Anda di halaman 1dari 4

Editorial

Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 6, Juni 2007


Pemberantasan Demam Berdarah Dengue:
Sebuah Tantangan yang Harus Dijawab*
Saleha Sungkar
Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
Pendahuluan
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti. DBD merupakan masalah kesehatan
masyarakat di Indonesia karena incidence rate-nya yang
terus meningkat dan penyebarannya semakin luas.

Propinsi
yang terus mengalami peningkatan incidence rate DBD
adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi
Utara, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa
Tenggara Timur.
1,2
DKI Jakarta merupakan propinsi dengan jumlah
penderita DBD terbanyak. Berdasarkan data Dinas
Kesehatan Propinsi DKI Jakarta jumlah penderita DBD pada
tahun 2003 sebanyak 14.071 orang dengan case fatality rate
(CFR) 0,42 %. Pada tahun 2004 jumlah penderita meningkat
tajam menjadi 20.640 orang dengan CFR 0,44 % sedangkan
tahun 2005 terjadi peningkatan dengan jumlah penderita
23.466 orang dengan CFR 0,34%.
3
Berdasarkan kenyataan di atas, pemerintah Indonesia
terus berusaha memperbaiki program pemberantasan DBD.
Program tersebut bertujuan untuk mengurangi penye-
barluasan wilayah yang terjangkit DBD, mengurangi jumlah
penderita DBD, dan menurunkan angka kematian akibat DBD.
Strategi pemberantasan DBD lebih ditekankan pada upaya
preventif, yaitu melaksanakan penyemprotan masal sebelum
musim penularan penyakit di daerah endemis DBD. Selain
itu, juga digalakkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN) dan penyuluhan kepada masyarakat melalui berbagai
media.
Pada kenyataannya, tidak mudah memberantas DBD
karena terdapat berbagai hambatan dalam pelaksanaannya.
Akibatnya, strategi pemberantasan DBD tidak terlaksana
dengan baik sehingga setiap tahunnya Indonesia terus
dibayangi kejadian luar biasa (KLB) DBD.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan
Pemberantasan DBD
Keberhasilan pemberantasan DBD di Indonesia
dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain perilaku
penduduk, tenaga kesehatan, sistem peringatan dini oleh
* Disampaikan pada Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Tetap
Parasitologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 16
Juni 2007
167
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 6, Juni 2007
Pemberantasan Demam Berdarah Dengue
pemerintah, resistensi nyamuk terhadap insektisida, serta
alokasi dana.
Perilaku Penduduk
Sebagian besar penduduk Indonesia belum menyadari
pentingnya memelihara kebersihan lingkungan. Salah satu
masalah yang umum ditemukan adalah rendahnya kesadaran
penduduk untuk menjaga agar tidak terdapat wadah-wadah
yang dapat menampung air di lingkungan tempat tinggalnya.
Dewasa ini, kemasan plastik semakin banyak digunakan
masyarakat misalnya botol/gelas air minum mineral. Kemasan
plastik tersebut dapat menampung air dan jika dibuang
sembarangan akan menjadi tempat berkembang biak Ae.
aegypti. Hal itu terutama menjadi masalah pada musim hujan.
Akibatnya, terjadi peningkatan kasus DBD selama musim
hujan.
Masalah lain adalah kebiasaan masyarakat untuk
menampung air. Di daerah tertentu yang air minumnya asin
dan ketersediaan air minum tidak teratur, penduduk terbiasa
menampung air bersih di dalam drum yang dapat berisi 200
liter air dan air ditampung untuk jangka waktu lama. Drum
tersebut menjadi tempat berkembangbiak Ae. aegypti.
Sementara itu, di daerah dengan ketersediaan air yang baik
ternyata penduduk juga banyak yang menampung air di dalam
bak mandi. Hal itu disebabkan penduduk lebih senang mandi
menggunakan gayung daripada shower. Air dalam bak mandi
selalu digunakan tetapi biasanya tidak sampai habis
sehingga larva tetap berada di tempat tersebut. Selain itu
bila ada gerakan, larva akan bergerak ke bawah sehingga
tidak terbuang pada saat air diambil.
