Anda di halaman 1dari 27

BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS



A. Kajian Teori

1. Kualitas Laporan Keuangan

a. Pengertian Laporan Keuangan

Menurut PP No 24 Tahun 2005, Laporan Keuangan merupakan

Laporan terstruktur mengenai laporan posisi keuangan dan transaksi-

transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Sedangkan

menurut PP No 8 Tahun 2006, Laporan Keuangan adalah bentuk

pertanggungjawaban pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah

selama suatu periode.

Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban atas

kepengurusan sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh suatu entitas.

Laporan keuangan yang diterbitkan harus disusun berdasarkan Standar

Akuntansi yang berlaku agar laporan keuangan tersebut dapat

dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau

dibandingkan dengan laporan keuangan entitas lain.

b. Kualitas Laporan Keuangan

Kualitas laporan keuangan merupakan persyaratan normatif

yang harus dipenuhi dalam penyusunan laporan keuangan agar laporan

keuangan yang dihasilkan dapat memberikan informasi yang

bermanfaat bagi para pengguna laporan keuangan tersebut. Dalam

penelitian ini laporan keuangan dikatakan berkualitas jika memenuhi


12











karakteristik kualitatif laporan keuangan yang terdapat dalam

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 mengatakan

bahwa karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran

normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga

dapat memenuhi tujuannya. Keempat karakteristik berikut merupakan

prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah

dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki:

1. Relevan

Laporan keuangan bisa dikatakan relevan jika informasi

yang termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan

pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa

lalu atau masa kini, dan memprediksi masa depan, serta

menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu.

Dengan demikian, informasi keuangan yang relevan dapat

dihubungkan dengan maksud penggunaannya.

Informasi yang relevan:

a. Memiliki manfaat umpan balik (feedback value)

Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau

mengoreksi ekspektasi di masa lalu.

b. Memiliki manfaat prediktif (predictive value)

Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa





13











yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian

masa kini.

c. Tepat Waktu

Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh

dan berguna dalam pengambilan keputusan.

d. Lengkap

Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap

mungkin, yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang

dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Informasi yang

melatarbelakangi setiap butir informasi utama yang termuat

dalam laporan keuangan diungkapkan dengan jelas agar

kekeliruan dalam penggunaan informasi dapat dicegah.

2. Andal

Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian

yang menyesatkan dan kesalahan yang material, menyajikan setiap

fakta secara jujur , serta dapat diverifikasi.

Informasi yang andal memenuhi karakteristik:

a. Penyajian Jujur

Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta

peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara

wajar dapat diharapkan untuk disajikan.








14











b. Dapat Diverifikasi (veriability)

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji,

dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak

yang berbeda, hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak

berbeda jauh.

c. Netralitas

Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak

pada kebutuhan pihak tertentu.

3. Dapat Dibandingkan

Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih

berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode

sebelumnya atau laporan keuangan entitas pelaporan lain pada

umumnya. Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan

eksternal. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu

entitas menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke

tahun. Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas

yang diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama.

Apabila entitas pemerintah akan menerapkan kebijakan akuntansi

yang lebih baik daripada kebijakan akuntansi yang sekarang

diterapkan,

perubahan

tersebut

diungkapkan

pada

periode

terjadinya perubahan.








15











4. Dapat Dipahami

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat

dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah

yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna untuk

mempelajari informasi yang dimaksud.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan

Macmillan (2003) mengatakan bahwa untuk meningkatkan

kualitas laporan keuangan pemerintah dibutuhkan sumber daya dan

arahan yang terdiri dari: Pernyataan konsep akuntansi (Statements of

accounting concepts), Pernyataan Standar Akuntansi (Statements of

accounting standards), Kebijakan Akuntansi (Accounting policies),

Petunjuk, pelatihan, bahan-bahan dan tulisan (Manuals, training

materials, and text), Petunjuk Laporan Keuangan (Financial statement

instruction), akuntan yang memiliki kompetensi dan professional

(Accountants with the competence and the professional), Kemampuan

dalam teknologi informasi (Capabilities in information technology),

hukum dan peraturan yang terkait dengan laporan keuangan (Laws and

regulations related to financial reporting), hubungan dengan Asosiasi

dan badan akuntansi internasional (Links to international accounting

bodies and associations).

