Anda di halaman 1dari 70

dari redaksi

EVALUASI DIRI ADALAH CIRI KEMATANGAN

Tidak ada yang abadi di dunia ini, yang abadi adalah yang tidak abadi. Segala sesuatu akan berubah, yang tidak berubah adalah perubahan. Terkadang perubahan adalah hal yang tidak menyenangkan. Apalagi kita berpikir dan merasa keadaan kita sangat baik. Pepatah mengatakan penemuan terbesar dalam hidup adalah menemukan hal yang luar biasa dari keadaan yang biasa atau mungkin kita bisa mengatakan the enemy of a great life is a good life. Mudah sekali untuk meneruskan apa yang sudah berjalan dengan rutinitas yang ada. Mengapa harus membebani diri dengan perubahan? Perubahan adalah esensi dari pemastian akan sebuah kualitas, yang lebih dikenal dengan penjaminan mutu (Quality Assurance). Siapa yang berkepentingan dalam penjaminan mutu di perguruan tinggi? Walaupun pada hakikatnya kita adalah institusi yang memiliki otonomi, tetapi kita bertanggung jawab terhadap semua stakeholders, pemerintah, mahasiswa/keluarganya, asosiasi profesi, pemberi dana, dunia usaha dan industri, dan staf. Setiap usaha penjaminan mutu dimulai dengan evaluasi diri. Tujuan evaluasi diri adalah untuk mendapatkan profil diri yang komprehensif untuk perencanaan dan perbaikan diri yang berkesinambungan, jaminan mutu internal lembaga, dan persiapan untuk evaluasi eksternal (akreditasi). Untuk itu semua diperlukan kematangan. Mari kita meningkatkan daya saing nasional melalui peningkatan mutu.

petunjuk untuk penulis

Majalah Kedokteran Nusantara (MKN) adalah publikasi bulanan yang menggunakan sistem peer-review untuk seleksi makalah. MKN menerima artikel penelitian yang original yang relevan dengan bidang kesehatan, kedokteran dan ilmu kedokteran dasar di Indonesia. MKN juga menerima tinjauan pustaka, laporan kasus, penyegar ilmu kedokteran, universitas, ceramah dan surat kepada redaksi.

1. Artikel Penelitian: Berisi artikel mengenai hasil penelitian original dalam ilmu kedokteran dasar maupun terapan, serta ilmu kesehatan pada umumnya. Format terdiri dari: Pendahuluan; berisi latar belakang, masalah dan tujuan penelitian. Bahan dan Cara; berisi desain penelitian, tempat dan waktu, populasi dan sampel, cara pengukuran data, dan analisa data. Hasil; dapat disajikan dalam bentuk tekstular, tabular, atau grafika. Berikan kalimat pengantar untuk menerangkan tabel dan atau gambar terapi jangan mengulang apa yang telah disajikan dalam tabel/gambar. Diskusi; Berisi pembahasan mengenai hasil penelitian yang ditemukan. Bandingkan Hasil teresbut dengan Hasil penelitian lain. Jangan mengulang apa yang telah ditulis pada bab. Hasil Kesimpulan: Berisi pendapat penulis berdasarkan hasil penelitiannya. Ditulis ringkas, padat dan relevan dengan hasil.

2. Tinjauan Pustaka: Merupakan artikel review dari jurnal dan atau buku mengenai ilmu kedokteran dan kesehatan yang mutakhir.

3. Laporan Kasus: Berisi artikel tentang kasus di klinik yang cukup menarik dan baik untuk disebarluaskan di kalangan sejawat lainnya. Format terdiri atas: Pendahuluan, Laporan Kasus, Pembahasan.

4. Penyegar Ilmu Kedokteran: berisi artikel yang mengulas berbagai hal lama tetapi masih up to date dan perlu disebarluaskan.

5. Ceramah: tulisan atau laporan yang menyangkut dunia kedokteran dan kesehatan yang perlu disebarluaskan.

6. Editorial: berisi artikel yang membahas berbagai masalah ilmu kedokteran dan kesehatan yang dewasa ini sedang menjadi topik di kalangan kedokteran dan kesehatan.

Petunjuk Umum Makalah yang dikirim adalah makalah yang belum pernah dipublikasikan. Untuk menghindari duplikasi, MKN tidak menerima makalah yang juga dikirim pada jurnal lain pada waktu yang bersamaan untuk publikasi. Penulis harus memastikan bahwa seluruh penulis pembantu telah membaca dan menyetujui makalah. Semua makalah yang dikirimkan pada MKN akan dibahas para pakar dalam bidang keilmuan tersebut (peer- review) dan redaksi. Makalah yang perlu perbaikan formata atau isinya akan dikembalikan pada penulis untuk diperbaiki. Makalah yang diterbitkan harus memiliki persetujuan komisi etik. Laporan tentang penelitian pada manusia harus memperoleh persetujuan tertulis (signed informed consent).

Penulisan Makalah Makalah, termasuk tabel, daftar pustaka, dan gambar harus diketik 2 spasi pada kertas ukuran 21,5 x 28 cm (kertas A4) dengan jarak tepi minimal 2,5 cm jumlah halaman maksimum 20. Setiap halaman diberi nomor secara berurutan dimulai dari halaman judul sampai halaman terakhir. Kirimkan sebuah makalah asli dan 2 buah fotokopi seluruh makalah termasuk foto serta disket. Tulis nama file dan program yang digunakan pada label disket. Makalah dan gambar yang dikirim pada MKN tidak akan dikembalikan pada penulis. Makalah yang dikirim untuk MKN harus disertai surat pengantar yang ditandatangani penulis.

Halaman Judul Halaman judul berisi judul makalah, nama setiap penulis dengan gelar akademik tertinggi dan lembaga afiliasi penulis, nama dan alamat korespondensi, nomor telepon, nomor faksimili dan alamat e-mail. Judul singkat dengan jumlah maksimal 40 karakter termasuk huruf spasi. Untuk laporan kasus, dianjurkan agar jumlah penulis dibawati sampai 4 orang.

Abstrak dan Kata Kunci Abstrak untuk Artikel Penelitian, Tinjauan Pustaka, dan Laporan Kasus dibuat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam bentuk tidak terstruktur dengan jumlah maksimal 200 kata. Artikel penelitian harus berisi tujuan penelitian, metode, hasil utama dan kesimpulan utama. Abstrak dibuat ringkas dan jelas sehingga memungkinkan pembaca memahami tentang aspek baru atau penting tanpa harus membaca seluruh makalah.

Teks Makalah Teks makalah disusun menurut subjudul yang sesuai yaitu Pendahuluan (Introduction), Metode (Methods), hasil (Results) dan diskusi (Discussion) atau format IMRAD.

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

iv 3

Cantumkan ukuran dalam unit/satuan System Internationale (SI units). Jangan menggunakan singkatan tidak baku. Buatlah singkatan sesuai anjuran Style Manual for Biological Sciences misal mm, kcal. Laporan satuan panjang, tinggi, berat dan isi dalam satuan metrik (meter, kilogram, atau liter). Jangan memulai kalimat dengan suatu bilangan numerik, untuk kalimat yang diawali dengan suatu angka, tetapi tuliskan dengan huruf.

Tabel Setiap tabel harus diketik 2 spasi. Nomor tabel berurutan sesuai dengan urutan penyebutan dalam teks. Setiap tabel diberi judul singkat. Setiap kolom diberi subjudul singkat. Tempatkan penjelasan pada catatan kaki, bukan pada judul. Jelaskan dalam catatan kaki semua singkatan tidak baku yang ada pada tabel, jumlah tabel maksimal 6 buah.

Gambar Kirimkan gambar yang dibutuhkan bersama makalah asli. Gambar sebaiknya dibuat secara profesional dan di foto. Kirimkan cetakan foto yang tajam, di atas kertas kilap, hitam-putih, ukuran standar 127x173 mm, maksimal 203x254 mm. Setiap gambar harus memiliki label pada bagian belakang dan berisi nomor gambar, nama penulis, dan tanda penunjuk bagian “atas” gambar. Tandai juga bagian “depan”. Bila berupa gambar orang yang mungkin dapat dikenali, atau berupa illustrasi yang pernah dipublikasikan maka harus disertai izin tertulis. Gambar harus diberi nomor urut sesuai dengan pemunculan dalam teks, jumlah gambar maksimal 6 buah.

Metode Statistik Jelaskan tentang metode statistik secara rinci pada bagian “Metode”. Metode yang tidak lazim, ditulis secara rinci berikut rujukan metode tersebut.

Ucapan Terimakasih Batasi ucapan terimakasih pada para profesional yang membantu penyusunan makalah, termasuk pemberi dukungan teknis, dana dan dukungan umum dari suatu institusi.

Rujukan Rujukan ditulis sesuai aturan penulisan Vancouver, diberi nomor urut sesuai dengan pemunculan dalam keseluruhan teks, bukan menurut abjad. Cantumkan semua nama penulis bila tidak lebih dari 6 orang; bila lebih dari 6 orang penulis pertama diikuti oleh et al. Jumlah rujukan sebaiknya dibatasi sampai 25 buah dan secara umum dibatasi pada tulisan yang terbit dalam satu dekade terakhir. Gunakan contoh yang sesuai dengan edisi ke-5 dari Uniform Requirements for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals yang disusun oleh International committee of Medical Journal Editors, 1997. Singkatan nama jurnal sesuai dengan Index Medicus. Hindari penggunaan abstrak sebagai rujukan. Untuk materi telah dikirim untuk publikasi tetapi belum diterbitkan harus dirujuk dengan menyebutkannya sebagai pengamatan yang belum dipublikasi (Unpublished observations) seizin sumber. Makalah yang telah diterima untuk publikasi tetapi belum terbit dapat digunakan sebagai rujukan dengan perkataan “in press”. Contoh:

Leshner Al. Molecular mechaisms of cocine additiction. N Engl J Med. In press 1996.

Hindari rujukan berupa komunikasi pribadi (personal communication) kecuali untuk informasi yang tidak mungkin diperoleh dari sumber umum. Sebutkan nama sumber dan tanggal/komunikasi, dapatkan izin tertulis dan konfirmasi ketepatan dari sumber komunikasi.