4
Kebiasaan lain yang turut menghambat pemberantasan
DBD adalah tidak menguras bak mandi secara teratur dan
walaupun sebagian masyarakat telah menguras secara teratur,
seringkali dengan cara yang salah. Pengurasan umumnya
hanya dilakukan dengan mengganti air tanpa menyikat
dinding bak mandi. Cara tersebut tidak efektif karena telur
Ae. aegypti tetap melekat di dinding bak mandi. Telur Ae.
aegypti dapat bertahan hingga enam bulan sehingga jika
tidak dihilangkan akan terus melanjutkan siklus hidupnya.
Ae. aegypti mengalami metamorfosis sempurna yaitu
telur-larva-pupa/kepompong-dewasa. Perkembangan Ae.
aegypti dari telur sampai menjadi nyamuk dewasa memakan
waktu sekurang-kurangnya sembilan hari. Telur akan menetas
menjadi larva dalam waktu 1-2 hari. Selanjutnya, larva
berubah menjadi pupa dalam waktu 5 -15 hari. Stadium pupa
biasanya berlangsung dua hari, lalu keluarlah nyamuk dewasa
yang siap mengisap darah dan menularkan DBD.
Menurut Departemen Kesehatan RI, tempat penam-
pungan air yang banyak digunakan adalah bak mandi,
tempayan, drum dan tangki air.
5
Umumnya, penduduk Indo-
nesia menggunakan bak mandi yang terbuat dari semen.
Dinding bak mandi yang terbuat dari semen bersifat kasar,
gelap, dan mudah menyerap air. Dinding tempat penam-
pungan air seperti itu sangat disukai Ae. aegypti. Tempat
penampungan air yang tidak disukai Ae. aegypti adalah yang
dindingnya licin, tidak menyerap air dan terang misalnya
keramik. Berdasarkan hal tersebut masyarakat perlu diberikan
informasi agar menggunakan tempat penampungan air yang
dindingnya licin, berwarna terang (putih) dan tidak menyerap
air.
6
Akhir-akhir ini, pemerintah semakin menggalakkan pro-
gram penghijauan dan keindahan kota. Masyarakatpun
mempercantik halaman rumahnya dengan tanaman hias.
Tanaman tersebut menjadi tempat istirahat Ae. aegypti apalagi
jika terlalu rimbun dan tidak terkena sinar matahari karena Ae.
aegypti menyukai tempat istirahat yang lembab dan teduh.
Tanaman dengan daun yang dapat menampung air juga dapat
menjadi tempat berkembang biak Ae. aegypti. Dengan
demikian, tanaman perlu diperhatikan agar tidak terlalu
rimbun, dipilih yang tidak dapat menampung air dan harus
terkena sinar matahari.
Peran Tenaga Kesehatan
Saat ini strategi pemberantasan DBD antara lain dengan
memberantas Ae. aegypti sebelum musim penularan untuk
membatasi penyebaran DBD dan mencegah KLB.
7
Pemberantasan tersebut dilakukan dengan penggerakan
masyarakat untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang
dikenal dengan program Jumat bersih, pengasapan masal di
kelurahan endemis tinggi dan tempat umum (sekolah, rumah
sakit, puskesmas, mesjid, gereja, kantor-kantor) serta
pemeriksaan jentik berkala.
Pengasapan (fogging) dilakukan dua kali di semua rumah
dan tempat umum, terutama di kelurahan endemis tinggi.
Pengasapan menggunakan insektisida malation 4% (atau
fenitrotion) dalam solar dengan dosis 438 ml/Ha. Pengasapan
harus dilakukan di dalam dan di sekitar rumah karena aktifitas
dan tempat istirahat Ae. aegypti adalah di dalam rumah dan
di sekitar rumah. Pengasapan mampu menurunkan populasi
Ae. aegypti dengan cepat tetapi terkadang hasil yang dicapai
tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pada saat pengasapan
terkadang petugas hanya menyemprot halaman rumah dan
gang-gang sekitar rumah penduduk tetapi tidak masuk ke
dalam rumah karena penduduk menolak penyemprotan di
dalam rumah. Alasan penolakan adalah insektisida yang
disemprot berbau tidak sedap, membuat lantai licin, dan
dikuatirkan mencemari makanan serta pernapasan. Akibatnya,
pengasapan hanya membunuh nyamuk yang berada di sekitar
halaman rumah sedangkan nyamuk yang berada di dalam
rumah tidak terberantas.
Pengasapan juga harus diikuti abatisasi dan PSN karena
pengasapan hanya efektif untuk membunuh nyamuk dewasa.
