.922 Muslim, 175.138 Yahudi, 89.134 Kristen dan 10.145 orang yang
beragama lain. Setelah itu tidak ada sensus lagi, tetapi statistik tetap dipertahankan dengan
menghitung jumlah kelahiran, kematian dan migrasi. Beberapa komponen seperti imigrasi ilegal
hanya dapat diperkirakan. Buku Putih 1939, yang membatasi imigrasi orang-orang Yahudi,
menyatakan bahwa jumlah penduduk Yahudi telah bertambah hingga sekitar 450.000 orang dan
mendekati sepertiga dari seluruh populasi wilayah ini. Pada 1945 sebuah studi demografi
memperlihatkan bahwa jumlah seluruh penduduknya telah meningkat menjadi 1.764.520, terdiri
dari 1.061.270 Muslim, 553.600 Yahudi, 135.550 Kristen dan 14.100 orang yang beragama lain.

Tahun


Total


Muslim


Yahudi


Kristen


Lainnya

1922


752.048


589.177 (78%)


83.790 (11%)


71.464 (10%)


7.614 (1%)

1931


1.036.339


761.922 (74%)


175.138 (17%)


89.134 (9%)


10.145 (1%)

1945


1.764.520


1.61.270 (60%)


553.600 (31%)


135.550 (8%)


14.100 (1%)

Populasi menurut distrik

Tabel berikut ini memberikan demografi dari masing-masing dari ke-16 distrik wilayah
Mandat.Demografi Palestina menurut distrik pada 1945

Distrik


Muslim


%


Yahudi


%


Kristen


%


Total

Acre


51.130


69


3.030


4


11.800


16


73.600

Beersheba


6.270


90


510


7


210


3


7.000

Beisan


16.660


67


7.590


30


680


3


24.950

Gaza


145.700


97


3.540


2


1.300


1


150.540

Haifa


95.970


38


119.020


47


33.710


13


253.450

Hebron


92.640


99


300


<1


170


<1


93.120

Jaffa


95.980


24


295.160


72


17.790


4


409.290

Jenin


60.000


98


Dapat diabaikan


<1


Dapat diabaikan


<1


61.210

Nablus


92.810


98


Dapat diabaikan


<1


Dapat diabaikan


<1


94.600

Nazareth


30.160


60


7.980


16


11.770


24


49.910

Ramallah


40.520


83


Dapat diabaikan


<1


8.410


17


48.930

Ramle


95.590


71


31.590


24


5.840


4


134.030

Safad


47.310


83


7.170


13


1.630


3


56.970

Tiberias


23.940


58


13.640


33


2.470


6


41.470

Tulkarm


76.460


82


16.180


17


380


1


93.220

Yerusalem


104.460


42


102.520


40


46.130


18


253.270

Total


1.076.780


58


608.230


33


145.060


9


1.845.560

Data dari Survei Palestina.

Pemilikan tanah di Mandat Britania atas Palestina

Orang-orang Arab, yang jumlahnya tidak kurang dari 2/3 dari seluruh penduduk Palestina, memiliki
sebagian besar properti pribadi. Survei Palestina melaporkan bahwa orang-orang Arab memiliki
24.670.455 dunum (keseluruhan luas tanah wilayah Mandat adaah sekitar 26.184.702 dunum).
Namun, menurut MidEastWeb, orang-orang Arab hanya memiliki sekitar setengah dari seluruh luas
tanah.

Orang Yahudi, yang merupakan 1/3 dari seluruh penduduk Palestina, secara pribadi maupun kolektif
memiliki 1.393.531 dunum pada 1945 (Khalaf, 1991, pp. 26-27) dan 1.850.000 dunum pada 1947
(Avneri p. 224). Ini berarti sekitar 20% dari seluruh tanah yang dapat diolah dan 7% dari seluruh
tanah di Palestina.

Kepemilikan tanah menurut distrik

Tabel berikut ini memperlihatkan pemilikan tanah di Palestina menurut distriknya:Pemilikan tanah di
Palestina menurut distrik pada 1945

Distrik


Milik Arab %


Milik Yahudi %


Tanah public & lainnya %

Acre


87


3


10

Beersheba


15


<1


85

Beisan


44


34


22

Gaza


75


4


21

Haifa


42


35


23

Hebron


96


<1


4

Jaffa


47


39


14

Jenin


84


<1


16

Nablus


87


<1


13

Nazareth


52


28


20

Ramallah


99


<1


1

Ramle


77


14


9

Safad


68


18


14

Tiberias


51


38


11

Tulkarm


78


17


5

Yerusalem


84


2


14

Data dari Pemilikan Tanah di Palestina

Undang-undang tanah di Palestina

1. Hukum Tanah Ottoman 1858

2. Ordinansi Pengalihan Tanah 1920

3. Koreksi 1926 atas Ordinansi Pendaftaran Tanah

4. Ordinansi Penyelesaian Tanah 1928

5. Peraturan Peralihan Tanah 1940

Komisaris Tinggi Britania untuk PalestinaNama Masa jabatan

1. Sir Herbert Louis Samuel 19201925

2. Herbert Onslow Plumer 19251928

3. Sir Harry Charles Luke (penjabat) 1928

4. Sir John Chancellor 19281931

5. Arthur Grenfell Wauchope 19311938

6. Sir Harold MacMichael 19381944

7. John Vereker, Viscount Gort ke-6 19441945

8. Sir Alan G. Cunningham 19451948

5.Rencana Pembagian Wilayah oleh PBB 1947.

6. Deklarasi Pembentukan Negara Israel, 14 Mei 1948.

Secara sepihak Israel mengumumkan diri sebagai negara Yahudi. Inggris hengkang dari Palestina.
Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi menabuh genderang perang melawan Israel.

7.Perang Arab Israel

Perang Arab-Israel 1948, atau disebut juga sebagai Perang Kemerdekaan atau Perang
Pembebasan oleh orang Israel, adalah konflik bersenjata pertama dari serangkaian konflik yang
terjadi antara Israel dan tetangga-tetangga Arabnya dalam konflik Arab-Israel. Bagi orang-orang
Palestina, perang ini menandai awal dari rangkaian kejadian yang disebut sebagai Bencana (Bahasa
Inggris: The Catastrophe, Bahasa Arab: ).

Pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa memutuskan untuk membagi wilayah Mandat
Britania atas Palestina. Tetapi hal ini ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah lainnya dan
juga banyak negeri-negeri Muslim. Kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah
meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Sedangkan kota Yerusalem[1]
yang dianggap suci, tidak hanya oleh orang Yahudi tetapi juga orang Muslim dan Kristen, akan
dijadikan kota internasional.

Yerusalem saja adalah kota di Timur Tengah yang merupakan kota suci bagi agama Islam, Kristen dan
Yahudi. Kota ini diklaim sebagai ibukota Israel, meskipun tidak diakui secara internasional, maupun
bagian dari Palestina. Secara de facto kota ini dikuasai oleh Israel. Para elit Israel menganggap kota
suci ini adalah bagian dari negaranya dan itu adalah bentuk ideologi Zionisme. Dari semua negara
yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, hanya Kosta Rika dan El Salvador saja yang
menempatkan kedutaan mereka di Yerusalem. Lainnya di Tel Aviv, karena menurut PBB, Yerusalem
akan dijadikan Kota Internasiona. Oleh orang-orang Palestina, Yerusalem juga dianggap sebagai ibu
kota Palestina. Kota historis Yerusalem adalah sebuah warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO
mulai tahun 1981. Kota ini memiliki penduduk sebesar 724.000 jiwa dan luas 123 km2. Sepanjang
sejarahnya, Yerusalem telah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan
dikuasai/dikuasai ulang 44 kali.

Sejarah Kota Yerusalem

Sejarah Yerusalem dapat dibagi menjadi lima tahap; Zaman Kuno, Zaman Pemerintahan Kekaisaran
Romawi, Zaman Islam, Zaman Mandat Britania, dan Zaman Pendudukan Israel.

Zaman Silam

bernama Yebusit. Nabi Daud kemudian diriwayatkan mulai mengembangkan kota ini dan
menjadikannya ibu kota kerajaannya. Yerusalem kemudian diriwayatkan diperintah oleh Nabi
Sulaiman. Menurut ahli sejarah Yahudi, Nabi Sulaiman telah membangun sebuah kuil yang diberi
nama Baitallah.

Tidak lama kemudian, tentara Babilonia mulai merebut Yerusalem dari orang Yahudi. Nebukadnezar,
raja Babylon kemudian menguasai Yerusalem dan memusnahkan Baitallah. Dia kemudian
menghalangi orang Yahudi masuk ke Yerusalem. Setelah beberapa dasawarsa, tentara Parsi
menguasai Babylon. Cyrus II, raja Parsi memperbolehkan orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan
membangun kembali Baitallah mereka. Baitallah Kedua dibangun oleh Herodus Yang Agung namun
setelah kematiannya, kota ini jatuh ke tangan Roma.

Pemerintahan Romawi

Semasa pemerintahan Roma, masyarakat Yahudi di Yerusalem memberontak. Akibatnya tentara
Roma mematahkan pemberontakan tersebut dan memusnahkan Baitallah Kedua orang Yahudi. Yang
tinggal hanyalah sebagian gedung itu yang dikenal sebagai Tembok Barat.

Setelah pemberontakan tersebut, orang Yahudi diperbolehkan tinggal di situ tetapi dalam jumlah
yang kecil. Pada kurun kedua, Kaisar Roma memerintahkan supaya Yerusalem dibangun kembali dan
membangun sebuah kuil orang Roma di situ sambil menghalang kegiatan keagamaan orang Yahudi.
Orang Yahudi kembali memberontak tetapi dapat dipatahkan tentara Roma. Yerusalem dinamakan
kembali menjadi Aelia Capitolina.

Orang Yahudi dilarang memasuki Yerusalem. Selama 150 tahun setelahnya, kota ini menjadi tidak
penting bagi Kekaisaran Romawi. Namun demikian, Kaisar Bizantium yaitu Constantine menjadikan
Yerusalem sebagai pusat keagamaan Kristen dengan membangun Church of the Holy Sepulcher (?)
pada tahun 335 M. Orang Yahudi tetap tidak dibenarkan memasuki Yerusalem kecuali semasa
pemerintahan singkat Kekaisaran Parsi pada tahun 614M hingga tahun 629M.

Pemerintahan Islam

Walaupun Al Quran tidak menyebut mengenai nama Yerusalem atau Baitulmuqaddis, tetapi ada
hadis yang menyebut mengenainya. Menurut hadis sahih, adalah di Yerusalem Nabi Muhammad
s.a.w. naik ke surga semasa peristiwa Isra Miraj. Kota itu kemudian dikuasai oleh angkatan tentara
Islam pada tahun 638M. Umar bin Khattab secara pribadi pergi ke Yerusalem untuk menerima
penyerahan Yerusalem kepada kerajaan Islam. Beliau kemudian ditawarkan bersembahyang di
dalam Church of the Holy Sepulcher tetapi menolaknya dan sebaliknya meminta supaya dibawa ke
Masjidil Aqsa Al Haram Al Sharif. Ia mendapati tempat itu terlalu kotor dan mengarahkan supaya
pembersihan dijalankan. Ia kemudian membangun sebuah masjid kayu di tempat yang sekarang
merupakan kompleks bangunan Masjid Al Aqsa.

Enam tahun kemudian, Qubbat As-Sakhrah dibangun. Struktur ini terdiri dari sebuah batu yang
dikatakan tempat Nabi Muhammad s.a.w. berdiri sebelum naik ke surga semasa peristiwa Isra
Miraj. Perlu diingatkan bahwa kubah yang berlapis emas dan berbentuk oktagon ini tidak sama
seperti Masjid Al Aqsa di sebelahnya yang dibangun tidak lama kemudian. Semasa pemerintahan
awal Islam, terutama semasa pemerintahan kerajaan Ummaiyyah (650-750) dan kerajaan
Abbasiyyah (750-969), kota Yerusalem berkembang. Banyak orang berpendapat bahwa Yerusalem
pada ketika itu merupakan tanah yang paling subur di Palestina.

Pemerintahan awal Islam juga mewujudkan sebuah toleransi di antara kaum. Namun semasa
pemerintahan Al-Hakim Amr Allah, seorang khalifah kerajaan Fatimiyyah, beliau mengarahkan
supaya semua gereja dan rumah ibadah bukan Islam dimusnahkan. Hal ini menyebabkan berlakunya
Perang Salib. Pada tahun 1099, tentara Kristen Eropa menguasai Yerusalem. Mereka kemudian
membunuh semua penduduk kota yakni Muslim, Yahudi dan bahkan juga Kristen. Hal ini karena
ketidaktahuan mereka, orang Kristen yang tinggal di sana wujudnya berbeda dengan orang Kristen
Eropa.

Yerusalem kemudian dijadikan ibu kota Kerajaan Kristen Yerusalem (Kingdom of Jerusalem).
Kerajaan ini kekal hingga tahun 1291; Yerusalem sendiri dikuasai oleh Salahuddin Al Ayubi pada
tahun 1187. Salahuddin juga memperbolehkan semua orang beribadah di Yerusalem tanpa
memandang apakah Kristen, Muslim atau Yahudi. Pada tahun 1243, Yerusalem jatuh kembali ke
tangan tentara Kristen sebelum jatuh kembali ke tangan orang Islam pada tahun berikutnya.

Pada tahun 1517, Yerusalem dikuasai oleh Kerajaan Turki Utsmaniyyah. Sulaiman Al Qanuni
membina kembali tembok Yerusalem yang dapat kita lihat hingga hari ini.

Mandat Britania

Britania berhasil menaklukkan kerajaan Turki Uthmaniyyah saat Perang Dunia I. Dengan
kemenangan mereka itu, tentara Britania di Mesir memasuki Yerusalem pada 11 Desember 1917.
Pihak Britania kemudian membangun rumah-rumah baru di sini dan menyebabkan Yerusalem
berkembang hingga keluar dari temboknya.

Pada 29 November 1947, PBB (UNGA) mengeluarkan suatu petisi untuk memisahkan pemerintahan
Mandat Britania di Palestina kepada dua buah wilayah: satu untuk orang Yahudi dan satu untuk
orang Arab. Hal ini mengakibatkan terjadinya pemberontakan di Yerusalem yang kemudian
menyebabkan Perang Arab-Israel 1948 yang terjadi pemerintahan Mandat Britania berakhir.

Yerusalem dan konflik Arab-Israel

Semasa Perang Arab-Israel 1948, Yerusalem terbagi menjadi dua wilayah. Bagian barat yang meliputi
kota baru menjadi sebagian dari Israel, sedangkan bagian timur termasuk kota lama Yerusalem
menjadi milik Yordania.

PBB memutuskan supaya Yerusalem berada di bawah pemerintahan internasional. Walau
bagaimanapun, pada 23 Januari 1950, Parlemen Israel mensahkan satu resolusi untuk menjadikan
Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Yerusalem Timur kemudian ditawan oleh tentara Israel dalam
Perang Enam Hari pada tahun 1967.

Walaupun Israel membenarkan penganut agama di Yerusalem akses ke tempat suci mereka,
terdapat banyak kerisauan mengenai beberapa serangan ke Masjid Al-Aqsa seperti kebakaran pada
tahun 1969 yang disebabkan oleh seorang turis Australia. Status Yerusalem Timur tetap menjadi satu
isu yang kontroversi.

Status Yerusalem kini

Menurut satu petisi PBB, Baitulmuqaddis sepatutnya menjadi sebuah kota internasional dan bukan
sebagian dari negeri orang Arab ataupun negeri orang Yahudi. Setelah Perang Arab-Israel 1948,
Yerusalem Barat diduduki oleh Israel sedangkan Yerusalem Timur menjadi milik Yordania.

Pada tahun 1967, semasa Perang Enam Hari, Israel menguasai Yerusalem Timur dan mulai
mengambil langkah untuk menyatukan Yerusalem di bawah kekuasaan Israel. Pada tahun 1988
Yordania menarik balik semua tuntutannya atas Tepi Barat (termasuk Yerusalem) guna mendukung
Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).Kedudukan Yerusalem hingga kini masih dipertanyakan.

Yerusalem dan Islam

Bagi kaum Muslim, Yerusalem merupakan tempat ketiga paling suci dalam Islam. Apabila kembali ke
sejarah Yerusalem, kita dapat melihat bahwa kota ini mengalami kesengsaraan sebelum kedatangan
Islam. Di saat Islam menguasai kota ini barulah mencapai ketenangan dan keamanan. Banyak
pedagang-pedagang Arab berdagang di sini termasuk dari Makkah dan Madinah. Kota ini juga
menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya beralih ke Makkah. Disaat tentara Salib
menguasai kota ini, semua penduduk kota, termasuk yang beragama Kristen dibunuh dengan kejam.

Setelah Salahuddin Al-Ayubbi menguasai kota ini kembali, orang Islam, Kristen, dan Yahudi dapat
beribadat tanpa adanya gangguan.

Israel diproklamasikan pada tanggal 14 Mei 1948 dan sehari kemudian langsung diserbu oleh tentara
dari Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak dan negara Arab lainnya. Tetapi Israel bisa memenangkan
peperangan ini dan malah merebut kurang lebih 70% dari luas total wilayah daerah mandat PBB
Britania Raya, Palestina. Perang ini menyebabkan banyak kaum Palestina mengungsi dari daerah
Israel. Tetapi di sisi lain tidak kurang pula kaum Yahudi yang diusir dari negara-negara Arab lainnya.

8. Persetujuan Gencatan Senjata 1949

Tanggal 3 April 1949. Israel dan Arab bersepakat melakukan gencatan senjata. Israel mendapat
kelebihan wilayah 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan dalam Rencana Pemisahan PBB.

9.Exodus bangsa Palestina

1949-1967

1.Perang Suez

2. Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) resmi berdiri pada Mei 1964. Tujuannya menghancurkan
Israel.

Organisasi Pembebasan Palestina (bahasa Arab: Munazzamat al-Tahrir
Filastiniyyah; bahasa Inggris: Palestine Liberation Organisation atau disingkat PLO) adalah lembaga
politik resmi bangsa Arab Palestina yang telah mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.
Lembaga ini terdiri atas sejumlah organisasi perlawanan (yang terpenting ialah Al Fatah), organisasi
ahli hukum, mahasiswa, buruh dan guru.

Organisasi ini mengusahakan sebuah negara Palestina di antara Laut Tengah dan Yordania.

Sejak didirikan, pada tahun 1969 hingga meninggal pada tahun 2004, Yasser Arafat merupakan ketua
organisasi ini.Stelah itu digantikan oleh Mahmud Abbas.

Berdirinya PLO

PLO didirikan pada 1964, setelah didahului oleh langkah awal Alm. Yasser Arafat untuk menyatukan
semua organisasi perlawanan Palestina di bawah satu wadah, Al Fatah, pada 1950-an. Di awal
pendirian, PLO di bawah dukungan Arafat dengan Al Fatahnya, menyerang Israel secara terus
menerus. Israel menjawab dengan secara rutin menyerang basis PLO di Lebanon. Tak jarang korban
yang berjatuhan dari kalangan sipil serta perempuan dan anak-anak.

Organ utama

Organ utama lembaga ini ialah Komite Eksekutif, Komite Sentral serta Dewan Palestina. Terpenting
dari antaranya ialah Komite Eksekutif, yang bertugas mengambil keputusan-keputusan politik. Dalam
mengambil keputusan, organ ini menerima masukan serta nasehat dari Komite Sentral, yang hampir
kesemua anggotanya diambil dari organisasi perlawanan dan tokoh-tokoh independen. Dewan
Nasional Palestina, sebuah organisasi penting lainnya yang terdiri dari 500 anggota, merupakan juga
Parlemen Palestina.

Ketua PLO pertama

Atas kegigihannya menarik perhatian masyarakat internasional, pada tahun 1969 Arafat diangkat
sebagai ketua PLO. Setelah menjadi ketua, Arafat mulai meninggalkan kegiatan penyerangan dengan
senjata dan berusaha mendirikan sebuah pemerintahan di pengasingan. Beberapa langkah penting
yang dilakukannya ialah berhasil membuat PLO memperoleh pengakuan Liga Arab sebagai satu-
satunya organisasi bangsa Palestina tahun 1974. Juga pada November 1974, PLO merupakan satu-
satunya organisasi nonpemerintah yang memperoleh kesempatan berbicara di depan Sidang Umum
PBB. Satu langkah berikut yang dicapai ialah diperolehnya keanggotaan penuh PLO di dalam Liga
Arab pada tahun 1976.

Perdamaian Mesir dengan Israel dan dampaknya bagi Palestina

Tahun 1979, atas usaha Anwar Sadat, terjadi perdamaian antara Mesir dengan Israel, yang
mengakibatkan dikembalikannya wilayah Mesir yang diduduki Israel. Namun perjanjian ini tidak
berhasil membentuk sebuah negara Palestina merdeka. Hal ini menimbulkan kemarahan PLO.
Mereka mulai lagi melakukan penyerangan kepada Israel, dengan akibat Israel menyerang Lebanon
yang merupakan basis PLO, pada 6 Juni 1982. Serbuan ini menyebabkan basis PLO di Tripoli,
Lebanon, hancur dan anggotanya terpaksa dievakuasi ke wilayah negara-negara Arab yang kemudian
menetap di Algiers, Aljazair.

Manuver politik PLO

Selanjutnya manuver politik yang dilakukan oleh PLO untuk mencapai tujuan kemerdekaan Palestina
ialah dengan menyebarkan perjuangan rakyat Palestina ke seluruh dunia, mengakui Resolusi Dewan
Keamanan PBB No 242 dan 338 (yang mengakui eksistensi Israel), serta melakukan gerakan Intifadah
sejak tahun 1987. Sebagian faksi militan militer menolak mengakui Resolusi PBB tersebut, namun
mereka menegaskan bahwa mereka tetap menjadi anggota PLO dan tidak ingin memecah belah
semangat nasionalisme ketika sedang dirintis usaha ke arah berdirinya sebuah negara yang baru
terbentuk.

Pada 15 November 1988, sebuah langkah besar dilakukan oleh PLO, yaitu mengumumkan berdirinya
negara Palestina dari markas besarnya di Algiers, Aljazair. Bersamaan dengan ini PLO mulai
mendirikan kantor kedutaannya di berbagai negara Timur Tengah dan di Indonesia.

Perwakilan di PBB

PLO mendapatkan status peninjau di Sidang Umum PBB pada 1974 (Resolusi Sidang Umum no.
3237). Dengan pengakuan terhadap Negara Palestina, PBB mengubah status peninjau ini sehingga
dimiliki oleh Palestina pada 1988 (Resolusi Sidang Umum no. 43/177.) Pada Juli 1998, Sidang Umum
menerima sebuah resolusi baru (52/250) yang memberikan kepada Palestina hak-hak dan privilese
tambahan, termasuk hak untuk ikut serta dalam perdebatan umum yang diadakan pada permulaan
setiap sesi Sidang Umum, hak untuk menjawab, hak untuk ikut mensponsori resolusi dan hak untuk
mengajukan keberatan atau pertanyaan yang berkaitan dengan pembicaraan dalam rapat (points of
order) khususnya menyangkut masalah-masalah Palestina dan Timur Tengah. Dengan resolusi ini,
tempat duduk untuk Palestina akan diatur tepat setelah negara-negara non-anggota dan sebelum
peninjau-peninjau lainnya. Resolusi ini diterima dengan suara 124 setuju, 4 menolak (Israel, AS,
Kepulauan Marshall, Mikronesia) dan 10 abstain.

3.Perang Enam Hari

Perang Enam Hari, juga dikenali sebagai Perang Arab-Israel 1967, merupakan peperangan antara
Israel menghadapi gabungan tiga negara Arab, yaitu Mesir, Yordania, dan Suriah, dan ketiganya juga
mendapatkan bantuan aktif dari Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan dan Aljazair. Perang tersebut
berlangsung selama 132 jam 30 menit (kurang dari enam hari), hanya di front Suriah saja perang
berlangsung enam hari penuh.

Pada bulan Mei tahun 1967, Mesir mengusir United Nations Emergency Force (UNEF) dari
Semenanjung Sinai; ketika itu UNEF telah berpatroli disana sejak tahun 1957 (yang disebabkan oleh
invasi atas Semenanjung Sinai oleh Israel tahun 1956). Mesir mempersiapkan 1.000 tank dan
100.000 pasukan di perbatasan dan memblokade Selat Tiran (pintu masuk menuju Teluk Aqaba)
terhadap kapal Israel dan memanggil negara-negara Arab lainnya untuk bersatu melawan Israel.
Pada tanggal 5 Juni 1967, Israel melancarkan serangan terhadap pangkalan angkatan udara Mesir
karena takut akan terjadinya invasi oleh Mesir.[4] Yordania lalu menyerang Yerusalem Barat dan
Netanya. Pada akhir perang, Israel merebut Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi
Barat, dan Dataran Tinggi Golan. Hasil dari perang ini mempengaruhi geopolitik kawasan Timur
Tengah sampai hari ini.

Latar belakang

Akibat Perang Arab-Israel tahun 1948 dan 1956

Perang ini disebabkan oleh ketidakpuasan orang Arab atas kekalahannya dalam Perang Arab-Israel
tahun 1948 dan 1956. Pada saat terjadinya Krisis Suez tahun 1956, walaupun Mesir kalah, namun
mereka menang dalam hal politik. Tekanan diplomatik dari Amerika Serikat dan Uni Soviet memaksa
Israel untuk mundur dari Semenanjung Sinai. Setelah perang tahun 1956, Mesir setuju atas
keberadaan pasukan perdamaian PBB di Sinai, UNEF, untuk memastikan kawasan tersebut bebas
tentara dan juga menghalangi gerilyawan yang akan menyebrang ke Israel, sehingga perdamaian
antara Mesir dan Israel terwujud untuk sesaat.

Perang tahun 1956 menyebabkan kembalinya keseimbangan yang tidak pasti, karena tidak ada
penyelesaian atau resolusi tetap mengenai masalah-masalah di wilayah itu. Pada masa itu, tidak ada
negara-negara Arab yang mengakui kedaulatan Israel. Suriah yang bersekutu dengan blok Soviet
mulai mengirim gerilyawan ke Israel pada awal tahun 1960-an sebagai bagian dari perang
pembebasan rakyat, dalam rangka untuk mencegah perlawanan domestik terhadap partai
Baath.*8+ Selain itu, negara-negara Arab juga mendorong gerilyawan Palestina menyerang sasaran-
sasaran Israel.

Pengangkut Air Nasional Israel

Pada tahun 1964, Israel telah mulai mengalihkan air dari Sungai Yordan untuk Pengangkut Air
Nasional Israelnya. Pada tahun berikutnya, negara-negara Arab mulai membuat Rencana
Pengalihan Air. Apabila rencana tersebut selesai, maka akan mengalihkan air dari Sungai Banias
agar tidak memasuki Israel dan Danau Galilea melainkan mengalir ke dalam suatu bendungan di
Mukhaiba untuk Yordania dan Suriah, serta mengalihkan air dari Hasbani ke dalam Sungai Litani di
Lebanon. Hal ini akan mengurangi kapasitas air yang masuk ke Pengangkut Air Nasional Israel
sebanyak 35%, dan persediaan air Israel sekitar 11%.

Angkatan Bersenjata Israel menyerang pekerjaan pengalihan tersebut di Suriah pada bulan Maret,
Mei, dan Agustus tahun 1965, sebuah rangkaian kekerasan yang berlanjut di sepanjang perbatasan,
yang berhubungan langsung dengan peristiwa-peristiwa lainnya yang nantinya akan memulai
perang.

Israel dan Yordania: Peristiwa Samu

Pada tanggal 12 November 1966, seorang Polisi Perbatasan Israel menginjak ranjau yang
menyebabkan terbunuhnya 3 tentara dan melukai 6 orang lainnya. Pihak Israel percaya bahwa
ranjau tersebut telah ditanam oleh teroris Es Samu di Tepi Barat. Pada pagi tanggal 13 November
1966, Raja Hussein, yang sudah tiga tahun mengadakan pertemuan rahasia dengan Abba Eban dan
Golda Meir untuk membahas keamanan perbatasan dan perdamaian, menerima pesan yang tidak
diminta dari Israel yang menyatakan bahwa Israel tidak mempunyai niat untuk menyerang
Yordania.*10+ Walaupun begitu, pada pukul 5:30 pagi, Hussein menyatakan bahwa dengan alasan
balas dendam terhadap aktivitas teroris dari P.L.O., Pasukan Israel menyerang Es Samu, sebuah
desa Yordania yang mempunyai 4.000 penduduk, seluruhnya merupakan pengungsi dari Palestina,
yang dituduh Israel menyembunyikan teroris dari Suriah.

Dalam Operasi Shredder, operasi tentara Israel terbesar sejak tahun 1956 sampai terjadinya Invasi
Lebanon 2006, pasukan sekitar 3.000-4.000 tentara yang didukung tank dan pesawat tempur ini
dibagi kedalam pasukan cadangan, yang tetap tinggal di bagian perbatasan Israel, dan dua pasukan
penyerang, yang menyebrang ke Tepi Barat yang dikuasai Yordania.

Pasukan yang lebih besar, delapan tank Centurion diikuti dengan 400 pasukan lintas udara yang
dimuatkan kedalam 40 truk dan 60 insinyur militer dalam 10 truk menuju kearah Samu, sementara
sejumlah pasukan kecil yang terdiri daripada tiga tank dan 100 pasukan payung terjun dan insinyur
militer yang menuju ke dua desa yang lebih kecil, Kirbet El-Markas dan Kirbet Jimba, dalam satu misi
untuk mengebom rumah-rumah. Di Samu, tentara Israel menghancurkan satu-satunya klinik di desa,
satu sekolah perempuan, pejabat pos, perpustakaan, satu kedai kopi dan sekitar 140 buah rumah.
Laporan berbeda mengenai peristiwa ini telah dibuat yang merujuk kepada buku Terrence Prittie,
Eshkol: The Man and the Nation dimana menyatakan 50 rumah telah diledakan tetapi penghuni-
penghuni rumah tersebut telah dipindahkan beberapa jam sebelumnya. Batalion Infantri tentara
Yordania ke-48, yang diarahkan oleh Mayor Asad Ghanma, bergerak menuju ke arah tentara Israel di
barat laut Samu dan dua kompeni yang bergerak menuju timur laut telah diserang oleh Israel, ketika
satu pleton Yordania yang bersenjatakan dua meriam 106 mm memasuki Samu. Dalam
pertempuran, tiga orang sipil Yordania dan 15 tentara tewas, 54 tentara lain dan 96 orang sipil
cedera. Letnan kolonel batalion pasukan lintas udara Israel, Kolonel Yoav Shaham, tewas dan
sepuluh tentara lainnya cedera. Merujuk kepada data pemerintah Israel, lima puluh tentara Jordan
tewas namun jumlah sebenarnya telah dirahasiakan demi menjaga moral dan keyakinan pada rezim
Raja Hussein.

Dua hari kemudian dalam satu memo kepada Presiden Johnson, asisten khususnya Walt Rostow
menulis tindakan balas dendam bukan inti kasus ini. Serangan 3000 orang dengan tank dan
pesawat-pesawat ini terlalu berlebihan terhadap provokasi yang terjadi, dan diarahkan kepada
sasaran yang salah dan kemudian menggambarkan kerusakan terhadap kepentingan Amerika
Serikat dan Israel: Mereka telah memusnahkan sistem kerjasama yang bagus diantara Hussein dan
pihak Israel Mereka telah menghianati Hussein. Kita telah mengeluarkan $500 juta untuk
membinanya sebagai salah satu faktor kestabilan pada perbatasan terpanjang Israel dan terhadap
Suriah dan Irak. Serangan Israel meningkatkan tekanan terhadap Hussein untuk menyerang balik,
tidak hanya dari negara-negara Arab yang radikal dan orang Palestina di Yordania, tetapi juga dari
angkatan darat, yang merupakan sumber dukungan utamanya, dan mungkin sekarang memaksa
untuk mendapatkan kesempatan membalas kekalahan pada hari Minggu Israel telah merusak
kemajuan menuju adanya akomodasi dengan orang-orang Arab. Mereka mungkin memperlihatkan
pada Suriah yang merupakan biang keladi, bahwa Israel tidak berani menyerang Suriah yang
dilindungi oleh Uni Soviet, namun boleh menyerang Yordania yang didukung oleh Amerika Serikat
tanpa ada hukuman.

