Anda di halaman 1dari 8

1.

Pendahuluan

Sel adalah unit dasar dari biologi. Setiap organisme tersusun atas sel atau
setidaknya sebagai sel itu sendiri. Pemahaman tentang struktur dan fungsi
sel diperlukan untuk memahami kemampuan dan keterbatasan suatu
organisme, apakah itu hewan, tumbuhan maupun mikroorganisme.

Biologi sel adalah cabang ilmu biologi yang dinamis. Perkembangan
pengetahuan yang sangat pesat terhadap struktur dan fungsi sel
disumbangkan oleh beragam ilmuwan dengan beragam disiplin ilmu yang
saling terkait yang semuanya berusaha menerangkan bagaimana suatu sel
bekerja. Kemajuan yang paling dinamis adalah perkembangan
pengetahuan terhadap kemampuan sel untuk tumbuh, bereproduksi dan
berspesialisasi, dan juga terhadap kemampuan sel dalam hal menanggapi
rangsangan dari luar dan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan
lingkungan. Tiga disiplin ilmu, yaitu sitologi, biokimia dan genetika, saling
konvergen dalam membangun pengetahuan tentang sel yang semakin ditil
sehingga memunculkan biologi sel modern sebagai salah satu ilmu biologi
kontemporer yang menarik dan dinamis.

Sejarah Singkat Teori Sel
Sejarah tentang sel dimulai sekitar 300 tahun yang lalu, ketika para
ilmuwan di Eropa mulai menggunakan mikroskop untuk mengamati
beragam material biologis, mulai dari gabus batang tumbuhan sampai ke
sperma manusia. Salah satu pioner biologi sel adalah Robert Hooke,
seorang kurator peralatan laboratorium di Royal Society of London. Pada
tahun 1665, Tuan Hooke menggunakan mikroskop buatannya sendiri untuk
mengamati sayatan tipis gabus batang tumbuhan. Dia melihat struktur
rongga-rongga yang mengingatkannya ke sarang lebah. Tuan Hooke
menyebutkan rongga yang dilihatnya sebagai cellulae (L. = kamar kecil).
Istilah sel yang digunakan oleh Tuan Hooke ini terus digunakan sampai
sekarang.

Dalam pengertian tentang sel saat ini, apa yang diamati oleh Tuan Hooke
bukanlah sel melainkan suatu rongga kosong yang dibatasi oleh dinding-
dinding sel tumbuhan yang mati. Tuan Hooke tidak menyadari bahwa
gabus tumbuhan yang diamatinya adalah sebagai benda mati, karena dia
juga tidak memahami bagaimana mereka hidup. Dari hasil-hasil
pengamatan berikutnya dengan jenis tumbuhan yang lain, dia menyadari
bahwa dalam rongga-rongga yang diamatinya kadang ditemukan berisi
cairan yang disebutnya jus. Meskipun begitu, dia tetap berkonsentrasi
pada hasil pengamatan awal bahwa sel adalah rongga yang dibatasi oleh
dinding sel.

Salah satu pembatas utama yang mendasar dari hasil pengamatan Tuan
Hooke adalah pada mikroskop yang digunakan mempunyai pembesaran
hanya sekitar 30x. Dengan kemampuan serendah itu, tidak mungkin Tuan
Hooke bisa mengamati organisasi internal sel.

Beberapa tahun kemudian, Antonie van Leeuwenhoek berhasil membuat
mikroskop dengan pembesaran sampai 300x. Menggunakan mikroskop
buatannya, dia adalah orang pertama yang melihat sel hidup, mulai dari
sel-sel darah, sperma manusia dan beragam organisme uniselular yang
ada di air kolam. Gambar-gambar yang indah hasil pengamatannya
dilaporkan ke Royal Society of London secara serial selama kuartal akhir
abad ke-17.

Ada dua faktor pembatas untuk memahami sel lebih lanjut, yaitu

1. Keterbatasan kemampuan mikroskop
Meskipun untuk jamannya lensa asahan Tuan Leeuwenhoek sangat
unggul, tetap tidak mampu melihat struktur sel yang bersifat renik
2. Ilmu biologi abad 17 yang bersifat deskriptif
Faktor kedua ini mungkin sebagai faktor yang lebih mendasar. Pada abad
ke-17 bisa disebut sebagai Jaman Emas Pengamatan. Meskipun begitu,
keingintahuan terhadap struktur material biologis membawa ke
penggunaan lensa mikroskop.

