Anda di halaman 1dari 40

PENDAHULUAN

Penyakit infeksi merupakan penyakit yang sering dijumpai di seluruh


dunia. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi tersering kedua setelah
infeksi saluran nafas atas yang terjadi pada populasi dengan rata-rata 9.3% pada
anita di atas !" tahun dan #."-$$% pada pria di atas !" tahun.
$
Infeksi saluran
kemih merupakan infeksi nosokomial tersering yang men%apai kira-kira &'-!'%.
#
Sampai saat ini (elum adanya klasifikasi dan standarisasi
penatalaksanaan infeksi saluran kemih dan genitalia pria di Indonesia.
Penatalaksanaan infeksi (erkaitan dengan pem(erian anti(iotika. Penggunaan
anti(iotika yang rasional di(utuhkan untuk mengatasi masalah resistensi kuman.
)leh karena itu Ikatan *hli +rologi Indonesia mem(uat suatu Panduan
Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan ,enitalia Pria. Panduan ini merujuk
panduan yang sudah di(uat oleh -*+ (European Association of Urology) dan
I.S* (Infectious Disease Society of America).
3/&
Klasifikasi
Infeksi dapat diklasifikasikan (erdasarkan lokasi infeksi di dalam saluran
kemih. *kan tetapi karena adanya hu(ungan satu lokasi dengan lokasi lain
sering didapatkan (akteri di dua lokasi yang (er(eda.
Klasifikasi diagnosis Infeksi Saluran Kemih dan ,enitalia Pria yang
dimodifikasikan dari panduan -*+ (European Association of Urology) dan I.S*
(Infectious Disease Society of America)
o Infeksi Saluran Kemih (ISK)
ISK non komplikata akut pada anita
Pielonefritis non komplikata akut
ISK komplikata
0akteriuri asimtomatik
ISK rekurens
+retritis
+rosepsis
1
o Infeksi 1raktus ,enitalia Pria
Prostatitis
-pididimitis
)rkhitis
Pada panduan ini/ juga mem(ahas panduan penatalaksanaan infeksi
spesifik 1u(erkulosis karena Indonesia masih %ukup tinggi angka pre2alensi
103.
.aftar Pustaka
$. Smyth -,/ )43onnell 5/ 3ompli%ated urinary tra%t infe%tion. .rugs 6 1herapy
Perspe%ti2es $9978 $$($)9 !3-!.
#. 5a(er K,/ 3arson 3. :ole of fluoro;uinolones in the treatment of serious
(a%terial urinary tra%t infe%tions. .rugs #''&8 !& ($#)9 $3"9-<3.
3. 5a(er K,/ 0ergman 0/ 0ishop =3/ >ohansen 1-0/ 0otto ?/ @o(el 0 (ed).
-uropean *sso%iation of +rology 9 ,uidelines on +rinary and =ale ,enital 1ra%t
Infe%tions. #''$.
&. :u(in :?/ Shapiro -./ *ndriole A1/ .a2is :>/ Stamm B-. ,eneral guidelines
for the e2aluation of ne anti-infe%ti2e drugs for the treatment of urinary tra%t
infe%tion. 3lin Inf .is $99# ($") 9 S#$!-#<.
2
PENGAMBILAN SAMPEL DAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Cara Pengambilan Sampel
0ahan urin untuk pemeriksaaan harus segar dan se(aiknya diam(il pagi
hari. 0ahan urin dapat diam(il dengan %ara punksi suprapu(ik (suprapubic
punctureCspp)/ dari kateter dan urin porsi tengah (midstream urine). 0ahan urin
yang paling mudah diperoleh adalah urin porsi tengah yang ditampung dalam
adah (ermulut le(ar dan steril.
$

