Anda di halaman 1dari 23

Makalah Mitigasi Bencana Alam

MITIGASI GEMPA BUMI AKIBAT TEKTONIK


DI INDONESIA



Oleh :
NURFADHILAH ARIF
H221 10 903

PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki potensi bencana alam
yang tinggi. Jikadilihat secara geografis Indonesia adalah negara kepulauan yang
berada pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Australia,
Benu Asia,Samudera Pasifik dan Lempeng Samudera Hindia. Batas-batas
lempeng tersebut merupakan rangkaian gunung api dunia, yang melingkari
Samudera Pasifik disebut Pacific Ring of Fire. Rangkaian tersebut di Indonesia
bertemu dengan rangkaian Mediteran yang membentuk gunung-gunung api di
Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara. Dengan karakteristik seperti ini, Indonesia
memiliki potensi sekaliguS rawan bencana seperti letusan gempa bumi, tsunami,
gunung berapi, banjir dan tanah longsor. Gempabumi merupakan salah satu
bencana alam terbesar manusia, gempa bumi terjadi begitu mendadak dan
mengejutkan. Sehingga menimbulkan kepanikan umum yang luar biasa.
Untuk mengetahui kapan gempa bumi terjadi merupakan pekerjaan yang
sulit. Hal ini dikarenakan gempa bumi dapat terjadi secara tiba-tiba di manapun
dengan syarat masih berada dalam zona gempa bumi. Melihat potensi bencana
alam diatas maka diperlukan suatu upaya pengurangan dampak bencana (mitigasi
bencana) sebab bencana alam yang terjadi di Indonesia ini telah memakan banyak
korban jiwa dan harta tiap tahunnya. Maka dari itu yang masih mungkin dilakukan
adalah menyiapkan sistem peringatan dini (early warning system) yang berfungsi
sebagai alarm darurat jika sewaktu-waktu terjadi gempa bumi. Oleh karena itu
Melalui upaya mitigasi ini diharapkan resiko terjadinya bencana dan dampaknya
dapat dikurangi dan diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman
masyarakat tentang perlunya tindakan penyelamatan diri ketika terjadi gempa
bumi. Dalam makalah ini, akan dibahas secara rinci bagaimana mitigasi bencana
alam yang berupa gempa bumi akibat pergerakan tektonik.
.
B. TUJUAN
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :
1. Mengetahui gempa bumi yang terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik.
2. Merumuskan ide konstrukstif tentang sistem mitigasi terhadap bencana gempa bumi
tektonik.
3. Menerapkan aplikasi geofisika untuk upaya penanggulangan gempa bumi tektonik.

C. RUANG LINGKUP
Makalah ini berfokus pada mitigasi bencana alam yaitu gempa bumi
tektonik yang terjadi di Indonesia. Diharapkan dalam makalah ini dapat menjadi
referensi bagi masyarakat umum agar dapat lebih mengetahui gejala-gelala gempa
bumi dan cara penaggulangannya.

D. MANFAAT
Manfaat dari makalah ini adalah :
1. Manfaat teoritis
a. Bertambahnya khazanah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan geografi.
b. Sebagai masukan pada pengembangan teori khususnya menyangkut Geologi,
Geografi Sumber Daya, Geomorfologi serta Konservasi terhadap
lingkungan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan pertimbangan dalam tindakan mitigasi bencana.
b. Bagi Pemerintah
Sebagai penentu sikap pemerintah untuk langkah-langkah selanjutnya dalam
mengayomi masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana gempa
bumi dalam meminimalkan dampak yang ditimbulkan akibat gempa bumi.
c. Bagi Pelajar/Mahasiswa
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai mitigasi terhadap
bahaya gempa bumi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. GEMPA BUMI TEKTONIK
Gempa bumi adalah sebuah getaran atau goyangan tanah yang disebabkan
oleh pelepasan energi yang tersimpan dibawah permukaan bumi secara tiba-tiba.
Gerakan tiba-tiba merupakan cara bumi berelaksasi menuju keadaan normal
setelah mengalami dorongan, desakan, tumbukan geseran atau geseran antar
lempeng, fenomena tersebut dikenal dengan istilah elastic rebound. Selama proses
relaksasi energi akan menyebar dalam bentuk gelombang yang merambat ke
sejumlah penjuru dan dirasakan sebagai gempa bumi.
Gempa bumi disebabkan oleh adanya pelepasan energi renggangan elastik
batuan pada litosfer. Semakin besar energi yang dilepaskan maka semakin kuat
gempa yang terjadi. Terdapat dua teori yang menyatakan proses terjadinya atau
asal mula gempa bumi terjadi yaitu, pergeseran sesar dan teori kekenyalan elastis.
Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya
kejadian gempa bumi tersebut. Bumi walaupun padat, selalu bergerak dan gempa
bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi itu sudah terlalu besar untuk ditahan.
Gempa bumi sebenarnya terjadi hampir setiap hari di bumi ini, namun
kebanyakan berkekuatan kecil dan tidak menyebabkan kerusakan yang berarti.
Gempa bumi berkekuatan kecil juga dapat mengiringi terjadinya gempa bumi
yang lebih besar dan dapat terjadi sesudah, sebelum atau selepas gempa bumi
besar tersebut terjadi. Gempa bumi diukur dengan alat yang dinamakan Pengukur
Richter. Gempa bumi dibagi kedalam skala dari satu hingga sembilan berdasarkan
ukuran Skala Richter (menunjukkan besarnya energi yang dibebaskan pada pusat
gempa).