Makalah dikirimkan pada:

Pemimpin Redaksi Majalah Kedokteran Nusantara Jl. dr. Mansur No. 5 Medan 20155 Indonesia

DAFTAR ISI

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006 ISSN: 0216-325X

Susunan Redaksi

 

i

Dari Redaksi

ii

Petunjuk untuk Penulis

iv

Daftar Isi

vi

KARANGAN ASLI

 

Terapi Glaukoma Primer Sudut Tertutup Akut dengan Iridoplasti dan Iridotomi Laser

135

Edi S. Affandi, Indriani Pudjiastuti

 

Data Concerning Primary Angle Closure Glaucoma in Indonesia

 

142

Edi S. Affandi

 

Retinoblastoma in Children in Haji Adam Malik Hospital Medan

 

149

Selvi Nafianti

 

A

Comparative Study on The Physical Fitness Level Using The Harvard, Sharkey, and

153

Kash Step Test

 

Gusbakti Rusip

Translokasi Kuman pada Obstruksi Usus Mekanik Sederhana

 

157

di

RSUP H. Adam Malik/RSUD Dr. Pirngadi Medan

 

Bachtiar Surya

 

Maternal and Fetal Complications of Cesarean Deliveries

 

165

Daulat H. Sibuea

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

The Use of Versapoint in Operative Hysteroscopy

 

170

Budi R. Hadibroto

 

Anatomi Retroperitoneal Laparoskopik

 

175

Budi R. Hadibroto

 

Disfungsi Seksual pada Penderita Diabetes Mellitus Pria

 

180

Ridwan Harahap

 

Pedoman Peri-operatif Renal Assessment

 

184

Usul M. Sinaga

 

LAPORAN KASUS

 

Kematian Maternal pada Aborsi Berisiko

 

190

Daulat H. Sibuea

 

Perubahan

Kualitas

Hidup

Penderita

Pembesaran

Prostat

Jinak

Pasca-prostatektomi

193

Terbuka

 

Usul M. Sinaga, Harry B., Aznan Lelo

KARANGAN ASLI

Terapi Glaukoma Primer Sudut Tertutup Akut dengan Iridoplasti dan Iridotomi Laser

Edi S. Affandi, Indriani Pudjiastuti Departemen Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta

Abstrak: Glaukoma primer sudut tertutup akut merupakan kasus kedaruratan medis yang penatalaksanaannya mengharuskan melakukan tindakan iridotomi (iridektomi) sebagai terapi definitifnya, baik dengan sinar laser atau bedah insisional. Tidak jarang iridotomi laser sulit dilakukan karena sulitnya focusing laser oleh adanya edema kornea. Dilaporkan kasus glaukoma primer sudut tertutup akut yang dilakukan tindakan iridoplasti laser lebih dahulu sehingga membantu menurunkan tekanan intra okuler dan menjadikan kornea lebih jernih sebelum melakukan iridotomi laser.

Abstract: Acute primary angle closure glaucoma is a medical emergency and the management prescribed iridotomy (iridectomy) as definitive treatment, whether by incisional or laser surgery. It is not uncommon that laser iridectomy is hard to perform because the difficulty to focus the laser ray due to corneal edema. Case of acute primary angle closure glaucoma treated with laser iridoplasty first to help reducing intra ocular pressure and make clearer cornea before performing laser iridotomy is reported.

PENDAHULUAN Glaukoma Primer Sudut Tertutup Akut adalah glaukoma primer akibat sudut bilik mata depan tertutup secara tiba-tiba oleh jaringan iris sehingga tekanan intraokular mendadak meningkat sangat tinggi. 1-3 Gejala yang timbul adalah rasa sakit yang hebat disertai dengan penglihatan kabur, mata merah, kornea keruh, mual, dan muntah. 1-4 Penatalaksanaan glaukoma primer sudut tertutup akut pada dasarnya dapat dibagi dalam 4 tahap, yaitu segera menghentikan serangan akut dengan obat-obatan, melindungi mata sebelahnya dari kemungkinan terkena serangan akut, melakukan iridektomi perifer pada kedua mata sebagai terapi definitif serta penatalaksanaan sekuele jangka panjang. 1 Obat-obatan yang biasa dipakai adalah golongan hyperosmotic agent, penghambat karbonik anhidrase, antagonis β adregernik, α adrenergik dan tetes mata para simpatomimetik. 1-2 Kadang-kadang dengan

obat-obatan tekanan intraokuler tidak dapat diturunkan, sehingga tindakan iridektomi perifer sebagai terapi definitif sulit dilakukan akibat epitel kornea yang udema. Pada keadaan tersebut, salah satu alternatif menurunkan tekanan intraokuler adalah dengan melakukan iridoplasti (peripheral

iridoplasy, gonioplasty) 1,3-4 sebelum iridektomi

laser dapat dilakukan. Serangan akut pada glaukoma primer sudut tertutup harus segera diatasi agar kerusakan trabekulum, saraf optik, dan lensa dapat diminimalkan serta pembentukan sinekhia posterior dan sinekhia perifer anterior (PAS) dapat dicegah. Jika tekanan intraokuler sudah dapat diturunkan, maka iridektomi perifer sebagai terapi definitif harus segera dikerjakan untuk mencegah terjadinya serangan akut yang berulang. Pada keadaan di mana sudah terbentuk PAS yang luas, iridektomi perifer saja mungkin tidak cukup untuk mengontrol tekanan intraokular dan operasi filtrasi

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

135

Karangan Asli

mungkin diperlukan. 1,4 Dalam penatalaksanaan glaukoma primer sudut tertutup akut sering timbul masalah dalam memutuskan tindakan bedah inisial apa yang akan diambil, apakah cukup iridektomi perifer saja atau memerlukan operasi filtrasi, terutama pada kasus-kasus dengan serangan akut yang cukup lama. Pada makalah ini akan dipresentasikan sebuah kasus glaukoma primer sudut tertutup akut dengan waktu serangan yang sudah cukup lama, kemudian dilakukan iridoplasti dan iridotomi perifer laser. Tekanan intraokulernya dapat terkontrol dalam 10 bulan pengamatan, tanpa memerlukan tindakan operasi filtrasi. Tujuan dari presentase ini adalah mengemukakan iridoplasti sebagai tindakan pertama dalam menurunkan tekanan intraokuler dan menjelaskan penatalaksanaan glaukoma primer sudut tertutup akut yang dianjurkan saat ini, berkaitan dengan masalah di atas.

LAPORAN KASUS Seorang laki-laki berusia 55 tahun dirujuk ke Poliklinik Subbagian Glaukoma RSCM oleh dokter spesialis mata (SpM) RS luar dengan glaukoma akut mata kirinya. Pasien mengeluh mata kirinya sakit, merah, dan pandangan mata kabur disertai dengan mual dan muntah. Sejak 20 hari yang lalu pasien berobat ke SpM dengan hasil pemeriksaan visus mata kanan 6/10, TIO 4/7,5, mata kiri visus 3/60 dan TIO 2/10, mata merah. Diberikan obat-obatan pilokarpin 2% 6xOS, timolol 0,25% 2xOS, steroid topikal 6xOS, asetazolamid 3x250mg dan KCL 3x1 tablet. Empat hari kemudian pasien kontrol dan didapatkan perbaikan klinis di mana mata kanan visus 6/6 dan TIO 8/7,5 sedangkan mata kiri visus 6/12 dan TIO 12/7,5. Sepuluh hari yang lalu pasien kembali mengeluh sakit yang sama pada mata kirinya, pandangan mata kabur disertai mual dan muntah, padahal menurut pasien obat-obatan masih dipakai. Dua hari kemudian pasien berobat lagi ke spesialis mata dan pada pemeriksaan didapatkan mata kanan visus 6/6 dan TIO 8/7,5 sedangkan mata kiri visus 2/60, TIO 2/10, obat-obatan diteruskan. Keluhan kemudian agak berkurang, sampai kira-kira 3 hari yang lalu timbul kembali keluhan seperti di atas. Kemudian pasien berobat ke spesialis

mata tersebut 1 hari yang lalu dan didapatkan visus mata kanan 6/6 dan TIO 7/7,5 sedangkan mata kiri visus 1/300 proyeksi cahaya baik dan TIO 2/10 dan akhirnya pasien dirujuk ke RSCM. Riwayat hipertensi dan diabetes disangkal. Pada pemeriksaan fisik di RSCM, didapatkan keadaan umum baik, gizi cukup, kesadaran kompos mentis, tekanan darah 150/90 mmHg, suhu afebril, nadi 80x/menit

dan pernafasan 20x/menit. muntah (-).

Pemeriksaan oftalmologis mata kanan didapatkan visus 6/6, TIO 13 mmHg, pergerakan baik ke segala arah, palpebra dan konjungtiva tenang, kornea jernih, bilik mata

depan dangkal, gambaran iris baik, pupil miosis dengan reflek, lensa dan vitreus jernih serta pada funduskopi tampak papil bulat, batas tegas dengan CD rasio 0,3, perbandingan arteri dan vena 2:3, reflek makula (+) dan gambaran retina normal. Pemeriksaan oftalmologis mata kiri didapatkan visus 6/60, TIO 71 mmHg, palpebra udem dan spasme, konjungtiva bulbi hiperemis dengan injeksi konjungtiva dan injeksi silier, kornea udem, bilik mata depan dangkal, gambaran iris masih baik, pupil middilatasi dengan reflek cahaya menurun, lensa katarak Vogt dan vitreus jernih serta pada funduskopi tampak papil udem dengan

CD rasio sulit dinilai, refleks makula menurun

dengan gambaran retina baik. Pemeriksaan gonioskopi pada mata kanan tampak sudut terbuka sempit 360° dengan ketebalan pigmen derajat 1 sedangkan pada mata kiri sudut tertutup 360°. Pasien didiagnosis sebagai glaukoma primer sudut tertutup akut mata kiri dan hipertensi ringan. Terapi yang diberikan adalah iridoplasti dengan argon laser. Energi

yang digunakan 500 mW, ukuran spot 500µm, waktu paparan 0,2 detik sebanyak 50 kali. Sebelum tindakan diberikan tetrakain 0,5%, pilokarpin 2%, dan timolol 0,5% tetes mata pada mata kiri. Sembilan puluh menit kemudian, setelah tekanan intraokular dapat diturunkan dan kornea menjadi jernih, dilakukan iridotomi perifer laser. Digunakan argon dan Nd:Yag laser untuk membuat iridotomi perifer. Sebelum tindakan diberikan tetrakain 0,5% tetes mata pada mata kiri. Setelah iridoplasti, tekanan intraokular dapat diturunkan menjadi 50 mmHg dalam

136

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

Edi S. Affandi dkk.

Terapi Glaukoma Primer Sudut Tertutup Akut …

15 menit, 40 mmHg dalam 30 menit, 32

mmHg dalam 60 menit dan 25 mmHg dalam

90 menit. Kemudian pasien dirawat dengan

diberikan obat-obatan timolol 0,5% 2x mata kiri, steroid topikal 4x mata kiri dan pilokarpin 2% 4x mata kanan. Tekanan intraokular 6 jam pasca tindakan iridotomi

9/7,5.

