Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Di dalam tubuh manusia, darah mengalir ke seluruh bagian tubuh
secara terus-menerus untuk menjamin suplai oksigen dan zat-zat nutrien
lainnya agar organ-organ tubuh tetap dapat berfungsi dengan baik. Aliran
darah ke seluruh tubuh dapat berjalan karena adanya pemompa utama yaitu
jantung dan sistem pembuluh darah sebagai sebagai alat pengalir atau
distribusi.
1
Darah adalah bentuk khusus jaringan ikat yang terdiri atas tiga jenis
sel utama: eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan
trombosit. Sel-sel ini beredar di dalam medium cair yaitu plasma. Darah
dibawa oleh suatu sistem pembuluh darah yang terdiri atas jantung, arteri
besar, arteriol, kapiler, venula, dan vena. Sistem ini menyalurkan darah ke sel
dan jaringan tubuh dan mengembalikan darah vena ke paru-paru untuk
pertukaran gas.
2
Jadi, dengan adanya darah yang terus-menerus mengalir dalam tubuh.
Manusia tetap dapat hidup. Oleh sebab itu pada makalah ini kami mencoba
menguraikan sebuah pemicu mengenai sistem sirkulasi dan patologi klinik
darah. Dan diharapkan makalah ini dapat membantu kita dalam mempelajari
ilmu kedokteran dasar.


2. Tujuan Pembelajaran
a. Menjelaskan struktur anatomik-histologik serta sifat otot jantung,
mekanisme kerja, faktor-faktor yang mempengaruhi kerja jantung dan
mekanisme pengendaliannya dalam upaya mempertahankan homeostasis
tubuh dan penyediaan energi.
2

b. Menjelaskan organisasi sistem pembuluh darah: struktur makroskopik dan
mikroskopik, sifat dan fungsi berbagai pembuluh darah; mekanisme kerja
dan proses pengendalian, serta faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas
sistem pembuluh tersebut dalam upaya mempertahankan homeostatis
tubuh baik dalam keadaan fisiologik dan patologik.
c. Menjelaskan prinsip-prinsip pengukuran nadi dan tekanan darah dengan
menggunakan sfigmomanometer dan stetoskop dengan benar dan
sistimatis.
d. Menjelaskan proses pembentukan darah, struktur mikroskopik, komponen
darah; fungsi dan mekanisme kerja masing-masing komponen.
e. Menjelaskan proses hemostasis, faktor-faktor yang berperan dan
mekanisme pengendaliannya serta penggolongan darah manusia.

3. Manfaat pembelajaran
Manfaat yang diperoleh dari pembelajaran mengenai sistem sirkulasi
dan patologi klinik darah adalah agar mahasiswa di bidang kesehatan dapat
mengerti dan memahami bagian-bagian dari sistem sirkulasi dan patologi
klinik darah baik secara anatomi, histologi maupun fisiologi.

4. Learning Objective
A. DARAH
- Komponen, fungsi, persentase dan jumlah, serta sifatnya
- Struktur mikroskopik
- Mekanisme pembentukan darah
- Hemostasis dan fibrinolisis
- Pemeriksaan laboratorium pada kasus pendarahan dan interpretasinya
B. TRANSFUSI DARAH
- Penggolongan darah
- Prinsip transfusi darah
3

C. PEMBULUH DARAH
- Struktur anatomi, histologi, fisiologi, dan peran masing-masing
pembuluh darah
- Faktor yang mempengaruhi dan mengendalikan aktivitas pembuluh
darah
- Prinsip pengukuran tekanan darah
- Ukuran normal tekanan darah
- Hukum hemodinamika
D. JANTUNG
- Struktur anatomi, histologi, serta fisiologi jantung
- Siklus mekanisme kerja jantung dalam memompa darah
- Proses terbentuknya bunyi jantung











4

BAB II
PEMBAHASAN
DARAH
1. Komponen, Fungsi, Persentase dan Jumlah, serta Sifat Darah
3

Darah adalah sejenis jaringan ikat yang sel-selnya (elemen
pembentuk) tertahan dan dibawa dalam matrik cairan ( plasma ).

1. Fungsi darah terdiri atas :
a) Sebagai alat pengangkut yaitu,
a. Mengambil oksigen atau zat pembakaran dari paru-paru untuk
diedarkan keseluruh tubuh.
b. Mengangkat karbon dioksida dari jaringan untuk dikeluarkan
melalui paru-paru.
c. Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan dan
dibagikan ke seluruh jaringan atau alat tubuh.
d. Mengangkat atau atau mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna
bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui kulit dan ginjal.
b) Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit dan racun
dalam tubuh dengan perantaraan leukosit dan anti bodi atau zat-zat
anti racun.
c) Menyebarkan panas keseluruh tubuh.
2. Sifat dari darah sebagai berikut:
a) Darah lebih berat dari air dan lebih kental.
b) Darah memiliki rasa dan bau yang khas.serta pH 7,4 ( 7,35-7,45 )
c) Warna darah bervariasi dari merah terang sampai merah tua kebiruan,
bergantung pada kadar oksigen yang dibawa oleh sel darah merah.
3. Volume darah total pada laki dan perempuan :
Pada laki-laki dewasa berukuran rata-rata 5 liter, sedangkan
5

Pada perempuan dewasa kurang sedikit dari volume laki-laki.
4. Komponen darah
A. Plasma Darah
Yaitu cairan bening kekuningan yang unsure pokoknya sama dengan
sitoplasma. Plasma terdiri dari 90% air dan mengandung campuran
kompleks zat organik dan anorganik.
a) Protein plasma mencapai 7% plasma dan merupakan satu-satunya
unsure pokok plasma yang tidak dapat menembus membrane kapilar
untuk mencapai sel.ada 3 jenis protein plasma yaitu :
1. Albumin adalah protein plasma terbanyak, sekitar 55%-60%, tetapi
ukurannya paling kecil.albumin disintesis didalam hati dan
bertanggung jawab untuk tekanan osmotik koloid.
2. Globulin membentuk sekitar 30% protein plasma.
Alfa dan beta globulin disintesis di hati, dengan fungsi utama
sebagai molekul pembawa lipid, beberapa hormone, berbagai
substrat, dan zat penting tubuh lainnya.
Gamma globulin (imunoglobin)adalah anti bodi. gamma
globin berfungsi dalam imunitas.
3. Fibrinogen membentuk 4% protein plasma, disintesis di hati dan
merupakan komponen esensial dalam mekanisme pembekuan darah.

