Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHASAN

Remaja berasal dari bahasa latin adolescence, artinya tumbuh untuk mencapai
kematangan. Lebih lanjut adolescence memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental,
emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1991). Remaja berada pada batas peralihan kehidupan dari
anak menuju ke masa dewasa. Masa remaja sering dikenal dengan masa mencari jati diri, oleh
Erickson di sebut dengan identitas ego (ego identity). Masa ini terjadi karena remaja merupakan
peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan kehidupan dewasa. Ditinjau dari segi fisik
mereka bukan lagi anak-anak melainkan seperti orang dewasa tetapi belum menunjukkan sikap
dewasa.
Remaja sebetulnya tidak memiliki tempat, mereka tidak termasuk golongan anak-anak
tetapi belum juga diterima secara penuh untuk golongan orang dewasa. Oleh karena itu remaja
sering dikenal dengan fase mencari jati diri atau fase topan dan badai. Remaja masih belum
mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimum fungsi fisik maupun psikisnya (Monk,
dkk, 1989).

Ciri pokok pada tahap ini:
(1)pertumbuhan phisik sangat pesat dan mulai berfungsinya hormon sekunder (terutama
hormon reproduksi), (2) masa mencari identitas, (3) kepribadian yang labil, emosional,
mudah tersinggung dsb. , (4) peer group segala-galanya, (5) bersifat kritis dan idealis, (6)
rasa ingin tahu sangat besar, dan (7) mulai tertarik dengan lawan jenis.

2.1 Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
Definisi Remaja
Banyak definisi yang dikemukakan tentang remaja, diantaranya :
1. Remaja menurut hukum
Konsep tentang remaja, remaja bukanlah berasal dari bidang hukum melainkan berasal
dari bidang ilmu-ilmu sosial. Dalam hubungannya dengan hukum tampaknya hanya Undang-
Undang Perkawinan saja yang mengenal konsep tentang remaja walaupun tidak secara terbuka.
2. Remaja ditinjau dari sudut perkembangan fisik
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, remaja dikenal sebagai tahap
perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia sudah mencapai kematangannya.
3. Batasan remaja menurut WHO
Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana :
a) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual
sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
b) Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-
kanak menjadi dewasa.
c) Terjadi peralihan ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan
yang relatif lebih mandiri.
4. Remaja ditinjau dari faktor-faktor sosial psikologis
Salah satu ciri remaja disamping tanda-tanda seksualnya adalah perkembangan psikologis
dan pada identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa puncak perkembangannya ditandai dengan
adanya proses perubahan dari kondisi entropy (keadaan dimana kesadaran manusia belum
tersusun rapi) ke kondisi ngentropy (keadaan dimana kesadaran manusia sudah tersusun baik).
5. Definisi remaja untuk masyarakat indonesia
Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11-24 dan
belum menikah. Pertimbangan-pertimbangannya adalah sebagai berikut :
1. Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai
nampak (kriteria fisik).
2. Banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil balik, baik menurut
adat maupun agama.
3. Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti
tercapainya identitas diri (ego identity = Erikson), tercapainya fase genital dari
perkembangan psikoseksual (Freud), tercapainya puncak perkembangan kognitif
(Piaget) maupun moral (Kholberg) (kriteria psikologik).
4. Batasan usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi
mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang tua,
belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa.
5. Status perkawinan sangat menentukan, karena perkawinan masih sangat penting di
masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Seseorang yang sudah menikah berapa pun
usianya, sudah dianggap diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik secara
hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga.

Ada dua pandangan teoritis tentang remaja.
Menurut pandangan teoritis pertama yang dicetuskan oleh psikolog G. Stanley
Hall : adolescence is a time of storm and stress . Artinya, remaja adalah masa yang penuh
dengan badai dan tekanan jiwa, yaitu masa di mana terjadi perubahan besar secara fisik,
intelektual dan emosional pada seseorang yang menyebabkan kesedihan dan kebimbangan
(konflik) pada yang bersangkutan, serta menimbulkan konflik dengan lingkungannya (Seifert &
Hoffnung, 1987). Dalam hal ini, Sigmund Freud dan Erik Erikson meyakini bahwa
perkembangan di masa remaja penuh dengan konflik.
Menurut pandangan teoritis kedua, masa remaja bukanlah masa yang penuh dengan konflik
seperti yang digambarkan oleh pandangan yang pertama. Banyak remaja yang mampu
beradaptasi dengan baik terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya, serta mampu beradaptasi
dengan baik terhadap perubahan kebutuhan dan harapan dari orang tua dan masyarakatnya. Bila
dikaji, kedua pandangan tersebut ada benarnya, namun sangat sedikit remaja yang mengalami
kondisi yang benar-benar ekstrim seperti kedua pandangan tersebut (selalu penuh konflik atau
selalu dapat beradaptasi dengan baik). Kebanyakan remaja mengalami kedua situasi tersebut
(penuh konflik atau dapat beradaptasi dengan mulus) secara bergantian (fluktuatif).

