Anda di halaman 1dari 10

3.

Klasifikasi Fraktur Mandibula


a) Fraktur mandibula menurut daerah terjadinya fraktur diklasifikasikan menjadi:
1. Fraktur dento-alveolar
2. Symphyseal, parasymphyseal
3. Corpus
4. Angulus
5. Ramus
6. Koronoid
7. Kondilus
Fraktur mandibula dapat terjadi beriringan dengan trauma pada bagian lain seperti
mulut (termasuk fraktur mandibula yang terjadi melewati membran periodontal gigi), atau
kulit, atau dapat hanya berupa fraktur yang simpel atau kominutif.

Gambar 2
Insidensi Terjadinya Fraktur Mandibula
Perawatan standar untuk fraktur mandibula adalah open reduction and internal
fixation (ORIF) dengan mini-plates. Fraktur mandibula pada pasien dengan trauma pada gigi
bisa di reduksi dan diperbaiki menggunakan intermaxillary fixation (IMF) yang dicapai
dengan penempatan arch bars.
Jika pasien memiliki gigi yang sedang atau baru erupsi setengahnya pada garis fraktur,
maka harus dipertimbangkan apakah gigi tersebut harus dicabut untuk menghindari
kecenderungan terjadinya infeksi lanjut atau gigi tersebut dapat dipertahankan. Pada
umumnya ahli bedah akan cenderung mempertahankan daripada mencabutnya kecuali gigi
tersebut mengalami fraktur, memiliki karies yang besar atau memiliki patologi periapikal.
Fraktur kondilus yang tidak mengganggu oklusi biasanya dirawat secara konservatif,
yaitu dengan soft diet dan pemeriksaan rutin. Perawatan dengan cara IMF selama2 minggu
biasa digunakan jika fraktur mandibula menyebabkan terganggunya oklusi.
b) Menunjukkan frekuensi fraktur di masing-masing regio tersebut
Frekuensi terjadinya fraktur pada mandibula adalah :
Prosesus alveolaris = 3,1%
Simphisis dan Parasimphisis = 22%
Body = 16%
Angle = 24,5%
Ramus = 1,7%
Prosesus Kondilaris = 29,1%
Prosesus Koronoid = 1,3%

c) Berdasarkan ada tidaknya gigi (Menurut Kazanjian dan Converse)
Klasifikasi berdasarkan gigi pasien penting diketahui karena akan menentukan jenis
terapi yang akan kita ambil. Dengan adanya gigi, penyatuan fraktur dapat dilakukan
dengan jalan pengikatan gigi dengan menggunakan kawat. Penjelasan gambar tentang
klasifikasi fraktur di atas :
Fraktur kelas 1 : gigi terdapat di 2 sisi fraktur, penanganan pada fraktur kelas 1 ini
dapat melalui interdental wiring (memasang kawat pada gigi)
Fraktur kelas 2 : gigi hanya terdapat di salah satu fraktur
Fraktur kelas 3 : tidak terdapat gigi di kedua sisi fraktur, pada keadaan ini
dilakukan melalui open reduction, kemudian dipasangkan plate and screw, atau
bisa juga dengan cara intermaxillary fixation.

d) Berdasarkan tipe/derajat keparahan fraktur mandibula:
Fraktur Tertutup/Simple
- Tidak ada hubungan denga lingkungan luar
- Tidak terbuka/terelsponasi
- Kulit tidak terkoyak
- Tidak terdapat pergeseran fragmen
- Tidak menonjol ke kulit
Fraktur Tunggal/Terbuka
- Hanya 1 garis fraktur : ramus, body, kondilus saja, dll
Greenstick
- Diskontinuitas tidak lengkap
- Patah tidak utuh
- Biasanya terjadi pada anak anak
- Komponen tulangnya berbeda, masih banyak terdapat fibroblast dan
kondroblas nya dibanding osteoblast
- Tulangnya masih elastis
Comminuted : fragmen fragmen kecil dapat berbentuk simple atau
compound
Compound
- Pergeseran tulang besar
- Fragmen tulang tembus keluar
- Kulit sobek dan terkoyak
- Trauma berat
Pathologi : akibat kelainan. Contohnya, osteomyelitis rahang
Kompleks : fraktur yang terdiri dari beberapa garis fraktur
Multiple : biasanya fraktur ini tepat mengenai titik tengah dagu, yang
mengakibatkan fraktur pada simpisis dan kedua kondilus
Impacted : ujung fraktur tertekan ke dalam atau keluar

