Anda di halaman 1dari 31

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Konsep Keselamatan Pasien (Patient Safety)
1. Definisi Keselamatan Pasien
Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana
rumah sakit membuat asuhan lebih aman. Sistem tersebut meliputi
pengkajian resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan
dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insidensi dan pencegahan
penyakit infeksi, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko.
Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cidera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau
tidak mengambil tindakan yang seharusnya dilakukan (Depkes RI,
2008).
Canadian Nurse Association (2004) jugamemberikan kontribusi
dalam definisi keselamatan pasien, yaitu suatu penuruan tindakan yang
tidak aman kepada pasien dan pemberian tindakan terbaik untuk
mendapatkan derajat kesehatan pasien yang optimal dalam sistem
pelayanan kesehatan.


11



2. Kejadian Dalam Keselamatan Pasien
Terdapat tiga hal penting dalam kejadian dalam keselamatan
pasien yaitu Kejadian Tidak Diharapkan (KTD/adverse event),
Kejadian Nyaris Cidera (KNC/near miss), Kejadian Sentinel (sentinel
event). Penjelasan dari ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD/adverse event)
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD/adverse event) adalah
suatu kejadian yang mengakibatkan cidera pada pasien tersebut
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan
yang seharusnya tidak di ambil, dan bukan karena penyakit
dasarnya atau kondisi pasien. Cidera dapat berakibat karena
kesalahan medis atau bukan kesalahan medis yang tidak dapat
dicegah (Depkes RI, 2008).
b. Kejadian Nyaris Cidera (KNC/near miss)
Kejadian Nyaris Cidera (KNC/near miss) adalah suatu
kejadian yang tidak menyebakan cidera pada pasien akibat
melaksanakan suatu tindakan (commission)atau mengambil
tindakan yang seharusnya diambil(omission). Hal ini dapat terjadi
karena keberuntungan (misalnya pasien mendapatkan suatu obat
kontraindikasi, tetapi tidak timbul reaksi obat); karena
pencegahan (suatu obat yang kelebihan dosis yang dapat
menyebabkan kematian akan diberikan); atau peringanan (suatu
obat dengan kelebihan dosis yang dapat mengakibatkan kematian
12



diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan obat penetralnya
(Depkes RI, 2008).
c. Kejadian Sentinel (sentinel event)
Suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cidera yang
serius, biasanya dipakai untuk kejadian yang sangat tidak
diharapkan atau tidak dapat diterima seperti: operasi pada bagian
yang salah. Pemilihan kata sentinel terkait dengan keseriusan
cidera yang terjadi, sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini
mengungkapkan adanya masalah yang serius pada kebijakan dan
prosedur yang berlaku (Depkes RI, 2008)
3. Faktor Yang Mempengaruhi Keselamatan Pasien
Keselamatan pasien dipengaruhi berbagai faktor kondisi
pelayanan di rumah sakit.Kondisi tersebut adalah kondisi dimana
perawat dan tenaga kesehatan memberikanpelayanan pada pasien di
rumah sakit yang dapat mempengaruhi terjadinya kesalahandan
kualitas pelayanan pada pasien (Clancy, 2005). Cahyono
(2008)menjelaskan kondisi yang dapat mencetuskan terjadinya
kesalahan dalam pelayanan kesehatan pasien di rumah sakit yaitu:
kondisi yang memudahkan terjadinya kesalahanseperti tekanan waktu,
staf yang tidak mencukupi, peralatan yang kurang
memadai,lingkungan kerja yang tidak nyaman. Kondisi yang
memudahkan terjadinyapelanggaran seperti tidak adanya aturan dan
tidak ada supervisi serta kelemahan sistempelayanan.
13



Penelitian yang dilakukan oleh The Agency for Health Care
Research and Quality(AHRQ 2002, dalam Hughes & Clancy, 2005)
mengenai pengaruh pemahamantentang kondisi kerja terhadap
keselamatan pasien, ditemukan faktor utama yangmempengaruhi
kondisi kerja yang berdampak pada keselamatan pasien yaitu faktor
manusia (kemampuan individu untuk mengambil keputusan dan
bertindak), staffinglevels (tingkat kompetensi, jumlah perawat, turn
over, prosedur rumah sakit) sertakepemimpinan (kemampuan
pemimpin mengkomunikasikan keselamatan pasiensebagai prioritas
pelayanan, memberdayakan staf, membentuk tim keselamatan
pasienjuga inovasi dalam sistem penghargaan).
Vincent (2003, dalam Cahyono, 2008) menuliskan faktor
kontribusi yang turut mempengaruhi terjadinya kejadian tidak
diharapkan (KTD) yaitu:
a. Organisasi dan manajemen: kepemimpinan dan komitmen terhadap
keselamatan pasien lemah, penempatan staf mutu/safety belum ada,
dukungan finansial untuk mendukung kebijakan mutu tidak
memadai.
b. Lingkungan kerja: lingkungan kerja yang bersifat blaming, beban
kerjaberlebihan, pengaturan pergantian pengaturan jaga tidak
berjalan, jumlah stafyang kurang, banyak interupsi dalam bekerja,
tekanan waktu dan psikologis.
14



