Anda di halaman 1dari 95

TRANSKULTURAL DALAM KEPERAWATANI.

Perspektif Transkultural dalam


Keperawatan A. Keperawatan Transkultural dan globalisasi dalam pelayanan
kesehatan Peran perawat transkultural menjembatani antara sistem perawat yang
dilakukan oleh masyarakat awam dengan perawatan profesional melalui asuhan
keperawatan. Keperawatan lintas budaya merupakan bidang studi dan praktik formal
yang berfokus pada analisis komparatif budaya dan sub budaya di dunia dalam
kaitanya dengan keperawatan kultural, kepercayaan tentang kesehatan dan
penyakit, nilai-nilai dan praktik yang bertujuan untuk menggunakan pengetahuan ini
dalam memberikan perawatan sesuai budaya tertentu atau sesuai budaya universal
kepada semua orang (Leininger,1978). Keperawatan lintas budaya memberikan
kerangka budaya kerja untuk memenuhi kebutuhan keperawatan kesehatan dari
kelompok dengan latar budaya beraneka ragam. Dalam melakukan pencapaian
keperawatan ada 6 fenomena kultural yang dipertimbangkan, yaitu : 1. Komunikasi :
verbal, non verbal bahasa utama 2. Ruang pribadi : tindakan lebih menonjol dari
kata-kata 3. Organisasi sosial : Prilaku didapat, ciri khas budaya, nilai-nilai
berorientasi internal, kepercayaan keagamaan, pembuatan keputusan dalam
keluarga. 4. Waktu : cara mengkaji waktu, konsep waktu 5. Lingkungan :
mengevaluasi sistem kesehatan, lokus kontrol 6. Variasi biologis : struktur tubuh,
genetik, atribut fisik, karakteristik psikologis Mendorong potensi perawat untuk
memberikan secara cermat arti diversivitas bukan realitas masa depan tetapi
tantangan masa kini dan kesempatan untuk berkembang (Hagivary,1192). Ada 3
pendekatan profesi keperawatan untuk menyiapkan praktisi untuk masa depan
(Andrews,1992) 1. Lingkungan Praktis klinis Diperlukan program pendidikan yang
berkelanjutan guna menyadarkan perawat akan nilai, kepercayaan dan praktek yang
berlandaskan kepada budaya mereka sendiri, meningkatkan dasar pengetahuan
tentang kesehatan berkaitan dengan budaya tertentu serta praktek orang lain yang
akan di jumpai. 2. Lingkungan Akademis Program sarjana muda dan sarjana
mengalami kemajuan menandakan konsep budaya dalam kurikulum keperawatan,
pengajaran harus difokuskan pada pengkajian kulturologi, variasi biokultural dalam
kesehatan dan penyakit, perbedaan kultural dalam komunikasi, kepercayaan
beragama, nutrisi, aspek perawatan dan sebagainya, memadukan konsep budaya
dalam kurikulum
membangkitkan kesadaran dan pengalaman. 3. Bidang Penelitian Dibutuhkan studi
lintas budaya di bidang penelitian dasar dan penelitian terapan, lembaga penyandang
dana dan yayasan harus di dorong untuk mendukung studi lingkungan budaya yang
menekankan metode penelitian kualitatif penggabungan metode kuantitatif dan
kualitatif menghasilkan data yang bermanfaat untuk mencapai hasil optimal.B.
Konsep dan Prinsip dalam Asuhan Keperawatan Transkultural Konsep dalam
Transcultural Nursing 1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota
kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir,
bertindak dan mengambil keputusan. 2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau
tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu
waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan. 3. Perbedaan budaya, dalam
asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal dari pemberian asuhan
keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang
dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu,
kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu
yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985). 4. Etnosentris
adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa budayanya adalah
yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain. 5. Etnis,
berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan
menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim 6. .Ras adalah perbedaan macam-macam
manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal manusia 7. Etnografi adalah
ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi
memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada
perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari
lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya.
8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan
perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi
kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas
kehidupan manusia. 9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk
membimbing, mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada
keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan
manusia. 10. Cultural Care. berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui
nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung
u memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk
mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam
keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.11. Culturtal imposition,
berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan
kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa ide
yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain. Paradigma
Transcultural Nursing Konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan yang
sesuai denganlatar belakang budaya terhadap empat konsep sentral keperawatan
yaitu: (Andrew andBoyle, 1995).1. Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok
yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk
menetapkan pilihan dan melakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia
memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat
dimanapun dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).2. Kesehatan adalah
keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya, terletak pada
rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan
dalam konteks budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan
seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan
perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat
dalam rentang sehat-sakit yang adaptif (Andrew and Boyle, 1995).3. Lingkungan
didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan,
kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas
kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk
lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam
atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman
padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena
tidak pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan
struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau
kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu
harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.
Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan
individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa
dan atribut yang digunakan.4. Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau
rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai
dengan latar belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan
individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan
keperawatan adalah perlindungan/mempertahankan budaya,
mengakomodasi/negoasiasi budaya dan mengubah/mengganti budaya klien
(Leininger, 1991). Prinsip dalam Asuhan Keperawatan Transkultural1. Culture care
preservation / maintenance : Yaitu prinsip membantu, memfasilitasi atau
memperhatikan fenomena budaya guna membantu individu menentukan tingkat
kesehatan dan gaya hidup yang diinginkan.
memfasilitasi atau memperhatikan fenomena budaya, merefleksikan cara-cara untuk
beradaptasi, bernegosiasi atau mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya
hidup individu dan klien. 3. Culture care reparterning / restructuring : Yaitu prinsip
merekontruksi atau mengubah desain untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan pola
hidup klien kearah yang lebih baik. Hasil yang diperoleh melalui pendekatan
keperawatan transkultural pada asuhan keperawatan adalah tercapainya culture
congruent nursing care health and well being yaitu asuhan keperawatan yang
kompeten berdasarkan budaya dan pengetahuan kesehatan yang sensitif, kreatif,
serta cara- cara yang bermakna guna mencapai tingkat kesehatan dan
kesejahteraan bagi masyarakat.C. Pengkajian Asuhan Keperawatan Budaya Perawat
harus memulai pengkajian dengan melihat latar budaya cultural yang di miliki klien
dan latar belakang social juga ketrampilan bahasa yang dimilikinya. Ini diperlukan
dalam mengumpulkan data mengenai penyebab penyakit dan masalah klien. Proses
pendekatan ini diperlukan untuk mengetahui atau mengidentifikasi apakah klien
mempunyai latar belakang budaya tradisional yang lebih dominan di bandingkan
dengan budayanya yang modern. Sebelum memulai pengkajian perawat harusnya : 1.
Membina hubungan saling percaya terlebih dahulu dengan klien 2. Mengidentifikasi
bahasa yang digunakan 3. Mempelajari pola komunikasi kien dengan mengobservasi
kemampuan verbal dan nonverbalnya, contoh prilaku nonverbal dengan sentuhan,
kontak mata 4. Mempelajari prilaku bermakna yang dimiliki klien perawat dalam
berinteraksiD. Beberapa Instrumen Pengkajian Budaya Pengkajian budaya
merupakan pengkajian yang sistematik dan komprehensif dari nilai nilai pelayanan
budaya, kepercayaan, dan praktik individual, keluarga dan komunitas. Tujuan
pengkajian budaya adalah untuk mendapatkan informasi yang signifikan dari klien
sehingga perawat dapat menerapkan kesamaan pelayanan budaya. Salah satu
masalah dalam pengkajian budaya adalah kurangnya kemampuan untuk mengkaji
pihak dalam atau perspektif etnik klien dan interpretasi informasi selama penilaian.
Hal ini dapat tertolong dengan mengunakan pertanyaan terbuka, terfokus, dan
kontras. Tujuannya adalah mendorong klien agar dapat menggambarkan nilai nilai,
kepercayaan, dan praktik yang berarti untuk pelayanan mereka yang tidak disadari
oleh penyelenggara pelayanan kesehatan. Pertanyaan berorientasi budaya pada
dasarnya bersifat luas dan membutuhkan lebih banyak penjelasan. Sebaliknya
pengkajian budaya bersifat mencampuri dan menghabiskan waktu serta
membutuhkan hubungan saling percaya antara sesama partisipan. Komunikasi yang
kurang biasanya terjadi pada hubungan interkultural. Hal ini disebabkan
unikasi di antara partisipan. Keterampilan manajemen
impresi penting bagi perawat. Hal ini didasarkan pada kemampuan perawat dalam
memahami sikap klien sesuai dengan konteks berpikirnya sehingga perawat dapat
bereaksi dalam konteks budaya yang sama. Manajemen impresi membutuhkan
keahlian berbahasa, interpretasi yang sama secara budaya terhadap sikap klien,
mendengarkan, dan keterampilan melakukan pengamatan. Pada saat pengkajian, nilai
dan dengarkan bahasa yang klien gunakan saat berbicara dan menulis serta putuskan
jika klien memerlukan seorang ahli bahasa. Perawat mempelajari berbagai
keterampilan yang diperlukan untuk mendapatkan pengkajian budaya yang akurat
dan komprehensif sepanjang waktu. Gbr. Transkultural Assessment Model ( Giger &
Davidhizars ) ____Ruang____ _________ ___Komunikasi__ Observasi tingkat
Bahasa lisan ___Pengkajian Keperawatan___ kenyamanan (dlm Kualitas
berkomunikasi) Mendapatkan Kesimpulan Data suara Kedekatan dgn yg lain
Pengucapan Penggunaan Gerakan tubuh keheningan Persepsi ruang nonverbal
__Keunikan Budaya Individu__ _______Orientasi Sosial_____
mengIndentifikasi Ras & Budaya Kultur Klien Ras tempat lahir Etnik
waktu di Negara Fungsi peran keluarga PekerjaanVariasi biologis Warna kulit
Waktu luang Gereja Struktur tubuh Warna rambut teman Dimensi fisik
lain Keadaan genetic & enzim pd populasi Waktu penyakit khusus Kerentanan
terhadap sakit & penyakit Pengunaannya Kekurangan nutrisi Penghitungan
Karakteristik psikologi,koping dan social Definisi support Waktu bersosial
Waktu bekerja Kontrol Lingkungan orientasi waktu (kemarin, sekarang, akan
datang) Praktik kesehatan Cutural yang berhasil, netral, disfungsional, tdk jelas
Nilai Definisi dari sehat & Sakit
umen Pengkajian Warisan Budaya1. Dimana ibu Anda lahir ?
______2. Dimana ayah Anda lahir ? ______3. Dimana kakek nenek Anda lahir ?
______ a. Ibu dari Ibu Anda ? ______ b. Ayah dari Ibu Anda ? ______ c. Ibu
dari Ayah Anda ? ______ d. Ayah dari Ayah Anda ? ______4. Berapa saudara laki
laki ______ dan perempuan ______5. Dimana Anda dibesarkan ? Desa _____
Kota ______ Pinggir Kota ______6. Dimana orang tua Anda dibesarkan ? Ayah
______ Ibu ______7. Berapa usia Anda ketika datang ke Indonesia ? ______8.
Berapa usia orang tua Anda ketika datang ke Indonesia ? ______9. Ketika Anda
dibesarkan, siapa yang tinggal dengan Anda ? ______ Keluarga Inti ______ atau
Keluarga Besar ______10. Apakah Anda mempertahankan kontak dengan : a. Bibi,
Paman, Sepupu ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______ b. Saudara Laki Laki dan
Perempuan ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______ c. Orang Tua ( 1 ) Ya ______ ( 2 )
Tidak ______ d. Anak Anda Sendiri ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______11. Apakah
kebanyakan dari bibi, paman, sepupu Anda tinggal dekat rumah Anda? ( 1 ) Ya
______ ( 2 ) Tidak ______12. Kira kira seberapa sering Anda mengunjungi
anggota keluarga Anda yang tinggal di luar rumah Anda ? ( 1 ) Setiap Hari _____( 2
) Setiap Minggu ______ ( 3 ) Setiap Bulan ______ ( 4 ) Hanya Liburan Khusus
______ ( 5 ) Tidak Pernah ______13. Apakah nama asli keluarga Anda di ganti ? ( 1
) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______14. Apakah kepercayaan Anda ? ( 1 ) Katolik
______ ( 2 ) Islam ______ ( 3 ) Protestan ______ Denominasi ______ ( 4 ) Lain
Lain ______ ( 5 ) Tidak Ada ______15. Apakah pasangan Anda mempunyai
kepercayaan yang sama dengan Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______16.
Apakah pasangan Anda mempunyai latar belakang etnik sama dengan Anda ? ( 1 ) Ya
______ ( 2 ) Tidak ______17. Anda sekolah dimana ? ( 1 ) Pemerintah ______ ( 2 )
Swasta _____( 3 ) Seminari / Pesantren ______18. Sebagai seorang dewasa,
apakah Anda tinggal di daerah dimana tetangga mempunyai kepercayaan dan latar
belakang yang sama dengan Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______19. Apakah
Anda memiliki institusi keagamaan ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______20.
Dapatkah Anda mengambarkan diri Anda sendiri sebagai anggota yang aktif? ( 1 ) Ya
______ ( 2 ) Tidak ______21. Seberapa sering Anda menghadiri institusi
keagamaan Anda ? ( 1 ) Lebih dari satu minggu ______ ( 2 ) Setiap minggu ______
pernah ______22. Apakah Anda mempraktikkan keagamaan Anda di rumah? ( 1 ) Ya
______ (2) Tidak ______ ( bila ya, sebutkan tempatnya ) ______ ( 3 ) Berdoa
______ ( 4 ) Membaca Kitab Suci ______ (5 ) Diet ______ ( 6 ) Merayakan hari
besar keagamaan ______23. Apakah Anda menyiapkan makanan sesuai latar
belakang etnik Anda? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______24. Apakah Anda
berpartisipasi dalam aktivitas etnik ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______ ( bila ya,
sebutkan tempatnya ) ______ ( 3 ) Bernyanyi _____ ( 4 ) Perayaan Hari Besar
_____ ( 5 ) Berdansa ______( 6 ) Festival ______ ( 7 ) Adat Istiadat ______ ( 8
) Lain Lain ______25. Apakah teman Anda dari latar belakang kepercayaan yang
sama dengan Anda? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______26. Apakah teman Anda dari
latar belakang etnik yang sama dengan Anda? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak
______27. Apakah bahasa asli Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______28.
Apakah Anda berbicara dengan bahasa tersebut ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak
______29. Apakah Anda membaca dalam bahasa asli Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 )
Tidak ______Makin besar jumlah jawaban Ya, makin kuat klien memiliki keturunan
tradisional.Contoh Lain Instrumen Pengkajian Keperawatan Terbuka 1. Menurut
Anda apa yang menyebabkan penyakit Anda ? 2. Seperti apa kami dapat
memecahkan masalah Anda ?Terfokus 1. Apakah Anda pernah mengalami masalah ini
sebelumnya ? 2. Apakah ada seseorang yang Anda ingin agar kami bicara dengannya
mengenai perawatan Anda?Kontras 1. Bagaimana perbedaan masalah ini dengan
masalah sebelumnya ? 2. Apa perbedaan antara apa yang perawat kerjakan dengan
apa yang Anda pikirkan bagaimana perawat lakukan untuk Anda ?Riwayat Etnik 1.
Berapa lama Anda / orang tua Anda tinggal di negara ini ? 2. Apa latar belakang
etnik atau asal leluhur Anda ? 3. Seberapa kuat budaya mempengaruhi Anda ? 4.
Ceritakan alasan Anda meninggalkan tanah air Anda ?Organisasi Sosial 1. Siapa yang
tinggal dengan Anda ? 2. Siapa yang Anda anggap sebagai anggota keluarga Anda ?
3. Dimana anggota keluarga Anda yang lain tinggal ? 4. Siapa yang membuat
keputusan untuk Anda atau keluarga Anda ? 5. Siapa yang Anda cari saat
memerlukan bantuan untuk keluarga Anda ? 6. Apa harapan Anda terhadap anggota
keluarga yang pria, wanita, tua, atau muda ?
perbedaan kehidupan Anda di sini dibandingkan tempat asal? Ekologi Biokultural dan
Risiko Kesehatan 1. Apa penyebab masalah Anda ? 2. Bagaimana masalah
mempengaruhi Anda atau bagaimana masalah itu mempengaruhi kehidupan Anda dan
keluarga Anda ? 3. Bagaimana Anda mengatasi masalah tersebut di rumah ? 4. Apa
masalah lain yang Anda hadapi ? Bahasa dan Komunikasi 1. Apa bahasa yang Anda
gunakan di rumah ? 2. Apa bahasa yang Anda gunakan untuk membaca dan menulis ?
3. Bagaimana perawat harus berbicara atau memanggil Anda ? 4. Apa jenis
komunikasi yang menggangu Anda ? Kepercayaan dan Praktik Pelayanan 1. Apa yang
Anda lakukan untuk menjaga kesehatan Anda ? 2. Apa yang Anda lakukan untk
menunjukkan kepedulian Anda ? 3. Bagaimana Anda merawat anggota keluarga yang
sakit? 4. Pemberi layanan mana yang Anda cari saat Anda sedang sakit ? 5.
Bagaimana perbedaan yang perawat lakukan dengan yang dilakukan keluarga Anda
saat Anda sedang sakit ?
II. Komunikasi Transkultural A. Nilai dan Norma Budaya dalam Berkomunikasi
Ketika dua atau lebih orang berbeda budaya berkomunikasi, seringkali ditemukan
kesalahan interpretasi pesan yang disampaikan. Dalam hal mengurangi dan
menghindari hal tersebut pantaslah kita mempelajari nilai dan norma budaya dalam
berkomunikasi. Sebelum itu kita harus memahami dulu apa itu budaya : Menurut
clifford Geertz merujuk kepada Klukhohn (seorang antropologi) berasumsi bahwa
kebudayaan itu sebagai cermin bagi manusia (mirror of man) sehingga dia
mengajukan interpretasi terhadap makna budaya, bahwa kebudayaan itu merupakan
: 1. Keseluruhan pandangan hidup dari manusia 2. Sebuah warisan sosial yang dimiliki
oleh individu dari kelompoknya 3. Cara berfikir, perasaan dan mempercayai 4.
Abstraksi dan perilaku 5. Bagian penting dari te tentang teori para antropolog
tentang cara-cara di mana sebuah kelompok orang menyatakan kelakuannya 6.
Sebuah gudang pusat pembelajaran 7. Sebuah unit standarisasi orientasi untuk
mengatasi pelbagai masalah yang berulang-ulang 8. Perilaku yang dipelajari 9.
Sebuah mekanisme bagi pengaturan regulatif atas perilaku 10. Kesimpulan teknik
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan lain dan orang lain 11. Lapisan atau
endapan dari sejarah manusia 12. Peta perilaku, matriks perilaku dan saringan
perilaku
diucapkanyang memberi makna, tetapi segala sesuatu yang lain juga (Matsumoto
&Matsumoto,1989)Budaya adalah pikiran, komunikasi, tindakan, keyakinan, nilai, dan
lembaga-lembagaras dan etnik, agama atau kelompok sosial (OMH,2001)Budaya
adalah : Segala sesuatu yang dihasilkan dari kehidupan individu
dankelompoknya.Wujud kebudayaan1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks
dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dsb. Merupakan wujud
ideal dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat di raba atau di lihat. Letaknya
ada didalam fikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan itu hidup.
Dikenal dengan adat istiadat atau sering berada dalam karangan dan buku-buku
hasil karya para penulis warga masyarakat bersangkutan.2. Wujud kebudayaan
sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat, disebut juga sistem social. Sistem social ini terdiri dari aktivitas-
aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, bergaul yang berdasarkan adat
social tata kelakuan. Sistem social ini bersifat konkrit, serta terjadi dikeliling kita
sehari-hari, bisa diobservasi, di lihat dan didokumentasikan.3. Wujud kebudayaan
sebagai benda-benda hasil karya manusia, disebut kebudayaan fisik, dan tak banyak
memerlukan penjelasan. Merupakan seluruh total dari hasil fisik dan aktifitas,
perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat. Sifatnya paling konkret,
atau berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat di raba, dilihat, dan difoto. Hasil
karya manusia seperti candi, computer, pabrik baja, kapal, batik sampai kancing
baju.Nilai : Nilai merupakan unsur penting dalam kebudayaan, nilai membimbing
manusiauntuk menentukan sesuatu itu boleh dilakukan atau tidak, nilai bersifat
abstrak dannilai membentuk sikap kita tentang sesuatu apakah itu bermoral dan
tidak bermoral,baik atau buruk, benar atau salah, dan indah atau buruk.Norma :
Nilai dapat dibedakan dari norma, nilai hanya meliputi penilaian tentang
baikburuknya objek, peristiwa, tindakan atau kondisi, sedangkan norma lebih
merupakanstandart prilaku. Norma merupakan nilai-nilai budaya yang merupakan
standarkelompok, dasar dari kehidupan sebuah kelompok, jika nilai memperkenalkan
kitabagaimana berprilaku sepantasnya maka norma secara khusus menggariskan
kontrolterhadap perilaku. Sebuah norma adalah aturan yang mengatur tentang
hukuman atauganjaran dalam berbagai bentuk sesuai dengan variasi posisi sosial
orang dalam relasiantar manusia. Semua tindakan manusia memiliki akibat tertentu
dan norma secarakhusus memberi akibat sosial bagi seseorang yang melangar aturan
tersebut, Bentuk-bentuk norma antara lain :
ekuatan yang
lemah, merupakan perbuatan yang diulang-ulang. Contohnya : Menghirup kopi panas
dengan bunyi, jika dilakukan tidak ada saksi apa-apa. 2. Kebiasaan Menurut Sumnner
kebiasaan sebagai aturan adat istadat yang dapat dilihat dalam belbagai situasi,
namun tidak cukup kuat mengatur kelompok. Misalnya : Bercakap-cakap sebelum
rapat, hal ini juga tidak melangar apa-apa 3. Tata Kelakuan Tata kelakuan berisi
perintah dan larangan sehingga anggota masyarakat menyesuaikan perbuatannya
dengan tata kelakuan tersebut. Contohnya : Perihal antara hubungan pria dan wanita
4. Adat Istiadat Anggota masyarakat yang melangar adat istiadat akan menerima
saksi yang keras . Contohnya : Perkawinan antar strata di Sumba dan Bali, akan
mendapat sanksi yang keras misalnya dikeluarkan daro strata tersebut. Nilai dan
norma diperlukan sebagai kontrol prilaku kehidupan manusia sehari-hari.B. Prinsip-
prinsip dalam Komunikasi Komunikasi berasal dari kata kerja communicre, dalam
bahasa Latin yang berarti menjadikan lazim/umum, membagi, berpartisipasi
(mengikutsertakan) atau menanamkan. (Guralnik, 1989). Akan tetapi komunikasi
melampaui definisi tersebut, dimana komunikasi mencakup keseluruhan bidang
interaksi dan tingkah laku manusia. Semua tingkah laku, baik verbal mapun nonverbal
yang ditampilkan oleh individu disebut sebagai komunikasi. (Potter & Perry, 2005;
Watzlawick, Beavin, & Jackson, 1967). Komunikasi merupakan keterampilan dasar
dalam semua interaksi keperawatan. Dalam komunikasi terkandung sistem tingkah
laku yang terpola dan teratur yang memungkinkan terjadinya seluruh interaksi
antara perawat dan klien. Di dalamnya terdapat pertukaran pesan yang memiliki arti.
Komunikasi dan budaya sangat erat berhubungan. Komunikasi merupakan alat/cara
bagaimana budaya ditransmisikan dan dipelihara/dipertahankan. (Delgado, 1983).