e) Dengan melihat cara perawatan, maka pola fraktur mandibula dapat digolongkan
menjadi:
1. Fraktur Unilateral
Fraktur ini biasanya hanya tunggal, tetapi kadang terjadi lebih dari satu fraktur
yang dapat dijumpai pada satu sisi mandibula dan bila hal ini terjadi, sering
didapatkan pemindahan fragmen secara nyata. Suatu fraktur korpus mandibula
unilateral sering terjadi.
2. Fraktur Bilateral
Fraktur bilateral sering terjadi dari suatu kombinasi antara kecelakaan langsung
dan tidak langsung. Fraktur ini umumnya akibat mekanisme yang menyangkut
angulus dan bagian leher kondilar yang berlawanan atau daerah gigi kanius dan
angulus yang berlawanan.
3. Fraktur Multipel
Gabungan yang sempurna dari kecelakaan langsungdan tidak langsung dapat
menimbulkan terjadinya fraktur multipel. Pada umumnya fraktur ini terjadi karena
trauma tepat mengenai titik tengah dagu yang mengakibatkan fraktur pada
simpisis dan kedua kondilus.
4. Fraktur Berkeping-keping (Comminuted)
Fraktur ini hampir selalu diakibatkan oleh kecelakaan langsung yang cukup keras
pada daerah fraktur, seperti pada kasus kecelakaan terkena peluru saat perang.
Dalam sehari-hari, fraktur ini sering terjadi pada simfisis dan parasimfisis. Fraktur
yang disebabkan oleh kontraksi muskulus yang berlebihan. Kadang fraktur pada
prosesus koronoid terjadi karena adanya kontraksi refleks yang datang sekonyong-
konyong mungkin juga menjadi penyebab terjadinya fraktur pada leherkondilar.
Oikarinen dan Malstrom (1969), dalam serangkaian 600 fraktur mandibula
menemukan 49,1% fraktur tunggal, 39,9% mempunyai dua fraktur, 9,4%
mempunyai tiga fraktur, 1,2% mempunyai empat fraktur, dan 0,4% mempunyai
lebih dari empat fraktur.


4. Tanda-Tanda Klinis Fraktur Mandibula
Sebagai dokter gigi yang berkompeten kita harus tahu dan memahami apa saja tanda-
tanda dari fraktur mandibula untuk memudahkan proses diagnosa. Berikut adalah beberapa
tanda dari adanya fraktur mandibula.
4.1 Perubahan oklusi
Pasien dengan fraktur mandibula biasanya memiliki gangguan oklusi, sebagai klinisi
kita bisa menanyakan pada pasien mengenai ada atau tidaknya kelainan yang dirasakan ketika
mereka mengoklusikan gigi karena, perubahan oklusi dapat di anggap sebagai tanda
diagnostik utama dari fraktur mandibula. Fraktur pada gigi, tulang alveolar, trauma TMJ serta
otot pengunyahan bisa menyebabkan kelainan oklusi ini.
Kelainan Oklusi Daerah yang diduga mengalami fraktur
Kontak prematur gigi post.
Openbite anterior
Kondilus atau sudut mandibula (bilateral)
Openbite posterior Prosesus alveolar anterior atau daerah
parasymphyseal
Posterior crossbite Kondilus dan midline symphyseal dengan
miringnya segmen posterior dari mandibula
Retrognatik Kondilus dan sudut mandibula
Unilateral openbite Sudut ipsilateral dan parasymphyseal
Prognatik Efusi TMJ

4.2 Anestesia, Parestesia atau Disestesia Bibir Bawah
Hal ini berkaitan dengan gangguan pada nervus alveolar inferior dimana nervus ini
melewati foramen mandibula. Jika bibir bawah mati rasa, mungkin saja terjadi fraktur pada
daerah distal foramen mandibula.