Aren (2008) menyebutkan bahwa tujuan penerapan Sistem

Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah tercapainya laporan

keuangan yang berkualitas. Penerapan Sistem Pengendalian Intern


16











Pemerintah yang meliputi menciptakan lingkungan pengendalian yang

baik, melakukan penilaian risiko yang mungkin dihadapi, melakukan

aktifitas pengendalian fisik maupun terhadap dokumen penting

lainnya, menjaga kelancaran arus informasi dan komunikasi serta

melakukan pengawasan terhadap seluruh proses akuntansi dan

keuangan yang terjadi didalam entitas akuntansi sehingga dengan

berjalannya seluruh tahapan pengendalian intern tersebut maka akan

tercipta laporan keuangan yang berkualitas.

Bastian, dalam Forum Dosen Akuntansi Publik (2006)

menyatakan bahwa penyiapan dan penyusunan laporan keuangan yang

berkualiatas memerlukan Sumber Daya Manusia yang menguasai

Akuntansi Pemerintahan. Sumber Daya Manusia menjadi faktor kunci

dalam menciptakan laporan keuangan yang berkualitas karena yang

menyusun laporan keuangan adalah mereka yang menguasai Standar

Akuntansi Pemerintahan. Betapapun bagusnya Standar Akuntansi

Pemerintahan, tanpa didukung Sumber Daya Manusia yang handal,

maka laporan keuangan yang berkualitas sulit dicapai.

Nordiawan (2006) menyatakan bahwa Penerapan Standar

Akuntansi Pemerintahan (SAP) akan berdampak pada peningkatan

kualitas laporan keuangan di pemerintah pusat dan daerah. Standar

Akuntansi Pemerintahan (SAP) adalah prinsip-prinsip akuntansi yang

diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan

pemerintah

sehingga

Standar

Akuntansi

Pemerintahan

(SAP)


17











merupakan persyaratan yang mempunyai kekuatan hukum dalam

upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah di

Indonesia.

Penerapan

Standar

Akuntansi

Pemerintahan

akan

mengarahkan sistem akuntansi dan manajemen keuangan pemerintah

yang lebih baik sehingga laporan keuangan yang dihasilkan

mempunyai informasi yang lebih baik.

Awami (2007) mengemukakan tuntutan untuk menerapkan

Standar telah diamanatkan undang-undang, dalam menerapkan standar

akuntansi pemerintahan ini, pemerintah daerah perlu mempersiapkan

Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal. Mereka harus memahami

masalah penyusunan laporan keuangan dan sosialisasi Standar

Akuntansi Pemerintahan. Buruknya kompetensi sumber daya manusia

dapat mengakibatkan kesalahan dalam memahami dan melaksanakan

metode, teknik dan ketentuan baku yang terdapat dalam standar

akuntansi pemerintahan, sehingga laporan keuangan yang dibuat juga

akan salah.

Pengendalian Intern yang efektif juga sangat diperlukan agar

Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah dapat berjalan sebagaimana

mestinya, seperti yang dikatakan Aren (2008) bahwa Pengendalian

Internal

yang efektif akan mempengaruhi pelaksanaan standar

akuntansi

dalam

menciptakan

laporan

keuangan

yang

andal.

Pengendalian intern adalah proses yang dilakukan untuk memberikan

keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui


18











kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan,

pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-

undangan

termasuk

didalamnya

penerapan

Standar

Akuntansi

Pemerintahan (SAP).

Didalam Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 2006 menyebutkan

bahwa Sistem Pengendalian Intern Pemerintah adalah suatu proses

yang dipengaruhi oleh manajemen yang diciptakan untuk memberikan

keyakinan yang memadai dalam pencapaian efektivitas, efisiensi,

ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan

keandalan penyajian laporan keuangan pemerintah. Kompetensi

sumber daya manusia mempengaruhi penerapan Sistem Pengendalian

Intern

Pemerintah

(SPIP)

karena

yang

menjalankan

Sistem

Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) tersebut adalah manusia

Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas

laporan keuangan pemerintah dipengaruhi oleh beberapa faktor,

diantaranya;

kualitas

penerapan

Standar

Pengendalian

Intern

Pemerintah (SPIP),

kompetensi

Sumber Daya Manusia serta

penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Pengaruh faktor-

faktor tersebut terhadap kualitas laporan keuangan dapat secara

langsung maupun tidak langsung.










