Anda di halaman 1dari 36

PEMERINTAH KOTA TASIKMALAYA DINAS PENDIDIKAN

SMK BINA PUTERA NUSANTARA

Jalan Liunggunung No. 261 Panyingkiran Indihiang Tasikmalaya Telp. (0265) 345790

PEMERINTAH KOTA TASIKMALAYA DINAS PENDIDIKAN SMK BINA PUTERA NUSANTARA Jalan Liunggunung No. 261 Panyingkiran Indihiang Tasikmalaya

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

 

Sekolah

: SMK Bina Putera Nusantara

Kelas/Semester

: X / 1

Mata Pelajaran

: Sejarah Indonesia

Topik

: a. Perkembangan Teknologi

 
  • b. Pola Hunian

  • c. Mengenal Api

  • d. Dari Berburu, Meramu sampai Bercocok Tanam (Sistem Mata Pencaharian)

  • e. Sistem Kepercayaan

 

Pertemuan ke-

: 6-10

Alokasi Waktu

: 5 X 2 X 45 menit

A.

Kompetensi Inti

  • 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

  • 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

  • 3. Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual,prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

  • 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

    • B. Kompetensi Dasar dan Indikator

      • 1.1 Menghayati keteladanan para pemimpin dalam mengamalkan ajaran agamanya.

2.1. Menunjukkan sikap tanggung jawab, peduli terhadap berbagai hasil budaya pada zaman

2.3

praaksara, Hindu-Budha dan Islam. Berlaku jujur dan bertanggung-jawab dalam mengerjakan tugas-tugas dari pembelajaran

sejarah

  • 3.4. menganalisis berdasarkan tipologi hasil budaya praaksara Indonesia termasuk yang berada di lingkungan terdekat.

    • 1. Menganalisis hasil-hasil kebudayaan batu zaman praaksara.

    • 2. Menganalisis tradisi megalitik dan kaitannya dengan kepercayaan masyarakat.

    • 3. Menganalisis pola hunian masyarakat praaksara.

    • 4. Menganalisis proses penemuan api.

    • 5. Mengidentifikasi hasil budaya praaksara yang sekarang masih ditemukan di

1

lingkungannya.

4.4. Menalar informasi mengenai hasil budaya praaksara Indonesia termasuk yang berada di lingkungan terdekat dan menyajikannya dalam bentuk tertulis. - Membuat laporan tertulis tentang kajian terhadap hasil kebudayaan masyarakat

praaksara di Indonesia

  • C. Tujuan Pembelajaran

    • 1. Melalui pengamatan terhadap tayangan gambar-gambar peralatan dan teknologi yang ditemukan manusia masa praaksara, peserta didik dapat menunjukkan nilai-nilai syukur pada ciptaan Tuhan YME berupa peninggalan hasil budaya masa Praaksara di Indonesia

    • 2. Melalui pengamatan terhadap tayangan gambar-gambar peralatan dan teknologi yang

ditemukan manusia masa praaksara, peserta didik dapat menunjukkan sikap tanggung jawab terhadap peninggalan hasil budaya masa praaksara di Indonesia

  • 3. Melalui pengamatan terhadap tayangan gambar-gambar peralatan dan teknologi yang ditemukan manusia masa praaksara, peserta didik dapat menunjukkan sikap peduli terhadap peninggalan hasil budaya masa praaksara di Indonesia

  • 4. Melalui kegiatan Tanya jawab, peserta didik dapat menunjukkan sikap tanggungjawab dalam mengerjakan tugas-tugas dari pembelajaran sejarah

  • 5. Melalui kegiatan Tanya jawab, peserta didik dapat menunjukkan sikap jujur dalam mengerjakan tugas-tugas dari pembelajaran sejarah.

  • 6. Melalui kegiatan mengkaji materi dan diskusi kelompok, peserta didik mampu menganalisis pembabakan waktu zaman teknologi bebatuan.

  • 7. Melalui kegiatan mengkaji materi dan diskusi kelompok, peserta didik mampu menganalisis hasil-hasil kebudayaan zaman plaeolitikum

  • 8. Melalui kegiatan mengkaji materi dan diskusi kelompok, peserta didik mampu menganalisis perkembangan teknologi bebatuan pada jaman mesolitikum .

  • 9. Melalui kegiatan mengkaji materi dan diskusi kelompok, peserta didik mampu menganalisis hasil kebudayaan jaman neolitikum.

    • 10. Melalui kegiatan mengkaji materi dan diskusi kelompok, peserta didik mampu menganalisis hasil kebudayaan jaman megalitikum.

    • 11. Melalui kegiatan mengkaji materi dan diskusi kelompok, peserta didik mampu menganalisis hasil kebudayaan perunggu.

    • 12. Melalui kegiatan mengkaji materi dan diskusi kelompok, peserta didik mampu menganalisis perkembangan kebudayaan pada jaman neolitikum.

    • 13. Melalui kegiatan mengkaji materi dan diskusi kelompok, peserta didik mampu menganalisis makna revolusi kebudayaan zaman neolitikum

    • 14. Melalui kegiatan mengkaji materi dan diskusi kelompok, peserta didik mampu mengidentifikasi manusia pendukung kebudayaan neolitikum

    • 15. Melalui pengamatan terhadap gambar-gambar slide yang ditayangkan dengan powerpoint, peserta didik mampu menjelaskan pola hunian manusia praaksara.

    • 16. Melalui kegiatan diskusi kelompok dan tanya jawab, peserta didik mampu menganalisis keterkaitan antara pola hunian dengan mata pencaharian manusia praaksara.

    • 17. Melalui pengamatan terhadap gambar-gambar yang ditayangkan dengan powerpoint dan diskusi kelompok, peserta didik mampu menganalisis proses penemuan api oleh manusia praaksara.

    • 18. Melalui pengamatan terhadap gambar-gambar yang ditayangkan dengan powerpoint dan diskusi kelompok, peserta didik mampu menjelaskan berbagai manfaat api bagi manusia zaman praaksara.

2

19.

Melalui pengamatan terhadap penayangan video tentang kehidupan manusia purba, diharapkan peserta didik dapat menganalisis pola kehidupan nomaden dengan kegiatan

berburu dan mengumpulkan makanan.

  • 20. Melalui diskusi kelompok dan tanya jawab, peserta didik mampu menganalisis pola kehidupan bercocok tanam dan bertempat tinggal tetap

  • 21. Melalui pengamatan terhadap gambar-gambar peninggalan jaman megalitikum yang ditayangkan dengan powerpoint dan diskusi kelompok, peserta didik mampu menganalisis sistem kepercayaan manusia zaman praaksara.

  • 22. Melalui penugasan terstruktur siswa mampu membuat laporan tertulis tentang kajian hasil budaya masyarakat praaksara di Indonesia.

  • D. Materi Ajar

    • 1. Perkembangan Teknologi

      • - Jaman Palaeolitikum

      • - Jaman Mesolitikum

      • - Jaman Neolitikum

2.

Pola Hunian

  • - Nomaden

  • - Semi Sedenter

  • - Sedenter

  • 3. Mengenal Api

  • 4. Sistem Mata Pencaharian

 
  • - Berburu dan mengumpulkan makanan

  • - Berladang

  • - Bercocok tanam menetap

5.

Sistem kepercayaan

  • - Animisme

  • - Dinamisme

  • E. Pendekatan, Strategi dan Metode Pembelajaran

  • 6. Pendekatan

: Scientific

  • 7. Strategi

: PAIKEM

  • 8. : Problem Based learning model diskusi kelompok

Metode

  • F. Media dan Sumber Pembelajaran:

    • 1. Media pembelajaran :

      • - White board/papan flanel

      • - Power point / LCD

      • - Internet

      • - Peta Sejarah

  • 2. Sumber Belajar :

    • - Djoened Poesponegoro, Marwati, dan Nugroho Notosusanto. 2009. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.

    • - Soekmono, R. 1985. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.

    • - Yamin, Muhammad. 1966. Lukisan Sedjarah. Djakarta: Djambatan.

    • - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Sejarah Indonesia Kelas X, Politeknik Negeri Media Kreatif, Jakarta, 2013.

    3

    • G. Kegiatan Pembelajaran Pertemuan ke 6

    KEGIATAN

     

    DESKRIPSI

    ALOKASI

     

    WAKTU

    Pendahuluan

    Guru memberikan salam

    10 menit

    Guru mempersilahkan Ketua Kelas untuk menyiapkan teman- temannya dan memimpin do’a bersama sebelum memulai pembelajaran.

