Anda di halaman 1dari 10

APLIKASI PENGUAT DAYA RADIO FREKUENSI PADA PEMANCAR

FM DENGAN DAYA 100 WATT


Ito Sukmojati
1
, Koesmarijanto,ST.,MT
2
, Mochammad Taufik,ST.,MT
3


Jaringan Telekomunikasi Digital, Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Malang


ABSTRAK

Komunikasi merupakan suatu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari manusia. Tanpa
melakukan komunikasi manusia akan sulit untuk menyampaikan informasi. Komunikasi yang
dilakukan oleh manusia bisa secara langsung atau tidak langsung. Komunikasi tidak langsung
yaitu dengan saling bertukar informasi dari tempat yang berjauhan dengan menggunakan
bantuan alat komunikasi jarak jauh (telekomunikasi). Informasi yang dimaksud dalam hal ini
adalah suara, percakapan, ataupun musik. Komunikasi tidak langsung ini dapat dilakukan dengan
menggunakan teknik frequency modulation (FM) dengan memodulasi sinyal suara dengan
frekuensi lebih tinggi yaitu dari 88 MHz sampai dengan 108 MHz dan juga merupakan frekuensi
yang digunakan oleh radio. FM memiliki keunggulan bandwidth yang lebar dan bebas dari
pengaruh gangguan udara.
Penguat daya pada pemancar FM sering menggunakan transistor dengan spesifikasi
tinggi, dengan daya masukan yang kecil dan menghasilkan daya keluaran yang besar. Pada
penelitian ini, transistor yang digunakan adalah jenis mosfet Philips BLF278. Memiliki spesifikasi
dasar daya masukkan 0-5 Watt dan daya output maksimal 300 Watt. Tegangan masukkan 50 V
DC

dengan arus 10 A. Frekuensi kerja mulai dari 30 MHz sampai dengan 175 MHz.
Berdasarkan hasil pengujian di Bengkel Telekomunikasi, panjang kabel input dan output
pada pallet booster dengan menggunakan kabel koaksial Belden 9914 sepanjang 29.7 cm. Dengan
input referensi dari buffer dan driver pada 14.5 dBm dan output daya 0.6 Watt, selanjutnya nilai
buffer dan driver ditambah dengan step 0.5 sampai dengan 17 dBm. Nilai output terbesar
didapatkan pada saat nilai inputnya 17 dBm yaitu sebesar 70 Watt terukur dan terus naik secara
perlahan karena bias voltage bekerja kurang maksimal.

Kata Kunci : Transistor Mosfet BLF278, Penguat Daya RF, Pemancar FM

1. PENDAHULUAN
Komunikasi merupakan suatu
kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari
manusia. Tanpa melakukan komunikasi
manusia akan sulit untuk menyampaikan
informasi. Komunikasi yang dilakukan oleh
manusia bisa secara langsung atau tidak
langsung. Komunikasi tidak langsung yaitu
dengan saling bertukar informasi dari tempat
yang berjauhan dengan menggunakan
bantuan alat komunikasi jarak jauh
(telekomunikasi). Informasi yang dimaksud
dalam hal ini adalah suara, percakapan,
ataupun musik.
Komunikasi tidak langsung ini dapat
dilakukan dengan menggunakan teknik
frequency modulation (FM) dengan
memodulasi sinyal suara dengan frekuensi
lebih tinggi yaitu dari 88 MHz sampai
dengan 108 MHz dan juga merupakan
frekuensi yang digunakan oleh radio. FM
memiliki keunggulan bandwidth yang lebar
dan bebas dari pengaruh gangguan udara.
Sistem komunikasi radio digunakan untuk
membawa pesan atau informasi dari suatu
titik ke titik lain. Informasi yang dibawa
dalam bentuk sinyal listrik dapat berupa
pembicaraan, musik, gambar, data ilmiah,
data bisnis, dan sebagainya. Oleh karena itu,
pada dasarnya sistem komunikasi radio
terdiri dari tiga elemen utama, yaitu
informasi yang akan dibawa, pengirim
(transmitter), dan penerima (receiver).
Pada penelitian ini akan dibahas
tentang subsistem dari pemancar radio FM
yaitu penguat daya frekuensi radio (RF) 100
Watt dengan menggunakan transistor mosfet
Philips BLF278 yang digunakan pada
frekuensi 100 MHz. Daya keluaran dari
suatu pemancar ditentukan oleh penguat
daya RF yang digunakan, sehingga
pemancar berdaya kuat akan dapat diperoleh
apabila penguat daya RF yang digunakan
mampu menghasilkan daya keluaran yang
besar. Pada penelitian ini diharapkan dapat
menghasilkan penguat daya RF yang efisien
dan memiliki kestabilan suhu komponen
yang sesuai dengan spesifikasi transistor
mosfet Philips BLF278.
2. DASAR TEORI
2.1 Sistem Pemancar
Blok diagram sistem pemancar dapat
dilihat pada Gambar 2.1. Terdiri dari
beberapa komponen pendukung antara lain
modulator, buffer, driver, catu daya, encoder
dan amplifier. Tetapi dalam penelitian ini
hanya menguji tentang performa dari
subsitem pemancar yaitu pada final
amplifier yang dibuat dalam bentuk modul..

