Anda di halaman 1dari 11

PAPER

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Sklera adalah pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar. Permukaan

luar sklera anterior dibungkus oleh sebuah lapisan tipis dari jaringan elastik halus
yaitu episklera yang mengandung banyak pembuluh darah. Episkleritis adalah
peradangan pada episklera1. Episkleritis merupakan penyakit yang sembuh sendiri dan
penyebabnya masih tidak dapat diketahui dengan jelas, tetapi 30% diduga
berhubungan dengan penyakit sistemik yang mendasari dan selebihnya berhubungan
dengan infeksi bakterial atau viral2.
Episkleritis secara tipikal terjadi dalam beberapa hari sampai beberapa
minggu, biasa terjadi pada dewasa dengan umur antara 20-50 tahun. Keluhan utama
adalah kemerahan tanpa iritasi yang dapat membaik secara spontan. Rasa nyeri yang
ringan dapat dijumpai. Warna karakteristik dari episkleritis adalah merah terang atau
merah jambu pada pencahayaan biasa. Episkleritis dibagi atas dua tipe yaitu simple
dan nodular3. Yang paling sering terjadi adalah simple episkleritis yaitu sekitar 80%2.
Episkleritis bersifat rekuren, dimana apabila terjadi kekambuhan dapat
bertahan sampai berbulan-bulan. Apabila terdapat kekambuhan, perlu dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab dari episkleritis tersebut.
1.2.

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan paper ini adalah untuk mengetahui segala sesuatu yang

berhubungan dengan Episkleritis mulai dari definisi, gejala klinis, hingga


penatalaksaaan agar tidak terjadi kekambuhan terus menerus dari penyakit ini. Selain
itu, tujuan penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat menyelesaikan
Pendidikan Profesi Dokter di Departemen Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi
2.1.1. Sklera
Sklera merupakan jaringan kuat yang lentur dan berwarna putih pada bola
mata yang bersama-sama dengan kornea merupakan pembungkus di bagian belakang
dan pelindung isi bola mata. Sklera meliputi 5/6 anterior dari bola mata dengan
diameter lebih kurang 22 mm. Di anterior sklera berhubungan kuat dengan kornea
dalam bentuk lingkaran yang disebut limbus, sedangkan di posterior dengan
durameter nervus optikus2.
Secara histologis sklera terdiri dari banyak pita padat yang sejajar dan berkasberkas jaringan fibrosa yang teranyam, yang masing-masing mempunyai tebal 10-16
mikro dan lebar 100-150 mikro. Dibandingkan dengan kornea, jaringan fibrosa sklera
mempunyai daya pembiasan yang lebih kuat, tidak mempunyai jarak yang tetap antara
berkas jaringan fibrosanya dan mempunyai diameter yang berbeda-beda. Hal ini yang
membuat sklera bersifat opak. Sklera mempunyai kekakuan tertentu sehingga
memengaruhi pengukuran tekanan bola mata2.
Di sekitar nervus optikus, sklera ditembus oleh arteri siliaris posterior longus
dan brevis serta nervus siliaris longus dan brevis. Arteri siliaris longus dan nervus
siliaris longus berjalan dari nervus optikus menuju ke korpus siliaris di sebuah
lekukan dangkal pada permukaan dalam sklera. Beberapa lembar jaringan sklera
berjalan melintang bagian anterior nervus optikus sebagai lamina kribrosa. Bagian
dalam sklera berwarna hitam kecoklatan yang disebut dengan lamina fuschka,
dihubungkan dengan koroid oleh filamen-filamen yang terdiri dari jaringan ikat yang
mengandung pigmen dan membuat dinding luar dari ruang suprakoroid dan ditembus
oleh serabut saraf dan pembuluh darah. Permukaan luar sklera anterior dibungkus
oleh sebuah lapisan tipis dari jaringan elastik halus yaitu episklera2.
2.1.2. Episklera
Episklera mengandung banyak pembuluh darah yang menyediakan nutrisi
untuk sklera dan permeable terhadap air, glukosa dan protein. Episklera juga
berfungsi sebagai lapisan pelicin bagi jaringan kolagen dan elastis dari sklera dan
akan bereaksi hebat jika terjadi inflamasi pada sklera2.
2

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

Jaringan fibroelastis dari episklera mempunyai dua lapisan yaitu lapisan


viseral yang lebih dekat ke sklera dan lapisan parietal yang bergabung dengan fasia
dari otot dan konjungtiva dekat limbus. Pleksus episklera posterior berasal dari siliari
posterior. Sementara itu di episklera anterior berhubungan dengan pleksus
konjungtiva, pleksus episklera superfisial dan pleksus episklera profunda2.