Keesokan harinya pada pemeriksaan mata kanan didapatkan visus 6/6, TIO 10 mmHg, lain-lain tetap sedangkan mata kiri visus 6/30, TIO 9 mmHg, palpebra udem dan spasme, konjungtiva bulbi hipermis dengan injeksi konjungtiva dan injeksi silier yang sudah berkurang, kornea jernih, bilik mata depan dangkal, gambaran iris baik pupil middilatasi dengan refleks cahaya ±, tampak iridotomi perifer pada jam satu, lensa katarak Vogt, vitreus jernih dan pada funduskopi tampak

papil bulat, batas cukup tegas dengan CD rasio 0,6, terdapat nasalisasi pembuluh darah dengan perbandingan arteri dan vena 2:3, refleks makula (+) dan gambaran retina baik. Pemeriksaan gonioskopi mata kiri didapatkan sudut terbuka sempit pada daerah temporal dan inferior serta terutup pada daerah superior dan nasal. Pasien dipulangkan. Satu minggu kemudian pada pemeriksaan didapatkan mata kanan visus 6/6, TIO 12 mm

Hg, lain-lain tenang. Mata kiri visus 6/30, TIO

17 mmHg, palpebra dan konjunctiva bulbi

tenang, kornea jernih, bilik mata depan dangkal, gambaran iris baik, pupil middilatasi dengan refleks cahaya (±), iridotomi perifer (+) pada jam 1, lensa katarak Vogt dan vitreus jernih, funduskopi papil bulat, batas tegas CD rasio 0,6 dengan nasalisasi pembuluh darah, perbandingan arteri dan vena 2:3, refleks makula (+), gambaran retina baik. Timolol 0,5% 2x dan steroid topikal 4x pada mata kiri serta pilokarpin 2% 4x pada mata kanan tetap diberikan. Dua minggu pasca tindakan, pemeriksaan mata kanan visus 6/6, TIO 14 mmHg, lain- lain tenang, mata kiri visus 6/30, TIO 18 mmHg, lain-lain tetap. Dilakukan pemeriksaan perimetri octopus dan didapatkan lapang pandang berupa temporal island pada mata kiri. Obat steroid topikal distop, dan pilokarpin 2% 4x1 tetes mata kanan. Enam minggu pasca tindakan, pemeriksaan mata kanan visus 6/6, TIO 15 mmHg, lain-lain tenang, mata kiri visus 6/30,

TIO 18 mmHg, pupil middikatasi refleks cahaya (-), lain-lain tetap. Dilakukan gonioskopi ulang pada mata kiri dan didapatkan sudut tertutup pada daerah superior dan nasal, dan terbuka sempit pada daerah temporal dan inferior. Dilakukan iridotomi perifer laser pada mata kanan. Pasca iridotomi diberikan steroid topikal 4x pada mata kanan, dan pilokarpin distop. Sepuluh bulan pasca tindakan, pemeriksaan mata kanan visus 6/6, TIO 19 mmHg, lain-lain tenang. Mata kiri visus 6/30, TIO 19 mmHg, lain-lain tetap.

DISKUSI Serangan akut pada glaukoma primer sudut tertutup harus segera diatasi, sebab tekanan intraokuler yang tinggi secara persisten dapat menyebabkan penutupan sudut yang permanen, kerusakan trabekulum dan nervus optikus yang irreversibel. Jika tekanan intraokuler sudah dapat diturunkan, maka terapi definitif berupa iridektomi perifer harus segera dikerjakan untuk menghindari terjadinya serangan akut yang berulang. 1,3,4 Penatalaksanaan serangan akut pada pasien ini awalnya kurang baik karema tidak segera dilakukan iridektomi perifer setelah tekanan intraokuler dapat diturunkan yaitu pada kontrol hari ke-4 setelah pengobatan, sehingga terjadi serangan akut yang berulang. Serangan akut ulangan ini, yang terjadi 10 hari yang lalu, tampaknya tidak dapat diatasi dengan baik, walaupun diberikan obat-obatan, sehingga tekanan intraokuler tetap tinggi dan visus makin memburuk sampai 1 hari yang lalu.

Menurut David 5 , keterlambatan datang dan waktu yang diperlukan untuk menghentikan serangan mempunyai pengaruh terhadap hasil akhir, sedangkan tingginya tekanan intraokular pada saat serangan tidak dapat memprediksikan prognosis jangka panjang. Pada saat datang ke poliklinik subbagian glaukoma, pasien masih dalam keadaan akut dengan tekanan intraokular yang sangat tinggi (71 mmHg), walaupun dengan obat-obatan. Tindakan pertama yang harus dilakukan adalah menurunkan tekanan intraokular secepat mungkin, di mana salah satu alternatif adalah melakukan iridoplasti 1,3-4,6 . Tindakan iridoplasti dikemukakan terbukti efektif pada keadaan refrakter terhadap obat-obatan. 1,4,6

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

137

Karangan Asli

Tekanan intraokular yang tinggi pada keadaan akut disebabkan oleh adanya blok pupil yang menyebabkan aliran aqueos dari bilik mata belakang ke bilik mata depan terhambat sehingga tekanan intraokular di bilik mata belakang meningkat dan mendorong iris bagian perifer ke depan (iris bombe) sehingga menutup sudut bilik mata depan. 1-2,4 Iridoplasti dapat membuka sudut bilik mata depan yang tertutup secara aposisional oleh jaringan iris perifer secara mekanik, dengan cara memberi bakaran argon laser pada iris perifer 360° sebanyak 20–24 spot sehingga stroma iris perifer tersebut mengerut dan menarik iris dari sudut bilik mata. Argon laser yang dipakai adalah energi rendah, spot yang besar dan durasi yang panjang. 1,3-4,6 Secara hispatologis, pengerutan stroma iris jangka pendek disebabkan pengerutan kolagen karena panas, sedangkan jangka panjang oleh kontraksi membran fibroblas. 6,7 Argon laser yang dianjurkan adalah 200– 400 mW dengan ukuran spot 100–200 um dan durasi 0,1–0,2 detik 1,4 , sedangkan menurut Ritch 6 adalah energi 200–499 mW, ukuran spot 500 um dan durasi 0,5 detik. Lam dkk. 3 pada penelitiannya menggunakan energi 318 mW (280 – 400 mW), ukuran spot 360 um (200 – 500 um) dan durasi 0,26 detik (0,2 – 0,3 detik) sebanyak 82,1 kali (40 – 211 kali). Pada pasien ini digunakan energi 600 mW, ukuran spot 500 um dan durasi 0,2 detik sebanyak 50 kali. Argon laser yang digunakan pada pasien ini masih dalam batasan yang dipakai oleh Lam, kecuali besar energi yang agak lebih tingi sedikit, tetapi dengan jumlah bakaran yang lebih rendah. Efek yang timbul pada penggunaan energi laser yang terlalu tinggi adalah iis hangus, terbentuknya gelembung udara atau ‘pop’ (ledakan kecil). Hal-hal tersebut tidak terjadi pada pasien ini. Iridoplasti efektif dalam menurunkan tekanan intraokuler pada keadaan akut, bahkan pada keadaan dengan PAS yang luas. 5 Lam dkk. 3 pada penelitiannya menggunakan obat-obatan anti glaukoma topikal dan iridoplasti sebagai terapi awal pada glaukoma primer sudut tertutup akut dengan lama serangan 10–36 jam mendapatkan bahwa tekanan intraokuler menurun dengan cepat dan kornea menjadi jernih dalam 1–2 jam.

Dalam penelitian lanjutannya memakai iridoplasti sebagai terapi tunggal pada glaukoma primer sudut tertutup akut, Tham dkk. 8 melaporkan bahwa tekanan intraokuler menurun dengan cepat, tetapi sedikit lebih tinggi pada 2 jam pasca tindakan, bila dibandingkan dengan yang menggunakan obat-obat anti glaukoma topikal. Mereka berkesimpulan bahwa obat-obat topikal tersebut mempunyai efek yang sinergik dengan iridoplasti dalam menurunkan tekanan intraokuler. Lam dkk. 3 juga mendapatkan bahwa iridoplasti dapat dilakukan pada keadaan kornea yang udem, bilik mata depan yang dangkal dan pupil middilatasi, karena iridoplasti menggunakan energi yang rendah, tidak memerlukan derajat ketepatan bakaran yang tinggi dan dapat dilakukan dengan mudah pada iris yang tebal. Iridoplasti juga didapatkan cukup aman karena tidak menimbulkan kekeruhan kornea, perdarahan serta efek laser pada jaringan mata yang lain maupun efek samping sistemik. Pada pasien ini obat-obat anti-glaukoma topikal dan iridoplasti dipilih sebagai terapi awal untuk menurunkan tekanan intraokulernya, karena sudah terbukti efektif dan aman. 3 Pada pengamatan didapatkan bahwa tekanan intraokuler menurun dari 71mmHg menjadi 50 mmHg dalam 15 menit, 40 mmHg dalam 30 menit, 32 mmHg dalam 60 menit dan 25 mmHg dalam 90 menit. Tidak dijumpai efek samping yang berarti, baik pada saat maupun sesudah tindakan. Temuan menarik didapat oleh Lam dkk. 3 secara kebetulan, di mana pada satu kasus yang hanya dilakukan iridoplasti sebesar kurang lebih 180°, tetapi ternyata efektivitas penurunn tekanan intraokulernya sama seperti pada kasus yang dilakukan iridoplasti 360°. Penelitian lanjutan tentang hal tersebut dilakukan oleh Lai dkk. 9 , di mana iridoplasti 180° digunakan sebagai terapi awal bersama- sama dengan obat-obatan anti-glaukoma topikal pada glaukoma primer sudut tertutup primer akut dengan lama serangan 48 jam. Tekanan intraokuler dapat diturunkan dengan efektif dan kornea menjadi jernih dalam 1–2 jam, tanpa komplikasi. Iridektomi perifer sudah diakui sebagai terapi definitif pada glaukoma primer sudut tertutup. 1,4,6,10-11 Tindakan ini cukup sederhana,

138

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

Edi S. Affandi dkk.