Gambar 2.1 Blok diagram pemancar FM
2.2 Spesifikasi Transistor
Penguat daya pada pemancar FM
sering menggunakan transistor dengan
spesifikasi tinggi, dengan memaksimalkan
daya masukan yang kecil dan menghasilkan
daya keluaran yang besar. Pada penelitian
ini, transistor yang digunakan adalah jenis
pallet BLF278. Memiliki spesifikasi dasar
daya masukkan 0-10 Watt dan daya output
maksimal 300 Watt. Tegangan masukkan 50
V
DC
dengan arus 11 A. Frekuensi kerja
mulai dari 30 MHz sampai dengan 175
MHz. (Macom BLF278 Datasheet)
Jadi, penggunaan transistor ini
sebagai komponen utama penguat daya yang
bekerja pada frekuensi radio FM dapat
direalisasikan mengingat jangkauan
frekuensi kerja radio dapat dicapai transistor
tersebut.
2.3 Frekuensi FM
Rangkaian penguat yang dirancang
akan bekerja pada frekuensi radio FM, yaitu
dari 88 MHz sampai dengan 108 MHz
(Malcolm: 1990:208). Dengan
menggunakan pallet BLF278 yang dapat
menguatkan daya dengan frekuensi 30-175
MHz, maka modul penguat FM ini dapat
direalisasikan dengan menggunakan pallet
tersebut. FM memiliki beberapa keunggulan,
antara lain amplitudo yang konstan dari
gelombang FM memungkinkan
efisiensi pemancar yang tinggi dan
noise pada sinyal FM hanya sepertiga dari
noise sinyal AM untuk lebar jalur yang
sama. (wikipedia.com/sinyal_FM)
2.5 Rangkaian Resonansi
Pada dasarnya rangkaian resonansi
disusun dari sebuah kapasitor dan sebuah
induktor, yang dapat tersambung seri
maupun paralel. Tetapi pada umumnya
rangkaian resonansi yang sering digunakan
berbentuk paralel. Dalam keadaan resonansi,
impedansi ataupun admitansinya
mempunyai bagian imajiner sama dengan
nol. Nilai frekuensi resonansi () RLC dapat
dicari dengan menggunakan rumus
(Sutrisno, 1986:48):


dimana:
: frekuensi resonansi (Hertz)
L : nilai induktansi (Henry)
R : nilai hambatan ()
Rangkaian resonansi paralel sering
kali terdiri dari resistor, induktor, dan
kapasitor. Lebih dikenal dengan sebutan
rangkaian RLC. Akan tetapi, rangkaian
resonansi tanpa menggunakan resistor juga
dapat digunakan. Gambar 2.2 menunjukkan
rangkaian sederhana dari rangkaian
resonansi.