Apabila tidak diikuti dengan abatisasi dan PSN, larva Aedes
aegypti tidak dapat diberantas dan akan tumbuh menjadi
nyamuk dewasa. Larvisida yang digunakan untuk abatisasi
(temefos) mempunyai efek residu selama 23 bulan. Jadi, bila
dalam setahun dilakukan empat kali abatisasi maka selama
setahun populasi nyamuk akan terkontrol dan dapat ditekan
168
Pemberantasan Demam Berdarah Dengue
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 6, Juni 2007
serendah-rendahnya.
Pemeriksaan jentik berkala dilakukan oleh juru pemantau
jentik (jumantik) yang bertugas melakukan kunjungan rumah
setiap tiga bulan. Hasil yang didapat jumantik dilaporkan
dalam bentuk Angka Bebas Jentik (ABJ) yaitu:
7
Jumlah rumah/bangunan yang tidak ditemukan jentik
Jumlah rumah/bangunan yang diperiksa
ABJ merupakan indikator penyebaran Ae. aegypti.
Dengan strategi pemberantasan yang telah ditetapkan,
ditargetkan ABJ dapat mencapai lebih dari 95%.
Sampai saat ini beberapa daerah telah melaporkan bahwa
ABJ telah mencapai 90% bahkan ada juga yang mencapai
95%, tetapi pada kenyataannya jumlah penderita DBD masih
tetap tinggi. Hal tersebut disebabkan jumlah penderita DBD
tidak semata-mata berhubungan langsung dengan ABJ.
Selain itu, tingginya ABJ mungkin disebabkan oleh jumantik
yang kinerjanya kurang baik, misalnya kurang teliti dalam
melakukan survei. Jumantik mungkin hanya memeriksa tempat
penampungan air yang besar seperti bak mandi, ember dan
drum, sedangkan wadah yang kecil misalnya vas bunga,
penampungan tetesan AC, penampungan tetesan dispenser
tidak diperiksa. Tempat penampungan air di luar rumah
seperti talang air, tangki air, botol bekas, kaleng, wadah plastik
dll, mungkin juga tidak diperiksa. Hal tersebut mengakibatkan
luputnya larva Aedes aegypti dari pemeriksaan. Selain itu,
ada sebagian pemilik rumah yang tidak mengijinkan
rumahnya disurvei. Ada pula rumah atau bangunan yang
dikunci karena tidak dihuni atau penghuninya sedang pergi.
8
Sistem Peringatan Dini
Sistem Peringatan Dini telah dilakukan oleh Malaysia
dan terbukti efektif dalam menurunkan angka kejadian DBD.
9
Pemerintah Indonesia perlu membentuk Sistem Peringatan
Dini untuk memberikan peringatan dini bagi masyarakat
setiap tahunnya sebelum terjadi KLB DBD sehingga
masyarakat dapat mengantisipasinya. Sistem Peringatan Dini
dapat memanfaatkan media elektronik sebagai sarana
sosialisasi. Isi sosialisasi sebaiknya mencakup gejala khas
DBD yaitu demam tinggi dan perdarahan terutama
perdarahan kulit, serta apa yang harus dilakukan terhadap
penderita DBD. Sosialisasi juga perlu mencakup upaya
pemberantasan DBD yang efektif dan efisien seperti PSN
dan upaya perlindungan diri, seperti pemasangan kelambu
pada saat anak tidur siang, kawat kasa pada lubang ventilasi
udara, dan memakai penolak nyamuk.
Resistensi Nyamuk terhadap Insektisida
Hambatan lain dalam pemberantasan DBD adalah
resistensi nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta,
insektisida yang digunakan untuk pengasapan di wilayah
Jakarta adalah malation yang telah digunakan secara massal
x 100%
sejak tahun 1969. Selain itu, juga digunakan temefos yang
merupakan larvisida yaitu insektisida untuk membunuh larva
Ae. aegypti yang telah digunakan secara masal sejak tahun
1980. Malation dan temefos mengandung bahan aktif
organofosfat. Penggunaan insektisida tersebut dalam waktu
lama dapat menimbulkan resistensi Ae.aegypti terhadap bahan
aktifnya. Hal itu disebabkan pada saat pengasapan tidak
semua Ae. aegypti terbunuh tetapi masih ada yang hidup
karena nyamuk berhasil menghindar dari insektisida atau
dosis insektisida yang kontak dengan nyamuk tidak
mencukupi. Akibatnya nyamuk tersebut menjadi resisten dan
resistensi itu diturunkan kepada keturunannya.
