Anda di halaman 1dari 30

PENILAIAN DAN PERAWATAN LUKA TERKINI

Oleh:
Ricky Wibowo

Pembimbing :
Dr.dr. Koernia Swa Oetomo Sp. B FINACS.FICS (K) Trauma




PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS 1 ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA RSUD Dr. SOETOMO
S U R A B A Y A 2 0 1 4

i

DAFTAR ISI
1. Daftar Isi......................................................................................................i
2. Pendahuluan................................................................................................1
3. Tujuan..........................................................................................................2
4. Penilaian Luka.............................................................................................3
5. Pencucian Luka..........................................................................................11
6. Debridement Luka.....................................................................................13
7. Penilaian dan Peraawatan pada Luka Infeksi............................................17
8. Manajemen Nyeri pada Luka....................................................................22
9. Perawatan Dasar Luka Lanjutan...............................................................25
10. Daftar Pustaka...........................................................................................28















1

PENILAIAN DAN PERAWATAN LUKA TERKINI

PENDAHULUAN
Persiapan dasar luka mencakup faktor holistik dan pendekatan sistematik
dalam perawatan luka. Konsep perawatan luka mencakup penilaian dan
manajemen yang tepat berdasar penyebab baik lokal ataupun sistematik faktor-
faktor yang dapat menundda penyembuhan luka. Mempersiapkan dasar luka yang
baik secara langsung juga mengarah pada penilaian dan perawatan pada luka itu
sendiri.
Proses penyembuhan Luka
1. Homeostasis
Pada luka, pendarahan yang terjadi harus segera dirawat dan harus segera
tertangani dalam 24 jam pertama.
2. Inflamasi
Proses normal pada luka yang bersifat akut dan bisa bersifat patologis
pada luka kronis.
3. Proliferasi
Tahap dimulainya proses perbaikan karena disintegrasi sebelumnya.
Fibroplasia meliputi pembentukan jaringan fibroplast dan kolagen,
angiogenesis, dan reepitelisasi.
4. Remodelling
Proses membentuk kulit yang fisiologis meskipun tensil strength tak
sekuat jaringan sebelumnya (kecuali tulang) dan proses dapat berjalan
hingga 3 bulan.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penyembuhan luka
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penyembuhan luka :



2

Aliran Darah
Menilai aliran darah pada luka merupakan hal sangat penting dalam hal
prognosis terutama luka luka pada ekstremitas inferior. Bila aliran darah pada luka
dinilai buruk, perawatan luka dengan kasa basah/lembab menjadi kontraindikasi.
Antiseptik topical untuk mengeringkan luka dan mencegah invasi bakteri
direkomendasikan dalam hal ini.
Faktor Host
Faktor resiko dan komorbid yang ada dapat menyebabkan penyembuhan
luka tertunda seperti :
Obat-obatan imunosupresi ( corticosteroid, kemoterapi)
Edema sekitar luka (luka kronis)
Hipoalbumin. Dibawah 30 g/L sudah dinyatakan memperlambat
penyembuhan luka, dibawah 20g/L luka akan susah sembuh bahkan
takkan pernah sembuh( terutama pada ulkus dekubitus).
Anemia, bila Hb dibawah 100g/L akan memperlambat penyembuhan luka.
Bila Hb dibawah 70-80 g/L luka takkan pernah sembuh.
Penyakit atau pengobatan yang dapat menekan sistem imun seperti
rheumatoid arthritis, penyakit gangguan vaskular dan kolagen ( lupus,
scleroderma, dermatomyositis), dan pengobatan radiasi atau kemoterapi.

TUJUAN
Secara umum bertujuan untuk memperbaiki/ mempertahankan kondisi
pasien. Perawatan luka itu sendiri bertujuan mencegah kerusakan lebih lanjut dan
komplikasinya, mengontrol nyeri dan memperbaiki kualitas hidup.