c. Team work: komunikasi kurang terbina dengan baik, supervisi
tidak berjalan
d. Faktor individu: pengetahuan, ketrampilan, sikap dan perilaku,
kondisi fisik dan mental.
e. Faktor tugas: ketersediaan SOP, belum ada petunjuk, pedoman
(guideline).
Alvarado, et al. (2006) mengungkapkan bahwa ketidakakuratan
informasi dapat menimbulkan dampak yang serius pada pasien, hampir
70% kejadian sentinel yaitukejadian yang mengakibatkan kematian
atau cedera yang serius di rumah sakitdisebabkan karena buruknya
komunikasi. Angood (2007) juga mengungkapkan bahwa berdasarkan
hasil kajian dataterhadap adanya adverse event, near miss dan sentinel
event yang dilakukan selama tahun 2007 oleh joint commission of
international centre for patient safety di rumah sakit, masalah yang
menjadi penyebab utama kesalahan adalah komunikasi.
4. Tujuan Keselamatan Pasien
Tujuan keselamatan pasien di rumah sakit menurut Depkes RI
(2008) meliputi terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit,
meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan
masyarakat, menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah
sakit, dan terlaksananya program program pencegahan sehingga
tidak terjadi pengulangan kejadian tidak diharapakan (Depkes RI,
2008).
15



Penerapan keselamatan pasien yang dilakukan oleh rumah sakit
diharapkan dapat memberikan manfaat dalam upaya pencitraan yang
positif dalam pengembangan rumahsakit yaitu meningkat dan
berkembangnya budaya keselamatan (safety culture),komunikasi
dengan pasien berkembang, menurunnya kejadian tidak diharapkan
denganpeta KTD selalu ada dan terkini, resiko klinis menurun, keluhan
dan litigasi berkurang,mutu pelayanan meningkat dan citra rumah sakit
serta kepercayaan masyarakatmeningkat (Cahyono, 2008dikutip dari
Dewi, 2011).
The Joint Commission on Accreditation of Healthcare
Organizations (JCAHO) (2005, dalam Clancy, et al. 2005)
merumuskan tujuan keselamatan pasien yang menjamin fokus
penerapan keselamatan pasien menjadi lebih baik. Tujuan keselamatan
pasienyang harus dicapai rumah sakit agar program keselamatan
pasien dapat berjalan sesuaidengan yang diharapkan, yaitu:
a. Mengidentifikasi pasien dengan benar
Proses kolaboratif digunakan untuk meningkatkan kebijakan
atau prosedur mengidentifikasi pasien, memanggil pasien dengan
benar, pemberian pengobatan. Nomor ruang pasien tidak
diperbolehkan digunakan untuk melakukan identifikasi pasien.
Suzanne (2003) menyebutkan bahwa identifikasi pasien
adalah hal yang sangat mendasar yang harus dilakukan oleh
seorang perawat, identifikasi pasien dengan benar dapat
16



menhindari terjadinya keselahan medis atau kejadian yang tidak
diharapkan yang dapat mengenai diri pasien.
b. Meningkatkan komunikasi efektif
Proses kolaboratif digunakan untuk meningkatkan kebijakan
atau prosedur yangmenandakan keakuratan komunikasi verbal
maupun komunikasi lewat telepon dan laporan pasien. Menerapkan
read back yaitu membaca ulang instruksi yang diterimabaik
lisan/tulisan, menerapkan check back yaitu validasi ulang
informasi, adanyastandar pelaporan yang jelas.
c. Mengurangi kesalahan pemberian obat
Melakukan penjelasan tujuan dan kemungkinan efek obat,
mencatat danmendokumentasikan pengobatan, memperhatikan
prinsip benar dalam pemberian obatdan mengerjakannya sesuai
standar prosedur operasional. Mendidik pasien dankeluarga dalam
mengenali obat yang diberikan.
d. Memastikan tempat, prosedur, dan pasien yang tepat dalam
operasi
Proses kolaborasi digunakan untuk mengembangkan
keselamatan pasien, komunikasiyang benar saat serah terima
pasien. Tandai tempat yang tepat sesuai denganpemahaman yang
jelas dan libatkan pasien. Membuat suatu proses atau checklist
untuk melakukan verifikasi pra dan pasca operasi meliputi benar
pasien, lokasi dan prosedur tindakan.
17



e. Mencegah resiko infeksi nosokomial dalam perawatan
kesehatan
Rumah sakit mengadopsi petunjuk untuk mencegah
lingkungan pasien yang dapatmemfasilitasi transfer kuman yang
meningkatkan infeksi silang antara pasien maupuntenaga
kesehatan. Petunjuk menjaga kebersihan tangan dengan
mengimplementasikanprogram cuci tangan secara efektif.
WHO (2007) menyatakan kebersihan tangan berpengaruh
pada kejadian nosokomial yang terjadi dirumah sakit. Terjadinya
infeksi nosokomial akan memicu terjadinya keluhan dan
ketidaknyamanan pasien sebagai konsumen rumah sakit.
Komitmen dankeharusan perawat untuk melaksanakan kebersihan
tangan dengan sungguh-sungguhmerupakan salah satu cara yang
paling mudah membantu perawat dalam keadaan yangaman dan
sehat pada saat melakukan kontak dengan pasien.
f. Pencegahan pasien jatuh dari tempat tidur
Mengembangkan proses kolaborasi, pengkajian secara
berkala resiko jatuh pada pasientermasuk potensial resiko terapi
dan tindakan. Monitoring secara ketat pasien yangberesiko tinggi
dengan memberikan tanda, melibatkan pasien dan keluarga dalam
pencegahan pasien jatuh.


