Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asas legalitas yang dikenal dalam hukum pidana modern muncul dari
lingkup sosiologis Abad Pencerahan yang mengagungkan doktrin
perlindungan rakyat dari perlakuan sewenang-wenang kekuasaan. Sebelum
datang Abad Pencerahan, kekuasaan dapat menghukum orang meski tanpa
ada peraturan terlebih dulu. Saat itu, selera kekuasaanlah yang paling berhak
menentukan apakah perbuatan dapat dihukum atau tidak. Untuk
menangkalnya, hadirlah asas legalitas yang merupakan instrumen penting
perlindungan kemerdekaan individu saat berhadapan dengan negara. Dengan
demikian, apa yang disebut dengan perbuatan yang dapat dihukum menjadi
otoritas peraturan, bukan kekuasaan.
enurut para ahli hukum, akar gagasan asas legalitas berasal dari
ketentuan Pasal !" agna #harta $%&%'( di )nggris yang menjamin adanya
perlindungan rakyat dari penangkapan, penahanan, penyitaan, pembuangan,
dan dikeluarkannya seseorang dari perlindungan hukum*undang-undang,
kecuali ada putusan peradilan yang sah. +etentuan ini diikuti ,abeas #orpus
Act $%-."( di )nggris yang mengharuskan seseorang yang ditangkap diperiksa
dalam waktu singkat. /agasan ini mengilhami munculnya salah satu
ketentuan dalam Declaration o0 )ndependence $%..-( di Amerika Serikat yang
menyebutkan, tiada seorang pun boleh dituntut atau ditangkap selain dengan,
dan karena tindakan-tindakan yang diatur dalam, peraturan perundang-
undangan.
1erdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk
menulis makalah ini yang berjudul 2A3a3 4egalitas Dalam Perspekti0
Penegakan ,ukum Pidana5.
2
B. Rumusan Masalah
%. akalah ini akan membahas tentang 2A3as 4egalitas Dalam Perspekti0
Penegakan ,ukum Pidana5.
C. Tujuan Penulisan
6ujuan disusunnya makalah untuk menyelesaikan tugas yang telah
diberikan. Selain itu penyusunan ini juga untuk membuka jendela
permasalahan perspekti0 penegakan hukum pidana. ,arapan penulis adalah
agar makalah ini tidak hanya berman0aat bagi diri sendiri, akan tetapi
berman0aat juga bagi meraka yang membutuhkan untuk re0erensi ataupun
bahan bacaan semata.
3
BAB II
PEMBAHASAN
Pada dasarnya asas legalitas la3im disebut juga dengan terminologi
2principle o0 legality5, 2legaliteitbeginsel5, 2non-retroakti05, 2de la legalite5 atau
2e7 post 0acto laws5. +etentuan asas legalitas diatur dalam Pasal % ayat $%( +itab
Undang-Undang ,ukum Pidana $+U,P( )ndonesia yang berbunyi8 26iada suatu
peristiwa dapat dipidana selain dari kekuatan ketentuan undang-undang pidana
yang mendahuluinya.5 $/een 0eit is stra0baar dan uit kracht van een daaran
voora0gegane wetteljke stra0bepaling(. P.A.9. 4amintang dan #. Djisman Samosir
merumuskan dengan terminologi sebagai, 26iada suatu perbuatan dapat dihukum
kecuali didasarkan pada ketentuan pidana menurut undang-undang yang telah
diadakan lebih dulu5. Andi ,am3ah menterjemahkan dengan terminologi, 26iada
suatu perbuatan $0eit( yang dapat dipidana selain berdasarkan kekuatan ketentuan
perundang-undangan pidana yang mendahuluinya5. oeljatno menyebutkan pula
bahwa, 26iada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana
dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan dilakukan5. :emar
Seno Adji menentukan prinsip 2legality5 merupakan karakteristik yang essentieel,
baik ia dikemukakan oleh 2;ule o0 4aw5 < konsep, maupun oleh 0aham
2;echtstaat5 dahulu, maupun oleh konsep 2Socialist 4egality5. Demikian
misalnya larangan berlakunya hukum Pidana secara retroakti0 atau retrospective,
larangan analogi, berlakunya a3as 2nullum delictum5 dalam ,ukum Pidana,
kesemuanya itu merupakan suatu re0leksi dari prinsip 2legality5. =yoman Serikat
Putra >aya, menyebutkan perumusan asas legalitas dalam Pasal % ayat $%( +U,P
mengandung makna asas le7 temporis delicti, artinya undang-undang yang
berlaku adalah undang-undang yang ada pada saat delik terjadi atau disebut juga
asas 2nonretroakti05, artinya ada larangan berlakunya suatu undang-undang pidana
secara surut. Asas legalitas juga berkaitan dengan larangan penerapan e7 post
0acto criminal law dan larangan pemberlakuan surut hukum pidana dan sanksi
pidana $nonretroactive application o0 criminal laws and criminal sanctions(
Dikaji dari substansinya, asas legalitas dirumuskan dalam bahasa 4atin sebagai
4
nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali $tidak ada delik, tidak ada
pidana tanpa ketentuan pidana yang mendahuluinya(, atau nulla poena sine lege
$tidak ada pidana tanpa ketentuan pidana menurut undang-undang(, nulla poena
sine crimine $tidak ada pidana tanpa perbuatan pidana(, nullum crimen sine lege
$tidak ada perbuatan pidana tanpa pidana menurut undang-undang( atau nullum
crimen sine poena legali $tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa
ketentuan pidana yang mendahuluinya( atau nullum crimen sine lege stricta $tidak
ada perbuatan pidana tanpa ketentuan yang tegas(.