Tabel II.1 skala Richter (Sumber : Aditya Irvan Pristanto : 2010)
Gempa bumi juga dapat diukur dengan Skala Mercalli (menunjukkan kekuatan
gempa bumi berdasar pada kerusakan yang disebabkan oleh gempa bumi).

Tabel II.2 skala Mercalli (Sumber : Aditya Irvan Pristanto : 2010)

Ketika terjadi gempa, energi dilepaskan dari fokus melalui gelombang
seismik. Fokus atau hiposentrum adalah titik pada patahan dimana terjadi gerakan
pertama kali. Sedangkan episentrum adalah tempat di permukaan bumi yang
berada tepat di atas focus (Montgomery, 1987: 145). Secara umum gelombang
seismik dibagi menjadi dua, yaitu: body waves dan surface waves . Body waves
adalah gelombang seismic yang berjalan di dalam bumi dan menyebar dari fokus
ke segala arah. Sedangkan, surface waves adalah gelombang seismik yang
berjalan pada permukaan bumi dari episentrum.
Kegempaan di wilayah Indonesia merupakan konsekuensi dari aktivitas empat
lempeng utama yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik dan lempeng laut
Phillipina (Gambar 1).

Gambar II.1 Peta Lempeng utama yang berperan sebagai pembangkit aktivitas
kegempaan di Indonesia, yaitu lempeng Eurasian, Australia, Pasifik dan lempeng
laut Philippina (http://www.drs.dpri.kyoto.u.ac.jp/eqtap/report/indonesia).
Sedangkan struktur tektonik busur sunda terbentuk akibat tumbukan lempeng
Indo-Australia dan lepeng Eurasia sekitar 50 juta tahun yang lalu. Lempeng Indo-
Australia yang relative bergerak ke utara bertemu dengan lempeng Eurasia yang
relatif diam Bagian timur Indonesia, aktivitas kegempaan merupakan aktivitas
pada batas kontinen Australia, Asia Tenggara dan lempeng Samudera Pasifik serta
lempeng Philipina bertemu. Kepulauan Indonesia khususnya telah mengalami
proses tektonik aktif yang menghasilkan fenomena seperti pembentukan gunung
api, penghancuran kontinen, zona subduksi dan penutupan basin. Sebagian besar
gunung api ini merupakan hasil subduksi Lempeng Australia di bawah Lempeng
Eurasia.
Jenis-jenis Gempa Bumi

Dalam pembagiannya, gempa bumi digolongkan menjadi dua, yaitu gempa
bumi vulkanik dan gempa bumi tektonik. Namun karena makalah ini berfokus
pada gempa bumi tektonik. Maka yang akan dibahas disini alah gempa bumi
tektonik.
Gempa bumi tektonik (tectonic earthquake) disebabkan oleh pelepasan
tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya
gelang karet yang ditarik dan dilepaskan dengan tiba - tiba. Tenaga yang
dihasilkan oleh adanya tekanan yang terjadi antar batuan dikenal sebagai
kecacatan tektonik. Tektonik lempeng adalah suatu teori yang menerangkan
proses dinamika bumi tentang pembentukan jalur pegunungan, jalur gunung api,
jalur gempa bumi dan cekungan endapan di muka bumi yang diakibatkan oleh
pergerakan lempeng bumi. Menurut teori ini, kerak bumi (lithosfer) dapat
diterangkan ibarat suatu rakit yang sangat kuat dan relatif dingin yang mengapung
di atas mantel astenosfer yang liat dan sangat panas. Atau, bisa juga disamakan
dengan es yang mengapung di atas air laut. Ada dua jenis kerak bumi, yakni kerak
samudera yang tersusun oleh batuan bersifat basa dan sangat basa, yang dapat
dijumpai di samudera yang sangat dalam dan kerak benua yang tersusun oleh
batuan asam dan lebih tebal dari kerak samudera. Pada dasarnya kerak bumi
bersifat menutupi seluruh permukaan bumi, namun akibat adanya aliran panas
yang mengalir di dalam astenosfer menyebabkan kerak bumi ini pecah menjadi
beberapa bagian yang lebih kecil yang kemudian disebut lempeng kerak bumi.
Dengan demikian, lempeng bumi terdiri dari kerak benua, kerak samudera atau
keduanya. Arus konveksi tersebut merupakan sumber kekuatan utama yang
menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng bumi.
Gempa bumi tektonik disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu
pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai
kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempabumi ini banyak
menimbulkan kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa bumi yang
kuat mampu menjalar keseluruh bagian bumi. Gempa bumi tektonik disebabkan
oleh perlepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik
seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba.

