Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Labio/palato skisis
Labio / palatoskisis merupakan kelainan congenital anomaly yang berupa adanya kelainan bentuk
pada struktur wajah. Kedua keadaan ini di bahas bersama karena berhubungan sangat erat. Kelainan
ini diduga terjadi pada sekitar satu dalam 1000 kelahiran. Deformitas terbagi menjadi 3 kategori:
1.Sumbing pra alveolar, di mana yang terlibat adalah bibir, atau bibir dengan hidung (derajat empat)
2.sumbing alveolar, dimana sumbing melibatkan bibir, tonjolan alveolar dan biasanya palatum
(derajat tiga)
3.Sumbing pasca alveolar, dimana sumbing terbatas hanya pada palatum (derajat pertama dan kedua)
Palatoskisis lebih serius proknosanya dibandingkan dengan labio skisis. Dari bentuknya yang terletak
diantara nasofaring dengan hidung , sehingga menimbulkan masalah dalam hal makan , memudahkan
infeksi saluran pernafasan dan infeksi telinga tengah.
Labioskisis atau clelf lip dapat terjadi berbagai derajat malformasi, mulai dari yang ringan pada tepi
bibir di kanan, di kiri atau kedua tepi bibir dari garis tengah, sampai sumbing yang lengkap berjalan
hingga ke hidung. Terdapat variasi lanjutan dari cacat yang melibatkan palatum.

Definisi labio/palato skisis merupakan konginetal anomali yang berupa adanya kelainan bentuk pada
struktur wajah(Ngastiah,2005)

Labio/palato skisis adalah kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut palato skisis(sumbing
palatum) dan labio skisis (sumbing tulang) untuk menyatu selama perkembbangan embrio
(Hidayat,Azis,2005)

Bibir sumbing adalah malformasi yang disebabkan oleh gagalnya propsuesus nasal median dan
maksilaris untuk menyatu selama perkembangan embriotik. (Wong, Donna L. 2003)
Beberapa jenis bibir sumbing :
a. Unilateral Incomplete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung.
b. Unilateral complete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang hingga ke hidung.
c. Bilateral complete




Patofisiologis palato skisis
Tahap penting dalam pembentukan bibir, palatum, hidung dan rahang, terjadi pada 9 minggu pertama
kehidupan embrio. Mulai sekitar minggu kelima umur kehamilan, prosesus maksilaris tubuh kearah
anterior dan medial, dan menyatu dengan pembentukan prosesus fronto nasal pada dua titik tepat
dibawah lubang hidung dan membentuk bibir atas. Sementara itu palatum dibentuk oleh proses
prosesus palatal dari prosesus maksilaris yang tumbuh kearah medial untuk bergabung dengan septum
nasalis pada garis tengah, kira kira pada umur kehamilan 9 minggu.
Kegagalan pada proses yang kompleks ini dapat terjadi dimanapun pada tahap pembentukannya, yang
akan menghasilkan celah kecil samapai kelainan hiper dari bentuk wajah. Ada kemungkunan yang
terkena bibir saja atau dapat meluas sampai kelubang hidung, atau mengenai maksila dan gigi.
Kelainan celah palatum yang paling ringan hanya melibatkan uvula atau bagian lunak palatum. Celah
bibir dan palatum bisa terjadi secara terpisah atau bersama- sama bercampurnya jenis kelainan bibir,
maksila dan palatum akan menyebabkan kesulitan pembedahan.

Dewasa ini malformasi palatum dan bibir tengah telah dipelajari secara mendalam, sebagai model dari
tahap morfogenesis normal dan abnormal pada system perkembangan yang kompleks. Hal ini terlihat
secara relative, dari tingginya angka kejadian kelainan ini, bahwa pengaturan morfogenesis palatum
sangat sensitive terhadap gangguan genetic dan lingkungan:
1.Genetic : Trysomi13 atau sindroma patau dihubungkan dengan pembentukan celah yang lebar dari
bibir dan maksila.
2.Linkungan : efek tetratogen menyebabkan celah bibir atau celah palatum.

Ada beberapa factor selular yang terlibat dalam penyatuan prosesus fronto nasal dan maksilar.
Diferensiasi sel epitel pada prosesus palatal mempunyai peranan penting pada proses penyatuan.
Mekanisme terpenting diperantarai sel mesenkim dan prosesus palatal yang menginduksi diferensiasi
sel epitel untuk membentuk baik sel epitel nasal bersilia maupun sel epitel sekuamosa bucal. Pada
tikus telah ditemukan bahwa konsentrasi glukortikoid yang fisiologis, factor tubuh epidermal
diperlukan untuk mencapai bentuk normal yang perubahan konsenyrasinya dapat menebabkan celah
pada palatum.

