Anda di halaman 1dari 17

Kematian

Suku Minahasa
Sesaat setelah seseorang meninggal warga sekitar (jaga,kolom/RT) gotong
royong membantu keluarga bangun bangsal , menyiapkan konsumsi bagi para pekerja
yang membangun bangsal dan bagi para pelayat.
Malamnya ibadah dan " Masamper " / memberikan penghiburan kepada keluarga
yang berduka dengan menyanyikan lagu-lagu rohani atau lagu tempo dulu ; menemani
keluarga jaga mayat / jenazah.
Upacara pemakaman didahului dengan ibadah. Jika hari minggu kita diingatkan
dengan Lonceng Gereja bahwa Ibadah akan segera dimulai, Untuk Upacara adat yang
satu ini orang Tareran Juga menambahkan " Tetengkoren " ( kentongan ) untuk
menandakan Ibadah Pemakaman akan segera di mulai. Susunan Ibadah Pemakaman
biasanya meliputi :
Sambutan/ kata-kata penghiburan
1. Pemerintah desa
2. Dari gereja
3. Sesuai permintaan keluarga
4. Kalau keluarga mempunyai hubungan dengan organisasi lain, maka organisasi
itu akan diberikan kesempatan untuk menyampaikan kata-kata penghiburan dan
diakonia
Pembacaan Riwayat hidup (dibacakan oleh anak tertua atau cucu tertua ).
Sebelum Ibadah selesai/ditutup. Bersama-sama dengan masyarakat dan jemaat
mengantar jenazah keliang lahat
Apabila yang meninggal itu adalah tokoh jemaat (mantan pelsus) jenazah
dibawa kegereja dan jenazah disemayamkan di gereja dilanjutkan dengan
ibadah
Apabila dia tokoh masyarakat (pernah menjadi kuntua, kepala jaga / perangkat
desa) di bawa di kantor hokum tua / balai desa untuk mengenangkan jasa-jasa
dari yang meninggal semasa dia hidup dan dilaksanakan pelepasan. Setelah itu
barulah Jenazah di bawa ke Ladang Pekuburan untuk di Makamkan. Seteh itu
baru Ibadah Pemakaman ditutup.
Sekembalinya dari lahan pekuburan bersama-sama dengan keluarga kemudian
keluarga telah menyiapkan konsumsi ringan untuk sekedar melepas lelah dari
ladang pekuburan.





