Anda di halaman 1dari 31

GOOD GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN ENERGI

DAN SUMBERDAYA MINERAL


Oleh:
Tridoyo Kusumastanto
Arief Budi Purwanto
Luky Adrianto
I.

Pengantar

Era kesejagatan yang didahului oleh kesejagatan perdagangan yang selanjutnya diikuti
oleh ekonomi, politik, dan sosial budaya memaksa seluruh bangsa di dunia untuk dapat
menyesuaikan diri apabila ingin ikut berkiprah di dalam tata dunia di abad keduapuluh
satu mendatang. Isu-isu demokrasi, hak asasi manusia, lingkungan hidup,
ditegakkannya hukum dan perdagangan internasional merupakan isu yang harus
menjadi bagian yang terintegrasi didalam kegiatan berbangsa dan bernegara.
Indonesia seperti juga negara-negara berkembang lainnya, menjadikan pembangunan
sebagai sikap, perbuatan dan program untuk memakmurkan masyarakatnya. Trilogi
pembangunan menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai landasan utamanya dengan
anggapan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat mendorong pertumbuhan kegiatan
masyarakat lainnya. Kenyataannya pertumbuhan ekonomi cenderung gagal karena
tidak ditopang oleh segi-segi lain dalam pembangunan.
Berdasarkan pengalaman di masa orde baru, perlu dibedakan pertumbuhan dengan
pembangunan dengan memberi makna yang lebih luas pada pembangunan yang
mencakup segi-segi perubahan sosial, kelembagaan, budaya dan segi kemasyarakatan
lainnya. Dan ikhtiar merubah struktur masyarakat ke arah yang lebih maju menjadi
bagian yang melekat pada pembangunan.
Masyarakat dunia melalui Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro pada
tahun 1972 telah menyepakati konsep pembangunan berkelanjutan sebagai acuan
pembangunan negara dan bangsa di bumi ini.
Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah pembangunan yang
memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang
untuk memenuhi kebutuhannya. Didalamnya terkandung dua gagasan penting.
- gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan esensial manusia yang harus diberi
prioritas utama, dan
- gagasan keterbatasan yang bersumber pada kondisi teknologi dan organisasi sosial
terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan masa
depan.
Dalam pengertian yang sangat luas, strategi pembangunan berkelanjutan bermaksud
mengembangkan keselarasan antar umat manusia, serta antara manusia dan alam.
Pencapaian pembangunan berkelanjutan mensyaratkan hal-hal sebagai berikut;
- Suatu sistem politik yang menjamin partisipasi efektif masyarakat dalam
pengambilan keputusan.
- Suatu sistem ekonomi yang mampu menghasilkan surplus serta pengetahuan teknis
berdasarkan kemampuan sendiri dan bersifat berkelanjutan.

Suatu sistem sosial yang memberi penyelesaian bagi ketegangan-ketegangan yang


muncul akibat pembangunan yang tidak selaras.
Suatu sistem produksi yang menghormati kewajiban untuk melestarikan ekologi bagi
pembangunan.
Suatu sistem teknologi yang dapat menemukan terus menerus jawaban-jawaban
baru.
Suatu sistem internasional yang membantu perkembangan pola-pola perdagangan
dan keuangan yang berkelanjutan dan
Suatu sistem administrasi yang luwes dan mempunyai kemampuan memperbaiki
diri.

Menyadari bahwa fungsi sumber daya alam mineral sebagai sumber daya alam yang
tidak terbaharui, masih memegang peranan penting didalam pembangunan nasional di
masa mendatang, maka perlu dikembangkan visi, misi kebijaksanaan, strategi dan
program-program pembangunan energi dan sumberdaya mineral yang berlandaskan
paradigma dan konsep pembangunan berkelanjutan dalam mewujudkan masyarakat
yang adil dan makmur.
Sehingga pengelolaan energi dan sumberdaya mineral yang berwawasan
kemasyarakatan dan lingkungan hidup didasarkan pada empat faktor mendasar yaitu;
-

pemerataan dan keadilan


pemanfaatan sumber daya alam dalam hal ini energi dan sumber daya mineral untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat merupakan dasar kebijaksanaan
pembangunan energi dan sumberdaya mineral yang berwawasan kemasyarakatan
dan lingkungan hidup. Konsep kemitraan dan eksistensi yang bersinergi antara
kegiatan pertambangan tradisional, skala kecil menengah dan skala besar perlu
dikembangkan, sehingga memberikan kepastian kepada masyarakat, dunia usaha
dan pemerintah tentang arah, lingkup ruang gerak dan tingkat keleluasaan didalam
pelaksanaan pembanguann energi dan sumberdaya mineral yang berwawasan
kemasyarakatan dan lingkungan hidup.

pendekatan integratif
pelaksanaan pembangunan energi dan sumberdaya mineral harus dilaksanakan
melalui pendekatan kewilayahan yang terintegrasi, dengan memperhatikan daya
dukung sosial, dan keberlanjutan fungsi-fungsi lingkungan hidup, keterpaduan
seluruh sektor dalam pemanfaatan segenap potensi kekayaan alam dan sumber
daya manusia, optimasi dari seluruh potensi dari pemanfaatan seluruh potensi yang
dimiliki secara merata dan keberkeadilan dengan menerapkan atas konservasi
sumber daya alam serta efisiensi dalam pengusahaannya.

wawasan jangka panjang


sumber daya mineral adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui oleh
karena itu eksploitasinya perlu dilaksanakan dengan asas efisiensi yang
berlandaskan pada pencapaian nilai tambah yang maksimal. Pemanfaatan sumber
daya alam mineral juga harus didasarkan kepada wawasan keberlanjutan sehingga
apabila sumber daya alam habis dieksploitasi tidak menimbulkan biaya sosial bagi
generasi masa depan. Kegiatan pasca tambang harus dikembangkan berdasarkan
dimensi ruang dan waktu sehingga reklasifikasi dari kegiatan pemanfaatan energi
dan sumberdaya mineral menjadi kegiatan lainnya (industri, pertanian, pariwisata,
dll) dapat dikembangkan secara simultan.

menghargai keanekaragaman
Indonesia sebagai negara dan bangsa yang pluralistis, harus dapat menghargai
keanekaragamannya dan menjadikan basis pembangunan energi dan sumberdaya
mineral karena keberhasilannya sangat ditentukan oleh kondisi sosial budaya
ekonomi dan ekologi sekitar wilayah kegiatan.

Untuk dapat melaksanakan pembangunan energi dan sumberdaya mineral yang


berwawasan kemasyarakatan dan lingkungan hidup diperlukan keikutsertaan segenap
pelakunya (stakeholder) dalam suatu kemitraan yang sinergis.
Kemitraan yang sinergis dapat dilaksanakan berdasarkan hal-hal dibawah ini;
- segenap pelaku pembangunan mempunyai visi dan persepsi yang sama tentang
makna pembangunan energi dan sumberdaya mineral.
- segenap pelaku pembangunan mengetahui peran dan posisinya serta peran dan
posisi mitranya.
- menghargai posisi mitranya dan berpikir positif serta mendukung tugas dan fungsi
mitranya.
- setiap pelaku memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi yang
diciptakan demi kepentingan bersama dalam kerangka pencapaian tujuan.
- dalam menjalankan tugasnya dan fungsinya setiap pelaku harus berpegang pada
etika sosial, etos kerja dan profesionalime.
II. Permasalahan Energi dan Sumberdaya Mineral

II.1. Energi
Secara umum terjadinya peningkatan kebutuhan energi mempunyai keterkaitan erat
dengan kian berkembang kegiatan ekonomi dan kian bertambah jumlah penduduk. Di
Indonesia, dengan jumlah penduduk mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan
pertumbuhan ekonomi terus berlangsung yang ditunjukkan oleh kian bertambah output
serta beragam aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat, maka peningkatan
kebutuhan energi adalah suatu hal yang tak bisa dihindari. Berdasarkan pemaparan
Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi dalam diskusi di Pusat Penelitian Ekonomi-LIPI
pada tahun 2004, dinyatakan bahwa pada tahun 1970, konsumsi energi primer hanya
sebesar 50 juta SBM (Setara Barel Minyak). Tiga puluh satu tahun kemudian, tepatnya
tahun 2001 konsumsi energi primer telah menjadi 715 juta SBM atau mengalami
pertumbuhan yang luar biasa yaitu sebesar 1330% atau pertumbuhan rata-rata periode
1970-2001 sebesar 42.9%/tahun.
Di tengah cadangan energi yang kian menipis, khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM),
maka jelas keadaan ini sangat mengkhawatirkan. Dalam situasi seperti ini, maka
memahami pola konsumsi energi yang dilakukan oleh masyarakat adalah suatu
keharusan dan menjadi hal penting bagi pemerintah sebagai regulator dan pengendali
kebijakan dalam perekonomian khususnya dalam membuat kebijakan dan aturan-aturan
di bidang energi. Selain itu, juga bagi masyarakat sebagai konsumen untuk turut serta
dalam upaya menghemat dan mendiversifikasi pemakaian energi.
Konsumsi BBM, Batu Bara dan Gas Bumi
BBM masih merupakan energi utama yang dikonsumsi oleh masyarakat. Persentase
konsumsinya terhadap total pemakaian energi final merupakan yang terbesar dan terus

mengalami peningkatan. Pada tahun 1990 konsumsi BBM sebesar 169.168 ribu SBM,
angka ini adalah 40.2 % dari total konsumsi energi final. Sepuluh tahun kemudian, pada
tahun 2000, konsumsinya meningkat menjadi 304.142 ribu SBM, dimana proporsi
konsumsinya pun turut meningkat menjadi 47.4 %. Proporsi pemakaian BBM yang tinggi
terkait dengan keterlambatan upaya diversifikasi ke energi non minyak akibat harga
BBM yang relatif murah karena masih mendapat subsidi dari pemerintah [6]. Kebijakan
pemberian subsidi BBM ini dimulai sejak tahun anggaran 1977/1978 dengan maksud
untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional melalui penciptaan stabilitas harga
BBM sebagai komoditas yang strategis. Namun dalam perjalanannya subsidi BBM ini
ternyata menimbulkan masalah tersendiri. Masyarakat cenderung boros menggunakan
BBM dan ada indikasi bahwa alokasi subsidi BBM lebih banyak dinikmati oleh kelompok
masyarakat berpenghasilan tinggi yang seharusnya tidak perlu mendapatkan subsidi.
Dilihat dari sisi pemakai BBM, sektor transportasi merupakan pemakai BBM terbesar
dengan proporsi setiap tahun selalu mengalami kenaikan. Kemudian di susul oleh sektor
rumah tangga, sektor industri dan pembangkit listrik. Sedangkan, jika dilihat
ketersediaannya, selama ini kebutuhan BBM dipasok oleh Pertamina dan impor.
Beberapa jenis energi BBM yang sebagian penyediaannya melalui impor adalah avtur,
minyak tanah, minyak solar, minyak diesel, dan minyak bakar.
Tabel 1. Pangsa Konsumsi BBM Persektor Tahun 1994-2003
Tahun

Industri(%)

Rumah Tangga &


Transportasi(%)
Komersial (%)

Pembangkit
Listrik(%)

1994

23.2

21.6

45.8

9.4

1997

21.1

19.0

47.9

12.0

1998

21.5

20.7

48.8

9.0

2000

21.7

22.2

47.1

9.0

2003

24.0

18.2

47.0

10.7*

Sumber: Ditjen Migas. diolah.


*Termasuk sektor lain-lain
Satu hal yang mengkhawatirkan adalah bahwa ada kecenderungan impor BBM kian
meningkat. maka bukan tidak mungkin suatu saat Indonesia akan mengimpor
sepenuhnya kebutuhan BBM bila upaya mendiversifikasi pemakaian energi non BBM
tidak dilakukan secara serius. Pada tahun 1992 pemakaian BBM sebagai energi final
sebesar 201.577 ribu SBM. ternyata kilang dalam negeri hanya mampu memasok
sekitar 167.944 ribu SBM. sehingga harus mengimpor sekitar 33.633 ribu SBM atau bila
dirata-ratakan setiap harinya harus mengoimpor BBM sebanyak 92.145 SBM. Angka
impor BBM ini terus meningkat hingga mencapai 107.935 ribu SBM pada tahun 2003
atau sekitar 32.75 % dari total konsumsi BBM dalam negeri.
Pada tahun 1993. pemakaian batubara mulai diperkenalkan untuk konsumsi rumah
tangga dan industri kecil yaitu dalam bentuk briket batubara. Namun perkembangannya
kurang begitu menggembirakan. Banyak faktor yang menyebabkan batu bara kurang
diminati oleh masyarakat walaupun harganya relatif murah. Menurut Widjajono
Partowidagdo, 2004, menyatakan bahwa ada tiga hal yang menyebabkan masyarakat