+onsepsi asas ini dikemukakan oleh Paul >ohan Anslem von 9eurbach
$%..'-%?!!(, seorang sarjana hukum pidana >erman dalam bukunya 4ehrbuch des
penlichen recht pada tahun %?@% yang mengemukakan teori mengenai tekanan
jiwa $Psychologische Awang 6heorie(. Paul >ohan Anslem von 9eurbach
beranggapan bahwa suatu ancaman pidana merupakan usaha preventi0 terjadinya
tindak pidana dan jikalau orang telah mengetahui sebelumnya bahwa ia diancam
pidana karena melakukan tindak pidana, diharapkan akan menekan hasratnya
untuk melakukan perbuatan tersebut. Akan tetapi, menurut >.B. Sahetapy
dikemukakan bahwa Samuel von Pu0endor0lah yang mendahului von 9euerbach,
maka :ppenheimer menganggap bahwa 26almudic >urisprudence5 lah yang
mendahului teori von 9eurbach. 1ambang Poernomo menyebutkan bahwa, apa
yang dirumuskan oleh von 9eurbach mengandung arti yang sangat mendalam,
yaitu dalam bahasa 4atin berbunyi8 2nulla poena sine legeC nulla poena sine
crimineC nullum crimen sine poena legali5.
Akan tetapi, walaupun asas legalitas di0ormulasikan dalam bahasa 4atin,
ada menimbulkan kesan seolah-olah asal muasal asas ini adalah dari hukum
;omawi kuno. Aturan ini, dalam 0ormulasi bahasa 4atin, berasal dari juris
>erman, von 9euerbach < ini berarti bahwa asas ini lahir pada awal abad %" dan
harus dipandang sebagai produk ajaran klasik. >.B. Sahetapy menyebutkan bahwa
asas legalitas dirumuskan dalam bahasa 4atin semata-mata karena bahasa 4atin
merupakan bahasa Ddunia hukumE yang digunakan pada waktu itu. oeljatno
menyebutkan bahwa, baik adagium ini maupun asas legalitas tidak dikenal dalam
hukum ;omawi +uno. Pada saat itu dikenal kejahatan yang disebut criminal e7tra
5
ordinaria, yang berarti 2kejahatan-kejahatan yang tidak disebut dalam undang-
undang5. Diantara criminal e7tra ordinaria ini yang terkenal adalah crimina
stellionatus $perbuatan durjana*jahat(. Dalam sejarahnya, criminal e7tra ordinaria
ini diadopsi raja-raja yang berkuasa. Sehingga terbuka peluang yang sangat lebar
untuk menerapkannya secara sewenang-wenang. :leh karena itu, timbul
pemikiran tentang harus ditentukan dalam peraturan perundang-undangan terlebih
dahulu perbuatan-perbuatan apa saja yang dapat dipidana.
Selain konteks di atas, ada juga yang berasumsi bahwa asas legalitas berasal
dari ajaran ontesFuieu dalam bukunya 4EBsprit des 4ois. enurut van der Donk
dan ,a3ewinkel Suringa baik ajaran ontesFuieu maupun ;osseau
mempersiapkan penerimaan umum terhadap asas legalitas, akan tetapi dalam
ajaran kedua tokoh tersebut tidak terdapat rumusan asas legalitas. aksud dari
pelajaran kedua tokoh tersebut adalah melindungi individu terhadap tindakan
hakim yang sewenang-wenang, yaitu melindungi kemerdekaan pribadi individu
terhadap tuntutan tindakan yang sewenang-wenang. ,ans +elsen menyebutkan
dimensi asas nulla poena sine lege, nullum crimen sine lege adalah ekspresi legal
positivism dalam hukum pidana.
Dikaji dari perspekti0 sejarah terbentuknya asas legalitas dalam +U,P
)ndonesia berasal dari Getboek van Stra0recht =ederland $GvS. =ed(,
sebagaimana berasal dari ketentuan Pasal ? Declaration des Droits De 4E,omme
Bt Du #itoyen tahun %.?" yang berbunyi, 2tidak ada orang yang dapat dipidana
selain atas kekuatan undang-undang yang sudah ada sebelumnya5, dan merupakan
pandangan 4a0ayette dari Amerika ke Perancis dan bersumber dari 1ill o0 ;ights
Hirgina tahun %..-.