Suku Toraja
Rambu Solo' merupakan acara tradisi yang sangat meriah di Tana Toraja,
karena memakan waktu berhari-hari untuk merayakannya. Upacara ini biasanya
dilaksanakan pada siang hari, saat matahari mulai condong ke barat dan biasanya
membutuhkan waktu 2-3 hari. Bahkan bisa sampai dua minggu untuk kalangan
bangsawan. Kuburannya sendiri dibuat di bagian atas tebing di ketinggian bukit batu.
Karena menurut kepercayaan Aluk To Dolo (kepercayaan masyarakat Tana
Toraja dulu, sebelum masuknya agama Nasrani dan Islam) di kalangan orang Tana
Toraja, semakin tinggi tempat jenazah tersebut diletakkan, maka semakin cepat pula
rohnya sampai ke nirwana.
Upacara ini bagi masing-masing golongan masyarakat tentunya berbeda-beda.
Bila bangsawan yang meninggal dunia, maka jumlah kerbau yang akan dipotong untuk
keperluan acara jauh lebih banyak dibanding untuk mereka yang bukan bangsawan.
Untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau bisa berkisar dari 24 sampai dengan 100
ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor
kerbau ditambah dengan 50 ekor babi, dan lama upacara sekitar 3 hari.
Tapi, sebelum jumlah itu mencukupi, jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing
atau di tempat tinggi. Makanya, tak jarang jenazah disimpan selama bertahun-tahun di
Tongkonan (rumah adat Toraja) sampai akhirnya keluarga almarhum/ almarhumah
dapat menyiapkan hewankurban.
Bagi masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan
sendirinya mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum terjadinya upacara
Rambu Solo' maka orang yang meninggal itu dianggap sebagai orang sakit. Karena
statusnya masih 'sakit', maka orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan
diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti menemaninya, menyediakan
makanan, minuman dan rokok atau sirih. Hal-hal yang biasanya dilakukan oleh arwah,
harus terus dijalankan seperti biasanya.
Jenazah dipindahkan dari rumah duka menuju tongkonan pertama (tongkonan
tammuon), yaitu tongkonan dimana ia berasal. Di sana dilakukan penyembelihan 1 ekor
kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma'tinggoro Tedong, yaitu cara
penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu kali
tebasan saja. Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi
nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-potong dan dagingnya dibagi-
bagikan kepada mereka yang hadir.
Jenazah berada di tongkonan pertama (tongkonan tammuon) hanya sehari, lalu
keesokan harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke
atas lagi, yaitu tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan di
tongkonan yang pertama, yaitu penyembelihan kerbau dan dagingnya akan dibagi-
bagikan kepada orang-orang yang berada di sekitar tongkonan tersebut.
Seluruh prosesi acara Rambu Solo' selalu dilakukan pada siang hari. Siang itu
sekitar pukul 11.30 Waktu Indonesia Tengah (Wita), kami semua tiba di tongkonan
barebatu, karena hari ini adalah hari pemindahan jenazah dari tongkonan barebatu
menuju rante (lapangan tempat acara berlangsung).

Jenazah diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan duba-duba
terdapat lamba-lamba (kain merah yang panjang, biasanya terletak di depan keranda
jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh para wanita dalam
keluarga itu).
Prosesi pengarakan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante dilakukan
setelah kebaktian dan makan siang. Barulah keluarga dekat arwah ikut mengusung
keranda tersebut. Para laki-laki yang mengangkat keranda tersebut, sedangkan wanita
yang menarik lamba-lamba.
Dalam pengarakan terdapat urut-urutan yang harus dilaksanakan, pada urutan
pertama kita akan lihat orang yang membawa gong yang sangat besar, lalu diikuti
dengan tompi saratu (atau yang biasa kita kenal dengan umbul-umbul), lalu tepat di
belakang tompi saratu ada barisan tedong (kerbau) diikuti dengan lamba-lamba dan
yang terakhir barulah duba-duba.
Jenazah tersebut akan disemayamkan di rante (lapangan khusus tempat prosesi
berlangsung), di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu
dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat
tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Karena selama acara berlangsung
mereka semua tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi menginap di lantang yang
telah disediakan oleh keluarga yang sedang berduka.
Iring-iringan jenazah akhirnya sampai di rante yang nantinya akan diletakkan di
lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung).
Menara itu merupakan bangunan yang paling tinggi di antara lantang-lantang yang ada
di rante. Lakkien sendiri terbuat dari pohon bambu dengan bentuk rumah adat Toraja.
Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur. Di rante sudah
siap dua ekor kerbau yang akan ditebas.
Setelah jenazah sampai di lakkien, acara selanjutnya adalah penerimaan tamu,
yaitu sanak saudara yang datang dari penjuru tanah air. Pada sore hari setelah prosesi
penerimaan tamu selesai, dilanjutkan dengan hiburan bagi para keluarga dan para
tamu undangan yang datang, dengan mempertontonkan ma'pasilaga tedong (adu
kerbau). Bukan main ramainya para penonton, karena selama upacara Rambu Solo',
adu hewan pemamah biak ini merupakan acara yang ditunggu-tunggu.
Selama beberapa hari ke depan penerimaan tamu dan adu kerbau merupakan
agenda acara berikutnya, penerimaan tamu terus dilaksanakan sampai semua tamu-
tamunya berada di tempat yang telah disediakan yaitu lantang yang berada di rante.
Sore harinya selalu diadakan adu kerbau, hal ini merupakan hiburan yang digemari oleh
orang-orang Tana Toraja hingga sampai pada hari penguburan. Baik itu yang
dikuburkan di tebing maupun yang di patane' (kuburan dari kayu berbentuk rumah adat)






