Anda di halaman 1dari 2

Rogawski

GluA2 heteromer berkontribusi. REseptor AMPA berlokasi di membran post-sinaptik pada sinapsis,
seperti di Gambar 5, tetapi mereka bisa bergerak secara lateral di antara membran ke dalam atau ke
luar sinapsis. Insersi dan internalisasi reseptor AMPA terjadi secara dinamis di ekstrasinapsis. Pada
beberapa sinapsis, reseptor AMPA berlokasi si terminal akson presinapsis, dimana mereka mengatur
pelepasan neurotransmitter.
Farmakologi Antagonis Reseptor AMPA
Memahami peranan reseptor AMPA bisa dengan penemuan antagonis farmakologikal selektif pada
tahun 1980-an. Kemajuan pesat di bidang farmakologi tidak diragukan dilakukan oleh banyak aplikasi
klinis potensial. Karena reseptor AMPA berlokasi di sistem saraf pusat, antagonis reseptor AMPA
tidak menghasilkan efek samping yang melibatkan organ lain atau sistem saraf tepi. Antagonis
reseptor AMPA pertama adalah quinoxalinedione, seperti CNQX, yang menghambat aksi dengan
bersaing untuk mengikat agonis. Jalannya channel reseptor AMPA terjadi dengan mengikat agonis,
termasuk glutamat alami atau sintetik. Pergerakan lobus 2 terhadap lobus 1 20 derajat adalah
perubahan konfirmasi awal yang merangsang aktivasi reseptor. Aksi bloking quinoxalinediones
kompetitif karena bisa diatasi oleh antagonis. Awalnya quinoxalinediones diperlihatkan aktivitas in
vivo yang lemah, karena kekurangan darah- permiabelitas sawar otak tapi setelah itu, analog seperti
NBQX, ditemukan memperlihatkan aktivitas sistemik, termasuk aktivitas anti-konvulsan pada bentuk
kejang yang berbeda-beda. Sebagai tambahanan quinoxalinediones dengan aktivitas anti konvulsan
in vivo, seperti YM872 YM90K, ZK 200775 (MPQX, fanapanel) dan AMP397 (becampanel). Beberapa
secara structural mirip antagonis AMPA reseptor juga telah teridentifikasi, termasuk derivate
pyrazine RPR117824; isatin oximes, seperti NS1209 (SPD 502); yang juga menginhibisi reseptor
GluK1 kainate; golongan quinazoline-2,4dione sulfamide; dan quinazolin-2-one Ro 48-8587. NS1209
tidak aktif secara oral dan telah diteliti sebagai agen intravena untuk pengobatan dari status
epileptikus. NS1209 dilaporkan memiliki toleransi yang bagus pada manusia tapi hasil pada status
epileptikus belum pernah diungkapkan. Decahydroisoquinoline LY 293558 (tezampanel)
is an additional structurally novel
competitive AMPA receptor antagonist with in
vivo anticonvulsant activity (64, 65). Although LY
293558 was originally believed to be a selective
AMPA receptor antagonist, it inhibits GluK1 kainate
receptors with even greater potency.
Pada awal tahun 1990an, 2,3-benzodiazepin, di contohkan oleh GYKI 52466, di karakterisasikan
sebagai kelas asing dari antagonis selektif reseptor AMPA. Secara kontras dengan antagonis reseptor
AMPA yang telah dijelaskan sebelumnya, 2,3-benzodiazepin merupakan antagonis non-kompetitif
yang berperan sebagai allosteric modulator negative pada daerah yang berbeda dengan glutamate.
Seperti komponen yang telah di demonstrasikan yang memiliki aktivitas anti konvulsan broad
spectrum pada hewan percobaan. Analog GYKI 52466 (GYKI 53773, LY300164) telah memperlihatkan
kemanjurannya pada percobaan klinis untuk pengobatan dari kejang parsial walaupun
interpretasinya telah di kacaukan oleh interaksi obat lain. Decahydroisoquinoline LY 293558
(tezampanel)
is an additional structurally novel
competitive AMPA receptor antagonist with in
vivo anticonvulsant activity (64, 65). Although LY
293558 was originally believed to be a selective
AMPA receptor antagonist, it inhibits GluK1 kainate
receptors with even greater potency. Waktu paruh talampanel dalam plasma adalah 6 jam, jadi digunakan
tiga kali dalam sehari untuk terapi. The multiple peaks in plasma concentration
throughout the day might unfavorably influence
the safety profile
reseptor antagonis AMPA 2,3 benzodiazepin seperti talamanel bersifat selektif terhadap reseptor
AMPA. Mereka tidak menekan reseptor NMDA dan hanya sedikit menekan reseptor kainite. Domain
swapping and site-directed mutagenesis
have demonstrated that the antagonists bind to
peptide segments of AMPA receptor subunits
that link the transmembrane spanning regions
and the ligand-binding core, as illustrated in
Fig. 6 (72) . Binding of antagonists disrupts the
ability of conformational changes in the ligandbinding
domains induced by agonist binding to
open the channel. Certain non-competitive antagonists
appear to bind most potently to receptors
that do not have agonists bound (72), whereas
others bind preferentially to the ligand bound
open state (68, 73).