18



5. Standar Keselamatan Pasien
Depkes (2008) Standar keselamatan pasien disusun mengacu
pada Hospital Patient Safety Standart yang dikeluarkan oleh Joint
Commission and Accreditation of HealthOrganization, lilinois, USA,
tahun 2002, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisiperumah
sakitan Indonesia. Standar keselamatan pasien wajib diterapkan rumah
sakitdan penilaiannya dilakukan dengan menggunakan instrumen
akreditasi rumah sakit.Standar keselamatan menurut Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011
terdiri dari:
a. Hak Pasien
b. Mendidik pasien dan keluarga
c. Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan
d. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
e. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
f. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
g. Komunikasi merupakan kunci bagi staff untuk mencapai
keselamatan pasien

B. Timbang Terima (Handover)
Timbang terima pasien (Handover) adalah salah satu bentuk
komunikasi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada
19



pasien. Timbang terima pasien dirancang sebagai salah satu metode untuk
memberikan informasi yang relevan pada tim perawat setiap pergantian
shift, sebagai petunjuk praktik memberikan informasi mengenai kondisi
terkini pasien, tujuan pengobatan, rencana perawatan serta menentukan
prioritas pelayanan (Rushton, 2010).
1. Pengertian Timbang Terima
Kegiatan timbang terima dilakukan pada setiap pergantian
perawat (shift). Perawat yang diganti akan mengkomunikasikan hasil
kegiatannya pada perawat pengganti melalui pertukaran informasi
mengenai kondisi pasien (Sumijatun, 2009). Proses alih informasi ini
bukan sekedar penyampaian informasi, melainkan terkandung unsur
penyerahan tanggung jawab secara tim agar pasien terhindar dari
kesalahan atau cedera.
Informasi pasien yang diberikan pada saat timbang terima
menjadi fokus komunikasi yang harus dilakukan oleh perawat. Perry
dan Potter (2004) timbang terima adalah proses transfer atau
perpindahan informasi penting untuk asuhan keperawatan pasien
secara holistik dan aman yang bertujuan agar pelayanan yang diberikan
oleh setiap perawat saling berkesinambungan. Proses alih tugas dan
tanggung jawab yang terjadi dalam proses timbang terima dilakukan
melalui komunikasi verbal dan nonverbal.
Dari beberapa pengertian timbang terima diatas, dapat
disimpulkan bahwa timbang terima merupakan mekanisme komunikasi
20



dalam transfer informasi kewenangan dan tanggung jawab perawat
yang dilakukan setiap pertukaran shift yang berkaitan dengan keadaan
pasien, yang disampaikan oleh perawat shift sebelumnya ke perawat
shift berikutnya sebagai rangkaian aktivitas keperawatan untuk
memastikan keberlanjutan dan keamanan pasien selama dalam
perawatan.
2. Tujuan Timbang Terima Pasien
Timbang terima yang terjadi dalam tatanan pelayanan kesehatan
termasuk keperawatan bertujuan untuk mengakurasi informasi,
reliabilitas komunikasi dalam perpindahan informasi yang relevan
tentang tugas dan tanggung jawab yang digunakan untuk
kesinambungan dalam keselamatan dan keefektifan bekerja, kondisi
terkini pasien, perubahan yang sedang terjadi dan perubahan yang
dapat diantisipasi. Timbang terima yang dilakukan oleh perawat
memungkinkan terjadinya suatu forum diskusi untuk bertukar
pendapat dan mengekspresikan perasaan perawat (Angood, 2007;
Lardner, 1996; Payne, 2008).
Tujuan utama komunikasi timbang terima adalah untuk
memberikan informasi yang akurat mengenai keperawatan,
pengobatan, pelayanan, kondisi terkini pasien, perubahan yang sedang
terjadi, dan perubahan yang dapat diantisipasi. Informasi harus dijamin
akurat agar tidak terjadi kesalahan dalam proses pemberian pelayanan
bagi pasien (Cahyono, 2008).
21



3. Tahapan Timbang Terima Pasien
Proses timbang terima oleh perawat di rumah sakit dilakukan
beberapa tahap. Cahyono (2008) menguraikan tahap timbang terima
diawali pada kegiatan terutama pergantian tugas pagi hari, kepala
perawat akan memimpin pertemuan pagi dan dalam pertemuan itu
dilaporkan kejadian-kejadian penting yang terjadi selama para perawat
bertugas. Selanjutnya mereka berkeliling dalam tim, mengunjungi
masing-masing pasien dan menjelaskan perkembangan pasien, masalah
dan rencana-rencana yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.
Howarth & Hyde (2008); Lardner (1996) menjelaskan timbang terima
memiliki tiga tahapan, yaitu:
a. Tahap Persiapan
Persiapan yang diakukan oleh perawat yang akan
melimpahkan tanggung jawab, meliputi informasi yang akan
disampaikan oleh perawat jaga sebelumnya. Persiapan yang
dilakukan oleh perawat dalam memulai operan adalah membaca
dokumentasi pasien, kegiatan ini dilakukan untuk menghindari
kesalahan informasi yang akan diberikan.
b. Pertukaran shift jaga
Perawat yang akan pulang dan perawat shift berikutnya
melakukan pertukaran informasi, fokus pada tahap ini adalah
waktu terjadinya timbang terima itu sendiri yang berupa pertukaran
informasi yang memungkinkan adanya komunikasi dua arah antara
22



