Anda di halaman 1dari 15

ATRESIA REKTI

Pengertian :
Atresia Ani / Atresia Rekti adalah ketiadaan atau tertutupnya rectal secara
congenital.

Tanda Gejala :
Tanda dan gejala dari Atrsia Ani ini antara lain adalah : Mekonium tidak keluar
dalam waktu 24 - 48 jam setelah lahir; Tinja keluar dari vagina atau uretra; Perut
menggembung; Muntah; Tidak bisa buang air besar; Tidak adanya anus, dengan ada/tidak
adanya fistula; Pada atresia ani letak rendah mengakibatkan distensi perut, muntah,
gangguan cairan elektrolit dan asam basa.2

Etiologi :
Kegagalan pada fase embrio yang penyebab belum diketahui
Faktor Herediter
Abnormal kromosom, mutasi gen dan teratogen

Klasifikasi :
Melbourne membagi berdasarkan garis pubocoxigeus dan garis yang melewati
ischii kelainan disebut :
- Letak tinggi, rectum berakhir di atas M.Levator ani ( m.pubo coxigeus )
- Letak intermediet, akhiran rectum terletak di M.Levator ani
- Letak rendah, akhiran rectum berakhir di bawah M.Levator ani

Komplikasi :
Tidak ada komplikasi
Komplikasi minor
Komplikasi mayor
Penatalaksanaan :
Penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya. Pada atresia ani letak tinggi
harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu. Pada beberapa waktu lalu penanganan atresia
ani menggunakan prosedur Abdomino Perineal Poli Through (APPT), tapi metode ini
banyak menimbulkan inkontinen feses dan prolaps mukosa usus yang lebih tinggi. Pena
dan Defries (1982) memperkenalkan metode operasi yang baru, yaitu PSARP (Postero
Sagital Ano Recto Plasty). Yaitu dengan cara membelah muskulus sfingter eksternus dan
muskulus levator ani untuk memudahkan mobilisasi kantong rectum dan pemotongan
fistel. Tekhnik dari PSARP ini mempunyai akurasi yang sangat tinggi dibandingkan
dengan APPT yang mempunyai tingkat kegagalan yang tinggi.

ANUS IMPERFORATA

Pengertian :
anus imperforata disebut sebagai malformasi anorektal, adalah suatu kelainan
kongenital tanpa anus atau dengan anus tidak sempurna, termasuk Agenesis ani, Agenesis
rekti dan Atresia rekti. Insiden 1:5000 kelahiran yang dapat muncul sebagai penyakit
tersering yang merupakan syndrom VACTRERL ( Vertebra, Anal, Cardial, Esofageal,
Renal, Limb).

Tanda Gejala :
Mekonium tidak keluar dalam waktu 24 - 48 jam setelah lahir; Tinja keluar dari
vagina atau uretra; Perut menggembung; Muntah; Tidak bisa buang air besar; Tidak
adanya anus, dengan ada/tidak adanya fistula; Pada atresia ani letak rendah
mengakibatkan distensi perut, muntah, gangguan cairan elektrolit dan asam basa.2

Etiologi :
- Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa
lubang dubur
- Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan
- Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum
bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai
keenam usia kehamilan.

Klasifikasi :
Terdapat bermacam-macam klasifikasi anorektal menurut beberapa penulis

Komplikasi :
Komplikasi yang terjadi pasca operasi banyak disebabkan oleh karena kegagalan
menentukan letak kolostomi, persiapan operasi yang tidak adekuat, keterbatasan
pengetahuan anatomi, serta ketrampilan operator yang kurang serta perawatan post
operasi yang buruk. Dari berbagai klasifikasi penatalaksanaannya berbeda tergantung
pada letak ketinggian akhiran rectum dan ada tidaknya fistula.
Penatalaksanaan :
harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu. PSARP (Postero Sagital Ano Recto
Plasty). Yaitu dengan cara membelah muskulus sfingter eksternus dan muskulus levator
ani untuk memudahkan mobilisasi kantong rectum dan pemotongan fistel. Tekhnik dari
PSARP ini mempunyai akurasi yang sangat tinggi dibandingkan dengan APPT yang
mempunyai tingkat kegagalan yang tinggi.