Budaya mempengaruhi bagaimana perasaan diekspresikan serta ekspresi verbal dan
nonverbal apa yang tepat untuk digunakan. Contohnya, orang Amerika lebih suka
menutupi perasaannya dan secara umum jarang menggunakan bahasa sentuhan,
sebaliknya budaya ketimuran lebih terbuka dalam mengekspresikan perkabungan /
duka, kemarahan, atau kegembiraan serta lebih banyak menggunakan sentuhan.
(Davidhizar & Giger, 2002; Hall,1966; Thayer,1988). Variabel variabel budaya
lainnya, seperti persepsi terhadap waktu, kontak fisik dan hak hak wilayah juga
mempengaruhi komunikasi. Komunikasi membentuk rasa kebersamaan dengan orang
lain dan memungkinkan pertukaran/sharing informasi, isyarat atau pesan pesan
dalam bentuk ide ide dan perasaan. Melalui komunikasi seseorang dapat
mempengaruhi orang lain melalui tulisan atau bahasa, gerak isyarat (gesture),
ekspresi wajah, bahasa tubuh, space (jarak) atau simbol simbol lainnya. Dalam
komunikasi yang efektif terdapat saling pengertian terhadap arti yang terkandung
dalam pesan yang disampaikan. Komunikasi yang efektif mengenai informasi
pelayanan kesehatan memotivasi klien untuk bekerjasama dengan perawat dalam
mengelola kesehatannya. (Giorgianni, 2000).
si transkultural yang efektif, perawat
harusmenghindari penggunaan istilah istilah teknis yang khusus, logat/ucapan
yangpopuler, ucapan sehari hari, singkatan, dan istilah istilah medis yang
berlebihan.Lipson dan Steigner (1996) menyarankan strategi dalam tiga domain,
yaitu afektif,kognitif, dan behaviour untuk komunikasi transkultural yang efektif.
Dalam domainafektif meliputi rasa hormat, penghargaan dan perasaan nyaman
terhadap perbedaanbudaya, rasa senang untuk mempelajari budaya yang berbeda,
kemampuan untukmengobservasi tingkah laku tanpa menghakimi, kesadaran akan
nilai nilai budayadan kepercayaan. Dalam domain kognitif ditekankan adanya
pengetahuan tentangperbedaan budaya, kemampuan untuk mengenali adanya
penjelasan budaya terhadappermasalahan interpersonal, pemahaman tentang adanya
perbedaan makna satuterhadap yang lain, dan pemahaman akan sistem sosial politik
untuk menghargaipengobatan terhadap kaum minoritas. Dalam domain behaviour
(keterampilanberkomunikasi), adanya fleksibilitas dalam gaya komunikasi baik verbal
maupunnonverbal, kemampuan untuk berbicara dengan perlahan, dan jelas tanpa
istilah istilah yang berlebihan, kemampuan untuk memberi dorongan pada klien
untukmengekspresikan dirinya, kemampuan untuk berkomunikasi secara menarik
danempati, sabar, serta mengenali apabila ada kesalahpahaman yang
terjadi.Pedoman Dalam Berhubungan Dengan Klien dengan Budaya yang Berbeda :1.
Kaji nilai nilai kepercayaan pribadi anda terhadap budaya yang berbeda. Review
kembali pengalaman pribadi Singkirkan nilai nilai, bias, ide ide dan tingkah laku
yang berpengaruh negatif terhadap perawatan.2. Kaji variabel variabel komunikasi
dari perspektif budaya Tentukan identits etnis pasien Gunakan pasien sebagai
sumbernya (apabila memungkinkan). Kaji faktor faktor kultural yang dapat
mempengaruhi hubungan perawat dan klien kemudian beresponlah dengan tepat.3.
Rencanakan perawatan sesuai dengan kebutuhan komunikasi dan latar belakang
budaya. Pelajari sebanyak mungkin tentang budaya dan kepercayaan klien. Dorong
pasien untuk menyatakan persepsinya terhadap kesehatan, sakit dan pelayanan
kesehatan. Rasa sensitif terhadap keunikan pasien. Komunikasi pada tingkatan
fungsi pasien. Evaluasi efektifitas tindakan keperawatn dan modifikasi apabila
diperlukan.4. Modifikasi pendekatan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan budaya.
Perhatikan tanda tanda rasa takut, kecemasan dan kebingungan klien Beri respon
yang menenangkan hati dengan mempertahankan budaya klien.5. Pahami bahwa
penghargaan terhadap klien merupakan hubungan yang terapeutik. Berkomunikasi
dengan hormat menggunakan pendekatan pendekatan yang baik dan menenangkan
hati. Gunakan teknik mendengar yang sesuai.6. Berkomunikasi tanpa cara cara yang
kelihatan mengancam. Lakukan wawancara tanpa terburu buru Ramah tamah
apabila respon klien tidak sesuai dengan persoalan kesehatan klien. Ciptakan
hubungan saling percaya dengan mendengar secara teliti, dan berikan waktu serta
perhatian penuh pada klien. 7. Gunakan teknik validasi dalam komunikasi. Sadar akan
fedback / respon klien yang tidak mengerti. Jangan membuat asumsi pengertian
tanpa distorsi. 8. Pahami adanya keengganan untuk membicarakan masalah yang
berhubungan dengan seksualitas. Sadari bahwa dalam beberapa budaya
permasalahan seksual tidak dapat dibicarakan secara leluasa dengan perawat /
orang dengan jenis kelamin yang berbeda. 9. Adopsi pendekatan khusus, apabila
pasien berbicara dengan bahasa yang berbeda. Gunakan intonasi suara dan ekspresi
wajah yang perhatian untuk membantu mengurangi ketakutan klien. Bicara dengan
perlahan dan jelas, namun tidak keras. Gunakan bahasa isyarat, gambar, dan bermain
peran untuk membantu pemahaman klien. Ulangi pesan dengan cara yang berbeda
jika diperlukan. Perhatikan kata kata yang dipahami klien dan gunakan itu sesering
mungkin. Pertahankan pesan yang sederhana dan ulangi terus menerus Hindari
penggunaan istilah medis dan singkatan yang tidak dipahami klien. Gunakan kamus
bahasa yang tepat. 10. Gunakan interpreter (penerjemah) untuk meningkatkan
komunikasi. Minta interpreter untuk menerjemahkan pesan, tidak hanya kata kata
pribadi. Dapatkan fedback untuk mengkonfirmasi pemahaman. Gunakan interpreter
yang sensitif terhadap budaya.C. Bentuk Komunikasi Transkultural Tujuan dari
keperawatan transkultural adalah untuk mengidentifikasi, menguji, mengerti dan
menggunakan pemahaman keperawatan transkultural untuk meningkatkan
kebudayaan yang spesifik dalam pemberian asuhan keperawatan. Transkultural
nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan
praktek keperawatan yang focus memandang perbedaan dan kesamaan diantara
budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya
manusia, kepercaayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan
asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia.
Komunikasi antara perawat dan klien merupakan, komunikasi lintas budaya.
Komunikasi lintas budaya dapat dimulai melalaui proses diskusi dan bila perlu dapat
dilakukan identifikasi melalui bagaimana cara masyarakat dari berbagai budaya
diindonesia berkomunikasi ,misalnya di suku jawa, betawi, sunda, padang, Bengkulu,
osing, tengger, dan sebagainya.
lakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia
sebagai bahasa pengantar atau menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Bila
tidak memahami bahasa klien, perawat dapat menggunakan penerjemah. Dalam
komunikasi lintas budaya, perawat dapat menjumpai suatu hal yang pada budaya
tertentu bermakna positif tetapi di budaya lain bermakna negative. Hal ini harus di
pahami oleh perawat sehingga tidak menyebabkan terputusnya komunikasi.D. Media
Komunikasi Transkultural Komunikasi dan budaya saling berkaitan erat. Melalui
komunikasi, budaya ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan
pengetahuan tentang budaya ditransmisikan dalam kelompok dan untuk orang-orang
diluar kelompok. Berkomunikasi dengan klien dari latar belakang etnis dan budaya
sangat pentung untuk memberikan perawatan yang kompeten secra budaya. Ada
variasi budaya dalam komunikasi baik verbal maupun nonverbal. 1. Komunikasi verbal
Perbedaan budaya yang paling jelas adalah dalam komunikasi verbal : kosa kata,
struktur tata bahasa, kualitas suara, intonasi, ritme, kecepatan, pronaunsiasi dan
keheningan. Komunikasi verbal menjadi sulit ketika melibatkan interaksi orang-orang
yang berbeda bahasa. Klien memungkinkan untuk berkomunikasi verbal dengan yang
lain. Untuk klien dengan bahasanya tidak sama dengan pelaku kesehatan, perantara
mungkin diperlukan. Seorang translator mengubah bahan tertulis (seperti pamphlet
pendidikan pasien) dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Seorang penerjemah adalah
seorang individu yang menengahi komunikasi antara orang-orang yang beda bahasa
tanpa menambah dan mengurangi arti atau pemaknaan. 2. Komunikasi nonverbal
Untuk berkomunikasi secara efektif dengan klien yang berbeda budaya. Perawat
perlu menyadari 2 aspek dari perilaku nonverbal komunikasi: 1). Apa perilaku
nonverbal yang berarti kepada klien. 2). Perilaku nonverbal dalam kebudayaan klien.
Nonverbal komunikasi dapat mencakup penggunaan keheningan, gerakan mata,
ekspresi wajah, postur tubuh. Beberapa kebudayaan memerlukan keheningan dalam
komunikasi. Memberikan kesempatan untuk berbicara, atau memberikan privasi
kepada orang lain. Beberapa kebudayaan mengambarkan keheningan itu sebagai
tanda hormat dan setuju. Ekspresi wajah bisa berbeda-beda diantara kebudayaan.
Giger and Davidhizar (1999) mengatakan Italia, Yahudi, Afrika, Amerika, dan
Spanyol lebih cepat tersenyum dan menggunakan ekspresi wajah. Lebih tertutup
dalam mengkomunikasikan perasaannya khususnya kepada orang lain. Komunikasi
nonverbal acapkali menjadi lebih bermakana dibanding komunikasi nonverbal meliputi
mimic wajah, sorot mata, bentuk bibir, jarak, gerakan anggota tubuh dan posisi
tubuh, tekanan suara, objek yang selalu di perhatikan , serta sentuhan. Mimic wajah
dapat menunjukkan sikap bersahabat atau marah. Untuk dapat memahami bahasa
nonverbal, perawat harus berlatih secara optimal. (Ferry Efend, Makhfudli)
hambatan dalam Proses Komunikasi 1. Hambatan Fisik Dapat
berupa hambatan jarak komunikasi yang sering kali mengganggu proses komunikasi,
ataupun ketidakadaan fasilitas yang mampu meminimalisir hambatan jarak tersebut.
2. Hambatan Teknis Yang bersifat teknis seperti gangguan pada alat komunikasi,
media, teknologi dan sebagainya. 3. Hambatan Semantik Hambatan yang berasal dari
pengunaan bahasa karena : Perbedaan bahasa Perbedaan persepsi Penggunaan istilah
yang berlebihan Ketidak mampuan memilih kata atau kalimat 4. Hambatan Psikologis
Situasi dan kondisi psikis yang terdapat / dimiliki oleh komunikan dan komunikator.
Misalnya cemas, malu, takut dan sebagainya. 5. Hambatan Status Situasi dan kondisi
psikis antara komunikator dengan khalayak sering kali menjadi hambatan yang dapat
mengurangi pencapaian tujuan komunikasi.misalnya ketika seorang dosen muda harus
memberi kuliah didepan mahasiswa pasca sarjana yang ternyata sebagian besar
adalah atasan didepartemen tersebut. 6. Hambatan Budaya Perbedaan budaya (nilai,
norma, kebiasaan, adat istiadat) merupakan faktor yang sering membuat tujuan
komunikasi terhambat. Karena budaya yang dianut oleh sebuah masyarakat
merupakan hasil internalisasi individu terhadap nilai, norma, kebiasaan dan adat
dimana ia tinggal selama bertahun tahun, maka kita mengenal ada yang namanya :
Akulturisasi, Asimilasi. 7. Hambatan Kerangka berfikir Komunikasi yang efektif
dapat terjadi ketika terjadi himpitan kepentingan (over lapping of interest) /
kesamaan persepsi antara komunikator dengan komunikan.kesamaan ini dapat
terwujud jika ada perbedaaan yang mencolok dalam kerangka berpikir komunikan
dan komunikator. 8. Hambatan Kebutuhan dan Ketertarikan 9. Hambatan Lingkungan
pasien laki-laki korban tabrak lari, masuk ke unit perawatan sebuah rumah sakit.
Pasien mengalami fraktur dekstra dan terpasang traksi. Pasien juga mengalami
perdarahan abdomen dan telah dilakukan tindakan laparatomy eksplorasi. Pasien
dalam status NPO ( nothing per oral). Dilihat dari wajahnya, pasien adalah seorang
keturunan India. Ia berteriak-teriak meminta minum dalam bahasa Inggris. Perawat
berusaha untuk menjelaskan bahwa saat ini pasien tidak boleh minum. Pasien tidak
dapat berbahasa Indonesia dengan baik sementara di ruang perawatan tersebut
tidak ada perawat yang lancar berbahasa Inggris. 1. Bagaimana peran perawat bila
dihadapkan pada situasi di atas ? Menunjukan peranan Independent dari perawat
dengan : Mengenal budayanya (nilai, kepercayaan, prilaku, kebiasaan) Mengenal
etnik / suku /latar belakang dari pasien (bahasa) 2. Apa yang sebaiknya dilakukan
perawat untuk membantu pasien ? Perawat memulai pengkajian dengan melihat latar
budaya cultural yang di miliki klien dan latar belakang social juga ketrampilan
bahasa yang dimilikinya. Dengan cara : Perawat harus bersikap terbuka dengan
cara menerima pasien sesuai dengan perbedaan budayanya Memanggil dengan nama
belakang klien / nama lengkap Ciptakan hubungan saling percaya Dengan
menggunakan bahasa yang sederhana , verbal & non verbal (isyarat & tulisan)
Mencari bantuan dari orang terdekat pasien yang bisa dan mengerti bahasa
Indonesia Mencarikan penerjemah, bila pasien masih tidak dapat mengerti & bila
tidak ada keluarga. Kriteria penerjemah sebaiknya sbb : Jenis kelamin yang sama
Umurnya lebih dewasa Mempunyai status social yang sama dengan klien Yang
mempunyai pemahaman tentang budaya India Mengerti tentang kesehatan Ini
diperlukan dalam mengumpulkan data mengenai penyebab penyakit dan masalah
klien. Tindakan keperawatan yang diberikan klien ada 3 :1. Cultur care preservation :
Prinsip membantu, memfasilitasi, atau memperhatikan fenomena budaya guna
membantu individu menentukan tingkat kesehatan dan gaya hidup yang diinginkan.
Contohnya memberitahukan bahwa Ia tidak boleh minum dengan bahasa verbal
maupun non verbal (Gambar/tulisan dan isyarat)
embantu, memfasilitasi atau
memperhatikan fenomena yang ada, merefleksikan cara-cara untuk beradaptasi,
bernegosiasi atau mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu
atau klien. Contohnya: meletakan peralatan yang dibutuhkan klien (tisu, pulpen,
kertas dll)3. Cultur care repatterning : Prinsip merekonstruksi atau mengubah
desain untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien kearah
yang lebih baik. Contohnya Klien diharuskan bedrest total dikarenakan ada traksi
dan post operasi laparatomy eksplorasi
KEPERAWATAN A. Keperawatan Transkultural dan Globalisasi dalam Pelayanan
Kesehatan Sebelum mengetahui lebih lanjut keperawatan transkultural, perlu kita
ketahui apa arti kebudayaan terlebih dahulu. Kebudayaan adalah suatu system
gagasan, tindakan, hasil karya manusia yang diperoleh dengan cara belajar dalam
rangka kehidupan masyarakat. (koentjoroningrat, 1986) Wujud-wujud kebudayaan
antara lain : 1. Kompleks dari ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan 2. Kompleks
aktivitas atau tindakan 3. Benda-benda hasil karya manusia Keperawatan sebagai
profesi memiliki landasan body of knowledge yang dapat dikembangkan dan
diaplikasikan dalam praktek keperawatan. Teori transkultural dari keperawatan
berasal dari disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan dalam konteks keperawatan.
Teori ini menjabarkan konteks atau konsep keperawatan yang didasari oleh
pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai cultural yang melekat dalam
masyarakat. Menurut Leinenger, sangat penting memperhatikan keragaman budaya
dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut
diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural
shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu
beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya.
pada perilaku individu/kelompok serta proses untuk mempertahankan atau
meningkatkan perilaku sehat atau sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar
belakang budaya. Sedangkan menurut Leinenger (1978), keperawatan transkultural
adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada analisa dan studi
perbandingan tentang perbedaan budaya. Tujuan dari transcultural nursing adalah
untuk mengidentifikasi, menguji, mengerti dan menggunakan norma pemahaman
keperawatan transcultural dalam meningkatkan kebudayaan spesifik dalam asuhan
keperawatan. Asumsinya adalah berdasarkan teori caring, caring adalah esensi dari,
membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan. Perilaku
caring diberikan kepada manusia sejak lahir hingga meninggal dunia. Human caring
merupakan fenomena universal dimana,ekspresi, struktur polanya bervariasi
diantara kultur satu tempat dengan tempat lainnya.B. Konsep dan Prinsip dalam
Asuhan Keperawatan Transkultural Konsep dalam transcultural nursing adalah : 1)
Budaya Norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dibagi
serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan. 2)
Nilai budaya Keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau suatu
tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan
keputusan. 3) Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan Merupakan bentuk yang
optimal dalam pemberian asuhan keperawatan
-budaya yang dimiliki oleh orang lain adalah persepsi yang
dimiliki individumenganggap budayanya adalah yang terbaik5) EtnisBerkaitan dengan
manusia ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkanmenurut cirri-ciri dan
kebiasaan yang lazim6) RasPerbedaan macam-macam manusia didasarkan pada
mendiskreditkan asal muasalmanusia. Jenis ras umum dikenal kaukasoid,
negroid,mongoloid.Budaya adalah keyakinan dan perilaku yang diturunkan atau
diajarkan manusia kepadagenerasi berikutnya (taylor,1989)7) Etnografi: Ilmu
budayaPendekatan metodologi padapenelitian etnografi memungkinkan perawat
untukmengembangkan kesadaran yang tinggi pada pemberdayaan budaya setiap
individu.8) CareFenomena yang berhubungan dengan bimbingan bantuan, dukungan
perilaku padaindividu, keluarga dan kelompok dengan adanya kejadian untuk
memenuhikebutuhanbaik actual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan
kualitas kehidupanmanusia9) CaringTindakan langsung yang diarahkan untuk
membimbing, mendukung dan mengarahkanindividu, keluarga atau kelompok pada
keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhanuntuk meningkatkan kondisi kehidupan
manusia10) Culture careKemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan
dan pola ekspresi digunakanuntuk membimbing, mendukung atau member
kesempatan individu, keluarga atau
hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai 11) Cultural
imposition Kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan,
praktek dan nilai karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi
dari kelompok lain. Paradigma transcultural nursing (Leininger 1985) , adalah cara
pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam asuhan keperawatan yang sesuai
latar belakang budaya, terhadap 4 konsep sentral keperawatan yaitu : Manusia
Individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang
diyakini dan berguna menetapkan pilihan dan melakukan pilihan Konsep sehat sakit
Sehat adalah kesuksesan beradaptasi mempertahankan intergritas terhadap
perubahan lingkungan sedangkan sakit adalah suatu keadaan kegagalan dalam
beradaptasi terhadap perubahan lingkungan Lingkungan Perubahan dinamis yang
mempengaruhi individu yang meliputi lingkungan internal dan eksternal
KeperawatanC. Pengkajian Asuhan Keperawatan Budaya Peran perawat dalam
transkultural nursing yaitu menjembatani antara sistem perawatan yang dilakukan
masyarakat awam dengan sistem perawatan melalui asuhan keperawatan.
asuhankeperawatan yaitu:1. Culture care preservation / maintenanceYaitu prinsip
membantu, memfasilitasi/memerhatikan fenomena budaya gunamembantu individu
menentukan tingkat kesehatan dan guna hidup yang diinginkan2. Culture care
accommodation / negotiationYaitu prinsip membantu, memerhatikan fenomena
buadaya yang ada, yangmerefleksiakan cara untuk beradaptasi, bernegosiasi /
mempertimbangkan kondisikesehatan dan gaya hidup klien3. Culture care
repatterning / restructuringYaitu prinsip merekonstruksi / mengubah desain untuk
membantu memperbaiki kondisikesehatan dan pola hidup klien ke arah yang lebih
baikModel konseptual yang di kembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan
asuhankeperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari
terbit (SunriseModel). Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini
digunakan olehperawat sebagai landasan berpikir dan memberikan solusi terhadap
masalah klien(Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan
dilaksanakan dari mulaitahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk
mengidentifikasi masalahkesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien
( Giger and Davidhizar,1995).Pengkajian dirancang berdasarkan tujuh komponen
yang ada padaSunrise Modelyaitu:1. Faktor teknologi (technological
factors)Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat
penawaranmenyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu
mengkaji: Persepsisehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah
kesehatan, alasan mencaribantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan
alternative dan persepsi klien
permasalahankesehatan ini.2. Faktor agama dan falsafah hidup ( religious and
philosophical factors )Agama adalah suatu symbol yang mengakibatkan pandangan
yang amat realistis bagipara pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat
kuat untuk mendapatkankebenaran diatas segalanya, bahkan diatas kehidupannya
sendiri. Faktor agama yangharus dikaji oleh perawat adalah: agama yang dianut,
status pernikahan, cara pandangklien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan
dan kebiasaan agama yangberdampak positif terhadap kesehatan.3. Faktos sosial
dan keterikatan keluarga ( kinshop and Social factors )Perawat pada tahap ini harus
mengkaji faktor-faktor: nama lengkap, nama panggilan,umur dan tempat tanggal
lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilankeputusan dalam keluarga dan
hubungan klien dengan kepala keluarga.4. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural
value and life ways )Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan
ditetapkan oleh penganutbudaya yang di anggap baik atau buruk. Norma norma
budaya adalah suatu kaidahyang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut
budaya terkait. Yang perlu dikaji pada factor ini adalah posisi dan jabatan yang
dipegang oleh kepala keluarga,bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan
yang dipantang dalam kondisisakit, perseosi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-
hari dan kebiasaanmembersihkan diri.5. Faktor kebijakan dan peraturan yang
berlaku (political and legal factors )Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang
berlaku adalah segala sesuatu yangmempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan
keperawatan lintas budaya (Andrewand Boyle, 1995 ). Yang perlu dikaji pada tahap
ini adalah: peraturan dan kebijakanyang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah
anggota keluarga yang bolehmenunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.
memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar
segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya:
pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga,
biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau
patungan antar anggota keluarga. 7. Faktor pendidikan ( educational factors ) Latar
belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur formal
tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya
didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar
beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang
perlu dikaji pada tahap ini adalah: tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta
kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sedikitnya
sehingga tidak terulang kembali. Prinsip-prinsip pengkajian budaya: a. Jangan
menggunakan asumsi. b. Jangan membuat streotif bisa menjadi konflik misalnya:
orang Padang pelit,orang Jawa halus. c. Menerima dan memahami metode
komunikasi. d. Menghargai perbedaan individual. e. Tidak boleh membeda-bedakan
keyakinan klien. f. Menyediakan privacy terkait kebutuhan pribadi.D. Instrumen
Pengkajian Budaya Sejalan berjalnnya waktu,Transkultural in Nursing mengalami
perkembangan oleh beberapa ahli, diantaranya:
(Technological Factors) - Persepsi sehat-sakit - Kebiassaan berobat atau mengatasi
masalah kesehatan - Alasan mencari bantuan/pertolongan medis - Alasan memilih
pengobatan alternative - Persepsi penggunaan dan pemanfaatan teknologi dalam
mengatasi masalah kesehatan b. Faktor agama atau falsafah hidup (Religious &
Philosophical factors) - Agama yang dianut - Status pernikahan - Cara pandang
terhadap penyebab penyakit - Cara pengobatan / kebiasaan agama yang positif
terhadap kesehatan c. Faktor sosial dan keterikatan kelluarga (Kinship & Social
Factors) - Nama lengkap & nama panggilan - Umur & tempat lahir,jenis kelamin -
Status,tipe keluarga,hubungan klien dengan keluarga - Pengambilan keputusan dalam
keluarga d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (Cultural value and lifeways) - Posisi /
jabatan yang dipegang dalam keluarga dan komunitas - Bahasa yang digunakan -
Kebiasaan yang berhubungan dengan makanan & pola makan
- Persepsi sakit dan kaitannya dengan aktifitas kebersihan diri dan aktifitas
sehari-hari e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (Political & legal
Factors) Kebijakan dan peraturan Rumah Sakit yang berlaku adalah segala sesuatu
yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas
budaya,meliputi: - Peraturan dan kebijakan jam berkunjung - Jumlah anggota
keluarga yang boleh menunggu - Cara pembayaran f. Faktor ekonomi (Economical
Factors) - Pekerjaan - Tabungan yang dimiliki oleh keluarga - Sumber biaya
pengobatan - Sumber lain ; penggantian dari kantor,asuransi dll. - Patungan antar
anggota keluarga g. Faktor Pendidikan (Educational Factors) - Tingkat pendidikan
klien - Jenis pendidikan - Tingkat kemampuan untuk belajar secara aktif -
Pengetahuan tentang sehat-sakit2. Keperawatan transkultural model Giger &
Davidhizar Dalam model ini klien/individu dipandang sebagai hasil unik dari suatu
kebudayaan,pengkajian keperawatan transkultural model ini meliputi:
suara,pengucapan (pronounciation),penggunaan bahasa non verbal,penggunaan diam
b. Space (ruang gerak) Tingkat rasa nyaman,hubungan kedekatan dengan orang
lain,persepsi tentang ruang gerak dan pergerakan tubuh. c. Orientasi social (social
orientastion) Budaya,etnisitas,tempat,peran dan fungsi keluarga,pekerjaan,waktu
luang,persahabatan dan kegiatan social keagamaan. d. Waktu (time) Penggunaan
waktu,definisi dan pengukuran waktu,waktu untuk bekerja dan menjalin hubungan
social,orientasi waktu saat ini,masa lalu dan yang akan datang. e. Kontrol lingkungan
(environmental control) Nilai-nilai budaya,definisi tentang sehat-sakit,budaya yang
berkaitan dengan sehat-sakit. f. Variasi biologis (Biological variation) Struktur
tubuh,warna kulit & rambut, dimensi fisik lainnya seperti; eksistensi enzim dan
genetic,penyakit yang spesifik pada populasi terntentu,kerentanan terhadap
penyakit tertentu,kecenderungan pola makan dan karakteristikpsikologis,koping dan
dukungan social.3. Keperawatan transkultural model Andrew & Boyle Komponen-
komponenya meliputi: a. Identitas budaya b. Ethnohistory c. Nilai-nilai budaya
f. Kode etik dan
moral g. Pendidikan h. Politik i. Status ekonomi dan social j. Kebiasaan dan gaya
hidup k. Faktor/sifat-sifat bawaan l. Kecenderungan individu m. Profesi dan
organisasi budaya Komponen-komponen diatas perlu dikaji pada diri perawat (self
assessment) dan pada klien, Kemudian perawat mengkomunikasikan kompetensi
transkulturalnya melalui media: verbal, non verbal & teknologi, untuk tercapainya
lingkungan yang kondusif bagi kesehatan dan kesejahteraan klien.Aplikasi konsep
dan prinsip transkultural sepanjang daur kehidupan manusia (perawatan
danpengasuhan anak). Budaya adalah konteks pengalaman anak tentang sehat dan
sakit, kesejahteraan dankesakitan (Talabere, 1996). Pandangan holistik tentang
anak mengharuskan perawatmengembangkan beberapa pemahaman tentang cara
budaya berkontribusi padaperkembangan hubungan sosial dan emosi dan cara
budaya mempengaruhi praktikpengasuhan anak dan sikap masyarakat terhadap
kesehatan. Budaya adalah pola asumsi, keyakinan, dan praktik yang secara tidak
sadar membentuk/ membimbing pandangn dan keputusan secara kelompok
masyarakat (Buchwald dkk, 1994). Ras adalah suatu pembagian sifat yang dimiliki
makhluk hidup yang dapat diwariskan melalui keturunan, misal; kaukasia (putih),
negro (hitam), dan Mongol (kuning). Etnisitas yaitu afiliasi dari sekelompok individu
yang mempunyai keturunan budaya, sosial dan bahasa yang unik. Sosialisasi yaitu
proses ketika anak mendapatkan keyakinan, nilai, dan perilaku masyarakat tertentu
untuk dapat berfungsi dalam kelompok tertentu.
jelasdan pada usia dini, sehingga anak tumbuh merasa bahwa keyakinan, sikap, nilai
dan praktikmereka benar atau normal, individu dari budaya lain mungkin dianggap
menyimpangatau salah. Suatu set nilai yang dipelajari pada masa kanak-kanak
cenderung mencirikankarakteristik dan perilaku anak terhadap hidup, membimbing
mereka untuk berjuangsepanjang hidup dan memantau keinginan impulsif mereka
yang berentang pendek.Karenanya setiap masyarakat terus menerus
mensosialisasikan setiap generasi pada warisanbudayanya. Budaya mengembangkan
dan menguatkan perilaku yang dianggap tepat dandiinginkan; budaya berupaya
menekan atau menyingkirkan perilaku yang tidak sesuai dengannorma budaya.
Beberapa budaya mendorong perilaku agresif pada nak-anak mereka; budayalain
lebih memilih kepatuhan dan keramahan. Beberapa budaya mendorong kecerdikan
dankompetisi; budaya lain menekankan kerjasama dan patuh pada minat kelompok.
Budaya dapat juga berbeda dalam status kelompok yang didasarkan pada usia
dalamketerampilan. Bahkan permainan dan tipe mainan anak ditentukan secara
budaya. Dalambeberapa budaya anak bermain dalam kelompok yang terdiri atas
jenis kelamin yang sama, dibudaya lain bermain dalam jenis kelamin campuran. Pada
beberapa budaya, perbaikan timlebih menonjol, dibudaya lain kebanyakan permainan
dibatasi pada permainan individual.D. Studi KasusSeorang klien perempuan berusia
25 tahun sedang hamil 4 bulan. Ini merupakankehamilannya yang pertama. Klien
tersebut berasal dari daerah Sunda sedangkan suaminyaberasal dari Tapanuli.
Mereka saat ini tinggal di Jakarta. Sejak mengetahui istrinya hamil,suami klien
berusaha untuk memanjakan istrinya dan melarangnya bekerja dan memintaorang
tua (ibu) klien untuk menemani klien di rumah. Orang tua klien masih sangat
ketatmengikuti adat istiadat mereka demikian pula halnya dengan orang tua suami
klien. Klienmerasa tertekan dengan kondisi kehamilannya dan perlakuan yang
diterimanya dari suami,orang tua, dan mertuanya.Pertanyaan:Analisa kasus tersebut
berdasarkan konsep budaya dan transkultural yang telah saudarapelajari. Bagaimana
peran perawat bila dihadapkan pada situasi di atas? Apa yang sebaiknyadilakukan
perawat untuk membantu klien dan keluarganya?
Budaya Tapanuli Budaya Sunda Tidak boleh keluar rumah Tidak boleh keluar
rumah sembarangan, sembarangan, terutama sore hari terutama sore hari Ibu hamil
harus makan makanan adat Hanya memakan sayuran (dianggap Batak berupa ikan
batak, jenis ikan baik), sedangkan ikan, daging, dan buah- Mahseer buahan dianggap
tidak baik untuk bayi Harus menggunakan ulos Tondi (kain Tidak boleh melilitkan
anduk/ kain di khusus), agar ibu dan bayinya sehat leher ibu hamil, agar bayi tidak
terlilit pada waktu melahirkan kelak tali pusat Tidak boleh minum air terlalu banyak
karena bila melahirkan nantinya akan terlalu banyak air atau anak kembar Pantang
makan gula merah/ tebu serta nanas karena dapat membuat perut ibu hamil sakit
Dianjurkan minum air kelapa muda Dianjurkan untuk minum minyak kelapa seiring
dengan semakin besarnya usia kehamilan, terutama usia 9 bulan Dilarang
menucapkan beberapa kata- kata pantanganPeran Perawat pada kasus tersebut:1.
Mengkaji tingkat stress klien2. Mengkaji kebudayaan dari kedua keluarga ( Tapanuli
dan Sunda ) dari pasien dan keluarga serta mencarinya di literatur3. Menkaji
faktor-faktor budaya yang bertentangan dengan prinsip kesehatan dan tingkat
stress klien4. Membina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga
eluarga klien mendiskusikan hal-hal yang diinginkan
atau dicapai oleh klien beserta keluarga (suami, ibu klien dan mertua)6. Menjelaskan
pada keluarga mengenai budaya yang bertentangan dengan kesehatan7. Melibatkan
keluarga untuk bekerja sama (problem solving) yang berhubungan dengan faktor
budaya
KEPERAWATAN a) Pengertian Transkultural adalah sub bidang keperawatan yang
difokuskan pada studi komperatif dan analisis dari berbagai kultur dan subkultural
dengan mempertimbangkan perilaku kasih sayang mereka;asuhan keperawatan,dan
nilai- nilai sehat sakit,keyakinan dan pola-pola perilaku(Leininger 1978) b) Tujuan
Mengembangkan sains dan keilmuan yang humanis sehingga tercipta praktik
keperawatan pada kebudayaan (kultur-culture) yang spesifik dan universal(Leininger
1978) Kebudayaan yang spesifik adalah kebudayaan dengan nilai dan norma yang
spesifik yang tidak dimiliki oleh kelompok lain,sedangkan kebudayaan yang universal
adalah kebudayaan dengan nilai dan norma yang diyakini dan dilakukan oleh hampir
semua kebudayaan seperti budaya olahraga untuk memperbaiki kesehatan.Sangat
penting untuk perawat yang bekerja dengan individu,kelompok,keluarga atau
komunitas dengan keyakinan nilai dan praktik budaya yang unik.Keperawatan
transkultural mencakup pengintegritasian pandangan,pengetahuan,dan pengalaman
budaya dalam semua area proses keperawatan ;walau demikian model ini tidak
memberikan panduan untuk mengkaji klien,individu,kelompok atau komunitas juga
tidak memadu diagnosis,perencanaan,dan intervensi keperawatan.Model itu menjadi
pedoman untuk membangkitkan teori-teori bagi praktik keperawatan dalam budaya
khusus. Negosiasi budaya atau intervensi dan implementasi keperawatan untuk
membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan
kesehatannya.Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya
lain yang lebih mendukung peningkatan status kesehatan,misalnya jika
yang berbau amis
seperti ikan,maka klien tersebut dapat mengganti ikan dengan sumber protein
nabati yang lain. Restrukturisasi budaya perlu dilakukan bila budaya yang dimiliki
merugikan status kesehatan klien.Perawat berupaya melakukan strukturisasi gaya
hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok.Seluruh perencanaan dan
implementasi keperawatan dirancang sesuai latar belakang budaya sehingga budaya
dipandang sebagai rencana hidup yang lebih baik setiap saat. Pola rencana hidup
yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang
dianut. Pendekatan transkultural merupakan suatu perspektif yang unik karena
bersifat kompleks dan sistematis secara ilmiah yang secara konstektal melibatkan
banyak hal,seperti bahasa yang digunakan,tradisi,nilai historis yang
teraktualisasikan,serta ekonomi.Konsekuensinya,perawat sebagai tenaga kesehatan
perlu memahami perbedaan substansi di antara individu,keluarga,komunitas
termasuk organisasi pelayanan kesehatan.Misalnya keluarga yang tinggal di daerah
pantai,pegunungan atau pengungsian mereka memiliki konteks yang berbeda
termasuk system nilai yang diaktualisasikan.Perawat idealnya memiliki kompetensi
budaya sehingga asuhan keperawatan yang diberikan dapat efektif dan bersifat
humanisI. KEPERAWATAN TRANSKULTURAL DAN GLOBALISASI DALAM
PELAYANAN KESEHATAN Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan
kesehatan pada abab ke 21 termasuk tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang
berkwalitas akan semakin besar. Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan
penduduk antar Negara (imigrasi) dimungkinkan, menyebabkan adanya oergeseran
terhadap tuntutan asuhan keperawatan.Keperawatan sebagai profesi memiliki
landasan body of knowledge yang kuat, yang dapat dilambangkan serta dapat
diaplikasikan dalam praktek keperawatan.Perkembangan teori keperawatanx terbagi
menjadi 4 level perkembangan yaitu metha theory, grand theory, middle range
theory dan practice theory. Salah satu teori yang diungkapkan pada middle range
theory adalah Transkultural Nursing Theory. Teori ini berasal dari disiplin ilmu
antropologi dan
keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai
kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah
penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan
asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat akan
mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural shock akan dialami oleh klien pada
suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai
budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa
ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi.II.
KONSEP DAN PRINSIP DALAM ASUHAN KEPERAWATAN TRANSKULTURAL i.
Konsep dalam asuhan keperawatan traskultural 1) Budaya Adalah norma atau aturan
tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari,serta memberi petunjuk dalam
berfikir, bertindak dan mengambil keputusan. Budaya adalah suatu komplek yang
mengandung pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hokum, kebiasaan dan kecakapan
lain yang merupakan kebiasaan manusia sebagai aggota komunitas setempat.
Karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai berikut: Budaya adalah
pengalaman yang bersifat universal sehingga tidak ada dua budaya tang sama persis.
Budaya yang bersifat stabil, tetapi juga dinamis, karena budaya tersebut
diturunkan kepada generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan. Budaya diisi
dan ditentukan oleh kehidupan manusianya sendiri tanpa disadari. 2) Nilai budaya
Adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau suatu tindakan
yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan
keputusan. 3) Perbedaan budaya
keperawatan merupakan bentuk yang optimal dari
pemberian asuhan keperawatan.4) Etnosentris Adalah persepsi yang dimiliki oleh
individu yang menganggap bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-
budaya yang dimiliki oleh orang lain.5) Etnis Etnis berkaitan dengan manusia dari ras
tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan
yang lazim.6) Ras Merupakan system pengklarifikasian manusia
berdasarkankarakteristik fisik, pigmentasi, bentuk tubuh, bentuk wajah, bulu pada
tubuh dan bentuk kapala. Ada 3 (tiga) jenis ras yang umumnya dikenal, yaitu
kaukasoid, negroid dan mongoloid.7) Etnografi Adalah ilmu yang mempelajari
budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi memungkinkan perawat
untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu,
menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang dan
saling timbal balik diantara keduanya.8) Care Adalah fenomena yang berhubungan
dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok.9)
Caring Adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan
mengarahkan individu, keluarga atau kelompok dan keadaan yang nyata.10) Cultural
care Berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan
dan pola ekspresi yang digunakan untuk membimbing, mendukung atau memberi
kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan,
berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kamatian
dengan damai.
memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya
bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi dari kelompok lain. ii. Prinsip dalam
asuhan keperawatan transcultural 1. Culture care preservation/maintenance Yaitu
prinsip membantu, memfasilitasi atau memperhatikan fenomena budaya, guna
membantu individu menentukan tingkat kesehatan dan gaya hidup yang diinginkan 2.
Culture care accumodation/negotiation Yaitu prinsip membantu, memfasilitasi atau
memperhatikan fenomena budaya, merefleksikan cara-cara untuk beradaptasi,
bernegosiasi, atau mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu
dan klien. 3. Culture care reppatterning/restiueturing Yaitu prinsip merekontruksi
atau mengubah desain untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan pola
hidup klien kearah yang lebih baik. Hasil yang diperoleh melalui pendekatan
keperawatan transcultural pada asuhan keperawatan adalah tercapainya culture
congruent nursing care health and well being, yaitu asuhan keperawatan yang
kompeten berdasarkan budaya dan pengetahuan kesehatan yang sensitive, kreatif,
serta cara-cara yang bermakna, guna mencapai tingkat kesehatan dan
kesejahteraan bagi masyarakat.III. PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN
BUDAYAA. Pengkajian Asuhan Keperawatan Budaya Asuhan keperawatan sebagai
suatu proses atau rangkaian kegiatan kegiatan pada praktik keperawatan yang
diberikan kepada klien sesui dengan latar belakang budayanya. Pengelolaan asuhan
keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pengkajian adalah proses mengumpulkan data
untuk mengidentifikasi masalahkesehatan klien sesuai latar belakang budaya klien.
Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada sunrisemodel yaitu
1. Technological factor ( faktor teknologi ) Perawat perlu mengkaji : persepsi klien
tentang sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan
mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatife dan
persepsi klien tentang penggunaan data dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi
permasalahan kesehatan saat ini. Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk
memilih dampak positif atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam
pelayanan kesehatan. 2. Religious and philosophical factors ( faktor agama dan
falsafah hidup) Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah agama yang
dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara
penobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan. Agama
memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas
segalanya. 3. Kinship and social factors ( faktor sosial dan keterikatan keluarga )
Pada tahap ini perawat harus mengkaji faktor faktor : nama lengkap, nama
panggilan, umur, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga,
pengambilan keputusan dalam keluarga dan hubungan klien dengan kepala keluarga.
4. Cultural value and life ways ( nilai nilai budaya dan gaya hidup ) Nilai nilai
budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang
dianggap baik atau buruk. Norma norma budaya adalah suatu kaidah yang
mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu
dikaji pada faktor ini adalah : posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga,
bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang menjadi pantangan dalam
kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari hari dan kebiasaan
membersihkan diri.
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang
mempengaruhi kegiatan indivudu dalam asuhan keperawatan lintas budaya. Yang
perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan
jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, dan cara
pembayaran untuk klien yang dirawat.6. Economical factors ( faktor ekonomi ) Klien
yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber sumber material yang dimiliki
untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji
oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan
yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian
biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga.7. Educational factors (
faktor pendidikan ) Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah tingkat pendidikan
klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri
tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali. Latar belakang
pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal
tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya
didukung oleh bukti bukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar
beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehtannya. Beberapa
prinsip yang harus diperhatikan dalam melakukan pengkajian budaya adalah : a.
Tidak menggunakan asumsi b. Jangan membuat streotip karena bias terjadi konflik,
misalnya orang batak galak, orang padang pelit
individual e. Menghargai kebutuhan personal dari setiap individu f. Tidak boleh
membeda bedakan keyakinan klien g. Menyediakan privacy terkait kebutuhan
pribadiIV. BEBERAPA INSTRUMEN PENGKAJIAN BUDAYA Keragaman Budaya
Dan Perspektif Transkultural Dalam Keperawatan Alat Pengkajian Warisan Budaya1.
Dimana ibu Anda lahir?2. Dimana ayah Anda lahir?3. Dimana kakek nenek Anda
lahir? a. Ibu dari ibu Anda? b.Ayah dari ibu Anda? c. Ibu dari ayah Anda? d. Ayah
dari ayah Anda?4. Berapa saudara laki-laki . . . . . dan perempuan . . . .5. Dimana Anda
dibesarkan? Desa . . . . Kota. . . .Pinggir kota . . . .6. Dimana orang tua Anda
dibesarkan? Ayah . . . . Ibu . . . .7. Berapa usia Anda ketika datang ke Amerika
Serikat?8. Berapa usia orang tua Anda ketika datang ke Amerika Serikat? Ayah . . .
. Ibu . . . .9. Ketika Anda dibesarkan ,siapa yang tinggal dengan Anda? Keluarga inti .
. . . atau . . . . Keluarga besar . . . .10. Apakah Anda mempertahankan dengan . . . . . a.
Bibi,paman,sepupu Ya Tidak b. Saudara laki-laki dan perempuan Ya Tidak
tua Ya Tidak d. Anak Anda sendiri Ya Tidak11. Apakah kebanyakan dari
bibi,paman,sepupu Anda tinggal dekat rumah Anda? 1. Ya 2. Tidak12. Kira-kira
seberapa sering Anda mengunjungi anggota keluarga Anda yang tinggal di luar rumah
Anda? 1. Setiap hari . . . . 2. Setiap minggu . . . . 3. Setiap bulan . . . . . . 4. Hanya
liburan khusus . . . . 5. Tidak pernah . . . . .13. Apakah nama asli keluarga Anda
diganti? 1. Ya 2. Tidak14. Apakah kepercayaan Anda? 1. Katolik 4.Lain-lain 2. Islam
5.Tidak ada 3. Protestan . . . . Deromilasi . . . .15. Apakah pasangan Anda mempunyai
kepercayaan yang sama dengan Anda? 1. Ya . . . . 2. Tidak . . . .16. Apakah pasangan
Anda mempunyai latar belakang etnik sama dengan Anda? 1. Ya . . . . 2. Tidak . . . .17.
Anda sekolah di mana? 1. Pemerintah . . . . 2. Swasta . . . . . 3. Seminar/pesantren . . .
.18. Sebagai seorang dewasa apakah Anda tinggal di daerah di mana tetangga
mempunyai kepercayaan dan latar belakang yang sama dengan Anda? 1. Ya . . . . 2.
Tidak . . . .19. Apakah Anda memiliki institusi keagamaan ? 1. Ya . . . . 2.Tidak . . . .20.
Dapatkah Anda menggambarkan diri Anda sendiri sebagai anggota yang aktif? 1. Ya .
. . . 2.Tidak . . . .21. Seberapa sering Anda menghadiri institusi keagamaan Anda?
. . . . 4. Sekali setahun/kurang . . . . 2. Setiap minggu . . . .
5. Tidak pernah . . . . 3. Setiap bulan . . . . .22. Apakah Anda mempraktekkan
keagaman Anda di rumah? 1. Ya . . . .(bila ya sebutkan tempatnya) 4. Membaca kitab
suci . . . . 2. Tidak . . . . 5. Diet . . . . 3. Berdoa . . . . 6. Merayakan hari
besarkeagamaan . . . .23. Apakah Anda menyiapkan makanan sesuai latar belakang
etnik Anda? 1. Ya . . . . 2.Tidak . . . .24. Apakah Anda berpartisipasi dalam aktifitas
etnik? 1. Ya . . . . (bila ya,sebutkan tempatnya) 5. Berdansa . . . . 2. Tidak . . . . 6.
Festival . . . . . . 3. Bernyanyi . . . . 7. Adat istiadat . . . 4. Perayaan hari besar . . . . 8.
Lain-lain . . . . . . .25. Apakah teman Anda dari latar belakang kepercayaan yang sama
dengan Anda? 1. Ya . . . . 2. Tidak . . . .26. Apakah teman Anda dari latar belakang
yang sama dengan Anda? 1. Ya . . . . 2. Tidak . . . .27. Apakah bahasa asli Anda?28.
Apakah Anda berbicara dengan bahasa tersebut? 1. Terutama . . . . 2. Kadang-
kadang . . . . 3. Jarang . . . .29. Apakah Anda membaca dalam bahasan asli Anda? 1.