perawat shift sebelumnya kepada perawat shift selanjutnya.
Pertukaran shift jaga dapat dilakukan di ruang perawat nurse
station maupun disamping pasien (bedside handover).
c. Pengecekan ulang informasi
Pengecekan ulang informasi dilakukan oleh perawat yang
datang tentang tanggung jawab dan tugas yang dilimpahkan,
merupakan aktivitas dari perawat yang menerima operan untuk
melakukan pengecekan data informasi pada medical record atau
pada pasien langsung. Pengecekan ulang (check back) merupakan
suatu langkah yang tepat dalam memeriksa informasi terkait
pemeriksaan dan pengobatan dokter serta perawatan pasien dengan
tujuan kelengkapan (completeness) dan kejelasan (clarity)
(Calalang & Javier, 2010 dikutip dalam Dewi, 2011).
4. Komunikasi Efektif Keperawatan Dalam Timbang Terima Pasien
The Joint Commision on Acreditation of Health Care
Organization (WHO, 2007) menetapkan komunikasi efektif dalam
timbang terima menjadi aspek penting dalam perawatan pasien untuk
menjamin keselamatan pasien, sebagai salah satu strategi untuk
mengurangi kejadian tidak diharapkan (KTD), kejadian nyaris cedera
(KNC) serta sentinel even. JCAHO menetapkan komunikasi efektif
sebagai tujuan ke dua dari enam national safety goals. WHO
Collaborating Centre for Patient Safety pada 2 Mei 2007 menerbitkan
panduan Nine Live- Saving Patient Safety Solutions (Sembilan
23



solusi keselamatan pasien di rumah sakit), salah satu sistem atau
intervensinya adalah komunikasi secara benar saat timbang terima
pasien (Depkes, 2008).
Prinsip komunikasi yang efektif dalam timbang terima
(Cahyono, 2008) adalah: Pertama komunikasi interaktif yang
memungkinkan pemberi informasi dan penerima informasi
memperoleh kesempatan untuk saling bertanya. Kedua, pesan yang
disampaikan bersifat terkini (update) yang berisi tentang perawatan
pasien, pengobatan, pelayanan, kondisi serta perubahan perubahan
yang baru saja dialami dan perlu diantisipasi. Ketiga, terjadi proses
verifikasi informasi yang diterima dengan cara mengulang kembali
(repeat back) dan membaca kembali (read back) setepat mungkin.
Keempat, Ada kesempatan bagi penerima informasi untuk melakukan
peninjauan kembali data historis pasien yang meliputi data perawatan
dan terapi sebelumnya. Kelima, interupsi harus diminimalkan agar
pesan dapat dilakukan seoptimal mungkin tanpa menimbulkan
kesalahan.
5. Standarisasi Komunikasi efektif dalam Timbang Terima Pasien
Standar merupakan salah satu faktor penting dalam efektivitas
tercapainya tujuan dari suatu aktivitas. WHO (2007) menyatakan
kebijakan dan standar pelaksanaan timbang terima dapat meningkatkan
efektivitas komunikasi dalam timbang terima pasien, peningkatkan
berfikir kritis perawat, efektivitas waktu meninggalkan pasien pada
24



saat pelaksanaan timbang terima, serta mengidentifikasi kesalahan
yang dapat terjadi pada pasien sehingga meningkatkan keselamatan
pasien. Rushton (2010) dalam artikelnya yang membahas tentang etika
dalam timbang terima perawat menyatakan pengembangan standar,
merupakan evidence based bagi kegiatan timbang terima perawat.
Standar penting dalam pengaturan informasi keadaan fisik pasien,
psikososial dan kebutuhan spiritual yang dapat membantu adanya
informasi yang tidak berhubungan dengan pasien, ketidakakuratan
informasi, menyampaikan rencana perawatan serta meningkatkan
efiktifitas kerja tim.
Standar komunikasi timbang terima dapat meningkatkan
efektivitas pelaksanaan timbang terima. Alvarado, et al. (2006)
melakukan penelitian melalui pengembangan standar/panduan dalam
melaksanakan timbang terima dan bedside patient safety checklist
untuk meningkatkan keselamatan pasien.
Penerapan standar timbang terima juga dapat meningkatkan
efektivitas waktu. Hasil penelitian ini Alvarado, et al (2006)
mengungkapkan lama waktu pelaksanaan timbang terima antara satu
sampai dua menit perpasien (42%), tiga sampai empat menit (43%)
dan lebih dari enam menit (15%) perpasien untuk perawatan di ruang
intensif dari kegiatan timbang terima yang dilakukan oleh perawat
pelaksana.
25