B. Eritrosit atau sel darah merah
Eritrosit merupakan diskus bikonkaf, bentuknya bulat dengan lekukan
pada sentralnya dan berdiameter 7,65 mikro meter.eritrosit terbungkus
dalam membrane sel dengan permeabelitas tinggi. Membrane ini elastic
dan fleksibel sehingga memungkinkan eritrositmenembus kapilar
(pembuluh darah terkecil ).
6

Setiap eritrosit mengandung 300 juta molekul hemoglobin, sejenis pigmen
pernafasan yang mengikat oksigen .
a) Jumlah
Jumlah rata-rata eritrosit pada laki-laki sehat adalah 4,2 samapai 5,5
juta per sel millimeter kubik (mm
3
) sedangkan.
Jumlah rata-rata pada perempuan sehat yaitu 3,2 sampai 5,2 juta per
sel mm
3
.
Hematokrit adalah persentase volume darah total yang mengandung
eritrosit. Persentase ditentukan dengan melakukan sentrifugasi
sebuah sampel darah dalam tabung khusus dan mengukur kerapatan
sel pada bagian dasar tabung.
1. Hematokrit pada laki-laki berkisar antara 42% sampai 54% dan
pada perempuan 38% sampai 48%.
2. Kecepatan sedimentasi adalah kecepatan sel darah merah untuk
sampai ke dasar tabung tanpa melalui sentrifugasi.
b) Fungsi
untuk mentranspor oksigen keseluruh jaringan melalui pengikatan
hemoglobin terhadap oksigen dan karbon dioksida.
Berperan dalam pengaturan pH darah karena ion bikarbonat dan
hemoglobin merupakan buffer asam-basa.
C. Leukosit atau sel darah putih
Leukosit memiliki sifat diapedis yaitu kemampuan untuk menembus
pori-pori membrane kapilar dan dan masuk kedalam jaringan.leukosit
bergerak sendiri dengan gerakan amuboid ( gerakan seperti gerakan
amuba), beberapa sel mampu bergerak tiga kali panjang tubuhnya dalam 1
menit.
a. Jumlah
Jumlah normal sel darah putih adalah 7.000 sampai 9.000 per mm
3
.
7

Infeksi atau kerusakan jaringan mengakibatkan peningkatan jumlah
leukosit.
b. Fungsi
Melindungi tubuh terhadap invasi benda asing, termasuk virus dan
bakteri.
Sebagian aktivitas leukosit berlangsung dalam jaringan dan bukan
dalam aliran darah.
c. Klasifikasi Leukosit
Ada lima jenis leukosit didalam sirkulasi darah,yang dibedakan
berdasarkan ukuran,bentuk nucleus, dan tidak adanya granula
sitoplasma.
1. Granulosit
Neutrofil mencapai 60% dari jumlah sel darah putih
a. Struktur. Neutrofil memilki granula kecil bewarna merah
muda dalam sitoplasmanya. Nukleusnya memilki 3 sampai 5
lobus yang terhubungkan dengan benang kromatin tipis.
Diameternya mencapai 9 mikrometer sampai 12 mikrometer.
b. Fungsi. Menyerang dan menghancurkan bakteri, virus, atau
agens penyebab cedera lainnya.
Eosinofil mencapai 1 sampai 3% jumlah sel darah putih.
a. Struktur. Eosinofil memiliki granula sitoplasma yang kasar
dan besar,dengan pewarnaan orange kemerahan. Sel ini
memilki nucleus berlobus 2, dan diameter 12- 15 mikrometer.
b. Fungsi. dalam detoksikasi histamine yang diproduksi sel mast
dan jaringan yang cedera saat inflamasi berlangsung.tetapi
fungsi pastinya belum diketahui.
Basofil mencapai kurang dari 1% jumlah leukosit.
8

a. Struktur. Basofil memilki sejumlah granula sitoplasma besar
yang bentuknya tidak beraturan dan akan bewarna keunguan
sampai hitam serta memperlihatkan bentuk nucleus berbentuk
S. Diameter sekitar 12-15 mikrometer.
b. Fungsi basofil menyerupai fungsi sel mast. Sel ini
mengandung histamin, mungkin untuk meningkatkan aliran
darah kejaringan yang cedera, dan juga antikoagulan heparin,
mungkin untuk membantu mencegah pengumpalan darah
intravascular.fungsi sebenarnya belum diketahui.
2. Agranulosit adalah leukosit tanpa granula sitoplasma, yaitu limfosit
dan monosit.
Limfosit mencapai 30% jumlah limfosit . rentang hidupnya dapat
mencapai beberapa tahun.
a. Struktur . limfosit mengndung nukleus bulat bewarna biru
gelap yang mengandung yang dikelilingi lapisan tipis
sitoplasma. Ukurannya bervariasi; ukuran kecil 5 mikrometer
samapi 8 mikrometer ; ukuran terbesar 15 mikrometer.
b. Asal dan fungsi. limfosit berasal dari sel-sel batang sumsum
tulang merah,tetapi melanjutkan diferensiasi dan proliferasinya
dalam organ lain. Sel ini berfungsi dalam reaksi imunologis.
Monosit mencapai 3-8% jumlah total sel.
a. Struktur. Monosit adalah sel darah terbesar, diameternya rata-
rata berukuran 12-18 mikrometer . Nukleusnya besar
,berbentuk telur atau seperti ginjal, yang dikelilingi sitoplasma
bewarna biru keabuan pucat.
b. Fungsi. monosit sangat fagositik dan sangat aktif. Sel ini siap
bermigrasi melalui pembuluh darah. Jika monosit telah
9

meninggalkan aliran darah, maka sel ini menjadi histiosit
jaringan (makrofag tetap).
D. Trombosit (Keping Darah)
Berjumlah 250.000 sampai 400.000 per mm
3
. Bagian ini merupakan
fragmen sel tanpa nucleus yang berasal dari megakariosit raksasa
multinukleus dalam sumsum tulang.
1. Struktur. Ukuran trombosit mencapai setengah ukuran sel darah
merah. Sitoplasmanya terbungkus suatu membrane plasma dan
mengandung berbagai jenis granula yang berhubungan dengan proses
koagulasi darah.
2. Fungsi. trombosit berfungsi dalam hemostasis (penghentian
pendarahan) dan perbaikan pembuluh darah yang robek.