Terapi Glaukoma Primer Sudut Tertutup Akut …

aman, 1,4,6,10-11 dan ampuh. 12 Dengan iridektomi perifer, kedalaman bilik mata depan bagian perifer meningkat sedangkan di daerah tengah tidak berubah. Iridektomi perifer dapat mencegah terjadinya serangan akut yang berulang pada glaukoma primer sudut tertutup dengan blok pupil, sebab dengan iridektomi tersebut telah terjadi hubungan antra bilik mata belakang dan depan sehingga tidak akan terjadi perbedaan tekanan yang cukup besar di antara keduanya untuk mendorong iris perifer ke depan. 1,4 Kadang-kadang iridektomi perifer saja tidak cukup untuk dapat mengontrol tekanan intraokuler sehingga diperlukan operasi filtrasi, yaitu pada keadaan telah terjadi kerusakan trabekulum atau PAS yang luas 1,4 . Beberapa penulis menyarankan operasi filtrasi dilakukan sebagai terapi primer pada kasus dengan lama serangan akut > 36 atau 72 jam. Facility of outflow 0,10 ul/menit/mmHg, PAS yang luas (>50 – 75%), terdapat defek lapang pandang serta cupping nervus optikus. 3 Serangan akut pada pasien ini cukup lama (> 72 jam) sehingga pada awalnya timbul dilema dalam menentukan apakah diperlukan operasi filtrasi sebagai terapi bedah awal, karena dikhawatirkan sudah terjadi kerusakan trabekulum dan penutupan sudut yang luas sehingga iridektomi saja tidak dapat mengontrol tekanan intraokulernya. Affandi 12 dalam menentukan perlu/ tidaknya operasi filtrasi pada dua kali penelitian retrosektifnya menggunakan tekanan intraokuler setelah terapi medikamentosa sebagai patokan. Pada waktu itu operasi filtrasi dilakukan bila tekanan intraokuler > 21 mmHg atau bila tekanan intraokuler 21 mmHg tetapi dengan nilai tonografi C < 0,13. Dengan kriteria di atas, ternyata 88% dan 80% kasus glaukoma primer sudut tertutup akut dianggap memerlukan trabekulektomi. Pada hasil penelitiannya, Affandi mendapatkan bahwa tekanan intraokuler terkontrol < 21 mmHg tanpa obat-obatan pada 80% dan 78% pasien yang dilakukan tabekuekomi, ternyata pada 54% dan 36% pasien yang dilakukan trabekulektomi tersebut tidak tampak bleb filtrasi, sehingga diasumsikan bahwa iridektomi saja sudah mencukupi untuk mengontrol tekanan intraokuler dan operasi trabekuektomi merupakan tindakan

berlebihan yang dapat merugikan pada pasien- pasien tersebut. Krupin 10 dan Playfair 11 pada penelitian- penelitiannya berkesimpulan bahwa sangat sulit dan bahkan tidak mungkin untuk dapat memprediksikan kasus mana yang memerlukan operasi filtrasi dengan berdasarkan tekanan intraokuler sebelum dan sesudah pemberian obat awal, ada/tidaknya atrofi iris, glaukomfleken pada lensa dan gonioskopi sebelum maupun pada saat operasi pada asus glaukoma primer sudut tertutup akut. Peneliti lain mendapatkan bahwa kombinasi iridektomi dan obat-obatan memberikan hasil yang sama dengan yang dilakukan dengan operasi filtrasi tetapi dengan komplikasi operasi yang lebih kecil. Banyak kasus yang tekanan intraokulernya dapat terkontrol setelah iridektomi saja, walaupun sudah terdapat kerusakan yang

luas. 1,4,10

Trabekulektomi adalah tindakan bedah yang mempunyai risiko yang tidak kecil, baik dari segi anestesi, infeksi, perdarahan, dan juga biaya. Perkembangan terapi laser memberikan sumbangan yang besar dalam menengahi masalah di atas, di mana iridotomi laser mempunyai beberapa kelebihan, yaitu tidak dibutuhkan anestesi retrobulber, tidak ada kemungkinan endophthalmitis, tidak terjadi kebocoran jaringan, jarang terjadi perdarahan intraokuler, waktu yang diperlukan untuk pengembalian tajam penglihatan lebih cepat, konjungtiva tidak terganggu untuk operasi filtrasi bila nantinya diperlukan. 13,14 Dibandingkan dengan iridektomi insisional, Schwenn 15 pada penelitiannya mendapatkan bahwa iridotomi laser lebih dapat diterima dan lebih disukai oleh pasien, di samping itu juga menimbulkan kerusakan endotel kornea yang lebih kecil. Ada 2 tipe laser yang umumnya digunakan untuk iridektomi yaitu Nd:YAG dan argon. Laser Nd:YAG lebih disukai karena dapat menembus iris dengan mudah khususnya pada iris berwarna coklat gelap dan biru muda, di mana sulit dilakukan dengan laser argon. Di samping itu lubang iridotomi yang terbentuk tidak mudah menutup kembali. Karena laser Nd:YAG tidak mempunyai efek koagulatif seperti argon, maka perdarahan lebih sering terjadi.

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

139

Karangan Asli

Perdarahan ini biasanya dapat berhenti sendiri atau dihentikan dengan cara menekankan lensa kontak yang dipakai untuk iridotomi 1,4,6 . alternatif lain untuk mengurangi perdarahan akibat laser Nd:YAG adalah dengan memberikan sebelumnya laser argon untuk menipiskan stroma iris dan mengkoagulasi pembuluh darah, pada tempat yang akan dilakukan iridotomi, kemudian baru dilakukan iridotomi oleh laser Nd:YAG. Cara ini dikatakan memberikan hasil lebih baik dan komplikasi yang lebih kecil, yang menggunakan keunggulan efek fototermal dari argon dan penetrasi yang mudah dari Nd:YAG. 1,4 Pada pasien ini, laser yang dipakai untuk iridotomi adalah kombinasi antara argon dan Nd:YAG. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan risiko perdarahan pada pasien dengan keadaan akut. Dengan kombinasi kedua laser tersebut, dapat terbentuk iridotomi yang paten dan tidak dijumpai komplikasi sampai 10 bulan pengamatan. Quiqley 13 dan Robin 14 pada pengamatannya tentang efektivitas dan keamanan dari iridotomi laser dengan argon selama masing-masing 1,8 tahun dan 53±8 bulan mendapatkan bahwa iridotomi tetap paten, tekanan intraokuler tetap terkontrol, sedangkan penurunan tajam penglihatan yang terjadi diyakini tidak berhubungan dengan tindakan laser tetapi oleh katarak senilis. Penatalaksanaan glaukoma primer sudut tertutup akut yang dianjurkan saat ini adalah melakukan iridotomi perifer laser dahulu pada semua kasus, segera setelah tekanan intraokuler dapat diturunkan dan kornea sudah jernih, kemudian residual glaucoma diobati secara berjenjang dengan obat-obatan, atau operasi filtrasi bila perlu, sesuai kebutuhan. 1,4 Iridotomi laser profilaksis pada mata sebelahnya dilakukan untuk mencegah terjadinya serangan akut. Beberapa penelitian membuktikan bahwa 40 – 80% mata sebelahnya akan terkena serangan akut dalam waktu 5 – 10 tahun, tetapi kadang-kadang setelah 25 – 30 tahun. 1-2,4,6 Profilaksis mata sebelahnya dengan obat miotik untuk jangka lama tidak direkomendasikan lagi, karena obat tersebut tidak memberikan perlindungan total terhadap serangan akut dan dapat pemakaian

jangka panjang memudahkan terjadinya PAS dan glaukoma sudut tertutup kronik. 1,4 Tampaknya dengan iridotomi perifer, tajam penglihatan, tekanan intraokuler, dan papil nervus optikus pasien dalam pengamatan 10 bulan dapat terkontrol dan tidak menunjukkan tanda-tanda perburukan, walaupun masih memerlukan obat berupa timolol 0,5% 2x sehari untuk residual glaucoma-nya dan pengamatan rutin lebih lama lagi.

KESIMPULAN Iridoplasti efektif dalam membantu menurunkan tekanan intraokuler pada glaukoma primer sudut tertutup akut. Tindakan ini dapat dilakukan sebagai tindakan pertama pada keadaan akut, sebelum dapat melaksanakan iridotomi perifer laser karena keadaan kornea masih keruh.

DAFTAR PUSTAKA

1. Stamper RL, Lieberman MF, Drake MV, Becker-Shaffer’s Diagnosis and Therapy of

the Glaucomas 7 th ed. St. Louis. The CV Mosby Company, 1999.

2. Denny M, Taylor F, ed. Basic Clinical Science 1997–1998. Glaucoma. San Francisco: American Academy of Ophthalmology, 1997.

3. Lam DSC, Lai JSM, Tham CCY. Immediate Argon Laser Peripheral Iridoplasty as Treatment for Acute Attack of Primary Angle-closure Glaucoma. A Preliminary Study. Ophthalmology

1998;105:2231–36.

4. Hoskin HD, Kass MA. Becker-Shaffer’s Diagnosis and Therapy of the Glaucomas 6 th ed. St. Louis: The CV Mosby Company, 1989.

5. David R, Tessler Z, Yassur Y. Long-term outcome of primary acute angle-closure glaucoma. Br J Ophthalmol 1985; 69: 261–2.

6. Ritch R Liebmann JM. Laser Iridotomy and Peripheral Iridoplasty. In: Ritsch R, shield MB, Krupin T, eds. Glaucoma Therapy 2 nd ed. St. Louis: Mosby Year Book Inc, 1996; 3 1549–1573.

140

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

15.

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

141

Data Concerning Primary Angle Closure Glaucoma in Indonesia*

Edi S. Affandi Department of Ophthalmology, Faculty of Medicine University of Indonesia, Jakarta

glaucoma in various parts in this country varies from 0.4% to 1.6%. These data are taken from the National Survey on Blindness and Ocular Morbidity in 1996 carried out by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. At Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta, the incidence of glaucoma is 1.8% among people 40 years old or older. Primary Angle Closure Glaucoma (PACG) is most frequently found and mainly with acute signs and symptoms. The clinical appearance shows some differences compared to that reported in Caucasians. The age of the patients is relatively younger. Patients present to the hospital in the advanced stage or received delayed treatment. Filtering surgery have been done on 74 (88%) among 84 acute PACG eyes, but a retrospective study reported in 2001 indicates that the number of filtering surgery can be reduced if laser iridectomy was performed.

Abstrak: Glaukoma adalah penyebab kebutaan utama kedua di Indonesia. Insiden glaukoma pada berbagai bagian negeri ini berkisar dari 0.4% sampai 1.6%. Data ini diambil dari Survei Nasional Mengenai Kebutaan dan Morbiditas Mata pada tahun 1996 yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, insiden glaukoma adalah 1,8% di antara orang-orang berusia 40 tahun atau lebih tua. Glaukoma Primer Sudut Tertutup (PACG) paling sering ditemukan dan sebagian besar dengan gejala-gejala dan keluhan akut. Tampilan kliniknya memperlihatkan adanya beberapa perbedaan dibandingkan dengan yang dilaporkan untuk orang Kaukasia. Usia penderita relatif lebih muda. Pasien datang ke rumah sakit pada tahap lanjut atau menerima terapi yang terlambat. Operasi filtrasi telah dilakukan pada 74 (88%) dari 84 mata PACG akut, tetapi suatu penelitian retrospektif yang dilaporkan pada tahun 2001 menunjukkan bahwa jumlah operasi filtrasi dapat dikurangi bila iridektomi laser dilakukan.

INTRODUCTION Data reported in this paper is mainly taken from the report of The National Survey on Blindness and Ocular Morbidity and from clinical data of Primary Angle Closure Glaucoma (PACG) at Glaucoma service, Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta. The objective of this paper is to present a general view of Glaucoma, the clinical appearance of PACG and management of acute PACG in Indonesia.