Gambar 2.1. Anatomi sklera dan episklera4


2.2. Definisi Episkleritis
Episkleritis adalah suatu reaksi inflamasi rekuren yang ringan pada jaringan
episklera, meliputi kapsula Tenon tetapi tidak melibatkan sklera. Episkleritis adalah
penyakit pada episklera yang paling sering, biasanya mengenai orang dewasa muda,
dua kali lebih banyak pada wanita dibandingkan pria, berhubungan dengan penyakit
sistemik penyertanya tetapi tidak dapat berkembang menjadi skleritis2,5.
2.3. Epidemiologi
Angka kejadian pasti tidak diketahui karena banyaknya pasien yang tidak
berobat. Terdapat laporan 74 % kasus terjadi pada perempuan dan sering terjadi pada
usia dewasa muda dan pertengahan2,6. Pada anak-anak episkleritis biasanya
3

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

menghilang dalam 7-10 hari dan jarang rekuren. Pada dewasa, 30 % kasus
berhubungan dengan penyakit jaringan ikat penyertanya, penyakit inflamasi saluran
cerna, infeksi herpes, gout, dan vaskulitis. Penyakit sistemik biasanya jarang pada
anak-anak2,7.
2.4. Etiologi
Episkleritis jarang berhubungan dengan salah satu dari kelainan sistemik dan
banyak disebabkan oleh inflamasi bakterial atau viral. Hubungan yang paling sering
adalah dengan hiperurisemia (Gout). Sangat sering episkleritis tidak memiliki
penyebab yang jelas2,8.

Gambar 2.2. Etiologi Episkleritis8


2.5. Patofisiologi
Patofisiologi belum diketahui secara pasti namun ditemukan respon inflamasi
yang terlokalisir pada superficial episcleral vascular network2. Patologinya
menunjukkan inflamasi nongranulomatosa dengan dilatasi vaskular dan infiltrasi
perivaskular. Secara histologis, terdapat infiltrasi limfositik lokal dari jaringan
episklera yang berhubungan dengan edema dan kongesti dari kapsula Tenon dan
konjungtiva5.
2.6. Manifestasi Klinis
Terdapat dua tipe klinik yaitu simple dan nodular. Tipe yang paling sering
dijumpai adalah simple episcleritis sebesar 80%2,. Manifestasinya adalah sebagai
berikut9:

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

1. Simple Episcleritis
a. Onset bersifat akut.
b. Keluhan utama adalah mata kemerahan, banyak cairan mata yang keluar,
biasanya ketidaknyamanan okular ringan dan dapat bersifat bilateral.
c. Tampak kemerahan yang memiliki batas yang jelas.
d. Lebih banyak terjadi pada region interpalpebral.
e. Penglihatan tidak terganggu.
2. Nodular Episcleritis
a. Onset gradual setelah beberapa hari.
b. Keluhan utama adalah kemerahan, banyak cairan mata yang keluar, nyeri
yang bersifat lokal.
c. Tampak sebagai elevasi nodular dengan diameter 2-3 mm, biasanya sangat
merah.
d. Penglihatan tidak terganggu.

Gambar 2.3. Kiri: Simple Episcleritis, Kanan: Nodular Episcleritis3,5.


2.7. Pemeriksaan Fisik
Ditandai dengan adanya hiperemia lokal sehingga bola mata tampak berwarna
merah muda atau keunguan. Juga terdapat infiltrasi, kongesti, dan edema episklera,
konjungtiva diatasnya dan kapsula tenon di bawahnya.
1. Episkleritis Sederhana
Gambaran

yang paling sering ditandai dengan kemerahan sektoral dan

gambaran yang lebih jarang adalah kemerahan difus. Jenis ini biasanya sembuh
spontan dalam 1-2 minggu.
5

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

2. Episkleritis Noduler
Ditandai dengan adanya kemerahan yang terlokalisir, dengan nodul kongestif
dan biasanya sembuh dalam waktu yang lebih lama.
a.

Pemeriksaan dengan Slit Lamp yang tidak menunjukkan peningkatan


permukaan sklera anterior mengindikasikan bahwa sklera tidak membengkak.

b.