Dalam menghadapi kritik dari orang Yordania, Palestina dan tetangga Arab lainnya karena
kegagalannya dalam mempertahankan Samu, Hussein memerintahkan untuk menjalankan mobilisasi
nasional pada tanggal 20 November 1966. Pada tanggal 25 November 1966, Dewan Keamanan PBB
mengadopsi Resolusi 228 dan menyesali kehilangan nyawa dan kerusakan besar menyebabkan
terjadinya tindakan Israel pada tanggal 13 November 1966, mengancam Israel karena jumlah
pasukan berskala besar yang melanggar Piagam PBB dan Perjanjian Perdamaian antara Israel dan
Yordania dan menekan kepada Israel bahwa tindakan balas dengan mengirim tentara tidak dapat
ditolerir dan jika mereka mengulangi hal tersebut, Dewan Keamanan PBB akan mempertimbangkan
langkah-langkah efektif seperti yang dibayangkan di dalam Piagam untuk memastikan pencegahan
terhadap pengulangan tindakan yang sedemikian.

Dalam satu telegram untuk Departemen Negara Bagian pada tanggal 18 Mei 1967, Duta besar
Amerika Serikat di Amman, Findley Burns, telah melaporkan bahwa Hussein telah menjelaskan
opininya dalam sebuah perbincangan sehari sebelumnya bahwa Yordania adalah salah satu
sasaran dalam jangka pendek dan dalam pandangan Hussein, ia pasti berlaku dalam jangka
panjang. Israel mempunyai kebutuhan militer dan ekonomi yang panjang serta tradisi agama dan
aspirasi sejarah yang tertentu dimana pada pandangan Hussein mereka masih belum puas. Satu-
satunya cara agar keinginan mereka tercapai adalah dengan mengubah status Tebing Barat,
Yordania. Oleh sebab itu pandangan Hussein adalah hal yang bagi Israel merupakan kesempatan
untuk mengambil kelebihan dari suatu peluang dan memaksa situasi apapun yang membuat mereka
lebih dekat kepada keinginan mereka. Hussein mengkhawatirkan bahwa keadaan pada saat itu yang
memberi kesempatan terhadap teroris, penyelundupan dan perpecahan diantara orang Arab yang
sangat jelas, dan mengenang peristiwa Samu Hussein menyatakan bahwa jika Israel
melancarkan serangan serangan berskala-Samu terhadap Yordania, ia tidak memiliki pilihan lain
selain untuk membalas serangan mereka atau ia akan menghadapi pemberontakan di negaranya.
Jika Yordania menyerang balas, tanya Hussein, apakah ini akan memberikan Israel suatu kesempatan
untuk merebut wilayah Yordania dan mempertahankan wilayah Yordania yang direbut? Atau Israel
mungkin akan menyerang dengan jenis serangan tembak-dan-lari hanya untuk menaklukan dan
mempertahankan wilayah dalam perang sebelumnya. Hussein menyatakan bahwa ia tidak mungkin
mengeluarkan kemungkinan-kemungkinan ini dari perkiraannya dan mendesak kami agar jangan
berbuat demikian walaupun kita hanya ingin merasakannya.

Israel dan Suriah

Selain mendukung serangan-serangan kepada Israel (yang sering memasuki wilayah Yordania,
sehingga mengesalkan Raja Hussein), Suriah pun mulai menembaki komunitas rakyat Israel di timur
Danau Galilea dari posisinya di Dataran Tinggi Golan, sebagai bagian dari perselisihan atas
penguasaan Zona Demiliterisasi, yaitu tanah kecil yang diklaim oleh Israel dan Suriah.

Pada tahun 1966, Mesir dan Suriah menandatangani persekutuan militer, yang mana mereka akan
saling membantu bila salah satunya diserang pihak lain. Menurut Indar Jit Rikhye (penasihat militer
PBB), Menteri Luar Negeri Mesir Mahmoud Riad mengatakan bahwa Mesir telah dibujuk oleh Uni
Soviet untuk menjalin pakta pertahanan tersebut berdasarkan 2 alasan: untuk mengurangi peluang
terjadinya serangan penghukuman terhadap Suriah oleh Israel, dan untuk membawa Suriah ke
dalam pengaruh Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser yang lebih moderat.

Selama kunjungan ke London pada bulan Februari tahun 1967, Menteri Luar Negeri Israel Abba Eban
menjelaskan kepada hadirin tentang harapan dan kegelisahan Israel, bahwa walaupun Libanon,
Yordania dan Republik Persatuan Arab (nama resmi Mesir sampai 1971) sepertinya berkeputusan
untuk berkonfrontasi aktif melawan Israel, masih perlu dilihat apakah Suriah dapat mengekang diri
sehingga permusuhan dapat dibatasi hanya sampai tingkatan retorik.

Pada tanggal 7 April 1967, suatu peristiwa kecil di perbatasan telah menyebabkan satu pertempuran
udara berskala besar di Dataran Tinggi Golan yang mengakibatkan Suriah kehilangan enam MiG-21,
yang dikalahkan oleh Dassault Mirage III Angkatan Udara Israel, yang juga terbang melintasi
Damaskus. [22] Tank, mortir, dan artileri digunakan oleh berbagai pihak sepanjang 47 mil (76 km)
perbatasan, yang dijelaskan sebagai suatu perselisihan terhadap hak pengerjaan tanah dalam Zona
Demiliterisasi, di sebelah tenggara Danau Tiberias. Pada awal minggu, Suriah telah 2 kali menyerang
traktor Israel yang bekerja di kawasan tersebut, dan ketika traktor itu kembali lagi di pagi hari
tanggal 7 April 1967, Suriah pun melepaskan tembakan. Israel bereaksi dengan mengirim beberapa
traktor lapis baja untuk terus membajak, mengakibatkan berlanjutnya aksi tembak-menembak.
Pesawat Israel menjatuhkan bom-bom seberat 250 dan 500 kilogram ke lokasi-lokasi Suriah. Suriah
membalas dengan menembak pemukiman-pemukiman Israel di perbatasan dan pesawat jet Israel
membalas dengan mengebom desa Sqoufiye yang menghancurkan 40 rumah. Pada pukul 15:19,
tembakan Suriah mulai jatuh di Kibbutz Gadot, sebanyak 300 tembakan telah jatuh dalam
lingkungan kibbutz dalam waktu 40 menit. UNTSO mencoba untuk menyusun gencatan senjata,
namun Suriah menolak untuk bekerja sama jika pengerjaan tanah Israel tidak dihentikan.

Perdana Menteri Israel, Levi Eshkol yang berbicara dalam suatu pertemuan partai politik sayap kiri
Mapai di Yerusalem pada tanggal 11 Mei 1967, ia memberikan ancaman bahwa Israel tidak ragu-
ragu untuk mengirim serangan udara dalam skala yang sebesar pada tanggal 7 April 1967 sebagai
balasan terhadap terorisme di perbatasan yang berkelanjutan. Pada hari yang sama, Gideon Rafael,
utusan Israel memberikan surat kepada Dewan Keamanan PBB dan memberikan ancaman bahwa
Israel akan bertindak untuk mempertahankan diri jika keadaan sekitar memungkinkan. Ditulis dari
Tel Aviv pada tanggal 12 Mei 1967, James Feron melaporkan bahwa sebagian dari pemimpin Israel
memutuskan untuk mengirim pasukan yang kuat tetapi dalam kurun waktu yang singkat dan pada
kawasan yang terbatas terhadap Syria. Laporan itu juga mengutip seorang pengamat yang
berwibawa yang berkata bahwa Republik Persatuan Arab, sekutu Suriah yang paling dekat di dunia
Arab, tidak akan ikut campur kecuali jika serangan Israel meluas.

Pada awal bulan Mei tahun 1967, kabinet Israel memberikan hak atas serangan terbatas terhadap
Suriah, namun permintaan semula oleh Rabin untuk menyerang secara besar-besaran agar dapat
menggulingkan rezim Baath ditentang oleh Eshkol.

Peristiwa di perbatasan terus bertambah dan banyak pemimpin Arab, termasuk para pemimpin
politik dan militer, meminta untuk mengakhiri tindakan Israel. Mesir, yang pada saat itu mencoba
merebut kedudukan yang utama di dalam dunia Arab di bawah Nasser, turut menyertai rencana-
rencana untuk memiliterisasi Sinai. Suriah mengutarakan pandangan-pandangan itu, walaupun tidak
siap untuk melakukan serangan tiba-tiba. Uni Soviet mendukung keperluan militer negara-negara
Arab dengan aktif. Intelijen Soviet memberikan laporan yang diberikan oleh Presiden Uni Soviet
Nikolai Podgorny kepada Wakil Presiden Mesir Anwar Sadat menyatakan bahwa tentara Israel
sedang berkumpul di sepanjang perbatasan Suriah. Pada tanggal 13 Mei, laporan Soviet yang
bohong itu didedahkan. Namun laporan palsu itu terungkap pada tanggal 13 Mei 1967. Pada bulan
Mei tahun 1967, Hafez Assad, selanjutnya Menteri Pertahanan Suriah juga menyatakan: Pasukan
kami sekarang seluruhnya siap tidak hanya untuk menahan agresi, namun untuk mengusahakan aksi
pembebasan, dan untuk menghancurkan kehadiran Zionis di tempat tinggal Arab. Pasukan Suriah,
dengan jarinya mencetuskan persatuan Saya, sebagai seseorang yang secara militer percaya bahwa
waktunya telah tiba untuk memasuki pertempuran pembinasaan.

Mundurnya Pasukan Keamanan PBB

Pada pukul 10.00 malam 16 Mei, Jendral Indar Jit Rikhye, letnan kolonel United Nations Emergency
Force (UNEF), menerima surat dari Jendral Mohammed Fawzy yang berbunyi: Sebagai informasi
untuk anda, saya telah mengarahkan semua tentara Republik Persatuan Arab agar mempersiapkan
diri untuk melakukan tindakan terhadap Israel jika negara itu melakukan tindakan yang agresif
terhadap salah satu negara Arab. Oleh karena instruksi ini, tentara kita kini bertumpu di perbatasan
timur kita di Sinai. Oleh sebab itu, agar pasukan keamanan PBB yang ditempatkan di pos-pos
pengawasan pada sepanjang perbatasan kita, saya meminta agar anda memerintahkan
pengunduran semua tentara dengan segera.

Rikhye berkata bahwa ia akan melaporkan kepada sekretaris jendral untuk mendapat instruksi
selanjutnya.

U Thant, Sekretaris Jendral PBB, mencoba untuk berunding dengan Mesir, namun, pada tanggal 18
Mei 1967, Menteri Luar Negeri Mesir memberitahu negara-negara yang memiliki tentara UNEF
bahwa misi UNEF di Mesir dan Jalur Gaza telah dibatalkan dan mereka harus pergi segera. Tentara
Mesir juga menghalangi tentara UNEF yang hendak memasuki pos mereka. India dan Yugoslavia
memutuskan untuk menarik semua tentara mereka dari UNEF, tanpa mengira keputusan U Thant.
Ketika semua ini berlangsung, U Thant memberi usulan bahwa UNEF pindah ke perbatasan Israel,
namun Israel menolak usulan ini. Wakil Mesir kemudian memberitahu U Thant bahwa Mesir telah
memutuskan untuk menghilangkan kehadiran UNEF di Sinai dan Jalur Gaza, dan meminta agar
diambil langkah untuk semua pasukan darurat mundur dengan segera. Pada tanggal 19 Mei 1967,
letnan kolonel UNEF menerima perintah untuk mundur. Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir,
kemudian memulai demiliterisasi Sinai, dan mempersiapkan tank dan tentara di perbatasan antara
Mesir dan Israel.

Selat Tiran

Pada tanggal 22 Mei 1967, Mesir mengumumkan bahwa mulai dari tanggal 23 Mei 1967, Selat Tiran
akan ditutup untuk semua kapal yang mengibarkan bendera Israel atau membawa bahan-bahan
strategik. Nasser juga menyatakan, Tidak akan membiarkan bendera Israel melalui Teluk Aqaba
dengan alasan apapun. Kebanyakan perdagangan Israel menggunakan pelabuhan-pelabuhan di
kawasan Laut Tengah, dan menurut John Quigley, walaupun kapal-kapal dengan bendera Israel tidak
pernah menggunakan pelabuhan Eilat sejak dua tahun sebelum bulan Juni tahun 1967, minyak yang
dibawa oleh kapal-kapal dengan bendera yang bukan bendera Israel merupakan impor yang sangat
penting bagi Israel. Terdapat ketidakjelasan tentang tingkat keketatan blokade tersebut, khususnya
mengenai apakah hal itu juga berlaku terhadap kapal-kapal yang bukan berbendera Israel.

Melihat hukum internasional, Israel menganggap bahwa Mesir telah menyalahi undang-undang jika
negara tersebut menutup Selat Tiran, dan menyatakan bahwa Israel akan menganggap blokade itu
sebagai suatu casus belli pada tahun 1957 ketika Israel mundur dari Sinai dan Jalur Gaza. Negara-
negara Arab memperdebatkan hak Israel untuk melewati Selat Tiran kerana mereka tidak
menandatangani Konvensi PBB tentang peraturan laut terutama karena Pasal 16(4) memberikan hak
tersebut kepada Israel. Dalam perselisihan Majelis Umum PBB, banyak negara mengemukakan
alasan bahwa jika hukum internasional memberikan hak untuk lewat kepada Israel, Israel tidak
berhak menyerang Mesir untuk menuntut haknya karena penutupan itu bukan merupakan
serangan bersenjata seperti yang tertulis dalam Pasal 51 dalam Piagam PBB. Selain itu menurut
profesor hukum internasional John Quigley, berdasarkan doktrin proporsional, Israel berhak
menggunakan kekuatan bersenjata hanya seperlunya saja demi mengamankan haknya untuk lewat.

Israel memperhatikan penutupan selat itu dengan serius dan meminta Amerika Serikat dan Britania
Raya untuk membuka Selat Tiran seperti yang telah mereka jaminkan pada tahun 1957. Proposal
Harold Wilson agar adanya kekuatan laut internasional untuk memecahkan krisis ini disetujui oleh
Presiden Johnson, akan tetapi ia tidak menerima banyak dukungan, dan hanya Britania Raya dan
Belanda yang menawarkan bantuan berupa kapal-kapal.

Mesir dan Yordania

Ideologi Nasser yang berbentuk pan-Arabisme telah mendapat banyak dukungan di Yordania,
sehingga pada tanggal 30 Mei 1967, Yordania menandatangani pakta pertahanan dengan Mesir, oleh
sebab itu, ia bergabung dengan persekutuan militer antara Mesir dan Yordania. Presiden Nasser,
dimana telah menyebut Raja Hussein sebagai seorang pesuruh imperialis, pada awal hari
menyatakan: Tujuan awal kita semua adalah kehancuran Israel. Orang-orang Arab ingin berperang.

Pada akhir bulan Mei tahun 1967, tentara Yordania telah dikomando oleh Jendral Mesir, Jendral
Abdul Munim Riad. Pada hari yang sama, Nasser menyatakan: Tentara Mesir, Yordania, Suriah
dan Lebanon sedang dalam keadaan tenang di perbatasan Israel untuk menghadapi tantangan,
dimana dibelakang kami berdiri tentara Irak, Aljazair, Kuwait dan Sudan dan semua negara Arab. Aksi
ini akan mengherankan dunia. Hari ini mereka akan mengetahui bahwa Arab telah siap untuk sebah
pertempuran, waktu yang menentukan telah tiba. Kita telah mencapai panggung aksi serius dan
bukan deklarasi-deklarasi lainnya. Kami telah mencapai panggung aksi serius dan tidak lagi
mengeluarkan deklarasi.

Israel telah meminta Yordania beberapa kali agar tidak menyerang Israel. Namun, Hussein berada di
ujung tanduk, dan berada di dalam dilema, ia harus memilih apakah Yordania harus ikut dalam
peperangan dan menerima resiko dari balasan Israel, atau agar tetap netral dan mendapat resiko
akan terjadinya revolusi di Yordania. Jendral Sharif Zaid Ben Shaker juga memperingati dalam
konferensi pers bahwa Jika Yordania tidak ikut dalam perang ini, perang saudara akan
menghancurkan Yordania.

Israel memiliki pandangannya sendiri berkaitan dengan peranan Yordania dalam perang yang
berdasarkan kekuasaan Yordania atas Tepi Barat. Hal ini akan membuat tentara Arab yang hanya
berjarak 17 kilometer dari pantai Israel yang merupakan suatu titik perubahan dimana serangan tank
akan membelah Israel menjadi dua dalam waktu 2 jam. Walaupun jumlah tentara Yordania memiliki
arti bahwa Yordania mungkin tidak akan melaksanakan latihan militer karena berhubungan dengan
sejarah bahwa negara ini digunakan oleh negara Arab lainnya sebagai panggung untuk operasi
melawan Israel, oleh sebab itu, serangan dari Tepi Barat akan menjadi ancaman bagi Israel. Pada
waktu yang sama, negara Arab yang tidak berbatasan dengan Israel, seperti Irak, Sudan, Kuwait dan
Aljazair mulai menggerakkan tentara mereka.

Aliran menuju peperangan

Dalam ucapannya kepada orang-orang Arab pada tanggal 26 Mei 1967, Nasser menyatakan:Jika
Israel memulai agresi terhadap Suriah atau Mesir, pertempuran ini akan menjadi hal yang umum
dan tujuan dasar kita adalah untuk menghancurkan Israel.

Menteri Luar Negeri Israel, Abba Eban menulis dalam biografinya bahwa ia telah diinformasikan oleh
U Thant mengenai janji Nasser untuk tidak menyerang Israel, sehingga Abba Eban telah mendapat
jaminan yang meyakinkan bahwa Nasser tidak ingin adanya peperangan, ia hanya menginginkan
kemenangan tanpa peperangan.

Ditulis dari Mesir pada tanggal 4 Juni 1967, jurnalis New York Times James Reston memiliki
pandangan : Kairo tidak ingin adanya peperangan dan ia tidak siap untuk sebuah peperangan.
Tetapi ia menerima kemungkinan, walaupun hanya kemungkinan, seolah-olah ia telah kehilangan
kekuasaan atas situasi.

Sebuah tulisan ditulis pada tahun 2002 oleh jurnalis Mike Shuster yang mengekspresikan
pandangannya bahwa hal itu adalah hal yang lazim di Israel sebelum perang tersebut karena Israel
dikepung oleh negara Arab. Mesir dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser, nasionalis yang pasukannya
merupakan pasukan terkuat di Timur Tengah. Suriah dipimpin oleh Partai Baath yang radikal, yang
membahas permasalahan untuk mendorong Israel ke laut. Hal ini dilihat oleh Israel sebagai aksi
provokasi oleh Nasser, termasuk penutupan selat Tiran dan mobilisasi pasukan di Sinai, yang
membuat rantai teanan ekonomi dan militer, dan Amerika Serikat menunggu kesempatan baik
karena permasalahannya dalam Perang Vietnam, tokoh militer dan politik Israel merasa bahwa
dengan melakukan tindakan militer sebelum diserang bukan hanya lebih disukai, tetapi
transformatif.

Diplomasi dan taksiran Intelijen

Kabinet Israel melakukan sidang pada tanggal 23 Mei 1967 dan membuat keputusan untuk
melancarkan serangan lebih dahulu jika Selat Tiran tidak dibuka sampai tanggal 25 Mei 1967. Setelah
suatu pendekatan US Undersecretary of State Eugene Rostow untuk melakukan perundingan
sebagai penyelesaian masalah tanpa peperangan, dan Israel setuju untuk menunda serangannya.

Taksiran CIA yang baru dilaporkan, membantah perkiraan pesimistik Israel mengenai militer Arab.
Johnson, pada kehadiran Sekretaris McNamara dan petugas senior lainnya, mendengar Abba Eban
pada tanggal 26 Mei 1967.

Pada tanggal 26 Mei 1967, Menteri Luar Israel Abba Eban mendarat di Washington D.C. untuk
memastikan Amerika tentang keputusannya dalam peristiwa ini. Segera setelah Eban tiba, ia
mendapat telegram dari pemerintah Israel. Telegram itu menyatakan bahwa Israel telah
mempelajari rencana Mesir dan Suriah untuk melancarkan suatu peperangan pemusnahan atas
Israel dalam kurun waktu 48 jam yang akan datang. Eban bertemu dengan Sekretaris Negara
Amerika Serikat Dean Rusk, Sekretaris Pertahanan Robert McNamara, dan akhirnya dengan Presiden
Johnson. Pihak Amerika menyatakan bahwa sumber intelijen mereka tidak dapat mendukung
tuduhan tersebut, kedudukan Mesir di Sinai masih dalam posisi bertahan. Eban meninggalkan
Gedung Putih dengan bingung. Sejarahwan Michael Oren menerangkan tentang reaksinya: Eban
sangat bingung dan tidak yakin bahwa Nasser bertekad atau malah berniat menyerang, dan sekarang
nampak bahwa pihak Israel membesar-besarkan ancaman Mesir dan menampilkan kelemahan
mereka untuk menarik janji bahwa Presiden yang dibatasi Kongres, tidak pernah membuatnya.
Suatu tindakan tanpa ada tanggung jawab aneh adalah perkataan-perkataan yang ia kirim dalam
telegram , dimana ia juga menulis, kurang bijaksana, kurang tepat dan kurang kepahaman taktik.
Tidak ada siapapun yang benar mengenai hal itu.

Dalam satu ceramah pada tahun 2002, Oren berkata,

Johnson duduk disekeliling penasehat-penasehatnya dan berkata, Bagaimana jika sumber intelijen
mereka lebih baik daripada sumber intelijen kita?

Johnson memilih untuk mengirim pesan kepada rekannya di Kremlin, Alexey Kosygin, dimana ia
berkata,Kami mendengar dari Israel, tetapi kami tidak akan mengesahkannya, bahwa wakii anda di
Timur Tengah, Mesir, sedang merancang untuk menyerang Israel dalam kurun waktu 48 jam yang
akan datang. Jika anda tidak mau memulai krisis global, halangi mereka daripada berbuat demikian.

Pada pukul 2:30 pagi tanggal 27 Mei 1967, duta besar Uni Soviet di Mesir, Dimitri Pojidaev mengetuk
pintu Nasser dan membacakan satu surat pribadi dari Kosygin dimana berkata,

Kami tidak mau Mesir disalahkan sebagai biang keladi atas suatu peperangan di Timur Tengah. Jika
anda melancarkan serangan itu, kami tidak dapat mendukung anda.

Abdel Hakim Amer berunding dengan rekannya di Kremlin, dan mereka telah mengesahkan pesanan
Kosygin. Karena putus harapan, Amer memberitahu letnan kolonel angkatan udara Mesir, Mayor
Jendral Mahmud Sidqi, bahwa operasi itu dibatalkan. Menurut Wakil Presiden Mesir, Hussein al
Shafei, segera Nasser mengetahui apa yang Amer rencanakan sehingga ia membatalkan operasi
tersebut.

Analisa CIA mengenai Perang Arab-Israel 1967.

Pada tanggal 30 Mei 1967, Nasser membalas permintaan Johnson sebelas hari lebih awal dan setuju
untuk mengirim Wakil Presiden Mesir, Zakkariya Muhieddin, ke Washington D.C. pada tanggal 7 Juni
1967 untuk mengeksplorasi suatu penyelesaian diplomatik dalam pembukaan Gedung Putih yang
terlihat. Sekretaris Negara Amerika Serikat, Dean Rusk sangat kecewa dengan serangan yang
dilakukan Israel lebih dulu pada tanggal 5 Juni 1967 karena Amerika Serikat berusaha untuk
mendapat penyelesaian diplomatik jika memungkinkan. Sejarahwan Michael Oren telah mencatat
bahwa Rusk marah seperti neraka dan Johnson kemudian menulis bahwa Saya tidak dapat
menyembunyikan rasa kekesalan saya bahwa Israel telah memutuskan untuk melakukan apa yang
telah dibuatnya.

Di kalangan ahli politik Israel, diputuskan bahwa jika Amerika Serikat tidak bertindak, dan jika PBB
tidak dapat bertindak, maka Israel akan bertindak. Pada tanggal 1 Juni 1967, Moshe Dayan dilantik
sebagai Menteri Pertahanan Israel, dan pada tanggal 3 Juni 1967, administrasi Johnson memberikan
suatu pernyataan yang meragukan bahwa Israel kembali dalam persiapan perang. Serangan Israel
terhadap Mesir tanggal 5 Juni 1967 bermula dengan apa yang disebut sebagai Perang Enam Hari.
Martin van Creveld menerangkan dorongan menuju peperangan: konsep bagi perbatasan yang
dapat dipertahankan bukanlah bagian dari kamus Angkatan Bersenjata Israel sendiri. Siapapun yang
melihat kepada falsafah militer pada saat itu akan melakukannya dalam tekanan. Sebagai gantinya,
letnan kolonel Israel berdasarkan pemikiran mereka terutama pada saat perang 1948, kemenangan
mereka pada tahun 1956 atas Mesir. Apabila krisis tahun 1967 meletus, mereka yakin akan
kemampuan mereka untuk memenangkan peperangan dengan tegas, cepat and bergaya, dimana
satu dari anggota mereka, Jendral Haim Bar Lev, meletakkannya, dan menekan pemerintahan
mereka untuk memulai peperangan secepat mungkin.

Tentara yang bertempur

Terdapat sekitar 100.000 dari 160.000 pasukan Mesir di Sinai, termasuk semua dari 7 divisi (4
infantri, 2 lapis baja dan 1 dimaknisasikan), juga 4 infantri indenpenden dan 4 brigadir lapis baja
indenpenden. Tidak kurang 3 dari mereka adalah veteran Mesir yang melakukan intervensi di Yaman
pada saat Perang Saudara Yaman dan 3 lainnya adalah cadangan. Pasukan ini memiliki 950 tank,
1.100 APC dan lebih dari 1.000 artileri. Pada waktu yang sama beberapa tentara Mesir (15.000
20.000) masih bertempur di Yemen. Dua perasaan Nasser yang bertentangan tentang keinginannya
digambarkan dalam perintahnya terhadap militer. Pegawai jenderal mengganti rencana operasional
4 kali pada bulan Mei tahun 1967, yang tiap perubahan harus dilakukan kembali distribusi pasukan,
dengan korban yangtidak dapat dihindarkan baik tentara maupun peralatan. Pada saat menuju akhir
Mei, Nasser akhirnya melarang pegawai jendral untuk melanjutkan rencana Qahir (kemenangan),
dimana memanggil layar infantri ringan dalam fortifikasi selanjutnya dengan bagian terbesar
pasukan menahan balik untuk menahan serangan balik besar-besaran dan melawan pasukan utama
Israel ketika diidentifikasi, dan memerintahkan pertahanan lebih lanjut atas Sinai. Ia melanjutkan
mengambil aksi untuk meningkatkan jumlah mobilisasi Mesir, Suriah dan Yordania, untuk membuat
tekanan terhadap Israel.

Pasukan Yordania berjumlah 55.000, sedangkan pasukan Suriah memiliki 75.000 pasukan.

Pasukan Israel memiliki pasukan, termasuk pasukan cadangan, yang berjumlah 264.000, walaupun
begitu jumlah ini tidak dapat ditopang, apalagi pasukan cadangan sangat vital untuk keselamatan
rakyat sipil. James Reston menulis di koran New York Times pada tanggal 23 Mei 1967 mencatat,
Dalam kedisiplinan, pelatihan, moral, peralatan dan kemampuan jendral Mesir dan pasukan
lainnya, tanpa bantuan langsung dari Uni Soviet, tidak ada apa-apanya dibanding Israel Meskipun
dengan 50.000 pasukan dan dengan jendral terbaiknya dan pasukan udaranya di Yaman, dia tidak
akan bisa untuk melakukan jalannya di negara kecil dan primitif itu, dan usahanya untuk menolong
pemberontak Kongo adalah sebuah kegagalan.

Pada sore hari tanggal 1 Juni 1967, Menteri Pertahanan Israel Moshe Dayan memanggil jendral
Yitzhak Rabin dan Jendral Brigadir Komando Selatan Yeshayahu Gavish untuk menghadiri rencana
melawan Mesir. Rabin telah mencampur rencana dimana komando selatan akan bertempur dalam
perjalanannya menuju Jalur Gaza dan lalu menahan teritori dan orang-orangnya sebagai sandra
hingga Mesir setuju untuk membuka kembali Selat Tiran, dimana Gavish memiliki rencana luas untuk
memusnahkan pasukan Mesir di Sinai. Rabin lebih menyukai rencana Gavish, dimana disetujui oleh
Dayan dengan hati-hati bahwa serangan serempak melawan Suriah harus dihindari.

Serangan udara

Operasi Fokus

Operasi Fokus adalah pembukaan dari serangan udara Israel pada awal Perang Enam Hari tahun
1967. Operasi ini dilakukan di Semenanjung Sinai.

Pada pukul 07:45, tanggal 5 Juni 1967, Angkatan Udara Israel dibawah pimpinan mayor jendral
Mordechai Hod meluncurkan serangan udara besar-besaran yang menghancurkan angkatan udara
Mesir. Akhirnya, sekitar 450 pesawat tempur Yordania, Suriah dan Mesir hancur. Operasi ini juga
menghancurkan 18 lapangan udara di Mesir.

Pergerakan Israel yang pertama dan yang paling penting adalah serangan pre-emptif terhadap
Angkatan Udara Mesir. Angkatan Udara Mesir merupakan tentara udara termodern dan terbesar di
kalangan Angkatan udara Arab, memiliki kurang lebih 450 pesawat tempur, dan semuanya
merupakan buatan Uni Soviet dan baru.

Salah satu hal yang dikhawatirkan oleh Israel adalah 30 buah pesawat pengebom sederhana Tu-16
Badger, yang dapat memberikan kerusakan besar kepada pemukiman penduduk dan markas militer
Israel. Pada tanggal 5 Juni 1967 pukul 7:45 waktu Israel, sirine pertahanan rakyat sipil dibunyikan
diseluruh Israel, Angkatan Udara Israel melancarkan Operasi Fokus (Moked). Semua 200 jet kecuali
12 yang boleh beroperasi telah meninggalkan kawasan udara Israel dalam satu serangan besar
terhadap bandara militer Mesir. Infrastruktur pertahanan Mesir memang lemah, dan tidak ada
lapangan udara militer yang dilengkapi dengan bunker untuk mempertahankan pesawat terbang
angkatan udara Mesir dalam satu serangan. Pesawat udara Israel bergerak menuju Laut Tengah
sebelum kembali ke Mesir. Pada saat itu, pihak Mesir mengganggu pertahanan mereka sendiri
dengan menutup seluruh pertahanan udara secara efektif, karena mereka takut jika pemberontak
Mesir akan menembak jatuh pesawat terbang yang membawa seluruh Letjen Sidqi Mahmoud, yang
berada dalam perjalanan dari al Maza ke Bir Tamada di Sinai untuk bertemu dengan letnan kolonel
yang bertugas di sana. Dalam peristiwa ini memang tidak banyak bedanya kerana pilot terbang di
bawah liputan radar dan sesuai dibawah titik terendah dimana baterai misil S-75 Dvina daratan-ke-
udara akan menjatuhkan pesawat terbang tersebut. Israel telah menggunakan strategi serangan
campuran, pengeboman dan tembakan yang bertubi-tubi terhadap pesawat, dengan sistem
serangan bom menembus bandara yang menyebabkan bandara tidak berguna untuk pesawat-
pesawat yang tidak musnah dan oleh sebab itu, menjadikannya sasaran yang tidak dapat
diselamatkan karena gelombang-gelombang serangan Israel. Serangan tersebut lebih sukses
dibanding yang diharapkan. Serangan itu hampir memusnahkan seluruh Angkatan Udara Mesir di
daratan tanpa banyak pengorbanan Israel. Lebih dari 300 pesawat Mesir dimusnahkan, dengan 100
pilot Mesir dibunuh Israel kehilangan 19 pesawat terbang karena kehilangan kendali, yaitu kegagalan
mekanik, dan sebagainya. Serangan ini juga menjamin keunggulan udara Israel pada perang ini.