Pengembangan standar dalam pelaporan timbang terima oleh
perawat dapatmengurangi ketidaktepatan dan ketidakakuratan
informasi yang diberikan, sertameningkatkan efisiensi (Rushton,
2010). Pendekatan standarisasi komunikasi efektifdalam timbang
terima dapat dilakukan dengan standarisasi strategi komunikasi
dalamproses penyampaian informasi (cara penyampaian, petunjuk dan
format timbangterima), metode komunikasi, isi informasi termasuk
sumber data yang disampaikanpada saat timbang terima, deskripsi
keadaan pasien, diagnosa yang akurat, kualitasrencana tindakan, serta
mengembangkan kerja sama tim yang mencerminkan interaksisosial
dalam aktivitas organisasi dalam lingkup transfer tanggung jawab,
koordinasi(Chaboyer, et al. 2008; Clark, et al, 2009).
a. Strategi komunikasi efektif timbang terima
Komunikasi dalam timbang terima menjadi lebih efektif
apabila dilakukan secaraverbal sehingga ada kesempatan untuk
saling bertanya dan melakukan konfirmasi jikaada hal-hal yang
dianggap belum jelas. Salah satukomponen penting untuk
keberhasilan pelaksanaan timbang terima adalah adanyakomunikasi
langsung dengan tatap muka (face to face) berupa komunikasi
interaktifyang memungkinkan pemberi informasi dan penerima
informasi memperolehkesempatan untuk saling bertanya (Landro,
2006 dikutip dalam Dewi, 2009).
26



Secara bersamaan, proses serah terima tugas dan tanggung
jawab dalam timbang terimamemerlukan pesan tertulis. Timbang
terima dengan komputerisasi pada saat ini jugasudah mulai
dikembangkan. Kombinasi verbal dan tulisan dapat dilakukan,
modifikasi penggunaan tape recorder juga bisa dilakukan. Timbang
terima dengan strategi verbaldapat dilakukan di nurse station
maupun bedside report diruang pasien (Alvarado, et al.2006;
Athwal, et al. 2009; Chaboyer, et al. 2008; Currie & Watterson,
2008; Parke &Mishkin, 2005; Payne, 2008).
b. Metode komunikasi dalam timbang terima
Salah satu produk dari komitmen penerapan keselamatan
pasien dalam pelayanandirumah sakit khususnya dalam rangka
mengatasi masalah komunikasi antara petugaskesehatan yang sering
menjadi sumber penyebab kesalahan adalah standarisasikomunikasi
melalui metode SBAR. SBAR mengandung unsur situation,
background,assesment dan recommendation. SBAR digunakan
untuk melaporkan situasi klinis yangmemerlukan tindakan dalam
kesinambungan pelayanan.
SBAR merupakan metode komunikasi yang dikembangkan
dalam standarisasi timbangterima. Cahyono (2008) menuliskan,
dalam praktek sehari-hari, SBAR sangat idealditerapkan sebagai
komunikasi standar pada saat perawat melaporkan situasi/kondisi
pasien. Calalang & Javier (2010) menyatakan penggunaan metode
27



SBAR dalamtimbang terima dapat meningkatkan komunikasi dan
mendukung budaya keselamatanpasien. Penggunaan metode SBAR
dalam timbang terima sesuai dan sistematis, jelasdan ringkas, dapat
digunakan pada setiap situasi dan setiap aspek perawatan pasien.
Metode SBAR yang digunakan dalam timbang terima dapat
memberikan bantuan pada perawat tentang informasi apa yang
harus disampaikan ketika berkomunikasi. Clark, et al. (2009)
melakukan penelitian melalui penerapan PACT project (patient
assessment, assertive communication, continum of care, team work
with trust) untuk meningkatkan komunikasi timbang terima dengan
menggunakan metode SBAR pada saat berkomunikasi. Penelitian
ini melibatkan 65 orang perawat, dan hasil penelitiannya 82%
perawat menyatakan perlu adanya standar prosedur timbang terima,
94% menyatakan perlu dilakukan pemahaman komunikasi karena
setiap perawat melakukan pelaporan dengan cara berbeda, 62%
menyatakan penggunaan tools dalam komunikasi yaitu metode
SBAR membantu perawat dalam mengkomunikasikan informasi.
c. Isi Informasi dalam timbang terima
Informasi merupakan inti dari kegiatan komunikasi. Upaya
agar transisi dalam perawatan pasien menjadi optimal maka isi
pesan harus distandarisasi sehingga informasi yang diberikan
akurat, jelas dan tepat. Currie & Watterson (2008) mengadakan
proyek peningkatan kualitas perawatan pasien melalui pelaporan
28