B. MITIGASI GEMPA BUMI TEKTONIK
Kegiatan-kegiatan pada tahap pra bencana erat kaitannya dengan istilah
mitigasi bencana, yang merupakan upaya untuk meminimalkan dampak yang
ditimbulkan oleh bencana itu sendiri. Mitigasi bencana mencakup perencanaan
dan pelaksanaan tindakan-tindakan untuk mengurangi risiko-risiko dampak dari
suatu bencana yang dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk kesiapan dan
tindakan-tindakan pengurangan risiko jangka panjang, tindakan - tindakan yang
harus dilakukan untuk mengurangi risiko terhadap bencana. Sehingga, pada saat
terjadi bencana gempa bumi dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan,
diantaranya adalah:
1) Tindakan-tindakan rekayasa dan konstruksi, meliputi:
a). Tindakan-tindakan yang menghasilkan struktur konstruksi yang lebih kuat
dan lebih tahan terhadap bencana gempa bumi.
b). Tindakani-tindakan yang menciptakan struktur yang berfungsi untuk
perlindungan terhadap bencana gempa bumi.
2) Tindakan-tindakan institusional dan manajemen Mitigasi bencana juga
memerlukan tindakan tindakan prosedural dan organisasi tertentu. Jangka
waktu dimana pengurangan yang signifikan dapat dicapai dalam potensi
bencana memerlukan waktu yang lama. Tujuan dan kebijakan yang mengarah
dalam proses mitigasi harus dipertahankan untuk jangka waktu bertahuntahun
dan harus tetap bisa bertahan menghadapi perubahan. perubahan dalam
bidang politik administrasi yang mungkin terjadi pada saat ini.
3) Tindakan-tindakan masyarakat Perencanaan mitigasi bertujuan untuk
menggambarkan kultur keamanan bencana, dimana masyarakat sadar secara
penuh akan bahaya-bahaya yang mereka hadapi, melindungi diri mereka
sendiri sejauh yang dapat mereka lakukan dan secara penuh mendukung
upaya yang dibuat demi perlindungan bagi mereka.
Mitigasi bencana yang efektif
Mitigasi bencana yang efektif harus memiliki 3 (tiga) unsur utama, yaitu
penilaian bahaya, peringatan, dan persiapan.
1). Penilaian bahaya (hazad assestment): Diperlukan untuk mengidentifikasi
populasi dan asset yang terancam, serta tingkat ancaman terhadap bahaya
gempa bumi. Penilaian ini memerlukan pengetahuan tentang karakteristik
sumber bencana dimasa lalu. Tahapan ini menghasilkan peta potensi bencana
yang sangat penting untuk merancang kedua unsur mitigasi lainnya.
2). Peringatan (warning): Diperlukan untuk peringatan kepada seluruh warga
atau masyarakat tentang gempa bumi yang akan mengancam. Sistem
peringatan didasarkan pada data yang terjadi sebagai peringatan dini serta
menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk memberikan pesan kepada
pihak yang berwenang maupun masyarakat. Peringatan terhadap bencana
yang akan mengancam harus dapat dilakukan secara cepat, tepat dan
terpercaya.
3). Persiapan (preparedness) : Kegiatan kategori ini tergantung pada unsur
mitigasi sebelumnya (penilaian bahaya dan peringatan), yang membutuhkan
pengetahuan tentang daerah yang kemungkinan terkena bencana dan
pengetahuan tentang system peringatan untuk mengetahui kapan harus
melakukan evakuasi dan kapan saatnya kembali ketika situasi telah aman.
Tingkat kepedulian masyarakat dan pemerintah daerah serta pemahamannya
sangat penting pada tahap ini untuk dapat menentukan langkah-langkah yang
diperlukan untuk mengurangi dampak akibat bencana. Selain itu, jenis
persiapan lainnya adalah perencanaan tata ruang yang menempatkan lokasi,
fasilitas umum dan fasilitas sosial di luar zona bahaya bencana (mitigasi
nonstruktur), serta usaha-usaha keteknikan untuk membangun struktur akan
bencana (mitigasi struktur).
Upaya mitigasi dapat dilakukan dalam bentuk mitigasi struktur dan
mitigasi nonstruktur. Upaya mitigasi struktur dapat dilakukan dengan memperkuat
bangunan dan infrastruktur yang berpotensi terkena gempa bumi, seperti membuat
kode bangunan, desain rekayasa dan konstruksi untuk menahan serta
memperkokoh struktur ataupun membangun struktur bangunan. Upaya mitigasi
nonstruktur dapat dilakukan dengan menghindari wilayah yang berpotensi terjadi
gempa bumi dengan cara membangun jauh dari lokasi bencana yang dapat
diketahui melalui perencanaan tata ruang dan wilayah serta dengan
memberdayakan masyarakat dan pemerintah daerah.
Strategi - Strategi Mitigasi
Tujuan dari strategi mitigasi adalah untuk mengetahui kerugian-kerugian
pada saat terjadinya bahaya di masa mendatang. Tujuan primer adalah untuk
mengurangi resiko kematian dan cidera terhadap penduduk. Tujuan sekunder
mencakup pengurangan kerusakan dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan
sejauh hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. Tujuan - tujuan ini
mencakup dorongan bagi masyarakat untuk melindungi diri mereka sejauh
mungkin dari bahaya bencana gempa bumi. Strategi mitigasi apapun cenderung
memasukkan serangkaian tindakan tindakan untuk mengurangi resiko.
Serangkaian tindakan yang mencakup kadar ekonomi, beberapa tindakan teknik
sipil, perencanaan tata ruang, input sosial dan manajemen perlu untuk
menghasilkan mitigasi yang efektif. Program mitigasi yang mengkonsentrasikan
hanya pada satu diantara lima aspek ini, akan menjadi tidak seimbang dan
kemungkinan tidak akan mencapai tujuan.

