Anda di halaman 1dari 6

SIMULASI PROSES FLOKULASI DALAM STIRRED TANK

DENGAN INCLINED FAN TURBINE



Nita Setyaningrum P, Dony Aries S, Widiyastuti dan S.Winardi
Laboratorium Mekanika Fluida dan Pencampuran
Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
Telp : (031)-5924448; Fax : (0310-5999282; email : mixing@chemeng.its.ac.id


Abstrak
Tujuan flokulasi adalah mentransformasi secara fisis partikel sangat kecil menjadi flok dengan
mengikat suspensi solid dengan penambahan flokulan. Karena itu, flokulasi sangat ditentukan oleh
derajat pencampuran flokulan yang ditambahkan dengan air baku supaya terjadi kontak yang lebih
baik akibat gradient velocity yang dihasilkan oleh adanya pengadukan. Gradient velocity ini akan
mempengaruhi laju pertumbuhan flok yang terbentuk. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah
akan mempelajari derajat pencampuran (atau kecepatan putar impeller) yang memberikan flokulasi
optimal berdasarkan prediksi disipasi energi dan gradient velocity secara lokal dan global bak
flokulator menggunakan computational fluid dynamic (CFD). Bak flokulator berpenampang segi
empat yang diaduk dengan inclined fan turbine. Dari hasil simulasi didapatkan kecepatan putar
impeller yang memberikan flokulasi optimal (gradient velocity=20-65 s
-1
) adalah 35-70 rpm dengan
disipasi energi sebesar 0.0017 m
2
/s
3
.
Kata Kunci : flokulasi, tangki berpengaduk, disipasi energi, gradient velocity, simulasi.


1. Pendahuluan
Proses pengolahan air yang digunakan sebagai air industri sangatlah sederhana tetapi sangat
berpengaruh pada proses produksi suatu industri. Pada dasarnya proses pengolahan air industri bertujuan
untuk menghilangkan partikel suspended solid yang terdapat dalam raw water air tersebut. Partikel
suspended solid mempunyai rasio luas permukaan terhadap massa yang sangat besar. Massa suspended
solid yang sangat kecil menimbulkan efek gaya gravitasi yang sangat kecil pula. Meskipun demikian
partikel suspended solid memiliki muatan listrik. Dimana partikel yang mempunyai muatan listrik disebut
partikel yang stabil.
Flokulasi adalah proses pengikatan partikel-partikel primer yang terbentuk pada proses koagulasi
dengan bantuan flokulan yang ditambahkan. Penambahan flokulan berfungsi sebagai jembatan/rantai untuk
mengikat partikel-partikel primer sehingga membentuk flok. Pengadukan adalah faktor yang sangat penting
untuk mendapatkan efisiensi proses koagulasi-flokulasi. Flok yang terbentuk dari kondisi pengadukan yang
berbeda akan menghasilkan sifat fisik yang berbeda pula (Camp-Stein, 1943) dimana ukuran flok yang
dihasilkan akan berbanding terbalik secara proporsional terhadap harga gradien kecepatan (G) (Lagvankar,
1943). Analisa Camp-Stein (1943) menunjukkan bahwa proses flokulasi optimal pada harga G 20-70 s
-1
,
dimana flok terbentuk secara cepat dan meninggalkan sisa partikel primer yang sedikit. Harga G yang
terlalu tinggi akan menyebabkan flok yang telah terbentuk pecah. Bila harga G terlalu kecil akan
menyebabkan kontak antara flokulan dan partikel primer kurang sehingga flok yang terbentuk juga sedikit.
Camp-Stein merumuskan persamaan untuk harga gradien kecepatan (G) sebagai berikut:

. V
P
G =
..(1)
Harga P menurut Clark dan Ducoste (1997) diperoleh dari korelasi harga energi dissipasi rata-rata
() yang diperoleh dari hasil simulasi setelah perhitungan mencapai tingkat konvergensi, dimana :
V . . P = .....(2)
Beberapa peneliti memperoleh korelasi antara kecepatan pembentukan flok dengan gradient
kecepatan, diantaranya adalah Henze (1995) memberikan korelasi sebagai berikut:
G n K f rv p rv
p T
. . . , , = = ...(3)
dimana n
p
adalah jumlah partikel primer per unit volume air, sedangkan untuk koagulan Al
3+
dan flokulan
polimer dengan perbandingan dosis 1.8 harga K
T
..10
4
= 2.68 0.11. Sedangkan Svarovsky (1990)
mengemukakan korelasi sebagai berikut:

2 3
3
2
, n Gd f rv = .....................................................................................................................(4)
Penelitian secara eksperiment telah dilakukan untuk meneliti turbulensi proses flokulasi dalam
square tank berpengaduk (Clark dan Ducoste, 1997). Metode-metode eksperiment telah dilakukan untuk
memperoleh informasi proses flokulasi, akan tetapi berbagai macam informasi yang diperoleh dari metode-
metode eksperimen tersebut digambarkan dalam bentuk parameter global, padahal diperlukan informasi
lokal yang lebih mendetail mengenai proses flokulasi dan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah
satu faktor tersebut adalah gradien kecepatan (G). Secara komputasional, belum ada literatur yang
mengemukakan hubungan gradien kecepatan terhadap proses flokulasi dalam tangki berpengaduk. Untuk
itu diperlukan penelitian mengenai hubungan antara gradien kecepatan terhadap proses flokulasi dalam
tangki berpengaduk dengan menggunakan metode CFD.