3

PENILAIAN LUKA
Parameter umum yang digunakan meliputi riwayat luka, lokasi, ukuran
termasuk ada tidaknya tunneling , derajat kerusakan jaringan, penampakan dasar
luka, eksudat, batas luka dan kulit sekitar luka. Penilaian luka secara berkala
bertujuan memonitor penyembuhan luka serta manajemen terapi sudah tepat atau
belum. Dokumentasi luka diperlukan untuk mengetahui progres dari terapi serta
kelanjutan dalam perawatan berikutnya.

Riwayat Luka
Informasi yang perlu digali :
Luka/ulkus sebelumnya, perawatan yang sudah diberikan sebelumnya dan
respon terapi yang didapatkan.
Lama terjadinya luka
Program terapi yang sudah dilakukan saat ini dan sebelum datang ke RS.

Lokasi Luka
Mencari lokasi luka dengan menggunakan diagram badan atau
dokumentasi deskripsi anatomi luka.

Ukuran Luka
Berkurang atau bertambahnya area luka (surface area/raw surface) atau
kedalaman luka
Pengukuran luka menggunakan penggaris disposabel untuk mengukur
panjang dan lebar luka
Penngunaan cairan asetat untuk mengetahui batas lingkaran luka.
Sistem pengukuran luka terkomputerisasi (canggih)

4


Gambar 1. Mengukur panjang dan lebar luka
Mengukur kedalaman luka dengan probe steril atau cotton aplikator steril.
Probe diletakkan pada dasar luka paling dalam kemudian gunakan jari
dengan memakai sarung tangan steril untuk mengetahui kedalaman luka
yang kemudian diukur dengan penggaris.
Menilai adanya tunneling pada luka yang dalam. Dengan probe steril
dimasukkan hingga terdapat tahanan. Penilaian tunneling
didokumentasikan dalam bentuk arah (dalam bentuk jam) dan ukuran

5

(dalam bentuk sentimeter)

Gambar 2. Mengukur kedalaman luka.
Penilaian kedalaman luka dan tunneling perlu dilakukan karena ruang
kosong dapat menimbulkan pembentukan abses, kematian jaringan, dan rasa tidak
nyaman pada pasien sehingga perlu dilakukan eksisi atau packing segera.
Bahan penutup luka dipilih berdasar pada jumlah drainase, penambahan
ukuran kedalaman luka dan tunneling.

6


Gambar 3. Menilai dan mengukur tunneling atau undermining.
Derajat kerusakan Luka
Ulkus dekubitus : berdasar pada staging yang telah direkomendasikan
Luka partial atau full thickness : metode staging yang bisa digunakan
pada segala jenis luka termasuk ulkus dekubitus.
Luka partial thickness : mencakup epidermis dan dermis (abrasi,
ekskoriasi, luka superfisial)
Luka full thickness : dermis ke dalam termasuk jaringan sub kutan dengan
atau tanpa otot/tulang yang terekspos.


7

Beberapa jenis penampakan Dasar Luka
Jaringan nekrotik hitam (Eschar)
Jaringan non viabel konsistensi bisa lembut, lembab atau padat dan kering.

Gambar 4. Jaringan nekrotik hitam (eschar)
Jaringan nekrotik kuning (slough)
Jaringan non viabel bisa padat atau lembut. Bila padat kemungkinan
terdapat jaringan tendon atau ligamen dan sebaiknya tidak di debridemen.

Gambar 5. Jaringan kuning (slough).
Jaringan kemerahan-merah muda (granulasi)
Jaringan yang sehat dan viabel, bisa berwarna merah/kemerah-mudaan,
padat dan lembab.

8


Gambar 6. Jaringan granulasi.
Jaringan hipergranulasi
Biasanya merah cerah, rapuh, dan keluar hingga diliuar batas luka.
Debridemen diperlukan untuk merangsang reepitelisasi.

Gambar 7. Jaringan hipergranulasi.
Jaringan merah muda, ungu (epithelial)
Jaringan viabel yang rapuh. Biasanya mulai tampak pada batas dari luka
yang bergranulasi, tapi dapat terjadi pula pada tengah luka berbentuk berpulau-
pulau.

