Anda di halaman 1dari 6

Nublah Permata Lestari (2012730145)

Putri Intan Nurrahma (2012730147)



INFLAMASI KRONIK

Meskipun sulit untuk didefinisikan pasti, peradangan kronik dianggap sebagai
peradangan yang durasinya memanjang (mingguan atau bulanan) verupa peradangan aktif,
kerusakan jaringan, dan upaya perbaikan yang berlangsung secara bersamaan. Meskipun
dapat terjadi setelah peradangan akut, peradangan kronik sering berawal secara samar,
sebagai respons berderajat-ringan yang terus-menerus, tetapi asimtomatik. Peradangan kronik
tipe akhir ini merupakan penyebab kerusakan jaringan pada sebagian dari penyakit manusia
yang tersering dan paling menimbulkan kecacatan, seperti artritis reumatoid, aterosklerosis,
tuberkulosis, dan penyakit paru kronik.

Penyebab Peradangan Kronik
Peradangan kronik timbul pada eadaan-keadaan sebagai berikut:
Infeksi persisten oleh mikroorganisme tertentu, seperti basil tuberkel, Treponema
pallidum (penyebab sifilis), dan virus, jamur, dan parasit tertentu. Organisme-
organisme ini memiliki toksisitas rendah dan memicu suatu reaksi imun yang disebut
hipersensitivitas tipe lambat (delayed type hypersensitivity). Respons peradangan
kadang-kadang mengambil pola spesifik yang disebut reaksi granulomatosa.
Pajanan berkepanjangan oleh agen yang berpotensi toksik, baik dari luar (eksogen)
maupun dalam (endogen) sel. Contoh agen eksogen adalah partikel silika, yakni suatu
benda mati tidak-teruraikan, yang jika terhirup dalam jangka lama dapat
menyebabkan penyakit peradangan paru yang disebut silikosis. Aterosklerosis terjadi
akibat proses peradangan kronik di dinding arteri yang dipicu, paling tidak sebagian,
oleh komponen lemak plasma toksik endogen.
Autoimunitas. Dalam kondisi tertentu, terbentuk reaksi imun terhadap jaringan tubuh
sendiri dan menyebabkan penyakit autoimun. Pada penyakit ini, autoantigen memicu
timbulnya reaksi imun yang terus memperkuat dirinya dan menimbulkan peradangan
dan kerusakan jaringan kronik, seperti artritis reumatoid dan lupus eritematosus.

Gambaran Morfologi
Berbeda dengan peradangan akut, yang bermanifestasi sebagai perubahan vaskular,
edema, dan infiltrasi terutama oleh neutrofil, peradangan kronik ditandai oleh hal-hal berikut
ini:
Infiltrasi sel mononukleus, yang mencakup makrofag, limfosit dan sel plasma
Kerusakan jaringan, yang dipicu oleh agen penyebab yang persisten atau oleh sel-sel
radang
Upaya penyembuhan dengan membentuk jaringan ikat di jaringan yang rusak,
dilakukan melalui proliferasi pembuluh darah halus (angiogenesis) dan, terutama,
fibrosis.
Karena angiogenesis dan fibrosis merupakan komponen pada penyembuhan luka dan
perbaikan.

Infiltrasi Sel Mononukleus
Makrofag adalah sel yang dominan pada peradangan kronik. Makrofag adalah salah
satu komponen sistem fagosit mononukleus. Sistem fagosit mononukleus (yang terkadang
disebut sistem retikuloendote) terdiri atas sel-sel yang berkaitan erat yang berasal dari
sumsum tulang, termasuk monosit darah dan makrofag jaringan. Makrofag jaringan tersebar
secara merata di jaringan ikat atau berada di organ seperti hati (sel Kupffer), limpa dan
eklenjar getah bening (histiosit sinus), dan paru-paru (makrofag alveolus). Fagosit
mononukleus berasal dari prekursor yang sama di sumsum tulang, yang menghasilkan
monosit darah. Dari darah, monosit bermigrasi ke berbagai jaringan dan berdiferensiasi
menjadi makrofag. Waktu paruh monosit darah adalah adalah sekitar satu hari, sedangkan
rentang usia makrofag jaringan adalah beberapa bulan sampai beberapa tahun. Perjalanan dari
selstem/induk sumsum tulang menjadi makrofag jaringan dikendalikan oleh beragam faktor
pertumbuhan dan diferensiasi, sitokin, molekul perekat, dan interaksi sel.