2. Struktur Mikroskopik Darah
1. Eritrosit
Eritrosit berbentuk diskus bikonkaf, bentuknya bulat dengan lekukan
pada sentralnya dan berdiameter 7,65 m.
3

Eritrosit terbungkus dalam membrane sel dengan permeabilitas tinggi.
Membran ini elastis dan fleksibel, sehingga memungkinkan eritrosit
menembus kapiler.
3

Struktur mikroskopik eritrosit
2

Gambar 1.1
10

2. Trombosit
Ukuran trombosit mencapai setengah ukuran sel darah merah.
Sitoplasmanya terbungkus suatu membrane plasma dan mengandung
berbagai jenis granula yang berhubungan dengan proses koagulasi
darah.
3

Struktur mikroskopik trombosit
2

Gambar 1.2
3. Leukosit
Leukosit adalah sel yang mengandung inti. Leukosit melakukan
gerakan amuboid, yang berfungsi untuk menerobos dinding-dinding
pembuluh darah dan menyelusup ke dalam jaringan ikat.
4
3.1 klasifikasi leukosit
a. granulosit
1. neutrofil
memiliki granula kecil berwarna merah muda dalam
sitoplasmanya. Nulkleusnya memiliki tiga sampai lima
lobus yang terhubungkan dengan benang kromatin tipis.
Diameternya mencapai 9m sampai 12m.
3



11

Struktur mikroskopik neutrofil
2

Gambar 1.3
2. eosinofil
eosinofil memiliki granula sitoplasma yang kasar dan
besar, dengan pewarnaan oranye kemerahan. Sel ini
memiliki nucleus berlobus dua, dan berdiameter 12m
sampai 15m.
3

Struktur mikroskopik eosinofil
2

Gambar 1.4
3. basofil
basofil memiliki sejumlah granula sitoplasma yang besar
yang bentuknya tidak beraturan dan akan berwarna
keunguan sampai hitam serta memperlihatkan nucleus
berbentuk S. diameternya 12m sampai 15m.
3

12

Struktur mikroskopik basofil
2

Gambar 1.5
b. agranulosit
1. limfosit
limfosit mengandung nucleus bulat berwarna biru gelap
yang dikelilingi lapisan tipis sitoplasma. Ukurannya
bervariasi, ukuran terkecil 5m sampai 8m; ukuran
terbesar 15m.
3

Struktur mikroskopik limfosit
2

Gambar 1.6
2. monosit
monosit adalah sel darah terbesar, diameter rata-rata
berukuran 12m sampai 18m. Nukleusnya besar,
13

berbentuk seperti telur atau seperti ginjal, yang dikelilingi
sitoplasma berwarna biru keabuan pucat.
3

Struktur mikroskopik monosit
2


Gambar 1.7

3. Mekanisme Pembentukan Darah
4

a. Proeritroblas
Ini adalah sel yang paling awal di kenal dari seri eritrosit dan
dianggap sebagai hasil diferensiasi hemositoblas atau sel induk pluripoten,
dengan cara terlibatnya sel progenitor eritroid. Proeritroblas adalah sel yang
terbesar, dengan diameter sekitar 15-20 mikrometer, inti mempunyai pola
kromatin yang seragam, yang lebih nyata daripada pola kromatin
hemositoblas, serta satu atau dua anak inti yang mencolok. Setelah
mengalami sejumah pembelahan mitosis,proeritroblas menjadi eritroblas
basofil.

b. Eritroblas Basofil
Eritroblas basofil agak lebih kecil daripada proeritroblas, dan
diameternya rata-rata 10 mikron. Intinya mempunyai heterokromatin padat
dalam jala-jala kasar, dan anak intinya biasanya tidak jelas.


14

c. Eritroblas Polikromatofil
Eritroblas basofil membelah berkali-kali secara mitosis, dan
menghasilkan sel-sel yang memerlukan hemoglobin yang cukup untuk dapat
diperlihatkan di dalam sediaan yang diwarnai. Setelah pewarnaan Leishman
dan Giemsa, sitoplasma warnanyaberbeda-beda, dari biru ungu sampai lila
atau abu-abu karena adanya hemoglobin terwarna pink yang berbeda-beda di
dalam sitoplasma yang basofil dari eritroblas. Jadi mereka adalah
polikromatofil. Inti eritroblas polikromatofil mempunyaii jala kromatin lebih
padat daripada eritroblas basofil, dan selnya lebih kecil.

d. Normoblas
Eritroblas polikromatofil membelah beberapa kali secara mitosis.
Sifat basofil sitoplasma berkurang dan jumlah hemoglobin bertambah sampai
mencapai suatu jumlah sehingga sitoplasmanya terpulaskurang lebih semerah
seasidofil seperti eritrosit dewasa. Sel-sel yang menunjukkan derajat asidofil
yang demikian disebut NORMOBLAS. Normoblas lebih kecil daripada
eritroblas polikromatofil dan mengandung inti yanglebih kecil yang
terwarnai basofil padat. Intinya secara bertahap menjadi piknotik. Tidak ada
lagi aktivitas mitosis. Akhirnya inti dikeluarkan dari sel bersama-sama
dengan pinggiran tipis sitoplasma. Inti yangsudah dikeluarkan dimakan oleh
mkrofag-makrofag yang ada di dalamstroma sumsum tulang.

e. Retikulosit
Retikulosit disebut juga eritrosit yang belum dewasa. Dianggap
bahwa kebanyakan retikulosit kehilangan susunan retikularnya sebelum
meninggalkan sumsum tulang, karena jumlah eritrosit dalam darah perifer
normal kurang dari satu persen dari jumlah eritrosit. Perkembangan normal
eritrosit tergantung pada banyak macam-macam faktor, termasuk adanya
substansi asal (terutama globin, hem, dan besi). Faktor-faktor lain, seperti
asam askorbat, vitamin B12, dan faktor-faktor intrinsik (normal ada
15

dalamgetahlambung), yang berfungsi sebagai koenzim pada proses sintesis,
juga penting untuk pendewasaan normal eritrosit.

E. Hemostasis dan Fibrinolisis
3

Mekanisme hemostasis dan pembekuan darah melibatkan suatu
rangkaian proses yang cepat. Proses tersebut meliputi:
a. Vasokontstriksi.
Jika pembuluh darah terpotong, trombosit pada sisi yang rusak
serotonin dan tromboksin A2 (prostaglandin), yang menyebabkan otot
polos dinding pembuluh darah berkonstriksi. Hal ini akan mengurangi
darah yang hilang.

b. Plug trombosit
Trombosit membengkak, menjadi lengket, dan menempel pada
serabut kolagen dinding pembuluh darah yang rusak, membantuk plug
trombosit. Trombosit melepas adp untuk mengaktifasi trombosit
lain,sehingga mengakibatkan agregasi trombosit untuk memperkuat
plug. Jika kerusakan pembuluh darah sedikit, maka plug
trombositmampu menghentikan pendarahan. Jika kerusakannya besar,
maka plug trombosit dapat mengurangi perdarahan, sampai proses
pembekuan terbentuk.

c. Pembentukan bekuan darah
Mekanisme ekstrinsik pembekuan darah dimulai dari faktor
eksternal pembuluh darah itu sendiri. Tromboplastin (membrane
lipoprotein) yang dilepas oleh sel-sel jaringan yang rusak mengaktifasi
protrombin (protein plasma). Dengan bantuan kalsium untuk
membentuk thrombin. Thrombin mengubah fibrinogen yang dapat
16

larut menjadi fibrin yang tidak dapat larut. Benamg-benang fibrin
membentuk bekuan atau jaring-jaring fibrin yang menangkap sel darah
merah dan trombosit serta menutup aliran darah yang melalui
pembuluh yang rusak

d. Penguraian bekuan darah (fibrinolisis)
Segera setelah terbentuk, bekuan darah akan beretraksi (menyusut)
akibat kerja protein kontraktil dalam trombosit. Jarring-jaring fibrin
dikontraksi untuk menarik permukaan yang terpotong dan untuk
menyediakan kerangka kerja untuk perbaikan jaringan. Setelah itu
benang-benang fibrin akan hancur.