PENYAKIT HIRSCH SPRUNG


Pengertian :
- Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel - sel ganglion
dalam rectum atau bagian rektosigmoid kolon dan ketidakadaan ini menimbulkan
keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan.
- Penyakit Hirschsprung merupakan gangguan perkembangan sistem saraf enterik dan
ditandai dengan tidak ditemukannya sel ganglion pada colon bagian distal sehingga
terjadi obstruksi fungsional.

Tanda gejala :
Gejala dan tanda dapat bermacam-macam berdasarkan keparahan dari kondisi.
Kadang-kadang mereka muncul segera setelah bayi lahir. Pada saat yang lain mereka
mungkin saja tidak tampak sampai bayi tumbuh menjadi remaja ataupun dewasa. Pada
kelahiran baru, tanda dapat mencakup:
- Kegagalan dalam mengeluarkan mekonium dalam hari pertama atau kedua kelahiran
- Muntah, mencakup muntahan cairan hijau disebut bile – cairan pencernaan yang
diproduksi di empedu
- Konstipasi
- Perut kembung
- Diare dehidrasi

Etiologi :
Pada dasarnya, etiologi secara pasti tidak diketahui, kemungkinan adanya faktor
familial/ genetik. Hirschsprung terjadi karena adanya permasalahan pada persarafan usus
besar paling bawah, mulai anus hingga usus di atasnya. Syaraf yang berguna untuk
membuat usus bergerak melebar menyempit biasanya tidak ada sama sekali atau
kalaupun ada sedikit sekali.

Klasifikasi :
HD diklasifikasikan berdasarkan keluasan segmen agangliosinosisnya, yaitu:
1. HD klasik (75%), segmen aganglionik tidak melewati bagian atas segmen sigmoid.
2. Long segment HD (20%)
3. Total colonic aganglionosis (3-12%)
Beberapa lainnya terjadinya jarang, yaitu:
1. Total intestinal aganglionosis
2. Ultra-short-segment HD (melibatkan rektum distal dibawah lantai pelvis dan anus
(Yoshida, 2004).
Komplikasi :
Secara garis besarnya, komplikasi pasca tindakan bedah penyakit Hirschsprung
dapat digolongkan atas kebocoran anastomose, stenosis, enterokolitis dan gangguan
fungsi spinkter.
- Kebocoran anastomose
- Stenosis
- Enterokolitis
- Gangguan Fungsi Spingter

Penatalaksanaan :
Seperti kelainan kongenital lainnya, HD memerlukan diagnosis klinik secepat dan
intervensi terapi secepat mungkin, untuk mendapatkan hasil terapi yang sebaik-baiknya
(Belknap, 2006).
Preoperatif
Operatif
Tergantung pada jenis segmen yang terkena. pada hirschprung ultra short
dilakukan miektomi rektum, sedangkan pada bentuk short segmen, tipikal, dan long
segmen dapat dilakukan kolostomi terlebih dahulu dan beberapa bulan kemudian baru
dilakukan operasi definitif dengan metode Pull Though Soave, Duhamel maupun
Swenson. Apabila keadaan memungkinkan, dapat dilakukan Pull Though satu tahap
tanpa kolostomi terlebih dahulu. persiapan operasi meliputi : dekompresi kolon dengan
irigasi rektum, stabilisasi cairan dan elektrolit, asam basa serta temperatur, pemberian
antibiotik. perawatan pasca operasi meliputi : dekompresi abdomen dengan tetap
memasang pipa rektum, sefotaksim injeksi, stabiltasi cairan dan elektrolit serta asam basa
(SPM sardjito).
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. (1996). Text book of Medical-Surgical Nursing. EGC. Jakarta.
Doengoes Merillynn. (1999) (Rencana Asuhan Keperawatan). Nursing care plans.
Guidelines for planing and documenting patient care. Alih bahasa : I Made Kariasa, Ni
Made Sumarwati. EGC. Jakarta.

Dorland. (1998). Kamus Saku Kedokteran Dorlana. Alih Bahasa: Dyah Nuswantari Ed. 25. Jakarta:
EGC

Prince A Sylvia. (1995). (patofisiologi). Clinical Concept. Alih bahasa : Peter Anugrah EGC. Jakarta.