dalam timbang terima, berdasarkan studi literatur diketahui bahwa
informasi yang disampaikan perawat pada timbang terima dapat
diperoleh dari dokumentasi keperawatan, berupa nursing care plan
serta kardeks pasien, juga dapat diperoleh dari pesan tertulis yang
singkat dalam bentuk memo terkait medical treatment.
Informasi pasien merupakan komponen penting dalam timbang
terima untukmemfasilitasi pengambilan keputusan dan rencana
perawatan pasien. Strople & Ottani(2006) melakukan literature
review untuk mengetahui metodologi yang digunakandalam
mengumpulkan dan menyampaikan informasi pasien saat timbang
terima. Hasil tinjauan literaturnya menginformasikan bahwa
mekanisme yang digunakan untukmengumpulkan data dalam
mempersiapkan pelaporan pasien adalah catatan pasienserta
pelaporan yang tersedia secara komputerisasi. Informasi yang benar
sesuai denganperkembangan pasien akan membuat intervensi lebih
terarah sehingga meningkatkankualitas pelayanan.
Isi informasi yang dapat diberikan perawat dengan
menggunakan metode SBAR adalah (Calalang & Javier, 2010;
Clancy, et al. 2009; Clark, et al. 2009):
1) Situation: Unsur situation ini secara spesifik perawat harus
menyebut usia pasien, jenis kelamin, diagnosis pre operasi,
prosedur, status mental, kondisi pasien apakah stabil atau tidak.
29



2) Background: Unsur background ini menampilkan pokok
masalah atau apa saja yang terjadi pada diri pasien, keluhan
atau tanda klinis yang mendorong untuk dilaporkan atau
dikomunikasikan (sesak nafas, nyeri dada, dan sebagainya).
Menyebutkan latar belakang apa yang menyebabkan
munculnya keluhan pasien tersebut, misalnya karena efek terapi
yang tertentu yang telah diberikan, diagnosis pasien, data klinik
yang mendukung problem pasien. Background meliputi
bagaimana kondisi pasien saat ini dan menurut perawat apa
yang menjadi masalahnya.
3) Assesment: Unsur assessment ini merupakan hasil pemikiran
yang timbul dari temuan serta difokuskan pada problem yang
terjadi pada pasien yang apabila tidak diantisipasi akan
menyebabkan kondisi yang lebih buruk. Tanda-tanda vital,
tingkat ketergantungan, pegobatan, hasil pemeriksaan
laboratorium, kebutuhan isolasi, kondisi kulit serta faktor resiko
merupakan bagian dari tahap ini, termasuk safety concern: hasil
labor penting, ancaman, resiko jatuh.
4) Recommendation: Unsur recommendation menyebutkan hal-hal
yang dibutuhkan untuk ditindaklanjuti. Apa intervensi yang
harus direkomendasikan oleh perawat serta apa yang akan
dilakukan oleh perawat.

30



d. Kerja sama tim dalam timbang terima pasien
Kompleksnya pelayanan kesehatan di rumah sakit,
memerlukan kerja sama dalam tim kesehatan, suasana kerjasama
dapat mempengaruhi kinerja tim kesehatan. Untuk menciptakan
kerjasama tim yang baik tidak hanya tergantung pada individu saja,
tetapi juga melibatkan lingkungan pekerjaan. Timbang terima
pasien merupakan aktivitas yang membutukan kerjasama tim yang
baik. Clark, et al. (2009) mengungkapkan pentingnya kerjasama tim
yang dilandasi dengan kepercayaan anggota timnya (team work with
trust) pada aktivitas timbang terima pasien, perawat akan merasa
nyaman untuk mengekspresikan usulan dan pendapatnya mengenai
pasien.
Untuk membangun mekanisme timbang terima yang
terstandarisasi perlu dikembangkan langkah-langkah yaitu
melakukan kajian atas aktivitas pelayanan keperawatan dimana
timbang terima lazim dilakukan, monitor proses timbang terima
yang terjadi dalam tatanan pelayanan keperawatan, lakukan analisis
atas proses timbang terima yang terjadi, identifikasi proses penting
dalam kegiatan timbang terima dan konsistensi aktivitas yang
dilakukan, rumuskan kebijakan dan prosedur mengenai timbang
terima dalam keperawatan, latih staf keperawatan untuk melakukan
timbang terima yang terstandar, implementasikan kebijakan dan
31



prosedur mengenai timbang terima serta monitor dan laporkan
temuan yang berhubungan dengan timbang terima.
Menurut Joint Commission Hospital Patient Safety (JCAHO,
2006), menyusunpedoman implementasi untuk timbang terima,
selengkapnya sebagai berikut:
1) Interaksi dalam komunikasi harus memberikan peluang untuk
adanya pertanyaan dari penerima informasi tentang informasi
pasien.
2) Informasi tentang pasien yang disampaikan harus up to date
meliputi terapi, pelayanan, kodisi dan kondisi saat ini serta yang
harus diantipasi.
3) Harus ada proses verifikasi tentang penerimaan informasi oleh
perawat penerima dengan melakukan pengecekan dengan
membaca, mengulang atau mengklarifikasi.
4) Penerima harus mendapatkan data tentang riwayat penyakit,
termasuk perawatan dan terapi sebelumnya.
5) Saat timbang terima tidak disela dengan tindakan lain untuk
meminimalkan kegagalan informasi atau terlupa.
Mekanisme timbang terima yang baik, yang ditunjukkan
dengan adanya standar prosesmaupun standar isi komunikasi yang
diinformasikan akan memberikan manfaat bagistaf keperawatan
sehingga lebih fokus dan tertarah dalam melakukan timbang terima.
32



