Anda di halaman 1dari 4

Kasus 3

Perawat B adalah perawat yang bertugas di Panti Werda E. Hari ini ada ibu F yang diantar
oleh petugas Departemen Sosial Kota masuk ke panti werda E. Kemudian perawat B
melakukan pengkajian pada ibu F yang berasal dari desa yang sangat jauh dari kota. Usia ibu
F 65 tahun. Hasil pengkajian dari ibu F adalah TD:170/100 mmHg. KATZ index A, Bartel
Index mandiri, fungsi mental MMSE kerusakan berat. Fungsi intelektual dari tes SPSMQ
mengalami kerusakan berat, resiko jatuh sedang. Kalau tidak ditanya ibu F diam saja. Ibu F
terlihat murung, saat ditanya masih sedih karena suaminya yang telah meninggal 5 tahun
yang lalu. Perawat B akan membuat perencanaan agar ibu F dapat merasakan Healthy Aging
dan Active Aging di pati werda E sesuai dengan terapi modalitas dan kebutuhan dasar
manusianya.
DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
Gangguan alam
perasaan: depresi
berhubungan dengan
koping maladaptive
ditandai dengan klien
suka diam, terlihat
murung, menyatakan
masih sedih karena
suaminya yang telah
meninggal 5 tahun lalu



Tujuan: Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 1X24 jam lansia
merasa tidak depresi.
Kriteria Hasil :
- Klien dapat
meningkatkan harga
diri Klien dapat
menggunakan
dukungan sosial
- Klien dapat
menggunakan obat
dengan benar dan
tepat

1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi
keputusasaannya.
2. Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu
3. Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal:
hubungan antar sesama, keyakinan, hal-hal untuk
diselesaikan).
4. Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstemal individu
(orang-orang terdekat, tim pelayanan kesehatan,
kelompok pendukung, agama yang dianut).
5. Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman
masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).
6. Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling
pemuka agama).
7. Diskusikan tentang terapi modalitas yang dapat
dilakukan misalnya terapi kelompok

8. Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek
dan efek samping minum obat).
9. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar
pasien, obat, dosis, cara, waktu).



10. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang
dirasakan.

11. Beri reinforcement positif bila menggunakan obat
dengan benar
1. Membangun motivasi pada
lansia
2. Individu lebih percaya diri
3. Menumbuhkan semangat
hidup lansia. Klien dapat
menggunakan dukungan social
4. Lansia tidak merasa sendiri


5. Meningkatkan nilai spiritual
lansia
6. Untuk menangani klien secara
cepat dan tepat
7. Klien dapat melatih dirinya
untuk beradaptasi dengan
kondisi yang sekarang
8. Klien dapat menggunakan
obat dengan benar dan tepat
9. Untuk memberi pemahaman
kepada lansia tentang obat
Prinsip 5 benar dapat memaks
imalkan fungsi obat secara
efektif
10. Menambah pengetahuan
lansia tentang efek efek
samping obat.
11. Lansia merasa dirinya lebih
berharga

Gangguan proses
berpikir berhubungan
dengan kemunduran
atau kerusakan
memori sekunder
ditandai dengan test
SPSMQ kerusakan
berat
Setelah dilakukan
intervensi keperawatan
selama 224 jam pasien :
- Mampu
memperlihatkan
kemampuan kognitif
untuk menjalani
konsekuensi kejadian
yang menegangkan
terhadap emosi dan
pikiran tentang diri.
- Mampu
mengembangkan
strategi untuk
mengatasi anggapan
diri yang negatif.
- Mampu mengenali
perubahan dalam
berpikir atau tingkah
laku dan faktor
penyebab.
- Mampu
memperlihatkan
penurunan tingkah
laku yang tidak
diinginkan, ancaman
dan kebingungan.

1. Kaji derajat gangguan kognitif klien



2. Lakukan pendekatan dengan cara perlahan dan tenang



3. Latih kemampuan berpikir klien dengan menggunakan
kata-kata pendek, kalimat, dan instruksi sederhana
(tahap demi tahap)
4. Kembangkan lingkungan yang mendukung, misalnya
dengan mengajak klien beraktivitas bersama kelompok
baru
5. Fokuskan tingkah laku klien yang sesuai, dan berikan
penguatan positif


6. Kolaborasi pemberian obat yang sesuai (Antipsikotik,
agen anksiolitik)

1. Memberikan dasar
perbandingan yang akan
datang dan memengaruhi
rencana intervensi
2. Mencegah perasaan tidak
nyaman yang mungkin
dirasakan klien jika
pendekatan terburuburu
3. Mempertahankan
kemampuan kognitif klien
yang masih ada
4. Meningkatkan pengembangan
evaluasi diri klien yang positif

5. Menguatkan tingkah laku yang
benar dan sesuai dan
meningkatkan penerimaan
klien terhadap intervensi
6. Mengontrol agitasi, halusinasi,
mengurangi kecemasan
Resiko terhadap cidera
berhubungan dengan:
. Ditandai dengan
risiko jatuh sedang

Setelah dilakukan
intervensi keperawatan
selama 224 jam pasien

- Meningkatkan tingkat
1. Kaji derajat gangguan kemampuan, tingkah laku
impulsive dan penurunan presepsi visual. Bantu keluarga
mengidentifikasi resiko terjadinya bahaya yang mungkin
timbul.

1. Mengidentifikasi resiko di
lingkungan dan mempertinggi
kesadaran perawat akan
bahaya. Klien dengan tingkah
laku impulsive berisiko trauma
aktifitas
- Dapat beradaptasi
dengan lingkungan
umtuk mengurangi
resiko cidera
- Tidak mengalami
trauma/cidera
- Keluarga (pengelola
panti) mengenali
potensial dilingkungan
dan mengidentifikaksi
tahap-tahap untuk
memperbaikinya





2. Hilangkan sumber bahaya lingkungan.





3. Alihkan perhatian saat perilaku teragitasi/berbahaya,
seperti memanjat pagar tempat tidur.



4. Kaji efek samping obat, tanda keracunan (tanda ekstra
piramida, hipotensi ortostatik, gangguan penglihatan,
gangguan gastrointestinal).




5. Hindari penggunaan restrain terus menerus. Berikan
kesempatan keluarga tinggal bersama klien selama
periode agitasi akut

karena kurang mampu
mengendalikan perilaku.
Penurunan persepsi visual
berisiko terjatuh.
2. Klien dengan gangguan
kognitif, gangguan persepsi
adalah aweal terjadi trauma
akibat tidak bertanggung
jawab terhadap kebutuhan
keamanan dasar.
3. Mempertahankan keamanan
dengan menghindari
konfrontasi yang
meningkatkan resiko
terjadinya trauma.
4. klien yang tidak dapat
melaporkan tanda/gejala obat
dapat menimbulkan kadar
toksisitas pada lansia. Ukuran
dosis/penggantian obat
diperlukan untuk mengurangi
gangguan.
5. membahayakan klien,
meningkatkan agitasi dan
timbul resiko fraktur pada
klien lansia (berhubungan
dengan penurunan kalsium)