Punki Suprapubik
Pengam(ilan urin dengan punksi suprapu(ik dilakukan pengam(ilan urin
langsung dari kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan semprit dan
jarum steril. Dang penting pada punksi suprapu(ik ini adalah tindakan antisepsis
yang (aik pada daerah yang akan ditusuk/ anestesi lokal pada daerah yang akan
ditusuk dan keadaan asepsis harus selalu dijaga. 0ila keadaan asepsis (aik/
maka (akteri apapun dan (erapapun jumlah koloni yang tum(uh pada (iakan/
dapat dipastikan merupakan penye(a( ISK.
$
Ka!e!er
0ahan urin dapat diam(il dari kateter dengan jarum dan semprit yang
steril. Pada %ara ini juga penting tindakan antisepsis pada daerah kateter yang
akan ditusuk dan keadaan asepsis harus elalu dijaga. 1empat penusukan kateter
se(aiknya sedekat mungkin dengan ujung kateter yang (erada di dalam
kandung kemih (ujung distal). Penilaian urin yang diperoleh dari kateter sama
dengan hasil (iakan urin yang diperoleh dari punksi suprapu(ik.
$
Urin P"ri Tenga#
+rin porsi tengah se(agai sampel pemeriksaan urinalisis merupakan teknik
pengam(ilan yang paling sering dilakukan dan tidak menim(ulkan
ketidaknyamanan pada penderita. *kan tetapi resiko kontaminasi aki(at
kesalahan pengam(ilan %ukup (esar. 1idak (oleh menggunakan antiseptik untuk
3
persiapan pasien karena dapat mengkontaminasi sampel dan menye(a(kan
kultur false-negative.
3ara pengam(ilan dan penampungan urin porsi tengah pada anita 9
$.
Siapkan (e(erapa potongan kasa steril untuk mem(ersihkan daerah
2agina dan muara uretra. Satu potong kasa steril di(asahi dengan air sa(un/
dua potong kasa steril di(asahi air atau salin hangat dan sepotong lagi
di(iarkan dalam keadaan kering. >angan memakai larutan antiseptik untuk
mem(ersihkan daerah terse(ut. Siapkan pula adah steril dan jangan (uka
tutupnya se(elum pem(ersihan daerah 2agina selesai.
#.
.engan # jari pisahkan kedua la(ia dan (ersihkan daerah 2agina dengan
potongan kasa steril yang mengandung sa(un. *rah pem(ersihan dari depan
ke (elakang. Kemudian (uang kasa yang telah dipakai ke tempat sampah.
3.
0ilas daerah terse(ut dari arah depan ke (elakang dengan potongan kasa
yang di(asahi dengan air atau salin hangat. Selama pem(ilasan tetap
pisahkan kedua la(ia dengan # jari dan jangan (iarkan la(ia menyentuh
muara uretra. @akukan pem(ilasan sekali lagi/ kemudian keringkan daerah
terse(ut dengan potongan kasa steril yang kering. 0uang kasa yang telah
dipakai ke tempat sampah.
&.
.engan tetap memisahkan kedua la(ia/ mulailah (erkemih. 0uang
(e(erapa mililiter urin yang mula-mula keluar. Kemudian tampung aliran urin
selanjutnya ke dalam adah steril sampai kurang le(ih sepertiga atau
setengah adah terisi.
".
Setelah selesai/ tutup kem(ali adah urin dengan rapat dan (ersihkan
dinding luar adah dari urin yang tertumpah. 1uliskan identitas penderita
pada adah terse(ut dan kirim segera ke la(oratorium.
$
3ara pengam(ilan dan penampungan urin porsi tengah pada pria 9
$.
Siapkan (e(erapa potongan kasa steril untuk mem(ersihkan daerah penis
dan muara uretra. Satu potong kasa steril di(asahi dengan air sa(un/ dua
potong kasa steril di(asahi dengan air sa(un/ dua potong kasa steril di(asahi
dengan air atau salin hangat dan sepotong lagi di(iarkan dalam keadaan
4
kering. >angan memakai larutan antiseptik untuk mem(ersihkan daerah
terse(ut. Siapkan pula adah steril dan jangan (uka tutupnya se(elum
pem(ersihan selesai.
#.
1arik prepusium ke (elakang dengan satu tangan dan (ersihkan daerah
ujung penis dengan kasa yang di(asahi air sa(un. 0uang kasa yang telah
dipakai ke tempat sampah.
3.
0ilas ujung penis dengan kasa yang di(asahi air atau salin hangat. +langi
sekali lagi/ lalu keringkan daerah terse(ut dengan potongan kasa steril yang
kering. 0uang kasa yang telah dipakai ke dalam tempat sampah.
&.
.engan tetap menahan prepusium ke (elakang/ mulailah (erkemih.
0uang (e(erapa mililiter urin yang keluar/ kemudian tampung urin yang
keluar (erikutnya ke dalam adah steril sampai terisi sepertiga sampai
setengahnya.
".
Setelah selesai/ tutup kem(ali adah urin dengan rapat dan (ersihkan
dinding luar adah dari urin yang tertumpah. 1uliskan identitas penderita
pada adah terse(ut dan kirim segera ke la(oratorium.
$
0ahan urin harus segera dikirim ke la(oratorium/ karena penundaan akan
menye(a(kan (akteri yang terdapat dalam urin (erkem(ang (iak dan
penghitungan koloni yang tum(uh pada (iakan menunjukkan jumlah (akteri
se(enarnya yang terdapat dalam urin pada saat pengam(ilan. Sampel harus
diterima maksimun $ jam setelah penampungan.
#
Sampel harus sudah diperiksa
dalam aktu # jam. Setiap sampel yang diterima le(ih dari # jam setelah
pengam(ilan tanpa (ukti telah disimpan dalam kulkas/ seharusnya tidak dikultur
dan se(aiknya dimintakan sampel (aru.
3
0ila pengiriman terpaksa ditunda/
(ahan urin harus disimpan pada suhu &
o
3 selama tidak le(ih dari #& jam.
$
Pemeriksaan +rin -mpat Porsi (=eares Stamey)
Pemeriksaan ini dilakukan untuk penderita prostatitis. Pemeriksaan ini terdiri dari
urin empat porsi yaitu 9
5
$.
Porsi pertama (A0$) 9 $' ml pertama urin/ menunjukkan kondisi
uretra/
#.
Porsi kedua (A0#) 9 sama dengan urin porsi tengah/ menunjukkan
kondisi (uli-(uli/
3.
Porsi ketiga (-PS) 9 sekret yang didapatkan setelah masase
prostat/
&.
Porsi keempat (A0&) 9 urin setelah masase prostat.
&
Pemerikaan lab"ra!"rium
Pemeriksaan urinalisis dilakukan untuk menentukan dua parameter penting ISK
yaitu leukosit dan (akteri. Pemeriksaan rutin lainnya seperti deskripsi arna/
(erat jenis dan p?/ konsentrasi glukosa/ protein/ keton/ darah dan (iliru(in tetap
dilakukan.
"
Pemerikaan Dip!ik
Pemeriksaan dengan dipstik merupakan salah satu alternatif pemeriksaan
leukosit dan (akteri di urin dengan %epat. +ntuk mengetahui leukosituri/ dipstik
akan (ereaksi dengan leucocyte esterase (suatu enEim yang terdapat dalam
granul primer netrofil). Sedangkan untuk mengetahui (akteri/ dipstik akan
(ereaksi dengan nitrit (yang merupakan hasil peru(ahan nitrat oleh enEym
nitrate reductase pada (akteri). Penentuan nitrit sering mem(erikan hasil false-
negative karena tidak semua (akteri patogen memiliki kemampuan mengu(ah
nitrat atau kadar nitrat dalam urin menurun aki(at o(at diuretik. Kedua
pemeriksaan ini memiliki angka sensitifitas !'-7'% dan spesifisitas <' F 97 %.
Sedangkan nilai positive predictive value kurang dari 7' % dan negative
predictive value men%apai 9"%. *kan tetapi pemeriksaan ini tidak le(ih (aik
di(andingkan dengan pemeriksaan mikroskopik urin dan kultur urin.
Pemeriksaan dipstik digunakan pada kasus skrining follow up. *pa(ila kedua
hasil menunjukkan hasil negatif/ maka urin tidak perlu dilakukan kultur.
"/!
Pemerikaan Mikr"k"pik Urin
6
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan untuk menentukan jumlah leukosit dan
(akteri dalam urin. >umlah leukosit yang dianggap (ermakna adalah G $' H
lapang pandang (esar (@P0). *pa(ila didapat leukosituri yang (ermakna/ perlu
dilanjutkan dengan pemeriksaan kultur.
Pemeriksaan langsung kuman patogen dalam urin sangat tergantung kepada
pemeriksa. *pa(ila ditemukan satu atau le(ih kuman pada pemeriksan langsung/
perlu dilakukan pemeriksaan kultur.
"/<
Pemerikaan Kul!ur Urin
.eteksi jumlah (ermakna kuman patogen (significant bacteriuria) dari kultur urin
masih merupakan (aku emas untuk diagnosis ISK. 0ila jumlah koloni yang
tum(uh G $'
"
koloniHml urin/ maka dapat dipastikan (aha (akteri yang tum(uh
merupakan penye(a( ISK. Sedangkan (ila hanya tum(uh koloni dengan jumlah
I $'
3
koloni H ml urin/ maka (akteri yang tum(uh kemungkinan (esar hanya
merupakan kontaminasi flora normal dari muara uretra. >ika diperoleh jumlah
koloni antara $'
3
- $'
"
koloni H ml urin/ kemungkinan kontaminasi (elum dapat
disingkirkan dan se(aiknya dilakukan (iakan ulang dengan (ahan urin yang
(aru. Jaktor yang dapat mempengaruhi jumlah kuman adalah kondisi hidrasi
pasien/ frekuensi (erkemih dan pem(erian anti(iotika se(elumnya.
$/"
Perlu diperhatikan pula (anyaknya jenis (akteri yang tum(uh. 0ila G 3 jenis
(akteri yang terisolasi/ maka kemungkinan (esar (ahan urin yang diperiksa telah
terkontaminasi.
$
:ujukan
$. Kumalaati >. .iagnosis (akteriologik infeksi saluran kemih dengan (iakan urin.
@okakarya pemeriksan la(oratorium klinik pada penyakit infeksi. 0agian Patologi
Klinik JK+I-:S3=. $993.
#. Kumalaati >. Prosedur pengam(ilan urin untuk pemeriksaan mikro(iologik.
0agian Patologi Klinik JK+I-:S3=. $997.
3. Sonnenirth *3/ >arrett @. ,radohlKs %lini%al la(oratory methods and diagnosis.
7
th
edition. St @ouis/ 1he3A =os(y 3ompany8 $97'.
&. =eares -=. Prostatitis. =ed 3lin of 5orth *m $99$ (<") 9 &'"-&#&.
7
". Pappas P,. @a(oratory in the diagnosis and management of urinary tra%t
infe%tions. =ed 3lin of 5orth *m $99$ (<") 9 3$3-#".
!. Semeniuk ?/ 3hur%h .. -2aluation of the le%o%yte esterase and nitrite urine
dipsti%k s%reening tests for dete%tion of (a%teriuria in omn ith suspe%ted
un%ompli%ated urinary tra%t infe%tions. >ournal of %lini%al mi%ro(iology $999 9 3'"$-#.
<. S%haeffer >.*. Infe%tions of the urinary tra%t. .alam 9 Balsh P3. 3amp(ellLs
+rology Aol $. 7
th