Sebelum peperangan ini terjadi, pilot Israel di lapangan telah berlatih dengan sungguh-sungguh
untuk memperlengkap serangan deras pesawat yang kembali setelah melakukan serangan tiba-tiba,
menyebabkan 1 pesawat melakukan serangan tiba-tiba empat kali sehari (hal ini bertentangan
dengan norma angkatan udara Arab yang hanya dapat melakukan satu atau dua serangan udara
setiap hari). Hal ini membuat Angkatan Udara Israel menurunkan banyak gelombang serangan
terhadap bandara militer Mesir pada saat perang yang pertama, dan mengalahkan Angkatan Udara
Mesir. Hal ini juga menyebabkan orang Arab mempercayai bahwa Angkatan Udara Israel dibantu
oleh militer asing.

Menyusul kemenangan gelombang-gelombang serangan permulaan terhadap bandara militer Mesir
yang utama, serangan-serangan susulan dibuat pada akhir hari pertama terhadap bandara yang
lebih kecil serta bandara Yordania, Suriah, dan juga Irak. Sepanjang perang, pesawat-pesawat Israel
meneruskan tembakan yang bertubi-tubi terhadap bandara Mesir untuk mencegah pemulihan
bandara tersebut.

Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai

Penguasaan Sinai. 7 Juni-8 Juni 1967

Pasukan Mesir terdiri dari 7 divisi, yaitu 4 divisi lapis baja, 2 divisi infantri, dan 1 divisi infantri yang
dimaknisasi. Mesir memiliki sekitar 100.000 pasukan dan 900-950 tank di Sinai, dibelakangi oleh
1.100 Pengangkut personel lapis baja dan 1.000 artileri. Penyusunan ini berdasarkan dari doktrin Uni
Soviet, di mana mobil lapis baja menyediakan pertahanan dinamik ketika infantri ikut serta dalam
pertempuran yang bersifat pertahanan.

Pasukan Israel mengkonstrasikan di perbatasan Mesir dengan mengikutsertakan 6 brigadir lapis baja,
1 brigadir infantri, 1 brigadir infantri yang dimaknisasi, 3 brigadir pasukan payung dan 700 tank yang
berjumlah 70.000 orang, diatur dalam 3 divisi lapis baja. Rencana Israel adalah untuk mengejutkan
pasukan Mesir (serangan tersebut tentu saja bertepatan dengan serangan Angkatan Udara Israel
terhadap bandara Mesir), yang menyerang melalui rute utara dan tengah Sinai, dimana diluar
dugaan Mesir karena Mesir mengguna Israel akan menggunakan rute yang sama dengan serangan
tahun 1956, dimana Angkatan Bersenjata Israel menyerang melalui rute tangah dan selatan.

Pada divisi Israel yang di utara, terdapat 3 brigadir dan diperintah oleh Mayor Jendral Israel Tal, salah
satu letnan kolonel yang paling penting, menyerang dengan lambat melewati Jalur Gaza dan El Arish,
yang tidak dilindungi.

Divisi tengah yang diperintah oleh Avraham Yoffe dan divisi selatan yang diperintah oleh Ariel
Sharon, memasuki daerah Abu-Ageila-Kusseima yang sangat dilindungi oleh Mesir yang membuat
terjadinya Pertempuran Abu-Ageila. Pasukan Mesir yang berada disana terdiri dari 1 divisi militer, 1
batalyon tank perusak dan 1 regimen tank.

Sharon melakukan sebuah serangan, yang telah direncanakan. Ia mengirim 2 dari brigadirnya ke sisi
utara Um-Katef, yang pertama yang dapat menembus pertahanan Abu-Ageila ke selatan, dan yang
kedua yang dapat memblok jalan menuju El Arish dan untuk melingkari Abu-Ageila dari timur. Pada
waktu yang sama, pasukan payung terjun didekat bagian belakang posisi bertahan pasukan mesir
dan menghancurkan artileri untuk mencegah penggunaan artileri untuk membalas serangan infantri
Israel dengan artileri tersebut. Dengan digabungkannya pasukan, tank, pasukan payung, infantri,
artileri, dan insinyur militer yang menyerang Mesir dari depan, belakang dan sisi lainnya.
Pertempuran berlangsung 3 setengah hari sampai akhirnya Abu-Ageila jatuh.

Banyak pasukan Mesir yang tetap utuh dan terus mencoba mencegah pasukan Israel mencapai
Terusan Suez atau menyerang secara tiba-tiba dalam usaha untuk mencapai kanal. Namun, ketika
Menteri Pertahanan Mesir, Abdel Hakim Amer mendengar berita tentang jatuhnya Abu-Ageila, ia
panik dan memerintahkan seluruh pasukan di Sinai untuk mundur. Perintah ini berarti kekalahan
Mesir.

Karena mundurnya pasukan Mesir, letnan kolonel tertinggi Israel memilih untuk tidak mengejar
pasukan Mesir, namun lebih baik menyusul dan menghancurkan mereka di wilayah pegunungan di
Sinai Barat. Setelah itu, dalam waktu 2 hari (6 Juni 7 Juni 1967), seluruh 3 divisi Israel (Sharon dan Tal
diperkuat oleh brigadir lapis baja) maju menuju barat dan mencapai jalan di daerah pegunungan.
Divisi Sharon pertama pergi menuju selatan dan barat menuju celah Mitla. Semua pasukannya
bergabung disana dengan bagian dari divisi Yoffe, ketika pasukan lainnya memblok celah Gidi.
Pasukan Tal juga berhenti di berbagai tempat.

Aksi blokade Israel hanya sukses di celah Gidi yang dapat direbut sebelum pasukan Mesir muncul,
namun di tempat lain, pasukan Mesir dapat melewati dan menyebrang untuk keselamatan terusan.
Namun, kemenangan Israel tetaplah mengagumkan. Dalam operasi selama 4 hari, pasukan Israel
menaklukan pasukan yang paling besar dan pasukan paling bersenjata di Arab, meninggalkan
beberapa tempat di Sinai terbuang dengan ratusan pembakaran atau mobil Mesir yang ditinggalkan
dan persenjataan militer.

Pada tanggal 8 Juni 1967, Israel menyelesaikan pendudukan Sinai dengan mengirim pasukan infantri
ke Ras-Sudar (ladang minyak di teluk Suez) di pantai barat semenanjung tersebut.

Terdapat beberapa penyebab yang membuat serangan cepat Israel menjadi mungkin untuk
dilakukan, pertama, keunggulan Angkatan Udara Israel atas Mesir, kedua, Israel membuat rencana
perang yang baik, dan yang ketiga, koordinasi yang kurang diantara pasukan Mesir. Hal tersebut juga
menjadi elemen kemenangan di front Israel yang lainnya.

Tepi Barat

Peta jalur serangan Yordania tanggal 5 Juni 7 Juni 1967

Yordania enggan untuk memasuki perang ini. Beberapa menyatakan bahwa Nasser menggunakan
ketidakjelasan pada jam pertama konflik tersebut untuk meyakinkan Hussein bahwa ia menang.
Nasser menyatakan sebagai bukti bahwa sebuah radar melihat 1 skuadron pesawat tempur Israel
kembali dari bombardmen di Mesir yang dinyatakan oleh Nasser sebagai pesawat Mesir yang
menyerang Israel. Salah satu brigadir Yordania yang berpatroli di Tepi Barat dikirim ke daerah
Hebron untuk berhubungan dengan Mesir. Hussein memilih untuk menyerang.

Pada perang, militer Yordania, termasuk 11 brigadir yang berjumlah 55.000 pasukan, dilengkapi
dengan 300 tank modern. 9 brigadir (45.000 tentara, 270 tank, 200 artileri) didistribusikan ke Tepi
Barat, termasuk brigadir elit lapis baja ke-40, dan 2 di Lembah Yordania. Pasukan Arab merupakan
pasukan yang berpengalaman, profesional, memiliki persenjataan yang cukup dan sudah cukup
terlatih, bahkan pos perang Israel menyatakan bahwa jendral Yordania beraksi dengan profesional,
tapi selalu meninggalkan setengah dari langkah dibelakang oleh pergerakan Israel. Pada Angkatan
Udara Yordania hanya terdapat 24 pesawat tempur Hawker Hunter buatan Britania Raya. Menurut
Israel, pesawat Hawker Hunter sejajar dengan Dassault Mirage III buatan Perancis yang merupakan
pesawat terbaik Angkatan Udara Israel.

Untuk melawan pasukan Yordania di Tepi Barat, Israel mendistribusikan sekitar 40.000 pasukan dan
200 tank {8 brigadir). Pada pasukan utama Israel terdapat 5 brigadir. 2 brigadir berpatroli di
Yerusalem dan disebut Brigadir Yerusalem dan Brigadir Harel yang dimaknisasikan. Brigadir pasukan
payung ke-55 Mordechai Gur dipanggil dari front Sinai. Sebuah brigadir lapis baja dialokasikan dari
pasukan cadangan dan dibawa ke daerah Latrun. Brigadir lapis baja ke-10 berpatroli di utara Tepi
Barat. Komando utara Israel menyediakan sebuah divisi 3 brigadir) yang dipimpin oleh mayor jendral
Elad Peled, yang berpatroli di utara Tepi Barat, di Lembah Jezreel.

Rencana Angkatan Bersenjata Israel merupakan rencana untuk tetap bertahan di front Yordania,
agar dapat mengutamakan serangan atas Mesir. Namun, pada pagi hari tanggal 5 Juni 1967, pasukan
Yordania melakukan daya tolak di daerah Yerusalem, menduduki rumah pemerintahan yang
digunakan sebagai benteng untuk pengamat PBB dan menembak bagian barat kota Yerusalem.
Pasukan di Qalqiliya menembak ke arah kota Tel Aviv. Angkatan Udara Yordania menyerang bandara
Israel. Baik serangan udara maupun artileri menyebabkan kerusalakan kecil. Pasukan Israel
berpencar untuk menyerang pasukan Yordania di Tepi Barat. Pada siang hari di hari yang sama,
Angkatan Udara Israel beraksi dan menghancurkan Angkatan Udara Yordania. Pada sore hari,
brigadir infantri Yerusalem bergerak ke arah selatan Yerusalam, ketika pasukan payung Harel dan
Gur melingkari dari utara.

Pada tanggal 6 Juni 1967, pasukan Israel menyerang. Brigadir pasukan payung cadangan
menyelesaikan pelingkaran Yerusalem dalam pertarungan yang berdarah, yaitu Pertempuran Bukit
Amunisi, pertempuran yang terjadi di pos militer Yordania di Yerusalem Timur. Brigadir infantri
menyerang benteng di Latrun dan merebutnya pada akhir hari, dan maju melewati Beit Horon
menuju Ramallah. Brigadir Harel melanjutkan serangannya ke daerah pegunungan di barat laut
Yerusalem. Pada sore hari, brigadir tersebut tiba di Ramallah. Angkatan Udara Israel mendeteksi dan
menghancurkan Brigadir Yordania ke-60 dengan Angkatan Udara Israel mengalihkan rute dari
Yerikho untuk memperkuat Yerusalem.

Di utara, 1 batalion dari divisi Peled dikirim untuk memeriksa pertahanan Yordania di Lembah
Yordania. Brigadir yang merupakan bagian dari divisi Peled merebut bagian barat dari Tepi Barat,
dan yang lainnya merebut Jenin dan yang ketiga (dilengkapi dengan AMX-13) menyerang tank M48
Patton milik Yordania di timur.

Pada tanggal 7 Juni 1967, pertarungan berat terjadi kemudian. Pasukan payung Gur memasuki kota
tua Yerusalem melewati gerbang singa dan merebut tembok ratapan dan Al Haram Al Sharif. Brigadir
Yerusalem lalu memperkuat mereka, dan melanjutkan serangan ke selatan, merebut Yudea, Gush
Etzion dan Hebron. Brigadir Harel melanjutkan serangan ke timur, bergerak menuju Sungai Yordan.
Di Tepi Barat, salah satu brigadir Peled mengepung Nablus lalu bergabung dengan salah satu brigadir
pasukan utama untuk bertempur melawan pasukan Yordania yang memiliki jumlah persenjataan
yang lebih banyak dari Israel.

Kekuasaan udara Israel menjadi faktor kekalahan Yordania. Salah satu brigadir Peled bergabung
dengan pasukan utama yang datang dari Ramallah, dan 2 lainnya mengeblok Sungai Yordan bersama
dengan Pasukan Utama ke-10 (nantinya mereka menyebrangi Sungai Yordan ke Tepi Timur untuk
menyediakan tempat untuk insinyur militer ketika mereka meledakan jembatan, tapi akhirnya
dengan cepat mundur karena tekanan Amerika Serikat).

Dataran Tinggi Golan

Pertempuran Dataran Tinggi Golan, 9 Juni 10 Juni 1967

Laporang orang Mesir yang salah tentang kemenangan atas pasukan Israel, dan ramalan bahwa
artileri Mesir akan segera menguasai Tel Aviv membuat Suriah semakin yakin untuk memasuki
perang. Kepemimpinan Suriah mengadopsi kemunculan yang lebih berhati-hati daripada mulai
menyerang Israel Utara. Ketika Angkatan Udara Israel menyelesaikan misinya di Mesir, dan berbalik
untuk menghancurkan Angkatan Udara Suriah yang terkejut, Suriah mengerti bahwa berita yang
didengar dari Mesir tentang penghancuran atas militer Israel adalah berita palsu. Selama sore hari
pada tanggal 5 Juni 1967, serangan udara Israel menghancurkan dua dari pesawat Angkata Udara
Suriah, dan memaksa pesawat lainnya untuk mundur ke basis terdekat, tanpa memainkan peran
lebih jauh dalam peperangan. Pasukan Suriah mencoba merebut pabrik air di Tel Dan. Beberapa tank
Suriah juga dilaporkan tenggelam di sungai Yordan. Dalam berbagai kasus, komando Suriah berharap
adanya serangan bawah tanah dan memulai serangan besar-besaran atas kota Israel di Lembah
Hula.

Tanggal 7 Juni 1967 dan 8 Juni 1967 terlewati dengan hal seperti ini. Pada saat itu, debat telah
terjadi di Israel bahwa Dataran Tinggi Golan juga harus diserang. Militer menyatakan bahwa
serangan itu akan sangat mahal, karena pertempuran itu merupakan pertempuran di daerah
pegunungan melawan musuh yang kuat. Pada sisi barat Dataran Tinggi Golan, terdapat lereng
bebatuan yang tingginya mencapai 500 meter (1700 kaki) dari Danau Galilea dan Sungai Yordan.
Moshe Dayan percaya bahwa operasi itu akan membuat sekitar 30.000 orang mati. Levi Eshkol, di
tangan lain, lebih terbuka kepada kemungkinan pada sebuah operasi terhadap Dataran Tinggi Golan,
dan juga ketua dari Komando Utara, David Elazar, yang sangat yakin bahwa operasi ini dapat
mengikis keengganan Dayan. Akhirnya, dimana situasi di front selatan dan tengah bersih, Moshe
Dayan menjadi lebih yakin dengan ide ini, dan ia memimpin operasi ini.

Jumlah pasukan Suriah sekitar 75.000 yang dikelompokan dalam 9 brigadir, didukung oleh jumlah
artileri dan persenjataan yang cukup. Pasukan Israel yang digunakan dalam serangan terdiri dari 2
brigadir (satu brigadir lapis baja dipimpin oleh Albert Mandler dan Brigadir Golan) di bagian utara
front, dan 2 lainnya (infantri dan 1 dari brigadir Peled yang dipanggil untuk Jenin) di front pusat.
Walaupun tentara Suriah dapat bergerak dari utara ke selatan di dataran tinggi tersebut, tentara
Israel dapat bergerak dari utara ke selatan di basis tebing Golan. Keunggulan yang didapat oleh Israel
adalah intelijen yang baik yang dapat mengumpulkan data oleh mata-mata Mossad, Eli Cohen (yang
akhirnya tertangkap dan dieksekusi di Suriah tahun 1965) mendapat informasi tentang posisi
pertempuran Suriah.

Angkatan Udara Israel yang telah menyerang artileri Suriah selama 4 hari, mendapat perintah untuk
menyerang posisi Suriah dengan seluruh pasukannya. Ketika artileri yang dilindungi dengan baik
hampir tidak terdapat kerusakan, pasukan darat tetap berada di Dataran Tinggi Golan (6 dari 9
brigadir) menjadi tidak dapat mengatur pertahanan. Pada sore hari tanggal 9 Juni 1967, 4 brigadir
Israel telah menembus Dataran Tinggi Golan, dimana mereka dapat diperkuat dan diganti.

Pada tanggal 10 Juni 1967, grup tengah dan utara bergabung dalam pergerakan di dataran tinggi,
namundaerah tersebut direbut dalam keadaan kosong dimana pasukan Suriah telah melarikan diri.
Beberapa pasukan gabungan yang dipimpin oleh Elad Peled memanjat Golan dari selatan, hanya
untuk mendapati posisi yang kosong. Selama hari itu, pasukan Israel berhenti setelah menerima
manuver diantara posisi mereka dimana terdapat garis dari lereng gunung berapi ke barat. Di bagian
timur, relief dataran rendah adalah relief padang rumput yang terbuka. Posisi ini menjadi garis
gencatan senjata yang diketahui dengan nama Garis Ungu.*1+

Garis Ungu[1] adalah sebuah garis gencatan senjata antara Israel dan Suriah setelah terjadinya
Perang Enam Hari tahun 1967.

Sejarah

Perang Arab-Israel tahun 1948

Suriah mendapat kemerdekannya dari Perancis tahun 1946. Pada tanggal 14 Mei 1948, Britania Raya
mundur dari mandat Britania di Palestina dan PBB membagi daerah mandat tersebut, tetapi hal ini
ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah lainnya karena Yahudi mendapatkan 55% dari
seluruh wilayah meskipun jumlah penduduk mereka hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk
di daerah ini. Pada tanggal 14 Mei 1948, Israel mendeklarasikan kemerdekaannya, setelah itu
seluruh negara-negara Arab menyerbu Israel. Pasukan Suriah berpartisipasi dalam perang ini, namun
akhirnya Israel menang dan ditandatangani perjanjian perdamaian, sehingga sebuah perbatasan
sementara antara Suriah dan Israel dilukiskan (berdasarkan perbatasan internasional tahun 1923).
Pada musim semi tahun 1951, pasukan Suriah dan pasukan Israel berselisih dalam beberapa insiden.
Permusuhan antara Suriah dan Israel dimana hal ini berakar dari tentangan Suriah terhadap proyek
saluran air Israel di zona demiliterisasi dihentikan pada tanggal 15 Mei 1951 setelah campur tangan
Dewan Keamanan PBB.

Perang Enam Hari

Pada bulan Juni tahun 1967 setelah Suriah, Yordania dan Mesir kalah terhadap Israel dalam Perang
Enam Hari, Israel merebut Dataran Tinggi Golan termasuk kota Quneitra. Hasil dari gencatan senjata
ini terdapat garis yang disebut garis ungu yang merupakan perbatasan antara Israel dan Suriah.

Perang di udara

Selama perang enam hari, Angkatan Udara Israel mendemonstrasikan kepentingan kekuasaan udara
selama terjadinya konflik militer modern, terutama dalam front padang pasir. Dengan serangan
Angkatan Udara Israel yang dimulai selama matahari terbit, angkatan udara Israel dapat menaklukan
angkatan udara Arab dan mendapat kekuasaan udara di seluruh front, dan menjadi salah satu
penyebab kemenangan Israel pada perang ini, dan yang paling menarik adalah dihancurkannya
brigadir lapis baja ke-60 Yordania didekat Yerikho dan srangan terhadap brigadir lapis baja Irak yang
dikirim untuk menyerang Israel melalui Yordania

Angkatan Udara Arab tidak pernah berhasil untuk membuat serangan yang efektif, contohnya
serangan pejuang Yordania dan pengebom Tu-16 Mesir terhadap Israel selama 2 hari pertama tidak
berhasil dan memimpin penghancuran pesawat tempur (pengebom Mesir ditembak jatuh ketika
pejuang Yordania dihancurkan selama diserang).

Beberapa pilot Arab yang kecewa berkhianat dengan MiG pada Israel terlebih dahulu pada pecahnya
konflik. Israel mengkapitalisasikan pada hal ini dengan uji coba penerbangan MiG pada tingkat
maksimum, yang memberi pilot Israel keunggulan terhadap musuh mereka. Pengkhianatan Arab
yang menarik perhatian termasuk:

Pada 19 Januari 1964, pilot Mesir, Mahmud Abbas Hilmi berkhianat dari Lapangan Udara el-Arish ke
Lapangan Udara Hatzor di Israel di Yakovlev Yak-11nya.

Pada tahun 1965, pilot Suriah berkhianat pada MiG-17F kepada Israel.

Pada tahun 1966, Kapten Irak Munir Redfa menerbangkan MiG-21F-13 ke Israel. Setelah
pengkhianatan kapten Redfa, 3 MiG-21F-13 dan paling sedikit 6 MiG-17F pilot Aljazair ditangkap oleh
Israel setelah mendaratkan pesawat mereka di Lapangan Udara el-Arish Israel karena kesalahan.
Salah satu pilot Aljazair yang ditangkap dipertanyakan dan mendapat asylum politik di Barat,
sementara sisanya dipulangkan.

Paling sedikit dua pilot Irak berkhianat ke Yordania dengan MiG-21F-13. Yordania memberi mereka
asylum politik tetapi mengembalikan pesawatnya ke Irak.

Pada 6 Juni, hari kedua perang, Raja Hussein dan Nasser menyatakan bahwa pesawat Amerika dan
Britania ikut serta dalam serangan Israel.

Perang di laut

Perang di laut sangat terbatas. Pergerakan kapal perang Israel dan Mesir digunakan untuk
menyerang dari sisi lain, tapi tidak pernah secara langsung ikut serta dalam pertarungan lainnya di
laut. Pergerakan yang mendapat sebuah hasil adalah penggunaan 6 manusia katak Israel di
pelabuhan Alexandria (mereka tertangkap karena menenggelamkan sebuah kapal), dan kru kapal
ringan Israel yang merebut Sharm el-Sheikh di daerah selatan semenanjung Sinai pada tanggal 7 Juni
1967.

Pembersih ranjau Mesir tenggelam di pelabuhan Hurgahda. Kapal yang tenggelam disebut sebagai El
Mina, yang diterjemahkan sebagai pelabuhan.

Insiden USS Liberty

Insiden USS Liberty adalah sebuah serangan pesawat tempur dan kapal torpedo Israel terhadap
kapal intelijen Amerika Serikat USS Liberty sekitar 12.5 mil laut (23 km) lepas pantai Semenanjung
Sinai, di utara kota Mesir El Arish, pada 8 Juni, 1967.

Serangan ini terjadi pada masa Perang Enam Hari antara Israel dan Mesir, Yordania dan Suriah.
Serangan ini menewaskan 34 tentara AS dan melukai setidaknya 173. Serangan ini merupakan
serangan paling mematikan kedua terhadap kapal perang AS sejak Perang Dunia II, kedua setelah
serangan rudal Exocet Irak terhadap USS Stark pada 17 Mei 1987, dan menimbulkan korban jiwa
terbesar dalam sejarah komunitas intelijen AS.

Pada tanggal 8 Juni 1967, terjadi sebuah serangan pesawat tempur dan kapal torpedo Israel
terhadap kapal intelijen Amerika Serikat USS Liberty sekitar 12.5 mil laut (23 km) lepas pantai
Semenanjung Sinai, di utara kota Mesir El Arish. Serangan ini menewaskan 34 tentara Amerika
Serikat dan melukai setidaknya 173 orang dimana serangan ini adalah serangan yang paling
mematikan kedua terhadap kapal perang Amerika Serikat sejak Perang Dunia II, terbesar kedua
setelah serangan rudal Exocet Irak terhadap kapal USS Stark pada tanggal 17 Mei 1987, dan
menimbulkan korban jiwa terbesar dalam sejarah komunitas intelijen AS. Israel menyatakan bahwa
terjadi kesalahan identifikasi dan Israel meminta maaf dengan membayar ganti rugi terhadap
keluarga korban. Kebenaran tentang klaim Israel masih diperdebatkan, namun Amerika Serikat
menerima bahwa insiden ini adalah sebuah kecelakaan.

Akhir konflik dan keadaan pasca-perang

Wilayah yang direbut Israel

Tanggal 11 Juni, Israel menandatangani perjanjian gencatan senjata dan mendapatkan Jalur Gaza,
Semenanjung Sinai, Tepi Barat (termasuk Yerusalem Timur), dan Dataran Tinggi Golan. Secara
keseluruhan, wilayah Israel bertambah tiga kali lipat, termasuk sekitar satu juta orang Arab yang
masuk ke dalam kontrol Israel di wilayah yang baru didapat (banyak dari penduduk wilayah-wilayah
tersebut mengungsi ke luar Israel). Batas Israel bertambah paling sedikit 300 km ke selatan, 60 km ke
timur, dan 20 km ke utara.

Korban jiwa

Korban yang jatuh dari pihak Israel, jauh dari perkiraan semula yang berjumlah lebih dari 10.000,
termasuk sedikit: 338 prajurit meninggal di medan pertempuran Mesir, 550 meninggal dan 2.400
luka di medan pertempuran Yordania dan 141 di medan pertempuran Suriah. Mesir kehilangan 80%
peralatan militer mereka, 10.000 prajurit meninggal dan 1.500 panglima terbunuh, 5.000 prajurit
and 500 panglima tertangkap, dan 20.000 korban luka. Yordania mengalami korban 700 meninggal
dan sekitar 2.500 terluka. Suriah kehilangan 2.500 jiwa dan 5.000 terluka, separo kendaraan lapis
baja dan hampir semua artileri yang ditempatkan di Dataran Tinggi Golan dihancurkan. Data resmi
dari korban Irak adalah 10 meninggal dan sekitar 30 terluka.

Perubahan religius

Akhir dari perang juga membawa perubahan religius. Di bawah pemerintahan Yordania, orang-orang
Yahudi dan Nasrani dilarang memasuki Kota Suci Yerusalem, yang termasuk Tembok Ratapan, situs
paling suci orang Yahudi sejak kehancuran Bait Suci mereka. Orang Yahudi merasakan situs-situs
Yahudi tidak dirawat, dan kuburan-kuburan mereka telah dinodai. Setelah dikuasai Israel, pelarangan
ini dibalik dan bahkan semakin menjadi-jadi.

Meskipun Masjid Al-Aqsa dipercayakan di bawah pengawasan wakaf Muslim dan orang-orang
Yahudi dilarang untuk beribadah di sana, Israel mempersulit para pemuda Islam yang ingin
beribadah di Masjid Al-Aqsa dengan alasan keamanan, dan hanya orang tua dan anak-anak saja yang
diperbolehkan. Di bawah Masjid Al-Aqsa digali terowongan dengan dalih mencari Haikal Sulaiman
(Bait Suci Kedua), sehingga semakin lama pondasi masjid kian rapuh dan kemungkinan besar masjid
dapat ambruk.

Situs Al-Aqsa Online menyebutkan (15/2/2008), telah terjadi longsoran yang menimbulkan lubang
sedalam dua meter dengan diameter 1,5 meter. Longsoran itu terjadi di dekat Pintu Gerbang Al-
Selsela dan sumber air Qatibai, sisi barat masjid. Dalam pernyataannya, lembaga rekonstruksi
tempat-tempat suci Islam Al-Aqsa Foundation menyatakan, longsoran itu disebabkan oleh
penggalian yang dilakukan rejim Israel di bawah kompleks Masjid Al-Aqsa dan penggalian tersebut
sudah mencapai Pintu Gerbang Selsela. Hal serupa juga dilontarkan gerakan Islam di Israel pimpinan
Syaikh Raed Salah, yang menyerukan agar negara-negara Muslim segera mengambil langkah untuk
menghentikan penggalian yang dilakukan rejim Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa. Selain kegiatan
penggalian, pada Februari 2007, buldoser-buldoser Israel menghancurkan jembatan kayu menuju
Pintu Gerbang Al-Maghariba dan menghancurkan dua ruang di bawah tanah, komplek Masjid Al-
Aqsa. Aksi rejim Zionis ini menuai protes dari rakyat Palestina dan negara-negara Muslim. Namun
Israel seakan-akan tidak mendengarkan kecaman-kecaman itu.

Perubahan politik

Pengaruh Perang Enam Hari tahun 1967 dari segi politik amat besar. Israel telah menunjukkan
bahwa Israel tidak hanya mampu, tetapi juga hendak memulai serangan-serangan strategik yang
dapat merubah keseimbangan wilayah. Mesir dan Suriah mempelajari pelajaran taktikal, tetapi
mungkin bukan yang strategik, dan kemudian melancarkan serangan pada tahun 1973 dalam satu
percobaan untuk merebut kembali wilayah yang direbut oleh Israel.

Menurut Chaim Herzog:

Pada tanggal 19 Juni 1967, Pemerintah Israel melakukan pemungutan suara untuk mengembalikan
Sinai kepada Mesir dan Dataran Tinggi Golan kepada Suriah sebagai balasan untuk perjanjian
keamanan. Selain itu, Israel memerlukan Dataran Tinggi Golan agar dijadikan kawasan bebas militer,
serta persediaan khas untuk perundingan terhadap persoalan Selat Tiran. Israel juga membuat
ketetapan untuk memulai perundingan dengan Raja Hussein dari Yordania mengenai perbatasan
timurnya.

tentang keputusan ini, ia tidak diberitahu bahwa Israel memerlukan bantuannya untuk
menyampaikan keputusan ini kepada Mesir dan Suriah. Oleh sebab itu, beberapa ahli sejarah
menyatakan bahwa Mesir dan Suriah tidak pernah menerima tawaran itu.

Resolusi Khartoum*1+ membuat ketetapan bahwa tidak akan ada perdamaian, pengakuan, atau
perundingan dengan Israel. Namun, seperti yang diperhatikan Avraham Sela*2+, resolusi Khartom
menandakan secara berkesan suatu peralihan tanggapan pertempuran negara-negara Arab daripada
persoalan tentang kesahan Israel kepada persoalan wilayah dan perbatasan dan ini ditegaskan pada
tanggal 22 November 1967 ketika Mesir dan Yordania menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB
242.

Keputusan kabinet pada tanggal 19 Juni 1967 tidak termasuk Jalur Gaza dan oleh sebab itu,
mengakibatkan kemungkinan Israel untuk memperoleh sebagian Tepi Barat secara permanen. Pada
tanggal 25 27 Juni 1967, Israel menggabungkan Yerusalem Timur bersama kawasan-kawasan Tepi
Barat di utara dan selatan kedalam kawasan Israel yang baru.

Satu lagi aspek peperangan adalah mengenai para penduduk yang menghuni di wilayah-wilayah
yang direbut Israel, dan dari sekitar 1 juta orang Palestina di Tepi Barat, 300.000 melarikan diri ke
Yordania dan menyumbang pergolakan yang semakin bertambah di sana. 600.000 orang yang lain
tetap tinggal di Tepi Barat. Di Dataran Tinggi Golan, sebanyak 80.000 orang Suriah melarikan diri.
Hanya para penghuni Yerusalem Timur dan Dataran Tinggi Golan yang menerima hak kediaman
Israel yang terbatas dan Israel menganeksasi wilayah tersebut pada tahun 1980.

Baik Yordania dan Mesir akhirnya menarik balik tuntutan masing-masing terhadap Tepi Barat dan
Jalur Gaza (Semenanjung Sinai dikembalikan kepada Mesir pada tahun 1978, dan persoalan Dataran
Tinggi Golan masih dirundingkan dengan Suriah). Selepas penaklukan wilayah-wilayah baru ini
oleh Israel, sebuah usaha penempatan yang besar dilancarkan oleh Israel untuk mengamankan
daerah permanen Israel. Terdapat ratusan ribu penduduk Israel di wilayah-wilayah tersebut pada
hari ini, walaupun penempatan-penempatan Israel di Jalur Gaza telah dipindahkan dan dimusnahkan
pada bulan Agustus tahun 2005.