Pada kasus rekuren, lamela sklera superfisial dapat membentuk garis


yang paralel sehinggga menyebabkan sklera tampak lebih translusen. Gambaran
seperti ini jangan disalah diagnosa dengan penipisan sklera2.
Pada kasus yang jarang pemeriksaan pada kornea menunjukkan adanya dellen

formation yaitu adanya infiltrat kornea bagian perifer. Pemeriksaan fisik lainnya
adalah adanya uveitis bagian anterior yang didapatkan pada 10 % penderita.
Pemeriksaan visus pada penderita episkleritis tidak menunjukkan penurunan2.
2.8. Pemeriksaan Penunjang
Pada kebanyakan pasien dengan episkleritis yang self limited pemeriksaan
laboratorium tidak diperlukan . Pada beberapa pasien dengan episkleritis noduler atau
pada kasus yang berat, rekuren dan episkleritis sederhana yang persisten atau rekuren,
diperlukan hitung jenis sel darah (diff count), kecepatan sedimentasi eritrosit (ESR),
pemeriksaan asam urat serum, foto thoraks, pemeriksaan antibodi antinuklear,
rheumatoid factor, tes VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) dan tes FTAABS (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption) untuk mengetahui ada penyakit
yang mendasari atau tidak2.
2.9. Diagnosa Banding
1. Konjungtivitis
Disingkirkan dengan sifat episkleritis yang lokal dan tidak adanya keterlibatan
konjungtiva palpebra. Konjungtivitis juga bisa disingkirkan dengan kurangnya injeksi
konjungtival ataupun discharge. Hal ini akan membedakan konjungtivitis dengan
episkleritis2.
2. Skleritis
Dalam hal ini adalah perbedaan antara episkleritis nodular dan skleritis
nodular. Untuk mendeteksi keterlibatan sklera dalam dan membedakannya dengan
episkleritis, pemeriksaannya dilakukan di bawah sinar matahari (jangan pencahayaan
artifisial) disertai penetesan epinefrin 1:1000 atau fenilefrin 10% yang menimbulkan
6

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

konstriksi pleksus vascular episklera superfisial dan konjungtiva. Pada skleritis nodul
terdiri dari sklera yang bengkak dan tidak mobile, hal ini bertentangan dengan
episkleritis2,7.

Gambar 2.4. Kiri: Episkleritis sebelum diberikan vasokonstriktor; Kanan:


Episkleritis setelah diberi vasokonstriktor10.
2.10. Penatalaksanaan
Episkleritis dapat memerlukan atau tidak memerlukan pengobatan, namun
episkleritis y` ang difus dapat menjadi agrafasi dan gangguan kosmetik sementara.
Pada episkleritis ringan dapat diberikan tindakan suportif seperti kompres dingin
dengan menggunakan es. Apabila terdapat gangguan dalam beraktifitas pada pasien,
pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian NSAID. Pasien dengan gangguan
imun sistemik juga dapat diberikan pengobatan berdasarkan etiologinya, seperti Gout
dapat dikombinasikan dengan allopurinol2.
1. Simple Lubrikan atau Vasokonstriktor
Digunakan pada kasus yang ringan.
2. Steroid Topikal
Mungkin cukup berguna, akan tetapi penggunaannya dapat menyebabkan
rekurensi. Oleh karena itu dianjurkan untuk memberikannya dalam periode waktu
yang pendek. Terapi topikal dengan Deksametason 0,1 % meredakan peradangan
dalam 3-4 hari. Kortikosteroid lebih efektif untuk episkleritis sederhana daripada
daripada episkleritis noduler.
3. Oral Non Steroid Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs)
Obat yang termasuk golongan ini adalah Flurbiprofen 300 mg sehari, yang
diturunkan menjadi 150 mg sehari setelah gejala terkontrol, atau Indometasin 25 mg
tiga kali sehari. Obat ini mungkin bermanfaat untuk kedua bentuk episkleritis,

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

terutama pada kasus rekuren. Pemberian aspirin 325 sampai 650 mg per oral 3-4 kali
sehari disertai dengan makanan atau antasid.

Gambar 2.5. Nama obat untuk Episkleritis10


4. Episkleritis memiliki hubungan yang paling signifikan dengan hiperurisemia
(Gout), oleh karena itu Gout harus diterapi secara spesifik.
Pasien yang diberi pengobatan dengan air mata artifisial tidak perlu diperiksa
kembali episkleritisnya dalam beberapa minggu, kecuali bila gejala tidak membaik
atau malah makin memburuk. Pasien yang diberi steroid topikal harus diperiksa setiap
mingggunya (termasuk pemeriksaan tekanan intraokular) sampai gejala-gejalanya
hilang. Kemudian frekuensi pemberian steroid topikal ditappering off. Kepada pasien
harus dijelaskan bahwa episkleritis dapat berulang pada mata yang sama atau pada
mata sebelahnya2.
2.11.Prognosis
Simple episcleritis membaik pada minggu pertama dan sembuh dalam 3
minggu. Penyembuhan episkleritis noduler lebih lambat. Episkleritis noduler
beregresi secara gradual setelah periode yang bervariasi dan akan menghilang,
walaupun terjadi dalam waktu 2 bulan tanpa pengobatan 6. Namun kekambuhan dapat
terjadi selama bertahun-tahun2. Lebih dari 60% dari penderita dapat mengalami
rekurensi dalam 3-6 tahun setelah onset penyakit, tetapi episode terjadinya penyakit
dapat mengalami penurunan setelah 3-4 tahun pertama sampai akhirnya penyakit
tidak berulang lagi10.