Gambar 2.2 Rangkaian resonansi sederhana
2.6 Saluran Transmisi
Pallet booster dengan komponen
utama transistor mosfer BLF278 diinstalasi
pada heatsink balok dengan posisi vertikal
dan dihadapkan secara langsung dengan
blower fan agar suhu komponen pada pallet
booster tetap stabil. Saluran input dan output
pallet booster menggunakan kabel koaksial
Belden 9914 RG-8 yang memiliki inti
tunggal dengan impedansi saluran 50 .
Kabel koaksial ini memiliki velocity
factor sebesar 82 %. Velocity factor
merupakan kecepatan atau kemampuan
saluran dalam menyalurkan elektron (Belden
datasheet, 2014). Velocity factor atau sering
juga disebut kecepatan propagasi
gelombang, merupakan kecepatan
gelombang saat melewati saluran transmisi
yang berhubungan dengan kecepatan cahaya
(3x108 m/s). Penggunaan velocity factor ini
sebagai ratio atau pembanding antara
kecepatan cahaya dengan kecepatan
propagasi pada saluran transmisi. Untuk
mengukur panjang kabel yang digunakan
dapat menggunakan persamaan berikut.
(Gottlieb,I.,M, 1993)


Dimana:
= panjang gelombang (meter)
c = kecepata n cahaya di udara bebas (3x10
8
m/s)
f = frekuensi kerja yang digunakan
vf = velocity factor kabel Belden
9914 RG-
8

= koefisien matching saluran


Setelah didapatkan nilai dari untuk
mencari panjang saluran transmisi yang
dibutuhkan yaitu dengan cara dikalikan
kelipatan ganjil terdekat dengan panjang
kabel yang tersedia. (Sumardi, 2010)

Dimana:
v
l
= variabel panjang feeder (meter)
l = panjang kabel tersedia (meter)
= panjang saluran terukur (meter)
Selanjutnya hasil variabel panjang
feeder hasilnya harus ganjil, jika hasilnya
genap dicari yang mendekati nilai ganjil
terdekat dengan acuan hasil perhitungan.
Setelah nilai dari v
l
diperoleh langkah
selanjutnya adalah mencari panjang kabel
yang harus dipotong agar keadaan matching
tercapai. Persamaan untuk menghitung
panjang kabel yang harus dipotong sebagai
berikut.

(2.3)
Dimana:
l
r
= panjang kabel yang harus
dipotong (meter)
= panjang saluran terukur (meter)
v
l
= variabel panjang feeder (meter)
Perhitungan final untuk mengetahui
panjang kabel yang harus digunakan yaitu
dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut.

(2.4)
Dimana:

= panjang saluran yang digunakan


(meter)

= panjang saluran tersedia (meter)


= panjang kabel yang harus


dipotong (meter)
Dengan menggunakan frekuensi 100
MHz dan kabel feeder yang tersedia
sepanjang 30 cm untuk masing-masing input
dan output, menghubungkan pallet booster
ke konektor yang terpasang pada boks
modul.
2.7 Transistor Mosfet BLF278
Penguat daya pada pemancar FM
sering menggunakan transistor dengan
spesifikasi tinggi, dengan memaksimalkan
daya masukan yang kecil dan menghasilkan
daya keluaran yang besar. Pada penelitian
ini, transistor yang digunakan adalah
transistor mosfet Philips BLF278. Memiliki
spesifikasi dasar daya masukkan 0-5 Watt
dan daya output maksimal 300 Watt.
Tegangan masukkan 50 V
DC
dengan arus 11
A. Frekuensi kerja mulai dari 30 MHz
sampai dengan 175 MHz. Jadi, penggunaan
transistor ini sebagai komponen utama
penguat daya yang bekerja pada frekuensi
radio FM dapat direalisasikan mengingat
jangkauan frekuensi kerja radio dapat
dicapai transistor tersebut.
Transistor mosfet Philips BLF278 ini
diinstalasi pada pallet. Pallet merupakan
media untuk merangkai komponen-
komponen elektronika dalam lembaran PCB
(Printed Circuit Board) dan dipasangkan
pada heatsink yang luasnya menyesuaikan
dengan lembar PCB yang digunakan.
Memiliki frekuensi kerja mulai dari 50
sampai dengan 225 MHz. Tegangan input
V
DC
maksimal 50 Volt dan daya input
maksimal 5 Watt. Memiliki gain 14 sampai
dengan 16 dB (Philips BLF278, 2003).


