Anda di halaman 1dari 9

Secara etimologi (bahasa) Al-Quran berarti bacaan karena makna tersebut diambil dari

kata qaraah, yaitu bentuk masdar dari kata qara. Sedangkan secara terminology Al-Quran sudah
banyak diberikan pengertian oleh mufassir.
Ali Ash-Shobuni menyatakan bahwa Al-Quran adalah firman Allah yang mujiz,
diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril yang tertulis dalam mushaf,
diriwayatkan secara mutawatir, menjadi ibadah bagi yang membacanya, diawali dari surah Al-
Fatihah dan di akhiri dengan surah An-Nas. Untuk dapat dengan mudah membedakannya dengan
wahyu, sedikit tentang wahyu disajikan berikut ini.
B. Fenomena Wahyu

1. Pengertian
Wahyu secara etimologi / Bahasa berarti petunjuk yang diberikan dengan cepat. Cepat
artinya dating secara langsung kedalam jiwa tanpa didahului jalan pikiran dan tidak duketahui
oleh seorangpun.
Jika dilihat secara jelas makna-makna wahyu tersebut dapat berarti.
a. Ilham yang sudah merupakan fitrah bagi manusia, sebagaimana wahyu yang diberikan kepada
ibu nabi Musa As yang berbunyi:
(QS Al-Qasas ayat 7)

Dan (ingatlah) ketika Kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibu Nabi Musa supaya menyusuinya.

b. Ilham yang merupakan gharizah/instink bagi binatang, sebagaimana petunjuk yang diberikan
kepada lebah:
(QS 16:68)

Dan tuhanmu mewahyukan (memberi petunjuk) kepada lebah supaya menjadikan gunung-
gunung dan pohon-pohon itu sebagai tempat tinggal.

c. Suatu isyarat yang diberikan dengan cepat melalui tanda dan kode, sebagaimana firman Allah
kepada NAbi Zakaria:
(QS 19:11)


Maka ketika dia keluar dari mihrab untuk menemui kaumnya, Allah memberi wahyu (petunjuk
atau isyarat) kepada mereka supaya bertasbih diwaktu pagi dan petang.

d. Godaan dan hiasan kejahatan yang dilakukan oleh setan pada diri manusia:
(QS 6:121)

Dan sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan (membisikkan kejahatan atau was-was) kepada
kawan-kawan setia mereka.

e. Berupa perintah Allah kepada para malaikat-Nya:
(QS 8:12)

Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan atau memerintahkan kepada Malaikat bahwa Aku
bersamamu.

Jika diambil makna wahyu itu dari bentuk masdarnya maka wahyu berarti petunjuk Allah
yang diberikan kepada seseorang yang dimuliakan-Nya secara cepat, dan tersembunyi. Subhi
Sholih menyatakan bahwa wahyu adalah pemberitahuan yang bersifat goib, rahasia, dan sangat
cepat.

Dari makna diatas dapat dipahami bahwa wahyu adalah kalam Allah yang diturunkan
kepada nabi dan atau rasul secara rahasia dan sangat cepat.


2. Cara Penurunan Wahyu
Wahyu yang diturunkan kepada Rasul atau nabi secara rahasia dan sangat cepat itu
bervariasi. Dari variasi itu terbagi pada dua kelompok besar, yaitu melalui perantara Malaikat
Jibril dan langsung tanpa perantara.

a. Melalui perantara Malaikat
Wahyu yang diturunkan dengan cara ini yang terkenal ada dua yaitu:

Pertama, Jibril mrnampakkan wajahnya dan bentuknya yang asli. Cara seperti ini terjadi ketika
Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama, surah al alaq ayat 1-5.

Kedua, Jibril menyamar seperti seorang laki-laki yang berjubah putih. Misalnya ketika Nabi
Muhammad menerima wahyu tentang imam, islam, ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat.

b. Tanpa Perantara Malaikat ( Langsung )
Melalui mimpi yang benar, misalnya ketika turun wahyu surah al kautsar ayat 1-3.