Long, Barbara. C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Terjemahan: Ikatan Alumni


Pendidikan Keperawatan. USA: CV Mosby
ATRESIA ESOFAGUS

1. Pengertian
Atresia berarti buntu, atresia esofagus adalah suatu keadaan tidak adanya lubang atau
muara (buntu), pada esofagus (+). Pada sebagian besar kasus atresia esofagus ujung
esofagus buntu, sedangkan pada ¼ -1/3 kasus lainnya esophagus bagian bawah
berhubungan dengan trakea setinggi karina (disebut sebagai atresia esophagus dengan
fistula).
Kelainan lumen esophagus ini biasanya disertai dengan fistula trakeoesofagus. Atresia
esofagaus sering disertai kelainan bawaan lain, seperti kelainan jantung, kelainan gastroin
testinal (atresia duodeni atresiasani), kelainan tulang (hemivertebrata).
2. Tanda dan Gejala
a. Biasanya disertai hidramnion (60%) dan hal ini pula yang menyebabkan kenaikan
frekuensi bayi lahir prematur, sebaiknya dari anamnesis didapatkan keterangan bahwa
kehamilan ibu diertai hidramnion hendaknya dilakukan kateterisasi esofagus. Bila kateter
terhenti pada jarak ≤ 10 cm, maka di duga atresia esofagus.
b. Bila pada bbl Timbul sesak yang disertai dengan air liur yang meleleh keluar, di
curigai terdapat atresia esofagus.
c. Segera setelah di beri minum, bayi akan berbangkis, batuk dan sianosis karena aspirasi
cairan kedalam jalan nafas.
d. Pada fistula trakeosofagus, cairan lambung juga dapat masuk kedalam paru, oleh
karena itu bayi sering sianosis.

3. Klasifikasi
a. Kalasia
Kalasia adalah kelainan yang terjadi pada bagian bawah esophagus(pada persambungan
dengan lambung) yang tidak dapat menutup rapat sehingga bayi sering regurgitasi bila
dibaringkan.
b. Akalasia
Akalasia merupakan kebalikan dari kalasia, pada akalasia bagian distal esophagus tidak
dapat membuka dengan baik sehingga terjadi keadaan seperti stenosis atau atresia.
Disebut pula sebagai spasme kardio- esofagus. Penyebab akalasia adalah adanya
kartilago trakea yang tumbuh ektopik pada esofagus bagian bawah. Pada pemeriksaan
mikroskopis ditemuka jaringa tulang rawan dalam lapisan otot esophagus.
Pertolongannya adalah tindakan bedah sebelum dioperasi pemberian minum harus
dengan sendok sedikit demi sedikit dengan bayi dalam posisi duduk.

4. Pengobatan
a. Medik
Pengobatan dilakukan dengan operasi.
Pada penderita atresia anus ini dapat diberikan pengobatan sebagai beriikut :
- Fistula yaitu dengan melakukan kolostomia sementara dan setelah 3 bulan dilakukan
koreksi sekaligus
- Eksisi membran anal
Komplikasi-komplikasi yang bisa timbul setelah operasi perbaikan pada atresia esofagus
dan fistula atresia esophagus adalah sebagai berikut :
1. Dismotilitas esophagus. Dismotilitas terjadi karena kelemahan otot dingin esophagus.
Berbagai tingkat dismotilitas bisa terjadi setelah operasi ini. Komplikasi ini terlihat saat
bayi sudah mulai makan dan minum.
2. Gastroesofagus refluk. Kira-kira 50 % bayi yang menjalani operasi ini kana mengalami
gastroesofagus refluk pada saat kanak-kanak atau dewasa, dimana asam lambung naik
atau refluk ke esophagus. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan obat (medical) atau
pembedahan.
3. Trakeo esogfagus fistula berulang. Pembedahan ulang adalah terapi untuk keadaan
seperti ini.
4. Disfagia atau kesulitan menelan. Disfagia adalah tertahannya makanan pada tempat
esophagus yang diperbaiki. Keadaan ini dapat diatasi dengan menelan air untuk
tertelannya makanan dan mencegah terjadinya ulkus.
5. Kesulitan bernafas dan tersedak. Komplikasi ini berhubungan dengan proses menelan
makanan, tertaannya makanan dan saspirasi makanan ke dalam trakea.
6. Batuk kronis. Batuk merupakan gejala yang umum setelah operasi perbaikan atresia
esophagus, hal ini disebabkan kelemahan dari trakea.
7. Meningkatnya infeksi saluran pernafasan. Pencegahan keadaan ini adalah dengan
mencegah kontakk dengan orang yang menderita flu, dan meningkatkan daya tahan tubuh
dengan mengkonsumsi vitamin dan suplemen.
b. Keperawatan
Sebelum dilakukan operasi, bayi diletakkan setengah duduk untuk mencegah terjadinya
regurgitasi cairan lambung ke dalam paru, cairan lambung harus sering diisap untuk
mencvegah aspirasi.
Atresia Ani