F. Pemeriksaan Laboratorium Pada Kasus Pendarahan dan
Interpretasinya
5

Pemeriksaan Hemoglobin
Nilai Normal:
Laki-laki Dewasa : 13,0-17,5 gr/dl
Wanita Dewasa : 12,3-15,3 gr/dl
Baby : 15,2-23,5 gr/dl
Infant : 10,8-12,8 gr/dl
Anak-Anak : 11,1-14, gr/dl
Bila kadar Hb di bawah normal disebut Anemia. Anemia berdasarkan
penyebabnya di bagi atas:
- Anemia Hemolitik
- Anemia Hemoragik/Pendarahan
17

- Anemia Nutrisional (Defisiensi)
- Anemia Aplastik/Hipoplastik
Bila kadar Hb di atas normal disebut Polisitemia, keadaan ini dapat di
jumpai pada orang-orang yang tinggal di dataran tinggi,pekerja berat, dan
perokok.

Metode Pemeriksaan
a. SAHLI
Hemoglobin dapat di ubah oleh larutan HCL menjadi asam
hematin yang berwarna coklat tua, lalu diencerkan dengan aquades
sampai warna standar, kemudian di baca kadar Hb pada skala Hb,
hasilnya dinyatakan dengan gr/dl.

b. Metode Hb Sianmenth
Senyawa hemoglobin akan di ubah menjadi
Sianmenthemoglobin yang berwarna coklat, oleh kalium ferri sianida
dan kalium sianida, reaksi menjadi kompleks setelah 5 menit.
Perubahan warna ini diukur dengan menggunakan alat
Spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nanometer.




18

TRANSFUSI DARAH
1. Penggolongan Darah
1

Didalam serum darah manusia terdapat zat yang disebut aglutinin yang
terdiri dari aglutinin alfa dan aglutinin beta. Sedangkan didalam eritrositnya
terdapat pula zat yang disebut aglutinigen A dan aglutinogen B.
Lansteiner membagi darah menjadi 4 golongan, yaitu :
Golongan darah A, yang mempunyai aglutinogen A dalam eritrositnya
dan mengandung aglutinin beta dalam serumnya
Golongan darah B, mempunyai aglutinogen A dalam eritrisitnya dan
mengandung aglutinin alfa dalam serumnya
Golongan darah AB, mempunyai aglitinogen A dan aglitinigen B
tetapi tidak mengandung aglutinin alfa dan aglutinin beta dalam
serumnya
Golongan darah O, yaitu darah tidak mengandung aglutinogen A dan
aglutinigen B (antigen) akan tetapi mengandung aglutinin alfa dan
aglutinin beta.
Golongan darah yang sama apabila dicampurkan tidak menimbulkan
pengumpulan oleh karena kedua darah mempunyai aglutinogen dan aglutinin
yang sama. Golongan darah O dapat disebut sebagai pemberi darah umum
atau general donor karna mempunyai aglutinin, tetapi tidak memiliki
aglutinogen sehingga jika didonorkan pada golongan darah A B dan AB tidak
akan menimbulkan pengumpalan darah.
Jika mempunyai aglitinogen A dalam eritrosit, tidak boleh ada serum
aglutinin alfa, begitu juga sebaliknya, karena jika ada akan menimbulkan
pengumpalan eritrosit.

2. Prinsip Transfusi Darah
1

Untuk menentukan golongan darah diperlukan suatu serum penguji
yang disebut tes serum yang terdiri dari tes serum A dan tes serum B. Darah
yang hendak diperiksa dimasukkan kedalam tabung yang berisi 2cc garam
19

fisiologis lalu dikocok. Kemudian darah tersebut diteteskan pada kedua serum
yang ada dalam kaca objek dan tunggu 5 menit.
Apabila pada kedua tes campuran tidak terlihat gumpalan, berarti
darah itu merupakan golongan darah O, karena eritrositnya tidak
mempunyai aglutinogen
Apabila hanya pada tes serum A yang kelihatan adanya gumpalan,
berarti darah itu merupakan golongan darah B, karena eritrositnya
mengandung aglutinogen B.
Apabila hanya pada tes serum B yang kelihatan adanya gumpalan,
berarti darah itu merupakan golongan darah A, karena eritrositnya
mengandung aglutinogen A.
Jika pada kedua tes serum terdapat adanya gumpalan berarti darah
tersebut merupakan golongan darah AB.


















20

PEMBULUH DARAH
1. Struktur Anatomi, Histologi, Fisiologi, dan Peran Masing-Masing
Pembuluh Darah
3

Pembuluh darah adalah serangkaian tuba tertutup yang bercabang dan
membawa darah dari jantung ke jaringan kemudian kembali lagi ke jantung.
Secara garis besar, pembuluh darah terbagi tiga, yakni :

Gambar 3.1
1. Arteri
Arteri berfungsi untuk membawa darah meninggalkan jantung.
Dinding arteri terdiri atas :
a. Tunica Adventisia, lapisan terluar dari jaringan ikat fibrosa
21

b. Tunica Media, terdiri atas otot polos atau serabut elastin yang
dipengaruhi oleh saraf simpatis dan parasimpatis
c. Tunica Intima, terdiri dari endotel atau epitel squamosum simpleks
Beberapa jenis arteri adalah :
a. Arteri Elastik
Arteri terbesar pada jantung. Arteri ini memiliki dinding yang tersusun
utama dari jaringan elastic. Distensi jaringan berperan penting dalam
kontinuitas aliran darah.

b. Arteri Muskular
Arteri ini adalah arteri penyebar. Ukuran lumen diatur oleh system
saraf sehingga volume darah yang dikirim dapat dikendalikan.

c. Arteri Kecil
Arteri ini tersusun atas otot dan serabut elastik yang beragam. Fungsi
arteri ini adalah menahan aliran pulsatil darah menjadi aliran yang tenang.

d. Arteriol
Arteriol membawa darah ke jaringan kapilar. Dikendalikan oleh saraf
simpatis pembuluh untuk meningkatkan tekanan darah.