Apabila dianalisis lebih intens, detail dan terperinci terminologi 2ketentuan
perundang-undangan $wettelijk stra0bepaling(5 dan 2undang-undang5 maka ruang
lingkup asas legalitas dalam hukum pidana materiil lebih luas dengan terminologi
2perundang-undangan5 dari kata 2undang-undang5 pada ketentuan hukum acara
pidana. 6egasnya, asas legalitas di samping dikenal dalam ketentuan hukum
pidana materiel juga dikenal dalam ketentuan hukum acara pidana $hukum pidana
0ormal(. Andi ,am3ah kemudian lebih lanjut menyebutkan bahwa dengan
6
demikian, asas legalitas dalam hukum acara pidana lebih ketat daripada dalam
hukum pidana materiel, karena istilah dalam Pasal % ayat $%( +U,P $sama dengan
1elanda( 2ketentuan perundang-undangan5 $wettelijk stra0bepaling( sedangkan
dalam hukum acara pidana disebut undang-undang pidana. >adi, suatu peraturan
yang lebih rendah seperti Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah dapat
menentukan suatu perbuatan dapat dipidana tetapi tidak boleh membuat aturan
acara pidana.
,akikat ketentuan Pasal % ayat $%( +U,P tersebut mendeskripsikan tentang
pemberlakuan hukum pidana menurut waktu terjadinya tidak pidana $tempus
delicti(. +onkritnya, untuk menentukan dapat atau tidaknya suatu perbuatan agar
dipidana maka ketentuan pidana tersebut harus ada terlebih dahulu diatur sebelum
perbuatan dilakukan. 9rancis 1acon $%'-%-%-&-(, seorang 0ilsu0 )nggris
merumuskan dalam adagium moneat le7, priusFuam 0eriat $undang-undang harus
memberikan peringatan terlebih dahulu sebelum merealisasikan ancaman yang
terkandung di dalamnya(, ini kiranya mencakup lebih dari sekedar itu, yakni
mencakup juga pembenaran atas pidana yang dijatuhkan. ,anya jika ancaman
pidana yang muncul terlebih dahulu telah di0ungsikan sebagai upaya pencegahan,
menghukum dapat dibenarkan.
Dalam perspekti0 tradisi #ivil law, ada empat aspek asas legalitas yang
diterapkan secara ketat, yaitu terhadap peraturan perundangan-undangan $law(,
retroaktivitas $retroactivity(, le7 certa dan analogi. ;oelo0 ,. ,aveman
menyebutkan keempat dimensi konteks di atas sebagai, though it might be said
that not every aspect is that strong on its own, the combination o0 the 0our aspects
gives a more true meaning to principle o0 legality. oeljatno menyebutkan bahwa
asas legalitas mengandung tiga pengertian, yaitu8
%. 6idak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu
terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang.
&. Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi
$kiyas(.
!. Aturan-aturan hukum pidana tidak berlaku surut.
7
+omariah Bmong Sapardjaja dengan bertitik tolak pandangan /roenhuijsen
menyebutkan ada empat makna yang terkandung asal legalitas dalam Pasal % ayat
$%( +U,P. Pertama, bahwa pembuat undang-undang tidak boleh memberlakukan
suatu ketentuan pidana berlaku mundur. +edua, bahwa semua perbuatan yang
dilarang harus dimuat dalam rumusan delik sejelas-jelasnya. +etiga, hakim
dilarang menyatakan bahwa terdakwa melakukan perbuatan pidana didasarkan
pada hukum tidak tertulis atau hukum kebiasaan. +eempat, terhadap peraturan
hukum pidana dilarang diterapkan analogi. Polarisasi pemikiran +omariah Bmong
Sapardjaja dengan bertitik tolak pandangan /roenhuijsen hakikatnya identik
dengan pendapat dari achteld 1oot dengan titik tolak pandangan >eschek dan
Geigend yang menyebutkan empat syarat asas legalitas. Pertama, tidak ada
perbuatan pidana dan pidana tanpa undang-undang sebelumnya $asas nullum
crimen, noela poena sine lege pravia(. +edua, tidak ada perbuatan pidana, tidak
ada pidana tanpa undang-undang tertulis $asas nullum crimen, nulla poena sine
lege scripta(. +etiga, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa aturan
undang-undang yang jelas $asas nullum crimen, nulla poena sine lege certa(.
