Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PBL 1

Klasifikasi Isitilah
Cheilosis : fisura dan pembentukan sisik kering dipermukaan merah bibir dan
sudut mulut, karakteristik defisiensi riboflavin. (Dorland,2012)
koilonychia : distrofi kuku jari dengan kuku menjadi tipis, cekung dan tepi
meninggi (Dorland,2012)
atrofi : jadi kurus, pengecilan ukuran sel, jaringan, organ bagian tubuh.
(Dorland,2012)
papil atrofi : kerusakan saraf optikus, pucatnya papil karena hilangnya pembuluh
darah kapiler, akson, selubung myelin dan diganti dengan jaringan
glia. (Dorland,2012)
poikilositosis : adanya eritrosit menunjukkan keragaman bentuk yang
abnormal (Dorland,2012)
anisositosis : adanya eritrosit yang menunjukkan berbagai macam ukuran didalam
darah (Dorland,2012)







Pertanyaan :
1. Etiologi dan pathogenesis anemia :
Etiologi :
a. kehilangan darah yang berlebihan
b. kekurangan produksi sel darah merah
c. kerusakan sel darah merah yang lebih cepat
d. kekurangan zat besi, vitamin B12, asam folat, vitamin C
e. darah menstruasi yang berlebihan
f. penyakit tertentu (gastritis, radang usus buntu)
g. obat-obatan (aspirin, antiinflamasi)
h. penyakit radang kronis (lupus, ginjal)
Pathogenesis :
a. Eritrosit/hemoglobin menurun
b. Kapasitas angkut oksigen menurun
c. Terjadi anoksi organ target (kekurangan oksigen pada organ tertentu) dan
mekanisme kompensasi tubuh
d. Gejala anemia, seperti beratnya penurunan kadar Hb, kecepatan
penurunan Hb, umur (orang tua lebih cepat), kelainan kardiovaskular
sebelumnya





2. Patofisiologi anemia defisiensi zat besi :
patofisiologi anemia defisiensi besi secara morfologis, Keadaan ini
diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokromik dengan penurunan
kuantitatif sintesis hemoglobin. Definisi besi merupakan penyebab utama anemia
didunia dan terutama sering dijumpai pada perempuan usai subur disebabkan oleh
kehilangan darahsewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama
kehamilan .
Penyebab- penyebab lain defisiensi besi adalah :
1) asupan besi yang tidak cukup, misal , pada masa bayi bayi yang hanya diberi
diet susu saja selama 12 24 bulan dan pada individu individu tertentu yang
vegetarian ketat;
2) gangguan absorsi setelah gastrektomi
3) kehilangan darah menetap, seperti pada perdarahan saluran cerna lambat

