Anda di halaman 1dari 3

WARTAEKONOMI : Perspektif baru bisnis dan ekonomi Page 1 of 3

Senin, 17 September 2007

Pemenang Polling Berhadiah Edisi Agustus 2007: Polling Winner Result, Iwan - xxxxx@japfacomfeed.co.id Iro

Reformasi (Birokrasi) Itu Mudah


0 Tanggapan

Rabu, 12 September 2007 00:00 WIB - warta ekonomi.com


Senin, 17 Septemb
Menangguk Untu
Oleh: Eddy Satriya 0 Tanggapan

Sabtu, 15 Septemb
Proses reformasi birokrasi makin Safety Driving un
kehilangan arah dan tidak terpadu sebagai kesatuan 0 Tanggapan
program reformasi nasional. Sementara itu,
Jum'at, 14 Septem
publikasi PERC dan Transparansi Internasional Tiket Hilang? Kun
menunjukkan kian menurunnya daya saing 0 Tanggapan
nasional, yang menempatkan Indonesia pada
kelompok terbawah bersama negara-negara Kamis, 13 Septem
Mainkan Mind-m
berkembang dari Asia dan Afrika.

Berbagai kantor pemerintahan dan swasta boleh saja mengklaim Selasa, 11 Septem
Perbaikan Birokr
mereka telah melakukan pembenahan organisasi dan tata kerja. Begitu Investasi
pula, kampanye penerapan good government atau good corporate 0 Tanggapan
governance terus didengungkan. Namun, kenyataan di lapangan
menunjukkan fakta yang berlawanan. Pengurusan berbagai jasa publik,
seperti KTP, SIM, dan izin-izin lainnya, termasuk pembayaran pajak,
belum mengalami perbaikan substantif. Ada perbaikan, tetapi kecepatannya
masih kalah dengan terjadinya proses pembusukan. Kondisi birokrasi yang
agak menggembirakan justru diperlihatkan beberapa daerah yang
beruntung memiliki pemimpin reformis, seperti Kabupaten Sragen di Jawa
Tengah dan Jembrana (Bali).

Jika dibandingkan dengan negara maju atau anggota ASEAN, berbagai


data juga menunjukkan kita makin tertinggal dalam proses perizinan dan
kemudahan berinvestasi. Hengkangnya investor dan diputuskannya beberapa
kontrak besar menjadi bukti.

Kondisi birokrasi memang harus segera diperbaiki. Urgensi ini ditegaskan


Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN) yang mengungkapkan reformasi
birokrasi masih jauh dari harapan karena belum adanya kesamaan persepsi
(Tempo Interaktif, 12/3/07). Menteri PAN baru-baru ini mengungkapkan
pemerintah sedang menyiapkan aturan reformasi birokrasi, termasuk
penggodokan RUU Administrasi Pemerintahan, Kepegawaian Negara, dan
Pengawasan Nasional (Koran Tempo, 17/7/07).

Ini mestinya tak perlu menunggu habisnya separo waktu kerja Kabinet
Indonesia Bersatu (KIB). Seyogianya reformasi birokrasi dilaksanakan menyusul
usainya Pendaftaran Ulang PNS pada 2003. Memperhatikan situasi ini

http://www.wartaekonomi.com/detail.asp?aid=9401&cid=24 9/17/2007
WARTAEKONOMI : Perspektif baru bisnis dan ekonomi Page 2 of 3

diperkirakan reformasi birokrasi akan terkendala oleh waktu dan masa bakti
kabinet, terlebih lagi jika mengingat kantor Menteri PAN juga diminta mengurusi
masalah lain, seperti pemilihan anggota KPK dan penyusunan program investasi
bersama BKPM.

Lalu, apa yang mesti dilakukan? Melihat kompleksnya permasalahan


pelaksanaan reformasi birokrasi memaksa kita memilih strategi yang tepat
Mereformasi birokrasi juga berarti memutus lingkaran setan atau mata rantai
KKN di birokrasi. Saya lebih memilih untuk meningkatkan kesejahteraan PNS
yang diiringi dengan sanksi tegas bagi pelanggar aturan. Langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut.

Pertama, peningkatan kesejahteraan melalui perbaikan struktur gaji


Langkah reformasi birokrasi di Departemen Keuangan yang berujung dengan
perbaikan tunjangan pegawai patut diacungi jempol. Namun, langkah tersebut
perlu segera disempurnakan. Mestinya gaji pokok yang dinaikkan, bukan
tunjangan. Menaikkan tunjangan akan menaikkan gaya hidup pegawai, dan
kemudian membuat mereka terhenyak ketika pensiun. Sebab, besarnya pensiun
mengacu pada gaji pokok, bukan tunjangan. Kondisi ini justru bisa memicu
pegawai ber-KKN.