Presented in SEAGIG (South East Asia Glaucoma Interest Group) Satellite Meeting Singapore on 10 th February 2003

1. Data from The National Survey on Blindness and Ocular Morbidity The National Survey on Blindness and Ocular Morbidity have been reported in 1983 and 1996. Those surveys were conducted by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia in cooperation with:

Indonesian Ophthalmologist Association

National Central Statistic Bureau

Central Health Research and Faculty of Public Health, Universities of Indonesia.

Medical Faculty of several State Universities in Indonesia

142

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

Edi S. Affandi

Data Concerning Primary Angle …

In those surveys data emerged that the incidence of glaucoma in various parts of Indonesia varies from 0.4% to 1.6% of whole population and it was 1.2% among peoples over 40 years old. On both surveys glaucoma was diagnosed by examining intraocular pressure with Schiotz’s tonometer and optic nerve head by direct ophthalmoscope. 1,2 It was reported that blindness rate in Indonesia was 1.2 % in 1983 and it was 1.6% in 1996. The position of glaucoma among other main causes of bilateral blindness is shown in Table 1.

Table 1. The prevalence of main causes of blindness in Indonesia

Diseases

1983

1996

Lens

0.76

0.78

Corneal

0.13

0.10

Glaucoma

0.10

0.20

Refractive

0.06

0.14

Retinal

0.03

0.13

Others

0.12

0.25

2. Data from Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta A small number of Hospital reports about incidence and the types of glaucoma, indicate that primary angle closure glaucoma (PACG) is commonly found in Indonesia. 3,4,5 At Dr Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta the incidene of glaucoma is 1.8% among people 40 years or older. Based on data of new glaucoma patients collected in 1989 and 1990 at this Hospital, Primary Angle Closure Glaucoma (PACG) were found more often than Primary Open Angle Glaucoma (POAG) as is shown in the following table:

Table 2. Incidence and types of glaucoma at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta

Type of Glaucoma

No. of Cases

 

In 1989

In 1990

Primary Open Angle Glaucoma

43

51

Primary Angle Closure Glaucoma

 

1. acute

7 + 42

2. chronic 15 + 17

62

59

Congenital Glaucoma Secondary Glaucoma

12

9

34

47

The following data of this paper will show some findings on the clinical appearance of Primary Angle Closure Glaucoma cases.

3. Data on Clinical Appearance of PACG

at Dr Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta 5 The retrospective study of the clinical appearance of 109 cases among 121 PACG cases in 1989 and 1990, consisted of 82 acute PACG (84 eyes) and 27 chronic PACG cases (41 eyes), demonstrated that a large number of the cases received delayed treatment or came to the hospital in the late stage. The following data will show those findings.

Age and Sex Distribution Primary Angle Closure Glaucoma affects women three times more often than men in Caucasians and in black people both women and men are affected equally. 6 The cases of

PACG reported in this paper consisted of 28

men and 81 women as shown in Table 3.

Table 3.

Age, sex, and total number of PACG at Dr. Cipto

Mangunkusumo Hospital Jakarta

Sex

 

Age (years)

 

<40

40 - 60

> 60

Total

Men

2

19

7

28

Women

7

59

15

81

Total

9

78

22

109

It is also seen in Table 3 that a large number of cases were between the ages 40-60 years. In Caucasians a great majority of cases were reported of the ages over 60 years. 6 The distribution of the age of our patients compared to cases reported by Playfair and Watson is shown in Table 4. 4

Table 4. Comparison of age distribution in PACG

Age (years)

Cipto

Playfair-

M. Hospital

Watson

Under 40

9

0

40-60

78

17

Over 60

22

60

Total (patients)

109

77

It can be pointed out that the age of the PACG patients at Dr Cipto Mangunkusumo Hospital is relatively younger.

4. Some Data on Chronic PACG

The clinical picture of chronic primary angle closure glaucoma was similar to primary

open angle glaucoma (POAG), except the angle was gonioscopically closed.

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

143

Karangan Asli

Data of visual acuity on 27 patients (41 eyes) with chronic PACG is shown in Table 5. It indicates that 25 eyes (58.5%) have ended in blindness, if the criteria on visual acuity for blindness of WHO is applied.

Table 5. Visual acuity in chronic PACG

Visual Acuity

No. of Eyes

Percentage

<3/60

24

58.5

>3/60

17

41.5

Total

41

100.0

An analysis of the optic disc image and the visual field loss of those chronic PACG eyes are shown in Table 6 and Table 7.

Table 6. Optic disc damage in chronic PACG

Optic disc damage

No. of eyes

Percentage

Early

7

17.1

Intermediate

13

31.7

Advanced

21

51.2

Total (eyes)

41

100.0

Table 7. Visual field loss in chronic PACG

Visual field loss

No. of eyes

Percentage

Early

8

19.5

Intermediate

10

24.4

Advanced

23

56.1

Total (eyes)

41

100.0

Table 6 shows that 21 eyes (51.2%) out of 41 eyes with chronic PACG have had glaucomatous damage of the optic disc with cup/disc ratio 0.8 or more (advanced stage), and

Table 7 demonstrates that 23 eyes out of 41 eyes already had advanced visual field loss (temporal and or telescopic field, including absolute glaucoma in 5 eyes). From these data it can be concluded that more than half of Cipto Mangunkusumo Hospital patients with chronic PACG came for the first time to the hospital in the advanced stage.

5. Some Data on Acute PACG

The diagnosis of acute primary angle closure glaucoma is based on findings of the following criteria: 8

1. The history of acute attack

2. Presenting any or all congestive signs and symptoms

3. In the involved eye, angle closure was

present without the evidence of secondary features, and the other eye displayed an anterior chamber angle that was narrow or had previous closure. There were 82 patients (84 eyes) who met these criteria among 109 PACG cases. Out of those patients, there were only 12 eyes (14,3%) who came to hospital or received treatment within 48 hours after the acute attack. In 72 eyes (85,7%) the duration of attack before treatment was more than two days. A comparison of those findings in cases reported by Lowe 9 is shown in Table 8. The subjective symptoms and objective signs of those cases of acute PACG compared to that reported in the literature 7,10 are shown in Table 9 and Table 10.

Table 8. A comparison of the duration of the attack of acute PACG

Duration

Cipto M

Percentage

Lowe

Percentage

Hospital

Within 48 hours Over two days Total (eyes)

12

14.3%

65

38,6%

72

85,7%

103

61,4%

84

100%

168

100%

144

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

Edi S. Affandi

Data Concerning Primary Angle …

Table 9. Subjective symptoms of acute PACG

Subjective

Cipto M Hospital (%)

Luntz

Symptom

(%)

Colored halo

31

85

Red eye

100

100

Pain

100

90

Blurred vision

77

90

Headache

48

88

Nausea, vomiting

21

10

It can be stressed that colored halo as the earliest subjective symptom is found in relatively small number of our patients. The cause may be due to unawareness of the patient to that symptom. The following Table 10 indicates that acute PACG cases at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital already had more glaucomatous damage when they came for the first time to the hospital.

Table 10. Some objective signs in acute PACG

Objective

Cipto M

Playfair

signs

Hospital (%)

(%)

Visual acuity < 3/60 Iris atrophy Optic disc damage

49

23

23

5

38

7

Table 11 shows the conditions of the other (fellow) eye in 82 patients with acute primary angle closure glaucoma. Absolute glaucoma were found in 28 eyes, 2 eyes have had previous filtering surgery, acute angle closure glaucoma in 2 eyes, chronic angle glaucoma in 3 eyes and 51 eyes noted as narrow angle and normal ocular pressure.

Table 11. Presenting state of the fellow eyes in 82 cases

Presenting state

No. of cases

Absolute glaucoma Post. Filtering surgery Acute angle closure glaucoma Chronic angle closure glaucoma Narrow angle Total

28

2

2

3

47

82

This table shows that 35 of the fellow eyes of acute primary angle closure glaucoma cases already had closed anterior chamber angle.

Management of Acute Primary Angle Closure Glaucoma The management of acute primary angle closure glaucoma service, Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital consisted of:

1. The patient is hospitalized after examination at the glaucoma clinic.

2. Initial medical treatment is given simultaneously:

a. Pilocarpine 2% eye drops every hour.

b. Acetazolamide 500 mg orally, repeated 250 mg every 6-8 hours.

c. Glycerin 50% orally 3 times 100-150 cc, daily.

d. Corticosteroid-Antibiotic eye drops 4

times daily.

3. The type of initial surgical therapy is

decided.

The intraocular pressures were remeasured 20-24 hours after initial medical treatment. In 29 among 84 eyes (35%) acute PACG the intraocular pressure could be reduced below 21 mmHg (the rate of success = 35%). In 55 eyes (65%), the intraocular pressure were 21 mmHg or more in which 32 eyes (38%) the intraocular pressure exceed 30 mmHg (Table 12).

Table 12. Results of initial medical therapy in acute PACG

Intra Ocular

Pressure

No. of eyes

Percentage

Below 21 mmHg

29

35

21 – 30 mmHg

23

27

Over 30 mmHg

32

38

Total

84

100

A comparison of the success rate of the initial medical therapy between the cases at Dr Cipto Mangunkusumo Hospital and cases reported by Ganias and Mapstone 11 are as follows (The criteria of success, if intraocular pressure could be reduced below 21 mmHg) 29 of 84 (34.5%) and 23 of 30 (76.6%). This comparison indicates a lower percentage of success of the initial medical treatment at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital. In the last decade Timolol 0.5 % eye-drop is added in initial medical therapy, but the success rate is not increased.

Initial Surgical Therapy for Acute PACG The initial surgical treatment is mainly based

on the intraocular pressure responses to initial medical therapy, as follow:

a. If the intraocular pressure can be reduced to 21 mmHg or below, and the facility of outflow is more than 0.13 or half or more of

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

145

Karangan Asli

the anterior chamber angle is opened, peripheral iridectomy is performed.

b. Filtering procedure should be done for all cases with intraocular pressure above 21mmHg or the intraocular pressure is below 21 mmHg with the outflow facility less than 0.13 or more than half of the anterior chamber angle is closed.

By those criteria the type of the initial surgical therapy of acute PACG at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital were decided and its result 8 are shown in Table 13.

Table 13. Types of initial surgical therapy in acute PACG

Type of

No.

Result

of

Controlled*

surgery

eyes

Uncontrolled

Iridectomy

10

8 (80%)

2 (20%)

Filtering

74

46 (62%)

28 (38%)

Total

84

54 (64%)

30 (36%)

* The intraocular pressure 21 mmHg or less with or without additional minimal medical therapy assessed approximately 4 months after surgery.

