Anda di halaman 1dari 16

METODE DAN ALAT FIKSASI PADA TRAUMA OROMAKSILOFASIAL

Heri Herliana
Npm. 16012109000
Pe!er"a Pr#$ram Pen%i%i&an D#&"er 'i$i Spe!iali! (e%a) M*l*"
Fa&*l"a! Ke%#&"eran 'i$i Uni+er!i"a! Pa%,a%,aran
(an%*n$
2009
A-!"ra&
Prinsip dasar perawatan pada kasus trauma oromaksilofasial khususnya pada kasus
kasus fraktur meliputi tindakan emergensi dan tindakan definitif. Tindakan emergensi
ditujukan untuk menyelematkan jiwa dan mempersiapkan kondisi penderita agar stabil.
Sehingga bisa dilakukan tahap selanjutnya yaitu tindakan definitif perawatan fraktur
oromaksilofasial yang meliputi tiga tindakan utama yaitu: reduksi/reposisi, fiksasi, dan
imobilisasi. Kuni keberhasilan perawatan salah satunya tergantung pada pemilihan
metode dan alat fiksasi yang tepat dan adekuat.
!akalah ini bermaksud untuk memberikan gambaran penatalaksanaan trauma
oromaksilofasial khususnya dalam hal pemilihan metode dan alat fiksasi yang tepat dan
adekuat.
Ka"a K*n.i/ Trauma oromaksilofasial, perawatan definitif, alat dan metode fiksasi
PENDAHULUAN
Tulang rahang dan tulang di daerah wajah "oromaksilofasial# merupakan salah satu
bagian dari tubuh manusia yang sering mengalami fraktur. Terutama mandibula yang
mempunyai bentuk seperti busur panah dengan bagian terlemah pada kedua ujungnya dan
daerah dagu yang merupakan bagian paling menonjol dari wajah, sehingga mandibula
mudah sekali mengalami fraktur jika terkena trauma. $emikian pula halnya dengan
maksila yang merupakan bagian dari tulang%tulang pembentuk wajah, saling berhubungan
satu dengan yang lainnya melalui sutura sutura yang merupakan bagian yang lemah,
ditambah adanya sinus maksilaris yang menempati sebagian besar maksila dengan dinding
dindingnya yang tipis, menyebabkan maksila juga rentan terhadap fraktur
&
.
'igi geligi dapat merugikan namun dapat juga menguntungkan pada kasus
kasus fraktur oromaksilofasioal. Keberadaan gigi geligi dapat memudahkan terjadinya
fraktur jika terjadi trauma pada daerah oromaksilofasial, namun oklusi gigi geligi juga
1
dapat dipakai sebagai pedoman "guidance# untuk reduksi fragmen tulang dan fiksasi
maksilomandibular
(
.
Perawatan fraktur rahang pada dasarnya meliputi tiga tindakan, yaitu: reduksi,
fiksasi, dan immobilisasi. )eduksi adalah menempatkan kembali fragmen fragmen
tulang yang mengalami fraktur pada posisi anatomi semula sehingga saling merapat
kembali. *iksasi adalah mempertahankan hasil reduksi tersebut, sedangkan imobilisasi
adalah mempertahankan posisi tulang yang telah difiksasi dalam keadaan tidak bergerak
dalam jangka waktu tertentu sampai terjadi penyembuhan
+
.
TIN0AUAN UMUM PERA1ATAN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL
Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan
dengan trauma pada bagian tubuh yang lain "trauma multiple#. Sehingga tahap%tahap
penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. ,dapun tahap%tahap
penanganan trauma adalah sebagai berikut
-
:
&. Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit
a. !empertahankan jalan napas
b. !enghentikan perdarahan eksternal
. Stabilisasi fraktur
d. Stabilisasi tulang belakang
e. Tranportasi epat ",mbulatory#
(. )esusitasi dan penanganan primer
a. ,./ ",irway, .reathing, /irulation#
b. )esusitasi airan
. Pemantauan
+. $iagnosis dan penanganan sekunder
a. Pemeriksaan fisik menyeluruh
b. )adiografi
. Pemeriksaan 0aboratorium
d. )esusitasi dan pemantauan lanjut
-. Perawatan $efinitif
a. Pembedahan
b. Perawatan non operatif
. 1utritional support
2. )ehabilitasi
Penan$anan Se-el*m Di-a2a &e R*ma) Sa&i"
Tujuan penanganan sebelum penderita dibawa ke rumah sakit yaitu menyelamatkan
jiwa penderita sebelum mendapatkan penanganan yang lebih lanjut di rumah sakit.