9


gambar 8. Jaringan epithelial
Persentase jaringan pada dasar luka
Jumlah dari tiap jenis jaringan pada luka (hitam, kuning, merah) dapat
dipresentasikan dalam persentase.
Eksudat Luka
Eksudat luka dinilai berdasar :
Kuantitas/jumlah : Dokumentasi dari frekwensi pergantian kasa dapat
membantu menilai jumlah eksudat yang dihasilkan.
Warna : jernih, sanguinus, purulen atau kombinasi semuanya
(serosanguinus)
Bau : ada/tidaknya bau yang dihasilkan
Jumlah eksudat yang banyak harus diperhatikan kemungkinan kolonisasi bakteri
yang masif dan kemungkinan besar dapat berkembang menjadi sepsis.
Tepi luka dan kondisi kulit disekitarnya
Callus hiperkeratotik
Penebalan dan pengerasan pada kulit dapat memicu peningkatan tekanan
lokal terutama pada luka daerah plantar pedis. Callus ini harus di buang.

10


Gambar 9. Callus hiperkeratotik pada plantar pedis.
Maserasi
Kelembaban yang berlebihan terjadi bila pembalutan luka tidak adekuat
menyerap eksudat dan atau ketika terdapat edema tungkai, peningkatan tekanan
atau infeksi.

Gambar 10. Maserasi
Erythema
Berhubungan dengan proses inflamasi/infeksi, ulkus dekubitus grade I,
penyakit ulkus veno-atrial.

11


Gambar 11. Jaringan kemerahan (erythema).
Indurasi
Pengerasan atau penebalan jaringan berhubungan dengan proses inflamasi,
infeksi, atau penumpukan darah.
Edema
Dapat mengindikasikan terdapat infeksi atau tekanan pada jaringan
setempat proses trauma.

PENCUCIAN LUKA
Pencucian luka dapat berpengaruh penyembuhan karena menyingkirkan
eksudat dan jaringan nekrotik serta mengurangi kolonisasi kuman.
Cuci luka dengan air steril atau larutan netral ( normal salin, atau preparat
larutan yang telah dipersiapkan)
Cuci secara gentle dengan 100-150 cc larutan
Gunakan cairan yang bersuhu ruangan bila digunakan untuk mencuci luka.
(suhu yang terlalu dingin menghambat penyembuhan di tingkat seluler)
Cuci luka setiap pergantian balutan
Jangan gunakan larutan antiseptik ( povidon iodine, sodium hipochloride,
perhidrol, asam asetat) untuk mencuci luka

12

Larutan Antiseptik topikal seperti povidon iodine hanya digunakan pada
luka yang sulit sembuh atau pada luka dimana resiko terjadi infeksi lebih besar
daripada stimulasi penyembuhan luka itu sendiri.
Metode Pencucian Luka
Gunakan tekanan yang cukup saat irigasi larutan agar pada proses
pencucian luka tidak ikut merusak dasar luka. Irigasi luka yang aman dan efektif
serta aman bertekanan sekitar 4-15 pounds per square inch (psi) .
Metode 1
Irigasi luka dengan spuit 30cc dan jarum ukuran 18-20 G dan tempatkan
jarak 4-6 cm dari dasar luka. Masker dan kacamata google serta gaun operasi
disarankan digunakan sebagai universal precaution terhadap cipratan dari larutan
irigasi. Metode ini bertekanan sekitar 15 psi dan digunakan pada luka:
Bereksudat banyak
Mengandung slough atau eschar.
Luka terinfeksi
Terdapat tunneling atau undermining.
Metode 2
Irigasi luka dengan 100 cc botol saline sekali pakai. Metode ini bertekanan
4 psi dan digunakan pada luka:
Luka yang dangkal
Eksudat minimal
Sedikit mengandung slough atau eschar
Tidak terinfeksi/terinfeksi ringan
Metode 3
Irigasi luka dengan larutan pembersih luka dengan toksisitas rendah dalam
sediaan spray. Larutan ini biasanya mengandung surfaktan yang akan membantu
membuang materi materi asing yang menempel pada dasar luka.