Resolusi Khartoum[1] adalah sebuah pertemuan antara 8 pemimpin negara Arab pada tanggal 1
September 1967 karena terjadinya Perang Enam Hari. Resolusi ini berlanjut kepada Perang Yom
Kippur[lihat Perang Yom Kipppur] tahun 1973, dan mengakhiri embargo minyak Arab yang
dinyatakan selama Perang Enam Hari, dan akhir dari perang saudara di Yaman. Resolusi ini juga
berisi 3 paragraf yang diketahui dengan 3 ketidakan antara hubungan Arab-Israel pada saat itu
yang berisi tidak akan ada perdamaian, pengakuan, atau perundingan dengan Israel.

Avraham Sela[2] adalah seorang ahli politik Timur Tengah dan relasi internasional. Ia belajar di
Universitas Ibrani Yerusalem dan mendapat gelar BA tahun 1971, gelar MA tahun 1974 dan gelar
PhD tahun 1986. Sela adalah seorang profesor di Departemen Relasi Internasional di Universitas
Ibrani dan asisten profesor dari pengetahuan politik di Universitas Colgate.

Kontroversi

Peristiwa-peristiwa pada saat Perang Enam Hari yang dramatik telah menimbulkan beberapa
tuduhan serta teori-teori yang penuh dengan kontroversi.

Angkatan Bersenjata Israel membunuh tawanan perang Mesir

Dalam sebuah pertemuan untuk Radio Israel pada tanggal 16 Agustus 1995, Aryeh Yitzhaki[1] yang
dahulu bertugas di Pusat Pengajian Sejarah Angkatan Bersenjata Israel di Universitas Bar-Ilan
menuduh bahwa pasukan Israel melakukan pembunuhan sehingga 1.000 orang Mesir yang tak
bersenjata dibunuh oleh Angkatan Bersenjata Israel. Tuduhan itu menerima perhatian yang meluas
di Israel serta di seluruh dunia. Namun, Yitzhaki kemudian diketahui bahwa ia merupakan seorang
ahli Partai Tsomet (partai politik sayap kanan Israel) yang diketuai oleh Rafael Eitan. Meir Pail,
seorang politikus dan ahli sejarah yang pernah memperkerjakan Yitzhaki sebagai asistennya,
menyatakan bahwa Yitzhaki mempunyai niat terselubung untuk mengalihkan perhatian orang dari
penuduhan oleh Jendral Arye Biro tentang keikutsertaan Yitzhaki dalam pembunuhan 49 orang
tawanan perang pada saat perang tahun 1956.

Walaupun tuduhan Yitzhaki tidak pernah disahkan, banyak anggota militer yang tampil ke depan
semasa perdebatan negara di Israel yang penuh dengan kontroversi untuk mengatakan bahwa
mereka telah menyaksikan pembunuhan tawanan tidak bersenjata. Ahli sejarah militer Israel, Uri
Milstein, dilaporkan berkata bahwa banyak kejadian yang serupa telah dilakukan dalam peperangan
itu: Itu bukan dasar resmi, tetapi terdapat suasana bahwa perbuatan itu tidak salah. Sebagian
letnan kolonel memutuskan untuk membuatnya, dan ada yang enggan berbuat demikian. Tetapi
setiap orang tahu akan perkara itu.

Dokumen Angkatan Bersenjata Israel pada tanggal 11 Juni 1967 menunjukan adanya larangan untuk
membunuh tawanan, dan menjelaskan kedudukan resmi Israel. Namun, tidak terdapat dokumen
resmi Israel yang membenarkan skala pembunuhan untuk ditaksirkan dengan tepat.

Menurut laporan New York Times pada tanggal 21 September 1995, Mesir telah mengumumkan
penemuan dua kuburan yang berisi banyak orang dan tidak dalam di El Arish, Sinai, dimana terdapat
jasad 30-60 tawanan Mesir yang ditembak oleh tentara Israel selama perang enam hari. Israel
dilaporkan menawarkan ganti rugi kepada keluarga korban.

Menurut arsip resmi Israel, sebanyak 4.338 tentara Mesir telah ditangkap oleh Angkatan Bersenjata
Israel. 11 tentara Israel telah ditangkap oleh tentara Mesir. Pertukaran tawanan selesai pada tanggal
23 Januari 1968.

Aryeh Yitzhaki[1] adalah seorang ahli sejarah militer Israel yang betugas di Pusat Pengajian Sejarah
Angkatan Bersenjata Israel di Universitas Bar-Ilan, Tel Aviv. Yitzhaki pernah menuduh bahwa pasukan
Israel melakukan pembunuhan sehingga 1.000 orang Mesir yang tak bersenjata dibunuh oleh
Angkatan Bersenjata Israel yang menimbulkan kontroversi.

Dukungan Amerika Serikat dan Britania Raya

Sebagian orang Arab mempercayai bahwa Amerika Serikat dan Britania Raya memberikan dukungan
yang aktif kepada Angkatan Udara Israel. Tuduhan tentang dukungan pertempuran Amerika Serikat
dan Britania Raya kepada Israel bermula pada hari kedua peperangan tersebut. Radio Kairo dan
akhbar kerajaan Al-Ahram membuat beberapa tuduhan, antaranya:

1. pesawat-pesawat dari Kapal induk pesawat udara Amerika Serikat dan Britania Raya membuat
serangan terhadap angkatan tentera Mesir

2. pesawat-pesawat Amerika Serikat yang ditempatkan di Libya menyerang Mesir

3. satelit mata-mata Amerika Serikat memberikan informasi kepada Israel.

Suriah dan Yordania membuat laporan-laporan yang serupa dalam siaran-siaran Radio Damaskus
dan Radio Amman. Tuduhan ini juga disebut lagi oleh Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, dalam
ucapannya saat peletakan jabatannya pada tanggal 9 Juni 1967 (peletakan jabatannya ditolak).
London dan Washington D.C. membantah tuduhan ini, dan tidak terdapat bukti yang mendukung
tuduhan tersebut. Dalam lingkungan pemerintahan Amerika Serikat dan Britania Raya tuduhan ini
dengan cepatnya dikenali sebagai kebohongan besar. Walaupun begitu, tuduhan bahwa orang-
orang Arab sedang bertempur dengan Amerika Serikat serta Britania Raya, dan bukan hanya dengan
Israel, berterusan dalam dunia Arab.

Menurut Elie Podeh, ahli sejarah Israel: Semua buku teks sejarah Mesir selepas tahun 1967
mengulangi tuduhan bahwa Israel melancarkan peperangan itu dengan dukungan dari Britania Raya
dan Amerika Serikat. Hal itu juga mengasaskan perkaitan langsung antara perang 1967 dengan
percobaan-percobaan imperialis yang dahulu untuk menguasai dunia Arab, dan menggambarkan
Israel sebagai satu kacung imperialis. Pengulangan kisah dongeng ini, dengan hanya sedikit
perubahan, dalam semua buku teks sejarah bermaksud bahwa semua kanak-kanak sekolah Mesir
telah diindoktrinasikan dengan cerita sulit itu. Sebuah telegram Britania ke kubu-kubu Timur
Tengah menyimpulkan: Keengganan Arab untuk menolak semua versi palsu itu berasal sebagian
dari keperluan untuk mempercayai bahwa tentara Israel tidak dapat menewaskan mereka dengan
begitu saja tanpa bantuan luar.

Ahli-ahli sejarah seperti Michael Oren[1] memperdebatkan bahwa dengan mengenakan tuduhan
salah terhadap Amerika Serikat dan Britania Raya kerana membantu Israel secara langsung.[103]
Sebagai tindak balas terhadap tuduhan itu, negara-negara minyak Arab kemudian mengumumkan
boikot minyak. Sebanyak 6 negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat
dan Lebanon menarik kedutaan besarnya.

Pemimpin-pemimpin Arab sedang mencoba memperoleh bantuan militer yang aktif dari Uni Soviet
untuk diri sendiri. Namun, pihak Soviet mengetahui bahwa tuduhan tentang bantuan asing terhadap
Israel itu tidak berasas, dan memberitahu diplomat-diplomat Arab di Moskwa tentang fakta ini.
Walaupun Uni Soviet tidak mempercayai tuduhan-tuduhan itu, media Soviet meneruskan pemetikan
tuduhan-tuduhan tersebut dan dengan itu, menipiskan kepercayaan laporan-laporan itu.

Dalam sebuah pertemuan pada tahun 1993, Robert McNamara, Menteri Pertahanan Amerika
Serikat, menyatakan bahwa keputusan untuk menempatkan Armada Keenam Amerika Serikat di
Laut Tengah bagian Timur untuk mempertahankan Israel, bahkan jika diperlukan, telah mencetuskan
krisis antara Amerika Serikat dan Kesatuan Soviet. Armada tersebut sedang menjalani latihan tentera
laut berhampiran dengan Gibraltar ketika itu. McNamara tidak menerangkan bagaimana krisis itu
diatasi.

Dalam bukunya, Enam Hari, Jeremy Bowen, wartawan BBC, menuduh bahwa selama krisis itu, kapal-
kapal dan pesawat-pesawat Israel membawa simpanan senjata Britania dan Amerika Serikat dari
tanah Britania Raya.

Michael B. Oren[1] (lahir tahun 1955) adalah seorang ahli sejarah dan pengarang buku Amerika
Serikat yang terkenal karena bukunya tentang sejarah Timur Tengah. Ia juga mengarang buku
terkenal Six Days of War: June 1967 and the Making of the Modern Middle East, dimana masuk
kedalam daftar bestseller New York Times dan memenangkan award buku nasional Yahudi dan
award tahunan buku sejarah Los Angeles Times.

Desakan Uni Soviet

Terdapat teori-teori bahwa seluruh perang pada tahun 1967 merupakan suatu percobaan yang tidak
semestinya oleh Uni Soviet dengan tujuan meningkatkan ketegangan antara Jerman Barat dengan
negara-negara Arab melalui dukungan Jerman Barat terhadap Israel.

Dalam sebuah artikel tahun 2003, Isabella Ginor memperincikan dokumen-dokumen GRU Soviet
yang memuat rencana tersebut. Ia juga memperincikan informasi intelijen yang salah yang diberikan
kepada Mesir, yang menyatakan tentang bertambahnya jumlah militer Israel besar-besaran.

Orang-orang penting yang terlibat

1. Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir

Gamal Abdul Nasser (15 Januari 1918 8 September 1970).

Merupakan presiden kedua Mesir, dan mungkin merupakan salah seorang negarawan Arab yang
paling terkemuka dalam sejarah.

Gamal Abdul Nasser dilahirkan di Iskandariah (Alexandria) dan aktif dalam gerakan Mesir menentang
penjajahan dan kekuasaan asing ketika di Akademi Militer. Gamal Abdul Nasser berpangkat Mayor
ketika terlibat dalam Perang Kemerdekaan Israel pada tahun 1948.

Selama beberapa bulan pada akhir perperangan, Gamal Abdel Nasser dan pasukannya terperangkap
dalam kawasan yang dikenal sebagai Poket Faluja. Ketika perdamaian tercapai, Gamal Abdel Nasir
kembali ke Mesir. Pada tahun 1952, Gamal Abdel Nasser memimpin Angkatan Bersenjata Mesir
dalam kudeta yang menggulingkan Raja Farouk I.

Pada awal 1954, Gamal Abdul Nasser menangkap dan menahan presiden Mesir ketika itu, jendral
Muhammad Naguib, dan pada 25 Februari 1954 Gamal Abdul Nasser menjadi Kepala Negara Mesir.
Dua tahun kemudian, Gamal Abdul Nasser menjadi calon tunggal dalam pemilu presiden dan dilantik
menjadi presiden Mesir kedua. Pada masa pemerintahannya, Gamal Abdul Nasser membangkitkan
Nasionalisme Arab dan Pan Arabisme, menasionalisasi terusan Suez yang mengakibatkan krisis Suez
yang membuat Mesir berhadapan dengan Perancis, Inggris dan Israel yang memilii kepentingan
terhadap terusan itu. Krisis ini berakhir dengan keputusan dunia Internasional yang menguntungkan
Mesir serta terusan Suez resmi berada dalam kedaulatan Mesir. Kemudian mengadakan proyek
infrastruktur besar-besaran diantaranya adalah proyek Bendungan Aswan dengan bantuan
pemerintah Uni Soviet.

Setelah kalah dalam Perang Enam Hari dengan Israel pada tahun 1967, Gamal Abdul Nasser ingin
menarik diri dari dunia politik tetapi rakyat Mesir menolaknya. Gamal Abdul Nasser sekali lagi
memimpin Mesir dalam Peperangan 1969-1970 (War of Atrition).

Gamal Abdul Nasser meninggal akibat penyakit jantung dua minggu setelah peperangan usai pada
28 September 1970. Gamal Abdul Nasir digantikan oleh Anwar Sadat sebagai presiden Mesir.

2. Raja Hussein dari Yordania

Hussein bin Talal (14 November 19357 Februari 1999) ialah Raja Yordania dari tahun 1952 hingga
1999 dan merupakan salah satu kepala negara yang terpanjang memerintah dalam kekuasaan
eksekutif di dunia. Hussein bin Talal mengantikan Raja Talal (ayahnya) pada 11 Agustus 1952. Raja
Hussein I juga merupakan keturunan langsung ke-42 dari Nabi Muhammad SAW. Ia lahir di Amman,
Yordania pada 14 November 1935, dari Pangeran Talal bin Abdullah dan Putri Zein al-Sharaf binti
Jamil. Raja Hussein memiliki 2 saudara, Pangeran Muhammad dan putra mahkota El Hassan, dan
seorang saudari, Putri Basma.

3. U Thant, Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa

Maha Thray Sithu U Thant (22 Januari, 1909 25 November, 1974) adalah seorang diplomat dari
Myanmar dan juga SekJen PBB yang ke-3, mulai tahun 1961 sampai dengan 1971. Dia terpilih
menduduki posisi ini ketika Dag Hammarskjld, Sekjen PPB yang ke-2, tewas pada kecelakaan
pesawat pada bulan September 1961.

4. Levi Eshkol, Perdana Menteri Israel

Levi Shkolnik, Bahasa Ibrani: ; pada 25 Oktober 1895 26 Februari 1969) tampil ketiga
sebagai Perdana Menteri Israel. Ia menjabat dari 1963 hingga meninggalnya akibat serangan jantung
pada tahun 1969. Dialah yang pertama sebagai seorang Perdana Menteri Israel yang meninggal di
kala sedang menjabat.

Ia dilahirkan pada 1895 di sebuah desa kecil dekat Kiev, Ukraina. Ibunya condong terhadap
Hasidisme dan ayahnya kepada Mitnagdim. Sebagai akibatnya, pendidikannya tradisional. Pada
1914, ia meninggalkan Palestina, yang saat itu bagian kekholifahan Turki Utsmani. Ia segera menjadi
sukarelawan untuk Legiun Yahudi.

Ia pertama kali dipilih Knesset pada 1951 sebagai anggota Partai Mapai. Pada 1963, ia dipilih menjadi
perdana menteri, menggantikan David ben Gurion. Sebagai perdana menteri, ia berusaha
memperbaiki hubungan luar negeri, membangun kontak diplomasi dengan Jerman Barat pada 1965,
dan juga membangun ikatan budaya dengan Uni Soviet yang mengizinkan beberapa orang Yahudi
Soviet bermigrasi ke Israel. Ia memainkan peranan penting saat Perang 6 Hari pada Juni 1967;
selama krisis, ia membangun Pemerintahan Persatuan Nasional, dan jabatan menteri pertahanan
ditangani Moshe Dayan.

5. Moshe Dayan, Menteri Pertahanan Israel, Jenderal Israel

Moshe Dayan (20 Mei 1915-16 Oktober 1981) ialah pemimpin militer dan politikus Israel (dalam
bahasa Ibrani, namanya diterjemahkan sebagai Musa (sang) Hakim).

Kehidupan awal

Moshe Dayan dilahirkan di kibbutz Deganya Alef (Deganya A), Palestina, yang masih menjadi bagian
dari khilafah Turki Utsmani, dekat Kinneret (Laut Galilea). Orang tuanya ialah Shmuel Dayan
(kelahiran Ukraina, saat itu masih menjadi bagian kekaisaran Rusia) dan Devorah, dan ialah anak
pertama yang lahir di komunitas yang baru dibangun itu. Pada usia 14 tahun ia menjadi anggota
Haganah yang baru dibentuk. Ia amat dipengaruhi pendidikan militer dari opsir Inggris pro-Zionis
Charles Orde Wingate ketika ia masih seorang sersan sebelum Perang Dunia II. Ia pergi ke Bulgaria di
mana ia lulus akademi militer.

Perang Dunia II

Ia ditangkap Inggris 10 tahun kemudian (ketika Haganah dinyatakan tidak sah), tetapi dibebaskan
setelah 2 tahun sebagai bagian kerja sama baru Haganah dengan Inggris selama Perang Dunia II.
Ketika ditempatkan pada Divisi Infantri VII Australia yang berperang melawan pasukan Vichy Prancis
di Suriah, Dayan kehilangan mata kirinya dan mulai mengenakan tutup mata yang menjadi
trademark-nya. Dengan rekomendasi seorang perwira Australia, Dayan mendapatkan Bintang Bakti
Terkemuka, salah satu dari bintang kehormatan militer tertinggi Kerajaan Inggris.

Komandan Militer

Selama perang Arab-Israel 1948, Dayan menempati beragam posisi penting, pertama sebagai
komandan pertahanan di lembah Yordania. Ia kemudian diangkat menjadi komandan atasu satuan-
satuan militer di front tengah. Ia sangat disukai oleh Perdana Menteri David ben Gurion yang pendiri
Israel dan menjadi anak kesayangannya, bersama dengan Shimon Peres (kelak perdana menteri).

Di masa Proklamasi Israel 1948 Batalion Komando Israel ke-89 yang dipimpin oleh Moshe Dayan
mengumumkan kepada penduduk suatu desa di Palestina bahwa mereka akan aman jika mereka
berkumpul di Mesjid Dahmash. Sebagai pembalasan atas sebuah serangan granat tangan yang
membunuh beberapa tentara Israel, lebih dari 100 orang Arab yang berlindung di situ justru
dibantai.[1] Para penduduk yang ketakutan di Lydda dan Ramble meninggalkan tanahnya.
Kebanyakan dari 60.000 orang penduduk kedua tempat mengungsi ke kamp-kamp di Ramallah, dan
350 orang lebih tewas dalam perjalanan karena keadaan kesehatan yang parah.

Setelah perang 1948, pangkat Dayan melesat cepat. Antara 1955 sampai 1958 ia jadi Kepala Staf
Angkatan Pertahanan Israel. Pada kapasitas ini ia memimpin tentara Israel selama Krisis Suez[1].

Krisis Suez[1]adalah sebuah serangan militer terhadap Mesir oleh Britania Raya, Perancis dan Israel
yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 1956. Serangan ini dilakukan dengan ada beberapa kejadian
lainnya, seperti Mesir melakukan nasionalisasi terhadap terusan Suez setelah mundurnya pasukan
dan sumbangan Amerika Serikat untuk membangun Bendungan Aswan[2].

Bendungan Aswan[2] adalah bendungan yang terletak di kota Aswan, Mesir. Kota Aswan adalah kota
di katarak sungai Nil di Mesir. Dua dam membendung sungai pada titik ini: Bendungan Tinggi
Aswan yang lebih baru dan Bendungan Aswan yang lama atau Bendungan Rendah Aswan.

Tanpa dibendung, sungai Nil akan banjir setiap tahun semasa musim panas, karena air dari Afrika
Timur mengalir masuk di sungai ini. Banjir-banjir ini membawa banyak zat nutrisi dan mineral yang
membuat tanah di sekitar sungai Nil menjadi subur dan ideal menjadi tanah pertanian. Sementara
penduduk di sekitar sungai ini berkembang, muncul kebutuhan untuk mengontrol air banjir demi
melindungi tanah pertanian dan perkebunan katun. Dalam sebuah tahun dengan tingkat air yang
tinggi, keseluruhan panen bisa saja habis diseret banjir, sementara dalam sebuah tahun dengan
tingkat air rendah, ada kekeringan dan kelaparan. Tujuan proyek air ini adalah demi menanggulangi
banjirnya sungai, menciptakan tenaga listrik dan menyediakan air irigasi untuk pertanian.

Politikus

Tahun 1959, setahun setelah berhenti dari Angkatan Pertahanan Israel, Dayan menjadi anggota
Partai Buruh (Mapai), blok sayap kiri dalam politik Israel, yang saat itu dipimpin David ben Gurion.
Sejak 1964 ia jadi menteri pertahanan. Levi Eshkol Shkolnik, perdana menteri Israel antara 1963-
1969 membenci Dayan. Namun ketika ketegangan mulai berkembang di awal 1967, Eshkol
memutuskan menyerahkan posisi menteri pertahanan (yang sebelumnya juga ditempatinya, walau
Eshkol tak pernah berdinas di ketentaraan) kepada Dayan.

Perang 6 Hari (1967)

Meski Dayan tak ambil bagian dalam kebanyakan perencanaan sebelum Perang Enam Hari pada Juni
1967, penunjukannya menyumbang keberhasilan Israel. Setelah perang itu, Dayan, yang seringkali
tidak tahu malu, melakukan banyak upaya humas untuk mengklaim pujian untuk dirinya sendiri atas
kemenangan perang itu. Pada tahun-tahun berikutnya, Dayan sangat populer di Israel dan banyak
yang berpendapat bahwa ia berpotensi untuk menjadi perdana menteri. Saat itu Dayan menjadi
pemimpin kelompok garis keras di lingkungan pemerintahan partai Buruh, yang menolak untuk
kembali ke perbatasan Israel sebelum 1967. Ia pernah berkata bahwa ia lebih suka mempertahankan
Sharm-al-Sheikh (sebuah kota Mesir di ujung selatan Jazirah Sinai yang mengawasi jalur perkapalan
Israel ke Laut Tengah lewat Teluk Aqaba) tanpa perdamaian, ketimbang mendapatkan perdamaian
tanpa Sharm-al-Sheikh. Belakangan ia memodifikasi pandangannya ini dan memainkan peranan
penting dalam perjanjian perdamaian antara Israel dan Mesir.

Perang Yom Kippur[1]

Setelah Golda Meir menjadi perdana menteri pada 1969, setelah kematian Levi Eshkol, Dayan tetap
menjadi menteri pertahanan. Ia masih dalam jabatan itu ketika Perang Yom Kippur pecah pada 6
Oktober 1973. Sebagai pejabat tertinggi yang bertanggung jawab atas rencana militer, dan terutama
dalam memeriksa aparat intelijen, tidak diragukan jika Dayan yang menjadi simbol kemenangan
pada Perang Enam Hari ikut bertanggung jawab atas kegagalan para pemimpin Israel dalam
mengantisipasi tanda-tanda perang yang sedang menjelang. Dalam masa beberapa jam sebelum
perang pecah, Dayan memilih untuk tak mengadakan mobilisasi penuh atau mendahului menyerang
Mesir dan Suriah. Ia berasumsi bahwa Israel akan sanggup menang dengan mudah jika orang-orang
Arab menyerang dan tak ingin Israel dilihat sebagai agresor.

Menyusul kekalahan berat pada dua hari pertama, pandangan Dayan mengalami perubahan radikal.
Ia hampir mengumumkan jatuhnya Bait Suci Ketiga pada suatu konferensi pers, namun untungnya
dilarang berbicara oleh Meir. Ia juga memulai berbicara terbuka pada penggunaan senjata
pemusnah massal melawan orang-orang Arab.

Segi positif Dayan, ia berhasil menguasai dirinya kembali dan memimpin perlawanan Israel selama
sisa perang. Meski Laporan Komite Agranat yang diterbitkan setelah perang tak mencakup lapisan
politik yang bertanggung jawab termasuk Moshe Dayan gelombang protes publik menyebabkan
ia dan Golda Meir mengundurkan diri.

Menjadi menlu dari Partai Likud

Menurut orang-orang yang mengenalnya, perang membuat Dayan sangat tertekan. Untuk
sementara waktu ia menghilang dari percaturan politik. Pada 1977, meskipun terpilih kembali ke
Knesset sebagai calon Partai Buruh, ia menjadimenteri luar negeri dalam pemerintahan Likud yang
baru, di bawah Menachem Begin. Kendati Dayan tidak pernah secara resmi bergabung dengan Likud,
langkah ini masih dianggap sebagai pengkhianatan oleh banyak rekannya dari Partai Buruh. Sebagai
menteri luar negeri PM Begin, Dayan berperan dalam menyusun Persetujuan Camp David,
persetujuan perdamaian dengan Mesir. Dayan mengundurkan diri pada 1980 (disusul Ezer Weizman
yang kemudian menyeberang ke Partai Buruh), karena ketidaksetujuannya dengan Begin tentang
apakah wilayah Palestina adalah persoalan internal Israel (perjanjian Camp David mencakup
ketetapan negosiasi di masa depan dengan Palestina; Begin yang tidak menyukai ide itu tak
menaruh Dayan untuk mengepalai tim negosiasi).

Kematian

Tahun 1981, Dayan membentuk partai baru Telem yang menganjurkan pemisahan sepihak dari Tepi
Barat dan Jalur Gaza. Partai itu mendapat 2 kursi di Knesset (pemilihan pada 30 Juni 1981) tetapi
tidak lama kemudian Dayan meninggal karena kanker usus besar lalu dikubur di Nahalal di moshav
(permukiman kolektif) di mana ia besar.

Peninggalannya

Dayan tak diragukan lagi seorang yang sangat rumit dan kontroversial; opininya tidak pernah cuma
hitam atau putih. Ia memiliki sedikit kawan karib; kecemerlangan mental dan sikap kharismatiknya
sering dikombinasikan dengan sinisme dan kurangnya pengendalian diri. Ariel Sharon mencatat
tentang Dayan :

Ia bangun dengan 100 ide. Di antaranya 95 sangat berbahaya, tiga sangat buruk; namun dua sisanya
cemerlang.

Dayan menggabungkan identitas sekular kibbutznik dan dan pragmatisme (menurut laporan, ketika
ia melihat para rabi berduyun-duyun ke Gunung Bait Suci (al-aram a-arf) setelah Yerusalem
direbut tahun 1967, ia bertanya Ini apa? Vatikan? lalu ia menyerahkan kunci ke Waqf (wakaf)
dengan rasa cinta yang mendalam dan apresiasi terhadap warisan Yahudi dan tanah Israel, yang jelas
dalam tulisannya.

Dayan juga pengarang dan arkeolog amatir, yang menimbulkan beberapa kontroversi, karena
tindakannya mengumpulkan banyak artefak bersejarah, seringkali dengan bantuan prajuritnya,
melanggar sejumlah hukum dan peraturan. Saat ia mati koleksi arkeologisnya dijual kepada negara.

Putrinya Yael Dayan adalah seorang novelis dan ikut terjun ke dunia politik sebagai anggota
beberapa partai sayap kiri Israel. Ia pernah menjadi anggota Knesset dan Dewan Kota Tel Aviv.

Assi Dayan, anak laki-lakinya, adalah seorang sutradara film.

6. Abba Eban, Menteri Luar Negeri Israel

Abba Eban adalah seorang diplomat dan politikus Israel. Ia lahir dengan nama Aubrey Solomon Meir
di Cape Town, Afrika Selatan, Eban pindah ke Inggris. Ia bersekolah di St Olaves Grammar School
dan Queens College, Cambridge. Setelah lulus, ia melakukan riset terhadap basa Arab dan bahasa
Ibrani dari tahun 19381939.Pada saat Perang Dunia II pecah, Eban pergi untuk bekerja kepada
Chaim Weizmann di London dari bulan Desember tahun 1939. Tidak lama ia bergabung dengan
pasukan Britania Raya, dimana dia menjadi mayor.

7. Lyndon B. Johnson, Presiden Amerika Serikat

Lyndon Baines Johnson (27 Agustus 1908 22 Januari 1973) yang dijuluki LBJ adalah Presiden
Amerika Serikat ke-36 (19631969). Setelah melewati sebuah karier yang panjang di Kongres
Amerika Serikat, Johnson menjabat sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat yang ke-37. Pada tahun
1963, ia menggantikan John F. Kennedy yang tewas terbunuh.

Ia juga pernah menjabat Ketua Minoritas Partai Demokrat di Senat. Sebagai presiden, ia bertanggung
jawab untuk pengesahan beberapa undang-undang yang berbau liberal, termasuk Gerakan Hak Sipil
Amerika tahun 1955-1968, Medicare, program War on Poverty. Itu semua terdapat dalam
program Great Society. Secara berturut, LBJ meningkatkan kehadiran pasukan AS di Perang Vietnam,
dari 16,000 di tahun 1963 menjadi 550,000 di awal 1968, ketika lebih dari 1000 tentara AS terbunuh
per bulan. LBJ terpilih kembali di tahun 1964, namun pencalonannya di tahun 1968 gagal sebagai
hasil gejolak di dalam tubuh partainya, lalu ia mengumumkan bahwa ia tak mau ikut pemilihan.
Johnson dikenal luas karena kepribadian yang sok kuasa dan mencengkeram para politikus utama.
Warisan jangka panjangnya sulit diukur, karena kemajuan yang dibuat dalam bidang hak-hak sipil
dan program Great Society, dikacaukan oleh masalah Perang Vietnam.

Karena menggantikan Presiden Kennedy, pada masa jabatan pertama ia tidak didampingi oleh wakil
presiden. Lalu setelah terpilih dalam menjalankan masa jabatan kedua, ia didampingi oleh Wakil
Presiden Hubert H. Humphrey.

Suami dari Lady Bird Johnson ini meninggal dunia di tanah peternakan LBJ di Stonewall, Texas, pada
tanggal 22 Januari 1973.

8. Robert McNamara, Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat

Robert Strange McNamara (lahir 9 Juni 1916) adalah seorang eksekutif bisnis dan mantan Sekretaris
Pertahanan Amerika Serikat. Ia menjadi sekretaris pertahanan Amerika Serikat dari tahun 1961
sampai tahun 1968 selama Perang Vietnam. Ia mundur dari posisi itu dan menjadi Presiden Bank
Dunia (1968-1981).[1] Robert McNamara lahir di San Francisco, California, dimana ayahnya adalah
sales manager yang bekerja untuk perusahaan sepatu.

9. Leonid Brezhnev, Pemimpin Soviet

Leonid Ilyich Brezhnev (bahasa Rusia: ) (Kamenskoye (sekarang
Dniprodzerzhynsk), Ukraina, 9 Desember 1906 10 November 1982) adalah pemimpin Uni Soviet
dari tahun 1964 sampai 1982, meski pada awalnya bersama dengan orang lain. Ia adalah Sekjan
Partai Komunis Uni Soviet dari tahun 1964 sampai 1982, dan dua kali menjabat sebagai ketua
Presidium Dewan Tertinggi Soviet dari tahun 1960 sampai 1964 dan dari tahun 1977 sampai 1982.

4.Pendudukan Jalur Gaza oleh Mesir

5.Pendudukan Tepi Barat dan Jerusalem Timur.

1967-1993

1. Perjanjian Nasional Palestina dibuat pada 1968, Palestina secara resmi menuntut pembekuan
Israel.

2.War of Attrition.

3.Perang Yom Kippur

Perang Yom Kippur, dikenal juga dengan nama Perang Ramadhan atau Perang Oktober adalah
perang yang terjadi pada tanggal 6 26 Oktober 1973 antara pasukan Israel melawan koalisi negara-
negara arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah.

Jalannya perang

Pada tanggal 6 Oktober 1973, pada hari Yom Kippur, hari raya Yahudi yang paling besar, ketika
orang-orang Israel sedang khusyuk merayakannya, yang juga bertepatan dengan bulan Ramadhan
bagi ummat Islam sehingga dinamakan Perang Ramadhan 1973, Suriah dan Mesir menyerbu Israel
secara tiba-tiba. Jumlah tentara invasi sungguh besar. Di dataran tinggi Golan, garis pertahanan
Israel yang hanya berjumlah 180 tank harus berhadapan dengan 1400 tank Suriah. Sedangkan di
terusan Suez, kurang dari 500 prajurit Israel berhadapan dengan 80.000 prajurit Mesir.