edition. B0 Saunders 3ompany. #''#8"33-""3.
8
POLA KUMAN DAN RESISTENSI
P"la Kuman Pa!"gen
Penggunaan anti(iotika tergantung dari pola kuman dan resistensi lokal. Pola ini
juga menentukan terapi anti(iotika empiris yang di(erikan se(elum hasil kultur
ada.
.i luar negeri dilaporkan kuman -s%herisia %oli merupakan penye(a( ter(anyak
infeksi saluran kemih. >umlah -. %oli men%apai 7" % untuk infeksi community-
acquired dan !'% infeksi hospital-acquired. Kuman entero(a%teri%eae gram-
negatif lain seperti Proteus and Kle(siella dan gram-positif seperti -. fae%alis
and Staphylo%o%%us saprophyti%us juga (anyak dijumpai pada infeksi
community-acquired (?ooton/ $999). Sedangkan untuk ISK komplikata atau
nosokomial dise(a(kan oleh -. fae%alis/Kle(siella/ -ntero(a%ter/ 3itro(a%ter/
Serratia/ Pseudomonas aeruginosa/ Pro2iden%ia/ and S. epidermidis (Kennedy et
al/ $9!").
$
.ata di Indonesia (elum pernah dilakukan penilaian mengenai pola kuman dan
resistensi untuk ISK. 0erikut data pola kuman dan resistensi dari isolat urin pada
3 senter yaitu >akarta (0agian =ikro(iologi 6 0agian Patologi Klinik)/ 0andung
(0agian Patologi Klinik Su( 0agian =ikro(iologi) dan Sura(aya (0agian
=ikro(iologi). >umlah kuman yang didapat dari periode #''#-#''& se(anyak
333$ kuman.
#/3/&/"
1a(el $. Pola Kuman Isolat urin 1er(anyak
Kuman >umlah
-. 3oli $$!$ (3&//7"%)
Kle(siella sp ""& ($!/!3%)
Pseudomonas sp &97 ($&/9"%)
Staph. -pidermidis $!" (&/9"%)
-ntero(a%ter aerogenes $"3 (&/"9%)
@ain-lain 7'' (#&/'$%
1a(el #. Pola Sensitifitas " Kuman 1er(anyak terhadap *nti(iotika )ral (n (% sensitif)
9
-.%oli
Kle(siella
sp
Pseudo
monas sp
Staph.
epidermidis
-.
aerogenes
Peni%illin
*moksisilin
*moksikla2
&$7 ($3)
&'9 (39)
#!7 ($')
#3! (&")
#$< ($#)
$7' (7)
97 ($9)
"& ("<)
37 ($7)
"! (##)
3otrimoksaEol
$$'3
(#3)
"&& (39) 3<& ($9) $&" (33) $3< ($3)
Jluoro;uinolone
(3iprofloMa%in)
<'7 ("#) 3!& (&$) 3!' (&") $#' (&<) "< (!#)
5itrofurantoin <3' (<!) #7! (&") #&7 ($7) $'& (<&) $3$ (&9)
3efalosforin
,enerasi # (3efotiam)
,enerasi 3 (3efiMime)
"#< (!$)
#'& (!&)
##! (&')
$$' ("')
$37 (<)
$$" ($')
7# (!9)
3" (#")
$$3 (3#)
$< ($'')
=a%rolides
(erythromy%in)
9! (&) $" (#<) &3 ("<) &! ("#) # ($'')
1etra%y%line &!! (#3) #"< (3") #'< (#$) 99 (&#) 3< (3<)
3efalosforin
,enerasi # (3efotiam)
,enerasi 3 (3efiMime)
"#< (!$)
#'& (!&)
##! (&')
$$' ("')
$37 (<)
$$" ($')
7# (!9)
3" (#")
$$3 (3#)
$< ($'')
=a%rolides
(erythromy%in)
9! (&) $" (#<) &3 ("<) &! ("#) # ($'')
1etra%y%line &!! (#3) #"< (3") #'< (#$) 99 (&#) 3< (3<)
1a(el 3. Pola Sensitifitas " Kuman 1er(anyak terhadap *nti(iotika Parenteral (n (%
sensitif)
-.%oli
Kle(siella
sp
Pseudo
monas sp
Staph.
epidermidis
-.
aerogenes
3efalosforin
,enerasi #
(3efotiam)
,enerasi 3a
(3eftriaMone)
,enerasi 3(
(3efoperaEone)
"#< (!$)
##< (<')
3<" (7')
##!(&')
$$"(3")
$<&(!")
$37 (<)
<! (3")
$!9 ("7)
7# (!9)
"& (3!)
!' (##)
$$3 (3#)
7" ("9)
&$ ("9)
*minoglikosida
(,entamy%in)
<!& (!#) #7<(&<) #<7 (39) $"' ("3) $#3 (!#)
Josfomy%in "<3 (&9) $<3("!) $33 (&&) 99 (<9) $$3 (3')
3ar(apenem
(Impenem)
$7< (7#) "" (7#) 9# (!$) &3 (7') ---
*minoglikosida
(,entamy%in)
<!& (!#) #7<(&<) #<7 (39) $"' ("3) $#3 (!#)
0erdasarkan ta(el di atas/ didapatkan anti(iotika yang paling tinggi angka
sensitifitasnya9
10
*nti(iotika oral 9
5itrofurantoin/ Sefalosporin generasi ke # 6 3/ Jluoro;uinolon/ *minopeni%illin N 0@I
(Beta-actamase Inhibitor)
*nti(iotika parenteral 9
3ar(apenem/ Sefalosporin generasi ke #/ 3a 6 3(/ *minoglikosida
.aftar Pustaka 9
$. S%haeffer >.*.Infe%tions of the urinary tra%t. .alam 9 Balsh P3. 3amp(ellLs
+rology Aol $. 7
th
edition. B0 Saunders 3ompany. #''#8"33-""3.
#. Pola kuman dan resistensi isolat urin (agian =ikro(iologi JK+I periode #''#-
#''3
3. Pola kuman dan resistensi isolat urin (agian Patologi Klinik JK+I-:S3= periode
#''3-#''&.
&. Pola kuman dan resistensi isolat urin (agian Patologi Klinik su( (agian
=ikro(iologi :S ?asan Sadikin periode #''3-#''&.
". Pola kuman dan resistensi isolat urin (agian =ikro(iologi :S Soetomo periode
#''#-#''3.
11
IN$EKSI SALURAN KEMIH NON KOMPLIKATA AKUT PADA %ANITA
De&inii '
-pisode sistitis akut dan pielonefritis akut pada anita sehat dan tidak memiliki
faktor resiko seperti kelainan struktural dan fungsional saluran kemih atau
penyakit yang mendasari yang meningkatkan resiko infeksi atau kegagalan
terapi.
$/#
Si!i!i n"n k"mplika!a
De&inii
Peradangan pada mukosa (uli-(uli yang tidak memiliki faktor resiko.
Ge(ala )an Tan)a
,ejala iritatif (erupa disuria/ frekuensi/ urgency/ (erkemih dengan jumlah urin
yang sedikit/ dan nyeri supra-pu(is. Pada anita sering didahului riayat
hu(ungan seksual se(elumnya (!oney-moon cystitis). Jaktor predisposisi harus
di%ari misalnya di2ertikel uretra/ dis%harge 2agina/ peradangan prostat pada
pasangannya.
3
Pemerikaan Lab"ra!"rium
+rinalisis rutin untuk menilai piuria/ hematuria dan nitrit. .iagnosis ditegakkan
dengan (akteriuria (ermakna. Standar tradisional untuk (akteriuri (ermakna
adalah G $'
"
koloniHml. Stamm melaporkan (aha dengan (akteriuri (ermakna G
$'
"
koloniHml hanya mendeteksi "$ % diagnosis sistitis akut. Sedangkan dengan
G $'
#
koloniHml didapatkan sensitifitas 9" % dan spesifisitas 7"%. *kan tetapi
se%ara teknik pemeriksaan mikro(iologi le(ih diper%aya hasil (akteriuri (ermakna
G $'
3
koloniHml/ serta masih mem(erikan nilai spesifisitas O 9' % dengan
penurunan sensitifitas O 7' %.
$/#/&
Kultur se(elum pengo(atan masih diperde(atkan karena hasil kultur keluar
(ersamaan dengan selesainya pengo(atan empiris yang di(erikan.
$
12
Pena!alakanaan
Pengo(atan anti(iotika se%ara empiris yang direkomendasikan selama 3 hari.
Pem(erian anti(iotika dosis tunggal mem(erikan respon terapi yang kurang (aik.
Pengo(atan yang di(erikan le(ih dari 3 hari tidak mem(erikan efekti2itas yang
sama dan justru meningkatkan angka komplikasi.
$/"
Follow up
+rinalisis (termasuk dengan dipstik) rutin sudah men%ukupi untuk follo up.
Pada penderita asimtomatis/ kultur rutin pas%a pengo(atan tidak diindikasikan.
$
.aftar Pustaka 9
$. 5a(er K,/ 0ergman 0/ 0ishop =3/ >ohansen 1-0/ 0otto ?/ @o(el 0 (ed).
-uropean *sso%iation of +rology 9 ,uidelines on +rinary and =ale ,enital 1ra%t
Infe%tions. #''$.
#. :u(in :?/ Shapiro-./ *ndriole A1/ .a2is :>/ Stamm B-. ,eneral guidelines for
the e2aluation of ne anti-infe%ti2e drugs for the treatment of urinary tra%t infe%tion.
3lin Inf .is $99# ($") 9 S#$!-#<.
3. S%haeffer >.*. Infe%tions of the urinary tra%t. .alam 9 Balsh P3. 3amp(ellLs
+rology Aol $. 7
th
edition. B0 Saunders 3ompany. #''#8"33-""3.
&. Stamm B-/ 3ounts ,B/ :unning K:/ Jihn S/ 1ur%k =/ ?olmes KK. .iagnosis of
%oliform infe%tion in a%utely dysuri% oman. 5 -ngl > =ed $97# (3'<) 9 &!3-7.
". ,le%kman :*. 1reatment .uration for +rinary 1ra%t Infe%tions in *dults.
*ntimi%ro(ial *gents and 3hemotherapy $97< 9 $-".
13
PIELONE$RITIS NON KOMPLIKATA AKUT
De&inii
Pielonefritis akut non komplikata adalah peradangan parenkim dan pel2is ginjal.
.efinisi lain adalah sindrom klinis (erupa demam/ menggigil dan nyeri pinggang
yang (erhu(ungan (akteriuri dan piuri serta tidak memiliki faktor resiko seperti
kelainan struktural dan fungsional saluran kemih atau penyakit yang mendasari
yang meningkatkan resiko infeksi atau kegagalan terapi.
$/#
Ge(ala )an Tan)a
,ejala klasik 9 .emam dan menggigil yang terjadi ti(a-ti(a/ nyeri pinggang
unilateral atau (ilateral. Sering disertai gejala sistitis (erupa frekuensi/ nokturia/
disuri/ dan urgensi. Kadang-kadang menyerupai gejala gastrointestinal (erupa
nausea/ muntah/ diare atau nyeri perut. Se(anyak <"% penderita pernah
mengalami riayat ISK (agian (aah.
Se%ara klinis didapatkan demam (37/"-&'
)
3)/ takikardi/ nyeri ketok pada sudut
kosto2erte(ra. ,injal seringkali tidak dapat dipalpasi karena nyeri tekan dan
spasme otot. .apat terjadi distensi a(domen dan ileus paralitik.
3
Diagn"i
+rinalisis dilakukan untuk men%ari piuria dan hematuria. I.S* melaporkan
se(anyak 7' % pyelonefritis akut ditegakkan dengan (akteriuri (ermakna G $'
"
koloniHml/ sedangkan $'-$" % lagi didapatkan dengan (akteriuri (ermakna
antara $'
&
- $'
"
koloni Hml. )leh karena itu direkomendasikan (akteriuri
(ermakna untuk pielonefitis akut adalah G $'
&
koloni Hml.
$/#
Pemerikaan ra)i"l"gi
-2aluasi saluran kemih (agian atas dengan +S, dan kemungkinan foto 05)
untuk menyingkirkan o(struksi atau (atu saluran kemih.
14
Pemeriksaan tam(ahan/ seperti IAP/ 31-s%an/ seharusnya dipertim(angkan (ila
pasien masih tetap demam setelah <# jam untuk menyingkirkan faktor komplikasi
yang le(ih jauh seperti a(ses renal.
IAP rutin pada pielonefritis akut non komplikata kurang mem(erikan nila tam(ah
karena <"% menunjukkan saluran kemih normal.
$
Pena!alakanaan
*nti(iotika di(erikan selama < F $& hari. *nti(iotika yang di(erikan sesuai kondisi
pasien. 1erapi parenteral dan peraatan di(erikan (ila kondisi pasien lemah atau
sulit untuk minum. )(at oral dapat di(erikan setelah pengo(atan hari ke &.
3/&/"
*pa(ila respons klinik (uruk setelah &7-<# jam terapi/ dilakukan re-e2aluasi (agi
adanya faktor pen%etus komplikasi dan efekti2itas o(at/ dipertim(angkan
peru(ahan %ara pem(eriannya.
3