19











2. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

a. Konsep dan Pengertian

Menurut Mulyadi (1997) menyebutkan bahwa sistem pengendalian

intern meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran

yang

dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian

dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong

terpenuhinya kebijaksanaan manajemen.

Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 2006 menyebutkan bahwa Sistem

Pengendalian Intern Pemerintah adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh

manajemen yang diciptakan untuk memberikan keyakinan yang memadai

dalam pencapaian efektivitas, efisiensi, ketaatan terhadap peraturan

perundang-undangan yang berlaku, dan keandalan penyajian laporan

keuangan pemerintah.

b. Unsur-Unsur Sistem Pengendalian Intern

Dalam PP No 60 Tahun 2008, unsur-unsur Sistem Pengendalian

Intern dalam Pemerintah mengacu pada unsur Sistem Pengendalian Intern

yang telah di praktikan di lingkungan pemerintahan di berbagai negara,

yang meliputi:

1.

Lingkungan Pengendalian

Pimpinan

Instansi

Pemerintah

dan

seluruh

pegawai

harus

menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian dalam

keseluruhan organisasi yang menimbulkan perilaku positif dan





20











mendukung terhadap pengendalian intern dan manajemen yang sehat.

Lingkungan pengendalian mencakup:

a.

b.

c.

d.

e.

f.




g.




h.

Penegakan Integritas dan nilai etika;

Komitmen terhadap kompetensi;

Kepemimpinan yang kondusif;

Pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan;

Pendelagasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat;

Penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang

pembinaan sumber daya manusia;

Perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang

efektif;

Hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait.

2.

Penilaian Risiko

Pengendalian intern harus memberikan penilaian atas risiko yang

dihadapi unit organisasi baik dari luar maupun dari dalam. Penilaian

risiko terdiri atas:

a.

b.

Identifikasi risiko;

Analisis risiko.

3.

Kegiatan Pengendalian

Kegiatan pengendalian membantu memastikan bahwa arah pimpinan

Instansi Pemerintah dilaksanakan. Kegiatan pengendalian harus

efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan organisasi. Kegiatan

pengendalian terdiri atas:


21











a.

b.

c.

d.

e.

f.




g.




h.











Reviu atas kinerja instansi pemerintah yang bersangkutan;

Pembinaan sumber daya manusia;

Pengendalian atas pengelolaan sistem informasi;

Pengendalain fisik atas aset;

Pemisahan fungsi;

Pencatatan yang akurat dan tepat waktu atas tarnsaksi dan

kejadian;

Dokumentasi yang baik atas sistem pengendalian intern serta

transaski dan kejadian penting;

Pembatasan akses atas sumber daya dan pencatatannya.

4.

Informasi dan Komunikasi

Informasi harus dicatat dan dilaporkan kepada Instansi Pemerintah

dan pihak lain yang ditentukan. Informasi disajikan dalam suatu

bentuk dan sarana tertentu serta tepat waktu sehingga memungkinkan

pimpinan Instansi Pemerintah melaksanakan pengendalian dan

tanggung jawabnya. Untuk menyelenggarakan sistem informasi yang

efektif pimpinan instansi pemerintah harus:

a.

Menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk dan sarana

komunikasi;

b.

Mengelola,

mengembangkan,

dan

memperbaharui

sistem

informasi secara terus menerus.








22














5.














Pemantauan

Pemantauan harus dapat menilai kualitas kinerja dari waktu ke waktu

dan memastikan bahwa rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya

dapat segara ditindak lanjuti. Pemantauan sistem pengendalian intern

dilaksanakan melalui pemantauan berkelanjutan, evaluasi terpisah,

dan tindak lanjut hasil rekomendasi audit dan reviu lainnya.

B. Kompetensi Sumber Daya Manusia

Wu jing (1998) mendefinisikan kompetensi dalam Akuntansi

sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan

bagi seseorang untuk bekerja sebagai seorang akuntan. Undang-undang

No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 1 ayat 10 menyatakan

bahwa Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang

mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai

dengan standar yang ditetapkan.

UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas

penjelasan pasal 35(1): Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi

kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan

sesuai dengan standard nasional yang telah disepakati. Surat Keputusan

Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi

mengemukakan Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh

tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap

mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang

pekerjaan tertentu.


23











Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 46A Tahun

2003 Tanggal 21 Nopember 2003 mengatakan bahwa Kompetensi adalah

kemampuan dan karakteristik yang dimiliki seorang Pegawai Negeri Sipil

berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan

dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga Pegawai Negeri Sipil

tersebut dapat melaksanakan tugasnya secara professional, efektif, dan

efisien.

Menurut Wyatt dalam Ruky (2003), kompetensi merupakan

kombinasi dari keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan

perilaku (attitude) yang dapat diamati dan diterapkan secara kritis untuk

suksesnya sebuah organisasi dan prestasi kerja serta kontribusi pribadi

karyawan terhadap organisasinya. Ruky (2003) mengutip pendapat

Spencer

&

Spencer

bahwa

Kompetensi

adalah

an

underlying

characteristic of an individual that is casually related to criterion

referenced effective and/or superior performance in a job or situation

(Karakteristik dasar seseorang yang mempengaruhi cara berpikir dan

bertindak, membuat generalisasi terhadap segala situasi yang dihadapi,

serta bertahan cukup lama dalam diri manusia).

Roe (2001) mengemukakan bahwa Kompetensi dapat digambarkan

sebagai kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas,

kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan,

sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun

pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan


24











pembelajaran yang dilakukan. Jadi dapat disimpulkan bahwa Kompetensi

adalah sebuah pernyataan terhadap apa yang seseorang harus lakukan

ditempat kerja untuk menunjukan pengetahuannya, keterampilannya dan

sikap sesuai dengan standar yang dipersyaratkan.

Menurut Judisuseno (2008), secara umum sistem kompetensi yang

digunakan perusahaan terdiri dari pengetahuan (knowledge), keterampilan

(skill) dan perilaku (attitude), yang diberlakukan terhadap sumber daya

manusia yang dimiliki dalam mencapai tujuan organisasi perusahaan.

Menurut Hutapea (2008) mengungkapkan bahwa ada tiga komponen untuk

pembentuk kompetensi, yaitu pengetahuan, keterampilan dan perilaku.

Susanto (2002) memberikan batasan bahwa kompetensi adalah

segala bentuk perwujudan, ekspresi, dan representasi dari motif,

pengetahuan, sikap, perilaku utama agar mampu melaksanakan pekerjaan

dengan sangat baik atau yang membedakan antara kinerja rata-rata dengan

kinerja superior. Pendekatan ini dilihat dari sudut pandang individual.

C. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)

Mahsun (2006) menyatakan bahwa standar akuntansi sektor publik

adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan

menyajikan laporan keuangan organisasi sektor publik. Pemerintah

Indonesia sudah menetapkan standar akuntansi untuk pemerintahan yang

disebut Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Standar ini dinyatakan

dalam bentuk pernyataan standar akuntansi sektor publik yang memuat

rumusan secara terperinci elemen-elemen standar akuntansi.


25











Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) ini terdiri atas sebuah

kerangka konseptual dan 11 (sebelas) pernyataan. Kerangka konseptual

akuntansi pemerintahan merumuskan konsep yang mendasari penyusunan

dan penyajian laporan keuangan pemerintah pusat dan daerah. Kerangka

konseptual

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) berfungsi sebagai

pedoman jika terdapat masalah akuntansi yang belum dinyatakan dalam

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang

Standar Akuntansi Pemerintahan disebutkan laporan keuangan pokok

pemerintah daerah terdiri dari: (1) Laporan Realisasi Anggaran, (2)

Neraca, (3) Laporan Arus Kas, (4) Catatan atas Laporan Keuangan. Selain

itu diperkenankan menyajikan Laporan Kinerja dan Laporan Perubahan

Ekuitas.

Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005

tentang

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) memuat Pernyataan Standar

Akuntansi Pemerintahan, yang selanjutnya disebut PSAP. PSAP terdiri

dari 11 (sebelas) pernyataan standar:

1. PSAP No 01 tentang Penyajian laporan keuangan;

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah mengatur penyajian

laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial

statements) dalam rangka meningkatkan keterbandingan laporan

keuangan baik terhadap anggaran, antar periode, maupun antar entitas.

