Anda di halaman 1dari 7

Biomaterial sudah sejak lama digunakan.

Pada zaman Mesir kuno dan Phoenic, gigi yang


lepas digantikan dengan gigi buatan yang diikatkan dengan kawat emas ke gigi yang berada
disebelahnya (Park et. Al, 2000) dan pada awal 1900-an, pelat tulang digunakan untuk
menyangga tulang yang patah dan untuk mempercepat penyembuhan tulang (Ben Nissan,
2004).[1]
Biomaterial menurut Black adalah material pasif yang digunakan dalam dunia kesehatan,
yang akan diinteraksikan dengan system biologi. Menurut William adalah material yang
digunakan pada sistem biologi untuk mengevaluasi, mengobati, atau mengganti sel-sel,
organ, atau fungsi tubuh. Dan menurut Park dan Bronzio adalah material sintetis yang
digunakan untuk mengganti bagian sistem atau fungsi tubuh yang dihubungkan langsung
dengan sel-sel hidup. Secara umum biomaterial dapat diartikan sebagai material yang
ditanam di dalam tubuh manusia untuk pengganti jaringan atau organ tubuh yang terserang
penyakit ataupun yang rusak atau cacat.[1]
Semua jenis material dapat digunakan, yaitu logam, keramik, polimer, komposit, dan
semikonduktor, dengan syarat material yang digunakan tidak beracun dan tidak mengganggu
jaringan-jaringan lain dalam tubuh manusia. [2]
Sifat
Keramik merupakan material padat, campuran inorganik yang terdiri dari elemen-elemen
metalik dan nonmetalik terikat bersama melalui ikatan ionik atau kovalen. Sebagian besar
keramik termasuk ke dalam campuran-campuran seperti silika (SiO2) dan alumina (Al2O3).
Bila diproses secara tepat sehingga memiliki kemurnian tinggi, mereka menunjukkan
biokompatibilitas yang sempurna (satu fungsi dari insolubilitas dan inertnesskimia) dan
ketahanan wear yang tinggi (keras, licin, permukaan hidrofilik). Material keramik merupakan
material yang sangat kaku dan brittle, namun sangat kuat di bawah beban kompresi. Dalam
orthopedi, keramik merupakan material yang baik untuk dua aplikasi yang sangat berbeda.
Pertama, termasuk penggunaannya dalam komponen-komponen arthroplastisendi total
sebagai keramik penuh, seperti alumina dan zirkonia, dengan ke-inert-an dan ketahanan wear
yang lebih superior dibandingkan alloy-alloy metalik. Kedua, termasuk pemakaian keramik,
sepert ikalsium fosfat dan bioglass (SiO2-Na2O-CaO-P2O5), sebagai pengganti graft tulang
dan sebagai selubungan osteokonduktif untuk implan-implan metalik, memungkinkan
permukaan-permukaan di mana tulang akan berikatan dengan peralatan tersebut.
Keberhasilan dan keterbatasan keramik pada aplikasi-aplikasi tersebut dapat dipahami
melalui pertimbangan akan ikatan-ikatan, struktur, dan sifat-sifat mereka.
[4]