$"ll"* up
+rinalisis (termasuk dengan dipstik) rutin dilakukan pas%a pengo(atan. Pada
penderita asimtomatis/ kultur rutin pas%a pengo(atan tidak diindikasikan. Kultur
urin ulang dilakukan "-< hari setelah terapi inisial dan &-! minggu setelah
dihentikan terapi untuk memastikan (e(as infeksi.
$
.aftar Pustaka 9
$. 5a(er K,/ 0ergman 0/ 0ishop =3/ >ohansen 1-0/ 0otto ?/ @o(el 0 (ed).
-uropean *sso%iation of +rology 9 ,uidelines on +rinary and =ale ,enital 1ra%t
Infe%tions. #''$.
#. :u(in :?/ Shapiro -./ *ndriole A1/ .a2is :>/ Stamm B-. ,eneral guidelines
for the e2aluation of ne anti-infe%ti2e drugs for the treatment of urinary tra%t
infe%tion. 3lin Inf .is $99# ($") 9 S#$!-#<.
3. S%haeffer >.*.Infe%tions of the urinary tra%t. .alam 9 Balsh P3. 3amp(ellLs
+rology Aol $. 7
th
edition. B0 Saunders 3ompany. #'''8 "33-""3.
&. ,le%kman :*. 1reatment .uration for +rinary 1ra%t Infe%tions in *dults.
*ntimi%ro(ial *gents and 3hemotherapy $97< 9 $-".
15
". ,radohl S/ 3henoeth 3/ Jonde K/ ?arrison A/ =unger K/ Pos%hni%k @.
+rinary tra%t infe%tion 9 guidelines for pra%ti%al %are. +n2ersity of =i%higan ?ealth
System
16
IN$EKSI SALURAN KEMIH KOMPLIKATA
De&inii )an Klai&ikai
Infeksi Saluran Kemih Komplikata adalah infeksi saluran kemih yang
(erhu(ungan dengan a(normalitas struktural atau fungsional saluran kemih atau
penyakit yang mendasarinya yang meningkatkan resiko infeksi atau kegagalan
terapi
ISK komplikata dapat juga dikelompokkan menjadi 9
$. Pasien dengan faktor komplikasi yang dapat dihilangkan seperti (atu/
kateter
#. Pasien dengan faktor komplikasi yang tidak dapat dihilangkan seperti
neurogenic bladder.
Ge(ala klini
ISK komplikata dapat disertai gejala klinis (seperti disuria/ urgency/ frekuensi/
nyeri pinggang/ nyeri tekan sudut kosto2erte(ra/ nyeri suprapu(ik dan demam).
1ampilan klinis dapat (er2ariasi dari pielonefritis o(struktif akut yang (erat
dengan imminent urosepsis sampai ISK pas%a operasi yang (erhu(ungan
dengan kateter.
$-3
Diagn"i
+ntuk menegakkan infeksi saluran kemih komplikata harus memenuhi dua
kriteria yaitu 9
$. Kultur urin positif dengan (akteriuri (ermakna G $'
"
koloniH ml
#. Satu atau le(ih faktor di(aah 9