Filed under: Anestesi, med papers — ningrum @ 6:13 am

Pendahuluan

Atresia ani atau anus imperforata disebut sebagai malformasi anorektal, adalah suatu
kelainan kongenital tanpa anus atau dengan anus tidak sempurna, termasuk Agenesis ani,
Agenesis rekti dan Atresia rekti. Insiden 1:5000 kelahiran yang dapat muncul sebagai
penyakit tersering yang merupakan syndrom VACTRERL (Vertebra, Anal, Cardial,
Esofageal, Renal, Limb)1

Malformasi anorektal mencakup spetrum luas defek-defek pada pembentukan saluran


makanan dan urogenital bagian paling bawah. Banyak anak-anak dengan malformasi ini
dikatakan memiliki anus imperforata karena mereka tidak mempunyai lubang dimana
anus seharusnya berapa. Walaupun istilah tersebut dapat secara akurat mendeskripsikan
penampakan pada anak tersebut, selalu diyakini bahwa kebenaran kompleksitas dari
malformasi tersebut jauh diatasnya. Ketika muncul malformasi pada anus, otot dan saraf-
saraf yang berhubungan dengan anus selalu memiliki derajat keterlibatan yang sama2

Organ yang terkena terletak sangat dalam di pelvis dan tidak dapat terlihat dengan baik
melalui insisi abdominal. Keputusan pembedahan tradisional tidak membolehkan bagian
midline posterior karena bagian otot ini diyakini menyebabkan inkontinensia pada anak-
anak. Karenanya, pendekatan ahli bedah pada malformasi ini menggunakan kombinasi
pendekatan abdominal, sakral dan perineal, dengan pandangan terbatas. Pendekatan-
pendekatan tersebut membuat kontinensia berada pada resiko lebih besar dibandingkan
dengan pemotongan sederhana otot sfingter untuk memperjelas penglihatan pada
malformasi. Pada tahun 1982 Pena dkk melaporkan hasil pendekatan perbaikan bedah
postero sagital. Teknik ini dinamakan PSARP atau PSARVUP. Setelah prosedur bedah
ini kebanyakan anak-anak masih mengalami efek malformasi mereka dalam bentuk
inkontinensia faeces dan urin. Meskipun manajemen pembedahan optimal tidak ada
perbakan yang tepat untuk minimnya perkembangan otot dan saraf yang sedang
berkembang.2

Definisi

Anus imperforata merupakan defek kongenital dimana lubang anus hilang atau
tersumbat. Anus merupakan lubang menuju rektum dimana kotoran meninggalkan
tubuh.3

Embriologi

Secara embriologis, saluran pencernaan berasal dari Foregut, Midgut dan Hindgut.
Foregut akan membentuk faring, sistem pernafasan bagian bawah, esofagus, lambung,
sebagian duodenum, hati dan sistem bilier serta pancreas. Midgut membentuk usus halus,
sebagian duodenum, sekum, apendik, kolon asenden sampai pertengahan kolon
transversum. Hindgut meluas dari midgut hingga ke membrana kloaka, membrana ini
tersusun dari endoderm kloaka, dan ektoderm dari protoderm/analpit. Usus terbentuk
mulai minggu keempat disebut sebagai primitive gut. Kegagalan perkembangan yang
lengkap dari septum urorektalis menghasilkan anomali letak tinggi atau supra levator.
Sedangkan anomali letak rendah atau infra levator berasal dari defek perkembangan
proktoderm dan lipatan genital. Pada anomali letak tinggi, otot levator ani
perkembangannya tidak normal. Sedangkan otot sfingter eksternus dan internus dapat
tidak ada atau rudimenter.1

Patofisiologi

Atresia ani terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada kehidupan
embrional. Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstruksi dan adanya fistula.
Obstruksi ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi cairan, muntah dengan segala
akibatnya. Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum, maka urin akan
diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperkloremia, sebaliknya feses mengalir ke arah
traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Pada keadaan ini biasanya akan
terbentuk fistula antara rektum dengan organ sekitarnya. Pada 90% wanita fistula ke
vagina (rektovagina) atau ke perineum (rektovestibuler). Pada laki-laki biasanya letak
tinggi, umumnya fistula menuju ke vesika urinaria atau ke prostate (rektovesika). Pada
letak rendah fistula menuju ke urethra (rektourethralis).1