13

Metode 4
Basahi dan kompres luka dengan kasa yang dibasahi dengan saline hingga
lembab
Bisa dilakukan setelah irigasi dan ditujukan untuk menutup luka setelah
membersihkan dan membuang semua debris pada luka.

DEBRIDEMENT LUKA
Pembuangan jaringan nekrotik dan material asing melalui suatu proses
yang dinamakan debridement dan salah satu faktor terpenting dalam manajemen
penyembuhan luka terutama kronis.
Dengan adanya jaringan nekrotik pada dasar luka maka:
Meningkatkan resiko infeksi dan konsentrasi bakteri dengan memberikan
media untuk pertumbuhan bakteri.
Meningkatkan demand metabolik tubuh untuk mengeluarkan jaringan
nekrotik.
Memperlemah penyembuhan struktur dan fungsi dari kulit.
Memperlambat penyembuhan luka
Menyebabkan hilangnya protein tubuh dari proses drainage luka.
Mengacaukan penilaian terhadap kedalaman luka.
Menyebabkan luka menjadi bau.
Memperlambat penyembuhan luka dan terjadinya jaringan hipertrofi pada
luka bakar.
Pemilihan metode debridement harus sesuai berdasar:
Kondisi umum pasien dan tujuan terapi.
Jenis, kuantitas, kedalaman, dan lokasi dari jaringan nekrotik.
Kompetensi tenaga kesahatan.
Debridement tidak dilakukan pada beberapa hal :

14

Tak ada jaringan nekrotik pada dasar luka.
Tujuan untuk mempertahankan dari status luka, dan untuk kenyamanan
pasien.
Bila terdapata gangren kering dan atau aliran darah yang tak adekuat.
Bila ekstremitas inferior tak teraba nadinya atau memiliki ankle brachial
index yang abnormal. Segera lakukan penanganan khusus untuk ulkus
arterial dan ulkus gangren diabetikum.
Penilaian vaskuler direkomendasikan untuk ulkus pada ekstermitas inferior untuk
menyingkirkan kemungkinan aliran darah yang adekuat di daerah tersebut.
Teknik debridement dinilai berdasar sedikit invasif (irigasi sederhana)
hingga yang paling invasif ( tajam/surgikal debridement).
Jenis debridement : autolitik, enzimatik, surgikal dan mekanikal.
Beberapa teknik debridement dapat digunakan untuk mengambil jaringan
nekrotik dari luka.
Teknik debridement selektif termasuk autolitik, enzimatik, dan surgikal
untuk pengambilan jaringan nekrotik saja.
Debridement mekanikal merupakan jenis non-selektif karena baik jaringan
granulasi sehat dan jaringan nekrotik dibuang.

Metode Debridement
Debridement Autolitik
Debridement yang paling sering dilakukan.
Digunakan pada jenis luka partial ataupun full thickness dan pada
stadium 2,3,4 pada ulkus dekubitus dengan produksi eksudat yang
minimal.
Bentuk lamban dari debridement.
Biasanya tak nyeri.

15

Menggunakan bebat (hidrocoloid, hidrogel, lapisan transparan) untuk
menjaga luka tetap lembab.
Debridement Enzimatik
Berguna untuk membuang jaringan nekrotik dimana debridement
surgikal tak bisa dilakukan.
Menggunakan enzim proteolitik untuk meluluhkan jaringan nekrotik.
Lebih lamban dan lebih tak agresif dibanding debridement surgikal.
Resep diperlukan untuk memperoleh obat-obatan jenis ini.
Dapat menghasilkan banyak eksudat, iritasi lokal pada sekitar kulit dan
kemungkinan terjadinya infeksi.
Debridement Surgikal
Cara tercepat dan terefektif dalam debridement.
Efektif untuk luka yang mengandung jaringan nekrotik yang sedang
hingga banyak.
Luka yang lebih luas dengan produksi cairan purulen, infeksi berat,
selulitis yang melebar, sepsis. Dalam hal ini harus dilakuakan di dalam
kamar operasi.
Luka yang lebih kecil dapat dilakukan di bangsal atau di praktek
dokter.
Selalu gunakan alat alat yang steril
Jaringan nekrotik diambil dengan scalpel, gunting jaringan atau alat
kuret.
Dilakukan oleh tenaga profesional yang sudah terlatih dalam hal ini
dan berada dalam naungan hukum.
Manajemen rasa nyeri perlu dilakukan baik selama melakukan
prosedur atau setelahnya.