Penyebab kematian paling sering sebelum penderita tiba di rumah sakit adalah trauma
pada otak dan sumsum tulang belakang. Perawatan penderita edera akut dengan faktur
pada daerah wajah, pertama kali harus ditujukan pada penyelamatan jiwa dengan
2
memperhatikan jalan nafas dan pernafasan, dan sirkulasi ",ir ways, .reathing,
/irulation#, serta kontrol perdarahan
-
.
3alan nafas penderita dengan fraktur oromaksilofasial dapat terganggu dengan
adanya sumbatan dari jalan nafas, yang dapat disebabkan oleh gigi palsu yang terdorong
masuk ke jalan pernafasan, fragmen tulang, gigi yang terlepas ke daerah tenggorokan,
gumpalan darah yang membeku, dinding faring yang kolaps, lidah terkulai ke belakang,
sehingga menyebabkan hipoksia pada otak. Pada keadaan ini penolong dapat memberikan
nafas buatan dan jika perlu dapat dilakukan intubasi endotrakeal atau trakeostomi.
'ambar. Pemasangan Tube 4ndotrakeal
2
a. insisi kulit
b. rawat perdarahan
. anestesi loal
d. melubangi trakea
3
'ambar. Trakeostomi
2
Kematian pada penderita dengan trauma oroma5illofasial juga dapat disebabkan
oleh perdarahan yang tidak epat diatasi. Perdarahan dapat terjadi seara internal maupun
eksternal. Pada perdarahan internal hanya dapat diatasi di rumah sakit. Penanganan
perdarahan di tempat keelakaan diutamakan pada perdarahan eksternal. /ara
mengatasinya dengan melakukan penekanan pada luka dan jika perdarahan masih
berlangsung terus dilakukan pengikatan "ligasi#. Perdarahan yang keluar dari hidung dapat
diatasi dengan meletakan tampon di lubang hidung depan dan belakang
2
.

'ambar. Penanganan Perdarahan
hidung
2
Pemberian airan intra6ena dapat diberikan jika transportasi diperkirakan
memerlukan waktu lebih dari +7 menit, atau perdarahan berat melebihi 27 permenit.
Pergunakan airan hipertonik
-
.
Sebelum penderita dibawa ke rumah sakit usahakan dilakukan stabilisasi dari
frakturnya dengan ara menggunakan splint/spalk atau pengikatan. Penderita hanya boleh
dipindahkan jika tidak terdapat fraktur tulang belakang atau leher. 0akukan stabilisasi
4
fraktur tulang terlebih dahulu sebelum memindahkan pasien dengan ara menggunakan
nek olar hard "penyangga leher yang kaku# dan soop strether untuk fraktur tulang
belakang. 8ntuk fraktur pada daerah oromaksilofasial dapat dilakukan dengan pengikatan
dari atas kepala ke dagu
2
.
Re!*!i"a!i %an Penan$anan Primer
Seringkali trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian
tubuh lain "trauma multiple#, misalnya trauma mengenai erebro kardio6askuler, saraf,
dada, dan anggota gerakan lainnya. Pada keadaan ini kita mendahulukan penanganan
trauma yang paling menganam jiwa. 8ntuk penderita dengan trauma oromaksilofasial
pendekatan awal sedikit berbeda dengan edera yang lain. Perhatian harus segera
diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal, sebelum
melakukan pemeriksaan tanda%tanda 6ital, keadaan%keadaan itu harus ditangani lebih
dahulu oleh karena menganam jiwa penderita.