Penyebab

Atresia anorektal terjadi karena ketidaksempurnaan dalam proses pemisahan. Secara


embriologis hindgut dari aparatus genitourinarius yang terletak di depannya atau
mekanisme pemisahan struktur yang melakukan penetrasi sampai perineum. Pada atresia
letak tinggi atau supra levator, septum urorektal turun secara tidak sempurna atau
berhenti pada suatu tempat di jalan penurunannya.1

Anus imperforata dapat muncul dalam beberapa bentuk. Rektum dapat berakhir pada
kantong buntu yang tidak terhubung dengan kolon. Ataupun dapat memiliki lubang yang
terhubung ke uretra, kandung kemih, atau skrotum pada anak laki-laki atau vagina pada
anak perempuan. Kondisi stenosis anus ataupun hilangnya anus dapat muncul.3

Masalah ini disebabkan perkembangan abnormal pada janin, dan kebanyakan bentuk
anus imperforata berhubungan dengan kelainan bawaan lahir lainnya. Merupakan kondisi
umum relatif yang terjadi pada 1 dari 5000 bayi baru lahir.3

Gejala

• Lubang anus sangat dekat dengan lubang vagina pada anak perempuan
• Hilangnya lubang atau lubang salah tempat ke anus
• Tidak adanya mekonium dalam 24 – 48 jam paska kelahiran
o Kotoran keluar melalui vagina, dasar penis, skrotum ataupun uretra
o Perut gembung3
Jika anus tidak dijumpai, maka setelah lahir kotoran tidak dapat keluar. Usus
menjadi buntu sehinga kotoran bayi yang disebut mekonium tetap berada di usus. Hal ini
dapat menyebabkan muntah dan pembengkakan abdomen. Pada beberapa kasus, rektum
dapat berakhir pada letak tinggi di pelvis atau letak rendah mendekati posisi anus
seharusnya berada.4

Jika dijumpai adanya fistula atau jalur hubungan antara usus dan kandung kemih, kotoran
dapat ditemukan bersama dengan urin. Jika fistula menghubungkan usus dengan vagina
maka kotoran akan keluar melalui vagina.4

Klasifikasi5

Anterior displacement of the anus

Anomali ini lebih sering terjadi pada anak perempuan dibanding dengan anak laki-laki.
Gambaran klinisnya berupa konstipasi dan muntah kotoran. Diagnosis bergantung kepada
temuan lokasi anus apakah dekat kepada dasar skrotum atau fourchette vagina.5

Anal stenosis

Pada anal stenosis, lubang anal mungkin dapat sangat kecil dan tersumbat oleh kotoran.
Defekasi menjadi sulit dan kotoran menjadi “ribbonlike”, kotoran tertinggal dan distensi
abdomen. Kelainan ini dijumpai pada 10% anomali anorektal. Kelainan ini dapat luput
pada pemeriksaan pada bayi baru lahir dan diketahui melalui pemeriksaan rektum bayi
dengan keluhan muntah dan perdarahan rektum ringan dikarenakan sempitnya lubang
anus. Pada kasus ini, anus dari luar terlihat normal.5

Imperforate anal membrane

Bayi dengan imperforate anal membrane tidak dapat mengeluarkan mekonium dan
terlihat membran yang menonjol berwarna kehijauan. Setelah dilakukan eksisi, fungsi
usus dan sfingter kembali normal.5

Anal agenesis

Pada anak dengan anal agenesis, bakal anus dijumpai dan stimulasi perianal
menyebabkan bakal anus mengkerut, yang mengindikasikan adanya sfingter eksternal.
Jika tidak dijumpai adanya fistula yang menghubungkan usus dengan organ
retroperitoneal maka dijumpai obstruksi usus. Fistula menghubungkan usus dengan vulva
pada anak perempuan dan menghubungkan usus dengan urethra pada anak laki-laki.