    Guru mengecek kehadiran siswa

    Guru memotivasi siswa dengan mengajak siswa menyanyikan lagu perjuangan

    Guru bertanya terkait dengan materi pada pertemuan sebelumnya.

    Guru memperlihatkan salah satu alat yang terbuat dari batu.

    Guru menegaskan tentang topik dan menyampaikan kompetensi yang akan dicapai.

    Peserta didik kembali ke kelompoknya masing-masing

    Inti

     
    • 1. Peserta didik mengamati gambar ilustrasi benda- benda hasil kebudayaan pada jaman batu.

    60 menit

    • 2. Peserta didik membaca teks tentang perkembangan kebudayaan atau teknologi bebatuan sejak zaman palaeolitikum dengan kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong sampai perkembangan kebudayaan Mesolitikum dengan kebudayaan Kjokkenmoddinger dan kebudayaan Abris sous

    Roche .

    • 3. Peserta didik ditugaskan untuk berdiskusi dan menganalisis tentang :

    • a. pembabakan waktu zaman teknologi bebatuan.

    • b. Hasil kebudayaan pada zaman palaeolitikum

    • c. Hasil kebudayaan pada zaman mesolitikum

    • d. Hasil kebudayaan pada zaman neolitikum

    4

       
    • e. Hasil kebudayaan megalitikum

     
    • f. Hasil kebudayaan pada zaman perunggu

    • 4. Wakil dari masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

    kelompok 1 untuk materi a.

    Kelompok 2 untuk materi b

    Kelompok 3 untuk materi c

    Kelompok 4 untuk materi d

    Kelompok 5 untuk materi e

    Kelompok 6 untuk materi f

    • 5. Kelompok lainnya yang tidak sedang presentasi, diperbolehkan untuk mananggapi materi yang sedang dipresentasikan.

    • 6. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil belajarnya.

    Penutup

    Peserta didik diberi uraian singkat tentang kegiatan

    20 Menit

    pembelajaran dan hasil belajarnya. Evaluasi untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran

    dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan secara acak kepada peserta didik. Peserta didik melakukan refleksi tentang pelaksanaan

    pembelajaran dengan cara ditanya tentang nilai-nilai apa saja yang didapat dari pelajaran hari ini Peserta didik diberi tugas untuk di rumah menuliskan pembabakan jaman praaksara di Indonesia beserta hasil-hasil kebudayaannya

    Mengucapkan salam

    Pertemuan ke 7

     

    KEGIATAN

     

    DESKRIPSI

    ALOKASI

     

    WAKTU

    Pendahuluan

    Guru memberikan salam

    10 menit

    Guru mempersilahkan Ketua Kelas untuk menyiapkan

    teman-temannya dan memimpin do’a bersama sebelum

    5

       

    memulai pembelajaran.

     

    Guru mengecek kehadiran siswa.

    Ketua kelas memimpin teman-temannya untuk mengucapkan

    Guru bertanya terkait dengan tugas yang diberikan pada pertemuan sebelumnya yaitu tentang pembabakan masa praaksara di Indonesia dan siswa ditunjuk secara acak untuk membacakan hasil pekerjaannya di rumah.

    Guru menyampaikan topik tentang “Sebuah Revolusi” dan Guru memberi motivasi pentingnya topik ini.

    Kepada peserta didik dapat disampaikan contoh produk dari sebuah revolusi kebudayaan yang ada pada saat ini. Misalnya dalam teknologi komunikasi ada handphone, internet, dan guru dapat memberikan contoh produk revolusi kebudayaan yang lainnya.

    Guru menyampaikan tujuan dan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik dan guru menekankan pelajaran ini pada pemaknaan dan penerapan, bukan hafalan.

    Peserta didik kembali ke kelompoknya masing-masing.

    Inti

     
    • 1 Peserta didik mengamati gambar ilustrasi benda-benda hasil kebudayaan pada masa kini ( laptop, tablet, HP, dll)

    60 menit

    • 2 Peserta didik mengamati gambar ilustrasi benda-benda hasil kebudayaan pada jaman neolitikum

    • 3 Peserta didik membaca teks tentang perkembangan kebudayaan pada zaman neolitikum dan manusia

    .

    • 4 Peserta didik ditugaskan untuk bekerja di kelompoknya masing-masing. Guru meminta kelompok I dan III mendiskusikan dan merumuskan tentang perkembangan hasil-hasil kebudayaan zaman neolitikum. Kelompok II dan IV mendiskusikan dan merumuskan tentang makna revolusi kebudayaan zaman neolitikum dengan menunjukkan bukti-buktinya. Kelompok V dan VI mendiskusikan tentang manusia pendukung kebudayaan neolitikum. (waktu untuk diskusi kelompok 30 menit)

    • 5 Kelompok I dan III diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi masing-masing tentang perkembangan kebudayaan zaman neolitikum. Kelompok II dan IV mempresentasikan tentang makna revolusi kebudayaan

    zaman neolitikum. Kelompok V dan VI

    6

       

    mempresentasikan hasil rumusan diskusinya tentang manusia pendukung kebudayaan neolitikum.

     

    Penutup

     

    Peserta didik diberi uraian singkat tentang materi yang

    Mengucapkan salam

    20 Menit

    baru saja didiskusikan. Peserta didik dapat ditanya apakah sudah memahami materi tersebut Evaluasi untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran dengan memberikan pertanyaan- pertanyaan secara acak kepada peserta didik. Peserta didik melakukan refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran dengan cara ditanya tentang manfaat apa saja yang didapat dari topik pelajaran hari ini Peserta didik diberi tugas individu tentang persebaran

    kapak lonjong dan kapak persegi

    Pertemuan ke 8

     

    KEGIATAN

     

    DESKRIPSI

    ALOKASI

     

    WAKTU

    Pendahuluan

    Guru memberikan salam

    10 menit

    Guru mempersilahkan Ketua Kelas untuk menyiapkan teman-temannya dan memimpin do’a bersama sebelum memulai pembelajaran.

    Guru mengecek kehadiran siswa

    Peserta didik ditanya tugas minggu lalu tentang persebaran kapak persegi dan kapak lonjong yang juga ada kaitannya dengan mata pencaharian manusia praaksara.

    Guru menyampaikan topik tentang “Pola Hunian Manusia Praaksara” dan memberi motivasi pentingnya topik ini.

    Guru menyampaikan kompetensi yang harus dikuasai para peserta didik. Guru perlu menekankan bahwa pembelajaran ini lebih pada pemaknaan bukan hafalan.

    Peserta didik kembali ke kelompoknya masing-masing

    Inti

     

    1

    Peserta didik diberi penjelasan melalui tayangan power point tentang pola hunian manusia zaman praaksara. Pada mulanya mereka tinggal di tempat terbuka umumnya di tepi sungai. Kaitannya di tempat terbuka ini juga ada yang tinggal di tepi pantai. Peserta didik

    60 menit

    diminta guru untuk menunjukkan buktinya. Dalam

    7

       

    perkembangannya ada yang tinggal di gua-gua. Fase ini merupakan masa transisi sebelum mereka bertempat tinggal tetap. Dijelaskan pula kaitan antara pola hunian dengan mata pencaharian manusia praaksara.

     
     

    2

    Peserta didik diminta secara individual untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan soal uji kompetensi yang terdapat pada buku teks pelajaran Sejarah Indonesia kelas X halaman 37.

    3

    Peserta didik boleh bekerjasama dengan teman-teman sekelompoknya

    Penutup

     

    Peserta didik diberi ulasan singkat tentang kegiatan

    20 Menit

    pembelajaran dan hasil belajarnya. Peserta didik dapat ditanya apakah sudah memahami

    materi tersebut. Sebagai refleksi guru memberikan kesimpulan tentang

    pelajaran yang baru saja berlangsung serta menanyakan kepada peserta didik apa manfaat yang dapat kita peroleh setelah belajar topik ini. Peserta didik mengumpulkan hasil pekerjaannya

    Mengucapkan salam

    Pertemuan ke 9

     

    KEGIATAN

     

    DESKRIPSI

    ALOKASI

     

    WAKTU

    Pendahuluan

    Guru memberikan salam

    10 menit

    Guru mempersilahkan Ketua Kelas untuk menyiapkan teman-temannya dan memimpin do’a bersama sebelum memulai pembelajaran.

    Guru mengecek kehadiran siswa

    Guru memotivasi siswa dengan mengajak siswa menyanyikan lagu perjuangan

    Guru bertanya terkait dengan materi pada pertemuan sebelumnya.