Prosedur operasional timbang terima disusun dalam rangka
memberikan petunjuk bagiperawat pelaksana garis besar kegiatan
timbang terima pasien dengan pendekatankomunikasi efektif.
Prosedur disusun berdasarkan Alvarado, et al (2006) yang
menerapkan timbang terima untuk meningkatkan keselamatan
pasien denganmemodifikasi standar, mengembangkan format
pencatatan, memperkenalkan bedsidepatient safety checklist, serta
melakukan komunikasi verbal (tatap muka) pada saattimbang
terima. Pengembangan SOP timbang terima yang dilakukan
disamping pasien(bedside handover) juga menjadi dasar
pengembangan prosedur operasional ini, sesuaidengan penelitian
yang dilakukan oleh Chaboyer, et al (2008) yang menerapkan
timbang terima disamping pasien (bedside handover) dengan
aktivitas terakhir yaitu pemeriksaan keselamatan pasien (safety
scan) sebagai final questions.
Prosedur kegiatan timbang terima yang dilakukan oleh perawat
pada tahap pelaksanaan adalah menyampaikan semua informasi
penting pasien sesuai dengan perkembangannya dengan
menggunakan metoda SBAR. Tahap berikutnya dilanjutkan dengan
kontrol pasien dimana perawat melihat langsung kondisi pasien,
perawat yang akan bertugas pada shift berikutnya mengetahui
pasiennya sesuai dengan informasi yang telah diterima di nurse
station.
33



C. Perawat dan Keperawatan
1. Definisi
Perawat adalah seorang yang telah mampu menempuh serta
lulus pendidikan formal dalam bidang keperawatan yang program
pendidikannya telah disahkan oleh Pemerintah Republik Indonesia,
sedangkan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional
yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang
didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan
biopsiko, sosiokultural, dan spiritual yang komprehensif, baik sehat
maupun sakit yang mencakup seluruh siklus kehidupan manusia.
Keperawatan berupa bantuan yang diberikan karena adanya kelemahan
fisik dan atau mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya
kemauan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri (Anggaran
Dasar/Anggaran Rumah Tangga Persatuan Perawat Nasional
Indonesia, 2008).
Keperawatan juga dapat dipahami sebagai pelayanan/asuhan
profesional yang bersifat humanistik, menggunakan pendekatan
holistik, dilakukan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang
berorientasi pada kebutuhan obyektif klien, mengacu pada standar
profesional keperawatan dan menggunakan etika keperawatan sebagai
tuntunan utama. Sebagai profesi, keperawatan dituntut untuk memiliki
kemampuan intelektual, interpersonal, kemampuan teknis, dan moral.
34



Hal ini dapat ditempuh dengan meningkatkan kualitas perawat melalui
pendidikan lanjutan pada program pendidikan Ners (Nursalam, 2007).
Profil perawat profesional adalah gambaran dan penampilan
menyeluruh perawat dalam melakukan aktivitas keperawatan sesuai
kode etik keperawatan. Aktivitas keperawatan meliputi peran dan
fungsi pemberian asuhan/pelayanan keperawatan, pendidik klien
(individu, keluarga, dan masyarakat) serta kegiatan penelitian dibidang
keperawatan.
2. Hak dan Kewajiban Perawat
Hak dan kewajiban perawat telah diatur secara rinci dalam
Keputusan Menteri Kesehatan No. 1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang
Registrasi dan Praktik Perawat. Hak dan kewajiban tersebut adalah:
a. Hak Perawat
1) Memperoleh perlindungan hukum yang melaksanakan tugas
sesuai dengan standar profesi.
2) Mendapat jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang
berkaitan dengan tugasnya.
3) Mendapat perlakuan adil dan jujur oleh pimpinan sarana
kesehatan, klien/pasien, dan atau keluarganya.
4) Menerima imbalan jasa pelayanan keperawatan.
5) Mendapat hak cuti dan hak kepegawaian.
6) Memperoleh kesempatan mengembangkan diri melalui
pendidikan formal dan informal.
35



7) Menjaga privasi profesional sebagai perawat.
8) Mendapat pelayanan pemeriksanaan secara rutin.
9) Menuntut jika nama baiknya dicemarkan oleh klien/pasien atau
tenaga kesehatan lainnya.
10) Menolak pihak lain yang memberi anjuran atau permintaan
tertulis untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan, standar profesi, dan kode etik
profesi.
11) Mendapat informasi yang benar dan jujur dari klien.
12) Dilibatkan secara aktif dalam penyusunan kebijakan kesehatan
di sarana kesehatan.
13) Memperoleh kesempatan dalam pengembangan karir sesuai
bidang profesi di sarana kesehatan.
b. Kewajiban Perawat
1) Perawat wajib memiliki Surat Izin Perawat (SIP), Surat Izin
Kerja (SIK), dan Surat Izin Praktik Perawat (SIPP).
2) Perawat wajib menghormati hak pasien.
3) Perawat wajib merujuk pada kasus yang tidak dapat ditangani.
4) Menyimpan rahasia klien.
5) Memberikan informasi kepada klien sesuai batas
kewenangannya.
6) Meminta persetujuan setiap tindakan keperawatan.
7) Mencatat/mendokumentasikan semua tindakan keperawatan.
36



