Anda di halaman 1dari 177

BAB - 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengamanatkan bahwa pengembangan kawasan perdesaan harus sejalan dengan pengembangan pada kawasan perkotaan, yang secara terintegrasi pengembangan keduanya ditujukan untuk mewujudkan penyelenggaraan penataan ruang wilayah yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.

Desa secara harpiah menurut Undang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam Undang-undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua, disebutkan bahwa pembagian daerah di Provinsi Papua pada tingkat Kabupaten/Kota terdiri dari sejumlah Distrik, dimana tiap Distik terdiri dari sejumlah Kampung. Distrik atau Kecamatan adalah wilayah kerja Kepala

Distrik sebagai perangkat daerah Kabupaten/Kota, sedangkan Kampung atau yang disebut dengan nama lain adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah Kabupaten/Kota.

Kawasan kampung merupakan suatu bagian wilayah yang tidak berdiri sendiri dan dalam konteks rencana tata ruang wilayah, penataan ruangnya merupakan bentuk detail dari penataan ruang wilayah kabupaten,

Dalam rangka implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten, kawasan kampung dan/atau pedesaan yang merupakan bagian dari wilayah kabupaten adalah salah satu kawasan yang perlu dikembangkan, karena sumber daya alam yang menjadi energi keberlanjutan pembangunan berada pada kawasan tersebut.

Suatu wilayah bisa disebut kampung dan perdesaan karena mempunyai karakteristik yang tidak sama dengan perkotaan. Suatu kawasan yang aktifitas utamanya atau aktifitas ekonomi penduduknya bersandar pada pengelolaan sumberdaya alam setempat atau pertanian dinamakan dengan kawasan perdesaan. Dalam Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan

sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Kondisi kawasan kampung yang terdapat di Kabupaten Mappi saat ini menunjukkan adanya dinamika yang terus mengalami perkembangan pembangunan, sehingga Pemerintah Daerah Kabupaten Mappi merasa perlu menyusun arahan rencana tata ruang kawasan perdesaan yang meliputi rencana pemanfaatan lahan, ragam bangunan, arsitektural dan rencana teknis/rancang bangunan, serta sosial ekonomi budaya kawasan perdesaan.

Rencana penataan ruang kawasan perkampungan/pedesaan diharapkan nantinya mampu menjadi acuan atau koridor bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pengembangan perdesaan. Yang lebih penting lagi adalah bahwa diharapkan Rencana Tata Ruang tersebut mampu menjadi inspirasi dalam menyusun terobosan untuk mengangkat masyarakat desa menjadi lebih baik. Berkaitan dengan hal tersebut maka rencana penataan ruang Kampung Aboge yang berada di Distrik Asue diharapkan akan terwujud pola pemanfaatan ruang yang efektif, tepat guna, berdasarkan spesifik daerah setempat dan terintegrasi dengan rencana tata ruang wilayah dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan penataan ruang wilayah yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.

1.2. Landasan Teoritis

Dalam pengembangan tata ruang wilayah, kawasan perdesaan harus dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan

kawasan perkotaan. Pemahaman yang menyeluruh dan tidak dikotomis ini menjadi penting dan mendasar dalam penyusunan peraturan dan regulasi yang berkaitan dengan perdesaan maupun perkotaan, agar terjadi sinergi dan keseimbangan perlakuan wilayah, khususnya oleh pelaku pembangunan.

Selama ini masyarakat perdesaan dicirikan dengan kondisinya yang serba terbatas dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Dari aspek perekonomian, kegiatan ekonomi di perkotaan lebih variatif dibanding di kampung sehingga peluang berusaha juga lebih banyak. Dari segi pendidikan, jumlah sarana serta kualitas pendidikan di perkotaan lebih baik dibanding di kawasan perkampungan. Dari segi ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan umum di kawasan perkotaan juga lebih lengkap dan lebih baik dibanding di kawasan perkampungan. Dari segi ikatan sosial, masyarakat perdesaan mempunyai sedikit kelebihan dibanding masyarakat perkotaan, terutama dalam sikap tolong-menolong (bergotong-royong) dan toleransi yang lebih tinggi serta keragaman budaya yang masih tetap terpelihara di kawasan kampung/pedesaan.

Karakteristik penggunaan lahan di kawasan pedesaan/ kampung lebih bersifat heterogen, sehingga pola pemanfaatan ruangnya juga sangat sederhana. Pemanfaatan lahan di desa dibedakan atas dua fungsi, yaitu: Fungsi sosial untuk perkampungan desa dan Fungsi ekonomi untuk aktivitas ekonomi seperti, sawah, perkebunan, pertanian dan peternakan. Pola tata ruang umumnya tergantung pada kondisi

topografi yang alami, letak rumah di kelilingi pekarangan cukup luas, jarak antara rumah satu dengan lain cukup longgar, setiap mempunyai halaman, sawah dan ladang di luar perkampungan. Pada kampung dan desa yang sudah berkembang dengan pola tata guna lahan lebih teratur mengikuti arahan tata ruang yang telah ditetapkan, umumnya terdapat pasar tradisional, tempat ibadah rapi, sistem jaringan utilitas yang lebih baik, sarana dan prasarana pendidikan dasar serta balai kesehatan yang lebih lengkap. Semakin maju daerah perkampungan, bentuk penataan ruang semakin teratur dan tertata dengan baik.

Dalam Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang disebutkan bahwa Penataan ruang kawasan kampung dan perdesaan diarahkan untuk:

1. Pemberdayaan masyarakat perdesaan;

2. Pertahanan kualitas lingkungan setempat dan wilayah yang didukungnya;

3. Konservasi sumber daya alam;

4. Pelestarian warisan budaya lokal;

5. Pertahanan kawasan lahan abadi pertanian pangan untuk ketahanan pangan; dan

6. Penjagaan keseimbangan pembangunan perdesaan- perkotaan.

Seperti pada rencana tata ruang pada umumnya, rencana tata ruang kawasan pedesaan/kampung mencakup substansi perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pengembangan kawasan perdesaan/kampung sebagai bagian dari sistem

wilayah secara utuh, yang diwujudkan dalam rencana struktur ruang dan pola ruang. Struktur Ruang adalah susunan pusat- pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. Untuk lebih jelas mengenai arahan penataan ruang kawasan kampung dan pedesaan dapat dilihat pada Gambar 1-1.

ARAHAN PENATAAN RUANG KAWASAN KAMPUNG/PEDESAAN (Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 Tentang penataan Ruang) Pemberdayaan
ARAHAN PENATAAN RUANG KAWASAN KAMPUNG/PEDESAAN
(Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 Tentang penataan Ruang)
Pemberdayaan
Konservasi
Pelestarian
Masyarakat
Sumber
Budaya
Daya Alam
Lokal
Pertahanan Kawasan
Lahan Tanaman
Pangan
Pertahanan Kualitas
Lingungan & Wilayah
Pendukungnya
Penjagaan Keseimbangan
Pembangunan Pedesaan-
Perkotaan

RENCANA STRUKTUR DAN POLA RUANG KAWASAN KAMPUNG

Gambar 1-1 ; DIAGRAM ARAHAN PENATAAN RUANG KAWASAN KAMPUNG/PEDESAAN

1.3.

Maksud dan Tujuan

Maksud dilakukannya kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge di Distrik Assue adalah untuk merumuskan dokumen panduan umum yang menyeluruh tentang perencanaan tata ruang kawasan Kampung Aboge Distrik Assue. Sedangkan tujuan dari Kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge di Distrik Assue adalah sebagai berikut :

1. Menciptakan kawasan yang seimbang antar elemen- elemen, baik elemen pembangunan maupun mahluk hidup di dalamnya.

2. Menciptakan permukiman yang terorganisir dalam segi pembangunan.

3. Memicu masyarakat dalam berinvestasi di dalam kawasan.

4. Mewujudkan kawasan yang seimbang antar elemen- elemen pembangunan dan interaksi mahluk hidup di dalamnya.

5. Mewujudkan pembangunan yang teratur dalam permukiman.

1.4.

Sasaran

Sasaran yang diharapkan dari kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge di Distrik Assue adalah :

1. Tersusunnya

arahan

Kampung Aboge;

rencana

pengembangan

kawasan

2. Terwujudanya pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat dan konkret sesuai dengan rencana tata ruang wilayah;

3. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan kawasan permukiman;

4. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia;

5. Terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan.

1.5.

Manfaat

Manfaat dari Kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge di Distrik Assue adalah :

1. Terwujudanya arahan pelaksanaan pembangunan yang lebih jelas dan terarah, khususnya berkaitan dengan penataan bangunan dan lingkungan;

2. Terwujudanya pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat dan konkret sesuai dengan rencana tata ruang wilayah;

3. Terwujudanya kesatuan karakter dan meningkatkan kualitas bangunan gedung dan lingkungan;

4. Menjamin implementasi pembangunan agar sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat dalam pengembangan lingkungan yang berkelanjutan.

1.6.

Dasar Hukum

Dasar hukum pelaksanaan kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge di Distrik Assue ini sebagaimana yang tertuang dalam kerangka acuan disebutkan antara lain adalah :

1. Undang-undang Nomor 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman;

2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya;

3. Undang-undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;

4. Undang-undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua;

5. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan;

6. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

7. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;

8. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang;

9. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;

10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa;

11. Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya;

12. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 Tentang Prasarana Dan Lalu Lintas Jalan;

13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang- undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;

14. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah;

15. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan;

16. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang;

17. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 Tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat Dalam Penataan Ruang;

18. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa;

19. Peraturan Menteri PU Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan;

20. Peraturan Menteri PU Nomor 29/PRT/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;

21. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor :

63/PRT/1993 Tentang Garis Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai; Dan Peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

22.

1.7.

Ruang Lingkup

1.7.1.

Lingkup Wilayah Perencanaan

Wilayah perencanaan kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge di Distrik Assue yang secara geografis berada pada koordinat antara 138° 40’ 0” - 139° 20’ 0” Bujur Timur dan 5° 40’ 0 - 6° 20’ 0” Lintang Selatan.

Kampung Aboge berada di Distrik Assue, yang terletak di Kabupaten Mappi. Secara administratif Kabupaten Mappi terbagi atas lima belas distrik, salah satunya distrik Assue. Kampung Aboge merupakan kampung yang berumur paling tua dengan luas lahan yang lebih besar dari kampung-kampung lainnya di Kabupaten Mappi.

Kawasan ini terletak berdekatan dengan Perkotaan Eci. Yang mana Perkotaan Eci ini merupakan ibukota Distrik Assue, dengan jumlah penduduk 4.100 jiwa.

Dalam penyusunan rencana tata ruang kampung Aboge, aspek hinterland dan keterkaitan dengan wilayah sekitarnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari wilayah perencanaan. Untuk lebih jelas mengenai lingkup wilayah perencanan dapat dilihat pada Gambar 1-2.

GAMBAR 1-2 ; LINGKUP WILAYAH PERENCANAAN

WILAYAH PERENCANAAN KAMPUNG ABOGE
WILAYAH PERENCANAAN
KAMPUNG ABOGE

1.7.2.

Ruang Lingkup Kegiatan

Lingkup Kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge di Distrik Assue meliputi kegiatan sebagai berikut :

(1)

Tahap Persiapan, yang terdiri dari kegiatan :

Sinkronisasi arahan kerangka acuan (KAK), rencana dan jadwal kerja;

Pengumpulan data awal, peta-peta, literatur dan aspek regulasi terkait;

Persiapan survey (peralatan dan checklist data);

(2)

Penyusunan laporan pendahuluan. Survey dan pengukuran lapangan, yang meliputi:

Survey Instansional (data sekunder)

Data kebijakan pembangunan daerah terkait dengan pengembangan wilayah perencanaan;

Data kondisi fisik dan lingkungan;

Data sosial budaya dan sosial politik;

Data kondisi ekonomi, potensi daerah, sarana dan prasarana.

Data sistem transportasi dan aksesibilitas.

Data kependudukan dan data-data terkait lainnya.

Survey dan Pemetaan Lapangan (data primer)

Delinasi luas dan batas-batas wilayah;

Pola Penggunaan lahan;

Dan data-data lain yang terkait.

(3)

Analisis Wilayah Perencanaan

Analisis aspek tata ruang kawasan dalam lingkup regional, terkait dengan arahan fungsi, peranan dan kedudukan wilayah perencanaan dalam lingkup regional.

Analisis kondisi fisik lingkungan dan hasil pemetaan, yang meliputi penilaian terhadap aspek topografi, penggunaan lahan, aspek sarana dan prasarana, sosial, budaya dan ekonomi, aspek pergerakan, aksesibilitas dan transportasi.

Analisis kondisi aktual serta issue pokok dan permasalahan pengembangan wilayah perencanaan

Analisis rencana dan daya dukung pengembangan;

Sistem Pusat-Pusat Permukiman;

(4)

Daya Dukung Dan Daya Tampung Wilayah Serta Optimasi Pemanfaatan Ruang. Perumusan Konsep Rencana Tata Ruang

Perumusan tujuan, kebijakan dan strategi penataan ruang;

Perumusan Rencana Struktur Ruang;

Perumusan Rencana Pola Ruang;

Perumusan Arahan Pemanfaatan Ruang;

Intensitas Pemanfaatan Ruang;

Tata Bangunan, Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung, Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau;

Tata Kualitas Lingkungan;

Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan.

(5)

Evaluasi dan Review Rumusan Rencana Dan Peta

Tahap ini akan dilakukan evaluasi dan review hasil rumusan rencana dengan Tim Teknis dan Pihak terkait. Kegiatan lain pada tahap ini adalah FGD dengan masyarakat dan Stakeholder Terkait guna menjaring aspirasi dalam penyempurnaan rencana.

(6)

Perbaikan dan Penyempurnaan Rumusan Rencana

Hasil evaluasi dan review serta koordinasi dan sinkronisasi dengan Instansi terkait akan menghasilkan rumusan rencana tata ruang Kampung Aboge yang lebih baik dan harmonis dengan rencana pembangunan wilayah.

1.8. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan Laporan Pendahuluan Kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge di Distrik Assue adalah sebagai berikut :

BAB-1

PENDAHULUAN Bab ini menguraikan latar belakang, maksud dan tujuan, manfaat, ruang lingkup dan sistematika laporan.

BAB-2 PENDEKATAN DAN METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN Bab ini menguraikan tentang pendekatan dan metodologi pelaksanaan kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge di

Distrik Assue.

BAB-3

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAERAH Bab ini menguraikan tentang aspek kebijakan dan peraturan perundang-undangan terkait dengan pengembangan Kampung Aboge.

BAB-4

KONDISI UMUM WILAYAH PERENCANAAN

BAB-5

Bab ini menguraikan tentang gambaran umum wilayah perencanaan dalam konteks regional Kabupaten Mappi. MANAJEMEN PELAKSANAAN Bab ini menguraikan tentang rencana kerja, waktu pelaksanaan pekerjaan, personil serta tugas dan tanggungjawabnya, organisasi pelaksanaan pekerjaan dan jadwal penugasan personil serta pelaporan.

BAB - 2 PENDEKATAN DAN METODOLOGI

2.1 Metode Pendekatan Pelaksanaan Pekerjaan

Dalam bagian bab pendahuluan dijelaskan bahwa maksud dilakukannya Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge di Distrik Assue adalah untuk merumuskan dokumen panduan umum yang menyeluruh tentang perencanaan tata ruang kawasan Kampung Aboge Distrik Assue. Sedangkan tujuannya adalah sebagai berikut :

1. Menciptakan kawasan yang seimbang antar elemen- elemen, baik elemen pembangunan maupun mahluk hidup di dalamnya.

2. Menciptakan permukiman yang terorganisir dalam segi pembangunan.

3. Memicu masyarakat dalam berinvestasi di dalam kawasan.

4. Mewujudkan kawasan yang seimbang antar elemen- elemen pembangunan dan interaksi mahluk hidup di dalamnya.

Dengan sasaran yang diharapkan adalah sebagai berikut :

1. Tersusunnya

arahan

Kampung Aboge;

rencana

pengembangan

kawasan

2. Terwujudanya pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat dan konkret sesuai dengan rencana tata ruang wilayah;

3. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan kawasan permukiman;

4. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia;

5. Terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan.

Sesuai dengan maksud dan tujuan serta sasaran dari Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge tersebut, maka pelaksanaan pekerjaan dilakukan dengan pendekatan pada prinsip-prinsip perencanaan tata ruang dengan tetap memperhatikan potensi dan permasalahan, isu strategis serta kecenderungan perkembangan (trend) dan mengacu pada prinsip bottom up planning yang menjadi paradigma baru dalam perencanaan tata ruang. Adapun pendekatan teknis yang digunakan dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Kampung Aboge terdiri dari :

(1).

Pendekatan Spastial

Pendekatan spatial dilakukan untuk mengetahui fungsi, peranan dan kedudukan wilayah perencanaan dalam konteks regional, baik dalam lingkup nasional, provinsi agar rencana tata ruang yang disusun dapat harmonis dan sinkron dengan rencana tata ruang wilayah regional.

Selain sinkronisasi dan harmonisasi pemanfaatan ruang, penyusunan rencana diarahkan untuk mengukur daya dukung dan daya tampung serta optimasi pemanfaatan ruang, agar wilayah perencanaan mampu menampung kegiatan yang akan berkembang dimasa mendatang. Pendekatan keruangan (spatial) didasarkan pada pandangan bahwa penataan ruang harus menintegrasikan unsur-unsur pembentuk ruang seperti manusia/mahluk hidup dan kegiatan sosial yang membentuk suatu kesatuan ruang. Dengan demikian pendekatan keruangan (spatial) merupakan sinkronisasi penataan ruang dalam rangka memenuhi kebutuhan ruang yang serasi, selaras dan seimbang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan spatial dilakukan pada tahapan kegiatan :

Sinkronisasi dan harmonisasi dengan rencana tata ruang wilayah;

Analisis dan arahan daya dukung dan daya tampung wilayah serta optimasi pemanfaatan ruang;

Analisis dan arahan pola dan struktur ruang di wilayah perencanaan;

Analisis dan arahan kecenderungan (trend) perkembangan wilayah;

Analisis dan arahan keterkaitan antar kompenen pembentuk ruang;

Analisis dan arahan intensitas pemanfaatan ruang dan pola jaringan pergerakan;

Analisis tingkat aksesibilitas jaringan pergerakan barang dan manusia;

Analisis jumlah penduduk dan penyebarannya.