+eempat, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa undang-undang yang
ketat $asas nullum crimen, noela poena sine lege stricta(. 4ebih detail achteld
1oot menyebutkan bahwa8
26he 0ormulation o0 the /eset3lichkeitsprin3ip in Article % St/1 is
generally considered to include 0our separate reFuirements. 9ist, conduct can only
be punished i0 the punishability as well as the acconpanying penalty had been
determined be0ore the o00ence was committed $nullum crimen, noela poena sine
lege praevia(. 9urthermore, these determinations have to be be included in statutes
$/eset3e(8 nullum crimen, noela poena sine lege scripta. 6hese statutes have to be
di0inite $bestimmt(8 nullum crimen, noela poena sine lege certa. 4astly, these
statutes may not be applied by analogy which is re0lected in the a7ion nullum
crimen, noela poena sine lege stricta.5
>,. >. Bnschede, menyebutkan hanya ada dua makna yang terkandung
dalam asas legalitas, yaitu8 Pertama, suatu perbuatan dapat dipidana hanya jika
diatur dalam perundang-undangan pidana $...wil een 0eit stra0baar 3ijn, dan moet
8
het vallen onder een wettelijke stra0bepaling...(. +edua, kekuatan ketentuan
pidana pidana tidak boleh diberlakukan surut $...3oEn stra0bepaling mag geen
terugwerkende kracht hebben...(. +emudian >an ;emmelink menyebutkan tiga hal
tentang makna asas legalitas. Pertama, +onsep perundang-undang yang
diandaikan ketentuan Pasal %. +etentuan Pasal % Sv $+U, Pidana 1elanda
maupun )ndonesia, bdgk. Pasal ! +U,P )ndonesia %"?%( menetapkan bahwa
hanya perundang-undangan dalam arti 0ormal yang dapat memberi pengaturan di
bidang pemidanaan. +ata perundang-undangan $wettelijk( dalam ketentuan Pasal
% menunjuk pada semua produk legislati0 yang mencakup pemahaman bahwa
pidana akan ditetapkan secara legitimate. Sebelumnya telah ditunjukkan bahwa
pelbagai bentuk perundang-undangan tercakup di dalamnya, termasuk peraturan
yang dibuat oleh pemerintah daerah $tingkat provinsi maupun
kabupaten*kotamadya( dan seterusnya. +edua, 4e7 #erta $undang-undang yang
dirumuskan terperinci dan cermat*nilai relati0 dari ketentuan ini(. Asas 4e7 #erta
atau bestimmtheitsgebot merupakan perumusan ketentuan pidana yang tidak jelas
atau terlalu rumit hanya akan memunculkan ketidakpastian hukum dan
menghalangi keberhasilan upaya penuntutan $pidana( karena warga selalu akan
dapat membela diri bahwa ketentuan-ketentuan seperti itu tidak akan berguna
sebagai pedoman perilaku. +etiga, dimensi analogi. Asas legalitas menyimpan
larangan untuk menerapkan ketentuan pidana secara analogis $nullum crimen sine
lege stricta8 tiada ketentuan pidana terkecuali dirumuskan secara sempit*ketat di
dalam peraturan perundang-undangan(.
4ebih lanjut Hon 9eurbach menyebutkan makna asas legalitas menimbulkan
tiga peraturan lain. Pertama, setiap penggunaan pidana hanya dapat dilakukan
berdasarkan hukum pidana $nulla poena sine lege(. +edua, penggunaan pidana
hanya mungkin dilakukan, jika terjadi perbuatan yang diancam dengan pidana
oleh undang-undang $nulla poena sine crimine(. +etiga, perbuatan yang diancam
dengan pidana yang menurut undang-undang, membawa akibat hukum bahwa
pidana yang diancamkan oleh undang-undang dijatuhkan $nullum crimen sine
poena legali(. 1erikutnya ;ichard /. Singer dan artin ;. /ardner menyebutkan
asas legalitas berkorelasi dengan ! $tiga( dimensi, yaitu8 Pertama, pemidanaan
9
tidak dapat diberlakukan secara retroakti0. +edua, pembentuk undang-undang
dilarang membuat hukum yang berlaku surut. +etiga, perbuatan pidana harus
dide0inisikan oleh lembaga atau institusi yang berwenang.
Pada dasarnya, perkembangan asas legalitas eksistensinya diakui dalam
+U,P )ndonesia baik asas legalitas 0ormal $Pasal % ayat $%( +U,P( maupun asas
legalitas materiil $Pasal % ayat $!( ;UU +U,P 6ahun &@@?(. Akan tetapi, Utrecht
keberatan dengan dianutnya asas legalitas di )ndonesia. Alasannya ialah banyak
sekali perbuatan yang sepatutnya dipidana $stra0waardig( tidak dipidana karena
adanya asas tersebut serta asas legalitas menghalangi berlakunya hukum pidana
adat yang masih hidup dan akan hidup. 4ebih terperinci maka Utrecht mengatakan
bahwa8
26erhadap a3as nullum delictum itu dapat dikemukakan beberapa keberatan.
