Anda di halaman 1dari 10

Hubungan Kadar Serum Protein S100B pada Postmortem dengan Penyebab Kematian

yang Melibatkan Kerusakan Otak dalam Kasus Autopsi Medikolegal



Dong-Ri Li, Bao-Li Zhu, Takaki Ishikawa, Dong Zhao, Tomomi Michiue, Hitoshi Maeda
Department of Legal Medicine, Osaka City University Medical School, Asahi-machi 1-4-3,
Abeno, 545-8585 Osaka, Japan

Abstrak
Protein S100 adalah protein pengikat asam kalsium, dan subunit S100B paling banyak
ditemukan di otak. Tujuan dari penelitian ini adalah analisis komprehensif dari kadar serum
S100B dalam kasus autopsi medikolegal (dalam 48 jam postmortem, n = 283) termasuk korban
dengan cedera kepala dan cedera bukan kepala dan juga kematian bukan cedera yang berkaitan
dengan penyebab kematian yang melibatkan kerusakan otak. Kadar serum biasanya lebih tinggi
di vena subklavia daripada di jantung kanan dan vena iliaka eksternal, dan terendah dalam darah
jantung kiri , menunjukkan tidak ada pengaruh yang signifikan pada postmortem. Kadar serum
di jantung dan pembuluh darah subklavia kanan lebih tinggi untuk kematian akut pada cedera
kepala dan sesak napas akibat kompresi leher (pencekikan dan gantung diri), dan kadar sedang
dan agak tinggi masing-masing untuk kasus trauma benda tumpul dan tajam. Pada cedera
kepala, kadar serum lebih rendah untuk kematian subakut daripada kematian akut. Pengamatan
ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan serum S100B kemungkinan terutama disebabkan
oleh kebocoran yang diikuti kerusakan otak yang masif akibat cedera dan hipoksia atau iskemia,
dan sebagian oleh hipoksia sistemik atau kerusakan jaringan akibat traumatik, tergantung pada
waktu bertahan hidup.

Kata kunci : patofisiologi Forensik, biokimia postmortem, serum S100B, cedera otak, asfiksia

1. Pendahuluan
Protein S-100 (S100) adalah protein kecil pengikat asam kalsium (10-12 KDa), yang
memiliki subunit A dan B. Subunit S100B sangat spesifik untuk astrosit, oligodendrosit, dan
ependimosit di dalam sistem saraf pusat termasuk serebrum, batang otak, serebellum, dan
medulla spinalis (1 7). Distribusi spesisifik dari serum ini tidak dilaporkan. Fungsinya tidak
diketahui, walaupun aktifitas dan hubungan variasi patologis dari neurotropik dan gliotropiknya
yang meliputi penuaan neurosit, sindrom Down, dan penyakit Alzheimer telah dilaporkan (2,3,8-
10). S100B secara klinis diperiksa sebagai penanda serum dari kerusakan jaringan otak pada
cedera kepala dan hipoksia atau iskemia dan prognosis neurologis (11 19). Namun,
pemeriksaan terkini menunjukkan bahwa peningkatan kadar serum S100B juga diobservasi pada
pasien tanpa cedera kepala, menunjukkan asalnya dari kerusakan jaringan lainnya termasuk
trauma lemak, otot, dan sumsum tulang (20-22).
Dalam kasus kerja medikolegal, cedera otak merupakan penyebab kematian yang paling
umum dan penting dalam serangan dan kecelakaan. Prosedur morfologi termasuk
imunohistokimia biasanya digunakan pada pemeriksaan patologikal sebelumnya pada cedera
otak (23-29). Khususnya pada kematian akut, tetapi, dalam kadar keparahan kerusakan otak
mungkin sulit dinilai dengan menggunakan metode morfologi pada kasus kontusio yang tidak
begitu luas, laserasi, atau perdarahan masif seperti pada cedera otak difus. Metode morfologi
juga sulit menunjukan perubahan akut hipoksia atau iskemik di otak. Metode morfologi
mungkin berguna jika kadar serum S100B bisa digunakan sebagai penanda untuk mengevaluasi
kadar keparahan kerusakan otak. Namun, data autopsi yang tersedia tidak cukup untuk
pemeriksaan. Sehubungan dengan hal ini, sebagian ide yang terbentuk sebelumnya secara
konvensional menunjukkan bahwa pemeriksaan biokimia tidak valid karena perubahan
postmortem dalam kasus autopsi tampaknya telah mengganggu tantangan di bidang ini.
Sementara itu, adanya peningkatan jumlah publikasi termasuk pemeriksaan biokimia
postmortem dalam patologi forensik. Dalam pemeriksaan ini, analisis komprehensif yang
menggunakan beberapa kasus serial digunakan untuk mengevaluasi validitas masing-masing
penanda sebelum diaplikasikan pada kasus kerja medikolegal.
Di dalam penelitian ini, kadar serum S100B postmortem diteliti secara komprehensif
berkaitan dengan penyebab kematian pada kasus autopsi forensik termasuk korban-korban
dengan cedera kepala dan cedera bukan kepala dan juga untuk kematian bukan cedera.