(2).

Pendekatan Regulasi dan Standar Kelayakan Teknis

Pendekatan terhadap aspek regulasi dan standar penyusunan rencana tata ruang agar rencana tata ruang Kampung Aboge yang disusun sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan dan standar- standar yang berlaku.

(3).

Pendekatan Pengembangan Ekonomi Wilayah

Rencana Tata Ruang Kampung Aboge yang disusun diharapkan akan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat, untuk itu dilakukan pendekatan terhadap potensi dan daya dukung sektor dan atau komoditi unggulan sebagai pendorong ekonomi lokal yang didukung dengan rencana sistem pusat permukiman dan sistem prasarana.

(4).

Pendekatan Terpadu dan Integrasi

Rencana Tata Ruang Kampung Aboge yang disusun akan menjadi pedoman dalam mempercepat pembangunan ekonomi serta mendayagunakan sumberdaya alam secara seimbang, untuk itu arahan rencana yang akan disusun diarahkan untuk menciptakan keterpaduan dan integrasi berbagai kepentingan yang bersifat lintas

sektor, lintas wilayah, dan lintas pemangku kepentingan (pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat).

(5).

Pendekatan Lingkungan Yang Berkelanjutan

Penyusunan rencana tata ruang Kampung Aboge dilakukan untuk mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan (Sustainable Development). Untuk itu dalam perumusan rencana dilakukan dengan memperhatikan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara struktur ruang dan pola ruang, keselarasan antara kehidupan manusia dengan lingkungannya, keseimbangan pertumbuhan dan perkembangan antar daerah serta antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan.

(6).

Pendekatan Peranserta Masyarakat

Pendekatan ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk berperan serta dalam kegiatan pembangunan kawasan sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 2010 Tentang Bentuk & Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pelaksanaan pekerjaan ini akan di lakukan secara terbuka sehingga masyarakat dimungkinkan untuk memberi masukan berupa informasi, data, tanggapan, saran-saran dan lain sebagainya terkait dengan penyusunan rencana tata ruang Kampung Aboge.

2.2 Fungsi

Ruang

Kampung Aboge

Dalam Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa pengembangan kawasan perdesaan harus sejalan dengan pengembangan pada kawasan perkotaan, yang secara terintegrasi pengembangan keduanya ditujukan untuk mewujudkan penyelenggaraan penataan ruang wilayah yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan kampung dan/atau pedesaan yang merupakan bagian dari wilayah kabupaten adalah salah satu kawasan yang perlu dikembangkan, karena sumber daya alam yang menjadi energi keberlanjutan pembangunan berada pada kawasan tersebut.

dan

Kedudukan

Rencana

Tata

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, rencana tata ruang dirumuskan secara berjenjang mulai dari tingkat yang sangat umum sampai tingkat yang sangat rinci. Mengingat rencana tata ruang merupakan matra keruangan dari rencana pembangunan daerah dan bagian dari pembangunan nasional yang mempunyai hubungan keterkaitan satu sama lain serta dijaga konsistensinya, baik dari segi substansi maupun operasionalisasinya.

Dalam konteks kepentingan wilayah, maka Rencana Tata Ruang Kampung Aboge pada dasarnya merupakan suatu bagian wilayah yang tidak berdiri sendiri dan dalam konteks rencana tata ruang wilayah, penataan ruangnya merupakan bentuk detail dari penataan ruang wilayah kabupaten. Rencana tata ruang ini menjadi pedoman dalam mempercepat pembangunan ekonomi serta mendayagunakan sumberdaya alam secara seimbang, melalui arahan rencana pemanfaatan lahan, ragam bangunan, arsitektural dan rencana teknis/rancang bangunan, serta sosial ekonomi budaya.

Rencana Tata Ruang Kampung Aboge diharapkan nantinya mampu menjadi acuan atau koridor bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pengembangan perdesaan. Yang lebih penting lagi adalah bahwa diharapkan Rencana Tata Ruang tersebut mampu menjadi inspirasi dalam menyusun terobosan untuk mengangkat masyarakat desa menjadi lebih baik.

Rencana tata ruang di tingkat Kabupaten disusun oleh daerah otonom kabupaten, dengan memperhatikan arahan pengembangan wilayah yang lebih luas maupun keterpaduan dengan berbagai sektor terkait. Sedangkan produk perencanaan pada tingkat administrasi terdiri dari rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang yang dilengkapi dengan pengaturan zonasi sebagai pedoman perijinan. Adapun kedudukan Rencana Tata Ruang Kampung Aboge dalam sistem penataan ruang dapat dilihat pada Gambar 2-1.

GAMBAR 2-1 KEDUDUKAN RENCANA TATA RUANG KAMPUNG ABOGE

RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL (RTRWN)

RTRW PROVINSI

RTRW

KOTA

RTRW

KABUPATEN

(RTRWN) RTRW PROVINSI RTRW KOTA RTRW KABUPATEN RTR PULAU RTR KAWASAN STRATEGIS NASIONAL RTR KAWASAN

RTR PULAU

RTR KAWASAN STRATEGIS NASIONAL

RTR KAWASAN STRATEGIS PROVINSI

KAWASAN STRATEGIS NASIONAL RTR KAWASAN STRATEGIS PROVINSI RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) KOTA RTR KAWASAN

RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) KOTA

RTR KAWASAN

STRATEGIS KOTA

RTR KAWASAN

PERKOTAAN

RTR KAWASAN STRATEGIS KOTA RTR KAWASAN PERKOTAAN RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) KABUPATEN RTR KAWASAN

RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) KABUPATEN

RTR KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN

RTR KAWASAN PERDESAAN/KAMPUNG

RTR KAWASAN

AGROPOLITAN

KABUPATEN RTR KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN RTR KAWASAN PERDESAAN/KAMPUNG RTR KAWASAN AGROPOLITAN 2 - 8
KABUPATEN RTR KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN RTR KAWASAN PERDESAAN/KAMPUNG RTR KAWASAN AGROPOLITAN 2 - 8

2.3

Metodologi

2.3.1 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari survey lapangan melalui pengamatan, pengukuran, dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dengan studi pustaka dan literatur. Data primer diperoleh langsung dari survey lapangan (lokasi studi) melalui kegiatan pengamatan, pengukuran dan wawancara pada saat survey lapangan.

2.3.2 Metode Analisis Data

Analisis Fisik Lingkungan

Analisis fisik dan lingkungan wilayah atau kawasan ini adalah untuk mengenali karakteristik sumber daya alam tersebut, dengan menelaah kemampuan dan kesesuaian lahan, agar penggunaan lahan dalam pengembangan wilayah dan/atau kawasan dapat dilakukan secara optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem.

Hasil studi analisis fisik dan lingkungan ini akan menjadi masukan dalam penyusunan rencana tata ruang, karena akan memberikan gambaran kerangka fisik pengembangan wilayah dan/atau kawasan. Data-data yang dibutuhkan dalam aspek analisis fisik dan lingkungan meliputi : kondisi klimatologi, topografi, geologi, hidrologi, bencana alam, penggunaan lahan, dan lain-lain.

- Data klimatologi adalah data iklim berdasarkan hasil pengamatan pada stasiun pengamat di wilayah yang bersangkutan, meliputi: data curah hujan, hari hujan, intensitas hujan, temperatur rata-rata, kelembaban relatif, kecepatan dan arah angin, lama penyinaran (durasi) matahari. Data klimatologi ini dapat diperoleh pada stasiun meteorologi dan geofisika di wilayah sekitarnya yang terdekat, atau pada kabupaten dalam bentuk laporan, atau dapat juga diperoleh pada Badan Meteorologi dan Geofisika Pusat di Jakarta. Kedalaman data adalah pengamatan selama 10 tahun (bila tersedia).

- Data topografi berupa peta topografi dengan skala terbesar yang tersedia, yang dapat diperoleh pada instansi: Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL), Badan Pertanahan Nasional (BPN), Direktorat Topografi - TNI Angkatan Darat, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dan instansi terkait lainnya. Dari peta topografi ini dapat diturunkan beberapa peta yang berkaitan dengan bentuk bentang alam dan kemiringannya, yakni peta morfologi dan peta kemiringan lereng/lahan, yang dalam hal ini dikelompokkan sebagai peta data, karena penganalisisan berikutnya berpijak pada peta morfologi dan kemiringan lereng ini, bukan peta

topografi yang merupakan data mentahnya. - Peta morfologi adalah pengelompokan bentuk bentang alam berdasarkan rona, kemiringan lereng secara umum, dan ketinggiannya, pada beberapa satuan morfologi (daratan, perbukitan dan gunung berapi). Satuan morfologi dataran adalah bentuk bentang alam yang didominasi oleh daerah yang relatif datar atau sedikit bergelombang, dengan kisaran kemiringan lereng 0% - 5%. Lebih rinci lagi satuan morfologi dataran ini dapat dibedakan atas dua subsatuan, yakni subsatuan morfologi dataran berkisar antara 0% - 2%; dan subsatuan morfologi medan bergelombang dengan kisaran kemiringan lereng lebih dari 2% hingga 5%. Satuan morfologi perbukitan adalah bentuk bentang alam yang memperlihatkan relief baik halus maupun kasar, membentuk bukit-bukit dengan kemiringan lereng yang bervariasi. Secara lebih rinci satuan morfologi perbukitan dapat dibagi lagi atas tiga subsatuan, yakni: subsatuan morfologi perbukitan landai dengan kemiringan lereng antara 5% - 15% dan memperlihatkan relief halus; subsatuan morfologi perbukitan sedang dengan kemiringan lereng berkisar antara 15% - 40% dan memperlihatkan relief sedang, dan subsatuan morfologi perbukitan terjal dengan kemiringan lebih dari 40% dan memperlihatkan relief kasar.

Satuan morfologi tubuh gunung berapi hampir sama dengan satuan morfologi perbukitan, dan umumnya merupakan subsatuan perbukitan sedang hingga terjal, namun membentuk kerucut tubuh gunung berapi. Satuan tubuh gunung berapi ini perlu dipisahkan dari satuan perbukitan, karena tubuh gunung berapi mempunyai karakterisitk tersendiri dan berbeda dari perbukitan umumnya, seperti banyak dijumpai mata air, kandungan-kandungan gas beracun, dan sumber daya mineral lainnya yang khas gunung berapi.

- Peta kemiringan lereng diturunkan dari peta topografi, karena penataan ruang dan peruntukannya banyak sekali ditentukan oleh kondisi kemiringan suatu wilayah, demikian juga pengembangan jaringan utilitas sangat dipengaruhi oleh besarnya kemiringan lereng ini. Peta ini memuat pembagian atau klasifikasi kemiringan lereng di wilayah dan/atau kawasan perencanaan atas beberapa kelas sebagai berikut: (1) Kemiringan lereng 0 % - 2%; (2) Kemiringan lereng > 2% - 5%; (3) Kemiringan lereng > 5% - 15%; (4) Kemiringan lereng > 15% - 40% dan (5) Kemiringan lereng > 40%. Pada peta topografi dengan skala dan kelengkapan yang memungkinkan, selang kemiringan > 5% - 15%, dibagi lagi atas: > 5% - 8%, dan > 8% - 15%.

- Untuk mengetahui kondisi geologi regional wilayah dan/atau kawasan perencanaan dan daerah sekitarnya, maka diperlukan data fisiografi daerah yang lebih luas. Fisiografi ini akan memperlihatkan gambaran umum kondisi fisik secara regional baik menyangkut morfologi, pola pembentuknya, pola aliran sungai, serta kondisi litologi dan struktur geologi secara umum. Gambaran umum kondisi geologi atau fisiografi ini dapat dilihat pada Peta Geologi Indonesia. Data geologi yang diperlukan dalam analisis aspek fisik dan lingkungan terdiri dari tiga bagian, yakni data geologi umum, geologi wilayah, dan data geologi permukaan.

- Data hidrologi adalah data yang berkaitan dengan kondisi keairan, baik air permukaan maupun air tanah. Untuk itu penyajian data hidrologi ini dibedakan atas air permukaan dan air tanah. Air permukaan adalah air yang muncul atau mengalir di permukaan seperti: mata air, danau, sungai, dan rawa. Pada data air permukaan ini masing-masing jenis sumber air tersebut hendaknya diikuti besaran atau debitnya, sehingga dapat terlihat potensi air permukaan secara umum. Khusus untuk sungai disajikan lengkap dengan Wilayah Sungai (WS) dan Daerah Aliran Sungai (DAS) nya, karena masing- masing WS umumnya mempunyai karakteristik berbeda, demikian juga dengan DAS yang diharapkan

dapat memberikan gambaran potensi sungai sampai orde yang terkecil. Data sungai ini juga dilengkapi dengan pola aliran, arah aliran air permukaan pada masing-masing DAS serta kerapatan sungai yang secara tidak langsung akan memperlihatkan aktivitas sungai tersebut baik pengaliran maupun pengikisannya. Data air permukaan ini dapat diperoleh pada instansi pengairan setempat ataupun pusat, dilengkapi dengan pengamatan lapangan yang menunjukkan kondisi keairan sesaat pada waktu pengamatan yang akan menunjukkan potensi air pada musim tertentu (penghujan atau kemarau, tergantung waktu pengamatan). Sedangkan untuk data mata air kemungkinan juga dapat diperoleh dari peta hidrologi yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional Data air tanah dapat dipisahkan atas air tanah dangkal dan air tanah dalam, yang masing-masing diupayakan diperoleh besaran potensinya. Air tanah dangkal adalah air tanah yang umum digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air bersih berupa sumur- sumur, sehingga untuk mengetahui potensi air tanah bebas ini perlu diketahui kedalaman sumur-sumur penduduk, dan kemudian dikaitkan dengan sifat fisik tanah/batunya dalam kaitannya sebagai pembawa air. Selain besarannya air tanah ini perlu diketahui mutunya secara umum, dan kalau memungkinkan

hasil pengujian mutu air dari laboratorium. Sedangkan air tanah dalam yakni air tanah yang memerlukan teknologi tambahan untuk pengadaannya, secara umum dapat diketahui dari kondisi geologinya, yang tentunya memerlukan pengamatan struktur geologi yang cermat. Kondisi air tanah ini dapat diperoleh dari penelitian hidro- geologi baik yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, maupun instansi lainnya yang berkaitan dengan keairan seperti Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, ataupun juga dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi.

- Bencana alam pada dasarnya adalah gejala atau proses alam yang terjadi akibat upaya alam mengembalikan keseimbangan ekosistem yang terganggu baik oleh proses alam itu sendiri ataupun akibat ulah manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam. Kemungkinan bencana alam yang akan timbul, dalam hal ini bencana alam beraspek geologi, seperti: banjir, longsor/gerakan tanah, amblesan, kekeringan, dan lainnya, pada dasarnya dapat dikenali dari kondisi geologi, sejarah bencana alam yang pernah terjadi di wilayah tersebut, dan gejala bencana alam dalam bentuk lokal atau mikro yang kemungkinan akan meluas atau merupakan indikasi

terjadinya bencana yang lebih makro. Kemungkinan bencana atau daerah rawan bencana alam ini tentunya perlu dikenali sedini mungkin, agar tindakan pengamanan bila daerah tersebut memang akan dikembangkan, telah disiapkan, atau sejak dini dihindari pengembangan pada daerah rawan bencana. Berbagai jenis bencana alam dan daerah pengaruhnya adalah data bencana alam yang dimintakan dalam studi ini, dan bila perlu masing- masing jenis bencana disajikan dalam peta terpisah sesuai dengan ketersediaan datanya.

- Penggunaan lahan di wilayah perencanaan perlu diketahui secara terinci, terutama sebaran bangunan yang bersifat tidak meluluskan air/kedap air. Hal ini berkaitan erat dengan rasio tutupan lahan yang ada saat ini yang nantinya digunakan dalam penghitungan ketersediaan air tanah bebas. Selain untuk mengetahui rasio tutupan lahan, data penggunaan lahan juga diperlukan untuk mengetahui pengelompokan peruntukan lahan, termasuk aglomerasi fasilitas yang akan membentuk pusat permukiman serta bangunan-bangunan yang memerlukan persyaratan kemampuan lahan tinggi, yang akan digunakan dalam penentuan rekomendasi kesesuaian lahan. Di samping itu dengan mengetahui sebaran penggunaan lahan di wilayah ini, maka akan terlihat pada daerah-daerah mana penggunaan lahan

yang ternyata menyimpang dari kesesuaiannya atau melampaui kemampuannya, sehingga dapat dijadikan masukan juga dalam memberikan rekomendasi kesesuaian lahan. Data penggunaan lahan disajikan berupa peta penggunaan lahan/tata guna lahan dan tabel luas penggunaan lahan.

Studi-studi fisik yang pernah dilakukan menyangkut fisik ataupun lingkungan dapat diperoleh sebagai masukan data dalam analisis kelayakan fisik kawasan ini, dan harus dicantumkan sumbernya. Studi-studi ini sangat membantu dalam penentuan arahan kesesuaian peruntukan lahan, ataupun dalam rekomendasi, karena daerah yang sudah disarankan peruntukannya dari studi terdahulu bila dalam analisis kelayakan fisik kawasan ini tidak termasuk pengembangan wilayah dapat diperuntukan sebagaimana usulan semula.