'angguan jalan napas dapat dilihat dari beberapa keadaan seperti stridor "napas
berbunyi#, sianosis, takhipnea lebih dari (2 kali permenit, retraksi interkostal dan bernapas
menggunakan otot tambahan. 'angguan jalan napas pada trauma oromaksilofasial dapat
disebabkan oleh keadaan%keadaan seperti glossoptosis floating maksila pada fraktur 0e
*ort 99 dan 999. 'lossoptosis pada umumnya karena fraktur mandibula segmental dan
dislokasi sehingga lidah seakan%akan lepas dari organnya, akibatnya dapat terjadi
gangguan napas dan mengganggu proses menelan, sehingga air ludah, darah, peahan gigi
akan terkumpul dalam rongga mulut. Pada penderita dengan gangguan kesadaran dapat
menyebabkan aspirasi. *loating maksila pada fraktur maksila 0e *ort 99 dan 999 dimana
maksila terlepas dari segmen atas dan menyumbat jalan napas. 8ntuk mengatasi keadaan
keadaan ini dengan ara membersihkan orofaring dari hematom, muntahan, benda%benda
asing seperti gigi palsu dengan bantuan penghisap yang mempunyai lubang besar "plastik
:ankauer#. Pergunakan laringoskop untuk memeriksa dan membantu dalam pengisapan
orofaring dari laring. $isamping itu dapat dilakukan dengan ara manual yaitu dengan
menggunakan jari yang diletakkan di lateral "daerah pipi# dengan ujung jari di belakang
mulut, kemudian jari mengorek ke medial dan depan untuk mengeluarkan debris. 3ari
jangan didorong lurus sebab mengakibatkan debris terdorong masuk ke dalam saluran
pernapasan kemudian diulangi pada bagian mulut seberangnya
2
.
8ntuk mengatasi obstruksi napas oleh karena floating maksila pada fraktur maksila
0e *ort 99 dan 999 dimana maksila terlepas dari segmen atas dengan ara menarik maksila
5
ke depan. !asukkan jari telunjuk dan jari tengah ke dalam mulut dan letakkan di belakang
atas palatum mole, sedangkan ibu jari diletakkan di tempat gigi inisi6us
2
'ambar : /ara mengatasi obstruksi napas oleh karena fraktur maksila 0e *ort 99 dan 999
2
*raktur orpus mandibula bilateral atau fraktur simfisis dapat menyebabkan insersi
lidah jatuh ke belakang ada saat penderita tidur terlentang, hal ini menyebabkan penutupan
pada orofaring. /ara mengatasinya dengan melakukan retraksi lidah dengan benang yang
dijahitkan trans6ersal di daerah dorsum lidah, kemudian meletakkan tarikan benang
tersebut ke wajah samping dengan bantuan plester
;
.
'ambar : /ara mengatasi obstruksi napas pada fraktur mandibula bilateral
2
.
Pemberian pernafasan dapat menggunakan sungkup "Face Mask# atau kanula
hidung. Pada fraktur wajah penggunaaan sungkup tidak dimungkinkan sehingga
pemberian oksigen melalui hidung segera dilakukan. 3ika dengan ara tersebut belum
menukupi dilakukan intubasi melalui mulut atau hidung, dan diberikan oksigen &77<.
Kadang%kadang pada trauma oromaksilofasial yang luas intubasi tidak dapat dilakukan
sehingga diperlukan trakeostomi. 9ntubasi dan trakeostomi hanya dapat dilakukan pada
penderita yang tidak sadar. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi
6
perdarahan pada rongga mulut, hidung, sinus paranasalis, nasofaring "dari basis ranii#
atau perdarahan dari hidung "fraktur nasalis, fraktur maksila#.
Penanganan perdarahan eksternal pada trauma oromaksilo fasial sudah harus
dilakukan saat sebelum tiba di rumah sakit. 3ika belum dilakukan, hendaknya dilakukan
bersamaan dengan penanganan jalan nafas. Penjepitan pembuluh darah seara aak harus
dihindari karena dapat membahayakan pembuluh darah balik dan saraf. Perdarahan yang
banyak bisa mengakibatkan syok hipo6olemik. 8ntuk ukup atau tidaknya aliran darah
dapat diketahui dengan memperhatikan keadaan%keadaan seperti tensi yang menurun,
denyut nadi yang melemah, nafas yang epat, dan perabaan pada daerah akral dari
ektremitas. )esusitasi airan dapat diberikan sesuai dengan keadaan klinis.
Dia$n#!a %an Penan$anan Se&*n%er
Setelah obstruksi saluran nafas dan perdarahan dapat diatasi maka dilanjutkan
dengan pemeriksaan tanda%tanda 6ital dan status neurologis, paling tidak mengenai tingkat
kesadaran, yaitu orientasi terhadap waktu dan tempat. Pembukaan mata merupakan alat
pemeriksaan yang berharga untuk menentukan tingkat kesadaran dan dinilai berdasarkan
kemampuan pasien membuka matanya jika diberi stimulus tertentu termasuk stimulus
yang menyakitkan apabila diperlukan. $urasi amnesia pasa trauma merupakan indikator
yang baik untuk menunjukkan tingkat kerusakan otak apabila ada.