2. Bahan dan Metode
2.1 Bahan
Kasus serial autopsi forensik dalam 48 jam postmortem, telah diuji di institusi kami,
dengan n=283; 206 laki-laki dan 77 wanita, dengan rentang usia 2 bulan 94 tahun (median
61,5 tahun); interval post mortem 3-47 jam (median 16,3 jam). Sampel darah dikumpulkan
secara aseptik menggunakan jarum suntik dari kiri dan kanan ruang jantung (n=263/270)
maupun dari subklavikula dan vena illiaka eksterna (n=145/175) dan kemudian segera di
sentrifus untuk memisahkan serum yang kemudian disimpan di -20
0
C sampai digunakan nanti.
Penyebab kematian diklasifikasikan sebagai berikut : cedera kepala tumpul/luka tembak
pada kepala (n=70) termasuk kematian mendadak (waktu bertahan hidup < 6 jam, n=24) dan
kematian yang tertunda (6 jam 28 hari, waktu bertahan hidup, n=46) kematian mendadak
(waktu bertahan hidup <6 jam) dari cedera kepala tumpul (n=30; dengan atau tanpa cedera
kepala, n=7/23) , cedera karena benda tajam (n=23), asfiksia (n=25: pencekikan, n=12; gantung
atipikal, n=5; aspirasi, n=8), tenggelam (n=14; air tawar, n=10; air asin, n=5), kebakaran (n=56),
penyakit serebrovaskular (n=12) termasuk perdarahan spontan otak (n=8) dan perdarahan
subarachnoid (SAH, n=5) dan infark miokard akut/iskemik tanpa pengobatan medis (AMI,
n=51), (ditunjukkan rinci di tabel 1). Penyebab kematian yang disebutkan di atas
diklasifikasikan dengan dasar patologi dan toksikologi. Grup infark miokard akut terdiri dari
kasus mati mendadak, yang menunjukkan penemuan makro dan mikroskopik dari penyakit
jantung iskemik akut tanpa adanya bukti penyebab kematian selain serangan jantung (37,38).
Untuk kasus kepala dan kekerasan tumpul lainnya, skor keparahan cedera diperkirakan
mengikuti skala cedera yang disingkat. Revisi 1990 (AIS90) code (39).

2.2 Analisis serum100B
Konsentrasi serum 100B telah dianalisis dengan enzyme-linked immunosorbent assay
(ELISA, didirikan oleh SRL,Tokyo), menggunakan reagen 2 monoklonal anti-S100B, klon 8b10
dan klon 6G1(Hy Test, Turku). Peroksidase, label antibodi monoklonal 6G1 telah disiapkan
oleh metode periodat. Untuk kalibrasi, larutan standar berisi bovine S100B (Sigma-Aldrich,
Louis, MO) pada konsentrasi dari 0.0001-5.0 ng/ml telah disiapkan dalam cairan pengenceran
penyangga (PBST; larutan penyangga Dulbeccos phosphate (PBS), pH 7.4-0.05% tween 20).
Prosedur terdiri dari langkah-langkah berikut ini : a). lapisi plat ELISA dengan 0.1 ml klon
8B10 (2ug/ml PBS) selama 1 jam di suhu kamar. b). memblokir situs aktif yang masih tersisa
dengan 0.2 ml 1% serum albumin bovin (BSA)-PBS selama lebih dari 1 jam dalam suhu kamar.
c).tambahkan 0.1 ml larutan standard dan sampel serum yang telah diencerkan 10-,