Kebijakan pengembangan fisik yang ada perlu diketahui, terutama kebijakan penggunaan lahan. Hal ini diperlukan dalam penentuan rekomendasi kesesuaian lahan, karena kebijakan penggunaan lahan yang telah digariskan baik oleh Pemerintah maupun Pemerintah Daerah tentunya dalam rekomendasi coba dipenuhi dengan memberikan persyaratan-persyaratan khusus sesuai dengan kendala dan potensi yang dimilikinya. Dengan demikian data mengenai kebijakan pengembangan fisik baik oleh dalam analisis fisik pengembangan harus disertakan, agar tidak menimbulkan pertentangan antara rekomendasi

kesesuaian lahan dengan kebijakan yang ada dan sudah berjalan.

Analisis Kemampuan Lahan

- Satuan kemampuan lahan (SKL) morfologi

Dilakukan untuk pemilahan bentuk bentang alam/morfologi pada wilayah perencanaan yang mampu untuk dikembangkan sesuai dengan fungsinya. Sasarannya adalah : Memperoleh gambaran tingkat kemampuan lahan untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya dilihat dari segi morfologinya dan mengetahui potensi dan kendala morfologi masing-masing tingkatan kemampuan lahan terhadap morfologi.

Data yang dibutuhkan adalah Peta morfologi skala terbesar yang tersedia, Peta kemiringan lereng, Peta morfologi bila sudah pernah dilakukan studi sejenis, dan hasil pengamatan lapangan mengenai morfologi ini.

Keluaran dari analisis ini adalah Peta Satuan Kemampuan Lahan Morfologi dan Potensi dan kendala morfologi masing-masing tingkatan dalam SKL Morfologi.

Satuan Kemampuan Lahan Morfologi dan Potensi dan kendala morfologi masing-masing tingkatan dalam SKL Morfologi. 2 -

Metode analisis adalah sebagai berikut : (1) Hitung kemiringan lereng wilayah perencanaan secara terinci dari peta topografi, dan sesuaikan/pertajam dengan hasil pengamatan lapangan, dengan pembagian seperti yang disyaratkan pada kompilasi data; (2) Dalam kasus tidak tersedia peta topografi yang memadai, kemiringan lereng

ditentukan berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan plotting pada peta dasar (peta ini adalah merupakan peta sketsa kemiringan lereng); (3) Tentukan satuan-satuan morfologi yang membentuk wilayah perencanaan berdasarkan peta topografi dan atau peta kemiringan lereng tersebut; (4) Tentukan tingkatan kemampuan lahan morfologi berdasarkan peta-peta hasil analisis di atas, dan persyaratan atau batasan yang diharapkan pada pengembangan wilayah; serta (5) Deskripsi potensi dan kendala morfologi masing-masing tingkatan SKL Morfologi.

- Satuan Peta Lahan Kestabilan Lereng

Melakukan analisis untuk pengetahui tingkat kemantapan lereng di wilayah perencanaan dalam menerima beban pada pengembangan wilayah. Sasarannya adalah : Memperoleh gambaran tingkat kestabilan lereng untuk pengembangan Wilayah, Mengetahui daerah-daerah yang berlereng cukup

aman untuk dikembangkan sesuai dengan fungsi kawasan dan Mengetahui batasan-batasan pengembangan pada masing-masing tingkatan kestabilan lereng.

Data yang dibutuhkan adalah : Peta Topografi, Peta Morfologi, Peta Kemiringan Lereng, Peta Geologi, Peta Geologi Permukaan, Karakteristik Air Tanah Dangkal, Besar Curah Hujan, Penggunaan lahan yang ada saat ini, Data Bencana Alam (bahaya gerakan tanah, kegempaan, gunung berapi, dan pengikisan). Keluaran dari analisis ini adalah : Peta Satuan Kemampuan Lahan Kestabilan Lereng dan Deskripsi masing-masing tingkatan kestabilan lereng.

Metode analisis adalah sebagai berikut : (1) Tentukan dahulu daerah yang diperkirakan mempunyai lereng tidak stabil dari peta topografi, morfologi, dan kemiringan lereng; (2) Pertajam perkiraan di atas dengan memperhatikan kondisi geologi daerah- daerah tersebut; (3) Kaitkan hasil analisis di atas dengan kondisi geologi permukaan serta pengamatan lapangan, dan karakteristik air tanah dangkalnya; (4) Perhatikan penggunaan lahan yang ada saat ini pada daerah tersebut apakah bersifat memperlemah lereng atau tidak; (5) Bila sudah ada hasil penelitian mengenai bencana gerakan tanah di wilayah ini, maka daerah yang rawan bencana adalah daerah yang mempunyai lereng tidak stabil, dan ini

merupakan masukan langsung bagi SKL Kestabilan

Lereng; (6) Amati kondisi kegempaan di wilayah ini,

karena gempa akan memperlemah kestabilan lereng;

dan (7) Tentukan tingkat kestabilan lereng di wilayah

ini serta deskripsi masingmasing tingkat tersebut

berdasarkan tahapan-tahapan di atas.

Analisis Tingkat Pelayanan

Analisis tingkat pelayanan sarana dan prasarana

dilakukan untuk mengetahui kecukupan layanan terhadap

penduduk disekitarnya. Tingkat pelayanan fasilitas

dihitung dengan menggunakan standar SNI 03-1733-1989

(Daya Dukung Komuniti). Cara penghitungan tingkat

pelayanan fasilitas ini adalah : Jumlah Fasilitas Standar Penduduk Eksisting X Pendukung Tp = Jumlah
pelayanan fasilitas ini adalah :
Jumlah Fasilitas
Standar Penduduk
Eksisting
X Pendukung
Tp
=
Jumlah Penduduk

Tp = Tingkat Pelayanan

Jika Tp > 1,5 : fasilitas yang ada pelayanannya baik bahkan melayani wilayah sekitarnya (regional), Jika 1 < Tp< 1,5 : fasilitas yang ada pelayanannya sudah cukup Jika Tp < 1,0 : fasiltas yang ada pelayanannya belum mencukupi

Dari analisa tingkat pelayanan fasilitas tersebut akan diketahui tingkat pelayanan sarana dan prasarana yang ada di wilayah masing-masing.

Analisis Kependudukan

Analisis kependudukan meliputi : jumlah penduduk, ratio jenis kelamin, tingkat pendidikan penduduk, mata pencaharian dan lain-lain diperoleh dari Kantor BPS. Selanjutnya data primer dan sekunder ini diolah dan hasilnya disajikan dalam bentuk tabel. Analisis data kependudukan menggunakan metoda statistik deskriptif dengan rumus sebagai berikut :

Pertumbuhan Penduduk (Pt) = Po (1 + r) t

Dimana :

Pt

=

Jumlah penduduk pada tahun t

Po

=

Jumlah penduduk pada tahun awal

r

=

Laju pertambahan penduduk

Kepadatan Penduduk

Jumlah penduduk

= ------------------------------ x 100 %

Luas daerah

Untuk mengetahui beban tanggungan penduduk usia produktif terhadap penduduk usia non produktif digunakan persamaan Rasio Beban Tanggungan sebagai berikut :

P 0-14 + P 65

RBT = --------------- x 100 %

P 15-64

Dimana :

RBT

P

P

P

=

=

=

=

Rasio Beban Tanggungan Usia penduduk usia 0 - 14 tahun Usia penduduk usia 15 - 64 tahun (usia produktif) Usia penduduk umur 65 tahun keatas

Usia penduduk usia 0 - 14 tahun Usia penduduk usia 15 - 64 tahun (usia produktif)
Usia penduduk usia 0 - 14 tahun Usia penduduk usia 15 - 64 tahun (usia produktif)
Usia penduduk usia 0 - 14 tahun Usia penduduk usia 15 - 64 tahun (usia produktif)

0-14

15-64

65

Analisis Aspek Sosial Budaya

Dalam upaya untuk mencapai pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, perlu dilakukan penilaian/analisis aspek sosial budaya. Penilaian/analisis aspek sosial budaya dapat diperoleh melalui hasil pengukuran beberapa indikator sosial (urban social indicator) misalnya struktur sosial budaya, pelayanan sarana dan prasarana budaya, potensi sosial budaya masyarakat, atau kesiapan masyarakat terhadap suatu pengembangan.

Tujuan analisis aspek sosial budaya adalah mengkaji kondisi sosial budaya masyarakat yang mendukung atau menghambat pengembangan wilayah, serta memiliki fungsi antara lain:

(1) Sebagai dasar penyusunan rencana tata ruang wilayah serta pembangunan sosial budaya masyarakat. (2) Mengidentifikasi struktur sosial budaya masyarakat

(3) Menilai pelayanan sarana dan prasarana sosial budaya yang mendukung pengembangan wilayah. (4) Menentukan prioritas-prioritas utama dalam formulasi kebijakan pembangunan sosial budaya masyarakat. (5) Memberikan gambaran situasi dan kondisi objektif dalam proses perencanaan. (6) Sebagai acuan pelaksanaan pemantauan, pelaporan, dan penilaian program-program pembangunan sosial budaya secara integratif.

Adapun sasaran yang hendak dicapai dalam pelaksanaan analisis aspek sosial budaya antara lain:

a. Teridentifikasinya struktur sosial dan budaya yang terbentuk di wilayah perencanaan.

b. Terumuskannya potensi dan kondisi sosial budaya, meliputi pasar tenaga kerja, keragaman sosial budaya penduduk, serta jumlah dan pertumbuhan penduduk.

c. Penilaian pelayanan sarana dan prasarana sosial budaya yang mendukung pengembangan wilayah perencanaan.

Data yang dibutuhkan untuk analisis sosial budaya di wilayah perencanaan antara lain meliputi:

(1) Data makro, yang diperoleh dari BPS atau data yang diperoleh dari Instansi/Lembaga Pemerintah lainnya. (2) Data mikro, yang diperoleh dari hasil-hasil studi

sosial budaya di wilayah dan/atau kawasan.

Pengumpulan data analisis sosial budaya ini bersifat sekunder atau ‘desk study’, yaitu mengkaji referensi yang relevan dengan objek penelitian, dengan menggunakan data existing suatu wilayah dan/atau kawasan dan informasi yang diperlukan untuk menganalisis masalah. Data yang dibutuhkan dipilih sesuai kebutuhan yaitu meliputi aspek sosial budaya yang dapat mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah perencanaan.

Pada hakekatnya pengukuran indikator sosial budaya tidak berdiri sendiri melainkan terkait erat dengan kegiatan lainnya, yaitu aspek ekonomi dan kelembagaan. Seringkali sulit untuk menemukan indikator yang sederhana dan hanya mengukur satu aspek saja karena keberhasilan pengembangan suatu kawasan sangat ditentukan oleh kinerja sektoral dan berbagai pelaku utama pembangunan (stakeholders) seperti Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat sendiri.

Analisis Perekonomian (Sektor Unggulan)

Perencanaan sektor perekonomian akan optimal bila didasarkan pada keunggulan komparatif (comparative advantage) dan keunggulan kompetitif (competitive advantage). Keunggulan komparatif lebih menekankan pada kepemilikan sumber daya ekonomi, sosial, politik dan kelembagaan, seperti kepemilikan sumber daya alam, sumber daya manusia, infrastruktur dan lain-lain.

Sementara itu keunggulan kompetitif lebih menekankan efisiensi pengelolaan (manajemen perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan) penggunaan sumber- sumber tersebut dalam produksi, konsumsi maupun distribusi.

Yang menjadi perhatian dalam pengembangan sektor ekonomi dimulai dengan melakukan identifikasi sektor unggulan atau potensi ekonomi daerah hingga rencana strategis indikasi program. Dalam mengidentifikasi potensi kegiatan ekonomi terdapat dua faktor utama yang perlu diperhatikan, yaitu :

Sektor ekonomi yang unggul atau mempunyai daya saing dalam beberapa periode tahun terakhir dan kemungkinan prospek sektor ekonomi di masa datang.

Sektor ekonomi yang potensial untuk dikembangkan di masa mendatang, walaupun pada saat ini belum mempunyai tingkat daya saing yang baik.

Dalam mengidentifikasi sektor unggulan atau potensi ekonomi, digunakan alat bantu analisis, diantaranya adalah : analisis Shift Share, analisis Location Quotient (LQ), Teknik tipologi Klassen, dan metode analisis lainnya yang sering digunakan dalam analisis sektor unggulan atau potensi ekonomi suatu daerah.

2.3.3 Konsep Perancangan Kawasan

(1)

Rencana Peruntukan Lahan Makro

Rencana peruntukan lahan makro merupakan suatu arahan/guideline pengembangan kawasan dengan tujuan menciptakan keterpaduan ruang dan aktivitas, mengupayakan adanya hirarki skala pelayanan, mensinergikan pola pencapaian dan kecenderungan pergerakan penduduk sehingga tercipta kesinambungan dan keterkaitan antar kawasan. Peruntukan lahan makro pada kawasan meliputi pusat pemerintahan, hunian, perumahan dan pemukiman jasa dan komersial, taman budaya (civic center) dan fasilitas guest house.

Pola peruntukan menggunakan pola radial concentric yang mengacu pada kondisi fisik dasar kawasan. Pola ini menggunakan jaringan radialnya sebagai penghubung unit lingkungan dengan kawasan pusat pelayanan sedangkan antar unit lingkungannya menggunakan pola concentric. Pola ini akan dikombinasikan dan disinergikan dengan karakter lahan yang berkontur. Sistem jaringan penghubung tersebut diharapkan dapat menciptakan suatu kawasan yang terpadu. Tautan antar fungsi dan aktivitas diupayakan dapat tercipta suatu aktivitas pendukung yang menjadi bangkitan aktivitas disekitarnya.

Rencana peruntukan lahan makro merupakan upaya menghubungkan keterkaitan antara peruntukan lahan Kawasan dengan kawasan lain disekitarnya pada

khususnya dan Kabupaten (regional) pada umumnya. Oleh karena itu kebijaksanaan peruntukan lahan Pengembangan Kawasan harus disusun secara terpadu dengan mempertimbangkan konteks dan pola peruntukan lingkungan sekitar.

Sasaran yang hendak dicapai adalah menentukan jenis dan macam fungsi ruang dan penyebaran masing-masing akivitas dalam kawasan pusat pelayanan. Peruntukan Lahan terdapat 5 (lima) Zona Pemanfaatan yaitu :

a. Zona Civic Center (Pusat Pemerintah dan Taman Budaya)

Merupakan representasi kawasan.

Merupakan filosofi dan paradigma yang berarti pelayanan dan pengabdian.

Sebagai suatu landmark kawasan (pembentuk citra kawasan).

b. Zona Hunian

Sebagai fasilitas hunian khusus terbatas.

Berfungsi dan berperan sebagai unit lingkungan terpadu yang akan menunjang aktivitas dipusat pelayanan (core area).

Sebagai noddle pengait dengan fungsi-fungsi lain yaitu komersial dan perumahan serta pusat pelayanan publik yang lain.

c. Zona Pemukiman

Berperan sebagai bangkitan aktivitas kawasan.

Merupakan suatu unit lingkungan terpadu dengan fasilitas umum dan sosial serta prasarana dan sarana lingkungan.

Mengkaitkan fungsi-fungsi unit lingkungan lain dibelakangnya (hinterland) sehingga tercipta kemudahan pencapaian dan kemudahan pelayanan fasilitas.

d. Zona Komersial

Berfungsi sebagai pusat pelayanan dan publik area.

Merupakan suatu komersial strip area pada koridor jalan.

Sebagai suatu ruang orientasi kecenderungan pergerakan penduduk (ditindaklanjuti dengan penataan jalan dan perangkatnya).

e. Zona Pelayanan Publik

Berfungsi sebagai pelayanan masyarakat.

Merupakan pusat unit lingkungan.

Sebagai orientasi perkembangan unit lingkungan.

(2)

Rencana

Peruntukan

Lahan

Mikro

(Peruntukan

Lantai)

Rencana peruntukan Lahan mikro merupakan kelanjutan dari penajaman detail fungsi ruang. Sasaran utamanya adalah untuk menentukan alokasi jenis peruntukan lahan serta distribusi secara spasial (ruang) didalam

perencanaan Kawasan Tujuan dari penentuan peruntukan lahan mikro adalah :

Menjamin adanya keterkaitan fungsi dan aktivitas antar unit lingkungan dan pusat pelayanan baik dari skala lingkungan maupun skala regional.

Menetukan jenis dan macam aktivitas dan fungsi ruang pada kawasan perencanaan.

Mengupayakan adanya keterkaitan aktivitas sehingga tercipta aktivitas yang berkelanjutan.

Menentukan pemanfaatan fungsi dan aktivitas yang dibatasi antara kepentingan publik dan privat. Peruntukan Lantai Dasar

Dalam Peruntukan lantai dasar Secara umum peruntukan lantai dasar harus berorientasi pada kepentingan umum (public amenities), sehingga ruang-ruang disekitarnya dapat terjaga kesinambungannya baik dari hirarki fungsi ruang maupun aksesibilitas pejalan kaki. Dengan demikian fungsi ruang transisi pada media perpindahan dari fungsi satu ke fungsi lain tetap terjaga (integrated interchange).

Yang penting disini adalah fungsi ruang untuk peruntukan lantai dasar pada fungsi komersial, hal ini dimaksudkan agar terjadi keterkaitan dan kesinambungan pergerakan pejalan kaki dan skala manusia yang terbentuk oleh enclosure ruang (koridor).

Peruntukan Lantai Atas

Peruntukan lantai atas digunakan sebagai aktivitas dengan sifat ruang privat dan semi privat. Lantai atas pada tiap-tiap fungsi merupakan suatu ruang utama. Perlu ditetapkan fungsi-fungsi ruang lantai atas yang sesuai dengan program yang sudah ditetapkan.

(3)

Rencana Sistem Pergerakan (Sirkulasi)

Rencana sistem Pergerakan ini mempunyai tujuan sebagai suatu sistem penghubung (linkage system) yang akan mengkaitkan aktivitas satu dengan yang lainnya. Prinsip keterjangkauan, kemudahan, kenyamanan dan keamanan diupayakan sebagai dasar perencanaan. Beberapa elemen sistem pergerakan adalah : Sirkulasi, kendaraan dan Pedestrian.