Lebih lanjut Hurlock (1991) menjelaskan bahwa ciri-ciri remaja sebagai berikut:
1. Masa remaja sebagai periode yang penting
Remaja merupakan periode penting karena pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis.
Pertumbuhan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental.
Pertumbuhan dan perkembangan ini menimbulkan perlunya penyesuaian mental, sikap, nilai, dan
minat baru
2. Masa remaja sebagai periode peralihan
Setiap periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan terhadap peran
yang dilakukan. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak-anak dan juga bukan orang
dewasa. Kalaupun remaja berperilaku seperti anak-anak maka ia akan diajari bertindak atau
berbuat sesuai umurnya, namun kalau remaja berperilaku seperti orang dewasa, ia sering dituduh
celananya kebesaran dan dimarahi karena mencoba berbuat seperti orang dewasa.
3. Masa remaja sebagai masa perubahan
Tingkat perubahan pada sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan
fisik. Ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap pun
berlangsung pesat, begitu pula sebaliknya.
4. Masa remaja sebagai usia bermasalah
Dua kesulitan yang sering ditemui masa remaja dan menjadi sumber masalah adalah: (1)
sepanjang masa kanak-kanak sebagian masalahnya diselesaikan oleh orangtua dan orang dewasa
lain (guru) dan (2) karena para remaja merasa diri mereka mandiri sehingga menolak bantuan
orangtua dan orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan masalahnya.
5. Masa remaja sebagai masa mencari identitas
Pada tahun-tahun awal remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi
remaja perempuan dan laki-laki. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan
sering tidak puas menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal seperti sebelumnya
6. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, tidak dapat
dipercaya dan cenderung merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan
mengawasi kehidupannya karena takut bertanggungjawab dan bersikap simpatik terhadap
perilaku remaja normal
7. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa
Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah para remaja mulai memusatkan diri
pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa seperti merokok, minum-minuman keras,
menggunakan obat-obat terlarang dan terlibat dalam perbuatan seks.
8. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik
Remaja seringkali melihat diri sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan
sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Cita-cita yang tidak realistik akan
menyebabkan meningginya emosi.

Karakteristik remaja yang berhubungan dengan pertumbuhan dan
perkembangan
Karakteristik remaja yang berhubungan dengan pertumbuhan (perubahan-perubahan fisik)
ditandai oleh adanya kematangan seks primer dan sekunder. Sedangkan karakteristik yang
relevan dengan perkembangan (perubahan-perubahan aspek psikologis dan sosial).
1. Pertumbuhan Fisik: Kematangan Seks Primer
Kematangan seks primer adalah ciri-ciri yang berhubungan dengan kematangan fungsi
reproduksi. Kematangan seks primer bagi remaja perempuan ditandai dengan datangnya
menstruasi (menarche). Dengan timbulnya kematangan primer ini remaja perempuan merasa
sakit kepala, pinggang, perut, dan sebagainya yang menyebabkan merasa capek, mudah lelah,
cepat marah. Adapun kematangan seks primer bagi remaja laki-laki ditandai dengan mimpi
basah (noeturnal emmission).
2. Pertumbuhan Fisik: Kematangan Seks Skunder
Karekteristik seks skunder yaitu ciri-ciri fisik yang membedakan dua jenis kelamin. Perubahan
ciri-ciri skunder pada remaja laki-laki nampak seperti timbulnya pubic hair rambut di daerah
alat kelamin, timbulnya axillary hair rambut di ketiak, seringkali tumbuh dengan lebat rambut
di lengan, kaki, dan dada, kulit menjadi lebih kasar dari pada anak-anak, timbulnya jerawat,
kelenjar keringat bertambah besar dan bertambah aktif sehingga banyak keringat keluar. Otot
kaki dan tangan membesar, dan timbulnya perubahan suara.
Karakteristik seks skunder remaja perempuan ditandai seperti perkembangan pinggul
yang membesar dan menjadi bulat, perkembangan buah dada, timbul pubic hair rambut di
daerah kelamin, tumbul axillary hair rambut di ketiak, kasar dibandingkan pada anak-anak,
timbul jerawat, kelenjar keringat kulit menjadi bertambah aktif sehingga banyak keringat yang
keluar dan tumbuhya rambut di lengan dan kaki.
3. Perkembangan Aspek Psikologis dan Sosial
Karakteristik yang relevan dengan perkembangan (aspek psikologis dan sosial) telah
ditandai oleh adanya hal berikut: (1) emosionalitas tinggi; (2) keadaannya tidak stabil; (3) sangat
sugestibel; (4) mencari identitas diri; (5) pergaulan dengan teman sebaya menjadi amat kuat
(aktivitas kelompok); (6) tertarik pada lawan jenis; (7) bersifat kritis; (8) berkeinginan besar
mencoba segala hal yang belum diketahuinya; (9) seringkali mengadakan pertentangan; (10)
keinginan menjelajah ke alam sekitar yang lebih luas; dan (11) mengkhayal dan berfantasi.