Mesir mengambil pelajaran pada Perang Enam Hari pada tahun 1967 tentang lemahnya pertahanan
udara sehingga saat itu 3/4 kekuatan udara mesir hancur total sementara Suriah masih dapat
memberikan perlawanan. Sadar bahwa armada pesawat tempur Mesir masih banyak menggunakan
teknologi lama dibandingkan Israel, Mesir akhirnya menerapkan strategi payung udara dengan
menggunakan rudal dan meriam anti serangan udara bergerak yang jarak tembaknya dipadukan.
Walhasil strategi ini ampuh karena angkatan udara Israel akhirnya kewalahan bahkan banyak yang
menjadi korban karena berusaha menembus jaring-jaring pertahanan udara itu.

Pada permulaan perang, Israel terpaksa menarik mundur pasukannya. Tetapi setelah memobilisasi
tentara cadangan, mereka bisa memukul tentara invasi sampai jauh di Mesir dan Suriah. Israel
berhasil menjinakkan payung udara Mesir yang ternyata lambat dalam mengiringi gerak maju
pasukkannya, dengan langsung mengisi celah (gap) antara payung udara dengan pasukan yang
sudah berada lebih jauh di depan. Akibatnya beberapa divisi Mesir terjebak bahkan kehabisan
perbekalan. Sementara di front timur, Israel berhasil menahan serangan lapis baja Syria.

Melihat situasi berbahaya bagi Mesir, Uni Soviet tidak tinggal diam, melihat tindakan Uni Soviet,
Amerika Serikat segera mempersiapkan kekuatannya. Dunia kembali diamcam perang besar pasca
perang Dunia II. Kemudian, Raja Faisal bin Abdul Aziz dari Arab Saudi mengumumkan pembatasan
peroduksi minyak. Krisis energi muncul dan negara negara Industri kewalahan lantaran harga minyak
dunia membumbung tinggi. Dua minggu setelah perang dimulai, Dewan Keamanan PBB mengadakan
rapat dan mengeluarkan resolusi 339 serta gencatan senjata dan dengan ini mencegah kekalahan
total Mesir.

Secara total 2688 tentara Israel tewas dan kurang lebih 7000 orang cedera, 314 tentara Israel
dijadikan tawanan perang dan puluhan tentara Israel hilang (17 di antaranya bahkan sampai tahun
2003 belum ditemukan). Tentara Israel kehilangan 102 pesawat tempur dan kurang lebih 800 tank.
Di sisi Mesir dan Suriah 35.000 tentara tewas dan lebih dari 15.000 cedera. 8300 tentara ditawan.

Angkatan Udara Mesir kehilangan 235 pesawat tempur dan Suriah 135. Kendati militer Israel
berhasil memukul kembali tentara Mesir dan Suriah, perang ini dianggap sebuah kekalahan militer
Israel.

Akhir Perang

Israel

Setelah perang berakhir, banyak terjadi protes di Israel sampai-sampai Perdana Menteri Golda Meir
dan Menteri Pertahanan Moshe Dayan dari Partai Buruh serta Panglima Angkatan Bersenjata Israel,
David Eliazar, harus mengundurkan diri.

Israel mengambil pelajaran secara teknologi dan strategi pasca Perang Yom Kippur tersebut. Secara
teratur Israel memodernkan angkatan bersenjatanya baik dengan bantuan Amerika Serikat maupun
swadaya. Insiden peledakkan pesawat sipil di bandar udara Lebanon yang dilakukan oleh agen
Mossad[a] pada akhir 1970-an sebagai pembalasan peristiwa Black September*b+, dimana atlet
Olympiade Israel dibunuh oleh gerilyawan PLO di Munich, Jerman Barat, menyebabkan Perancis
mengembargo persenjataan ke Israel. Karena khawatir Amerika Serikat melakukan hal yang sama.
Israel berupaya keras melakukan upaya swasembada persenjataan. Diantaranya memproduksi
pesawat tempur Mirage III tanpa izin yang dikenal dengan tipe Dagger yang digunakan Argentina
dalam Perang Falkland, mengadakan riset pengacau radar dan gelombang radio, memproduksi
pesawat tempur rancangan sendiri Kfir dan Lavi, serta memproduksi tank Merkava yang didesain
berdasarkan pengalaman Israel mengoperasikan tank Amerika Serikat dan Inggris serta tank lawan
yang rusak atau dirampas.

Kesiapan Israel ini terbukti dalam Invasi ke Lebanon Selatan pada tahun 1982 yang berhasil
menduduki kawasan Lebanon Selatan serta menghancurkan kekuatan Angkatan Udara Suriah dalam
Insiden Lembah Bekaa*c+

Mossad[a]

Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim (Ibrani: , Institut
Intelijen dan Operasi Khusus) adalah dinas rahasia Israel dan sering disingkat sebagai Mossad.
Operasinya terutama mengawasi bangsa-bangsa dan organisasi Arab di seluruh dunia.

Mossad merupakan dinas intelijen yang dianggap momok bagi dunia Arab. Sepak terjangnya dalam
mengacak-acak sejumlah negeri membuatnya diakui sebagai salah satu dinas intelijen terbaik dan
tersukses di dunia. Lembaga ini bertanggung jawab untuk intelijen, misi penyamaran, dan kontra
teroris. Mossad juga bertanggung jawab atas pemindahan warga Yahudi keluar dari Suriah, Iran, dan
Ethiopia. Agen-agennya aktif dalam pembentukan sejumlah negara komunis di Barat dan PBB.

Mossad dibentuk Perdana Menteri Israel David ben Gurion pada 1 April 1951, selain intelijen militer
dan kontra intelijen (Shin Bet). Pada pembetukannya, ia berkata bahwa tujuan Mossad ialah, Untuk
negara kita yang sejak berdirinya telah berada di bawah ancaman musuh-musuhnya. Konstitusi
intelijen ialah garis terdepan pertahananKita harus belajar dengan baik cara untuk mengetahui apa
yang sedang terjadi di sekeliling kita.

Mossad berkantor pusat di Tel Aviv. Pada 1980-an, personilnya diperkirakan berjumlah 1500-2000
orang. Secara tradisional, direkturnya dirahasiakan, namun pada Maret 1996, pemerintah Israel
mengumumkan pada publik MayJen Danny Yatom sebagai direktur menggantikan Shabtai Shavit
yang dipecat awal 1996.

Diduga Mossad bertanggung jawab atas sejumlah operasi intelijen di dunia, khususnya yang terjadi
di seputar konflik TimTeng. Mereka telah menempatkan umat bangsa Arab sebagai ancaman utama
Israel. Mereka memiliki klab malam di Libanon, the Star, yang kerap menjadi ajang pertemuan para
agennya.

Sepanjang 1970-an, Mossad membunuh pejuang PLO yang terlibat peristiwa September Hitam yang
menewaskan sejumlah atlet Israel pada Olimpiade di Munich, Jerman. Mossad juga yang
menghancurkan kantor PLO di Tunis, Tunisia pada April 1988, dan membunuh salah satu pejabat
pentingnya Abu Jihad.

Pada Maret 1990 agen Mossad kembali beraksi. Kini korbannya ialah ilmuwan Kanada Gerald Bull
yang merancang senjata super untuk Irak. Ia dibunuh di apartemennya di Brussel, Belgia.
Pembunuhan ini sukses menghentikan proyek pembuatan senjata itu.

Mossad dianggap salah satu dinas intelijen yang paling sukses di dunia. Namun dinas rahasia ini
pernah pula beberapa kali melakukan kesalahan-kesalan besar. Antara lain mereka pernah
membunuh orang secara tidak sengaja yaitu, Ahmed Bouchiki di Lillehammer Norwegia pada tahun
1973 yang dikira Ali Hassan Salameh, salah seorang aktivis Palestina yang memimpin Gerakan
September Hitam dan menyulik serta membunuh kontingen Olimpis Israel di Mnchen pada tahun
1972. Yang paling fatal dan memalukan ialah kegagalannya mencegah pembunuhan PM Israel
Yitzhak Rabin. Para agennya kecolongan saat warga Yahudi Ortodoks, Yigal Amir membawa senjata
dan menembak Rabin. Hal ini memaksa pemerintahan Israel memecat direktur Mossad Shabtai
Shavit dan digantikan MayJen Danny Yatom.

Black September[b]

Asal Muasal Black September

Tahun 1970 orang-orang Palestina dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang mengungsi di
Yordania dianggap telah membuat negara dalam negara di Yordania. Raja Husein khawatir para
tamunya yang semakin kuat itu dapat mengancam posisinya. Akibatnya Raja Husein takut akan para
pejuang Palestina yang sewaktu-waktu dapat menggulingkan pemerintahannya, maka konflik antara
PLO dengan Yordania tidak terelakkan dalam bulan Agustus dan September. Dan 16 September 1970
Raja Husein mendeklarasikan hukum bela diri (Darurat Militer) sebagai respon atas serangan para
fedayeen yang ingin mengambil alih Kerajaannya. Sehari kemudian tank-tank Yordania dari brigade
ke-60 menyerang Markas besar PLO di Amman tentaranya juga menggempur camp di Irbid, Salt,
Sweileh dan Zarqa. Selama pertempuran sepuluh bulan tersebut pasukan Suriah turun tangan
membantu Palestina dengan mengerahkan satu divisi tank. pejuang Palestina dihajar habis-habisan
oleh tentara Yordania dan pada akhirnya pasukan Yordania dapat mengalahkan pasukan PLO hingga
mengakibatkan tewasnya 15 ribu pejuang dan penduduk Palestina. Dan Pertempuran berakhir pada
Juli 1971 dengan terusirnya PLO- dari Yordania ke Libanon. Peristiwa itulah yang dikenang orang
Palestina dengan sebutan September Hitam simbol dari teraniayanya mereka di Yordania. Akibat
peristiwa ini Organisasi pimpinan Yaser Arafat ini serta ribuan pejuangnya harus hengkang dari
Yordania dan pindah ke Libanon.

Organisasi Black September

Pada tahun 1971 setelah hengkang dari Yordania para fedayeen pejuang Palestina dari sel kecil
kelompok faksi Al-Fatah mendirikan organisasi Black September sesuai dengan nama tragedi yang
baru saja menimpa mereka di Yordania. Kelompok ini mendadak mencuat namanya ketika
melahirkan konflik berkepanjangan dengan melakukan serangkaian aksi teror di dunia, diantaranya
penculikan disertai pembunuhan terhadap atlet Israel di Olimpiade musim panas tahun 1972 di
Munich, Jerman. Yang dikenal dengan insiden Munich

Insiden Munich (Munich Massacre)

Pada tanggal 4 september 1972, kelompok radikal Black September melancarkan aksi teror bersandi
operasi Berim Ikrit. Sasarannya perkampungan atlet Israel peserta Olimpiade Munich. Asrama atlet
Israel itu bersebelahan dengan asrama atlet Hong Kong dan Uruguay . Asrama itu terletak dekat
bandara Furstenfeldburch. Perkampungan Olimpiade , Apartemen Connolystrasse, Blok 31
Munchen. Penculikan atas sebelas atlet Israel ini dilangsungkan saat kesemuanya usai bersuka ria
menikmati suatu malam pada 4 September 1972 di tempat peristirahatan mereka. Pukul 04.30 dini
hari ketika para olahragawan ini tengah tertidur lelap, Jam 4.00 pagi, 8 anggota Black September
memanjat pagar setinggi 1.8 meter di Kusoczinskidamm , hanya 500 meter dari asrama atlet Israel.
anggota Black September masuk ke perkampungan atlet Israel dengan bantuan dari atlet Amerika.

Adalah pegulat Israel Yossef Gutfreund yang awalnya mendengar bunyi mencurigakan di
apartemennya ketika ia memeriksanya ia mendapati pintu apartemennya berusaha dibuka sebelum
akhirnya ia mulai berteriak memerintahkan teman-temannya yang lain untuk menyelamatkan diri
mereka seraya mendorong tubuh kekarnya menahan laju pintu dari tekanan para anggota Black
September. Dua orang atlet Israel berhasil meloloskan diri, sementara delapan lainnya memilih
untuk bersembunyi. Seorang atlet angkat berat, Yossef Romano berusaha merebut senjata sang
penyelusup, tragisnya ia lalu tertembak dan tewas seketika layaknya nasib Mosche Weinberg,
pelatih gulat yang juga tewas saat hendak menyerang anggota penyelusup lainnya dengan pisau
buah. Setelah menawan sembilan atlet Israel pihak Black September menuntut dibebaskannya 234
tawanan Palestina dari penjara Israel dan dua pemimpin kelompok kiri Baader-Meinhoff dari penjara
Jerman Barat dan rute aman menuju Mesir, namun untuk pembebasan tahanan Palestina,
pemerintah Israel menolak mentah-mentah permintaan itu kecuali untuk rute aman tujuan Kairo
yang disanggupi pihak Jerman. Menteri Bavaria yang juga pengurus Perkampungan Olimpiade
menawarkan diri sebagai ganti tetapi tawaran ditolak. Kanselir Jerman Barat Willy Brandt
menghubungi Perdana Menteri Israel Golda Meir melalui telepon .Israel enggan memenuhi tuntutan
tersebut. Jerman sendiri bersedia membebaskan pemimpin Baader-Meinhof, Ulrike Meinhof dan
Andreas Baader.

Akhirnya 8 anggota Black September dan 8 tawanan di bawa dengan bus Volkswagen ke Bandara
Furstenfeldbruck menuju Jet 727 yang menunggu. pemerintah Jerman hendak menjebak komplotan
tersebut di Bandara Furstenfeldbruck. Di bandara inilah komplotan tersebut minta disiapkan sebuah
pesawat yang akan menerbangkan mereka ke Kairo, Mesir. Jet gadungan pun disiapkan dengan 5-6
personil polisi yang disamarkan sebagai kru pesawat dan dengan mengerahkan penembak jitu, pihak
Jerman mengetahui sekiranya ada delapan orang penyandera yang tidak menggunakan pengaman
senjata apapun. Sampai sejauh ini semuanya lancar hingga helikopter lepas landas membawa para
penyandera beserta tawanannya. Namun, upaya pembebasan menjadi kacau. Malapetaka bermula
ketika dua petugas kepolisian mulai bertindak gegabah dan memicu serangkaian insiden
penembakan antara pihak kepolisian Jerman Barat termasuk para penembak jitu dengan para
penyandera yang berujung atas kematian tragis bagi kedua belah pihak hingga melibatkan para atlet
yang disandera. Drama penyanderaan 21 jam itu berakhir dengan peledakan helikopter hingga
mengkibatkan kematian semua sandera. Dan penembakan atas Jamal AlGasshey. Sebelas atlet Israel,
tiga anggota Black September dan seorang polisi Jerman Barat tewas. Kesebelas atlet Israel yang
tewas itu adalah :

1. Yosses Gutfreud (atlet gulat)

2. Mosche Weinberg (pelatih gulat)

3. Yossef Romano (atlet angkat berat)

4. David Mark Berger

5. Mark Slavin

6. Jacov Springer (wasit angkat besi)

7. Andre Spitzer (pemain anggar)

8. Kehat Shorr

9. Elieszer Halfin

10. Amitzur Shapira

11. Zeev Friedman.

Tragedi berdarah ini meninggalkan luka bagi banyak pihak. Tak seorangpun sandera berhasil
diselamatkan. Hanya dua atlet Israel yang berhasil melarikan diri saat penyanderaan, mereka adalah:
1. Tuvia Sokolovsky atlet angkat berat, dan 2. Gad Zobari.

Aksi Black September Lainnya

Aksi teror lainnya dari Black September selain insiden Munich antara lain: 28 November 1971,
empat anggotanya melakukan penembakan atas perdana menteri Yordania, Wasfi Al-Tal.
Desember 1971, Penyerangan terhadap Zeid Al Rifei Duta Besar Yordania yang bertugas di London.
Februari 1972, penyabotasean atas instalasi listrik Jerman serta lahan gas di Belanda. Mei 1972,
Pembajakan penerbangan Belgia, Sabena 572 yang bertolak dari Viena menuju Lod. 10 September
1972, kelompok ini membajak sebuah pesawat Boeing 707 Lufthansa rute Ankara-Beirut untuk
dibarter dengan anggotanya yang tertangkap dalam insiden Olimpiade. Walau diprotes Israel,
pemerintah Jerman Barat tak punya pilihan lain demi keselamatan seisi pesawat. 22 Januari 1973
Black September melakukan pembalasan atas terbunuhnya para pemimpin mereka dengan melibas
pentolan Mossad di Madrid. Baruch Cohen. Selain itu juga juga berupaya meledakkan rumah dubes
Israel dan membajak pesawat El Al yang tengah transit Siprus 1 Maret 1973, serangan pada kantor
kedutaan Arab Saudi di Khartoum yang menewaskan dua perwakilan kedubes Amerika dan seorang
pejabat berwenang Belgia. 9 April 1973, tiga anggota Black September berupaya membajak
pesawat terbang Arkia milik Israel di bandara Nikosia. Aksi ini digagalkan satpam pesawat. Dua
anggota Black September dan seorang polisi Siprus tewas dalam kontak senjata. Selang beberapa
jam, rumah dubes Israel di Nikosia diledakkan meski kosong.

Pembalasan Israel

Peristiwa itu mengundang murka Israel. Sebanyak 75 serangan udara dikerahkan untuk
membombardir target di Lebanon dan Suriah, setidaknya menewaskan 66 orang dan membuat
ratusan lainnya luka-luka. Karena serangan udara armada F-4 Phantom AU Israel terhadap kamp-
kamp pelatihan Black September dinilai kurang berhasil, Mabes Angkatan Bersenjata Israel (Zahal)
membentuk tim khusus beranggotakan personel terbaik Mossad dan Aman (intelijen militer).
Perdana Menteri Israel Golda Meir mengetuai komite rahasia yang dinamakan Committee X untuk
menyusun upaya pembalasan dengan membunuh semua dalang peristiwa Munich. Kemudian badan
intelijen Israel Mossad mengaktifkan unit pembunuh mereka, Kidon (bayonet), untuk melacak nama-
nama siapa saja yang terlibat dalam organisasi ini. Dalam operasi yang bernama Wroth of God
(Kemurkaan Tuhan) ini para Kidon telah berhasil membunuh 10 dari 11 orang yang diduga
bertanggung jawab atas tragedi itu. Mossad telah mengatur tindakan balasan. Daftar nama orang
Palestina terutama di peringkat antara bangsa diedarkan dan mesti dibunuh. mereka mengeluarkan
11 nama pemimpin Black September yang menjadi target bunuh, mereka adalah: 1. Wael Adel
Zwaiter Saudara sepupu Yasser Arafat ditembak mati di lobi apartemen di Roma, Italia pada
Oktober 1972. 2. Dr Mahmoud Hanshari Wakil PLO. Penyelaras pembunuhan di Munchen , Jerman.
Beliau ditembak di Paris, Perancis pada November 1972. Beliau luka parah karena ledakan bom yang
dipasang pada teleponnya. 3. Hussein Abad al Chier Penghubung antara PLO dengan KGB di
Cyprus. Beliau tewas akibat ledakan bom di hotelnya di Nikosia, Cyprus. 4. Dr Basil Al Khubaisi
pengatur logistik dan senjata untuk Front Nasional Pembebasan Palestina. Tewas ditembak di
sebuah jalan di Paris pada April 1973. 5. Kamal Nasser Jurubicara PLO. Tidak merahasiakan
hubungannnya dengan pelaku. Kamal Nasseer, Muhammed Yusuf el Najer dan Kemal Adwan
dibunuh di apartemennya di kawasan mewah Ramlat el Bida, Beirut. oleh serbuan pasukan komando
Israel pada april 1973. 6. Muhammed Yusuf el Najer dikenali sebagai Abu Yussuf. Salah seorang
pemimpin gerakan al Fatah. 7. Kemal Adwan Melakukan sabotase di wilayah Israel atas nama al
Fatah. 8. Zaid Muchassi tewas akibat ledakan bom di hotelnya di Athena, Yunani pada April 1973.
Temannya yang juga seorang agen KGB tertembak di luar hotel.9. Mohammed Boudia playboy
tampan , mempunyai hubungan dengan beberapa pemimpin PLO di Eropa. Tewas karena mobilnya
di pasangi bom di Paris pada Juli 1973. 10. Ali Hassan Salameh sang pangeran merah dipercaya
sebagi dalang, perancang pembunuhan di Olimpiade Munich 1972. tewas dalam peledakan bom
mobil di Beirut, Lebanon pada 22 Januari 1979. 11. Muhammad Daoud atau Abu Daoud Pakar
peledak. Perancang peristiwa di Munich satu-satunya target bunuh oleh Israel yang selamat dan
masih hidup.

Selain membunuh para pemimpin Black September Mossad juga membunuh orang-orang yang
mungkin mempunyai hubungan dengan Black September : 1. Januari 1974 Tiga pemuda Arab
bersenjata tak dikenali ditembak mati di sebuah gereja dekat Glarus , Swiss. 2. Agustus 1974 seorang
wanita bernama Jeannette ditembak mati di rumah kapalnya dekat kota Hoorn , Belanda. 3.
September 1974 Seorang pemuda Arab bersenjata ditembak mati di sebuah kebun di Tarifa,
Spanyol.

Serbuan Mossad dan Pasukan Komando Israel

Selain membunuh orang-orang yang terlibat dengan Black September, Israel juga menggelar operasi
rahasia di Libanon dengan sasaran di 4 lokasi berbeda yaitu markas kelompok DFLP dan kompleks
pelatihan Al Fatah di Sidon, pabrik senjata dan amunisi PLO di Al Qusay (kawasan Sabra) dan sasaran
utama kompleks kediaman para pentolan Black September di kawasan mewah Ramlat El Bida. Dalam
operasi yang bersandi Mivtza Aviv Neurim alias Operasi awal musim semi ini anggota Mossad dan
pasukan komando Israel berhasil membunuh 3 pentolan Black September yaitu Muhammed Yusuf el
Najer alias Abu Yusuf beserta istrinya, Kemal Nasser dan Kemal Adwan. Pentolan Black September
lainnya, Muhammed Boudia dan Ali Hassan Salameh lolos dari maut karena sedang pergi ke Suriah.
Juga menghancurkan markas DFLP, gedung berlantai tujuh itu diledakkan setelah seluruh
dokumennya dikuras. Dalam serbuan selama 30 menit tersebut tercatat sedikitnya 200 orang
gerilyawan Palestina tewas, selain ratusan ton senjata berhasil dihancurkan. Selain tentu saja ribuan
lembar dokumen penting yang segera menjadi santapan pihak intelijen Israel dan Barat.

Insiden Lembah Bekaa

Insiden Lembah Bekaa terjadi pada 9 Juni 1982 yang melibatkan duel antar Angkatan Udara Syria
dengan Israel. Peristiwa ini terjadi ketika Israel mengadakan aksi polisionil dengan mengadakan
Invasi ke Libanon Selatan ( Operation Peace for the Galilee) guna membersihkan kekuatan PLO yang
sering mengadakan serangan ke wilayah Israel.

Israel mengadakan serangan ke posisi posisi militer Syria di lembah Bekaa guna menetralisir
kekuatan udara Syria yang mengotrol Libanon sekaligus mencegah Syria untuk tidak ikut campur
dalam menggelar kekuatan di Libanon selatan serta melancarkan Militer Israel memasuki Libanon.
Operasi ini ternyata mengalami sukses besar.

Langkah pertama Israel adalah melumpuhkan sistem radar dan rudal pertahanan Syria di kawasan
itu. Jarignan intelijen Israel menginformasikan bahwa Syria telah memperoleh sistem rudal anti
serangan udara yang diperoleh dari Uni Soviet yang baru diantaranya adalah SA-6 Gainfull selain
sistem udara yang lama diantaranya adalah SA-2 Guideline. Israel mengembangkan pesawat tanpa
awak RVP yang digunakan sebagai pesawat intai dan umpan (drone) serta berhasil mengadakan riset
elektronika guna mengacaukan gelombang radio komunikasi dan sistem radar. Sistem ini digunakan
pada pesawat Boeing 707 yang dimodifikasi sebagai pesawat radar dan pengacau radar.

Langkah selanjutnya, Israel menerbangkan drone untuk mengumpan sistem radar Syria. Dengan
didukung peralatan elektronika yang modern, Israel berhasil mengecoh radar Syria sehingga sistem
rudal anti pesawat SAM (Surface to Air Missile/Rudal darat ke Udara) Syria menembaki pesawat
umpan tersebut. Kemudian Israel melumpuhkan sistem radar tersebut sehingga pihak operator
radar dan SAM Syria berusaha memantau dengan bantuan optik (mata). Pada saat itulah unit
pesawat A-4 Skyhawk dan F-15 Eagle Angkatan Udara Israel menghancurkan posisi-posisi rudal SAM
tersebut.

Angkatan Udara Syria tidak tinggal diam dan langsung mengerahkan pesawat-pesawat tempurnya
yang terdiri dari MiG-21 Fishbed, MiG-23 Flogger, dan Su-22 Fitter buatan Uni Soviet yang berjumlah
seratus pesawat (sedangkan Israel total hanya mengerahkan kekuatan sekitar 40 pesawat termasuk
F-16). Namun keunggulan diudara berada ditangan Israel, selain teknologi pesawat Israel yang lebih
maju dibandingkan Syria, ditambah pengalaman pilot serta sistem pengacau radar dan komunikasi
yang melumpuhkan sistem komunikasi pesawat Angkatan udara Syria yang masih dituntun dari radar
darat. Hasilnya, Israel berhasil merontokkan seratus pesawat tempur Syria tersebut tanpa ada
kerugian sedikit di pihak Israel. Syria berusaha mengacaukan radio dan radar yang dimiliki Israel
dengan kekuatan yang dimilikinya. Tetapi teknologi radio yang tertinggal membuat pihak operator
radio Syria gagal.

Akibat peristiwa itu, Syria mengalami kerugian besar. Selain kehilangan sejumlah besar radar, rudal
dan pesawat tempur, Syria kehilangan pilot-pilot angkatan udaranya yang gugur dalam peristiwa itu.
Uni Soviet juga berusaha mengembangkan teknologi radar, rudal SAM dan pesawat tempur terbaru
untuk mengimbangi kekuatan udara Israel yang notabene buatan Amerika Serikat. Muncullah
pesawat tempur MiG-23 rancangan terbaru, MiG 29 Fulchrum dan Su-27 Flanker, selain rudal SAM
SA-8 Gacko dan SA-10 yang kemudian digelar di lembah bekaa. Uni Soviet juga mengirimkan
bantuan berupa MiG-23 Flogger terbarunya dan MiG-29 kepada Syria, namun sebagian sumber
militer mengatakan Soviet mengurangi bantuannya karena utang luar negeri Syria yang semakin
membengkak kepada Uni Soviet.

Bagi Israel sendiri, keberhasilan insiden itu memuluskan jalanya ke Libanon Selatan yang
didudukinya sampai akhir tahun 2000. Namun demikian, peristiwa kekalahan dalam Perang Yom
Kippur masih menghantui Israel sehingga berusaha keras memiliki keunggulan teknologi militer di
kawasan Timur Tengah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Angkatan Udara Israel memiliki supremasi
atas negara-negara Arab sejak Perang Enam Hari 1967 hingga kini. Namun sumber sumber militer
Israel sendiri mengatakan bahwa pihaknya merencanakan operasi udara tersebut selama 13 tahun.

Mesir dan timur tengah

Meskipun Mesir mengalami kerugian yang besar, perang ini memulihkan kehormatan dan rasa
percaya diri mereka setelah kalah dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967. Ketika tentara Israel
mengundurkan diri dari Port Said, penduduk Mesir dengan pawai dan arak-arakan besar-besaran
serta pesta memasuki kota ini. Israel lalu mengundurkan diri dari seluruh daerah Sinai setelah Mesir
sepakat akan membuat bufferzones. Mesir dan dunia Arab memperoleh kemenangan di mata
Internasional meskipun hasil perang masih diperdebatkan.

Pada tahun 1978 di Camp David, Amerika Serikat, disepakati perjanjian yang dikenal dengan
Perjanjian Camp David di mana Israel berjanji akan mengundurkan diri sampai ke perbatasan
internasional dan di mana seluruh daerah Sinai menjadi daerah demilitarisasi dan diserahkan kepada
Mesir. Perjanjian kedua yang akan disepakati hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak bangsa
Palestina, tetapi ditolak para pemimpin Palestina (PLO). Setahun kemudian sebuah kesepakatan
perdamaian ditanda tangani oleh Menachem Begin, Jimmy Carter dan Anwar Sadat yang bersama-
sama mendapat penghargaan Nobel untuk perdamaian. Perjanjian ini disponsori oleh Amerika
Serikat.

Akibat penandatanganan perjanjian ini, Anwar Sadat mendapat tekanan dari dalam negeri
khususnya dari kelompok fundamentalis Islam dan para pelajar Mesir yang menyebabkan Anwar
Sadat mengambil tindakan represif yang mendapat kecaman karena terdapat banyak pelanggaran
HAM. Akibat tindakan ini pula, Anwar Sadat akhirnya terbunuh dalam parade Militer pada ulang
tahun ke-8 perang Yom Kippur.

Posisi Palestina setelah perang Yom Kippur 1973 ini semakin tidak jelas. Terlebih setelah Yordania,
negeri yang ditempati sebagian besar bangsa Palestina mengambil sikap netral akibat kekalahannya
pada Perang Enam Hari 1967 yang menyebabkan Yordania kehilangan Tepi Barat dan Jerussalem
Timur. Sikap Yordania ini, menyebabkan kemarahan dikalangan Palestina terutama dari PLO yang
saat itu berkedudukan di sana. Karena PLO bertindak sebagai negara dalam negara di Yordania dan
menghindari ketidakstabilan keamanan, Raja Hussein bin Talal akhirnya mengambil sikap represif
dengan mengusir PLO dari negaranya. PLO akhirnya pindah ke Libanon dan Tunisia.

Syria sendiri mengalami kerugian yang cukup besar, namun akhirnya Suriah menandatangani
perjanjian gencatan senjata dengan Israel namun tidak mengadakan perjanjian perdamaian,
terutama sebelum wilayah Dataran Tinggi Golan dikembalikan oleh Israel dalam perang tahun 1967.
Dataran tinggi Golan sendiri akhirnya ditetapkan secara sepihak oleh Israel dengan dukungan
Amerika Serikat. Namun demikian, sikap Suriah terhadap Palestina yang kurang lebih sama dengan
sikap Yordania menyebabkan terjadinya pergolakan-pergolakan terutama dengan kalangan
fundamentalis Islam terutama yang berkedudukan di kota Hama. Pergolakan ini berlanjut ketika
Hafez Al Assad mengambil tindakan represif semakin keras yang memuncak pada peristiwa
pembantaian Hama di akhir dekade 1970-an.

4.Kesepakatan Damai Mesir Israel di Camp David 1978.

SETIAP kali menyebut Camp David, ingatan pun kembali ke peristiwa 22 tahun silam, September
1978, tatkala Presiden AS Jimmy Carter menggelar KTT segitiga bersama almarhum Presiden Mesir
Anwar Sadat dan mendiang PM Israel Menachem Begin. KTT itu mengantar tercapainya kesepakatan
damai pertama antara Israel dan negara Arab, Mesir.

Nama Camp David pun selalu dikaitkan dengan keberhasilan gemilang diplomasi AS di Timur Tengah.
Karena, berkat KTT Camp David saat itu, jalan menjadi terbentang bagi penandatanganan
kesepakatan damai Israel-Mesir pada Maret 1979, yang menandai berakhirnya masa perang besar
Arab-Israel di kawasan penuh konflik itu.

Kini, sejarah seperti berulang kembali. Presiden AS Bill Clinton, sejak Selasa (11/7) lalu, di tempat
yang sama, menggelar pula KTT segitiga bersama PM Israel Ehud Barak dan Pemimpin Palestina
Yasser Arafat, dalam upaya mencapai kesepakatan final yang dilukiskan untuk mengakhiri jantung
konflik Arab-Israel.