Sasaran utamanya adalah untuk meningkatkan kemampuan lahan (land capability) melalui perbaikan tingkat pencapaian ke dan di dalam kawasan.

Tujuan :

Menjamin keterkaitan (linkage) diantara sistem sirkulasi.

Meningkatkan hubungan fungsional diantara berbagai jenis peruntukan didalam kawasan.

Merupayakan keterkaitan (linkage) serta pemisahan yang jelas antara berbagai moda sirkulasi (pejalan kaki, kendaraan dan service).

(4)

Mengupayakan

transportasi. Rencana Ruang Terbuka dan Ruang Hijau

keterpaduan

sistem

dan

sarana

Diarahkan sebagai orientasi solid void kawasan, zone interaksi dan akuluturasi budaya, perlindungan terhadap sumber daya alam dan ekosistem. Ruang terbuka terdiri dari ruang terbuka umum dan ruang terbuka khusus, sedangkan pemanfaatannya ruang terbuka dapat menjadi ruang terbuka hijau.

Luas KDH diarahkan mempunyai luas 30 % dari total luas kawasan Rencana Sarana Prasarana dan Utilitas Bangunan dan Lingkungan, sesuai dengan arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten.

Sasaran utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan kawasan dengan jalan menyediakan lingkungan yang aman, sehat dan menarik serta berwawasan ekologis, melalui penciptaan berbagai jenis ruang terbuka dan pola tata hijau.

Konsep ruang terbuka dan tata hijau ini nantinya sangat mempengaruhi citra dari Kawasan. Upaya yang dapat dilakukan untuk membantu mencapai sasaran tersebut adalah dengan jalan perbaikan lingkungan pejalan kaki. Dengan adanya ruang terbuka dapat mengakomodasi pertumbuhan dan menghindari dampak negative pertumbuhan kawasan.

(a)

Ruang Terbuka Umum (Publik)

Ruang terbuka umum utama pada Kawasan sebaiknya diarahkan didaerah pusat budaya. Dengan demikian jalur-jalur pejalan kaki (pedestrian) menuju ruang terbuka umum tersebut harus dalam kondisi baik dan dapat dipergunakan dengan nyaman pada siang atau malam hari.

(b)

Ruang Terbuka yang bersifat tidak umum (private owned) namun terbuka untuk umum

Ruang terbuka yang bersifat tidak umum/privat (private owned) namun terbuka untuk umum (publicly accessible) pada kawasan perencanaan, terdapat pada sub-sub blok komersial campuran dan perkantoran komersial. Ruang terbuka tersebut bersifat menerus, oleh karena itu harus mampu menampung fungsi-fungsi yang berorientasi pada pejalan kaki, jalur tembus, dengan tempat-tempat duduk. Tidak diperkenankan adanya pagar antara sub-blok dan jalan, atau dengan membuatnya transparan sebagai bagian yang menyatu dengan unsur tata hijau.

(c)

Ruang Private

Ruang terbuka private/tertutup untuk umum merupakan ruang terbuka yang memiliki

pencapaian terbatas. Ruang terbuka private harus memiliki sistem penerangan yang layak dengan tempat-tempat duduk yang layak untuk memberikan kesempatan penghuni saling berinteraksi dan bersosialisasi dengan baik. Keberadaan ruang terbuka private dapat ditunjang dengan sarana rekreasi aktif seperti lapangan badminton atau basket. Ruang luar dapat dipisahkan oleh pembatas dari pepohonan, perdu maupun tanaman lain.

(d) Pola Tata Hijau

Sebagai salah satu unsur penting dalam perencanaan dan perancangan ruang terbuka di kawasan tropis adalah pola tata hijau dan iklim mikro. Penggunaan unsur air dan sirkulasi udara alami sangat mendukung aspek perancangan ruang luar yang baik.

Pola tata hijau pada blok-blok komersial diupayakan berkarakter formal, sedangkan pada unit hunian sedikit informal. Batas antar sub blok dapat ditanami dengan tanaman rumput dan tata hijau sebagai buffer.

(5)

Rencana Aktivitas Penunjang

Aktivitas pendukung diarahkan kepada aktivitas yang mempu menjadi bangkitan aktivitas kawasan misalnya

sektor non-formal pariwisata, kesenian, PKL dan unsur- unsur tradisi yang diharapkan dapat menjadi modal awal terjadinya kekuatan aktivitas terbaru di kawasan pengembangan.

(6)

Rencana Detail

a. Rancangan Tata Bangun

Sasaran utamanya adalah untuk menetapkan bentuk, besaran dan massa bangunan yang dapat menciptakan dan mendefinisikan ruang (luar) yang akomodatif terhadap berbagai bentuk kegiatan yang mengambil tempat ke dalam kawasan.

Tujuan :

Menetukan garis sempadan bangunan, setback bangunan dan jarak bebas antar bangunan.

Menentukan besar sosok dan proprsi massa bangunan.

Menetukan kepadatan (blok) bangunan.

Menetukan ketinggian bangunan.

Menentukan titik acuan ketinggian (± 0.00 m).

Merekomendasikan ambang volume bangunan (building envelope).

Merekomendasikan tata letak bangunan, dari segi orientasi, ekologi dan iklim.

keterpaduan konsep

arsitektural yang selaras antara kinerja dan

fungsi.

Mengupayakan

Tata Bangunan ini mencakup bentuk dan pengelompokan massa bangunan yang membantu terciptanya suatu lingkungan kawasan yang terpadu. Dalam menentukan bentuk dan massa bangunan dipengaruhi oleh kaidah-kaidah di balik wujud fisik kawasan. Dengan adanya bentuk dan massa bangunan akan menciptakan batas ruang yang membantu terwujudnya sistem ruang terbuka.

Secara umum, tata bangunan tersebut terbentuk dari batas khayal ambang volume (building envelope) yang tercipta dari penggabungan ketinggian maksimum bangunan serta batasan luas bangunan. Pendekatan ini dilakukan agar fleksibilitas dalam perencanaan dan perancangan bangunan tetap terpelihara dengan tetap mengupayakan terpenuhinya peruntukan lahan, serta mengenali batasan dari intensitas pemanfaatan lahan yang dapat ditampung dalam sub-blok.

Dalam perencanaan dan perancangan arsitekturnya diupayakan untuk memadukan antara konsep arsitektur dan konsep ruang luar serta menyelaraskan kinerja arsitektural berdasarkan

fungsi, sehingga dapat menciptakan citra dan identitas arsitektural pada Kawasan akan terwujud suatu sense of place.

Blok Pemerintahan dan Budaya

Pembangunan blok pemerintahan dan pusat budaya diharapkan dapat mengendalikan pengembangan dan mempertahankan ruang terbuka hijau yang ada dengan tetap meningkatkan kualitas pelayanan pada skala regional.

Pada blok pemerintahan bangunan di tata dengan teratur untuk memberikan kesan formal dan monumental sedangkan untuk blok pusat budaya, massa-massa bangunan ditata sedikit bebas dan organis untuk memberikan kesan non formal dan rekreatif. Pengaturan massa bangunan harus dikonfigurasikan membentuk ruang-ruang positif pada kawasan.

Blok Hunian

Pembangunan blok-blok hunian diharapkan dapat memberikan karakter yang akan meningkatkan sense of community dalam kawasan tersebut. Perencanaan unit-unit dalam sub blok hunian umumnya berbentuk memanjang (linier) menyesuaikan dengan

konfigurasi lahannya, dengan tidak meninggalkan fleksibilitas dalam perancangan tapak dan bangunan. perencanaan massa yang linier dan menerus pada tapak diharapkan dapat membentuk ruang orientasi tengah (innercourt) yang tertata dengan baik dan terpisah dari jalan umum.

Unit-unit hunian diusahakan terlindung dari sinar matahari yang berlebihan, berkarakter dan manusiawi. Pemakaian balkon dan penggunaan atap miring dengan bahan penutup atap yang selaras dengan sistem pelapis luar bangunan sangat dianjurkan. Pemakaian warna dalam blok hunian harus selaras dengan blok lain, sehingga akan tercipta sense of unity pada kawasan. Pemakaian jendela kaca yang tidak memantulkan sinar dengan jalan menghindari pemakaian kaca cermin (reflective glass).

Blok Komersial dan Jasa

Perencanaan dan perancangan blok-blok komersial dan perkantoran harus dapat memberikan dampak visual dan memberikan identitas terhadap kawasan. Bangunan- bangunan dalam blok komersial dan perkantoran harus membentuk hubungan

arsitektural

bangunan-bangunan hunian.

yang selaras

dan serasi

dengan

b. Tata Informasi (Signage) Dan Streetscape

Sasaran utamanya untuk menciptakan sebuah lingkungan yang informatif sehingga akan memudahkan dalam orientasi dan sikulasi. Jenis- jenis tata informasi (signage) dan streetscape yang direncanakan antara lain :

Tata

System)

Informasi

Terpadu

(Built-In

Signage

Tata informasi yang terpadu ditujukan pada citra, karakter dan tata bangunan. Yang termasuk didalamnya antara lain adalah bangunan yamg berfungsi sebagai landmark, focal point serta bahan eksterior bangunan yang mampu memberikan petunjuk (clues) kepada pengunjung kawasan yang akan berorientasi (menentukan tujuan). Pengelolaan podium bangunan juga dapat memberikan arah pengunjung ke pintu masuk utama maupun servis tiap bangunan. Bentuk podium tertentu yang menarik dijadikan sebagai pintu masuk servis sebaiknya diletakkan pada tempat yang tidak mengganggu pemandangan.

Tata Informasi Yang Mengarahkan (Directional System)

Tata informasi yang mengarahkan ditujukan untuk menerangkan identitas dan lokasi bisnis serta fasilitas dan jasa yang ada pada kawasan. Termasuk juga rambu-rambu lalulintas dan rambu untuk pejalan kaki yang masing-masing harus konsisten pada kawasan. Rambu bisa juga dalam bentuk tulisan dan simbol grafis.

Papan Nama (Organized Billboards)

Papan Nama biasanya ditujukan pada rambu usaha, seperti billboard. Pembuatan papan nama harus diatur (dari ukuran, pemasangan, dan lain-lain) agar dapat tercipta keserasian serta mengurangi dampak visual yang negatif dalam kawasan. Papan nama akan menciptakan sense of place yang positif dan menarik serta tidak mengganggu. Daerah pemasangan papan nama akan diatur dan ditentukan dalam panduan rancangan masing- masing sub-blok. Dengan adanya sistem rambu dan papan nama yang terpadu akan memberikan kemudahan bagi pengunjung jika memasuki ataupun mencari daerah dalam kawasan.

Perangkat Jalan (Street Furniture)

Sistem informasi yang direncanakan dan dirancang dengan baik dan terpadu akan memberi nilai tambah pada karakter bangunan dan membuat hidup streetscape dalam kawasan. Termasuk dalam streetscape tersebut antara lain adalah: perangkat jalan/street furniture, patung-patung, kanopi, awning dan lampu jalan. Yang termasuk dalam street furniture adalah semua unsur skala kecil yang dapat dipakai oleh umum, misalnya:

tempat duduk, tempat sampah, kios-kios, shelter, box telepon, dan lain-lain.

Pemakaian bahan dan warna harus konsisten pada masing-masing blok. Pemasangan patung atau sculpture di ruang-ruang terbuka umum sangat mendukung kualitas ruang terbuka. Penggunaan kanopi dan awning dapat melindungi pejalan kaki dari hujan dan matahari disamping dapat memberikan keteduhan. Penggunaan pergola dan pemasangan tenda juga dapat memberikan kesan indah dan selaras dengan karakter bangunan.

Kegiatan Pendukung (Support Activities)

Kegiatan-kegiatan pendukung (support activities) yaitu semua fungsi informal yang membantu terciptanya streetscape, memperkuat kualitas ruang kawasan pengembangan bagi kepentingan umum. Termasuk didalamnya adalah para penjaja barang, penjual makanan, juga kegiatan kaki lima lain yang terorganisir dengan baik dan terpadu.

Kegiatan pendukung tersebut berpotensi untuk melayani berbagai lapisan masyarakat yang melaksanakan aktivitas sehari-hari mereka di pusat-pusat bisnis kawasan. Dengan begitu akan tercipta integrasi dan interaksi sosial, serta penciptaan kualitas lingkungan yang lebih baik dan sehat.

c. Prasarana dan Utilitas

Sasaran utamanya untuk menyediakan sistem utilitas yang terpadu (integrated) dalam sistem prasarana. Penyediaan prasarana umum seperti: air bersih, air kotor, limbah padat, listrik, telepon dan utilitas lainnya diusahakan tertanam di dalam tanah, khususnya dibawah ROW atau Daerah Milik Jalan (Damija). Sempadan yang memadai perlu disediakan di sepanjang jalan untuk menampung

sistem utilitas ini. Saluran utilitas ke dalam sub-sub blok bermuara dari jalur utilitas ini.

Penyediaan listrik, telepon dan utilitas lainnya harus dipertimbangkan dengan baik untuk jangka panjang maupun untuk jangka pendek (interim), khususnya yang berkaitan dengan penempatan utilitas selama masa kontruksi dan pembangunan. Penyediaan air bersih dan pengolahan limbah untuk jangka panjang sangat terkait dan berhubungan dengan aspek pembangunan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di masa mendatang. Perencanaan yang optimal harus dilakukan dalam penentuan sistem pengolahan limbah padat. Dalam hal ini unit pengolahan limbah harus disediakan didalam sub-blok atau dipusatkan untuk seluruh kawasan.

d. Sarana Lingkungan dan Fasilitas Umum

Sasaran utamanya untuk memberikan sumbangan fasilitas masyarakat dengan melayani seluruh fungsi di dalam dan di sekitar kawasan. Pengadaan sarana lingkungan dan fasilitas umum pada kawasan menjadi bagian dari kontribusi dan kewajiban Pemerintah Daerah, dimana penataan fisiknya tidak terlepas dari konsep sub-blok secara keseluruhan. Termasuk didalam sarana lingkungan pada kawasan ini adalah ruang terbuka umum seperti

taman-taman pada daerah gerbang masuk kawasan, jalur-jalur pejalan kaki pada kedua sisi jalan-jalan utama kawasan. Jalur-jalur tersebut dilengkapi dengan street furniture yang mampu mewadahi kegiatan masyarakat. Selain itu juga pengadaan fasilitas halte (pemberhentian bus) dan jembatan penyeberangan pejalan kaki.

Beberapa fasilitas dan sarana dasar tersebut antara lain adalah :

1. Fasilitas Peribadatan.

2. Fasilitas Pendidikan.

3. Fasilitas Perekonomian (Toko, warung, Pasar).

4. Fasilitas Pelayanan Umum.

5. Fasilitas olah raga dan rekreasi.

6. Fasilitas Umum: Sub Terminal, Pangkalan Ojek, Pemakaman Umum, dll.

BAB - 3 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAERAH

3.1 Kebijakan Program Pembangunan Daerah

3.1.1

Rencana

Tahun 20052025

Pembangunan

Jangka

Panjang

Daerah

(RPJPD)

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Mappi Tahun 20052025 dijabarkan visi pembangunan daerah yaitu: Mappi Kawasan Sejuta Rawa Produktif di Selatan Papua yang Berbudaya, Maju, Mandiri, dan Adil. Visi tersebut diharapkan dapat diwujudkan melalui proses pembangunan yang interaktif, produktif, dan dinamis yang mengutamakan keharmonisan dan kedamaian, sesuai dengan motto Kabupaten Mappi yaitu Usubi Yohokuda Tako Bayaman atau Damai Bersehati Saling Melayani.

Visi sebagaimana tersebut di atas secara garis besar mengandung dua bagian pokok, yaitu: Kawasan Sejuta Rawa Produktif di Selatan Papua, menunjukkan eksistensi dan jati diri wilayah Kabupaten Mappi yang menjadi faktor pembeda dari wilayah kabupaten/kota atau daerah lainnya dalam konstelasi regional, nasional, dan internasional; dan Berbudaya, Maju, Mandiri dan Adil menunjukkan tujuan dan cita-cita masyarakat Kabupaten Mappi yang akan diwujudkan dalam kurun waktu 20 tahun.

Dari visi tersebut, dirumuskan 5 (lima) misi pembangunan Kabupaten Mappi tahun 20052025 yaitu sebagai berikut :

(1)

Mewujudkan masyarakat yang berbudaya dan beradab dalam perikehidupan yang aman, tertib, bersatu, damai dan adil;

Melalui upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membina kehidupan sebagai umat beragama yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dilandasi sikap toleransi dan saling menghormati antar umat beragama maupun dalam interaksi antar komunitas adat/budaya, sehingga dapat mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang aman, tertib, bersatu dalam kedamaian yang dapat menempatkan nilai-nilai adat/tradisi dan budaya serta kearifan lokal sebagai inspirasi dalam pembangunan sekaligus dapat memperkokoh eksistensi dan jati diri masyarakat Mappi dalam lingkungan nasional dan global.

(2) Mewujudkan masyarakat yang cerdas, sehat dan mempunyai daya saing, melalui upaya-upaya :

(i) Meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat disertai wawasan IPTEK, kompetensi kerja dan kemampuan berprestasi, serta etos kerja yang tinggi dengan menyediakan prasarana dan sarana pendidikan yang memadai, penyediaan tenaga pengajar dan manajemen sekolah yang memadai, kebijakan sistem pendidikan bagi kelompok

masyarakat asli Papua dan tergolong tidak mampu;

(ii)

Meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat dengan menjamin pelayanan kesehatan yang menjangkau hingga ke tingkat kampung, penyediaan prasarana dan sarana kesehatan yang baik termasuk manajemen rumah sakit hingga pusat pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat Distrik, kebijakan sistem pelayanan kesehatan daerah bagi kelompok masyarakat asli papua dan tergolong tidak mampu, penyediaan sumber daya manusia bidang kesehatan, dan pembinaan wawasan kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana dan sejahtera;

(iii)

Meningkatkan kualitas pelayanan administrasi dan penanganan masalah-masalah kependudukan yang diorientasikan pada pengendalian jumlah dan penyebaran penduduk;

(iv)

Meningkatkan kualitas penanganan dan penyelesaian masalah sosial; dan

(v)

Meningkatkan kualitas partisipasi dan kompetensi masyarakat dalam pembangunan terutama dalam mendorong kesetaraan gender, peran-serta pemuda dan lembaga kepemudaan, serta peningkatan prestasi olah raga.