Gambar 2.3 Mosfet Philips BLF278
Pada Gambar 2.3 ditunjukkan bahwa
mosfet BLF278 pada dasarnya terdiri dari 2
transistor yang d gabung menjadi satu
bagian, mosfet ini memiliki 2 input yaitu
pada pin 3 dan 4. Sedangkan outputnya
ditujukkan pada pin 1 dan 2 dengan pin
nomor 5 sebagai ground.

3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Kerangka Penelitian
Blok Diagram Pemancar:
OSILATOR MODULATOR
PALLET
BOOSTER RF 100
WATT
PEMANCAR
(ANTENA)
SALURAN
TRANSMISI
POWER
SUPPLY
BUFFER
BLOWER
Gambar 3.1 Alur pengujian Modul Penguat
Daya
3.2 Tahapan Penelitian
Tahapan secara keseluruhan yang
dilakukan dalam menyelesaikan penelitian
ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pra Penelitian
Merupakan kegiatan untuk
mempersiapkan segala aspek penunjang
penelitian tentang penguat RF 100 Watt
yang bekerja pada frekuensi 88-108 Mhz,
meliputi teori penunjang, mempersiapkan
bahan dan alat-alat pengukuran yang akan
digunakan.
2. Instalasi Modul Penguat RF
Melakukan instalasi rangkaian
penguat daya RF yang menggunakan pallet
BLF278 dengan power supply dan
komponen pendukung lain seperti pendingin
modul (fan).
3. Pengujian Modul
Setelah instalasi semua komponen
pendukung rangkaian penguat daya RF telah
dilaksanakan, maka pengujian performansi
modul dapat dilakukan.
4. Analisa Hasil
Setelah semua rangkaian perancangan dan
pengujian selesai dilaksanakan, dapat dibuat
analisa hasil dari kemampuan modul.
5. Lokasi penelitian
Fabrikasi dan pengujian modul
penguat dilakukan di Laboratorium Sistem
Radio Frekuensi Program Studi Teknik
Telekomunikasi Politeknik Negeri Malang

PENGUAT DAYA
FREKUENSI RADIO
MENENTUKAN JENIS
KOMPONEN PENGUAT
ANALISA HASIL
MENGETAHUI SPESIFIKASI
KOMPONEN PENGUAT
(pallet MRF151G)
INSTALASI MODUL PENGUAT
DENGAN CATU DAYA DAN
KOMPONEN PENDUKUNG
PENGUJIAN OUTPUT
MODUL
KESIMPULAN
SELESAI
YA
TIDAK

Gambar 3.2 Flowchart Penelitian
Alat dan Bahan:
Dalam penelitian tentang ini
memerlukan beberapa alat dan bahan yang
akan diuji dan digunakan untuk menguji.
Alat dan bahan yang diperlukan dalam
menguji sebuah modul penguat daya RF
antara lain:
1. Pallet booster dengan mosfet Philips
BLF278
2. Fan blower PAPST 24-48 V
DC

3. Power Supply ELTEK SMPS 1000
4. Kabel koaksial Belden 9914 RG-8 50
.
5. Signal generator
6. Power supply
7. Buffer dan Driver
8. Power meter
9. Dummy load
Tempat Penelitian:
Penelitian dan pengujian dilakukan di
Laboratorium dan Bengkel Teknik
Telekomunikasi Politeknik Negeri Malang
4. PERANCANGAN SISTEM
4.1 Buffer dan Driver
Langkah awal dalam pengujian
modul ini adalah dengan mengatur daya
output dari buffer dan driver yang digunakan
sebagai input dari modul penguat daya
frekuensi radio agar sesuai dengan
spesifikasi dari mosfet yang digunakan.
Dalam penelitian ini, mosfet yang digunakan
jenis BLF278 memiliki karakteristik daya
input 1 sampai dengan 3 Watt. Memiliki
suhu kerja maksimal 150 C dan daya output
maksimal 300 Watt, tetapi sebaiknya jika
suhu maksimal mosfet dijaga agar tidak
lebih dari 60 C dan daya outputnya sekitar
100 Watt. Alur pengaturan nilai daya output
dari buffer dan driver yang digunakan dapat
dilihat pada blok diagram berikut.
Power
Meter
Buffer dan
Diver
Signal
Generator