8) Mematuhi standar profesi dan kode etik keperawatan.
9) Meningkatkan pengetahuan.
10) Melakukan pertolongan darurat yang mengancam jiwa
pasien/klien.
11) Melaksanakan program pemerintah dalam meningkatkan
derajat kesehatan.
12) Menaati semua peraturan perundang-undangan.
13) Mengumpulkan angka kredit profesi.
14) Menjaga hubungan kerja dengan sesama perawat dan tenaga
kesehatan lainnya.
3. Fungsi dan Peran Perawat
a. Fungsi Perawat
Perawat adalah tenaga profesional di bidang perawatan
kesehatan yang terlibat dalam kegiatan perawatan. Perawat
bertanggung jawab untuk perawatan, perlindungan, dan pemulihan
orang yang luka atau pasien penderita penyakit akut atau kronis,
pemeliharaan kesehatan orang sehat, dan penanganan keadaan
darurat yang mengancam nyawa dalam berbagai jenis perawatan
kesehatan. Perawat juga dapat terlibat dalam riset medis dan
perawatan serta menjalankan beragam fungsi non-klinis yang
diperlukan untuk melaksanakan fungsi perawatan kesehatan
(Depkes, 2005).
37



Dalam prakteknya, fungsi perawat terdiri atas tiga fungsi,
yaitu: independen, interdependen, dan dependen (Praptianingsih,
2007).
1) Fungsi Independen
Fungsi independen perawat adalah those activities that are
considered to be within nursings of diagnosis and treatment.
Dalam fungsi ini, tindakan perawat tidak memerlukan perintah
dokter. Tindakan perawat bersifat mandiri, berdasarkan pada
ilmu dan kiat keperawatan. Oleh karena itu, perawat
bertanggung jawab terhadap akibat yang timbul dari tindakan
yang diambil. Contoh tindakan perawat dalam menjalankan
fungsi independen adalah:
a) Pengkajian seluruh sejarah kesehatan pasien/keluarganya
dan menguji secara fisik untuk menentukan status
kesehatan.
b) Mengidentifikasi tindakan keperawatan yang mungkin
dilakukan untuk memelihara atau memperbaiki kesehatan.
c) Membantu pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
d) Mendorong untuk berperilaku secara wajar.
2) Fungsi Interdependen
Fungsi interdependen perawat adalah carried out
conjuction with other health team members. Tindakan perawat
berdasar pada kerja sama dengan tim perawatan atau tim
38



kesehatan. Fungsi ini tampak ketika perawat bersama tenaga
kesehatan lainnya berkolaborasi mengupayakan kesembuhan
pasien. Mereka biasanya tergabung dalam sebuah tim yang
dipimpin oleh seorang dokter. Sebagai sesama tenaga
kesehatan, masing-masing tenaga kesehatan mempunyai
kewajiban untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada
pasien sesuai dengan bidang ilmunya.
Dalam kolaborasi ini, pasien menjadi fokus upaya
pelayanan kesehatan. Contohnya, untuk menangani ibu hamil
yang menderita diabetes, perawat bersama tenaga gizi
berkolaborasi membuat rencana untuk menentukan kebutuhan
makanan yang diperlukan bagi ibu dan perkembangan janin.
Ahli gizi memberikan kontribusi dalam perencanaan makanan
dan perawat mengajarkan pasien memilih makan sehari-hari.
Dalam fungsi ini, perawat bertanggung jawab secara bersama-
sama dengan tenaga kesehatan lain terhadap kegagalan
pelayanan kesehatan terutama untuk bidang keperawatannya.
3) Fungsi dependen
Fungsi dependen perawat adalah the perfomed based on
the physicians order. Dalam fungsi ini, perawat bertindak
membantu dokter dalam memberikan pelayanan medik.
Perawat membantu dokter memberikan pelayanan pengobatan
dan tindakan khusus yang menjadi wewenang dokter dan
39



seharusnya dilakukan dokter, seperti pemasangan infus,
pemberian obat, dan melakukan suntikan. Oleh karena itu,
setiap kegagalan tindakan medis menjadi tanggung jawab
dokter. Setiap tindakan perawat yang berdasarkan perintah
dokter, dengan menghormati hak pasien tidak termasuk dalam
tanggung jawab perawat.
b. Peran Perawat
Peran merupakan seperangkat tingkah laku yang diharapkan
oleh orang lain terhadap seseorang, sesuai kedudukannya dalam
suatu sistem. Peran perawat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik
dari dalam maupun dari luar profesi keperawatan dan bersifat
konstan.
Doheny (1982) dalam Kusnanto (2003) mengidentifikasi
beberapa elemen peran perawatprofesional, meliputi:
1) Caregiver, sebagai pemberi asuhan keperawatan;
2) Client Advocate, sebagai pembela untuk melindungi klien;
3) Counsellor, sebagai pemberi bimbingan/ konseling klien;
4) Educator, sebagai pendidik klien;
5) Collaborator, sebagai anggota tim kesehatan yang dituntut
untuk dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain;
6) Coordinator, sebagai koordinator agar dapat memanfaatkan
sumber-sumber dan potensi klien;
40



7) Change agent, sebagai pembaru yang selalu dituntut untuk
mengadakan perubahan-perubahan;
8) Consultant, sebagai sumber informasi yang dapat membantu
memecahkan masalah klien.