Suku Kupang
Maet mone (mati tidak wajar)Maet Mone artinya suatu bentuk kematian yang
tidak wajar atau karna akibat akibat tertentu. Seperti kematian karna bunuh diri,
pembunuhan, tabrakan, bencana alam, terantuk batu, atau jenis jenis kecelakaan
lainnya seperti jatuh dari pohon. Kematian ini lebih utama disebabkan oleh dosa dan
kesalahan yang diperbuat oleh korban atau anggota keluarganya sehingga
mengakibatkan kutuk karma pada diri orang tersebut. Kematian semacam ini bagi
masyarakat Desa Oinlasi diyakini sebagai suatu kematian yang tidak wajar. Sehingga
ritual penguburan berbeda dengan kematian yang wajar. Karna dilihat dari kematian
seperti ini menurut masyarakat Desa Oinlasi pada umumnya berbeda karena kematian
lanjut usia atau (Maet Namen) kematian biasa.
Menurut bapak Eklopas Saba kepercayaan di Desa Oinlasi, seseorang yang
meninggal dalam kategori Maet Mone disebabkan karena adanya kesalahan atau dosa
adat yang telah diperbuat oleh korban atau keluarga korban, dimana tidak ada niat dari
mereka untuk menebus dosa atau kesalahan mereka secara ritual adat sebelum adat
korban. Sehingga kematian yang disebabkan karena Maet Mone ini dalam upacara
ritual kematian berbeda dengan kematian karna lanjut usia atau Maet Namen. Sesuai
dengan keyakinan masyarakat Desa Oinlasi bahwa kematian semacam ini walaupun
jasad arwah telah dikuburkan namun rohnya masih berkeliaran atau bergentayangan,
yang karena ini maka proses ritual adat setelah penguburanpun masih berlanjut untuk
mencari penyebab kematian itu guna memohon pertobatan untuk keluarga tersebut
agar roh dan arwah yang masih berkeliaran itu dapat tenang dan tak ada lagi kematian
atas dosa adat yang ada karena telah ditebus secara ritual adat. Maet Namen (mati
karena penyaktit)
Maet Namen artinya suatu bentuk kematian yang didasarkan pada suatu
kewajaran yang biasa,bukan karena akibat akibat tertentu. Kematian ini disebabkan
karena faktor usia, karena sakit.kematian Maet Namen ini juga harus dibedakan
berdasarkan pada faktor usia karena dalam kematian untuk orang yang sudah
dikategorikan sudah dewasa (berkeluarga) atau karena sudah tua saja. Sedangkan
kematian pada orang-orang yang dikategorikan belum dewasa seperti anak-anak dan
remaja (dalam hal ini belum berkeluarga). Tetap Atoin Amaf masih berperan aktif.
Dikatakan demikian karena menurut kepercayaan masyarakat Desa Oinlasi khusunya
bahwa kematian di bawah usia atau di bawah umur berarti kematian yang tidak wajar,
sehingga konsekuensinya adalah pihak keluarga duka harus mengintrospeksi diri akan
apa salah dan dosa yang telah diperbuat sebelumnya baik dari yang meninggal
ataupun dari keluarganya sampaimerengut nyawa anak mereka. Dan bila ditinjau dari
peranan Atoin Amaf itu sendiri selain merelakan kepergian arwah yang meninggal