4.3 Pergerakan Mandibula yang Abnormal
Fraktur pada daerah mandibula bisa menimbulkan keabnormalan dari pergerakan
mandibula secara signifikan. Keterbatasan pembukaan mulut dan trismus bisa menjadi tanda
dari fraktur mandibula. Hal ini juga berkaitan dengan kerja otot-otot pengunyahan. Salah satu
contoh sederhana adalah jika terjadi fraktur kondilus unilateral maka saat pembukaan mulut
akan terjadi deviasi ke daerah yang terjadi fraktur, hal ini terjadi karena fungsi dari otot
pterygoid pada sisi yang tidak terkait tetap ada sehingga terjadilah deviasi.
Kelainan Pergerakan Mandibula Daerah yang Kemungkinan Mengalami
Fraktur
Ketidakmampuan membuka rahang Prosesus koroniod, ramus dan lengkung
zigomatikum
Ketidak mampuan menutup rahang Prosesus alveolaris, ramus, sudut atau
symphysis
Pergerakan lateral Kondilus (bilateral), ramus dengan
displacement tulang

4.4 Perubahan Kontur Wajah dan Lengkung Mandibula
Perubahan kontur wajah yang disebabkan karena fraktur mandibula bisa tersamarkan
dengan adanya pembengkakan, namun kita tetap harus bisa membedakannya, apalagi bila
sudah terlihat adanya ketidaksimetrisan pada bentuk wajah pasien dan adanya penyimbangan
dari bentuk kurva mandibula (u-shaped).
Perubahan pada wajah Daerah yang Kemungkinan Mengalami
Fraktur
Bagian lateral yang lebih datar Korpus, ramus, sudut mandibula
Retruded chin Parasymphyseal (bilateral)
Pemanjangan wajah Subkondilar (bilateral), sudut, korpus
menyebabkan posisi mandibula lebih ke bawah

4.5 Laserasi, Hematoma, dan Echymosis
Arah dan tipe fraktur bisa kita lihat dan perkirakan melalui laserasi yang terjadi
namun untuk lebih tepatnya bisa dengan bantuan pemeriksaan radiografik. Ekimosis pada
dasar mulut bisa mengindikasikan terjadinya trauma pada korpus mandibula dan symphyseal.

4.6 Hilangnya Gigi dan Krepitasi atau Palpasi
Tenaga yang kuat bisa menyebabkan kehilangan gigi dan tidak menutup kemungkinan
terjadinya fraktur pada tulang dibawahnya. Sebagai dokter gigi, kita harus melakukan palpasi
pada bagian mandibula dengan menggunakan kedua tangan dengan posisi ibu jari pada gigi
dan jari yang lain berada di batas bawah mandibula, namun dibutuhkan pemeriksaan
radiofrafis untuk memastikan fraktur tersebut. Palpasi pada tepi-teepi mandibula mungkin
bisa menunjukkan deformitas seperti tangga (step deformity) apabila edema dan hematoma
tidak parah. Pemeriksaan ini sering menunjukkan terpisahnya gigi satu dengan yang lain dan
terputusnya kontinuitas dataran oklusal yang mengalami fraktur.

4.7 Dolor, Tumor, Rubor, dan Color
Adanya keempat tanda ini, merupakan tanda utama dari trauma , pada daerah mandibula
meningkatkan kemungkinan adanya fraktur pada daerah tersebut.

4.8 Kesulitan atau ketidakmampuan untuk mengunyah
Pemeriksaan radiologis juga diperlukan untuk memperkuat diagnosa, beberapa teknik
foto yang bisa digunakan pada kasus fraktur mandibula ini antara lain, panoramik, lateral
oblique, posteroanterior, occlusal view, periapikal view, reverse townes dan CT scan.


Sumber
Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Alih Bahasa Purwanto
dan Basoeseno. Cetakan I. Jakarta: EGC.
Fonseca. 2005. Oral and Maxillofacial Surgery 3rd Ed. Missouri: Elsevier.