22


Gambar 3.2

2. Vena
Lapisan vena hampir sama dengan arteri namun sedikit otot polos
dan serabut elastisnya sedangkan jaringan ikat fibrosanya lebih
banyak. Dinding tipis dan dapat mengembang menampung 75 %
volume darah total dan mengembalikan ke jantung dalam tekanan
yang sangat rendah. Vena terbagi menjadi :
a. Vena kecil
b. Vena sedang
c. Vena besar
Pembuluh Arteri Pembuluh Vena
Tempat agak ke dalam (
profunda)
Dekat dengan permukaan tubuh
(superficial)
23

Dinding pembuluh tebal, kuat,
dan elastic

Aliran darah berasal dari
jantung
Denyut terasa dan dapat diraba
Katup hanya satu di dekat
jantung
Bila ada luka darah keluar
memancar
Dinding pembuluh tipis, tidak
elastic

Aliran darah menuju jantung

Denyut tidak terasa
Katup di sepanjang pembuluh

Bila ada luka darah tidak
memancar
Tabel 3.1

24


Gambar 3.3


3. Kapiler
Kapiler berfungsi untuk pertukaran nutrient dan zat sisa di antara
darah dan jaringan. Mehubungkan anteriol dan venula. Pada sisi yang
berasal dari satu arteriol sebuah sfingter prekapilar otot polos
mengendalikan aliran darah yang masuk. Kapiler memiliki velositas
yang lamban. Dengan kesuluruhan area kapiler yang sangat luas.
25

Anastomosis arteriovena adalah saluran alternative tanpa melalui
kapiler. Kapiler terdiri atas :
a. Kapiler Continu
Paling umum dan dapat ditemukan pada kebanyakan organ dan
jaringan. Pada kapiler ini sel endotel saling menyambung
menutup lapisan yang utuh.
b. Kapiler Bertingkap
Kapiler ini memiliki lubang bulat pada sitoplasma, kapiler ini
banyak ditemukan pada organ endokrin, usus halus dan
glomerulus.
c. Sinusoid
Pembuluh darah yang berjalan berkelok kelok, tidak teratur
dengan diameter yang jauh lebih besar dari kapiler lainnya,
banyak ditemukan pada hati, limpa, dan sumsum tulang.

Gambar 3.4

2. Faktor yang Mempengaruhi dan Mengendalikan Aktivitas Pembuluh
Darah
a. Faktor yang mempengaruhi aktivitas pembuluh darah
1

Aliran darah pada arteri ditentukan oleh beberapa faktor :
26

Perbedaan tekanan yang cenderung mendorong cairan
darah untuk mengalir dari suatu tempat ke tempat lain yang
mempunyai tekanan yang lebih rendah.
Tahanan pembuluh darah yang cenderung memberikan
hambatan terhadap jalannya aliran darah. Dinamika aliran
darah terjadi bila ada perbedaan tekanan di antara kedua
ujung pembuluh darah.
Tekanan darah arteri dipengaruhi oleh kerja jantung,
tekanan perifer, kekenyalan di dinding pembuluh darah,
kekentalan darah, dan jumlah darah yang bersirkulasi.
Aliran darah pada vena, aktivitas pada vena dan faktor yang
mempengaruhinya :
Gelombang (denyut) vena, terjadi karena perubahan
tekanan dan volume yang dapat dilihat dengan pencatatan
elektronik.
Kecepatan aliran darah vena, aliran darah vena terjadi
karena efek pompa jantung, tekanan negatif rongga toraks,
kontraksi otot rangka, dan adaya katup-katup vena pada
pembuluh darah vena di bagian bawah jantung. Pada
dasarnya perubahan tekanan darah vena akibat pengaruh
gravitasi, begitu juga dengan arteri.
Kecepatan aliran darah atau perubahan tekanan juga
dipengaruhi oleh faktor usia.
b. Faktor yang mengendalikan aktivitas pembuluh darah
Pusat vasomotorik, bertanggung jawab atas vasokontriksi
pembuluh darah karena selnya memiliki potensial intirahat
yang labil dan impuls atau rangsangan terjadi dikirim
melalui jalur saraf medula spinalis dan melalui saraf
27

simpatis menuju ke organ yang dipeliharanya, seperti
pembuluh darah.
1

Hormon medula adrenal, epinefrin dapat berperan
sebagai suatu vasokonstriktor atau vasodilator bergantung
pada jenis pembuluh darah organ.
3

Hormon antidiuretik dan oksitosin, yang disekresi oleh
kelenjar hipofisis posterior termasuk vasokontriktor.
3

Ion kalsium dan magnesium, jika terdapat kelebihan
kadar di dalam cairan tubuh akan menimbulkan
vasodilatasi arteriola. Ion ini menghambat mekanisme
kontraksi oto polos arteriola.
1


3. Prinsip Pengukuran Tekanan Darah dan Ukuran Normal Tekanan
Darah
6

Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap
dinding pembuluh, bergantung pada volume darah yang terkandung di dalam
pembuluh dan compliance atau daya regang (distensibility) dinding
pembuluh yang bersangkutan (seberapa mudah mereka dapat diregangkan).
Selama sistol ventrikel, volume sekuncup darah masuk arteri-arteri
dari ventrikel, sementara hanya sekitar sepertiga darah dari jumlah tersebut
yang meninggalkan arteri untuk masuk ke arteriol-arteriol. Selama diastol,
tidak ada darah yang masuk ke dalam arteri-arteri, sementara darah terus
meninggalkan mereka, terdorong oleh recoil elastik. Tekanan maksimum
yang ditimbulkan di arteri sewaktu darah disemprotkan masuk ke dalam arteri
selama sistol, atau tekanan sistolik, rata-rata adalah 120 mmHg. Tekanan
minimum di dalam arteri sewaktu darah mengalir ke luar ke pembuluh di hilir
selama diastol, yakni tekanan diastolik, rata-rata 80 mmHg. Tekanan arteri
tidak turun menjadi 0 mmHg karena timbul kontraksi jantung berikutnya dan
mengisi kembali arteri sebelum semua darah keluar.
28