Pemahaman terhadap organisasi material biologis yang terjadi seabad
kemudian merupakan hasil konvergensi antara kemampuan mikroskop
yang semakin baik dan pola pikir eksperimen para ahli mikroskopis. Pada
1830-an, kemampuan perbesaran dan resolusi mikroskop
berhasil mengamati struktur berukuran 1 mikrometer (se per sejuta meter
atau 1 mm). Ahli Botani Inggris, Robert Brown, menemukan bahwa di
bagian tengah dari setiap sel tumbuhan terdapat struktur bulat yang
kemudian disebut nucleus (L. = kernel). Pada tahun 1838, Matthias
Schleiden dari Jerman sampai pada kesimpulan penting, yaitu bahwa
setiap jaringan tumbuhan terdiri atas sel dan bahwa tumbuhan embrional
selalu berasal dari sel tunggal. Setahun kemudian, Theodor Schwann
menyimpulkan juga bahwa jaringan hewan juga terdiri atas sel. Spekulasi
yang ada sebelumnya menyebutkan bahwa tumbuhan dan hewan
mempunyai struktur yang berbeda. Munculnya spekulasi tersebut bisa
dipahami karena sel-sel penyusun jaringan hewan tidak dilengkapi dengan
dinding sel sebagaimana sel-sel tumbuhan. Keberhasilan Tuan Schwann
mengamati adanya sel pada jaringan hewan karena yang diambil sebagai
sampel adalah jaringan tulang kartilago. Sel-sel penyusun jaringan
kartilago, walaupun tidak mempunyai dinding sel, dikelilingi oleh matriks
ekstraselular yang tebal yang tesusun atas serabut-serabut kolagen.

Dengan begitu, teori sel yang dipostulatkan oleh Tuan Schwann pada
tahun 1839 ada dua idea, yaitu
1. Semua organisme terdiri atas satu atau lebih sel
2. Sel merupakan unit dasar struktur bagi semua organisme
Tidak sampai 20 tahun kemudian atau pada tahun 1855, ide ketiga
ditambahkan oleh Rudolf Virchow (ahli fisiologi dari Jerman) sebagai
pernyataan yang populer, yaitu omnis cellula e cellula yang diterjemahkan
3. Semua sel berasal dari sel yang ada sebelumnya
Ide ketiga dari teori sel diatas dikembangkan atas dasar kerja Karl Ngeli
tentang pembelahan sel. Eksperimen Tuan Ngeli diilhami oleh deskripsi
tentang inti sel oleh Robert Brown. Munculnya ide ketiga dari teori sel
menyebabkan bahwa sel tidak hanya sebagai unit dasar struktur melainkan
juga unit dasar reproduksi.