WHO menyatakan walaupun definisi remaja utamanya didasarkan pada usia kesuburan
(fertilitas) wanita, namun batasan itu juga berlaku pada remaja pria, dan WHO membagi kurun
usia dalam dua bagian yaitu remaja awal 10 14 tahun dan remaja akhir 15 20 tahun.
PSIKIS REMAJA
Remaja Awal
Ketidakstabilan keadaan perasaan dan emosi
Pada masa ini, remaja mengalami badai dan topan dalam kehidupan perasaan dan emosinya.
Keadaan semacam ini sering disebut strom and stress. Remaja sesekali sangat bergairah dalam
bekerja tiba-tiba berganti lesu, kegembiraan yang meledak bertukar rasa sedih yang sangat, rasa
percaya diri berganti rasa ragu-ragu yang berlebihan, termasuk ketidaktentuan dalam
menentukan cita-cita dan menentukan hal-hal yang lain.
Status remaja awal yang membingungkan
Status mereka tidak hanya sulit ditentukan, tetapi juga membingungkan. Perlakuan orang tua
terhadap mereka sering berganti-ganti. Orang tua ragu memberikan tanggungjawab dengan alasn
mereka masih kanak-kanak. Tetapi saat mereka bertingkah kekanak-kanakan, mereka
mendapat teguran sebagai orang dewasa. Karena itu, mereka bingung akan status mereka.
Banyak masalah yang dihadapi remaja
Remaja awal sebagai individu yang banyak mengalami masalah dalam kehidupannya. Hal ini
dikarenakan mereka lebih mengutamakan emosionalitas sehingga kurang mampu menerima
pendapat orang lain yang bertentangan dengan pendapatnya. Faktor ini disebabkan karena
mereka menganggap bahwa dirinya lebih mampu daripada orang tua.
Remaja Akhir
Pada masa ini terjadi proses penyempurnaan pertumbuhan fisik dan perkembagngan psikis.
Stabilitas mulai timbul dan meningkat
Stabilitas mulai timbul dan meningkat dalam aspek psikis. Demikian pula stabil dalam minat-
minatnya; pemilihan sekolah, jabatan, pakaian, pergaulan dengan sesame ataupun lain jenis.
Mereka mulai menunjukkan kemantapan serta tidak mudah berubah pendirian.
Proses menjadi stabil ini akan lebih cepat apabila orang tua berperan dengan lebih demokratis.
Citra diri dan sikap pandang yang lebih realistis
Disini remaja mulai menilai dirinya sebagaimana adanya (apa adanya), menghargai miliknya,
keluarganya dan orang lain seperti keadaan sesungguhnya.
Menghadapi masalahnya secara lebih matang
Hal ini disebabkan oleh karena kemampuan piker remaja akhir yang telah lebih sempurna dan
ditunjang oleh sikap pandangan yang lebih realistis.
Perasaan menjadi lebih tenang
Mereka tidak lagi menampakkan gejala-gejala strom and stress sehingga muncullah suatu
ketenangan dalam diri mereka.