Contoh lain adalah wahyu tentang penyembelihan Ismail oleh ayahnya, Ibrahim, yang diuraikan
dalam surah al shaffat ayat 101-112
(tulis ayat)


Allah berbicara langsung
Adapula yang menyatakan bahwa cara ini adalah turunnya wahyu melalui balik hijab. Misalnya
wahyu Allah kepada Nabi Musa yang diceritakan dalam Alquran surah Al-Arof ayat 143 dan
An-Nisa ayat 164. (tulis)




Contoh lain adalah wahyu yang diterima Nabi Muhammad pada malam isra dan miraj tentang
perintah sholat lima waktu. Menurut al-Qathan cara seperti ini tidak didapati satu ayat pun dalam
Alquran.
Cara yang lain lagi adalah seperti gemercikan lonceng. Menurut jumhur ulama cara tersebut
termasuk yang melalui perantara malaikat. Namun contohnya belum didapati.

C. Pengertian Nuzulul Quran
Nuzulul Qur'an artinya adalah turunnya Al-Qur'an. Turunnya Al-Qur'an untuk yang
petama kalinya biasa diperingati oleh umat Islam yang dikemas dalam suatu acara ritual yang
disebut dengan Nuzulul Qur'an. Turunnya Al-Qur'an untuk yang pertama kalinya merupakan
tonggak sejarah munculnya satu syari'at baru dari agama tauhid yaitu agama Islam. Sebagai
penyempurna dari agama-agama tauhid sebelumnya.
Ayat-ayat Al-Quran tidaklah diturunkan sekaligus secara keseluruhan, tetapi secara
berangsur-angsur sesuai dengan ketentuan yang ada. Itulah sebabnya, ayat-ayat Al-Quan atau
surat-suratnya yang diturunkan tidak sama jumlah dan panjang pendeknya, terkadang diturunkan
sekaligus secara penuh dan terkadang sebagianya saja.

Menurut Alim Ulama Al-Quran diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui tiga
tahapan:
1. Diturunkan ke Lauhilmahfudzh.
2. Ke Bait Al-Izzah di langit dunia.
3. Kemudian baru diturunkan kepada nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur sesuai
dengan keparluan yang ada dan kasus-kasus yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW dan
kaum muslim.
Menurut pendapat yang terkuat dan riwayat yang sahih, firman Allah yang pertama kali
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah firman-Nya disurat Al-Alaq:


Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhan mu lah yang Maha Pemurah. Yang mengajar
(manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum pernah ia
ketahui.
Penurunan surat pertama ini merupakan peristiwa yang bersejarah yang terjadi pada
malam Senin, tanggal 17 Ramadhan tahun ke-41 dari usia Nabi Muhammad SAW atau 13 tahun
sebelum beliau berhijrah ke Madinah, bertetapan dengan bulan Juli tahun 610 Masehi. Malam
pertama kali Alquran diturunkan ini disebut oleh Alquran sendiri dengan Lailat al-Qadr ( Malam
Kemuliaan) dan Lailat Mubarokah (Malam yang Diberkahi). Masing-masing dari kedua nama-
nama tersebut terdapat surat Al-Qodar:1 (tulis)

Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Alquran) pada malam kemuliaan.
dan surat Al-Dukhan:3-4: (tulis ayat)

Sesungguhnya Kami menurunkan (Alquran) pada suatu malam yang diberkahi dan
sesungguhnya kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang
penuh hikmah.
Setelah surat Al-Alaq turunlah surat Al-Mudatsir, tepatnya ketika Nabi Muhammad SAW
sudah berada dirumah bersama istri beliau Khadijah, sehabis pulang dari gua Hira. Setelah itu
ayat-ayat Alquran terputus turun untuk beberapa waktu lamanya. Masa terputusnya ayat-ayat
Alquran ini turun disebut fatrat al wahyi yakni masa terputusnya wahyu.
Berapa lamanya masa fatraul wahyi tersebut, terdapat perbedaan pendapat. Menurut Ibn
Ishaq masa fatrat al wahyi ini setidak-tidaknya 2,5 tahun, bahkan kemungkinan besar salama 3
tahun. Timbulnya kesimpang siuran pendapat tentang masa fatrat al wahyi dapat dimengerti,
sebab peristiwa tersebut terjadi pada permulaan islam yang waktu itu jumlah kaum muslim
masih sangat terbatas. Disamping itu, mereka yang sudah berjumlah sedikit tersebut masih harus
mengalami sebagai macam pemberitaan dari pihak kaum musyrik quraisy, sehingga tidak ada
kesempatan untuk membuat catatan-catatan turunnya ayat-ayat Alquran secara kronologis dan
satu per satu secara berurutan.
Menurut riwayat yang terkuat, ayat Alquran yang terakhir sekali diturunkan adalah ayat
ketiga dari surat Al-Maidah:5 (tulis ayat)
Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama mu, dan telah Aku cukupkan
nikmat ku kepada mu, dan Aku rela islam itu adalah agama untuk mu.
Menurut riwayat diatas, ayat terakhir tersebut diturunkan ketika Nabi Muhammad SAW
bersama para sahabat sedang wukuf di Arofah dalam rangka melaksanakan ibadah haji terakhir (
aji Wada) pada hari Jumat, tanggal 9 Dzulhijjah tahun ke-10 Hijriyah atau tahun ke 63 dari usia
beliau. 81 malam setelah itu Nabi pun wafat.
Nuzulul Qur'an yang kemudian diperingati oleh sebagian kaum muslimin mengacu kepada
tanggal pertama kali Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah SAW di gua Hira. Jika sebagian
besar umat Islam di Indonesia meyakini 17 Ramadhan sebagai tanggal Nuzulul Qur'an, Syaikh
Syafiyurrahman Al-Mubarakfury menyimpulkan Nuzulul Qur'an jatuh pada tanggal 21
Ramadhan.

Lepas dari berapa tanggal sebenarnya, Nuzulul Qur'an dalam arti turunnya Al-Qur'an kepada
Rasulullah SAW secara bertahap atau berangsur-angsur itu memiliki beberapa hikmah sebagai
berikut:

1. Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat
Dakwah Rasulullah pada era makkiyah penuh dengan tribulasi berupa celaan, cemoohan,
siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun secara bertahap dari waktu ke waktu
menguatkan hati Rasulullah dalam menapaki jalan yang sulit dan terjal itu.

Ketika kekejaman Quraisy semakin menjadi, Al-Qur'an menyuruh mereka bersabar seraya
menceritakan kisah para nabi sebelumnya yang pada akhirnya memperoleh kemenangan dakwah.
Maka, seperti yang dijelaskan Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam Rakhiqul
Makhtum, Al-Qur'an menjadi faktor peneguh mengapa kaum muslimin sangat kuat menghadapi
cobaan dan tribulasi dakwah dalam periode Makkiyah.

Di era madaniyah, hikmah ini juga terus berlangsung. Ketika hendak menghadapi perang atau
kesulitan, Al-Qur'an turun menguatkan Rasulullah dan kaum muslimin generasi pertama.

2. Tantangan dan Mukjizat
Orang-orang musyrik yang berada dalam kesesatan tidak henti-hentinya berupaya melemahkan
kaum muslimin. Mereka sering mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dengan maksud
melemahkan kaum muslimin. Pada saat itulah, kaum muslimin ditolong Allah dengan jawaban
langsung dari-Nya melalui wahyu yang turun.

Selain itu, Al-Qur'an juga menantang langsung orang-orang kafir untuk membuat sesuatu yang
semisal dengan Al-Qur'an. Nyanta, walaupun Al-Quran turun berangsur-angsur, tidak
seluruhnya, toh mereka tidak mampu menjawab tantangan itu. Ini sekaligus menjadi bukti
mukjizat Al-Qur'an yang tak tertandingi oleh siapapun.

3. Memudahkan Hafalan dan Pemahamannya
Dengan turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur, maka para kaum muslimin menjadi lebih
mudah menghafalkan dan memahaminya. Terlebih, ketika ayat itu turun dengan latar belakang
peristiwa tertentu atau yang diistilahkan dengan asbabun nuzul, maka semakin kuatlah
pemahaman para sahabat.

4. Relevan dengan Pentahapan Hukum dan Aplikasinya
Sayyid Quthb menyebut para sahabat dengan "Jailul Qur'anil farid" (generasi qur'ani yang unik).
Diantara hal yang membedakan mereka dari generasi lainnya adalah sikap mereka terhadap Al-
Qur'an. Begitu ayat turun dan memerintahkan sesuatu, mereka langsung mengerjakannya.
Interaksi mereka dengan Al-Qur'an bagaikan para prajurit yang mendengar intruksi
komandannya; langsung dikerjakan segera.

Diantara hal yang memudahkan bersegeranya para sahabat dalam menjalankan perintah Al-
Qur'an adalah karena Al-Qur'an turun secara bertahap. Perubahan terhadap kebiasaan atau
budaya yang mengakar di masyarakat Arab pun dilakukan melalui pentahapan hukum yang
memungkinkan dilakukan karena turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur ini. Misalnya
khamr. Ia tidak langsung diharamkan secara mutlak, tetapi melalui pentahapan. Pertama, Al-
Qur'an menyebut mudharatnya lebih besar dari manfaatnya (QS. 2 : 219). Kedua, Al-Qur'an
melarang orang yang mabuk karena khamr dari shalat (QS. 4 : 43). Dan yang ketiga baru
diharamkan secara tegas (QS. 5 : 90-91).

5. Menguatkan bahwa Al-Qur'an benar-benar dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji
Ketika Al-Qur'an turun berangsur-angsur dalam kurun lebih dari 22 tahun, kemudian menjadi
rangkaian yang sangat cermat dan penuh makna, indah dan fasih gaya bahasanya, terjalin antara
satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di
dalamnya, semakin menguatkan bahwa Al-Qur'an benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha
Bijaksana lagi Maha Terpuji.


D. Periodisasi turunya Al-Quran

Menurut saikh al-khudlari dalam bukunya, tarikh tasyi, masa turunnya al-quran yang di
mulai dari tanggal 17 ramadhan tahun ke 41 dari kelahiran nabi Muhammad SAW hingga akhir
turunnya ayat pada 19 djulhijah tahun ke 63 dari usia beliau, tidak kurang dari 22 tahun 2 bulan
22 hari. Masa ini kemudian di bagi oleh para ulama menjadi dua periode yaitu periode mekah
dan periode madinah.
Periode mekah dimulai ketika nabi Muhammad pertama kali menerima ayat-ayat al-quran
pada tujuh belas ramadhan, pada 41 dari kelahiran beliau hingga awal rabiul awal ke 54 dari
kelahiran beliau, yaitu sewaktu beliau akan berhijrah meninggalkan mekah menuju madinah.
Periode madinah dimulai sejak nabi Muhammad SAW berhijrah ke madinah dan menetap
disana sampai dengan turunnya ayat terakhir pada 9 dzulhijah tahun ke 10 dari kelahiran beliau.
Dengan demikian, periode mekah selama 12 tahun 5 bulan 13 hari dan periode madinah selama 9
tahun, 9 bulan, 9 hari.
10 hari terakhir bulan ramadan
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung, bulan yang selalu dijadikan momentum
untuk meningkatkan kebaikan, ketakwaan serta menjadi ladang amal bagi orang-orang yang
shaleh dan beriman kepada Allah SwT.
Tidak terasa, Ramadhan tahun ini sudah mendekati akhir karena telah telah memasuki 10 hari
terakhir. Sebagian ulama kita membagi fase bulan Ramadhan dengan tiga bagian. Fase pertama,
yaitu 10 hari pertama adalah sebagai fase rahmat, 10 hari kedua atau pertengahan adalah fase
maghfiroh, serta fase ketiga atau 10 hari terakhir adalah fase pembebasan dari api neraka. Maka
saat ini kita berada dalam fase ketiga, yaitu fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana hadits
yang diriwayatkan oleh Salman al- farisi, Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat,
pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari api neraka.
Rasulullah Muhammad Saw, yang merupakan manusia terpilih dan suri tauladan terbaik bagi
kita, jika Ramadhan memasuki 10 hari terakhir, maka beliau semakin memaksimalkan diri dalam
beribadah. Beliau menghidupkan malam harinya untuk mendekatkan diri kepada Allah SwT,
bahkan beliau membangunkan keluarganya agar turut beribadah. Dari Aisyah r.a., ia
menceritakan tentang keadaan Nabi Saw ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan,
Beliau jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang,
menghidupakn malamnya dan membangunkan keluarganya. (HR. Bukhari).
Rasulullah Saw sangat memerhatikan 10 hari terakhir bulan Ramadhan karena di dalamnya
begitu banyak keutamaan yang bisa didapatkan pada waktu-waktu tersebut. Beberapa di
antaranya: Pertama, sebagaimana sudah lazim kita pahami bahwa sepuluh hari terakhir pada
bulan Ramadhan adalah turunnya lailatul qadr. Malam yang sangat dinantikan untuk didapatkan
oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan
ridha Allah SwT, karena pada malam tersebut siapa saja yang beribadah kepada Allah SwT
dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah SwT maka nilai ibadahnya sama dengan
bernilai ibadah selama 1000 bulan yang juga berarti sama dengan 83 tahun 4 bulan. Sebagaimana
firman Allah SwT dalam surat Al-Qadr ayat 3: Lailatul Qdr itu lebih baik dari seribu bulan.
(QS. Al-Qadr: 3).
Tentunya dengan mendapatkan lailatul qadr adalah suatu hal yang sangat membahagiakan bagi
orang yang beriman yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan kepada Allah
SwT. oleh karenanya, pada hari 10 terakhir ini tidak sedikit dari kaum muslimin yang melakukan
itikaf di masjid agar rangkaian ibadah yang dilaksanakan, shalat malam, tadarus Al-Quran,
berdzikir dan amalan-amalan lainnya dapat dilaksanakan dengan khusyuk, tentunya dengan
tujuan lailatul qadr dapat diraih. Pada malam tersebut keberkahan Allah swT melimpah ruah,
banyaknya malaikat yang turun pada malam tersebut, termasuk Jibril a.s. Allah SwT berfirman:
Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar. (QS. Al-Qadr; 5).
Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw juga menyebutkan tentang keutamaan melakukan
qiyamullail di malam tersebut. Beliau bersabda. Barangsiapa melakukan shalat malam pada
lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang
telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan kedua adalah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan pamungkas bulan
ini, sehingga hendaknya setiap insan manusia yang beriman kepada Allah SwT mengakhiri
Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan berupaya dengan semaksimal mungkin mengerahkan
segala daya dan upayanya untuk meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.
Karena amal perbuatan itu tergantung pada penutupnya atau akhirnya.
Rasullah Saw bersabda: Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan
jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hariku adalah hari
di mana saya berjumpa dengan-Mu kelak.
Dengan demikian mari kita maksimalkan sisa-sisa bulan Ramadhan ini dengan meningkatkan
amaliyah ibadah kita kepada Allah SwT dengan qiyamullail (menghidupkan malam) pada bulan
Ramadhan, khususnya pada malam-malam penghujung bulkan ini. Semoga kita mendapatkan
segala limpahan kemuliaan dari Allah SwT. Amiiiin