kurang tertarik menggunakan energi alternatif (termasuk batubara) yaitu: Pertama


adalah masalah kebiasaan. sudah sejak lama masyarakat terbiasa menggunakan
minyak dan sulit untuk mengubah kebiasaan ini secara drastis. butuh waktu yang lama.
Kedua adalah masalah kepraktisan. menggunakan minyak lebih praktis dibandingkan
dengan bricket batu bara atau mungkin energi altrnatif lainnya. Ketiga adalah
ketersediaan energi alternatif (briket batubara dll) di pasar tidak terjamin secara
berkesinambungan.
Selama ini kebutuhan batubara dipasok dari industri batubara dalam negeri dan
batubara impor. Secara kuantitas. Indonesia dapat memenuhi kebutuhan batubara dari
sumber domestik. Kapasitas produksi dan ketersediaan batubara dalam negeri cukup
melimpah. cadangannya diperkirakan 36.3 milyar ton. Namun 50-85 %nya berkualitas
rendah. Selanjutnya. untuk mendapatkan hasil olahan batubara yang bagus. maka perlu
ada campuran dengan batubara berkualitas tinggi yang diimpor dari beberapa negara.
Pada tahun 1990. impor batubara sekitar 2.930 ribu SBM atau 31.1% dari total konsumsi
batubara nasional. Secara perlahan impor batubara ini terus mengalami penurunan. dan
pada tahun 2000 berkisar 661 ribu SBM atau 3% dari tingkat konsumsi batubara
nasional. Penurunan impor batubara ini terjadi seiring dengan kemampuan industri
batubara dalam negeri untuk mengolah batubara yang cukup berkualitas sesuai dengan
permintaan pasar.
Konsumsi gas bumi selama tahun 1990-2000 pertumbuhannya rata-rata sekitar 4.7 %
pertahun. Hingga tahun 2000. tingkat konsumsinya hanya sebesar 5.8 %. Selama ini
pemanfaatan gas bumi lebih banyak digunakan oleh sektor industri untuk keperluan
bahan bakar dalam berproduksi. Pada tahun 2000. sektor industri memanfaatkan sekitar
99 % dari total konsumsi gas bumi dalam negeri. Sementara sektor rumah tangga.
komersial. listrik dan transportasi hanya sedikit saja menggunakan energi ini.
Gas bumi merupakan energi alternatif yang potensial untuk dikembangkan sebagai
energi pengganti minyak bumi. Gas bumi ini terdiri dari gas alam dan gas kota. Total
cadangannya sekitar 170 TSCF(Trillion Standard Cubic Feet). sementara hingga saat
ini yang terbukti sebesar 95 TSCF. Dengan asumsi produksinya konstan seperti saat ini
sebesar 2.9 TSCF dan tidak ditemukan cadangan baru. maka jumlah ini cukup untuk 30
tahun ke depan.
Belum optimal pemanfaatan gas bumi selama ini lebih disebabkan oleh kurang didukung
sarana di bidang ini. Sebagai contoh. di Palembang. Sumatra Selatan. gas bumi dalam
bentuk gas kota banyak diminati oleh masyarakat. namun karena keterbatasan sarana
(pipa penyalur gas). hanya sebagian kecil saja masyarakat yang dapat terlayani.
Konsumsi Energi Berdasarkan Sektor Pemakai
Konsumsi energi sektor rumah tangga adalah seluruh konsumsi energi untuk keperluan
rumah tangga tidak termasuk konsumsi untuk kendaraan pribadi. Konsumsi energi untuk
kendaraan pribadi dimasukkan ke dalam kelompok penggunaan oleh sektor
transportasi.
Berdasarkan data pangsa pemakaian energi final walaupun tidak melakukan aktivitas
produksi yang bersifat komersial, sektor rumah tangga merupakan sektor pemakai
energi final terbesar diantara sektor lainnya. Pada tahun 1990, sektor rumah tangga
mengkonsumsi 56.5 % dari total energi final. Memasuki tahun 1995. proporsi
pemakaiannya mulai menurun menjadi 49.5% dan kecenderungan penurunan ini terus
berlangsung, bahkan pada tahun 2000 tingkat pemakaian energi final oleh rumah
tangga menjadi 46.3 %. Kian menurun pangsa pemakaian energi final di sektor rumah

tangga ini bukan dikarenakan penurunan pemakaian energi di rumah tangga. namun
lebih disebabkan oleh terjadi pertumbuhan sektor industri dan transportasi yang pesat
sehingga menyebabkan besaran konsumsi energi final menjadi bertambah besar.
Di kawasan ASEAN pun. pemakaian energi oleh rumah tangga Indonesia merupakan
yang terbanyak bila dibandingkan dengan negara anggota ASEAN lainnya. Berdasarkan
data ASEAN Energy Review, pada tahun 1993 rumah tangga dan sektor komersial
Indonesia mengkonsumsi energi sebesar 52 % dari konsumsi energi total yang
dikonsumsi oleh rumah tangga dan sektor komersial di ASEAN. Sementara konsumsi
energi negara lainnya seperti Thailand sebesar 20.9%, Malaysia 11. 2 %, Philipina
10.6%, Singapura 4.7%, dan Brunei hanya 0.8%.
Berdasarkan jenis energi yang digunakan tercatat bahwa minyak tanah merupakan jenis
energi terbesar kedua yang mereka konsumsi setelah kayu bakar. Pangsa konsumsi
minyak tanah dari total energi final yang dikonsumsi oleh rumah tangga selama tahun
1990-2000 berkisar antara 16 -18 %.
Selain minyak tanah. energi lain yang dikonsumsi oleh rumah tangga adalah briket.
LPG. gas kota. listrik. arang dan kayu bakar. Pangsa konsumsi sektor rumah tangga
untuk energi alternatif (non minyak) ini mencapai kurang lebih 82% dari total energi final
yang dikonsumsi oleh rumah tangga.
Pola konsumsi untuk energi non minyak di sektor rumah tangga lebih terkonsentrasi
pada penggunaan kayu bakar. Sementara batu bara yang sudah diperkenalkan untuk
konsumsi rumah tangga pada tahun 1993 ternyata tingkat penggunaan masih sangat
kecil. Hingga tahun 2000 hanya memilki tingkat penggunaan sebesar 0.03%. Dilihat dari
pertumbuhan pun ada kecenderungan kian menurun. Sama halnya dengan batu bara.
konsumsi LPG dan gas kota juga tingkat penggunaannya masih relatif kecil. Pada tahun
1990. tingkat penggunaan LPG oleh rumah tangga hanya 0.8 %. sementara gas kota
hanya 0.02%. Empat tahun berturut-turut proporsi penggunaan LPG tidak mengalami
perubahan hanya sebesar 0.8 %. Hal yang sama terjadi pada proporsi penggunaan gas
kota. selama delapan tahun berturut-turut tetap tidak ada perubahan hanya sebesar
0.02%.
Beberapa faktor yang menyebabkan pola konsumsi di sektor rumah tangga lebih
terkonsentrasi pada penggunaan minyak tanah dan kayu bakar. yaitu: pertama, faktor
harga. Minyak tanah merupakan energi dengan harga relatif lebih murah dibandingkan
dengan energi lain yang digunakan untuk keperluan yang sama. Kedua, faktor
pendapatan. Sebagian besar rumah tangga di Indonesia merupakan kategori kelompok
rumah tangga dengan pendapatan rendah dan menengah. Pada kelompok rumah
tangga seperti ini. energi (bahan bakar) yang terjangkau dan umum digunakan adalah
minyak tanah dan kayu bakar. Ketiga, alasan kepraktisan. Keempat, kurangnya
sosialisasi pemanfaatan energi non minyak. Program pemanfaatan diversifikasi energi
yang dicanangkan oleh pemerintah ternyata belum banyak diketahui oleh masyarakat
luas. Hingga saat ini belum banyak masyarakat tahu briket batubara dan cara
menggunakannya untuk keperluan rumah tangga.
BBM merupakan energi dominan yang digunakan untuk aktivitas produksi oleh sektor
industri. Selama tahun 1990-2000 tingkat konsumsi BBM sektor industri terhadap total
konsumsi BBM dalam negeri rata-rata sebesar 21.8% setiap tahunnya.
Konsumsi BBM oleh sektor industri senantiasa mengalami kenaikan. Peningkatan
terbesar terutama terjadi pada jenis minyak solar. minyak bakar dan minyak tanah.
Namun memasuki tahun 1998 konsumsi BBM sektor industri mengalami penurunan

sebesar 4.3%. Hal ini berlanjut hingga tahun 1999 dimana konsumsinya turun sebesar
6.2%. Terjadinya penurunan ini merupakan efek dari krisis ekonomi yang mulai melanda
pada pertengahan tahun 1997. Sejak krisis ekonomi, banyak industri yang
menghentikan produksinya, sementara yang lain walaupun tetap berproduksi namun
dengan kapasitas yang lebih rendah dari sebelumnya. Kejadian seperti ini banyak terjadi
pada industri makanan dan minuman, industri tekstil, pakaian jadi, industri kulit, dan
barang dari kulit. Memasuki tahun 2000 konsumsi BBM di sektor industri kembali
meningkat, bahkan pertumbuhan nya terbilang tinggi yaitu 23.5 %.
Dalam lingkup mikro perlu diwaspadai bahwa peningkatan pemakaian energi di sektor
industri dalam beberapa tahun terakhir bukan hanya terjadi karena proses transformasi
struktural yang cepat dari pertanian ke industri saja. Namun lebih jauh dari itu diduga
karena terjadi pemborosan pemakaian energi di sektor ini. Krisis moneter pada
pertengahan tahun 1997 telah membuat kurs rupiah terdepresiasi sangat tajam.
Keadaan ini sangat memukul industri dalam negeri yang selama ini masih memiliki
ketergantungan yang besar terhadap mesin-mesin produksi impor, sehingga banyak
diantara mereka yang tak mampu untuk meng-upgrade mesin-mesin produksinya.
Sehingga banyak yang beroperasi hanya mengandalkan mesin-mesin tua yang tentu
saja sangat boros bahan bakar. Indikasi ini bisa dilihat dari nilai intensitas energi pada
tahun 1997 yaitu 4.196, nilai ini mengalami lonjakan yang cukup besar dari tahun 1996
yang hanya 2.637. Intensitas energi yang kian besar berarti bahwa pemakaian energi
kian tidak efisien. Bila dilihat hubungan nilai tambah sektor industri dengan pemakaian
energi, ternyata sebelum dan sesudah krisis ekonomi mengalami perubahan. Pada
masa sebelum krisis ekonomi. pertumbuhan nilai tambah lebih besar dari pertumbuhan
pemakaian energi. Namun semenjak tahun 1998, yang terjadi sebaliknya, pertumbuhan
pemakaian energi lebih besar dari pertumbuhan nilai tambahnya. Hal ini khusus terjadi
pada industri makanan, industri tekstil, industri kertas, dan industri kimia.
Selain itu ada dugaan bahwa pemakaian energi di sektor industri lebih besar dari data
yang disajikan oleh departemen energi dan sumber daya mineral. Selama ini konsumsi
energi di sektor industri khususnya untuk BBM dicatat dengan pendekatan dari sisi
supply yaitu berdasarkan pasokan langsung dari Pertamina. Padahal kalau kita
menyimak berita di media massa. ternyata selama ini banyak penyelewengan
penggunaan BBM oleh sektor industri yaitu berupa pengalihan jatah BBM rumah tangga
ke sektor industri. Hal ini terjadi karena adanya disparitas harga yang cukup besar.
dimana BBM untuk sektor industri sudah tidak mendapat subsidi lagi dari pemerintah.
Jadi sebenarnya intensitas energi di sektor industri yang menunjukkan tingkat efisiensi
pemakaian energi akan lebih besar dari angka yang ada.
Energi alternatif (non minyak) yang digunakan oleh sektor industri meliputi batu bara,
LPG gas, dan kayu bakar. Rata-rata tingkat pemakaian energi non minyak terhadap total
energi final yang dikonsumsi di sektor industri dalam periode tahun 1990-2000 sekitar
47%/tahun. Tabel 2 di bawah memperlihatkan bahwa pertumbuhan konsumsi batubara
di sektor industri cukup tinggi dan terus meningkat. Pertumbuhan yang negatif pada
tahun 1996 lebih disebabkan oleh terjadinya kenaikan harga batubara untuk beberapa
industri yang menggunakan bahan bakar batubara cukup besar. Pada tahun 1999 juga
terjadi kenaikan harga batubara untuk beberapa industri dan lebih luas dari tahun 1996.
namun juga terjadi penurunan harga untuk sebagian industri lainnya. maka penurunan
pemakaian batubara tidak terlalu tajam sebesar 5.3 %.
Selanjutnya. konsumsi LPG dan gas di sektor industri selama tahun 1990-2000 juga
mengalami peningkatan yang cukup besar. Rata-rata pertumbuhan pemakaian LPG dan
gas masing-masing sebesar 11.8 % dan 4.7 % pertahun dalam periode tersebut. Krisis

ekonomi yang dimulai pertengahan tahun 1997 telah membuat collapse beberapa
industri. sehingga permintaan energi pada tahun 1998 mengalami penurunan termasuk
LPG dan gas (kecuali batubara tetap meningkat). Pertumbuhan pemakaian LPG yang
negatif pada tahun 1998 juga terjadi karena kenaikan harga LPG untuk sektor industri
sebesar 50 %, yaitu dari Rp 1000 per kg menjadi 1500 per kg.
Sektor transportasi merupakan sektor terbesar pengguna Bahan Bakar Minyak diantara
sektor-sektor lain. Pada tahun 1990. tingkat pemakaian BBM terhadap pemakaian BBM
total dalam negeri sebesar 41.3 %. Angka ini terus mengalami peningkatan hingga pada
tahun 2000 sudah mencapai 47.1 %. Menurut studi yang pernah dilakukan oleh
Departemen Perhubungan, subsektor perhubungan darat mengkonsumsi sekitar 80 %
dari seluruh BBM yang dikonsumsi oleh sektor perhubungan. Sementara sektor
perhubungan udara, perhubungan laut, dan ASDP memakai sarana dengan standar
internasional, sehingga konsumsi di sub sektor ini sudah dianggap mencapai efisiensi
yang wajar.
Peningkatan pemakaian BBM di sektor ini berkaitan erat dengan pertumbuhan jumlah
kendaraan. Lebih jauh dari itu Abdulkadir [1] menyebutkan bahwa efisiensi dalam
pemakaian BBM di sektor transportasi sangat tergantung pada hal-hal sebagai berikut:
(1) pengaturan dan disiplin lalu lintas yang baik, (2) kondisi teknis mesin dan peralatan
kendaraan sebagai fungsi pemeliharaan dan penggantian suku cadang yang tepat, (3)
cara dan teknik mengemudi, (4) kondisi dan lebar jalan yang menentukan kecepatan
rata-rata kendaraan, (5) banyaknya konstruksi atau cegatan jalanan untuk pelbagai
maksud, dan (6) kepadatan lalu lintas yang berlebih-lebihan.
Penggunaan energi alternatif di sektor transportasi sudah dirintis sejak 3 Januari 1986.
yaitu dengan memanfaatkan Bahan Bakar Gas (BBG) sebagai pengganti bensin atau
solar. Program ini belumlah dilaksanakan secara nasional, tapi masih dalam bentuk
"Pilot Project" yang khusus digunakan pada taksi dan mikrolet di DKI Jakarta. Selain
BBG, pada bulan Agustus 1995 ditetapkan juga pemanfaatan LPG untuk sektor
transportasi. Dilihat dari sisi harga. bahan bakar gas ini relatif lebih murah sekitar Rp
450 per LSP (Liter Setara Premium). Dilihat dari kegunaan BBG lebih irit daripada
premium. Bila diasumsikan bahwa satu LSP BBG memberikan manfaat yang sama
dengan satu liter premium, maka ada selisih harga sekitar Rp 4.050 perliter, karena saat
ini premium dijual dengan harga sekitar Rp 4.500 perliter Bisa kita bayangkan berapa
besar penghematan pemakaian bahan bakar di sektor transportasi jika upaya
diversifikasi pemakaian BBG ini berjalan sukses.
Namun selama ini yang menjadi masalah adalah peralatan pendukung yang relatif
mahal dan juga keamanan belum sepenuhnya terjamin. Disamping itu, ketersediaan
stasiun BBG juga masih terbatas. Belum lagi proses pengisian yang butuh waktu lama.
Hal ini merupakan beberapa penyebab mengapa pemakai BBG dan LPG di sektor
transportasi masih sedikit.
II.2 Sumberdaya Mineral
Adalah tidak bisa dipungkiri bahwa jasa pertambangan sumberdaya mineral bagi
pembangunan sangat signifikan. Industri pertambangan membuka lapangan kerja,
membangun prasarana jalan dan sentra kegiatan ekonomi di daerah terpencil. Industri
ini memperkenalkan teknologi, melatih tenaga terampil, dan memasukkan pola
manajemen modern.
DI tahun 60-an, kita berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi, banyak negara masih
trauma dengan tindak sepihak kita menunggak pembayaran utang publik. Kebanyakan