Tekanan darah dapat secara tidak langsung diukur dengan
menggunakan sfigmomanometer
Perubahan tekanan arteri selama siklus jantung dapat diukur secara
langsung dengan menghubungkan alat pengukur tekanan ke sebuah jarum
yang dimasukkan ke dalam sebuah arteri. Namun, pengukuran dapat
dilakukan secara lebih nyaman dan cukup akurat, yaitu secara tidak langsung
dengan menggunakan sfigmomanometer, suatu manset yang dapat
dikembungkan, dipakai secara eksternal, dan dihubungkan dengan pengukur
tekanan. Apabila manset diingkarkan mengelilingi lengan atas dan kemudian
dikembungkan dengan udara, tekanan manset disalurkan melalui jaringan ke
arteri brakialis di bawahnya, yaitu pembuluh utama yang mengangkut darah
ke lengan bawah. Teknik ini melibatkan keseimbangan antara tekanan di
manset dengan tekanan di arteri. Apabila tekanan manset lebih besar daripada
tekanan di pembuluh, pembuluh terjepit dan tertutup, sehingga tidak ada darah
yang mengalir melaluinya. Apabila tekanan darah lebih besar daripada
tekanan manset, pembuluh terbuka dan darah mengalir melaluinya.
Selama penentuan tekanan darah, sebuah stetoskop diletakkan di atas
arteri brakialis di lipat siku tepat di bawah manset. Tidak terdengar bunyi
apabila tidak ada darah yang mengalir melalui pembuluh tersebut atau jika
darah mengalir secara normal, laminar, dan mulus. Aliran darah yang
turbulen, di pihak lain, menimbulkan getaran yang dapat didengar: pada
permulaan sistolik, sehingga arteri brakialis kolaps. Oleh karena tekanan
eksternal lebih besar, daripada tekanan internal puncak, arteri akan tergencet
sehingga tertutup selama siklus jantung; tidak terdengar bunyi, karena tidak
ada darah yang lewat arteri ini. Pada saat udara di dalam manset secara
perlahan dikeluarkan, tekanan di manset secara perlahan berkurang. Ketika
tekanan manset turun tepat di bawah tekanan sitolik puncak, arteri secara
sementara terbuka sedikit ketika tekanan darah mencapai puncak tersebut.
Darah lolos melewati arteri yang teroklusi secara parsial dalam waktu singkat
29

sebelum tekanan arteri kembali berada di bawah tekanan manset dan kembali
kolaps. Semprotan darah ini bersifat turbulen ,sehingga dapat didengar.
Dengan demikian, tekanan manset tertinggi pada saat bunyi pertama dapat
terdengar menandakan tekanan darah sistolik. Sewaktu tekanan manset terus
turun, darah secara intermiten menyemprot melewati arteri dan menimbulkan
bunyi pada setiap siklus jantung berikutnya setiap kali tekanan arteri melebihi
tekanan manset. Seawktu tekanan manset pertama kali berada di bawah
tekanan diastolik, arteri brakialis tidak lagi tergencet tertutup selama siklus
jantung, dan darah mengalir tanpa gangguan melalui pembuluh tersebut.
Karena aliran darah tidak lagi turbulen, bunyi tidak terdengar. Dengan
demikian, tekanan tertinggi manset pada saat bunyi terakhir terdengar
menandakan tekanan diastolik. Pada praktek klinis, tekanan darah arteri
dinyatakan sebagai tekanan sistolik di atas tekanan diastolik, dengan nilai
rata-ratanya 120/80 ( seartus dua puluh per delapan puluh) mmHg.

4. Hukum Hemodinamika
1

Hukum Frank-Starling menyatakan bahwa :
a. Makin besar isi jantung sewaktu diastole semakin besar jumlah darah yang
dipompakan ke aorta.
b. Dalam batas-batas fisiologis jantung memompakan seluruh darah yang
kembali ke jantung tanpa meyebabkan penumpukan darah di vena.
c. Jantung dapat memompakan jumlah darah yang sedikit atau yang banyak
bergantung pada jumlah darah yang mengalir kembali ke vena.





30

JANTUNG

1. Struktur Anatomi, Histologi, serta Fisiologi Jantung
3

Jantung (bahasa Latin, cor) adalah sebuah rongga, rongga, organ
berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi
berirama yang berulang. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan
jantung, dari Yunani cardia untuk jantung. Jantung adalah salah satu organ
yang berperan dalam sistem peredaran darah.
Jantung adalah organ berongga berbentuk kerucut tumpul yang
memiliki empat ruang yang terletak antara kedua paru-paru di bagian tengah
rongga toraks. Dua pertiga jantung terletak di sebelah kiri garis midsternal.
Jantung dilindungi mediastinum.

Struktur anatomi, histologi, dan fisiologi

a. Ukuran dan Bentuk
Jantung dibentuk oleh organ-organ muscular, apex dan basis
cordis, atrium kanan dan kiri serta ventrikel kanan dan kiri. Ukuran
jantung panjangnya kira-kira 12 cm, lebar 8-9 cm seta tebal kira-kira 6
cm. Berat jantung sekitar 7-15 ons atau 200 sampai 425 gram dan
sedikit lebih besar dari kepalan tangan.
Setiap harinya jantung berdetak 100.000 kali dan dalam masa
periode itu jantung memompa 2000 galon darah atau setara dengan
7.571 liter darah. Posisi jantung terletak diantara kedua paru dan
berada ditengah tengah dada, bertumpu pada diaphragma thoracis dan
berada kira-kira 5 cm diatas processus xiphoideus. Pada tepi kanan
cranial berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa III dextra, 1
cm dari tepi lateral sternum. Pada tepi kanan caudal berada pada tepi
cranialis pars cartilaginis costa VI dextra, 1 cm dari tepi lateral
31

sternum. Tepi kiri cranial jantung berada pada tepi caudal pars
cartilaginis costa II Kolesterol sinistra di tepi lateral sternum, tepi kiri
caudal berada pada ruang intercostalis 5, kira-kira 9 cm di kiri linea
medioclavicularis. Selaput yang membungkus jantung disebut
perikardium dimana terdiri antara lapisan fibrosa dan serosa, dalam
cavum pericardii berisi 50 cc yang berfungsi sebagai pelumas agar
tidak ada gesekan antara perikardium dan epikardium.
Epikardium adalah lapisan paling luar dari jantung, lapisan
berikutnya adalah lapisan miokardium dimana lapisan ini adalah
lapisan yang paling tebal. Lapisan terakhir adalah lapisan
endokardium. Pada bagian kanan dan kiri terbagi lagi menjadi 2 bilik.
Rongga bilik sebelah atas disebut dengan atria dan dua bilik bawah
yang disebut dengan ventricle yang memiliki peran dalam memompa
darah menuju arteri.

Gambar 4.1

32

b. Pelapis
Pericardium adalah kantong berdinding ganda yang dapat
membesar dan mengecil, membungkus jantung dan pembuluh darah
besar. Kantong ini melekat pada diafragma, sternum, vertebra dan
pleura yang membungkus paru. Terdiri atas lapisan fibrosa dan serosa.
Lapisan fibrosa tersusun dari serabut kolagen yang membentuk lapisan
jaringan ikat rapat untuk melindungi jantung. Lapisan Serosa terdirir
atas Visceral (epicardium) menutup permukaan jantung, dan parietal
melapisi bagian dalam Fibrosa pericardium.
Cavitas Pericardium adalah ruang potensial antara membrane
visceral dan parietal. Mengandung cairan pericardial yang disekresi
lapisan Serosa untuk melumasi membrane dan mengurangi friksi.
Perikardium adalah kantong berdinding ganda yang dapat membesar
dan mengecil, membungkus jantung dan pembuluh darah besar.
Kantong ini melekat pada diafragma, sternum dan pleura yang
membungkus paru-paru. Di dalam perikardium terdapat dua lapisan
yakni lapisan fibrosa luar dan lapisan serosa dalam. Rongga
perikardial adalah ruang potensial antara membran viseral dan parietal.