Gambar 4.1 Alur pengujian input Modul
Buffer dan driver menggunakan dua
sumber input yaitu tegangan DC dan
frekuensi modulasi. Frekuensi yang
digunakan pada penelitian ini yaitu 100
MHz yang diperoleh dari signal generator.
Selanjutnya output buffer dan driver
dihubungkan dengan power meter dan diatur
hingga memiliki output kurang lebih sebesar
1 Watt dengan mengatur nilai amplitudo dari
signal generator.
4.2 Modul Penguat Daya RF
Secara keseluruhan alur dari
pengujian modul penguat daya dapat dilihat
pada Gambar 4.2
Power
Supply
Buffer dan
Driver
Signal
Generator
Modul
Penguat Daya
RF 100 Watt
Power Meter

Gambar 4.2 Alur pengujian output modul
Buffer dan driver yang digunakan
telah diatur sehingga memiliki output daya
sebesar kurang lebih 1 Watt dan output dari
buffer dan driver tersebut merupakan input
dari modul penguat daya frekuensi radio.
Pada blok diagram di atas, modul penguat
daya frekuensi radio tersebut masih
memiliki penjelasan lebih lanjut tentang alur
rangkaiannya yang dapat dilihat pada
Gambar 4.3 tentang blok diagram berikut
ini.
PALLET
BOOSTER
POWER
SUPPLY 36
VDC
A
BLOWER FAN
B
A= INPUT PALLET BOOSTER (PLL)
B= OUTPUT PALLET BOOSTER (POWER METER)
PENGUAT DAYA RF 100 WATT
INPUT 220-
230 VAC

Gambar 4.3 Komponen pada Modul Penguat
Daya
Di dalam modul penguat daya
frekuensi radio yang telah dirancang
terdapat tiga komponen utama yaitu power
supply 36 V
DC
, blower fan, dan pallet
booster dengan menggunakan mosfet
BLF278. Power supply untuk mosfet
menggunakan ELTEK SMPS 1000 diatur
hingga memiliki tegangan output sebesar 36
V
DC
dan digunakan untuk memberikan
tegangan pada pallet booster dan blower fan.
Blower fan yang digunakan adalah PAPST
24-48 V
DC
. (Datasheet Eltek SMPS1000
Power Supply)
4.3 Panjang Saluran Transmisi
. Dengan diketahui frekuensi kerja
100 MHz dan velocity factor kabel belden
9914 sebesar 82% (Belden Datasheet,
2014), maka:




Didapatkan panjang gelombang dari
saluran yang digunakan sebesar 1.23 meter.
Selanjutnya menghitung panjang saluran
dengan berdasarkan ketersediaan kabel yaitu
0.30 meter, maka:



Selanjutnya menghitung panjang
kabel yang harus dipotong agar didapatkan
saluran yang matching:



Jadi panjang saluran yang digunakan
dapat dihitung adalah sebagai berikut ini:



= 29.7 cm
4.4 Rangkaian Pallet Booster 100 Watt
Pallet booster yang merupakan
komponen utama dalam modul penguat daya
frekuensi radio ini. Pallet booster tersebut
menggunakan transistor mosfet BLF278
sebagai intinya. Berikut ini merupakan
gambar rangkaian pengganti dari pallet
booster 100 Watt.
Gambar 4.4 merupakan gambar
rangkaian pengganti dari pallet booster
dengan menggunakan mosfet Philips
BLF278 yang telah diinstalasi pada
rangkaian referensi dari Philips untuk
menguji performa mosfet.



