investor dunia masih bersikap "menanti dan melihat". Di tengah kegalauan iklim
investasi ini, modal asing pertama yang menerobos masuk dalam jumlah besar dirintis
oleh industri pertambangan. Kemudian disusul investor minyak dan gas bumi yang
memacu industri pertambangan melaju cepat.
Lambat laun, berbagai forum internasional memperhitungkan kehadiran Indonesia di
pentas pertambangan dan memercayakan kita memimpin Organization of the Petroleum
Exporting Countries dari kantor pusatnya di Wina, Austria. Yang paling mengesankan
adalah jasa sektor pertambangan menghasilkan devisa ekspor dan pendapatan negara
yang amat berarti membiayai Rencana Pembangunan Lima Tahun selama puluhan
tahun mendorong Indonesia beranjak dari kelompok "negara berpendapatan rendah"
menjadi "negara berpendapatan menengah" di tahun 90-an.
Industri pertambangan minyak kini mencapai usia 170 tahun dan banyak pertambangan
metal lainnya melewati usia 25 tahun. Tuntutan pembangunan abad ke-21 telah
berubah. Pembangunan ekonomi saja tidak cukup, dampak ekonomi pada kehidupan
sosial dan lingkungan perlu diperhitungkan. Terutama di pertambangan. Pertambangan
mengelola sumber daya alam yang "tidak diperbarui" sehingga menyusut dalam
pengelolaannya. Sesudah dieksploitasi selama puluhan tahun maka habis menyusut
dan produksi berkurang pada sumur minyak Rumbai daerah Riau, sumur minyak
Prabumulih daerah Sumatera Selatan, timah daerah Bangka, batu bara Sawahlunto
daerah Sumatera Barat, emas Buyat daerah Sulawesi Utara, dan lain-lain. Pola
penambangan yang menyusutkan sumber alam tambang telah merenggut kekayaan
alam warisan generasi mendatang untuk disubstitusi dengan lubang bekas galian
tambang yang ternganga.
Penambangan perlu membabat hutan lebat untuk eksplorasi dan kemudian diratakan
untuk keperluan eksploitasi membuka jalan dan lahan permukiman pekerja. Tanah
galian yang tidak terpakai ditimbun, dibuang ke sungai atau ke laut. Profil lanskap alami
berubah total, gunung diratakan, alur sungai dam garis pantai diubah.
Bahan kimia beracun dan berbahaya yang dipakai dalam proses penambangan selama
puluhan tahun dalam alam berhujan tropis basah meninggalkan sisa-sisa limbah hanyut
ke dalam air tanah, air sungai, dan laut.
Beberapa tahun terakhir juga terjadi fenomena kegiatan di lokasi penambangan di
pulau-pulau kecil. Penambangan di Pulau Nauru di Samudra Pasifik selama puluhan
tahun semula memungkinkan penduduk setempat hidup mewah menikmati hasil royalti
pertambangan. Namun, setelah bahan tambang habis, penduduk jatuh miskin kembali.
Kegiatan pertambangan acap kali mengabaikan masyarakat adat dan tidak
melibatkannya ikut bekerja karena mereka dianggap tidak punya keterampilan, keahlian,
dan kemampuan kerja tambang. Selama berlangsung penambangan, tumbuh kota
permukiman dalam kantong enclave di tengah hutan belantara. Tumbuh pula sistem
"kawin kontrak", hidup dalam perkawinan selama sang pekerja bertugas kontrak di
pedalaman. Tidak ada hak asasi manusia, tidak pula hak perempuan di belantara.
Banyak daerah tidak mengakui hak ulayat masyarakat adat atas tanah karena tanah
hutan dianggap milik negara. Masyarakat adat sulit menerima keadaan ini sehingga
potensi konflik membara dalam hati, dan perusahaan pertambangan terjepit. Kondisi
seperti ini praktis terdapat di semua negara pertambangan, termasuk Amerika Serikat
dan Australia yang kini masih bergelut dengan masalah penduduk aslinya. Maka, bagi
banyak masyarakat adat lokal berlaku ungkapan, "pertambangan lebih banyak bawa
derita ketimbang sejahtera".

Dampak negatif pembangunan ekonomi pada kehidupan sosial dan lingkungan ini
tumbuh akibat gagalnya mekanisme pasar menangkap isyarat kehidupan sosial dan
lingkungan. "Pasar" adalah mekanisme ekonomi yang merekam "kebutuhan" konsumen
untuk diladeni produsen. "Harga" terbentuk dalam pasar dan mencerminkan
seimbangnya "permintaan" dengan "pengadaan". Tidak semua "kebutuhan" manusia
bisa direkam pasar. Kebutuhan akan jasa sosial seperti kesehatan, pendidikan,
penghayatan agama, budaya, nilai keakraban sosial, semangat kohesi sosial tidak
ditangkap pasar sehingga tidak punya "harga" dan karena itu tidak "diproduksi".
Begitu pula kebutuhan manusia akan air bersih, udara segar, iklim nyaman, hutan, curah
hujan, dan berbagai hasil keluaran ekosistem, tidak tertangkap oleh "pasar". Dengan
demikian, pembangunan yang mengandalkan pasar mempertemukan konsumen
dengan produsen hanya berhasil di bidang ekonomi, tetapi gagal di bidang sosial dan
lingkungan.
Untuk mengoreksi kegagalan pasar ini, pemerintah perlu campur tangan. Karena
sumber alam pertambangan bersifat "tidak diperbarui", keberlanjutan pembangunan
terhambat oleh tersusut habis sumber alam pertambangan. Maka, hasil pendapatan
pertambangan harus digunakan untuk diversifikasi kegiatan ekonomi yang bertumpu
pada sumber alam yang diperbarui. Kalau bahan tambang habis tersusut, sudah
tersedia "mesin-mesin penggerak pembangunan" lain berbasis "sumber alam yang
diperbarui", seperti pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, dan pengembangan
sumber daya manusia. Sangatlah penting menempatkan sektor pertambangan sejajar
dengan sektor-sektor ekonomi lainnya dalam perencanaan tata ruang untuk
memberlanjutkan fungsi ekosistem menopang kehidupan alami. Sehingga, fungsi hutan
lindung, daerah aliran sungai, kondisi morfologi tanah, potensi pemanfaatan lahan,
kondisi iklim serta lingkungan sosial budaya masyarakat setempat masuk dalam
perhitungan pengembangan pertambangan.
Campur tangan pemerintah mengoreksi pasar juga perlu untuk mengurangi pencemaran
oleh industri pertambangan dengan memperhitungkan biaya pencemaran dalam biaya
pertambangan. "Analisis mengenai dampak lingkungan" dan pembatasan pencemaran
di bawah baku mutu lingkungan sangat mengurangi pencemaran industri pertambangan.
Imperfeksi pasar juga mendesak perlunya pola perencanaan pembangunan "dari
bawah" melibatkan terutama masyarakat lokal yang paling banyak menderita dampak
negatif industri pertambangan. Konsultasi dengan masyarakat adat lokal perlu menjamin
kelangsungan hidup mereka, hak perempuan dan hak asasi manusia. Dan kesempatan
berkembang sepenuhnya diberikan kepada kelompok masyarakat madani.
Peran pemerintah amat besar dalam mengoreksi pasar. Namun, di sini pula terletak
faktor risiko yang besar bahwa pemerintah bisa pula menimbulkan masalah baru.
Pengalaman negara berkembang dengan usaha penambangan besar, termasuk
Indonesia, membuktikan, pendapatan besar yang diperoleh sektor ini sekaligus
menggoda dan mendorong tindak korupsi besar di kalangan pemerintah. Karena itu,
pengembangan good governance, pemerintahan yang bersih dari KKN, adalah syarat
mutlak dalam mengembangkan pertambangan untuk menjamin tersalurnya dana
memberantas kemiskinan. Orientasi pemerintah haruslah gamblang dan selalu berpihak
kepada si miskin.
Pengembangan pertambangan juga memerlukan komitmen pemimpin perusahaan untuk
langsung mengembangkan "tanggung jawab sosial korporat", dan secara aktif
menyeimbangkan pengembangan sosial, kelestarian lingkungan, dan perkembangan
ekonominya sebagai tiga serangkai landasan usaha. Semula orientasi kerja para

pemimpin perusahaan adalah "untuk kepentingan para shareholders" untuk kemudian


bergeser menjadi "untuk kepentingan para stakeholders". Dalam abad ke-21 ini pun
harus diubah menjadi "untuk kepentingan penggalangan kemitraan". Menggalang
kemitraan dengan sesama pengusaha, pemerintah, dan kelompok masyarakat madani.
Harian Sinar Harapan, 20 November 2006

Konflik Pertambangan Perlu Penyelesaian Satu Atap


Oleh
Sulung Prasetyo
JAKARTAMasalah di area pertambangan yang terjadi hingga kini disimpulkan karena
masih kurangnya fungsi kontrol dari pemerintah dan adanya kesalahan paradigma dari
perusahaan. Lalu mungkinkah kebijakan satu atap bisa menyelesaikan problem ini?
Kalau dihitung-hitung, mungkin sudah berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus masalah timbul
di dunia pertambangan. Mulai dari kemiskinan yang tak kunjung usai di area sekitar
pertambangan, hingga rusaknya lingkungan.
Kalau dirunut-runut, masalah pertambangan ini juga seperti tak pernah beranjak menuju
perbaikan. Buku Tambang dan Kemiskinan: Kasus-Kasus Pertambangan di Indonesia 20012003 yang dikeluarkan LSM Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) baru-baru ini bahkan
mengungkapkan persoalan penyelesaian pertambangan di negeri ini seperti berjalan di
tempat saja. Para pemodal tetap didahulukan, sementara amanat UUD 45 melalui Pasal 33
Ayat 1, untuk mendahulukan rakyat sebagai objek utama kekayaan negara cenderung
dikesampingkan.
Seharusnya beberapa kasus terakhir bencana pertambangan kalau dilihat dari kacamata
fungsi manajemen bisa saja dihindari, seperti kasus lumpur panas di Porong Sidoarjo, Jawa
Timur. Kesalahan pengambilan keputusan untuk tetap mengebor, sementara fasilitas
kurang memadai, seharusnya bisa dihindari bila fungsi kontrol dari pemerintah terbukti ada.
Namun pada kenyataannya, BP Migas yang selama ini dijadikan induk segala pekerjaan
pertambangan minyak dan gas di Indonesia malah tidak memiliki prasarana untuk fungsi
kontrol ini. Setahu saya BP Migas tak memiliki sarana untuk perbaikan, apalagi mengontrol
segala kemungkinan bencana yang terjadi di pertambangan, jelas Siti Maemunah, selaku
Koordinator Jatam, di Jakarta, Senin (7/8).
Lalu sebenarnya kepada siapa fungsi manajemen yang satu ini harus dilimpahkan.
Pemerintah melalui Departemen ESDM, pada kasus terakhir di Porong juga
memperlihatkan fenomena lepas tangan untuk menanganinya, padahal kalau saja fungsi
kontrol masalah pertambangan ini dapat dijalankan secara konsisten. Bukan tak mungkin
semburan lumpur bisa dihindari.
Salah Paradigma
Kalau mau diselusuri lebih ke hulu persoalan, sebenarnya masalah ini berpangkal pada
kesalahan daya pikir atau paradigma para pemangku kepentingan di bidang ini. Pemerintah
melalui kaki tangannya cenderung hanya berpikir keuntungan dengan penanaman modal
dan pembagian royalti. Sementara itu, kebutuhan yang paling krusial dari masalah ini,
seperti faktor keamanan pertambangan terhadap masyarakat dan lingkungan disekitarnya
cenderung minim.
Hal ini juga yang coba diungkapkan para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI), dalam konferensi pers mengenai simposium nasional Mencari Model Pengelolaan
Konflik di Kawasan Pertambangan yang mereka selenggarakan, Kamis (10/8) ini.

