Anda di halaman 1dari 4

Meluruskan Niat dalam Sertifikasi Guru

Oleh : Ani Christina


Guru SMA Al Hikmah Surabaya
Surabaya, 10 Juli 2008

“Pokoknya dapat sertifikat!”, teriak sekelompok guru dalam sebuah


kegiatan seminar. Kalimat ini terlontar ketika beberapa hari yang
lalu, sekolah kami menyelenggarakan Olimpiade Matematika
Tingkat SMP se-Jawa Timur yang diikuti oleh lebih dari 700 regu dan
kegiatan pendamping berupa seminar bertemakan Strategi
Membina Tim Olimpiade yang diikuti lebih dari 300 guru. Fenomena
kegiatan seminar-seminar untuk guru yang pesertanya membludak
sedang marak sebab mereka mengejar perolehan sertifikat demi
persiapan sertifikasi guru.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen


bertujuan untuk memperbaiki pendidikan nasional, baik secara
kualitas maupun kuantitas. Undang-undang ini menetapkan
kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sebagai suatu kesatuan
upaya pemberdayaan guru. Sesuai dengan amanat undang-undang
tersebut, Sertifikasi Guru memang harus dilakukan sebagai proses
pemberian bukti formal yang diberikan kepada guru dan dosen
sebagai tenaga profesional. Ketika seorang guru sudah mendapat
sertifikat pendidik ini maka ada jaminan untuk mendapatkan
imbalan yang layak, sehingga pekerjaan guru dapat dianggap
sebagai pekerjaan yang profesional, menarik, dan kompetitif.

Sertifikasi Guru adalah sebuah program yang cukup


menggemparkan dunia pendidikan. Berbagai kalangan menaruh
harapan besar akan adanya perubahan kualitas pendidikan nasional
namun tidak sedikit yang merasakan kegelisahan, terutama
mengenai teknis pelaksanaan yang memungkinlah celah
kecurangan sehingga tidak mewadahi tujuan yang sebenarnya.

Pada kenyataannya, proses sertifikasi guru dipandang berbeda oleh


kalangan guru sendiri. Pernyataan yang sering didengungkan dalam
obrolan sehari-hari, bahkan juga diskusi, seminar, workshop guru
menunjukkan sudut pandang yang terlalu sederhana. Berikut ini
gambaran pendapat yang sering beredar : “Dalam sertifikasi, guru-
guru diminta mengajukan sebuah portofolio. Kemudian, portofolio
yang berisi berbagai macam dokumentasi kerja seorang guru itu
akan dinilai oleh Tim Assesor yang ditunjuk, kalau poin yang didapat
dalam portofolio tersebut mencapai batas minimal, maka akan
dinyatakan lulus dan mendapat sertifikat guru. Jika tidak, kabarnya
akan diberikan pelatihan dan boleh mengajukan sertifikasi pada
periode berikutnya. Sertifikat guru yang telah dipegang dapat
digunakan untuk mendapatkan imbalan kesejahteraan berupa 1 kali
gaji. Harapannya dengan dukungan material atau finansial ini, guru-
guru dapat bekerja lebih baik”.

Penulis sempat tercenung beberapa saat ketika kali pertama


mendengar kalimat semacam itu dalam sebuah seminar guru.
Terdapat sebuah keresahan dan kekhawatiran akan timbulnya hal
yang tidak tepat dalam perjalanan sertifikasi guru. Penulis
memandang ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dari
gambaran proses sertifikasi tersebut.

Pertama, proses sertifikasi belum menjadi jaminan peningkatan


kualitas guru karena pada hakikatnya sertifikasi hanyalah alat untuk
memetakan guru. Proses sertifikasi menghasilkan dua kategori yaitu
guru yang lulus sertifikasi dan tidak lulus. Guru yang lulus sertifikasi
dinilai memiliki kualifikasi sebagai pendidik, layak mendapat
sertifikat, dan dianggap bisa menjalankan pekerjaan guru secara
profesional. Guru yang tidak lulus dinilai belum memiliki kualifikasi
sebagai pendidik, belum bisa mendapatkan sertifikat, dan dianggap
belum bisa menjalankan pekerjaannya secara profesional sehingga
perlu pembinaan lebih lanjut dalam bentuk pendidikan dan
pelatihan. Dengan asumsi bahwa penilaian yang dilakukan para
assesor dengan menggunakan metode portofolio adalah sebuah
proses yang terpercaya dan akurat maka masih tersisa satu
masalah lain. Kegiatan tindak lanjut berupa pendidikan dan
pelatihan menjadi peluang untuk membantu peningkatan kualitas
kompetensi pendidik, bahkan proses inilah yang perlu dikawal.
Maka, apakah desain pendidikan dan pelatihan ini sudah disiapkan
dengan baik?