By using the criteria for deciding an initial surgical treatment as mentioned above, a large number of cases have been treated by filtering surgery as shown in Table 13. This finding is the reverse to that found in the literature, in which iridectomy was done in most acute PACG. 6,13 In 46 eyes with “controlled” intraocular pressure after filtering procedures; 25 eyes (54%) did not show any filtering bleb and 21 eyes (46%) showed filtering bleb (Table 14). An analysis on the relatively short period of time for 46 eyes, which led to criteria of controlled intraocular pressure by filtering surgery in our cases study is shown in Table 14. It indicates that eyes with hypotony are commonly found (43%). Hypotony eyes after filtering surgery can be due to over drainage through the filtration area. 6 And also in those controlled eyes, the eyes without filtering bleb (not appeared) shows a greater in number

(54%). It is possible the success of filtering surgery in spite of absent of filtering bleb is due to the iridectomy alone. From both analyses, it can be assumed that in several of those cases peripheral iridectomy alone may cure the disease or in other words, iridectomy is indicated in those cases from the beginning or it must be chosen as an initial surgical treatment, and consequently the number of filtering surgery can be reduced. It is advisable to reduce the number of filtering surgery because of its greater risk of complications. 6,8 For that purpose, in the last three years laser iridectomy has been performed in all cases of acute PACG at Dr Cipto Mangunkusumo Hospital. It was done before initial surgical treatment. A retrospective study of those 30 eyes (all without laser iridoplasty) which is reported in 2001 indicated that the success rate (The intraocular pressure could be reduced below 21 mmHg without post-laser medical treatment assessed 3 months after laser iridectomy) is found in 19 eyes (63.3%), 3 eyes (10%) with additional treatment of Timolol 0.5% eye drops 2 times daily and trabeculectomy was performed in 8 eyes (26.7%) because the intraocular pressure remained uncontrolled. This data shows that present management can reduce the number of filtering surgery in acute PACG cases. A good result of laser iridectomy in long term follow up has been reported in the literature.

16,17

SUMMARY AND COMMENT Some data concerning glaucoma in Indonesia taken from the report of the National Surveys on Blindness and Ocular Morbidity and from the clinical appearance and management of primary angle closure glaucoma at Dr Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta are presented.

Table 14. Filtering bleb in 46 eyes with “Controlled Intraocular Pressure” after filtering surgery of acute PACG

 

“Controlled intraocular pressure”

 

Filtering Bleb

With

Without

Hypotony

Total

Med.

Med.

Appeared

4

10

7

21% (46%)

Not appeared

5

6

14

25% (54%)

Total

9(20%)

16(37%)

21(43%)

46 (100%)

146

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

Edi S. Affandi

Data Concerning Primary Angle …

Based on this data the following

summaries can be drawn as follows:

1. The incidence of glaucoma in various parts in Indonesia varies from 0.4% to 1.6%. At Dr Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta, the incidence of this disease is 1.8% among people over 40 years old.

2. Glaucoma is the third (1983) or the second (1996) main cause of blindness in Indonesia.

3. Primary angle closure glaucoma is more common than primary open angle glaucoma and is mostly with acute signs and symptoms. There are some differences of the clinical picture compared to that reported in Caucasians.

4. The age of the patients PACG in Indonesia is younger than Caucasians.

5. The patients came to the hospital in advanced stage or had received delayed treatment.

6. Filtering surgery is the most frequent type of initial surgical therapy in acute PACG, but the number can be reduced if laser iridectomy is performed after initial medical treatment.

Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta is a community hospital, but it is also a top referral and teaching hospital, so that the data reported from this hospital does not automatically reflect the general population. There are many factors which influence the frequency and types of glaucoma cases among various countries, including race, socioeconomic, psychophysic, cultural and other factors. Such clinical picture itself is related to the epidemiological standpoints. 4,6,15 Therefore an epidemiologic survey and hospital reports in Indonesia concerning glaucoma must be accelerated.

REFERENCES

1. Ministry of Health of the Republic of

Indonesia; Result of National Surgery on Blindness and Ocular Morbidity; Jakarta:

The Ministry; 1983.

2. Ministry of Health of the Republic of

Indonesia; Result of National Surgery on Blindness and Ocular Morbidity. Jakarta:

The Ministry; 1996.

3. Gumansalangi EA. Patern of Chronic Primary Angle Closure Glaucoma in Dr. Sutomo Hospital, Surabaya, Proceeding Book of the 6 th National Congress of Indonesian Ophthalmologist Association;

1988; Semarang.

4. Affandi ES: Some Data in Primary Glaucoma at the Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, NOG-Perdami

Joint Meeting; 1985, October; Jakarta

5. Affandi ES., Srinagar M., Musfari H.

Primary Angle Closure Glaucoma at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospita., the

Tenth AACO; 1992; Jakarta.

6. Stampler RL, Lieberman MF, Drake MV.

Beckers and Shaffer’s Diagnosis and Therapy of the Glaucomas, St Louis: the

CV Mosby Co; 1999. p. 216.

7. Playfair

Management of Acute Primary ACG: The

Result of Peripheral Iridectomy Used as Initial Procedure. Br. J. Ophthalmol

1979; 63: 17-

8. Affandi ES. Management of Acute Primary Angle Closure Glaucoma in the Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital.

TJ,

Watson

PG

…ed.

Jakarta: Univ. of Indonesia; 1976.

9. Lowe

RF.

Angle

Closure

Glaucoma,

Clinical types. Trans Ophth. Soc. Aust.

1962; 25: 65-

10. Luntz

MH.

Primary

Angle

Closure

Glaucoma. Br. J. Ophthalmol, 1973; 57:

445-

11. Ganias F, Mapstone R. Miotics in Closed Angle Glaucoma. Br. J. Ophthalmol 1975; 59: 205-

12. Miranti A, Affandi ES, Initial Medical

Therapy in Acute Primary Angle Closure Glaucoma at Dr. Cipto Mangunkusumo

Hospital. Jakarta:

Univ.

of

Indonesia;

1995.

13. Murphy MB, Speath GL.

Iridectomy in

Primary Angle Closure Glaucoma. Arc.

Ophthalmol 1971; 85: 67-

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

147

Karangan Asli

14. Irawati

J,

Affandi

ES,

Widya

Artini.

Result of Laser Iridectomy in Acute Primary Angle Closure Glaucoma at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital. Jakarta:

Univ. of Indonesia; 2001.

15. Hyams

S.

Angle

Closure

Glaucoma.

Amsterdam: Kugler and Ghedini Publications; 1990. p.8-

16. Alsagoff Z, Aung T, Ang LPK, Chew

PTK. Long Term of Clinical Course of Primary Angle Clodure Glaucoma in an

Asian Population. Ophthalmology 2000; 107: 2300-4

17. Aung T, Ang LPK, Chan SP, Chew PTK.

Acute Primary Angle Closure: Long term Intra Ocular Pressure Outcome in Asian

Eyes. Am J Ophthalmol 2001; 131 : 7-12.

148

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

Retinoblastoma in Children in Haji Adam Malik Hospital Medan

Selvi Nafianti Department of Child Health Medical Faculty, University of Sumatra Utara/Haji Adam Malik Hospital Medan

Abstract: Retinoblastoma is the most common primary intraocular malignancy of childhood occurring in both hereditary and non hereditary forms. The incidence of retiloblastoma is recorded to be about 11 cases per million children younger than 5 years. A modern day medical success story, more than 90% of children can be cured of retinoblastoma by early detection and treatment of the affected eye. We review the chart of all the children with retinoblastoma who visited Outpatient Clinic Hematology-Oncology Division and Pediatric Ward of Department of Child Health H. Adam Malik Hospital Medan during 1999 – 2003. Most sample 28 (87.5%) were in group age 0 – 5 years and male more than female (68.7% vs 31.3%). This study showed that there were 13 of 32 (40.6%) children with retinoblastoma with severe malnourished, moderate malnourished 9 (28.1%) and mild malnourished 2 (6.3%). There were 17 (53.1%) retinoblastoma bilateral. Retinoblastoma unilateral and bilateral mostly in group age 0 – 5 years 13 (40.6%) and 15 (46.9%). Male more then female in unilateral (34.4% vs 12.5%) and bilateral (34.4% vs 18.7%). Most children with retinoblastoma visited the hospital due to red and painful eyes 10 (31.3%), leukocoria 9 (28.1%), strabismus 7 (21.9%) and proptosis 6 (18.8%). This study concludes that the incidence of retinoblastoma is as high as the previous studies. Demographic and socioeconomic factors have a big role in history of retinoblastoma. It is required to improve human resources and facilities to provide better diagnosis and management of retinoblastoma in children.

Abstrak: Retinoblastoma merupakan penyakit keganasan primer intraokuler terbanyak pada anak, bisa terjadi secara herediter dan non-herediter. Insidens retinoblastoma lebih kurang 11 per satu juta penduduk usia di bawah 5 tahun. Angka keberhasilan pengobatan 90% pada anak yang dideteksi secara dini. Penelitian ini dilakukan dengan melihat rekam medik kasus retinoblastoma yang berobat ke Subbagian Hematologi-Onkologi Anak Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS H. Adam Malik periode 1999 – 2003. Sampel terbanyak 20 orang (87.5%) berusia 0 – 5 tahun dan laki-laki lebih banyak dari perempuan (68.7% vs 31.3%). Status gizi 13 dari 32 (40.6%) adalah gizi buruk, sedangkan malnutrisi ringan 2 (6.3%), dan malnutrisi sedang 9 (28.1%). Sebanyak 17 (53.1%) masing-masing menderita retinoblastoma unilateral dan bilateral. Retinoblastoma unilateral dan bilateral paling banyak pada kelompok usia 0 – 5 tahun sebanyak 13 (40.6%) dan 15 (46.9%). Laki-laki lebih banyak dari perempuan pada yang unilateral (34.4 vs 12.5%) dan bilateral (34.4% vs 18.7%). Umumnya pasien datang dengan keluhan mata merah dan sakit 10 (31.3%), leukokoria 9 (28.1%), strabismus 7 (21.9%) dan proptosis 6 (18.8%). Penelitian ini mengambil suatu kesimpulan bahwa insidens retinoblastoma pada penelitian ini sama dengan pada penelitian sebelumnya. Faktor demografi dan sosio-ekonomi mempunyai peranan dalam menentukan perjalanan penyakit pada anak dengan retinoblastoma. Perlu peningkatan sumber daya manusia dan fasilitas penunjang demi meningkatkan kualitas hidup anak dengan retinoblastoma.

INTRODUCTION Retinoblastoma is the most common primary intraocular malignancy of childhood occurs in both hereditary and nonhereditary forms, that affects approximately 300 children in the United States each year. In the world

wide, the incidence of retinoblastoma is recorded to be about 11 cases per million children younger than 5 years. 1-3 A commonly used estimate is case of retinoblastoma per 18.000-30.000 live births, depending on the country. There seems to be no racial

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

149

Karangan Asli

predilection for retinoblastoma, and no

study

to

describe

the

incidence

of

difference in incidence exists among blacks

retinoblastoma in Indonesia.

 

and whites. The estimated sex ration is 1.12:1.