Sasaran-Sasaran Mitigasi
1. Sasaran fisik
a). Penyelamatan dan penampungan sementara para korban bencana.
b). Pengamanan harta benda.
c). Penyantunan para korban bencana.
d). Pengadaan dana/bantuan dan penyalurannya.
e). Rehabilitasi dab rekonstruksi.
2. Sasaran non fisik
a). Terwujudnya suasana tenang kembali di tengah masyarakat.
b). Terwujudnya aparatur pemerintah dan masyarakat yang tanggap, peka dan
trampil terhadap usaha penanggulangan bencana.
c). Meningkatknya kesadaran dan kesetiakawanan masyarakat dalam
penanggulangan bencana.
d). Terbentuknya kembali kehidupan dan penghidupan masyarakat yang aman
dari ancaman bencana.

Metode Mitigasi
1. Pembangunan institusi
Membangun institusi-institusi nasional dan struktur-struktur formal yang
akan bisa menghidupkan program mitigasi merupakan bagian penting. Di
sejumlah negara, respon terhadap bencana tunggal adalah mendirikan suatu
komite bencana khusus untuk menangani emergensi. Pada akhir rekonstruksi
emergensi, komite atau departemen pemerintah tersebut mendapat
keuntungan untuk mempertahankan ketrampilan-ketrampilan dan
pengalaman-pengalaman itu. Hal ini memungkinkan pergeseran penekanan
dari bantuan pasca bencana ke kesiapan pra bencana. Institusi-institusi yang
mengumpulkan dan menganalisa informasi merupakan dasar untuk
pembangunan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan disetiap bangsa
untuk mengurangi resiko terhadap bencana di masa mendatang.

2. Penyebarluasan informasi
Penyebarluasan informasi terhadap masyarakat tentang gempa bumi sangat
diperlukan agar masyarakat memahami bahaya yang akan mereka hadapi
serta kesepakatan tanda bahaya, maka diperlukan suatu institusi yang
bertugas untuk menyebarluaskan informasi yang benar-benar akurat dan
dapat dipercaya oleh masyarakat.
3. Pertukaran informasi
Ilmu mitigasi bencana masih berada pada tahap awal pengembangan dan
banyak teknik yang diimplementasikan atau diujicobakan secara sendiri-
sendiri. Hubungan dan pertukaran pengalaman dari satu lokasi ke lokasi
lainnya akan membantu pelaksanaan teknik-teknik mitigasi yang efektif.
Manajemen Resiko Gempa Bumi
Kerangka kerja mitigasi bencana gempabumi dibedakan menjadi empat
komponen kerangka kerja yang mana aktivitas dan output terkait yang akan
mengimplementasikan Rencana Awal Manajemen Mitigasi Bencana di setiap kota
yang berpartisipasi.