Pria

+sia tua

Kehamilan
17

1erdapat indelling kateter/ stent atau splint (uretra/ ureter/ ginjal) atau
penggunaan kateter (uli-(uli intermitten

:esidu urin post-2oid G $'' ml

+ropati o(struktif oleh (er(agai se(a(/ seperti o(struksi bladder outlet


(termasuk neurogenic bladder)/ (atu dan tumor

A+: atau kelainan fungsional lain

=odifikasi saluran kemih/ seperti ileal loop atau pou%h

1rauma kimia atau radiasi uro-epithelium

ISK peri- dan post-operasi

Insufisiensi ginjal dan transplantasi/ dia(etes mellitus dan


immunodefisiensi
$
Pemerikaan Ra)i"l"gi
1ujuan pemeriksaan ini untuk mengidentifikasi kelainan yang dapat dikoreksi
atau mem(utuhkan tindakan khusus.
3
Pena!alakanaan
Prinsip umum
Penatalaksanaan tergantung dari keparahan gejala klinis. .ua tatalaksana yang
aji( dilakukan adalah anti(iotika yang tepat serta penanganan kelainan saluran
kemih.
$
@ama pem(erian terapi anti(iotika
Pem(erian antio(iotika selama < F $& hari umumnya direkomendasikan tetapi
seharusnya (erhu(ungan dengan tindakan koreksi kelainan yang mendasarinya.
Kadang-kadang dapat diperpanjang sampai #$ hari.
$
"ollow up
18
ISK rekurens sering terjadi (ila kelainan urologi tidak dapat dikoreksi. )leh
karena itu/ kultur urin ulang dilakukan "-9 hari setelah terapi selesai dan juga & F
! minggu kemudian.
$
.aftar Pustaka 9
$. 5a(er K,/ 0ergman 0/ 0ishop =3/ >ohansen 1-0/ 0otto ?/ @o(el 0 (ed).
-uropean *sso%iation of +rology 9 ,uidelines on +rinary and =ale ,enital 1ra%t
Infe%tions. #''$.
#. :u(in :?/ Shapiro-./ *ndriole A1/ .a2is :>/ Stamm B-. ,eneral guidelines for
the e2aluation of ne anti-infe%ti2e drugs for the treatment of urinary tra%t infe%tion.
3lin Inf .is $99# ($") 9 S#$!-#<.
3. 5i%olle @-. * pra%ti%al guide to antimi%ro(ial management of %ompli%ated urinary
tra%t infe%tion. .rugs 6 *ging #''$ ($7)9 #&3-#"&.
19
BAKTERIURI ASIMPTOMATIS
+ASYMPTOMATIC BACTERIURIA,
De&inii
0akteriuria yang ditemukan saat skrining (insidental) tetapi tidak mem(erikan
gejala infeksi saluran kemih.
$/#/3
Pre2alensi (akteriuria asimtomatis men%apai 3/"% pada populasi umum dan
semakin meningkat sesuai dengan usia.
3
Diagn"i
.iagnosis ditegakkan dengan dua kali pemeriksaan kultur urin yang mem(erikan
kuman yang sama dengan jumlah G $'
"
koloni H ml. >arak pemeriksaannya
adalah #& jam. Pemeriksaan ini mem(erikan sensitifitas G 7'% dan spesifisitas G
9"%.
$/&
Pena!alakanaan
*simtomatis (akteriuri tidak perlu mendapatkan anti(iotika. Pem(erian di(erikan
pada anita hamil/ anak-anak penderita dengan netropenia (erat/ penderita
yang akan dilakukan tindakan inter2ensi dan penderita dengan predisposisi
infeksi yang tinggi seperti transplantasi atau dia(etes melitus. @ama pem(erian
anti(iotika selama < hari.
$/&/"/!
$"ll"* up
Kultur ulang dilakukan $-& minggu setelah pengo(atan selesai.
$
.aftar Pustaka 9
$. 5a(er K,/ 0ergman 0/ 0ishop =3/ >ohansen 1-0/ 0otto ?/ @o(el 0 (ed).
-uropean *sso%iation of +rology 9 ,uidelines on +rinary and =ale ,enital 1ra%t
Infe%tions. #''$.
#. :u(in :?/ Shapiro-./ *ndriole A1/ .a2is :>/ Stamm B-. ,eneral guidelines for
the e2aluation of ne anti-infe%ti2e drugs for the treatment of urinary tra%t infe%tion.
3lin Inf .is $99# ($") 9 S#$!-#<.
20
3. JoMman 0. -pidemiology of urinary tra%t infe%tions 9 in%iden%e/ mor(idity and
e%onomi% %osts. >uly 7/ #''# 1he *meri%an >ournal of =edi%ine #''# ($$3) 9 "7.
&. =%0ryde 3/ :edington >. .iagnosis and management urinary tra%t infe%tions 9
asymptomati% (a%teriuria/ %ystitis and pyelonephritis. Primary 3are 3ase :e2ie
#''$ (&) 8 3 F $&.
". ,radohl S/ 3henoeth 3/ Jonde K/ ?arrison A/ =unger K/ Pos%hni%k @.
+rinary tra%t infe%tion 9 guidelines for pra%ti%al %are. +n2ersity of =i%higan ?ealth
System.
!. 5i%olle @-. * pra%ti%al guide to antimi%ro(ial management of %ompli%ated urinary
tra%t infe%tion. .rugs 6 *ging #''$ ($7)9 #&3-#"&.
21
IN$EKSI SALURAN KEMIH REKURENS
De&inii
Infeksi saluran kemih yang (erulang setelah satu episode pengo(atan ISK yang
tuntas dan (erhasil tanpa ditemukan kelainan anatomi dan fungsional saluran
kemih. 0ila kuman penye(a( infeksi (aru (er(eda dise(ut reinfeksi/ sedangkan
(ila kuman penye(a(nya sama dise(ut relapse.
$-3
Diagn"i
ISK rekurens ditegakkan dengan episode infeksi minimal 3 kali dalam $ tahun.
?asil kultur didapatkan (akteriuri (ermakna G $'
"
koloni H ml.
$/#
Pena!alakanaan
1erapi anti(iotika profilaksis (ertujuan untuk men%egah terjadinya infeksi saluran
kemih rekurens. *nti(iotika yang di(erikan dalam dosis rendah selama ! (ulan.
.aftar regimen anti(iotika yang digunakan untuk profilaksis.
$-3
1a(el $. :egimen anti(iotika profilaksis untuk pen%egahan infeksi saluran kemih
non komplikata akut pada anita.
Agen! D"i
:egimen Standar9
Q 1rimethoprim-sulphamethoMaEole &'H#'' mgHhari or tiga kali Hminggu
Q 1rimethoprim $'' mgHhari
Q 5itrofurantoin "' mgHhari
Q 5itrofurantoin ma%ro%rystals $'' mgHhari
@ain-lain9
Q 3ephaleMin $#" or #"' mgHhari
Q 5orfloMa%in #'' mgHhari
Q 3iprofloMa%in $#" mgHhari
.aftar Pustaka 9
$. 5a(er K,/ 0ergman 0/ 0ishop =3/ >ohansen 1-0/ 0otto ?/ @o(el 0 (ed).
-uropean *sso%iation of +rology 9 ,uidelines on +rinary and =ale ,enital 1ra%t
Infe%tions. #''$.
22
#. :u(in :?/ Shapiro -./ *ndriole A1/ .a2is :>/ Stamm B-. ,eneral guidelines
for the e2aluation of ne anti-infe%ti2e drugs for the treatment of urinary tra%t
infe%tion. 3lin Inf .is $99# ($") 9 S#$!-#<.
3. =%0ryde 3/ :edington >. .iagnosis and management urinary tra%t infe%tions 9
asymptomati% (a%teriuria/ %ystitis and pyelonephritis. Primary 3are 3ase :e2ie
#''$ (&) 8 3 F $&.
23
URETRITIS
De&inii
=erupakan peradangan dari saluran uretra. +retritis dapat (ersifat primer atau
sekunder. +retritis sekunder didapatkan pada pasien dengan kateter atau striktur
uretra.
Kuman pa!"gen
Kuman penye(a( uretritis adalah 5. gonorrhoeae/ 3. tra%homatis/ =y%oplasma
genitalium dan 1. Aaginalis.
Ge(ala )an !an)a
,ejala uretritis adalah dis%harge purulen dan alguriaHdisuria. Ke(anyakan
uretritis (ersifat asimtomatis.
Diagn"i
.iagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan gram langsung terhadap discharge
atau sa( uretra (#-& %m dari muara uretra).
Pena!alakanaan
Penatalaksanaan terapi (erdasarkan panduan #he $enter for Disease $ontrol
and %revention& *nti(iotika yang direkomendasikan untuk 5. gonnorrheae
3efiMime &'' mg oral
3eftriaMone #"' mg I=
3iprofloMa%ine "'' mg oral
)floMa%in &'' mg oral
Keempat anti(iotika diatas di(erikan dalam dosis tunggal.
Infeksi gonorrheae sering diikuti dengan infeksi %hlamydia. )leh karena itu perlu
ditam(ahkan anti(iotika anti-%hlamydial 9
*Eithromy%in/ $ gr oral (dosis tunggal)
24
.oMy%y%line $'' mg oral # kali sehari selama < hari
-rythromy%ine "'' mg oral & kali sehari selama < hari
)floMa%in #'' mg oral # kali sehati slama < hari
Seperti pada penyakit menular seksual lainnya/ penatalaksanaan terhadap
pasangan seksual perlu di(erikan.
.aftar Pustaka 9
$. 5a(er K,/ 0ergman 0/ 0ishop =3/ >ohansen 1-0/ 0otto ?/ @o(el 0 (ed).
-uropean *sso%iation of +rology 9 ,uidelines on +rinary and =ale ,enital 1ra%t
Infe%tions. #''$.
#. 0erger :-. SeMually 1ransmitted .isease9 1he 3lassi% .isease. .alam 9 Balsh
P3. 3amp(ellLs +rology Aol $. 7
th
edition. B0 Saunders 3ompany. #''# 8 !<$-9#.
25
UROSEPSIS
De&inii
-
sepsis yang dise(a(kan oleh dekomposisi dan a(sorpsi
su(stansi yang (erasal dari saluran kemih.
-
0akteremia simtomatik yang menye(a(kan syok dan
kematian aki(at (akteri (erasal dari traktus urinarius yang merupakan
komplikasi dari ISK.
$/#
Bak!eremia '
0akteri terdapat dalam darah yang dikonfirmasi dengan kultur/ dapat (ersifat
sementara.
3
Sep!ikemia '
Sama seperti (akteraemia/ tetapi menunjukkan kondisi yang le(ih (erat. 0ukti
klinis infeksi ditam(ah (ukti respon sistemik terhadap infeksi. :espon sistemik ini
dapat (ermanifestasi # atau le(ih kondisi (erikut 9