Anorectal agenesis

Anorectal agenesis merupakan 75% total kasus anomali anorektal. Fistula hampir selalu
dijumpai. Pada anak perempuan, fistula dapat terhubung dengan vagina atau dapat
menuju sinus urogenital, yang merupakan jalur umum uretra dan vagina. Pada anak laki-
laki, fistula dapat berbentuk rektovesikal atau rektouretral. Kelainan kongenital lain juga
umum dijumpai. Defek sakral dan ketidakadaan usus dan sfingter ani bagian luar umum
dijumpai.5

Diagnosis

• Bayi cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir


• Tidak ditemukan anus, kemungkinan ada fistula
• Bila ada fistula pada perineum (mekonium +) kemungkinan letak rendah

Untuk menegakkan diagnosis Atresia Ani adalah dengan anamnesis dan pemeriksaan
perineum yang teliti .1

PENA menggunakan cara sebagai berikut:

1. Bayi LAKI-LAKI dilakukan pemeriksaan perineum dan urine bila :

• Fistel perianal (+), bucket handle, anal stenosis atau anal membrane berarti
atresia letak rendah → minimal PSARP tanpa kolostomi.
• Mekoneum (+) → atresia letak tinggi → dilakukan kolostomi terlebih dahulu dan
8 minggu kemudian dilakukan tindakan definitive.

Apabila pemeriksaan diatas meragukan dilakukan invertrogram bila:

• Akhiran/ujung rektum < 1 cm dari kulit → disebut letak rendah


• Akhiran/ujung rektum > 1 cm disebut letak tinggi

Pada laki-laki fistel dapat berupa rektovesikalis, rektourethralis dan rektoperinealis.

1. Pada bayi perempuan 90 % atresia ani disertai dengan fistel. Bila ditemukan:

• Fistel perineal (+) → minimal PSARP tanpa kolostomi.


• Fistel rektovaginal atau rektovestibuler → kolostomi terlebih dahulu.
• Fistel (-) → invertrogram :

- Akhiran < 1 cm dari kulit → dilakukan postero sagital anorektoplasti

- Akhiran > 1 cm dari kulit → dilakukan kolostomi terlebih dahulu

LEAPE (1987) menyatakan bila mekonium didapatkan pada perineum, vestibulum atau
fistel perianal → letak rendah. Bila Pada pemeriksaan Fistel (-) → letak tinggi atau
rendah.1

Pemeriksaan foto abdomen setelah 18-24 jam setelah lahir agar usus terisi udara, dengan
cara Wangenstein Reis (kedua kaki dipegang posisi badan vertikal dengan kepala
dibawah) atau knee chest position (sujud) → bertujuan agar udara berkumpul di daerah
paling distal. Bila terdapat fistula lakukan fistulografi.1

Penatalaksanaan

Pada bayi harus diperiksa permasalahan lain, terutama pada genital, saluran kemih dan
tulang belakang.3

Rekonstruksi bedah untuk pembuatan anus diperlukan. Dan jika rektum mengalami
perlengketan dengan organ lain, maka organ tersebut harus dibebaskan dan diperbaiki.
Kolostomi sementara mungkin diperlukan.3

Jika anus tidak berkembang baik, pembedahan akan dilakukan untuk membuat lubang,
atau anus baru agar kotoran dapat keluar. Pengobatan dapat berbeda bergantung pada
jenis anorektal anomali. Jika ujung usus berada pada letak tinggi, pengobatan umumnya
dilakukan dalam tiga prosedur, pertama adalah pembuatan stoma pada usus yang dikenal
dengan kolostomi. Bayi baru lahir dengan stoma akan membutuhkan kantung khusus
untuk mengumpulkan feses. Prosedur kedua adalah anoplasti yaitu menarik turun rektum
ke posisi anus dimana akan dibuat anus buatan. Jika terdapat fistula atau penghubung
yang abnormal antara kandung kemih atau vagina, maka fistula ini harus ditutup.
Beberapa bulan kemudian setelah anus baru telah sembuh, maka dilakukan prosedur
ketiga yaitu penutupan stoma.4

Jika ujung usus berada pada letak rendah di pelvis, pembuatan lubang anus dapat
dilakukan dengan operasi tunggal. Rektum ditarik turun ke posisi anus dan lubang anus
yang baru dibuat, dengan teknik minimal invasif yang dikenal dengan laparoskopi. Pada
kasus ini, stoma tidak diperlukan. Jika anus baru berada pada posisi yang salah, maka
anus tersebut akan ditutup dan dipindahkan ke posisi yang benar.4

Segera setelah operasi, peristaltik bayi meningkat yang dapat mengakibatkan diaper rash
yang berat. Sehingga salep pelindung kulit diperlukan. Bayi diperbolehkan pulang jika
sudah dapat minum, peristaltik normal, tidak merasakan nyeri dan bebas demam.4