Laporan keuangan untuk tujuan umum adalah laporan keuangan yang


26











ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar

pengguna laporan. Untuk mencapai tujuan tersebut, standar ini

menetapkan seluruh pertimbangan dalam rangka penyajian laporan

keuangan, pedoman struktur laporan keuangan, dan persyaratan

minimum isi laporan keuangan. Laporan keuangan disusun dengan

menerapkan basis kas untuk pengakuan pos-pos pendapatan, belanja,

dan pembiayaan, serta basis akrual untuk pengakuan pos-pos aset,

kewajiban,

dan

ekuitas

dana.

Pengakuan,

pengukuran,

dan

pengungkapan transaksi-transaksi spesifik dan peristiwa-peristiwa

yang lain, diatur dalam standar akuntansi pemerintahan lainnya.

2. PSAP No 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran;

Tujuan standar Laporan Realisasi Anggaran adalah menetapkan

dasar-dasar penyajian Laporan Realisasi Anggaran untuk pemerintah

dalam rangka memenuhi tujuan akuntabilitas sebagaimana ditetapkan

oleh peraturan perundang-undangan. Tujuan pelaporan realisasi

anggaran adalah memberikan informasi tentang realisasi dan anggaran

entitas pelaporan secara tersanding. Penyandingan antara anggaran dan

realisasinya menunjukkan tingkat ketercapaian target-target yang telah

disepakati antara legislatif dan eksekutif sesuai dengan peraturan

perundang-undangan

3. PSAP No 03 tentang Laporan Arus Kas;

Tujuan Pernyataan Standar laporan arus kas adalah mengatur

penyajian laporan arus kas yang memberikan informasi historis


27











mengenai perubahan kas dan setara kas suatu entitas pelaporan dengan

mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi

aset nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran selama satu periode

akuntansi. Tujuan pelaporan arus kas adalah memberikan informasi

mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama

suatu periode akuntansi dan saldo kas dan setara kas pada tanggal

pelaporan. Informasi ini disajikan untuk pertanggungjawaban dan

pengambilan keputusan.

4. PSAP No 04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan;

Tujuan Pernyataan Standar ini mengatur penyajian dan

pengungkapan yang diperlukan pada Catatan atas Laporan Keuangan.

Catatan atas Laporan Keuangan dimaksudkan agar laporan keuangan

dapat dipahami oleh pembaca secara luas, tidak terbatas hanya untuk

pembaca tertentu ataupun manajemen entitas pelaporan. Oleh karena

itu, Laporan Keuangan mungkin mengandung informasi yang dapat

mempunyai potensi kesalahpahaman di antara pembacanya. Untuk

menghindari kesalahpahaman, laporan keuangan harus dibuat Catatan

atas Laporan Keuangan yang berisi informasi untuk memudahkan

pengguna dalam memahami Laporan Keuangan.

5. PASP No 05 tentang Akuntansi Persediaan;

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah untuk mengatur

perlakuan akuntansi untuk persediaan dan informasi lainnya yang

dianggap perlu disajikan dalam laporan keuangan. Persediaan


28











mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan untuk

digunakan, misalnya barang habis pakai seperti alat tulis kantor,

barang tak habis pakai seperti komponen peralatan dan pipa, dan

barang bekas pakai seperti komponen bekas. Dalam hal pemerintah

memproduksi sendiri persediaan juga meliputi barang yang digunakan

dalam proses produksi seperti bahan baku pembuatan alat-alat

pertanian. Barang hasil proses produksi yang belum selesai dicatat

sebagai persediaan, contohnya alat-alat pertanian setengah jadi.

6. PSAP No 06 tentang Akuntansi Investasi;

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah untuk mengatur

perlakuan akuntansi untuk investasi dan pengungkapan informasi

penting lainnya yang harus disajikan dalam laporan keuangan.

Investasi pemerintah dibagi atas dua yaitu investasi jangka pendek dan

investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek merupakan

kelompok aset lancer sedangkan investasi jangka panjang merupakan

kelompok aset nonlancar.