1emperatur G 37R3 atau I 3!R3

.enyut nadi G 9' kali H min

Jrekuensi pernafasan G #' kali Hmin or Pa3)# I 3# mm?g (I &.3 kPa)

@eukosit G $#/''' selHmm


3
/ I &/''' selHmm
3
atau $'% (entuk imatur
((atang).
3
Sepsis syndrome
Infeksi ditam(ah (ukti gangguan perfusi organ (erupa9 hipoksemia8 peningkatan
laktat8 oliguria8 gangguan kondisi mental.
3
S-"k ep!ik
Sepsis dengan hipotensi alaupun telah dilakukan resusitasi %airan yang %ukup
dan masih tetap terdapat gangguan perfusi (erupa asidosis laktat/ oliguria dan
26
gangguan mental akut. Pasien dengan o(at inotropik dan 2asopressor dapat
tidak mem(erikan gam(aran hipotensi saat terjadi gangguan perfusi.
Refractory septic shock
Syok septik yang (erlangsung G $ jam dan tidak respon terhadap pem(erian
%airan atau inter2ensi farmakologi.
Systeic i!flaatory respo!se sy!"roe
:espon terhadap (er(agai jenis gangguan klinis/ dapat (erupa infeksi atau non
infeksi (seperti luka (akar atau pankreatitis).
Diagn"i
.iagnosis pasti adalah (ila dapat di(uktikan (aha (akteri dari kultur darah
sama dengan yang ditemukan pada kultur urin.
Ke%urigaan (akteri (erasal dari traktus urinarius umumnya (ila disertai oleh
gejala sistitis atau pielonefritis. 0ila tidak ada manifestasi ISK/ kelainan pada
urinalisis (erupa piuria dan (akteriuri dapat menjadi petunjuk.
Se%ara umum dikatakan urosepsis merupakan komplikasi dari (e(erapa situasi
antara lain ($) tindakan instrumentasi pada traktus genitourinaria (#) a(ses renal
(3) pielonefritis akut (&) Infeksi aki(at o(struksi saluran kemih atau pasien
dengan gangguan keke(alan imunitas (") (akteriuri aki(at pemasangan kateter
pada o(struksi dan pasien dengan gangguan keke(alan imunitas.
$
Pena!alakanaan
?arus ada kerjasama antara ahli urologi dengan intensi2ist
1indakan umum

1egakkan diagnosis 9 gejala dan tanda serta la(oratorium


penunjang. Singkirkan penye(a( lain seperti hipo2olemia/ perdarahan/
gangguan jantung/ anafilaktik dll.
27

1erapi anti(iotika adekuat sesuai kultur darah dan urin serta fungsi
ginjal

Pem(erian %airan intra2ena 6 agen 2asoaktif (dopamin dan


do(utamin)

Pasang alat monitoring %airan 9 3AP atau San ,anE kateter/


kateter urin

Suplementasi )# dengan atau tanpa 2entilator


1indakan khusus urologi 9

.rainase semua o(struksi

Pengangkatan (enda asing seperti kateter atau (atu.


3
.aftar Pustaka 9
$. >ohnson. 33/ =.. .efinitions/ 3lassifi%ation and 3lini%al Presentation of +rinary
1ra%t Infe%tions. =ed. 3lin of 5orth *m $99$8 <"9#. #&$-"#.
#. 1seng 33/ et al. :ole of ?ost and 0a%terial Airulen%e Ja%tors in the .e2elopment of
+pper +rinary 1ra%t Infe%tion 3aused (y -. 3oli. *m > of Kidney .is #''#8 399&. <&&-
<"#.
3. 5a(er K,/ 0ergman 0/ 0ishop =3/ >ohansen 1-0/ 0otto ?/ @o(el 0 (ed). -uropean
*sso%iation of +rology 9 ,uidelines on +rinary and =ale ,enital 1ra%t Infe%tions.
#''$.
28
PROSTATITIS. EPIDIDIMITIS / ORKHITIS
PROSTATITIS
.efinisi
Prostatitis menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel-sel radang (paling sering
limfosit) pada stroma prostat didekat asinus kelenjar prostat (5i%kel et al $999).
.ar%h $9<$ mengelompokkan prostatitis menjadi & ((erdasarkan pemeriksaan &
porsi urin (erdasarkan =eares dan Stamey)9

Prostatitis (akteri *kut

Prostatitis (akterial kronik

Prostatitis non(akterial

Prostatodinia
.ahulu dise(ut SprostatitisT saja/ sekarang SProstatitis SyndromeT karena
seringnya etiologi tidak diketahui sehingga kriteria diagnostik lemah.
Klasifikasi yang (aru (erdasarkan 'ational Institutes of !ealth classification
system ($99") menjadi 9

5I? kategori I (Prostatitis 0akteri *kut)

5I? kategori II (Prostatitis 0akteri Kronik)

5I? kategori III ($hronic %elvic %ain SyndromesH (3PPS))


o 5I? kategori IIIa (Inflammatory 3PPS)
.itemukan sel darah putih yang (ermakna pada sekresi prostat yang
dimasase/ sedimen urin pas%a masase atau semen
o 5I? kategori III0 (5on inflammatory 3PPS)
1idak ditemukan sel darah putih yang (ermakna pada sekresi prostat
yang dimasase/ sedimen urin pas%a masase atau semen

5I? kategori IA (asimtomatik)