Skala koma dari 'lasgow untuk e6aluasi edera kepala
Skor !ata "4# =ariabel "=# !otorik "!#
& )espon % )espon % )espon %
( Terbuka karena
rangsang sakit
Tidak dipahami 4kstensi "deerebrate#
+ Terbuka bila diperintah Tidak tepat *leksi "deortiode#
- Terbuka spontan bingung 'erakan tidak spesifik
2 .erakap%akap !enunjukan tempat
yang sakit
> .isa melakukan perintah
Tingkat keparahan kerusakan otak dilihat dari durasi amnesia pasa trauma
Kurang dari 2 menit sangat ringan
2%>7 menit ringan
&%(- jam sedang
&%; hari parah
7
&%- minggu sangat parah
lebih dari - minggu ekstrim
Sumber : Purwadianto, (777
>
Pemeriksaan dilanjutkan pada leher dan kepala. 0uka%luka pada wajah diatat
mengenai lokasinya, panjangnya, kedalamannya, dan kemungkinan terlibatnya struktur
dibawahnya seperti saraf dan glandula.
.agian yang mengalami abrasi dan konduksi diatat. 4dema fasial diobser6asi dan
die6aluasi karena dapat merupakan tempat yang terkena benturan trauma atau merupakan
tanda adanya kerusakan struktur dibawahnya misalnya hematom, fraktur atau keduanya.
8ntuk pemeriksaan saraf%saraf kranial yaitu ner6us kelima sampai dengan ketujuh dites
untuk mengetahui apakah terjadi palsi. $apatkah pasien mengangkat alisnya dan
meretraksi sudut mulut? $apatkah bola matanya digerakkan bebas atau apakah pupilnya
bereaksi sinar dan berakomodasi?
Pemeriksaan wajah bagian tengah dapat dilakukan dengan ara manual atau digital
adalah dengan memalpasi dimulai dari superior ke inferior. Pemeriksaan dimulai dari
aspek medial dari lingkaran supraorbital seara bilateral. @s nasal dan sutura nasofrontalis
dipalpasi seara bersamaan kanan dan kiri "bidigital#. Palpasi diteruskan ke arah lateral
menyilang lingkaran supraorbital menuju sutura Aigomatio frontalis. 3aringan lunak yang
menutupinya digeser dan sutura dipalpasi apakah terjadi penyimpangan. .agian yang
mengalami nyeri tekan dan baal juga diatat karena dapat menunjukkan adanya fraktur
atau edera pada saraf. Pada bagian mandibula dilihat relasi terhadap maksila. ,pakah ada
pergeseran atau tidak. $apat juga dengan memerintahkan pasien untuk melakukan gerakan
tertentu. Tepi inferior dan posterior mandibula dipalpasi mulai dari proesus ondylaris
sampai ke simfisis mandibula. 8ntuk pemeriksaan rongga mulut yang dilihat pertama kali
adalah oklusi. $apatkah gigi dioklusikan seperti biasa? $ataran oklusi dari maksila dan
mandibula diperiksa kontinuitasnya dan adanya step deformitas. Perlu diperhatikan bila
terjadi fraktur maksila berat dengan dislokasi kraniofasial dan edera lempeng kribiformis
dapat disertai keluarnya airan jernih dari lubang hidung dan telinga atau faring yang
dikenal dengan airan erebrospinal
(,+
.
8
'ambar. Pemeriksaan *raktur seara bimanual
-

Pada pemeriksaan radiologi diperlukan waterBs 6iew, oklusal foto bila
memungkinkan, panoramik foto, /aldwell, /T san koronal wajah dapat memberikan
informasi yang baik pada fraktur maksila sagital. Sedangkan /T san aksial dapat
mendeteksi fraktur pada lempeng pterigoidalis
+
.
Setelah pemeriksaan fisik seara menyeluruh dan didukung oleh pemeriksaan
radiografi dan laboratorium dilakukan maka dilanjutkan dengan proses diagnosa dan
tindakan perawatan definitif.