Kedua, metode yang dipilih untuk meningkatkan kualitas guru


melalui Sertifikasi Guru adalah memberikan jaminan kesejahteraan
berupa imbalan 1 kali gaji. Pilihan ini didasari harapan bahwa
dengan dukungan material atau finansial, maka guru-guru dapat
bekerja lebih baik dan pekerjaan guru dapat dianggap sebagai
pekerjaan yang profesional, menarik, dan kompetitif. Dalam kajian
motivasi, cara ini adalah sebuah pilihan untuk meningkatkan
motivasi sumber sumber daya manusia dari sisi ekstrinsik.
Pemberian reward dari pihak luar diri memang dapat memunculkan
motivasi dan menggerakkan seseorang untuk meraihnya, tetapi
motivasi ekstrinsik sulit untuk bertahan dalam jangka waktu lama.
Adakah jaminan setelah penambahan penghasilan akan serta merta
membuat guru merasa puas sehingga lebih fokus dalam
meningkatkan kualitas diri?

Berikut ini pertanyaan dan pernyataan menggelitik dari kalangan


guru sendiri terkait dengan sertifikasi guru. ”Ayo ikut seminar, nanti
dapat sertifikat lho!”, begitulah kira-kira komentar sekelompok guru
yang sedang mempersiapkan diri untuk proses sertifikasi. ”Saya
mau membuat penelitian, kan poinnya besar dalam penilaian
sertifikasi” kata guru lainnya. ”Bolehkah minta surat keterangan
untuk kegiatan-kegiatan mendampingi siswa karena itu juga ada
poinnya lho” sahut yang lain.

Sejak ada proses sertifikasi guru, kegiatan seminar yang paling


membosankan pun diikuti oleh banyak orang jika ada sertifikatnya.
Guru-guru berburu sertifkat dengan mengikuti berbagai kegiatan
baik yang bernama seminar, pelatihan, workshop, dan lain-lain.
Bahkan banyak juga yang rela membayar mahal untuk kegiatan-
kegiatan itu. “Saya bayar saja ya, tapi tidak bisa datang, nanti
sertifikatnya dikirim saja ke sekolah”. Sikap-sikap ini sangat
memalukan nama baik profesi guru karena hanya demi
mendapatkan poin yang cukup dalam sertifikasi mereka menempuh
cara-cara yang tidak etis. Di sisi lain, betapa banyak energi yang
dikeluarkan untuk mengejar persiapan sertifikasi sehingga bisa saja
kegiatan utama di sekolah terbengkalai dan kemudian kegiatan
mengajar menjadi sebuah proses untuk menggugurkan kewajiban
saja tanpa pemaknaan yang berarti.

Ketiga, seperti tampak dari cerita di atas, proses sertifikasi guru


yang menggiurkan karena tawaran berupa tambahan 1 kali gaji itu
membuat para guru bersemangat beraktivitas namun bisa juga
mengurangi keikhlasan dalam bekerja. Sikap seperti inikah yang
akan diteladani oleh siswa kita? Bukankah para guru tidak hanya
bertugas memberikan pengetahuan kepada siswa tapi juga
berkewajiban memberikan penanaman nilai dan pendidikan
karakter kepada siswa. Perilaku-perilaku guru yang kurang beretika
dalam mengejar sertifikasi bukanlah sebuah contoh yang mendidik
bagi anak-anak kita. Maka selanjutnya, fenomena sertifikasi guru
hanya akan menambah daftar kesempatan merosotnya kualitas
pendidik kita.

Life is always like two sides of coin. Dalam kehidupan ini selalu ada
dua sisi antara kebaikan dan kebalikannya. Program peningkatan
kualitas pendidikan dengan penetapan kualifikasi, kompetensi, dan
sertifikasi sebagai suatu kesatuan upaya pemberdayaan guru
ternyata juga bisa melahirkan efek samping masalah-masalah yang
mungkin menimbulkan kemorosotan kualitas pendidikan kita. Ketika
kita memiliki kesadaran akan masalah ini, kita masih bisa
melakukan antisipasi. Kita sebagai insan dalam dunia pendidikan
memegang amanah untuk mempersiapkan generasi penerus
bangsa yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Marilah kita
menata diri, meluruskan niat, dan membangun keikhlasan hati
dalam mengikuti sertikasi guru. Semoga segala usaha untuk
persiapan sertifikasi guru lebih karena motivasi untuk
memberdayakan diri dapat mendatangkan manfaat untuk bangsa
ini.