Kuman pa!"gen
Kuman yang sering ditemukan adalah -. %oli/ Kle(siella spp/ Proteus mira(ilis/
-ntero%o%%us fae%alis dan Pseudomonas aeruginosa. >enis kuman yang juga
29
dapat ditemukan adalah Staphylo%o%%i/ 3hlamydia tra%homatis/ +reaplasma
urealyti%um/ =y%oplasma hominis alaupun masih menim(ulkan perde(atan.
Ge(ala )an !an)a
,ejala klinis 9
*kut
Kronis (minimal 3 (ulan menderita)
Paling sering dikeluhkan9 5D-:I
ProstatHperineum 9 &! %
Skrotum dan atau 1estis 9 39 %
Penis 9 ! %
Kandung kemih 9 ! %
Punggung 9 # %
dan @+1S 9
Sering 0*K
Sulit 0*K seperti pan%aran lemah/ mengedan
5yeri saat 0*KHnyeri (ertam(ah saat 0*K
Diagn"i
.iagnosis ditegakkan dengan metoda urin empat porsi (Stamey-=eares)
pemeriksaan ini termasuk kultur urin inisial (A0$)/ urin porsi tengah (A0#)/
sekret prostat pas%a masase prostat (-PS)/ dan urin pas%a masase prostat.
Balaupun pemeriksaan metoda urin empat porsi ini masih menjadi pemeriksaan
(aku emas/ (e(erapa sur2ey menunjukkan pemeriksaan ini mem(utuhkan
(anyak aktu dan le(ih mahal. Saat ini dapat disarankan pemeriksaan metoda
dua porsi (urin premasase dan urin post masase) yang le(ih simpel. +rin
premasase diam(il urin porsi tengan dan urin inisial $' %% pas%a masase prostat.
Pemeriksaan ini memiliki angka sensitifitas dan spesifisitas men%apai 9$ %.
Pena!alakanaan
30
Prostatitis (akterial akut dapat merupakan infeksi yang serius/ di(utuhkan
pem(erian *0 parenteral dosis tinggi seperti aminoglikosid dan deri2at penisillin/
atau sefalosporin generasi ke 3/ sampai keadaan mem(aik atau normalnya
parameter tanda infeksi. Pada kasus yang le(ih ringan dapat di(erikan
fluorokuinolon peroral sedikitnya $' hari.
Prostatitis (akterial kronis dan Inflamasi 3PPS di(erikan fluorokuinolon atau
trimetoprim per oral selama # minggu sejak diagnosis aal. Kemudian pasien
harus dinilai kem(ali/ dan *0 diteruskan jika kultur se(elum terapi positif atau
pasien merasa adanya efek positif terapi. .isarankan periode pengo(atan & F !
minggu.
EPIDIDIMITIS / ORKHITIS
De&inii
-pididimitis adalah peradangan H inflamasi pada epididimis/ yang menye(a(kan
rasa nyeri dan pem(engkakan/ (iasanya unilateral dan tim(ul dengan %epat.
Pada (e(erapa kasus/ testis juga terli(at dalam proses inflamasi (epididimo-
orkhitis).
)rkhitis adalah peradangan pada testis/ umumnya dise(a(kan oleh 2irus dan
juga kadang-kadang meli(atkan epididimis.
Kuman patogen
0akteri
5on spesifik 9 3. tra%homatis
Spesifik 9 =. tu(er%ulosa
Airus 9 mumps
Imunologis 9 auto imun
Diagn"i
31
Klinis 9 tanda-tanda inflamasi
+rinalisis/ kultur urine
Penge%atan gram dari urine H sekret urethra
Kalau perlu 9 - -jakulat analisis
- Ig. =
- *nalisa sperma
Pena!alakanaan
Pem(erian anti(iotika (Jluoro;uinolon atau .oMy%ylin) selama # minggu. *nti
inflamasi dan anti nyeri dapat di(erikan untuk mengurangi gejala.
.aftar Pustaka 9
1. 5a(er K,/ 0ergman 0/ 0ishop =3/ >ohansen 1-0/ 0otto ?/ @o(el 0 (ed).
-uropean *sso%iation of +rology 9 ,uidelines on +rinary and =ale ,enital 1ra%t
Infe%tions. #''$.
2. ?ua A5/ S%haeffer *>. *%ute and %hroni% prostatitis. =ed 3lin 5 *m #''& (77)
&73F&9&.
3. =eares -=. Prostatitis. =ed 3lin of 5orth *m $99$ (<") 9 &'"-&#&.
32
ANTIBIOTIKA PRO$ILAKSIS PERIOPERATI$ DI BIDANG UROLOGI
Pen)a#uluan
*nti(iotika profilaksis perioperatif masih menim(ulkan kontro2ersi sejak "' tahun
dikenalkan. *nti(iotika ini merupakan salah satu komponen pen%egahan infeksi
nosokomial. Pem(erian anti(iotika ini tidak dapat menggantikan tindakan
inter2ensi yang tidak (aik.
1ujuan dari pem(erian anti(iotika profilaksis perioperatif adalah mem(atasi
infeksi yang (erhu(ungan dengan tindakan inter2ensi.
Ke(utuhan pem(erian tindakan anti(iotika profilaksis perioperatif tergantung dari
tindakan inter2ensi dan faktor risiko indi2idu. Jaktor yang meningkatkan risiko
infeksi pada inter2ensi urologi dapat dilihat pada ta(el $.
1a(el $. Jaktor resiko yang meningkatkan resiko infeksi pada inter2ensi urologi
Jaktor resiko karena 9
Kondisi pasien Peningkatan jumlah (akteri
Q Penurunan kondisi umum
Q .isfungsi meta(olik (seperti dia(etes mellitus)
Q Immunosuppressi
Q :e-operasi
Q :esiko khusus (katup jantung (uatan)
Q )perasi yang (erhu(ungan dengan segmen
usus
Q 0iopsi prostat transrektal
Q Penggunaan kateter jangka panjang
Q Kondisi o(struksi
Pili#an an!ibi"!ika
*nti(iotika yang %o%ok harus memiliki efekti2itas yang tinggi/ ditoleransi dengan
(aik dan murah. Spektrum anti(akterinya harus men%akup seluruh flora normal
dan patogen yang (iasanya terdapat pada tempat operasi dan di atas kulit
sekitar dan mem(ran mukosa.
Pada penderita yang diraat lama se(elum operasi/ harus dipertim(angkan
spektrum (akteri nosokomial lokal dan pola resistensinya.
33
.ata dari -*+ guidelines/ kuman tersering se(agai penye(a( infeksi nosokomial
dan infeksi luka operasi adalah -s%heri%hia %oli/ Proteus mira(ilis/ -ntero%o%%i/
Pseudomonas spp./ Staphylo%o%%i spp./ 3andida spp.
Baktu pem(erian anti(iotika profilaksis perioperatif antara I $ jam se(elum
operasi/ sampai maksimal #& jam pas%a operasi. Pem(erian antio(iotika
profilaksis perioperatif kurang (ermanfaat (ila di(erikan G $ jam se(elum operasi
atau setelah penutupan kulit.
1a(el#. :ekomendasi anti(iotika profilaksis perioperatif urologi (-*+ ,uidelines)
Prosedur Patogen ter(anyak *nti(iotika pilihan *nti(iotika *lternatif Keterangan
)perasi ter(uka
1raktus urinarius
dengan segmen
saluran %erna
-ntero(a%teria%eae
-ntero%o%%i
*naero(es
Bound infe%tion9
Staphylo%o%%i
*minopeni%illinH0@I
Sefalosporin
(,enerasi ke-#)
HmetronidaEole
Pasien resiko tinggi9 U
Sefalosporin (,enerasi
ke-3) U
*%ylaminopeni%illinH0@I
Semua pasien
1raktus urinarius
tanpa segmen
saluran %erna
-ntero(a%teria%eae
-ntero%o%%i
Bound infe%tion9
Staphylo%o%%i
Jluoro;uinolonU
Sefalosporin
(,enerasi ke-#)
*minopeni%illinH0@I
Pasien resiko tinggi9 U
Sefalosporin (,enerasi
ke-3) U
*%ylaminopeni%illinH0@I
Pasien
dengan resiko
tinggi infeksi
ImplantHprosthesis9
penis/ sfingter
Staphylo%o%%i
Sefalosporin
(,enerasi ke-$ atau
#)
Semua pasien
)perasi :ekonstrusi
genital
Staphylo%o%%i
Sefalosporin
(,enerasi ke-$ atau
#)
Pada operasi
sekunder dan
pasien dengan
resiko tinggi
infeksi
Inter2ensi lain di luar
traktus urinarius
Staphylo%o%%i
Sefalosporin
(,enerasi ke-$ atau
#)
Pasien
dengan resiko
tinggi infeksi
)perasi dengan instrumentasi endoskopi
34
+retra/ Prostat/ 0uli-
(uli/ +reter dan
ginjal termasuk
Per%utaneous
litholapaMy dan
-SB@
-ntero(a%teria%eae
Staphylo%o%%i
-ntero%o%%i
Jluoro;uinolonU
*minopeni%illinH0@I
Sefalosporin
(,enerasi ke-#)
Josfomy%in
trometamol
3o-trimoMaEole
*minogly%osida
Pasien
dengan resiko
tinggi infeksi
.iagnostik inter2ensi
0iopsi prostat
transrektal (dengan
jarum (esar)
-ntero(a%teria%eae
-ntero%o%%i
*naero(es
Strepto%o%%i
Jluoro;uinolonU
*minopeni%illinH0@I
Sefalosporin
(,enerasi ke-#) H
metronidaEole
*minoglikosida
3o-trimoMaEole
Semua pasien
0iopsi prostat
perineal
+retrosistoskopi
+reterorenoskopi
Per%utaneous
pieloskopi
Prosedur
laparoskopi
-ntero(a%teria%eae
-ntero%o%%i
Staphylo%o%%i
Jluoro;uinolonU
*minopeni%illinH0@I
Sefalosporin
(,enerasi ke-#)