7. PSAP No 07 tentang Akuntansi Aset Tetap;

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah mengatur perlakuan

akuntansi untuk aset tetap. Masalah utama akuntansi untuk aset tetap

adalah saat pengakuan aset, penentuan nilai tercatat, serta penentuan

dan perlakuan akuntansi atas penilaian kembali dan penurunan nilai

tercatat

(carrying

value)

aset

tetap.

Pernyataan

Standar

ini

mensyaratkan bahwa aset tetap dapat diakui sebagai aset jika


29











memenuhi definisi dan kriteria pengakuan suatu aset dalam Kerangka

Konseptual Akuntansi Pemerintahan.

8. PSAP No 08 tentang Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan;

Tujuan Pernyataan Standar Konstruksi Dalam Pengerjaan

adalah mengatur perlakuan akuntansi untuk konstruksi dalam

pengerjaan dengan metode nilai historis. Masalah utama akuntansi

untuk Konstruksi Dalam Pengerjaan adalah jumlah biaya yang diakui

sebagai aset yang harus dicatat sampai dengan konstruksi tersebut

selesai dikerjakan. Pernyataan Standar ini memberikan panduan untuk:

(a) identifikasi pekerjaan yang dapat diklasifikasikan sebagai

Konstruksi Dalam Pengerjaan; (b) penetapan besarnya biaya yang

dikapitalisasi dan disajikan di neraca; (c) penetapan basis pengakuan

dan pengungkapan biaya konstruksi.

9. PSAP No 09 tentang Akuntansi Kewajiban;

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah mengatur perlakuan

akuntansi kewajiban meliputi saat pengakuan, penentuan nilai tercatat,

amortisasi, dan biaya pinjaman yang dibebankan terhadap kewajiban

tersebut. Kewajiban umumnya timbul karena konsekuensi pelaksanaan

tugas atau tanggungjawab untuk bertindak di masa lalu. Dalam konteks

pemerintahan, kewajiban muncul antara lain karena penggunaan

sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat, lembaga keuangan,

entitas pemerintahan lain, atau lembaga internasional. Kewajiban

pemerintah juga terjadi karena perikatan dengan pegawai yang bekerja


30











pada pemerintah, kewajiban kepada masyarakat luas yaitu kewajiban

tunjangan, kompensasi, ganti rugi, kelebihan setoran pajak dari wajib

pajak, alokasi/realokasi pendapatan ke entitas lainnya, atau kewajiban

dengan pemberi jasa lainnya.

10.PSAP No 10 tentang Koreksi Kesalahan;

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah mengatur perlakuan

akuntansi atas koreksi kesalahan, perubahan kebijakan akuntansi, dan

peristiwa luar biasa. Dalam menyusun dan menyajikan laporan

keuangan suatu entitas harus menerapkan Pernyataan Standar ini untuk

melaporkan pengaruh kesalahan, perubahan kebijakan akuntansi dan

peristiwa luar biasa.

11.PSAP No 11 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi;

Tujuan Pernyataan Standar ini adalah untuk mengatur

penyusunan

laporan

keuangan

konsolidasian

pada

unit-unit

pemerintahan dalam rangka menyajikan laporan keuangan untuk

tujuan

umum

(general

purpose

financial

statements)

demi

meningkatkan kualitas dan kelengkapan laporan keuangan dimaksud.

Dalam standar ini, yang dimaksud dengan laporan keuangan untuk

tujuan umum adalah laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan

bersama sebagian besar pengguna laporan termasuk lembaga legislatif

sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan peraturan perundang-

undangan.





31











D. Penelitian Terdahulu



Syarif dan Aldiani (2009) meneliti tentang Faktor-Faktor Pendukung

Keberhasilan Penerapan Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 pada

Pemerintahan Kabupaten Labuhan Batu dengan hasil analisis variabel sumber

daya manusia (X1), variabel komitmen (X2), variabel perangkat pendukung

secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan PP No.24 Tahun

2005 di Pemerintahan Kabupaten Labuhan Batu.