Biologi Sel Modern
Biologi sel moder yang berkembang pesat dalam tahun-tahun belakangan
ini merupakan hasil konvergensi tiga cabang ilmu yang awalnya saling
berbeda, yaitu sitologi yang mempelajari struktur sel, biokimia yang
mempelajari proses-proses kimia dalam sel dan genetika yang mempelajari
pola pewarisan sifat. Sebagaimana sejarah teori sel, perkembangan sitologi
disebabkan oleh kemampuan pembesaran dan resolusi lensa mikroskop,
yang mencapai puncaknya setelah munculnya teknik-teknik optik dan
mikroskop elektron yang menggantikan mikroskop cahaya.
Bersamaan dengan bidang sitologi mengungkap struktur menggunakan
mikroskop, para ilmuwan di bidang lain mengamati dan berusaha
menerangkan fungsi-fungsi sel. Fungsi sel merupakan proses-proses kimia
yang terjadi di dalam sel yang dipelajari dalam biokimia (bio-chemical).
Pada tahun 1828, Friedrich Whler (ahli kimia dari Jerman) berhasil
mensintesis urea (bahan organik) di laboratorium dari amonium sianat
(material anorganik). Keberhasilannya merupakan terobosan pemikiran
yang menyatukan biologi dan biokimia. Pemikiran yang berkembang
sebelumnya mempercayai bahwa mahluk hidup tidak mengikuti hukum-
hukum fisika dan kimia seperti pada mahluk tak hidup. Dengan begitu,
Tuan Whler berhasil menyatukan perbedaan konsep mahluk hidup dan
mahuk tak hidup dengan memberikan bukti bahwa proses-proses biokimia
juga diatur oleh hukum-hukum fisika dan kimia.
Sekitar 40 tahun kemudian, Louis Pasteur mengemukakan proses
fermentasi gula menjadi alkohol yang dilakukan oleh sel-sel ragi yang
hidup. Mengikuti hasil Tuan Pasteur, Eduard dan Hans Buchner pada tahun
1897 berhasil membuktikan bahwa ekstrak ragi - bukan sel utuh ragi - bisa
melakukan fermentasi. Pada awalnya, ekstrak ragi disebutnya sebagai
ferment yang kemudian menjadi jelas bahwa di dalamnya ada agen aktif
katalisator yang kemudian dikenal sebagai enzim.
Perkembangan terhadap pemahaman fungsi sel yang sangat pesat
berikutnya terjadi sekitar tahun 1920 - 1930-an ketika para ahli biokimia
Jerman, antara lain Gustav Embden, Otto Meyerhof, Otto Warburg dan
Hans Kreb, berhasil mengungkapkan lintasan biokimia fermentasi dan
proses-proses selular yang menyertainya. Keberhasilan mereka melekat ke
hasil karyanya. Kita mengenal Embden-Meyerhof pathway untuk menyebut
lintasan glikolisis yang ditemukan di awal tahun 1930-an. Selain itu, kita
mengenal Krebs Cycle untuk menyebut siklus asam trikarboksilat (TCA
cycle). Sekitar waktu yang bersamaan, Fritz Lipmann (ahli biokimia dari
Amerika) menemukan adanya senyawa berenergi tinggi, yaitu adenosine
triphosphate (ATP).
Sekitar tahun 1950-an, Melvin Calvin (Ahli fisiologi tumbuhan dari Amerika)
berhasil mengungkapkan lintasan metabolisme karbon dalam fotosintesis
yang kemudian dikenal sebagai siklus Calvin. Keberhasilannya ditunjang
oleh penggunaan isotop radioaktif (3H, 14C dan 32P) untuk melacak atom
dan molekul dalam suatu proses metabolisme. Tuan Calvin dikenal sebagai
orang pertama yang menggunakan radioisotop untuk mempelajari lintasan
biokimia.
Selain itu, perkembangan teknik ultrasentrifugasi yang dimotori oleh
Theodor Svedberg (Swedia) sekitar 1925 - 1930-an berhasil menentukan
laju sedimentasi protein. Sebagaimana mikroskop elektron sebagai
landmark bagi perkembangan sitologi, ultrasentrifugasi adalah landmark
bagi biokimia. Konvergensi dan komplementasi keduanya menyatukan
hasil-hasil pengamatan struktur sel (dalam hal ini organel sel) yang
dikombinasikan dengan proses-proses biokimia yang terjadi di dalamnya.
Kegemilangan teknik sentrifugasi dilakukan oleh Albert Claude antara 1940
- 1950-an untuk mengisolasi fraksi subselular. Keduanya mendasari
kelahiran biologi sel modern.
Cabang ilmu biologi ketiga yang kemudian memunculkan biologi sel
modern adalah genetika. Pelopor cabang ilmu ini yang paling populer
adalah Gregor Mendel sekitar abad 19 yang dikenal sebagai Genetika
Mendel. Publikasinya bertahun 1866 mengemukakan prinsip-prinsip
pewarisan yang sangat terkenal, yaitu segregasi dan penyatuan bebas dari
faktor-faktor hereditas. Faktor hereditas dalam setiap mahluk hidup ada
sepasang yang pada saat ini disebut sebagai gen. Tentunya pada jaman
itu, mahluk hidup yang dikenal hanya ada dua, yaitu tumbuhan dan hewan.
Sayang sekali, publikasi Mendel terabaikan sampai kemudian ditemukan
kembali setelah 35 tahun sejak dipublikasikan.