16

Debridement mekanikal (non-selektif)
Kompres dengan kasa basah
Kasa dibasahi dengan salin dan di taruh dipermukaan luka hingga
kering
Bila kasa sudah kering segera diganti kasa yang baru
Jaringan debris yang lengket pada kasa harus segera dibuang./
Ganti kasa basah 2-4 kali perhari.
Bila jaringan nekrotik hilang, segera hentikan metode ini.
Metode ini sangat nyeri, harus pengawasan ketat, dan mahal.
Irigasi Luka
Cara teraman dan efektif dari metode debridement mekanikal
Biasanya dikombinasikan dengan metode lainnya
Debridement Biologis
Menggunakan larva steril yang telah dibiakkan dan ditaruh
dipermukaan luka.
Pada beberapa negara seperti Canada, cara ini masih belum
sepenuhnya diterima.









17

PENILAIAN DAN PERAWATAN PADA LUKA YANG TERINFEKSI

Gambar 12. Proses kontaminasi hingga terjadinya infeksi pada luka.
Diambil dari : Sibbald RG, et al, In wound Bed Preparation 2001, slide
dari Snuth & Nephew TIME to prepare.

Bakteri pada Luka Kronis
Bila luka mengandung bakteri ada beberapa tahap dalam proses
infeksinya: kontaminasi, kolonisasi, kolonisasi kritis, dan infeksi.
Kontaminasi : adanya bakteri pada luka tapi masih tak menimbulkan
keluhan pada pasien.
Kolonisasi : adanya bakteri yang bereplikasi tapi masih tak
menimbulkan gangguan di luka dan keluhan pada pasien.
Kolonisasi kritis : terjadi ketika kolonisasi bakteri memperlambat/
menghentikan proses penyembuhan luka dan mulai menunjukkan
tanda tanda inflamasi lokal( nyeri, eritema, edema, produksi eksudat
purulen, dan teraba hangat).

18


Gambar 13. Luka yang terlalu luas memicu resiko infeksi lebih tinggi.
Infeksi : kolonisasi bakteri hingga ke sirkulasi sistemik menimbulkan
tanda-tanda sepsis.

Gambar 14. Tumpukan slough berserta pus.
Diambil atas ijin Kohr,R,MD, www.Ihsc.on.ca/wound.
Penilaian klinis untuk membedakan kolonisasi bakteri dan infeksi
sangat penting.
Faktor Resiko pada kolonisasi bakteri dan infeksi
Kemungkinan suatu luka menjadi terinfeksi bergantung pada jenis
mikroorganisme, dan daya tahan pasien terhadap infeksi.
Infeksi = jumlah dari beberapa tipe mikroorganisme x virulensi
Daya tahan individu

19

Tabel 1. Faktor resiko lokal dan faktor resiko sistemik terjadinya
kolonisasi atau infeksi.
Diambil dari : Sibbald R G.et al, 2003.

Keberadaan faktor lokal dan sistemik mempengaruhi respon imun
individu dan menjadi faktor kritis untuk mengetahui apakah infeksi
akan berkembang. Organisme yang resisten terhadap antibiotik
menambah resiko infeksi yang lebih berat.

Penilaian dan perawatan terhadap Luka dengan kolonisasi kritis atau
Infeksi
Luka kronis menunjukkan tanda tanda penyembuhan luka dalam 4
minggu dan proses ini bisa berlanjut hingga 12 minggu. Bila lebih dari
waktu rata rata tersebut, kolonisasi kritis atau infeksi telah terjadi.
Diagnosis kolonisasi kritis dan infeksi sepenuhnya bergantung pada
pemeriksaan klinis.