Penelitian Fardila (2008), yang meneliti mengenai penerapan Standar

Akuntansi Pemerintahan pada pemerintahan kota Padang, hasil penelitian

menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Padang secara implisit belum mampu

menerapkan SAP, hal ini dapat dilihat dari banyaknya Dinas di Kota Padang

yang belum selesai dalam menyusun laporan keuangan. Serta adanya kendala-

kendala yang dihadapi oleh Pemko Padang, yaitu sumber daya manusia yang

bukan dari akuntansi, dan kurangnya pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh

Pemko Padang.

Choirunisah (2008) meneliti Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Kualitas Informasi Laporan Keuangan yang dihasilkan Sistem Akuntansi

Informasi dengan variabel independen, kemampuan SDM dan organisasi tim

sedangkan

variabel

dependen,

kualitas

informasi

laporan

keuangan.

Kesimpulan yang diperoleh adalah Variabel independen (kemampuan SDM

dan organisasi tim) secara bersama-sama atau simultan berpengaruh terhadap

relevansi informasi sebagai karakteristik kualitas informasi.


32











Darman (2009) meneliti pengaruh penerapan Standar Akuntansi

Pemerintahan dan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Terhadap Kualitas

Laporan Keuangan Pemerintah, Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

auditor pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi

Sumatera Barat, hasil penelitian menunjukan: 1) pengaruh yang signifikan

positif antara penerapan standar akuntansi pemerintahan terhadap kualitas

laporan keuangan pemerintah, dan 2) pengaruh yang signifikan dan positif

antara penerapan sistem pengendalian intern pemerintah terhadap kualitas

laporan keuangan pemerintah.

Penelitian terdahulu masih meneliti hubungan variabel kualitas laporan

keuangan, penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, Kompetensi

Sumber Daya Manusia dan penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan secara

terpisah, sedangkan penelitian Darman (2008) hanya meneliti pengaruh

penerapan

Standar

Akuntansi

Pemerintahan

dan

Penerapan

Sistem

Pengendalian Intern Pemerintah terhadap kualitas Laporan Keuangan

Pemerintah tanpa melibatkan variabel Kompetensi Sumber Daya Manusia

serta sampel dalam penelitiannya adalah auditor pada Badan Pengawasan

Keuangan dan Pembangunan Provinsi Sumatera Barat. Dalam penelitian ini

akan diuji pengaruh Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah,

Kompetensi Sumber Daya Manusia dan penerapan Standar Akuntansi

Pemerintahan terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah dengan

sampel penelitian Pejabat Penatausahaan Keuangan pada Satuan Kerja

Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.


33











E. Kerangka Konseptual

Kualitas laporan keuangan merupakan persyaratan normatif yang harus

dipenuhi dalam penyusunan laporan keuangan agar laporan keuangan yang

dihasilkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna

laporan keuangan tersebut. Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

yang baik merupakan persyaratan yang harus dipenuhi agar dihasilkan laporan

keuangan

yang

berkualitas.

Sistem

Pengendalian

Intern

Pemerintah

merupakan suatu sistem yang dirancang sedemikian rupa, baik pada

pemerintah pusat maupun pada pemerintah daerah untuk menciptakan

keandalan laporan keuangan, meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam

pemerintahan, pengamanan aset negara

dan ketaatan terhadap peraturan

perundang-undangan. Tanpa sistem pengendalian intern yang baik, maka

kualitas laporan keuangan tidak akan tercapai.

Dalam usaha menciptakan kualitas laporan keuangan yang baik juga

diperlukan adanya pedoman dalam proses penyusunan laporan keuangan.

Standar Akuntansi Pemerintahan merupakan pedoman bagi pemerintah dalam

menyusun dan menyajikan laporan keuangan sebagaimana yang diamanatkan

oleh Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dalam

Pasal 32 disebutkan bahwa bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban

pelaksanaan APBN/APBD disusun dan disajikan sesuai dengan Standar

Akuntansi Pemerintahan. Dengan demikian Standar Akuntansi Pemerintahan

(SAP) mempunyai kekuatan hukum dalam upaya meningkatkan kualitas

laporan keuangan pemerintah di Indonesia.


34











Faktor yang tidak kalah pentingnya dalam menghasilkan laporan

keuangan berkualitas adalah Kompetensi Sumber Daya Manusia karena yang

menjalankan Standar Akuntansi Pemerintahan dan Sistem Pengendalian Intern

Pemerintah tersebut adalah Sumber Daya Manusia. Betapapun baiknya standar

dan sistem yang dibuat, kalau yang menjalankan standar dan sistem itu tidak

mempunyai kompetensi yang memadai maka hasilnya tidak akan sesuai

dengan yang seharusnya.