Kajian mereka dalam konflik pertambangan menyimpulkan, kalau seharusnya


perusahaan perlu melakukan perubahan paradigma, dari yang hanya berpegang
kepada kontrak, menjadi lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap masyarakat
setempat. Para stake holder dalam bidang ini, yaitu pemerintah, perusahaan, dan
masyarakat harus memiliki kompromi, ujar Dr Ir Iskandar Zulkarnain, sebagai peneliti
utama tim tambang LIPI, di kesempatan berbeda.
Satu Atap
Menurut penelitian LIPI sendiri yang telah melakukan penelitian di tiga tempat
pertambangan berbeda, yaitu di Pongkor dan Cikotok, Kalimantan Selatan, dan
Bangka-Belitung, menyimpulkan kalau masalah pertambangan yang ada saat ini terbagi
dalam dua tataran masalah.
Pada tataran makro, menurut mereka, masalah utama terjadi karena adanya benturan
kepentingan antarsektor. Hal ini menjadi semakin rumit, apabila antarsektor tersebut
berbenturan, papar Tri Nuke Pujiastuti, MA, sebagai peneliti politik LIPI menjelaskan
masalah ini.
Seperti misalnya ketika sektor lingkungan hidup dalam misinya untuk melakukan
perlindungan lingkungan, tidak hanya melakukan pengawasan, tetapi juga pengaturan
sampai kepada hal-hal yang bersifat teknis.
Semua itu terjadi karena belum adanya kebijakan nasional yang jelas mengenai
masalah ini. Jadi perlu good will dari pemerintah untuk mampu menciptakan kebijakan
satu atap untuk pengelolaan sumber daya alam, kata Nuke menjelaskan

III. Pentingnya Good Governance


Paradigma dan konsep pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan kemitraan
antara semua pelaku pembangunan energi dan sumberdaya mineral hanya dapat
dilaksanakan apabila dapat diciptakan terwujudnya good governance yang didefinisikan
sebagai pelaksanaan otorita politik, ekonomi dan administratif dalam pengelolaan
sebuah negara, termasuk didalamnya mekanisme yang kompleks serta proses yang
terkait, lembaga-lembaga yang dapat menyuarakan kepentingan baik perorangan
ataupun kelompok masyarakat dalam mendapatkan haknya dan melakukan tanggung
jawabnya, serta menyelesaikan segala perselisihan yang muncul diantara mereka.
Governance berada dalam keadaan baik apabila terdapat sinergi diantara pemerintah,
sektor swasta dan masyarakat sipil dalam pengelolaan sumber-sumber alam, sosial,
lingkungan dan ekonomi.
Aset-aset publik harus dikelola oleh pemerintah melalui cara yang transparan, efektif
dan efisien, serta mampu menjawab ketentuan dasar keadilan. Keterlibatan masyarakat
di setiap jenjang dalam proses pengambilan keputusan (terutama menyangkut alokasi
sumber daya dan dalam mendefinisikan dampak-dampak pada kelompok masyarakat
yang lebih peka), merupakan salah satu faktor yang menentukan keberadaan good
governance.
Dengan melibatkan anggota masyarakat, kegiatan pengelolaan sumber-sumber daya
alam akan menjadi semacam aktivitas pendukung pengelolaan (co-management) yang
terdiri atas suara rakyat dan tindakan-tindakan responsif pemerintah. Hal yang sama
berlaku pada aspek pemberdayaan hukum. Yang dibutuhkan adalah peraturan dan
kebijakan, dan sistem peradilan yang independen, otoritatif dan profesional.
Salah satu isu penting tentang good governance adalah perlunya dijalankan sistem
pemerintah bottom-up. Keputusan harus diambil pada tingkat yang serendah mungkin
yang diikuti dengan pengambilan tindakan yang efektif. Pemerintahan desentralisasi
dapat dibuat lebih fleksibel dan pengaturan dana secara lebih baik yang dapat

mengakomodasikan keragaman kebutuhan pembangunan setempat sesuai dengan


daya dukung dan kondisi lingkungannya. Sistem desentralisasi diharapkan memberikan
kesempatan bagi ide-ide untuk lahir dari komunitas itu sendiri.
Oleh karenanya, kebijaksanaan publik yang dibuat di dalam sistem desentralisasi dapat
lebih meningkatkan partisipasi, dan mungkin akan melahirkan aspirasi yang lebih besar
lagi, apabila dibandingkan dengan kebijaksanaan yang terpusat (sentral). Unsur-unsur
dasar good governance dapat menciptakan sebuah iklim politik nasional yang kondusif
untuk memajukan desentralisasi dalam aspek-aspek ekonomi, administratif dan politik.
Ringkasnya, kegiatan pembangunan energi dan sumberdaya mineral harus berorientasi
pada sebesar-besar kemakmuran rakyat (mengoptimalkan manfaat eksploitasi), dengan
memperhatikan daya dukung sosial dan daya dukung lingkungan hidup. Hal ini hanya
mungkin dilaksanakan apabila good governance dapat diciptakan.
Kepentingan usaha pemanfaatan energi dan sumberdaya mineral dan pelestarian
lingkungan tak ubahnya sebuah paradok. Di satu sisi dibutuhkan demi pembangunan, di
sisi lain lingkungan jadi rusak akibatnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang
ada kadang tak diterapkan dengan baik.
Pertambangan dan lingkungan ibarat dua keping mata uang yang saling mengkait.
Munculnya aspek lingkungan merupakan salah satu faktor kunci yang ikut
diperhitungkan dalam menentukan keberhasilan kegiatan usaha pertambangan.
Kegiatan pertambangan, mulai dari eksplorasi sampai eksploitasi dan pemanfaatnnya
mempunyai dampak terhadap lingkungan yang bersifat menguntungkan/positif yang
ditimbulkan antara lain tersedianya aneka ragam kebutuhan manusia yang berasal dari
sumber daya mineral, meningkatnya pendapatan negara. Adapun dampak negatif yang
ditimbulkan adalah terjadinya perubahan rona lingkungan (geobiofisik dan kimia),
pencemaran badan perairan, tanah dan udara.
Agar pemanfaatan sumber daya mineral memenuhi kaidah optimalisasi antara
kepentingan pertambangan dan terjaganya kelestarian lingkungan, maka dalam setiap
kegiatan sektor pertambangan mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan dan
pengawasan diperlukan berbagai telaah lingkungan.
Lahirnya Undang-undang No. 41 tahun 1999 sempat memancing ricuh antara kalangan
usaha pertambangan dengan pemerhati lingkungan. UU yang membatasi penambangan
di hutan lindung tersebut dianggap kurang tegas diimplementasikan. Sejumlah
perusahaan tambang tetap beroperasi di hutan lindung dengan alasan sudah
menandatangani kontrak kerja jauh sebelum UU tersebut ditetapkan.
Masalah mendasar yang muncul dari industri pertambangan adalah bagaimana kegiatan
pertambangan dapat memberi kontribusi optimum terhadap pembangunan
berkelanjutan. Hal ini menjadikan aspek pengelolaan lingkungan pada industri
pertambangan menjadi sangat penting. Salah satu pendekatan demi memecahkan
masalah itu adalah dengan pendekatan iptek. Pendekatan ini sangat penting untuk
dikembangkan demi mengadaptasi masalah yang timbul di suatu daerah. Baik
lingkungan fisik, yakni geologi, hidrogeologi, geokimia dan iklim, hingga kondisi biologi
seperti flora, fauna, keragaman hayati.
IV. Pemberdayaan Masyarakat Lingkup Energi dan Sumberdaya Mineral
Berkenaan dengan pengembangan energi dan sumberdaya mineral seperti tersebut di
atas yang erat hubungannya dengan kemasyarakatan, maka peran perusahaan
pertambangan akan sangat signifikan dalam mengimplementasikan jargon tersebut.

Sebagai sebuah perusahaan, tujuan dari perusahaan pertambangan adalah


memperoleh keuntungan sebesar-besarnya melalui penambangan yang ada di wilayah
pertambangan dengan cara seefektif dan seefisien mungkin. Perusahaan pertambangan
pada umumnya beroperasi di daerah terpencil yang serba minim fasilitasnya. Sementara
itu, dalam beroperasi, perusahaan pertambangan tersebut ditunjang oleh tenaga-tenaga
ahli pertambangan maupun tenaga lain nonpertambangan yang secara bersama hidup
dalam satu komunitas yang serba berbeda dengan masyarakat sekitarnya, baik dari segi
fasilitas fisik maupun nonfisik.
Lingkungan yang serbalengkap fasilitasnya tersebut sering menimbulkan kecemburuan
dari masyarakat sekelilingnya yang serbaminim fasilitas serta rendahnya tingkat
kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Kecemburuan itulah yang sering memicu
terjadinya konflik antara manajemen perusahaan dan masyarakat sekitar pertambangan.
Sementara perusahaan merasa telah memenuhi keseluruhan kewajiban sebagai
perusahaan, baik itu PMDN maupun PMA kepada Pemerintah Indonesia dengan
membayar pajak atau royalti sehingga mereka tidak terlalu risau dengan adanya
tuntutan dari masyarakat sekitar pertambangan.
Pengusahaan suatu usaha pertambangan berbeda dengan kegiatan ekonomi lainnya.
Selain membutuhkan modal yang besar, juga memiliki risiko kegagalan yang tinggi.
Pengusahaan pertambangan juga harus melalui suatu proses, yaitu bernegosiasi
dengan para pemilik tanah sesudah diketahui bahwa ada cukup deposit bahan tambang
yang memadai jumlahnya untuk dapat dieksploitasi secara menguntungkan. Tahap ini
merupakan tahap yang kritis karena hal itu mempengaruhi masa depan hubungan
antara masyarakat dan perusahaan pertambangan.
Pada tahap yang kritis inilah seyogianya perusahaan pertambangan sudah mulai
menunjukkan corporate social responsibility-nya melalui program community
development. Hal ini sangat penting untuk meyakinkan masyarakat bahwa kehadiran
perusahaan pertambangan yang akan menguasai sumber alam di wilayah itu akan
memberi kompensasi pada mereka dalam bentuk program-program yang akan
meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi mereka (P3PK UGM, 2000).
Community development (CD) bukan semata persoalan moral yang berorientasi pada
penghargaan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan, akan tetapi juga merupakan
upaya menciptakan security bagi perusahaan pertambangan dari ancaman penduduk
lokal yang merasa terpinggirkan. Oleh sebab itu, CD menjadi sangat penting guna
menciptakan keseimbangan dalam kehidupan sosial. Perusahaan pertambangan
umumnya mempunyai institusi CD dan telah melaksanakan kegiatan CD. Hal itu karena
dipersyaratkan dalam kontrak karya dan terlebih-lebih karena tekanan masyarakat
sekitar tambang yang akhir-akhir ini semakin besar.
Sejauh mana komitmen perusahaan melaksanakan kegiatan CD tercermin dari
kedudukan institusi CD pada struktur organisasi perusahaan. Perusahaan
pertambangan yang memiliki komitmen tinggi terhadap pengembangan masyarakat
sekitar akan menempatkan institusi CD pada struktur yang hirarkinya tinggi, misalnya
sebagai bagian atau divisi. Sebaliknya, perusahaan pertambangan yang komitmennya
kurang akan menempatkan institusi CD pada stuktur yang hirarkinya rendah. Dari hasil
kunjungan lapangan di beberapa perusahaan pertambangan terlihat bahwa kedudukan
institusi CD dalam struktur organisasi masih bervariasi dari satu perusahaan ke
perusahaan lainnya.
Dana yang cukup dan berlanjut merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan CD.
Hal itu dikarenakan pengembangan masyarakat membutuhkan waktu cukup lama untuk

sampai pada tujuannya, yaitu mengubah sikap dan perilaku masyarakat. Tujuan ini
dicapai melalui kegiatan CD yang bersifat fisik dan nonfisik. Kegiatan CD yang bersifat
fisik segera dapat dilihat hasilnya, sebaliknya yang bersifat nonfisik lama dan tidak
tampak hasilnya.
Umumnya kegiatan CD yang berupa pembangunan prasarana fisik seperti jalan, gedung
sekolah, klinik, dan tempat ibadah telah dilaksanakan banyak perusahaan
pertambangan. Bahkan kegiatan CD umumnya telah dilaksanakan semenjak tahap
konstruksi. Hal itu dapat dimengerti karena prasarana-prasarana tersebut juga
diperlukan perusahaan atau paling tidak karyawan perusahaan. Pendanaan untuk
kegiatan CD yang langsung berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat misalnya
pertanian, peternakan, perikanan, industri kecil, relatif kecil dan belum lama
pelaksanaannya.
Perencanaan CD yang umumnya disusun perusahaan pertambangan adalah rencana
tata ruang wilayah. Rencana tata ruang diperlukan oleh perusahaan karena operasi
penambangan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Karena tidak ada
perencanaan CD yang baku, pelaksanaan CD lebih bersifat by problem dalam arti CD
dilaksanakan untuk mengatasi gejolak yang timbul dalam masyarakat yang dapat
mengganggu operasi perusahaan. Hal itu ditunjukkan dari adanya kegiatan CD yang
dilaksanakan karena adanya protes dari masyarakat.
Daerah usaha pertambangan biasanya berpusat pada wilayah kecamatan. Sementara
itu pemerintah kecamatan tidak memiliki kelengkapan dinas-dinas sehingga baik dalam
merencanakan maupun melaksanakan pembangunan wilayah menjadi sangat lamban.
CD oleh perusahaan pertambangan bukan kegiatan yang lepas sama sekali dari
pemerintah daerah. Dalam CD justru pemda harus berada di depan, mengingat pemda
adalah lembaga yang memegang otoritas pemerintah di daerah. Pemda juga lembaga
yang akan meneruskan kegiatan CD bila penambangan berakhir.
Yang terjadi di lapangan, terutama pada waktu kegiatan penambangan dimulai, peran
perusahaan pertambangan dalam pengaturan wilayah sangat menonjol sehingga mirip
pemerintah. Masyarakat kemudian melihat, tugas pembangunan wilayah ada pada
pundak perusahaan pertambangan. Akibatnya, apabila terjadi kelambatan pelaksanaan
atau hal-hal lain yang menyangkut kesejahteraan masyarakat, rakyat cenderung
menyalahkan perusahaan pertambangan meskipun kesalahan itu adalah kesalahan
pemerintah daerah.
Dengan semakin meningkatnya jumlah dan mobilitas penduduk, situasi itu harus diubah.
Hubungan antara pemda dan perusahaan pertambangan sering kali diwarnai konflik
kepentingan, terlebih pada saat sekarang saat pemda berharap banyak pada
penerimaan royalti. Namun, karena royalti lebih banyak dikuasai pemerintah pusat atau
pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan pemerintah kecamatan yang
wilayahnya digunakan untuk kegiatan penambangan kurang mendapat manfaat.
Keadaan itu menyebabkan hubungan antara pemerintah daerah kabupaten atau
pemerintah kecamatan dan perusahaan pertambangan kurang sejalan. Maka, tidaklah
mengherankan kalau pemerintah daerah dalam level tersebut kembali meminta bagian
dari "royalti" kepada perusahaan berupa berbagai jenis sumbangan dari perusahaan
pertambangan.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang dikeluarkan pemerintah belum lama ini
membuka peluang pemerintah daerah mengelola sumber daya alam. Banyak daerah
yang tergolong kaya sumber daya alam menyambutnya dengan hangat. Seakan-akan

hal yang selama ini dirampas pemerintah pusat segera ditemukan kembali. UU itu
menyangkut pula adanya desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang pemerintahan
oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom, yaitu Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.
Dalam penjelasan dari UU itu dituliskan, daerah mempunyai kewenangan utuh dan bulat
dalam penyelenggaraannya, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan,
pengendalian, dan evaluasi untuk bidang-bidang tertentu. Perolehan pendapatan daerah
yang berasal dari penerimaaan sumber daya alam pertambangan sudah pula diatur
dalam penjelasan UU Nomor 32 Tahun 2004.
Perusahaan pertambangan yang menguntungkan, aman, tidak ada tuntutan
masyarakat, dan ada hubungan harmonis antara pemerintah daerah, perusahaan
pertambangan dan masyarakat, merupakan modal yang baik untuk kelangsungan
perusahaan pertambangan tersebut. Lokasi perusahaan pertambangan yang ideal
tersebut sangat berkaitan dengan pendapatan pemda dan kesejahteraan masyarakat di
sekitar lokasi pertambangan. Evaluasi kegiatan CD bisa dijadikan awal dari mekanisme
pelimpahan wewenang pertambangan dari pemerintah pusat pada pemerintah daerah.
Dari pengalaman studi yang selama ini telah dilakukan penulis, terlihat keterlibatan
unsur kelembagaan lokal dan unsur pemerintah daerah dalam kegiatan CD yang masih
terbatas dan belum memadai. Hubungan timbal-balik tiga pihak: perusahaan
pertambangan, pemerintah daerah, dan masyarakat, perlu diciptakan dengan baik untuk
secara bersama-sama mengembangkan kawasan sekitar pertambangan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan perusahaan pertambangan dalam kegiatan
CD. Pertama, CD merupakan kegiatan pemberdayaan yang diarahkan untuk
memperbesar akses masyarakat sekitar daerah tambang mencapai kondisi sosialekonomi-budaya yang lebih baik dan tidak bergantung pada keberadaan perusahaan
pertambangan. Kegiatan itu dicapai melalui kerja sama antara perusahaan
pertambangan dan masyarakat, pemda dan pihak lain yang bergerak di bidang sosialekonomi-budaya. Sesuai dengan tujuan dan cara pencapaiannya, kegiatan CD di
daerah sekitar tambang memerlukan SDM yang mampu mengoordinasikan pihak-pihak
tersebut melalui pendekatan participatory.
Kedua, kegiatan CD mestinya disusun dalam suatu perencanaan jangka pendek, jangka
menengah, dan jangka panjang sejalan dengan jangka waktu kontrak karya. Dari
perencanaan ini, mestinya sudah dapat diketahui siapa target group CD, programprogram apa yang perlu dilaksanakan, dan bagaimana kondisi masyarakat setelah
kontrak karya berakhir. Perencanaan tersebut dibuat melalui proses partsipatif, bukan
top down.
Perusahaan jangan hanya menyodorkan perencanaan yang telah dibuat untuk
mendapatkan persetujuan dari masyarakat. Hal itu perlu untuk mencegah adanya konflik
dan protes dari masyarakat. Namun demikian, penilaian terhadap adanya konflik dan
protes dalam masyarakat harus dinilai secara objektif mengingat akhir-akhir ini banyak
konflik dan protes tanpa alasan yang rasional.
Ketiga, melibatkan pemda dalam CD dan jika ada konflik dengan masyarakat,
penyelesaiannya dilakukan melalui pemda (P3PK UGM, 2000).
Hasil yang diharapkan dari kegiatan CD adalah kebergantungan masyarakat dan pemda
pada perusahaan pertambangan semakin kecil, sebaliknya kemandirian masyarakat dan
pemda semakin besar dan pada akhir penambangan sudah dapat mandiri.

Kompas, 23 Agustus 2006

Dirjen ESDM Bingung Ada Pertambangan Ilegal


Balikpapan, Kompas - Pertambangan batu bara ilegal dan lahan bekas eksploitasi yang tak
direhabilitasi harus diakhiri. Mendiamkan hal itu berlangsung tidak hanya merusak
lingkungan, tetapi juga moral.
Demikian ditegaskan Direktur Jenderal Mineral, Panas Bumi, dan Batu Bara Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral Simon Sembiring di Balikpapan, Selasa (22/8).
"Kalau izin resmi, harus ada yang tanggung jawab. Kalau ilegal, mencuri. Tambang itu tidak
pakai cangkul. Alatnya besar, kenapa bisa berjalan? Saya heran!" kata Simon di sela-sela
musyawarah Pemerintah Daerah Penghasil Batu Bara Se-Indonesia.
Dalam acara itu dideklarasikan pula Badan Kerja Sama Pemerintah Daerah Penghasil Batu
Bara Se-Indonesia. Tercatat 44 kabupaten dari 21 provinsi menjadi anggotanya.
Saat berbicara dalam musyawarah itu, Simon mencontohkan, kerusakan yang cukup parah
akibat pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan (Kalsel).
Data Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalsel hingga April
2006 menunjukkan, 10.444 dari 12.944 hektar areal tambang batu bara yang selesai
dieksploitasi belum direklamasi. Sebagian besar dibiarkan menjadi lubang besar atau
danau (Kompas, 28/7).
Ia juga menekankan, tanggung jawab terhadap pengawasan dan penertiban tambang batu
bara tidak hanya pada pemerintah pusat. Sebab, di era otonomi ini ada pendelegasian
kewenangan kepada pemerintah daerah tingkat II.
Dalam kesempatan itu, Simon mengutarakan proyeksi kebutuhan batu bara di dalam negeri
yang meningkat 80 juta ton pada tahun 2009. Peningkatan dari 30 juta ton itu untuk
memenuhi 20.000 megawatt produksi listrik PLN dan swasta. (FUL/YNS)

V. Desentralisasi
Adanya perubahan lingkungan strategis di tingkat nasional, regional dan global, seperti
desentralisasi daerah, AFTA 2003, APEC 2020, dan Protokol Kyoto serta Mekanisme
Pembangunan Bersih, akan mempengaruhi paradigma penyediaan dan pemanfaatan
energi di masa datang. Di tingkat nasional, pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan
UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; UU No. 33 tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan PP No. 25 tahun
2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah
Otonom, maka wewenang pengembangan energi yang tadinya berada di Pemerintah
Pusat beralih kepada Pemerintah Daerah (kecuali sektor migas). Berdasarkan PP No.
25 tahun 2000 tersebut, Pemerintah Pusat masih berwenang untuk mengeluarkan
kebijakan diversifikasi energi, konservasi energi, intensifikasi energi dan harga energi.
Secara hukum nasional terdapat beberapa hal yang meskipun tidak bertentangan, tetapi
kurang mendukung implementasi Protokol Kyoto. Sebagai salah satu contoh, di sektor
energi belum ada peraturan yang mendorong, melalui pemberian intensif dalam
penggunaan energi terbarukan dan upaya melakukan efesiensi energi. Padahal, dari
segi perlindungan iklim kedua kegiatan dari sisi penawaran (supply side) dan sisi
permintaan (demand side) energi tersebut sangat potensial dan mendukung pencapaian
tujuan pembangunan berkelanjutan. Sebagai dari bagian hukum nasional, peraturan
daerah masih banyak yang harus dirumuskan dan dibenahi, khususnya yang

mengutamakan partisipasi masyarakat sehingga akan menarik investasi yang akan


mengalir ke daerah. Dengan demikian, jika kita lihat secara positif, diartifikasinya
Protokol Kyoto akan merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong terciptanya
kerangka peraturan yang transparan dan demokratis.
Ratifikasi Protokol Kyoto juga akan mendorong pemerintah dan masyarakat untuk
mempersiapkan dari dalam penyiapkan kelembagaan yang terkait dengan implementasi
Protokol Kyoto melalui proyek-proyek CDM. Penunjukan otoritas nasional (Designated
National Auttority, DNA) merupakan syarat utama agar nagara berkembang dapat
berpatisipasi. Lembaga inilah yang nantinya akan merancang kegiatan yang berkaitan
dengan pengembangan proyek (projek development) dan pengembangan kapasitas
(capacity building) agar Para Pihak yang tertarik melakukan investasi dapat merancang
proyeknya bersama mitranya di mana proyek akan diimplementasikan. Otoritas nasional
ini juga akan membantu pemerintah dalam meningkatkan kesadaran publik (public
awarennes) akan pentingnya pembangunan proyek-proyek baru yang ramah
lingkungan.
Adanya kebijakan desentralisasi yang didorong pemerintah juga akan membawa
beberapa konsekuensi. Daerah yang kaya sumber daya alam akan banyak menikmati
manfaat dari bentuk pembagian pendapatan daerah yang baru ini. Misalnya, daerah
penghasil produk pertambangan, kehutanan dan perikanan, kini akan menerima 80%
dari penerimaan pendapatan tersebut, sementara pemerintah pusat hanya menerima
sisanya, yaitu 20%. Daerah penghasil minyak akan menerima 15% dari seluruh
pendapatan yang diterima dari eksploitasi kekayaan alam ini, sedangkan daerah
penghasil gas alam menerima 30%.
Sebagian besar wacana yang berlangsung mengenai prospek keberhasilan
pelaksanaan desentralisasi daerah tertuju pada masalah perimbangan anggaran antara
pemerintah pusat dan daerah. Tampaknya ada asumsi bahwa dengan memiliki
anggaran belanja yang besar maka pemerintah daerah (pemda) akan mampu
mengelola pelaksanaan desentralisasi. Seiring dengan asumsi ini, maka pemda yang
diuntungkan dengan adanya cara baru pembagian perolehan dari kekayaan sumber
daya alam itu dianggap akan berhasil mengelola proses desentralisasinya.
Jelas kekayaan sumber daya alam, dalam hal ini sumber daya pertambangan, adalah
faktor penting dalam menentukan kemampuan pemda dalam melaksanakan kekuasaan
otonomi yang diberikan secara efektif. Pemda yang memiliki kekayaan alam besar
mempunyai sumber dana potensial yang akan mengalir ke daerahnya sebagai hasil
pendayagunaan sumber-sumber alamnya. Karena itu, daerah tersebut dimungkinkan
memiliki kekuatan dana lebih besar dibanding dengan daerah yang miskin sumber daya
alam.
Namun, seperti ditunjukkan oleh pengalaman banyak negara di berbagai penjuru dunia,
kekayaan sumber daya alam bukanlah satu-satunya faktor penentu keberhasilan
pembangunan. Sudah banyak contoh mengenai keberhasilan pembangunan negaranegara yang miskin sumber daya alam. Salah satu faktor penentu keberhasilan
pembangunan suatu negara atau wilayah yang sama pentingnya dengan kekayaan
sumber daya alam adalah kualitas sumber daya manusia. Jepang, Singapura dan Korea
Selatan adalah contoh tepat mengenai negara miskin sumber daya alam tetapi unggul
dalam pembangunannya, terutama karena kualitas sumber daya manusianya.
Masalah manejemen pengusahaan tambang tidak sekadar masalah pemberian izin
pengusahaan saja. Masalah hukum bisa timbul di luar masalah perizinan, seperti
overlapping dan ganti rugi. Pertikaian dapat saja melibatkan banyak pihak. Dapat terjadi
pertikaian antara masyarakat, pemegang izin usaha, atau pemohon dengan penguasa.

Atau antara pemegang izin usaha dengan pemegang izin usaha lainnya. Atau antara
pemegang izin usaha dengan pemegang hak atas tanah. Tanpa menganggap kecil
kemampuan dan pengetahuan pihak pemda dalam menyelesaikan pertikaian-pertikaian,
dapat dimengerti apabila terdapat keragu-raguan terhadap kapasitas kantor-kantor
tersebut. Hal ini sangat penting untuk segera diantisipasi mengingat bahaya yang
mungkin timbul.
Kritikan lainnya adalah sehubungan dengan penanaman modal asing, termasuk foreign
borrowing. Hal ini ironis sekali, karena justru dari dulu sudah dirasakan perlunya daerah
diberikan insentif untuk saling bersaing dalam mempromosikan potensi daerah masingmasing, termasuk dalam rangka mengundang penanaman modal asing. Dengan sistem
sekarang ini, terjadi kekhawatiran apakah daerah (apalagi daerah tingkat II) sanggup
melaksanakan hal itu serta kebal dari KKN (korupsi, kolusi, nepotisme).
Hambatan lain yang mungkin perlu diperhatikan adalah reaksi-reaksi masyarakat
sekarang terhadap perusahaan pertambangan. Di masa lalu rakyat yang berada di
tempat perusahaan tambang berdiri, tidak diikutsertakan dalam berbagai proses yang
menyangkut kehidupan mereka.
Usaha pertambangan hampir seluruhnya berada di daerah, karenanya usaha ini
berkaitan erat dengan peningkatan kemakmuran rakyat di daerah-daerah. Dalam
pelaksanaannya hal ini bergantung erat pada niat baik pemerintah daerah. Adalah wajar
jika daerah mengupayakan berbagai cara untuk dapat meningkatkan perolehan dana
bagi daerahnya, khususnya apabila hal itu digunakan sebesar-besarnya bagi
kemakmuran rakyat. Sumber daya alam merupakan potensi yang nyata, oleh karenanya
berdasarkan kewenangan otonomi daerah tidak mengherankan bidang ini merupakan
harapan daerah untuk meningkatan sumber pendapatannya, dan dengan demikian bisa
diharapkan untuk mendongkrak tingkat kesejahteraan penduduknya.
Desentralisasi pertambangan akan membuka banyak peluang untuk meningkatkan
kemakmuran penduduk di daerah-daerah, rakyat Indonesia yang tersebar dari barat
hingga ke timur, baik dari segi pembagian hasil tambang, peningkatan kesempatan
kerja, maupun pembangunan infrastruktur secara lebih merata di derah-daerah.
Demikianlah, kita sama-sama berharap agar desentralisasi pertambangan akan
bermanfaat luas bagi rakyat kita secara lebih merata seperti yang termaktub dalam
pasal 33 UUD 1945, yakni bahwa kekayaan alam negeri ini hendaknya digunakan
sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
VI.

Kebijakan Publik di Bidang Energi dan Sumberdaya Mineral

Mengingat pemanfaatan energi dan sumberdaya mineral mempunyai beberapa


karakteristik, yaitu non-renewable (tidak dapat diperbarui), mempunyai risiko relatif lebih
tinggi, dan pengusahaannya mempunyai dampak lingkungan baik fisik maupun sosial
yang relatif lebih tinggi dibandingkan pengusahaan komoditi lain pada umumnya.
Karena sifatnya yang tidak dapat diperbarui tersebut pengusaha pertambangan selalu
mencari proven reserves (cadangan terbukti) baru. Cadangan terbukti berkurang
dengan produksi dan bertambah dengan adanya penemuan.
Ada beberapa macam risiko di bidang pertambangan yaitu risiko geologi (eksplorasi)
yang berhubungan dengan ketidakpastian penemuan cadangan (produksi), risiko
teknologi yang berhubungan dengan ketidakpastian biaya, risiko pasar yang
berhubungan dengan perubahan harga, dan risiko kebijakan pemerintah yang
berhubungan dengan perubahan pajak dan harga domestik. Risiko-risiko tersebut
berhubungan dengan besaran-besaran yang mempengaruhi keuntungan usaha yaitu

produksi, harga, biaya dan pajak. Usaha yang mempunyai risiko lebih tinggi menuntut
pengembalian keuntungan (Rate of Return) yang lebih tinggi.
Walaupun terdapat dampak lingkungan pada waktu eksplorasi, tetapi dampak
lingkungan pertambangan utama adalah pada waktu eksploitasi dan pemakaiannya
untuk yang bisa digunakan sebagai energi (minyak, gas dan batu bara). Dampak
lingkungan tersebut dapat berbentuk fisik seperti penggundulan hutan, pengotoran air
sungai, danau dan laut) serta pengotoran udara untuk energi. Dampak lingkungan
tersebut dapat juga bersifat sosial yaitu hilangnya mata pencarian penduduk yang
tadinya hidup dari hasil hutan maupun hasil pertambangan itu sendiri. Sebagai contoh:
dengan cara yang sederhana penduduk dapat mendulang emas.
Dampak lingkungan pertambangan berbeda antara jenis tambang yang satu dengan
yang lain. Tambang ada yang berada jauh di bawah permukaan seperti tambang minyak
dan gas sehingga penambangannya dilakukan dengan membuat sumur, oleh sebab itu
penambangannya relatif tidak membutuhkan daerah yang luas di permukaan. Tambang
ada yang digali di permukaan atau ditambang dengan membuat terowongan dekat
permukaan seperti batu bara, tembaga, emas dan lain-lain sehingga relatif
membutuhkan daerah yang luas di permukaan dan sebagai akibatnya dampak
lingkungan fisik maupun sosialnya lebih besar. Apalagi tambang tersebut tadinya
merupakan mata pencarian penduduk setempat.
Risiko eksplorasi dan tingkat kesulitan teknologi eksploitasi pertambangan juga berbeda
satu sama lain. Untuk migas yang lokasi cadangannya jauh di bawah permukaan risiko
eksplorasinya tentunya besar, sehingga tidak mengherankan apabila sebagian besar
migas kita masih diproduksi oleh swasta asing. Dalam hal teknologi eksploitasi migas
walaupun tingkat kesulitannya cukup tinggi, terdapat keyakinan bahwa bangsa
Indonesia cukup mampu melakukan eksploitasi migas paling tidak untuk penambangan
di daratan maupun laut dangkal. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa di samping
Pertamina ada beberapa swasta nasional yang sudah mengoperasikan lapangan
minyaknya berbekal pengalaman yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun di
bidang tersebut.
Walaupun risiko usaha di bidang migas tinggi, tetapi karena migas sangat penting untuk
Indonesia sejak waktu yang lama, maka peraturan-peraturan di bidang tersebut sudah
sangat maju dan terbuka, dalam pengertian sering sekali diperdebatkan. Pajak migas
sangat tinggi dibandingkan komoditi lain. Sebagai contoh untuk minyak 85 persen dan
untuk gas 70 persen dari keuntungan adalah untuk pemerintah. Di samping itu di bidang
migas sudah berlaku kontrak bagi hasil, sedangkan di pertambangan umum (nonmigas)
masih berlaku kontrak karya. Perbedaan utama antara kontrak bagi hasil dan kontrak
karya adalah bahwa pada kontrak bagi hasil manajemen ada di tangan Indonesia, dalam
pengertian setiap perencanaan pengembangan (Plan of Development) harus disetujui
dulu oleh pemerintah (dalam hal migas: Pertamina) termasuk aspek lingkungannya.
Dasar kebijakan publik di bidang energi dan sumberdaya mineral adalah UUD 1945
pasal 33 ayat 3 yang menyatakan bahwa: bumi dan air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya
untuk kemakmuran rakyat.
Dalam pelaksanaannya mungkin dapat dipertimbangkan hal-hal berikut ini
Pertama, kita baru mengundang perusahaan asing apabila bangsa Indonesia tidak
berani mengambil risiko atau tidak menguasai teknologi untuk bidang pertambangan
tersebut. Mengapa? Karena tentunya akan lebih menguntungkan kalau dikerjakan

sendiri karena biaya orang asing mahal dan dana tersebut tentunya kembali ke
negaranya. Apalagi kalau manajemennya tidak di tangan Indonesia.
Kedua, apabila risikonya tidak besar serta teknologinya dikuasai dan permasalahannya
hanya modal, maka dana dapat dikumpulkan melalui beberapa cara, yaitu:
a. sebagian pendapatan pemerintah dari sektor pertambangan umum yang sudah
memberikan keuntungan banyak (misal: batu bara). Pendapatan tersebut dapat
digunakan untuk eksplorasi dan investasi pada sektor-sektor pertambangan lainnya.
Hal yang sama dapat diberlakukan untuk migas sehingga sebagian pendapatan
pemerintah darinya dapat digunakan untuk ekplorasi dan investasi untuk energi lain
yang lebih bersih lingkungan seperti panas bumi dan tenaga air. Sebagai
perbandingan, pada sektor kehutanan terdapat dana reboisasi.
b. BUMN terkait dapat mengumpulkan dana dari saham masyarakat yang besarny
tergantung pada kepercayaan masyarakat pada hasil usaha di bidang tersebut.
c. swasta nasional yang berminat berusaha di bidang tersebut (dapat
merupakan konsorsium) diikutsertakan dalam usaha tersebut.

sendiri atau

d. apabila dari sumber di atas dana tidak cukup maka baru diusahakan modal asing.
Ketiga, aspek lingkungan baik fisik maupun sosial harus dipertimbangkan dalam setiap
kontrak pertambangan dan pengusaha pertambangan harus menyediakan biaya untuk
mengatasi permasalahan lingkungan tersebut. Menurut ahli ekonomi Kaldor dan Hicks
suatu tindakan dikatakan bermanfaat apabila golongan yang memperoleh manfaat dari
usahanya dapat memberi kompensasi bagi golongan yang menderita kerugian akibat
usaha tersebut sehingga posisi golongan kedua tersebut paling jelek sama seperti
sebelum adanya usaha tersebut dan golongan pertama masih untung. Golongan kedua
tersebut dapat berupa alam maupun masyarakat. Jadi, tidak adil bila ada suatu usaha
yang kemudian menyebabkan lingkungan menjadi lebih rusak atau masyarakat menjadi
lebih menderita dibandingkan keadaan sebelum adanya usaha tersebut.
Keempat, apabila kontrak bagi hasil untuk pertambangan umum lebih menguntungkan
dibandingkan kontrak karya (dengan pengertian juga tidak membuat kontraktor jera),
maka tentunya yang lebih menguntungkan masyarakat perlu diberlakukan.
Media Indonesia, 4 Juli 2006
Pembangunan Desa Mandiri Energi Dimulai Tahun 2007

JAKARTA--MIOL: Pemerintah berencana membangun desa mandiri energi di


daerah-daerah terpencil pada 2007.
Pembangunan desa mandiri energi ini untuk meringankan beban masyarakat di daerah itu
akibat mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM). Rencana tersebut akan dibahas dan
dimatangkan dalam pertemuan di Bali pada 2 Agustus yang akan datang.
Pertemuan itu akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menteri Koordinator, Perekonomian Boediono,
Menteri BUMN Sugiharto, dan Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali serta sejumlah
gubernur, bupati/walikota seluruh Indonesia. Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali
mengatakan rencana tersebut telah disampaikan dalam rapat terbatas kabinet yang
berlangsung Sabtu (1/7) hingga Minggu (2/7) malam di Losari Caffee Plantation, Kecamatan
Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang dipimpin langsung Presiden Yudhoyono

"Dipilihnya daerah remote (terpencil) itu karena di daerah tersebut harga BBM-nya sangat
tinggi sehingga membebani masyarakat," kata Suryadharma Ali di Jakarta, Selasa.
Dia menambahkan, di daerah remote itu harga minyak tanah mencapai Rp10.000-Rp20.000
per liter. Karena itu, pemilihan daerah tersebut untuk dijadikan desa mandiri energi sangat
cocok. Untuk menjadi bisa menjadi desa mandiri energi, kata Suryadharama Ali, harus
memenuhi beberapa persyaratan, yaitu pemerintah daerah menyiapkan lahan untuk tanaman
jarak, Menteri Pertanian menyediakan bibit unggul.
Sementara, BUMN-BUMN yang memproduksi mesin pengolah biji jarak menjadi minyak bio
diesel harus memberikan jaminan pemeliharaan terhadap mesin tersebut pada kurun waktu
tertentu.
Suryadharma Ali mengatakan peran kementerian Koperasi dan UKM pada program Desa
Mendiri Energi tersebut adalah memberikan perkuatan modal berupa mesin pembuat bio
diesel.
Kementerian Koperasi dan UKM akan membeli 300 unit mesin dengan harga sekitar Rp120
juta per unit.
Satu unit mesin tersebut memiliki kapasitas mengolah 500-600 kilogram biji jarak per hari
yang mampu menghasilkan minyak bio diesel sekitar 200 liter per hari.
"Bila program ini berjalan setidaknya dapat menyerap tenaga kerja dan menekan pengeluaran
masyarakat di daerah itu," kata Suryadharma Ali.
Dia mengatakan, pemerintah memang tidak menargetkan produksi bio diesel di desa mandiri
energi secara besar-besaran. Bagi pemerintah, yang penting hasil produk tersebut dapat
mencukupi kebutuhan di daerah itu. Karena itu, pemerintah tidak mau program ini menyerap
APBN yang besar.
"Kalaupun ada APBN yang dipergunakan sifatnya hanya simultan," katanya.
Menurut dia, Presiden Yudhoyono dalam rapat kabinet di Magelang mengatakan bahwa
program bio energi di Indonesia harus sudah bisa dilaksanakan mulai 2007.
Pada kesempatan terpisah, Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Adi Sasono
mengatakan Dekopin akan membuat pabrik pengolahan minyak jarak sebagai alternatif

VII. Peran Good Governance dalam Pengelolaan Energi dan Sumberdaya Mineral
Krisis multidimensi yang berkepanjangan selama hampir satu dekade terakhir ini
seharusnya membangunkan Indonesia yang telah terlena lama sekali oleh "easy
money". Pembangunan di Indonesia selama 30 tahun memberikan ilusi bahwa
kemajuan ekonomi berlangsung seolah-olah tak terbatas. Kontraksi ekonomi sebesar
-15 persen per tahun seperti yang terjadi pada tahun 1997-98 tidak pernah diperkirakan
sebelumnya.
Konsep pembangunan yang dipraktekkan sejak 1966 di Indonesia mendasarkan
pertumbuhan ekonomi pada beberapa sektor utama, terutama minyak dan sumberdaya
mineral. Sejak itu, pertumbuhan ekonomi sejak itu melesat hingga berkisar pada 7

persen per tahun. Dari salah satu negara termiskin di dunia, pendapatan per kapita
Indonesia meningkat hingga di atas $500 per tahun, bahkan sekitar $1,000 menjelang
terjadinya krisis ekonomi.
Krisis ini mempertanyakan kembali sendi-sendi pembangunan di Indonesia. Jawaban
singkat "karena oil boom" ternyata tidaklah memuaskan, karena negara-negara Asia
lainnya yang pertumbuhan ekonominya tinggi seperti Taiwan ternyata adalah importir
minyak, sementara ekonomi negara-negara produsen minyak dan sumberdaya mineral
lain, terutama di Afrika, ternyata tumbuh negatif atau dengan tingkat pertumbuhan yang
sangat rendah.
Sementara itu, sejak tahun 1972 Indonesia telah ikut serta dalam proses pendefinisian
kembali hubungan antara lingkungan dan pembangunan. Menteri Lingkungan Indonesia
pertama, Prof. Emil Salim, bahkan ikut serta sebagai anggota Komisi Brundtland yang
menyusun buku putih pembangunan berkelanjutan Hari Depan Kita Bersama (Our
Common Future). Buku ini sampai sekarang masih menjadi acuan utama diskursus
pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Pada tahun 1992, Konferensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Lingkungan
dan Pembangunan (United Nations Conference on Environment and Development) dikenal juga dengan KTT Bumi - menelurkan beberapa dokumen penting mengenai
pembangunan berkelanjutan, yaitu Piagam Bumi (Earth Charter) dan Agenda 21 yang
merekomendasikan kegiatan-kegiatan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Pada bulan September 2002 hasil-hasil dari Agenda 21 selama satu dekade telah
dievaluasi, sementara pelajaran yang dapat ditarik darinya akan dipergunakan untuk
menuntun kerangka perencanaan pembangunan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Pertemuan yang disebut sebagai World Summit on Sustainable Development (KTT
Pembangunan Berkelanjutan) diadakan di Johannesburg, Afrika Selatan.
Pembangunan adalah sebuah proses produksi dan konsumsi di mana materi dan energi
diolah dengan menggunakan faktor produksi seperti mesin-mesin (capital), pekerja
(labor, atau human resources), dan lain-lain. Pada prosesnya, pembangunan membawa
dampak kepada lingkungan alam dan masyarakat sekitarnya, yang pada gilirannya akan
berdampak kepada keberlanjutan pembangunan itu sendiri.
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan saat ini yang tidak mengurangi
kesempatan dari generasi mendatang untuk membangun. Secara statik pembangunan
berkelanjutan adalah sebuah pembangunan yang secara serentak membangun
ekonomi, sosial, serta lingkungan. Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan tidak
boleh berdampak pada pengrusakan pranata sosial dan lingkungan.
Dampak sosial dari ekstraksi minyak, gas, dan mineral akhir-akhir ini semakin banyak
disoroti dunia. Pertama, kegiatan ekstraksi ini biasanya memberikan manfaat ekonomi
yang sangat besar, tetapi tidak kepada masyarakat yang tinggal di sekitar tempat
ekstraksi. Kegiatan ekstraksi ini biasanya dilakukan dalam bentuk enclave, tanpa ada
upaya mengintegrasikan dengan kegiatan sosial-ekonomi di sekitarnya. Sumbangan
sektor energi dan sumberdaya mineral terhadap kerekatan sosial di Indonesia dapat
diukur melalui indikator-indikator berikut ini.
Energi dan sumberdaya mineral memiliki dampak lingkungan dalam bentuk polusi dan
penipisan sumberdaya alam. Pada proses di mana pertambangan terjadi di tempattempat yang ekosistemnya rentan (misalnya pertambangan di wilayah hutan lindung),
maka eksploitasi sumberdaya energi dan mineral akan berdampak pada ekosistem
tersebut. Dampak lingkungan ini terjadi baik pada saat penambangan (minyak, gas

bumi, dan mineral), pengolahannya, pengangkutannya, transformasinya dari energi


primer menjadi energi sekunder, serta penggunaannya oleh konsumen di berbagai
sektor. Dampak lingkungan dari proses ekstraksi di antaranya adalah masalah tailing,
pencemaran hidrokarbon, merkuri, dan bahan beracun dan berbahaya (B3) lainnya di
laut dan sungai, serta masalah lainnya.
Selain peranannya yang penting sebagai penghasil devisa melalui ekspor, sektor minyak
dan gas memiliki peran yang penting sebagai sumber energi, di mana ketersediaannya
masih bergantung kepada sumber-sumber yang tidak terbarukan seperti minyak, gas,
dan batu-bara. Sumber-sumber terbarukan seperti panas bumi, biomasa, air, angin, dan
tenaga matahari belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan demikian, pasokan
energi domestik akan terancam dengan terancamnya keberlanjutan produksi energi
primer yang tidak terbarukan ini. Sebagai sumber energi yang dibutuhkan
pembangunan, pertanyaan-pertanyaan berikut dapat menjadi panduan dalam
evaluasinya.
Selain itu, untuk mendukung keberlanjutan dari pembangunan yang ada, pendapatan
dari sumber-sumber tak-terbarukan seperti minyak, gas, dan mineral harus ditanam
kembali untuk memperbesar modal pembangunan dari sumber-sumber terbarukan
seperti panas bumi, angin, air, serta sumber daya manusia.
Globalisasi dan desentralisasi adalah dua intervensi dan perubahan yang terbesar yang
mempengaruhi kinerja pembangunan di Indonesia pada jangka panjang. Dari sebuah
konsep pembangunan yang sentralistik di mana sebagian besar keputusan
pembangunan di ambil di ibukota, tak lama lagi arah pembangunan di Indonesia akan
ditentukan secara internal oleh pemerintah daerah, dan secara eksternal oleh proses
perluasan pasar dunia.
Institusi-institusi baru dunia telah banyak bermunculan yang pasti akan mengimbas
pada kinerja pembangunan di Indonesia. World Trade Organization telah menjadi
lambang globalisasi ekonomi dunia yang, mau tak mau, harus diikuti oleh Indonesia.
Terbukanya pasar Indonesia untuk pemain-pemain asing tidak hanya menambah
tekanan kepada pemain domestik untuk lebih bisa bersaing, tetapi juga melahirkan
permasalahan-permasalahan baru, di mana manfaat dari investasi asing ini dinikmati
jauh dari tempat di mana dampak negatif dari investasi ini terjadi.
Di sektor energi dan sumberdaya mineral, inisiatif seperti Mining, Mineral, and
Sustainable Development (MMSD) dan Global Mining Initiative (GMI) telah diluncurkan,
walaupun banyak sekali keraguan dan kecurigaan terhadap motivasi dari inisiatif-inisiatif
ini. Sementara itu, tekanan terhadap Bank Dunia mengenai perannya dalam sektor
minyak dan sumberdaya mineral melahirkan inisiatif penilaian industri ekstraktif
(Extractive Industries Review). Di sisi lain, tekanan dunia mengenai pelestarian
lingkungan juga semakin intensif. Perjanjian-perjanjian internasional yang berhubungan
dengan sektor energi dan sumberdaya mineral telah disepakati dan ditandatangani.
Salah satunya adalah Konvensi Perubahan Iklim dan Protokol Kyoto-nya. Di tingkat
masyarakat sipil (madani), gerakan lingkungan hidup yang diwakili oleh mendunianya
lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan dan gerakan konsumen hijau juga
memiliki potensi untuk mempengaruhi perkembangan sektor energi dan sumberdaya
mineral di Indonesia.
Berpijak pada kenyataan tersebut, maka peran good environmental governance dalam
pemanfaatan energi sumberdaya mineral akan menjadi sangat penting, dimana
diantaranya melalui:

i. Kebijakan Energi Nasional


Kebijakan penentuan harga energi di Indonesia tidak dilakukan melalui mekanisme
pasar melainkan ditetapkan secara administrasi oleh pemerintah. Dalam penentuan
harga energi ada empat hal yang harus dipertimbangkan yaitu :
a. Tujuan efisiensi ekonomi : untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri
dengan harga serendah rendahnya dan memelihara cadangan minyak untuk
keperluan ekspor, khususnya dengan mendorong pasar domestik untuk
mensubstitusikan konsumsinya dengan alternatif bahan bakar lain yang
persediaannya lebih melimpah (gas dan batubara) atau sumber energi yang
nontradable seperti tenaga air (hydropower) dan panas bumi (geothermal).
b. Tujuan mobilisasi dana : dengan memaksimumkan pendapatan ekspor dan
pendapatan anggaran pemerintah dari ekspor sumber energi yang tradable
seperti migas, dan batubara dan memungkinkan produsen dari sumber sumber
energi untuk menutupi biaya biaya ekonominya dan memperoleh sumber sumber
dana untuk membiayai pertumbuhan dan pembangunan.
c. Tujuan sosial (pemerataan) : mendorong pemerataan melalui perluasan akses
bagi kebutuhan pokok yang bergantung pada energi seperti penerangan,
memasak dan transportasi umum.
d. Tujuan kelestarian lingkungan : mendorong agar pencemaran lingkungan
seminum mungkin sebagai dampak pembakaran sumber sumber energi.
Keempat tujuan di atas merupakan faktor faktor yang perlu diperhatikan dalam
menentukan tujuan di atas, sehingga kemungkinan bentrokan antar tujuan dapat di
atasi. Keempat tujuan di atas tidak mungkin dicapai karena konflik antar tujuan pasti
akan terjadi. Sebagai contoh studi yang dilakukan Pitt (1985 dalam [4]) menunjukkan
tujuan untuk mengurangi dampak lingkungan praktis tidak tercapai.
ii. Pengembangan Energi Alternatif
Indonesia sesungguhnya memiliki potensi sumber energi terbarukan dalam jumlah
besar. Beberapa diantaranya bisa segera diterapkan di tanah air, seperti: bioethanol
sebagai pengganti bensin, biodiesel untuk pengganti solar, tenaga panas bumi,
mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin, bahkan sampah/limbah pun bisa digunakan
untuk membangkitkan listrik. Hampir semua sumber energi tersebut sudah dicoba
diterapkan dalam skala kecil di tanah air. Momentum krisis BBM saat ini merupakan
waktu yang tepat untuk menata dan menerapkan dengan serius berbagai potensi
tersebut. Meski saat ini sangat sulit untuk melakukan substitusi total terhadap bahan
bakar fosil, namun implementasi sumber energi terbarukan sangat penting untuk segera
dimulai
Kebijakan penghapusan subsidi BBM pada tahun 2005 merupakan momentum yang
tepat bagi pemerintah untuk mengembangkan batubara sebagai energi alternatif yang
prospeknya cukup menjanjikan. baik dilihat dari cadangan yang melimpah maupun dari
harga yang relatif lebih murah dibanding BBM. Sebagai contoh bila digunakan di sektor
listrik, batubara lebih murah dibanding BBM. Pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel
(PLTD) yang menggunakan solar, harga listrik mencapai Rp 500 per KWh. Sementara

menggunakan batubara biayanya hanya sekitar Rp 50 per KWh. Jadi bisa menghemat
biaya kurang lebih Rp 30 milyar per tahun.
Bila digunakan di sektor rumah tangga pun untuk keperluan memasak atau sektor
industri untuk bahan bakar, batubara sangatlah hemat. Setiap satu liter minyak tanah
dapat digantikan dengan 0.6 kg briket batubara (Soedjoko dalam Warta, 2003).
Berdasarkan pada hitungan konversi energi ini, kita dapat mengambil contoh
penghematan yang akan diperoleh. Pada tahun 2003. harga batubara sekitar Rp 222.27
per kg. sementara minyak tanah Rp 700 per liter. Pada tahun 2003 rata-rata pemakaian
minyak tanah di sektor rumah tangga sekitar 179 liter pertahun. maka biaya yang harus
dikeluarkan untuk membeli minyak tanah adalah Rp 125.300 per rumah tangga.
Sedangkan, jika menggunakan batubara, maka besarnya biaya yang harus dikeluarkan
hanya Rp 23.872. Dengan demikian ada penghematan sebesar Rp 101.428 per rumah
tangga. Dengan merujuk pada data BPS yang menyebutkan bahwa jumlah rumah
tangga tahun 2003 sebanyak 56.625.000. jadi sebenarnya ada potensi penghematan
yang bisa dilakukan untuk pengeluaran energi di sektor rumah tangga sebesar Rp 5.74
trilyun. Dengan harga minyak tanah yang mencapai Rp 2000 perliter pada tahun 2005.
maka tentu saja penghematan ini akan jauh lebih besar lagi.
Tabel 2 dibawah menunjukkan bahwa betapa besar penghematan yang bisa dilakukan
jika terjadi substitusi total dari BBM ke batubara dan atau gas di sektor industri.
Pemakaian energi non minyak di sektor industri seharusnya diintensifkan sejak dulu. Hal
ini bukan saja dilandasi oleh alasan karena kian menipis ketersediaan bahan bakar
minyak, namun lebih jauh dari itu juga alasan efisiensi, baik dalam level mikro yaitu
sektor industri itu sendiri maupun dalam skala makro perekonomian nasional
Tabel 2. Penghematan Penggunaan BBM di Sektor Industri Jika Disubstitusi Dengan
Batubara dan Gas (Milyar Rp)

Tahun

Minyak
TanahMinyak
DieselMinyak
Solar
Disubstitusi dengan Disubstitusi dengan
Disubstitusi dengan
Batu bara

Gas

Batu bara

Gas

Batu bara

Gas

1996 93

99

510

540

1453

1.528

1998 75

724

416

2354

1.497

2002 157

158

1.268

1.271

9.752

9.773

2003 203

112

1.205

1.025

10.164

8.684

Sumber: Hasil perhitungan penulis


Proses substitusi penggunaan energi ini tentu saja harus dibarengi dengan inovasi
peralatan dan mesin-mesin industri yang bisa mendukung digunakannya energi
alternatif tersebut dan bisa meminimalisir efek negatif dari penggunaan energi alternatif,
seperti polusi dari hasi pembakaran batubara. Begitupun halnya dengan substitusi
energi di sektor rumah tangga. perlu ditunjang dengan ketersediaan alat yang
kompatibel dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Di sisi lain. untuk
memberikan kenyamanan pada pengguna energi alternatif. maka pemerintah perlu
memberikan jaminan kontinuitas distribusi energi alternatif tersebut. Mengganti BBM
dengan batubara atau gas bumi memang terkesan hanya sebagai solusi jangka pendek
karena memang sama-sama energi tidak terbarukan (non renewable energy), namun

hal ini akan menjadi jembatan penting untuk pengembangan energi alternatif lain yang
dapat diperbaharui (renewable energy).
Bioethanol
Bioethanol adalah ethanol yang diproduksi dari tumbuhan. Brazil, dengan 320 pabrik
bioethanol, adalah negara terkemuka dalam penggunaan serta ekspor bioethanol saat
ini. Di tahun 1990-an, bioethanol di Brazil telah menggantikan 50% kebutuhan bensin
untuk keperluan transportasi; ini jelas sebuah angka yang sangat signifikan untuk
mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Bioethanol tidak saja menjadi
alternatif yang sangat menarik untuk substitusi bensin, namun dia mampu menurunkan
emisi CO2 hingga 18% di Brazil. Dalam hal prestasi mesin, bioethanol dan gasohol
(kombinasi bioethanol dan bensin) tidak kalah dengan bensin; bahkan dalam beberapa
hal, bioethanol dan gasohol lebih baik dari bensin. Pada dasarnya pembakaran
bioethanol tidak menciptakan CO2 neto ke lingkungan karena zat yang sama akan
diperlukan untuk pertumbuhan tanaman sebagai bahan baku bioethanol. Bioethanol bisa
didapat dari tanaman seperti tebu, jagung, singkong, ubi, dan sagu; ini merupakan jenis
tanaman yang umum dikenal para petani di tanah air. Efisiensi produksi bioethanol bisa
ditingkatkan dengan memanfaatkan bagian tumbuhan yang tidak digunakan sebagai
bahan bakar yang bisa menghasilkan listrik.
Biodiesel
Serupa dengan bioethanol, biodiesel telah digunakan di beberapa negara, seperti Brazil
dan Amerika, sebagai pengganti solar. Biodiesel didapatkan dari minyak tumbuhan
seperti sawit, kelapa, jarak pagar, kapok, dsb. Beberapa lembaga riset di Indonesia telah
mampu menghasilkan dan menggunakan biodiesel sebagai pengganti solar, misalnya
BPPT serta Pusat Penelitian Pendayagunaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian
Lingkungan ITB. Kandungan sulfur yang relatif rendah serta angka cetane yang lebih
tinggi menambah daya tarik penggunaan biodiesel dibandingkan solar. Seperti telah
diketahui, tingginya kandungan sulfur merupakan salah satu kendala dalam penggunaan
mesin diesel, misalnya di Amerika. Serupa dengan produksi bioethanol, pemanfaatan
bagian tanaman yang tidak digunakan dalam produksi biodiesel perlu mendapatkan
perhatian serius. Dengan kerjasama yang erat antara pemerintah, industri, dan
masyarakat, bioethanol dan biodiesel merupakan dua kandidat yang bisa segera
diimplementasikan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Tenaga Panas Bumi
Salah satu sumber energi terbarukan yang potensinya sangat besar adalah panas bumi.
Berdasarkan data Indonesia Power, saat ini baru sekitar lima persen potensi panas bumi
yang dimanfaatkan di Indonesia. Dari 16.035 megawatt, baru 780 megawatt listrik yang
dihasilkan dari panas bumi.
Padahal potensi listrik yang dapat dibangkitkan dari panas bumi tersebar hampir di
seluruh wilayah Indonesia, khususnya di sepanjang jalur pegunungan bagian selatan.
Yaitu 4.885 megawatt di Sumatera, 8.100 megawatt di Jawa-Bali, 1.500 megawatt di
Sulawesi, dan 1.550 megawatt di pulau-pulau lainnya.
Bahkan berdasarkan data yang dipakai dalam blueprint pengelolaan energi nasional
(PEN), potensi panas bumi mencapai 27 ribu megawatt. Secara teori, sumber panas
bumi memang kemungkinan besar ditemukan di jalur pegunungan yang melalui
kawasan Indonesia.