Struktur mikro keramik
Kebanyakan keramik memiliki struktur mikro poligranuler yang sama seperti alloy metalik.
Sifat-sifat keramik tercatat luas karena karakteristik mikrostrukturnya, termasuk ukuran
grain, porositas, dan tipe dan distribusi fase-fase dalam masing-masing grain. Sebagaimana
halnya dengan alloy metalik, struktur mikro keramik dapat diubah secara bermakna melalui
teknik-teknik pemrosesan thermal.
Satu teknik tersering fabrikasi material keramik adalah mencampur partikel-partikel halus
dari material dengan air dan satu pengikat organik dan menekan mereka ke dalam satu mold
untuk membentuk sesuai yang diinginkan. Selanjutnya dikeringkan melalui pemanasan untuk
menguapkan airnya dan membakar habis bahan pengikatnya. Bagian ini kemudian di-fired
atau sintered pada satu temperatur yang lebih tinggi. Proses ini menjadikannya densifikasi
sebagaimana partikel-partikel masuk ke dalam kontak dekat yang terarahkan oleh
mekanisme-mekanisme seperti difusi, evaporasi, dan kondensasi yang mengurangi energi
permukaan total dalam bagian itu. Sebagaimana halnya dengan casting alloy metalik, mikro
struktur yang terjadi (sehingga juga sifat-sifatnya) dari bagian keramik akan bergantung pada
kontrol dari variabel-variabel kunci dalam pemrosesannya. Sebagai contoh, strength adalah
berbanding terbalik secara proporsional baik dalam hal ukuran grain maupun porositas.
Ukuran grain dapat dikontrol melalui ukuran awal partikel-partikel yang akan diguneakan
membentuk bagian, di mana semakin kecil ukurannya maka semakin kecil ukuran grain yang
didapat. Bagimanapun, ukuran grain akan meningkat selama pemrosesan berlangsung, di
mana porositas akan dikurangi, sehingga sintering time adalah sangat penting.
[4]


Biokeramik
Keramik adalah material logam dan non logam yang memiliki ikatan atom ionik atau ikatan
ionik dan ikatan kovalen.
[3]
Sedangkan pengertian biokeramik adalah keramik yang
digunakan untuk kesehatan tubuh dan gigi pada manusia (Billote, 2003). Sifat biokeramik
antara lain tidak beracun, tidak mengandung zat karsinogik, itdak menyebabkan alergi, tidak
menyebabkan radang, memiliki biokompatibel yang baik, tahan lama.
[1]

Kelebihan biokeramik adalah biokeramik memiliki biokompatibilitas yang baik dengan sel-
sel tubuh dibandingkan dengan biomaterial polimer atau logam (Billote, 2003). Oleh karena
itu, biokeramik digunakan untuk tulang, persendian, dan gigi (Billote, 2003). Biokeramik
juga digunakan untuk melapisi biomaterial logam (Desai et. al, 2008). Selain itu, biokeramik
juga digunakan sebagai penguat komponen komposit, dengan menggabungkan kedua sifat
material menjadi material baru yang memiliki sifat mekanis dan biokompatibel yang baik.
Struktur keramik juga dapat dimodifikasi dengan tulang alami dengan tingkat porosity yang
beragam (Hench dan Wilson, 1993). Biokeramik juga memiliki kelemahan, antara lain sangat
rapuh, kekuatan rendah, dan kerap dipandang material yang lemah.
[1]

Biokeramik dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
[1]

Reaksi sel implant Akibat Contoh
Bioinert Sel membetuk kapsul serabut
yang tidak menempel pada
disekitar impalnt
Alumina (Al
2
O
3
), Zirconia
(ZrO
2
) dan karbon
Bioaktif Sel membentuk ikatan antar
muka dengan implant
Hidroksi apatit, bio-glass, A-
W glass
Bioresorable Sel mengganti implant -tricalsium fosfat, hidroksi
apatit karbonat, kalsium
karbonat
Keramik Bioinert
Keramik bioinert adalah material keramik yang interaksi dengan sel-sel disekitarnya sangat
sedikit di dalam tubuh manusia. Reaktifitas kimianya rendah, pada waktu yang cukup lama
ikatan antar muka dengan sel tubuh juga sedikit (Bhat, 2005). Biokeramik jenis ini memiliki
kelebihan yaitu, relatif stabil di dalam tubuh manusia, tidak berbahaya, tahan korosi dan
tahan lama.
Kinerja keramik bioinert dalam tubuh dijelaskan sebagai berikut:
Kapsul serabut terbentuk disekitar permukaan implant bioinert dan tidak membuat ikatan
dengan tulang. Ketebalan kapsul tergantung dari kompatibeitas sel material bioinert. Semakin
baik kompatibelitas sel maka semakin tipis kapsul serabut yang terbentuk. Dengan demikian,
fungsi biokeramik ini tergantung pada intergrasi sel dengan implant yang ditanam (Ben
Nissan, 2004).
Contoh keramik jenis ini antara lain keramik single oxide, alumina, zirconia, karbon
termasuk ke dalam jenis keramik bioinert. Sedangkan aplikasinya adalah biasa digunakan
untuk pelat tulang, sekrup tulang, sendi buatan, katup jantung buatan, dan komponen bongkol
tulang paha (Billote, 2003; Li dan Hastings, 1998).
Keramik Bioaktif
Keramik bioaktif adalah keramik yang dapat menciptakan respon biologi di permukaan
material, yang akan menghasilkan suatu ikatan antara sel dan material. Pada prosesnya terjadi
reaksi kimia tetapi hanya dipermukaan saja (Billote, 2003). Kelemahan material ini antara
lain sifat mekanisnya lebih buruk dibandingkan dengan keramik bioinert, kecuali A-W glass
yang kekuatannya lebih tinggi daripada cortical bone. Oleh karena itu, keramik bioaktif tidak
dapat diaplikasikan untuk implant yang menahan beban seperti implant sendi.
[1]