Gambar II.2 Bagan Program manajemen resiko bencana
(sumber : Akhmad Muktaf Haifani : 2008)
Komponen 1 memfokuskan pada pemahaman bagaimana manajemen
resiko bencana diorganisasikan dan disampaikan, termasuk pelatihan yang di
informasikan ke pihak lain. Investigasi lapangan dan pencarian literatur dapat
digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan, keperluan dan hambatan untuk
melakukan pengurangan resiko dan untuk mendokumentasikan Profil kota dan
Informasi Pelatihan. Komponen 2 memastikan adanya pemahaman akan bencana,
pengembangan kapasitas atau insrastruktur, penguatan institusi untuk mendukung
implementasi Rencana Awal Manajemen Resiko Bencana. Komponen 3
menggabungkan kajian resiko bencana dan pilihan yang efektif untuk
mengkomunikasikan tentang resiko bencana kepada pengambil keputusan,
perencana, pendidik, tokoh masyarakat, dan pejabat lokal. Komponen 4
dipusatkan pada penyediaan dukungan teknis dan logistik untuk pengembangan
dan implementasi kesepakatan manajemen Resiko Bencana dalam suatu wilayah.
CONTOH SEDERHANA MITIGASI GEMPA BUMI
Sebelum gempa
1. Menentukan tempattempat berlindung yang aman jika terjadi gempa bumi,
seperti kolong meja.
2. Menyediakan air minum untuk keperluan darurat. Kebutuhan air minum
biasanya 2 sampai 3 liter sehari untuk satu orang.
3. Menyiapkan tas ransel yang berisi (atau dapat diisi) barangbarang yang
sangat dibutuhkan di tempat pengungsian. Barangbarang yang sangat
diperlukan dalam keadaan darurat, misalnya, lampu senter berikut baterai
cadangannya, air minum, kotak P3K berisi obat penghilang rasa sakit, plester,
pembalut, dan sebagainya, makanan yang tahan lama (biskuit), sejumlah uang
tunai, buku tabungan, korek api, lilin, helm, pakaian dalam, barangbarang
berharga yang harus dibawa saat keadaan darurat.
4. Mengencangkan mebel yang mudah rubuh, langitlangit atau dinding dengan
menggunakan logam berbentuk siku atau sekrup agar tidak mudah rubuh di
saat terjadi gempa bumi
5. Mencegah kaca jendela atau kaca lemari pakaian agar tidak pecah berantakan
di saat gempa bumi dengan menempelkan kaca film.
6. Mencari tahu lokasi tempat evakuasi dan rumah sakit terdekat.
Saat Gempa
1. Matikan api kompor jika Anda sedang memasak. Matikan juga alatalat
elektronik yang dapat menyebabkan timbulnya api.
2. Utamakan keselamatan terlebih dahulu. Jika terjadi kerusakan pada tempat
Anda berada, segeralah mengungsi ke tempat pengungsian terdekat.
3. Jika berada di ruangan, tetap tenang dan tidak terburuburu keluar dari rumah
atau gedung. Tunggu sampai gempa mereda dan sesudah agak tenang, ambil
tas ransel berisi barangbarang keperluan darurat dan keluar dari rumah/
gedung menuju tanah kosong.
4. Jika berada di luar ruangan/rumah, menjauh dan carilah tempat yang bebas
dari bangunan, pohoh, atau dinding.
5. Jika Anda harus berjalan di tengah jalan raya, berhatihatilah terhadap papan
reklame yang jatuh, tiang listrik yang tibatiba rubuh, kabel listrik, pecahan
kaca, atau benda yang berjatuhan dari atas gedung.
6. Pastikan tidak ada anggota keluarga yang tertinggal pada saat pergi ke tempat
evakuasi.
7. Jika gempa bumi terjadi pada saat Anda sedang menyetir kendaraan, jangan
sekalikali mengerem mendadak atau menggunakan rem darurat. Jangan
berhenti di dekat pompa bensin, di bawah kabel tegangan tinggi, atau di
bawah jembatan penyeberangan.
Setelah gempa
1. Tetap gunakan alas kaki agar kaki terhindar dari pecahan-pecahan yang
membahayakan.
2. Periksa apa ada luka atau anggota keluarga perlu perawatan lanjut.
3. Periksa aliran/pipa gas untuk mengecek kebocoran, jika berbau gas tutup
sumbernya, jangan menyalakan api.
4. Periksa kerusakan pada bangunan dan hindari bangunan yang mungkin
runtuh.
5. Nyalakan radio/televisi dan dengarkan pengumuman pemerintah.
6. Bersiap menghadapi kemungkinan gempagempa susulan.
7. Adakan pemeriksaan psikologi bila perlu.
C. APLIKASI GEOFISIKA UNTUK GEMPA BUMI TEKTONIK
Seismik tomografi merupakan sebuah metode geofisika untuk mengetahui
kondisi bawah permukaan bumi berdasarkan data waktu tiba gelombang
gempabumi (P dan S) yang terekam oleh peralatan seismik (seismometer) yang
tersebar di atas permukaan bumi. Hasil pengolahan dan analisa gelombang
tersebut akan memberikan gambaran struktur 3D interior bumi secara rinci.
metode seismik tomografi ini seperti sistem kerja CT Scan atau USG yang
digunakan oleh dokter untuk melihat kondisi organ dalam dan tulang manusia
tanpa melakukan operasi. Apabila gambar CT Scan dibuat dalam jumlah banyak
dari berbagai arah maka akan didapatkan pencitraan/images dalam bentuk 3
Dimensi. Hal yang sama dilakukan oleh orang-orang Geofisika namun bukan
untuk melihat isi dalam tubuh manusia melainkan melihat isi dalam bumi tanpa
harus melakukan pengeboran. Sumber getaran yang digunakan bisa dari sumber
buatan maupun sumber alami berupa gempabumi yang sering terjadi di seluruh
dunia.
Sejalan dengan perkembangan teknologi, peralatan seismometer juga
mengalami perkembangan yang luar biasa dari hari kehari. Seismometer modern
yang disebar di seluruh dunia saat ini bisa merekam getaran-getaran kecil
gempabumi yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Setelah sekian gempa bumi
terjadi, data yang terekam dari ribuan seismometer yang tersebar di seluruh dunia
dalam sekiat waktu, selanjutnya diproses untuk mendapatkan resolusi tinggi
pencitraan keadaan dalam bumi (images of earths interior) menggunakan teknik
seismik tomografi. Gambar di bawah ini menunjukkan contoh hasil pencitraan
seismik tomografi untuk melihat kondisi penunjaman lempeng tektonik di bawah
bumi.