Tabel 1
Profil kasus (n=283)


100- dan 200 lipatan dengan PSBT ke dalam sumbernya masing-masing, dan diinkubasi
selama 1 jam dalam suhu ruangan, diikuti dengan 4 kali pencucian dengan PBST, (d) inkubasi
dengan 0,1 ml antibodi monoklonal 6G1 yang dilabel peroksidase, yang mengalami dilusi
dengan BSA/PBST-2 mM CaCI2 1% selama 1 jam dalam suhu ruangan dan kemudian dicuci 4
kali dengan PBST, (e) inkubasi dengan 0,1 ml larutan TMBZ selama 10 sampai 15 menit dalam
suhu ruangan dan ditambahkan 0,05 ml 2 N H2SO4, (f) pembacaan absorban pada 450/650 nm
dengan sistim microreader automatis. Reaktivitas silang terhadap S100AB dan S100AA adalah
kurang dari 6,2 dan 0,1%, masing-masing dibandingkan dengan reaktivitas terhadap S100BB
(data dari SRL, Tokyo). Batas pendeteksian fungsional adalah 0,05 ng/ml, dan kontaminasi
hemoglobin (<0,08 g/dl) tidak mengganggu pengukuran. Untuk kasus hemolisis yang kuat yang
mungkin memengaruhi pengukuran, hasil temuan tersebut tidak digunakan dalam analisis.

2.3 Analisis secara toksikologi
Konsentrasi karboksihemoglobin (CoHb) di dalam darah ditentukan dengan
menggunakan sistem CO-oksimeter untuk semua korban kebakaran dan zat kimia volatile
termasuk alkohol yang dianalisis oleh kromatografi gas jeda kepala. Analisis obat dilakukan
dengan menggunakan spektrometri masa/kromatografi gas.

2.4 Analisis secara statistik
Analisis persamaan regresi digunakan untuk memeriksa hubungan antara beberapa
pasang parameter termasuk usia, jenis kelamin, waktu postmortem (perkiraan dari kematian
hingga autopsi), waktu bertahan hidup dan kadar S100B serum, dan perbandingan antara
kelompok dengan menggunakan uji non-parametrik (uji Mann-Whitney U-test). Nilai P kurang
dari 0,05 dipergunakan untuk menyatakan nilai signifikansi. Dalam gambar 2, hasil analisis data
ditunjukkan dalam box-plot, untuk setiap 50% dari data dirangkum dalam box. Garis dalam tiap
kotak mewakili nilai median dan garis diluar tiap kotak mewakili 90% interval kepercayaan.

3. Hasil
3.1 Stabilitas dalam darah cadaver dan distribusi topografi.
Ketika stabilitas S100B dalam sampel darah cadaver yang dikumpulkan (n=8, 1.16-91,0
ng/ml, 9 sampai 32 jam postmortem) diperiksa selama penyimpanan pada suhu ambient (ca.
25oC), tidak terdapat perubahan yang signifikan selama 48 jam.
Untuk semua kasus, kadar S100B serum biasanya lebih tinggi pada vena subklavia
dibandingkan dengan jantung kanan dan arteri iliaka eksterna (P<0,001), dan paling rendah pada
jantung kiri (P<0,05), menunjukkan hubungan yang baik antara jantung dan darah tepi (Gambar
1). Kadar serum untuk tiap tempat tidak tergantung pada waktu postmortem (r<0,1, p>0,1) dan
tidak tergantung pada usia dan jenis kelamin.