Ya . . . . 2. Tidak . . . . Makin besar jumlah jawaban ya,makin kuat klien memiliki
keturunan tradisional (satu jawaban tidak,Yang menunjukkan identitas keturunan
adalah Apakah nama Anda diganti? Tahun 1920,populasi ini percampuran luas orang
dari banyak negara,berbicara bahwa yang berbeda dan memandang dengan
pandangan yang sangat beragam tentang keyakinan dan praktik kesehatan sensus
tahun 1980 adalah upaya pertama yang
gi-bagi populasi berdasarkan negara asal.Kelompok
terbesar adalah Jerman,Inggris,Irlandia dan Perancis. Ini adalah sketsa Demografi
singkat tentang populasi : Usia rerata dari populasi ini pada tahun 1990 adalah 34,4
tahun. 74,6% dari anggota populasi yang berusia lebih dari 25 tahun telah
menyelesaikan pendidikan Sekolah tinggi. Pendapatkan pribadi bagi individu yang
bekerja purna waktu pada tahun 1989 rata-rata $ 31,419. 8,8% dari individu yang
berusia lebih dari 25 tahun dalam kelompok ini berada di bawah garis ke miskinan
pada tahun 1991. Penyebab Dan Pencegahan Penyakit Bagi suku Eropa
Amerika,keyakinan tradisional tentang penyebab penyakit adalah banyak dan
beragam. Contoh: melanggar peraturan keagamaan,pemajanan terhadap faktor
penyebab seperti hukuman dari Tuhan,kutukan,perubahan iklim,penyalahgunaan
tubuh. Metode untuk pencegahan penyakit yang ditemukan diantara suku Eropa
Amerika termasuk diet ,olah raga,ritual keagamaan dan mengenakan jimat. Ramuan
Ini adalah ramuan yang dilaporkan diantara suku Eropa-Amerika Malocchio adalah
semacam terompet dari Itali yang dikenakan untuk mencegah mata setan. The
Hunchbacked Man Gobo yang di pasangkan pada terompet memberikan perlindungan
ekstra,ia mengenakan sepatu tapal kuda untuk Keberuntungan pada tangan kanannya.
Menjulurkan jari telunjuk dan jari kelingking dari tangan kanannya untuk mengusir
setan. Sirup Black Draught digunakan sebagai laksatif dibeli dengan bebas.Sloans
Liniment membantu dalam peredaan semantara nyeri ringan yang diakibatkan oleh
artritis dan penyakit lainnya. Olbas dan magentropfen adalah obat yang dijual di
Jerman untuk mengobati sakit tenggorok dan kurang nafsu makan.Alat Pengkajian
Organisasi Sosial Etnokultural
Ukuran populasi total dalam kota/desa Dibagi-
bagi berdasarkan wilayah konsentrasi residensi kelompok target Dibagi-bagi
berdasarkan usia Pendidikan Pekerjaan Pendapatan Keyakinan tentang
kesehatan tradisional dan penyakit yang ditemukan dalam kelompok target.
Praktek kesehatan tradisional dan terhadap penyakit dalam kelompok target.
Penggunaan dan sumber pengobatan di rumah. Identitas penyembuh tradisional
(dukun).Faktor Kultural Dan Proses Keperawatan Ketika perawat memberikan
asuhan kepada klien dari latar belakang yang berbeda- beda harus was Pada dan
sensitif terhadap keunikan warisan budaya dan tradisi kesehatan mereka sendiri
dan kemudian terhadap latar belakang sosio-kultural klien. Mereka harus mengkaji
dan mendengarkan dengan cermat terhadap praktek dan keyakinan tentang
kesehatan dan penyakit. Proses keperawatan memberdayakan perawat untuk
memberikan asuhan yang bersifat individual dan dapat diterima untuk memberikan
asuhan yang sensitif secara kultural. V. PERAWATAN PADA LANJUT USIA A.
Perawatan Lansia. Masa dewasa tua (lansia ) dimulai setelh pensiun, biasanya antara
65 -75 tahun. Petugas kesehatan lebih banyak meluangkan waktunya dengan lansia
dalam perawatan kesehatan karena itu merka harus fokus untuk mengidentifikasi
dalam memenuhi kebutuhan khususnya. Asuhan keperawatan pada lansia adalah
proses kompleks dan menantang yang harus memperhitungkan hal hal berikut untuk
menjamin pendekatan sesuai usia ( Lueckenotte 1994).
ekatan kreatif
unutukmemaksimalkan potensi klien lansia. Dengan pengkajian informasi
komperehensiptentang kekuatan , sumber, dan keterbatasan klien lansia, perawat
menidentifikasikebutuhan masalah klien serta memilih intervensi yang dapat
memprtahankankemampuan fisik klien dan menciptakan lingkungan untuk keshatan
psikososial danspritual. Pengkajian secara menyeluruh mengharuskan perawat untuk
terikat secaraaktif dengan klien dan menadiakan waktu bagi klien untuk memberikan
informasipenting tentang kesehatannya. Perawat mengkaji perubahan pada
perkembanganfisiologis, kognitif, dan prilaku psikososial. Perawat harus tau tentang
perubahan iniuntuk memberi asuhan yang tepat bagi lansia dan membatu mereka
beradaptasiterhadap perubahan. Perawat juga harus mempertimbangkan
kemungkinan perubahansensori yang dapat mempengaruhi problem data. Perawat
juga harusmempertimbangkan masalah visual akibat katarak, atau kerusakan akibat
pendengarankarena tuli saraf saat memilih tehnik komunikasi, jika klien tidak
memahami isyaratvisual atau pendengaran, pengkajian mungkin tidak akurat. Misalny
a jika klienmengalami kesulitan medengar pertanyaan perawat, respon yang tidak
tepat dapatmenyebabkan perawat bahwa mereka memang bingung. Beberapa klien
lansia mungkinmengalami perubahan ini dan lansia lainnya hanya mengalami beberapa
perubahan,Perubahaan kontinu dengan usia, tetapi efek pada klien tergantung pada
kesehatan,gaya hidup stresor, dan kondisi lingkungan.2. Diagnosa Keperawatan. Data
secara sistemik dikumpulkan selama pengkajian. Pengkajian adalah halyang esensial
dalam keperawatan gerontologis, karena status klien sering beubahBeberapa
diagnosa keperawatan mempunyai beberapa faktor yang berhubunganIndentifikasi
faktor yang berhubungan atau penyebab yang mungkin untuk setiapdiagnosa
memberikan arahan dalam mengembangkan intervensi keperawatan,.Misalnya
intervensi pada konstipasi berbeda jika kemungkinan penyebabnya adalahlebih pada
pengobatan dari pada imobilisasi. Analisa data memerlukan pertimbanganterhadap
kekuatan dan keterbatasan individu dan juga presepsi klien lansia tentangstatus
kesehatannya. Validasi data dari keluarga, kolega,perwat, profesi kesehatan laindan
catatan rekam medis mungkin diperlukan. Pengkajian data yang terdiri dari
penting untuk validasi diagnosa
keperawatan.Pengkajian yang akurat esensial karena perawatan dibuat atas dasar
tersebut.3. Perencanaan. Rencana Keperawatan pada lansia pada kegiatan mencegah,
meningkatkan,mengurangi atau menghilangkan masalah . Prioritas ditetapkan, tujuan
klien dan hasilyang diharapkan dan intervensi yang cocok dipilh. Hal tersebut
dilakukan denganpartisipasi klien sehingga intervensi dapat dimengerti dan masalah
dalam melakukanintervensi dapat dihindari. Pertimbangan perwat tentang
pengalaman hidup serta nilaidan pola sosial kultural dikembangkan, harus bertindak
sebagai dasar rencanaperawtan individu. Tujuan penetapan perawatan pada lansia
harus mencerminkan pertimbanganfaktor yang mempengaruhi pertambahan usia
normal, memelihara kemandirian sebisamunkin , dan memudahkan tingkat
kenyamanan dan koping optimal. Meskipun kadangkadang membutuhkan waktu yang
lebih banyak dan sulit , melibatkan klien lansiadalam proses perencanaan
keperawatan memberi kebebasan maksimal pada aktivitasmerawat diri endiri dapat
meningkatkan kesehatan fisik dan psikososial. Dalam kasusdimana keadaan kognitif
klien menghambat keikutsertaanya dalam menetapkan tujuanhasil serta intrervensi
perencanaan, keluarga harus ada didalamnya. Keluarga danteman adalah sumber
data ketika mengembangkan rencana perawatan individu karenamerka mengetahui
klien sebelum terjadi kelemahan. Mereka dapat memberikan tentangprilaku klien
dan mengusulkan metode penatalaksaanya.4. Implementasi. Implementasi
keperawatan pada lansia dapat mencangkup peningkatan danpemeliharaan
kesehatan, dukungan psikososial , keadaan rumah, ;pengobatan mandiri,penyesuaian,
dan penghematan. Hal tersebut penting untuk dimaksukkandidalamkegiatan rutinitas
atau ritual klien jika mungkin. Intervensi secara umumdiitunjukkan pada
memfasilitasi kemandirian dan mendukung kemampuan perawatandiri. Aktivitas
perawatan membutuhkan lebih banyak waktu karena respons yang lebihlambat,
banyak masalah, dan hubungan yang dekat antara aspek fisik dan psikososialpenuaan.
asi Evaluasi mengukur tngkat dimana rencana intervensi efektif dalam
memenuhi hasil yang diharapkan. Perawat menentukan apakah tujuian telah
terpenuhi dan perubahan apa yang telah terjadi pada status klien sebagai hasil
intervensi. Tujuan dapat direvisi atau dihilangkan atau membuat tujuan baru.
Implementasi mungkin terpengaruh sesuai perubahan tujuan. Klien dan keluarga
termasuk dalam pengembangan rencana keperawatan, masukan dari mereka dalam
mengevaluasi hhasil perawatan harus didapat. Frekuensi evaluasi pada lansia sangat
individual. Perubahan seringkali lambat dann tidak terlihat, sehingga evaluasi
mungkin jarang atau sering dilakukan. Tipe masalah , pembentukan tujuan dan
penggunaan intervensi menentukan frekuensi evaluasi. Misalnya, jika tujuannya
adalah klien bebas dari komplikasi kulit karena imbobilitas, evaluasi harus sering
dilakukan dan teratur .Jjika intervensinya penurunan berat badan, evaluasi klien
harus dilakukan setiap minggu. Perawat memainkan peran besar dalam mendorong
lansia untuk berpartisipasi dalam mengevaluasi rencana intrevensi dan kemajuan.VI.
PERAWATAN MENJELANG DAN SAAT KEMATIAN Perawat sebagai pelayan
kesehatan memiliki peran yang sangat penting bagi keluaraga dan pasien yang akan
menjelang ajal.Seorang perawat harus dapat berbagi penderitaan dan
mengintervensi pada saat klien menjelang ajal untuk meningkatkan kualitas hidup.
Menjelang ajal atau kondisi terminal adalah suatu proses yang progresi menuju
kematian berjalan melalui tahapan proses penurunan fisik,psikososial,dan spiritual
bagi individu. Secara umum pengaplikasian caring pada klien menjelang ajal
berupa:A. Peningkatan kenyamanan Kenyamanan bagi klien menjelang ajal termasuk
pengenalan dan perbedaan distres (oncology society and the American Nurses
Association,1974) Hal hal yang harus diperhatikan dalam peningkatan kenyamanan
klien mengatasi rasa nyeri,karena nyeri dapat mempengaruhi klien dalam memenuhi
kebutuhan istirahat tidur,nafsu makan,mobilitas dan fungsi psikologis. 2. Ketakutan
Tenaga kesehatan dan keluarga harus dapat membantu klien mengurangi rasa
ketakutan terhadap gejala yang ditimbulkan seperti nyeri umum yang selalu datang
setiap saat yang dapat membuat sagala aktifitas terganggu. 3. Pemberian terapi dan
pengendalian gejala penyakit. Pemberian terapi merupakan bagian yang dapat
mengurangi rasa tidak nyaman seperti rasa nyeri dapat teratasi setelah pemberian
terapi,pemberian chemotherapi,dan radiasi dapat membantu mengurangi penyebaran
penyakit. 4. Higiene personal Pemenuhan kebersihan diri merupakan salah satu yang
harus dipenuhi agar klien merasa segar dan nyaman.B. Pemeliharaan Kemandirian
Adalah pilihan yang diberikan kepada klien menjelang ajal untuk memilih tempat
perawatan dan memberikan kebebasan sesuai kemampuan klien,karena sebagian
besar klien menjelang ajal menginginkan sebanyak mungkin mapan diri. Dalam
pemeliharaan kemandirian dapat dilakukan bisa perawatan akut dirumah sakit,ada
juga perawatan dirumah atau perawatan hospice. 1. pemeliharaan kemandirian di
rumah sakit Klien yang memilih tempat perawatan menjelang ajal dirumah sakit
diberikan kebebasan sesuai kemampuan. Sikap perawat dalam pemeliharaan
kemandirian di rumah sakit : o Perawat harus mengimformasikan klien tentang
pilihan o Perawat dapat memberikan dorongan dengan berpartisipasi dalam
pembuatan keputusan untuk memberikan rasa kontrol klien
kepada keluarga untuk memberikan kebebasan klien membuat keputusan. 2.
pemeliharaan kemandirian dirumah (perawatan hospice) Adalah perawatan yang
berpusat pada keluarga yang dirancang untuk membantu klien sakit terminal untuk
dapat dengan nyaman dan mempertahankan gaya hidupnya senormal mungkin
sepanjang proses menjelang ajal. Menurut Pitorak (1985) mengambarkan komponen
perawatan hospice sebagai berikut : o Perawatan dirumah yang terkoordinasi
dengan pelayanan rawat jalan dibawah administrasi rumah sakit o Kontrol gejala
(fisik,sosiologi,fisiologi, dan spiritual ). o Pelayanan yang diarahkan dokter o
Perawtan interdisiplin ilmu o Pelayanan medis dan keperawatan tersedia sepanjang
waktu o Klien dan keluarga sebagai unit perawatan o Tindak lanjut kehilangan karena
kematian o Penggunaan tenaga sukarela terlatih sebagai bagian tim o Penerimaan
kedalam program berdasarkan pada kebutuhan perawatan kesehatan ketimbang
pada kemampuan untuk membayar.C. Pencegahan Kesepian dan isolasi Untuk
mencegah kesepian dan penyimpangan sensori perawat menintervensi kualitas
lingkungan. Hal-hal yang dilakukan untuk mencegah kesepian dan isolasi 1.
Tempatkan pasien pada ruangan biasa ( bergabung dengan pasien lain) tidak perlu
ruangan tersendiri, kecuali pada keadaan kritis atau tidak sadar. 2. libatkan klien
dalam program perawatan sesuai kemampuan klien, agar klien merasa diperhatikan.
bermakna. 4. memberikan stimulus berupa gambar, benda yang menyenangkan, atau
surat dari anggota keluarga. 5. Libatkan keluarga dan teman untuk lebih perhatian
6. Berikan waktu yang cukup kepada keluarga untuk menjenguk atau menemani klien.
D. Peningkatan ketenangan spiritual Memberikan ketenangan spiritual mempunyai
arti lebih besar dari sekedar kunjung rohani. Perawat dapat memberikan dukungan
kepada klien dalam mengekspresikan filosofi kehidupan. Ketika kematian mendekat,
klien sering mencari ketenangan dengan menganalisa nilai dan keyakinan yang
berhubungan dengan hidup dan mati. Perawat dan keluarga dapat membantu klien
dengan mendengarkan dan mendorong klien untuk mengekspresikan tentang nilai dan
keyakinan, perawat dan keluarga dapat memberikan ketenangan spiritual dengan
menggunakan keterampilan komunikasi, mengekspresikan simpati, berdoa dengan
klien. E. Dukungan untuk keluarga yang berduka dukungan diberikan agar keluarga
dapat menerima dan tidak terbawa kedalam situasi duka berkepanjangan. Hal-hal
yang dilakukan perawat, perhatikan 1. perawat harus mengenali nilai anggota
keluarga sebagai sumber dan membantu mereka untuk tetap berada dengan klien
menjelang ajal. 2. mengembangkan hubungan suportif. 3. menghilangkan ansietas dan
ketakutan keluarga 4. menetapkan apakah mereka/ kelurga ingin
dilibatkan.PERAWATAN SETELAH KEMATIAN
aling tepat untuk merawat tubuh klien setelah
kematiankarena hubungan terapeutik perawat-klien yang telah terbina selama fase
sakit. Dengandemikian perawat mungkin lebih sensitif dalam menangani tubuh klien
dengan martabat dansensitivitas.Peran perawat : 1. perawat menyiapkan tubuh klien
dengan membuatnya tampak sealamiah dan senyaman mungkin 2. perawat
memberikan kesempatan pada keluarga untuk melihat tubuh klien 3. perawat
memberikan pendampingan pada keluar pada saat melihat tubuh klien 4. perawat
harus meluangkan wakyu sebanyak mungkin dalam membantu keluarga yang berduka
-laki berusia
67 thn mendapat serangan stroke nonhoemoragic dan dirawat diruang perawatan
jenis semi intensif sebuah rumah sakit. Kesadaranpasien baik, namun pasien
mengalami kelumpuhan sisi sebelah kanan tubuhnya dan mengalamikesulitan bicara.
Pasien seringkali menolak bantuan perawat untuk pemenuhan perawatanhariannya.
Pasien meminta supaya istrinya yang merawat dan menemaninya. Kebijakan
rumahsakit melarang anggota keluarga menunggu di dalam ruangan perawtan isteri
pasien hanyaboleh menemani pasien pada saat waktu kunjungan. Isteri pasien selalu
menunggu di ruangperawatan dan ingin membantu merawat suaminya. Pertanyaan :
analisa kasus tersebut berdasarkan konsep budaya dan transkultural yangtelah
saudara pelajari bagaimana perawat bila dihadapi pada situasi diatas, apa yang
sebaiknyadilakukan perawat untuk membnatu pasien dan keluarga.Jawaban kasus Tn.
: Konflik : Peraturan Rumah sakit dengan nilai yang dianut oleh pasien. Peraturan RS
; Tidak membolehkan keluarga menunggu didalam ruangan Seluruh kebutuhan pasien
dipenuhi oleh perawat (ADL) Nilai yang dianut pasien : Ingin didampingi dan dirawat
oleh istrinya Menurut kelompok,dipandang dari konsep keperawatan transcultural ;
berdasarkan teori model transkultural ( sunrise model ) 1. Kinship and social factors
( faktor sosial dan keterikatan keluarga ) Dihubungkan dengan kasus didapatkan
bahwa klien adalah seorang kepala keluarga sebagai pengambil keputusan. 2. Cultural
value and life ways ( nilai nilai budaya dan gaya hidup )
seorang istri menjadi keharusan melakukan kewajiban melayani suami sebagai kepala
keluarga 3. Religious and philosophical factors ( faktor agama dan falsafah hidup)
Dipandang dari segi agama klien masih menganut kepercayaan yang kuat terhadap
norma agama. Contoh : tidak boleh bersentuhan dengan wanita selain istri dan
anaknya. 4. Cultural value and life ways ( nilai nilai budaya dan gaya hidup ) Sebagai
kepala keluarga klien memegang budaya yang menganggap bahwa sudah seharusnya
seorang istri mendampingi seorang suami dalam keadaan sakit, klien beranggapan
budaya ini adalah budaya yang baik. 5. Political and Legal factors ( faktor kebijakan
dan peraturan yang berlaku Dalam kasus ini peraturan rumah sakit melarang
keluarga untuk menunggu klien yang sedang dirawat diruang semi intensif. Yang
merupakan hasil kebijakan rumah sakit. Kelompok mengambil suatu kesimpulan
kebijakan RS berdasarkan suatu standar perawatan untuk mencegah infeksi
nosokomial. Dalam kasus ini kelompok berpendapat dipandang dari konsep
perawatantranskultural dan perawatan usia lanjut, perawat mengambil kebijakan
denganmembolehkankan istrinya ada didalam ruangan pada saat kebutuhan ADL
seperti pada saateliminasi bab dan bak,makan,minum obat oral,memandikan atau
kebutuhan lain dimanamemang kehadiran istri sangat dibutuhka.Diluar itu
istri/keluarga dpersilahkan menunggudiluar.ruangan. .
II.A.1.Pengertian Transkultural Bila ditinjau dari makna kata , transkultural berasal
dari kata trans dan culture, Trans berarti alur perpindahan , jalan lintas atau
penghubung. menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; trans berarti melintang ,
melintas , menembus , melalui.Cultur berarti budaya menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia kultur berarti : kebudayaan , cara pemeliharaan ,
pembudidayaan.sedangkan Kepercayaan, nilai nilai dan pola perilaku yang umum
berlaku bagi suatu kelompok dan diteruskan pada generasi berikutnya ,sedangkan
cultural berarti : Sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan. Budaya sendiri
berarti : akal budi , hasil dan adat istiadat. dan kebudayaan berarti : Hasil kegiatan
dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia seperti kepercayaan ,kesenian dan adat
istiadat.serta keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang
digunakan untuk menjadi pedoman tingkah lakunya Jadi ,transkultural dapat
diartikan sebagai : lintas budaya yang mempunyai efek bahwa budaya yang satu
mempengaruhi budaya yang lain - Pertemuan kedua nilai nilai budaya yang berbeda
melalui proses interaksi sosial - Transcultural Nursing merupakan suatu area kajian
ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai nilai budaya ( nilai
budaya yang berbeda , ras , yang mempengaruhi pada seorang perawat saat
melakukan asuhan keperawatan kepada klien)Leininger ( 1991 ). A.a. Peran dan
Fungsi TranskulturalBudaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu .
Oleh sebab itu , pentingbagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang
dirawat ( Pasien ) . Misalnyakebiasaan hidup sehari hari , seperti tidur , makan ,
kebersihan diri , pekerjaan , pergaulansocial , praktik kesehatan , pendidikan anak ,
ekspresi perasaan , hubungan kekeluargaaan ,peranan masing masing orang
menurut umur . Kultur juga terbagi dalam sub kultur . Subkultur adalah kelompok
pada suatu kultur yang tidak seluruhnya menganut pandangankelompok kultur yang
lebih besar atau memberi makna yang berbeda . Kebiasaan hidup juga
nilai budaya Timur ,
menyebabkan sulitnya wanita yang hamil mendapat pelayanandari dokter pria .
Dalam beberapa setting , lebih mudah menerima pelayanan kesehatan pre-natal dari
dokter wanita dan bidan . Hal ini menunjukkan bahwa budaya Timur masih
kentaldengan hal hal yang dianggap tabu.Dalam tahun tahun terakhir ini , makin
ditekankan pentingnya pengaruh kultur terhadappelayanan perawatan . Perawatan
Transkultural merupakan bidang yang relatipe baru , iaberfokus pada studi
perbandingan nilai nilai dan praktik budaya tentang kesehatan danhubungannya
dengan perawatannya .Perawatan transkultural adalah berkaitan dengan praktik
budaya yang ditujukan untukpemujaan dan pengobatan rakyat (tradisional) .
II.A.1.keperawatan transkultural dan globalisasi dalam pelayanan kesehatan II.A.2
Konsep dan prinsip dalam asuhan keperawatan transkultural1. Budaya adalah norma
atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dandibagi serta
memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.2. Nilai
budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu
tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan
dankeputusan.3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk
yang optimal daeipemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi
pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang
menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan
terhadap lingkungan dari individu yangdatang dan individu yang mungkin kembali lagi
(Leininger, 1985).4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang
menganggap bahwabudayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang
dimiliki oleh orang lain.5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau
kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri- ciri dan kebiasaan yang lazim.6. Ras
adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan
asalmuasal manusia7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan
metodologi pada penelitian
pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk
mempelajarilingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik
diantara keduanya.8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan,
bantuan, dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya
kejadian untuk memenuhi kebutuhanbaik aktual maupunpotensial untuk
meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia.9. Caring adalah tindakan
langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan mengarahkan individu,
keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk
meningkatkan kondisi kehidupan manusia.10.Cultural Care berkenaan dengan
kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,kepercayaan dan pola ekspresi yang
digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberikesempatan individu, keluarga
atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembangdan bertahan
hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.11. Culturtal
imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untukmemaksakan
kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa ide
yangdimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain. Prinsip-prinsip : a.