Ditemukannya kembali publikasi Mendel, menyebabkan peranan inti dalam
kontinyuitas genetik lebih mudah dipahami. Walther Fleming pada tahun
1880, mengemukakan bahwa selama sel membelah ada struktur berupa
kumpulan benang-benang di daerah inti sel yang mengikutinya yang
kemudian disebut kromosom. Pembelahan sel itu disebutnya sebagai
mitosis (G. = benang). Setiap sel dari setiap generasi pada satu spesies
mempunyai jumlah kromosom yang konstan dari generasi ke generasi.
Selain itu, setiap spesies mempunyai jumlah kromosom yang tidak sama.
Karena itu, Wilhelm Roux tahun 1883 menduga bahwa informasi genetik
ada di dalam kromosom. Dugaan ini kemudian ditegaskan lagi oleh August
Weissman.
Jadi, begitu publikasi karya Mendel ditemukan ulang maka idea ketiga yang
ada dalam teori sel bisa dipahami sebagai peranan inti sel dan kromosom.
Hal ini kemudian mendasari eksperimen yang dilakukan oleh tiga ilmuwan
yang saling tidak berhubungan, yaitu Carl Correns di Jerman, Ernst von
Tschermak di Austria dan Hugo de Vries di Belanda sekitar tahun 1990-
an. Dalam waktu hanya tiga tahun sejak itu, Walter Sutton berhasil
menyatukan struktur benang dari kromosom yang disampaikan oleh
Flemming dan faktor hereditas yang disampaikan oleh Mendel menjadi satu
formula Teori Hereditas Kromosom. Menurut Sutton, faktor-faktor hereditas
yang berperan dalam pewarisan Mendel terletak di kromosom yang ada
dalam inti sel. Teori kromosom tersebut diperkuat oleh bukti-bukti hasil
eksperimen Thomas Hunt Morgan dan murid-muridnya yang menemukan
bahwa sifat-sifat khusus pada lalat buah terpaut dengan lokasi yang
spesifik pada kromosom.
Dalam waktu yang tidak jauh berbeda, beberapa ilmuwan yang lain
melakukan eksperiman untuk mengungkapkan dasar-dasar molekular
pewarisan sifat. Salah satu ilmuwan yang paling menonjol adalah Johann
Friedrich Miescher yang pada tahun 1886 menemukan molekul DNA yang
pada saat itu disebut nuclein. Molekul DNA berhasil diisolasi dari sperma
ikan salmon dan cairan luka yang membasahi perban. Sebagaimana nasib
Mendel yang mendahului masanya, molekul DNA bisa diapresiasi sebagai
material yang diwariskan dari sel tetua ke sel-sel anak setelah melewati
masa sekitar 75 tahun. Pada awalnya, pembuktian melalui eksperimen
dilakukan tahun 1914 oleh Robert Fuelgen yang berhasil melacak aktifitas
kromosom dengan mengembangkan teknik-teknik pewarnaan. Tapi untuk
memastikan bahwa DNA adalah material pewarisan masih kurang kuat. Hal
ini disebabkan ide yang berkembang luas pada saat itu masih menganggap
bahwa protein yang banyak ditemukan di dalam inti sel adalah sebagai
material pewarisan.
Eksperimen yang spektakuler untuk membuktikan bahwa molekul DNA
adalah material genetik dilaporkan tahun 1944 oleh Oswald Avery, Colin
McLeod dan Maclyn McCarthy. Mereka berhasil mentransformasikan
molekul DNA ke sel bakteri. Sekitar 8 tahun kemudian setelah Alferd
Hershey dan Martha Chase tahun 1952 membuktikan bahwa DNA, bukan
protein, yang masuk ke sel bakteri ketika virus menginfeksi bakteri.
Setahun kemudian, James Watson dan Francis Crick mengajukan model
struktur molekul DNA yang sangat populer sebagai double helix. Akibat
yang ditimbulkan oleh model yang diajukannya adalah pemahaman baru
terhadap bagaimana replikasi dan mutasi genetik bisa terjadi.
Sekitar tahun 1960-an, beragam penemuan hasil eksperimen menyimpukan
bahwa protein (dalam hal ini enzim) disintesis oleh DNA dan RNA dengan
cara membaca sandi yang ada dalam runutan nukleotida (monomer
molekul DNA) diterjemahkan menjadi runutan asam amino (monomer
protein). Sejak itu, beragam spekulasi dan hipotesis tentang pewarisan
satu per satu berhasil dibuktikan yang menyebabkan adanya revolusi
biologi, terutama dengan munculnya cabang ilmu biologi baru, yaitu
genetika molekular. Dalam perjalanan sejarah penemuan-penemuan sejak
abad 17, ketiga cabang ilmu saling melengkapi dan menyatu membentuk
apa yang disebut biologi sel modern.