3.2 Analisis dengan hal terhadap penyebab kematian
Kadar S100B menunjukkan penanda peningkatan pada jantung kanan dan darah pada
vena subklavia untuk kematian akut dari cedera kepala dan asfiksia oleh karena kompresi
(srangulasi dan digantung) dibandingkan dengan kelompok lain (p<0,05) (Gambar 2 (a) dan
(b)). Terdapat perbedaan yang serupa pada kadar darah pada jantung kiri antara penyebab
kematian, walaupun tidak terbukti. Untuk strangulasi dan digantung, peningkatan juga dapat
diamati dari aliran darah pada vena iliaka eksterna.
Terdapat peningkatan sedang kadar S100B pada jantung kanan dan vena subklavia untuk
bukan cedera kepala tumpul dibandingkan dengan tenggelam, trauma api dan Infark Miokard
Akut (P<0,05), dan peningkatan ringan pada jantung kanan untuk cedera karena benda tajam
dibandingkan dengan tenggelam dan trauma api (P<0,05). SAH menunjukkan kadar yang lebih
rendah pada jantung kanan, vena sublavia dan vena iliaka eksterna dibandingkan dengan untuk
perdarahan otak dan kelompok lain. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tenggelam
di air tawar dan air asin atau perbedaan trauma pai dengan yang kadar COHb yang lebih rendah
(<60%) dan yang lebih tinggi kadar COHb nya (>60%).
Untuk kasus kematian akibat cedera kepala akut (survival time < 6 jam), tidak terdapat
perbedaan yang signifikan pada kadar S100B serum antara kasus kematian perakut dengan
laserasi serebral termasuk batang otak (n=7) dan pada kasus yang lain (n=17, p<0,05), keduanya
menunjukkan kadar yang lebih tinggi dibandingkan dengan kasus yang survival-nya lebih
panjang (Gambar 3).


dibandingkan dengan kasus bertahan hidup yang lebih lama.Pada kasus cedera kepala
dengan kematian tertunda dibagi menjadi kelompok dengan kematian subakut (6 jam- 3 hari
bertahan hidup, n= 26) dan kelompok dengan bertahan hidup yang lebih panjang (waktu
bertahan hidup > 3 hari, n= 20), tidak ada perbedaan signifikan yang diamati antara mereka.
Analisis lebih lanjut berkaitan dengan kontribusi cedera otak pada kadar serum S100B untuk
kasus-kasus kematian akut, menunjukan kadar pada jantung kanan dan vena subklavia lebih
tinggi pada kasus-kasus cedera kepala yang fatal dengan atau tanpa cedera lain (ISS, 18-75
dengan nilai rata-rata 43 dan ISS, 9-75 dengan nilai rata-rata 20, masing-masing) dan cedera
bukan kepala fatal dengan cedera kepala (politrauma ; ISS, 23-45 ; median, 43) dibandingkan
pada kasus-kasus fatal cedera tumpul tanpa cedera kepala (ISS, 10-38 ; median, 20) (gambar 4).
Pada kelompok asfiksia, kadar S100B pada jantung kanan dan vena subklavia lebih
tinggi pada pencekikan dan kasus gantung daripada aspirasi, dan terdapat juga sebuah
peningkatan pada darah vena iliaka eksterna untuk kedua kelompok. Pada asfiksia yang fatal
termasuk aspirasi ,bagian kiri, kanan jantung dan kadar darah vena subklavia lebih rendah
daripada kasus tenggelam, kebakaran, dan kematian tertunda akibat cedera kepala.



Gambar 3. Kadar serum protein S100B postmortem pada kasus cederakepala. Kematian perakut,
kasus kasus dengan laserasi yang melibatkan batang otak ;kematian akut, dengan bertahan
hidup < 6 jam; kematian subakut, dengan waktu bertahan hidup antara 6 jam dan 3 hari ;
kematian memanjang, dengan bertahan hidup > 3 hari. * kasus-kasus kematian akut dan
kematian per akut menunjukan peningkatan kadar serum yang signifikan daripada kasus dengan
kematian subakut dan kematian memanjang (P<0,005-0,001).


Gambar 4. Kadar serum protein S100B postmortem pada kasus cedera tumpul sebuah
perbandingan antara cedera kepala dan bukan cedera kepala.Kematian kadar keparahan cedera
untuk kasus-kasus cedera tumpul yang fatal tanpa cedera kepala (ISS, 10-36 ; median, 16,5)
secara signifikan lebih rendah daripada cedera kepala yang fatal tanpa cedera lain (ISS, 9-75 ;
median, 16.0), cedera kepala yang fatal dengan cedera lain (ISS, 18-75; median, 43,0) dan bukan
cedera kepala yang fatal dengan cedera kepala(ISS, 23-75; median, 43.0) (P<0,001).