(3) Mewujudkan infrastruktur yang memadai di seluruh kawasan guna menciptakan kehidupan yang nyaman dan ramah lingkungan; melalui upaya-upaya:

(i)

Pengendalian pemanfaatan ruang sesuai peruntukkannya guna mencegah terjadinya penurunan kualitas dan daya dukung lingkungan;

(ii)

Mendorong percepatan dan pemerataan pembangunan prasarana dan sarana dasar yang memadai guna menunjang pembukaan dan pengembangan kawasan yang masih terisolir dan tertinggal dengan meningkatkan investasi pembangunan prasarana dan sarana pokok yang langsung dirasakan oleh masyarakat sampai ke tingkat kampung, serta memberikan peluang seluas-luasnya untuk masuknya investasi yang dapat menunjang upaya percepatan pembangunan di daerah yang masih terisolasi tersebut;

(iii)

Mengoptimalkan pembangunan sarana dan prasarana perhubungan yang mendukung kelancaran akses antar wilayah, percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah, dan peningkatan kualitas pelayanan sosial;

(iv)

Mengembangkan moda transportasi yang handal, berkualitas, aman, lancar, dan terpadu serta terjangkau oleh masyarakat, yang

menghubungkan pusat-pusat kegiatan antar wilayah; (v) Meningkatkan kuantitas dan kualitas pembangunan prasarana dan sarana dasar perumahan dan permukiman yang memadai mencakup rumah-rumah layak huni, air bersih, sanitasi, persampahan, listrik, pos dan telekomunikasi, jalan lingkungan, sistem drainase dan pengendalian banjir, dan fasilitas penunjang lainnya; dan (vi) Menerapkan konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan melalui pengembangan sistem pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam yang tetap menjaga fungsi, daya dukung dan daya tampung, pemanfaatan ruang yang serasi, pemanfataan ekonomi sumber daya alam dan lingkungan yang berkesinambungan, serta pemeliharaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai modal dasar bagi pembangunan Kabupaten Mappi. (4) Mewujudkan Kemajuan dan Keunggulan Perekonomian yang Berlandaskan Ekonomi Kerakyatan;

Melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan memperkuat ekonomi di wilayah kampung berbasis keunggulan masing-masing sektor dengan membangun sistem produksi, distribusi dan pelayanan dalam rangka mengurangi kesenjangan sosial antara ibukota

kabupaten dengan distrik maupun distrik dengan kampung, keberpihakan kepada ekonomi rakyat dengan memperkuat perekonomian rakyat yang tumbuh sebagai komoditi unggulan, mengembangkan kesempatan kepada masyarakat kampung untuk mengakses sistem perekonomian dan tanpa diskriminasi gender dalam pengembangan ekonomi;

(5)

Mewujudkan Pemerintahan yang Baik dan Bersih, Berkeadilan, Demokratis, dan Berlandaskan Hukum.

Melalui upaya pemantapan kelembagaan demokrasi yang lebih kokoh, memperkuat peranan civil society, meningkatkan kualitas pelaksanaan desentralisasi, otonomi daerah dan otonomi khusus, mengembangkan budaya tertib hukum, mengembangkan hukum adat yang merupakan amanat otonomi khusus menjadi hukum positif, tidak diskriminatif dan berpihak kepada rakyat yang miskin di tingkat kampung.

Dari ke-5 (lima) misi RPJPD tersebut, misi ke-3 (tiga) yaitu mewujudkan infrastruktur yang memadai di seluruh kawasan guna menciptakan kehidupan yang nyaman dan ramah lingkungan, melalui upaya-upaya: pengendalian pemanfaatan ruang, percepatan dan pemerataan pembangunan prasarana dan sarana dasar yang memadai, pembangunan sarana dan prasarana perhubungan, pengembangan moda transportasi, peningkatan kuantitas dan kualitas pembangunan prasarana dan sarana dasar perumahan dan permukiman serta penerapan

konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan, dapat diwujudkan antara lain melalui kegiatan penyusunan rencana tata ruang Kampung Aboge ini.

Tema Pembangunan dan Agenda Pembangunan untuk setiap periode 5 (lima) tahunan atau setiap tahap pembangunan jangka menengah adalah sebagai berikut:

1. RPJMD Tahap ke-I Tahun 20072012 bertemakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Menyelenggarakan Pelayanan Kepada Masyarakat, dengan agenda pokok:

(i)

Restrukturisasi Organisasi Pemerintah Daerah dan

Pembinaan Aparatur;

(ii)

Peningkatan Pengelolaan dan Pengawasan Keuangan Daerah;

(iii)

Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Prasarana Dasar;

(iv)

Pelestarian Lingkungan Hidup dan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan;

(v)

Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat dan Peningkatan Kualitas Hidup Beragama; dan

(vi)

Peningkatan Supremasi Hukum dan

Penghormatan Hak-hak Masyarakat Adat.

2. RPJMD Tahap ke-II Tahun 20122017 bertemakan Meningkatkan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur Dalam Menunjang Perbaikan Mutu

dan Pelayanan Kepada Masyarakat, dengan agenda pokok:

(i)

Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur dalam Penyelenggaraan Pemerintahan;

(ii)

Pembangunan Infrastruktur Dasar Berbasis RTRW dan Kelestarian Lingkungan Hidup;

(iii)

Penyelenggaraan Pembangunan Berbasis Kampung / Distrik;

(iv)

Peningkatan Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Masyarakat; dan

(v)

Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Sinergitas Pengelolaan Potensi Sumber Daya Alam.

3. RPJMD Tahap ke-III Tahun 20172022 bertemakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintah Daerah dan Peran serta Masyarakat Dalam Pelaksanaan Pembangunan, dengan agenda pokok:

(i)

Peningkatan Mutu Penyelenggaraan Pemerintahan Pada Semua Tingkatan;

(ii)

Pengembangan Jaringan Infrastruktur Berbasis Perencanaan Wilayah Pembangunan dan Pembangunan Berbasis Kampung / Distrik;

(iii)

Peningkatan Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Masyarakat; dan

(iv)

Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Sinergitas Potensi Investasi.

4. RPJMD Tahap ke-IV Tahun 20222026 bertemakan Mendorong Percepatan Pembangunan Melalui

Sinergitas Pemerintah dan Masyarakat, dengan agenda pokok:

(i)

Peningkatan dan Pemerataan Mutu Penyelenggaraan Pemerintahan Pada Semua Tingkatan;

(ii)

Pembangunan dan Pengembangan Infrastruktur Berbasis RTRW, Pembangunan Berbasis Kampung /Distrik, dan Kelestarian Lingkungan Hidup;

(iii)

Peningkatan Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Masyarakat;

(iv)

Restrukturisasi Ekonomi Kabupaten Berbasis Potensi Wilayah Pembangunan; dan

(v)

Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Sinergitas Investasi.

Untuk mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah Kabupaten Mappi, ditetapkan tema Pembangunan dan Agenda Pembangunan untuk setiap periode 5 (lima) tahun atau setiap tahap pembangunan jangka menengah sebagaimana dapat dilihat pada diagram Gambar 3-1.

GAMBAR 3-1 SKEMA TAHAPAN RPJMD KABUPATEN MAPPI

RPJMD Tahap ke-I Tahun 20072012

Tema : Meningkatkan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Menyelenggarakan Pelayanan Kepada Masyarakat, Agenda pokok:

Restrukturisasi Organisasi Pemerintah Daerah dan Pembinaan Aparatur;

Peningkatan Pengelolaan dan Pengawasan Keuangan Daerah;

Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Prasarana Dasar;

Pelestarian Lingkungan Hidup dan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan;

Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat dan Peningkatan Kualitas Hidup Beragama; dan

Peningkatan Supremasi Hukum dan Penghormatan Hak-hak Masyarakat Adat.

RPJMD Tahap ke-II Tahun 20122017

Tema : Meningkatkan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur Dalam Menunjang Perbaikan Mutu dan Pelayanan Kepada Masyarakat.

Agenda Pokok :

Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur

dalam Penyelenggaraan Pemerintahan;

Pembangunan Infrastruktur Dasar Berbasis RTRW dan Kelestarian Lingkungan Hidup;

Penyelenggaraan Pembangunan Berbasis Kampung / Distrik;

Peningkatan Kualitas Hidup dan

Kesejahteraan Masyarakat; dan

Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Sinergitas

Pengelolaan Potensi Sumber Daya Alam.

Sumber : RPJPD Kabupaten Mappi tahun 2007-2026

RPJMD Tahap ke-III Tahun 20172022

Tema : Meningkatkan Kapasitas Pemerintah Daerah dan Peran serta Masyarakat Dalam Pelaksanaan Pembangunan. Agenda Pokok :

Peningkatan Mutu

Penyelenggaraan Pemerintahan Pada Semua Tingkatan;

Pengembangan Jaringan Infrastruktur Berbasis

Perencanaan Wilayah Pembangunan dan Pembangunan Berbasis Kampung/Distrik;

Peningkatan Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Masyarakat; dan

Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Sinergitas Potensi

Investasi.

RPJMD Tahap ke-IV Tahun 20222026

Tema : Mendorong Percepatan Pembangunan Melalui Sinergitas Pemerintah dan Masyarakat. Agenda Pokok :

Peningkatan dan Pemerataan

Mutu Penyelenggaraan Pemerintahan Pada Semua Tingkatan;

Pembangunan dan Pengembangan Infrastruktur Berbasis RTRW, Pembangunan Berbasis Kampung / Distrik, dan Kelestarian Lingkungan Hidup;

Peningkatan Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Masyarakat;

Restrukturisasi Ekonomi Kabupaten Berbasis Potensi Wilayah Pembangunan; dan

Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Sinergitas Investasi.

3.1.2 Rencana Pembangunan Menengah Panjang Daerah (RPJMD) Tahun 20122017

Dengan mempertimbangkan kondisi dan potensi daerah, permasalahan, tantangan dan peluang yang ada di Kabupaten Mappi serta dengan dengan mempertimbangkan aspek budaya dalam masyarakat, maka visi Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Mappi tahun 2012 - 2016 adalah visi dari Bupati dan Wakil Bupati Mappi Terpilih, yaitu : Mewujudkan Kualitas Hidup Masyarakat Kabupaten Mappi Yang Bermartabat Dan Berkualitas Dengan Pendekatan Pada Kearifan Budaya Sebagai Dasar Pembangunan.

Visi tersebut merupakan implementasi dari upaya mendukung terwujudnya Visi Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Mappi 2005-2025 yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu Mappi Kawasan Sejuta Rawa Produktif di Selatan Papua yang Berbudaya, Maju, Mandiri dan Adil", Visi Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Papua yaitu Papua yang Mandiri Secara Sosial, Budaya, Ekonomi dan Politik" dan Visi Pembangunan Nasional yaitu "Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur".

Cakupan pernyataan Visi sebagaimana tersebut di atas secara garis besar mengandung 4 (empat) bagian pokok, yaitu :

1. Masyarakat Kabupaten Mappi, mengandung makna seluruh warga/masyarakat/ penduduk yang hidup dan mengabdikan hidupnya di Kabupaten Mappi dan tercatat sebagai penduduk di Kabupaten Mappi, yang secara sosio-kultural mencakup warga masyarakat suku-suku

Papua asli maupun masyarakat suku-suku lain yang berasal dari luar pulau Papua;

2. Bermartabat, mengadung makna bahwa pembangunan jangka menengah (2012-2016) di Kabupaten Mappi diarahkan untuk mewujudkan karakter masyarakat yang bermartabat, yang tercermin dari karakter masyarakat yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta taat aturan hukum yang berlaku yang merupakan wujud nyata harga diri dan identitas jati diri berlandaskan nilai- nilai luhur kearifan lokal (adat/ istiadat/tradisi yang positif) dalam konteks kehidupan sosial di tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional;

3. Berkualitas, mengandung makna bahwa pembangunan jangka menengah (2012-2016) di Kabupaten Mappi diarahkan untuk dapat mewujudkan masyarakat yang

berkualitas yang tercermin dari capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang semakin tinggi sebagai indikasi dari meningkatnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat diukur dari :

a. Meningkatnya angka partisipasi sekolah, angka rata-rata kelulusan, angka melanjutkan sekolah yang disertai capaian strata pendidikan yang semakin tinggi,

b. Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat yang ditunjukkan oleh menurunnya angka kematian ibu dan bayi, angka kecukupan gizi yang semakin baik, serta usia harapan hidup yang terus meningkat,

c. Meningkatnya produktifitas dan daya beli masyarakat seiring dengan perkembangan kondisi perekonomian daerah.

d. Tingkat capaian IPM yang semakin tinggi juga menjadi indikasi dari meningkatnya kinerja penyelenggaraan pelayanan publik, kinerja penyelenggaraan pemerintahan di daerah, dan kinerja pembangunan di daerah.

4. Kearifan Budaya sebagai Dasar Pembangunan, mengandung makna bahwa nilai-nilai luhur adat istiadat/tradisi positif dari kebudayaan Mappi menjadi ‘ruh’ atau ‘jiwa’ yang mewarnai setiap bentuk pembangunan yang dilaksanakan, sehingga semangat Usubi Yohokuda Tako Bayaman’ dapat tercermin sebagai karakter pembangunan di Kabupaten Mappi.

Dalam rangka mewujudkan Visi Pembangunan Kabupaten Mappi tersebut, maka dirumuskan 7 (tujuh) Misi Pembangunan Kabupaten Mappi Tahun 2012-2016, yaitu sebagai berikut :

a. Membangun dan menyediakan infrastruktur sebagai upaya mengurangi/membuka isolasi daerah,

b. Meningkatkan mutu dan menambah tenaga kependidikan (kapasitas para guru atau pendidik),

c. Meningkatkan pelayanan mutu hidup sehat bagi masyarakat (penyediaan prasarana dan sarana tenaga medis, dokter ahli, dokter umum, bidan, dan mantri) serta memperhatikan kesejahteraan para medis,

d. Melakukan pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan ekonomi rumah tangga berupa investasi dan bantuan modal usaha kepada petani dan nelayan serta pedagang kecil,

e. Menjadikan masyarakat mappi yang demokratis (saling menghormati, rasa persaudaraan, menghargai perbedaan suku, ras, bahasa, agama dan budaya), serta tetap berpegang pada nilai-nilai universal sebagaimana dalam konvensi internasional mengenai hak asasi manusia (HAM),

f. Meningkatkan prasarana dan sarana keagamaan, melakukan kegiatan safari toleransi umat beragama dan mengimplementasikan motto Kabupaten Mappi "Usubi Yohokuda Tako Bayaman" artinya damai bersehati saling melayani, dan

g. Meningkatkan prasarana dan sarana olah raga berprestasi dan olah raga masyarakat.

Adapun tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah Kabupaten Mappi Tahun 2012-2016 adalah sebagai berikut :

a. Mendorong percepatan pemerataan pembangunan secara proporsional melalui peningkatan kinerja pembangunan prasarana dan sarana di seluruh wilayah distrik/kampung dengan yang di pembangunan daerah yang serasi, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

b. Meningkatkan kuantitas dan kualitas penyelenggara pendidikan guna mendorong peningkatan akses dan mutu pendidikan bagi masyarakat.

c. Mewujudkan keluarga sehat dan sejahtera melalui peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan dan bina keluarga berencana (KB), pemberdayaan perempuan, dan pelayanan sosial kependudukan.

d. Mendorong potensi sumber daya ekonomi kerakyatan sebagai basis pengembangan ekonomi lokal yang menunjang perbaikan kesejahteraan masyarakat.

e. Memfasilitasi peningkatan produktifitas UMKM dan koperasi sebagai basis ekonomi masyarakat yang berpotensi menyerap tenaga kerja sekaligus menjadi daya tarik investasi.

f. Mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih (good governance dan clean government).

g. Meningkatkan supremasi hukum dalam mewujudkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas).

h. Meningkatkan kesadaran hidup beragama dan toleransi antar Umat beragama maupun antar komunitas adat/budaya.

i. Memasyarakatkan olah raga sebagai media partisipasi, bina prestasi dan pengembangan potensi generasi muda.

Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana pemerintah Kabupaten Mappi mencapai tujuan dan sasaran RPJMD tahun 2012-2016 dengan efektif dan efisien. Dengan pendekatan yang komperhensif, strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan transformasi, reformasi, dan perbaikan kinerja birokrasi. Perencanaan strategis tidak saja

mengagendakan berbagai kegiatan pembangunan, tetapi juga segala program yang mendukung dan menciptakan layanan masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan baik, termasuk didalamnya upaya memperbaiki kinerja dan kapasitas birokrasi, sistem manajemen, dan pemanfatan teknologi informasi.

Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program- program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi dijadikan salah satu rujukan penting dalam perencanaan pembangunan daerah (strategy focused management). Rumusan strategi merupakan pernyataan yang menjelaskan bagaimana sasaran akan dicapai yang selanjutnya diperjelas dengan serangkaian arah kebijakan. Rumusan strategi tersebut juga dapat menunjukkan keinginan yang kuat bagaimana pemerintah daerah menciptakan nilai tambah (Value Added) bagi stakeholder pembangunan daerah. Penetapan strategi dilakukan untuk menjawab cara pencapaian sasaran pembangunan. Sebuah strategi dapat dilakukan untuk menjawab lebih dari 1 (satu) sasaran pembangunan.

Adapun Strategi Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Mappi Tahun 2012-2016, meliputi :

1. Pembangunan Infrastruktur Terpadu Berbasis Tata Ruang yang Dinamis, yaitu ditujukan untuk mencapai :

a. Terwujudnya perencanaan tata ruang dan perencanaan program pembangunan daerah yang berkesinambungan, dan

b. Terwujudnya pembangunan dan pengembangan prasarana dan sarana dasar di seluruh wilayah distrik.