Pertama-tama dapat dikemukakan bahwa a3as nullum delictum itu kurang
melindungi kepentingan-kepentingan kolekti0 $collectieve belangen(. Akibat a3as
nullum delictum itu hanyalah dapat dihukum mereka yang melakukan suatu
perbuatan yang oleh hukum $Iperaturan yang telah ada( disebut secara tegas
sebagai suatu pelanggaran ketertiban umum. >adi, ada kemungkinan seorang yang
melakukan suatu perbuatan yang pada hakikatnya merupakan kejahatan, tetapi
tidak disebut oleh hukum sebagai suatu pelanggaran ketertiban umum, tinggal
tidak terhukum. A3as nullum delictum itu menjadi suatu halangan bagi hakim
pidana menghukum seorang yang melakukan suatu perbuatan yang biarpun tidak
2stra0baar5E masih juga 2stra0waardig5. Ada lagi satu alasan untuk menghapuskan
pasal % ayat % +U,Pidana, yaitu suatu alasan yang dikemukakan oleh terutama
hakim pidana di daerah bahwa pasal % ayat % +U, Pidana menghindarkan
dijalankannya hukum pidana adat.5
Akan tetapi, walaupun demikian pada umumnya asas legalitas tersebut
menurut Andi ,am3ah diterima dalam +U,P )ndonesia meskipun merupakan
dilema. 4ebih jauh dikatakan, bahwa8
2enurut pendapat Andi ,am3ah, adanya asas tersebut di dalam +U,P
)ndonesia merupakan dilemma, karena memang dilihat dari segi yang satu seperti
digambarkan oleh Utrecht tentang hukum adat yang masih hidup, dan menurut
10
pendapat Andi ,am3ah tidak mungkin dikodi0ikasikan seluruhnya karena
perbedaan antara adat pelbagai suku bangsa, tetapi dilihat dari sudut yang lain,
yaitu kepastian hukum dan perlindungan terhadap hak asasi manusia dari
perlakuan yang tidak wajar dan tidak adil dari penguasa dan hakim sehingga
diperlukan adanya asas itu. 4agipula sebagai negara berkembang yang
pengalaman dan pengetahuan para hakim masih sering dipandang kurang
sempurna sehingga sangat berbahaya jika asas itu ditinggalkan.5
1arda =awawi Arie0 menyebutkan bahwa perumusan ketentuan Pasal % ayat $%(
+U,P mengandung di dalamnya asas 2legalitas 0ormal5, asas 2le7 certa5, dan
asas 24e7 6emporis Delicti5 atau asas 2nonretroakti05. Asas legalitas 0ormal $le7
scripta( dalam tradisi civil law sebagai penghukuman harus didasarkan pada
ketentuan Undang-Undang atau hukum tertulis. Undang-Undang $statutory, law(
harus mengatur terhadap tingkah laku yang dianggap sebagai tindak pidana. 4e7
#erta atau bestimmtheitsgebot dimaksudkan kebijakan legislasi dalam
merumuskan undang-undang harus lengkap dan jelas tanpa samar-samar $nullum
crimen sine lege stricta(. Perumusan yang tidak jelas atau terlalu rumit hanya akan
memunculkan ketidakpastian hukum dan menghalangi keberhasilan upaya
penuntutan $pidana( karena warga selalu akan dapat membela diri bahwa
ketentuan-ketentuan seperti itu tidak berguna sebagai pedoman perilaku.
+emudian asas nonretroakti0 menentukan peraturan perundang-undangan tentang
tindak pidana tidak dapat diberlakukan surut $retroakti0( akan tetapi harus bersi0at
prospecti0. :leh karena itu maka makna asas legalitas tersebut hakikatnya terdapat
paling tidak ada J $empat( larangan $prohibitions( yang dapat dikembangkan asas
tersebut, yaitu8
%. 2nullum crimen, nulla poena sine lege scripta5 $larangan untuk memidana atas
dasar hukum tidak tertulisKunwritten law--( C
&. 2=ullum crimen, nulla poena sine lege stricta5 $larangan untuk melakukan
analogy( C
!. 2=ullum crimen, nulla poena sine lege praevia5 $larangan terhadap
pemberlakuan hukum pidana secara surut( C
11
J. 2=ullum crimen, nulla poena sine lege certa5 $larangan terhadap perumusan
hukum pidana yang tidak jelas <unclear terms-(.
+etentuan asas legalitas ini dalam ;ancangan Undang-Undang $;UU( +U,P
6ahun &@@? perumusannya identik dengan Pasal % ayat $%( +U,P. +etentuan
Pasal % ayat $%( ;UU +U,P 6ahun &@@? menyebutkan asas legalitas dengan
redaksional sebagai, 26iada seorangpun dapat dipidana atau dikenakan tindakan,
kecuali perbuatan yang dilakukan telah ditetapkan sebagai tindak pidana dalam
peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat perbuatan itu dilakukan5.