PEM(AHASAN
PERA1ATAN DEFINITIF TRAUMA OROMAKSILOFASIAL
Perawatan definitif trauma oromaksilofasial/fraktur rahang dilakukan setelah
keadaan umum penderita lebih baik, terkontrol, dan telah melewati masa kritis melalui
perawatan gawat darurat. Pada prinsipnya perawatan definitif trauma oromaksilofasial
terdiri atas tindakan reduksi/reposisi, fiksasi, dan imobilisasi
&,+,C
Re%*&!i a"a* Rep#!i!i
)eduksi atau reposisi dari fraktur rahang adalah mengembalikan fragmen
fragmen tulang yang mengalami farktur ke posisi anatomi semula. Pedoman yang paling
baik dalam tindakan reduksi adalah oklusi dari gigi geligi. Seara umum terdapat dua
9
metode dalam tindakan reduksi rahang, yaitu reduksi tertutup "closed reduction# dan
reduksi terbuka "open reduction#
+
.
)eduksi tertutup
,dalah suatu tindakan reduksi fraktur tanpa melakukan pembedahan atau operasi,
fiksasi dan imobilisasi biasanya menggunakan alat yang sama. 9ndikasinya:
1. 3ika gigi gigi pada kedua rahang atas dan bawah ukup tersedia sehingga
oklusi dapat dibangun kembali, dan gigi gigi tersebut dapat dijadikan sebagai
penyangga alat fiksasi.
2. Pada fraktur rahang yang masih baru dengan elah antar fragmen yang tidak
terlalu lebar.
3. Pada fraktur dengan garis fraktur yang berlawanan dengan arah tarikan otot
"favorable fracture# dengan minimal displacement.
)eduksi terbuka
,dalah tindakan reduksi fraktur dengan ara pembedahan atau operasi. Pada
reduksi terbuka tindakan reposisi, fiksasi, dan imobilisasi biasanya menggunakan alat yang
berbeda. )eposisi dapat menggunakan alat berupa suatu interosseus wiring, bone plate
with screw, intramedullary wire, pin dan rods. )eduksi terbuka merupakan metode paling
akurat dalam tindakan reposisi segmen segmen fraktur, karena dengan metode ini dapat
diperoleh pandangan langsung terhadap lokasi tulang yang mengalami fraktur.
9ndikasinya:
1. Tidak terdapat ukup gigi untuk mendapatkan oklusi pada reduksi terttutup.
2. *raktur dengan displaement fragmen yang sangat lebar.
3. Pada kasus % kasus: non-union, mal-union, dan fibrous fracture
. Pada garis fraktur yang tidak menguntungkan "unfavorable fracture#
!. 3ika dibutuhkan bone grafting.
Fi&!a!i %an Imm#-ili!a!i
Tindakan utama perawatan trauma oromaksilofasial adalah pada tahap perawatan
definitif yang dimaksudkan untuk mereposisi dan merekontruksi tulang tulang
oromaksilofasial sedapat mungkin seperti keadaan sebelum terjadi trauma. 1amun tentu
saja perawatan definitif ini harus dilakukan setelah keadaan umum pasien stabil,
terkontrol, dan telah melewati masa kritis. Seperti telahdisebutkan diatas bahwa perawatan
definitif trauma oromamaksilofasial meliputi tiga tindakan, yaitu: reposisi/reduksi, fiksasi,
dan imobilisasi.
8ntuk mendapatkan hasil penyembuhan fraktur yang baik, fragmen fragmen
tulang harus terikat dengan kuat pada posisi anatomi semula. ,danya pergerakan antar
fragmen tulang dapat mengganggu proses penyembuhan dan meningkatkan resiko
terjadinya fibrous union. *iksasi yang baik menghsilkan terbentuknya kalus pada proses
penyembuhan fraktur dimana terjadi remodeling tulang seara perlahan sehingga terbentuk
10
kontur tulang yang normal. Pada prinsipnya fiksasi dapat berupa alat yang rigd, semi%rigid,
atau non%rigid dimana penempatannya dapat internal maupun eksternal. Posisi yang akurat,
oklusi dan angulasi yang baik, tidak adanya interposisi jaringan lunak serta reduksi yang
benar sangat penting untuk memastikan terjadinya penyembuhan tulang yang baik.
Penutupan jaringan lunak baik itu mukosa maupun kulit sangat penting khususnya dalam
kasus kasus penggunaan fiksasi internal
2.