2. Peningkatan Kualitas Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup, yaitu ditujukan untuk mencapai terwujudnya pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup.

3. Peningkatan Kualitas Pendidikan Masyarakat, yaitu ditujukan untuk mencapai meningkatnya akses dan mutu pendidikan terutama untuk penuntasan wajib belajar 9 tahun dan pencanangan wajib belajar 12 tahun bagi anak-anak usia sekolah.

4. Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat dan Keluarga Sejahtera, yaitu ditujukan untuk mencapai :

a. Meningkatnya akses dan mutu penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang didukung oleh ketersediaan prasarana dan sarana yang memadai serta tenaga medis dan paramedis yang profesional.

b. Meningkatnya mutu pembinaan keluarga berencana (KB) dalam mewujudkan keluarga sehat dan sejahtera.

5. Peningkatan Pelayanan Sosial dan Pengelolaan Kependudukan, yaitu ditujukan untuk mencapai :

a. Meningkatnya cakupan dan mutu pelayanan sosial bagi masyarakat, yang mencakup perlindungan

perempuan dan anak-anak, serta penyandang masalah kesejahteraan sosial lainnya, dan

b. Meningkatnya mutu proses penatalaksanaan data dan statistik kependudukan guna menunjang upaya peningkatan mutu pelayanan masyarakat.

6. Optimalisasi Pengelolaan dan Pemanfaatan Sektor- sektor Pertanian, Kelautan dan Perikanan, serta Kehutanan dan Perkebunan, yaitu ditujukan untuk mencapai meningkatnya kegiatan ekonomi sektor kehutanan, pertanian dan perkebunan, serta kelautan dan perikanan sebagai sektor unggulan ekonomi daerah.

7. Pengembangan Kapasitas dan Peran Sektor UMKM

dan Koperasi dalam meningkatkan daya serap Tenaga Kerja dan promosi investasi di daerah, yaitu ditujukan untuk mencapai meningkatnya kegiatan ekonomi lokal melalui perkuatan kelembagaan UMKM dan Koperasi maupun pengembangan investasi sektor pariwisata maupun sektor lainnya yang menunjang perluasan kesempatan kerja dan peluang usaha bagi

masyarakat.

8. Peningkatan Kualitas Tata Kelola Pemerintahan serta Penegakkan Hukum dan HAM, yaitu ditujukan untuk mencapai :

a. Meningkatnya kinerja penyelenggaraan pemerintahan;

b. Meningkatnya kemampuan keuangan (fiskal) daerah;

c. Meningkatnya mutu pengendalian dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah; dan

d. Meningkatnya ketaatan dan kesadaran hukum masyarakat dalam mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

9. Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama, yaitu ditujukan untuk mencapai meningkatnya rasa aman dan kesadaran masyarakat untuk menjalankan peribadatannya, yang dilandasi sikap saling menghargai/menghormati antar umat beragama maupun antara komunitas adat/budaya.

10. Pembinaan Prestasi Olah Raga dan Kepemudaan, yaitu ditujukan untuk mencapai :

a. Meningkatnya daya dukung prasarana dan sarana Olah Raga guna mendorong minat masyarakat maupun upaya mencetak prestasi di tingkat lokal, regional, dan nasional; dan

b. Tersedianya prasarana dan sarana penunjang kegiatan pengembangan potensi generasi muda.

Arah kebijakan adalah pedoman untuk mengarahkan perumusan strategi yang dipilih agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran dari tahun ke tahun selama 5 (lima) tahun. Rumusan arah kebijakan merasionalkan pilihan

strategi agar memiliki fokus dan sesuai dengan pengaturan pelaksanaannya.

Arah kebijakan Kabupaten Mappi merupakan fokus/tema pembangunan setiap tahunnya selama 5 (lima) tahun. Pentahapan dan fokus/tema ini mencerminkan urgensi permasalahan yang hendak diselesaikan berkaitan dengan pengaturan berdasarkan waktu. Penekanan fokus/tema dalam setiap tahunnya selama 5 (lima) tahun memiliki kesinambungan dari satu periode ke periode lainnya dalam rangka mencapai visi, misi tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Adapun arah kebijakan Kabupaten Mappi pada setiap tahunnnya (2012-2016) adalah sebagai berikut :

1. Arah Kebijakan Tahun Pertama (2012)

Pembangunan pada tahun 2012 diarahkan kepada pengembangan aktivitas pembangunan yang sesuai dengan potensi dan karakteristik wilayah dan tidak bertentangan dengan struktur dan pola ruang yang ada, dengan dukungan infrastruktur wilayah yang memadai guna menunjang upaya meningkatkan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Selaras dengan arahan tersebut, maka tema pembangunan Kabupaten Mappi pada tahun 2012 adalah Meningkatkan Kinerja Pelayanan Masyarakat melalui Penataan Kelembagaan Pemerintah dan Penatalaksanaan Pembangunan Infrastruktur Berbasis Kampung/Distrik.

2.

Arah Kebijakan Tahun Pertama (2013)

Pembangunan pada tahun 2013 diarahkan kepada pengembangan infrastruktur wilayah untuk menunjang seluruh aktivitas masyarakat serta pelayanan kesehatan dan pendidikan yang selaras dengan aspek tata ruang (berbasis spasial). Selain itu, pembangunan juga diprioritaskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia baik tenaga kerja maupun unsur aparatur pemerintah guna menunjang upaya meningkatkan pendidikan, aparatur pemerintah guna menunjang upaya meningkatkan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Selaras dengan arahan tersebut, maka tema pembangunan Kabupaten Mappi pada tahun 2013 adalah Meningkatkan Kinerja Pelayanan Masyarakat melalui Penataan Wilayah Pembangunan dan Penatalaksanaan Pembangunan Berbasis Kampung/Distrik.

3. Arah Kebijakan Tahun Pertama (2014)

Pembangunan pada tahun 2014 masih tetap diarahkan kepada pengembangan infrastruktur wilayah untuk menunjang seluruh aktivitas masyarakat sebagai perwujudan upaya peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendukung pertumbuhan sentra-sentra ekonomi rakyat berbasis sumber daya alam (sektor-sektor pertanian, kelautan dan perikanan, serta kehutanan dan perkebunan). Pada tahun ini, pembangunan tetap difokuskan pada

pengembangan kualitas sumber daya manusia, khususnya di sektor pendidikan (peningkatan kualitas tenaga pendidik dan lulusan anak didik), sektor kesehatan (peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga pelayanan kesehatan), serta sektor ekonomi dan ketenagakerjaan (kualitas tenaga kerja yang kompeten dan produktif).

Dengan demikian, diharapkan kualitas sumber daya manusia, khususnya tenaga kerja dan pencari kerja dapat mendukung dan berperan aktif dalam pengembangan sentra ekonomi rakyat berbasis SDA, dan mempunyai daya saing yang cukup memadai dalam lingkup pasar tenaga kerja. Dalam rangka meningkatkan mutu penyelenggaraan pelayanan publik, maka pembangunan tahun ini tetap berlandaskan pada penerapan tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Dengan demikian, peningkatan daya dukung infrastruktur, kualitas sumber daya manusia dan tata kelola pemerintahan yang baik, diharapkan dapat merangsang pertumbuhan sentra-sentra ekonomi rakyat yang mendorong pertumbuhan perekonomian wilayah.

Selaras dengan arahan tersebut, maka tema pembangunan Kabupaten Mappi pada tahun 2014 adalah "Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Percepatan Pembangunan Infrastruktur Utama pada Pusat-Pusat Kegiatan Ekonomi di Seluruh Wilayah Distrik".

4.

Arah Kebijakan Tahun Pertama (2015)

Pembangunan pada tahun 2015 diarahkan kepada upaya memantapkan peningkatan kualitas pelayanan publik yang telah terbangun secara bertahap mencakup daya dukung infrastruktur wilayah, penyelenggaraan pendidikan masyarakat, kesehatan masyarakat, dan pengembangan sentra-sentra ekonomi berbasis sumber daya alam. Fokus pelaksanaan pembangunan diarahkan pada peningkatan kinerja pelaksanaan pembangunan pada tingkat Distrik dan Kampung guna menunjang pengembangan potensi masing-masing wilayah secara proporsional. Upaya tersebut diselaraskan pula dengan upaya perkuatan kapasitas dan kapabilitas aparatur tingkat Kampung, aparatur tingkat Distrik, serta koordinasi intensif dengan unsur aparatur lainnya (TNI dan Polri) dalam menunjang stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Selaras dengan arahan tersebut, maka tema pembangunan Kabupaten Mappi pada tahun 2015 adalah Meningkatkan Kinerja Pelaksanaan Pembangunan di Tingkat Distrik melalui Penataan Kelembagaan Pemerintah yang Menunjang Penatalaksanaan Pembangunan Berbasis Kampung/ Distrik.

5. Arah Kebijakan Tahun Pertama (2016)

Pembangunan pada tahun 2016 diarahkan kepada upaya melanjutkan serta mengembangkan hasil-hasil

pembangunan di sektor-sektor strategis mencakup sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi dan ketenagakerjaan melalui upaya meningkatkan daya saing-nya di tingkat regional maupun nasional. Kualitas SDM yang baik dan berdaya saing tinggi, diharapkan mampu memberikan kontribusi berupa produktifitas maupun unjuk prestasi dalam lingkup regional dan nasional.

Fokus pelaksanaan upaya peningkatan daya saing diharapkan dapat mendorong keterlibatan masyarakat maupun dunia usaha di seluruh wilayah Distrik/ Kampung untuk mampu memberikan kontribusinya, sehingga dapat menunjang pertumbuhan ekonomi dan investasi di daerah. Capaian prestasi yang baik dan konsisten yang ditunjukkan dari daya saing yang tinggi akan mendukung eksistensi Kabupaten Mappi dalam lingkup regional maupun nasional. Selaras dengan arahan tersebut, maka tema pembangunan Kabupaten Mappi tahun 2016 adalah "Meningkatkan Kinerja Pembangunan dalam rangka Mewujudkan Masyarakat Mappi yang Bermartabat dan Berkualitas".

Program pembangunan merupakan bentuk instrumen kebijakan yang memuat satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD atau masyarakat. Pelaksanaan program pembangunan daerah bertujuan untuk mencapai sasaran dan tujuan pembangunan, sesuai dengan visi dan misi Kepala dan Wakil Kepala daerah terpilih. Guna mencapai misi,

tujuan dan sasaran pembangunan yang berpedoman kepada strategi dan kebijakan yang telah ditetapkan, maka disusun program pembangunan Kabupaten Mappi untuk kurun waktu lima tahun kedepan berdasarkan sasaran strategis yang telah ditetapkan sebelumnya.

Program Pembangunan untuk mencapai visi dan misi berdasarkan strategi pembangunan Kabupaten Mappi 2012- 2016, yaitu:

Strategi -1

Pembangunan Infrastruktur Terpadu Berbasis Tata Ruang Yang Dinamis

1. Perencanaan

Ruang dan program Berkesinambungan, yang

Pembangun yang

dijabarkan dengan program :

Perencanaan Tata Ruang;

Pemanfaatan Ruang;

Pengendalian Pemanfaatan Ruang;

Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Perencanaan Pembangunan Daerah;

Pengembangan Data/Informasi;

Kerjasama Pembangunan;

Perencanaan Pembangunan Daerah;

Perencanaan Pembangunan Ekonomi;

Perencanaan Sosial Budaya;

Pengembangan Data/Informasi dan Statistik.

Tata

2.

Peningkatan

Sarana

dan Prasarana

Transportasi,

Perhubungan dan

Telekomunikasi

pada Kawasan Pusat

Pertumbuhan Ekonomi, dengan program :

Pembangunan Jalan dan Jembatan;

Pembangunan Saluran Drainase/Gorong- Gorong;

Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan dan Jembatan;

Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan;

Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ;

Peningkatan Pelayanan Angkutan;

Pembangunan Sarana dan Prasarana Perhubungan;

Peningkatan dan Pengamanan Lalu Lintas.

3.

Peningkatan Sarana dan Prasarana Perumahan dan Permukiman, yang dijabarkan dengan program :

Pembangunan Infrastruktur Perdesaaan;

Pengembangan Perumahan.

4.

Kebutuhan Energi Kelistrikan, yang dijabarkan

dengan

Pengembangan Bidang Ketenagalistrikan.

program Pembinaan dan

Strategi- 2

Peningkatan Kualitas Pengelolaan SDA Dan Lingkungan Hidup Peningkatan Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup, yang dijabarkan dengan program :

Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Pengairan Lainnya;

Penyediaan dan Pengolahan Air Baku;

Pengembangan Kinerja Persampahan;

Pengendalian Pencemaran dan Pengrusakan Lingkungan Hidup;

Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup;

Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH);

Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pertambangan.

Strategi -3

Peningkatan Kualitas Pendidikan Masyarakat Peningkatan Akses dan Mutu Penyelenggaraan Pendidikan, yang dijabarkan dengan program :

Pendidikan Anak Usia Dini

Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun;

Pendidikan Menengah;

Pendidikan Non Formal;

Peningkatan Mutu dan Tenaga Kependidikan;

Manajemen Pelayanan Pendidikan;

Pendidikan Tinggi;

Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan.

Strategi - 4 Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Dan Keluarga Sejahtera Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan serta Pembinaan Keluarga Berencana (KB), yang dijabarkan dengan program :

Obat dan Perbekalan Kesehatan;

Upaya Kesehatan Masyarakat;

Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat;

Perbaikan Gizi Masyarakat;

Pengembangan Lingkungan Sehat;

Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular;

Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin;

Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan Sarana-Prasarana Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Jaringannya;

Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak;

Pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit/rumah sakit jiwa/Rumah sakit paru-paru/rumah sakit mata;

Pemeliharaan sarana dan prasarana rumah sakit/rumah sakit jiwa/Rumah sakit paru- paru/rumah sakit mata;

Kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan

Keluarga Berencana (KB);

Peningkatan Penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS;

Pengembangan Bahan Informasi Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh kembang Anak.

Strategi - 5 Peningkatan Pelayanan Sosial Dan Pengelolaan Kependudukan

1.

Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan dan Anak, dengan program :

Keserasian kebijakan peningkatan kualitas Anak dan Perempuan;

Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan;

Peningkatan Peranserta dan Kesetaraan Jender dalam Pembangunan;

2. Peningkatan Pelayanan dan Penanganan Masalah Kesejahteraan Sosial, dengan program:

Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Lainnya;

Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial;

Pembinaan Anak Terlantar;

Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Trauma;

Pembinaan Eks Penyandang Penyakit Kesejahteraan Sosial (Eks Narapidana/PSK/ Miras/Narkotika) dan Penyakit Sosial Lain;

Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial.

3. Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kependudukan, yang dijabarkan dengan program Penataan Administrasi pendudukan.

Strategi - 6 Optimalisasi Pengelolaan Dan Pemanfaatan Sektor-Sektor Pertanian, Kelautan Dan Perikanan, Serta Kehutanan Dan Perkebunan

1. Revitalisasi Pertanian, Kelautan dan Perikanan, Kehutanan, dan Perkebunan, dengan program :

Peningkatan Kesejahteraan Petani;

Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/Perkebunan;

Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan;

Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak;

Peningkatan Produksi Hasil Peternakan;

Pemberdayaan Penyuluh Pertanian/ Perkebunan Lapangan;

Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan;

Rehabilitasi Hutan dan Lahan;

Pembinaan dan penertiban industri kehutanan;

Peningkatan Kesadaran dan Penegakan Hukum dalam Pendayagunaan SD Laut;

Pengembangan Budidaya Perikanan;

Pengembangan Perikanan Tangkap;

Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produksi Perikanan;

Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Pedesaan.

2. Peningkatan Ketahanan Pangan, yang dijabarkan dengan program Peningkatan Ketahanan Pangan Pertanian/Perkebunan.

Strategi - 7 Pengembangan Kapasitas Dan Peran Sektor UMKM Dan Koperasi Dalam Meningkatkan Daya Serap Tenaga Kerja Dan Promosi Investasi Di Daerah

1. Peningkatan Produktivitas dan Daya Saing UMKM dan Koperasi maupun Masyarakat melalui Fasilitasi Akses kepada Sumber Daya Produktif, yang dijabarkan dengan program :

Pengembangan Kewirausahaan dan Kompetitif Usaha Kecil Menengah;

Penciptaan Iklim Usaha Mikro Kecil Menengah yang kondusif;

Pengembangan Sistem Pendukung Usaha bagi Usaha Mikro Kecil Menengah;

Perlindungan Konsumen dan Pengamanan Perdagangan;

Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri;

Pembangunan industri kecil dan menengah.

2. Peningkatan Promosi dan Pengembangan Pariwisata dan Investasi di Daerah, yang dijabarkan dengan program :

Peningkatan iklim investasi dan realisasi investasi;

Pengembangan nilai budaya;

Pengembangan kemitraan.

3. Peningkatan Kompetensi SDM Tenaga Kerja dan Perlindungan Tenaga Kerja, yang

dijabarkan dengan program : Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja.

Strategi - 8 Peningkatan Kualitas Tata Kelola Pemerintahan Serta Penegakkan Hukum Dan HAM

1. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur dalam rangka Meningkatkan Pelayanan Publik, dengan program :

Pelayanan Administrasi Perkantoran;

Peningkatan Sarana Prasarana Aparatur;

Peningkatan Disiplin Aparatur;

Fasilitasi Pindah/Purna Tugas PNS;

Pendidikan Kedinasan;

Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan;

Peningkatan Sumber Daya Aparatur;

Pembinaan dan Pengembangan Aparatur;

Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah;

Peningkatan Kerjasama Antar Pemerintah;

Penataan Peraturan Perundang- Undangan;

Penataan Daerah Otonomi Baru;

Penataan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah;

Perbaikan Sistem Administrasi Kearsipan;

Penyelamatan dan Pelestarian Arsip;

Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Massa;

Kerjasama Informasi dan Media Massa;

Fasilitasi Peningkatan SDM Bidang Komunikasi dan Informatika.