Mardihusodo
10
melakukan penelitian menggunakan bio-
assay dan uji biokimia yang hasilnya menunjukkan bahwa
larva Ae. aegypti di Yogyakarta cenderung resisten terhadap
malation dan temefos. Penelitian Gionar et al,
11
yang
menggunakan uji biokimia untuk deteksi resistensi pada
beberapa spesies nyamuk menunjukkan bahwa 90%
Cx.quinquefasciatus di Jakarta dikategorikan resisten ter-
hadap organofosfat dan 25% Ae. aegypti di Bandung
resisten terhadap organofosfat.
Penelitian yang dilakukan Departemen Parasitologi
bekerja sama dengan Pemda DKI Jakarta pada tahun 2007,
melaporkan sebagian besar larva Ae. aegypti di Tanjung Priok
telah resisten terhadap insektisida organofosfat yaitu 44,8 %
resisten sedang dan 50% sangat resisten. Di Mampang
Prapatan, sebagian besar larva Ae. aegypti juga telah resisten
terhadap insektisida organofosfat yaitu 57,2% resisten
sedang dan 9,8% sangat resisten.
12
Karena Ae. aegypti telah menunjukkan resistensi
terhadap insektisida di beberapa daerah di Indonesia maka,
perlu dilakukan pemantauan secara ketat penggunaan
insektisida golongan organofosfat dalam pengasapan.
Selanjutnya perlu dipertimbangkan untuk mengganti jenis
insektisida golongan organofosfat dengan golongan lain
dalam pengendalian vektor DBD.
Dana
Dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malay-
sia, Thailand, dan Singapura, penelitian mengenai pengen-
dalian vektor DBD di Indonesia masih tertinggal karena
keterbatasan dana.
Peningkatan anggaran untuk menunjang penelitian
terhadap virus dengue maupun nyamuk Ae. aegypti dapat
mendorong keberhasilan pemberantasan DBD. Diperlukan
penelitian untuk mencari sistem pengendalian vektor DBD
dengan berbagai cara antara lain pemberantasan biologik
yang lebih aman, efektif, dan dapat diterima oleh penduduk.
Juga diperlukan penelitian yang dapat menciptakan rekayasa
genetika pada Ae.aegypti sehingga nyamuk tidak dapat
melanjutkan siklus hidupnya.
Juga diperlukan untuk mencari sistem pengendalian
vektor DBD dengan cara lain misalnya mengintegrasikan
teknik biologi molekuler. Saat ini penelitian fase I dari sekuens
169
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 6, Juni 2007
Pemberantasan Demam Berdarah Dengue
genom Ae. aegypti telah selesai dilakukan oleh The Insti-
tute of Genomic Research dan Universitas Notre Dame.
Selanjutnya adalah menentukan Transposable Element (TE)
pada genome Ae. aegypti. TE merupakan segmen asam
nukleat (materi genetik) yang berpengaruh secara signifikan
terhadap struktur dan ukuran genom Ae. aegypti. TE dapat
digunakan untuk mempelajari interaksi nyamuk dengan
patogen sehingga dapat digunakan untuk pemberantasan
penyakit. Caranya adalah dengan memasukkan gen yang
membuat nyamuk kebal terhadap infeksi virus DBD sehingga
tidak lagi berperan sebagai vektor DBD. Hal tersebut
memberikan harapan untuk memberantas DBD secara genetik
(genetic control) di masa mendatang.
13-14
Akhir-akhir ini, upaya pemberantasan DBD yang hangat
dibicarakan adalah vaksin dengue, namun sampai saat ini
vaksin itu belum tersedia karena terbatasnya dana penelitian.
Kesulitan lain yang dihadapi adalah vaksin harus dapat
mencegah infeksi dari keempat serotipe virus dengue.
Kendala lain yang dihadapi adalah kesulitan memprediksi
apakah vaksin dengue tersebut benar-benar efektif karena
sampai saat ini penelitian baru dilakukan terhadap model
binatang yang tidak menimbulkan gejala DBD seperti pada
manusia. Kita masih harus menunggu sampai vaksin benar-
benar siap dan dapat digunakan secara masal.
14
Penutup
Peningkatan kesadaran masyarakat sangat penting
untuk menunjang keberhasilan PSN yang merupakan upaya
termurah untuk memberantas DBD. Karena itu, diperlukan
penyuluhan yang berkesinambungan untuk mendorong
masyarakat agar semakin menyadari bahaya DBD dan
pentingnya PSN. Pemerintah juga perlu memberikan
peringatan dini untuk meningkatkan kewaspadaan
masyarakat terhadap DBD.