Pada makalah ini akan dibahas khususnya metode dan jenis jenis fiksasi yang
sering digunakan pada perawatan trauma oromaksilofasial. Seara umum fiksasi pada
trauma oromaksilofasial dapat dibagi menjadi tiga jenis
+
:
Fi&!a!i In"rama&!ila
:aitu suatu ara fiksasi dengan jalan pengikatan gigi geligi hanya pada rahang atas
atau rahang bawah saja. !isalnya metode wiring eyelet, 4ssig, rigid arh bar pada satu
rahang, dan lain lain.
&. Twisted loop atau 4yelet !ethod
!etode ini pertama kali diperkenalkan oleh 96y, kawat yang digunakan biasanya
jenis stainless steel ukuran 7,- mm atau 7,2 mm sepanjang D (7 m. Kawat tersebut dilipat
dan dipilin sehingga salah satu ujungnya membentuk bulatan "loop#, kedua ujung kawat
yang bebas kemudian dilewatkan dari permukaan luar lengkung gigi melalui ruang
interproksimal dua gigi yang berdekatan. Salah satu ujung kawat tersebut dilewatkan
sekeliling permukaan lingual gigi depannya, ujung kawat lainnya dilewatkan sekeliling
gigi dibelakangnya. Kedua kawat akan bertemu dipermukaan luar lengkung gigi,
kemudian diikatkan dengan kuat satu sama lainnya sehingga membentuk satu eyelet
>
.

Tahap tahap pembuatan eyelet
-
11

'ambar &. "yelet # "ssig Method
&,-
Fi&!a!i In"erma&!iler
,dalah suatu ara fiksasi fraktur rahang dengan ara menguni gigi geligi rahang
atas dan rahang bawah dalam keadaan oklusi dengan menggunakan kawat atau rubber
elasti band. !isalnya metode 'ilmer, 96yBs loop, Stout ontinous, arh bar dari 3elenko,
Einter, 4rih, ,ustin, dan penggunaan splint dari logam atau akrilik. 8ntuk perawatan
kasus fraktur rahang edentulous dapat digunakan denture atau 'unning splint yang
dikombinasikan dengan kawat atau rubber elasti band.

, .
*iksasi intermasiler: ,. srew F wire, .. 'unning splint untuk rahang edentulous
G
*iksasi intermaksiler dengan 4rih bar F rubber elasti
12
Fi&!a!i E&!"rama&!iler
,dalah suatu ara fiksasi yang dilakukan dari luar rongga mulut, dapat dibagi
menurut penempatannya: ranial, fasial, oksipital, frontal, dan ser6ikal. Sedangkan alat
yang digunakan dapat berupa: bandage, head ap strips, adhesi6e tape, head gear, head
frame, dll.

*iksasi 45tramaksiler
&,+
Open Re%*."i#n an% Ri$i% In"ernal Fi3a"i#n 4ORIF5
,dalah salah satu bentuk fiksasi pada fraktur rahang yang dilakukan dengan ara
mengaplikasikan langsung alat fiksasi pada tulang rahang sehingga didapatkan suatu
kekuatan fiksasi yang adekuat. ,lat yang digunakan berupa plate F srew dan untuk kasus
fraktur maksilofasial biasanya dari jenis miniplate
13

.one plate F srew fi5ation
&
Pr#!e%*r Pema!an$an In"er%en"al 1irin$ 4ID15 %i RSHS
&. !elakukan tindakan aseptik yaitu sterilisasi alat, bahan dan daerah operasi termasuk
juga operator kemudian pasang duk bolong pada pasien,
(. !elakukan anestesi lokal yaitu blok n. al6eolaris superior kiri kanan dan
n.nasopalatinus untuk rahang atas, sedangkan untuk rahang bawah dilakukan blok
mandibular.
+. *ragmen tulang direposisi sedemikian rupa sehingga posisinya kembali seperti
keadaan semula sebelum kejadian fraktur.
-. !engukur 4rih bar disesuaikan lengkung rahang. 4rih bar kemudian diadaptasikan
pada permukaan bukal/labial lengkung gigi rahang atas dan bawah pada daerah
sepertiga apikal mahkota gigi mulai gigi !H kiri sampai dengan !( kanan.