PERUBAHAN FISIK
CIRI-CIRI REMAJA AWAL(Teenagers)
- Terjadi pertumbuhan fisik yang pesat
- Dalam jangka 3-4 tahun anak bertumbuh hingga tingginya hampir menyamai tinggi orang tua.
- Pada laki-laki mulai memperlihatkan penonjolan otot-otot pada dada, lengan, paha dan betis.
Pada wanita mulai menunjukkan mekar tubuh yang membedakannya dengan tubuh kanak-kanak.
- Dalam hal kecepatan pertumbuhan, terutama nampak jelas dalam usia 12-14 tahun remaja putri
bertumbuh demikian cepat meninggalkan pertumbuhan remaja pria.
- Dalam masa pertumbuhan ini baik remaja pria maupun remaja wanita cenderung ke arah
memanjang dibanding melebar.
- Kematangan kelenjar seks pada usia 11/12 th 14/15 th.Biasanya pertumbuhan itu lebih cepat
pada remaja putri dibanding remaja putra.
CIRI-CIRI REMAJA AKHIR
- Pertumbuhan fisik remaja relatif berkurang dengan kata lain tidak sepesat dalam masa remaja
awal.Bagi remaja pria pada usia 20 th dan remaja wanita 18 th keadaan tinggi badan mengalami
pertumbuhan yang lambat.
- Mengalami keadaan sempurna bagi beberapa aspek pertumbuhan dan menunjukkan kesiapan
untuk memasuki masa dewasa awal. Seperti badan dan anggota badan menjadi berimbang, wajah
yang simetris, bahu yang berimbang dengan pinggul.

Dampak Pertumbuhan Fisik terhadap Kondisi Psikologis Remaja
Pertumbuhan fisik yang sangat pesat pada masa remaja awal ternyata berdampak pada
kondisi psikologis remaja, baik putri maupun putra. Canggung, malu, kecewa, dll. adalah
perasaan yang umumnya muncul pada saat itu.
Hampir semua remaja memperhatikan perubahan pada tubuh serta penampilannya.
Perubahan fisik dan perhatian remaja berpengaruh pada citra jasmani (body image) dan
kepercayaan dirinya (self-esteem).
Ada tiga jenis bangun tubuh yang menggambarkan tentang citra jasmani, yaitu endomorfik,
mesomorfik dan ektomorfik. Endomorfik banyak lemak sedikit otot (padded). Ektomorfik sedikit
lemak sedikit otot (slender). Mesomorfik sedikit lemak banyak otot (muscular).

2.2 Tugas-Tugas Perkembangan

Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial
psikologi manusai pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas
dan kompleks..Pada jenjang kehidupan remaja,seseorang telah berada pada posisi yang cukup
kompleks dimana ia telah banyak menyelesaikan tugas-tugas perkembanganya ,seperti misalnya
mengatasi sifat tergantung pada orang lain,memahami norma pergaulan dengan teman
sebaya,dan lainya.Secara sadar pada akhir masa anak-anak seorang individu berupaya untuk
dapat bersikap dan berperilaku lebih dewasa.Hal ini merupakan tugasyang cukup berat bagi
para remaja untuk lebih menuntaskan tugas-tugas perkembanganya
Tugas-tugas perkembangan tersebut oleh Havigurst dikaitkan dengan fungsi belajar,karena pada
hakikatnya perkembangan kehidupan manusia dipandang sebagai uopaya mempelajari norma
kehiduoan dan dan budaya masyarakat agar ia(mereka)mampu melakukan penyesuaian diri
dengan baik di dalam kehidupdn nyata.
Havigurst (Garrison,1956:14-15) mengemukakan 10 jenis tugas perkembangan remaja
yaitu:

1. mencapai hubungan dengan teman lawan jenisnya secara lebih memuaskan
dan matang;
2. mencapai perasaan seks dewasa yang diterima secara sosial;
3. menerima kedaan badanya dan menggunakanya secara efektif;
4. mencapai kebebasan emosional dari orang dewasa;
5. mencapai kebebasan ekonomi;
6. memilih dan menyipkan suatu pekerjaan;
7. menyiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga;
8. mengembangkan ketrampilan dan kosep intelektual yang perlu bagi warga Negara
yang kompeten;
9. menginginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial;dan
10. menggapai suatu perangkat nilai yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku