Anda di halaman 1dari 1

Sejarah Perkembangan Jalan Raya di Indonesia

Di Indonesia dengan berbagai macam kondisi tanah dasar, sumber daya manusia, dan
factor-faktor lainnya yang cukup potensial untuk dikembangkan, sehingga proses perancangan
dapat sesuai kondisi lapangan atau mendekati. Namun hal ini cukup sulit dilaksanakan, karena
beberapa keterbatasan, baik sumber dana maupun penerapannya. Padahal sesungguhnya kondisi
lapangan sangat membutuhkan adanya penyesuaian variabel-variabel yang belum terakomodasi
pada perancangan. Sebagai gambaran bahwa dengan perkembangan system angkutan barang
(jumlah berat beban dan konfigurasi sumbu), sementara system perancangan masih mengacu
berat dan sistem sumbu lama, sehingga masih ditemukan beberapa perkerasan jalan yang tidak
awet, bahkan agak jauh dari usia perkerasan jalan yang direncanakan. Hal inilah yang menjadi
pokok pemikiran sistem perancangan ke depan.
Beban berlebih, adalah salah satu factor penyebab utama kerusakan perkerasan jalan,
juga jumlah lintasan beban berat (truk bermuatan) yang tidak terdeteksi secara tepat dalam
perhitungan lalu lintas, yang mana hal tersebut merupakan salah satu data masukan utama pada
sistem perancangan. Sehingga yang terjadi dilapangan agak berbeda dengan yang direncanakan.
Oleh karena itu, perlu diuraikan lebih detail, khususnya penyertaab presentase jumlah truk dalam
proses analisi perhitungan lalulintas. Faktor dasar pembentuk lapisan perkerasan, mulai dari
lapisan sub-pondasi (subbase), lapisan pondasi agregat (base), sampai pada lapis permukaan
(surface). Pada umumnya mulai dari pemilihan jenis material, komposisi susunan material
sampai pada pola pemadatan di lapangan, dimana hal ini sangat berpengaruh terhadap kinerja
perkerasan secara menyeluruh.
(Sumber : Perancangan Tebal Perkerasan Jalan Jalan ; Jenis Lentur dan Jenis Kaku
(sesuai AASHTO, 1986) Karangan Pinardi Koestalam dan Sutoyo)