Kinerja biokeramik bioaktif di dalam tubuh yaitu saat implantasi, permukaan keramik
bereaksi membentuk ikatan dengan sel-sel terdekat. Permukaan implant bereaksi terhadap
perubahan pH sekitar dengan melepas ion Ca
2+
, Na
+
, dan K
+
dan membentu membentuk
ikatan permukaan dengan sel-sel sekitar (Hench dan Wilson, 1993). Reaksi pertukaran antara
implant bioaktif dengan cairan tubuh disekitar implant pada beberapa kasus dapat
membentuk lapisan CHA (Carbonated Hidroxyapatite) yang menyerupai mineral yang
terkandung dalam tulang pada implant (Ben Nissan, 2004).
Contoh material jenis ini antara lain hidroksi apatit, bioglass, ceravital, keramik A-W glass.
Sedangkan aplikasinya adalah untuk pembedahan tulang dan pengisi cacat tulang. Material
ini digunakan dalam bentuk blok, material berpori, granula (Hench dan Kokuho, 1998).
Keramik bioresorable
Keramik bioserorable adalah material yang akan berbaur dan lama-lama tergantikan oleh sel-
sel baru yang tumbuh di dalam tubuh manusia. Atau dengan kata lain, implant restorable
didisain untuk terdegradasi perlahan dan tergantikan oleh sel-sel tubuh yang baru tumbuh.
Kelebihan material jenis ini antara lain dapat menghilangkan implant dan digantikan oleh
tulang yang dapat berfungsi dengan baik, sehingga dapat mengurangi efek masalah
biokompatibilitas. Kinerja keramik bioresorbable yaitu tingkat peresapan material implant
harus sesuai dengan tingkat pertumbuhan sel tubuh karena adanya kemungkinan kapasitas
penahanan beban implant melemah dan gagal (Hench dan Wilson, 1993).
Contoh material jenis ini antara lain -trikalsium fosfat, kalsium karbonat, kalsium sulfat,
carbonate apatite. Aplikasi material jenis ini adalah untuk membantu penyembuhan tulang
karena penyakit atau trauma, pengisi cacat tulang, obat (Billote, 2003).
[1]

Proses Produksi Ceramic Biomaterial Mengandung Material Tulang pada Alumina
Substrat
[5]