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

BAB 3
KESIMPULAN
Sklera merupakan jaringan kuat yang lentur dan berwarna putih pada bola
mata yang bersama-sama dengan kornea merupakan pembungkus di bagian belakang
dan pelindung isi bola mata. Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh sebuah
lapisan tipis dari jaringan elastik halus yaitu episklera yang mengandung banyak
pembuluh darah yang menyediakan nutrisi untuk sklera dan permeable terhadap air,
glukosa dan protein.
Episkleritis adalah suatu reaksi inflamasi rekuren yang ringan pada jaringan
episklera, meliputi kapsula Tenon tetapi tidak melibatkan sklera. Episkleritis adalah
penyakit pada episklera yang paling sering, biasanya mengenai orang dewasa muda,
dua kali lebih banyak pada wanita dibandingkan pria, berhubungan dengan penyakit
sistemik penyertanya tetapi tidak dapat berkembang menjadi skleritis. Episkleritis
jarang berhubungan dengan salah satu dari kelainan sistemik dimana paling sering
dengan hiperurisemia atau Gout.
Terdapat dua tipe klinik yaitu simple dan nodular. Tipe yang paling sering
dijumpai adalah simple episcleritis sebesar 80%. Episkleritis dapat memerlukan atau
tidak memerlukan pengobatan, namun episkleritis yang difus dapat menjadi agrafasi
dan gangguan kosmetik sementara. Pada episkleritis ringan dapat diberikan tindakan
suportif seperti kompres dingin dengan menggunakan es. Apabila terdapat gangguan
dalam beraktifitas pada pasien, pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian
NSAID. Pasien dengan gangguan imun sistemik juga dapat diberikan pengobatan
berdasarkan etiologinya, seperti Gout dapat dikombinasikan dengan allopurinol.

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

DAFTAR PUSTAKA
1. Karina, S. 2012. Episkleritis Noduler. Bogor: Universitas Trisakti/RS
Marzoeki Mahdi Bogor. Available from:
http://www.scribd.com/doc/101739857/episkleritis-kasus. [Accessed 11 Juni
2014]
2. Abu Bakar, A. 2011. Episkleritis. Bandung: Universitas Padjajaran/RS Hasan
Sadikin Bandung. Available from:
http://www.scribd.com/doc/180683193/REFERAT-EPISKLERITISFINALLLLLLLLLL [Accessed 11 Juni 2014]
3. American Academy of Ophtalmology. 2012. Section 8: External Disease and
Cornea. America: American Academy of Ophtalmology.
4. Riordan-Eva, P. dan Whitcher, J. 2007. Uveal Tract and Sclera. Dalam:
Vaughan & Asburys General Ophtalmology 17th edition. America: Lange
McGraw Hill.
5. Khurana, A. 2007. Diseases of the Sclera. Dalam: Comprehensive
Ophtalmology 4th edition. New Delhi: New Age International.
6. Jaypee. 2002. External Eye Disease. Dalam: Textbook of Ophtalmology 1 st
edition. New Delhi: Jaypee Brothers. Available from:
http://books.google.co.id/books?
id=5KeMFEE1s0AC&pg=PA930&dq=episcleritis&hl=en&sa=X&ei=6W6YU
574PJC3uATZ2oCABg&redir_esc=y#v=onepage&q=episcleritis&f=false
[Accessed 11 Juni 2014]
7. Roy, H. 2014. Episkleritis. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/1228246-clinical#a0218 [Accessed 12
Juni 2014]
8. Long, G. 2000. Sclera. Dalam: Ophtalmology: A Short Textbook. New York:
Thieme Stuttgart.
9. Gold, D. dan Lewis, R. 2011. Sclera. Dalam: Clinical Eye Atlas 2 nd edition.
New York: Oxford University Press. Available from:
http://books.google.co.id/books?
id=qDd_IiblCiUC&printsec=frontcover#v=onepage&q&f=false [Accessed 12
Juni 2014]

10

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

10. Maza, M. dan Tauber, J. 2012. Clinical Considerations of Episcleritis and


Scleritis. Dalam: The Sclera 2nd edition. New York: Springer. Available from:
http://books.google.co.id/books?
id=y9GBut6ypDcC&printsec=frontcover&dq=episcleritis&hl=en&sa=X&ei=
50WZU-XvKID8gXAsYHQBA&redir_esc=y#v=onepage&q=episcleritis&f=false [Accessed
12 Juni 2014]

11