adapun peran lain yaitu merestui penerus keturunan lanjutan dari keluarga orang yang
meninggal untuk beranak cucu. Dalam hal ini penerus keturunan yang dimaksud adalah
anak-anak dari orang yang meninggal
Seperti yang di utarakan diatas bahwa seseorang yang telah menemui ajalnya
atau kematian dalam bahasa dawan Amates sangat memerlukan Atoin Amaf. Ketika
seseorang meninggal maka pihak keluarga harus segera mungkin memberitahukan
kabar kepada pihak pertama yaitu Atoin Amaf. Setelah Atoin Amaf sampai ketempat
duka maka hal yang pertama adalah penyerahan hak dari pihak keluarga yang berduka
kepada Atoin Amaf oleh salah satu keluarga yang mengerti tentang adat dan bisa
bertutur dalam bahasa dawan dikenal dengan istilah Natoni. Setelah penyerahan hak
dari pihak keluarga, selanjutnya Atoin Amaf menunjukan tempat untuk tempat
pemakaman.dan disitulah Peranan Atoin Amaf mulai peran aktif dalam upacara
kematian melalui tahapan tahapan sebagai berikut :
1. Tape Nopu (Patok lubang)
Tape Nopu dalam bahasa Indonesia artinya Patok lubang kubur oleh Atoin Amaf
kalau saja Atoin Amaf belum melakukan Tape Nopu maka belum bisa dilakukan
pengalian lubang kubur karena Atoin Amaflah yang berhak menunjukan dan
menentukan tempat dimana jenasah dimakamkan hal ini dilakukan karena sudah turun
temurun sejak zaman nenek moyang dan sudah menjadi tradisi di Desa Oinlasi.kalau
saja Atoin Amaf belum hadir maka akan menunggu sampai Atoin Amaf hadir barulah
lubang kubur akan digali karena Atoin Amaf sudah diberi kewenangan dalam mengatur
semua jalannya upacara kematian sampai selesai.
2. Tut Kusat (memaku peti jenasah)
Tut kusat artinya memaku peti jenasah, hal ini dilakukan oleh Atoin Amaf ketika
jenasah akan dikuburkan. Pada saat peti jenasah ditutup maka Atoin Amaf yang
melakukan Tut Kusat pada peti jenasah sebelum jenasah dibawa untuk dikuburkan.
3. Pukai Alumama (membuka saku sirih pinang )
Pukai Alumama secara simbolis oleh Atoin Amaf untuk mencari tahu warisan
warisan apa saja yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal tersebut. Mulai dari
parang,rumah,belukar,hewan,serta utang piutang orang yang meninggal itu.
Selanjutnya Atoin Amaf bersama keluarga duka berunding bersama mencari solusi atau
jalan keluar untuk memecahkan persoalan persoalan seputar warisan dan utang
piutang yang di tinggalkan oleh orang yang sudah meninggal.
4. Noes Puse (ucapan terimah kasih )
Noes puse dalam pemahaman masyarakat Desa Oinlasi merupakan ucapan
terimah kasaih dari keluarga yang berduka cita yang disampaikan oleh Atoin Amaf
kepada semua pihak yang telah membantu selama jalannya upacara kematian dari
awal sampai akhir, dan akan ditandai dengan membunuh seekor hewan sebagai tanda
terimakasih dari pihak keluarga berduka kepada semua masyarakat yang telah
bersama sama mengikuti upacara kematian.