Monosit mulai beremigrasi ke dalam jaringan ekstravaskularrelatif awal pada
peradangan akut, dan dalam 48 jam sel ini dapat menjadi jenis sel yang dominan.
Ekstravasasi monosit diatur oleh faktor-faktor yang sama dengan faktor yang berperan pada
emigrasi neutrofil, yaitu molekul perekat dan mediator kimiawi yang memiliki sifat
kemotaksis dan pengaktif. Saat mencapai jaringan ekstravaskular, monosit mengalami
transformasi menjadi sel fagositik yang lebih besar, yakni makrofag. Makrofag dapat
diaktifkan oleh beragam rangsangan, termasuk sitokin (mis. IFN-) yang dikeluarkan oleh
limfosit T dan sel NK, ekdotoksin bakteri, dan mediator kimiawi lainnya. Aktivasi
menyebabkan ukuran sel bertambah, kadarenzim lisosom meningkat, keaktifan metabolik
meningkat, dan pertambahan kemampuan sel dalam memfagosit dan mematikan mikroba
yang ditelan. Makrofag aktif mengeluarkan bermacam-macam produk yang aktif secara
biologis yang, apabila tidak terkendali, dapat menyebabkan cedera jaringan dan fibrosis yang
merupakan karakteristik peradangan kronik.

Pada peradangan yang berlangsung singkatdan iritan berhasil dieliminasi, makrofag
akhirnya menghilang (baik karena mati maupun bergerak ke pembuluh limfe dan kelenjar
getah bening). Pada peradangan kronik, makrofag terus menumpuk, dan hal ini diperantarai
oleh mekanisme yang berbeda.

1. Rekrutmen monosit dari sirkulasi, yang terjadi akibat ekspresi molekul-molekul
perekat dan faktor kemotaksis. Sebagian besar dari makrofag yang ada di fokus
peradangan kronik direkrut dari monosit darah. Proses rekrutmen monosit pada
dasarnya sama dengan rekrutmen neutrofil. Rangsangan kemotaksis untuk monosit
anatara lain kemokin-kemokin yang dihasilkan oleh makrofag aktif, limfosit, dan sel
lain (mis. MCP-1); C5a; faktor pertumbuhan seperti TGF-; fragmen dari pemecahan
kolagen dan fibronektin; dan fibrinopeptida. Masing-masing zat ini dapat berperan
pada keadaan tertentu; contohnya, kemokin adalah rangsangan utama untuk
akumulasi makrofag pada reaksi imun hipersensitivitas tipe lambat.
2. Proliferasi lokal makrofag setelah sel ini beremigrasi dari aliran darah.Proliferasi
makrofag, yang selama ini diperkirakan dapat terjadi, sekarag diketahui sering terjadi
pada beberapa peradangan kronik, seperti plak ateromatosa.
3. Imobilisasi makrofag di dalam tempat peradangan. Beberapa sitokin dan lipid yang
teroksidasi dapat menyebabkan imobilisasi tersebut.

Pada peradangan kronik, produk-produk makrofag aktif berfungsi untuk mengeliminasi
agen penyebab, seperti mikroba dan berfungsi memulai proses perbaikan, serta berperan pada
sebagian besar kerusakan jaringan. Sebagian dari produk ini bersifat toksik bagi mikroba dan
sel pejamu (mis. Zat antara nitrogen dan oksigen reaktif) atau matriks ekstrasel (protease);
sebagian menyebabkan influks sel lain (mis. sitokin, faktor kemotaktik); dan yang lainnya
menyebabkan proliferasi fibroblas, pengendapan kolagen, dan angiogenesis (mis. faktor
pertumbuhan). Ragam mediator yang luar biasa ini menyebabkan makrofag menjadi sekutu
kuat bagi pertahanan tubuh terhadap benda-benda asing yang tidak diinginkan. Namun,
persenjataan yang sama juga dapat menimbulkan kerusakan jaringan yang bermakna jika
makrofag mengalami aktivasi yang tidak terkendali. Jadi, kerusakan jaringan adalah salah
satu tanda utama peradangan kronik.

Di peradangan kronik, selain produk-produk makrofag, beragam substansi dapat ikut
berperan menyebabkan kerusakan jaringan. Jaringan nekrotik itu sendiri dapat meneruskan
kaskade peradangan melalui aktivasi sistem kinin, koagulasi, komplemen, dan fibrinolitik,
pembebasan mediator dari leukosit yang berespons terhadap jaringan nekrotik, dan
pengeluaran zat-zat seperti asam urat dari sel yang mati. Pada reaksi imun selular, limfosit T
dapat secaralangsung mematikan sel. Jadi, kerusakan jaringan yang berlangsung terus-
menerus dapat mengaktifkan askade peradangan melalui beragam mekanisme sehingga pada
keadaan tertentu, gambaran peradangan akut dan kronik dapat dijumpai bersama-sama.

Sel lain pada peradangan kronik

Jenis sel lain yang terdapat pada peradangan kronik antara lain adalah limfosit, sel
plasma, eosinofil, dan sel mast.

Pada reaksi imun yang diperantarai antibodi maupun reaksi imun selular, limfosit
mengalami mobilisasi, bahkan pada peradangan nonimun. Limfosit T dan B (efektor
dan memori), yang dirangsang oleh antigen, menggunakan beragam pasangan
molekul perekat (terutama integrin dan ligannya) serta kemokin untuk bermigrasi ke
tempat peradangan. Sitokin-sitokin dari makrofag aktif, terutama TNF, IL-1, dan
kemokin, merangsang rekrutmen leukosit dan merancang tahapan respons peradangan
yang menetap.
Limfosit dan makrofag berinteraksi dalam dua arah, dan interaksi ini berperan penting
pada peradangan kronik. Makrofag menyajikan antigen ke limfosit T, dan
menghasilkan molekul membran (kostimulator) dan sitokin (terutama IL-12) yang
merangsang respons sel T. Limfosit T aktif menghasilkan sitokin, dan salah satunya
IFN-, adalah suatu aktivator utama makrofag. Sel plasma terbentuk dari limfosit B
aktif dan menghasilkan antibodi yang ditujukan pada antigen persisten di tempat
peradangan atau terhadap komponen jaringan yang mengalami perubahan. Pada
beberapa reaksi peradangan kronik yang hebat, akumulasi limfosit, sel penyaji antigen
(antigen-parenting cell), dan sel plasma dapat menyerupai gambaran bentuk organ
limfoid, bahkan mengandung sentra-sentra germinal dengan bentuk yang jelas. Pola
organogenesis limfoid ini sering ditemukan di sinovium pasien artitis reumatoid
kronik.
Eosinofil banyak ditemukan pada reaksi peradangan yang diperantarai oleh IgE dan
pada infeksi parasit. Rekrutmen eosinofil terjadi melalui ekstravasasi dari darah dan
migrasi ke jaringan oleh prose-proses yang serupa dengan proses yang terjadi di
leukosit lain. Salah satu kemokin yang sangat penting dalam rekrutmen eosinofil
adalah eotaksin. Eosinofil memiliki granula yang mengandung
DaftarPustaka

Cotran RS, Robbins SL. Dasar Patologis Penyakit. 7nd ed. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2009.