    Guru menegaskan tentang topik dan menyampaikan kompetensi yang akan dicapai.

    Peserta didik kembali ke kelompoknya masing-masing

    Inti

    1

    Peserta didik mengamati gambar ilustrasi komunitas

    60 menit

     

    manusia purba yang sedang berada di dekat api sambil

    8

       

    membakar binatang buruannya. Jadi mereka mulai mengenal api.

     
    • 2 Peserta didik membaca teks tentang “Mengenal Api” yang tersedia pada buku Sejarah Indonesia kelas X halaman 38.

    • 3 Peserta didik ditugaskan untuk bekerja di kelompok masing-masing. Kelompok I, II, dan III diminta untuk mendiskusikan dan merumuskan tentang proses penemuan api bagi manusia zaman praaksara. Kelompok IV, V dan VI diminta untuk mendiskusikan dan merumuskan tentang manfaat api bagi manusia zaman praaksara. (waktu untuk diskusi 30 menit )

    • 4 Kelompok II diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi tentang proses penemuan api. Kelompok lain boleh mengajukan pertanyaan dan komentar. Kemudian kelompok V ditunjuk untuk mempresentasikan hasil diskusinya tentang manfaat api bagi manusia zaman praaksara. Kelompok lain boleh mengajukan pertanyaan dan komentar.

    Penutup

     

    Peserta didik diberi uraian singkat tentang materi yang

    20 Menit

    baru saja didiskusikan. Evaluasi untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran dengan memberikan pertanyaan- pertanyaan secara acak kepada peserta didik. Peserta didik melakukan refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran dengan cara ditanya tentang nilai-nilai apa saja yang didapat dari pelajaran hari ini

    Mengucapkan salam

     

    Pertemuan ke 10

    KEGIATAN

     

    DESKRIPSI

    ALOKASI

     

    WAKTU

    Pendahuluan

    Guru memberikan salam

    10 menit

    Guru mempersilahkan Ketua Kelas untuk menyiapkan teman-temannya dan memimpin do’a bersama sebelum memulai pembelajaran.

    9

     

    Guru mengecek kehadiran siswa.

     

    Guru bertanya terkait dengan materi pada pertemuan sebelumnya.

    Guru menegaskan tentang topik tentang “Pola Kehidupan Manusia Zaman Praaksara” dan “Sistem Kepercayaan”

    Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai, serta menekankan pelajaran ini lebih pada pemaknaan dan penerapan, bukan hafalan.

    Peserta didik kembali ke kelompoknya masing-masing

    Inti

     

    1

    Peserta didik mengamati gambar ilustrasi kehidupan masyarakat praaksara

    60 menit

    2

    Peserta didik membaca teks tentang pola hidup meramu dan mengumpulkan makanan serta pola becocok tanam pada buku Sejarah Indonesia kelas X halaman 39

    3

    Peserta didik ditugaskan untuk berdiskusi di dalam kelompoknya masing-masing. Dengan tugasnya sbb. :

     

    9.

    Kelompok I dan II mendiskusikan tentang pola kehidupan nomaden dengan kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan.

    • 10. Kelompok III dan IV mendiskusikan dan merumuskan tentang pola kehidupan bertempat tinggal tetap dengan kegiatan bercocok tanam (bisa ditambah berdagang).

    • 11. Kelompok V dan VI mendiskusikan dan merumuskan materi tentang sistem kepercayaan masyarakat praaksara.

    • 12. Waktu untuk diskusi 15 menit

     

    4

    Peserta didik ditunjuk secara acak untuk mempresentasikan hasil kajiannya. Misalnya kelompok II presentasi tentang pola kehidupan nomaden dengan kegiatan meramu dan mengumpulkan makanan, kelompok III mempresentasikan tentang kehidupan bertempat tinggal menetap dengan aktivitas bercocok tanam. Kelompok V mempresentasikan tentang sistem kepercayaan masyarakat praaksara. Sedangkan kelompok lain dipersilahkan untuk menanggapi dan memberikan komentar.

    Penutup

    Peserta didik diberi ulasan singkat tentang materi yang

    20 Menit

    10

     

    saja didiskusikan. Peserta didik ditanya apakah sudah memahami materi tersebut. Evaluasi untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran dengan memberikan pertanyaan- pertanyaan secara acak kepada peserta didik. Peserta didik melakukan refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran dengan cara ditanya tentang nilai-nilai apa saja yang didapat dari pelajaran hari ini

     

    Mengucapkan salam

    • H. Penilaian Hasil Belajar

      • 1. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) = 2.66 (B-)

      • 2. Jenis Tes :

    • a) Tes lisan

    • b) Tes tertulis

    -

    Uraian (terlampir)

    c)

    Non Tes

    • - Lembar pengamatan kerja kelompok (terlampir)

    • - Lembar pengamatan presentasi (terlampir).

    Kepala Sekolah SMK Bina Putera Nusantara

    Tasikmalaya , Guru Mata Pelajaran Sejarah

    Pian S Nurochman Si., Apt

    LAMPIRAN-LAMPIRAN

    Dedi Saripgani S.Hum

    • A. Gambar ilustrasi benda-benda hasil kebudayaan zaman praaksara

    11

    Cobek, peralatan dari batu yang masih digunakan sampai sekarang 1. Kebudayaan Batu Tua (Palaeolithikum) Kapak Perimbas

    Cobek, peralatan dari batu yang masih digunakan sampai sekarang

    • 1. Kebudayaan Batu Tua (Palaeolithikum)

    Kapak Perimbas

    Kapak ini terbuat dari batu, tidak memiliki tangkai, digunakan dengan cara menggengam. Dipakai untuk menguliti binatang, memotong kayu, dan memecahkan tulang binatang buruan. Kapak perimbas banyak ditemukan di daerah-daerah di Indonesia, termasuk dalam Kebudayaan Pacitan. Kapak perimbas dan kapak genggam dibuat dan digunakan oleh jenis manusia purba Pithecantropus.

    Cobek, peralatan dari batu yang masih digunakan sampai sekarang 1. Kebudayaan Batu Tua (Palaeolithikum) Kapak Perimbas

    Kapak Perimbas (Sumber: Encarta Encyclopedia)

    Kapak Genggam

    12

    Kapak genggam memiliki bentuk hampir sama dengan jenis kapak penetak dan perimbas, namun bentuknya jauh lebih

    Kapak genggam memiliki bentuk hampir sama dengan jenis kapak penetak dan perimbas, namun bentuknya jauh lebih kecil. Fungsinya untuk membelah kayu, menggali umbi-umbian, memotong daging hewan buruan, dan keperluan lainnya. Pada tahun 1935, peneliti Ralph von Koenigswald berhasil menemukan sejumlah kapak genggam di Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Karena ditemukan di Pacitan maka disebut Kebudayaan Pacitan

    Alat-alat Serpih (Flakes)

    Kapak genggam memiliki bentuk hampir sama dengan jenis kapak penetak dan perimbas, namun bentuknya jauh lebih

    Alat-alat serpih (Sumber: Encarta Encyclopedia) Alat-alat serpih terbuat dari pecahan-pecahan batu kecil, digunakan sebagai alat penusuk, pemotong daging, dan pisau. Alatalat serpih banyak ditemukan di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, masih termasuk Kebudayaan Ngandong.

    13

    Perkakas dari Tulang dan Tanduk

    Perkakas dari Tulang dan Tanduk Perkakas tulang dan tanduk hewan banyak ditemukan di daerah Ngandong, dekat

    Perkakas tulang dan tanduk hewan banyak ditemukan di daerah Ngandong, dekat Ngawi, Jawa Timur. Alat-alat itu berfungsi sebagai alat penusuk, pengorek, dan mata tombak. Oleh peneliti arkeologis perkakas dari tulang disebut sebagai Kebudayaan Ngandong. Alat-alat serpih dan alat-alat dari tulang dan tanduk ini dibuat dan digunakan oleh jenis manusia purba Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.

    2. Kebudayaan Batu Madya (Mesolithikum)

    Perkakas dari Tulang dan Tanduk Perkakas tulang dan tanduk hewan banyak ditemukan di daerah Ngandong, dekat

    Kapak Sumatera (Sumber: Indonesian Heritage)

    Kapak Sumatra (Pebble)

    Bentuk kapak ini bulat, terbuat dari batu kali yang dibelah dua. Kapak genggam jenis ini banyak ditemukan di Sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera, antara Langsa (Aceh) dan Medan.

    . Kapak Pendek (Hache courte)

    14

    Kapak Pendek sejenis kapak genggam bentuknya setengah lingkaran. Kapak ini ditemukan di sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera.