Suku Papua

Pada upacara pembakaran jenazah, tubuh orang yang meninggal dihias dan
didudukkan diatas suatu singgasana (bea). Upacara ini dilakukan disuatu lapangan
dipusat perkampungan. Para kerabat dan orang-orang yang datang untuk melayat akan
duduk mengelilingi bea dan menangis sekeras-kerasnya. Tubuh para wanita dilumuri
dengan lumpur putih tanda berkabung dengan nyanyian-nyanyian kematian dan
ratapan. Dan pada siang harinya beberapa orang dukun melakukan upacara memotong
satu ruas jari dari tiap anggota keluarga inti orang yang meninggal dengan
menggunakan kapak batu tetapi ada juga yang menggunakan bambu. Dan luka dari
pemotongan itu akan di balut dengan sejenis daun. Jerit tangis dari anak-anak yang
menjalani pemotongan jari ini, akan menghilang diantara orang-orang yang sedang
melayat. Biasanya jari-jari yang dipotong, bukan hanya sekali saja, tetapi tergantung
berapa banyak kerabat terdekat yang meninggal, mereka akan melakukan lagi ritual
pemotongan jari. Bahkan sampai jari mereka habis. Dan apabila jari-jari mereka telah
dipotong habis, mereka akan memotong lagi sebagian dari telingan mereka.
Setelah itu, mereka akan melakukan upacara pembakaran jenazah dan para
kerabat orang yang meninggal membakar daging babi di dalam lubang-lubang yang
mereka gali di dalam tanah dan sebagian akan disajikan untuk ruh ( ame), orang yang
meninggal. Sore harinya daging yang telah masak itu dimakan bersama dan menjelang
senja semua perhiasan yang dikenakan pada jenazah diambil dan tubuh jenazah itu
digosok dengan minyak babi. Setelah itu dimulai pembakaran jenazah, yang diiringi
dengan jerit tangis orang-orang yang datang melayat.

















Suku Batak

Dalam tradisi Batak, orang yang mati akan mengalami perlakuan khusus,
terangkum dalam sebuah upacara adat kematian. Upacara adat kematian tersebut
diklasifikasi berdasarkan usia dan status orang yang meninggal dunia. Untuk yang
meninggal ketika masih dalam kandungan (mate di bortian) belum mendapatkan
perlakuan adat (langsung dikubur tanpa peti mati). Tetapi bila mati ketika masih bayi
(mate poso-poso), mati saat anak-anak (mate dakdanak), mati saat remaja (mate
bulung), dan mati saat sudah dewasa tapi belum menikah (mate ponggol), keseluruhan
kematian tersebut mendapat perlakuan adat : mayatnya ditutupi selembar ulos (kain
tenunan khas masyarakat Batak) sebelum dikuburkan. Ulos penutup mayat untuk mate
poso-poso berasal dari orang tuanya, sedangkan untuk mate dakdanak dan mate
bulung, ulos dari tulang (saudara laki-laki ibu) si orang yang meninggal.
Upacara adat kematian semakin sarat mendapat perlakuan adat apabila orang
yang mati:
1. Telah berumah tangga namun belum mempunyai anak (mate di paralang-
alangan/mate punu),
2. Telah berumah tangga dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil
(mate mangkar),
3. Telah memiliki anak-anak yang sudah dewasa, bahkan sudah ada yang
kawin, namun belum bercucu (mate hatungganeon),
4. Telah memiliki cucu, namun masih ada anaknya yang belum menikah (mate
sari matua), dan,
5. Telah bercucu tapi tidak harus dari semua anak-anaknya (mate saur matua).
Pada masa megalitik, kematian seseorang pada usia tua yang telah memiliki
keturunan, akan mengalami ritual penguburan dengan tidak sembarangan karena
kedudukannya kelak adalah sebagai leluhur yang disembah. Hal itu terindikasi dari
banyaknya temuan kubur-kubur megalitik dengan patung-patung leluhur sebagai objek
pemujaan
Mate Saur matua menjadi tingkat tertinggi dari klasifikasi upacara bagi
masyarakat Batak (terkhusus Batak Toba), karena mati saat semua anaknya telah
berumah tangga. Masih ada tingkat kematian tertinggi diatasnya, yaitu mate saur matua
bulung (mati ketika semua anak-anaknya telah berumah tangga, dan telah memberikan
tidak hanya cucu, bahkan cicit dari anaknya laki-laki dan dari anaknya perempuan)