2. Metodologi
Sistem geometri yang dipelajari berupa tangki kubus (square tank) dengan volume 0.557 m
3
,
menggunakan pengaduk inclined fan turbine 4 blade dengan diameter 0,274 m dan tinggi 0.91 m. Jumlah
pengaduk yang digunakan 1 buah dengan clearence 0,274 m. Variabel penelitian didasarkan pada
kecepatan putar pengaduk sebesar 35, 40, 50, 55, 60, 65, dan 70 rpm. Jenis liquida yang digunakan adalah
air dengan densitas 995,68 kg/m
3
dan viscositas 0.0008007 kg/m.s.
Langkah pertama penelitian ini adalah pembuatan geometri tangki pengaduk yang akan dipelajari
dengan sistem tiga dimensi, sedangkan pembuatan grid yang merupakan domain perhitungan dengan
menggunakan software GAMBIT 2.1.16. Pengaduk dimodelkan dengan menggunakan pendekatan Multiple
Reference Frame (MRF), dimana pemodelan ini merupakan bentuk sederhana yang dapat menyelesaikan
permasalahan-permasalahan dimana seluruh domain atau sebagian domain bergerak. Grid yang digunakan
untuk pemodelan ini adalah Non Uniform Structured Grid tipe Hexahedral Grid dengan grid size sebagai
berikut: cells = 33244, faces = 102140 dan nodes = 35595. Langkah kedua mengimport grid ke FLUENT
6.1.18 dan memeriksa gridnya. Langkah ketiga adalah memilih formulasi solver dan persamaan dasar yang
akan diselesaikan, memasukkan spesifikasi sifat material yang digunakan dan menentukan kondisi batas
dari sistem. Dilanjutkan dengan langkah terakhir yaitu mengatur penyelesaian parameter-parameter yang
mengontrol dan menyelesaikan dengan cara iterasi.





L = T
C=T/3 Di = T/3
hi = Di/3
T = 0.83 m
















Gambar 1 Dimensi tangki dan Grid yang digunakan untuk simulasi


Hasil dan Diskusi
Energi Dissipasi
Gambar 2 menggambarkan bahwa semakin besar kecepatan impeller semakin besar harga rata-
rata, begitu pula untuk koreksi dengan faktor koreksi sebesar 0.38 (Bakker, 1994). Hal tersebut sesuai
dengan eksperimen yang telah dilakukan Clark dkk (1997), dimana pada energi dissipasi yang dibuat
konstan pada 0.0016 m
2
/s
3
didapatkan kecepatan putar impeller 55.02 rpm untuk proses flokulasi yang
optimal. Dalam simulasi dengan menggunakan FLUENT ini pada kecepatan putar impeller 55.02 rpm
didapatkan energi dissipasi aktual sebesar 0.001605. Jadi antara percobaan yang dilakukan Clark dkk
(1997) dan dikoreksi dengan simulasi yang dilakukan Bakker dkk (1994), terdapat korelasi sehingga
didapatkan adanya kesesuaian antara eksperimen dan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan
CFD.



0
0.001
0.002
0.003
0.004
0.005
0.006
0 20 40 60 80 100
N (rpm)


(
m
2
/
s
3
)



ave


act















Gambar 2 Hubungan energi dissipasi rata-rata dan energi dissipasi aktual untuk berbagi
kecepatan impeller



Aliran pada Fasa Tunggal (Single Phase)
Gambar 3 menunjukkan pola aliran fase liquid. Aliran yang terbentuk dalam tangki berpengaduk
dengan tipe impeller inclined turbine 45
o
type down flow menunjukkan pola aliran axial. Aliran fluida
mengalir dengan kecepatan tinggi dari impeller dengan arah axial kebawah. Aliran ini kemudian
membentur dasar tangki dan aliran berbelok arah ke atas, kemudian aliran menuju ke permukaan tangki
dengan kecepatan yang semakin lama semakin mengecil. Karena perputaran impeller aliran fluida seakan-
akan tersedot kearah impeller, sehingga fluida yang berada diatas akan kebawah menuju arah impeller, lalu
oleh impeller aliran diperkuat menuju kedasar, begitu seterusnya. Karena pergerakan fluida tersebut terjadi
suatu pusaran di tangki bagian bawah. Hal tersebut terlihat jelas pada bidang r-z (Gambar 3.a). Pola alir
yang sama juga diperlihatkan oleh percobaan Bakker (1994).
Aliran fluida pada bidang r- (Gambar 3.b) terlihat berputar searah jarum jam. Aliran pada
daerah dekat dinding tangki lebih cepat dan menuju ke dinding tangki. Semakin mendekati impeller aliran
fluida semakin cepat dan menuju ke bagian impeller.




