Dalam menjalankan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

dibutuhkan Kompetensi sumber daya manusia yang memahami dan

menguasai Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2008 dengan baik karena yang

menjalankan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) tersebut adalah

manusia. Pimpinan instansi pemerintah wajib menciptakan dan memelihara

lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif

untuk penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dalam

lingkungan kerjanya melalui; a) penegakan integritas dan nilai etika; b)

komitmen terhadap kompetensi; c) kepemimpinan yang kondusif; d)

pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan; e)

pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat; f) penyusunan dan

penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia; g)

perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif; dan h)

hubungan kerja yang baik dengan Instansi Pemerintah terkait. Jadi baik atau

tidaknya Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) tergantung pada

Kompetensi sumber daya manusia yang menjalankan sistem tersebut.


35











Sebagaimana halnya dengan Penerapan Sistem Pengendalian Intern

Pemerintah (SPIP), penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang

baik juga membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi

karena didalam penyusunan laporan keuangan diperlukan keahlian yang

berkaitan dengan pengakuan pendapatan, pengakuan belanja, prinsip-prinsip

penyusunan laporan konsolidasi, investasi, pengakuan dan penghapusan asset

berwujud dan tidak berwujud, kontrak konstruksi, kebijakan kapitalisasi

pengeluaran,

kemitraan

dengan

pihak

ketiga,

biaya

penelitian

dan

pengembangan, perhitungan persediaan, serta perhitungan dana cadangan.

Fungsi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah

memberikan

keyakinan

yang

memadai

bahwa

Standar

Akuntansi

Pemerintahan (SAP) dilaksanakan sebagaimana mestinya melalui penciptaan:

i) lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif, ii) penilaian

risiko yang akan dihadapi, iii) kegiatan pengendaliaan, termasuk didalamnya

pimpinan instansi pemerintah wajib melakukan pengendalian fisik atas aset,

pemisahan fungsi, otorisasi atas transaksi, pencatatan yang akurat dan tepat

waktu atas transaksi dan kejadian, akuntabilitas terhadap sumber daya dan

pencatatannya serta dokumentasi yang baik atas transaksi, iv) informasi dan

komunikasi, v) pemantauan pengendalian intern, sehingga kualitas laporan

keuangan memenuhi empat karakteristik yang dipersyaratkan yaitu relevan,

andal, dapat diperbandingkan dan dapat dipahami. Jadi penerapan Sistem

Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang baik akan membuat penerapan

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dapat berjalan baik.


36





















Berdasarkan uraian diatas maka dapat digambarkan kerangka

konseptual penelitian seperti Gambar 1 sebagai berikut:


Penerapan SPIP



Penerapan SAP


Kualitas Laporan
Keuangan


Kompetensi SDM

Gambar 1 Kerangka Konseptual
F. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah dapat dilakukan
hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis 1:

Ho : Kompetensi Sumber Daya Manusia tidak berpengaruh signifikan

terhadap penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).

Ha : Kompetensi Sumber Daya Manusia berpengaruh signifikan terhadap

penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).

Hipotesis 2:

Ho : Penerapan Sistem Pengendalian

Intern Pemerintah (SPIP) dan

Kompetensi Sumber Daya Manusia tidak berpengaruh signifikan

terhadap Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).

Ha : Penerapan Sistem Pengendalian

Intern Pemerintah (SPIP) dan

Kompetensi Sumber Daya Manusia berpengaruh signifikan terhadap

Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).






37











Hipotesis 3:

Ho : Penerapan

Sistem

Pengendalian

Intern

Pemerintah

(SPIP),

Kompetensi Sumber Daya Manusia dan Penerapan Standar Akuntansi

pemerintahan (SAP) tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas

laporan keuangan pemerintah.

Ha : Penerapan

Sistem

Pengendalian

Intern

Pemerintah

(SPIP),

Kompetensi Sumber Daya Manusia dan Penerapan Standar Akuntansi

pemerintahan (SAP) berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan

keuangan pemerintah.









































38