Situasi Camp David I memang berbeda dengan Camp David II. Misi Presiden Carter pada Camp David
I, boleh dikatakan jauh lebih mudah lantaran Presiden Anwar Sadat dan PM Menachem Begin sudah
lebih dulu menyembatani hampir 90 persen isu yang menjadi perbedaan pendapat saat itu.

Di samping itu, PM Begin merupakan perdana menteri yang kuat dengan pemerintah yang utuh.
Berbeda dengan PM Barak saat ini yang tampil lemah dengan pemerintah yang rapuh dan
amburadul. Meski demikian, Presiden Sadat dan PM Begin butuh tinggal selama 13 hari di Camp
David untuk menyelesaikan sisa masalah waktu itu.

***

PRESIDEN Carter dalam memoarnya mengungkapkan, KTT Camp David I sebenarnya nyaris gagal
total, ketika PM Begin bersikeras mempertahankan pemukiman Yahudi di Gurun Sinai, dan Presiden
Sadat sudah siap-siap naik helikopter meninggalkan Camp David menghadapi sikap keras PM Israel
tersebut. Namun saya waktu itu mengancam, akan mempersalahkan Israel secara resmi kalau KTT
Camp David gagal. PM Begin akhirnya melunak dan bersedia membongkar pemukiman Yahudi di
Sinai, lanjut Carter.

Saya saat itu sudah memiliki kemantapan hati, kalau tiga pemimpin itu gagal mencapai
kesepakatan, maka tidak ada orang lain yang mampu mewujudkan kesepakatan sampai kapan pun,
ungkapnya lagi.

Sementara Presiden Bill Clinton, saat ini menghadapi situasi yang jauh lebih sulit. Lebih tepat
dikatakan, Clinton kini bersiap menjadi seorang martir dengan spekulasi ingin mengulang prestasi
pendahulunya, Presiden Jimmy Carter. Sebab, PM Barak dan Yasser Arafat saat ini tengah berada
dalam posisi yang sangat berjauhan.

Selain itu, isu-isu yang akan dirundingkan pada Camp David II, terhitung paling rumit di Timur
Tengah, terutama menyangkut masa depan status Kota Jerusalem, pengungsi Palestina, pemukiman
Yahudi dan perbatasan Israel-Palestina. Karena itu, tak berlebihan jika dikatakan, hanya mukjizat
yang bisa menolong Presiden Clinton mengulang sejarah gemilang 22 tahun yang silam.

***

MAKA, sudah saatnya bagi Clinton menggunakan diplomasi tangan besi guna mencairkan kebuntuan
perundingan Israel-Palestina selama ini. Cara diplomasi bertahap yang digunakan untuk
menggerakkan proses perdamaian Timur Tengah sejak kesepakatan Oslo tahun 1993, telah
kehilangan makna dan tidak efektif lagi. Waktu sudah terlalu sempit. Batas akhir masa transisi Israel-
Palestina sesuai dengan kesepakatan Oslo, hanya tinggal dua bulan lagi, yaitu 13 September 2000
mendatang.

Belum lagi alasan masa jabatan yang kedua Presiden Clinton, cuma tinggal enam bulan lagi, sampai
Januari 2001. Carter waktu itu masih sisa waktu dua tahun. Ditambah, kondisi politik menjelang KTT
Camp David I, sangat membantu keberhasilan KTT tersebut.

Setahun sebelum Camp David I, tahun 1977, Presiden Anwar Sadat melakukan kunjungan bersejarah
ke Jerusalem dan menyampaikan pidato di depan forum Knesset (parlemen Israel). Kunjungan
Presiden Sadat ke Jerusalem itu, dilukiskan sebagai kunjungan yang meruntuhkan tabir psikologis
antara Israel dan Arab.

Namun bagaimanapun sulitnya saat ini, PM Ehud Barak dan Pemimpin Palestina Yasser Arafat
menegaskan, berangkat ke Camp David dengan hati dan tangan terbuka serta niat yang tulus untuk
mengakhiri konflik. Bersediakah dua pemimpin tersebut mengimplementasikan niat baik itu dengan
perbuatan nyata, serta sejauh mana peran Presiden Clinton mampu mengulangi peran Presiden
Carter 22 tahun silam? Itulah tuntutan KTT Camp David II. (Musthafa Abd Rahman, dari
Cairo)/Astagadotcom.

5.Perang Lebanon 1982

Perang Lebanon 1982 adalah sebuah perang antara Israel dan Lebanon[1] yang terjadi pada tanggal
6 Juni 1982 ketika Angkatan Bersenjata Israel[2] menyerang Lebanon Selatan. Pemerintahan Israel
melancarkan invasi sebagai respon dari usaha pembunuhan duta besar Israel kepada Inggris, Shlomo
Argov oleh Organisasi Abu Nidal.

Lebanon[1]

Republik Lebanon adalah sebuah negara di Timur Tengah, sepanjang Laut Tengah, dan berbatasan
dengan Suriah di utara dan timur, dan Israel di selatan. Bendera Lebanon menampilkan sebuah
pohon aras berwarna hijau dengan latar belakang putih, diapit oleh dua garis merah horisontal di
atas dan bawahnya. Karena keanekaragamannya yang sektarian, Lebanon menganut sebuah sistem
politik khusus, yang dikenal sebagai konfesionalisme, yang dimaksudkan untuk membagi-bagi
kekuasaan semerata mungkin di antara aliran-aliran agama yang berbeda-beda.[1]

Sebelum Perang Saudara Lebanon (1975-1990), negara ini menikmati ketenangan dan kemakmuran
yang relatif, didorong oleh sektor pariwisata, pertanian, dan perbankan dalam ekonominya.[2]
Lebanon dianggap sebagai ibukota perbankan di dunia Arab dan umumnya dianggap sebagai Swiss
di Timur Tengah*3+*4+ Karena kekuatan finansialnya, Lebanon juga menarik banyak sekali
wisatawan,[5] hingga ibukotanya, Beirut, dirujuk oleh banyak orang sebagai Parisnya Timur
Tengah.*6+

Segera setelah perang, ada banyak upaya untuk menghidupkan kembali ekonominya dan
membangun kembali infrastruktur nasionalnya.[7] Pada awal 2006, stabilitas yang cukup besar telah
tercapai di hampir seluruh negeri, rekonstruksi Beirut hampir selesai,[8] dan semakin banyak
wisatawan asing yang datang ke resort-restor Lebanon.[5] Namun, Perang Lebanon 2006
menimbulkan korban sipil dan militer, kerusakan hebat pada infrastruktur sipil, dan pengungsian
besar-besaran dari 12 Juli 2006 hingga gencatan senjata diberlakukan pada 14 Agustus 2006. Pada
September 2006, pemerintah Lebanon telah memberlakukan rencana pemulihan awal yang
ditujukan untuk membangun kembali properti yang dihancurkan oleh serangan-serangan Israel di
Beirut, Tirus, dan desa-desa lainnya di Lebanon selatan.

Etimologi

Faraya, Gunung Lebanon. Diambil oleh Youmna Medlej.

Nama Lebanon (Lubnn dalam bahasa Arab standar; Lebnan atau Lebnn dalam dialek
setempat) berasal dari akar bahasa Semit LBN, yang terkait dengan sejumlah makna yang
berhubungan erat dalam berbagai bahasa, seperti misalya putih dan susu. Ini dianggap sebagai
rujukan kepada Gunung Lebanon yang berpuncak salju. Nama ini muncul dalam tiga dari 12
lempengan Epos Gilgames (2900 SM), teks perpustakaan Ebla (2400 SM), dan Alkitab. Kata Lebanon
juga disebutkan 71 dalam Perjanjian Lama.

Geografi Lebanon

Sebuah negara di Timur Tengah, Lebanon berbatasan di barat dengan Laut Tengah (garis pantai
sepanjang: 225 kilometer) dan di timur dengan Depresi Suriah-Afrika. Lebanon berbatasan dengan
Suriah sepanjang 375 km di utara dan di timur; dengan Israel sepanjang 79 km di selatan. Perbatasan
dengan Israel telah disetujui oleh PBB (lihat Garis Biru (Lebanon), meskipun sebongkah tanah kecil
disebut Shebaa Farms yang terletak di dataran tinggi Golan diklaim oleh Lebanon namun diduduki
oleh Israel, yang mengklaim bahwa tempat itu merupakan tanah Siria. PBB telah mengumumkan
secara resmi bahwa wilayah ini bukan merupakan milik Lebanon, namun pejuang Lebanon
kadangkala melancarkan serangan terhadap orang Israel yang berada di dalamnya.

Demografi

Populasi Lebanon terdiri dari beragam grup etnik dan agama: Muslim (Syiah, Sunni, Druze, dan
Alawi), Kristen (Katolik Maronit, Ortodoks Yunani, Katolik Yunani, Armenia, Koptik), dan lainnya.
Sensus resmi tidak dilakukan sejak 1932, menandakan sensitivitas politik di Lebanon terhadap
keseimbangan keagamaan.

Diperkirakan bahwa 59% dari penduduk Lebanon adalah Muslim (Sunni, Syiah, dan Druze) dan 39%
Kristen (umumnya Maronit, Gereja Ortodoks Antiokia, Apostolik Armenia, Katolik Yunani Melkit,
Gereja Asiria di Timur, Katolik Khaldea dan minoritas Protestan.[14] Ada kelompok minoritas kecil
Yahudi yang tinggal di Beirut pusat, Byblos, dan Bhamdoun. Lebanon juga mempunyai sebuah
komunitas kecil (kurang dari 1%) Kurdi (juga dikenal sebagai Mhallami atau Mardinli) yang umumnya
bermigrasi dari Suriah timur laut dan Turki tenggara, diperkirakan jumlahnya antara 75.000 hingga
100.000 orang, yang termasuk dalam kelompok Sunni. Dalam tahun-tahun belakangan ini mereka
memperoleh kewarganegaraan Lebanon sehingga menguntungkan kelompok Muslim dan Sunni
khususnya.[15] Selain itu, ada pula ribuan suku Beduin Arab di Bekaa dan di wilayah Wadi Khaled,
yang kesemuanya tergolong Sunni, yang juga mendapatkan kewarganegaraan Lebanon. Ada sekitar
15 juta orang keturunan Lebanon, terutama Kristen, menyebar di seluruh dunia.

Jumlah mereka yang tinggal di Lebanon sendiri diperkirakan 3.874.050 pada Juli 2006.[14] Ada
sekitar 16 juta orang keturunan Lebanon yang tersebar di seluruh dunia, yang terbanyak adalah di
Brasil.[16] Argentina, Australia, Kanada, Kolombia, Perancis, Britania Raya, Meksiko, Venezuela dan
AS juga memiliki komunitas Lebanon yang besar.

Sejumlah 394.532 pengungsi Palestina telah terdaftar di Lebanon pada United Nations Relief and
Works Agency (unrwa) sejak 1948.[17]

Kebudayaan

Selama beribu-ribu tahun Lebanon telah menjadi persimpangan utama peradaban. Karena itu tidak
mengherankan bila negara kecil ini mempunyai budaya yang luar biasa kaya dan hidup. Campuran
kelompok etnis dan agama yang sangat luas di Lebanon ikut menyumbangkan tradisi makanan,
musik dan sastra, serta festival. Beirut khususnya merupakan panggung seni yang sangat hidup
dengan berbagai pertunjukan, pameran, pameran mode, dan konser yang diadakan sepanjang tahun
di berbagai galeri, museum, teater dan tempat-tempat terbuka. Masyarakatnya modern, terdidik,
sangat mirip dengan banyak masyarakat Eropa lainnya di Mediterania. Meskipun sangat mirip
dengan Eropa, bangsa Lebanon sangat bangga akan warisan mereka dan telah menjadikan negeri itu
dan khususnya Beirut pusat kebudayaan dunia Arab. Lebanon adalah negara anggota Organisation
Internationale de la Francophonie (negara berbahasa Perancis). Karena itulah kebanyakan orang
Lebanon berdwibahasa, mampu berbahasa Arab dan Perancis. Namun demikian, bahasa Inggris kini
sangat populer khususnya di antara mahasiswa. Di negara ini agama Kristen bergaul akrab dengan
Islam, dan Lebanon juga merupakan pintu masuk Arab ke Eropa serta jembatan Eropa ke dunia Arab.

Lebanon juga mempunyai sejumlah universitas yang bergengsi, termasuk Universitas Amerika di
Beirut, Universitas Lebanon milik negara, dan Universit Saint-Joseph.

Sejumlah festival internasional diadakan di Lebanon, menampilkan para artis kelas dunia dan
mengundang turis dari Lebanon dan luar negeri. Di antaranya yang terkenal adalah festival musim
panas di Baalbeck, Beiteddine, dan Byblos, di mana barisan masyarakat elit yang beraneka ragam
tampil dengan latar belakang sejumlah situs sejarah Lebanon yang paling terkenal dan spektakular.

Politik

Lebanon adalah sebuah republik demokratis parlementer, yang memberlakukan sebuah sistem
khusus yang dikenal sebagai konfesionalisme.[18] Sistem ini, yang dimaksudkan untuk menjamin
bahwa konflik sektarian akan dapat dihindari, berupaya untuk secara adil mewakili distribusi
demografis aliran-aliran keagamaan dalam pemerintahan. Karena itu, jabatan-jabatan tinggi dalam
pemerintahan disediakan untuk anggota-anggota kelompok-kelompok keagamaan tertentu.
Misalnya, Presiden Lebanon, haruslah seorang Kristen Katolik Maronit, Perdana Menteri seorang
Muslim Sunni, Wakil Perdana Menteri seorang Kristen Ortodoks, dan Ketua Parlemen seorang
Muslim Syiah.*19+*20+ Pembagian ini merupakan hasil dari persetujuan tidak tertulis tahun 1943
antara Presiden (Maronit) dan Perdana Menteri waktu itu (Sunni) dan baru diformalkan dengan
konstitusi pada tahun 1990.

Kecenderungan ini berlanjut dalam distribusi ke-128 kursi parlemen yang dibagi dua antara Muslim
dan Kristen. Sebelum 1990, rasionya adalah 6:5, yang menguntungkan orang Kristen. Namun,
Persetujuan Taif, yang mengakhiri perang saudara 1975-1990, menyesuaikan rasio itu untuk
memberikan representasi yang sama bagi para pemeluk dari kedua agama tersebut.

Jumlah anggota Parlemen Lebanon juga diatur jumlahnya berdasar agama yang dianut yaitu

Kristen / Katolik 64 orang terdiri dari:

Maronit: 34, Ortodoks Yunani: 14, Katolik Yunani: 8, Ortodoks Armenia: 5, Katolik Armenia: 1,
Protestan: 1, Lain-lain: ,

Islam dan Druze 64 orang terdiri dari:

Sunni: 27, Syiah: 27, Druze: 8, Alawi: 2

Menurut konstitusi, pemilihan langsung harus dilakukan untuk parlemen setiap empat tahun sekali,
meskipun dalam sejarah Lebanon belakangan ini, perang saudara selalu meletus sebelum hak ini
dilaksanakan.

Parlemen memilih Presiden untuk masa jabatan 6 tahun dan tidak boleh dipilih berturut-turut.
Walaupun begitu, peraturan ini pernah dilanggar dua kali dengan masa perpanjangan jabatan
selama 3 tahun pada masa pemerintahan Elias Hrawi (1990-1995 diperpanjang hingga 1998) dan
Emile Lahoud (1998-2004 diperpanjang hingga 2007).

Sistem yudisial Lebanon mengikuti Kode Napoleon. Tidak ada Juri dalam pengadilan.

Angkatan Bersenjata Israel[2]

Angkatan Pertahanan Israel (bahasa Ibrani: Tsva HaHagana LeYisrael dengarkan,
*Tentara+ Angkatan untuk Pertahanan Israel), yang seringkali disingkat dengan singkatan bahasa
Ibrani Tsahal, atau Tzahal, adalah sebutan bagi Israel, yang terdiri atas Angkatan Darat Israel,
Angkatan Udara Israel dan Angkatan Laut Israel. Dalam bahasa Inggris, singkatannya lebih dikenal
sebagai IDF.

Sejarah Angkatan Pertahanan Israel yang terkait dengan sejarah pembentukan Haganah yang kedua
setelah dilakukan. Sebelum 1948

Dari 1930, sebelum kepemimpinan politik diakui dengan penggunaan kekuatan sebagai pilihan dari
alat politik telah menjadi wacana publik untuk membentuk budaya politik masyarakat. Pemikiran ini
menjadi lebih terlihat setelah adanya pembentukan negara. Pemeran utama di sini tidak saja
angkatan darat atau organisasi militer pra-negara.

Mengikuti Rencana pemisahan UN 1947 yang memberikan mandat kepada Britania Raya mengenai
pembentukan negara di Palestina, negara menjadi semakin stabil dan jatuh ke dalam keadaan
perang sipil antara orang-orang Yahudi dan Arab setelah penduduk Arab menolak rencana apapun
yang akan memungkinkan untuk menciptakan sebuah negara Yahudi sesuai dengan Rencana Dalet
untuk Haganah mencoba untuk mengamankan wilayah yang rencana dialokasikan ke negara Yahudi
dan blok dari pemukiman yang berada di kawasan yang dialokasikan untuk negara Arab.

Kepala Staf Umum

Sebagai Kepala Staf Umum adalah yang tertinggi dari Komandan IDF dan bertanggung jawaban
kepada Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri. Semua Ramatkal memiliki peringkat Letnan
Jenderal.

Angkatan Pertahanan Israel dibentuk pada 14 Mei 1948 dengan terbentuknya negara Israel untuk
melindungi penduduk Israel dan melawan segala bentuk terorisme yang mengancam kehidupan
sehari-hari. IDF menggantikan Haganah (khususnya, cabang operasionalnya, Palmach) sebagai
militer permanen dari negara Yahudi ini. Ke dalamnya juga bergabung unsur-unsur sebelumnya dari
Brigade Yahudi yang berperang di bawah bendera Britania pada masa Perang Dunia II. Setelah
dibentuknya IDF, dua organisasi bawah tanah Yahudi, Etzel dan Lehi bergabung dengan IDF dalam
suatu konfederasi longgar, tetapi diizinkan beroperasi secara independen di sejumlah sektor hingga
akhir Perang Arab-Israel 1948. Sesudah itu, kedua organisasi ini dibubarkan, dan anggota-
anggotanya diintegrasikan ke dalam IDF. IDF modern terbentuk pada periode antara 1949 hingga
1956 melalui pengalaman yang diperoleh dari konflik-konflik regional conflicts dengan tetangga-
tetangga Arab mereka.

Dari 1956 hingga 1966, IDF menghadapi lebih sedikit konflik dan menggunakan waktu ini untuk
membeli perlengkapan baru dan berubah dari sebuah militer pemula menjadi sebuah kekuatan
tempur yang profesional. Pada masa ini pula konon Israel mengembangkan kemampuan nuklir
mereka.

Setelah masa damai selama satu dasawarsa, IDF menghadapi serangkaian peperangan dengan
tetangga-tetangganya.

Dinas dan jumlah tenaga

Dinas biasa

Laki-laki dan perempuan Yahudi dan Druze yang berusia di atas 18 tahun dikenai wajib dinas militer
nasional, meskipun pengecualian dapat diberikan atas alasan-alasan agama, fisik maupun psikologis
(lihat Profil 21). Laki-laki dalam komunitas Haredi dapat memilih untuk dikecualikan sementara
mereka belajar di Yeshiva, sebuah praktik yang menjadi sumber ketegangan [1], meskipun sebagian
program yeshiva seperti Hesder menyediakan kesempatan untuk berdinas.

Laki-laki berdinas di IDF selama tiga tahun, sementara perempuan dua tahun atau kadang-kadang
kurang dari dua tahun. Kadang-kadang IDF dapat meminta perempuan yang menjadi relawan untuk
posisi-posisi tempur untuk berdinas selama tiga tahun karena tentara-tentara tempur harus
menjalani periode latihan yang lama. Perempuan dalam posisi tempur juga dituntut untuk berdinas
sebagai perwira cadangan selama beberapa tahun setelah mereka diberhentikan dari dinas biasa,
sebelum mereka menikah atau hamil.

Dinas cadangan

Setelah dinas biasa, kaum laki-laki dapat dipanggil untuk menjalani dinas cadangan hingga satu bulan
setiap tahunnya, sampai mencapai usia 43-45 tahun (perwira cadangan dapat menjadi relawan
setelah usia ini), dan dapat dipanggil untuk tugas aktif dengan segera pada saat-saat krisis. Pada
umumnya, dinas cadangan dilaksanakan dalam satuan yang sama selama bertahun-tahun, dan
seringkali satuan yang sama seperti pada dinas aktif dan dengan orang-orang yang sama. Banyak
tentara yang telah berdinas bersama-sama dalam dinas aktif tetap bertemu dalam tugas cadangan
selama bertahun-tahun setelah mereka dibebastugaskan, sehingga tugas cadangan menjadi suatu
pengalaman ikatan bersama antara sesama laki-laki yang kuat dalam masyarakat Israel. Sebuah
lelucon Israel terkenal menyebut warga sipil sebagai tentara yang sedang cuti selama 11 bulan.

Meskipun tetap siap untuk dipanggil pada masa-masa krisis, kebanyakan laki-laki Israel, dan praktis
semua kaum perempuan, tidak benar-benar melakukan dinas cadangan pada suatu tahun tertentu.
Satuan-satuan mereka tidak selalu memanggil semua perwira cadangan mereka setiap tahunnya,
dan berbagai pengecualian dapat diberikan bila seseorang dipanggil untuk menjalani dinas cadangan
biasa. Bagi para perwira cadangan yang dipanggil pada masa krisis praktis tidak ada pengecualian,
namun pengalaman memperlihatkan bahwa dalam kasus-kasus demikian (yang paling mutakhir,
Operasi Perisai Pertahanan pada 2002) pengecualian jarang diminta atau diberikan; satuan-satuan
ini biasanya mencapai tingkat rekrutmen melampaui satuan yang diawaki mereka yang berdinas
penuh waktu.

Baru-baru ini diusulkan sebuah rancangan undang-undang untuk memperbaiki dinas cadangan,
mengurangi maksimum usia dinas hingga 40 tahun, menjadikannya semata-mata sebagai pasukan
darurat, serta banyak lagi perubahan lainnya terhadap struktur yang ada sekarang (meskipun
Departemen Pertahanan dapat menunda bagian manapun dari undang-undang itu setiap saat
karena alasan-alasan keamanan). Namun, ambang usia bagi banyak perwira cadangan yang posisinya
tidak didaftarkan, akan dipatok pada 49 tahun. Undang-undang ini akan mulai diberlakukan pada 13
Maret 2008.

Dinas Penjaga Perbatasan

Beberapa tentara IDF menjalani wajib dinas militer mereka di Mishmar Ha Gvool (Magav) atau Polisi
Perbatasan Israel. Begitu pasukan-pasukan itu menyelesaikan latihan tempur IDF mereka, mereka
menjalani latihan tambahan kontra-terorisme dan Penjaga Perbatasan. Mereka kemudian
ditempatkan pada salah satu dari satuan-satuan Penjaga Perbatasan di sekeliling negara.

Satuan-satuan Penjaga Perbatasan berperang berdampingan dengan satuan-satuan tempur IDF.
Mereka juga bertanggung jawab atas keamanan daerah-daerah perkotaan yang padat, seperti
misalnya Kota Yerusalem.

Banyak perwira di Penjaga Perbatasan yang berasal dari satuan-satuan tempur IDF. Sementara
Penjaga Perbatasan tetap mempertahankan struktur komando mereka, di lapangan mereka hampir
tidak dapat dibedakan dari satuan-satuan IDF reguler.

Minoritas di IDF

Orang-orang Arab Druze dan Circassian, seperti orang-orang Yahudi Israel, dikenai wajib militer di
IDF. Mulanya, mereka dimasukkan dalam satuan khusus yang dinamai Satuan Minoritas, yang
masih ada hingga sekarang, dalam bentuk batalyon patroli Harev, namun sejak 1980-an, tentara-
tentara Druze telah semakin gencar memprotes praktik ini, yang mereka anggap sebagai suatu
bentuk segeregasi dan tidak memberikan akses untuk berdinas di satuan-satuan yang lebih
bergengsi. Militer telah semakin banyak menerima tentara Druze ke dalam satuan-satuan tempur
biasa dan memberikan mereka akses ke pangkat-pangkat yang lebih tinggi, yang sebelumnya tidak
diberikan kepada mereka. Pada tahun-tahun belakangan, beberapa perwira Druze telah mencapai
pangkat-pangkat di IDF bahkan hingga Mayor Jenderal, dan banyak yang memperoleh bintang-
bintang kehormatan. Namun, beberapa orang Druze masih mengeluhkan diskriminasi dan khususnya
tidak dilibatkan dalam Angkatan Udara, meskipun pembatasan resmi dengan alasan keamanan
untuk tingkat rendah bagi Druze telah cukup lama dihapuskan. Penerbang Druze pertama lulus
pendidikan terbangnya pada 2005, namun namanya dirahasiakan karena ia adalah anggota Angkatan
Udara, dan merupakan cucu dari seorang Druze Suriah yang membelot dari pertempuran di Ramat
Yohanan pada masa perang kemerdekaan, di mana sekitar 1000 tentara dan perwira Druze
membelot dan bergabung dengan Israel.

Latar Belakang

Setelah perang antara Arab dan Israel tahun 1948, Lebanon menjadi rumah untuk lebih dari 110.000
pengungsi Palestina dari rumah mereka di Israel. Pada tahun 1970 dan 1971, PLO ikut serta dalam
usaha untuk menjatuhkan kekuasaan monarko Yordania, dimana membuat jumlah besar dari
pejuang palestina dan pengungsi pindah ke Lebanon. Pada tahun 1975, terdapat lebih dari 300.000
pengungsi, membuat PLO menjadi pasukan kuat dan bermain peran penting saat perang saudara
Lebanon. Kekacauan yang berlanjut antara Israel dan PLO dari tahun 1968, membuat terjadinya
Operasi Litani.

Konflik Lebanon Selatan 1978 (dinamai Operasi Litani oleh Israel) adalah invasi Angkatan Pertahanan
Israel ke Lebanon tahun 1978. Invasi ini sukses, dengan pasukan Organisasi Pembebasan Palestina
terdorong ke utara sungai Litani. Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL datang setelah berakhirnya
perang ini.

6.Perang Teluk 1990/1991

Perang Teluk Persia I atau Gulf War disebabkan atas Invasi Irak atas Kuwait 2 Agustus 1990 dengan
strategi gerak cepat yang langsung menguasai Kuwait. Emir Kuwait Syeikh Jaber Al Ahmed Al Sabah
segera meninggalkan negaranya dan Kuwait dijadikan provinsi ke-19 Irak dengan nama Saddamiyat
Al-Mitla` pada tanggal 28 Agustus 1990, sekalipun Kuwait membalasnya dengan serangan udara kecil
terhadap posisi posisi Irak pada tanggal 3 Agustus 1991 dari pangkalan yang dirahasiakan.

Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun
dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan
ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait
serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan
atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak
dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan
perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan
Usmaniyah Turki.

Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya
Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990.

Amerika Serikat mengirimkan bantuan pasukannya ke Arab Saudi yang disusul negara-negara lain
baik negara-negara Arab kecuali Syria, Libya dan Yordania serta Palestina. Kemudian datang pula
bantuan militer Eropa khususnya Eropa Barat (Inggris, Perancis dan Jerman Barat), serta beberapa
negara di kawasan Asia. Pasukan Amerika Serikat dan Eropa di bawah komando gabungan yang
dipimpin Jenderal Norman Schwarzkopf serta Jenderal Collin Powell. Pasukan negara-negara Arab
dipimpin oleh Letjen. Khalid bin Sultan.

Misi diplomatik antara James Baker dengan menteri luar negeri Irak Tareq Aziz gagal (9 Januari
1991). Irak menolak permintaan PBB agar Irak menarik pasukannya dari Kuwait 15 Januari 1991.
Akhirnya Presiden Amerika Serikat George H. Bush diizinkan menyatakan perang oleh Kongres
Amerika Serikat tanggal 12 Januari 1991. Operasi Badai Gurun dimulai tanggal 17 Januari 1991 pukul
03:00 waktu Baghdad yang diawali serangan serangan udara atas Baghdad dan beberapa wilayah
Irak lainnya serta operasi di daratan yang mengakibatkan perang darat yang dimulai tanggal 30
Januari 1991.

Irak melakukan serangan balasan dengan memprovokasi Israel dengan menghujani Israel terutama
Tel Aviv dan Haifa, Arab Saudi di Dhahran dengan serangan rudal Scud B buatan Sovyet rakitan Irak,
serta melakukan perang lingkungan dengan membakar sumur sumur minyak di Kuwait dan
menumpahkan minyak ke Teluk Persia. Sempat terjadi tawar-menawar perdamaian antara Uni
Sovyet dengan Irak yang dilakukan atas diplomasi Yevgeny Primakov dan Presiden Uni Sovyet
Mikhail Gorbachev namun ditolak Presiden Bush pada tanggal 19 Februari 1991. Sementara Sovyet
akhirnya tidak melakukan tindakan apa pun di Dewan Keamanan PBB semisal mengambil hak veto.
Israel diminta Amerika Serikat untuk tidak mengambil serangan balasan atas Irak untuk menghindari
berbaliknya kekuatan militer Negara Negara Arab yang dikhawatirkan akan mengubah jalannya
peperangan.

Pada tanggal 27 Februari 1991 pasukan Koalisi berhasil membebaskan Kuwait dan Presiden Bush
menyatakan perang selesai.

7. Kesepakatan Damai Oslo antara Palestina dan Israel 1993

Tanggal 13 September 1993. Israel dan PLO bersepakat untuk saling mengakui kedaulatan masing-
masing. Pada Agustus 1993, Arafat duduk semeja dengan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin.
Hasilnya adalah Kesepakatan Oslo. Rabin bersedia menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur
Gaza serta memberi Arafat kesempatan menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa
memerintah di kedua wilayah itu. Arafat mengakui hak Negara Israel untuk eksis secara aman dan
damai.

28 September 1995. Implementasi Perjanjian Oslo. Otoritas Palestina segera berdiri.

Persetujuan Damai atau secara resmi disebut Deklarasi Prinsip-Prinsip Fasilitasi Pemerintahan
Sendiri secara sementara disetujui di Oslo, Norwegia pada 20 Agustus 1993 dan secara resmi
ditanda-tangani di Washington D.C. pada 13 September 1993 oleh Mahmud Abbas[1] yang mewakili
PLO dan Shimon Peres[2] yang mewakili Israel. Hal ini disaksikan oleh Warren Christopher dari
Amerika Serikat dan Andrei Kozyrev dari Rusia, di depan Presiden A.S. Bill Clinton[3] dan Perdana
Menteri Israel Yitzhak Rabin[4] dengan Ketua PLO Yasser Arafat.[5]

Mahmoud Abbas[1], lahir 26 Maret 1935, umumnya dikenal kunya atau nom de guerre Abu Mazen
Presiden terpilih untuk Otoritas Nasional Palestina (PNA: Palestinian National Authority) pada 9
Januari 2005 dan menjabat kembali sejak 15 Januari 2005.

Abbas lahir dan dibesarkan di Safet. Setamat sekolah dasar di kota itu, ia hijrah ke Suriah setelah
perang tahun 1948. Ia melanjutkan sekolah menengah dan perguruan tinggi di kota Damaskus.
Setelah tamat dari jurusan hukum Universitas Damaskus, ia mendirikan lembaga Palestina pertama
pada tahun 1954 di Suriah. Inilah awal mula karier politiknya.

Awal tahun 1960-an, ia menjadi pegawai Departemen Pendidikan di Qatar dan bersahabat dengan
Yasser Arafat (1929-2004). Ia kemudian menjadi anggota Majelis Nasional Palestina pada tahun 1968
dan memimpin perundingan tidak resmi dengan Israel pada tahun 1977.

Sejak tahun 1983, ia menjadi anggota komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) serta
memimpin komite nasional dan internasional yang berkonsentrasi pada urusan organisasi non-
pemerintah. Ia memulai kembali perundingan rahasia dengan pejabat Israel pada tahun 1989 lewat
perantara Belanda. Ia tetap menjalankan aktivitas perundingan di balik pintu dengan Israel ketika
dan pasca-Konferensi Madrid tahun 1991. Pasca Konferensi Madrid, ia dipercaya menjabat sebagai
koordinator urusan perundingan. Ia meletakkan rencana dan pengarahan pada tim perunding
Palestina.