 

A

modern day medical success story, more

OBJECTIVE

 

than 90% of children can be cured of

To

describe

the

incidence

of

retinoblastoma by early detection and

retinoblastoma in Haji Adam Malik Hospital

treatment of the affected eye. Unfortunately some children can have both eyes affected.

Medan Indonesia during 1999 – 2003.

 

Whenever possible, eye-cancer specialists try

to save a child’s eyes and preserve vision. 4-6

Retinoblastoma is often present at birth and is almost entirely restricted to early childhood. Approximately 80% of cases are diagnosed before children reach the age 3 to 4 years, with median age at diagnosis of 2 years. The discovery of retinoblastoma beyond age 6 years is rare. Bilateral disease is diagnosed earlier than unilateral disease. Sporadic bilateral retinoblastoma has been associated with advanced parental age. 7-9 In the United States, most cases are

diagnosed while the disease is still intraocular where as in developing countries diagnosis usually occurs later. 1-6 The most common signs and symptoms are listed here in order of frequency. 5,7,9

1.

2. Strabismus, with an estropia or exotropia from poor vision secondary to macular involvement. 3. Red painful eye secondary to intraocular inflammation, uveitis, or vitreous hemorrhage.

Leukocoria: white pupillary reflex

Earlier detection of the tumor influence the prognosis and in recent years has allowed for more conservation eye sparing treatment

of retinoblastoma. Retinoblastoma treatment

typically requires the cooperation of an ophthalmic oncologist, pediatric oncologist, and radiation therapist. Over the last 30 years, treatment has evolved from simple

enucleation (removal of the eye), to eye- sparing radiotherapy, and more recently to chemotherapy-based multimodality therapy. Though retinoblastoma has been cured by external beam irradiation, investigators have suggested that radiation may cause an increase the risk of developing second cancers later in life. 10-15 There is only few reports about retinoblastoma in Indonesia, that was the reason why we conducted this retrospective

METHODS We review the chart of all the children with retinoblastoma who visited outpatient clinic Hematology-Oncology Division and Pediatric Ward of Department of Child Health H.Adam Malik Hospital Medan during 1999 – 2003.

RESULTS

Table 1. Distribution sample according to age and sex

 

n

(n=32)

%

Age group

0-5 yrs

28

87.5

6-10 yrs

3

9.4

>10 yrs

1

3.1

Sex

Male

22

68.7

Female

10

31.3

Most sample 28 (87.5%) were in group age 0-5 years and male more than female (68.7% vs

31.3%).

Table 2. Distribution sample by nutritional status

Nutritional status

n %

(n=32)

Normal Mild malnourished

8

25

Moderate malnourished

2

6.3

Severe malnourished

9

28.1

13

40.6

From Table 2 above showed that there were 13 of 32 (40.6%) children with retinoblastoma with severe malnourished, followed by moderate malnourished 9 (28.1%) and mild malnourished 2 (6.3%). Only 8 of 32 (25%) had normal nutritional status.

Table 3.

Initial diagnosis

Diagnosis

n

%

 

Unilateral

15

46.9

Bilateral

17

53.1

150

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

Selvi Nafianti

Retinoblastoma in Children …

From Table 3 showed that 17 (53.1%) had one side retinoblastoma (unilateral) and 17 (53.1%) retinoblastoma affected both eyes (bilateral).

Table 4. Distribution of retinoblastoma type by group age and sex

 

Unilateral

Bilateral

 

n

%

n

%

Group age

0-5 yrs

13

40.6

5

46.9

6-10yrs

2

6.3

1

3.1

>10 yrs

0

0

1

3.1

Sex

Male

11

13.4

11

34.4

Female

4

12.5

6

18.7

Retinoblastoma unilateral and bilateral mostly in group age 0 – 5 years 13 (40.6%) and 15 (46.9%), respectively (Table 4). Male more than female in unilateral (34.4% vs 12.5%) and bilateral (34.4% vs 18.7%)

Table 5. Presenting signs of children with retinoblastoma in initial visited

Sign

n

%

White pupil (leukocoria) Poorly aligned eyes (strabismus) Red and painful eyes Protruding eyes (proptosis)

9

28.1

7

29.1

10

31.3

6

18.8

This study found that most children with retinoblastoma visited the hospital due to red and painful eyes 10 (31.3%), followed by leukocoria 9 (28.1%), strabismus 7 (21.9%) and proptosis 6 (18.8%), respectively.

DISCUSSION Most sample 28 (87.5%) were in group age 0-5 years and male more than female (68.7% vs 31.3%). Lee et al 6 in Singapore found that 67 of 125 (53.6%) eye cancer patient were male and the most common cancer among children younger than 15 years was retinoblastoma (95.7%). Moll et al 8 studied about familial retinoblastoma and suggested to do screening until the age of 4 years in order to detect retinoblastoma as early as possible. In this recent study it was very difficult to convince the parents to screening sibs and parents. This inferiority provide late diagnosis of familial retinoblastoma in our place.

This study showed that there were 13 of 32 (40.6%) children with retinoblastoma suffered from severe malnourished, followed by moderate malnourished 9 (28.1%) and mild malnourished 2 (6.3%). Only 8 of 32 (25%) had normal nutritional status. There were 17 (53.1%) retinoblastoma affected both eyes (bilateral) and 15 of 32 (46.9%) had one sided retinoblastoma (unilateral). Retinoblastoma unilateral and bilateral mostly in group age 0 –

5 years 13 (%) and 15 (%), respectively (Table

4). Male more than female in unilateral (34.4% vs 12.5%) and bilateral (34.4% vs

18.7%)

This study found that most children with retinoblastoma visited the hospital due to red and painful eyes 10 (31.3%), followed by leukocoria 9 (28.1%), strabismus 7 (21.9%) and proptosis 6 (18.8%), respectively. Canzano et al 9 studied in the US, and found that 50% of all retinoblastoma cases are diagnosed after observation of leukocoria by a family member or primary physician. Abramson et al 2 in their retrospective study from 1914 – 2000 reported that most US

children whose retinoblastoma is diagnosed

initially present with leukocoria detected by

parent, despite routine pediatric screening for familial retinoblastoma via the red reflex test. Initial disease detection at the point of leukocoria or strabismus correlated with high patient survival rates and poor ocular survival rates for presenting eye. Saving eyes and vision requires disease recognition before leukocoria. In this recent study all the diagnosis were made by pediatric hematologist. Chantada et al 15 reported that pediatricians are the first health professional seen by most children with retinoblastoma. However, the diagnosis is not readily established. There is a delay in consultation by parents, and socioeconomic and demographic factors might play role in delayed diagnosis. These factors have a big role in developing countries to influence the history of retinoblastoma patients regarding late diagnosis and treatment. 1-3,12,1315

CONCLUSION

The incidence of retinoblastoma in this

as high as previous studies.

study

is

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

151

Karangan Asli

Demographic and socioeconomic factors have a big role in history of retinoblastoma. It is required to improve human resources and facilities to provide better diagnosis and management of retinoblastoma in children.

REFERENCES

1. Aventura ML, Roque MR. Retinoblastoma.

eMedicine February 18 th 2002.

2. Abramson DH, Beaverson K, Sangani P, Vora RA, Lee TC, Hochberg M, et al. Screening for retinoblastoma: Presenting signs as prognosticators of patient and ocular survival. Pediatr 2003;112

(6):1248-55.

3. Butros LJ, Abramson DH, Dunkel IJ.m Delayed diagnosis of retinoblastoma:

Analysis of degree, cause, and potential consequences. Pediatr 2002;109(3)

4. Rubnitz JE, Crist WM. Molecular genetics of childhood cancer: Implications for pathogenesis, diagnosis, and treatment. Pediatr 1997;100:101-8.

5. American Academy of Pediatrics. Committee of Practice and Ambulatory Medicine and Section on Ophthalmology. Eye examination in infants, children, and young adults by pediatricians. Pediatr

2003;111:902-7.

6. Lee SB, Eong KGA, Saw SM, Chan TK,

Lee HP. Eye cancer incidence in Singapore. Br J Ophthalmol 2000;84:767-

70.

7. Armstrong RA. Retinoblastoma and the new genetics. Optometry Today March 12 th 1999.

8. Moll AC, Imhof SM, Schouten-Van Meeteren AYN, Boers M. At what age could screening for familial retinoblastoma be stopped? A register based study 1945-98. Br J Ophthalmol

2000;84:1170-72.

9. Canzano JC,

Handa

JT.

Utility

of

papillary dilatation

for

detecting

leukocoria

in

patients

with

retinoblastoma. Pediatr 1999;104 (4)

10. Rodriguez-Galindo C, Wilson MW, Haik BG, Merchant TE, Billups CA, Shah N, et al. Treatment of intraocular retinoblastoma with vincristine and

carboplastin. J Clin Oncol 2003;21:2019-

25.

11. Tamboli A, Podgor MJ, Horm JW. The incidence of retinoblastoma in the United States: 1974 trough 1985. Arc Ophthalmol 1990;108 (1).

12. Abramson DH, Ellsworth RM, Grumbach N, Kitchin FD. Retinoblastoma: survival, age at detection and comparison 1914- 1958, 1958-1983. J Pediatr Ophthalmol Strabismus 1985;22 (6):246-50.

13. Shields JA, Augsburger JJ. Current approaches to the diagnosis and management of retinoblastoma. Surv ophthalmol 1981;25 (6):347-72.

14. Levy C, Doz F, Quintana E, Pacquement H, Michon J, Schlienger P, et al. Role of chemotherapy alone or in combination with hyperthermia in the primary treatment of intraocular retinoblastoma:

preeliminary results. Br J Ophthalmol

1998;82:1154-58.

15. Chantada G, Fandino A, Marutti J, Urrutia L, Schvartzman E. Late diagnosis of retinoblastoma in a developing country. Arch Dis Child 1999;80:171-4.

152

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

A Comparative Study on The Physical Fitness Level Using The Harvard, Sharkey, and Kash Step Test

Gusbakti Rusip Department of Physiology, Faculty of Medicine Islamic University of North Sumatra, Medan

Step test is one of the indexes used to evaluate the physical fitness of subjects. However, there are three methods of step tests that can be used, each varying in step height:

Harvard step test with a bench height of 45 cm for male and 43 cm for female; Sharkey step test with a height of 40 cm for male and 33 cm for female and Kash step test with a height of 30 cm for both male and female. The purpose of this study was to do a comparative evaluation among the three types of step test and to determine the optimal test in our subjects. Twenty-six medical students (male and female, 19-24 years in age) participated in all the three types of step tests in random order. The rhythm of the stepping was maintained with the help of a metronome for 5min, after which the recovery heart rate was measured according to the respective step test method. The data was analyzed using t-test and correlation analysis. The results indicate that Sharkey step test correlated significantly with Kash step tests (p>0.05). In conclusion, the Sharkey step test was easier and optimal in evaluating the level of physical fitness and the recovery of the cardiovascular system.