Gambar II.3 Hasil seismik tomografi yang menunjukkan lempeng tektonik (3)
menunjam ke bawah (sumber : http://www.ibnurusydy.com/peran-geofisika-
fisika-bumi-dalam-mitigasi-dan-monitoring-bencana-iii/)
Terdapat banyak cara untuk melakukan pencitraan seismik tomografi,
sama hal dengan dokter yang memilih teknik CT scan atau USG untuk melihat
kondisi dalam tubuh manusia. Salah caranya adalah dengan cara melihat waktu
tiba gelombang P (primer/pressure wave) pada setiap seismomoter. Berdasarkan
jarak sumber gempa dengan peralatan seismometer dan berapa waktu yang
diperlukan untuk sebuah gelombang merambat, para geofisikawan bisa
memetakan kondisi bawah permukaan. Hal ini dikarenakan cepat atau lambatnya
perambatan gelombang sangat ditentukan oleh kondisi batuan di bawah
permukaan. Gambar di bawah ini mengambarkan bagaimana penjalaran
gelombang gempa yang melewati berbagai batuan di bawah permukaan dan
kemudian getarannya di terima oleh seismometer yang dipasang di atas
permukaaan bumi. Makin banyak seismometer yang dipasang maka makin besar
pula resolusi gambar bawah permukaan yang bisa didapat.

