Anda di halaman 1dari 6

4

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Air Laut
Air laut adalah air dari laut atau samudera. Air laut memiliki kadar
garam rata-rata 3,5%. Artinya dalam 1 liter (1000 mL) air laut terdapat 35
gram garam (terutama, namun tidak seluruhnya, garam dapur/NaCl).
Walaupun kebanyakan air laut di dunia memiliki kadar garam
sekitar 3,5 %, air laut juga berbeda-beda kandungan garamnya. Yang
paling tawar adalah di timur Teluk Finlandia dan di utara Teluk Bothnia,
keduanya bagian dari Laut Baltik. Yang paling asina dalah di Laut Merah,
di mana suhu tinggi dan sirkulasi terbatas membuat penguapan tinggi dan
sedikit masukan air dari sungai-sungai. Kadar garam di beberapa danau
dapat lebih tinggi lagi.
Air laut memiliki kadar garam karena bumi dipenuhi dengan garam
mineral yang terdapat di dalam batu-batuan dan tanah. Contohnya natrium,
kalium, kalsium, dll. Apabila air sungai mengalir ke lautan, air tersebut
membawa garam. Ombak laut yang memukul pantai juga dapat
menghasilkan garam yang terdapat pada batu-batuan. Lama-kelamaan air
laut menjdai asin karena banyak mengandung garam.
(www.duniabaca.com).


5

2.2. Evaporasi
Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan molekul di
dalam keadaan cair (contohnya air) dengan spontan menjadi gas
(contohnya uap air). Proses ini adalah kebalikan dari kondensasi.
Umumnya penguapan dapat dilihat dari lenyapnya cairan secara
berangsur-angsur ketika terpapar pada gas dengan volume signifikan.
Rata-rata molekul tidak memiliki energi yang cukup untuk lepas
dari cairan. Bila tidak cairan akan berubah menjadi uap dengan cepat.
Ketika molekul-molekul saling bertumbukan mereka saling bertukar
energy dalam berbagai derajat, tergantung bagaimana mereka
bertumbukan. Terkadang transfer energy ini begitu berat sebelah, sehingga
salah satu molekul mendapatkan energi yang cukup buat menembus titik
didih cairan. Bila ini terjadi di dekat permukaan cairan molekul tersebut
dapat terbang ke dalam gas dan "menguap".
Ada cairan yang kelihatannya tidak menguap pada suhu tertentu di
dalam gas tertentu (contohnya minyak makan pada suhu kamar). Cairan
seperti ini memiliki molekul-molekul yang cenderung tidak menghantar
energy satu sama lain dalam pola yang cukup buat member satu molekul
"kecepatan lepas" energy panas - yang diperlukan untuk berubah
menjadi uap. Namun cairan seperti ini sebenarnya menguap, hanya saja
prosesnya jauh lebih lambat dan karena itu lebih tak terlihat.
Penguapan adalah bagian esensial dari siklus air. Energi surya
menggerakkan penguapan air dari samudera, danau, embun dan sumber air
6

lainnya. Dalam hidrologi penguapan dan transpirasi (yang melibatkan
penguapan di dalam stomata tumbuhan) secara kolektif diistilahkan
sebagai evapo transpirasi. (www.id.wikipedia.org).

2.3. Kadar Garam
Kadar air laut merupakan salah satu faktor penting dalam
mempelajari air laut. Air laut mengandung garam-garaman, gas terlarut,
bahan organik dan partikel yang tak terlarut. Keberadaan garam-garaman
mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti densitas, kompresibilitas, titik
beku dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum) beberapa
tingkat tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat lainnya seperti
viskositas, daya serap cahaya tidak terpengaruh secara signifikan oleh
salinitas.
Bagaimanakah awalnya air laut bisa menjadi asin(karena
kandungan garamnya tinggi) padahal air laut juga berasal dari air di darat.
Awalnya diperkirakan bahwa zat-zat kimia yang menyebabkan air laut
asin berasal dari darat yang dibawa oleh sungai-sungai yang mengalir ke
laut entah dari batuan-batuan darat, dari tanah longsor atau gejala alam
lainnya. Jika hal ini benar maka tentunya susunan kimiawi air sungai akan
sama dengan susunan kimiawi air laut. Menurut teori, zat-zat garam
tersebut berasal dari dalam dasar laut melalui proses outgrassing yakni
perembesan dari kulit bumi di dasar laut yang berbentuk gas ke permukaan
dasar laut. Bersamaan dengan gas-gas ini terlarut pula hasil kikisan kerak
7

bumi dan bersama-sama garam-garam ini merembes pula air, semua dalam
perbandingan yang tetap sehingga terbentuk garam di laut. Kadar garam
ini tetap tidak merubah sepanjang masa.
Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh beberapa faktor dan
keadaan lingkungannya seperti pola sirkulasi air, curah hujan, penguapan,
musim, aliran sungai, serta interkasi antara laut dan daratan/gunung es.
Secara umum, salinitas dapat disebut sebagai jumlah kandungan garam
dari suatu perairan yang dinyatakan dalam permil. Secara ideal, salinitas
merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap
kilogram air laut.
Penentuan harga salinitas dilaut dilakukan dengan meninjau
komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida
ditetapkan sebagai jumlah dalam ion klorida pada satu kilogram air laut
jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan
proses kimiawi tritasi untuk menentukan kandungan klorida.
(www.astekita.wordpress.com).

2.4. Penentuan Kadar Garam
Untuk menentukan kadar garam, ada beberapa cara yang bisa
digunakan. Antara lain:
2.4.1. Evaporasi
Evaporasi merupakan suatu proses penguapan sebagian dari
pelarut sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang
8

konsentrasinya lebih tinggi. Tujuan dari evaporasi itu sendiri yaitu
untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tak
mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap. Dalam
kebanyakan proses evaporasi , pelarutnya adalah air. Evaporasi
tidak sama dengan pengeringan, dalam evaporasi sisa penguapan
adalah zat cair, kadang-kadang zat cair yang sangat viskos, dan
bukan zat padat. Begitu pula, evaporasi berbeda dengan distilasi,
karena disini uapnya biasanya komponen tunggal, dan walaupun
uap itu merupakan campuran, dalam proses evaporasi ini tidak ada
usaha untuk memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Biasanya dalam
evaporasi, zat cair pekat itulah yang merupakan produk yang
berharga dan uapnya biasanya dikondensasikan dan dibuang.
2.4.2. Destilasi
Destilasi merupakan teknik pemisahan yang didasari atas
perbedaan perbedaan titik didik atau titik cair dari masing-masing
zat penyusun dari campuran homogen. Dalam proses destilasi
terdapat dua tahap proses yaitu tahap penguapan dan dilanjutkan
dengan tahap pengembangan kembali uap menjadi cair atau
padatan. Atas dasar ini maka perangkat peralatan destilasi
menggunakan alat pemanas dan alat pendingin.
Proses destilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat
yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap. Uap tersebut
bergerak menuju kondenser yaitu pendingin, proses pendinginan
9

terjadi karena kita mengalirkan air kedalam dinding (bagian luar
condenser), sehingga uap yang dihasilkan akan kembali cair.
Proses ini berjalan terus menerus dan akhirnya kita dapat
memisahkan seluruh senyawa-senyawa yang ada dalam campuran
homogen tersebut.

Anda mungkin juga menyukai