Anda di halaman 1dari 4

Terapi

1. Antasida
Antasida adalah obat yang berfungsi untuk menetralkan asam
lambung dengan cara meninggikan pH dalam lambung sehingga
mengurangi aktivitas pepsin, bukan dengan mengurangi volume
pengeluaran asam lambung. Berdasarkan kasus yang kami dapat, pasien
mengeluhkan nyeri di daerah ulu hati yang kemungkinan disebabkan
karena ulserasi pada mukosa lambung. Nyeri ini semakin bertambah bila
terkena asam lambung. Oleh sebab itu, kami memberikan antasida yang
bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri yang diderita pasien.
Dosis yang diberikan 3 x sehari di antara waktu makan.
2. Ranitidine
Ranitidine ialah suatu penghambat reseptor H2 dimana
perangsangan terhadap reseptor H2 dapat merangsang sekresi asam
lambung sehingga dengan pemberian obat ini maka sekresi asam lambung
akan terhambat. Kerja dari obat ini terhadap kasus yang diderita pasien
kami yaitu untuk mengatasi gejala dan mempercepat penyembuhan iritasi
pada lambung.
Dosis yang diberikan sediaan 150 mg 2 x sehari setelah makan.
Karena konsumsi obat ini bersamaan dengan pemakaian antasida maka
perlu diberi selang waktu 1 jam karena antasida mengurangi
bioavailibilitas oral sebanyak 20-30%.
3. Omeprazole
Omeprazole merupakan salah satu penghambat pompa proton yang
bekerja menghambat sekresi asam lambung lebih kuat dibandingkan anti
reseptor H2. Hambatan obat ini bersifat ireversibel dan produksi asam
lambung yang baru baru terjadi 3-4 hari setelah dihentikannya pemberian
obat.
Indikasi pemberian sama halnya dengan anti reseptor H2 bahkan
justru bekerja lebih kuat.
Dosis yang diberikan sediaan 20 mg 1 x sehari setelah makan






























Jurnal

1. Latar Belakang
Penggunaan OAINS biasanya berkomplikasi menjadi gastropati. Pada
orang yang tidak mengonsumsi OAINS, penanganan Helicobacter pylori
berkaitan dengan penurunan inflamasi mukosa dan mungkin
menghentikan perkembangan menuju atrofi dan metaplasia usus. Tetapi
penggunaan secara terus menerus dari OAINS dapat mengganggu proses
tersebut.
2. Tujuan
Bertujuan untuk meneliti efek dari penanganan Helicobacter pylori
pada histology mukosa lambung selama penggunanaan OAINS jangka
panjang, dengan atau tanpa terapi gastroprotektif.
3. Metodologi
Penelitian ini menggunakan metode Randomized Control Trial
(RCT) dimana pasien yang memenuhi syarat untuk dimasukan dalam studi
ini jika mereka sedang dalam riwayat pemakaian OAINS jangka panjang
dan ditemukan Helicobacter pylori dari pemeriksaan serologi. Pasien
secara acak dimasukan dalam kelompok eradikasi atau placebo. Penaksira
gastritis berdasarkan klasifikasi Sydney yang terbaru untuk aktivitas,
inflamasi kronis, atrofi kelenjar lambung, metaplasia usus, dan densitas
Helicobacter pylori.
4. Hasil
Spesimen biopsi yang tersedia untuk histology dari 305 pasien.
Dari itu, 48% sedang dalam tahap pengobatan gastroprotektif kronis.
Ditemukan hasil yang signifikan walau dalam jumlah sedikit dari gastritis
aktif, inflamasi, dan densitas Helicobacter pylori dalam kelompok
eradikasi dibandingkan dengan kelompok placebo pada corpus dan antrum
(P<0.001). Pada corpus, ditemukan atrofi yang lebih sedikit dalam
kelompok eradikasi dibandingkan dengan kelompok placebo.
5. Kesimpulan
Eradikasi Helicobacter pylori pada pasien dalam terapi pemakaian
OAINS jangka panjang mengarah pada kesembuhan gastritis walaupun
terapi OAINS berkelanjutan.