Hanya saja sumber panas bumi kebanyakan berada di daerah terpencil di puncak
gunung. PLTP Kamojang saja berada pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas
permukaan laut (dpl) dan 25 kilometer dari Garut. Dengan alasan kesulitan menjangkau
dan besarnya investasi yang harus diperlukan untuk menyalurkan listrik yang dihasilkan
ke sistem interkoneksi, sumber listrik panas bumi tidak sepopuler Pembangkit Listrik
Tenaga Uap, Gas, atau Diesel.
Namun sejak harga minyak membumbung tinggi sementara pasokan minyak semakin
tergantung impor, mulailah dilirik berbagai sumber energi alternatif termasuk panas
bumi. Seharusnya pemerintah bisa mendorong berbagai pihak agar target produksi
panas bumi melebihi 9.000 megawatt pada tahun 2025. Jika target tersebut tercapai
sesuai blueprint PEN, panas bumi akan memasok 3,8 persen kebutuhan listrik nasional.
Harga jual listrik ke masyarakat paling tingi hanya Rp 495 per kilowatt jam. Sehingga
harus ada negosiasi ulang dengan Pertamina dapat dilakukan. Kendala lain yang harus
segera diatasi adalah dukungan kebijakan dari pemerintah. Meskipun sudah ada
Undang-undang No. 27 Tentang Panas Bumi, belum diikuti oleh berbagai peraturan
perundang-undangan
yang
mendukung
pelaksanaannya.
Padahal
potensi
pembangkitan energi yang ramah lingkungan ini juga berpotensi untuk mendatangkan
devisa dari penerbitan sertifikasi clean development management (CDM). Sayang sekali
jika potensi panas bumi yang sangat besar tidak segera termanfaatkan.
Mikrohidro
Mikrohidro adalah pembangkit listrik tenaga air skala kecil (bisa mencapai beberapa
ratus kW). Relatif kecilnya energi yang dihasilkan mikrohidro (dibandingkan dengan
PLTA skala besar) berimplikasi pada relatif sederhananya peralatan serta kecilnya areal
tanah yang diperlukan guna instalasi dan pengoperasian mikrohidro. Hal tersebut
merupakan salah satu keunggulan mikrohidro, yakni tidak menimbulkan kerusakan
lingkungan. Mikrohidro cocok diterapkan di pedesaan yang belum terjangkau listrik dari
PT PLN. Mikrohidro mendapatkan energi dari aliran air yang memiliki perbedaan
ketinggian tertentu. Energi tersebut dimanfaatkan untuk memutar turbin yang
dihubungkan dengan generator listrik. Mikrohidro bisa memanfaatkan ketinggian air
yang tidak terlalu besar, misalnya dengan ketinggian air 2.5 m bisa dihasilkan listrik
400W. Potensi pemanfaatan mikrohidro secara nasional diperkirakan mencapai 7,500
MW, sedangkan yang dimanfaatkan saat ini baru sekitar 600 MW. Meski potensi
energinya tidak terlalu besar, namun mikrohidro patut dipertimbangkan untuk
memperluas jangkauan listrik di seluruh pelosok nusantara.
Tenaga Surya
Energi yang berasal dari radiasi matahari merupakan potensi energi terbesar dan
terjamin keberadaannya di muka bumi. Berbeda dengan sumber energi lainnya, energi
matahari bisa dijumpai di seluruh permukaan bumi. Pemanfaatan radiasi matahari sama
sekali tidak menimbulkan polusi ke atmosfer. Perlu diketahui bahwa berbagai sumber
energi seperti tenaga angin, bio-fuel, tenaga air, dsb, sesungguhnya juga berasal dari
energi matahari. Pemanfaatan radiasi matahari umumnya terbagi dalam dua jenis, yakni
termal dan photovoltaic. Pada sistem termal, radiasi matahari digunakan untuk
memanaskan fluida atau zat tertentu yang selanjutnya fluida atau zat tersebut
dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Sedangkan pada sistem photovoltaic, radiasi
matahari yang mengenai permukaan semikonduktor akan menyebabkan loncatan
elektron yang selanjutnya menimbulkan arus listrik. Karena tidak memerlukan instalasi
yang rumit, sistem photovoltaic lebih banyak digunakan. Sebagai negara tropis,
Indonesia diuntungkan dengan intensitas radiasi matahari yang hampir sama sepanjang

tahun, yakni dengan intensitas harian rata-rata sekitar 4.8 kWh/m2. Meski terbilang
memiliki potensi yang sangat besar, namun pemanfaatan energi matahari untuk
menghasilkan listrik masih dihadang oleh dua kendala serius: rendahnya efisiensi
(berkisar hanya 10%) dan mahalnya biaya per-satuan daya listrik. Untuk pembangkit
listrik dari photovoltaic, diperlukan biaya US $ 0.25 - 0.5 / kWh, bandingkan dengan
tenaga angin yang US $ 0.05 - 0.07 / kWh, gas US $ 0.025 - 0.05 / kWh, dan batu bara
US $ 0.01 - 0.025 / kWh . Pembangkit lisrik tenaga surya ini sudah diterapkan di berbagi
negara maju serta terus mendapatkan perhatian serius dari kalangan ilmuwan untuk
meminimalkan kendala yang ada.
Tenaga Angin
Pembangkit listrik tenaga angin disinyalir sebagai jenis pembangkitan energi dengan laju
pertumbuhan tercepat di dunia dewasa ini. Saat ini kapasitas total pembangkit listrik
yang berasal dari tenaga angin di seluruh dunia berkisar 17.5 GW [17]. Jerman
merupakan negara dengan kapasitas pembangkit listrik tenaga angin terbesar, yakni 6
GW, kemudian disusul oleh Denmark dengan kapasitas 2 GW [17]. Listrik tenaga angin
menyumbang sekitar 12% kebutuhan energi nasional di Denmark; angka ini hendak
ditingkatkan hingga 50% pada beberapa tahun yang akan datang. Berdasar kapasitas
pembangkitan listriknya, turbin angin dibagi dua, yakni skala besar (orde beberapa ratus
kW) dan skala kecil (dibawah 100 kW). Perbedaan kapasitas tersebut mempengaruhi
kebutuhan kecepatan minimal awal (cut-in win speed) yang diperlukan: turbin skala
besar beroperasi pada cut-in win speed 5 m/s sedangkan turbin skala kecil bisa bekerja
mulai 3 m/s. Untuk Indonesia dengan estimasi kecepatan angin rata-rata sekitar 3 m/s,
turbin skala kecil lebih cocok digunakan, meski tidak menutup kemungkinan bahwa pada
daerah yang berkecepatan angin lebih tinggi (Sumatra Selatan, Jambi, Riau,dsb) bisa
dibangun turbin skala besar. Perlu diketahui bahwa kecepatan angin bersifat fluktuatif,
sehingga pada daerah yang memiliki kecepatan angin rata-rata 3 m/s, akan terdapat
saat-saat dimana kecepatan anginnya lebih besar dari 3 m/s - pada saat inilah turbin
angin dengan cut-in win speed 3 m/s akan bekerja. Selain untuk pembangkitan listrik,
turbin angin sangat cocok untuk mendukung kegiatan pertanian dan perikanan, seperti
untuk keperluan irigasi, aerasi tambak ikan, dsb
Iptek Net, 3 Juli 2006

Belajar dari Negeri China dalam menata energi nasional


"Belajarlah sampai ke Negeri China" dalam ajaran agama Islam pantas menjadi pandangan
bagi segenap bangsa Indonesia dalam menata energi nasional, yakni ketika China maupun
Indonesia tengah sama-sama berupaya menjadi industri maju dan menghadapi kendala
kebutuhan pasokan sumber daya energi yg meningkat tajam sejalan dengan pembangunan
ekonomi kedua bangsa.
Percepatan pembangunan ekonomi Negeri China yg amat mencengangkan selama dekade
terakhir tidak pelak lagi meyakinkan dunia, bahwa dekade awal abad 21 akan menjadi milik
China yg akan tumbuh menjadi negeri industri raksasa global yang akan melebihi atau
setidaknya setara dengan kekayaan dua negara raksasa ekonomi global AS dan Jepang.
Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi per tahun rata-rata selalu berkisar 9 persen maka
dalam dua dekade y.a.d menurut prakiraan ahli ekonomi PDB Negeri China akan menyamai
atau melebihi kekayaan ekonomi Jepang. Nominal PDB China 2004 sebesar AS $ 1.745
miliar akan berlipat ganda menjadi AS $ 5 trilyun.

Guna dapat terus menjamin kesinambungan momentum pertumbuhan ekonomi China sejak
tumbuh pesat sejak medio 1990, maka negeri ini akan terpacu untuk menjadi pemangsa
sumber daya alam yg amat intensif dalam lingkup global, termasuk didalamnya kebutuhan
pembangkit tenaga listrik.
Kalangan analis pembangunan ekonomi dan ilmuwan lingkungan hidup dengan cermat
mengamati situasi ini diimbuhi rasa kuatir mengingat pengalaman yang belum lama berlalu.
Pada tahun 1990 ketika Negeri China akhirnya berketetapan untuk membangun proyek
"Three Gorges Dam" di s.Yang Tze serta merta menimbulkan kontroversi pertentangan dari
kalangan ilmuwan lingkungan hidup global. Mega proyek bendungan raksasa sepanjang
hampir 2 km -atau 1/4 dari dimensi struktur buatan manusia yg terbesar sejagat: Tembok
Besar China yg panjangnya 8 km- dianggap menimbulkan kerusakan lingkungan yg teramat
parah.
Selain guna menata irigasi dan mengurangi hingga 90ingkat banjir sungai Yang Tze ,
pemerintah China membangun proyek bendungan "Bendung Tiga Ngarai" karena
bermaksud mendayagunakan bendungan guna mencukupi 15ari kebutuhan listrik nasional.
Dan selesainya proyek raksasa "Bendung Tiga Ngarai" pada tahun 2005 pun masih
menyisakan kebutuhan energi listrik tersisa yg cukup besar: 85 persen.
Saat ini porsi sumber listrik energi dengan sumber batubara memiliki porsi sebesar:
64.524.5BM, dan 3.1 persen gas alam. Hanya 3 persen sumber daya listrik yg diperoleh
dari sumber energi terbarukan / non-konvensional.
Kalangan analis lingkungan dunia mengkhawatirkan akan terjadinya bahaya degradasi
kualitas lingkungan hidup besar-besaran di negeri China dan dampak negatif dalam skala
global, apabila negeri itu terdesak untuk tetap mengandalkan pembakaran batubara
sebagai sumber daya listrik utama. Rencana pemerintah guna membangun 20 PLTN dalam
waktu dekat pun menimbulkan kekuatiran tersendiri.
Namun tidak segala langkah China bernilai minor, karena Pemerintah China setidaknya
telah melangkah maju dengan segera memberlakukan U.U tentang Energi Terbarukan
tahun 2006 dan Peraturan Pemerintah ttg standard ketat penggunaan BBM untuk
kendaraan mobil produksi terbaru. UU Energi Terbarukan secara tegas menggariskan target
penggunaan energi angin dan tenaga surya sebagai basis sumber energi masa depan
negeri itu. Diproyeksikan pada tahun 2020 energi berbasis sumber daya terbarukan akan
mencapai: 10 persen kebutuhan nasional.
Dari kedua sisi gelap-terang upaya dan kebijakan yg dilakukan Pemerintah China maka
Indonesia pantas menilik pelajaran yang amat berharga guna diterapkan terutama dalam
hal menata perencanaan infrastruktur energi nasional yang berperan amat vital dalam

VII. Penutup
Pemanfaatan sumberdaya energi dan sumberdaya mineral haruslah tetap berpijak pada
kaidah-kaidah pembangunan yang bertumpu pada masyarakat. Hal ini akan tercermin
dalam implementasi good governance (tata kelola pemerintahan yang baik).
Adanya berbagai permasalahan dalam pengelolaan dan pemanfaatan energi dan
sumberdaya mineral seharusnya disikapi, bahwa sumberdaya tersebut merupakan

renewable resource, sehingga prinsip kehati-hatian dan keberlanjutan harus tetap


diperhatikan dalam koridor good governance tersebut.
Adanya desentralisasi, termasuk dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya
tersebut, juga harus menjadi catatan tersendiri. Bila sebelum ini daerah lebih menjadi
subjek, maka ke depanya peran daerah akan meningkat secara signifikan, tidak hanyha
menyangkut bagi hasil yang lebih proporsional tetapi juga adanya responsibilitas yang
lebih besar, terutama menyangkut pengelolaan lingkungan yang terkait dengan aktivitas
pemanfaatan energi dan sumberdaya mineral tersebut.
Hal lain yang tidak kalah krusial adalah akses masyarakat terhadap pemanfaatan dan
pengelolaan energi dan sumberdaya mineral.
Bila sebelum ini pengembangan
masyarakat dilakukan secara parsial, maka ke depannya peran masyarakat harus lebih
ditingkatkan. Mereka, terutama masyarakat lokal harus diberdayakan dan merasa
nyaman di rumahnya tanpa ada friksi dengan perusahaan-perusahan pertambangan
yang beroperasi di wilayah kuasa pertambangan.
Pemanfaatan energi terbarukan juga harus diperhatikan, mengingat di masa depan,
jenis energi ini akan menjadi primadona untuk mencukupi kebutuhan energi nasional.
Artinya berbagai inovasi dan terobosan harus selalu dilakukan, agar ketergantungan
terhadap energi konvensional dapat dikurangi.
Poin-poin tersebut merupakan implementasi good governance dalam pengelolaan dan
pemanfaatan sektor energi dan sumberdaya mineral. Apabila para pemangku
kepentingan, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga penelitian, praktisi,
maupun insititusi terkait dapat mengimplementasikan dalam jangka pendek maupun
panjang, diharapkan pengelolaan dan pemanfaatan energi dan sumberdaya mineral di
negeri ini akan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Rujukan
1. Badan Pusat Statistik. Statistik Indonesia Tahun 2004.
2. Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi. Pengembangan Pemanfaatan Energi
Alternatif. Makalah Disampaikan Pada Diskusi di P2E-LIPI dengan tema
Pengembangan Sumber Daya Energi Alternatif: Upaya Mengurangi
Ketergantungan Terhadap Minyak. 2004.
3. PKSPL-IPB, 2003, Studi Kebijakan Sektor Energi dan Sumberdaya Mineral
Sebagai Tindak Lanjut KTT Johannesburg
4. PKSPL-IPB, 2004, Program Aksi Kebijakan Sektor Energi dan Sumberdaya
Mineral Sebagai Tindak Lanjut KTT Johannesburg
5. PKSPL-IPB, 2005, Program Kajian Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan
6. Warta Utama edisi Januari 2003. Bisnis Energi Alternatif: Pilihan-Pilihan Yang
Harus Diambil.
7. www.esdm.go.id. Data Energi di Sector Rumah Tangga. Sektor Transportasi.
Sektor Industri. Energi Minyak Bumi. Energi Batubara.