c. Dinding Jantung
Terdiri dari tiga lapisan, yaitu :
Epicardium tersusun atas lapisan sel-sel mesotelial yang berada
diatasjaringan ikat. Miokardium terdiri dari jaringan otot jantung yang
berkontraksi untuk
memompa darah. Ketebalan miokard bervariasi dari satu ruang
jantung ke Kolesterol ruang yang lainnya. Serabut otot yang tersusun
dalam berkas-berkas spiral melapisi ruang jantung.
Endokardium tersusun dari lapisan endothelial yang terletak
diatas jaringan ikat. Lapisan ini melapisi jantung, katup, dan
33

menyambung dengan lapisan endothelial yang melapisi pembuluh
darah yang memasuki dan meninggalkan jantung.

d. Tanda - Tanda Permukaan
Sulkus Coronarius (atrioventricular) mengelilingi jantung
diantara atrium dan ventrikel.
Sulkus interventricular anterior dan posterior menandai letak
septum interventrikuler yang memisahkan ventrikel kiri dan kanan.
Menurut sumber lain, menyebutkan bahwa tanda tanda permukaan
jantung adalah : Sulkus Koroner (atrioventrikular) mengelilingi
jantung diantara atrium dan ventrikel.Sulkus Interventrikular anterior
dan posterior, memisahkan ventrikel kanan dan ventrikrl kiri.

e. Rangka Fibrosa Jantung
Tersusun dari nodul-nodul fibrokartilago dibagian atas septum
interventricular dan cincin jaringan ikat rapat di sekeliling bagian
dasar trunkus pulmonary dan aorta. Kerangka fibrosa ini berfungsi
sebagai tempat perlekatan otot dan katup jantung. Sama halnya dengan
sumber lainnya yang menyebutkan bahwa, rangka fibrosa jantung
tersusun dari nodul-nodul fibrokartilago di bagian atas septum
interventrikular dan cincin jaringan ikat rapat di sekeliling bagian
dasar trunkus pulmonar dan aorta.

f. Ruang Jantung

Atrium (dipisahkan oleh septum intratrial).
Atrium kanan terletak dalam bagian superior kanan jantung, menerima
darah dari seluruh jaringan kecuali paru. Vena cava superior dan
34

Inferior membawa darah dari seluruh tubuh ke jantung. Sinus koroner
membawa kembali darah dari dindin jantung itu sendiri. Atrium kiri di
bagian superior kiri jantung, berukuran lebih kecil dari atrium kanan,
tetapi dindingnya lebih tebal. Menampung empat vena pulmonalis
yang mengembalikan darah teroksigenasi dri paru-paru.

Ventrikel (dipisahkan oleh septum interventricular)
Ventrikel kanan terletak dibagian inferior kanan pada apeks jantung.
Darah meningalkan ventrikel kanan melalui truncus pulmonal dan
mengalir melewati jarak yang pendek ke paru-paru. Ventrikel kiri
terletak dibagian inferior kiri pada apeks jantung. Tebal dinding 3 kali
tebal dinding ventrikel kanan. Darah meninggalkan ventrikel kiri
melalui aorta dan mengalir ke seluruh bagian tubuh kecuali paru-paru.

Trabeculae Carnae
Merupakan bubungan otot bundar atau tidak teratur yang menonjol
dari permukaan bagian dalam kedua ventrikel ke rongga ventricular.
Otot Papilaris adalah penonjolan trabeculae carnae ke tempat
perlekatan korda kolagen katup jantung (chorda tendinae). Moderator
band (trabeculae septomarginal) adalah pita lengkung otot pada
ventrikel kanan yang memanjang kea rah tranversal dari septum
interventricular menuju otot papilaris anterior. Otot ini membantu
dalam transmisi penghantaran impuls untuk kontraksi jantung.

g.Katup Jantung

Tricuspid
35

Terletak antara atrium kanan dan Ventrikel kanan. Memiliki 3 daun
katup (kuspis) jaringan ikat fibrosa irregular yang dilapisi
endokardium. Bagian ujung daun katup yang mengerucut melekat paa
korda tendinae, yang malekat pada Otot papilaris. Chorda tendinae
mencegah pembalikan daun katup ke arah belakang menuju atrium.
Jika tekanan darah pada atrium kanan lebih besar daripada tekanan
arah atrium kiri, daun katup tricuspid terbuka dan darah mengalir dari
atrium kanan ke ventrikel kanan. Jika tekanan darah dalam ventrikel
kanan lebih besar dari tekanan darah diatrium kanan, daun katup akan
menutup dan mencegah aliran balik ke dalam atrium kanan.

Bicuspid (mitral)
Terletak antara atrium kiri dan ventrikel kiri. Katup ini melekat pada
Chorda tendinae dan otot papilaris, fungsinya sama dengan fungsi
katup tricuspid.

Semilunar aorta dan pulmonal
Terletak di jalur keluar ventricular jantung sampai ke aorta dan truncus
pulmonalis. Katup semilunar pulmonary terletak antara ventrikel
kanan dan truncus pulmonal Katup semilunar aorta terletak antara
ventrikel kiri dan aorta. Katup Trikuspid yang terletak antara atrium
kanan dan ventrikel kanan. Katup Bikuspid yang terletak antara atrium
kiri dan ventrikel kiri. Katup Semilunar aorta dan pulmonary terletak
di jalur keluar ventrikular jantung sampai ke aorta ke trunkus
pulmonar

36


Gambar 4.2

2. Siklus Mekanisme Kerja Jantung dalam Memompa Darah
3

Siklus jantung mencakup periode dari akhir kontraksi (sistole) dan
relaksasi (diastole) jantung sampai akhir sistole dan diastole berikutnya.
Kontraksi jantung mengakibatkan perubahan tekanan dan volume darah dalam
jantung dan pembuluh utama yang mengatur pembukaan dan penutupan katup
jantung serta aliran darah yang melalui ruang-ruang dan masuk ke arteri.
Peristiwa mekanik dalam siklus jantung ;
a. Selama masa diastole (relaksasi)
tekanan dalam atrium dan ventrikel sama-sama rendah, tetapi tekanan
atrium lebih besar dari tekanan ventrikel.
(1) atrium secara pasif terusmenerus menerima darah dari vena (vena
cava superior dan inferior, vena pulmonar).
(2) darah mengalir dari atrium menuju ventrikel melalui katup A-V yang
terbuka
37