Suku Jawa - Sunda

Upacara Mendhak
Tradisi Mendhak adalah salah satu ritual dalam adat istiadat kematian
budayaJawa.Upacara tradisional ini dilaksanakan secara individu atau berkelompok
untuk memperingati kematian seseorang. Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan
untuk upacara tradisional Mendhak adalah tumpeng, sega uduk, side dishes,
kolak,ketan, dan apem. Terkadang, sebelum atau sesudah upacara Mendhak
dilaksanakan,s anak keluarga dapat mengunjungi makam saudara mereka.Upacara
tradisional ini dilaksanakan tiga kali dalam seribu hari setelah hari kematian. Pertama
disebut Mendhak Pisan, upacara untuk memperingati satu tahun kematian (365 hari),
kedua disebut Mendhak Pindho sebagai upacara peringatan dua tahun kematian, ketiga
disebut sebagai Mendhak Telu atau Pungkasan atau Nyewu Dina, yang dilaksanakan
pada hari ke seribu setelah kematian.
Upacara Surthanah
Upacara Surtanah bertujuan agar arwah atau roh orang meninggal dunia
mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan. Untuk upacara ini perlengkapan upacara
yang disiapkan dibedakan bedasarkan kasta. Untuk golongan bangsawan perlu
menyiapkan tumpeng asahan lengkap dengan lauk, sayur adem yang tidak boleh
pedas, pecel dengan sayatan daging ayam goreng/panggang, sambal docang dengan
kedelai yang dikupas, jangan menir, krupuk, rempeyek, tumpeng ukur-ukuran, nasi
gurih, nasi golong, dan pisang raja. Sedangkan untuk golongan rakyat biasa antara lain,
tumpeng dengan lauknya, nasi golong, ingkung dan panggang ayam, nasi asahan,
tumpeng pungkur, tumpeng langgeng, pisang sajen, kembang setaman, kinang, bako
enak dan uang bedah bumi.Upacara ini diadakan setelah mengubur jenazah yang
dihadiri oleh keluarga, tetangga dekat, dan pemuka agama.
Upacara Nyewu Dina
Upacara ini dilaksanakan untuk memohon pengampunan bagi kerabat yang
sudah menghadap maha kuasa yang dilaksanakan seribu hari setelah kematian.Untuk
upacara ini golongan bangsawan harus menyiapkan takir pentang yang berisi lauk, nasi
asahan, ketan kolak, apem, bunga telon ditempatkan distoples dan diberi air,
memotong kambing, dara atau merpati, bebek atau itik, dan pelepasan burung merpati.
Sementara pada golongan rakyat biasa, nasi ambengan, nasi gurih, ketan kolak,apem,
ingkung ayam, nasi golong dan bunga yang dimasukan dalam lodong serta
kemenyan.Upacara tersebut diadakan setelah maghrib dan diikuti oleh keluarga, ulama,
tetangga dan para kerabat jenazah.
Upacara Brobosan
Upacara Brobosan ini bertujuan untuk menunjukkan rasa hormat dari sanak
keluarga kepada orang tua dan leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Upacara
Brobosan diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal, sebelum
dimakamkan, dan dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua.


Tradisi Brobosan dilangsungkan secara berurutan sebagai berikut:
o Peti mati dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke
atas setelah upacara doa kematian selesai,
o Anak laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu
perempuan, berjalan berurutan melewati peti mati yang berada di atas
mereka selama tiga kali dan searah jarum jam,
o Urutan selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di
urutan pertama; anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di
belakang. Upacara tradisional ini menyimbolkan penghormatan sanak
keluarga yang masih hidup kepada orang tua dan leluhur mereka. Jadi,
jika yang meninggal itu anak-anak, atau remaja, brobosan itu tidak
dilakukan.
Menurut kepercayaan Jawa, setelah 1 tahun kematian, Arwah tersebut sudah
memasuki dunia abadi untuk selamanya. Untuk memasuki dunia abadi, arwah harus
menembuh jalan yang sangat panjang oleh sebab itu diadakan beberapa upacara untuk
menemani perjalanan sang arwah..