    Kjokkenmoddinger

    Kapak Pendek sejenis kapak genggam bentuknya setengah lingkaran. Kapak ini ditemukan di sepanjang Pantai Timur Pulau

    Kjokkenmoddinger berasal dari bahasa Denmark, Kjokken berarti dapur dan modding artinya sampah. Jadi, kjokkenmoddinger adalah sampah dapur berupa kulit-kulit siput dan kerang yang telah bertumpuk selama beribu-ribu tahun sehingga membentuk sebuah bukit kecil yang beberapa meter tingginya. Fosil dapur sampah ini banyak ditemukan di sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera.

    Abris sous roche

    Abris sous roche adalah gua-gua batu karang atau ceruk yang digunakan sebagai tempat tinggal manusia purba. Berfungsi sebagai tempat tinggal.

    15

    Lukisan di Dinding Gua Abris sous roche. Lukisan di dinding gua terdapat di dalam abris sous
    Lukisan di Dinding Gua Abris sous roche. Lukisan di dinding gua terdapat di dalam abris sous

    Lukisan di Dinding Gua

    Abris sous roche.

    Lukisan di dinding gua terdapat di dalam abris sous roche. Lukisan menggambarkan hewan buruan dan cap tangan berwarna merah. Lukisan di dinding gua ditemukan di Leang leang, Sulawesi Selatan, di Gua Raha, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, di Danau Sentani, Papua.

    16

    Lukisan di Dinding Gua (Sumber: Album Peninggalan Sejarah dan Purbakala) 17
    Lukisan di Dinding Gua (Sumber: Album Peninggalan Sejarah dan Purbakala) 17
    Lukisan di Dinding Gua (Sumber: Album Peninggalan Sejarah dan Purbakala) 17

    Lukisan di Dinding Gua (Sumber: Album Peninggalan Sejarah dan Purbakala)

    17

    3.

    Kebudayaan Batu Muda (Neolithikum)

    Hasil kebudayaan zaman batu muda menunjukkan bahwa manusia purba sudah mengalami banyak kemajuan dalam menghasilkan alat-alat. Ada sentuhan tangan manusia, bahan masih tetap dari batu. Namun sudah lebih halus, diasah, ada sentuhan rasa seni. Fungsi alat yang dibuat jelas untuk pengggunaannya. Hasil budaya zaman neolithikum, antara lain.

    Kapak Persegi

    Kapak persegi dibuat dari batu persegi. Kapak ini dipergunakan untuk mengerjakan kayu, menggarap tanah, dan melaksanakan upacara. Di Indonesia, kapak persegi atau juga disebut beliung persegi banyak ditemukan di Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi, dan Nusatenggara.

    3. Kebudayaan Batu Muda (Neolithikum) Hasil kebudayaan zaman batu muda menunjukkan bahwa manusia purba sudah mengalami

    Kapak Lonjong

    Kapak persegi

    Kapak ini disebut kapak lonjong karena penampangnya berbentuk lonjong. Ukurannya ada yang besar ada yan g kecil. Alat digunakan sebagai cangkul untuk menggarap tanah dan memotong kayu atau pohon. Jenis kapak lonjong ditemukan di Maluku, Papua, dan Sulawesi Utara.

    3. Kebudayaan Batu Muda (Neolithikum) Hasil kebudayaan zaman batu muda menunjukkan bahwa manusia purba sudah mengalami

    18

    Mata Panah

    Kapak Lonjong

    Mata panah terbuat dari batu yang diasah secara halus. Gunanya untuk berburu. Penemuan mata panah terbanyak di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

    Mata Panah Kapak Lonjong Mata panah terbuat dari batu yang diasah secara halus. Gunanya untuk berburu.

    Gerabah

    Mata Panah

    Gerabah dibuat dari tanah liat. Fungsinya untuk berbagai keperluan.

    Mata Panah Kapak Lonjong Mata panah terbuat dari batu yang diasah secara halus. Gunanya untuk berburu.

    Gerabah

    (Sumber: IPS

    Sejarah)

    19

    Perhiasan

    Masyarakat pra-aksara telah mengenal perhiasan, diantaranya berupa gelang, kalung, dan anting-anting. Perhiasan banyak ditemukan di Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

    Alat Pemukul Kulit Kayu

    Alat pemukul kulit kayu digunakan untuk memukul kulit kayu yang akan digunakan sebagai bahan pakaian. Adanya alat ini, membuktikan bahwa pada zaman neolithikum manusia pra- aksara sudah mengenal pakaian.

    4. Kebudayaan Batu Besar (Megalithikum)

    Istilah megalithikum berasal dari bahasa Yunani, mega berarti besar dan lithos artinya batu. Jadi, megalithikum artinya batubatu besar. Manusia pra-aksara menggunakan batu berukuran besar untuk membuat bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada roh-roh nenek moyang. Bangunan didirikan untuk kepentingan penghormatan dan pemujaan, dengan demikian bangunan megalithikum berkaitan erat dengan kepercayaan yang dianut masyarakat pra-aksara pada saat itu. Bangunan megalithikum tersebar di seluruh Indonesia. Berikut beberapa bangunan megalithikum.

    Menhir

    Menhir adalah sebuah tugu dari batu tunggal yang didirikan untuk upacara penghormatan roh nenek moyang. Menhir ditemukan di Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.

    Perhiasan Masyarakat pra-aksara telah mengenal perhiasan, diantaranya berupa gelang, kalung, dan anting-anting. Perhiasan banyak ditemukan di

    Menhir

    20

    Sarkofagus

    Sarkofagus adalah peti mayat yang terbuat dari dua batu yang ditangkupkan. Peninggalan ini banyak ditemukan di Bali.

    Sarkofagus Sarkofagus adalah peti mayat yang terbuat dari dua batu yang ditangkupkan. Peninggalan ini banyak ditemukan

    Dolmen

    Sarkofagus

    Dolmen adalah meja batu tempat menaruh sesaji, tempat penghormatan kepada roh nenek moyang, dan tempat meletakan jenazah. Daerah penemuannya adalah Bondowoso, Jawa Timur.

    Sarkofagus Sarkofagus adalah peti mayat yang terbuat dari dua batu yang ditangkupkan. Peninggalan ini banyak ditemukan

    Dolmen

    21

    Peti Kubur Batu

    Peti Kubur Batu adalah lempengan batu besar yang disusun membentuk peti jenazah. Peti kubur batu ditemukan di daerah Kuningan, Jawa Barat.

    Peti Kubur Batu Peti Kubur Batu adalah lempengan batu besar yang disusun membentuk peti jenazah. Peti

    Waruga

    Waruga adalah peti kubur batu berukuruan kecil berbentuk kubus atau bulat yang dibuat dari batu utuh. Waruga banyak ditemukan di daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.

    Peti Kubur Batu Peti Kubur Batu adalah lempengan batu besar yang disusun membentuk peti jenazah. Peti

    Arca

    Arca adalah patung terbuat dari batu utuh, ada yang menyerupai manusia, kepala manusia, dan hewan. Arca banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

    22

    Punden Berundak

    Punden berundak-undak merupakan tempat pemujaan. Bangunan ini dibuat dengan menyusun batu secara bertingkat, menyerupai candi. Punden berundak ditemukan di daerah Lebak Sibeduk, Banten Selatan.

    Punden Berundak Punden berundak-undak merupakan tempat pemujaan. Bangunan ini dibuat dengan menyusun batu secara bertingkat, menyerupai

    Punden berundak (Sumber: Kompasiana)

    KEBUDAYAAN PERUNGGU

    KAPAK CORONG

    Punden Berundak Punden berundak-undak merupakan tempat pemujaan. Bangunan ini dibuat dengan menyusun batu secara bertingkat, menyerupai

    23

    KAPAK PERUNGGU

    KAPAK PERUNGGU Masyarakat Nusantara mengenal logam skitar 3000-200 SM, bertepatan dengan zaman perundagian. Pada zaman itu

    Masyarakat Nusantara mengenal logam skitar 3000-200 SM, bertepatan dengan zaman perundagian. Pada zaman itu masyarakat nusantara membuat kapak yang terbuat dari perungu, atau yang lebih dikenal dengan Kapak Perunggu. Kapak perunggu memiliki macam- macam bentuk dan ukuran. Dilihat dari penggunaannya, maka kapak perunggu dapat berfungsi dua macam yaitu:

    Sebagai alat upacara atau benda pusaka

    Sebagai perkakas atau alat untuk bekerja

    NEKARA

    24

    Nekara adalah gendang besar terbuat dr perunggu berhiaskan ukiran orang menari (perahu, topeng, dsb), peninggalan dr
    Nekara adalah gendang besar terbuat dr perunggu berhiaskan ukiran orang menari (perahu, topeng, dsb), peninggalan dr

    Nekara adalah gendang besar terbuat dr perunggu berhiaskan ukiran orang menari (perahu, topeng, dsb), peninggalan dr Zaman Perunggu, dipergunakan dl upacara keagamaan; kobah; nobat

    Nekara adalah suatu benda yang merupakan tinggalan arkeologis dari zaman logam (bronze age). Nekara memiliki Bentuk seperti dandang yang terbalik dan terbuat dari perunggu. Pada umumnya nekara perunggu tersusun dari tiga bagian, yaitu bagian atas yang terdiri bidang pukul yang datar (tympanum) dan bagian bahu yang dilengkapi dengan pegangan, bagian tengah atau badan yang berbentuk silinder, serta bagian bawah atau bagian kaki yang melebar (Poesponegoro; Notosusanto, 1993: 246).