(3) Tekanan ventrikular mulai meningkat saat ventrikel mengembang
untuk menerima darah yang masuk.
(4) Katup semilunar aorta dan pulmonar menutup karena tekanan dalam
pembuluh-pembuluh lebih besar daripada tekanan dalam ventrikel.
(5) Sekitar 70% pengisian ventrikular berlangsung sebelum sistole atrial.
b. Akhir diastole ventrikular
Nodus S-A melepas impuls, atrium berkontraksi dan peningkatan
tekanan dalam atrium mendorong tambahan darah sebanyak 30% ke
dalam ventrikel.
c. Sistole ventrikular.
Aktivitas listrik menjalar ke ventrikel yang mulai berkontraksi.
Tekanan dalam ventrikel meningkat dengan cepat dan mendorong katup
A-V untuk segera menutup.
d. Ejeksi darah ventrikular ke dalam arteri
(1) Tidak semua darah ventrikular dikeluarkan saat kontraksi. Volume
sistolik akhir darah yang tersisa pada akhir sistole adalah sekitar 50 ml.
(2) Isi sekuncup (70 ml) adalah perbedaan volume diastole akhir (120 ml)
dan volume sistole akhir (50 ml).
e. Diastole ventrikular
(1) Ventrikel berepolarisasi dan berhenti berkontraksi. Tekanan dalam
ventrikel menurun tiba-tiba sampai di bawah tekanan aorta dan trunkus
pulmonary sehingga katup semilunar menutup (bunyi jantung kedua).
(2) Adanya peningkatan tekanan aorta singkat akibat penutupan katup
semilunar aorta.
(3) Ventrikel kembali menjadi rongga tertutup dalam periode relaksasi
isovolumetrik karena katup masuk dan katup keluar menutup. Jika tekanan
dalam ventrikel menurun tajam dari 100 mmHg samapi mendekati nol,
jauh di bawah tekanan atrium, katup A-V membuka dan siklus jantung
dimulai kembali.

38


Gambar 4.3




39

3. Proses Terbentuknya Bunyi Jantung
7

Bunyi lub vibrasi berfrekuensi rendah dan intensitas kecil. Terjadi
pada awal sistole ventrikel; darah mengalir ke arah atrium untuk
menutup katup-katup atrioventrikuler. Vibrasi dan gerakan darah ini
merupakan komponen I yang terjadi men-dahului peninggian tekanan
intraventrikuler sebelum katup-katup atrioventrikuler tertutup/teregang.

Komponen II bunyi dup dengan frekuensi dan amplitudo tinggi, mulai
terdengar bersamaan dengan saat gerakan darah yang menyebabkan
katup atrioventrikuler yang tertutup menjadi amat regang sehingga
aliran darah kembali ke arah ventrikel.

Komponen III mulai pada saat kontraksi ventrikel yang menyebabkan
peninggian tekanan intraventrikuler menjadi lebih besar daripada
tekanan dalam aorta/pulmonalis dan darah bergerak ke arah katup-katup
semilunaris. Oleh karena itu, bagian pertama dari darah yang bergerak
ke luar dari ventrikel meregangkan bagian proksimal arteri-arteri
tersebut. Pelebaran tiba-tiba segmen proksimal arteri dapat me-
nyebabkan kembalinya darah ke arah ventrikel. Gerakan darah ke
belakang dan ke depan di antara pangkal arteri dan ruang-ruang
ventrikel ini yang menyebabkan komponen III bunyi jantung I.
Frekuensi dan intensitasnya seperti pada komponen II.

Komponen IV berupa vibrasi lemah bernada rendah di-sebabkan oleh
turbulensi darah yang mengalir cepat melalui aorta
asendens/pulmonalis. Biasanya hanya komponen II & III yang
terdengar, di-sebut M1dan Tl.

40

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
o Darah adalah sejenis jaringan ikat yang sel-selnya (elemen pembentuk)
tertahan dan dibawa dalam matrik cairan ( plasma ).
o Fungsi darah adalah sebagai alat pengangkut, sebagai pertahanan tubuh
terhadap serangan penyakit dan racun dalam tubuh, dan menyebarkan panas
keseluruh tubuh.
o Komponen darah terdiri dari plasma darah, eritosit (sel darah merah), leukosit
(sel darah putih), dan trombosit.
o Plasma darah terdiri dari protein plasma (albumin, globulin, dan fibrinogen).
o Leukosit terbagi dua yaitu granulosit (neutrofil, eusinofil, dan basofil) dan
agranulosit (limfosit dan monosit).
o Mekanisme pembentukan darah terdiri dari tahapan proeritoblas, eritoblas
basofil, eritoblas polikromatofil, normoblas, dan retikulosit.
o Tahapan hemostasis terdiri dari vasokonstriksi, plug trombosit, pembentukan
bekuan darah, dan penguraian bekuan darah (fibrinolisis).
o Pemeriksaan laboratorium pada kasus pendarahan dapat dilakukan dengan
metode sahli dan metode Hb Sianmenth
o Penggolongan darah ada dua metode yaitu klasifikasi golongan darah ABO
dan Sistem Rh.
o Pembuluh darah secara garis besar terdiri dari kapiler, arteri, dan vena.
o Aktivitas pembuluh darah dipengaruhi dan dikendalikan oleh pusat
vasomotorik, hormon, ion kalsium, dan magnesium.
o Tekanan darah dapat secara tidak langsung diukur dengan menggunakan
sfigmomanometer.
41

o Ukuran normal tekanan darah adal 120/80 mmHg.
o Jantung adalah sebuah rongga, rongga, organ berotot yang memompa darah
lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang.
o Ruang jantung terdiri dari atrium kanan, atrium kiri, ventrikel kanan, dan
ventrikel kiri.
o Katu jantung terdiri dari katup tricuspid, katup bicuspid, katup semilunar aorta
dan pulmonar.
o Dinding jantung terdiri dari lapisan epikardium, miokardium, dan
endokardium.


42

DAFTAR PUSTAKA
1. Syaifuddin. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Ed 3. Jakarta:
EGC, 2006. p. 132, 139, 141, 148, 149.
2. Eroschenko VP. Atlas Histologi Di Fiore: Dengan Korelasi Fungsional. 11
th

ed. Jakarta: EGC, 2010. p. 105, 179.
3. Sloane E. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC, 2004. p. 220,
223-225, 228, 230, 234-238.
4. Leeson CR, Leeson TS, Paparo AA. Buku Ajar Histologi. Ed 5. Jakarta: EGC,
1989. p.161, 162, 171-174.
5. Syahrul, syukri M, Azwar. Hematologi Dasar. Banda Aceh: FK Unsyiah,
2007. p. 13-15.
6. Sherwood L. Fisiologi Manusia : dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC;
2001.p.303-306
7. Sastroasmoro S, Ismet N, Oesman, Madiyono B. Auskultasi Jantung dan
Fonokardiografi. Naskah Lengkap Pendidikan Tambahan Berkala Ilmu
Kesehatan Anak ke-XI FK--UI Jakarta, 1985. p.5-12.