m/s
(b)
(a)
Plot vektor medan kecepatan aliran fluida untuk kecepatan putar impeller
55.02 rpm (a) bidang r-z, (b) bidang r-
Gambar 3



Kecepatan Putar Impeller untuk Proses Flokulasi Optimal
Putaran impeller yang memenuhi persyaratan G pada 20-70 s
-1
adalah antara 35-70 rpm seperti
ditunjukkan Tabel 1. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa proses flokulasi membutuhkan
kondisi operasi yang tepat untuk mendapatkan flokulasi yang optimal. Salah satunya adalah kecepatan
putar impeller. Proses flokulasi tidak membutuhkan putaran impeller yang cepat (rapid mixing) karena
akan menyebabkan flok yang terbentuk pecah (break-up).


Tabel 1. Hasil perhitungan gradien kecepatan, daya dan energi disipasi berdasar kecepatan impeller
Kecepatan Impeller

ave

caorr.
P G
35 0.000171 0.00045 0.2496 23.655
40 0.000255 0.00067 0.3722 28.887
50 0.000496 0.00131 0.7239 40.288
60 0.000856 0.00225 1.2493 52.926
65 0.001087 0.00286 1.5861 59.635
70 0.001358 0.00357 1.9799 66.628
55.02 0.000612 0.001605 0.9632 46.473

Plot kontur energi dissipasi ditunjukkan pada Gambar 4. Dari gambar jelas sekali menunjukkan
bahwa semakin tinggi putaran kecepatan impeller energi dissipasi akan semakin tinggi, terutama pada
daerah sekitar pengaduk. Energi dissipasi tertinggi yang ada pada daerah sekitar pengaduk untuk kecepatan
putar impeller 40, 60 dan 70 rpm berturut-turut adalah 0.08, 0.24 dan 0.36 m
2
/s
3
.





m
2
/s
3

(a) (c) (b)





















Gambar 4 Plot kontur energi dissipasi pada berbagai kecepatan putar pengaduk
(a) 40 rpm, (b) 60 rpm, (c) 70 rpm



Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Semakin besar harga G semakin besar kecepatan putar pengaduk.
2. Kecepatan putar pengaduk yang memenuhi harga G (gradient kecepatan) 20-70 s
-1
adalah 35-70 rpm.
3. Pada kecepatan putar pengaduk 55.02 rpm didapatkan energi dissipasi sebesar 0.001605 m
2
/s
3
, dimana
hal ini sesuai dengan eksperimen yaitu 0.0016 m
2
/s
3


Ucapan Terima Kasih
Kami sampaikan terima kasih kepada Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS yang telah memberikan dana
penelitian dan dana untuk berpartisipasi dalam seminar ini.

Daftar Notasi
d
p
Diameter partikel [m]
G Gradien kecepatan [s
-1
]
P Power yang dibutuhkan [Watt]
rv,p Kecepatan pembentukaan partikel primer [ susp.solid pembentuk partikel primer/(m
3
air.s)]
rv,f Kecepatan pembentukan flok [ partikel primer pembentuk flok/(m
3
air.s)]
V Volume tangki [m
3
]
Energi dissipasi rata-rata [m
2
/s
3
]
Viscositas [kg/m
2
.s]
Densitas Liquida [kg/m
3
]
N Kecepatan putar pengaduk [rpm]

Daftar Pustaka

1. Bakker, A and H.E.A. Van den Akker, A Computational Model for The Gas Liquid Flow in Stirred
Reactors, Trans IChemE Part A, 72: 583-593 (1994).
2. Draste,R.L., Theory and Practice of Water and Waste Water Treatment, John Willey & Sons, USA
(1990).
3. Ducoste, J.J., M.M.Clark and R.J.Weetman., Turbulence in Flocculators: Effects of Tank Size and
Impeller Type, AIChE J., 43, 328-338 (1997).
4. Henze, M., P.Harremoes, J.C. Jansen, and E.Arvin., Waste Water Treatment, 2
nd
ed., Springer,
Germany (1990)
5. Malalasekera,V., An Introduction to Computational Fluid Dynamics, Longman Group, India (1995).
6. Mc Ketta,J.J., Unit Operation Handbook, Mechanical Separation & Material Handling, Vol. 2
Chemical Engineering McGraw Hill Pub., New York (1993).
7. Oldshue, J.Y., Fluid Mixing Technology, Chemical Engineering McGraw Hill Pub., New York
(1983).
8. Reynolds, T.D., Unit Operation & Processes in Environment Engineering, Texas A&M University
(1988).
9. Svarovsky, L, Solid-Liquid Separation, Part A, 4
th
Ed.., Butterworth, Heinemann (1990).