+emudian ketentuan asas legalitas ini lebih lanjut menurut penjelasan Pasal
% ayat $%( ;UU +U,P 6ahun &@@? disebutkan, bahwa8
2Ayat ini mengandung asas legalitas. Asas ini menentukan bahwa suatu
perbuatan hanya merupakan tindak pidana apabila ditentukan demikian oleh atau
didasarkan pada Undang-undang. Dipergunakan asas tersebut, oleh karena asas
legalitas merupakan asas pokok dalam hukum pidana. :leh karena itu peraturan
perundang-undangan pidana atau yang mengandung ancaman pidana harus sudah
ada sebelum tindak pidana dilakukan. ,al ini berarti bahwa ketentuan pidana
tidak berlaku surut demi mencegah kesewenang-wenangan penegak hukum dalam
menuntut dan mengadili seseorang yang dituduh melakukan suatu tindak pidana.5
Asas legalitas konteks di atas dalam +U,P )ndonesia mengacu kepada ide
dasar adanya kepastian hukum $recht3ekerheids(. Akan tetapi, dalam
implementasinya maka ketentuan asas legalitas tersebut tidak bersi0at mutlak. A.
Aainal Abidin 9arid menyebutkan pengecualian asas legalitas terdapat dalam
hukum transistoir $peralihan( yang mengatur tentang lingkungan kuasa berlakunya
undang-undang menurut waktu $sphere o0 time, tijdgebied( yang terdapat pada
pasal % ayat $&( +U, Pidana yang berbunyi, 2bilamana perundang-undangan
diubah setelah waktu terwujudnya perbuatan pidana, maka terhadap tersangka
digunakan ketentuan yang paling menguntungkan baginya.
1arda =awawi Arie0 mempergunakan terminologi melemahnya*
bergesernya asas legalitas antara lain dikarenakan sebagai berikut8
12
%. 1entuk pelunakan*penghalusan pertama terdapat di dalam +U,P sendiri,
yaitu dengan adanya Pasal % ayat $&( +U,P C
&. Dalam praktik yurisprudensi dan perkembangan teori, dikenal adanya ajaran
si0at melawan hukum yang materiel C
!. Dalam hukum positi0 dan perkembangannya di )ndonesia $dalam Undang-
undang Dasar Sementara %"'@C Undang-undang =omor % Drt %"'%C Undang-
undang =omor %J 6ahun %".@ jo Undang-undang =omor !' 6ahun %"""C dan
+onsep +U,P 1aru(, asas legalitas tidak semata-mata diartikan sebagai
2nullum delictum sine lege5, tetapi juga sebagai 2nullum delictum sine ius5
atau tidak semata-mata dilihat sebagai asas legalitas 0ormal, tetapi juga
legalitas materiel, yaitu dengan mengakui hukum pidana adat, hukum yang
hidup atau hukum tidak tertulis sebagai sumber hukum C
J. Dalam dokumen internasional dalam +U,P negara lain juga terlihat
perkembangan*pengakuan ke arah asas legalitas materiel $lihat Pasal %' ayat
$&( )nternational #onvention on #ivil and Political ;ight $)##P;( dan +U,P
+anada di atas( C
'. Di beberapa +U,P negara lain $antara lain +U,P 1elanda, Lunani, Portugal(
ada ketentuan mengenai 2pemaa0an*pengampunan hakim5 $dikenal dengan
berbagai istilah, antara lain 2rechterlijk pardon5, 2>udicial pardon5, 2Dispensa
de pena5 atau 2=onimposing o0 penalty5( yang merupakan bentuk 2>udicial
corrective to the legality principle5 C
-. Ada perubahan 0undamental di +U,AP Perancis pada tahun %".' $dengan
Undang-undang =omor .'--&J tanggal %% >uli %".'( yang menambahkan
ketentuan mengenai 2pernyataan bersalah tanpa menjatuhkan pidana5 $2the
declaration o0 guilt without imposing a penalty5( C
.. Perkembangan*perubahan yang sangat cepat dan sulit diantisipasi dari 2cyber-
crime5 merupakan tantangan cukup besar bagi berlakunya asas 2le7 certa5,
karena dunia maya $cyber-space( bukan dunia riel*realita*nyata*pasti.