akibat polip, neoplasma, gastritis, varises esofagus, ingesti aspirin dan
hemorroid.
Dalam keadaan normal tubuh seorang dewasa rata - rata mengandung 10 mg besi,
dan untuk seorang anak rata rata mengadung 11 12 mg besi bergantung pada
jenis kelamin dan ukuran tubuhnya (Supariasa, 2002) .
Lebih dari dua pertiga besi terdapat didalam hemoglobin. Besi dilepas dengan
semakin tua serta matinya sel dan diangkut melalui transferin plasma ke sumsum
tulang untuk eritropoiesis. Dengan pengecualian mioglobin ( otot ) dan enzim-
enzim heme dalam jumlah yang sangat sedikit, sisa zat besi disimpan di dalam
hati, limpa, dan dalam sumsum tulang sebagai feritinin dan hemosiderin untuk
kebutuhan kebutuhan lebih lanjut. Walaupun dalam diet rata rata mengandung
10 sampai 20 mg besi, hanya sekitar 5 % hingga 10 % ( 1 sampai 2 mg) yang
sebenarnya diabsorsi. Pada saat persediaan besi berkurang, maka lebih banyak
besi
diasbsorsi dari diet. Besi yang diingesti diubah menjadi besi ferro di dalam
lambung dan duodeunum serta diabsorpsi dari duodenum dan jejunum 1
proksimal. Kemudian besi diangkut oleh transferin plasma ke sumsum tulang
untuk sintesis hemoglobin atau ke tempat penyimpanan di jaringan.
Tiap mililiter darah mengandung 0,5 mg besi. Kehilangan besi umumnya
sedikit sekali, dari 0,5 sampai 1mg / hari . Namun , yang mengalami menstruasi
kehilangan tambahan sebanyak 15 sampai 28 mg / bulan. Walaupun kehilangan
darah karena menstruasi berhenti selama kehamilan, kebutuhan besi harian
meningkat untuk mencukupi permintaan karena meningkatnya volume darah ibu
dan pembentukan plasenta, tali pusat, dan janin , serta mengimbangi darah yang
hilang selama kelahiran. Selain tanda tanda dan gejala gejala yang terjadi pada
anemia, individu dengan defisiensi besi yang berat ( besi plasma kurang dari 40
mg / dl: hemoglobin 6 sampai 7 g/ dl) memiliki rambut yang rapuh dan halus
serta kuku tipis, rata , mudah patah dan mungkin berbentuk sendok (koilonikia).
Selain itu, antrofi papila lidah mengalibatkan lidah tampak pucat , licin,
mengkilat, bewarna merah daging, dan meradang serta sakit. Dapat juga terjadi
stomatitis angularis, pecah pecah disertai kemerahan dan nyeri di sudut
mulut.Pemeriksaan darah menunjukan jumlah SDM normal atau hampir normal
dan kadar hemoglobin berkurang, Pada asupan darah perifer, SDM mikrositik
dan hipokromik ( MCV, MCHC, dan MCH berkurang ) disertai poikilositosis dan
anisositosis. Jumlah retikulosit dapat normal atau berkurang . Kadar besi
berkurang sedangkan kapasitas mengikat besi serum total meningkat. Untuk
mengobati difesiensi besi, penyebab dasar anemia harus diidentifikasi dan
dihilangkan. Intervensi pembedahan mingkin diperlukan untuk menghambat
perdarahan aktif akibat polip, ulkus, keganasan dan hemoroid: perubahan diet
dapat diperlukan untuk bayi bayi yang hanya diberi susu atau individu dengan
idionsnkrasi makanan atau yang menggunakan aspirin dalam dosis besar.
Walaupun modifikasi diet dapat 16 meningkatkan besi yang tesedia ( misalnya,
dengan menambahkan hati ) , suplementasi besi diperlukan untuk meningkatkan
hemoglobin dan mengembalikan cadangan besi. Besi tersedia dalam bentuk
parenteral dan oral . sebagian besar orang berespon baik terhadap senyawa
senyawa oral seperti ferosulfat , 325 mg tiap tiga kali sehari selama paling sedikit
6 bulan untuk menggantikan cadangan besi. Sediaan besi perenteral digunakan
pada pasien yang tidak dapat menoleransi sediaan oral atau yang tidak patuh. Besi
parenteral memiliki insiden terjadinya reaksi reaksi yang merugikan relatif
tinggi. Pasien tersebut diberikan dosis ujidan dipantau selama satu jam. Kila
pasien tersebut tidak mengalami efek samping , sisa dosisnya diberikan 2 jam
kemudian .

3. Metabolism besi :
Tambahan : pada saat sudah menjadi transferrin lalu masuk kedalam sumsum
tulang dan bergabung dengan protophosfirin menjadi heme lalu setiap heme
mengikat 1 globin dan terbentuklah hemoglobin yang kemudian diedarkan ke
jaringan yang membutuh lalu sisanya akan disimpan sebagai protein ferritin
didalam hati, sumsum tulang, limfa dan otot.

DAFTAR PUSTAKA
Dorland, W. A. (2012). Kamus Saku Kedokteran Dorland (28 ed.). Jakarta: EGC.
Bakta, IM. 207. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC.
Hofbrand, AV. et al. 205. Kapita Selekta Hematologi. Jakarta: EGC