4. Diskusi
S100B stabil selama penyimpanan beku jangka panjang dan terhadap hemolisis . Dalam
penelitian ini, secara eksperimental menunjukkan bahwa S100B juga stabil dalam darah mayat
yang dikumpulkan pada suhu kamar (25
o
C) lebih kurang 48 jam, walaupun penelitian
eksperimental menggunakan mayat termasuk pengambilan sampel secara terus-menerus tidak
memungkinkan karena alasan praktik dan etika. Kadar serum pada darah jantung dan perifer
untuk kasus autopsi biasanya lebih tinggi daripada yang disebutkan pada referensi klinis (0,01
0,3 ng/ml). Namun, kadar tersebut tidak tergantung terhadap waktu mati (5 47 jam), umur atau
jenis kelamin pada subjek tersebut, menunjukkan peningkatan non-spesifik selama proses
kematian. Secara cepat, peningkatan non-spesifik dan sistemik pada kadar serum selama
beberapa jam setelah kematian, yang ditunjukkan pada kadar serum kalsium, magnesium, dan
mioglobin , tidak mungkin muncul untuk S100B saat distribusi (spesifik otak secara besar), sifat
kimia (protein intraselular), dan juga rentang yang luas pada kadar serum waktu mati yang
tergantung pada penyebab kematian sebagai gambaran yang dipertimbangkan. Analisis topografi
menunjukkan bahwa kadar vena subklavia paling tinggi pada semua kasus diikuti oleh kadar
jantung kanan, yang diindikasikan predominan pada asal serebral. Perbedaan topografi ini
mungkin disebabkan kerusakan sirkulasi akut segera sebelum meninggal . Di bawah kondisi ini,
ada peningkatan kadar serum lebih lanjut yang tergantung pada penyebab kematian seperti yang
disebutkan di bawah ini.
Berkaitan dengan penyebab kematian, peningkatan yang jelas pada jantung kanan dan
vena subklavia diamati untuk kematian akut dari cedera kepala dan asfiksia karena kompresi
pada leher (pencekikan dan gantung diri). Untuk kasus cedera kepala, kadar serum tergantung
pada kadar keparahan cedera otak dan waktu bertahan hidup; hal itu secara signifikan lebih
tinggi pada kasus kematian perakut atau akut akibat cedera kepala (bertahan hidup lebih pendek
6 jam) daripada kasus dengan bertahan hidup yang lama. Kadar yang lebih rendah pada kasus
dengan bertahan hidup yang lama mungkin sebagian disebabkan waktu paruh serum S100B
yang lebih pendek (3 4 jam) . Dalam hal ini, pemeriksaan imunohistokimia mungkin
berpotensi lebih berguna pada kasus bertahan hidup yang lebih lama . Pada kematian jangka
panjang dari cedera kepala, kadar serum S100B yang rendah mungkin mengesankan kontribusi
yang dominan pada komplikasi pasca trauma sampai kematian. Temuan di atas pada cedera
kepala yang fatal, seperti yang diharapkan, menunjukkan bahwa S100B dapat digunakan juga
sebagai penanda serum postmortem untuk pemeriksaan kadar keparahan cedera kepala pada
kasus kematian akut (bertahan hidup dalam 6 jam).
Korban tewas akibat bukan cedera kepala menunjukkan peningkatan yang signifikan
ketika terdapat komplikasi pada cedera kepala yang cukup besar. Peningkatan yang signifikan
pada kasus cedera kepala berat menunjukkan kadar yang paling tinggi pada vena subklavia
sebagai kontribusi paling banyak pada kerusakan jaringan otak karena cedera kepala untuk
peningkatan kadar serum S100B seperti yang dijelaskan pada laporan klinis. Kadar serum yang
rendah pada beberapa kasus politrauma dengan cedera kepala berat mungkin disebabkan oleh
bertahan hidup yang sangat singkat yang berhubungan dengan sirkulasi yang kolaps.
Sebaliknya, kadar serum S100B yang lebih rendah pada SAH dibandingkan dengan perdarahan
serebral dan juga kelompok lain yang mungkin disebabkan oleh kerusakan jaringan otak yang
lebih ringan dan/atau periode bertahan hidup yang lebih singkat.
Namun, perlu dicatat bahwa ada tanda peningkatan di dalam kadar serum S100B untuk
kasus pencekikan dan gantung diri tanpa cedera kepala, yang tidak terbukti pada kasus aspirasi
dan tenggelam. Penemuan ini menunjukkan bahwa kerusakan jaringan otak berat untuk kasus-