    CANDRASA

    25

    CANDRASA adalah sejenis kapak upacara. Mempunyai mata kapak melebar ke samping. Kedua ujungnya melengkung ke dalam.
    CANDRASA adalah sejenis kapak upacara. Mempunyai mata kapak melebar ke samping. Kedua ujungnya melengkung ke dalam.

    CANDRASA adalah sejenis kapak upacara. Mempunyai mata kapak melebar ke samping. Kedua ujungnya melengkung ke dalam.

    Pada gagang terdapat motif geometris dikombinasikan dengan motif lengkung kecil. Motif hias seperti ini umum dijumpai pada kapak-kapak perunggu dari masa prasejarah. Candrasa digunakan sebagai perlengkapan upacara.

    • B. Ringkasan Materi Ajar Pertemuan ke 5

    Antara Batu dan Tulang

    Peralatan pertama yang digunakan oleh manusia purba adalah alat-alat dari batu yang seadanya dan juga dari tulang. Peralatan ini berkembang pada zaman paleolitikum atau zaman batu tua. Zaman batu tua ini bertepatan dengan zaman neozoikum terutama pada akhir zaman Tersier dan awal zaman Quartair. Zaman ini berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Zaman ini merupakan zaman yang sangat penting karena terkait dengan munculnya kehidupan baru, yakni munculnya jenis manusia purba. Zaman ini dikatakan zaman batu tua karena hasil kebudayaan terbuat dari batu yang relatif masih sederhana dan kasar. Kebudayaan zaman Paleolitikum ini secara umum ini terbagi menjadi Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.

    a.

    Kebudayaan Pacitan

    Kebudayaan ini berkembang di daerah Pacitan, Jawa Timur. Beberapa alat dari batu ditemukan di daerah ini. Seorang ahli, von Koenigwald dalam penelitiannya pada tahun 1935 telah menemukan beberapa hasil teknologi bebatuan atau alat-alat dari batu di daerah Punung. Alat batu itu masih kasar, dan bentuk ujungnya agak runcing, tergantung kegunaannya. Alat batu ini sering disebut dengan kapak genggam atau kapak perimbas. Kapak ini digunakan untuk

    menusuk binatang atau menggali tanah saat mencari umbi-umbian. Di samping kapak perimbas, di Pacitan juga ditemukan alat batu yang disebut dengan chopper sebagai alat penetak. Di Pacitan juga ditemukan alat-alat serpih.

    b. Kebudayaan Ngandong

    26

    Kebudayaan Ngandong berkembang di daerah Ngandong dan juga Sidorejo, dekat Ngawi. Di daerah ini banyak ditemukan alat-alat dari batu dan juga alat-alat dari tulang. Alat-alat dari tulang ini berasal dari tulang binatang dan tanduk rusa yang diperkirakan digunakan sebagai penusuk atau belati. Selain itu, ditemukan juga alat-alat seperti tombak yang bergerigi. Di Sangiran juga ditemukan alat-alat dari batu, bentuknya indah seperti kalsedon. Alat-alat ini sering disebut dengan flakke. Sebaran artefak dan peralatan paleolitik cukup luas sejak dari daerah-daerah di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Halmahera.

    Antara Pantai dan Gua

    Zaman batu terus berkembang memasuki zaman batu madya atau batu tengah yang dikenal zaman mesolitikum. Hasil kebudayaan batu madya ini sudah lebih maju apabila dibandingkan hasil kebudayaan zaman paleolitikum. Sekalipun demikian bentuk dan hasil-hasil kebudayaan zaman paleolitikum (batu tua) tidakserta merta punah tetapi mengalami penyempurnaan. Bentuk flakke dan alat-alat dari tulang terus mengalami perkembangan. Secara garis besar kebudayaan mesolitikum ini terbagi menjadi dua kelompok besar yang ditandai lingkungan tempat tinggal, yakni di pantai dan di gua.

    Kebudayaan Kjokkenmoddinger.

    Kjokkenmoddinger istilah dari bahasa Denmark, kjokken berarti dapur dan moddin dapat diartikan sampah (kjokkenmoddinger = sampah dapur). Dalam kaitannya dengan budaya manusia, kjokkenmoddinger merupakan tumpukan timbunan kulit siput dan kerang yang menggunung di sepanjang pantai Sumatra Timur antara Langsa di Aceh sampai Medan. Dengan kjokkenmoddinger ini dapat memberi informasi bahwa manusia purba zaman mesolitikum umumnya bertempat tinggal di tepi pantai. Pada tahun 1925 Von Stein Callenfals melakukan penelitian di bukit kerang itu dan menemukan jenis kapak genggam (chopper) yang berbeda dari chopper yang ada di zaman paleolitikum. Kapak genggam yang ditemukan di bukit kerang di pantai Sumatra Timur ini diberi nama pebble atau lebih dikenal dengan Kapak Sumatra. Kapak jenis pebble ini terbuat dari batu kali yang pecah, sisi luarnya dibiarkan begitu saja dan sisi bagian dalam dikerjakan sesuai dengan keperluannya. Di samping kapak jenis pebble juga ditemukan jenis kapak pendek dan jenis batu pipisan (batu- batu alat penggiling). Di Jawa batu pipisan ini umumnya untuk menumbuk dan menghaluskan jamu.

    Kebudayaan Abris Sous Roche

    Kebudayaan abris sous roche merupakan hasil kebudayaan yang ditemukan di gua-gua. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia purba pendukung kebudayaan ini tinggal di gua-gua. Kebudayaan ini pertama kali dilakukan penelitian oleh Von Stein Callenfels di Gua Lawa dekat Sampung, Ponorogo. Penelitian dilakukan tahun 1928 sampai 1931. Beberapa hasil teknologi bebatuan yang ditemukan misalnya ujung panah, flakke, batu penggilingan. Juga ditemukan alatalat dari tulang dan tanduk rusa. Kebudayaan abris sous roche ini banyak ditemukan misalnya di Besuki, Bojonegoro, juga di daerah Sulawesi Selatan seperti di Lamoncong

    Pertemuan ke 6

    Sebuah Revolusi Perkembangan zaman batu yang dapat dikatakan paling penting dalam kehidupan manusia adalah zaman batu baru atau neolitikum. Pada zaman neolitikum yang juga dapat dikatakan sebagai zaman batu muda. Pada zaman ini telah terjadi “revolusi kebudayaan”, yaitu terjadinya perubahan pola hidup manusia. Pola hidup food gathering digantikan dengan pola food producing. Hal ini seiring dengan terjadinya perubahan jenis pendukung

    27

    kebudayaanya. Pada zaman ini telah hidup jenis Homo sapiens sebagai pendukung kebudayaan zaman batu baru. Mereka mulai mengenal bercocok tanam dan beternak sebagai proses untuk menghasilkan atau memproduksi bahan makanan. Hidup bermasyarakat dengan bergotong royong mulai dikembangkan. Hasil kebudayaan yang terkenal di zaman neolitikum ini secara garis besar dibagi menjadi dua tahap perkembangan.