20

Tanda dan gejala klinis kolonisasi kritis dan infeksi pada luka kronis.
Selain pemeriksaan klinis, swab bakteri atau kultur, pemeriksaan
laboratorium dan radiologi digunakan untuk diagnosis dan perawatan
dari luka infeksi.
Untuk memperoleh spesimen kultur bila luka menunjukkan tanda dan
gejala klinis infeksi atau apabila luka tak pernah membaik meskipun
telah mendapat perawatan optimal. Spesimen kultur yang bisa
dilakukan, jaringan atau pus/abses. Tidak disarankan untuk
menegakkan diagnosis hanya berdasar hasil kultur.

Acuan untuk memperoleh kultur dari luka
Bila perlu, debridement terlebih dahulu pada daerah superfisial luka
sebelum melakukan swab.
Irigasi luka dengan normal salin sebelum melakukan swab. Eschar,
pus, eksudat tidak termasuk spesimen yang bisa diambil dengan swab.
Swab yang digunakan harus steril dan media kultur telah disiapkan.
Bila ukuran luka kurang dari 5 cm
2
, swab digunakan dengan satu
putaran penuh diatas jaringan granulasi.
Bila ukuran luka lebih dari 5 cm
2
, swab dilakukan dengan pola zig-
zag.
Letakkan swab pada medium bila telah selesai dilakukan.
Analisis pemetaan kuman dan virulensinya, perlu diketahui.
Biakan aerob dan anearob dilakukan.
Kirim segera ke laboratorium.

21


Gambar 15. Metode pengambilan sampel dari swab.
Pencegahan kolonisasi kritis dan infeksi
Untuk perawatan kolinisasi kritis dan luka terinfeksi, pemantauan dan
manajemen optimal untuk mencari faktor resiko atau komorbid harus
segera dilakukan. (pada ulkus dekubitus, ulkus arterial dan vena, ulkus
diabetikum, dan luka pada keganasan).
Berikan pembersihan pada luka maupun sekitar luka yang adekuat.
Bila perlu debridement luka karena akan mengurangi populasi bakteri.
Pemberian obat topical antiseptik selama 2 minggu perlu
dipertimbangkan.
Pemberian antiseptik yang tidak sitotoksik dapat berguna untuk
mengurangi populasi bakteri pada luka.
Pemberian topikal antibiotik hanya digunakan pada luka dengan
infeksi ringan tanpa ada tandanya invasi pada jaringan. Bila digunakan
terlalu bebas, resistensi dan sensitisasi dapat terjadi.
Tetap lakukan moisture balance.
Bila luka tak membaik dalam waktu 2 minggu atau malah berkembang
ke infeksi meskipun dengan pemberian antibiotik topikal maka
pemberian antibiotik sistemik bisa dilakukan.




22

Osteomyelitis
Resiko terjadinya osteomyelitis bergantung secara langsung dengan
kedalaman luka dan hubungannya antara kulit dan tulang. Osteomyelitis bisa
tampak normal pada foto x-ray.
Bila ulkus telah menyentuh tulang atau bila dicurigai infeksi pada
ulkus telah meluas ke tulang osteomyelitis harus dicurigai.
Diagnosis dapat dilakukan :
Foto X-ray berkala tiap 2 minggu
Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) dapat normal pada pasien
osteomyelitis. Pemeriksaan ini hanya berguna untuk evaluasi
daripada diagnosis.
Bone scan
MRI (bila semua hasil meragukan).
Terapi:
Penggunaan jangka panjang antibiotik
Debridement, biopsi, squesterectomy perlu dilakukan .

MANAJEMEN NYERI PADA LUKA
Pendekatan manajemen nyeri sangat bervariasi pada setiap individu.
Merawat luka dengan nyeri termasuk penilaian yang tepat dari luka tersebut
dan nyeri yang dihasilkannya. Sangat penting untuk diketahui bahwa nyeri
dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, kualitas hidup dan pola tidur individu
tersebut. Tujuan manajemen nyeri yang dimaksud adalah membantu suatu
individu mencapai ambang nyeri yang masih ditoleransi melalui suatu
manajemen yang komprehensif.
Penilaian dan dokumentasi nyeri
Penilaian jenis, penyebab, intensitas, ( skala wajah visual atau angka)
dan frekuensinya.