3o-trimoMaEole
Pasien
dengan resiko
tinggi infeksi
.aftar Pustaka 9
5a(er K,/ 0ergman 0/ 0ishop =3/ >ohansen 1-0/ 0otto ?/ @o(el 0 (ed). -uropean
*sso%iation of +rology 9 ,uidelines on +rinary and =ale ,enital 1ra%t Infe%tions. #''$.
35
IN$EKSI SPESI$IK TUBERKULOSIS
.efinisi
Infeksi yang dise(a(kan oleh =y%o(a%terium tu(er%ulosis yang mem(erikan
respon spesifik granulomatosa kronik
Insidens
Indonesia termasuk memiliki pre2alensi yang tinggi infeksi tu(erkulosis. Infeksi
tu(erkulosis saluran kemih men%apai #' F &'% dari infeksi tu(erkulosis
keseluruhan di negara-negara (erkem(ang. Selain itu infeksi tu(erkulosis saat
ini mulai meningkat dengan adanya infeksi ?IA. =enurut Pedoman 5asional
Program Penanggulangan 1u(erkulosis .epartemen Kesehatan :I/ infeksi
tu(er%ulosis saluran kemih termasuk kategori tu(erkulosis ekstra paru (erat.
Patogenesis
Penye(aran infeksi tu(erkulosis ke saluran kemih dan genitalia pria dengan %ara
hematogenik pada organ ginjal/ prostat dan epididimis. Sedangkan organ lainnya
penye(aran melalui urin atau perkontinuitatum dari organ yang dise(utkan
se(elumnya.
.iagnosis
Penegakan diagnosis tu(erkulosis saluran kemih %ukup sulit karena gejalanya
tidak spesifik. @angkah yang penting untuk mendiagnosis infeksi ini adalah
riayat perkem(angan penyakit.
*namnesis
:iayat pernah mengalami infeksi tu(erkulosis se(elumnya (terutama pada
paru) merupakan petunjuk yang penting.
:iayat gangguan miksi dan urgen%y yang kronik yang tidak respon terhadap
pem(erian anti(iotika sering menunjukkan infeksi tu(erkulosis.
36
Perlu diperhatikan pasien dengan memiliki rasa lemas disertai keluhan gangguan
saluran kemih yang lama tanpa disertai penye(a( yang jelas.
,ejala yang dapat terjadi/ nyeri pada punggung/ pinggang dan suprapu(ik/
hematuria/ fre;uen%y dan nokturia. ,ejala tam(ahan lain demam/ penurunan
(erat (adan dan keringat malam.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksan fisik umum 9
indeks masa tu(uh yang rendah
infeksi tu(erkulosis di luar traktus urogenital (paru/ tulang/ limpa/ tonsil
dan usus).
Pemeriksaan urologis 9
,injal 9 nyeri tekan/ massa pada ginjal/ a(ses
Suprapu(ik 9 adanya nyeri tekan
,enitalia eksterna 9 pene(alan/ pengerasan atau perlunakan pada epiodidimis/
ditemukannya sinus kronik
Prostat 9 adanya indurasi atau nodul
Pemeriksaan penunjang
1es tu(erkulin 9
.ilakukan penyuntikan protein tu(erkulin se%ara intra dermal reaksi inflamasi
pada lokasi penyuntikan akan men%apai ukuran maksimalnya setelah &7 F <#
jam setelah penyuntikan. :espon tu(uh dapat (erkurang pada keadaan kurang
giEi/ dalam terapi steroid/ dalam terapi radiasi/ pasien dengan *I.S atau kanker.
?asil tes tu(erkulin yang positif menunjang diagnosis tu(erkulosis tetapi hasil
negatif tidak (erarti menyingkirkan kemungkinan adanya manifestasi ekstra
pulmonal.
Pemeriksaan urin
37
Pada pemeriksaan dapat ditemukan sel darah merah/ leukosit/ konsentrasi dan
p? urin. Balaupun sering mem(erikan hasil steril akan tetapi tetap perlu
dilakukan kultur urin karena pada #' % kasus dapat disertai infeksi (akteri
sekunder.
Pemeriksaan mikroskopik (akteri tahan asam tetap perlu dilakukan alaupun
tidak dapat diandalkan karena sering didapat =. smegmatis yang juga
merupakan (akteri tahan asam.
Penegakkan diagnosis (erdasarkan hasil kultur dengan media yang khusus
(media @oenstein >ensen dan media telur pyru2i%). Pengam(ilan urin dilakukan
pada pagi hari selama 3 hari (erturut F turut (atau dapat men%apai " hari.
Pemeriksaan P3: (%olymerase $hain (eaction) pada urin memiliki sensitifitas
dan spesifisitas men%apai 7' % untuk mendiagnosis kuman =. 1u(er%ulosis
Pemeriksaan :adiologis
Pemeriksaan radiologis untuk menentukan derajat kerusakan yang terjadi aki(at
proses infeksi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan foto polos a(domen/ IAP/
:P,/ +S, dan 31 s%an.
Pemeriksaan endoskopi
Pemeriksaan endoskopi (ertujuan untuk menilai kondisi (uli-(uli serta dapat
untuk mengam(il sampel urin dari ginjal pada sisi yang dianggap terinfeksi
Pemeriksaan (iopsi
0iopsi dapat dilakukan pada (uli-(uli dan epididimis. 0iopsi (uli dikontraindikasi
(ila terdapat tu(erkulosis sistitis akut (erupa gejala seperti sistitis akut dan pada
sistoskopi didapatkan dinding (uli yang hiperemis dan edema.
Penatalaksanaan
1erapi medikamentosa
1erapi medikamentosa merupakan terapi utama untuk infeksi tu(erkulosis.
0erdasarkan kepustakaan/ melalui follow up selama &' tahun/ dilaporkan masa
38
pem(erian terapi antitu(erkulosis minimal ! (ulan. 0erdasarkan B?) dan
.epartemen Kesehatan :I/ pem(erian o(at antitu(erkulosis untuk tu(erkulosis
saluran kemih termasuk kategori $ 9 yaitu
$. Jase aal (intensif) 9 # ?:P- 9 # (ulan di(erikan o(at (erupa
IsoniaEid (?)
.osis harian yang dianjurkan " mgHkg 00
:ifampisin (:)
.osis harian yang dianjurkan $' mgHkg 00
PiraEinamid (P)
.osis harian yang dianjurkan #" mgHkg 00
-tam(utol (-)
.osis harian yang dianjurkan $" mgHkg 00
#. Jase lanjutan 9
& (ulan di(erikan IsoniaEid dengan dosis $' mgH kg 3 kali seminggu dan
:ifampisin dengan dosis harian yang dianjurkan $' mgHkg 00 3 kali
seminggu (& ?3:3)
1a(el. Panduan Pem(erian )(at *ntitu(erkulosis (Kategori $ menurut .epartemen
Kesehatan :I)
1ahap
Pengo(atan
@amanya
pengo(atan
.osis per hari H kali
>umlah hari H
kali menelan
o(at
1a(let
IsoniaEid
V 3'' mg
1a(let
:ifampisin
V &"' mg
1a(let
PiraEinamid
V "'' mg
1a(let
-tham(utol
V #"' mg
1ahap Intensif
(dosis harian)
# (ulan $ $ 3 3 !'
1ahap lanjutan
(dosis 3 M
seminggu)
& (ulan # $ --- --- "&
Uuntuk (erat (adan 33 F "' kg
Pada kasus sulit seperti rekurens tu(erkulosis/ imunosupresi dan ?IA/ pem(erian
antitu(erkulosis dapat men%apai 9 F $# (ulan.
Pada kasus multi drug resistence di(erikan terapi yang terdiri dari & jenis o(at
yang dipilih (erdasarkan tes resistensi o(at seperti ethionamide/ prothionamide/
;uinolones/ %larithromy%in/ %y%loserin/ kanamy%in/ 2iomy%in/ %aproemy%in/
thiaa%etaEone dan pa-amino-sali%ide a%id.
39
1erapi pem(edahan
1erapi pem(edahan merupakan terapi pertama pada kasus sepsis dan a(ses.
*(ses harus segera didrainase. 5efrektomi dilakukan pada ginjal yang tidak
(erfungsi/ menim(ulkan komplikasi hipertensi atau ditemukan (ersamaan
dengan tumor ginjal. -pididime%tomy dilakukan pada kasus a(ses yang tidak
respon terhadap terapi atau pem(engkakan yang tidak (erkurang atau
(ertam(ah (esar pada saat terapi antitu(erkulosis
1erapi pem(edahan rekonstruksi dilakukan untuk mengkoreksi komplikasi yang
ditim(ulkan aki(at infeksi.
1erapi pem(edahan (aru dapat dilakukan setelah pasien mendapatkan minimal
& minggu pem(erian antitu(erkulosis.
.aftar pustaka 9
$. .epartemen Kesehatan :epu(lik Indonesia. Pedoman 5asional
Penanggulangan 1u(ekulosis. #''#.
#. >ohnson B./ >ohnson 3B/ @oe J3. 1u(er%ulosis and Parasiti% .iseases of
the ,enitourinary System. .alam 9 Balsh P3. 3amp(ellLs +rology Aol $. 7
th
edition. B0 Saunders 3ompany. #''#8 <&&-9!.
3. 3ek =/ @enk S/ 5a(er K,/ 0ishop =3/ >ohansen 1-0/ 0otto ?/ et *l. -*+
,uidelines for the =anagement of ,enitourinary 1u(er%ulosis. -ur +rol #''"/ &78
#"3-!#.
40