Keywords: step test methods, metronome and cardiovascular endurance

Abstrak: Step test merupakan salah satu jenis pengukuran tingkat kebugaran seseorang. Diketahui terdapat tiga metode step test yang berbeda dalam tingginya antara lain metode Harvard dengan menggunakan tinggi bangku bagi laki-laki 45 cm, wanita 43 cm; metode Sharkey untuk laki-laki 40 cm dan wanita 33 cm sedangkan metode Kash menggunakan tinggi yang sama baik laki maupun wanita 30 cm. Tujuan penelitian ini membandingkan ketiga metode ini dengan mendapat hasil yang optimal. Penelitian ini melibatkan 24 mahasiswa/i baik laki maupun wanita yang berumur 19–24 tahun. Kesemua naracoba diikut sertakan dalam menjalan ketiga metode ini yang dilakukan secara acak. Naik turun tangga ini dilakukan dengan mengikuti irama yang teratur dari metronom selama 5 menit (150 kali naik turun), pengukuran denyut nadi dilakukan pada masa pemulihan bagi setiap naracoba. Data yang didapat dianalisa secara statistik dengan uji-t dan analisa korelasi. Dari hasil penelitian ini didapati suatu korelasi yang signifikan pengukuran tingkat kebugaran dengan metode Sharkey dibandingkan dengan metode Kash (p < 0.01), dengan metode Harvard (p < 0.01). Sedangkan, bila dibandingkan metode Harvard dengan metode Kash tidak ada korelasi yang signifikan (p> 0.05). Dapat disimpulkan bahwa dengan metode Sharkey lebih mudah dilakukan yang menghasilkan pengukuran tingkat kebugaran yang optimal.

Kata kunci: metode naik turun tangga, metronom dan kebugaran

INTRODUCTION Step test is one of the indexes used to evaluate the physical fitness of subjects. The level of physical fitness is one of parameters to improve individuals and society’s health. 1,2 Regular exercises can improve physical fitness. The measurement of physical fitness is aimed to know the endurance of cardiovascular. This component of cardiovascular is important to measure

someone’s physical fitness. According to the previous study, the recovery of cardiovascular system. Pulse measurement at the recovery by step test tends to be effective to dedicate that the physical fitness in aerobic. 3,4 In other researchers have reported that the step test in the direct examination of physical fitness can not measure VO 2max . 5 The measurement of the endurance of cardiovascular surely applies some methods, such as Running test of 2.4

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

153

Karangan Asli

km, Running/walking test for 12 minutes, Fast walking test and step tests. From some tests mentioned, the research is interested to study of step test which has got some methods, such as Harvard, Sharkey, and Kash. 6 Froelicher (1983), said that measure of endurance with step test in filed have many advantage for example of which is cheap relative, did not need electrics and calibrate appliance. 7

Purpose This study was to do a comparative evaluation among the three types of step tests and to determine the optimal test in our subjects.

MATERIAL AND METHODS Twenty-six medical students (male and female, 19-24 years in age) participated an all the three types of step tests in random order.

Experimental procedure Every subjects takes an exercise by step test according 3 methods, and detect a pulse at the recovery. However, there are three methods of step tests that can be used, each varying in step height: Harvard step test with a bench height of 45 cm for male and 43 cm for female; Sharkey step test with a height of 40 cm for male and 33 cm for female and Kash step test with a height of 30 cm for both male and female. Harvard method, Subject is asked go up and down a bench rhythmically 120 time/ minutes regularly with a metronome for 5 min (150 steps). The subjects raises his right leg and put it on a bench after being commanded

Score level of physical fitness

“go” (start stopwatch), and then raised left leg beside the right one, afterwards drops right leg and followed by the left one. Before 5 min subjects feel tired the detection is stopped and write down the time. The subjects sits soon after stopping, after 1 minute rest count pulse rate for 30 second.

Assessment formula:

time in second x 100

2 x (pulse1+pulse2+pulse3)

Score level of physical fitness:

Criteria

Score

value

Excellent

5

> 90

Above average

4

80-89

Average

3

65-79

Below average

2

50-64

Poor

1

<50

Sharkey method, The body weight of the subjects is weighed. Subject is asked go up and down a bench rhythmically 90 time/ minutes regularly with a metronome for 5 min. The subjects raises his right leg and put it on a bench after being commanded “go” (start stopwatch), and then raised left leg beside the right one, afterwards drops right leg and followed by the left one. Before 5 min subjects feel tired the detection is stopped and write down the time. The subjects sits soon after stopping, after an hour rest subjects sit 15 seconds, a pulse counted for 15 seconds. The result made (indexes see Table 1 and 2). They must match the body weight of a subject with a pulse produced. The level of physical fitness of the subjects can be seen from the assessment criteria.

 

A g e

Criteria

Score

25

35

45

55

65

 

M

F

M

F

M

F

M

F

M

F

Excellent

5

45

42

43

40

41

3838

39

36

37

34

Above average

4

40

37

38

35

36

33

33

31

32

29

Average

3

35

32

33

30

31

28

29

26

27

24

Below average

2

30

27

28

25

26

23

24

21

22

20

Poor

1

25

22

23

20

21

18

19

16

17

15

Gusbakti Rusip

A Comparative Study on The Physical …

Kash method, The Subject is asked go up and down a bench with rhythmically 96 time/ minutes regularly with a metronome for 3 min. The subjects raises his right leg and put it on a bench after being commanded “go” (start stopwatch), and then raised left leg beside the right one, afterwards drops right leg and followed by the left one. Before 3 min subjects feel tired the detection is stopped and write down the time. The subjects sits soon after stopping, after an hour rest subjects sits for 5 second, a pulse counted for 60 seconds.

Score level of physical fitness

Criteria

Score

Pulse/minutes

Male

Female

Excellent

5

71

96

Above

4

72 -102

97 - 127

average

Average

3

103 - 117

128 - 142

Below

2

118 - 147

143 - 171

average

Poor

1

> 148

> 178

Statistical analysis The data was analyzed using t-test and correlation analysis. Considered to have significant difference (p<0.05).

RESULTS AND DISCUSSION The mayor finding of the present was that level of fitness. Previous many research indicate that to burn 2000 calorie one week in physical fitness, including three methods seen to be its influence fitness. The exercise can make backside muscle, calf and thigh strive harder than walking in flat place. Therefore, exercise steps test influence performance.

Exercise step test by Harvard methods The results of step test shows that 5 min are 17 persons (65%), and les than 5 min are 9 persons (34.6%). The level of physical fitness of excellent are 2 persons (7.7%), above average are 3 persons (11.5%), average are 12 persons (46.1%), below average are 2 persons (7.7%), and poor are 7 persons (26.9%).

Exercise step test by Sharkey methods The results of step test shows that 5 min are 24 persons (92.3%), and les than 5 min are 2 persons (7.7%). The level of physical fitness of excellent are 13 persons (50%), above average are 10 persons (38.5%), average are 2 persons (7.7%), below average are 1 persons (3.8%), and of less none.

Exercise step test by Kash methods The results of step test shows that 3 min are 26 persons (100%). The level of physical fitness of excellent none, above average are 4 persons (15.4%), average are 8 persons (30.8%), below average are 11 persons (42.3%), and poor are 3 persons (11.5%). The results indicate that Sharkey step test correlated significantly with Kash step test (p<0.01) and Harvard step test (p<0.01). However, there was no significant correlation between Harvard and Kash step tests (p>0.05). In this case, its step height size of this three methods directly influence physiological response especially cardiovascular.

CONCLUSION The comparative three methods, the Sharkey step-test was easier and optimal in evaluating the level of physical fitness and the recovery of the cardiovascular system. The step height size influences the result of physical level of fitness.

REFERENCES

1. Pedoman pengukuran kesegaran jasmani,

Depkes RI, 1994.

2. Mc Ardley WD, Katch FI, Katch VC. Energy, nutrition and human performance. Exercise physiology, (3 rd ), 1991; p: 339-4.

3. Maksud MG, Coutts KD, Tisrani FE. Maximal VO 2 , ventilation, and heart rate of olympic speed skating candidates. J Apll Physiol, 1970; 29: 186.

4. Ness GE. Alteration in pulmonary function consequent to competitive swimmers and their parents, J Appl Physiol, 1974; 37: 27.

5. Miyamura M, Kuroda H, Hirata K and Hinda H. Evaluation of the step test scores based on the measurement of maximal aerobic power, J Sport Med Physiol Fitness, 1975; 15: 316-22.

6. Brouha,L. The step test: a simple methode of measuring physical fitness for muscular work in young men, R.Q. 1943; 14: 31-6.

7. Froeliches VF. Exercise testing and training. Chicago: Years book publ, 1983.

Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006

155

Karangan Asli

Table 1. Physical fitness indexes for male

Pulse

body weight (kg)

 
 

54

58

63

68

72

77

81

86

90

95

99

104

108

180

33.0

32.8

32.8

32.6

32.6

32.3

32.3

32.3

62.3

32.1

62.1

31.9

31.9

175

34.8

33.9

33.9

33.7

33.4

33.4

33.4

33.0

33.0

33.0

32.8

32.8

32.8

170

35.4

34.8

34.9

34.8

34.3

34.3

34.3

34.3

34.3

34.3

34.3

34.3

34.3

165

36.7

36.7

35.9

35.6

35.6

35.6

35.2

35.2

35.2

35.2

35.0

34.8

34.8

160

37.2

37.2

37.2

37.2

37.0

36.7

36.7

36.7

36.5

36.5

36.5

35.9

35.9

155

38.7

38.5

38.3

38.1

37.8

37.8

37.8

37.8

37.8

37.8

37.6

37.4

37.4

150

40.3

39.8

39.8

39.6

38.9

38.9

38.9

38.9

38.7

38.7

38.7

38.7

38.5

145

41.6

40.9

40.7

40.3

40.3

40.3

40.0

40.0

40.0

40.0

40.0

40.0

40.0

140

42.9

42.7

42.0

41.8

41.8

41.8

41.6

41.6

41.6

41.6

41.6

41.6

41.6

135

44.4

44.0

43.3

43.1

43.1

43.1

43.1

43.1

43.1

42.9

42.9

42.7

42.5

130

46.2

45.8

45.5

45.3

45.1

44.9

44.9

44.9

44.7

44.7

44.7

44.2

44.2

125

48.0

47.3

47.1

46.9

46.6

46.6

46.6

46.6

46.6

46.6

46.6

46.6

46.6

120

49.7

49.3

49.1

48.8

48.6

48.6

48.4

48.4

48.4

48.4

48.4

48.4

48.4

115

51.7

51.7

51.5

51.0

51.0

51.0

51.0

51.0

50.6

50.6

50.6

50.4

49.5

110

53.7

53.7

53.5

53.2

53.2

53.0</