Abbas dengan George W. Bush dan Ariel Sharon di Aqabah

Saat Pemimpin Otoritas Palestina Yasser Arafat membentuk lembaga perdana menteri, ia ditunjuk
untuk menjabatnya tetapi mundur empat bulan kemudian (Juni 2003-September 2003. Ia terpilih
secara aklamasi sebagai Ketua PLO sepeninggal Yasser Arafat (11 November 2004). Ia terpilih
menjadi Presiden Palestina pada pemilu 9 Januari 2005 dengan 62,3 persen suara. Kemenangan
Hamas[a] pada Pemilu Legislatif 25 Januari 2006 menghantarkan Ismail Haniya untuk posisi Perdana
Menteri Palestina. Hamas yang semenjak awal perjuangannya menolak mengakui negara Israel
membuat kesulitan posisinya, sehingga Abbas berniat menyelenggarakan sebuah referendum pada
31 Juli 2006 untuk menentukan perlu tidaknya Palestina mengakui negara Israel.

Hamas

Akronim dari Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah (bahasa Arab: , secara
harfiah Gerakan Perlawanan Islam dan kata Arab untuk ketekunan), adalah sebuah gerakan dan
partai politik Palestina berhaluan Islamis yang dibentuk pada tahun 1987 untuk melakukan
perlawanan terhadap pendudukan Israel di Palestina. Pada tahun 2006, partai ini memenangkan
pemilu parlemen Palestina. Sejak awal Februari 2007, kelompok ini terlibat konflik dengan kelompok
Fatah akibat kekalahan kelompok Fatah di pemilu parlemen 2006.

Selain partai politik, HAMAS juga merupakan lembaga sosial(firqah ijtimaiyyah)

Sejarah

Syekh Ahmad Yassin, seorang guru kelahiran 1 Januari 1929, yang mencatatkan organisasi Mujama
al-Islami Hamas ini secara legal di Israel pada 1978. Ia berpijak ke Ikhwanul Muslimin yang didirikan
Hasan al-Banna pada 1928 di Mesir. Pemerintah Israel kala itu justru menyokong Hamas, yang hanya
berkutat di bidang sosial, moral, dan pendidikan. Tel Aviv juga memanfaatkan Hamas untuk
menyaingi kepopuleran Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang dipimpin Yasser Arafat.

Berkembang sebagai organisasi karitas, Hamas diam-diam juga berkembang sebagai organisasi
bersenjata. Hal ini baru terkuak di akhir 1987. Yassin, alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir,
meluncurkan Harakat Muqawama al-Islamiya disingkat Hamas yang berarti Gerakan
Perlawanan Islam.

Tujuan pendirian Hamas dicantumkan di aktanya: mengibarkan panji-panji Allah di setiap inci bumi
Palestina. Dengan kata lain: melenyapkan bangsa Israel dari Palestina dan menggantinya dengan
negara Islam. Hamas baru ini dibidani Yassin dan tujuh orang berpendidikan tinggi: Abdul Aziz al-
Rantissi (dokter spesialis anak), Abdul Fatah Dukhan dan Muhammad Shamaa (keduanya guru), Isa
Nashar dan Abu Marzuq (insinyur mesin), Syekh Salah Silada (dosen), dan Ibrahim al-Yazuri
(farmakolog).

Peluncuran Hamas menemukan momentumnya dengan kebangkitan Intifadah I, yang bergolak di
sepanjang Jalur Gaza. Anak-anak Palestina tak gentar melawan tentara Israel dengan batu-batu
sekepalan tangan. Sejak itu, sayap-sayap militer Hamas beroperasi secara terbuka. Mereka
meluncurkan sejumlah serangan balasantermasuk bom bunuh dirike kubu Israel.

Pada Agustus 1993, Arafat duduk semeja dengan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin. Hasilnya
adalah Deklarasi Oslo. Rabin bersedia menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta
memberi Arafat kesempatan menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa memerintah di
kedua wilayah itu. Arafat mengakui hak Negara Israel untuk eksis secara aman dan damai. Hamas
tidak menyetujui perjanjian ini.

Pada Januari 2006, Hamas melangkah ke arena politik formal. Secara mengejutkan, mendulang
kemenanganmeraih 76 dari 132 kursi dalam pemilihan anggota parlemen Palestina. Hamas
mengalahkan Fatah, partai berkuasa sebelum pemilu saat itu. Kabinet yang didominasi orang Hamas
terbentuk.

Tokoh Penting Hamas

1. Mahmoud al-Zahar

Mahmoud al-Zahar (lahir pada tahun 1945) adalah salah satu pendiri Hamas, dan juga anggota
Dewan kepemimpinan Hamas di Jalur Gaza.

2. Sheikh Ahmed Yassin

Sheikh Ahmed Ismail Yassin dilahirkan di desa Al Jaurah, pinggiran Al-Mijdal, selatan Jalur Gaza
(sekarang dekat Ashkelon di Israel). Tanggal lahirnya tak diketahui secara pasti:menurut paspor
Palestinanya, ia lahir pada 1 Januari 1929, namun ia telah menyatakan sebenarnya telah lahir pada
1938. Sedangkan sumber Palestina mendaftarkan tahun lahirnya ialah 1937. Saat masih kanak-
kanak, ia dan keluarganya telah dipaksa menjadi pengungsi yang diakibatkan oleh perang dengan
Israel pada tahun 1948.

Yassin mendirikan Hamas al-Harakatul Muqawwamatul Islamiyah dengan rekannya Abdel Aziz al-
Rantissi dan Khaled Meshal pada tahun 1987. Sheikh Ahmed adalah seorang tuna netra dan juga
seorang paraplegic akibat kecelakaan olahraga pada masa muda-nya sehingga beliau harus
menggunakan kursi roda sepanjang sisa hidupnya. [1]. Ia merupakan pejuang Intifadhah, mujahid
dakwah yang berjuang menegakkan Islam dan penghulu pejuang Palestina.

Wafatnya

Sheikh Ahmed Yassin dibunuh pada hari Senin, 22 Maret 2004 ketika helikopter Israel
menghantamkan 3 roket ke kendaraannya seusai solat Subuh.

3. Yahya Ayyash

Yahya Ayyash merupakan anggota Hamas. Ia lahir pada 6 Maret 1966 di Rafah dekat Nablus. Ia
menyelesaikan pendidikan dasarnya di Rafat dengan memuaskan yang membuatnya memenuhi
syarat belajar keahlian teknik di Universitas Bir Zeit. Ayyash menerima gelar sarjana dari teknik
elektro pada 1988. Ia aktif dalam barisan Brigade Ezzul Deen Al Qassam di awal 1992, di mana ia
mengkhususkan pada pembuatan bahan peledak dari bahan mentah yang tersedia di daerah
Palestina. Ia dipercayakan dengan pengenalan teknik bom bunuh diri dalam konflik Israel-Palestina.

Ayyash menjadi salah satu ketua pembuat bom di Hamas. Dalam kapasitas itu, ia menerima gelar
Sang Insinyur. Pengeboman yang dirancangnya menyebabkan kematian lebih dari 70 orang Israel.

Ia dibunuh oleh Shin Bet Israel pada 5 Januari 1996 menyusul pemburuan besar-besaran. Agen Israel
bisa berkompromi dengan salah satu anggota Hamas anak buah Ayyash, yang memberinya telepon
berbahan peledak. Saat mereka menegaskan Ayyash sedang menggunakannya, Shin Bet
meledakkannya, membunuhnya dengan cepat.

4. Abdullah Yusuf Azzam

Dr. Abdullah Yusuf Azzam (19411989), juga dikenal dengan nama Syekh Azzam, adalah seorang
figur utama dalam perkembangan pergerakan Islam. Ratusan tulisan dan pidatonya mampu
menghidupkan ruh baru dalam diri ummat. Seolah-olah beliau dipilih Allah SWT untuk menegakkan
kembali kewajiban yang telah dilupakan sebagian besar ummat Islam, yaitu jihad. Demikian
komentar DR. Dahba Zahely, cendekiawan Muslim Malaysia tentang DR Abdullah Azzam. Komentar
senada juga datang dari cendekiawan dan ulama dari berbagai negara.

Pendidikan dan Masa Muda

Syekh Azzam lahir pada tahun 1941 di desa As-baah Al-Hartiyeh, provinsi Jenin di sebelah barat
Sungai Yordan. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan lanjutan di desanya, dia melanjutkan ke
Khadorri College di dekat kota Tulkarem dan mengambil jurusan pertanian. Setelah wisuda Syekh
Azzam bekerja sebagai seorang guru di desa Adder, Yordania. Kemudian ia di Sharia College pada
Universitas Damaskus di mana ia memperoleh gelar B.A. pada tahun 1966. Setelah tahun 1967 pada
Perang Enam Hari dan Israel menduduki Tepi Barat, Syekh Azzam pindah ke Yordania dan bergabung
dengan Ikhwanul Muslimin Palestina.

Shaikh Azzam pergi ke Mesir untuk melanjutkan studi Islam di Universitas Al-Azhar Kairo dan
mendapat gelar master di bidang syariah. Ia kembali ke mengajar pada Universitas Jordan di Amman
dan pada tahun 1971, Syekh Azzam kembali ke Universitas Al-Azhar dan memperoleh Ph.D dalam
bidang Ushul Fiqh pada tahun 1973.

Salah Seorang Tokoh Penggerak Jihad

Pada tahun 1980 ia pindah ke Peshawar. Di sana ia mendirikan Baitul Anshar, sebuah lembaga yang
menghimpun bantuan untuk para mujahid Afghan. Ia juga menerbitkan sebuah media Ummah Islam.
Lewat majalah inilah ia menggedor kesadaran ummat tentang jihad. Katanya, jihad di Afghan adalah
tuntutan Islam dan menjadi tanggung jawab ummat Islam di seluruh dunia. Seruannya itu tidak sia-
sia. Jihad di Afghan berubah menjadi jihad universal yang diikuti oleh seluruh ummat Islam di
pelosok dunia. Pemuda-pemuda Islam dari seluruh dunia yang terpanggil oleh fatwa-fatwa Abdullah
Azzam, bergabung dengan para mujahidin Afghan.

Jihad di Afghanistan telah menjadikan Abdullah Azzam sebagai tokoh pergerakan jihad zaman ini. Ia
menjadi idola para mujahid muda. Peranannya mengubah pemikiran ummat Islam akan pentingnya
jihad di Afghanistan telah membuahkan hasil yang sangat mengagumkan. Uni Sovyet sebagai negara
Adidaya harus pulang dengan rasa malu, karena tidak berhasil menduduki Afghanistan.

Abdullah Azzam telah berhasil meletakkan pondasi jihad di hati kaum muslimin. Penghargaannya
terhadap jihad sangat besar. Aku rasa seperti baru berusia 9 tahun, 7 setengah tahun jihad di
Afghan, 1 setengah tahun jihad di Palestina dan tahun-tahun yang selebihnya tidak bernilai apa-
apa, katanya pada seuatu ketika. Ia juga mengajak keluarganya memahami dan memiliki semangat
yang sama dengan dirinya. Isterinya menjadi pengasuh anak-anak yatim dan pekerja sosial di
Afghanistan.

Komitmen Abdullah Azzam terhadap Islam sangat tinggi. Jihad sudah menjadi filosifi hidupnya.
Sampai akhir hayatnya, ia tetap menolak tawaran mengajar di beberapa universitas. Ia berjanji terus
berjihad sampat titik darah penghabisan. Mati sebagai mujahid itulah cita-citanya. Wajar kalau
kemudian pada masa hidupnya dialah tokoh rujukan ummat dalam hal jihad. Fatwa-fatwanya
tentang jihad selalu dinanti-nantikan kaum muslimin.

Wafatnya

Beberapa kali Abdullah Azzam menerima cobaan pembunuhan. Sampai akhirnya ia dibunuh pada
hari Jumat, 24 November 1989. Tiga buah bom yang sengaja dipasang di gang yang biasa di lewati
Abdullah Azzam, meledak ketika ia memarkir kendaraan untuk shalat jumat di Peshawar, Pakistan.
Sheik Abdullah bersama dua orang anak lelakinya, Muhammad dan Ibrahim, meninggal seketika.
Kendaraan Abdullah Azzam hancur berantakan. Anaknya, Ibrahim, terlempar 100 meter begitu juga
dengan lainnya. Tubuh mereka juga hancur. Namun keanehan terjadi pada Sheikh Abdullah Azzam.
Tubuhnya masih utuh bersandar pada sebuah tembok. Hanya sedikit darah yang mengalir dari
bibirnya. Dalam peristiwa itu juga terbunuh anak lelaki al-marhum Sheikh Tamim Adnani (seorang
perwira di Afghan).

5. Abdel Aziz al-Rantissi

Dr. Abdel Aziz al-Rantissi (Oktober 1947 17 April 2004) ialah ko-pendiri militer Islam Palestina dan
organisasi politik Hamas. Ia merupakan pemimpin politik Hamas dan JuBir di Jalur Gaza menyusul
pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap pemimpin spiritual Syekh Ahmad Yassin, walau
pemisahan antara sayap politik dan militer Hamas dikatakan sejumlah orang informal. Seperti
kebanyakan anggota Hamas, Rantissi menentang kompromi dengan Israel meneriakkan pembebasan
seluruh daerah Palestina (termasuk keseluruhan Israel) melalui jihad melawan Israel.

Kehidupan Awal dan Asal Mula Hamas

Rantissi dilahirkan di Yubna, desa yang termasuk Yavne modern yang tak ditempati pada 1948, dekat
Jaffa. Menyusul Perang Arab-Israel 1948, keluarganya mengungsi ke Jalur Gaza. Ia mempelajari ilmu
kesehatan anak di Mesir selama 9 tahun dan merupakan dokter berijazah, walaupun tak pernah
berpraktek. Pada 1976 ia kembali ke Gaza, anggota yang meyakinkan dari Ikhwanul Muslimin, di luar
yang Hamas tumbuh.

Pada 1987, 4 penduduk kamp pengungsian Jabalya tewas dalam kecelakaan LaLin. Menurut Rantissi,
ia bergabung dengan Syekh Ahmad Yassin, Abdel Fattah Dukhan, Mohammed Shama, Dr. Ibrahim
al-Yazour, Issa al-Najjar, dan Salah Shehadeh dan orang-orang yang diinstruksikan keluar mesjid
meneriakkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Inilah saat dimulainya Intifadah pertama, menurut
Rantissi, di bawah yang kpemimpinan organisasinya yang lantas terkenal sebagai Hamas terbentuk
kemudian di tahun itu. Akhirnya saingan PLO mengikat kekuatan dengan mereka, dan
kepemimpinan bersatu terbentuk.

Pengusiran dan Kembali

Pada Desember 1992, Rantissi dipaksa keluar ke Lebanon bagian selatan, sebagai bagian pengusiran
416 Hamas dan mata-mata Jihad Islam Palestina, dan muncul sebagai JuBir umum dari pengusiran.
Selama masa kembalinya pada 1993, ia ditangkap, namun kemudian dibebaskan. Ia juga ditahan
beberapa kali lebih dari periode panjang oleh Otoritas Palestina, karena kritiknya pada Pemerintah
Palestina dan Arafat, kebanyakan di pertengahan 1999. Sedemikian taktik tak menyurutkan
seruannya. Saat Rantissi kembali kepada posisi umum sebagai tangan kanan Yassin, ia menyisakan
1 dari pelawan utama untuk tiap gencatan senjata dan penghentian serangan terhadap Israel.
Selama pembicaraan di antara kepemimpinan Hamas di Gaza dan luar negeri dan pada kontak
tetapnya dengan Otoritas Palestina, Rantissi, bersama dengan Ibrahim Macadma, mengawasi sifat
kepemimpinan Hamas.

Setelah kembalinya Syekh Yassin ke Jalur Gaza pada Oktober 1997, setelah pertukaran tahanan
menyusul gagalnya percobaan pembunuhan Israel terhadap aktivis Hamas di Yordania, ia bekerja
rapat dengan seorang syekh yang sudah tua untuk memperbaiki perintah hirarkis dan memperkuat
keseragaman kader termasuk reorganisasi Hamas. Menyusul pengeluaran Salah Shehadeh dan
Ibrahim Macadma, ia menjadi kepala politik dan juga menyambut pemimpin spiritual Hamas,
menyisakan pembicara pokoqnya. Dalam banyak peran itu, Rantissi memimpin, menginstruksikan
dan menetapkan kebijakan termasuk aktivitas serangan, menurut interogasi mata-mata Hamas.
Beberapa pernyataan umumnya diberitakan untuk menjalankan instruksi buat mujahid untuk
menyerang.

Dalam masa ketegangan, Rantissi tak habis-habisnya menghadirkan suara lantang. He mengambil
kesempatan pertemuan anggota Kongres AS Smith dan PM Israel saat itu Benjamin Netanyahu, 28
Januari 1998, untuk mengumumkan melalui Reuters hanya ada 1 pilihan di depan orang-orang
Palestina yang untuk kembali kepada perjuangan pemberontakan dan senjata melawan okupasi
*Israel+. Dalam jam-jam penarikan diri Israel dari Bethlehem, 19 Agustus 2002, Rantissi dikutip
dalam Manchester Guardian saat mengatakan mengenai Hamas senapan akan menyisakan
perlawanan langsung musuh Zionis.

Kepemimpinan Hamas Dihabiskan dalam Persembunyian

Masa jabatan 4 minggu Rantisi sebagai pemimpin Hamas dihabiskan dalam persembunyian, sekali
pemakaman umum Ahmed Yassin, dihadiri orang banyak dalam jumlah besar, berakhir. Pada 17
April, ia keluar dari persembunyian untuk mengunjungi keluarganya di Kota Gaza, datang sebelum
fajar dan tinggal sampai siang. Segera setelah ia meninggalkan rumah ia terbunuh.

Garis Waktu Terpilih

Pada 6 Juni 2003, Rantissi memutuskan diskusi dengan Perdana Menteri Palestina Mahmud Abbas,
yang telah menyerukan penghentian perlawanan bersenjata.

Pada 10 Juni 2003, Rantissi selamat dari serangan helikopter Israel terhadap mobil yang mana ia
sedang berjalan-jalan. Ia terluka dalam serangan itu, yang membunuh beberapa orang di dekatnya.

Pada 26 Januari 2004, Rantissi menawarkan 10 tahun gencatan senjata sebagai penukar penarikan
diri dan pendirian negara. Ada beberapa rumor berkata di dalam Hamas tentang hal itu namun saat
itu Rantissi mengumumkan bahwa pergerakan telah mengambil keputusan dari itu.

Pada 23 Maret 2004, Rantissi diangkat sebagai pemimpin Hamas di Jalur Gaza, menyusul
pembunuhan Yasin oleh angkatan Israel.

Pada 27 Maret 2004, Rantissi memanggil 5.000 pendukung di Gaza. Ia mendeklarasikan presiden AS
George W. Bush sebagai musuh Muslim. Amerika mendeklarasikan perang melawan Allah. Sharon
mendeklarasikan perang melawan Allah dan Allah mendeklarasikan perang melawan Amerika, Bush
dan Sharon. Perang dari Allah berlanjut melawan mereka dan saya dapat melihat kemenangan
muncul dari tanah Palestina dengan tangan Hamas.

Tewas oleh Peluru

Pada 17 April 2004, Rantissi dibunuh oleh Angkatan Pertahanan Israel dengan tembakan peluru di
mobilnya. Cara kematian seperti yang ia telah pilih; sebelumnya ia berkata, Kematian ini apakah
dengan pembunuhan atau kanker; itu sama saja. Tiada yang akan mengubah jika itu ialah Apache
(helikopter) atau perhentian jantung. Namun saya memilih untuk terbunuh dengan Apache. 2 orang
lainnya, 1 orang pengawal, juga terbunuh dalam serangan itu. Radio pasukan Israel menetapkan
bahwa inilah kesempatan pertama pada sasaran Rantissi, tanpa kerugian tambahan, sejak ia
mengambil kepemimpinan Hamas, berkata ia telah menghabiskan sedikit minggu terakhir
mengelilingi dirinya dengan anak-anak.

6. Khaled Meshal

Khalid Misyal, atau juga dikenal dengan nama Khaled Meshal atau Khaled Mashal (lahir pada tahun
1956) adalah salah satu pemimpin Hamas. Dia juga dikenal sebagai pemimpin politik dari Hamas
cabang Suriah dan saat ini tinggal di Damaskus.

7. Ismail Haniya

Ismail Haniya (lahir di Gaza pada tahun 1962), adalah seorang politikus Palestina. Ia adalah Perdana
Menteri Otoritas Nasional Palestina dari 19 Februari 2006 hingga 14 Juni 2007. Haniya dikenal
sebagai pemimpin Hamas yang lebih moderat dan dekat dengan pemimpin spiritual Hamas, Sheikh
Ahmad Yassin, yang dibunuh Israel.

Lahir di perkampungan pengungsi al-Shari pada tahun 1962, tahun 1987 ia lulus dari Universitas
Islam Gaza dengan gelar dalam bidang sastra Arab. Haniya lalu dipenjara tanpa tuduhan oleh
pemerintah Israel selama tiga tahun dari tahun 1989 hingga 1992. Setahun kemudian ia menjadi
kepala fakultas di Universitas Islam Gaza. Kemudian pada pemilu 2006, ia dipilih Hamas sebagai
calon legislatif urutan pertama Hamas.

Fatah

Fatah (bahasa Arab: penaklukan) atau Harakat at-Tahrir al-Wathani al-Filasthini atau Gerakan
Nasional Pembebasan Palestina, adalah sebuah partai politik di Palestina yang didirikan pada tahun
1958. Partai ini memiliki tujuan untuk mendirikan negara Palestina di daerah yang sedang menjadi
tempat konflik Israel dan Palestina. Fatah sebenarnya secara teknis bukan merupakan partai politik,
namun adalah salah satu faksi dalam PLO, sebuah konfederasi multipartai.

Fatah didirikan pada tahun 1958 atau 1959 oleh sekelompok warga Palestina yang menempuh
pendidikan di Kairo, Mesir; salah satunya Yasser Arafat. Setelah Perang Enam Hari pada tahun 1967,
Fatah muncul sebagai kekuatan yang dominan dalam dunia politik di Palestina. Pada akhir 1960-an,
Fatah bergabung dengan PLO dan pada tahun 1969 menjadi pemimpin dalam PLO. Sejak saat itu,
Arafat menjadi pemimpin PLO dan Fatah hingga meninggal dunia pada tahun 2004. Posisinya sebagai
ketua Fatah digantikan Faruq al-Qaddumi. Kelompok ini terlibat konflik dengan kelompok Hamas
setelah kemenangan kelompok Hamas pada Pemilu parlemen tahun 2006 lalu di Palestina.

Organisasi

Brigade Martir Al Aqsa adalah sayap militer Fatah.

Tokoh

1. Yasser Arafat (lihat Yesser Arafat)

2. Farouk Kaddoumi

3. Marwan Barghouti

Marwan al-Barghutsi atau Marwan Barghouti lahir 6 Juni 1959 di Palestina (Tepi Barat) adalah
pemimpin gerakan Fatah. Sekarang menjadi tahanan seumur hidup di Israel dan merupakan tapol
paling berpengaruh di balik jeruji tahanan Israel.

4. Mahmoud Abbas (lihat Mahmoud Abbas)

5. Ahmed Qurei

Ahmed Ali Mohammed Qurei (atau Qureia), juga dikenal sebagai Abu Alaa (lahir 26 Maret 1937)
adalah perdana menteri Otoritas Nasional Palestina. Ia pertama kali diangkat ke dalam posisi itu
pada Oktober 2003. Pada 26 Januari 2006, ia mengajukan pengunduran dirinya setelah kekalahan
partai Fatah dalam pemilihan umum legislatif Palestina 2006, namun ia tetap memegang jabatannya
sebagai pejabat sementara. Dalam masa jabatannya sebagai perdana menteri, ia pun bertanggung
jawab atas masalah-masalah keamanan. Sebelumnya ia pernah menjadi ketua Dewan Legislatif
Palestina dan memegang sejumlah kedudukan penting di dalam Organisasi Pembebasan Palestina
(PLO) sejak tahun 1970-an.

Karier politik awal

Qurei dilahirkan di Abu Dis (dekat Yerusalem) pada 1937 dalam sebuah keluarga yang relatif kaya. Ia
bergabung dengan Fatah, organisasi politik dan militer terbesar, yang membentuk Organisasi
Pembebasan Palestina, pada 1968. Sebagai seorang bankir, ia menggunakan keahliannya pada 1970-
an sebagai direktur cabang investasi asing dan direktur jenderal cabang ekonomi PLO, dan
membantu menciptakan organisasi itu salah satu badan yang mempunyai pegawai terbesar di
Lebanon. Ia mengikuti Yasser Arafat ke Tunis setelah PLO dipaksa meninggalkan Lebanon. Setelah
lebih banyak pimpinan senior PLO meninggal, Qurei pun semakin menonjol dan terpilih menjadi
anggota Komite Sentral Fatah pada Agustus 1989.

Sebagai seorang anggota Komite Sentral, Qurei banyak berperan dalam perundingan untuk
Persetujuan Oslo. Ia memegang banyak jabatan dalam kabinet Otoritas Nasional Palestina pertama,
termasuk Menteri Ekonomi dan Perdagangan dan Menteri Perindustrian. Ia pun bertanggung jabat
atas rencana pembangunan wilayah-wilayah Palestina yang diajukan kepada Bank Dunia pada 1993.
Ia juga mendirikan dan menjadi direktur dari Dewan Ekonomi Palestina untuk Pembangunan dan
Rekonstruksi (PECDAR) pada 1993 untuk menolong mendapatkan uang dari donor-donor
internasional. Tak lama kemudian ia dipilih menjadi anggota Dewan Legislatif Palestina dan terpilih
menjadi ketuanya pada Maret 2000.

Perdana Menteri

Setelah pengunduran diri Perdana Menteri Palestina Mahmud Abbas (Abu Mazen) pada 6
September 2003, presiden Otoritas Nasional Palestina, Yasser Arafat, memilih Qurei untuk mengisi
jabatan itu. Ia berkata bahwa ia hanya bersedia menerima tugas itu bila dijamin bahwa Israel akan
mengikuti rencana perdamaian yang didukung AS, termasuk penghentian serangan-serangan militer.

Qurei diangkat melalui suatu dekrit darurat pada 5 Oktober 2003, disumpah pada 7 Oktober, namun
pada 12 Oktober ia mengancam akan mengundurkan diri karena pertikaian dengan Arafat
menyangkut kontrol terhadap dinas keamanan. Masa kerja kabinet darurat berakhir pada 4
November dan Qurei mengumumkan bahwa ia bersedia memimpin sebuah kabinet baru asalkan
parlemen bersedia memberikan dukungan. Ia mendapatkan persetujuan ini pada 12 November.
Pada 17 Juli 2004, ia mengajukan pengunduran dirinya di tengah-tengah kekacauan yang kian
meningkat di Jalur Gaza yang diwarnai dengan penculikan terhadap pejabat-pejabat keamanan
Palestina, termasuk Kepala Polisi Jalur Gaza dan lima orang Prancis. Arafat menolak menerima
pengunduran dirinya, dan kabarnya ia menuliskan huruf X besar di surat pengunduran diri Qurei.

Setelah Yasser Arafat memberikan Qurei kontrol atas sebagian dari aparat keamanan, salah satu
kekuasaan yang dimintanya untuk melaksanakan pembaruan, Qurei mencabut surat pengunduran
dirinya pada 27 Juli 2004 sambil menyatakan: Saya puas karena Presiden Arafat kali ini bersungguh-
sungguh, bahwa kali ini bukan cuma kata-kata melainkan akan ada tindakan. Arafat tetap
mempertahankan kontrol terhadap bagian terbesar dari selusin dinas keamanan. Ahmed Qurei dan
para kritikus lainnya mengklaim bahwa organisasi-organisasi ini menunjukkan adanya korupsi
internal dan ketiadaan hukum. Para mediator yang dipimpin oleh AS mempersalahkan mereka
karena menghalang-halangi kemajuan Peta menuju perdamaian. Arafat bertindak setelah Jalur
Gaza mengalami ledakan kegelisahan publik dan tuntutan-tuntutan pembaruan, termasuk pemilu
sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Setelah kematian Arafat dan kemenangan Mahmoud Abbas dalam pemilihan presiden Palestina
2005, Qurei diminta untuk meneruskan jabatannya dan membentuk kabinet baru. Karena tuntutan
yang berulang-ulang oleh para pejabat Fatah dan anggota-anggota Dewan Legislatif Palesina untuk
membuat kabinet yang baru lebih condong pada pembaruan, mosi percaya berulang-ulang
mengalami penundaan. Mosi itu akhirnya disetujui pada 24 Februari 2005 setelah Qurei merevisi
daftar menteri-menterinya untuk mengakomodasi tuntutan-tuntutan ini.

Pada 15 Desember 2005 Qurei sebentar mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri untuk ikut
serta dalam pemilihan untuk Parlemen Palestina, namun 9 hari kemudian ia kembali ke jabatannya
setelah memutuskan untuk membatalkan niatnya semula. Pada 26 Januari 2006 Qurei
mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri setelah kekalahan partai Fatah oleh Hamas dalam
pemilu parlemen. [2] Atas permintaan Presiden ONP, Mahmud Abbas, Qurei tetap bertahan dalam
jabatannya sebagai pejabat sementara hingga penggantinya diangkat.

6. Muhammad Dahlan

7. Ahmed Helles

Shimon Peres[2]

Shimon Peres lahir pada 2 Agustus 1923 di Polandia adalah Presiden Negara Israel ke-9 yang kini
sedang menjabat. Ia seorang penggagas kesepakatan perdamaian dengan Palestina pada tahun
1990-an. Ia bermigrasi bersama keluarganya di suatu tempat yang sekarang dikenal sebagai negara
Israel pada 1934) adalah politikus Israel, mantan perdana menteri, dan wakil perdana menteri.

Peres tercatat sebagai anggota dan kemudian memimpin Partai Buruh dari tahun 1950-an hingga
Desember 2005. Setelah itu, ia beralih dan mendukung partai baru bernama Partai Kadima. Ia
terpilih di Parlemen (Knesset) pada Maret 2006 sebagai anggota dari Partai Kadima. Sejak 4 Mei
2006, ia menjabat sebagai Menteri Pembangunan untuk Negev, Galilea, dan Ekonomi Regional serta
Wakil Premier.

Peres tampil kedelapan sebagai Perdana Menteri Israel (1984-1986 dan 1995-1996), Menteri Luar
Negeri Israel (2001-2002), dan Wakil Perdana Menteri dalam koalisi di bawah kepemimpinan Ariel
Sharon pada awal tahun 2005. Pada 1994, Peres memenangi Penghargaan Perdamaian Nobel
bersama dengan Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat dalam Persetujuan Oslo. Peres kemudian menang
dalam pemilu nasional, sehingga membuat posisinya di Partai Buruh semakin kuat dan tangguh
untuk waktu yang tidak terbatas.

Pada 2007, Peres dicalonkan Partai Kadima dan memastikan diri pada 30 Juni 2007 untuk maju
dalam pemilu presiden. Ia dipilih oleh Knesset untuk menjadi presiden pada 13 Juni 2007 untuk
menggantikan Moshe Katsav setelah pelantikannya pada 15 Juli 2007 untuk tujuh tahun masa
jabatan.[1] Sebelumnya, Peres juga pernah mencalonkan diri menjadi kandidat presiden pada tahun
2000. Ketika itu, ia kalah telak dari Moshe. Selain Peres, calon presiden lainnya adalah Reuven Rivlin
dari oposisi sayap kanan Partai Likud dan Colette Avital dari Partai Buruh. Menurut jajak pendapat,
rakyat Israel menginginkan Peres sebagai presiden. Di babak pertama, Peres meraih 58 dari 120
suara pemilih. Sedang, Reuven meraih 37 suara dan Colette memperoleh 21 suara. Di babak kedua,
Peres memperoleh 86 suara pemilih. Ia diangkat sebagai presiden oleh Knesset pada tanggal 13 Juni
2007 dan diambil sumpah pada tangga; 15 Juli 2007 untuk masa jabatan 7 tahun.