kasus kompresi leher yang fatal karena cedera vaskuler kongestif dan/atau hipoksia/iskemia otak
lanjut juga dapat menyebabkan peningkatan serum S100B. Di samping itu, peningkatan kadar
dalam darah vena iliaka eksternal untuk kasus-kasus ini menunjukkan keterlibatan dari
kerusakan jaringan sistemik akibat hipoksia lanjut. Persamaan mekanisme patofisiologi yang
melibatkan hipoksia lanjut dapat menyebabkan peningkatan dalam kadar serum S100B untuk
kasus-kasus kekerasan benda tumpul atau tajam tanpa cedera kepala dan juga untuk kematian
lain saat mati yang lama. Walaupun hubungan antara kadar serum S100B dan distribusi S100B
di dalam jaringan otak tidak dapat diidentifikasi di dalam penelitian ini, pengamatan di atas
menunjukkan bahwa peningkatan serum S100B dapat disebabkan terutama oleh kerusakan otak
yang besar (kerusakan astrosit) sebagai hasil dari cedera kepala dan hipoksia/iskemia lanjut yang
diikuti oleh kongesti serebrovaskuler, dan sebagian oleh kerusakan jaringan hipoksia/iskemia
sistemik, tergantung pada waktu bertahan hidup. Kadar serum S100B di dalam kematian bukan
cedera kepala akut mungkin berguna terutama untuk pemeriksaan kerusakan otak dalam proses
kematian pada autopsi medikolegal, karena bukti morfologi biasanya sangat sedikit pada kasus
tersebut. Dengan demikian, penanda ini mungkin juga berguna untuk memeriksa kerusakan otak
pada kematian akut karena keracunan yang berat dan penyakit. Peningkatan kadar serum S100B
dalam kasus ini mengindikasikan adanya kebocoran dari kerusakan jaringan otak, sumber utama
bisa dari serebrum sebagai indikasi dalam penelitian klinis . Namun, fungsi intra- dan
ekstraseluler S100B belum sepenuhnya dijelaskan. Untuk menghubungkan kadar serum S100B
postmortem dengan kerusakan jaringan otak, perlu adanya penelitian lebih lanjut yang
melibatkan imunohistokimia otak.
Dalam penelitian klinis, peningkatan serum S100B yang ringan sampai sedang (< 15
ng/ml) diamati sesuai kerusakan otak, stroke iskemik serebral, perdarahan serebral, SAH dan
henti jantung . Kadar yang lebih tinggi sekitar 25 ng/ml dilaporkan pada pasien yang mati-otak
akibat luka trauma. Kematian dari cedera otak dan perdarahan serebral pada penelitian ini
menunjukkan kadar serum S100B yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien klinis yang
masih hidup, menunjukkan kerusakan otak berat yang lebih lanjut pada kasus berat. Namun,
penemuan pada kematian akibat cedera kepala yang lebih lambat dapat dibandingkan dengan
kasus kematian otak klinis. SAH juga menunjukkan kadar serum S100B yang sama untuk kasus
klinis dan autopsi. Hal ini menunjukkan kerusakan otak yang lebih ringan pada kematian akut
akibat SAH, sebagai periode bertahan hidup yang lebih singkat yang sebagian menambah
penjelasan di atas.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kadar serum
S100B postmortem yang tergantung pada penyebab kematian, secara bebas terhadap waktu
postmortem kurang lebih 48 jam. Walaupun pengaruh agonal dan postmortem pada penanda
biokimia tidak dapat dihindari pada kasus autopsi, hal tersebut juga termasuk temuan morfologi.
Ini merupakan tugas yang penting dan keperluan sosial bagi ahli forensik atau ahli patologi
medikolegal untuk berkontribusi pada penyelidikan postmortem dari kematian seperti persiapan.
Pertimbangan pada perubahan postmortem, penemuan biokimia berdasarkan data statistik akan
berguna tidak hanya untuk membantu menetukan penyebab kematian khusunya kasus yang
komplit atau atipikal tetapi juga menyediakan bukti pada kasus individu untuk ditunjukkan di
lapangan.
Kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa S100B dapat digunakan sebagai penanda
serum untuk mengetahui kadar keparahan kerusakan otak karena cedera, hipoksia atau iskemia
serebral dan hipoksia sistemik yang berat sebagai akibat yang fatal dari trauma dan penyakit
berdasarkan penyelidikan secara patologikal dan toksikologikal.