Posterior Sagital Anorektal Plasty (PSARP)

Insisi dibuat dari fistula yang nampak ke arah rektum. Sfingter rektal sebenarnya terdiri
dari saraf dan otot yang dapat diidentifikasi dan fistula dipisahkan dari rektum.
Pembuatan lubang anus dimana saraf dan otot rektum berada, bertujuan untuk
memaksimalkan kemampuan bayi dalam mengontrol pergerakan usus. Kolostomi tidak
ditutup selama prosedur operasi. Kotoran akan tetap keluar melalui kolostomi dan
memberi waktu bagi lubang anus yang baru untuk sembuh.6

Perawatan Pasca Operasi PSARP

• Antibiotik intravena diberikan selama 3 hari, salep antibiotik diberikan selama 8


– 10 hari.1
• 2 minggu paska operasi dilakukan anal dilatasi dengan heger dilatation, 2x sehari
dan tiap minggu dilakukan anal dilatasi dengan anal dilator yang dinaikan sampai
mencapai ukuran ynag sesuai dengan umurnya. Businasi dihentikan bila busi
nomor 13-14 mudah masuk.1

UMUR UKURAN
1 – 4 Bulan # 12
4 – 12 bulan # 13
8 – 12 bulan # 14
1 – 3 tahun # 15
3 – 12 tahun # 16
> 12 tahun # 17
FREKUENSI DILATASI
Tiap 1 hari 1x dalam 1 bulan
Tiap 3 hari 1x dalam 1 bulan
Tiap 1 minggu 2 x dalam 1 bulan
Tiap 1 minggu 1x dalam 1 bulan
Tiap 1 bulan 1x dalam 3 bulan

Kalibrasi anus tercapai dan orang tua mengatakan mudah mengejakan serta tidak ada rasa
nyeri dilakukan 2x selama 3 – 4 minggu merupakan indikasi tutup kolostomi, secara
bertahap frekuensi diturunkan.1

Skoring Klotz

VARIABEL SKOR
KONDISI
1 Defekasi 1 – 2 kali sehari 1

2 hari sekali 1

3 – 5 kali sehari 2

3 hari sekali 2

> 4 hari sekali 3


2 Kembung Tidak pernah 1

Kadang-kadang 2

Terus menerus 3
3 Konsistensi Normal 1

Lembek 2

Encer 3
4 Perasaan ingin BAB Terasa 1

Tidak terasa 3
5 Soiling Tidak pernah 1

Terjadi bersama flatus 2

Terus menerus 3
6 Kemampuan menahan feses > 1 menit 1
yang akan keluar
< 1 menit 2

Tidak bisa menahan 3


7 Komplikasi Tidak ada 1

Komplikasi minor 2

Komplikasi mayor 3

Penilaian hasil skoring :

Nilai scoring 7 – 21

7 = Sangat baik

8 – 10 = Baik

11 – 13 = Cukup

> 14 = Kurang1

Prognosis

Dengan pembedahan hasil selalu baik, akan tetapi bergantung pada penyebabnya.
Beberapa bayi tidak akan dapat mengontrol pergerakan usus.3

Komplikasi

Komplikasi antara lain: inkontinensia usus, konstipasi dan hambatan intestinal.3

Morbiditas biasanya datang dari dua penyebab:

• Morbiditas akibat malformasi

Morbiditas akibat malformasi berhubungan dengan motilitas usus, persarafan anorektal


dan otot sfingter. Morbiditas yang umum dijumpai adalah konstipasi. Beberapa anak
dengan malformasi ringan dapat mengalami konstipasi tetapi tidak penyebabnya tidak
jelas.2

• Morbiditas akibat pembedahan

Morbiditas akibat pembedahan umumnya adalah infeksi dan pneumonia. Infeksi luka
dapat terjadi pada pembedahan usus. Anak dengan anus imperforata mempunyai resiko
yang lebih besar untuk terkena infeksi organ pelvik. Pada saat eksplorasi pembedahan
ureter dapat salah disangka sebagai rektum. Uretra dapat dibuka atau terpotong, dan
prostat dan vesica seminalis dapat terluka. Pemotongan organ ini dapat mengakibatkan
iskemik dan kemungkinan striktur atau stenosis total.2

Leave a Comment