    • a. Kebudayaan kapak persegi

    Nama kapak persegi berasal dari penyebutan oleh von Heine Gelderen Penamaan ini dikaitkan dengan bentuk alat tersebut. Kapak persegi ini berbentuk persegi panjang dan ada juga yang berbentuk trapesium. Ukuran alat ini juga bermacam-macam. Kapak persegi yang besar sering disebut dengan beliung atau pacul (cangkul), bahkan sudah ada yang diberi tangkai sehingga persis seperti cangkul zaman sekarang. Sementara yang berukuran kecil dinamakan tarah atau atau tatah. Penyebaran alat-alat ini terutama di Kepulauan Indonesia bagian barat, seperti Sumatra, Jawa dan Bali. Diperkirakan sentrasentra teknologi kapak persegi ini ada di Lahat (Palembang), Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya (Jawa Barat), kemudian Pacitan-Madiun, dan di Lereng Gunung Ijen (Jawa Timur). Yang menarik, di Desa Pasirkuda dekat Bogor juga ditemukan batu asahan. Kapak persegi ini cocok sebagai alat pertanian.

    • b. Kebudayaan kapak lonjong

    Nama kapak lonjong ini disesuaikan dengan bentuk penampang alat ini yang berbentuk lonjong. Bentuk keseluruhan alat ini lonjong seperti bulat telur. Pada ujung yang lancip ditempatkan tangkai dan pada bagian ujung yang lain diasah sehingga tajam. Kapak yang ukuran besar sering disebut walzenbeil dan yang kecil dinamakan kleinbeil. Penyebaran jenis kapak lonjong ini terutama di Kepulauan Indonesia bagian timur, misalnya di daerah Papua, Seram, dan Minahasa. Pada zaman neolitikum, di samping berkembangnya jenis kapak batu juga ditemukan barang-barang perhiasan, seperti gelang dari batu, juga alat- alat gerabah atau tembikar. Perlu kamu ketahui bahwa manusia purba waktu itu sudah memiliki pengetahuan tentang kualitas bebatuan untuk peralatan. Penemuan dari berbagai situs menunjukkan bahan yang paling sering dipergunakan adalah jenis batuan kersikan (silicified stones), seperti gamping kersikan, tufa kersikan, kalsedon, dan jasper. Jenis-jenis batuan ini di samping keras, sifatnya yang retas dengan pecahan yang cenderung tajam dan tipis, sehingga memudahkan pengerjaan. Di beberapa situs yang mengandung fosil-fosil kayu, seperti di Kali Baksokan (Jawa Timur) dan Kali Ogan (Sumatra Selatan) tampak ada upaya pemanfaatan fosil untuk bahan peralatan. Pada saat lingkungan tidak menyediakan bahan yang baik, ada kecenderungan untuk memanfaatkan batuan yang tersedia di sekitar hunian, walaupun kualitasnya kurang baik. Contoh semacam ini dapat diamati pada situs Kedunggamping di sebelah timur Pacitan, Cibaganjing di Cilacap, dan Kali Kering di Sumba yang pada umumnya menggunakan bahan andesit untuk peralatan.

    • c. Perkembangan zaman logam

    Mengakhiri zaman batu di masa neolitikum mulailah zaman logam. Sebagai bentuk masa perundagian. Zaman logam di Kepulauan Indonesia ini agak berbeda bila dibandingkan dengan yang ada di Eropa. Di Eropa zaman logam ini mengalami tiga fase, zaman tembaga, perunggu dan besi. Di Kepulauan Indonesia hanya mengalami zaman perunggu dan besi. Zaman perunggu merupakan fase yang sangat penting dalam sejarah. Beberapa contoh benda- benda kebudayaan perunggu itu antara lain: kapak corong, nekara, moko, berbagai barang perhiasan. Beberapa benda hasil kebudayaan zaman logam ini juga terkait dengan praktik keagamaan, misalnya nekara.

    Pertemuan ke 7

    Dalam buku Indonesia Dalam Arus Sejarah, Jilid I diterangkan tentang pola hunian manusia purba yang memperlihatkan dua karakter khas hunian purba yaitu, (1) kedekatan dengan sumber air dan (2) kehidupan di alam terbuka. Pola hunian itu dapat dilihat dari letak

    28

    geografis situs-situs serta kondisi lingkungannya. Beberapa contoh yang menunjukkan pola hunian seperti itu adalah situs-situs purba di sepanjang aliran Bengawan Solo (Sangiran, Sambungmacan, Trinil, Ngawi, dan Ngandong) merupakan contohcontoh dari adanya kecenderungan manusia purba menghuni

    E.

    Pola Hunian

    lingkungan di pinggir sungai. Kondisi itu dapat dipahami mengingat keberadaan air memberikan beragam manfaat. Air merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Air juga diperlukan oleh tumbuhan maupun binatang. Keberadaan air pada suatu lingkungan mengundang hadirnya berbagai binatang untuk hidup di sekitarnya. Begitu pula dengan tumbuh-tumbuhan, air memberikan kesuburan bagi tanaman. Keberadaan air juga dimanfaatkan manusia sebagai sarana penghubung dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Melalui sungai, manusia dapat melakukan mobilitas dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Petunjuk yang dapat memberikan gambaran jelas pada kita tentang kehidupan manusia purba adalah sebaran sisa-sisa peralatan yang digunakan pada saat itu, yang umumnya berada di dasar atau di sekitar sungai. Kehidupan di sekitar sungai itu menunjukkan pola hidup manusia purba di alam terbuka. Manusia purba mempunyai kecenderungan untuk menghuni lingkungan terbuka di sekitar aliran sungai. Manusia purba juga memanfaatkan berbagai sumber daya lingkungan yang tersedia, termasuk tinggal di gua-gua. Mobilitas manusia purba yang tinggi tidak memungkinkan untuk menghuni gua secara menetap. Keberadaan gua-gua yang dekat dengan sumber air dan sumber bahan makanan mungkin saja dimanfaatkan sebagai tempat persinggahan sementara, sehingga tidak meninggalkan jejak pada kita. Kemungkinan lain bahwa guagua di kala itu belum atau baru sebagian terbentuk dan gua-gua yang sudah terbentuk tidak dalam lingkungan yang menyediakan berbagai sumberdaya yang diperlukan manusia. Yang menarik di alam terbuka itu ada juga manusia purba yang yang tinggal sekitar pantai. Ciri berikutnya ialah transisi permukiman nenek moyang dari nomaden ke tempat tinggal menetap. Manusia purba di Indonesia diperkirakan sudah hidup menjelajah (nomaden) untuk jangka waktu yang lama. Mereka mengumpulkan bahan makanan dalam lingkup wilayah tertentu dan berpindah-pindah. Mereka hidup dalam komunitas-komunitas kecil dengan mobilitas yang tinggi. Keterisolasian dalam hutan tropis dan ketiadaan kontak dengan dunia luar menutup kemungkinan untuk mengadopsi budaya luar. Lama hunian di suatu lingkungan eksploitasi dipengaruhi oleh ketersediaan bahan makanan. Manakala lingkungan sekitar sudah tidak menjanjikan bahan makanan, mereka berpindah ke lingkungan baru di tepian sungai untuk membuat persinggahan baru. Mulailah berkembang pola hunian bertempat tinggal sementara, misalnya di gua-gua. Inilah masa transisi sebelum manusia itu bertempat tinggal tetap.

    Pertemuan ke 8

    Mengenal Api

    Bagi manusia purba, proses penemuan api merupakan bentuk inovasi yang sangat penting. Berdasarkan data arkeologi, penemuan api kira-kira terjadi pada 400.000 tahun yang lalu. Penemuan pada periode manusia Homo erectus. Di samping untuk menghangatkan diri dari cuaca dingin, dengan api kehidupan menjadi lebih bervariasi dan berbagai kemajuan akan dicapai. Teknologi api dapat dimanfaatkan manusia untuk berbagai hal. Di samping itu penemuan api juga memperkenalkan manusia pada teknologi memasak makanan, yaitu memasak dengan cara membakar dan menggunakan bumbu dengan ramuan tertentu. Manusia juga menggunakan api sebagai senjata. Api pada saat itu digunakan manusia untuk menghalau binatang buas yang menyerangnya. Api dapat juga dijadikan sumber penerangan. Melalui pembakaran pula manusia dapat menaklukkan alam, seperti membuka lahan untuk garapan dengan cara membakar hutan. Kebiasaan bertani dengan menebang lalu bakar (slash and burn) adalah kebiasaan kuno yang tetap berkembang sampai sekarang. Pada awalnya pembuatan api dilakukan dengan cara membenturkan dan menggosokkan benda halus yang mudah terbakar dengan benda padat lain. Sebuah batu yang keras, misalnya batu api, jika dibenturkan ke batuan keras lainnya akan menghasilkan percikan api. Percikan tersebut

    29

    kemudian ditangkap dengan dedaunan kering, lumut atau material lain yang kering hingga menimbulkan api. Pembuatan api juga dapat dilakukan dengan menggosok suatu benda terhadap benda lainnya, baik secara berputar, berulang, atau bolak-balik. Sepotong kayu keras misalnya, jika digosokkan pada kayu lainnya akan menghasilkan panas karena gesekan itu kemudian menimbulkan api.