Gambar 4.4 Rangkaian Pengganti Pallet
Booster
PENGUJIAN DAN ANALISA
5.1 Pengujian Modul Penguat Daya
Modul penguat daya menggunakan
buffer dan driver sebagai inputnya. Langkah
awal dari pengujian ini yaitu dengan
mengatur daya output dari buffer dan driver
sebesar kurang lebih 0.6 Watt dengan
amplitudo 14.5 dBm dan frekuensi kerja 100
MHz.
Tujuan
Untuk mengetahui dan menguji
performa modul penguat daya dengan
menggunakan transistor mosfet philips
BLF278.
Alat dan Bahan
Dalam menguji modul penguat daya,
diperlukan beberapa alat uji antara lain:
Signal Generator
Power Meter
Buffer dan Driver
Power Supply
AVO meter
Modul Penguat Daya RF

Set-up Perangkat
Seting perangkat untuk menguji
performa modul penguat daya RF dapat
dilihat pada blok diagram pada Gambar 5.1.
Power
Supply
Buffer dan
Driver
Signal
Generator
Modul
Penguat Daya
RF 100 Watt
Power Meter

Gambar 5.1 Alur pengujian output Modul
Langkah awal dalam melakukan
pengujian modul penguat daya RF yaitu
dengan mengatur nilai input daya dan
frekuensi kerja yang digunakan. Pada
pengujian ini frekuensi yang digunakan 100
MHz dan daya input yang digunakan sebesar
0.6 Watt. Pembangkitan frekuensi kerja
yang digunakan berasal dari signal
generator, sedangkan untuk input daya
berasal dari buffer dan driver.

5.2 Prosedur Pengujian
Prosedur untuk menguji modul
penguat daya ini, diawali dengan mengatur
input modul penguat daya yang berasal dari
buffer dan driver..
Dengan spesifikasi input mosfet
sebesar 0.5 3 Watt, maka buffer dan driver
diatur sehingga menghasilkan daya 0.6 Watt.
Input yang digunakan relatif kecil karena
mosfet BLF278 sangat sensitif dan untuk
mengantisipasi kesalahan pada modul
penguat daya yang dapat mengakibatkan
kerusakan.
Prosedur selanjutnya dilakukan
dengan cara menaikkan nilai amplitudo
dengan step 0.5 dBm, tanpa merubah nilai
output dari buffer dan driver yang telah
terukur pada saat amplitudo 14.5 dBm,
dimulai dari 14 sampai dengan 17 dBm dan
melihat besar daya output dari buffer dan
driver tersebut.
Langkah selanjutnya yaitu dengan
merangkai alat dan bahan sesuai dengan alur
yang direncanakan. Modul penguat daya
menggunakan input dari buffer dan driver
dengan daya 0.6 Watt dan frekuensi kerja
100 Mhz.
4.3 Hasil Pengujian Input
Input modul penguat daya
menggunakan buffer dan driver dengan
ketentuan seperti yang telah disebutkan
sebelumnya. Berikut ini merupakan hasil
pengujian input modul penguat daya yang
telah dilakukan di Laboratorium dan
Bengkel Teknik Telekomunikasi Politeknik
Negeri Malang.
Hasil pengujian input modul penguat
daya ditampilkan dalam tabel. Untuk hasil
pengujian input modul penguat daya dapat
dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Hasil pengujian dari input
modul penguat daya RF (output buffer dan
drive) :
No
Buffer dan
Driver (dBm)
Output Buffer
dan Driver
(Watt)
1. 14 0
2. 14.5 0.6
3. 15 1.2
4. 15.5 1.5
5. 16 1.9
6. 16.5 2
7. 17 2.4
Pada saat amplitudo 14 dBm terukur,
output modul penguat daya sebesar 0 Watt.
Tetapi pada saat nilai amplitudo ditambah
0.5 step sampai dengan 17 dBm, nilai output
dari modul penguat daya frekuensi radio ini
terus mengalami kenaikan dengan range
antara 0.2 sampai 0.4 Watt. Pengujian input
ini selanjutnya digunakan sebagai input dari
modul penguat daya yang telah diatur
dengan menggunakan frekuensi kerja 100
MHz.
4.4 Hasil Pengujian Output
Tujuan utama dari penelitian ini yaitu
untuk melihat efisiensi performa modul
penguat daya frekuensi radio 100 Watt.
Terutama tentang penguatan (gain) dan
matching impedance dari saluran transmisi
yang digunakan sebagai input dan output
modul penguat daya radio frekuensi 100
Watt. Pengujian dilakukan dengan
perencanaan yang berdasarkan studi literatur
tentang subsistem penguat daya RF yaitu
final amplifier. Modul ini diuji pada
frekuensi 100 MHz dengan daya input 0.6
Watt dari buffer dan driver dan amplitudo
14.5 dBm sebagain acuannya dan
selanjutnya amplitudo dari input modul
penguat daya dinaikkan dengan rentang 0.5
dBm hingga 17 dBm. Berikut ini merupakan
hasil dokumentasi tentang pengujian modul
penguat daya RF pada saat amplitudo-nya
14 dan 17 dBm. Hasil dokumentasi yang
ditampilkan merupakan hasil pengujian
dengan output terkecil dan terbesar yang
terukur dengan menggunakan power meter.
1. Amplitudo 14 dBm