23

Dokumentasi pada status progresivitas perkembangan manajemen
nyeri.
Jenis dari nyeri pada luka
Berdasar etiologi dibagi menjadi neuropatik dan nosiseptif dan berdasar
durasi dibagi menjadi akut dan kronik.
Nyeri Nosiseptif
Respon inflamasi karena kerusakan jaringan, nyeri jenis ini membaik
bila kerusakan jaringan berhenti dan proses inflamasi mereda. Digambarkan
nyeri ini bersifat tajam seperti ditusuk, gatal, dan perih.
Nyeri neuropatik
Nyeri menetap dan terjadi pada reseptor di saraf perifer atau pusat dan
menimbulkan nyeri yang lebih bersifat kronis. Digambarkan nyeri terasa
seperti terbakar, tersengat, dan berat.
Penyebab dan Karakteristik Nyeri
Tabel 2. Macam-macam nyeri beserta karakteristiknya.
Penyebab
Nyeri
Karakteristik
Nyeri Istirahat Nyeri muncul meskipun dalam kondisi istirahat(infeksi,
iskemik, infark)
Nyeri
insidental
Nyeri selama aktifitas sehari-hari. (batuk, berjalan)
Nyeri
Prosedural
Nyeri dari prosedur rutin (pergantian bebat luka)
Nyeri Operasi Nyeri karena intervensi bedah yang memerlukan tindakan
anestesi



24

Manajemen nyeri pada luka
Beri waktu jeda untuk istirahat bila setiap tindakan yang kita lakukan
menimbulkan nyeri yang sudah terlalu hebat.
Obat-obat topikal yang dapat menimbulkan nyeri dihindari.
Atasi penyebab dari nyeri (bebat tekan yang terlalu keras, dan lain-
lain).
Pemilihan pembalut luka yang lembab dan tidak terlalu lengket pada
luka.
Lindungi kulit sekitar luka
Debridement bila diperlukan dengan suport dari obat-obatan anestesi.
Perawatan infeksi dan edema yang adekuat.
Pemberian dukungan moral
Penggunaan terapi relaksasi untuk membantu meredakan nyeri dan
persepsi pada nyeri itu sendiri. ( nafas dalam, suara pelan, sentuhan
lembut, pengalih perhatian dan informed consent tentang rencana
perawatan).
Pemberian analgesia berdasar rekomendasi WHO baik topikal maupun
sistemik. Rekomendasi ini tak berlaku pada nyeri neuropatik.
Nyeri nosiseptif
Opioid : untuk nyeri nosiseptif sedang hingga berat.
Antiinflamasi non steroid (AINS) : nyeri ringan hingga sedang.

Gambar 16. Protokol penanganan nyeri dari PBB.

25

Nyeri neuropatik
Untuk nyeri neuropatik digunakan antidepresan/anti konvulsi.

PERAWATAN DASAR LUKA LANJUTAN
Implementasi dari rekomendasi ini dibuat oleh tenaga medis yang
khusus terlatih perawatan luka lanjutan.
Luka harus dimonitor secara berkala dan hasil diukur oleh arahan dari
dokter .
Perawatan luka lanjutan
Terapi tekanan negatif (tekanan subatmosfir)
Dilakukan untuk merangsang penyembuhan luka, dapat membantu
membuang eksudat yang berlebihan, merangsang pembentukan pembuluh
darah baru, kontraksi batas luka dan mengurangi kolonisasi bakteri. Pasien
yang tak bisa dilakukan debridemen surgikal terapi tekanan negatif merupakan
suatu pilihan.
Indikasi terapi tekanan negatif
Luka berkavitas
Luka graft
Luka flap
Luka bakar partial-full thickness
Luka dehisense
Luka kronis
Luka akut
Luka trauma
Ulkus dekubitus
Ulkus diabetikum