Program berbasis masyarakat yang diterapkan di Puerto
Rico memberikan hasil yang memuaskan. Program itu meliputi
pemberian pengetahuan mengenai DBD kepada siswa. Siswa
diperlihatkan habitat larva Ae. aegypti di rumah dan cara
mengendalikannya. Ada pula kunjungan siswa ke museum
untuk melihat Ae. aegypti. Pada kunjungan itu, siswa melihat
dan mempelajari siklus hidup nyamuk, cara penularan DBD,
habitat larva, dan video singkat mengenai cara mengendalikan
Ae. aegypti. Semua hal yang dipelajari itu diharapkan akan
disampaikan siswa kepada orang tua mereka masing-masing.
Hasil program itu menunjukkan peningkatan keterlibatan or-
ang tua pada pengendalian DBD.
15
Pemberantasan DBD tidak dapat dilaksanakan dalam
waktu singkat, namun perlu dilakukan terus-menerus,
sehingga kemungkinan terjadinya KLB atau peningkatan
jumlah benderita DBD dapat dihindari. Kerjasama seluruh
lapisan masyarakat mendorong keberhasilan pemberantasan
DBD.
Daftar Pustaka
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pemberantasan sarang
nyamuk demam berdarah dengue di perkotaan. Jakarta: Dep Kes
RI; 2004.
2. Kusriastuti R. Kebijaksanaan penanggulangan demam berdarah
dengue di Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia; 2005.
3. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Data pasien tersangka
DBD bersumber surveilans aktif rumah sakit. Jakarta: Depkes RI;
2005.
4. Sungkar S. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Yayasan Penerbitan
Ikatan Dokter Indonesia ; 2002. p 1-30.
5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pemberantasan sarang
nyamuk demam berdarah dengue di perkotaan. Jakarta: Dep Kes
RI; 2004.
6. Sungkar S, Hoedojo, S. Djakaria, Sumedi, Ismid IS. Pengaruh jenis
tempat penampungan air terhadap kepadatan dan perkembangan
larva Aedes aegypti. Maj Kedokt Indon 1994;44(4):217-23.
7. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan.
Petunjuk Pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam
Berdarah Dengue (PSN DBD) oleh Juru Pemantau Jentik
(Jumantik). Jakarta: Dep Kes RI; 2004.
8. Sungkar S. Widodo AD, Suartanu N. Evaluasi program pem-
berantasan demam berdarah dengue di Kecamatan Pademangan
Jakarta Utara. Maj Kedokt Indon 2006;56:108-12.
9. Teng AK, Singh S. Epidemiology and new initiatives in the pre-
vention and control of dengue in Malaysia. Dengue Bulletin 2001;
25:7.
10. Mardihusodo SJ. Microplate assay analysis of potential for orga-
nophosphate insecticide resistance in Aedes aegypti in Yogyakarta
Minicipality Indonesia. Berkala Ilmu Kedokteran 1995;27:71-9.
11. Gionar YR, Zubaidah S, Stoops CA, Bangs MJ. Penggunaan metode
microtitre plate assay untuk deteksi gejala kekebalan terhadap
insektisida organofosfat pada tiga spesies nyamuk di Indonesia.
Jakarta: Laporan Penelitian Departemen Entomologi US
NAMRU 2;2005.
12. Zulhasril. Deteksi resistensi Aedes aegypti terhadap insektisida
organofosfat di Tanjung Priok Jakarta Utara dan Mampang
Prapatan Jakarta Selatan dengan microplate assay.
13. Gubler DJ. Aedes aegypti and Aedes aegypti-borne disease con-
trol in the 1990: top down or bottom up? Franklin Craig lecture
delivered before the American Society of Tropical Medicine &
Hygiene, Washington, 12 July 1988.
14. Genome of yellow fever, dengue fever mosquito, sequenced.
Bioinformatic. Diunduh dari http://www.biologynews.net/archives/
2007/05/17.
15. Winch PJ, Leontsini E, Rigau-Perez JG, Ruiz-Perez M, Clark GG,
Gubler DJ. Community-based dengue prevention programs in
Puerto Rico: impact on knowledge, behaviour, and residential
mosquito infestation. Am J Trop Med Hyg 2002;67:363-70.
SS
170