Gambar 5.9 Output dengan amplitudo 14
2. Amplitudo 17 dBm

Gambar 5.10 Output dengan amplitudo 17
Dari pengujian nilai output modul
penguat daya RF 100 Watt yang telah
dilakukan, hasil pengukurannya dapat dilihat
pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2 Data output modul penguat
daya
No
Buffer dan
Driver
(dBm)
Input
Pallet
Booster
(Watt)
Output
Pallet
Booster
(Watt)
1. 14 0 0
2. 14.5 0.6 0
3. 15 1.2 20
4. 15.5 1.5 40
5. 16 1.9 50
6. 16.5 2 60
7. 17 2.4 70
Pada saat amplitudo pada saat
aplitudo 14.5 dBm dengan input daya 0.6
Watt, output penguat daya belum muncul (0
dBm). Tetapi saat amplitudo dinaikkan
dengan step 0.5 dBm dari 14.5 sampai
dengan 17 dBm, output penguat daya RF
memberikan hasil yang cukup baik. Dengan
output tertinggi yang terukur 70 Watt
dengan input 2.4 Watt dan aplitudo 17 dBm.
Tetapi pada saat terukur 70 Watt, nilai
output terus bertambah secara perlahan lebih
dari 70 Watt. Hal ini dikarenan kinerja
trimmer potentio kurang maksimal saat
bekerja pada daya tinggi. Hasil ini
merupakan hasil terbaik yang diperoleh
setelah mengatur trimmer potentio agar
mendapatkan bias voltage yang sesuai.
Berikut ini grafik hasil pengujian output
daya modul penguat RF 100 Watt.

5.5 Analisis Pengujian Output Modul
Penguat Daya
Dari pengujian dan pengukuran yang
telah dilakukan dapat dilakukan analisis
terhadap kinerja dari modul penguat daya
RF 100 Watt dengan menggunakan
transistor mosfet BLF278 ini.
1. Efisiensi modul penguat daya radio
frekuensi ini cukup baik jika dilihat
dari terjaganya kestabilan suhu pada
komponen yang digunakan,
meskipun tanpa menggunakan filter
pada bagian output-nya. Selain itu
pada saat digunakan untuk daya yang
besar nilai output-nya tidak bisa
stabil dan terus berubah saat di lihat
pada power meter. Hal ini
0
10
20
30
40
50
60
70
80
0 0.6 1.2 1.5 1.9 2 2.4
O
u
t
p
u
t

(
W
a
t
t
)