Etiologi palato skisis
1.Kegagalan fase embrio yang penyebabnya belum diketahui
2.Fraktur herediter
3.Genetik : abnormal kromosom (trisomy 13 syndrome), mutasi gen
4.Lingkungan : teratogen (agen atau factor yang menimbulka cacat pada masa embrio :asam folik,
antagonis atau anti kejang)
5.Perubahan konsentrasi glukortikoid dan perubahan faktor pertumbuhan epidermal
Penatalaksanaan :
1. Penatalaksanaan MedisPenatalaksanaan bibir sumbing adalah tindakan bedah efektif yang
melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk penanganan selanjutnya. Adanya kemajuan teknik
bedah, orbodantis,dokter anak, dokter THT, serta hasil akhir tindakan koreksi kosmetik dan
fungsional menjadi lebih baik. Tergantung dari berat ringan yang ada, maka tindakan bedah
maupun ortidentik dilakukan secara bertahap.Biasanya penutupan celah bibir melalui
pembedahan dilakukan bila bayi tersebut telah berumur 1-2 bulan. Setelah memperlihatkan
penambahan berat badan yang memuaskan dan bebas dari infeksi induk, saluran nafas atau
sistemis.
Perbedaan asal ini dapat diperbaiki kembali pada usia 4-5 tahun. Pada kebanyakan kasus,
pembedahan pada hidung hendaknya ditunda hingga mencapi usia pubertas.
Karena celah-celah pada langit-langit mempunyai ukuran, bentuk danderajat cerat yang cukup
besar, maka pada saat pembedahan, perbaikan harus disesuaikan bagi masing-masing
penderita.
Waktu optimal untuk melakukan pembedahan langit-langit bervariasi dari 6 bulan 5 tahun.
Jika perbaikan pembedahan tertunda hingga berumur 3 tahun, maka sebuah balon bicara dapat
dilekatkan pada bagian belakang geligi maksila sehingga kontraksi otot-otot faring dan
velfaring dapat menyebabkan jaringan-jaringan bersentuhan dengan balon tadi untuk
menghasilkan penutup nasoporing.

2. Penta laksanaan Keperawatan
a. Perawatan Pra-Operasi:
1) Fasilitas penyesuaian yang positif dari orangtua terhadap bayi.
a) Bantu orangtua dalam mengatasi reaksi berduka
b) Dorong orangtua untuk mengekspresikan perasaannya.
c) Diskusikan tentang pembedahan
d) Berikan informasi yang membangkitkan harapan dan perasaan yang positif terhadap bayi.
e) Tunjukkan sikap penerimaan terhadap bayi.
2) Berikan dan kuatkan informasi pada orangtua tentang prognosis dan pengobatan bayi.
a) Tahap-tahap intervensi bedah
b) Teknik pemberian makan
c) Penyebab devitasi
3) Tingkatkan dan pertahankan asupan dan nutrisi yang adequate.
a) Fasilitasi menyusui dengan ASI atau susu formula dengan botol atau dot yang
cocok.Monitor atau mengobservasi kemampuan menelan dan menghisap.
b) Tempatkan bayi pada posisi yang tegak dan arahkan aliran susu ke dinding mulut.
c) Arahkan cairan ke sebalah dalam gusi di dekat lidah.
d) Sendawkan bayi dengan sering selama pemberian makan
e) Kaji respon bayi terhadap pemberian susu.
f) Akhiri pemberian susu dengan air.
4) Tingkatkan dan pertahankan kepatenan jalan nafas
a) Pantau status pernafasan
b) Posisikan bayi miring kekanan dengan sedikit ditinggikan
c) Letakkan selalu alat penghisap di dekat bayi
b. Perawatan Pasca-Operasi
1) Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adequate
a) Berikan makan cair selama 3 minggu mempergunakan alat penetes atau sendok.
b) Lanjutkan dengan makanan formula sesuai toleransi.
c) Lanjutkan dengan diet lunak
d) Sendawakan bayi selama pemberian makanan.
2) Tingkatkan penyembuhan dan pertahankan integritas daerah insisi anak.
a) Bersihkan garis sutura dengan hati-hati
b) Oleskan salep antibiotik pada garis sutura (Keiloskisis)
c) Bilas mulut dengan air sebelum dan sesudah pemberian makan.
d) Hindari memasukkan obyek ke dalam mulut anak sesudah pemberian makan untuk
mencegah terjadinya aspirasi.
e) Pantau tanda-tanda infeksi pada tempat operasi dan secara sistemik.
f) Pantau tingkat nyeri pada bayi dan perlunya obat pereda nyeri.
g) Perhatikan pendarahan, cdema, drainage.
h) Monitor keutuhan jaringan kulit
i) Perhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat tidak steril, missal alat
tensi
EVALUASI
1. Diagnosa I : Koping keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain atau krisis
perkembangan keadaan dari orang terdekat mungkin muncul ke permukaan.
Mengatur masalah
Mengekspresikan perasaan dan emosional dengan bebas
Menggunakan startegi pengurangan stress
Membuat jadwal untuk rutinitas dan kegiatan keluarga

2. Diagnosa II : Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat elevasi tubuh
bagian atas.
Monitor lingkungan faktor resiko
Gunakan strategi kontrol resiko yang efektif
Modifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
Monitor perubahan status kesehatan

3. Diagnosa III : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakseimbangan.
Menggunakan pesan tertulis
Menggunakan bahasa percakapan vokal
Menggunakan percakapan yang jelas
Menggunakan gambar/lukisan
Menggunakan bahasa non verbal

4. Diagnosa IV : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidak mampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis.
Stamina
Tenaga
Penyembuhan jaringan
Daya tahan tubuh
Pertumbuhan (untuk anak)

5. Diagnosa V : Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri.
Mampu mengenali nyeri (skal), intensitas, frekwensi, dan tanda nyeri.
TTV dalam batas normal

6. Diagnosa VI : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif.
Monitor gejala kemunduran penglihatan
Hindari tauma mata
Hindarkan gejal penyakit mata
Gunakan alat melindungi mata
Gunakan resep obat mata yang benar


Daftar pustakanyo mel :
Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak bagian 2. Jakarta; Fajar Interpratama.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.