2. 4rih bar diikatkan pada gigi geligi dengan ara melewatkan kawat stainless steel 7.-
mm pada ruang interproksimal gigi menyilang 4rih bar, di bagian lingual/palatal
kawat harus berada di bawah garis ser6ik gigi aranya ditekan dengan luniatscheck
"lidah ular#. Kedua ujung kawat dijepit dengan arteri lam lurus ditarik dan diputar
searah jarum jam kemudian dipotong dan disisakan D7,2 m. Sisa kawat yang sudah
dipilin ditekuk dan disembunyikan disela sela gigi agar tidak mengiritasi gusi dan
mukosa. Kemudian dites apakah 4rih bar tersebut sudah kenang ikatannya.
>. Pasien disuruh menutup mulut, kalau oklusi sudah terapai dengan baik maka 4rih
bar pada rahang atas dan bawahlangsung diikat dengan kawat stainless steel melalui
kaitannya "hook#. Tetapi kalau oklusi belum terapai dengan baik dipasang dahulu
rubber elasti baru berikutnya diganti dengan kawat jika oklusi sudah baik.
;. Pada perawatan dengan open reduction 4rih bar bisa dipasang satu hari sebelum
operasi atau bisa juga bersamaan dengan waktu operasi. 3ika langsung dilakukan
fiksasi intermaksiler maka harus dipasang pula nasogastri tube.
C. Pemberian obat obatan: antibiotik, analgetik, 6itamin, dll.
14
G. 9ntruksi pada pasien yang tidak dirawat inap untuk diet lunak atau air, kebersihan
mulut harus selalu dijaga dengan ara disemprot "spooling# atau berkumur sesring
mungkin. Setiap seminggu sekali pasien diintruksikan untuk kontrol
&7. Pada minggu keempat atau keenam, dibuat foto panoramik atau foto lainnya pada
daerah fraktur sehingga dapat dilihat proses penyembuhan tulang, jika tulang sudah
menyatu dengan baik kawat intermaksiler dilepas. Pasien diintruksikan untuk
melatih sendi dan otot otot pengunyahannya serta mulai membiasakan makan
makanan yang padat. Satu minggu kemudian 4rih bar pada rahang atas dilepas,
minggu berikutnya baru 4rih bar rahang bawah.
&&. 3ika terjadi komplikasi berupa gangguan sendi dan otot otot pengunyahan yang
tidak dapat ditanggulangi dengan latihan sendiri. Pasien diinstruksikan untuk
mendapatkan perawatan rehabilitatif di 8nit )ehabilitasi !edis.
KESIMPULAN
&. Perawatan fraktur rahang pada dasarnya meliputi tiga tindakan yaitu:
reposisi/reduksi, fiksasi, dan imoblisasi
(. !etode fiksasi pada fraktur rahang sangat banyak jenisnya namun yang paling sering
digunakan adalah metode fiksasi intermaksiler, yaitu suatu metode fiksasi dimana
rahang atas dan rahang dibawah dikuni dalam keadaan oklusi dengan menggunakan
kawat atau rubber elasti.
+. Tindakan reposisi, fiksasi, dan imobilisasi harus dilakukan seakurat mungkin untuk
menegah terjadinya komplikasi komplikasi yang tidak diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
&. *onsea, ).3. et al. . (772. $ral and Ma%illofacial &rauma. +rd ed. =ol. (. St 0ouis:
4lse6ier.
(. Pedersen, 'E. &GG>. .uku ajar praktis bedah mulut. ,lih bahasa Purwanto,
.asoeseno. 3akarta. 4'/
+. Kruger '.@. &GC-, &e%took of oral and ma%illofacial surgery. >
th
edition. Saint 0ouis.
!osby /ompany.
-. )aymond and Eolker, &GG&, $ral and ma%illofacial &rauma. =ol 9, E... Saunders
/ompany, Philadelphia, /o
2. Iuthinson and Skinner, &GG>, '() of Ma*or &rauma (
nd
ed .!3 Publishing 'roup,
0ondon.
>. ,gus Purwadianto F .udi Sampurna. Kedaruratan !edik. (777. Pedoman
Penatalaksanaan Praktis. 4disi )e6isi
;. K. )iden. &GGC. +ey &opics in $ral and Ma%illofacial ,urgery. .ios Sientifi
Publisher. @ford. 8K.
15
C. !. /arthy, 3.'. &GG7. Plasti Surgery. =ol. (. Philadelphia. E.. Saunders
/ompany.
G. !iloro ! et al. -eterson.s -rinciples of $ral and Ma%illofacial ,urgery 2
nd
.
Iamilton, 0ondon : ./ $eker 9n. (77-
16