Input (Watt)
dikarenakan kinerja dari trimmer
potentio yang mengatur bias voltage
bekerja kurang maksimal.
2. Penguatan paling besar yang terukur
saat dilakukan pengujian output
modul penguat daya yaitu pada saat
amplitudo-nya 17 dBm dengan input
2.4 Watt dan menghasilkan output
kurang lebih sebesar 70 Watt.
Matching impedance saluran
transmisi yang digunakan relatif
matching, hal ini dapat di lihat dari
suhu komponen pada pallet booster
tidak cepat naik. Saluran transmisi
yang digunakan merupakan kabel
koaksial inti pejal Belden 9914 RG-8.
3. Prinsip kerja dari modul penguat
daya RF ini sesuai dengan subsistem
dari pemancar frekuensi radio yaitu
final amplifier yang berfungsi untuk
memperkuat daya output dari buffer
dan driver. Dengan panjang saluran
transmisi untuk input dan output
menggunakan kabel Belden 9914
RG-8 yang memiliki velocity factor
82% sepanjang 29.7 cm, setelah
dilakukan perhitungan panjang
saluran transmisi yang efektif
digunakan dibandingkan dengan
ketersediaan panjang kabel yang ada.
Modul penguat daya ini harus
memiliki sistem pendingin atau
penjaga kestabilan suhu pada
komponen dan perangkat yang
digunakan agar dapat bekerja sesuai
dengan spesifikasi transistor mosfet
yang digunakan.
6. PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1. Modul yang dirancang memiliki
kinerja yang efisien. Di lihat dari
terjaganya kestabilan suhu pada
komponen yang digunakan,
meskipun tanpa menggunakan filter
pada bagian output-nya. Modul
penguat daya juga mampu bekerja
pada daya tinggi meskipun besar nilai
output-nya tidak bisa stabil dan terus
berambah saat di lihat pada power
meter. Hal ini dikarenakan kinerja
dari trimmer potentio yang mengatur
bias voltage bekerja kurang
maksimal.
2. Output terbesar yang diperoleh dari
hasil pengujian modul penguat daya
RF dengan menggunan mosfet Philips
BLF278 yaitu pada saat nilai
inputnya sebesar 2.4 Watt dengan
amplitudo 17 dBm menghasilkan
output 70 Watt. Panjang saluran
transmisi untuk input dan output pada
pallet booster dengan menggunakan
kabel koaksial Belden 9914
sepanjang 29.7 cm.
3. Transistor mosfet BLF278 yang
merupakan komponen utama dalam
pallet penguat daya frekuensi radio
sangat sensitif terhadap matching
impedance saluran. Prinsip kerja dari
modul penguat daya RF ini sesuai
dengan subsistem dari pemancar
frekuensi radio yaitu final amplifier
yang berfungsi untuk memperkuat
daya output dari buffer dan driver.
Modul penguat daya ini harus
memiliki sistem pendingin atau
penjaga kestabilan suhu pada
komponen dan perangkat yang
digunakan agar dapat bekerja sesuai
dengan spesifikasi transistor mosfet
yang digunakan.
6.2 Saran
1. Pada penelitian selanjutnya
diharapkan dapat membuat sebuah
modul penguat daya yang lebih
efisien komponen yang digunakan
dan dimensi modul yang lebih kecil
tetapi menjaga performa penguat
daya tetap baik.
2. Mengembangkan besar daya output
modul penguat daya sehingga lebih
dari 300 Watt dan dapat bekerja
secara kontinyu dan efisien.
3. Mengembangkan frekuensi kerja dari
penguat daya yang digunakan
misalnya seperti untuk wifi (2442
MHz).
4. Menambahkan sensor untuk
mengantisipasi kesalahan-kesalahan
yang ada pada modul penguat daya
pada saat bekerja, seperti membatasi
suhu maksimal, membatasi input
daya yang terlalu besar dan melebihi
spesifikasi mosfet, dan faktor-faktor
lain yang dapat menyebabkan
kerusakan komponen modul.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Douglas, Malcolm. 1990.
Fundamentals of Electronics,
Breton Publisher.
[2]. Sutrisno. 1986. Elektroteknik: Teori
Dasar dan Penerapannya,
Bandung: penerbit ITB.
[3]. Datasheet Mosfet Philips BLF278.
2003.
[4]. Belden Coaxial 9914 RG-8 Type U.
2014.
[5]. Eltek Power Supply SMPS 1000.
1999.
[6]. wikipedia.com/sinyal_FM