Jangan gunakan asumsi. b. Jangan membuat streotip bisa terjadi konflik misalnya :
orang padang pelit, orang jawa halus. c. Menerima dan memahami metode
komunikasi. d. Menghargai perbedaan individual. e. Menghargai kebutuhan personal
dari setiap individu. f. Tidak privasi terkait kebutuhan pribadi. II.A.3. Pengkajian
asuhan keperawatan dalam transkultural.
kesehatan kliensesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and
Davidhizar,1995). Pengkajiandirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada
SUNRISE MODEL, yaitu : 1. Faktor tehnologi (tecnological factors) Tehnologi
kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran
menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji :
persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat, atau mengatasi masalah kesehatan, alasan
mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi
klien tentang penggunaan dan pemanfaatan tehnologi untuk mengatasi permasalan
kesehatan saat ini. 2. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical
factor) Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat
realistik bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk
menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri.
Faktor agama yang harus dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap
penyebab penyakit, cara pengobatan, dan kebiasaan agama yang berdampak positif
terhadap kesehatan. 3. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social
factors) Pada tahap ini yang harus dikaji perawat adalah : nama lengkap, nama
panggilan, umur dan tanggal lahir, jenis kelamin status, tipe keluarga, pengambil
keputusan dalam keluarga,dan hubungan klien dengan kepala keluarga. 4. Nilai-nilai
budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways) Nilai-nilai budaya adalah
sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik
dan buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat
penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Pada faktor ini yang perlu dikaji
adalah : posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang
digunakan, kebiasaan makan,makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi
sakit berkaitan dengan aktifitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri. 5.
Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors) Kebijakan
dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi
kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle,
1995). Pada tahap ini yang perlu dikaji adalah : peraturan dan kebijakan yang
berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah keluarga yang boleh menunggu, cara
pembayaran untuk klien yang dirawat. 6. Faktor ekonomi (economical factors) Klien
yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki
untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji
adalah: pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh
keluarga, biaya dari sumber lain seperti ansuransi, penggantian biaya dari kantor
atau patungan antar anggota keluaraga. 7. Faktor pendidikan (educational factor)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur
pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien mka
tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi
kesehatannya. Hal yang perlu dikaji tahap ini adalah tingkat pendidikan klien, jenis
pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang
pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.II.A.3.Beberapa instrument
pengkajian budaya. A.3.1 Nurse Client Negotiations Model Pegkajian kultural dan
perencanaan keperawatan bsgi mereka yang berasal berasal dari latar belakang
budaya berlainan. Mengakui perbedaan gagasan perawat dan klien tentang
kesehatan, penyakit dan pengobatan. Menurut Kleinman 1978 : Arena populer ,
konteks keluarga tentang penyakit, perawatan jaringan soaial dan perspektif
masyarakat. Arena profesional, pengobatan ilmiah dan tradisi sehat. Arena
rakyat, peran ahli pengobatan/penyembuhan yang tidak profesional(dukun). 3.1a.
Enam fenomena kultural : a) Komunikasi Verbal, bahasa utama dan non verbal. b)
Ruang pribadi Tindakan lebih menonjol daripada kata-kata. c) Organisasi sosial
Prilaku didapat, cirikhas budaya, nilai berorientasi internal, kepercayaan keagamaan,
pembuatan keputusan bersama keluarga. d) Waktu Bagaimana cara mengkaji waktu,
konsep waktu. e) Kendali lingkungan Lokus kontrol, cara mengevaluasi sistem
kesehatan. f) Variasi biologis Struktur tubuh, genetik, atribut fisik, karakteristik
dan psikologis. Menurut Anderson ( 1990 ) alat untuk memahami perspektif dari
sudut pandang klien : a. Menurut anda, apa yang menjadi penyebab masalah ini? b.
Menurut anda, mengapa mulai ada masalah ini? c. Apa akibat penyakit itu bagi anda,
bagaimana bisa begitu? d. Separah apa sakit anda? Apakah anda akan sakit lama /
sebentar? e. Pengobatan apa yang anda pikir sebenarnya anda terima? f. Hasil
terpenting apa yang anda harap dapat diperoleh dari pengobatan ini? g. Masalah
besar apakah yang dibutuhkan penyakit anda? h. Apa yang paling anda takutkan dari
penyakit anda? 3.1.b.Pendekatan atau langkah langkah untuk memberikan yang
peka budaya : 1) Memadukan pengajaran klien berdasarkan data dari langkah
terdahulu. 2) Mengidentifikasi adaptasi yang dilakukan klien. 3) Membiasakan diri
dengan budaya klien.
Menurut Campiata-Bacode ( 1995 ) ; kompetensi kultural yang terdiri atas
seperangkat perilaku, sikap dan kebijakan yang kompeten memungkinkan sistem,
lembaga/proffesional bekerja secara efektif dalam lingkungan dan lintas budaya.
Kompetensi melibatkan 4 komponen ; Kesadaran kultural / cultural awarenes
Mengkaji etnik / latar budaya lain. Pengetahuan kultural / cultural knowledge
Memperoleh pendidikan dan cara pandang dalam kebudayaan. Keterampilan kultural
/ cultural skill Cara melakukan pengkajian yang akurat. Pertemuan kultural /
cultural encounter Interaksi dengan latar belakang budaya yang beraneka ragam.
A.3.3.Proses pengumpulan data. Proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi
masalah kesehatan klien sesuai dengan latarlatar belakang budaya klien ( Biger and
Davidhizar,1995 ). Pengkajian dirancang berdasarkan tujuhkomponen ( sunrise
model ), yaitu ;1. Faktor tehnologi / tecnological factors Perawat mengkaji ;
persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat / mengatasi masalah kesehatan, alasan
mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif, persepsi
klien tentang pemanfaatan tehnologi untuk mengatasi masalah kesehatan.2. Faktor
agama dan falsafah hidup / religous and philodophical factors Yang dikaji perawat ;
agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab
penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap
kesehatan.3. Faktor sosial dan keterikatan keluarga /kinship and social factors Hal
yang dikaji ; nama lengkap, nama panggilan, umur, tempat tanggal lahir, jenis
kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga dan hubungan
klien dengan kepala keluarga.4. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup / cultural value and
life ways Yang perlu dikaji ; posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga,
bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi
sakit dan persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan
membersihkan diri.5. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku / political and
legal factors Meliputi ; pengkajian peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan
jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu dan cara pembayaran
untuk klien yang dirawat.6. Faktor ekonomi / econnomical factors
ng dikaji ; pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki
keluarga,(biaya dari sumber lain ( asuransi, penggantian biaya dari kantor, patungan
antar anggota keluarga).7. Faktor pendidikan / educational factor Hal yang dikaji ;
tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan / tingkat kemampuan untuk belajar secara
aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang
kembali.II.B.Aplikasi transkultural pada beberapa masalah kesehatan.
II.B.1.Aplikasi transkultural pada masalah penyakit kronis. II.B.2.Aplikasi
transkultural pada gangguan nyeri. B.2.1. Definisi nyeriAdalah cukup
beragam,sebagian karena rasa sakit kompleks dan sebagian karena banyakpandangan
yang berbeda dari rasa nyeri. Nyeri adalah sensasi rasa dengan kerusakan
jaringanyang nyata atau potensial melibatkan gangguan kimia di sepanjang jalur
neurologis.Kompetensi cultural perawat dalam merawat klien dengan
nyeri.Identifikasi sikap personal.- Bina hubungan efektif Perawat klien.- Bangun
kompetensi perawat.- Kaji nyeri.- Management nyeri.- Tanggung jawab yang
jelas.Kompetensi perawat pada perbedaan budaya dengan klien respon
nyeri.Ekspresi rasa sakit bervariasi dari budaya ke budaya dan dapat bervariasi
dari orang keorang dalam suatu budaya.sebagai contoh:- America AfricaBeberapa
orang percaya rasa sakit dan penderitaan adalah bagian dari kehidupan dan
akanbertahan.Beberapa percaya bahwa doa menengadahkan tangan akan bebas dari
penderitaan dari rasasakit.Beberapa orang mungkin menolak atau menghindari
berurusan dengan rasa sakit sampai iamenjadi tak tertahankan.- Meksiko
AmericaCenderung untuk melihat rasa sakit sebagai bagian dari kehidupan dan
sebagai indicator darikeseriusan penyakit.Beberapa percaya bahwa rasa sakit yang
abadi adalah tanda kekuatan.
keras dan vocal dalam ekspresi nyeri mereka. Ini adalah cara
belajaruntuk mengatasi sosial dan penting untuk perawat tidak menghakimi atau
menolak.- Asia AmericaNilai nilai budaya cina diam akibatnya beberapa klien
tenang ketika sakit karena merekatidak ingin menimbulkan aib untuk diri dan
keluarga mereka.Jepang mungkin memiliki rasa lebih tabah ( minim ekspresi verbal
dan non verbal 0 responterhadap sakit.Mereka bahkan menolak obat nyeri.Filipina
mungkin klien percaya bahwa rasa sakit adalah kehendak Tuhan, Beberapa
lansiaFilipina juga menolak obat nyeri.Native AmerikaSecara umum penduduk asli
Amerika yang tenang kurang ekspresif secara lisan dan nonverbal dapat mentolelir
tingkat tinggi rasa sakit. Meereka cenderung untuk tidak memintaobat penghilang
rasa nyeri dan dapat mentolelir rasa sakit mereka sampai secara fisik
merekacacat.- Amerika ArabTanggapan nyeri dianggap pribadi dan dicadangkan
untuk segera pada keluarga, tidakdengan professional kesehatan.Akibatnya hal ini
dapay menyebabkan persepsi yang salingbertentangan antara anggota keluarga dan
perawat mengenai efeaktifitas nyeri klien. B.2.2.PERSPEKTIF BUDAYA
TRANSKULTURAL PADA KEPERAWATANKeperawatan sebagai profesi memiliki
landasan body of knowledge yang kuat dapatdikembangkan serta dapat diaplikasikan
dalam prakter keperawatan. Salah satu teorikeperawatan adalah transkultural
nursing teori. Teori menjabarkan konsep keperawatan yangdidasari oleh pemahaman
tentang perbedaan nilai nilai cultural yang melekat dlammasyarakat. Leininger
beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikankeanekaragaman budaya dan
nilai nilai dalam penerapan askep pada klien.Bila hal tersebutdiabaikan oleh
perawat akan mengakibatkan KULTURAL SHOCK.Kultural shock akan dialami oleh
klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampuberadaptasi dengan adanya
perbedaan nila budaya dan kepercayaan. hal ini dapatmenyebabkan munculnya rasa
ketidaknyamanan,ketidskberdayaan, dan beberapa mengalamidisorientasi. Salah
satu contoh yang sering ditemukan adalah ketika klien sedang mengalaminyeri.Pada
beberapa daerah atau Negara diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan
rasanyeri dengan berteriak atau menangis, tapi karena perawat memiliki kebiasaan
bila nyerihanya dengan meringis pelan , bila berteriak atau menangis akan dianggap
tidak sopan.Makaketika mendapati klien tersebut menangis atau berteriak maka
perawat meminta untukbersuara pelan atau berdoa atau malah memarahi pasien
karena dianggap mengganggu pasienlainnya. Kebutaan budaya yang dialami oleh
perawat ini akan berakibat pada penurunankualitas pelayanan keperawatan yang
diberikan.

perbedaan agama dan kultural mengandung implikasi terhadap perawatankarena
pasien dan perilakunya dipengaruhi oleh latar belakang agama serta
kebudayaannya.Perawat perlu mempertimbangkan latar belakang kehidupan pasien
ketika mengumpulkandata, mengidentifikasi kebutuhan perawatan, dan
merencanakan pemenuhan kebutuhantersebut kalau ia ingin perawatan yang
diselenggarakannya mencapai efektifitas maksimum.Perawatan yang bertentangan
dengan nilai-nilai dan praktek kehidupan pasien sering takdapat diterima oleh
pasien. Kalaupun pasien menerimanya juga, perawatan serupa itu dapatmerugikan
karena perasaan bersalah dan penyimpangan dari kelompok agama serta kulturalyang
ditimbulkannya mungkin sekali mengancam ketenangannya.Misalnya praktek diet
pasien berdasarkan pertimbangan agama dan budaya dapat disesuaikanoleh tenaga
kesehatan. Bagian gizi rumah sakit mensupply pasien dengan hidangan yangsesuai
dengan praktek diet khusus. Pendidikan pasien dan keluarganya tentang
dietterapeutik dapat pula dilakukan dalam kerangka praktek agama dan budaya
tertentu.Perawat didorong memberikan penjelasan kepada pasien tentang
pemeliharaannya perawatmungkin menemukan bahwa pasien dari latar belakang
budaya tertentu cenderungmemerlukan penjelasan yang lebih mendetail dibanding
pasien dari kelompok lain. Perawatjuga mungkin menemukan bahwa pasien dari kultur
lain lagi cenderung lebih tertarik untukberpartisipasi dalam perencanaan perawatan
dibandingkan dengan pasien lain.Harus diingat bahwa penjelasan dan partisipasi
diartikan secara berbeda dalam beberapakultur yang berlainan. Perawat perlu
menyesuaikan pendekatannya terhadap individu pasien.Sering terjadi bahwa
perawat harus mempertimbangkan peran kultural seseorang dalamkeluarga yang
menetapkan sebagian besar keputusan. Dalam beberapa kultur, peran serupaitu
dipegang oleh suami atau ayah sementara dalam budaya lain hak itu dipegang oleh
nenekatau orang lanjut usia lainnya yang dihormati. Bila perawat mengesampingkan
hal ini ataumelanjutkan pelayanan perawatan tanpa persetujuan orang tersebut
dapat menimbulkankonflik atau pasien tidak mengindahkan apa yang telah
diajarkan.Perawat harus memastikan bahwa orang yang penting peranannya tersebut
terlibat dalamperencanaan pelayanan perawatan kepada pasien. Dalam kultur-kultur
di mana keluarga lebihdiutamakan daripada individu, perawat harus menyadari
bahwa tindakan pelayanan kesehatanyang berkepanjangan dan mahal biasanya
mungkin tidak dapat dilakukan karena dianggaptidak konsisten dengan
kesejahteraan keluarga.Bagi orang yang latar belakang budayanya tidak
mementingkan masa depan, pelayanankesehatan yang berfokus pada pencegahan dan
deteksi penyakit secara dini mungkinmemerlukan penekanan secara khusus.
Kombinasi pengobatan tradisional dan pengobatanprofessional dianggap
menguntungkan bagi sejumlah orang. Beberapa tenaga kesehatan yangmerawat
orang-orang yang banyak menggunakan pengobatan rakyat kini sedang
adaptasi tindakan pelayanan kesehatan agar tidak bertentangan dengan
kepercayaanindividu pasien tetapi masih dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah.Penyesuaian praktek kultural lain sedang dicobakan dalam beberapa lembaga
pelayanankesehatan. Misalnya, beberapa rumah sakit sedang melakukan penyesuaian
gunamemungkinkan anggota keluarga tambahan menjenguk pasien. Anggota keluarga
pasiensering dapat dilibatkan dalam pemeliharaan pasien dengan cara yang
mengandung maknabagi keluarga dan pasien. Sebagai contoh, memandikan dan
memberi makan pasien.Kesehatan mental adalah kemampuan mental atau kecakapan
intelektual individu. Penyakitmental, disebut juga gangguan mental, penyakit jiwa,
atau gangguan jiwa, adalah gangguanyang mengenai satu atau lebih fungsi mental.
Penyakit mental adalah gangguan otak yangditandai oleh terganggunya emosi, proses
berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapanpanca indera). Penyakit mental ini
menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita (dankeluarganya). Penyakit
mental dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras,agama, maupun
status sosial ekonomi. Penyakit mental bukan disebabkan oleh kelemahanpribadi.Di
masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai penyakit
mental,ada yang percaya bahwa penyakit mental disebabkan oleh gangguan roh
jahat, ada yangmenuduh bahwa itu akibat guna guna, karena kutukan atau hukuman
atas dosanya.Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan penderita dan
keluarganya karena si sakittidak mendapat pengobatan secara cepat dan tepat.
Sekitar 20% dari kita akan mengalamigangguan mental pada suatu waktu dalam
hidup kita. Gangguan mental yang mungkindialami oleh tiap orang itu berbeda-beda
dalam hal jenis, keparahan, lama sakit, frekuensikekambuhan, dan cara
pengobatannya.Ada lebih dari 400 macam gangguan mental, tetapi yang umum
dikenal masyarakat hanyasatu saja, yaitu apa yang disebut gila. Akibatnya setiap
orang yang datang berkonsultasi kepsikolog atau berobat ke psikiater dikatakan
gila, sehingga mereka yang sesungguhnyamemerlukan pengobatan merasa malu untuk
berobat. Padahal, gangguan mental yang beratini (gila) hanya merupakan bagian yang
sangat kecil dari sekian banyak macampenyakit/gangguan mental. Yang penting
untuk diketahui, penyakit mental dapat diobati.Seperti halnya orang dengan
diabetes (kencing manis) yang harus minum obat kencingmanis, demikian juga orang
dengan gangguan mental yang serius perlu obat untuk meredakangejala gejalanya .
Kita harus mencari pertolongan untuk mengatasi gangguan mental sepertihalnya kita
pergi berobat untuk penyakit lainnya. Orang dengan penyakit mentalmembutuhkan
dukungan atau support, penerimaan dan pengertian dari kita semua. Merekajuga
punya hak yang sama seperti orang lain, bukan malah ditakuti, dijauhi, diejek atau
iskriminasi.Berikut ini merupakan contoh berbagai gangguan mental yang
sering dijumpai: Depresi Anxietas/Kecemasan Gangguan Panik Fobia (termasuk
Sosialfobia) Obsesi Kompulsi Skizofrenia Gangguan Bipolar (Manik-Depresif)
Ketergantungan Zat/Narkoba/Alkohol Gangguan Stres Pasca Trauma Retardasi
Mental Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktif Autisme BAB III Pembahasan
KasusKASUS 4 (sesuai pokok bahasan 4)Seorang pasien laki-laki berusia 50 tahun
dibawa ke sebuah rumah sakit karena pingsan padasaat rapat di kantornya. Setelah
diperiksa dilaboratorium, ditemukan kadar gula darahnyamencapai 450mg/DL.
Pasien telah dua tahun didiagnosis menderita Diabetes Mellitus Tipe II.Dalam dua
tahun, pasien telah beberapa kali di rawat karena kondisi badannya sering
lemah.Pasien yang mengalami kegemukan telah dianjurkan untuk melakukan diet dan
olah raganamum pasien mengatakan kesulitan mengatur makanannya karena
kebiasaan budayaJawanya makan makanan yang manis.Pertanyaan:Analisis kasus
tersebut berdasarkan konsep budaya dan transkultural yang telah saudarapelajari.
Bagaimana peran perawat bila dihadapkan pada situasi diatas? Apa yang
sebaiknyadilakukan perawat untuk membantu pasien?Analisa Kasus 4 1. Konsep
Transkultural dalam Keperawatan 2. Komunikasi therapetik. 3. Pengkajian Asuhan
Budaya 4. Diagnosa 5. Intervensi Transkultural
keperawatan keluarga, merupakan tahap yang tidakmudah dilakukan. Hal tersebut
disebabkan oleh karena keluarga merupakan bagiandari masyarakat yang hidup
dalam suatu komunitas tertentu dengan berbagai latarbelakang baik budaya,
ekonomi, social, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, umur,agama dan sebagainya.
Setiap latar belakang tersebut akan mempengaruhi keluargadalam penerimaan,
kesadaran, kemampuan khususnya dalam bidang kesehatan
dankeperawatan.Terkadang faktor-faktor tersebut di atas dapat mendukung
kesehatan bahkan dapatjuga menghambat tercapainya kesehatan yang optimal,
misalnya saja pengetahuan.Apabila keluarga mempunyai pengetahuan yang tinggi
tentang kesehatan dankeperawatan, maka keluarga akan dapat dengan mudah
mengenali masalah kesehatan,memutuskan tindakan, memelihara kesehatan anggota
keluarga dan dapatmemanfaatkan fasilitas kesehatan sebagai rujukan apabila
penanganan di rumah tidakmenunjukkan hasil. Namun apabila pengetahuan keluarga
rendah maka fenomena diatas akan terjadi sebalikya.Pada saat pengkajian di
keluarga, perawat juga dapat mengalami kesulitan BHSP(Bina hubungan saling
percaya). Apabila perawat tidak dapat melakukan pendekatankepada keluarga dan
berhasil maka keluarga dapat terbuka dengan perawat pengkajiandapat dilaksanakan
dengan lancar, namun apabila hubungan saling percaya tidakdibina maka pengakajian
mengalami kesulitan.Di samping itu pengkajian keperawatan keluarga terkadang
tidak dapat dilaksanakansekaligus pada satu waktu, yang diartikan tidak dapat
selesai dalam waktu satu (1)hari. Hal tersebut dikarenakan keluarga terkadang
disibukkan oleh kegiatan rumahtangga, bekerja sehingga pada saat perawat
melakukan pengkajian, hanya mempunyaiwaktu beberapa saat. Sehingga pengkajian
dilanjutkan pada hari berikutnya.Pada format pengkajian, perlu pendataan tentang
riwayat imunisasi anak. Terkadangmuncul fenomena bahwa orang tua sering lupa
tentang riwayat imunisasi anaknyaatau KMS (Kartu Menuju Sehat) hilang maka
pengkajian riwayat imunisasi tersebuttidak lengkap. Di samping itu perlu pendataan
silsilah keluarga dalam bentukgenogram, namun terkadang mendapatkan kesulitan
dalam pelaksanaannya, misalnyakeluarga tidak dapat mengingat umur anggota
keluarganya, tidak dapat mengetahuipenyakit keturunan yang diderita oleh salah
satu anggota keluarganya. Sehinggagenogram tidak dapat terdokumentasi lengkap
dimana minimal terdokumentasi 3generasi.Adapun kelebihan Teori transkultural
dalam aplikasinya antara lain ::1. Data yang didapatkan lebih lengkap dan mengena
karena lebih mendekatkan padapengkajian transkultural atau budaya yang
merupakan bagian dari latar belakangkeluarga2. Pengkajian pada askep keluarga
lebih spesifik dan lebih jelas karena diarahkan kespesifikasi teori tertentu3.
