Anda di halaman 1dari 5

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki,

Sumatera Barat, 2 Juni 1897 meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21
Februari 1949 pada umur 51 tahun) adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia, filsuf kiri,
pemimpin Partai Komunis Indonesia,
[1]
pendiri Partai Murba,
[2]
dan Pahlawan Nasional
Indonesia.
[3]

Biografi
Kehidupan awal
Nama asli Tan Malaka adalah Ibrahim, sedangkan Tan Malaka adalah nama semi-bangsawan
yang ia dapatkan dari garis ibu.
[4]
Nama lengkapnya adalah Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka.
Tanggal kelahirannya tidak dapat dipastikan, dan tempat kelahirannya sekarang dikenal sebagai
Nagari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ayahnya bernama HM.
Rasad, seorang karyawan pertanian, dan Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desa.
[5]

Tan Malaka mempelajari ilmu agama dan berlatih pencak silat.
[6]
Pada tahun 1908, ia didaftarkan
ke Kweekschool (sekolah guru negara) di Fort de Kock. Menurut gurunya GH Horensma,
Malaka, meskipun kadang-kadang tidak patuh, adalah murid yang pintar.
[7]
Di sekolah ini, ia
menikmati pelajaran bahasa Belanda, sehingga Horensma menyarankan agar ia menjadi seorang
guru di sekolah Belanda.
[8]
Ia juga adalah seorang pemain sepak bola yang hebat.
[7]
Ia lulus dari
sekolah itu pada tahun 1913. Setelah lulus, ia ditawari gelar datuk dan seorang gadis untuk
menjadi tunangannya. Namun, ia hanya menerima gelar datuk.
[8]
Ia menerima gelar tersebut
dalam sebuah upacara tradisional pada tahun 1913.
[9]

Pendidikan di Belanda
Meskipun diangkat menjadi datuk, pada bulan Oktober 1913 ia meninggalkan desanya untuk
belajar di Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah), yang didanai oleh para
engku dari desanya. Sesampainya di Belanda, Malaka mengalami kejutan budaya, dan pada
1915, ia menderita pleuritis.
[10]
Selama kuliah, pengetahuannya tentang revolusi mulai meningkat
setelah membaca de Fransche Revolutie, yang diberikan kepadanya sebelum keberangkatannya
ke Belanda oleh Horensma.
[11]
Setelah Revolusi Rusia pada Oktober 1917, ia semakin tertarik
pada komunisme dan sosialisme, membaca buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan
Vladimir Lenin.
[12]
Friedrich Nietzsche juga menjadi salah satu panutannya. Saat itulah ia mulai
membenci budaya Belanda dan terkesan oleh masyarakat Jerman dan Amerika. Dia kemudian
mendaftar ke militer Jerman, Bagaimanapun, ia ditolak karena Angkatan Darat Jerman tidak
menerima orang asing.
[13]
Saat itulah ia bertemu Henk Sneevliet, salah satu pendiri Indische
Sociaal dari-Democratische Vereeniging (ISDV, pendahulu dari Partai Komunis Indonesia).
[4]
Ia
juga tertarik bergabung dengan Sociaal Democratische-Onderwijzers Vereeniging (Asosiasi
Demokrat Sosial Guru).
[14]
Pada bulan November 1919, ia lulus dan menerima ijazahnya yang
disebut hulpactie.
[a][15]
Menurut sang ayah, selama Tan Malaka di Belanda, mereka
berkomunikasi melalui suatu sarana mistik disebut tarekat.
[16]

Kembali ke Hindia Belanda
Mengajar
Setelah lulus, ia kembali ke desanya. Ia kemudian menerima tawaran Dr. C. W. Janssen untuk
mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera
Utara.
[15][17]
Ia tiba di sana pada Desember 1919; dan mulai mengajar anak-anak itu bahasa
Melayu pada Januari 1920.
[18][19]
Selain mengajar, Tan Malaka juga menulis beberapa
propaganda subversif untuk para kuli, dikenal sebagai Deli Spoor.
[17]
Selama masa ini, dia
belajar dari kemerosotan dan keterbelakangan hidup kaum pribumi di Sumatera.
[18]
Ia juga
berhubungan dengan ISDV dan terkadang juga menulis untuk media massa.
[4]
Salah satu karya
awalnya adalah "Tanah Orang Miskin", yang menceritakan tentang perbedaan mencolok dalam
hal kekayaan antara kaum kapitalis dan pekerja, yang dimuat di Het Vrije Woord edisi Maret
1920.
[20]
Ia juga menulis mengenai penderitaan parakuli kebun teh di Sumatera Post.
[17]
Tan
Malaka menjadi calon anggota Volksraad dalam pemilihan tahun 1920, mewakili kaum kiri.
[21]

Ia memutuskan untuk mengundurkan diri pada 23 Februari 1921.
[18]

Madilog dan Gerpolek

Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan artikel ini:
Madilog
Madilog dan Gerpolek kerduanya acapkali dianggap merupakan karya penting dari Tan Malaka.
Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta
mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan
Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya
ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan,
pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata
obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.
Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau
belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu
ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan
belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan artikel ini:
Gerpolek
Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat
Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan
bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan
latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik
Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.
Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan,
kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik
dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta
benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta
perjuangannya.
Pahlawan
Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama
pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah
tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan
Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa
itu.
Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian
Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan
Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai Murba, 7
November 1948 di Yogyakarta.
Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu
kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri,
Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze,
seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal
21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.
Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau
KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak
pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen,
Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.
Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28
Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.
Tan Malaka dalam fiksi


Sampul Majalah Tempo dengan Tan Malaka
Dengan julukan Patjar Merah Indonesia, Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman
picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah,
seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dari kolonialisme
Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan
polisi rahasia internasional.
Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul
Spionnage-Dienst. Nama patjar merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul
Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang seorang pahlawan Revolusi Perancis.
Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya,
yaitu Musso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono
(Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat). Kisah-kisah fiksi ini
turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera.
[22]

Tiga buku pertama ditulis oleh Matu Mona, sementara yang keempat dan kelima ditulis oleh
Yusdja.
[23]
:
Spionnage-Dienst (1938)
[24]

Rol Patjar Merah Indonesia cs(1938)
Panggilan Tanah Air (1940)
Moetiara Berloempoer: Tiga Kali Patjar Merah Datang Membela (1940)
Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)
Bibliografi


Dari Pendjara ke Pendjara
Parlemen atau Soviet (1920)
SI Semarang dan Onderwijs (1921)
Dasar Pendidikan (1921)
Tunduk Pada Kekuasaan Tapi Tidak Tunduk Pada Kebenaran (1922)
Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) (1924)
Semangat Muda (1925)
Massa Actie (1926)
Local Actie dan National Actie (1926)
Pari dan Nasionalisten (1927)
Pari dan PKI (1927)
Pari International (1927)
Manifesto Bangkok(1927)
Aslia Bergabung (1943)
Muslihat (1945)
Rencana Ekonomi Berjuang (1945)
Politik (1945)
Manifesto Jakarta (1945)
Thesis (1946)
Pidato Purwokerto (1946)
Pidato Solo (1946)
Madilog (1948)
Islam dalam Tinjauan Madilog (1948)
Gerpolek (1948)
Pidato Kediri (1948)
Pandangan Hidup (1948)
Kuhandel di Kaliurang (1948)
Proklamasi 17-8-45 Isi dan Pelaksanaanya (1948)
Dari Pendjara ke Pendjara (1970)