+husus terhadap pengecualian asas legalitas ditentukan asas 2le7 temporis delicti5
sebagaimana ketentuan Pasal % ayat $&( +U,P. +onklusi dasar asas ini
13
menentukan apabila terjadi perubahan perundang-undangan maka diterapkan
ketentuan yang menguntungkan terdakwa. >an ;emmelink menyebutkan
ketentuan Pasal % ayat $&( memberikan jawaban dalam artian bahwa bila undang-
undang yang berlaku setelah tindak pidana ternyata lebih menguntungkan, maka
pemberlakuannya secara surut diperkenankan. Pandangan demikian diakui dan
diterima di 1elgia dan >erman. A. Aainal Abidin 9arid menyebutkan yang
dimaksud dengan perubahan undang-undang dalam pasal % ayat $&( +U,P apakah
termasuk undang-undang pidana saja atau semua aturan hukum maka aspek ini
dapat dijawab dengan tiga teori yaitu teori 0ormil yang dianut oleh Simons,
kemudian teori materiil terbatas yang dikemukakan oleh van /euns dan teori
materiil tak terbatas. enurut teori 0ormil maka perubahan undang-undang baru
dapat terjadi bilamana redaksi undang-undang pidana yang diubah. Perubahan
undang-undang lain selain dari undang-undang pidana, walaupun berhubungan
dengan undang-undang pidana, bukanlah perubahan undang-undang menurut
pasal % ayat $&( +U, Pidana. +emudian menurut teori materiil terbatas bahwa
perubahan undang-undang yang dimaksud harus diartikan perubahan keyakinan
hukum pembuat undang-undang. Perubahan karena 3aman atau keadaan tidak
dapat dianggap sebagai perubahan undang-undang e7 pasal % ayat $&( +U,
Pidana. 6eori materiil tak terbatas dimana ,.;. dalam keputusannya tanggal '
Desember %"&% $=.>. %"&& h. &!"( yang disebut ,uurcommicciewet-arrest,
berpendapat bahwa 5perundang-undangan meliputi semua undang-undang dalam
arti luas dan perubahan undang-undang meliputi semua macam perubahan, baik
perubahan perasaan hukum pembuat undang-undang menurut teori materiil
terbatas, maupun perubahan keadaan karena waktu5.
+onklusi dasar asas legalitas sebagaimana diuraikan konteks di atas, dikaji
dari prespekti0 karakteristiknya terdapat dimensi-dimensi sebagai berikut8
6idak dapat dipidana, kecuali berdasarkan ketentuan pidana menurut undang-
undang.
6idak dapat diterapkan undang-undang pidana berdasarkan analogi.
6idak dipidana hanya berdasarkan kebiasaan.
6idak boleh ada rumusan delik yang kurang jelas $asas le7 certa(.
14
6idak ada ketentuan pidana diberlakukan secara surut $asas nonretroakti0(.
6idak ada pidana, kecuali ditentukan dalam undang-undang.
Penuntutan pidana hanya berdasarkan ketentuan undang-undang.
Dikaji dari perspekti0 perbandingan hukum $comparative law( maka asas legalitas
tersebut juga dikenal dan diakui oleh beberapa negara. Pada )nternational
#riminal #ourt $)##( asas legalitas diatur khususnya pada article &&, article &!
dan article &J. +etentuan article && =ullum crimen sine lege ayat $%(
menyebutkan, 2A person shall not be criminally responsible under this Statute
unless the conduct in Fuestion constitutes, at the time it takes place, a crime within
the jurisdiction o0 the court5, dan ayat $&( menyebutkan, 26he de0inition o0 a
crime shall not be e7tended by analogy. )n case o0 ambiguity. 6he de0inition shall
be intepreted in 0avour o0 the person being investigated, prosecuted, or
convicted5, dan ayat $!(, 26his article shll not a00ect the characteri3ation o0 any
conduct as criminal under international law independently o0 the Statute5.
+emudian article &! berbunyi, 2A person convicted by the court may be
punished only in accordance with the Statute5, dan article &J ayat $%(
selengkapnya berbunyi bahwa, 2=o person shall be criminally responsible under
this Statute 0or conduct prior to the entry into 0orce o0 the Statute5, dan ayat $&(
berbunyi bahwa, 2)n the event o0 change in the applicable to a given case prior to
a 0inal judgment, the law more 0avorable to the person being investigated or
convicted shall apply5.
+emudian dalam Pasal " +onvensi Amerika tentang ,ak Asasi anusia
yang ditandatangani di San >ose, #osta ;ica tanggal && =ovember %"-? dan
mulai berlaku pada tanggal %? >uli %".? asas legalitas di0ormulasikan dengan
redaksional bahwa, 2=o one shall be convicted o0 any act or omission that did
notconstitute a criminal o00ence, under applicable law, at the time when it was
committed. A heavier penalty shall not be imposed than the one that was
applicable at the time the criminal o00ence. )0 subseFuent to the commission o0 the
o00ense that law provides 0or the imposition o0 a lighter punishment, the guilty
person shall bene0it there0orm5. 1erikutnya, asas legalitas juga terdapat dalam
15
Deklarasi ,ak Asasi anusia yang diumumkan oleh ;esolusi ajelis Umum
P11 &%.A $)))( tanggal %@ Desember %"J? dimana pada Pasal %% ayat $&(
disebutkan asas legalitas dengan redaksional bahwa, 2=o one shall be had guilty
o0 any penal o00ence on account o0 any act or omission which did not constitute a
penal o00ence, under national or international law, at the time when it was
commited. =ot shall a heavier by imposed than the one that was applicable at the
time the penal o00ence was committed5. Selain itu, asas legalitas juga dikenal
dalam Pasal . ayat $&( A0rican #harter on ,uman and People ;ights yang
ditandatangani di =airobi, +enya, dan berlaku pada tangal &% :ktober %"?- yang
menyebutkan bahwa, 2=o one may be condemmed 0or an act or omission which
did not constitute a legally punishable o00ence 0or which no provision was made at
the time it was committed. Punishment is personal and can be imposed only on
the o00ender5.