Adanya sumber data memperkuat dan memperlengkap pemahaman tentang
asuhankeperawatan keluarga.
penanganannya Adapun keluarga Kekurangan Teori transkultural antara lain : 1. Perlu
waktu yang lebih lama karena perlu menggali data dari beberapa sumber 2. Jika
hanya berdasarkan tinjauan teoritis, data perkembangan kultur atau budaya tidak
terkaji dan tidak dapat mendapatkan dapat yang mendekati latar belakang keluarga
3. Pada keluarga dengan kultur yang kuat dan keluarga berusaha untuk
mempertahankan budayanya dimana kultur tersebut bertentangan dengan
kesehatan maka intervensi perawat akan menemukan kesulitan untuk bernegosiasi
dan merestrukturisasi budaya.3. Pengkajian Asuhan Budaya a. Kaji persepsi sehat
sakit - Klien merasa sakit bila sudah merasa tidak berdaya (pingsan) dan
memerlukan bantuan untuk dibawa ke rumah sakit dan mendapat pertolongan - Klien
merasa sehat bila ia tidak pernah merasakan adanya keluhan apapun b. Kaji
kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan Klien akan berobat apabila
sudah merasa sakit, klien tidak pernah memanfaatkan teknlogi untuk pemanfaatan
kesehatan c. Kaji alasan mencari bantuan kesehatan Klien mencari bantuan
kesehatan apabila merasa sudah tidak berdaya d. Kaji alasan klien memilih
pengobatan alternatif Klien tidak memilih pengobata alternatif apapun. Klien lebih
memilih berobat atau di rawat di rumah sakit e. Kaji faktor agama dan falsafah
hidup Klien mengetahui tentang penyebab penyakitnya, tetapi klien mengatakan
kesulitan untuk mengubah kebiasaannya makan makanan yang manis dan menurunkan
berat badannya (obesitas) serta kurang olah raga f. Kaji faktor sosial dan
keterikatan keluarga Nama Lengkap : - Umur : - Jenis Kelamin : laki-laki Status : -
Tipe keluarga : - Pengambilan keputusan dalam keluarga : - Hubungan klien dengan
kepala keluarga : - g. Kaji nilai - nilai budaya dan gaya hidup Klien mempunyai
kebiasaan makan makanan yang manis, klien tidak punya makanan yang di pantang,
klien mengalami kegemukan dan tidak melakukan diet serta jarang olah raga dengan
alasan kesulitan mengatur makanan karena faktor kebiasaan
wan kantor Sumber biaya
pengobatan : tidak disebutkan i. Kaji faktor pendidikan klien Pendidikan klien : tidak
disebutkanDiagnosa: 1. Ketidakpatuhan dalam pengobatan b/d sistem nilai yang di
yakini DS : 1. klien mengatakan susah mengubah kebiasaan makan makanan yang
manis. 2. klien mengatakan jarang berolahraga. 3. klien mengatakan tidak punya
pantangan makanan. DO : 1. Klien mengalami kegemukan, BB klien : tidak disebutkan
2. Kadar gula darah klien 450 mg/DL.Perencanaan: 1.Identifikasi perbedaan konsep
klien dan perawat tentang kebiasaan makan makanan yang manis. 2.Berikan
informasi kepada pasien untuk mengkonsumsi makanan manis dengan gula pengganti
sesuai dengan diet yang dianjurkan. 3.Libatkan keluarga dalam intervensi
keperawatan. 4.Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang
diberikan dan melaksanakannya. 5.Berikan informasi tentang sistem pelayanan
kesehatan yang ada.
masyarakat akan pelayanan kesehatan pada abad ke-21, termasuk tuntutan
terhadap asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin besar. Dengan adanya
globalisasi, dimana perpindahan penduduk antarnegara dimungkinkan, menyebabkan
adanya pergeseran terhadap tuntutan asuhan keperawatan. Keperawatan sebagai
profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat, yang dapat dikembangkan
serta dapat diaplikasikan dalam praktek keperawatan. Perkembangan teori
keperawatan terbagi menjadi empat level perkembangan yaitu metha theory, grand
theory, midle range theory, dan practice theory. Salah satu teori yang diungkapkan
pada midle range theory adalah Transkultural Nursing Theory. Teori ini berasal dari
disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini
menjabarkan konsep keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya
perbedaan nilai-nilai cultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger
beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan
nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut
diabaikan, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural shock akan
dialami klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan
perbedaan nilai budaya dan kepercayaan, menyebabkan munculnya rasa
ketidaknyamanan dan ketidakberdayaan. 1. Keperawatan Transkultural dan
Globalisasi dalam Pelayanan Kesehatan Bila ditinjau dari makna kata, transkultural
berasal dari kata trans dan cultur. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, trans
berarti melintang, melintas, menembus, melalui; cultur berarti kebudayaan, cara
pemeliharaan, pembudidayaan. Jadi, transkultural dapat diarikan sebagai lintas
budaya yang mempunyai efek bahwa budaya yang satu mempengaruhi budaya yang
lain. Pengertian Transkultural nursing adalah suatu area / wilayah keilmuan budaya
pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan
dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit
didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan; dan ilmu ini
digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan, khususnya budaya / keutuhan
budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Adapun tujuan dari transkultural nursing
adalah untuk mengidentifikasi, menguji, mengerti dan menggunakan pemahaman
keperawatan tanskultural untuk meningkatkan kebudayaan yang spesifik dalam
pemberian asuhan keperawatan. Asumsi dasar dari perilaku ini adalah perilaku
caring. Caring adalah esensi dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta
mempersatukan tindakan keperawatan. Tindakan caring dikatakan sebagai tindakan
yang dilakukan dalam memberi dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku caring
semestinya diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan
pertumbuhan, masa pertahanan sampai di kala manusia itu meninggal. Human caring
secara umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan
bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang
satutempat dengan tempat lainnya.Heritage ConsistencyTeori ini menggambarkan
tingkat dimana gaya hidup mencerminkan kontekscultural. Teori ini telah diperluas
dalam upaya untuk mempelajari tingkat dimangaya hidup mencerminkan budaya
tradisional, apakah berkebangsaan Afrika, Asia,Eropa, atau HispanikModel ini
mempunyai empat komponen, yaitu budaya, etnis, religi, dan sosialisasi.a. Budaya
Budaya atau kultur adalah sistem metekomunikasi yang di dalamnya tidak hanya
bahasa lisan mempunyai makna, tetapi juga segala sesuatu yang lain
(Matsumato,1988). Contoh: cara individu bereaksi terhadap percakapan seseorang,
kontak mata, memegang tangan.b. Etnisitas Etnisitas adalah rasa identitas diri yang
berkaitan dengan kultur sosial umum dan warisan budaya. Seseorang dapat
dilahirkan dalam suatu kelompok etnik tertentu tetapi dapat juga mengadopsi
karakteristik dari kelompok etnis lain.c. Religi Religi adalah keyakinan dalam suatu
kekuatan sifat Ketuhanan atau di luar kekuatan manusia yang harus dipatuhi dan
diibadatkan sebagi pencipta dan pengatur alam semesta (Abramsom, 1980).d.
SosialisasiParameter yang Dipilih Untuk Cultural Care Nursinga. Kepercayaan
tentang kesehatan dan praktek Terdapat tiga cara pandang dari health belief
menurut Andrews&Boyle (2002): 1) Magicoreligious health belief: sakit dan sehat
dikontrol oleh kekuatan supernatural. 2) Scientific / biomedical health belief: hidup
dan prosesnya dikontrol oleh proses fisik dan biokimia yang dapat dimanipulasi oleh
manusia. Sakit bias disebabkan oleh kuman, virus, bakteri, kerusakan organ tubuh.
3) Holistic health belief: kekuatan natural harus dipelihara keseimbangannya. Empat
aspek dalam individu (fisik, mental, emosional, spiritual) harus dijaga
keseimbangannya untuk sehat.b. Family pattern Bagaimana keterlibatan keluarga
dalam merawat klien, patrilineal atau matrilineal, adakah peran gender?c. Gaya
komunikasi Berkomunikasi dengan klien dari berbagai etnis dan latar belakang yang
berbeda merupakan hal kritis dimana kompetensi perawatan secara budaya sangat
dipersiapkan. 1) Komunikasi verbal, hal-hal yang harus diperhatikan: hindari
penggunaan bahasa sehari-hari, medis, ataupun singkatan; berbicara disertai
gambar / menunjukan dengan gerak tubuh dapat meningkatkan pengertian klien;
kecepatan bicara tepat; memvalidasi apa yang sudah dibicarakan. 2) Komunikasi
nonverbal, meliputi kontak mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan diam.
ruang di sekitar mereka. Teritorialitas adalah suatu sikap yang ditujukan pada suatu
area seseorang yang diklaim dan dipertahankan atau bereaksi secara emosional
ketika orang lain memasuki area tersebut. Keduanya dipengaruhi oleh kultur. Ruang
personal tercakup dalam banyak aktivitas keperawatan dan perawat harus sensitif,
misalnya dalam hal menyentuh pasien, suatu tindakan yang mempunyai makna
berbeda pada kultur dan individu yang berbeda. e. Waktu Orientasi waktu beragam
diantara kelompok kultur yang berbeda dan perawat mungkin menemukan kesulitan
untuk memahami dan merencanakan asuhan keperawatan pada klien dengan orientasi
waktu berbeda. Sebagai contoh: kultur di AS dan Kanada berorientasi kesehatan
untuk masa mendatang, kultur di Afrika berorientasi kesehatan lebih banyak pada
situasi saat ini. f. Pola nutrisi Setiap Negara mempunyai makanan pokok yang
berbeda, missal orang Asia makanan pokoknya nasi, Italian makanan pokoknya pasta,
orang Eropa Barat makanan pokoknya gandum. Agama mempengaruhi makanan pada
setiap budaya, misal beberapa orang Roma Katolik menghindari makan daging di hari
Rabu Abu dan Jumat Agung; penganut agama Islam tidak boleh mengkonsumsi
daging babi; penganut agama Budha, Hindu, Sikhs adalah strict vegetarian.2. Konsep
dan Prinsip dalam Asuhan keperawatan Transkultural Konsep dalam Transkultural
Nursing a. Budaya adalah norma / aturan tindakan dari anggota kelompok yang
dipelajari dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berpikir, bertindak, dan
mengambil keputusan. Budaya dapat didefinisikan sebagai karakteristik nonfisik,
seperti nilai, kepercayaan, sikap, dan adat istiadat yang dibagikan oleh kelompok dan
diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Spector,2000). Budaya dapat
juga diartikan bagaimana kesehatan dipersepsikan, bagaimana informasi kesehatan
diterima, apa yang dipertimbangkan menjadi masalah kesehatan, bagaimana tanda
dan gejala tentang masalah kesehatan diekspresikan, siapa yang sebaiknya
menyediakan perawatan, bagaimana dan jenis perawatan apa yang sebaiknya
diberikan. Budaya adalah sesuatu yang kompleks yang mengandung pengetahuan,
keyakinan, seni, moral, hukum, kebiasaan, dan kecakapan lain yang merupakan
kebiasaan manusia, sebagai anggota komunitas setempat. Kebudayaan adalah
keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar,
beserta keseluruhan hasil budi dan karyanya dan sebuah rencana untuk melakukan
kegiatan tertentu (Leininger, 1991). Menurut konsep budaya Leininger (1978, 1984),
karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai berikut: 1) Budaya adalah
pengalaman yang universal sehingga tidak ada dua budaya yang sama persis. 2)
Budaya bersifat labil dan dinamis karena budaya tersebut diturunkan kepada
generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan.
disadari.b. Nilai budaya adalah keinginan individu / tindakan yang lebih diinginkan
atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi
tindakan dan keputusan.c. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan
bentuk yang optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada
kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberi
asuhan keperawatan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan, dan
tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan
individu yang mungkin kembali lagi (Leininger,1985).d. Etnosentris adalah persepsi
yang dimiliki individu yang menganggap bahwa budayanya adalah yang terbaik
diantara budaya-budaya yang dimiliki orang lain.e. Etnis berkaitan dengan manusia
dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan
kebiasaan yang lazim. Etnik adalah seperangkat kondisi spesifik yang dimiliki oleh
kelompok tertentu (kelompok etnik). Sekelompok etnik adalah sekumpulan individu
yang mempunyai budaya dan sosial yang unik serta menurunkannya ke generasi
berikutnya (Handerson, 1981).f. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia
didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal manusia. Ras merupakan sistem
pengklasifikasian manusia berdasarkan karakteristik fisik pigmentasi, bentuk tubuh,
bentuk wajah, bulu pada tubuh, dan bentuk kepala. Ada tiga jenis yang umumnya
dikenal, yaitu Kaukasoid, Negroid, Mongoloid.g. Etnografi adalah ilmu yang
mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi
memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada
perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari
lingkungan dan orang-orang dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya.h.
Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan
perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi
kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas
kehidupan manusia.i. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk
membimbing, mendukung dan mengarahkan individu, keluarga, kelompok pada
keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan
manusia.j. Cultural care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui
nilai, kepercayaan, dan pola ekspresi yang digunakan untuk membimbing, mendukung,
atau memberi kesempatan individu, keluarga, kelompok untuk
keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.k. Cultural imposition berkenaan
dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktek,
dan nilai di atas budaya orang lain karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh
perawat lebih tinggi daripada kelompok lain. Paradigma Transkultural
NursingLeininger (1985) mengartikan paradigm keperawatan transkultural sebagai
carapandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya
asuhankeperawatan sesuai latar belakang budaya.Terdapat empat konsep sentral
keperawatan menurut Andrew&Boyle (1995),yaitu:a. Manusia Manusia adalah
individu, keluarga, kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini
dan berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan pilihan. Menurut Leininger
(1984) manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada
setiap saat dimanapun ia berada.b. Sehat Kesehatan adalah keseluruhan aktivitas
yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya, terletak pada rentang sakit.
Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya
yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang atau sehat yang
dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan
yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat sakit
yang adaptif (Andrew dan boyle, 1995).c. Lingkungan Lingkungan didefinisikan
sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan, kepercayaan, dan
perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien
dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat 3 bentuk lingkungan: fisik, sosial,
simbolik. Lingkungan fisik: lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti
daerah khatulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim, seperti rumah di
daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari
sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang
berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok kedalam
masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial, individu harus mengikuti
struktur dan aturan- aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan
simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan individu atau
kelompok merasa bersatu seperti musik, seni, bahasa dan atribut yang digunakan.d.
Keperawatan Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada
praktek keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang
budayanya, ditunjuk untuk memandirikan individu sesuai dengan budaya klien.
jian budaya merupakan
pengkajian yang sistematik dan komprehensif dari nilai-nilai pelayanan budaya,
kepercayaan dan praktik individual, keluarga dan komunitas. Tujuan pengkajian
budaya adalah untuk mendapatkan informasi yang signifikan dari klien sehingga
perawat dapat menerapkan kesamaan pelayanan budaya (Leininger dan Mc Farland,
2002). Salah satu model pengkajian budaya adalah model matahari terbit dari
Leininger (2002) yang menggambarkan keragaman budaya dalam kehidupan sehari-
hari dan membantu menjelaskan alasan mengapa pengkajian budaya harus dilakukan
secara komprehensif. Model tersebut beranggapan bahwa nilai-nilai pelayanan
budaya, kepercayaan dan praktik merupakan hal yang tidak dapat diubah dalam
budaya dan dimensi struktur sosial masyarakat, termasuk didalamnya konteks
lingkungan, bahasa, dan riwayat etnik. Riwayat etnik merupakan peristiwa-peristiwa
bersejarah dari kelompok tertentu. Sebelum melakukan pengkajian budaya, seorang
perawat harus menyiapkan diri dengan cara : a. Mengetahui data sensus Perawat
memulai pengkajian budaya dengan mengetahui perubahan demografik populasi pada
lingkungan komunitas. Memiliki latar belakang pengetahuan budaya membantu
perawat dalam melakukan pengakajian yang terarah. b. Menanyakan pertanyaan
Salah satu masalah dalam pengkajian budaya adalah kurangnya kemampuan untuk
mengkaji pihak dalam atau perspektif emic klien dalam interpretasi informasi
selama penilaian. Hal ini dapat tertolong dengan menggunakan pertanyaan terbuka,
terfokus, dan kontraks. Tujuannya adalah mendorong klien agar dapat
menggambarkan nilai, kepercayaan dan praktik yang berarti untuk pelayanan mereka
yang tidak disadari oleh penyelenggara pelayanan kesehatan. c. Membangun
hubungan Pengkajian budaya bersifat mencampuri dan menghabiskan waktu serta
membutuhkan hubungan saling percaya antara sesama peserta. Komunikasi yang
kurang biasanya terjadi pada hubungan intercultural. Hal ini disebabkan karena
perbedaan bahasa dan komunikasi diantara partisipan, seperti halnya perbedaan
dalam interpretasi tingkah laku masing-masing. Dalam beberapa hal, perawat yang
melakukan manajemen impresi membuat klien mencapai hubungan yang diinginkannya
(Pacquioo, 2000). Manajemen impresi membutuhkan keahlian berbahasa,
interpretasi yang sama secara budaya terhadap sikap klien, mendengarkan dan
keterampilan melakukan pengamatan. Untuk itu seorang perawat harus berlaku
sopan terhadap klien sehingga klien mau menjalin hubungan. Perawat mempelajari
berbagai keterampilan yang diperlukan untuk mendapatkan pengkajian budaya yang
akurat, dan komprehensif sepanjang waktu. Komponen pengkajian budaya berikut ini
menyediakan pengertian jenis informasi yang berguna dalam merencanakan dan
menyampaikan pelayanan keperawatan : a. Warisan etnik dan riwayat etnik
Pengetahuan tentang asal dan sejarah Negara klien serta konteks ekologi sangat
berarti untuk pelayanan kesehatan contohnya imigran Haiti memiliki bahasa dan pola
komunikasi yang berbeda dengan Jamaica walaupun mereka sama-sama berasal dari
karibia dan memiliki sejarah perbudakan. Hal ini harus diingat oleh perawat saat
memberikan pelayanan bahwa setiap klien memiliki asal dan sejara
mengetahui latar belakang klien seperti status sosial eknomi, sumber daya yang
tersedia untuk pengobatan medis, risiko kesehatan dalam lingkungan dan
ketersediaan sistem dukungan.b. Riwayat biokultural Identifikasi risiko kesehatan
klien yang berhubungan dengan riwayat sosial budaya dan biologis pada waktu
masuk.beberapa risiko kesehatan disebabkan oleh konteks ekologi budaya.
Contohnya hipertensi maligna pada orang Amerika Afrika, penyakit tay-sach pada
orang Yahudi Ashkenazi, intolerasi laktosa pada orang Asia, Afrika, dan Hispanic (
USDHHS, Office of Minority Health.n.d)c. Organisasi sosial Kelompok budaya
terdiri atas unit-unit organisasi yang disatukan oleh hubungan kekeluargaan, status
dan peran yang sesuai dengan anggotanya. Contohnya pada masyarakat yang
sebagian besar terdiri atas orang Amerika, unit organisasi sosial yang terbanyak
adalah keluarga inti dimana anak yang sudah menikah dan dewasa tinggal dikerabat
jauh sebanyak tiga generasi dan hubungan fiktif atau tanpa hubungan darah.
Hubungan keluarga bisa diperluas sampai ke keluarga pihak ayah dan pihak ibu
(bilineal) atau terbatas pada pihak ayah saja (patrilineal) atau pihak ibu saja
(matrilineal). Status klien dalam hierarki sosial biasanya berhubungan dengan
kualitas seperti usia dan gender dan status kesuksesan seperti pendidikan dan
kedudukan. Tapi seorang perawat harus mampu menentukan siapa yang berhak
membuat keputusan dalam keluarga dan bagaimana cara membicarakannya dengan
individu yang bersangkutan.d. Agama dan kepercayaan spiritual Agama dan
kepercayaan spiritual sangat mempengaruhi pandangan klien tentang kesehatan dan
penyakitnya. Rasa nyeri dan penderitaan serta kehidupan dan kematian. Banyak
budaya tidak membedakan antara agama dan spiritual tapi ada sebagian lain yang
membedakan dengan jelas konsep spiritualitas.e. Pola komunikasi Kelompok budaya
yang berbeda memiliki pola bahasa dan komunikasi yang berbeda-beda pula. Pola ini
menggambarkan nilai-nilai dasar budaya dari suatu masyarakat. Mengamati tingkah
laku klien dan menjelaskan pesan dari pihak dalam yang terpercaya akan mencegah
terjadinya interpretasi yang salah. Budaya juga membentuk komunikasi non verbal.
Budaya mempengaruhi jarak antara partisipan dalam sebuah hubungan, kontak mata,
sentuhan, dan seberapa banyak informasi pribadi yang akan klien bagikan. Untuk
memperkecil jarak dalam komunikasi dengan klien, perawat perlu membangun
hubungan dan berkelakuan sesuai dengan budaya klien melalui manajemen impresi.f.
Orientasi waktu Semua budaya mempunyai dimensi waktu lampau, sekarang dan
mendatang. Penting bagi perawat untuk memahami orientasi waktu klien. Informasi
ini bermanfaat dalam merencanakan pelayanan harian, membuat perjanjian
procedural, dan membantu klien merencanakan kegiatan perawatan diri dirumah.
Perbedaan terjadi dalam dimensi waktu yang berfokus budaya dan cara
pengungkapan waktu. Orientasi waktu mendatang memperkecil waktu sekarang
sehingga komunikasi cenderung bersifat langsung dan berfokus pada penerimaan
tugas. Komunikasi bersifat sirkular dan secara tidak langsung menghindari risiko
menyinggung dan tidak menghormati orang lain. Untuk
memperbaiki akses klien terhadap pelayanan kesehatan dibutuhkan jadwal yang
sesuai dengan pola kegiatan budayanya. Saat menjadwalkan perjanjian dan rujukan,
ketahui dan atasi yang menjadi penghalang menepati waktu dengan klien. Supaya
bantuan terorganisasi dengan baik, perawat memerlukan partisipasi klien dan
membantu klien dalam membuat perubahan. Adapun prinsip-prinsip dalam pengkajian
budaya adalah: a. Jangan menggunakan asumsi. b. Jangan membuat streotip, misal
orang Padang pelit, orang Jawa halus. c. Menerima dan memahami metode
komunikasi. d. Menghargai perbedaan individual. e. Menghargai kebutuhan personal
dari setiap individu. f. Tidak boleh membeda-bedakan keyakinan klien. g.
Menyediakan privasi terkait kebutuhan pribadi.4. Beberapa Instrumen pengkajian
Budaya Pertanyaan yang dapat muncul saat melakukan pengkajian kebudayaan
diantaranya: a. Dimana ibu anda lahir? b. Dimana ayah anda lahir? c. Dimana kakek
nenek anda lahir? d. Berapa saudara laki-lakidan perempuan? e. Dimana anda
dibesarkan? (nama desa, kota) f. Dimana orang tua anda dibesarkan? g. Berapa usia
anda ketika datang? h. Berapa usia orang tua anda ketika datang? i. Ketika anda
dibesarkan,siapa yang tinggal dengan anda? (keluarga inti atau keluarga besar) j.
Apakah anda mempertahankan kontak dengan bibi, paman,sepupu, saudara laki- laki
dan perempuan, orang tua, anak anda sendiri? k. Apakah kebanyakan dari bibi,
paman, sepupu anda tinggal dekat rumah? l. Kira-kira seberapa sering anda
mengunjungi anggota keluarga anda yang tinggal di luar rumah anda? (setiap hari,
setiap minggu, setiap bulan, hanya liburan khusus, tidak pernah) m. Apakah nama asli
keluarga anda diganti? n. Apakah kepercayaan anda? (Islam, Katolik, Protestan, lain-
lain, tidak ada) o. Apakah pasangan anda mempunyai kepercayaan yang sama seperti
anda? p. Apakah pasangan anda mempunyai latar belakang etnik sama dengan anda?
q. Anda sekolah dimana? (Pemerintah, swasta, seminari /pesantren) r. Sebagai orang
dewasa, apakah anda tinggal di daerah dimana tetangga mempunyai kepercayaan dan
latar belakang yang sama dengan anda? s. Apakah anda mempunyai institusi
keagamaan? t. Dapatkah anda menggambarkan diri anda sendiri sebagai anggota
yang aktif? u. Seberapa sering anda menghadiri institusi keagamaan anda? (lebih
dari satu minggu, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun atau kurang, tidak
pernah) v. Apakah anda mempraktekan keagamaan ada di rumah? (Ya, di mana
tempatnya?, tidak, berdoa, membaca kitab suci, diet, merayakan hari besar
keagamaan) w. Apakah anda menyiapkan makanan sesuai latar belakang etnik anda?
sebutkan tempatnya; tidak; bernyanyi; perayaan hari besar; berdansa; festival; adat
istiadat; lain-lain) y. Apakah teman anda dari latar belakang kepercayaan yang sama
dengan anda? z. Apakah teman anda dari latar belakang etnik yang sama dengan
anda? aa. Apakah bahasa asli anda? bb. Apakah anda berbicara dengan bahasa
tersebut? (terutama, kadang-kadang, jarang) Makin besar jumlah jawaban ya
makin kuat klien memiliki keturunan tradisional (satu jawaban tidak yang
menunjukan indentitas keturunan adalah apakah nama anda diganti?)
