Anda di halaman 1dari 10

BAGIAN I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini, bangsa Indonesia baru saja melaksanakan pemilihan umum yang merupakan
salah satu bentuk pelaksanaan kedaulatan rakyat Indonesia sebagai negara demokasi. Pemilihan
umum tersebut merupakan proses yang penting dalam kerangka pembangunan nasional yang
akan berujung pada terbentuknya komposisi pemerintahan baru untuk melanjutkan pembangunan
nasional selama periode lima tahun ke depan. Selain itu saat ini utang luar negeri Indonesia telah
mencapai USD269,27 miliar atau Rp3.042,751 triliun. Besaran utang tersebut naik sekitar
USD5,21 miliar atau 1,97% dari jumlah utang bulan sebelumnya yang tercatat berada pada
USD264,06 miliar.
Oleh karena itu, usaha pemerintah dalam meningkatkan penerimaan negara sangat
diperlukan untuk menopang seluruh kegiatan pembangunan nasional di bawah pemerintahan
yang baru dan melakukan pelunasan utang luar negeri Indonesia. Usaha tersebut antara lain
dengan melakukan kegiatan ekspor non-migas maupun migas, namun dalam kenyataannya
akibat permintaan pasar luar negri yang lesu, sekarang sektor tersebut sulit diandalkan oleh
pemerintah, maka dari itu pemerintah mencari solusi lain untuk meningkatkan penerimaan
negara dan akhirnya pemerintah tidak punya pilihan lain selain bekerja keras dalam
mengoptimalkan penerimaan dari sektor pajak yang di kelola oleh Direktorat Jenderal Pajak
(DJP).
Direktorat Jenderal Pajak merupakan salah satu institusi di bawah Kementerian
Keuangan yang mempunyai peran penting terhadap jalannya penerimaan negara dari sektor
pajak, selain itu DJP juga mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap tercapainya target
penerimaan dana demi terealisasinya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Tugas berat
DJP untuk mengemban sekitar 80% penerimaan negara dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN), tentu saja bukanlah tugas ringan, melainkan tugas berat sekaligus
sebagai tugas mulia.
Dengan diketahui betapa besarnya persentase pajak dalam penerimaan negara, maka
pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak harus mengoptimalkan penerimaan negara melalui
pajak dengan melakukan perluasan basis pajak pada sektor-sektor yang akan digali potensinya
karena belum tersentuh secara maksimal diantaranya sektor perdagangan. Salah satu sektor
perdagangan tersebut adalah di sektor perdagangan emas yang sangat potensial mendukung
realisasi penerimaan pajak.
Karena sistem perpajakan Indonesia memberlakukan sistem self assessment, maka wajib pajak
diberikan kebebasan melaksanakan kewajiban perpajakannya, sehingga wajib pajak bersifat aktif
dalam melaporkan dan membayar sendiri pajak terhutang yang seharusnya dibayar, namun
dikarenakan kemampuan masyarakat memahami Undang- Undang Perpajakan berbedabeda
sehingga masih banyak wajib pajak yang belum melaksanakan kewajiban perpajakannya secara
benar tak terkecuali pada pedagang emas.
Masalah yang sering terjadi salah satunya pelanggaran saat menyampaikan data yang
sebenarnya dalam mengurus laporan pajak, diduga masih banyak yang memanipulasi data
keuangannya saat mengurus laporan pajak, hal ini harus menjadi perhatian besar bagi fiskus
untuk melakukan pengawasan terhadap pengusaha emas ataupun pedagang emas. Selain itu
masih banyak dari pedagang emas ataupun pengusaha emas yang kurang mengerti dalam hal
melaksanakan kewajiban pembukuan tentang pajaknya sehingga dapat menghambat pemeriksaan
kepatuhan perpajakannya, maka dari itu sosialisasi oleh pihak fiskus sangatlah penting untuk
meningkatkan kepatuhan wajib pajak terutama untuk pedagang emas atau pengusaha emas
sehingga realisasi penerimaan pajak dapat tercapai dengan baik.
Dari permasalahan yang berkaitan pengenaan PPN pada penyerahan emas perhiasan,
penulis mempunyai pemikiran untuk menjadikannya topik utama dalam penyusunan laporan
Praktik Kerja lapangan dengan judul KONTRIBUSI PENGENAAN PAJAK
PERTAMBAHAN NILAI ATAS PENYERAHAN EMAS PERHIASAN SEBAGAI
KEWAJIBAN PELAKSANAAN PEMUNGUTAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
DALAM RANGKA MENINGKATKAN PENERIMAAN PAJAK DI KANTOR
PELAYANAN PAJAK PRATAMA SINGOSARI.
B. Tujuan penulisan
1. Untuk memenuhi salah satu persyaratan agar dinyatakan lulus dari pendidikan Program
Diploma I Spesialisasi Pajak yang diselenggarakan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan
Keuangan.
2. Untuk memperoleh gambaran atas implementasi di lapangan terhadap teori dan peraturan
yang didapatkan selama perkuliahan.
3. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai prosedur pelaporan pemungutan PPN atas
penyerahan emas perhiasan sebagai pelaksanaan kewajiban perpajakannya.
4. Mencari penyelesaian masalah yang berkaitan dengan pengenaan PPN atas penyerahan
emas perhiasan.

C. Metode Pengumpulan Data
Penulis menggunakan beberapa metode untuk mengumpulkan data, yaitu metode studi
kepustakaan dan metode observasi.
1. Metode Studi Kepustakaan
Metode ini dapat dilakukan dengan mendapatkan data dari membaca teori pada
peraturan/Undang-Undang, bukubuku dan literaturliteratur yang berkaitan dengan
pokok bahasan.
2. Metode Observasi
Metode ini dilakukan penulis untuk mendapatkan data dengan terjun ke lapangan untuk
mengamati secara langsung objek permasalahan yang ada di laporan selama mengikuti
PKL.

D. Ruang Lingkup Penulisan
1. A
2. B
3. C








E. Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisikan tentang latar belakang, pembuatan judul, tujuan
penulisan , metode pengumpulan data yang dipakai dalam penulisan,
ruang lingkukp penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB 2 : PERMASALAHAN
Bab ini berisikan tentang Dasar hukum, ketentuan yang berkaitan dengan
pengenaan PPN dalam penyerahan emas perhiasan, masalah yang sering
timbul berkenaan dengan pengenaan PPN tersebut dan mencari solusi
permasalahannya.
BAB 3 : PENUTUP
Dalam Bab ini berisi kesimpulan dan saran atas pembahasan dari
permasalahan yang mengenai topic yang bersangkutan.

BAGIAN II

PERMASALAHAN

A. Kondisi yang Seharusnya
1. Pengertian Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan emas perhiasan.
2. Dasar hukum Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan emas perhiasan.
3. Subjek pajak Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan emas perhiasan.
4. Objek pajak Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan emas perhiasan.
5. Jatuh tempo lapor dan tata cara pelaporan Pajak Pertambahan Nilai atas
penyerahan emas perhiasan.
6. Jatuh tempo bayar dan tata cara pembayaran Pajak Pertambahan Nilai atas
penyerahan emas perhiasan.
7. Mekanisme Pengkreditan Pajak Pertambahan Nilai.
B. Kondisi yang ditemukan
1. Gambaran umum KPP Pratama Singosari.
2. Laporan pengenaan PPN atas penyerahan emas perhiasan di KPP Pratama
Singosari
C. Pembahasan
1. Identifikasi Masalah
2. Pemecahan Masalah

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN