Anda di halaman 1dari 7

Banyak hal yang tertinggal di dunia ini yang harus dihancurkan dengan api dan baja

(Lenin, 1915)
Marxisme: Teori dan Variannya[1]
Pengantar
Jika kita mendengar istilah Marxisme apa yang muncul di benak kita pertama kali mungkin
adalah Karl Marx meski ajaran Marx sendiri justru pertama kali dibakukan menjadi Marxisme
oleh Friedrich Engels (1820-1895) dan Karl Kautsky (1854-1938)- dan Komunisme beserta
kekejaman dan kesadisannya yang menyertai tabir gelap sejarah dunia. Namun, masyarakat,
khususnya di Indonesia yang pernah memiliki sejarah kelam (baca: dikelamkan oleh rezim
Orde Baru melalui represi dan stereotipe segala perilaku subversif-kiri radikal serta opresi
ideologis anti-Komunisme-nya) dengan Komunisme, yakni pemberontakan Gestapu[2] (Gerakan
September Tiga Puluh), seringkali mencampuradukkan istilah Komunisme dengan Marxisme
seolah-olah Marxisme adalah Komunisme dan juga sebaliknya.
Akibatnya, masyarakat terkadang menolak, bahkan membenci, Marxisme secara membabi buta
tanpa pernah mempelajarinya. Salah satu bukti alergi masyarakat Indonesia terhadap segala hal
yang berbau Marxisme adalah pembakaran buku milik Franz Magnis-Suseno, salah satu guru
besar di STF Driyakarya, yang berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke
Perselisihan Revisionisme oleh Aliansi Anti-Komunisme (AAK)[3] serta pencekalan film
Lastri, yang masih dalam proses pembuatan, besutan sineas Eros Djarot oleh Front Pembela
Islam (FPI) yang dianggap sengaja memunculkan kembali nuansa Komunisme. Hal ini
menunjukkan betapa kuatnya pengaruh ideologi anti-Komunisme menancap dalam benak
mayoritas masyarakat Indonesia, yang selalu digambarkan sebagai ideologi yang menolak
eksistensi Tuhan dan Pancasila sebagai falsafah dasar negara. Namun, diskursus mengenai
Komunisme dan Marxisme pada era pasca Orde Baru pernah mencapai klimaksnya saat terjadi
perseteruan antara DPR dengan mantan Presiden Abdurrahman Wahid berkenaan dengan
pencabutan Tap MPRS XXV/1966 tentang pelarangan ideologi Komunisme dan Marxisme-
Leninisime.
Dari beberapa kejadian tersebut, kita dapat melihat bahwa mempelajari Marxisme atau ideologi-
ideologi Kiri[4] lainnya (atau bahkan hanya membaca buku-buku Karl Marx) masih dianggap
sebagai kegiatan terlarang bagi sebagian besar masyarakat kita, karena dianggap dapat
menumbuhkan kembali ideologi Komunisme yang pernah mengalami masa jayanya di negeri ini
melalui kendaraan politiknya, Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, untuk memperoleh
sedikit gambaran awal mengenai Marxisme dan perbedaannya dengan Komunisme, agar tidak
terjadi misinterpretasi diantara keduanya, kiranya perlu bagi penulis untuk mengutip salah satu
penjelasan dari ahli ilmu sosial mengenai pengertian Marxisme.
Menurut Franz Magnis-Suseno (2003: 5), Marxisme tidak sama dengan Komunisme.
Komunisme, sejak Revolusi Oktober 1917 dibawah kepemimpinan V.I Lenin, adalah gerakan
dan kekuatan politis-ideologis internasional partai-partai Komunis yang menggunakan
Marxisme-Leninisme sebagai doktrin dan ideologi formal mereka. Jadi, Marxisme hanyalah
salah satu komponen dalam sistem ideologi Komunisme, meski kaum Komunis memang selalu
mengklaim merekalah pewaris resmi konsepsi Marx tersebut. Namun, istilah Komunisme
sendiri, sebelum Lenin memonopoli istilah tersebut, telah digunakan untuk mengacu pada cita-
cita utopis masyarakat, dimana semua kepemilikan pribadi (private ownership) dihapus dan
dianggap sebagai milik umum (public property) guna mengeliminasi gap antara kaum borjuis
dan proletar serta membantu dalam menciptakan kemakmuran bersama.
Setalah memperoleh penjelasan singkat mengenai perbedaan Marxisme dan Komunisme (dengan
harapan tidak ada lagi anggapan bahwa Marxisme adalah Komunisme dan juga sebaliknya)
beserta respon masyarakat Indonesia terhadap segala hal yang berkaitan dengan
Marxisme/Komunisme setelah tumbangnya rezim Orde Baru, cukup penting pula bagi penulis
untuk memaparkan titik pijak teori-teori Marxisme seperti teori alienasi, teori nilai-lebih ataupun
materialisme historis, serta mengenai alur perkembangan Marxisme dan varian-variannya, mulai
dari Marxisme Ortodoks, Revisionisme dan Marxisme-Leninisme di bab-bab selanjutnya.
Landasan Teori Marxisme
Alienasi
Alienasi adalah suatu keadaan dimana individu terasing dari dirinya sendiri. Menurut Marx,
alienasi dalam pekerjaan adalah asal muasal segala bentuk alienasi manusia karena, di dalam
pekerjaan, manusia berusaha untuk mengobjektifikasi diri mereka dalam kehidupan. Pertama,
pekerjaan merupakan aktivitas khas semua manusia. Manusia, bila dibandingkan dengan
binatang, bekerja secara bebas dan universal sementara binatang bekerja menurut insting mereka,
hanya sesuai dengan kebutuhan mereka. Kedua, pekerjaan merupakan sarana objektifikasi
manusia. Ini artinya bahwa, di dalam pekerjaan, manusia mengambil bentuk alamiah dari objek
alam guna memciptakan bentuk/kreasi mereka sendiri terhadap objek alam tersebut. Ketiga,
didalam pekerjaan, manusia membuktikan diri sebagai makhluk sosial. Untuk memenuhi
kebutuhan mereka, manusia selalu bergantung pada hasil kerja manusia lain, yang sekaligus
membuktikan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial (Magnis-Suseno, 2003: 89-94)
Misalnya, saya memiliki seekor sapi yang tubuhnya sangat gemuk karena selalu memberinya
rumput pilihan yang saya beli dari pasar. Suatu hari, saya menyembelihnya untuk keperluan
makanan keluarga selama satu minggu dan sisanya untuk dijual ke penjual daging atau pembuat
kerupuk kulit. Kulit sapi tersebut ternyata juga bisa saya manfaatkan untuk membuat bedug.
Ilustrasi ini membuktikan ke-bebas-an dan ke-universal-an saya sebagai manusia yang dapat
bekerja tanpa harus merasakan langsung kebutuhan dari barang yang saya hasilkan (menjual
daging sapi tersebut). Dari kejadian ini, saya juga telah mewujudkan apa yang ada dikepala saya
untuk menjadi suatu realitas objektif seperti yang saya kehendaki (memanfaatkan kulit sapi
sebagai bedug). Terakhir, contoh ini membuktikan bahwa saya, sebagai manusia, adalah
makhluk sosial karena membutuhkan hasil pekerjaan orang lain atau orang lain membutuhkan
hasil pekerjaan saya (membeli rumput di pasar serta menjual daging sapi saya ke penjual
daging/pembuat kerupuk kulit untuk dijualnya kembali).
Oleh karena itu, Marx memberikan penjelasan komprehensif tentang efek alienasi dalam
pekerjaan terhadap para pekerja, khususnya yang berada dalam sistem kerja kapitalis, sebagai
inti dari teori alienasinya. Pertama, pekerja teralienasi dari aktivitas produksi mereka karena
mereka tidak mempunyai peran dalam menentukan apa yang harus mereka lakukan dan
bagaimana melakukannya. Kedua, pekerja teralienasi dari barang-barang hasil aktivitas produksi
mereka sendiri karena mereka tidak memiliki otoritas atau privilese terhadap barang yang telah
atau akan mereka buat. Ketiga, pekerja teralienasi dari para pekerja lain karena kompetisi dan
uniformitas (seperti yang umumnya terjadi dalam sistem kapitalis) semakin menjauhkan mereka
dari interaksi dan kooperasi dengan pekerja lain. Terakhir, pekerja teralienasi dari potensi yang
terdapat di dalam diri mereka sebagai manusia.[5]
Materialisme Historis
Sebelum menjelaskan tentang konsep materialisme historis Marx, kiranya perlu bagi penulis
untuk menjelaskan terlebih dahulu prinsip dasar pandangan materialisme historis, yakni keadaan
dan kesadaran. Marx menyatakan bahwa bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan
mereka, melainkan sebaliknya keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka.
Keadaan sosial manusia, menurut Marx, adalah produksinya atau pekerjaannya. Manusia
ditentukan baik oleh apa yang mereka produksi maupun bagaimana mereka berproduksi.
Pandangan inilah yang kemudian disebut materialis karena sejarah dianggap ditentukan oleh
syarat-syarat produksi material. Jadi, Marx menggunakan istilah Marxisme bukan sebagai
kepercayaan bahwa hakikat seluruh realitas adalah materi, tetapi menunjuk pada faktor yang
menentukan sejarah, yaitu keadaan material manusia (cara manusia menghasilkan apa yang
dibutuhkannya untuk hidup) bukan pikiran manusia.[6]
Selain itu, Marx juga mengambil filsafat dialektikanya GWF Hegel untuk mengembangkan
konsepnya mengenai materialisme historis.[7] Dialektika Hegel ini menyatakan bahwa sesuatu
hanya benar apabila dilihat dengan seluruh hubungannya, yang semuanya terkait dalam satu
gerak penyangkalan dan pembenaran (tesis-antitesis-sintesis). Apapun merupakan kesatuan dari
apa yang berlawanan, hasil dari proses dialektis yang melalui negasi atau penyangkalan. Dalam
menjelaskan karakteristik penyangkalan dialektis ini, Hegel menggunakan istilah Jerman
aufheben yang mempunyai tiga arti: menyangkal/membatalkan, menyimpan dan mengangkat.[8]
Dengan demikian, Hegel telah mengenalkan sebuah filsafat yang telah mempengaruhi pemikiran
Marx bahwa sesuatu pada dasarnya mengandung unsur kebalikan/negasinya (opposite). Negasi
dianggap sebagai penghancuran dari yang lama, sebagai hasil dari perkembangan sendiri yang
diakibatkan oleh kontradiksi-kontradiksi internal. Jadi, segala sesuatu bergerak dari taraf yang
rendah ke taraf yang lebih tinggi, atau dari keadaan yang masih sederhana kea rah yang lebih
kompleks. Inilah yang kemudian mendorong Marx untuk mengembangkan filsafat materialisme
dialektis.[9]
Konsep materialisme dialektis ini, yang menyatakan bahwa setiap materi menghasilkan negasi di
dalam entitasnya, merupakan aspek utama yang mempengaruhi Marx dalam menganalisa
masyarakat, mulai dari permulaan zaman (primeval period) hingga masyarakat dimana Marx
berada, sehingga teori ini disebut Materialisme Historis. Karena materi, oleh Marx, diartikan
sebagai keadaan ekonomi, maka teori Marx juga sering disebut analisa ekonomis terhadap
sejarah (the economic interpretation of history). Marx beranggapan bahwa perkembangan
dialektis awalnya terjadi pada struktur bawah (basis) masyarakat, yang nantinya menggerakkan
struktur atas-nya (supra-struktur). Basis masyarakat bersifat ekonomis dan tersusun atas dua
aspek, yaitu cara berproduksi (teknik dan alat-alat) dan relasi ekonomi (sistem kepemilikan,
pertukaran dan distribusi barang). Sementara itu, supra-struktur, yang berdiri diatas basis
ekonomi, terdiri atas kebudayaan, hukum, ilmu pengetahuan, kesenian, agama, dan ideologi.[10]
Berdasarkan hukum dialektika, masyarakat telah berkembang menjadi masyarakat kapitalis
seperti dimana Marx berada. Gerak dialektis ini, yang disebabkan oleh kontradiksi dari dua kelas
utama dalam masyarakat, dimulai dari komune primitif, dimana mereka masih tidak mengenal
kelas dan kepemilikan pribadi, menjadi sebuah masyarakat-kelas yang mulai mengenal milik
pribadi dan dan pembagian kerja, sehingga mengenal pula pembagian kelas-kelas sosial. Dalam
masyarakat-kelas yang pertama, masyarakat budak (the slave-society), terjadi
pertentangan/negasi antara kelas budak dan kelas pemilik budak, yang kemudian secara dialektis
menjadi masyarakat feodal (the feudalist-society) dan pada akhirnya masyarakat kapitalis (the
capitalist-society). Menurut materialisme historis ini, masyarakat-kapitalis, terdesak oleh
kontradiksi antara kaum kapitalis dan kaum proletar, akan bertransformasi sebagai gerak
dialektis terakhir menjadi masyarakat komunis (the communist-society), dimana masyarakat-
tanpa-kelas ini akan terlepas dari segala bentuk kepemilikan pribadi, eksploitasi, opresi dan
koersi.[11]
Perkembangan Aliran Marxisme
Setelah kematian Marx pada 1883 serta disusul Engels pada 1895, perbedaan dan konflik dalam
penafsiran pemikiran Karl Marx justru semakin menguap ke permukaan di dalam kalangan
Marxis sendiri seperti Karl Kautsky, Rosa Luxemburg, Bernstein dan Lenin. Perdebatan tersebut
dipicu oleh wacana mengenai strategi bagaimana cara mewujudkan cita-cita Karl Marx untuk
menciptakan sebuah masyarakat Sosialis-Komunis.
Menurut Karl Kautsky, Marxis Ortodoks yang juga memformulasikan ide-ide Karl Marx menjadi
Marxisme serta salah seorang teoretisi Partai Sosial Demokrat (PSD) Jerman, revolusi sosialis
akan pecah dan kapitalisme akan runtuh dengan sendirinya karena sudah menjadi hukum objektif
sejarah. Hal ini tidak lepas dari teori evolusi Darwin yang menyatakan organisme-organisme
berkembang dengan sendirinya kearah bentuk yang lebih tinggi, semata-mata karena faktor alami
(mutasi dan seleksi). Sehingga, tambahnya, revolusi tidak perlu dipersiapkan, tetapi ditunggu.
Kaum proletar tidak perlu dipersiapkan untuk kegiatan-kegiatan revolusioner, melainkan cukup
diorganisasi agar mereka siap pada saat kondisi ekonomis akan melahirkan revolusi.
Tetapi menurut Eduard Bernstein, yang juga salah satu wakil PSD Jerman, Kapitalisme telah
lolos dari prediksi Marx-Engels mengenai kehancurannya sendiri dengan menyesuaikan diri
terhadap kondisi masyarakat yang baru. Bernstein juga me-reformulasikan gagasan Marx tentang
basis dan bangunan atas yang meniscayakan sejarah sebagai perkembangan ekonomi, dengan
menambahkan pentingnya etika, dengan semboyannya Kembali ke Kant!. Selain itu, dengan
anggapan bahwa Kapitalisme telah mampu melewati ramalan Marx-Engels, Bernstein kemudian
lebih tertarik pada perencanaan dan perjuangan di parlemen dalam mewujudkan sosialisme.
Usaha Bernstein dalam mengadakan penyesuaian Marxisme dengan perkembangan ekonomi
mutakhir inilah yang kemudian dicap sebagai revisionisme.
Pertentangan antara Kautsky dengan Bernstein kemudian sedikit mencair seiring dengan
munculnya interpretasi baru mengenai Marxisme dari Vladimir Lenin, yang berhasil mendirikan
Republik Sosialis Uni Soviet (USSR) bersama partai Bolshevik-nya setelah keberhasilan
Revolusi Oktober 1917. Lenin lebih memilih perjuangan revolusioner melalui sebuah partai
revolusioner yang terdiri dari kader-kader partai yang revolusioner pula. Sehingga, partai perlu
dipimpin dan diorganisir oleh kaum intelektual guna selalu menyalakan kesadaran revolusioner
dalam tubuh proletariat karena kaum proletar dapat dengan mudah dibusukkan oleh opresi
ideologis kaum borjuis, seperti kenaikan upah dan segala macam perbaikan sosial. Interpretasi
baru Marxisme oleh Lenin inilah yang kemudian melahirkan aliran baru Marxisme-
Leninisme.[12]

Kamu pahlawan dari angkatan revolusioner, tuntunlah massa si lapar, si miskin, si hina, si
melarat, si haus itu menempuh barisan musuh, dan pecahkan bentengnya itu, cabut nyawanya,
patahkan tulangnya dan tanamkan galah benderamu diatas benteng itu. Janganlah kamu
biarkan benderamu itu diturunkan atau ditukar oleh siapapun juga. Lindungi bendera itu
dengan bangkaimu, nyawamu, tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putera
tanah air tempat darahmu tumpah.
(Tan Malaka, Massa Actie)

Daftar Bacaan
Budiardjo, Miriam, 2008, Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Magnis-Suseno, Franz, 2003, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
___________________, 2005, Dalam Bayang-Bayang Lenin: Enam Pemikir Marxisme dari
Lenin Sampai Tan Malaka. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Santoso, Listiyono, dkk., 2007, Epistemologi Kiri. Jogjakarta: Ar-Ruzzmedia.
Supriyadi, Eko, 2003, Sosialisme Islam: Pemikiran Ali Syariati. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Wadilapa, Rendy, 2010, Reproduksi Komunisme dalam Perfilman Indonesia Pasca Orde Baru
(Perspektif Teori Strukturalisme).

[1] Makalah ini adalah tugas penulis dalam mata kuliah Pengantar Filsafat dan Dialektika
Pemikiran pada 17 November 2011
[2] Pemberontakan Gestapu, atau yang lebih dikenal dengan Gerakan 30 September/PKI,
merupakan peristiwa penculikan para jenderal Angkatan Darat yang diduga memiliki rencana
kudeta (coup dtat) terhadap pemerintah Soekarno, sehingga peristiwa ini menjadi pilar
berdirinya rezim Orde Baru dibawah pemerintahan despotik Soeharto. Peristiwa ini sendiri
memiliki beberapa versi berkaitan dengan pihak-pihak yang mendalangi pemberontakan tersebut.
Versi pertama, berasal dari pemerintah Orba, mengatakan peristiwa ini didalangi dan berada
dibawah komando PKI. Versi kedua menyatakan bahwa Gestapu adalah operasi kudeta oleh
sekelompok perwira muda Angkatan Darat dan sayap militer divisi Diponegoro Semarang. Versi
ketiga menganggap Gestapu merupakan aksi yang didalangi oleh CIA (Central Intelligence of
America) yang menggunakan Soeharto sebagai pionnya. Sedangkan versi yang keempat
menegaskan Soeharto sebagai dalang sesungguhnya dari pemberontakan ini.
[3] Sebuah gerakan yang berdiri menjelang jatuhnya rezim Soeharto untuk membatasi segala hal
yang berkaitan atau berpihak pada nilai-nilai Komunisme. Gerakan ini terdiri dari kelompok-
kelompok sayap kanan dan berhaluan konservatif-revivalis-islamis.
[4] Ideologi Kiri merupakan ideologi yang menggunakan konsepsi Karl Marx sebagai metode
berfikir dan alat perjuangan. Ideologi ini juga menjadi antitesis dari Kapitalisme. Dalam konteks
Indonesia, menurut Imam Yudotomo, golongan Kiri terbagi menjadi empat kelompok: kelompok
Komunis, Sosialis, Murba, dan Marhaen. Keempat kelompok tersebut berusaha menginterpretasi
gagasan-gagasan Marxisme sesuai dengan latar belakang tokoh-tokohnya sendiri. Lihat Rendy
Pahrun Wadilapa, Reproduksi Komunisme dalam Perfilman Indonesia Pasca Orde Baru
(Perspektif Teori Strukturalisme), skripsi FISIP 2010, tidak diterbitkan.
[5] Lihat Eko Supriyadi, Sosialisme Islam, hal. 81.
[6] Lihat Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx, hal. 138-140.
[7] Hegel memang menemukan dialektika, tetapi dialektika Hegel masih berada pada tataran ide
atau pikiran, atau masih terperangkap dalam idealisme. Sehingga dialektika idealis Hegel
hanyalah spekulasi dalam pikiran. Namun, baru di tangan Marx-lah dialektika menemukan
hukum berpikir sebenarnya tentang benda. Dialektika materialis Marx menganggap dialektika
tidak pertama-tama dalam pikiran manusia, tetapi merupakan hukum gerak dan perkembangan
materi sendiri. Dengan kata lain, dialektika materialis merefleksikan gerak benda sebenarnya
yang ada di luar otak kita. Untuk pemahaman lebih lanjut, lihat Franz Magnis-Suseno, Dalam
Bayang-Bayang Lenin, hal. 219.
[8] Ibid., hal. 61.
[9] Lihat Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, hal. 142-143.
[10] Ibid., hal. 143.
[11] Ibid., 143-144
[12] Ibid., hal. 70.