Proses pembuatan biomaterial keramik dimana substrate alumina dilapisi dengan lapisan
intermediet kalsium pirofosfat untuk menambal pori-pori material kalsium fosfat di keramik
alumina substrate. Pori-pori material kalsium fosfat adalah pori-pori yang berasal dari tulang.
Lapisan intermediet kalsium pirofosfat dan pori-pori material tulang berikatan.
Processing
1. Persiapan dari keramik alumina substrate
Slurry (adonan) disiapkan dengan penggilingan bubuk Alumina bersama dengan binder
(bahan pengikat), dispersant, air dll. Sampel dibuat dengan membentuk balok yang didapat
dari adukan. Setelah pengeringan, sampel disinterisasi untuk membentuk Sampel alumina
keramik substrate padat
1. Persiapan Kalsium Metafosfat (CP)
Kalsium Karbonat dan Amonium Bifosfat digiling basah (dengan menggunakan larutan
alkohol) di dalam ball mill yang mengandung alumina milling balls. Setelah hasil adonan
difilter, hasil adonan tersebut dipanaskan untuk menghilangkan larutan alkohol, kemudian
dikeringkan di pemanas pada suhu 70C selama 24 jam. Bubuk kering dipanaskan di suhu
tinggi (800C) selama 8 jam. Selanjutnya terbentuk bubuk Kalsium Metafosfat yang
berbentuk seperti buih / busa.
1. Pelapisan Alumina substrate dengan Kalsium Metafosfat (pelapisan pertama)
Komposisi lapisan larutan Kalsium Metafosfat disiapkan dengan mencampur bubuk Kalsium
Metafosfat dengan air deionisasi dengan bantuan dispersant pada beragam konsentrasi.
Sampel Alumina substrat dilapisi dengan cara mencelupkan didalam larutan Kalsium
Metafosfat. Setiap lapisan substrat kemudian disinterisasi sehingga dapat mencapai ikatan
yang kuat antara lapisan dan substrat. Sinterisasi berada pada suhu lebih dari 950C. Kalsium
Metafosfat tidak menempel ke alumina substrat sejak temperature sinterisasi lebih kecil dari
titik lebur Kalsium Metafosfat. Ketika suhu sinterisasi mencapai 1000C, Kalsium Metafosfat
berikatan kuat dengan Alumina substrat. Ketika suhu sinterisasi naik ke 1050C , sebuah fasa
baru terbentuk yaitu -Kalsium Metafosfat yang berada di daerah permukaan dari produk
sinterisasi. Setelah sekian waktu dipanaskan dengan suhu 1050C, seluruh Kalsium
Metafosfat bertransformasi menjadi -Kalsium Metafosfat
1. Pelapisan substrate dengan komposisi lapisan kedua mengandung Kalsium Metafosfat
dengan Hidroksiapatite
CaCO
3
dan NH
4
H
2
PO
4
digiling selama 5 jan di dalam ball mill yang mengandung alumina
milling balls dengan larutan alcohol. Setelah campuran dikeringkan dipemanas, Bubuk kering
tersebut dipanaskan mencapai 1400C pada tekanan atmosfer selama 8 jam. Hasilnya adalah
Tetracalsium Fosfat atau Hidroksiapatit. Hidorksiapatit dicampur dengan Kalsium Metafosfat
dengan perbandingan 1:2 di dalam ball mill dengan adanya alcohol. Campuran dikeringkan
dan digerinda untuk membentuk bubuk. Kemudian bubuk dicampur dengan air deionisasi
untuk membentuk komposisi adonan yang memiliki perbedaan konsentrasi solid. Hasil
komposisi adonan digunakan sebagai komposisi lapisan kedua yang digunakan pada sampel
alumina substrat yang sudah mengandung lapisan dari Kalsium Pirofosfat (first coating) yang
memiliki perbedaan ketebalan. Berdasarkan pengamatan menggunakan X-Ray difraksi,
bahwa fasa -Tri Kalsium Fosfat dan fasa -Kalsium Pirofosfat yang terbentuk di lapisan
kedua tergantung pada ketebalan lapisan dari pelapisan pertama dan suhu sinterisasi.
Proses untuk memproduksi biokeramik material pada tulang:
1. Mempersiapkan keramik alumina substrat
2. Membentuk lapisan Kalsium Fosfat pada keramik alumina substrat
3. Memanaskan material tulang sampai terbentuk material tulang berpori
4. Melapisi material tulang berpori dengan material Kalsium Fosfat
5. Menempatkan material tulang berpori yang telah dilapisi pada layer Kalsium Fosfat di
Alumina substrat untuk membentuk komposit dan disinterisasi untuk mengikat
material tulang berpori ke keramik alumina substrat.
[5]

Aplikasi
Dental Implan
Orthopedic implans
Scaffolds for tissue growth
Coating for chemical bonding
Coating for tissue ingrowth
Temporary bone space filler
Maxxillocial reconstruction
[6]