Gambar II.4 Prinsip kerja pencitraan Seismik Tomografi, pada gambar (3)
terdapat 6 peralatan seismograf yang merekam gelombang gempa setelah
melewati batuan bawah permukaan (sumber : http://www.ibnurusydy.com/peran-
geofisika-fisika-bumi-dalam-mitigasi-dan-monitoring-bencana-iii/)

Pencitraan tomografi secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu
proses rekonstruksi dari sebuah benda dari observasi besaran fisis yang
merepresentasikan efek dari penjalaran suatu bentuk radiasi melalui benda yang
diamati tersebut. Teknik pencitraan tomografi seismik meliputi beberapa tahapan
utama seperti: parameterisasi model 3D, penjejakan sinar (ray tracing) seismik
3D, inversi yang meliputi proses update model 3D, dan (iv) tes resolusi model 3D.
Data yang digunakan dalam pencitraan tomografi pada skala regional/global
diambil dari sumber alam, yaitu gempa bumi. Sedangkan untuk investigasi skala
lokal digunakan sumber buatan (ledakan dinamit). Dalam makalah ini data yang
digunakan adalah data gempa bumi regional, karena obyek yang diteliti adalah
zona subduksi di bawah Indonesia. Data gempa yang digunakan adalah waktu tiba
gelombang P (primer/longitudinal) dan S (sekunder/transversal). Proses ulang
yang dimaksud meliputi antara lain: reidentifikasi fasa gelombang seismik, dan
relokasi hiposenter. Dari hasil re-processing ini maka hanya data dengan kualitas
tinggi saja yang digunakan, sedangkan data dengan kualitas rendah dieliminasi
dari katalog. Penggunaan data dengan kualitas tinggi seperti ini sangat penting
untuk menghasilkan citra tomografi seismik yang handal.
Contoh hasil pencitraan tomografi seismik untuk Indonesia ditunjukkan
pada Gambar II.5 sampai II.7 berikut. Dalam Gambar II.5 diberikan contoh hasil
inversi tomografi menggunakan data gelombang S. Variasi kecepatan gelombang
S di kerak bumi di bawah wilayah Indonesia hasil inversi tomografi ini
diharapkan ke depan dapat dimanfaatkan untuk menghitung PGA secara
komprehensif. Sedangkan dalam Gambar II.6 ditunjukkan hasil inversi tomografi
dengan data gelombang P. Di sini terlihat dengan jelas bagaimana subduksi
lempeng samudera dapat dicitrakan dengan baik. Dengan demikian sudut
penunjaman lempeng dapat ditentukan dengan lebih pasti. Tomogram dalam
Gambar II.7 merupakan close up dari tomogram gelombang S pada Gambar II.5.
Close up untuk wilayah Jawa ini menunjukkan potensi tomogram seismik untuk
identifikasi keberadaan sesar. Di dalam tomogram sesar ditunjukkan sebagai
kontras antara anomali kecepatan gelombang negatif dan positif seperti yang
terlihat di Jawa Tengah.

Gambar II.5. Variasi kecepatan gelombang S di kerak bumi di bawah wilayah
Indonesia hasil inversi tomografi. Kuantitas yang diplot adalah deviasi kecepatan
relatif terhadap model bumi rata-rata ak135 (Kennett dkk., 1995). Simbol segitiga
menunjukkan posisi gunung api aktif yang terlihat berkorelasi dengan lokasi
anomali kecepatan negatif. (sumber : Sri Widiyantoro :2008)

Gambar II.6. Peta seismisitas 2D untuk Sumatera Utara dan Andaman. Data
episenter diambil dari Engdahl dkk., 2007 (updated version, yaitu meliputi
periode 1918 sampai dengan November 2006). Titik merah dan hijau masing-
masing menunjukkan episenter gempa dengan kedalaman < 60 km, dan > 60 km.
Sedangkan garis A-B menunjukkan posisi penampang vertikal tomogram seismik
gelombang P. Pada penampang ini juga diplot posisi hiposenter yang terlihat
berada di atas citra lempeng samudera Hindia yang menunjam yang digambarkan
dengan warna biru. Garis merah dan hitam pada penampang A-B masing-masing
menunjukkan kemiringan lempeng jika diinterpretasikan berdasarkan distribusi
hiposenter dan tomogram seismik. (sumber : Sri Widiyantoro :2008)