26

Kontraindikasi terapi tekanan negatif
Luka karena keganasan
Osteomyelitis yang tak terawat
Fistel yang belum tereksplor
Jaringan nekrosis dengan adanya eschar.
Perhatian Khusus
Luka dengan pendarahan aktif harus diatasi dulu sebelum dilakukan
terapi tekanan negatif
Bila luka mengalami masalah homeostasis atau penggunaan
antikoagulan lama, terapi tekanan negatif harus ditunda hingga masalah
tertangani.
Pada terapi tekanan negatif harus waspada terhadap pembuluh darah
besar disekitarnya. Pemberiam foam dressing secara langsung pada
pembuluh darah besar lebih baik dihindari.
Kulit bioengineered
Merupakan kulit buatan biologis digunakan untuk perawatan luka akut
ataupun kronis
Mengandung sel manusia hidup seperti fibroblas,kertinosit, yang dapat
menghasilkan kolagen, protein, dan growth faktor.
Mengganti dan membangun kembali jaringan yang rusak pada luka atau
ulkus.
Bekerja dengan mengaktifkan sel sel yang hidup disana dan
berkembang sertad dapat beradaptasi pada lingkungan disana.
Indikasi pada ulkus diabetikum dan ulkus pada vena.
Growth factors
Digunakan untuk mempercepat penyembuhan dari luka kronis
Platelet derived growth factor (PDGF) hanya digunakan topikal dan
terbukti efektif.

27

PDGF mempercepat penyembuhan pada ulkus diabetikum neuropatik.
PDGF semakin efektif bila dikombinasikan dengan perawatan dasar
luka seperti debridement surgikal.
Protease-modulating Matrix Dressing
Terbuat dari kolagen dan selulose regenerasi yang teroksidasi
Menempel pada protease yang bila dalam jumlah berlebihan merupakan
barier utama untuk penyembuhan luka. Materi ini dapat meningkatkan
biovaibilitas growth factors pada luka.
Berguna pada ulkus vena dan diabetikum.
Skin grafts
Potongan kulit yang telah dipisahkan dari aliran darah lokalnya dan di
transplantasikan di tempat lain pada host yang sama.
Tipe skin graft : full thickness( mengandung epidermis dan seluruh
dermis) dan split thickness (mengandung epidermis dan sebagian
dermis).
Composite grafts
Mengandung minimal dua jaringan yang berbeda biasanya kulit dan
kartilago.
Dilakukan secara full thickness untuk memperbaiki defek kecil ( <1
cm).
Free cartilage Grafts
Kartilago yang terletak pada perikondrium digunakan untuk
mengembalikan struktur yang mengalami kehilangan seperti ala nasi,
nasal tip, daun telinga, dan kantong mata.
Biasanya dikombinasikan dengan flap atau full thickness graft untuk
menjaga patensi jalan nafas , minimalisir retraksi ala nasi selama
penyembuhan luka.

28

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonymous, Preparation of The Wound Bed Assesment and
Management, November 5
th
2011, p:10-35.
2. Baranoski S, Ayello E, Wound Care Essentials: Practice Principles , 2
nd

edition, Lippincott, Williams & Willkins, 2007, p: 84-86.
3. Dow G, Browne A, & Sibbald RG, Infection in chronic wounds:
Controversies in Diagnosis and Treatment. Ostomy/Wound Management,
45(8), 23-40.
4. Krasner DL, Sibbald RG, Nursing Management of Chronic wounds: Best
practices across the continuum of care. Nursing Clinics North American,
34(4), 933-53.
5. Nguyen DT, Orgill DP, Murphy GF, The Pathophysiologic Basis for
Wound healing and Cutaneus Regeneration Biomaterials for Treating Skin
Loss. Woodhead Publishing (UK/Europe) & CRC Press (US),
Cambridge/Boca Raton, chapter 4
th
,2009, p:25-57.
6. Stadelmann WK, Digenis AG, Tobin GR, Physiology and Healing
dynamics of chronic cutaneous wounds, American journal of
Surgery,1998, 176(2A suppl): 26S-38S .