Crystalline Ceramic
Keramik kristalin ini mempunyai mechanical properties yang bagus. Oleh sebab itu biasanya
digunakan untuk ditanamkan didalam tubuh manusia pada bagian yang fungsinya untuk
menahan beban. Contoh aplikasinya pada hip prostheses dan dental Implan.
[7]

Alumina (Al
2
O
3
)
Alumina telah digunakan dalam pembedahan tulang lebih dari 20 tahun.
Properties :
Biocompatibilitasnya bagus
Koefisian gesekan rendah
Ketahanan ausnya tinggi
Kekuatannya tinggi
Aplikasi
Hip prostheses
Kneee prostheses
Dental implants
Porous Ceramic
Merupakan keramik inert, mekanikal stabilitasnya tinggi ketika tulang tumbuh di pori-pori
keramik. Biasanya digunakan untuk struktur penghubung atau tempat penggantungan pada
formasi tulang. Keramik porous ini hanya digunakan pada aplikasi yang tidak menopang
beban dikarenakan kekuatannya yang rendah. Contohnya hydrokxyapatite.
[7]

Hydroxyapatite (Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
)
Merupakan komponen kristalin utama pada fasa mineral tulang. Encourages pertumbuhan
tulang pada sepanjang permukaannya. Hydroxiapatite ini dapat membentuk ikatan fisik
dengan tulang setelah di inplankan ke dalam tubuh.
Aplikasinya:
Scaffolds for tissue growth
Pengisi tulang yang rusak/cacat
Coating pada metal implants
Corail Total Hip System
Tulang paha Corail memiliki kekuatan yang tinggi, alat dari titanium memiliki tekstur
permukaan yang kasar, sehingga harus dicoating menggunakan hydroxyapatite. Permukaan
yang kasar dari titanium dan hidroxyapatite tetap memungkinkan tulang baru untuk tumbuh
di sekitar implant secara biologis tanpa membutuhkan bantuan perekat atau material
pembantu lainnya.
Dental Implant
Gigi Implan (Dental Implants) adalah gigi yang terbuat dari bahan titanium berteknologi
tinggi yang berfungsi sebagai pengganti akar gigi asli yang hilang. Titanium digunakan
karena secara biologis titanium adalah bahan yang dapat beradaptasi dengan tubuh manusia.
Gigi implan (Dental Implants) dapat digunakan untuk menggantikan satu atau seluruh gigi
yang hilang.
Melalui operasi, gigi implan diletakkan di dalam tulang rahang yang berfungsi sebagai
jangkar bagi gigi pengganti. Setelah terbentuk ikatan antara gigi implan dan tulang rahang,
gigi implan dapat menjadi penyangga yang kokoh untuk crowns (makhota buatan), bridge
(protesa gigi jembatan), ataupun gigi palsu. Umunya biomaterial yang digunakan pada dental
implant ini adalah Al
2
O
3
, Hidroxyapatite, HA coating, bioactive glasses, endodontic glasses,
Ca(OH)
2.

Prosedur ini dapat menggantikan satu atau banyak gigi tanpa mempengaruhi gigi di
sebelahnya dan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi orang yang kehilangan seluruh
giginya.
[7]

Keuntungan dari sebuah implan adalah
1. Tidak perlu ada dua gigi untuk dijadikan penangga.
2. Tidak perlu ada pekerjaan pemangkasan gigi untuk memasang mahkota.
3. Hanya mengganti gigi yang hilang.
4. Bisa dipasang untuk menggantikan beberapa gigi yang hilang. Tidak ada batasan
rentang asalkan kesehatan pasien dan tulang rahang baik.
5. Gigi mirip seperti gigi asli.
Kendati demikian sistem implan ini juga memiliki kelemahan.
1. Biaya lebih mahal.
2. Waktu pemasangan relative lebih lama.
3. Biaya tidak ditanggung asuransi gigi.
4. Pasien akan mengalamai rasa ketidaknyamanan dan penyembuhan relative
lebih lama sebelum penanaman akar stabil.
[8]