Gambar II.7. Close up untuk variasi kecepatan gelombang S di kerak bumi
(Gambar II.5) untuk Jawa. Tanda anak panah besar menunjukkan arah desakan
dari lempeng Indo-Australia. Sedangkan anak panah kecil menunjukkan besar
(kualitatif) dan arahpergesaran blok di darat akibat desakan lempeng dari Selatan.
Kontras anomalikecepatan negatif (warna coklat) dan positif (warna hijau) di
Jawa Tengah berkorelasi dengan posisi sesar Opak. Kontras serupa terdapat juga
di ujung Jawa Timur yang kemungkinan juga mengindikasikan adanya sesar di
darat. (sumber : Sri Widiyantoro :2008)
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah ini yaitu :
1. Gempa bumi adalah sebuah getaran atau goyangan tanah yang disebabkan
oleh pelepasan energi yang tersimpan dibawah permukaan bumi secara
tiba-tiba. Gerakan tiba-tiba merupakan cara bumi berelaksasi menuju
keadaan normal setelah mengalami dorongan, desakan, tumbukan geseran
atau geseran antar lempeng, fenomena tersebut dikenal dengan istilah
elastic rebound. Selama proses relaksasi energi akan menyebar dalam
bentuk gelombang yang merambat ke sejumlah penjuru dan dirasakan
sebagai gempa bumi.
2. Mitigasi bencana mencakup perencanaan dan pelaksanaan tindakan-
tindakan untuk mengurangi risiko-risiko dampak dari suatu bencana yang
dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan-
tindakan pengurangan risiko jangka panjang, tindakan - tindakan yang
harus dilakukan untuk mengurangi risiko terhadap bencana. Sehingga,
pada saat terjadi bencana gempa bumi dampak yang ditimbulkan dapat
diminimalkan.
3. Seismik tomografi merupakan sebuah metode geofisika untuk mengetahui
kondisi bawah permukaan bumi berdasarkan data waktu tiba gelombang
gempabumi (P dan S) yang terekam oleh peralatan seismik (seismometer)
yang tersebar di atas permukaan bumi. Hasil pengolahan dan analisa
gelombang tersebut akan memberikan gambaran struktur 3D interior bumi
secara rinci yang kemudian dapat dianalisis dalam upaya mitigasi gempa
bumi.



B. Saran
Upaya-upaya sosialisasi tentang mitigasi bencana gempa bumi di daerah
rawan terhadap ancaman bencana gempa bumi dimanapun oerlu ditingkatkan agar
lebih efektif. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai ide-ide
kontruktif dalam upaya mitigasi bencana gempa bumi serta meningkatkan
pemahaman masyarakat tentang mitigasi bencana gempa bumi. Terkhusus saran
bagi masyarakat umum diharapkan terus menggali pengetahuan tentang gempa
bumi dan mitigasinya, mengingat masyarakat Indonesia pada umumnya selalu
hidup berdampingan dengan bencana terutama bencana alam geologi.













DAFTAR PUSTAKA
Anomim. 2013. Gempa Bumi dan Akibatnya Gempa Tektonik Vulkanik dan
Runtuhan. http://pengertianadalahdefinisi.blogspot.com/2013/07/gempa-
bumi-dan-akibatnya-gempa-tektonik.html. Diakses pada tanggal 25
November 2013 pukul 9.00 WITA
Ario, Yuwono. 2008. Pengembangan Model Mitigasi Bencana Melalui
Pengaturan Penggunaan Lahan dan Kaitannya Terhadap Tata Ruang
(Studi Kasus: Pesisir Kota Semarang). Universitas Dipanegoro :
Semarang.
Fadillah, Taruna. 2011. Mitigasi Bencana Gempa Bumi di Sekitar Sesar
Lembang. Intitude Teknologi Bandung : Bandung
Haifani, Akhmad Muktaf. 2008. Manajemen Resiko Bencana Gempa Bumi
(Studi Kasus Gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006). Pusat Pengkajian
Sistem dan Teknologi Keselamatan, Instalasi dan Bahan Nuklir : Jakarta
HAGI. 2013. Ambient Seismic Noise Tomography for the Jakarta Area.
http://hub.hagi.or.id/index.php/2013/08/10/ambient-seismic-noise-
tomography-for-the-jakarta-area/. Diakses pada tanggal 1 DEsember 2013
pukul 20.00 Wita.
Pristanto, Adhitya Irvan. 2010. Upaya Peningkatan Pemahaman Masyarakat
Tentang Mitigasi Bencana Gempa Bumi di Desa Tirtomartani Kecamatan
Kalasan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Universitas Negeri Yogyakarta : Yogyakarta.
Rohadi, Supriyanto. 2009. Studi Seismotektonik Sebagai Indikator Potensi
Gempabumi di Wilayah Indonesia. Balai Besar Meteorologi Klimatologi
dan Geofisika : Jakarta.
Rusydy, Ibnu. 2013. Peran Geofisika (Fisika Bumi) Dalam Mitigasi dan
Monitoring Bencana. http://www.ibnurusydy.com/peran-geofisika-fisika-
bumi-dalam-mitigasi-dan-monitori diakses pada tanggal 1 desember 2013
pukul 20.00 WITA.
Sri Widiyantoro. 2008. Seismisitas Dan Model Zona Subduksi Di Indonesia
Resolusi Tinggi. Institut Teknologi Bandung : Bandung.