Tahun-tahun Kehidupan

Shimon Peres lahir di Wieniawa, Polandia (sekarang Vishneva di Belarusia). Ia lahir dengan nama
akhir asli Persky. Pada tahun 1934, semasa masih kecil, ia pindah ke Tel Aviv (Israel) bersama
keluarganya. Ia bersekolah di Sekolah Geula di Tel Aviv dan sekolah pertanian di Ben Shemen.

Pada 1947, ia mengikuti wajib militer di Haganah (pendahulu Pasukan Pertahanan Israel) dan
ditunjuk David ben Gurion untuk bertanggung jawab atas personalia dan pengadaan senjata. Pada
1952, ia diangkat sebagai Deputi Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan dan menjabat Direktur
Jenderal Kementrian Pertahanan pada 1953. Ia terlibat dalam pembelian senjata untuk negara Israel.
Usaha Peres berjalan baik karena berhasil memperoleh pesawat tempur jet Dassault Mirage III dari
Perancis dan sebuah reaktor nuklir serta hingga terjadi Krisis Suez pada tahun 1956.

Karier politik

Pada 1959, ia dipilih ke dalam Knesset sebagai anggota Partai Mapai (Partai Buruh Israel). Periode
1959-1965, ia bertindak sebagai Deputi Menteri Pertahanan hingga terlibat dalam Peristiwa Lavon
bersama Moshe Dayan. Peres dan Dayan meninggalkan Mapai bersama David Ben Gurion untuk
membentuk Partai Rafi yang berekonsiliasi dengan Mapai pada 1968.

Meskipun tanpa Ben Gurion bisa menghasilkan pembentukan Jajaran Buruh. Pada 1969, ia ditunjuk
sebagai Menteri Absorpsi. Pada 1970, ia menjabat Menteri Transportasi dan Komunikasi. Setelah
menjabat sebagai Menteri Penerangan, ia diangkat sebagai Menteri Pertahanan pada tahun 1974
dalam pemerintahan Yitzhak Rabin. Meski tak pernah memenangkan pemilihan umum, ia dua kali
menjadi Perdana Menteri; periode 1984-1986 sebagai bagian persetujuan rotasi dengan anggota
Partai Likud (Yitzhak Shamir) dan setelah pembunuhan Perdana Menteri Yitzhak Rabin pada periode
1995-1996.

Peres tetap merupakan pendukung teguh Persetujuan Oslo dan Otoritas Palestina sejak dicetuskan,
meskipun ada Intifadhah pertama dan Infitadhah al-Aqsha. Shimon Peres yang berminat dalam
bidang nanoelektrik ini mendukung kebijakan militer Perdana Menteri Ariel Sharon untuk menarik
mundur pasukan Israel dari Jalur Gaza dan menekankan perdamaian. Ia mendirikan Peres Center for
Peace pada tahun 1997. Ia diangkat Perdana Menteri Ariel Sharon pada periode 2001-2002 sebagai
Menteri Luar Negeri dan Wakil Perdana Menteri pada tahun 2005.

Menyusul kekalahannya dalam perebutan kursi Ketua Partai Buruh pada 30 November 2005, ia
mundur dari partai itu dan menyatakan mendukung langkah Perdana Menteri Ariel Sharon.

Kehidupan keluarga

Shimon Peres menikah dengan Sonya (nama gadis: Gelman) dan memiliki seorang putri, Tzvia (Tziki)
Walden-Peres, seorang ahli linguistik, dan dua orang putra, Yoni (lahir 1952) dan Chemi, pemimpin
Pitango Venture Capital, salah satu dana modal usaha terbesar Israel.

Buku

1. Peres mengarang sejumlah buku, yaitu:

2. The Next Step (1965)

3. Davids Sling(1970)(ISBN 0-297-00083-7)

4. And Now Tomorrow(1978)

5. From These Men: seven founders of the State of Israel(1979)(ISBN 0-671-61016-3)

6. Entebbe Diary (1991)

7. Yoman Entebeh (1991)(ISBN 0-8050-3323-8)

8. The New Middle East(1993)(ISBN 0-8050-3323-8)

9. Battling for Peace: a memoir (1995)(ISBN 0-679-43617-0)

10. For the Future of Israel (1998)(ISBN 0-8018-5928-X)

11. The Imaginary Voyage : With Theodor Herzl in Israel (1999)(ISBN 1-55970-468-3)

William Jefferson Clinton[3] (lahir di Hope, Arkansas, 19 Agustus 1946; umur 62 tahun dengan nama
William Jefferson Blythe III) adalah Presiden Amerika Serikat ke-42. Ia menjabat dua kali masa
jabatan periode 20 Januari 1993 hingga 20 Januari 2001.

Sebelum terpilih menjadi presiden, Clinton selama sekitar 12 tahun adalah Gubernur Arkansas yang
ke-50 dan ke-52. Istrinya, Hillary Rodham Clinton, adalah Senator dari daerah pemilihan New York.
Clinton mendirikan yayasan William J. Clinton Foundation dan menjadi ketuanya.

Pada masa pemerintahan Clinton, rakyat AS menikmati perdamaian dan kesejahteraan ekonomi
yang lebih besar dibandingkan dengan periode manapun dalam sejarah AS. Clinton adalah presiden
dari partai Demokrat pertama sejak Franklin D. Roosevelt yang berhasil menjabat selama dua masa
jabatan.

Masa kecil

Bill Clinton terlahir sebagai William Jefferson Blythe IV pada 19 Agustus 1946 di Hope, Arkansas. Tiga
bulan sebelum kelahirannya, ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Ketika Clinton berusia empat tahun, ibunya menikah lagi dengan Roger Clinton yang berasal dari Hot
Springs,Arkansas.

Nama keluarga ayah tirinya, Clinton, selanjutnya ia gunakan sejak duduk disekolah menengah.

Clinton merupakan siswa berbakat sekaligus pemain saksofon yang handal. Ia pernah
mempertimbangkan untuk menjadi pemain musik profesional, lalu ketika menjadi utusan untuk Boys
Nation semasa duduk di sekolah menengah, ia bertemu dengan Presiden John Kennedy di Taman
Bunga Mawar Gedung Putih. Pertemuan tersebut memotivasinya untuk terjun ke dunia pelayanan
publik.

Awal karir

Clinton lulus dari Georgetown University pada tahun <<insert year>> dan pada 1968 ia mendapat
Beasiswa Rhodes untuk belajar di Oxford University. Ia memperoleh gelar dibidang hukum dari Yale
University pada 1973, kemudian memasuki dunia politik di Arkansas.

Ia kalah dalam kampanye untuk menjadi anggota Kongres di Distrik Ketiga Arkansas pada 1974.
Tahun berikutnya ia menikahi Hillary Rodham, lulusan Wellesley College and Yale Law School. Putri
semata wayang mereka, Chelsea, lahir pada 1980.

Pada 1976, Clinton terpilih sebagai Jaksa Agung Arkansas, dan menjadi gubernur pada negara bagian
tersebut pada 1978. Setelah gagal dalam usahanya mempertahankan posisi tersebut, ia berhasil
mendapatkannya kembali empat tahun kemudian. Ia menjabat sebagai Gubernr Arkansas hingga ia
berhasil mengalahkan Presiden George Bush serta kandidat independen Ross Perot pada pemilihan
presiden 1992.

Masa kepresidenan

Clinton dan pasangannya dalam permilihan presiden, Senator Albert Gore Jr dari Tennessee, yang
pada saat itu berusia 44 tahun, mewakili generasi baru dalam kepemimpinan politik AS. Untuk
pertama kalinya dalam 12 tahun, baik Gedung Putih maupun Kongres dikuasai oleh partai yang
sama. Tapi situasi ini tidak bertahan lama; Partai Republik berjaya di kedua kamar di Kongres pada
1994.

Ia berhasil;

1. Menempatkan tingkat pengangguran dan tingkat inflasi pada titik terendah dalam 30 tahun.

2. Tingkat kepemilikan rumah tertinggi dalam sejarah AS.

3. Menurunkan tingkat kejahatan di sejumlah wilayah.

4. Mengurangi tugas-tugas kesejahteraan.

5. Mengusulkan anggaran berimbang pertama dalam beberapa dekade serta berhasil mencapai
surplus anggaran.

Sebagai bagian dari rencana perayaan milenium tahun 2000, Clinton menghimbau rakyatnya untuk
melancarkan inisiatif nasional untuk mengakhiri diskriminasi rasial.

Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa keberhasilan pemerintahan Clinton pada awal
masa jabatannya dikarenakan kebijaksanaan jangka panjang yang diterapkan oleh mantan Presiden
Ronald Reagan mulai menunjukkan hasil.

Setelah kegagalan di tahun keduanya berkenaan dengan program besar reformasi di bidang
kesehatan, Clinton mengubah penekanan, sembari menyatakan bahwa era pemerintahan besar
telah berakhir. Ia mengatur undang-undang untuk meningkatkan mutu pendidikan, melindungi
pekerjaan para orang tua yang harus mengurus anak-anak yang sakit, membatasi penjualan senjata
api genggam, serta memperkuat aturanaturan yang berhubungan dengan lingkungan hidup.

Pada 1998, sebagai akibat dari isu-isu mengenai hubungan pribadinya dan skandal sex dengan
seorang wanita muda pekerja magang di Gedung Putih, Monica Lewinsky, Presiden Clinton menjadi
presiden AS kedua yang di-impeach oleh DPR AS. Ia diadili di Senat dan terbukti tidak bersalah atas
segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia meminta maaf kepada seluruh rakyat AS atas
perbuatannya dan terus mendapat dukungan untuk menjadi presiden.

Di kancah internasional, ia berhasil mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Bosnia yang
tercabik oleh perang dan ke Irak yang dibombardir setelah Saddam Hussein menghentikan inspeksi
PBB atas bukti-bukti keberadaan senjata nuklir, kimia dan biologis. Ia menjadi tokoh global dalam
pengembangan NATO, perdagangan intemasional yang lebih terbuka, serta kampanye global
melawan penjualan narkoba. Ia mendapat sambutan yang besar dalam kunjungan-kunjungannya ke
Amerika Selatan, Eropa, Rusia, Afrika, dan RRC dalam upaya mempromosikan kebebasan ala AS.

Investigasi dan Impeachment

Ia ayah dari seorang anaknya, Chelsea Clinton. Dia terkenal sebagai presiden yang populer di
kalangan warga Afrika-Amerika. Pada masa jabatannya, ekonomi AS mengalami perkembangan
merata yang terlama sepanjang sejarahnya. Karirnya sebagai presiden sempat dinodai skandal
perselingkuhan dengan Monica Lewinsky.

Yitzhak Rabin[4] adalah seorang politikus dan jenderal Israel. Rabin adalah Perdana Menteri kelima
Israel pada 1974 1977 dan menjabat kembali pada 1992 hingga ia terbunuh pada 1995 oleh Yigal
Amir, seorang aktivis sayap kanan yang tidak mendukung kebijakan mengenai Perjanjian Oslo. Rabin
adalah perdana menteri Israel pertama yang dilahirkan di Israel, satu-satunya perdana menteri Israel
yang terbunuh dan orang kedua yang meninggal dalam jabatannya setelah Levi Eshkol.

Pemuda dan Pelayanan di Palmach

Rabin lahir di Yerusalem yang masuk bagian wilayah Palestina (tepatnya: mandat Britania Palestina).

Dalam masa jabatannya yang kedua, ia berusaha menjalin hubungan baik dengan Palestina. Atas
usahanya itu, pada tahun 1994 bersama-sama Yasser Arafat dan Menteri Luar Negeri Shimon Peres
ia mendapat hadiah Nobel Perdamaian. Ada beberapa pihak yang menolak keras langkah-langkah
perdamaiannya. Tanggal 4 November 1995, ia tewas diberondong peluru oleh sesama Yahudi di Tel
Aviv.

Yasser Arafat5] / Mohammed Abdel-Raouf Arafat al-Qudwa al-Husseini, Agustus 1929 11
November 2004), populer dengan Yasser Arafat adalah Ketua Organisasi Pembebasan Palestina
(PLO) (19692004) dan Presiden[2] Otoritas Nasional Palestina (PNA) (19932004). Pada tahun 1994,
bersama dengan Shimon Peres dan Yitzhak Rabin Arafat dianugerahi Penghargaan Nobel
Perdamaian untuk perundingan Persetujuan Damai Oslo tahun 1993.

Ia menjabat sebagai Presiden Otoritas Palestina sejak tahun 1993 dan terpilih menjabat selama lima
tahun pada tahun 1996). Selain Presiden, Arafat juga merupakan pemimpin Fatah dan PLO sejak
tahun 1969).

Pada tanggal 28 Oktober 2004, Arafat dilaporkan menderita penyakit yang serius. Keesokan harinya,
dia meninggalkan Markas Besar Tepi Barat di Ramallah untuk diterbangkan ke Perancis. Di sana, dia
dirawat di Rumah Sakit Militer Percy yang terletak di Clamart. Arafat berada dalam kondisi koma
pada tanggal 3 November 2004. Sejak saat itu kondisinya memburuk. Dia tetap hidup dengan
bantuan alat-alat penopang nyawa. Arafat meninggal dunia di rumah sakit pada pukul 09:30 WIB
tanggal 11 November 2004 pada usia 75 tahun.

Upacara pemakaman diadakan di Bandara Kairo, Mesir. Arafat dimakamkan di markas besarnya
Muqata, Ramallah, Tepi Barat.

8.Intifada Pertama

Intifada dalam bahasa arab berarti kebangkitan, dalam makna luasnya berarti perlawananan
terhadap pasukan militer israel dengan hanya mengandalkan lemparan batu. Intifada pertama ada
tahun 1987. Berakhir damai dgn ditandatanganinya perjanjian Oslo dan pembentukan Palestianian
National Authority pada tahun 1993.(citraputra.wordpressdotcom)

INTIFADA adalah nama untuk perjuangan yang dilakukan oleh sekelompok orang Palestina yang
bersenjatakan batu melawan tentara Israel yang memiliki perlengkapan militer mutakhir.
Kemunculan Intifada pertama kali dipicu oleh pembunuhan enam orang anak-anak secara biadab
oleh tentara Israel. Pada umumnya Intifada dilancarkan oleh para remaja Palestina yang berusia
antara 15-20 tahun. Untuk membalas hal itu para pemuda Palestina yang bersenjatakan batu
melakukan perlawanan terhadap tentara-tentara Israel. Faktor utama yang membuat gerakan
perlawanan tersebut menjadi begitu fenomenal adalah keberanian mereka menentang pasukan
Israel yang dilengkapi berbagai senjata mutakhir, sementara senjata mereka hanya berupa batu-batu
dan ban-ban bekas. Intifada telah terbukti memberikan sumbangan terbesar bagi perjalanan sejarah
bangsa Palestina, terutama karena keberhasilannya dalam membuka mata dunia internasional
bahwa penderitaan bangsa Palestina di wilayah pendudukan dan kebiadaban para penguasa Israel
yang telah berlangsung puluhan tahun tidak mungkin dibiarkan berlarut-larut. Peristiwa ini
kemudian melatarbelakangi berdirinya Hamas di bulan dan tahun yang sama.(Media
Indonesiadotcom)

1993-sekarang

1. Kerusuhan Terowongan Al-Aqsa

September 1996. Kerusuhan terowongan Al-Aqsa. Israel sengaja membuka terowongan menuju
Masjidil Aqsa untuk memikat para turis, yang justru membahayakan fondasi masjid bersejarah itu.
Pertempuran berlangsung beberapa hari dan menelan korban jiwa.

2.Tanggal 18 Januari 1997 Israel bersedia menarik pasukannya dari Hebron, Tepi Barat.

3. Perjanjian Wye River Oktober 1998 berisi penarikan Israel dan dilepaskannya tahanan politik dan
kesediaan Palestina untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk soal penjualan senjata
ilegal.

4. Tanggal 19 Mei 1999, Pemimpin partai Buruh Ehud Barak[1] terpilih sebagai perdana menteri. Ia
berjanji mempercepat proses perdamaian.

Ehud Barak, lahir di Mishmar HaSharon kibbutz (Mandat Britania atas Palestina, 12 Februari 1942;
umur 66 tahun) adalah seorang politisi Israel dan tampil ke-10 sebagai Perdana Menteri Israel pada
periode 1999-2001.

Pengabdian Kemiliteran

Barak bergabung dengan Angkatan Pertahanan Israel pada tahun 1959. Selama 35 tahun
pengabdiannya, ia menempati posisi sebagai Kepala Staf Jenderal dan menerima posisi sebagai Rav
Aluf, sebuah posisi tertinggi di dunia kemiliteran Israel.

Barak dihadiahi Medali Jasa Istimewa dan 4 tanda penghargaan lainnya untuk keunggulan
keberanian dan operasional. Dalam pada itu, Barak menerima gelar sarjana mudanya dari Fisika dan
Matematika dari Universitas Ibrani Yerusalem pada 1976, dan gelar masternya dalam Sistem
Ekonomi Keahlian Teknik pada 1978 dari Universitas Stanford di Palo Alto, California, AS.

Dalam politik, ia menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri (1995) dan Menteri Luar Negeri (1995-
1996). Ia dipilih ke dalam Knesset pada 1996, di mana ia menjadi anggota Urusan Luar Negeri dan
Komite Pertahanan Knesset. Pada 1996 Barak menjadi pemimpin Partai Buruh.

Ehud Barak diangkat sebagai PM Israel pada 17 Mei 1999 dan mengakhiri pemerintahannya pada 7
Maret 2001 setelah kehilangannya pada Ariel Sharon pada pemilhan spesial PM di bulan Februari.

Masa pemerintahan Barak sebagai PM memiliki beberapa peristiwa penting, kebanyakan darinya
kontroversial:

Pembentukan koalisi dengan partai Haredi Shas, setelah Barak berjanji mengakhiri korupsi yang
didukung partai keagamaan.

Meretz berhenti berkoalisi setelah gagal bermufakat pada kekuasaan buat diberikan pada Wakil
Perdana Menteri Shas dalam Menteri Pendidikan.

1. Penarikan kembali dari Lebanon selatan.

2. Penculikan 3 pasukan Israel oleh Hizbullah, yang dibantu angkatan penjaga perdamaian PBB
setempat.

3. Perundingan perdamaian dengan Suriah.

4. Disahkannya Hukum Tal yang memberi UU resmi buat pembebasan Yahudi Haredi dari dinas
militer.

5. KTT Camp David 2000 yang berarti memecahkan konflik Palestina-Israel namun gagal. Barak dan
Presiden AS Bill Clinton menyalahkan Yasser Arafat. Barak menyatakan ia membongkar Tujuan
Sesungguhnya Arafat. Lalu, Barak disalahkan politisi sayap kiri Israel bahwa ia membunuh
pergerakan damai Israel dengan menghadirkan Arafat sebagai penolak perdamaian.

6. Meletusnya Intifadhah al-Aqsha.

7. Pembantaian 13 penduduk Palestina oleh polisi dan seorang warga negara Israel oleh seorang
Arab, dalam Kerusuhan Oktober 2000.

8. Pembicaraan Taba dengan kepemimpinan Otoritas Palestina, setelah pemerintahannya jatuh.

Setelah kalah pada pemilu 2001 dari Ariel Sharon (pemimpin Likud) secara telak, Barak
meninggalkan Israel untuk bekerja sebagai penasihat senior U.S.-based Electronic Data Systems. Ia
juga menjadi partner pada sebuah perusahaan dengan berfokus pada kerja yang berhubungan
dengan keamanan.

Pada 2005, Barak mengumumkan kembalinya ke politik Israel, dan berpacu untuk kepemimpinan
Partai Buruh di bulan November. Namun mengingat prestasinya yang lemah dalam pemilihan umum,
Barak meninggalkan pertarungan dan menyatakan dukungannya untuk negarawan tua Shimon
Peres.

Setelah Peres dikalahkan Amir Peretz dan meninggalkan Partai Buruh, Barak mengumumkan ia tetap
tinggal di partai itu, meski hubungannya dengan pemimpin yang baru dipilih itu goyah. Namun ia
telah menyatakan takkan bertarung untuk pemilu Maret 2006.

Pada bulan Juni 2007, Parlemen Israel mengukuhkan pengangkatan Ehud Barak sebagai menteri
pertahanan Israel yang baru.

5.Intifada al-Aqsa

Maret 2000, Kunjungan pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon ke Masjidil Aqsa memicu kerusuhan.
Masjidil Aqsa dianggap sebagai salah satu tempat suci umat Islam. Intifadah gelombang kedua pun
dimulai.

6.KTT Camp David 2000 antara Palestina dan Israel

7.Bulan Maret-April 2002 Israel membangun Tembok Pertahanan di Tepi Barat dan diiringi rangkaian
serangan bunuh diri Palestina.

8.Bulan Juli 2004 Mahkamah Internasional menetapkan pembangunan batas pertahanan menyalahi
hukum internasional dan Israel harus merobohkannya.

9.Bulan Tanggal 9 Januari 2005 Mahmud Abbas, dari Fatah, terpilih sebagai Presiden Otoritas
Palestina. Ia menggantikan Yasser Arafat yang wafat pada 11 November 2004

10.Peta Menuju Perdamaian

11.Bulan Juni 2005 Mahmud Abbas dan Ariel Sharon bertemu di Yerusalem. Abbas mengulur jadwal
pemilu karena khawatir Hamas akan menang.

13.Bulan Agustus 2005 Israel hengkang dari permukiman Gaza dan empat wilayah permukiman di
Tepi Barat.

14.Bulan Januari 2006 Hamas memenangkan kursi Dewan Legislatif, menyudahi dominasi Fatah
selama 40 tahun.

15.Bulan Januari-Juli 2008 Ketegangan meningkat di Gaza. Israel memutus suplai listrik dan gas.
Dunia menuding Hamas tak berhasil mengendalikan tindak kekerasan. PM Palestina Ismail Haniyeh
berkeras pihaknya tak akan tunduk.

16.Bulan November 2008 Hamas batal ikut serta dalam pertemuan unifikasi Palestina yang diadakan
di Kairo, Mesir. Serangan roket kecil berjatuhan di wilayah Israel.

17.Serangan Israel ke Gaza dimulai 26 Desember 2008. Israel melancarkan Operasi Oferet Yetsuka,
yang dilanjutkan dengan serangan udara ke pusat-pusat operasi Hamas. Korban dari warga sipil
berjatuhan.

18.Terkini

KOTA GAZA, SELASA Pemimpin Hamas Ismail Haniya yakin akan memenangi peperangan di Jalur
Gaza, Senin (12/1).Haniya menyampaikan pidato di televisi beberapa jam setelah Israel mengancam
akan menggempur Hamas dengan tangan besi jika serangan roket dari Gaza tidak berhenti.
Padahal, serangan Israel ke Gaza ditujukan untuk menghentikan roket-roket tersebut.

Kita mendekati kemenangan, kata Haniya dari tempat yang tidak disebutkan. Saya beritahukan
pada Anda bahwa setelah 17 hari perang yang bodoh ini Gaza tidak terpatahkan dan Gaza tidak akan
jatuh. Haniya juga mengatakan, Darah anak-anak yang terbunuh dalam pertikaian itu akan
menjadi kutukan yang terus menghantui Presiden AS George W Bush.

Bush selama ini menuding Hamas sebagai penyebab pertikaian itu. Pada hari Senin, dia mengatakan
ingin ada gencatan senjata yang berkelanjutan, tapi ini tergantung Hamas apakah akan
menghentikan serangan roket ke Israel.

Setelah Israel dan Hamas menolak resolusi PBB untuk perdamaian pada pekan lalu, fokus usaha
perdamaian adalah pada rencana Mesir yang menghendaki gencatan senjata segera agar bantuan
kemanusiaan bisa masuk Gaza.

Mesir juga mengusulkan adanya pembicaraan untuk membuka perbatasan Gaza dan melakukan
langkah-langkah pencegahan penyelundupan senjata.

Perdana Menteri Israel Ehud Olmert berterima kasih atas usulan Mesir itu, tapi tuntutan-tuntutan
utama Israel bukan hal yang bisa dinegosiasikan. Operasi militer akan kami hentikan jika dua syarat
yang kami minta sudah dipenuhi, yaitu berakhirnya serangan roket dan berhentinya persenjataan
untuk Hamas. Jika dua syarat ini dipenuhi, kami akan mengakhiri operasi militer di Gaza, kata
Olmert.

Kalau tidak, hadapi tangan besi rakyat Israel yang tidak bisa lagi memberi tenggang terhadap
Qassam (roket), tegasnya.

Saat Olmert bersikukuh operasi Meraih Keunggulan hampir mencapai tujuan, roket-roket makin
banyak menghujani Israel. Juru bicara Israel mengatakan bahwa pada Senin hampir 30 roket
diluncurkan dari Gaza, tapi tidak dilaporkan adanya korban.

Militer Israel mengatakan, ada 60 sasaran yang mereka hantam di Gaza pada hari Senin, termasuk 20
terowongan di perbatasan Mesir-Gaza dan sembilan tempat peluncuran roket.

Perdana Menteri Palestina Salam Fayyad, yang kekuasaannya terbatas hanya di Tepi Barat,
mengatakan, prakarsa Mesir adalah harapan terbaik bagi perdamaian. Pihak yang menolak,
keberatan, atau lamban menanggapi prakarsa ini akan bertanggung jawab bagi diri sendiri,
khususnya kepada rakyat Gaza, katanya.

Paramedis Palestina mengemukakan, korban jiwa bertambah 26 dalam bentrok terbaru sehingga
jumlah total yang tewas selama 17 hari serangan Israel mencapai 918 jiwa, 277 di antaranya anak-
anak. Korban luka mencapai 4.100 jiwa. (Kompasdotcom)

Penulis adalah anggota milis IKKSU (Ikatan Keluarga Katolik Sumatera utara)

Sumber Utama: Wikipediadotorg

Sumber lainnya : Kompasdotcom, Mediaindonesiadotcom, ciputradotwordpressdotcom.
Related

MENTAL DEWASA MENYAMBUT PEMILU 2009In "essay"

Profil dan PemikiranIn "essay"

SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU

Posted by swandy sihotang on January 20, 2009 at 8:24 am
Filed under essay | Leave a comment | Trackback URI
Previous Entry: MENTAL DEWASA MENYAMBUT PEMILU 2009
Next Entry: PROPINSI TAPANULI RIWAYATMU KINI
8 Comments

1
peshawar Says:

i agree with you
Posted on February 6, 2009 at 2:55 pm
Reply
2
Info-info Says:

lengkap sekali artikelnya
saya save dulubaru nanti dilanjutkan membacanya-karena banyak sekali jadi dibaca offline saja

terima kasih
Posted on February 11, 2009 at 3:37 am
Reply
3
ceu_fitri1986 Says:

aslm thx y bwt info na
do the best all time..
Posted on October 3, 2009 at 2:10 am
Reply
4
Jasa Order Says:

This is a place for excellent inspiration, your blog is really interesting..thanks for that post it was
really really great :)
Posted on January 26, 2012 at 12:51 pm
Reply
5
pea Says:

Mantap bro, terpaksa dicopy agar bisa dibaca
Posted on February 23, 2012 at 5:01 am
Reply
6
paijo Says:

Sebentar lagi keadaan berbalik.. Barat Kembang Kempis, Amerika pemimpin kolonialisme dan
imperialism sedang sekarat Israel nunggu waktu saja
Posted on April 7, 2013 at 9:49 am
Reply
7
Yuke Arteng Says:

hmm ntah kapan selesainy konflik israel palestina, jadi sedih lihat palestina :
Posted on July 11, 2014 at 11:01 pm
Reply
8
PatriciaMondi (@raja_tingkah) Says:

Bukan konflik ! tapi pembantaian Israel atas Palestina !!!
Posted on July 29, 2014 at 8:05 am
Reply


RSS Feed for this entry
Leave a Reply

Swandy Sihotang
Anda Pengunjung ke
31,487
Kunjungi juga blog IKKSU Serang: www.ikksukristusraja.wordpress.com
Pengunjung Online
[Click to see how many people are online]
Recent Posts
HADIRILAH: Paskah IKKSU 2013
GERAKAN BATAK BERSATU?
FAKTA KULTURAL & WARISAN NILAI SEJARAH SIMANJUNTAK
Ketua Penasehat IKKSU: Cosmas Batubara
Cornel Simbolon Siap Maju di Pilgubsu
Orang Batak Melesat di Jalur Militer
Penyegelan gereja-gereja di Kabupaten Aceh Singkil
Gereja Stasi Soping Saribu Dolok
PERAYAAN PASKAH IKKSU SE-JABODETABEK YANG MODERN
Denah Lokasi Perayaan Paskah IKKSU Minggu 29 April 2012
INVESTASI, BATAK PUNAH & TUKULISME
Paskah IKKSU Minggu 29 April 2012
Opera Batak Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII Tanggal 6 & 7 Juli 2012 di TIM Jakarta
SEJARAH BERDIRINYA IKKSU DI JAKARTA
Tubuh dan Kekuasaan
Recent Comments
PatriciaMondi (@raja on KONFLIK ISRAEL PA
anak ni parna on Orang Batak Melesat di Jalur
Yuke Arteng on KONFLIK ISRAEL PA
Batak terpinggirkan on Orang Batak Melesat di Jalur
annie on Orang Batak Melesat di Jalur
Zulfadhli Sulaiman on Penyegelan gereja-gereja di Ka
Yustina Haloho on Leo Joosten, Pembuat Kamus
smadu on Orang Batak Melesat di Jalur
smadu on Orang Batak Melesat di Jalur
anggi on Penyegelan gereja-gereja di Ka
seo on FAKTA KULTURAL & WARISAN N
James Tobing on Orang Batak Melesat di Jalur
junianto simanjuntak on FAKTA KULTURAL & WARISAN N
ANDERSON SILITONGA on Leo Joosten, Pembuat Kamus
johannes simbolon on Orang Batak Melesat di Jalur
Halak Hita : Anak naoto

Amongna: Hotman..,tuhor jo siinuman na ngali tu kode da..

Anak: cocacola do manang sprite, bapa??

Amongna: cocacola ma.
Anak: kaleng do manang botol?
Amongna: botol ma.

Anak: na gelleng manang na balga?
Amongna: baba ni on,tes ma tuhor nane..

Anak: tes manis do manang tes paet?

Amongna : tes paet!
Anak: na las do manang nangali?

amongna: SAPU DIA SAPU, asa hudoltuk jo ho...
Anak: Sapu lili do manang sapu ijuk?
Amangna: abagoi yamang.. memang binatang do hape ho bah..!!!
Anak: babi do manang bodat??

Amongna: BABI!!
Anak: babi hutan do manang babi potong..??
Amongna: memang begu do ho bah!!
Anak: begu ganjang do manang begu attuk??
Amongna: ndakhuboto i, nane ma neh.. lao ma ho....
Anak: Saonari do manang sogot??

Amongna: Saonari ma ne..
Anak: dohot do Bapa manang dohot oma??
Amongna: hupamate do annon ho da, lam leleng gabe tamba do hubereng otom..

Anak: itembak do manang ipamasuk tu gabbo?
Amongna: hutembak!
Anak: uluna do manang butuhana??
"BEGUUUU...!! ROSON TUMAGON NAMA HUPAMATE SITOHO MAHO BAH
Informasi hasil pertanian Berastagi
Ingin mengetahui harga, kwalitas dan kwantitas hasil pertanian Berastagi? klik di
http://www.jerukberastagi.com
Belajar Bahasa Spanyol.
Ingin belajar Bahasa Spanyol? klik di http://www.bukuspanyol.com
Archives
April 2013
January 2013
June 2012
May 2012
April 2012
February 2012
May 2011
June 2010
March 2010
October 2009
September 2009
June 2009
March 2009
February 2009
January 2009
December 2008
November 2008
Categories
Berita
Buku
essay
Foto
Uncategorized
Peta Pengunjung
Locations of visitors to this page

Blog at WordPress.com. The Vermilion Christmas Theme.
Follow
Follow IKKSU

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com