    Uji

    Pertemuan ke 9 Dari Berburu-Meramu sampai Bercocok Tanam

    Mencermati hasil penelitian baik yang berwujud fosil maupun artefak lainnya, diperkirakan manusia zaman praaksaraa mula-mula hidup dengan cara berburu dan meramu. Hidup mereka umumnya masih tergantung pada alam. Untuk mempertahankan hidupnya mereka menerapkan pola hidup nomaden atau berpindah-pindah tergantung dari bahan makanan yang tersedia. Alat-alat yang digunakan terbuat dari batu yang masih sederhana. Hal ini terutama berkembang pada manusia Meganthropus dan Pithecanthropus. Tempat-tempat yang dituju oleh komunitas itu umumnya lingkungan dekat sungai, danau, atau sumber air lainnya termasuk di daerah pantai. Mereka beristirahat misalnya di bawah pohon besar. Merekajuga membuat atap dan sekat tempat istirahat itu dari daun-daunan. Masa manusia purba berburu dan meramu itu sering disebut dengan masa food gathering. Mereka hanya mengumpulkan dan menyeleksi makanan karena belum dapat mengusahakan jenis tanaman untuk dijadikan bahan makanan. Dalam perkembangannya mulai ada sekelompok manusia purba yang bertempat tinggal sementara, misalnya di gua-gua, atau di tepi pantai. Coba kamu ingat sebelumnya, terdapat kebudayaan kjokkenmoddinger dan abris sous roche dan manusia purba mulai mengenal api. Peralihan Zaman Mesolitikum ke Neolitikum menandakan adanya revolusi kebudayaan dari food gathering menuju food producing dengan Homo sapien sebagai pendukungnya. Merekatidak hanya mengumpulkan makanan tetapi mencoba memproduksi makanan dengan menanam. Kegiatan bercocok tanam dilakukan ketika mereka sudah mulai bertempat tinggal, walaupun masih bersifat sementara. Mereka melihat biji-bijian sisa makanan yang tumbuh di tanah setelah tersiram air hujan. Pelajaran inilah yang kemudian mendorong manusia purba untuk melakukan bercocok tanam. Apa yang mereka lakukan di sekitar tempat tinggalnya, lama kelamaan tanah di sekelilingnya habis, dan mengharuskan pindah mencari tempat yang dapat ditanami. Ada yang membuka hutan dengan menebang pohon-pohon untuk membuka lahan bercocok tanam. Namun waktu itu juga sudah ada pembukaan lahan dengan cara membakar hutan. Bagaimana pendapat kamu tentang hal ini dan kira-kira apa bedanya dengan pembakaran hutan yang dilakukan oleh manusia modern sekarang ini? Kegiatan manusia bercocok tanam terus mengalami perkembangan. Peralatan pokoknya adalah jenis kapak persegi dan kapak lonjong. Kemudian berkembang ke alat lain yang lebih baik. Dengan dibukanya lahan dan tersedianya air yang cukup maka terjadilah persawahan untuk bertani. Hal ini berkembang karena saat itu, yakni sekitar tahun 2000 – 1500 S.M ketika mulai terjadi perpindahan orang-orang dari rumpun bangsa Austronesia dari Yunnan ke Kepulauan Indonesia. Begitu juga kegiatan beternakjuga mengalami perkembangan. Seiring kedatangan orang-orang dari Yunnan yang kemudian dikenal sebagai nenek moyang kita itu, maka kegiatan pelayaran dan perdagangan mulai dikenal. Dalam waktu singkat kegiatan perdagangan dengan sistem barter mulai berkembang. Kegiatan bertani juga semakin berkembang karena mereka sudah mulai bertempat tinggal menetap.

    H.

    Sistem Kepercayaan

    Sebagai manusia yang beragama tentu kamu sering mendengarkan ceramah dari guru maupun tokoh agama. Dalam ceramah-ceramah tersebut sering dikatakan bahwa hidup adalah hanya sebentar sehingga tidak boleh berbuat menentang ajaran agama, misalnya tidak boleh menyakiti orang lain, tidak boleh rakus, bahkan melakukan tindak korupsi yang merugikan negara dan orang lain. Karena itu dalam hidup ini manusia

    30

    harus bekerja keras dan berbuat sebaik mungkin, saling tolong menolong. Kita semua mestinya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa bila berbuat dosa karena melanggar perintah agama, atau menyakiti orang lain. Nenek moyang kita mengenal kepercayaan kehidupan setelah mati. Mereka percaya pada kekuatan lain yang maha kuat di luar dirinya. Mereka selalu menjaga diri agar setelah mati tetap dihormati. Berikut ini kita akan menelaah bagaimana sistem kepercayaan manusia zaman praaksara, yang menjadi nenek moyang kita. Perwujudan kepercayaannya dituangkan dalam berbagai bentuk diantaranya karya seni. Satu di antaranya berfungsi sebagai bekal untuk orang yang meninggal. Tentu kamu masih ingat tentang perhiasan yang digunakan sebagai bekal kubur. Seiring dengan bekal kubur ini, maka pada zaman purba manusia mengenal penguburan mayat. Pada saat inilah manusia mengenal sistem kepercayaan. Sebelum meninggal manusia menyiapkan dirinya dengan membuat berbagai bekal kubur, dan juga tempat penguburan yang menghasilkan karya seni cukup bagus pada masa sekarang. Untuk itulah kita mengenal dolmen, sarkofagus, menhir dan lain sebagainya.

    • C. Soal-soal untuk evaluasi Pertemuan ke 5 Soal uraian :

      • 1. Apa makna palaeolitikum ?

      • 2. Hasil kebudayaan zaman praaksara bersifat trial and error. Apa maksudnya ?

      • 3. Sebutkan jenis peralatan dari batu yang ditemukan dalam kebudayaan Pacitan !

      • 4. Jelaskan tentang kebudayaan kjokenmoddinger!

      • 5. Jelaskan tentang kebudayaan Abris Sous Roche !

    Kunci Jawaban :

    • 1. Jaman Palaeolitikum artinya jaman batu tua, dimana manusia praaksara saat itu menggunakan peralatan dari batu dalam bentuk yang masih kasar.

    • 2. Hasil kebudayaan zaman praaksara bersifat trial and eror artinya dibuat sesuai kebutuhan saat itu yang kemudian jika selanjutnya membutuhkan lagi model yang lainnya, maka akan dibuat lagi yang sesuai dengan kebutuhannya, sehingga terus menerus mengalami perubahan dan perbaikan, makanya dari jaman palaeolitikum yang menggunakan batu- batu dalam keadaan masih kasar, hingga akhirnya menjadi lebih baik lagi dan lebih halus setelah memasuki zaman neolitikum.

    • 3. Kapak genggam, kapak perimbas, chopper dan alat serpih

    • 4. Kjokkenmoddinger adalah tumpukan timbunan kulit siput dan kerang yang menggunung di sepanjang pantai Sumatera Timur. Kjokkenmoddinger merupakan peninggalan dari manusia purba zaman mesolitikum yang di dalamnya ditemukan kapak sumatera yang disebut pebble dan pipisan.

    • 5. Kebudayaan Abis Sous Roche adalah kebudayaan yang ditemukan di gua-gua. Dari hasil penelitian ditemukan beberapa hasil teknologi bebatuan yang ditemukan seperti ujung

    31

    panah, flakke, batu penggilingan. Ditemukan juga alat-alat dari tulang dan tanduk rusa. Kebudayaan Abis Sous Roche banyak ditemukan di Besuki, Bojonegoro dan Sulawesi Selatan.

    Pertemuan ke 6

    Soal uraian :

    • 1. Pada zaman neolitikum telah terjadi “revolusi kebudayaan”, jelaskan !

    • 2. Jelaskan kegunaan kapak persegi dan kapak lonjong berkaitan dengan pola hunian manusia purba yang sudah menetap !

    • 3. Jelaskan tentang persebaran kapak persegi dan kapak lonjong pada jaman neolitikum ! Kunci jawaban :

      • 1. Revolusi kebudayaan pada zaman neolitikum yaitu terjadinya perubahan pola hidup manusia dari pola hidup food gathering berubah menjadi food producing.

      • 2. Kegunaan kapak persegi dan kapak lonjong adalah sebagai alat untuk melakukan bercocok tanam yang berfungsi seperti cangkul.