Jika memungkinkan, frekuensi pemberian gaji ditambah dan rasio


gaji tertinggi-terendah diturunkan sebagaimana dilakukan Jepang. Sudah
sepantasnya pemerintah memikirkan memberikan gaji 15-16 kali, yang
sangat berguna saat tiba hari besar agama, anak-anak masuk sekolah, dan
cuti.

Kedua, penataan tugas pokok dan fungsi organisasi, sistem


manajemen kantor dan SDM agar lebih efisien. Untuk langkah ini, kantor
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dapat menjadi
contoh. Diam-diam, sejak bergulirnya reformasi, Bappenas telah menata
diri. Langkah awal adalah ”menarik diri” dari proses pembahasan RAPBN
di Ditjen Anggaran yang sarat KKN, dan berkonsentrasi dalam aspek
perencanaan. Peran Bappenas kini digantikan DPR.

Di samping itu, Bappenas juga menghapuskan jabatan eselon IV


yang diganti dengan pengembangan jabatan fungsional perencana (JFP),
yang bisa memberikan tambahan penghasilan lebih baik melalui
pelaksanaan berbagai kegiatan perencanaan secara lebih profesional.
Langkah ini meniru organisasi serupa di beberapa negara maju, seperti
Korea Selatan dan AS. Intinya adalah melegalkan penambahan
kesejahteraan pegawai dan menghindari praktek-praktek yang selama ini
dijalankan oleh banyak departemen dengan menggunakan sumber dana di
luar mekanisme APBN.

Ketiga, memanfaatkan teknologi secara tepat dalam pengelolaan


anggaran dan pelayanan publik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa
budaya ”tatap muka” menjadi batu sandungan dalam perbaikan sistem
pelayanan publik. Maka, pemerintah sudah masanya memperbanyak
penggunaan aplikasi-aplikasi elektronik yang dapat memutus mata rantai
terjadinya praktek KKN. Sudah semestinya pemerintah SBY-JK
mempercepat pelaksanaan e-anggaran, yaitu pemanfaatan telematika dan
database informasi dalam proses usulan, analisis, pembahasan, dan
penetapan alokasi anggaran, baik untuk APBN maupun APBD. Di samping
mengurangi praktek KKN, pemanfaatan aplikasi telematika ini akan dapat

http://www.wartaekonomi.com/detail.asp?aid=9401&cid=24 9/17/2007
WARTAEKONOMI : Perspektif baru bisnis dan ekonomi Page 3 of 3

merekam jejak langkah proses perencanaan dan evaluasi pembangunan,


baik sektoral maupun regional.

Di samping tiga langkah yang fokus pada peningkatan kesejahteraan


pegawai dalam memenuhi kebutuhan hidup minimal dan pemanfaatan teknologi,
ada beberapa hal lain yang perlu diambil oleh pemerintah. Di antaranya,
membatasi rangkap jabatan di pemerintahan, menyediakan call center dan
alamat e-mail untuk masukan atau pengaduan, dan sanksi tegas bagi pimpinan
atau pegawai yang melanggar.

Pemilihan langkah memperbaiki tingkat kesejahteraan pegawai terlebih


dahulu adalah untuk menangkal makin besarnya kerugian negara akibat KKN.
Pengalaman saya menunjukkan pelaku KKN punya seribu satu cara untuk
membobol seribu aturan yang ada. Mengingat reformasi birokrasi adalah subjek
yang cukup kompleks, kelenturan dalam melaksanakan reformasi juga
diperlukan. Menunggu untuk memulai reformasi birokrasi adalah kesalahan
besar.

Sungguh, reformasi birokrasi itu sesungguhnya mudah. Masalahnya


bukan bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak kita memulainya.###

Penulis adalah pemerhati reformasi, PNS di kantor Menko Perekonomian,


dan dapat dihubungi di satriyaeddy@gmail.com. Tulisan ini merupakan
pendapat pribadi.

Kirim Tanggapan Kirim Artikel Ini

1 2 3 4 5

Rate Artikel Ini

all rights reserved, copyin


without prior cons

http://www.wartaekonomi.com/detail.asp?aid=9401&cid=24 9/17/2007