+emudian pada +U,P >erman yang diumumkan tanggal %! =ovember
%""? $9ederal 4aw /a3ette ), p. "J', p. !&&( disebut Stra0geset3buch $St/1( pada
Section % =o Punishment Githout a 4aw disebutkan bahwa, 2Sebuah perbuatan
hanya dapat dipidana apabila telah ditetapkan oleh undang-undang sebelum
perbuatan itu dilakukan5, $An act may only be punished i0 its punishability was
determined by law be0ore the act was committed(. Pada asasnya, asas legalitas ini
di >erman juga berorientasi kepada dimensi penuntutan, sehingga menurut /eorge
P. 9letcher di >erman menganut 2positive legality principle5.
+emudian asas legalitas ini juga dikenal di =egara Polandia. Pada ketentuan
Pasal J& +onstitusi ;epublik Polandia maka asas legalitas dirumuskan dengan
redaksional, 2:nly a person who has commited an act prohibited by a statute in
0orce at the moment o0 commission there o0, and which is subject to a penalty,
shall be geld criminally responsible. 6his principle shaal not prevent punishment
o0 any act which, at the moment o0 its commission, constituted an o00ence within
the meaning o0 international law5. 1erikutnya asas legalitas ini dirumuskan dalam
Pasal . +onstitusi Perancis dengan menyebutkan bahwa, 2A person may be
accused, arrested, or detained only in the cases speci0ied by law and in accordance
with the procedures which the law provides. 6hose who solicit, 0orward, carry out
16
or have arbitrary orders carried out shall be punishedC however, any citi3en
summoned or apprehended pursuant to law obey 0orhwithC by resisting, he admits
his guilt5. +emudian dalam Pasal &' +onstitusi Spanjol ditegaskan asas legalitas
adalah, 2=o one may be convicted or sentenced 0or actions or omissions which
when committed did not constitute a criminal o00ence, misdemeanour or
administrative o00ence under the law then in 0orce5 dan dalam Pasal &' +onstitusi
)talia asas legalitas dirumuskan sebagai, 2=o one shall be punished on the basic o0
a law which has entered into 0orce be0ore the o00ence has been committed5.
Selain negara-negara di atas maka asas legalitas juga dikenal dalam Pasal
%J +onstitusi =egara 1elgia sebagai, 2=o punishment can be made or given
e7cept in pursuance o0 the law5. +emudian Pasal &" +onstitusi ;epublik Portugal
menentukan bahwa, 5=o one shall be convicted under the criminal law e7cept 0or
an act or omission made punishable under e7iisting lawC and no one shall be
subjected to a security measure, e7cept 0or reasons authorised under e7isting law.
=o sentences or security measures shall be ordered that are not e7pressly provided
0or in e7isting lawas. =o one shall bee subjected to a sentence or security measure
that is more severe than hose applicable at the time the act was committed or the
preparations 0or its commission were made. #riminal laws that are 0avourable to
the a00ender shall aply retroactively5. Selanjutnya pada Pasal '. +onstitusi
,ongaria disebut asas legalitas dengan redaksional sebagai, 2=o one shall be
declared guilty and subjected to punishment 0or an o00ense that was not a criminal
o00ense under ,ungarian law at the time such o00ense was committed5.
17
BAB III
PENUTUP
A. esim!ulan
Sebagai salah satu yang ingin dicapai dalam asas legalitas adalah
memperkuat kepastian hukum, menciptakan keadilan dan kejujuran bagi
terdakwa, menge0ekti0kan 0ungsi penjeraan dalam sanksi pidana, mencegah
penyalahgunaan kekuasaan, dan memperkokoh rule o0 law $uladi, &@@&(.
Asas ini memang sangat e0ekti0 dalam melindungi rakyat dari perlakuan
sewenang-wenang kekuasaan, tapi dirasa kurang e0ekti0 bagi penegak hukum
dalam merespons pesatnya perkembangan kejahatan. Dan, ini dianggap
sebagian ahli sebagai kelemahan mendasar.
B. Saran
1esar harapan penulis agar apa yang dibahas dalam makalah yang
sangat sederhana ini dapat membuka wawasan atau cakrawala ber0ikir para
pembaca agar dapat memberikan penjelasan yang lebih akurat tentang betapa
pentingnya asas legalitas bagi masyarakat, dan penulis juga berharap agar
asas legalitas bebenar-benar diaplikasikan yaitu tiada suatu peristiwa dapat
dipidana selain dari kekuatan ketentuan undang-undang pidana yang
mendahuluinya