PENGKAJIAN TINDAKAN Melakukan pengkajian konsistensi warisan
budayaKonsistensi warisan budaya pada diri sendiri dan klien Tanya tentang
keyakinan klien mengenai sifat dari masalah kejahatan dan tindakan yang dilakukan
diKontrol lingkungan rumah atau di komunitas untuk mengatasi atau
mencegahkannya Tanya tentang acuan nutrisi Amati tentang struktur tubuh, kulit,
tonus danVariasi biologis warna kulit Waspada terhadap masalah kesehatan yang
umum tejadi dalam latar belakang klien.Organisasi sosial Lakukan aktivitas
komunitas Tetapkan kebutuhan klien yang tidak dapatKeterampilan komunikasi
berbicara dalam bahasa perawat dan berikan penerjemah yang kompeten Waspada
terhadap teritori, cara persetujuanRuang sebelum memasuki teritori klien Waspada
terhadap pengharapan sentuhan danWaktu kontak mata. Pahami perbedaan dalam
orientasi waktu B. Pengaruh Budaya terhadap Pengobatan dan Makanan /
Etnofarmakologi dan Nutrisi Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang banyak membawa perubahan terhadap kehidupan manusia, baik dalam
hal perubahan pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan
yang sering dihadapkan dalam suatu hal yang berhubungan langsung dengan norma
dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang bermukim dalam suatu tempat
tertentu. Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting
dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial
budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu
daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam proses berpikir. Perubahan
sosial dan budaya bisa memberikan dampak positif maupun negatif. Hubungan antara
budaya dan pengobatan sangatlah erat hubungannya, sebagai salah satu contoh
suatu masyarakat desa yang sederhana dapat bertahan dengan cara pengobatan
tertentu sesuai dengan tradisi mereka. Kebudayaan atau kultur dapat membentuk
kebiasaan dan respon terhadap kesehatan dan penyakit dalam
tenagakesehatan untuk tidak hanya mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat
merekamengerti tentang proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana
meluruskankeyakinan atau budaya yang dianut hubungannya dengan pengobatan.
Apakah kebudayaan itu? Mungkin semua orang mengerti apa kebudayaan itu,tapi
tidak setiap orang dapat menjelaskannya. Sebagian orang menjelaskan
bahwakebudayaan itu adalah sikap hidup yang khas dari sekelompok individu
yangdipelajari secara turun temurun, tetapi sikap hidup ini ada kalanya malah
mengundangresiko bagi timbulnya suatu penyakit. Kebudayaan tidak dibatasi oleh
suatu batasantertentu yang sempit, tetapi mempunyai struktur-struktur yang luas
sesuai denganperkembangan dari masyarakat itu sendiri Di dalam masyarakat
sederhana, kebiasaan hidup dan adat istiadat dibentukuntuk mempertahankan hidup
diri sendiri dan kelangsungan hidup suku mereka.Berbagai kebiasaan dikaitkan
dengan kehamilan, kelahiran, pemberian makanan bayi,yang bertujuan supaya
reproduksi berhasil, ibu dan bayi selamat. Dari sudut pandang modern, tidak semua
kebiasaan itu baik. Ada beberapayang kenyataannya malah merugikan. Kebiasaan
menyusukan bayi yang lama padabeberapa masyarakat, merupakan contoh yang baik
kebiasaan yang bertujuanmelindungi bayi. Tetapi bila air susu ibu sedikit, atau pada
ibu-ibu lanjut usia, tradisibudaya ini dapat menimbulkan masalah tersendiri. Dia
berusaha menyusukan bayinyadan gagal. Bila mereka tidak mengetahui nutrisi mana
yang dibutuhkan bayi (biasanyademikian) bayi dapat mengalami malnutrisi dan mudah
terserang infeksi. Menjadi sakit memang tidak diharapkan oleh semua orang apalagi
penyakit-penyakit yang berat dan fatal. Masih banyak masyarakat yang tidak
mengertibagaimana penyakit itu dapat menyerang seseorang. Ini dapat dilihat dari
sikapmereka terhadap penyakit tersebut. Ada kebiasaan dimana setiap orang sakit
diisolasidan dibiarkan saja. Kebiasaan ini ini mungkin dapat mencegah penularan
daripenyakit-penyakit infeksi seperti cacar dan TBC. Bentuk pengobatan yang
diberikan biasanya hanya berdasarkan anggapanmereka sendiri tentang bagaimana
penyakit itu timbul. Kalau mereka menganggappenyakit itu disebabkan oleh hal-hal
yang supernatural atau magis, maka digunakanpengobatan secara tradisional.
Pengobatan modern dipilih bila meraka dugapenyebabnya adalah faktor ilmiah. Ini
dapat merupakan sumber konflik bagi tenagakesehatan, bila ternyata pengobatan
yang mereka pilih berlawana dengan pemikiransecara medis. Didalam masyarakat
industri modern iatrogenic disease merupakan problema.Budaya menuntut merawat
penderita di rumah sakit, pada hal rumah sakit itulahtempat ideal bagi penyebaran
kuman-kuman yang telah resisten terhadp antibiotika. Tentu saja kebudayaan itu
tidak statis, kecuali mungkin pada masyarakatpedalaman yang terpencil. Hubungan
antara kebudayaan dan kesehatan biasanyadipelajari pada masyarakat yang
terisolasi dimana cara-cara hidup mereka tidakberubah selama beberapa generasi,
walaupun mereka merupakan sumber data-databiologis yang penting dan model
antropologi yang berguna, lebih penting lagi untukmemikirkan bagaimana mengubah
kebudayaan mereka itu. Pada Negara dunia ke-3laju perkembangan ini cukup cepat,
dengan berkembangnya suatu masyarakatperkotaan dari masyarakat pedesaan. Ide-
ide tradisional yang turun temurun, sekarangtelah dimodifikasi dengan pengalaman-
pengalaman dan ilmu pengetahuan baru. Sikapterhadap penyakit pun banyak
mengalami perubahan .Kaum muda dari pedesaanmeninggalkan lingkungan mereka
menuju ke kota. Akibatnya tradisi budaya lama didesa makin tersisih. Meskipun
lingkungan dari masyarakat kota modern dapat di
tuntutanini, tergantung dari kemampuannya untuk beradaptasi. Bila suatu bentuk
pelayanan kesehatan baru diperkenalkan ke dalam suatumasyarakat dimana faktor-
faktor budaya masih kuat, biasanya dengan segera merekaakan menolak dan memilih
cara pengobatan tradisional sendiri. Apakah mereka akanmemilih cara baru atau
lama, akan memberi petunjuk kepada kita akan kepercayaandan harapan pokok
mereka lambat laun akan sadar apakah pengobatan baru tersebutberfaedah, sama
sekali tidak berguna, atau lambat memberi pengaruh. Namun merekalebih menyukai
pengobatan tradisional karena berhubungan erat dengan dasar hidupmereka. Maka
cara baru itu akan dipergunakan secara sangat terbatas, atau untukkasus-kasus
tertentu saja. Pelayanan kesehatan yang modern oleh sebab itu harus disesuaikan
dengankebudayaan setempat, akan sia-sia jika ingin memaksakan sekaligus cara-cara
moderndan menyapu semua cara-cara tradisional. Bila tenaga kesehatan berasal dari
lain sukuatau bangsa, sering mereka merasa asing dengan penduduk setempat, ini
tidak akanterjadi jika tenaga kesehatan tersebut berusaha mempelajari
kebudayaan mereka danmenjembatani jarak yang ada diantara mereka. Dengan sikap
yang tidak simpatikserta tangan besi, maka jarak tersebut akan semakin lebar.
Setiap masyarakatmempunyai cara pengobatan dan kebiasaan yang berhubungan
dengan kesehatanmasing-masing. Sedikit usaha untuk mempelajari kebudayaan
mereka, akanmempermudah memberikan gagasan yang baru yang sebelumnya tidak
merekaterima. Pemuka-pemuka didalam masyarakat itu harus diyakinkan sehingga
merekadapat memberikan dukungan dan yakin bahwa cara-cara baru tersebut bukan
untukmelunturkan kekuasaan mereka tetapi sebaliknya akan memberikan manfaat
yanglebih besar. Pilihan pengobatan dapat menimbulkan kesulitan. Misalnya
bilapengobatan tradisional biasanya mengunakan cara-cara menyakitkan seperti
mengiris-iris bagian tubuh atau dengan memanasi, penderita akan tidak puas hanya
denganmemberikan pil untuk diminum. Hal tersebut diatas bisa menjadi suatu
penghalangdalam memberikan pelayanan kesehatan, tapi dengan berjalannya waktu
mereka akanberpikir dan menerima. Kebudayaan yang dianut oleh masyarakat
tertentu tidaklah kaku dan bisauntuk diubah, tantangannya adalah mampukah tenaga
kesehatan memberikanpenjelasan dan informasi yang rinci tentang pelayanan
kesehatan yang akan diberikankepada masyarakat. Ada banyak cara yang bisa
dilakukan, mulai dari perkenalanprogram kerja, menghubungi tokoh-tokoh
masyarakat maupun melakukan pendekatansecara personal.Etnofarmakologi
Etnofarmakognosi adalah bagian dari ilmu farmasi yang mempelajaripenggunaan
obat dan cara pengobatan yang dilakukan oleh etnik atau suku bangsatertentu.
Ruang lingkup etnofarmakognosi meliputi obat serta cara pengobatanmenggunakan
bahan alam. Masyarakat etnik suatu daerah mempunyai kebudayaandan kearifan
lokal yang khas sesuai dengan daerahnya masing-masing. Hal tersebutberdampak
pada pengetahuan obat dan pengobatan tradisionalnya. Berbagai etnikatau suku
bangsa di Indonesia mempunyai pengalaman empiris masing-masing dalammengatasi
gangguan kesehatan. Pengetahuan empirik etnis berbeda pada setiapwilayah
tergantung pada sifat khas dan kearifan budaya (cultural wisdom) masing-masing.
Etnofarmakognosi merupakan bagian dari ilmu pengobatan masyarakat
a empiris dan setelah melalui
pembuktian-pembuktian ilmiah dapat ditemukan atau dikembangkan senyawa obat
baru. Masyarakat etnik tradisional umumnya mempunyai budaya kehidupan yangjuga
tradisional, termasuk dalam hal pemeliharaan kesehatan. Budaya tradisional
yangkuat menyebabkan pengetahuan obat dan cara pengobatan juga diperoleh
secara turuntemurun, terbatas dalam pengetahuan jenis penyakit dan cara
penanggulangannya.Kehidupan yang menyatu dengan alam dan keyakinan bahwa
dirinya merupakanbagian dari alam menumbuhkan kesadaran bahwa alam adalah
penyedia obat bagidirinya dan masyarakatnya. Mulai dari sinilah berkembang
pengertian obattradisional. Obat tradisional Indonesia merupakan bagian dari sosio
budaya bangsa yangmenjadi salah satu aset kekayaan bangsa Indonesia. Bagian
integral sosio budayabangsa mempunyai makna bahwa keberadaan dan eksistensi
obat tradisional dalamera modernisasi di segala bidang, khususnya dalam bidang
kesehatan, menjaditanggung jawab seluruh komponen bangsa. Kemajuan ilmu dan
teknologi yangmerambah hampir semua bidang ilmu, termasuk teknologi kesehatan
pada umumnya,serta teknologi farmasi pada khususnya, menyebabkan pergeseran
pola konsumsi danpenggunaan obat-obatan. Modernisasi menyebabkan perubahan
perilaku dan polahidup, yang berdampak pada penggunaan dan konsumsi obat. Obat
tradisional Indonesia yang pada awalnya merupakan produk obatkebanggaan bangsa,
perlahan terkikis oleh budaya teknologi yang menjadi tumpuanpola pikir masyarakat.
Perkembangan ilmu kimia organik sintetis menghasilkanmolekul kimia organik
berkhasiat obat dengan jumlah yang fantastis. Industri kimiaorganik sintetis
memacu industri farmasi menghasilkan obat-obat yang berbahan bakusenyawa
sintetis. Industri obat berbahan kimia sintetis menyebabkan tumbuhkembang
industri farmasi yang luar biasa, namun di sisi lain industri obat tradisionalyang
berbahan baku herbal terancam kelangsungan hidupnya. Persaingan tidak sehatmulai
mucul. Industri obat berbahan kimia sintetis yang dipelopori oleh industri
obatnegara-negara maju melontarkan isue tentang obat tradisional yang belum
terujikhasiatnya secara klinik. Pola pikir masyarakat yang mulai beranjak modern
menerima isue tersebutsebagai sesuatu yang benar, sehingga perlahan penggunaan
dan segmen penggunaobat tradisional mulai berkurang. Obat tradisional mengalami
kemunduran, obatberbahan kimia sintetis mulai menguasai pasaran. Hukum ekonomi
mulai berlaku,permintaan yang tinggi menyebabkan harga obat berbahan kimia
sintetis menjaditidak terjangkau masyarakat tingkat menengah ke bawah,
sementara obat tradisionaltelah ditinggalkan karena krisis kepercayaan. Indonesia,
sebagai negara dengan megadiversivitas flora yang konon menduduki tingkat
tertinggi kedua setelah Brazilia,seharusnya mempunyai pemikiran untuk
mengembangkan kekayaan yang tidakterhingga nilainya tersebut. Industri obat
berbahan kimia sintetis boleh saja majupesat, tapi hal itu tidaklah harus berarti
bahwa obat tradisional Indonesia hanyatinggal sejarah atau cerita saja. Indonesia
adalah negara yang mempunyai potensikekayaan alam dan budaya sangat bervariasi,
yang bila berkembang sinergis akanmenghasilkan sesuatu yang berarti bagi bangsa
pada khususnya, dan bagi dunia padaumumnya. Obat tradisional seringkali
merupakan cikal bakal penemuan obat baru.Sejarah membuktikan bahwa Cinchonine,
suatu alkaloid yang menjadi obat terpilihuntuk mengatasi malaria, merupakan
metabolit sekunder yang berasal dari kulitbatang pohon kina (Cinchona succirubra
L., C. calisaya L, atau C. ledgeriana L.).Penelitian yang mengarah pada penemuan
alkaloid kina sebagai obat malaria
kulitkina untuk mengatasi gangguan demam oleh masyarakat di berbagai daerah
endemikmalaria. Dalam pencarian dan pengembangan obat baru,
pengetahuanetnofarmakognosi banyak memberi arahan pendahuluan. Sebagai
ilustrasi, untukmengatasi gangguan diare, hampir seluruh komunitas etnik di
Indonesia, terutama diIndonesia bagian Barat, menggunakan godogan pucuk daun
jambu biji (Psidiumguajava L.). Penelitian farmakologi yang telah banyak dilakukan
memberi arahanbahwa pucuk daun jambu biji dapat digunakan untuk mengatasi
gangguan diarekarena senyawa kimia golongan tanin yang dikandungnya. Pengetahuan
tersebutmemberikan kemungkinan dilakukannya pencarian dan pengembangan obat
barudengan aktivitas antidiare yang berasal dari tumbuhan. Penelitian
untukpengembangan obat tradisional untuk mengatasi gangguan diare
berdasarkanpenggunaan etnofarmakognosi tersebut kini telah banyak menghasilkan
berbagaiformula obat herbal antidiare yang harganya dapat dijangkau masyarakat.
Masyarakat dan pengobat tradisional menganut dua konsep penyebab sakit,yaitu:
Naturalistik dan Personalistik. Penyebab bersifat Naturalistik yaituseseorang
menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan),kebiasaan hidup,
ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panasdingin seperti
masuk angin dan penyakit bawaan. Konsep sehat sakit yang dianutpengobat
tradisional (Battra) sama dengan yang dianut masyarakat setempat, yaknisuatu
keadaan yang berhubungan dengan keadaan badan atau kondisi tubuh kelainan-
kelainan serta gejala yang dirasakan. Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan
yangnormal, wajar, nyaman, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan
gairah. Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang
kurangmenyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga menyebabkan
seseorangtidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang
sehat.Sedangkan konsep Personalistik menganggap munculnya penyakit
(illness)disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk
bukanmanusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat), atau makhluk manusia (tukang
sihir,tukang tenung). Di Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa anak sakit dilihat
darikeadaan fisik tubuh dan tingkah lakunya yaitu jika menunjukkan gejala
misalnyapanas, batuk pilek, mencret, muntah -muntah, gatal, luka, gigi bengkak,
badan kuning,kaki dan perut bengkak. Seorang pengobat tradisional yang juga
menerima pandangankedokteran modern, mempunyai pengetahuan yang menarik
mengenai masalah sakit-sehat. Baginya, arti sakit adalah sebagai berikut: sakit
badaniah berarti ada tanda-tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi,
penglihatan lemah, tidak kuatbekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan
lemah atau sakit, maunya tiduranatau istirahat saja. Pada penyakit batin tidak ada
tanda -tanda di badannya,tetapi bisadiketahui dengan menanyakan pada yang gaib.
Pada orang yang sehat, gerakannyasorot mata cerah, tidak mengeluh lesu, lemah,
atau sakit- sakit badan. Sudarti (1987)menggambarkan secara deskriptif persepsi
masyarakat beberapa daerah di Indonesiamengenai sakit dan penyakit; masyarakat
menganggap bahwa sakit adalah keadaanindividu mengalami serangkaian gangguan
fisik yang menimbulkan rasa tidaknyaman. Anak yang sakit ditandai dengan tingkah
laku rewel, sering menangis dantidak nafsu makan. Orang dewasa dianggap sakit jika
lesu, tidak dapat bekerja,kehilangan nafsu makan, atau "kantong kering" (tidak
punya uang). Selanjutnyamasyarakat menggolongkan penyebab sakit ke dalam 3
bagian yaitu : karenapengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh
manusia,makanan yangdiklasifikasikan ke dalam makanan panas dan dingin;
supranatural (roh, guna-guna,
-lain). Untuk mengobati sakit yang termasuk dalam golongan
pertamadan ke dua, dapat digunakan obat-obatan, ramuan-ramuan, pijat, kerok,
pantanganmakan, dan bantuan tenaga kesehatan. Untuk penyebab sakit yang ketiga
harusdimintakan bantuan dukun, kyai dan lain-lain. Dengan demikian
upayapenanggulangannya tergantung kepada kepercayaan mereka terhadap
penyebab sakit.Beberapa contoh penyakit pada bayi dan anak sebagai berikut :1.
Sakit demam dan panas. Penyebabnya adalah perubahan cuaca, kena hujan, salah
makan, atau masuk angin. Pengobatannya adalah dengan cara mengompres dengan es,
oyong, labu putih yang dingin atau beli obat influenza. Di Indramayu dikatakan
penyakit adem meskipun gejalanya panas tinggi, supaya panasnya turun. Penyakit
tampek (campak) disebut juga sakit adem karena gejalanya badan panas.2. Sakit
mencret (diare). Penyebabnya adalah salah makan, makan kacang terlalu banyak,
makan makanan pedas, makan udang, ikan, anak meningkat kepandaiannya, susu ibu
basi, encer, dan lain-lain. Penanggulangannya dengan obat tradisional misalkan
dengan pucuk daun jambu dikunyah ibunya lalu diberikan kepada anaknya (Bima Nusa
Tenggara Barat) obat lainnya adalah Larutan Gula Garam (LGG), Oralit, pil Ciba dan
lain - lain. Larutan Gula Garam sudah dikenal hanya proporsi campurannya tidak
tepat.1. Sakit kejang-kejang Masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa sakit
panas dan kejang-kejang disebabkan oleh hantu. Di Sukabumi disebut hantu gegep,
sedangkan di Sumatra Barat disebabkan hantu jahat. Di Indramayu pengobatannya
adalah dengan dengan pergi ke dukun atau memasukkan bayi ke bawah tempat tidur
yang ditutupi jaring.Kepercayaan Kuno dan Praktik Pengobatan Sistem pengobatan
tradisional merupakan sub unsur kebudayaan masyarakatsederhana. Dalam
masyarakat tradisional, sistem pengobatan tradisional ini adalahpranata sosial yang
harus dipelajari dengan cara yang sama seperti mempelajaripranata sosial umumnya
dan bahwa praktek pengobatan asli (tradisional) adalahrasional dilihat dari sudut
kepercayaan yang berlaku mengenai sebab akibat. Beberapahal yang berhubungan
dengan kesehatan (sehat sakit) menurut budaya budayayang ada di Indonesia
diantaranya adalah :Suku Bugis Persepsi masyarakat Bugis tentang sakit tercermin
dalam berbagai istilah yangdigunakan dalam pembicaraan sehari-hari, antara lain
seperti malasa, madoko,maddokkong. Istilah tersebut mengacu pada konsep sakit
yang berarti kondisi ataukeadaaan fisik maupun rohani seseorang yang sedang
mengalami ketidakseimbanganmenurut pengetahuan budaya orang Bugis terjadinya
ketida seimbangan tersebut disebabkan oleh dua faktor terutama yaitu faktor
interen disamping faktor exteren.Faktor interen yang menyebabkan tumbuhnya
ketidakseimbangan dalam diri manusiaialah karena adanya kondisi organ-organ tubuh
manusia itu sendiri yang tidakberfungsi sebagaimana mestinya, di samping adanya
pengaruh faktor keturunan.Sebaliknya faktor eksteren terdiri atas beberapa unsur
berupa wabah penyakit,perubahan keadaan suhu udara, gangguan mahluk halus,
keracunan, praktek magic,kutukan dewata dan sebagai unsur lingkungan termasuk
buatan manusia. Sesuai dengan wujud dan faktor penyebabnya, maka masyarakat
Bugismengenal aneka ragam jenis penyakit. Kendati pun demikian, setiap jenis
penyakitdapat dimasukkan dalam salah satu di antaranya dua kategori, yaitu
penyakit dalam
massobbu(penyakit tersembunyi) dan lasa talle (penyakit nyata)Selain dari istilah-
istilah tersebut, anggota masyarakat di daerah penelitian mengenalpula
pengelompokan jenis penyakit menjadi dua kategori masing-masing : lasa
ati(penyakit hati, jiwa dan rohani) dan lasa tubuh (penyakit jasmani).
Persepsimasyarakat tentang adanya kategori lasa ati, di samping lasa watakkale itu
bersumberdari pemahaman atau pengetahuan mereka tentang diri makhluk manusia
yang terdiriatas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani, taga dan jiwa, lahiriah dan
batiniah.Perpaduan antara dua unsur itulah yang menjelma menjadi sosok tubuh
manusiasebagai satu kesatuan organisme, bersama dengan sejenak potensi yang di
bawahsejak lahir ke dunia. Menurut budaya orang Bugis, maka tubuh manusia
yangberbentuk ragawi merupakan hasil perpaduan dari empat zat alami yaitu: tanah,
air,angin, api sedangkan aspek rohaniah dikenal sebagai sumange (sukma). Dalam hal
initubuh manusia dipandang tidak lebih hanya sebagai tempat berdiam bagi
sukma,untuk suatu jangka waktu tertentu. Manakala sukma tersebut berpisah dari
raganyamaka sosok tubuh manusia itupun mengalami peristiwa yang disebut mati.