2. Peningkatan Pengelolaan Keuangan Daerah, yang dijabarkan dengan program Peningkatan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah.

3. Peningkatan Fungsi Pengawasan Pembangunan Daerah, yang dijabarkan dengan program :

Peningkatan Sistem Pengawasan Internal Pelaksanaan Kebijakan KDH;

Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pemeriksa dan Aparatur Pengawasan;

Penataan dan Penyempurnaan Kebijakan Sistem dan Prosedur Pengawasan;

Optimalisasi Pemanfatan Teknologi Informasi.

4. Penegakan hukum dan nilai-nilai demokrasi dalam mewujudkan Keamanan dan Ketertiban

Masyarakat (Kamtibmas), dengan program- program :

Pemberdayaan Masyarakat untuk Menjaga Ketertiban dan Keamanan;

Pengembangan Wawasan Kebangsaan;

Pencegahan Dini dan Penanggulangan Korban Bencana Alam;

Peningkatan Pemberantasan Penyakit/ Gejolak Sosial Masyarakat;

Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan Lingkungan.

Strategi - 9 Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama

Pengembangan Kualitas Kehidupan Beragama dan Kerukunan Hidup Beragama, dengan program :

Fasilitasi dan Stimulasi Sarana dan Prasarana Keagamaan.

Strategi-10 Pembinaan Prestasi Olah Raga Dan Pemuda

Peningkatan Prestasi Olahraga dan Pembinaan Kepemudaan, yang dijabarkan dengan program :

Peningkatan Sarana dan Prasarana Olahraga.

Pembinaan dan Pemasyarakatan Olahraga.

Peningkatan Peranserta Kepemudaan.

3.2

Kebijakan Tata Ruang

3.2.1 Arahan Rencana Struktur Ruang Kabupaten Mappi

A. Rencana Satuan Wilayah Pengembangan (SWP)

Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) merupakan wilayah yang meliputi beberapa kota berikut wilayah pengaruhnya yang disebabkan oleh perannya sebagai simpul jasa distribusi, kota-kota tersebut saling terkait dalam suatu susunan hirarkis.

Dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Mappi Tahun 20102030, Rencana sub-sistem satuan wilayah pengembangan (SWP) Kabupaten Mappi dibagi dalam 5 (lima) SWP, yaitu:

(1) Wilayah Pengembangan Mappi Tengah; dengan pusat pengembangan di Kepi yang melayani wilayah Distrik Obaa dan Distrik Passue.

SWP Mappi Tengah berfungsi Kawasan Pusat pemerintahan tingkat distrik, Pusat pengembangan wilayah parsial, Pusat pelayanan jasa dan perdagangan, Pusat orientasi pemasaran, Pusat pelayanan sosial ekonomi, Sentra produksi tanaman pangan kacang hijau, Sentra produksi buah-buahan nanas, jeruk valencia, jeruk siam, dan alpukat, Sentra produksi tanaman palawija sawi dan terung, Sentra produksi perkebunan kopi, Pusat pengembangan pendidikan, Daerah

pengembangan permukiman dan Pusat pelayanan transportasi.

(2) Wilayah Pengembangan Mappi Utara; dengan pusat pengembangan di Senggo yang melayani wilayah Distrik Citak Mitak dan Distrik Kaibar.

SWP Mappi Utara berfungsi sebagai Kawasan Pusat pelayanan sosial, perdagangan dan jasa, Sentra produksi buah-buahan durian dan rambutan, Pusat orientasi pemasaran, Pusat pelayanan transportasi, Pengembangan permukiman, Pusat pemerintahan tingkat distrik, Pengembangan pariwisata taman anggrek dan rumah pohon, Cagar Budaya Suku Kuruway Kombay.

(3) Wilayah Pengembangan Mappi Barat; dengan pusat pengembangan di Eci yang melayani wilayah Distrik Haju dan Distrik Assue.

SWP Mappi Barat berfungsi sebagai Kawasan Pusat pemerintahan tingkat distrik, Sentra produksi buah-buahan jambu biji dan jeruk siam besar, Sentra produksi tanaman palawija kangkung, Pengembangan permukiman, Pusat perekonomian dan perdagangan, Pengembangan pelayanan transportasi, Sentra produksi pertanian tanaman pangan ubi kayu dan kacang tanah,

(4)

Pengembangan Kampung Kerke).

pariwisata

sejarah

(Lordes

di

Wilayah Pengembangan Mappi Timur; dengan pusat pengembangan di Bade yang melayani wilayah Distrik Edera dan Distrik Venaha.

SWP Mappi Timur berfungsi sebagai Kawasan Pusat pemerintahan tingkat distrik, Pusat pengembangan wilayah parsial, Pusat orientasi pemasaran, Pusat pelayanan sosial ekonomi, Daerah pengembangan permukiman, Sentra produksi pertanian tanaman pangan ubi jalar, jagung, kacang tanah, dan kedelai, Sentra produksi buah-buahan pepaya dan jeruk keprok, Sentra produksi tanaman palawija kubis, cabe, tomat, kacang panjang, bayam, dan ketimun, Sentra produksi tanaman perkebunan kelapa, karet dan kapuk randu, Pengembangan peternakan (sapi, kambing, babi, itik, ayam buras), Pengembangan perikanan, Pengembangan pusat pelayanan transportasi, Pusat pengembangan agroindustri, Pengembangan pariwisata (Pariwisata kepala arus Sungai Digoel).

(5) Wilayah Pengembangan Mappi Selatan; dengan pusat pengembangan di Kota Mur yang melayani wilayah Distrik Nambioman Bapai dan Distrik Minyamur.

SWP Mappi Selatan berfungsi sebagai pusat pelayanan sosial, pengembangan permukiman, pengembangan pelayanan transportasi, pengembangan perdagangan dan jasa, pusat pemerintahan tingkat distrik, pusat pelayanan sosial, perdagangan dan jasa, sentra produksi pertanian tanaman pangan padi, sentra produksi buah-buahan pisang, jambu air, jambu bol, dan mangga, sentra produksi perkebunan jambu mete, sentra produksi perikanan, pemeliharan kawasan lindung, pengembangan perikanan, pengembangan permukiman, pariwisata (pantai wagin), industri pengolahan ikan dan pengembangan pariwisata (kepala arus).

Kampung Aboge yang berada di Distrik Assue termasuk dalam Wilayah Pengembangan Mappi Barat; dengan pusat pengembangan di Eci yang melayani wilayah Distrik Haju dan Distrik Assue. Fungsi Kawasan sebagai Pusat pemerintahan tingkat distrik, Sentra produksi buah-buahan jambu biji dan jeruk siam besar, Sentra produksi tanaman palawija kangkung, Pengembangan permukiman, Pusat perekonomian dan perdagangan, Pengembangan pelayanan transportasi, Sentra produksi pertanian tanaman pangan ubi kayu dan kacang tanah, Pengembangan pariwisata sejarah (Lordes di Kampung Kerke). Untuk lebih jelas mengenai pembagian SWP dapat dilihat pada Gambar 3-2.

GAMBAR 3-2 ; PETA PEMBAGIAN SWP KABUPATEN MAPPI

GAMBAR 3-2 ; PETA PEMBAGIAN SWP KABUPATEN MAPPI 3 - 40

B. Rencana Sistem Pusat Kegiatan

Sistem pusat kegiatan meliputi rencana perkotaan dan fungsi-fungsi pusat permukiman. Arahan sistem perkotaan sebagaimana dalam RTRW Kabupaten Mappi Tahun 20102030 meliputi :

1. PKW (pusat kegiatan wilayah) Kawasan Perkotaan Bade di Distrik Edera.

2. PKL (pusat kegiatan lokal) meliputi Kawasan Perkotaan Keppi di Distrik Obaa dan Kawasan Perkotaan Waemeaman di Distrik Nambioman Bapai.

3. PKLp (pusat kegiatan lokal promosi) meliputi Kawasan Perkotaan Eci di Distrik Assue serta Kawasan Perkotaan Sumuraman di Distrik Minyamur dan Kawasan Perkotaan Kotiak di Distrik Passue.

4. PPK (pusat pelayanan kawasan) meliputi Kawasan Perkotaan Kabe yang berada di Distrik Minyamur, Kawasan Perkotaan Haju yang berada di Distrik Haju, dan Kawasan Perkotaan Senggo yang berada di Distrik Citak Mitak dan Distrik Kaibar.

Prinsip dasar pertimbangan dalam pengembangan sistem pusat permukiman di Kabupaten Mappi meliputi :

a.

Pengembangan

sistem

transportasi

yang

mendukung

struktur

ruang

pada

sistem

perkotaan;

b. Menjaga keberadaan kawasan lindung;

c. Pengintegrasian fungsi dan sistem perkotaan atau pusat permukiman;

d. Antisipasi terhadap perkembangan kegiatan di masa mendatang.

Sedangkan sistem kota yang dikembangkan dilakukan berdasarkan pertimbangan :

a. Hirarki sistem kota;

b. Sebagai pusat pelayanan jasa dan produksi yang didukung oleh tingkat ketersediaan prasarana dan sarana lingkungan permukiman yang memadai serta memberikan manfaat berupa peningkatan pengembangan wilayah dan perkembangan lintas sektor;

c. Kemampuan daya dukung lahan dari kawasan perkotaan yang akan dikembangkan;

d. Sebaran penduduk perkotaan dan desa-desa yang mempunyai sifat perkotaan;

e. Memiliki akses yang berorientasi pada skala pelayanan regional dan lokal;

f. Arahan kebijakan yang telah ada.

Fungsi kawasan perkotaan untuk masing-masing pusat permukiman adalah sebagai berikut:

1. PKW terdiri dari Kawasan Perkotaan Bade di Distrik Edera.

Kawasan Perkotaan Bade mempunyai fungsi pelayanan meliputi : Pusat pemerintahan tingkat distrik, pengembangan wilayah parsial, pusat pengembangan wilayah parsial, pusat orientasi pemasaran, pusat pelayanan sosial ekonomi, daerah pengembangan permukiman, sentra produksi pertanian tanaman pangan ubi jalar, jagung, kacang tanah dan kedelai, sentra produksi buah-buahan pepaya dan jeruk keprok, sentra produksi tanaman palawija, kubis, cabe, tomat, kacang panjang, bayam dan ketimun, sentra produksi tanaman perkebunan kelapa, karet dan kapuk randu.

2. PKL terdiri dari Kawasan Perkotaan Keppi dan Kawasan Perkotaan Edera. Kawasan Perkotaan Keppi dalam jangka panjang memiliki fungsi pelayanan meluputi:

pusat pemerintahan tingkat distrik, pusat pengembangan wilayah parsial, pusat pelayanan jasa dan perdagangan, pusat orientasi pemasaran, pusat pelayanan sosial ekonomi, sentra produksi tanaman pangan kacang hijau, sentra produksi buah-buahan nanas, jeruk valencia, jeruk siram, sentra produksi perkebunan kopi, pusat pengembangan pendidikan, daerah

pengembangan permukiman dan pusat pelayanan transportasi.

Kawasan Perkotaan Waemeaman, Obaa dan Edera sebagai PKL mempunyai fungsi pelayanan meliputi : Pusat pemerintahan tingkat kabupaten, Pusat pelayanan sosial, Pengembangan permukiman, Pengembangan pelayanan transportasi, Pengembangan perdagangan dan jasa.

3. PKLp terdiri dari Kawasan Perkotaan Eci, Kawasan Perkotaan Mur dan Kawasan Perkotaan Kabe.

Kawasan Perkotaan Eci di Distrik Assue berfungsi sebagai: Pusat pemerintahan tingkat distrik, Sentra produksi buah-buahan jambu biji dan jeruk siam besar, Sentra produksi tanaman palawija kangkung, Pengembangan permukiman, Pusat perekonomian dan perdagangan, serta Pengembangan pelayanan transportasi.

Kawasan Perkotaan Mur berfungsi sebagai:

Pusat pemerintahan tingkat distrik, pusat pelayanan sosial, perdagangan dan jasa, sentra produksi pertanian tanaman pangan padi, Sentra produksi buah-buahan pisang, jambu air, jambu bol dan mangga, sentra produksi perkebunan jambu mete, sentra

produksi perikanan, pengembangan permukiman, pelayanan transportasi, Pemeliharan kawasan lindung. 4. PPK terdiri dari Kawasan Perkotaan Kabe, Kawasan Perkotaan Haju dan kawasan Perkotaan Senggo (Ibukota Distrik Citak Mitak).

Kawasan Perkotaan Kabe berfungsi sebagai:

Pusat pemerintahan tingkat distrik, Pengembangan perikanan, Pengembangan permukiman, Pengembangan pelayanan transportasi, pemeliharan kawasan lindung, pariwisata (Pantai Wagin), Pengembangan industri pengolahan ikan, Pengembangan pariwisata (Kepala arus).

Kawasan Perkotaan Haju berfungsi sebagai:

pusat pelayanan sosial, perdagangan dan jasa, sentra produksi buah-buahan durian dan rambutan, pusat orientasi pemasaran, pusat pelayanan transportasi dan pengembangan pemukiman.

Kawasan Perkotaan Senggo berfungsi sebagai: Pusat pelayanan sosial, perdagangan dan jasa, sentra produksi buah-buahan durian dan rambutan, pusat orientasi pemasaran, pusat pelayanan transportasi dan pengembangan permukiman.

Dalam Dokumen RTRW Kabupaten Mappi Tahun 20102030, pengembangan Kampung Aboge diarahkan untuk mendukung Kawasan Perkotaan Eci di Distrik Assue sebagai PKLp.

C. Arahan Pemanfaatan Ruang

Arahan pemanfaatan ruang sebagaimana yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Mappi Tahun 20102030, terdiri dari hal-hal sebagai berikut :

I. Perwujudan Sistem Transportasi Wilayah

1. Transportasi Darat

(a) Konsep pembangunan jaringan jalan internal

Konsep pembangunan jalan baru yang menghubungkan antar ibukota distrik di Kabupaten Mappi sampai dengan akhir tahun perencanaan 2028 yaitu jalan yang menghubungkan Bade Mur Sahapikya Kepi Kabe Kotiak Waemeaman Yagatsu Eci Senggo Amazu.

Konsep pembangunan jalan baru yang menghubungkan kampong- kampung ke pusat ibukota distrik. Terutama di Kampung Nohon, Wairu Dua, Atty, Ogorito, Sagis,

Kumaban, Kiki, Jufo Kecil, Kaibu dan Sogope.

(b)

Program pembangunan jaringan jalan internal Pembangunan jaringan jalan baru antara lain : Jalan Kepi Mur Bade, jalan Waemeaman Sumuraman (rencana pelabuhan) dan jalan Eci Waemeaman.

(c)

Program pembangunan jaringan jalan eksternal Pembangunan jalan baru penghubung wilayah Selatan Propinsi Papua (jalan lintas selatan) yang menjadi jalur poros Utara Selatan Kabupaten Mappi. Menghubungkan Kabupaten Merauke Kabupaten Fak Fak dengan jalur yang melewati Kabupaten Mappi, yaitu melewati Bade Mur Kepi Waemeaman Yagatsu Eci Senggo. Jalan jalur tengah (RTR Tanah Papua) Kabupaten Mappi Kabupaten Jayapura Kabupaten Nabire merupakan jalur Utara Kabupaten Mappi. Jalan tersebut

melewati Kumaban, Tiau, Amazu, dan Sagis.

Jalan pengumpan Kabupaten Mappi Kabupaten Bouven Digoel (RTR Tanah Papua) merupakan jalur poros Barat Timur Kabupaten Mappi. Jalan ini melewati Kepi Kotiak.

(d)

Program pemeliharaan jalan

Pemeliharaan jalan di seluruh ruas jalan yang berfungsi arteri, kolektor dan sekunder.

(e)

Program peningkatan pelayanan angkutan umum

Pengembangan trayek-trayek baru.

Peremajaan angkutan perdesaan.

Perencanaan kembali trayek-trayek yang sudah tidak berjalan.

(f)

Program pengembangan terminal

Pengembangan terminal tipe-C di wilayah Distrik Edera, Obaa dan Assue.

(g)

Program pengembangan jalur angkutan pedesaan.

Pengembangan jalur trayek baru yaitu Kepi Waemeaman, Bade Gimikia dan Eci - Waemeaman.

2. Transportasi Air (Sungai/Laut)

(a)

Program pembangunan dermaga sungai

Pembangunan dermaga/pelabuhan baru yaitu di Sumuraman.

Pembangunan dermaga/pelabuhan baru yaitu di sebelah Barat Pulau Yar di Distrik Minyamur, yang dilengkapi dengan kantor bea cukai, kantor pengawasan teritorial dan SPBU.

(b)

Program perbaikan dermaga sungai

Perbaikan dermaga/pelabuhan di Bade.

(c)

Program pemeliharaan dermaga sungai

Pemeliharaan dermaga di seluruh distrik yang berfungsi dermaga/ pelabuhan rakyat atau dermaga/ pelabuhan nusantara.

(d)

Program pengembangan jaringan baru transportasi air

Trayek 1, yaitu Kabupaten Mappi Kabupaten Boven Digoel (Kepi/ Sumuraman-Mur-Bade-Kabupaten Boven Digoel), melalui Sungai Obaa, Sungai Mappi, Kali Kawarga dan Sungai Digoel.

Trayek 2, yaitu Kabupaten Asmat- Kabupaten Mappi Kabupaten Boven Digoel (Asmat-Sumuraman- Kepi-Boven Digoel), melalui Laut Arafura, Kali Kok II, Sungai Mappi, Sungai Obaa, Kali Kawarga, dan Sungai Digoel.

Trayek 3, Yaitu Kabupaten Mappi - Kabupaten Merauke (Kepi-Mur- Merauke), melalui Sungai Obaa, Sungai Mappi, Kali Kawarga, Sungai Digoel dan Laut Arafura.

Trayek 4, yaitu Kabupaten Mappi Kabupaten Merauke (Sumuraman- Merauke), melalui Laut Arafura.