      • 3. Persebaran kapak persegi adalah di Indonesia bagian Barat, seperti Sumatera, Jawa dan Bali. Sedangkan persebaran kapak lonjong berada di Indonesia bagian Timur seperti di Papua, Seram dan Minahasa. Pertemuan ke 7 Soal uraian

    1.Mengapa manusia purba banyak yang tinggal di tepi sungai ?

    • 2. Jelaskan pola kehidupan nomaden manusia purba !

    • 3. Manusia purba juga memasuki fase bertempat tinggal sementara misalnya di gua. Mengapa

    demikian ?

    • 4. Apa kira-kira alasan bagi manusia purba memilih tinggal di tepi pantai ?

    Kunci Jawaban

    1. Kedekatan dengan sumber air, karena air memberikan berbagai manfaat. Air merupakan kebutuhan pokok manusia, tumbuhan dan binatang. Keberadaan air di suatu tempat juga dapat menghadirkan berbagai binatang dan tumbuhan untuk hidup di sekitarnya. Dan binatang tersebut bisa menjadi buruan manusia purba. Demikian juga di dalam sungai itu sendiri terdapat ikan yang dapat menjadi makanan manusia purba.

    32

    2.

    Pola hidup nomaden yaitu hidup menjelajah, berpindah-pindah, dengan pola kehidupannya mengumpulkan bahan makanan dalam lingkup wilayah tertentu. Mereka hidup dalam komunitas-komunitas kecil dengan mobilitas yang tinggi.

    • 3. Ketika lingkungan tempat mereka mencari makan sudah tidak lagi menjanjikan bahan makanan, maka mereka akan berpindah ke lingkungan yang barudi tepian sungai untuk membuat persinggahan baru. Mulailah berkembang pola hunian bertempat tinggal sementara, misalnya di gua-gua.

    • 4. Karena di pantai banyak ditemukan ceruk-ceruk atau gua-gua yang dapat dijadikan sebagai tempat berlindung, baik dari cuaca ataupun dari binatang buas. Selain itu di pantai juga tersedia banyak bahan makanan seperti ikan atau binatang lainnya.

    Pertemuan ke 8

    Soal uraian :

    1.

    Jelaskan, bagaimanakah manusia purba dulu membuat api !

    2.

    Sebutkan manfaat api bagi manusia purba, maupun manusia zaman sekarang !

    3.

    Pada masa praaksara, api dapat digunakan sebagai alat pertahanan. Jelaskan maksud pernyataan tersebut !

    Kunci jawaban :

    • 1. Pada awalnya membuat api dilakukan dengan cara membentur dan menggosokkan benda yang keras misalnya batu yang dibenturkan kepada batu maka akan menghasilkan percikan api, dan percikan api tersebut ditangkap dengan dedauanan yang sudah kering, lumut, atau material lainnya yang sudah kering, hingga menimbulkan api.

    • 2. Bagi manusia purba, api dapat bermanfaat untuk menghangatkan tubuh, mengusir binatang buas, membakar bahan makanan, untuk membakar hutan dan membuat lahan pertanian, juga digunakan untuk penerangan. Sedangkan untuk manusia di zaman sekarang manfaat api lebih banyak lagi, misalnya untuk memasak, keperluan produksi, dsb.

    • 3. Artinya api dapat digunakan untuk mempertahankan diri dari dinginnya cuaca ataupun dari serangan binatang buas.

     

    Pertemuan ke 9

    Soal uraian :

    1.

    Pembukaan lahan yang dilakukan oleh nenek moyang kita dengan penebangan pohon sebenarnya termasuk kearifan lokal yang perlu dijadikan pelajaran. Bagaimana pendapat

    33

    dan sikap kamu tentang pernyataan tersebut ? bagaimana pula pendapat kamu tentang aktivitas pembukaan lahan dengan membakar hutan seperti yang dilakukan sekarang- sekarang ini ?

    • 2. Jelaskan secara singkat bagaimanakah perkembangan kepercayaan masa praaksara di Indonesia ?

    • 3. Bagaimanakah kaitan antara tradisi megalitik dengan kepercayaan animisme ! Kunci jawaban :

    • 1. Penebangan harus dibarengi dengan penanaman pohon pengganti. Dewasa ini penebangan pohon-pohon di hutan banyak dilakukan secara liar dan tidak teratur, sehingga membahayakan kelestarian hutan itu sendiri, dan mengancam kepunahannya. Hal tersebut dapat membahayakan kehidupan manusia di muka bumi ini, diantaranya terjadi pemanasan global.

    • 2. Masyarakat praaksara terutama pada periode zaman neolitikum sudah mengenal sistem kepercayaan. Mereka sudah memahami adanya kehidupan setelah mati. Mereka meyakini bahwa roh seseorang yang telah meninggal akan ada kehidupan di waktu lain. Oleh karena itu roh orang yang sudah meninggal akan senantiasa dihormatti oleh sanak keluarganya.

    • 3. Tradisi megalitik yang menghasilkan benda-benda dalam ukuran besar yang berfungsi sebagai tempat-tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang. Atau benda-benda megalitik itu berfungsi juga sebagai alat-alat untuk melakukan pemujaan dalam kepercayaan animisme.

    Petunjuk Penilaian :

    Pertemuan ke

    No.

    Skor

     

    Keterangan

     

    soa

    maksimal

     

    l

     

    5

    1

    20

    Nilai

    =

    skor

    yg diperoleh

    /

    skor

     

    2

    20

    maksimal

     
     

    3

    20

     

    4

    20

     

    5

    20

    Jumlah skor maksimal

    100

    6

    1

    40

     

    2

    30

    Nilai

    =

    skor

    yg diperoleh

    /

    skor

     

    maksimal

     
     

    3

    30

    34

    Jumlah skor maksimal

    100

    • 7 25

    1

     
     

    2

    25

    Nilai

    =

    skor

    yg diperoleh

    /

    skor

     

    maksimal

     
     

    3

    25

     

    4

    25

    Jumlah skor maksimal

    100

    • 8 35

    1

     
     

    2

    35

    Nilai

    =

    skor

    yg diperoleh

    /

    skor

     

    maksimal

     
     

    3

    30

    Jumlah skor maksimal

    100

    • 9 40

    1

     
     

    2

    30

    Nilai

    =

    skor

    yg diperoleh

    /

    skor

     

    maksimal

     
     

    3

    30

    Jumlah skor maksimal

    100

    Penilaian Proses Lembar Pengamatan untuk penilaian sikap sosial dalam kegiatan diskusi

    Rubrik kegiatan Diskusi

    A s p e k P e n g a m a t a n Meng-
    A s p e k
    P e n g a m a t a n
    Meng-
    Menghargai
    Jumlah
    No.
    Nama Siswa
    Kerja
    komunika
    Toleran
    Keaktif
    Nilai
    Ket.
    pendapat
    Skor
    sama
    sikan pen-
    si
    an
    teman
    dapat

    Keterangan Skor :

    Masing-masing kolom diisi dengan kriteria

    • 4 = Baik Sekali

    • 3 = Baik

    • 2 = Cukup

    • 1 = Kurang

    Nilai

    ∑ Skor perolehan

    =

    X

    100

    35

    Skor Maksimal (20) Kriteria Nilai

    A

    =

    80 – 100

    :

    Baik Sekali

    B

    =

    70 – 79

    :

    Baik

    C

    =

    60 – 69

    :

    Cukup

    D

    =

    ‹ 60

    :

    Kurang

    Lembar pengamatan untuk penilaian keterampilan dalam kegiatan presentasi Rubrik Penilaian Presentasi

       

    A s p e k

    P e n i l a i a n

         

    No.

    Nama Siswa

    Komu

    Sistematika

    Waw

    Keber

    Antusia

    Gesture

    dan

    Jumlah

    Nilai

    Ket.

    ni

    penyam

    a

    anian

    s

    penampil

    Skor

    Kasi

    Paian

    san

    an

     

    Keterangan Skor :

    Masing-masing kolom diisi dengan kriteria

    • 4 = Baik Sekali

    • 3 = Baik

    • 2 = Cukup

    • 1 = Kurang ∑ Skor perolehan

    Nilai =

    100

     

    X Skor Maksimal (20)

    Kriteria Nilai

     

    A

    =

    80 – 100

    : Baik Sekali

    B

    =

    70 – 79

    : Baik

    C

    =

    60 – 69

    : Cukup

    D

    =

    ‹ 60

    : Kurang

    5.

    PPr

    36