Peristiwakematian itu sendiri menyebabkan segenap unsur tubuh manusia kembali ke
asalnyayaitu ke alam fanah, sedangkan sukma akan tetap hidup dan melanjutkan
proseskehidupannya di alam gaib yang bersifat abadi. Konsep pengetahuan
budayamasyarakat Bugis tersebut terkandung dalam suatu pelajaran yang
membahas tentangdialog antara bayi yang berada dalam kandungan ibunya dan tuhan
sebagai mahapencipta. Sebagian besar masyarakat Bugis sampai sekarang tetap
mempunyaikeyakinan bahwa peristiwa yang pertalian dengan kelahiran makhluk
manusia ke atasbumi bukanlah suatu yang berlangsung secara kebetulan saja,
melainkan adalahperistiwa sakral yang hanya mungkin terjadi atas restu, kehendak
dan kuasa ilahi,sang pencipta. Organ-organ tubuh manusia sebagai mahluk induvidu
terdiri ataspepaduan antara empat jenis zat alam yaitu tanah, air, angin,
apiKeempat zat alam tersebut kemudia menjelma kontruksi tubuh manusia secara
serasi,sehingga tercipta sosok tubuh dengan susunan organisme berupa perangkan
anggotabada tercipta dari api. Sebagaimana hanya alam raya, maka manusia pun
merupakansuatu kesatuan yang utuh dan bulat. Sebelum ilmu pengobatan modern
dan ilmukedokteran ditemukan, nenek moyang kita (Bugis-Makassar) juga telah
mengenalnyadengan cara-cara pengobatan tradisional dalam bentuk ritual-ritual
khusus danmemanfaatkan tanaman atau tumbuhan yang ada di sekitarnya,orang yang
melakukanritual ini disebut Sanro.Budaya jawaMenurut orang Jawa, sehat adalah
keadaan yang seimbang dunia fisik dan batin.Bahkan, semua itu berakar pada batin.
Jika batin karep ragu nututi, artinya batinberkehendak, raga / badan akan
mengikuti. Sehat dalam konteks raga berarti waras.Apabila seseorang tetap
mampu menjalankan peranan sosialnya sehari-hari, misalnyabekerja di ladang, sawah,
selalu gairah bekerja, gairah hidup, kondisi inilah yangdikatakan sehat. Dan ukuran
sehat untuk anak-anak adalah apabila kemauannya untukmakan tetap banyak dan
selalu bergairah untuk bermain. Untuk menentukan sebab-sebab suatu penyakit ada
dua konsep, yaitu konseppersonalistik dan konsep naluralistik. Dalam konsep
personalistik, penyakitdisebabkan oleh makhluk supernatural (makhluk gaib, dewa),
makhluk yang bukanmanusia (hantu, roh leluhur, roh jahat ) dan manusia (tukang
sihir, tukang tenung).Penyakit ini disebut ora lumrah atau ora sabaene (tidak
wajar / tidak biasa).
supernatural,misalnya melakukan upacara dan sesaji. Dilihat dari segi personalistik
jenis penyakitini terdiri dari kesiku, kebendhu, kewalat, kebulisan, keluban, keguna-
guna, ataudigawe wong, kampiran bangsa lelembut dan lain sebagainya. Penyembuhan
dapatmelalui seorang dukun atau wong tuo. Pengertian dukun bagi masyarakat
Jawaadalah yang pandai atau ahli dalam mengobati penyakit melalui Japa
Mantera,yakni doa yang diberikan oleh dukun kepada pasien. Ada beberapa
kategori dukunpada masyarakat Jawa yang mempunyai nama dan fungsi masing-
masing :a. Dukun bayi: khusus menangani penyembuhan terhadap penyakit yang
berhubungan dengan kesehatan bayi , dan orang yang hendak melahirkan.b. Dukun
pijat / tulang (sangkal putung): Khusus menangani orang yang sakit terkilir, patah
tulang, jatuh atau salah urat.c. Dukun klenik : khusus menangani orang yang terkena
guna guna atau digawa uwong.d. Dukun mantra : khusus menangani orang yang
terkena penyakit karena kemasukan roh halus.e. Dukun hewan : khusus mengobati
hewan.Sedangkan konsep naturalistik, penyebab penyakit bersifat natural
danmempengaruhi kesehatan tubuh, misalnya karena cuaca, iklim, makanan racun,
bisa,kuman atau kecelakaan. Di samping itu ada unsur lain yang
mengakibatkanketidakseimbangan dalam tubuh, misalnya dingin, panas, angin atau
udara lembab.Oleh orang Jawa hal ini disebut dengan penyakit Lumrah atau biasa.
Adapunpenyembuhannya dengan model keseimbangan dan keselarasan, artinya
dikembalikanpada keadaan semula sehingga orang sehat kembali. Misalnya orang
sakit masukangin, penyembuhannya dengan cara kerokan agar angin keluar kembali.
Begitupula penyakit badan dingin atau disebut ndrodok (menggigil,
kedinginan),penyembuhannya dengan minum jahe hangat atau melumuri tubuhnya
dengan airgaram dan dihangatkan dekat api . Di samping itu juga banyak pengobatan
yangdilakukan dengan pemberian ramuan atau dijamoni. Jamu adalah ramuan
dariberbagai macam tumbuhan atau dedaunan yang dipaur, ditumbuk, setelah itu
diminumatau dioleskan pada bagian yang sakit. Di samping itu ada juga ramuan
tumbuhan lainsebagai pelengkap, misalnya kulit pohon randu yang sudah diberi
mantera. Budayajawa beranggapan bahwa nama yang berat bisa mendatangkan sial.
Pendapat yanglain mengatakan nama yang buruk akan mempengaruhi aktivitas
pribadi dan sosialpemilik nama itu. Dan juga kebiasaan bagi orang Jawa yakni jika
ada salah satu pihakkeluarga atau sanak saudara yang sakit, maka untuk
menjenguknya biasanya merekamengumpulkan dulu semua saudaranya dan bersama
sama mengunjungi saudaranyayang sakit tersebut. Karena dalam budaya Jawa
dikenal prinsip mangan ora mangan, seng penting kumpul Adapun beberapa contoh
pengobatan tradisional masyarakatJawa yang tidak terlepas dari tumbuhan dan
buah-buahan yang bersifat alami adalah:daun dadap sebagai penurun panas dengan
cara ditempelkan di dahi; temulawak untukmengobati sakit kuning dengan cara di
parut, diperas dan airnya diminum 2 kalisehari satu sendok makan, dapat ditambah
sedikit gula batu dan dapat juga digunakansebagai penambah nafsu makan; akar
ilalang untuk menyembuhkan penyakit hepatitisB; mahkota dewa untuk menurunkan
tekanan darah tinggi, yakni dengan dikeringkanterlebih dahulu lalu diseduh seperti
teh dan diminum seperlunya;brotowali sebagaiobat untuk menghilangkan rasa nyeri,
peredam panas, dan penambah nafsumakan;jagung muda (yang harus merupakan hasil
curian = berhubungan dengankepercayaan) berguna untuk menyembuhkan penyakit
cacar dengan cara dioleskandibagian yang terkena cacar; daun sirih untuk
membersihkan vagina; lidah buaya
gatal;
mandiair garam untuk menghilangkan sawan; daun simbung dan daun kaki kuda
untukmenyembuhkan influenza; jahe untuk menurunkan demam / panas , biasanya
dengandiseduh lalu diminum ataupun dengan diparut dan detempelkan di ibu jari
kaki; airkelapa hijau dengan madu lebah untuk menyembuhkan sakit kuning yaitu
dengan cara1 kelapa cukup untuk satu hari , daging kelapa muda dapat dimakan
sekaligus. Budaya SundaKonsep sehat sakit tidak hanya mencakup aspek fisik saja,
tetapi juga bersifat sosialbudaya. Istilah lokal yang biasa dipakai oleh masyarakat
Jawa Barat (orang Sunda)adalah muriang untuk demam, nyerisirah untuk sakit
kepala, yohgoy untuk batuk dansalesma untuk pilek / flu. Penyebab sakit umumnya
karena lingkungan, kecuali batukjuga karena kuman. Pencegahan sakit umumnya
dengan menghindari penyebabnya.Pengobatan sakit umumnya menggunakan obat
yang terdapat di warung obat yangada di desa tersebut, sebagian kecil menggunakan
obat tradisional . Pengobatansendiri sifatnya sementara, yaitu penanggulangan
pertama sebelum berobat kepuskesmas atau mantri. Menurut orang Sunda, orang
sehat adalah mereka yang makan terasa enakwalaupun dengan lauk seadanya, dapat
tidur nyenyak dan tidak ada yang dikeluhkan,sedangkan sakit adalah apabila badan
terasa sakit, panas atau makan terasa pahit,kalau anak kecil sakit biasanya rewel,
sering menangis, dan serba salah / gelisah.Dalam bahasa Sunda orang sehat disebut
cageur, sedangkan orang sakit disebutgering. Ada beberapa perbedaan antara sakit
ringan dan sakit berat. Orang disebutsakit ringan apabila masih dapat berjalan kaki,
masih dapat bekerja, masih dapatmakan-minum dan dapat sembuh dengan minum
obat atau obat tradisional yang dibelidi warung. Orang disebut sakit berat, apabila
badan terasa lemas, tidak dapatmelakukan kegiatan sehari-hari, sulit tidur, berat
badan menurun, harus berobat kedokter / puskesmas, apabila menjalani rawat inap
memerlukan biaya mahal. Pengobatan sakit umumnya menggunakan obat yang
terdapat di warung. Obatyang ada di desa tertentu, sebagian kecil menggunakan
obat tradisional. Masyarakatmelakukan pengobatan sendiri dengan alasan sakit
ringan, hemat biaya dan hematwaktu. Pengobatan sendiri sifatnya sementara, yaitu
penanggulangan pertamasebelum berobat ke puskesmas atau Mantri. Tindakan
pengobatan sendiri yang sesuaidengan aturan masih rendah karena umumnya
masyarakat membeli obat secara eceransehingga tidak dapat membaca keterangan
yang tercantum pada setiap kemasan obat. Budaya BatakArti sakit bagi orang
Batak adalah keadaan dimana seseorang hanya berbaring, danpenyembuhannya
melalui cara-cara tradisional, atau ada juga yang membawa orangyang sakit tersebut
kepada dukun atau orang pintar. Dalam kehidupan sehari-hariorang Batak, segala
sesuatunya termasuk mengenai pengobatan jaman dahulu, untukmengetahui
bagaimana cara mendekatkan diri pada sang pencipta agar manusia tetapsehat dan
jauh dari mara bahaya. Bagi orang Batak, di samping penyakit alamiah, adajuga
beberapa tipe spesifik penyakit supernatural, yaitu: jika mata seseorang
bengkak,orang tersebut diyakini telah melakukan perbuatan yang tidak baik (mis :
mengintip).Cara mengatasinya agar matanya tersebut sembuh adalah dengan
mengoleskan airsirih. Nama tidak cocok dengan dirinya (keberatan nama) sehingga
membuat orangtersebut sakit. Cara mengobatinya dengan mengganti nama tersebut
dengan nama yanglain, yang lebih cocok dan didoakan serta diadakan jamuan adat
bersama keluarga.
akanmemberi mainan buat anaknya, tetapi janji tersebut tidak ditepati. Karena janji
tersebuttidak ditepati, si anak bisa menjadi sakit. Jika ada orang Batak menderita
penyakitkusta, maka orang tersebut dianggap telah menerima kutukan dari para
leluhur dandiasingkan dalam pergaulan masyarakat. Di samping itu, dalam budaya
Batak dikenal adanya kitab pengobatan yang isinyadiantaranya adalah, Mulajadi
Namolon Tuhan Yang Maha Esa bersabda:Segala sesuatu yang tumbuh di atas bumi
dan di dalam air sudah ada gunanyamasing-masing di dalam kehidupan sehari-hari,
sebab tidak semua manusia yang dapatmenyatukan darahku dengan darahnya, maka
gunakan tumbuhan ini untuk kehidupanmu. Di dalam kehidupan Si Raja Batak dahulu
ilmu pengobatan telah ada, mulai sejakdalam kandungan sampai melahirkan.1. Obat
mulai dari kandungan sampai melahirkan. Perawatan dalam kandungan: menggunakan
salusu yaitu satu butir telur ayam kampung yang terlebih dahulu di doakan.
Perawatan setelah melahirkan: menggunakan kemiri, jeruk purut dan daun sirih.
Perawatan bayi: biasanya menggunakan kemiri, biji lada putih dan iris jorango.
Perawatan dugu-dugu: sebuah makanan ciri khas Batak saat melahirkan yang diresap
dari bangun-bangun, daging ayam, kemiri dan kelapa.2. Dappol Siburuk (obat urut
dan tulang). Asal mula manusia menurut orang Batak adalah dari ayam dan burung.
Obat dappol si buruk ini dulunya berasal dari burung siburuk yang mana langsung
dipraktikkan dengan penelitian alami dan hampir seluruh keturunan Siraja Batak
menggunakan obat ini dalam kehidupan sehari-hari.3. Untuk mengobati sakit mata.
Menurut orang Batak mata adalah satu panca indra sekaligus penentu dalam
kehidupan manusia, dan menurut legenda pada mata manusia berdiam Roh Raja
Simosimin. Berdasarkan pesan dari Si Raja Batak, untuk mengeluarkan penyakit dari
mata, masukkanlah biji sirintak ke dalam mata yang sakit. Setelah itu tutuplah mata
dan tunggulah beberapa saat, karena biji sirintak akan menarik seluruh penyakit
yang ada di dalam mata. Gunakan waktu 1x 19 hari, supaya mata tetap sehat.
Sirintak adalah tumbuhan Batak yang dalam bahasa Indonesia berarti mencabut
(mengeluarkan), nama ramuannya dengan sama tujuannnya.4. Mengobati penyakit
kulit yang sampai membusuk. Berdasarkan pesan Si Raja Batak untuk mengobati
orang yang berpenyakit kulit supaya menggunakan tawar mulajadi (sesuatu yang
berasal dari asap dapur). Rumpak 7 macam dan diseduh dengan air hangat.
Disamping itu, Si Raja Batak berpesan kepada keturunannya, supaya manusia dapat
hidup sehat, maka makanlah atau minumlah: apapaga, airman, anggir, adolora,
alinggo, abajora, ambaluang, assigning, dan arip-arip. Dalam budaya Batak juga
dikenal dengan adanya karisma, wibawa dan kesehatan menurut orang Batak dahulu,
supaya manusia dapat sukses dalam segala hal biasanya diwajibkan membuat sesajen
berupa: ayam merah, ayam putih, ayam hitam, ketan beras (nitak), jeruk purut, sirih
beserta perlengkapannya. Beberapa contoh pengobatan tradisional lainnya yang
dilakukan oleh orang Batak adalah: jika ada orang Batak yang menderita penyakit
gondok, maka cara pengobatannya dengan menggunakan belau. Apabila ada orang
Batak yang menderita penyakit panas (demam) biasanya pengobatannya dengan cara
menyelimutinya dengan selimut / kain yang tebal.
Budayamemberi peranan dan nilai yang berbeda terhadap pangan dan makanan.
Misalnya tabumakanan yang masih dijumpai di beberapa daerah. Tabu makanan yang
merupakanbagian dari budaya menganggap makanan makanan tertentu berbahaya
karena alasan-alasan yang tidak logis. Hal ini mengindikasikan masih rendahnya
pemahaman gizimasyarakat dan oleh sebab itu perlu berbagai upaya untuk
memperbaikinya. Pantanganatau tabu adalah suatu larangan untuk mengonsumsi
suatu jenis makanan tertentukarena terdapat ancaman bahaya atau hukuman
terhadap yang melanggarnya. Dalamancaman bahaya ini terdapat kesan magis yaitu
adanya kekuatan supernatural yangberbau mistik yang akan menghukum orang-orang
yang melanggar pantangan atautabu tersebut. Di Bogor masih ada yang percaya
bahwa kepada bayi dan balita laki-laki tidakboleh diberikan pisang ambon karena
bisa menyebabkan alat kelamin / skrotumnyabengkak. Balita perempuan tidak boleh
makan pantat ayam karena nanti ketika merekasudah menikah bisa diduakan suami.
Sementara di Indramayu, makanan gurih yangdiberikan kepada bayi dianggap
membuat pertumbuhannya menjadi terhambat. Untukbalita perempuan, mereka
dilarang untuk makan nanas dan timun. Selain itu balitaperempuan dan laki-laki juga
tidak boleh mengonsumsi ketan karena bisamenyebabkan anak menjadi cadel.
Mereka menganggap bahwa tekstur ketan yanglengket menyebabkan anak tidak bisa
menyebutkan aksara r dengan benar. Jenis makanan pantangan bagi wanita dan
laki-laki dewasa lebih banyakkarena alasan yang menyangkut dengan organ
reproduksi / hubungan seksual suamiistri. Hal ini berlaku pada sebagian besar
penduduk di Bogor dan Indramayu. Makanantersebut kebanyakan adalah sayur dan
buah yang banyak mengandung air, misalnyananas, pepaya, semangka, timun, dan labu
siam. Jenis makanan tersebut dianggap bisamenyebabkan keputihan yang akhirnya
dapat mengganggu keharmonisan hubungansuami dan istri. Sementara untuk laki-laki
dewasa, baik di Bogor dan Indramayumemiliki suatu kepercayaan bahwa laki-laki
dewasa dilarang makan terung, karenamembuat mereka lemas dan mudah lelah.
Selain itu unsur-unsur budaya mampu menciptakan suatu kebiasaan makanpenduduk
yang kadang bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu gizi. Kebiasaanmakan adalah
tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhikebutuhannya akan
makan yang meliputi sikap, kepercayaan dan pemilihan makanan(Khumaidi, 1989).
Suhardjo (1989) menyatakan bahwa kebiasaan makan individu ataukelompok individu
adalah memilih pangan dan mengonsumsinya sebagai reaksiterhadap pengaruh
fisiologis, psikologis, sosial dan budaya. Tiga faktor terpenting yang mempengaruhi
kebiasaan makan adalahketersediaan pangan, pola sosial budaya dan faktor-faktor
pribadi (Harper et al., 1986).Hal yang perlu diperhatikan dalam mempelajari
kebiasaan makan adalah konsumsipangan (kuantitas dan kualitas), kesukaan terhadap
makanan tertentu, kepercayaan,pantangan, atau sikap terhadap makanan tertentu
(Wahyuni, 1988). Khumaidi (1989)menyatakan bahwa dari segi gizi, kebiasaan makan
ada yang baik atau dapatmenunjang terpenuhinya kecukupan gizi dan ada yang buruk
(dapat menghambatterpenuhinya kecukupan gizi), seperti adanya pantangan atau
tabu yang berlawanandengan konsep-konsep gizi. Menurut Williams (1993), masalah
yang menyebabkanmalnutrisi adalah tidak cukupnya pengetahuan gizi dan kurangnya
pengertian tentangkebiasaan makan yang baik. Kebiasaan makan dalam rumahtangga
penting untukdiperhatikan, karena kebiasaan makan mempengaruhi pemilihan dan
penggunaanpangan dan selanjutnya mempengaruhi tinggi rendahnya mutu makanan
rumah tangga.
antara lain perbedaan etnis, tingkat sosial ekonomi, geografi, iklim, agama
dankepercayaan serta tingkat kemajuan teknologi (Wardiatmo, 1989). Kebiasaan
makanbanyakdipengaruhi oleh variabel lingkungan. Pilihan dan kegunaan makanan
yang adaadalah merupakan komponen ekologi. Studi tentang konsumsi pangan di
daerahpedesaan menunjukkan adanya keterkaitan antara tingkat konsumsi
masyarakat denganzona ekologi (Annegers, 1973 dalam den Hartog, 1995). Menurut
den Hartog (1995) kebiasaan makan dapat dibentuk oleh lingkungansekitar dimana
seseorang hidup. Adapun beberapa variabel lingkungan yangberpengaruh terhadap
kebiasaan makan suatu masyarakat adalah lingkungan hidupyang meliputi topografi,
keadaan tanah, iklim, dan flora, lingkungan budaya (sistemproduksi pertanian) dan
populasi (kelahiran, kematian, migrasi, pertambahanpenduduk, umur dan jenis
kelamin). Oleh karena itu, penyuluhan gizi penting untuk terus menerus dilakukan
untukmemperbaiki pengetahuan gizi dan kebiasaan makan masyarakat. Penyuluhan
gizimenjadi landasan terjadinya perubahan pengetahuan, sikap dan
keterampilan.Kelembagaan penyuluhan gizi seperti Posyandu perlu lebih diperkuat
sehinggaaktivitas penyuluhan tidak terabaikan.
keluhan perdarahanmelalui vagina, kondisi pasien lema dan pasien dinyatakan
mengalami anemia, kadarhaemoglobin 5 g/dl. Pasien direncanakan untuk segera
mendapatkan transfusi darah. Ketikaperawat menjelaskan rencana tersebut, pasien
menolak karena menurutnya hal tersebutbertentangan dengan keyakinannya.
Perawat berusaha untuk membicarakan hal ini dengansuami pasien namun suami
pasien bekerja diluar kota dan tidak dapat dihubungi. Pada saat inipasien hanya
ditemani oleh ibunya.Pembahasan :Setelah menganalisa kasus tersebut diatas satu
hal yang perlu dipahami adalah mengubahsuatu keyakinan atau kepercayaan
seseorang itu tidaklah mudah, tapi bukan tidak mungkinbisa merubahnya. Oleh
karena itu diperlukan langkah-langkah yang kongkret ataupendekatan-pendekatan
personal sehingga timbul rasa saling percaya antara perawat danklien/pasien.Dari
kasus tersebut diperlukan peran dependen perawat, dan menurut kami dalam
anggotakelompok FG V apabila dihadapkan pada kasus seperti diatas maka, kami
akan mencobamelakukan langkah-langkah berikut :1. Menjelaskan ke pasien dan
ibunya pentingnya dilakukan tindakan transfusi darah tersbut dan akibat apabila
tindakan transfusi darah tersebut tidak dilakukan.2. Apabila pasien tetap menolak
maka kami akan menanyakan alasan pasien menolak tindakan tersebut.3. Setelah
mengetahui alasannya yang mungkin karena pasien takut darahnya bercampur
dengan darah orang yang tidak dikenalnya.4. Menjelaskan bahwa tindakan transfusi
bisa dilakukan dengan menggunakan darah dari keluarga terdekat misalnya ibu,
apabila kondisinya memungkinkan dan golongan darahnya sama/cocok.5. Apabila
akhirnya pasien setuju untuk menjalani transfusi, tapi menggunakan darah ibunya,
langkah selanjutnya adalah menganjurkan / menawarkan ibu klien untuk melakukan
pemeriksaan apakah kondisinya memungkinkan dan golongan darah keduanya sama
atau tidak.6. Apabila golongan darah keduanya sama dan kondisi si ibu
memungkinkan maka transfusi segera dapat dilakukan.7. Tapi apabila langkah
tersebut tidak menemukan jalan keluar, golongan darah mereka tidak sama atau
golongan darahnya sama tapi pasien berubah pikiran dan tidak mau menerima darah
dari ibunya, maka langkah selanjutnya adalah kerjasama dengan orang lain tenaga
kesehatan lainnya misalnya perawat lain, dokter yang menangani, orang yang
disegani, pemuka agama, tokoh masyarakat untuk membantu memberikan penjelasan
tentang tindakan transfusi yang tetap harus dilakukan.8. Apabila tetap tidak
berhasil, pasien tetap menolak maka sebagai seorang perawat yang menghargai hak
orang lain dalam mengambil keputusan akan dirinya, maka langkah selanjutnya adalah
meminta pasien / klien menandatangani format persetujuan penolakan tindakan
(informat consent)