Trayek 5, yaitu Kabupaten Mappi Kabupaten Asmat (Kepi-Mur- Sumuraman -Asmat), melalui Sungai Obaa, Sungai Mappi, Kali Kok II dan Laut Arafura.

(e)

Pengembangan penyeberangan sungai

Menghubungkan Kabupaten Mappi dengan Kabupaten Merauke yang melintasi Sungai Digoel di Banamepe.

(f)

Pengembangan penyeberangan laut perintis Tanah Papua

Menghubungkan antara Kabupaten Mappi dengan Kabupaten Asmat.

3. Transportasi Udara

(a)

Studi pemilihan dan kelayakan bandara baru Kabupaten Mappi.

(b)

Penyelesaian pembangunan bandara Mur di Nambioman Bapai.

(c)

Rencana mengoperasian kembali bandara Amazu di Kaibar.

(d)

Rencana pelebaran bandara Kepi.

II. Perwujudan Sistem Jaringan Energi

Perwujudan program pengembangan sistem jaringan energi yaitu :

1. Peningkatan pelayanan jam operasional listrik.

2. Peningkatan luas daerah pelayanan di Kabupaten Mappi.

3. Pengembangan sumber energi listrik baru, misalnya dengan mengunakan Solar cell di Distrik Kaibar, Citak Mitak, Assue, Haju, Minyamur, Venaha dan Passue.

III. Perwujudan Sistem Jaringan Telekomunikasi

Perwujudan program pengembangan sistem jaringan telekomunikasi yaitu :

1. Pembangunan sistem jaringan kabel primer dan sekunder di Kabupaten Mappi.

2. Peningkatan kualitas luas daerah pelayanan TELKOM.

3. Pengembangan kemitraan dengan pihak swasta atau masyarakat dalam memperluas wilayah pelayanan jaringan telekomunikasi melalui jaringan seluler.

IV. Perwujudan Sistem Sumber daya air

1. Peningkatan dan pengoperasian kembali jaringan irigasi di Sungai Digoel dan Kali Mappi.

2. Pembangunan dan pengembangan jaringan

drainase baru di kawasan perkotaan.

3. Pengelolaan sumber daya air dengan bekerjasama dengan pemerintah daerah terdekat di daerah perbatasan dengan Kabupaten lain.

4. Pembangunan dan pengembangan pengelolaan air bersih secara komunal (PDAM) khususnya di pusat di Waememan (Distrik Nambioman Bapai), Kepi (Distrik Obaa), dan Bade (Distrik Edera).

5. Pengembangan air sumur pada daerah- daerah yang belum terjangkau pelayanan jaringan air bersih PDAM, yaitu distrik Nambioman Bapai, Minyamur, Assue, Passue, Venaha, Citak Mitak, dan Edera.

6. Identifikasi, perlindungan dan penggunaan secara optimal mata air terutama di daerah

yang belum terjangkau pelayanan jaringan air bersih.

7. Pengembangan kemitraan dengan pihak swasta atau masyarakat dalam mamperluas wilayah pelayanan dan peningkatan kualitas pelayanan air bersih di daerah-daerah yag belum terlayani PDAM dan air bersih perdesaan.

V. Perwujudan Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan

1. Program Pengembangan Sistem Persampahan

(a)

Pengembangan pengolahan sampah

dengan konsep reduce, reuse, recycle

di

Kabupaten Mappi.

(b)

Studi kelayakan penentuan lokasi TPA

di

Kabupaten Mappi.

(c)

Pengembangan cara pengumpulan dan pengangkutan sampah terpilah.

2. Program Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Tinja

(a) Pembangunan jamban umum dan MCK daerah perdesaan di Kabupaten Mappi.

(b)

Peningkatan kesadaran masyarakat untuk membangun MCK pribadi dan

umum di Kabupaten Mappi.

(c)

Studi dan pengembangan sistem pengolahan limbah domestik secara off site di Kabupaten Mappi.

VI. Perwujudan Sistem Prasarana Lainnya

1. Program Pengembangan Perumahan dan Permukiman

(a)

Pembangunan sarana dan prasarana rumah sederhana sehat

(b)

Penataan lingkungan permukiman penduduk.

(c)

Pembangunan sarana prasarana air

bersih pedesaan.

2. Program Pengembangan Fasilitas Pendidikan

(a)

Penambahan sarana dan prasarana pendidikan TK, SD, SLTP dan SLTA yang berkualitas pada masa yang akan datang untuk distrik-distrik yang masih kekurangan fasilitas pendidikan.

(b)

Peningkatan kualitas fasilitas pendidikan.

(c)

Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas pendidikan yang sudah rusak.

(d)

Penyediaan tenaga pendidik

3.

(e) Peningkatan mutu pendidikan melalui pendidikan kemampuan guru dan tenaga pendidikan.

Program Pengembangan Fasilitas Kesehatan

(a)

Penambahan fasilitas kesehatan untuk masa masa mendatang terutama untuk puskesmas.

(b)

Penyediaan tenaga medis dokter untuk tiap tiap puskesmas umum maupun puskesmas terutama untuk wilayah wilayah terpencil.

(c)

Peningkatan kapasitas dan pelayanan rumah sakit umum.

(d)

Rehabilitasi dan rekonstruksi untuk

fasilitas kesehatan yang terbengkalai. 4. Program Pengembangan Fasilitas Pemerintahan/ Pelayanan Umum

(a)

Pembangunan semua kantor distrik pemekaran disetiap distrik.

(b)

Pembangunan fasilitas pemerintahan pada distrik pemekaran, yaitu Distrik Passue, Distrik Venaha, Distrik Kaibar dan Distrik Minyamur.

(c)

Perluasan maupun pemeliharaan fasilitas fasilitas pemerintahan untuk meningkatkan pelayanan.

5.

Program Pengembangan Perdagangan

(a)

Peningkatan jam operasional pasar.

(b)

Peningkatan sarana dan prasarana pasar.

(c)

Rehabilitasi dan rekonstruksi pasar.

6.

Program

pengembangan

Fasilitas

Peribadatan

(a)

Penambahan fasilitas peribadatan seperti gereja khatolik dan gereja Kristen, terutama untuk distrik yang masih kekurangan fasilitas peribadatan.

(b)

Peningkatan kualitas sarana dan prasarana peribadatan.

(c)

Rehabilitasi fasilitas peribadatan.

3.2.2 Arahan Rencana Pola Ruang Kabupaten Mappi

Sedangkan arahan perwujudan rencana pola ruang meliputi hal-hal sebagai berikut :

A. Perwujudan Kawasan Lindung

1. Kawasan Lindung (secara umum)

(a)

Konservasi dan pengelolaan kawasan lindung dalam rangka mempertahankan, fungsi dan kualitas lindung di Kabupaten Mappi.

(b)

Mengarahkan secara bertahap kawasan- kawasan yang sesuai untuk kawasan lindung

dan secara kriteria lokasi dan standar teknis memenuhi untuk ditetapkan sebagai kawasan lindung pada kawasan hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas, pertanian tanaman tahunan (perkebunan/ tanaman keras).

2. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya

(a)

Pengawasan keberadaan vegetasi dan fauna

meliputi lahan seluas 113.522,521 Ha yang tersebar di Kabupaten Mappi bagian selatanmeliputi Distrik Nambioman Bapai dan Distrik Minyamur.

(b)

Pengaturan vegetasi dan pembutaan parit

resapan, sumur resapan di seluruh Distrik, sebagai kawasan resapan air di Distrik Nambioman Bapai dan Minyamur.

3. Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan perlindungan setempat di Kabupaten Mappi, meliputi :

(a)

Kawasan Sempadan Pantai, yaitu sepanjang pantai di wilayah Distrik Nambioman Bapai, Minyamur dan Edera dengan luas 2.541,07 ha.

(b)

Kawasan Sempadan Sungai, yaitu sepanjang sungai Bulaka, Digul Hilir, Eiladen Hilir, Eiladen Hulu, Mappi, Odamun, dan

Wildeman. Sempadan sungai terdapat di semua distrik, dengan total luas sempadan

sungai 39.911,14 ha.

(c)

Kawasan Sekitar Rawa, yaitu kawasan tertentu, disekeliling danau/waduk/ rawa yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/ waduk/rawa dengan luas 54.385,28 Ha.

(d)

Kawasan Sekitar Mata Air, yaitu terletak di wilayah Kabupaten yang memiliki mata air, diantaranya Mata Air Bagayo yang terletak diarah Timur Kota Waemeaman, dan Air Rawa Tokhom yang juga merupakan tampungan sebagian aliran dari mata air Bagayo.

4. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya

Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya di Kabupaten Mappi, meliputi :

(a)

Kawasan Pantai Berhutan Bakau, yaitu terdapat di wilayah Distrik Edera, Venaha, Minyamur dan Nambioman Bapai. Dengan total luas lahan 44.900,57 Ha. Hutan bakau paling luas terdapat di Distrik Minyamur dan Nambioman Bapai.

(b)

Kawasan Wisata Alam, yaitu berada pada hutan wisata seperti hutan anggrek di Distrik Kaibar.

(c)

Budaya dan Ilmu

Pengetahuan, terdiri dari seni budaya serta

bangunan dan benda peninggalan sejarah (artefak) sebagaimana disajikan dalam Tabel 3-1.

TABEL 3-1 KAWASAN SUAKA CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI DI KABUPATEN MAPPI

Kawasan

Cagar

NO

POTENSI

OBJEK

LOKASI

1

Seni Budaya

Suku Anak

Semua Distrik

Dalam

Semua Distrik

Tarian Adat

Setiap

Pakaian Adat

Kampung

Ukiran

Setiap

Kampung

2

Bangunan

Tempat

Semua Distrik

dan Benda

keramat suku

Setiap Distrik

peninggalan

Awyu,

sejarah

(artefak)

Yaghai,Wiyag

ar, Kuruway

Citak.

Rumah Adat

Sumber : RTRW Kab. Mappi 2010-2030

5. Kawasan pelestarian alam Pengembangan dan pemeliharaan kawasan pantai berhutan bakau di Nambioman Bapai dan Minyamur, Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan di seluruh Distrik.

6. Kawasan rawan bencana (a) Pengendalian kawasan rawan bencana banjir pasang surut di Distrik Minyamur, Nambioman Bapai dan Edera.

(b) Pengawasan kawasan rawan bencana gerakan tanah/tanah longsor di semua distrik. Potensi rawan gerakan tanah terdapat di Distrik Obaa, Edera dan Citak Mitak.

B. Perwujudan Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan.

1. Kawasan Hutan

(a)

Pengembangan budidaya hutan produksi tetap dan pengembangan hutan tumpang sari untuk ekonomi masyarakat.

Hutan Produksi Tetap, yaitu terdapat hampir di semua distrik dengan total luas lahan 661.786,96 ha.

Hutan Produksi Terbatas, yaitu terdapat di Distrik Minyamur dengan luas lahan 9.553,64 ha.

Hutan produksi yang dapat dikonversi, yaitu terdapat di semua distrik, kecuali di Distrik Obaa dan Distrik Passue dengan luas lahan 148.028,87 ha.

(b)

Pengembangan budidaya perkebunan/ buah-buahan dengan partisipasi masyarakat, dan pengembangan unit usaha

pengolahan hasil pertanian pada hutan produksi terbatas. Kawasan Peruntukan Perkebunan terdapat di semua distrik, dengan luas lahan 1.163.392,02 ha.

2. Kawasan Pertanian

(a)

Intensifikasi pertanian, perbaikan dan pembangunan irigasi dan pencegahan konversi lahan tersebar di Distrik Edera dan Nambioman Bapai.

(b)

Peningkatan intensifikasi pertanian, pengembangan komoditas bernilai ekonomis, penganekaragaman budidaya tanaman tahunan, peningkatan produktivitas lahan dengan multi kultur, pengembangan budidaya di kawasan lahan kritis.

(c)

Kawasan Peruntukan Pertanian tersebar pada distrik-distrik yang mendapatkan sistem pengairan yang baik, meliputi seluruh distrik dengan luas lahan 392.771,45 ha.

(d)

Pengembangan budidaya perkebunan/ buah-buahan dengan partisipasi masyarakat di Distrik Obaa, Edera, Assue, Nambioman Bapai dan Citak Mitak.

(e)

Pemantapan lahan budidaya perikanan tanpa perubahan alih fungsi lahan dari lahan yang sudah ada di Distrik Edera, Nambioman Bapai dan Minyamur.

Kawasan Peruntukan Perikanan di Kabupaten Mappi, yaitu paling banyak terdapat di Distrik Nambioman Bapai. Kawasan perikanan di Kabupaten Mappi tersebar di semua distrik, kecuali di Haju tidak terdapat peruntukan kawasan perikanan. Luas kawasan perikanan adalah 27.412,67 ha.

(f)

Pengembangan kawasan peternakan di Distrik Citak Mitak dan Obaa.

Kawasan Peruntukan Peternakan di Kabupaten Mappi, yaitu terdiri dari ternak Sapi, Kambing, Babi, Itik, Ayam Buras dan Ayam Kampung dengan luas lahan 12.304,58 Ha, usaha perternakan ini tergolong usaha kecil dan terdapat di hampir semua distrik kecuali Distrik Haju dan Kaibar. Untuk pengembangan peternakan dikembangkan di lahan padang rumput savana, mengingat di wilayah ini banyak terdapat padang

savana

untuk

pakan

ternak

berupa

rumput.

3. Kawasan Peruntukan Pemukiman Kawasan Peruntukan Pemukiman di Kabupaten Mappi, terdiri dari :

Permukiman Kota, yang diarahkan pada kampung pusat pertumbuhan, dimana kampung ini merupakan kampung yang menjadi simpul jasa dan simpul distribusi dari kampung-kampung sekitarnya. Inventarisasi pembangunan yang dilakukan di kampung pusat pertumbuhan diharapkan dapat menjadi pemicu dan pemacu pertumbuhan ekonomi wilayah sekitarnya. Kampung pusat pertumbuhan di Kabupaten Mappi salah satunya terdapat di Distrik Assue yaitu Khanami.

Permukiman Desa, yaitu berada pada hampir seluruh wilayah Kabupaten Mappi dengan luas 13.370,8 ha. Kawasan ini diarahkan dapat menunjang kegiatan pertanian modern untuk menunjang kegiatan ekonomi dengan sumber daya setempat untuk memanfaatkan lokasi yang dekat dengan kawasan kota.

4. Kawasan Peruntukan Pariwisata Pengembangan wisata di Kabupaten Mappi yaitu Wisata Taman Angggrek yang ada di Distrik Kaibar atau tepatnya terdapat di Kampung Fomu dengan luas wilayah 4.113,77 ha dan pengembangan Wisata Pantai Wagin, terletak di Kampung Wagin (Distrik Nambioman Bapai) dengan luas wilayah kurang lebih 886,48 Ha. Wisata kepala arus, dengan loksi pusat objek wisata di Mappi Pos. Wisata sejarah bangunan penjara pemerintahan Belanda di Masin Distrik Obaa.

5. Kawasan Peruntukan Lainnya Kawasan Peruntukan Lainnya, terdiri dari :

Kawasan Industri Pengolahan Ikan, akan dikembangkan di Wagin, Distrik Minyamur dengan luas lahan 30,54 ha. Industri pengolahan ikan tersebut untuk menunjang adanya potensi perikanan yang cukup besar di Wagin.

Kawasan Agroindustri, dikembangkan di Distrik Edera dengan luas lahan 290,37 ha. Agroindustri dikembangkan dalam rangka menunjang pertanian di Bade yang diarahkan untuk pengembangan pertanian sawah irigasi teknis sebagai lumbung padi Kabupaten Mappi.

BAB - 4

KONDISI UMUM WILAYAH PERENCANAAN

4.1. Letak dan Batas Administrasi

Secara geografis Kabupaten Mappi terletak pada posisi 5°10’0” - 7°30’0” Lintang Selatan dan 138°30’0” - 140°10’0” Bujur Timur, dengan luas wilayah sekitar 28.518,63 km² atau 2.851.632,84 ha.

Secara administratif kewilayahan, Kabupaten Mappi mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Asmat

Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Merauke

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel

Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Arafura

Kabupaten Mappi merupakan salah satu kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Merauke, yang ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002, dengan ibukota Kabupaten berada di Kota Kepi Distrik Obaa.

Pada awal pembentukannya Kabupaten Mappi meliputi 6 (enam) Distrik, yaitu Distrik Haju, Nambioman Bapai, Edera, Assue, Citak Mitak dan Obaa. Kemudian pada tahun 2007 (diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Mappi Nomor 7 Tahun 2006) dilakukan pemekaran wilayah distrik menjadi 10

(sepuluh) distrik. Sejalan dengan perkembangan era tata pemerintahan, maka pada tahun 2009 ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2009 yang mengukuhkan terbentuknya 5 (lima) distrik baru yang merupakan hasil pemekaran dari 3 (tiga) distrik lama dengan membawahi 136 Kampung dan 1 Kelurahan. Dengan demikian dari tahun 2010 di Kabupaten Mappi telah terbentuk sejumlah 15 (lima belas) distrik dengan rincian dapat dilihat pada Tabel 4-1 dan Gambar 4-1

TABEL 4-1 PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI KABUPATEN MAPPI

     

LUAS

WILAYAH

 

JUMLAH

NO.

DISTRIK

IBUKOTA

(km 2 )

 

KAMPUNG/

%

KELURAHAN

1

Obaa

Kepi

2.307

8,09

17

Kampung

2

Nambioman Bapai

Mur

4.704

16,49

14

Kampung

3

Edera

Bade

1.654

5,79

6 Kmp + 1 Kelurahan

4

Venaha

Sahapikya

2.951

10,35

7

Kampung

5

Minyamur

Kabe

2.054

7,20

10

Kampung

6

Passue

Kotiak

2.075

7,27

10

Kampung

7

Haju

Yagatzu

1.432

5,02

18

Kampung

8

Assue

Eci

3.265

11,45

15

Kampung