SATUAN UKURAN DALAM BIOLOGI SEL
Sebagian besar ukuran sel dan organel sangat kecil yang tidak bisa dilihat
dengan mata telanjang. Selain itu, satuan ukuran yang sering digunakan
tidak terlalu dikenal oleh sebagian mahasiswa sehingga mereka mengalami
kesulitan untuk mengapresiasi struktur sel. Ada dua pendekatan untuk
memecahkan masalah ini, yaitu
1. menjelaskan bahwa hanya ada dua satuan ukuran yang biasa digunakan
untuk menggambarkan dimensi ukuran sel dan struktur sel, yaitu
mikrometer dan nanometer
2. Setiap menampilkan gambar suatu struktur harus dilengkapi dengan
satuan ukuran dari salah satu satuan diatas
Mikrometer (mm) adalah satuan ukuran yang paling berguna untuk
menggambarkan ukuran sel dan organel besar. Mikrometer atau mikron
adalah satuan yang merujuk ke se per juta meter atau 10-6 m. Pada
umumnya, sel bakteri berdiameter beberapa mikron, sedangkan sel
tumbuh- an dan hewan 10 - 20x lebih besar. Beberapa organel seperti
mitokondria dan kloroplas berdiameter hampir sama dengan sel bakteri,
yaitu hanya beberapa mikron saja. Organel-organel yang lebih kecil
biasanya berukuran antara 0.2 - 1.0 mm. Sebagai acuan, jika suatu struktur
masih bisa dilihat menggunakan mikroskop cahaya biasanya ukurannya
diekspresikan dalam satuan mikron. Hal ini karena resolusi mikroskop
cahaya sekitar 0.20 - 0.35 mm.
Nanometer (nm) adalah satuan ukuran yang banyak digunakan untuk
menggambarkan struktur molekul atau subselular yang terlalu kecil untuk
bisa dilihat menggunakan mikroskop cahaya. Nanometer adalah satuan
yang merujuk ke se per milar meter atau 10-9 m, atau se per seribu um.
Seringkali nanometer dinotasikan sebagai milimikron atau mm. Sebagai
patokan untuk satuan nanometer adalah ribosom yang berdiameter sekitar
25-30 nm. Beberapa ultrastruktur sel yang biasa menggunakn satuan
nanometer adalah tubulus mikro, filamen mikro, membran dan molekul
DNA.
Selain kedua ukuran diatas, satuan Angstrom atau yang setara dengan
10-10 m atau 0.1 nm. Satuan ini lebih sering digunakan untuk
menggambarkan dimensi ukuran molekul. Karena satuan Angstrom
berbeda se per sepuluh dari nanometer, seringkali satuan ini digunakan
juga untuk menyatakan dimensi suatu ultrastruktur sel.
Perubahan dari observasi ke eksperimen dan perkembangan Teknik
laboratorium
1. Fakta dan dasar-dasar metode ilmiah
2. Mikroskop cahaya
3. Mikroskop elektron
4. Teknik mikrotom
5. Sentrifugasi
6. Kromatografi
7. Elektroforesis
8. Kultur Sel
9. Teknik pewarnaan
a) histokimia
b) Flouresensi
c) Pelabelan radioisotop
d) Imunohistokimia
10. Biologi Molekular (DNA related techniques)